Tag Archives: kota

[Cerpen] Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia | Jawa Pos | Minggu, 10 Januari 2016

Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia

Oleh Ilham Q. Moehiddin

[Ilust] Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia3

Hari Pertama Setelah Malam Tahun Baru.

Orang-orang yang bekerja sejak malam tahun baru itu seperti tak lelah. Ketika subuh pertama beranjak, di hari pertama Januari, mereka setia melubangi tanah, mendirikan tiang, dan menggosok alas pualam di sebuah altar.

Sesuatu telah membuat orang-orang itu tergesa memersiapkan semuanya. Sesuatu peristiwa mendesak mereka, peristiwa yang diawali persis sepekan lalu, menyita perhatian warga Vastivia dan membuhul gunjingan di setiap kumpulan orang-orang, bahkan di pertemuan kelompok rajut. Aku mengumpulkan semua catatan mengenai peristiwa itu, untuk tetap membuatku ingat bahwa Vastivia pernah merekam sebuah pengkhianatan.

 

Sepekan Sebelum Malam Tahun Baru.

“Tangkap dia—sekarang!” Teriak Hakim Jaloz. Telapak tangannya menempel ke permukaan meja. Dua petugas Pengadilan yang diteriakinya berlompatan, tergesa-gesa melewati koridor yang langsung mengakses pintu menuju lobi utama Kantor Pengadilan Vastivia. Satu regu segera bergerak untuk melaksanakan perintah sang Hakim.

Di Vastivia, Hakim adalah orang kedua paling berkuasa menjalankan pemerintahan, setelah wali kota. Hukum tertinggi berada pada kolektifitas warga Vastivia.

Itulah mengapa ada plaza luas di tengah kota ini. Ada tribun berjenjang lima yang melingkar panjang mengelilingi plaza luas ini. Ada sebuah panggung besar berisi tiga meja di sisi Timur plaza. Juga sebuah panggung kecil, 2×2 meter luasnya, dan dua meter tingginya, di sisi berlawanan dari panggung besar, di sisi Barat plaza.

Plaza itu dikepung empat jalan yang membuatnya terasing jika terlihat dari udara. Viesneva memisahkan plaza itu dari kumpulan kantor pemerintah di sebelah Barat. Liesnabon, memotong plaza dari sarana perekonomi warga di sisi Utara. Ulasijan, mengiris plaza dari pusat studi dan kepustakaan di sisi Selatan. Ainnestock, meregresi plaza itu dari kawasan industri di sisi Timur. Lokasinya strategis, bukan? Posisi empat jalan itu memudahkan warga menuju plaza. Di akhir pekan, orang-orang akan datang menanak kesenangan di rerumputan hijau plaza itu, bersapaan, memuja keakraban di antara mereka, dan membiarkan kanak bermain.

Di plaza ini semua orang setara.

Mataku melihat dengan saksama kesibukan yang segera usai itu. Tepat di hari pertama tahun baru, di sisi Selatan plaza telah siap lubang dengan kedalaman dua meter. Di sampingnya, ada tiang lima meter berbentuk huruf “L” terbalik. Di sudut lain plaza, ada altar marmer berceruk busur selingkar leher orang dewasa.

Seorang bernama Zamboni telah dibawa paksa ke depan Hakim Jaloz. Sepekan lalu, satu regu beranggota enam orang telah menyatroni ruang kerjanya, mencokoknya ke hadapan Jaloz, di lantai dua Kantor Hakim Vastivia. Zamboni gemetar. Mata Hakim Jaloz seperti menyala-nyala saat itu. Air muka Zamboni dipenuhi kecemasan.

“Kau mengubah dokumen perbendaharaan kota!” Tajam Hakim Jaloz melemparkan tuduhan ke muka Zamboni.

Tak satu katapun keluar dari mulut Zamboni. Jaloz lebih menyeramkan ketimbang seorang Mestizo yang menantang Juan Dahlmann bertarung pisau di wilayah Selatan Argentina dalam cerpen Borges. Tak ada orang yang begitu yakin mengeluarkan perintah penangkapan pada pejabat kota—bahkan ketika si pejabat berada di ruang kerjanya..

“Jawab aku!” Teriak Jaloz. Sendi Zamboni seperti patah. Ia kini berdiri pada lututnya. “Aku—aku tak melakukannya,” sahut Zamboni ngeri. Nyalinya sudah lama pergi.

“Lalu siapa! Hantu!?” Jaloz memajukan kepalanya. Ujung hidungnya melampaui ujung meja. Suara Jaloz menjalar bagai api. Tapi Zamboni tak mengerti mengapa kemalangan hanya menimpa dirinya saja. Ia tiba-tiba jadi pesakitan di hadapan Jaloz. Padahal karirnya sedang menanjak saat ini.

Mengenai Zamboni—semula ia pegawai rendahan di Balai Kota Vastivia. Tugasnya mengumpulkan dan merestorasi dokumen kota, mengadas, kemudian menatanya di jejeran lemari ruang data. Ia membuat dua salinan untuk setiap dokumen yang dikadas, sebelum satu salinan ia kirim ke Kepustakaan Vastivia. Zamboni 15 tahun bertugas di balai kota, sebelum dipromosikan sebagai Kepala Biro Kependudukan Vastivia. Ia menikahi putri Imam Kuil Rastyan, perempuan tercantik distrik kecil Kastien di Tenggara Vastivia.

Barangkali, Zamboni menganggap diri orang termujur se-Vastivia dan orang-orang juga mengiranya begitu, sampai pada siang di mana satu grup petugas menggebah dan menghadapkannya ke Hakim Jaloz.

“Panggil Panitera!”

Leher Jaloz terangkat tinggi, meneriaki seorang petugas yang bergegas bicara ke interkom. Tak semenit, seorang lelaki tua datang tergopoh-gopoh. “Yang Mulia?—”

“Siapkan peradilan untuk orang ini!” Perintah Jaloz. Zamboni tersedak ludahnya sendiri. Panitera menyanggupi lalu berbalik pergi.

Jaloz memicingkan mata kepada Zamboni. “Kau—kau akan mendapatkan perhitungan. Kau harus membela dirimu sendiri. Aku akan memeriksamu, Zamboni. Kau harus hati-hati menjelaskan perkara ini di hadapan warga kota,” desisnya.

Zamboni langsung dijebloskan ke tahanan. Ia akan mendekam di situ menunggu peradilan atas dirinya. Ia tak boleh menelepon.

Wali kota Palyska menggerutu. Kabar sudah sampai ke mejanya, beberapa menit setelah penangkapan Zamboni. Petrova gugup saat bercerita tentang pendadakan terhadap lelaki itu. Muka sekretaris Palyska itu pias bagai kertas. Tubuhnya lunglai di sofa kantor wali kota.

“Apa yang diakui Zamboni?” Tanya Palyska

Petrova menggeleng pelan. “Tak ada—ia seperti kucing basah di hadapan Jaloz.”

Palyska menyeka keringat dingin yang tiba-tiba membanjiri lehernya. Hari masih pagi, ruangan itu berpendingin udara, tapi gerah menyergap tubuh Palyska. Ini ide Petrova—dan untuk jasa Zamboni, Petrova memberinya 10 juta hast serta merelakan tubuhnya dicumbui Zamboni di hotel paling mewah di Vastivia.

“Zamboni menerima apapun yang pantas ia terima,” kata Petrova. Ia mencoba menenangkan dirinya. Ia terus membayangkan bagaimana lelaki paling mujur di Vastivia itu membuncahkan segala gairah ke tubuhnya. Satu jam bersama Zamboni—dan Petrova tak menikmati apapun. Lima jam perempuan itu harus mandi untuk menangisinya.

 

Hari Pertama Setelah Malam Tahun Baru.

Usai kesibukan yang melelahkan di malam tahun baru itu, para pekerja bergiliran pulang. Kehadiran mereka segera digantikan ratusan warga kota yang langsung memenuhi tribun di plaza itu.

Orang-orang seketika hening. Tiga orang bertoga memasuki plaza dan naik ke panggung besar. Hakim Jaloz berjalan terburu-buru, mengamit ujung jubahnya agar tak terkena tanah. Wakil Hakim menyusul di belakangnya. Sang Panitera tampak terlalu kikuk untuk hadir di plaza ini. Orang-orang menertawakannya. Asin laut terbawa angin dari arah Timur plaza.

Jaloz menganggukkan kepala pada petugas pengadilan yang segera berteriak. “Warga Vastivia memanggil ke peradilan ini seorang lelaki bernama Zamboni yang diduga menggelapkan dokumen perbendaharaan Vastivia!”

Masuklah dua petugas mengawal Zamboni. Ia hampir tak sanggup berjalan sendiri dan harus dipapah untuk naik ke panggung kecil. Istrinya yang cantik dan dua putranya berdiri sedih di sudut tribun Utara.

“Baiklah, Zamboni—” Hakim Jaloz membuka peradilan. Wajahnya yang berminyak terlihat berkilat, “—kau harus membuktikan bahwa kau tak bersalah.”

Sebagai hakim, tugas Jaloz hanya memeriksa. Penentu hukuman di peradilan ini adalah warga Vastivia. Jika Zamboni tak bisa membuktikan dakwaan terhadapnya, maka warga Vastivia akan menentukan hukuman untuknya. Warga kota tiba-tiba riuh. Para Hakim menunggu dengan sabar sampai semua orang berhenti bersuara. “Zamboni—apakah kau menerima dakwaan?” Tanya Jaloz.

Zamboni tergugu. Kedua puteranya menyembunyikan wajah mereka ke perut ibunya.

“Tidak—” Zamboni memelas. Matanya diedarkan ke semua warga di tribun. Namun orang-orang mendelik padanya dengan kesumat kebencian, “—aku tak tahu bahwa angka-angka yang aku ubah itu adalah isi laporan kwartal perbendaharaan kota.”

Jaloz gusar. Zamboni memandang takut. Dagunya diangkat, perutnya bergejolak. Jaloz berusaha mengatasi kecemasan yang menyerangnya. “Jika kau diperintah—lalu siapa yang memerintahmu?” Teriak Jaloz.

“Petrova—sekretaris wali kota Vastivia!”

Warga tertegun. Mereka kemudian berbisik-bisik. Jaloz menyeka keringat di dahinya. “Hadapkan Petrova ke depan warga Vastivia!” pemerintahnya.

Petrova digiring turun dari tribun. Wajah perempuan itu pias bukan main. Tapi anggukan Hakim Jaloz membuatnya tenang. Ia tak menyangka Zamboni akan menyebut namanya. Ia dinaikkan ke panggung, bersisian dengan Zamboni.

“Petrova—” datar suara Hakim Jaloz, “—apa pembelaanmu?”

“Aku tak melakukannya—”

Plak!

Telapak kanan Zamboni mendarat di pipi Petrova. Perempuan itu kaget setengah mati. Darahnya mengalir cepat. Wajahnya panas, harga dirinya jatuh. “Kau—kau berbohong Petrova!” Zamboni menunjuk muka perempuan itu. “Kau menyogokku dengan tubuhmu dan uang 10 juta hast agar aku tak bicara pada siapapun!”

Orang-orang terkejut—termasuk istri Zamboni. Perempuan cantik itu buru-buru membekap mulutnya sendiri. Ia sukar memercayai apa yang baru diucapkan suaminya. Amarah warga Vastivia sukar ditahan lagi. Benda-benda beterbangan ke panggung kecil di mana Zamboni dan Petrova berdiri. Petrova menutup hidungnya—sebuah benda membuat hidungnya berdarah.

Dengan suara sengau dan telunjuk yang mengacung ke udara, perempuan itu bicara, “—Palyska juga terlibat perkara ini!” Petrova menyahuti warga dengan keras.

Tangan-tangan yang hendak melayangkan benda ke panggung, tiba-tiba terhenti. Mata mereka kini tertuju pada Palyska yang sedang duduk di tribun utama.

Hakim Jaloz menghela napas berat. “Hadapkan Palyska ke depan warga Vastivia!” Teriaknya. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali menghadirkan orang-orang itu.

Palyska segera turun dan dikawal naik ke panggung, bersisian bersama Zamboni dan Petrova. Seharusnya Jaloz segera meminta Palyska membela dirinya atas tudingan Petrova. Jaloz hanya menyandarkan punggungnya saat orang-orang menuding ke arah mereka bertiga. Palyska mengedarkan matanya ke tribun. Ada anak perempuannya duduk di antara warga.

“Semua akhirnya terbuka. Aku tak mengira akan secepat ini,” lelaki itu mendelik pada Petrova di sisi kirinya. Perempuan itu sibuk menyeka darah dari hidungnya.

“Seusai jam kantor, kami ke Paterna Uljibeer untuk beberapa gelas bir dingin. Tiba-tiba Petrova bercerita tentang keanehan laporan kwartalan perbendaharaan kota. Dokumen itu harus diperbaiki, katanya—dan aku setuju. Auditor akan datang dua hari berselang—” ujar Palyska. Ia meneruskan ceritanya.

Mereka kemudian mencari orang yang tepat untuk memerbaiki dokumen dan Petrova menyebut nama Zamboni. Menurut Petrova, lelaki itu berpengalaman 15 tahun bekerja di balai kota. Petrova menemui Zamboni untuk membicarakan hal itu.

Seorang perempuan berdiri dan membuat Palyska berhenti bicara. “Mengapa tak kau biarkan auditor memeriksa dan menemukan kekeliruan itu?” Tanyanya.

“Benar—” Palyska menegakkan punggungnya, “—cukup sederhana, bukan? Membiarkan auditor menemukan keanehan itu dan menghancurkan kredibilitasku sebagai wali kota Vastivia.” Palyska menggeleng. “Tentu saja tidak. Sebab itulah kubiarkan Petrova menyelesaikan sisanya.”

Palyska kagum pada hasil kerja Zamboni. Tapi auditor tak mau kompromi. Secara teknis dokumen itu benar, tapi kebocoran tetaplah kebocoran. Hilangnya sejumlah uang dari perbendaharaan kota tak bisa dianggap tak pernah terjadi. Auditor membuat aduan ke pengadilan.

Orang-orang berteriak gusar. Dari arah tribun terdengar teriakan, “hukum mati mereka!” Teriakannya memicu kegaduhan warga lainnya. Telunjuk mereka menuding ketiga orang di panggung kecil itu. Jaloz siap mengetuk palu, mengesahkan vonis warga untuk ketiganya.

Petrova panik. Keadaan itu di luar dugaannya. Perempuan itu melompat turun dari panggung, tersungkur keras dengan wajah mencium tanah. Cemong darah bercampur tanah memenuhi hidung dan mulutnya. Perempuan itu langsung bangun dan lari menuju panggung besar. “Tembak dia—tembak!” Teriak Jaloz.

Tapi tak ada yang mencegah Petrova. Tak ada suara letusan. Gadis itu tegak di depan panggung besar. “Hukum dia juga—” Petrova menuding muka Hakim Jaloz, “—dia tak menyelesaikan pekerjaan yang didanai pajak warga Vastivia. Ia menyuapku agar membujuk wali kota dan Zamboni—tapi ia bahkan tak berusaha menolongku di hadapan kalian,” Petrova mendaku dalam isak tangisnya.

Warga Vastivia diam tak bergerak. Pengakuan Petrova seperti pecut yang dilecutkan ke telinga mereka. Wakil Hakim tiba-tiba memerintahkan penangkapan dan enam petugas sudah mengepung Jaloz.

 

Hari Kedua Setelah Malam Tahun Baru.

Angin laut yang kering berhembus dari Selatan Vastivia di hari kedua tahun baru. Kota itu baru saja mengakhiri riwayat empat pelaku korupsi. Angin yang meniup tubuh Zamboni yang mengayun pelan di tiang gantungan, menyapukan debu ke wajah Petrova yang ditanam sebatas leher di liang dua meter, mengirim bau anyir darah dari kepala Palyska yang menggelinding dekat altar marmer. Angin yang mengeringkan tubuh Jaloz yang teronggok di sudut panggung besar. Di toganya ada liang menganga, bekas tikaman belati Panitera yang ikut mengepungnya. (*)

 

Molenvliet, Desember 2015

Cerpen ini berhutang gagasan dari filsafat negara Thomas Hobbes.


[Cerpen] Hikayat Kota Orang-orang Putus Asa | Jawa Pos | Minggu, 31 Mei 2015

Hikayat Kota Orang-orang Putus Asa

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilustrasi Cerpen Jawa Pos Minggu 31 mei 20152

1/

Berjalanlah ke selatan, akan kau temui sebuah kota, di mana orang-orang putus asa tinggal. Kota yang memiliki telaga kecil dengan kilauan di permukaannya. Telaga yang mengisap harapan. Konon, tak ada ikan di dalamnya. Telaga yang hanya memantulkan cahaya merah rembulan, dan tepiannya ditumbuhi lumut putih yang bertangkai sebesar lidi kelapa dengan bola-bola berlendir pada ujungnya.

Orang-orang putus asa di kota itu menamai telaga kecil mereka —Telaga Dosa.

Konon, orang-orang putus asa terjun ke telaga itu, lalu mati karam ke dasarnya. Kematian telah mengubah suasana di sekeliling telaga itu menjadi suram. “Jangan coba-coba kau ungkit kisah ini. Orang di sana tak suka. Pamali!” Kecam para Apua (Tetua Adat).

Larangan itu harus dipatuhi semua orang dari luar kota itu. Tetapi, larangan itu mencungkil keingin-tahuanku. Pada satu-satunya Penujum di sini, kutanyai ia tentang kisah Para Pendahulu dan telaga itu. Bukan cerita yang kudapatkan darinya, justru diberinya aku amarahnya. Penujum tua itu melotot, menghumbalangkan panci ramuannya, lalu buru-buru mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang. Diusirnya aku saat itu juga.

 

2/

Ikutilah jejak ular pasir di gurun itu, kau akan tiba di kota yang ditinggali orang-orang putus asa. Orang-orang putus asa dari segala penjuru negeri datang ke kota itu untuk membuang diri. Melunta-luntakan hidup mereka yang mereka kira telah habis harapan itu.

“Sudah aku katakan jangan kau ungkit-ungkit kisah Para Pendahulu. Kelakuanmu itu sangat terlarang!” Begitu jengkelnya Apua saat mengetahui perbuatanku.

Penasaranku telah menyusahkannya. Tetapi, siapapun yang dilarang dengan nada kalimat macam itu, maka bohong besar jika ia tak terpancing keingin-tahuannya.

Wahai, pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang

Begitulah peringatan diejakan pada anak-remaja yang beranjak dewasa dan setiap orang yang datang. Kalimat yang disampaikan dari generasi ke generasi. Jika kau berani mempermainkan kalimat itu, kau akan segera mendapat cap makhluk paling laknat yang pernah hidup di antara orang-orang putus asa.

“Kota itu kosong sebelum orang-orang putus asa datang. Keputus-asaan telah mengikat orang-orang di sana. Tiada harapan bisa kau temukan, kecuali kecurigaan belaka.”

Apua menceritakan suatu peristiwa; tentang sekumpulan kecil orang datang ke kota itu, lalu dengan dalih reformasi mereka coba-coba mengubah kalimat keramat yang telah dipahatkan di tugu pembatas kota. Seketika mereka dihujat karena menista Para Pendahulu, dituduh telah berbuat amoral dengan memberikan harapan pada orang lain.

—Satu-satunya moral yang diterima di kota ini hanyalah keputus-asaan.

Sekumpulan kecil orang itu dimahkamahkan, lalu diarak ke tepian Telaga Dosa. Kemudian, seseorang dari mereka dijadikan contoh buat semua orang yang hadir di situ. Ia dianiaya hingga kepayahan, sebelum dilemparkan ke tengah telaga. Ia karam mati di situ. Mayatnya dikuburkan di luar tapal batas kota.

Hukuman yang paling menakutkan bagi penduduk kota itu bukanlah mati ditenggelamkan, tetapi dikuburkan di luar kota. Hukuman itu adalah pembantaian atas marwah mereka sebagai orang-orang putus asa.

 

3/

Jika kau mengikuti bayangan burung Nasar yang sedang terbang, maka kau akan tiba di gerbang kota yang dihuni orang-orang putus asa. Orang-orang yang merendahkan dirinya serendah-rendahnya. Orang-orang di kota itu bersedia membunuh hanya karena setitik harapan yang coba diterbitkan. Mereka hanya setia pada kalimat yang terpahat di tugu batu di batas kota.

Wahai, pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang

Ada masanya mereka melakukan sebuah ritual perjalanan suci. Orang-orang putus asa di kota itu memulai napak tilas dari tugu batu di batas kota, melafazkan kalimat keramat dengan sungguh-sungguh, berulang-ulang, sehingga perjalanan itu selesai di tepian telaga.

Tiada sesajian, karena tak ada yang bisa mereka sajikan dari tanah kota yang tak pernah mereka garap. Mereka menghabiskan apa yang ada dan tak peduli jika kelak punah apapun yang ada di atas tanah kota itu. Tiada doa yang dipanjatkan, sebab harapan tak dibutuhkan.

—Harapan adalah dosa maha besar di kota itu.

Di tepian telaga, mereka mencukuri rambut di kepala mereka untuk dilarung ke dasar telaga. Demi kepatuhan, orang-orang putus asa itu akan memakan bola-bola jamur putih berlendir yang tumbuh di sepanjang tepian telaga. Entah seperti apa rasanya. Barangkali, rasa aneh berlendir dan pahit luar biasa itulah yang mengubah wajah mereka menjadi jeri dan takut, seperti menahan dera siksa yang paling maut. Mereka kerap pingsan seusai memuntahkannya kembali.

Apua bilang, mereka sangat menikmati keterasingan. Menikmati derita dari kematian Para Pendahulu melalui bola-bola jamur putih berlendir itu. Ada kalanya, satu-dua orang mengamuk karena kerasukan sesuatu; memukuli tubuh sendiri dengan benda tajam dan merasa sedang menikmati keputus-asaan yang diberkatkan kepadanya. Darah dan luka adalah keputus-asaan tanpa batas.

Tapi itulah harga sebuah kepatuhan —kata Apua.

 

4/

Aku mengikuti sebentuk awan kelabu yang berarak ke selatan, sehingga sampailah aku di depan gerbang kota orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang menerima kekalahan, sekaligus tak memberi apapun melebihi keputus-asaan mereka sendiri.

Seperti apa yang mereka sampaikan kepada setiap orang yang datang ke sini, kepadaku pun mereka sampaikan larangan yang sama; jangan sekali menanyakan perihal telaga di tengah kota ini dan kenapa para pendahulu memilih kekal ke dasarnya.

—Itu bukan untuk didiskusikan. Pamali!

Tetapi, seringnya larangan itu diulang-ulang membuat kesabaranku terkikis. Keingin-tahuan mendorongku datang pada satu-satunya orang yang memiliki jawaban. Ya. Si Penujum tua itu. Namun ia seketika melotot, menendang panci ramuan hingga terhumbalang, mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang seraya mengoceh tak putus-putus. “Pamali, pamali, pamali—”

“Informasi itu penting untuk cerita yang sedang aku tulis,” ujarku memohon.

“Memangnya kau siapa hendak menulis sesuatu yang kami larang—?” Si Penujum tua berteriak dari bawah selimutnya, “—cukuplah bagimu apa yang terpahat di tugu batu di depan kota ini.”

“Baiklah, jika Tuan tak mau,” aku menenangkannya, “—tapi katakanlah pada siapa aku bisa mendapatkan keterangan tentang itu?”

Seketika si Penujum tua keluar dari tumpukan bulu Beruang. Seperti baru saja tergigit seekor Semut Api Amazon, matanya merah karena terbakar amarah. “Pergilah! Jangan sampai aku mengadukanmu pada para Pengawas Kota. Akan aku lupakan bahwa kau pernah ke sini dan melontarkan kekotoran dari mulutmu. Pergilah!”

Bukankah telah jelas —siapapun yang dilarang dengan kalimat seperti itu, maka ia pasti berbohong jika rasa penasarannya tak terpancing.

Aku keluar dari rumah si Penujum tua. Aku hendak menjemput jawaban dari orang-orang putus asa lainnya di kota ini. Aku hampiri mereka satu per satu. Aku singgahi setiap tempat mereka berkumpul.

 

5/

Mendongaklah —saat kau mendapati bulan berwarna merah di ujung gurun, maka sinarnya akan menuntunmu ke kota yang dihuni orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang membunuh setiap pertanyaan perihal leluhur mereka, tentang keanehan telaga, tentang kepatuhan yang tak boleh diungkap.

“Tidakkah kau baca pahatan di tugu batu di depan gerbang kota ini?” Seorang Pengawas Kota memuntahkan amarahnya ke wajahku. Aku kini berada di mahkamah yang disesaki orang-orang putus asa.

Aku memprotes mahkamah ini. Tak ada perlunya mereka mendakwaku untuk hal yang tak aku pahami. “Tapi aku tak memahami maksudnya—”

Orang itu mendelik. “Kau tak perlu memahaminya. Kau hanya perlu mematuhinya.”

“Bagaimana aku mematuhi sesuatu yang tak aku pahami?” Aku mendebatnya.

“Kau mengganggu keteraturan di kota ini dengan berbagai pertanyaan yang kami larang.”

Aku menegakkan punggung. “Jadi? Apa yang nantinya akan kuceritakan tentang kota ini?”

Pengawas Kota itu mengangguk tegas. “Tidak ada —terima saja keadaan kami. Kau tahu, kau tak patut memaksakan keberatan atas apa yang telah kami lakukan turun temurun.”

“Aku tak memaksa. Hanya ingin jawaban.”

“Apa bedanya? Bukankah kau sedang berusaha membuat kami melanggar sesuatu yang kami haramkan—?”

Aku terdiam. Wajah si Pengawas Kota tiba-tiba sinis, “—karenanya, kau akan kami hukum!”

“Tunggu—!” Aku berdiri, “—aku bahkan bukan warga kota ini.”

Tetapi Pengawas Kota tak hirau lagi. Ia menoleh pada empat Pengawas Kota lain yang telah menganggukkan kepala mereka padanya.

“Kalian!” Pengawas Kota itu menunjuk dua orang di belakangku, “bawa orang ini ke telaga!”

“Tunggu dulu—!” Aku menolak perlakuan mereka. Tetapi, orang-orang putus asa itu tak peduli. Mereka menggamit lenganku, memaksaku berjalan menuju telaga. Orang-orang putus asa lainnya mengekori kami seraya mendengungkan kalimat keramat.

Wahai, pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang

Para Pengawas Kota memerintahkan agar aku dicampakkan ke tengah telaga. Tubuhku tercebur, membenam beberapa saat. Tanganku menggapai-gapai di permukaan air, berusaha sekuat tenaga menuju tepian. Tetapi air telaga itu seperti sedang mencarak semua harapanku, menarik tubuhku untuk dikaramkan ke dasar telaga.

Aku bukan salah satu dari orang-orang putus asa di kota ini. Aku tak ingin mati di dasar telaga. Walau kepayahan, aku berhasil menggapai tepian telaga. Seorang gadis muda berjongkok di atas tubuhku yang sekarat itu. Kata-kata seperti hendak berlompatan dari bibirku.

“Kau tahu —jawaban yang kalian cari ada di dasar telaga ini. Mungkin aku tak akan sempat lagi menuliskannya dalam ceritaku.”

Gadis itu nyaris tak mendengar gumamku. Ia mendekatkan telinganya.

“Jangan dengarkan apa yang mereka ingin agar kau percayai.”

“Ada apa di bawah sana?” Gadis itu mendesak.

“Di bawah sana banyak ikan —banyak sekali,” suaraku nyaris hilang. “Harapan lebih banyak di dasar telaga ini daripada di atasnya, di kota yang mengepungnya. Kau harus tahu bahwa di bawah sana tak ada jejak Para Pendahulu.”

Gadis itu terpana, sebelum cahaya pergi dari bola mataku. (*)

 

Molenvliet, Januari 2013


[Cerpen] Guci Sop | Suara Merdeka | Minggu, 01 Februari 2015

Guci Sop

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilustrasi_Guci Sop_Ilham Q Moehiddin

UDARA panas siang itu seperti hendak melelehkan bola mata setiap orang yang melintasi strada Salvatore, membuat basah ketiak yang menyebarkan bau tak sedap kemana-mana. Pesisir Genoa dibungkam aroma garam.

Aku menyiapkan pertunjukan malam untuk Arrigo Tavern sebelum matahari sore datang ke jendela rumah minum ini. Aku mewarisi bisnis ini dari ayahku, Arrigo Ando. Tempat ini mendadak ramai di enam bulan terakhir.

Enam bulan lalu, seorang gadis berdiri di depan meja bar Arrigo Tavern. Aku tentu saja menerima tawarannya untuk menari. Dialeknya tak seperti kebanyakan perempuan Genoa. Gadis itu dari pesisir utara. “Elda dari Manarola,” katanya.

Seperti kebanyakan perempuan Manarola, Elda mewarisi tulang pipi yang lembut, pucuk hidung yang kecil, dagu sedikit runcing dengan wajah oval, dan rambut hitam bergelombang. Elda punya sesuatu yang diidamkan banyak lelaki—dada dan pinggul yang padat.

“Menarilah mulai besok,” kataku. Seperti harum yang memancar dari tubuh Elda, begitulah kabar baik dan keberuntungan yang mendatangiku siang itu—dan di hari-hari berikutnya.

Para perempuan Manarola pandai melenturkan tubuh. Tarian mereka memikat, lincah meliuk dengan gerakan erotis yang menggoda. Elda segera menjadi primadona Arrigo Tavern dan namanya begitu terkenal di sepanjang pesisir Genoa. Setiap lelaki di pesisir ini bisa menggambarkan kemolekannya, ketimbang kondisi istri mereka sendiri. Wajah Elda segera membayangi pelupuk mata tiap lelaki yang menggumamkan namanya. Tetapi bagiku, Elda tak sekadar mesin uang di taverna ini.

**

Arrigo Ando adalah contoh buruk pebisnis rumah minum. Taverna ini baru ramai setelah 39 tahun dibuka dan 10 tahun kematiannya. Para penggemar bir berduyun-duyun memenuhi tempat ini, bukan karena rasa birnya. Tak ada yang menyukai bir beraroma jerami lembab dengan rasa keju basi. Siapapun pasti memuntahkannya setelah tegukan pertama, kecuali jika mereka sedang mabuk berat. Mereka ke tempat ini semata-mata karena Elda.

Setiap malam, sejak matahari tenggelam dan udara kering menyebarkan aroma garam dari laut, taverna ini sudah sesak. Para lelaki menelan ludah, memukul meja, dan meneriakkan nama Elda. Sebelum gadis itu datang, aku biasa menampilkan pertunjukan berupa sulap yang kuanggap bisa mengocok perut pengunjung. Seringkali itu berhasil. Tetapi para kelasi, tentara, dan buruh pelabuhan lebih suka menganggapnya gagal dan melempari setiap pesulap yang tampil. Kini mereka menginginkan Elda dan mereka tak harus mabuk berat untuk mengacaukan tempat ini.

Beberapa pejabat kota biasa berlindung di keremangan balkon saat menonton tarian Elda. Mereka tak mau terlihat oleh para pemilih. Moral sangat penting bagi reputasi dan karir politik. Tetapi di tempat ini, mereka boleh mengantongi moral mereka, lalu berpura-pura tak kehilangan apapun esok paginya.

Aku hanya butuh uang mereka. Asal mereka membayar, maka habis perkara.

Setiap lelaki yang datang ke taverna ini punya mimpi yang sama; berharap Elda mengakhiri kesepian mereka di sisa malam. Paling tidak, berharap bisa menyentuh kulit pinggul gadis itu saat mereka menyelipkan lembaran uang ke balik celananya. Mereka rela membayar lebih banyak hanya agar Elda bersedia membuka kakinya dalam satu nomor tarian, sembari membayangkan hal-hal cabul tentang gadis itu.

**

Sedikit sekali lelaki yang mampu menghamburkan uang di sebuah taverna hingga pagi. Sedikit lelaki yang ingin ditemani gadis muda saat menyantap scallopine—irisan tipis daging sapi muda segar—dan mengakhiri malam di motel murah. Lebih banyak dari mereka patut dikasihani karena beristri perempuan yang siap menyita setiap uang dari kantongnya. Namun ada alasan lain sehingga para penggemar pescara kerap datang ke Arrigo Tavern.

Lupakan bir basi. Tangguhkan dulu khayalan tentang Elda. Arrigo Tavern punya zuppa yang lezat. Saat menghidangkan Zuppa di Pescara, Carmela selalu menambahkan seporsi scallopine. Carmela tahu cara membuat scallopine dengan kaldu yang lezat. Aku tak mau terang-terangan menyakiti hati istriku dengan mengistimewakan Elda. Carmela akan cemburu dan menolak ikut mengurus dapur tempat ini.

Elda memang menggoda. Lirikannya sanggup membuat siapapun berkeringat.

“Anda tak seharusnya berada di sini,” Elda terdengar ketus.

“Tetaplah menari untuk Arrigo Tavern,” aku berdiri di ambang pintu kamar rias.

Elda berbalik dan mengangkat alisnya. “Maka penuhilah janjimu.”

Aku gelisah. “Taverna ini butuh uang untuk membayar piutang bank.”

“Oya? Apa itu termasuk hutangku pada Hueno?” Elda memajukan wajahnya. “Aku harus membayar lelaki itu agar ia tak mengusirku dari flat,” lanjut gadis itu. Peluh membasahi tengkukku. Aku maju dan menutup pintu. “Kau dapat melakukan sesuatu untuk itu.”

Mendengarku bicara begitu, leher Alda memutar cepat. “Brengsek!” kecamnya, seraya menarik korsetnya lebih tinggi, menutupi dadanya yang putih. “Aku tidak selugu itu.” Desisnya tajam.

Aku angkat bahu dan memiringkan kepala.

“Aku tak sudi menemani para pejabat kota!” Elda nyaris berteriak. Aku panik. Aku meminta Elda memelankan suaranya. “Mereka pernah menipuku. Aku muak mendengar omong kosong Wali Kota keparat itu. Aku tak sudi berkorban lebih banyak untuk tinggal lebih lama di tempat busuk ini.”

Aku mengembangkan tangan, menahan bahu Elda. “Pertimbangkanlah untuk tak meninggalkan taverna ini sampai aku selesai mengurus semua permintaanmu.”

“Sampai semua pemabuk di kota ini puas meraba tubuhku dengan tangan kotor mereka? Sampai Carmela selesai menguras tiap keping tip yang menjadi hakku?”

Aku menurunkan tanganku. Elda benar. “Kau boleh menyimpan semua tip yang kau dapatkan. Gajimu naik satu kali lipat mulai bulan depan.” Aku berjanji.

Gasi itu tersenyum sinis. “Baik. Sekarang keluarlah!”

Seruan itu menahan gerakanku. “Elda, aku…”

“Keluar! Aku harus bersiap sebelum para pemabuk itu merusak tempat ini.”

“Elda…”

Namun gadis itu sudah memutariku, memelintir gagang pintu hingga terbuka, dan berdiri menunggu aku keluar, sebelum membanting pintu dan menguncinya dari dalam.

Malam itu Elda menggila. Ia menggelorakan panggung Arrigo Tavern. Gerakannya liar, menggoda. Sesekali Elda duduk di pangkuan pengunjung dan menerima apapun yang diselipkan ke balik celananya.

**

Sepekan berikutnya, Elda tak terlihat sejak sore. Seharusnya ia sudah datang dan mempersiapkan diri di kamar rias. Tak ada kabar tentangnya membuatku cemas. Hueno pun tak tahu kemana perginya gadis itu, saat aku menelepon menanyakannya. Elda tak pulang ke flatnya sejak semalam.

Carmela tetap melayani para tamu menikmati Zuppa di Pescara. Aku cukup puas dengan kerakusan pengunjung setengah mabuk yang terusir dari taverna lain. Orang-orang itu sanggup menandaskan dua tong bir basi sebelum sore usai. Namun aku harus mengusir beberapa orang, sebelum mereka terlanjur mabuk berat dan menyusahkanku.

Aku menikahi Carmela saat perempuan itu berusia 16 tahun, saat usia kami terpaut 15 tahun. Ayahku mengadopsi Carmela dari pasangan gipsy yang tewas dalam kebakaran besar di pesisir Genoa, 10 tahun sebelumnya. Seperti umumnya orang gipsy, Carmela setia pada ayahku dan menjadi pelayan di taverna miliknya, sampai aku menikahinya. Pernikahan yang dipaksakan. Aku menikahi Carmela untuk menutupi perbuatan laknat ayahku. Ayah mabuk berat saat memerkosa Carmela dan membuat gadis itu hamil. Bayi Carmela meninggal sehari setelah dilahirkan.

Carmela tak banyak bicara. Ia sepertinya siap menerima nasibnya. Waktunya habis untuk melayani taverna dan mendampingiku. Jika pengunjung taverna ini sepi, ia habiskan waktunya dengan membaca buku resep tua peninggalan ibunya. Ia mengunci diri selama berjam-jam di kamar rajut di lantai tiga. Dari kamar itu tercium aroma harum menyengat, saat Carmela mempraktekkan beberapa resep.

“Aku mau menari,” Carmela bergumam.

Kata-katanya itu mengejutkanku. Aku memiringkan kepala, isyarat agar Carmela mengulangi ucapannya. Aku mungkin sudah salah dengar.

“Aku bisa menari seperti Elda. Bisa lebih baik darinya.”

Aku menggeleng. ”Kau tak sedang—”

“Aku juga bisa mengelola taverna ini sekaligus.” Carmela memotong kalimatku.

“—meracau, kan?” Aku menyelesaikan kalimatmu.

Carmela menyeringai. “Kau seperti semua lelaki yang datang ke sini. Jika bukan hendak mabuk, kalian bermimpi bisa meniduri Elda.”

“Carmela!”

“Aku tahu. Ya. Aku tahu isi kepalamu yang sama busuknya seperti isi kepala lelaki yang mewarisimu tempat terkutuk ini!” Kemarahan Carmela itu tak biasa.

“Tutup mulutmu! Kau tak bisa bicara tentang ayah—”

“—Ayah?!” Carmela berteriak. “Alfie, kau hanya sedikit mujur karena tak mewarisi kedunguan Arrigo. Nasibmu tak lebih menyedihkan dari keparat itu!”

Kata-kata Carmela usai saat tiga orang polisi masuk dan segera menghalangi pintu belakang taverna. Mereka juga menutup pintu dapur dan memblokir lorong kecil menuju kamar rias. Carmela mendengus. Ia tuding mukaku. “Kau! Kau menginginkan Elda, kan? Kau hendak menuntaskan nafsumu dengan mengunjungi flatnya.”

Aku mundur dua langkah. “Aku? Aku tidak—” Terbata-bata aku menolak tuduhan Carmela. “Oh, Carmela. Kau—”

“—Tidak?” Carmela mendelik. “Kenapa kau tak jelaskan ketidakhadiran Elda saat ini? Mana dia? Hanya kau yang pernah terlihat mengunjungi flatnya,” desis Carmela. “Kau membunuhnya!”

Seperti tersengat listrik, rahangku menggelembung mendengar tuduhan itu. Aku sudah akan merenggut lehernya jika saja seorang polisi tak segera memepet tubuhku. Tapi aku tak peduli. “Elda mungkin pulang ke Manarola.”

Sayang sekali. Menurut polisi, tak seorang pun di Manarola melihat kepulangan Elda. Aku ditangkap polisi. Itulah sore terakhir aku melihat kebencian di mata Carmela.

**

Arrigo Tavern tak berubah. Tempat ini tetap ramai pengunjung. Sepertinya, orang-orang itu tak tahu—bahkan tak peduli—pada kejanggalan di taverna ini. Tak tampaknya aku dan Elda, agaknya tak menarik perhatian mereka. Itu aneh, sebab kerapnya mereka memenuhi tempat ini justru karena tarian Elda.

Carmela membelanjakan uang dengan efisien. Ia mengubah tampilan tempat ini menjadi lebih semarak. Ia bahkan mengubah nama Arrigo Tavern dengan nama baru: Taverna de Carmela, dan ia tak lagi menjual bir basi.

Perempuan itu mendapatkan keinginannya. Ia akhirnya bisa menari di hadapan para pengunjung yang juga mengelu-elukan liukan tubuhnya. Para lelaki menyelipkan lembaran uang ke balik celananya, tak peduli bahwa pinggulnya yang besar itu mampu merobohkan panggung. Para lelaki ikut menari dalam tempo musik yang cepat. Beberapa dari mereka meringis, berusaha meredam gelora yang menjilam-jilam saat tubuh tambun Carmela meliuk-liuk.

Mereka tergila-gila pada erotisme Carmela, seperti yang pernah aku saksikan pada Elda. Para lelaki di pesisir Genoa berdatangan untuk menghabiskan uang mereka demi bir dan tarian Cermela.

Carmela tahu cara memperoleh keberuntungannya. Di lantai tiga, di sudut kamar rajut yang berhias manik-manik kaca, di atas pemanas parafin, sebuah guci tembikar bercorak bunga Murbei mendesis-desis mendidihkan sop. Setiap hari, sebelum taverna dibuka, Carmela ke kamar itu untuk mencicipi semangkuk kecil zuppa ramuannya.

Zuppa dan el-Cuerpo membuat Carmela mencapai impiannya. Ia memiliki taverna, menari, merebut perhatian setiap lelaki di pesisir Genoa. Zuppa di Elda telah membuat gadis Manarola itu hidup di tubuh Carmela. (*)

Molenvliet, Januari 2015

 

Catatan:

– Strada = jalan; – Zuppa = sop; – el-cuerpo = sihir hitam gipsy untuk mencuri citra orang lain dengan memasak bagian tubuhnya.


[Cerpen] Hikayat Penulis yang Mati di Kota Orang-orang Putus Asa | Sastra Digital | Edisi Khusus Juli 2014

Hikayat Penulis yang Mati di Kota Orang-orang Putus Asa

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Mysterious Lake - Kiriban by Sebastian Wagner

JIKA kau berjalan lurus ke selatan, akan kau temui sebuah kota, di mana orang-orang putus asa tinggal. Kota yang memiliki telaga kecil dengan kilauan di permukaannya. Telaga yang mengisap harapan. Konon, tak ada ikan di dalamnya. Telaga yang hanya memantulkan cahaya merah rembulan, dan tepiannya ditumbuhi lumut putih yang bertangkai sebesar lidi kelapa dengan bola-bola berlendir pada ujungnya.

Orang-orang putus asa di kota itu menamai telaga kecil mereka sebagai Telaga Dosa.

Kata nenekku, dahulu orang-orang putus asa terjun ke telaga itu, lalu mati karam ke dasarnya. Kematian telah mengubah suasana di sekeliling telaga itu menjadi suram. “Jangan coba-coba kau ungkit kisah ini. Orang di sana tak suka. Pamali!” Kecam nenek.

Larangan itu harus dipatuhi semua orang dari luar kota itu. Tetapi, larangan itu mencungkil keingin tahuanku. Pada satu-satunya Penujum tua di sini, kutanyai ia tentang kisah para pendahulu dan telaga itu. Bukan cerita yang kudapatkan darinya, justru diberinya aku amarahnya. Penujum tua itu melotot, menghumbalangkan panci ramuannya, lalu buru-buru mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang. Diusirnya aku saat itu juga.

**

Jika kau ikuti jejak ular pasir di gurun, kau akan tiba di kota yang ditinggali orang-orang putus asa. Orang-orang putus asa dari segala penjuru negeri datang ke kota itu untuk membuang diri. Melunta-luntakan hidup mereka yang habis harapan itu.

“Sudah aku katakan jangan kau ungkit-ungkit kisah para pendahulu. Kelakuanmu itu sangat terlarang!” Begitu jengkelnya nenek saat mengetahui perbuatanku.

Rasa penasaranku telah menyusahkannya. Tetapi, siapa pun yang dilarang dengan bunyi kalimat macam itu, maka ia pasti berbohong jika tak terpancing keingintahuannya.

Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang.

Begitulah peringatan diejakan pada anak-remaja yang beranjak dewasa dan pada setiap orang yang datang. Kalimat yang disampaikan dari generasi ke generasi. Jika kau berani mempermainkan kalimat itu, kau akan segera mendapat cap makhluk paling laknat yang pernah hidup di antara orang-orang putus asa.

“Kota itu kosong sebelum orang-orang putus asa datang. Keputus asaan telah mengikat orang-orang di sana. Tiada harapan bisa kau temukan, kecuali kecurigaan belaka.”

Nenek menceritakan suatu peristiwa; tentang sekumpulan kecil orang putus asa datang ke kota itu, lalu coba-coba mengubah kalimat keramat itu dengan dalih reformasi. Seketika mereka dihujat karena menista para pendahulu, berbuat amoral dengan memberikan harapan pada orang lain. Sebab satu-satunya moral yang diterima di kota ini hanyalah: keputus-asaan.

Sekumpulan kecil orang putus asa itu dimahkamahkan, lalu diarak ke tepi telaga. Kemudian, seseorang dari mereka dijadikan contoh bagi kawan-kawannya. Ia dianiaya hingga kepayahan, sebelum dilemparkan ke tengah telaga. Ia karam mati di situ. Mayatnya dikubur di luar tapal batas kota.

Hukuman yang paling menakutkan bagi penduduk kota itu bukanlah mati ditenggelamkan, tetapi dikuburkan di luar kota. Itu adalah pembantaian atas marwah mereka sebagai orang-orang putus asa.

**

Jika kau ikuti burung Nasar yang terbang pulang, maka kau akan tiba di gerbang kota yang dihuni orang-orang putus asa. Orang-orang yang merendahkan dirinya serendah-rendahnya. Orang-orang di kota itu bersedia membunuh hanya karena sebuah harapan yang coba diterbitkan. Mereka hanya setia pada kalimat yang terpahat di tugu batu, di depan gerbang kota: Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang.

Ada masanya mereka melakukan ritual perjalanan suci. Orang-orang putus asa di kota itu memulai petilasan dari tugu batu di depan gerbang kota, melafalkan kalimat keramat dengan sungguh-sungguh, berulang-ulang, sehingga perjalanan itu selesai di tepi telaga.

Tiada sesajian, karena tak ada yang bisa mereka sajikan dari tanah kota yang tak mereka garap itu. Mereka menghabiskan apa yang ada, dan tak peduli jika kelak punah apapun yang ada di atas tanah kota itu. Tiada doa yang dipanjatkan, sebab harapan tak dibutuhkan. Harapan adalah dosa maha besar.

Di tepian telaga, mereka mencukuri rambut di kepala mereka untuk dibuang ke dalam telaga. Demi kepatuhan, orang-orang putus asa itu akan memakan jamur bola-bola putih berlendir yang tumbuh di sepanjang tepian telaga. Entah seperti apa rasanya. Barangkali, rasa aneh berlendir dan pahit luar biasa itulah yang mengubah wajah mereka menjadi jeri dan takut, seperti menahan dera siksa yang paling maut. Mereka selalu pingsan seusai memuntahkannya kembali.

Nenek bilang, mereka sangat menikmati keterasingan. Menikmati derita kematian para pendahulu melalui jamur bola-bola putih berlendir itu. Ada kalanya, satu-dua orang mengamuk seperti kerasukan sesuatu; memukuli tubuh sendiri dengan benda tajam dan merasa sedang menikmati keputus asaan yang diberkatkan padanya.

Darah dan luka adalah keputus asaan tanpa batas. Harga sebuah kepatuhan, kata nenekku.

**

Aku telah mengikuti awan kelabu yang berarak ke arah selatan, sehingga sampailah aku di depan gerbang kota orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang menerima kekalahan, sekaligus tak memberi apapun yang melebihi keputus asaan mereka sendiri.

Seperti pada setiap orang yang datang, padaku mereka sampaikan juga larangan yang sama: jangan sekali pun menanyakan perihal telaga di tengah kota ini, dan kenapa orang-orang putus asa terdahulu bunuh diri di situ. Itu bukan untuk didiskusikan. Pamali.

Tetapi, seringnya larangan itu diulang-ulang membuat kesabaranku terkikis. Keingin tahuan mendorongku datang pada satu-satunya orang yang aku anggap memiliki jawabannya. Ya. Si Penujum tua itu. Namun ia seketika melotot, menendang panci ramuan hingga terhumbalang, mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang, seraya mengoceh tak putus-putus. “Pamali, pamali, pamali…”

“Tapi informasi ini penting untuk tulisanku,” ujarku memohon.

“Memangnya kau siapa hendak menulis sesuatu yang kami larang?” Si Penujum tua berteriak dari bawah selimutnya, “cukuplah bagimu apa yang tertera di tugu batu di depan gerbang kota ini.”

“Baiklah, jika Tuan tak mau,” aku menenangkannya, “cukup katakan saja pada siapa aku harus bertanya selain padamu?”

Seketika si Penujum tua itu bangkit seolah baru saja tergigit seekor Semut Api. Ia singkapkan bulu Beruang yang menutupinya, matanya merah terbakar amarah. “Pergilah! Jangan sampai aku mengadukanmu pada para pengawas kota. Akan aku lupakan bahwa kau pernah ke sini dan melontarkan kekotoran dari mulutmu. Pergilah!”

Bukankah sudah kukatakan, siapa pun yang dilarang dengan bunyi kalimat macam itu, maka ia pasti berbohong jika penasarannya tak kian terpancing. Aku keluar dari rumah si Penujum tua. Tetapi, kepergianku justru hendak menjemput jawaban dari orang-orang putus asa lainnya di kota ini. Aku hampiri rumah mereka satu per satu. Aku singgahi setiap tempat mereka berkumpul.

**

Jika kau mendongak dan mendapati bulan berwarna merah di ujung gurun, maka sinarnya akan menuntunmu ke kota yang dihuni orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang membunuh setiap pertanyaan perihal leluhur mereka, tentang keanehan telaga, tentang kepatuhan yang tak boleh diungkap.

“Tidakkah kau baca pahatan di tugu batu, di depan gerbang kota ini?” Seorang Pengawas Kota mendesiskan amarahnya ke wajahku, di suatu mahkamah yang disesaki orang-orang putus asa.

Aku memprotes mahkamah ini. Tak ada perlunya mereka mendakwaku untuk hal yang tak aku pahami. “Tapi, aku tak memahami maksudnya.”

Orang itu mendelik. “Kau tak perlu memahaminya. Kau hanya perlu mematuhinya.”

“Mematuhi sesuatu yang tak aku pahami?” Aku mendebatnya.

“Kau mengganggu keteraturan di kota ini dengan berbagai pertanyaan yang kami larang.”

Aku menegakkan punggung. “Jadi? Apa yang nantinya akan kutuliskan tentang kota ini?”

Pengawas Kota itu mengangguk tegas. “Tidak ada. Diamlah, dan terima saja keadaan kami. Oh, tidak. Kau tak patut memaksakan keberatanmu atas apa yang telah kami lakukan turun temurun.”

“Aku tak memaksa. Hanya ingin jawaban.”

“Apa bedanya? Bukankah kau sedang berusaha membuat kami melanggar sesuatu yang kami tabukan?”

Aku terdiam. Wajah si Pengawas Kota tiba-tiba sinis, “karenanya, kau akan dihukum.”

“Tunggu…!” Aku berdiri, “aku bahkan bukan warga kota ini.”

“Diam kau!” Hardik si Pengawas Kota, lalu menoleh pada empat Pengawas Kota lainnya yang ikut mengangguk setuju. “Kalian!” Pengawas Kota di depanku itu menunjuk dua orang di belakangku, “bawa orang ini ke telaga!”

“Tunggu dulu…!” Aku menolak perlakuan orang-orang kota ini. Tetapi, orang-orang putus asa itu tak peduli. Mereka menggamit lenganku, memaksaku berjalan menuju telaga. Orang-orang putus asa lainnya mengekor seraya mendengungkan kalimat keramat.

Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang.

Para Pengawas Kota memerintahkan agar aku dicampakkan ke tengah telaga. Tubuhku tercebur, membenam beberapa saat. Tanganku menggapai-gapai di permukaan air, berusaha sekuat tenaga menuju tepian. Air telaga seperti sedang mencarak semua harapanku, menarik tubuhku kian karam ke dasar telaga.

Tetapi, aku bukan salah satu dari orang-orang putus asa di kota ini. Aku tak ingin mati di dasar telaga. Walau payah dan sekarat, aku berhasil menggapai tepian telaga. Seorang gadis muda berjongkok di atas tubuhku yang sekarat itu. Kata-kata seperti hendak berlompatan dari bibirku.

“Kau tahu? Jawaban yang kau cari ada di dasar telaga ini. Mungkin, aku tak akan sempat lagi menuliskannya.”

Gadis itu nyaris tak mendengar gumamku. Ia mendekatkan telinganya.

“Jangan dengarkan apa yang mereka ingin kau percayai.”

“Ada apa di bawah sana?” Gadis itu mendesak.

“Di bawah sana banyak ikan, sangat banyak,” suaraku nyaris hilang. “Harapan lebih banyak di dasar telaga ini daripada di atasnya, di kota yang mengepungnya. Kau tahu, di bawah sana tak ada jejak orang-orang terdahulu.”

Kulihat gadis itu terpana, sebelum cahaya pergi dari bola mataku. (*)

Molenvliet, Januari 2013

Twitter: @IlhamQM

 

(Dipublis pertama kali di Sastra Digital, Edisi Khusus Juli 2014)


[Cerpen] Makam di Bawah Jendela | Jawa Pos| Minggu, 10 Agustus 2014

Makam di Bawah Jendela

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Ilust_Makam di Bawah Jendela_Jawa Pos

MURAJ membuat Damha ketakutan dan hampir mati tersedak lidahnya sendiri. Begitulah awalnya. Entah bagaimana Muraj memilih seorang lelaki serapuh Damha, lelaki yang selalu mengira tak memiliki nyali dan merasa telah ditinggalkan siapa pun.

Apa yang diinginkan Muraj dari lelaki yang 25 tahun hidupnya disita derita itu. Kematian demi kematian mengelilinginya. Ayahnya mati sebelum ia sempat dilahirkan, lalu ibunya menyusul mati tiga bulan setelah ia lahir. Ia disusui seorang wanita paruh-baya yang juga baru saja mati tiga tahun lalu. Dua adiknya, mati sekaligus dalam kecelakaan lalu-lintas.

**

Muraj memberi Damha perintah untuk ia patuhi. Perintah yang bagai selubung besar membungkus tubuhnya, seolah memerah seluruh darah di tubuhnya. Damha terintimidasi oleh sebuah perintah sederhana.

Ya. Perintah sederhana yang mendentam di kepalanya serupa palu pada lonceng.

“Katakanlah,” bisik Muraj.

Tetapi Damha tak sedikit pun memahami keinginan Muraj. Lelaki itu terdiam mematung, sehingga Muraj harus menumpahkan ampas kopi ke atas meja kerjanya. Muraj mengacak-acak ampas kopi itu dengan kaki-kaki kecilnya.

“Makhluk apa kau ini?!” Desis Damha pada sosok di depannya itu.

“Aku Muraj.”Jawab sosok itu seraya mengirik seperti hantu kecil yang kerap bergelayut di punggung setiap orang alim dan berusaha menikamkan godaan ke hati lewat telinga mereka. Muraj mendekut serupa setan Morou yang senantiasa menunggui orang-orang agar tak terjaga dari tidur mereka saat subuh.

“Katakanlah!” Muraj memerintah Damha sekali lagi. Ia ingin agar Damha menurutinya. Perintah yang membuat lelaki itu nyaris menelan lidahnya sendiri karena ketakutan.

Muraj melompat ke atas mesin tik, menghentak-hentakkan kakinya, membuat pita karbon di mesin itu kusut-masai. Makhluk itu tampaknya tak peduli pada ketakutan lelaki di depannya. “Apa akan kau habiskan ubi ini?” Muraj justru menunjuk dua potong ubi rebus dalam piring porselein di meja Damha.

Belum sempat Damha menggeleng, Muraj menyambar dua potong ubi itu, lalu menghabiskannya dalam sekali telan. Makhluk itu lalu bersandar pada penyangga buku, menggesekan tubuh seperti seekor kucing yang gatal, sebelum menarik penyangga itu dan membuat buku-buku roboh. Ia cekit lembaran-lembaran buku sehingga robek dan melemparkannya ke lantai.

“Jangan…jangan lakukan itu,” Damha memelas.

“Memohonlah padaku!” Desis Muraj. “Kau bahkan tak berani melakukannya, bukan?” Ejeknya.

Damha menggeleng. Sendi-sendinya lunglai, belulangnya seperti karet. Wajahnya kebas. “Aku tak akan melakukannya padamu. Kau hanya seorang makhluk, bukan Tuhannya Musa, Isa dan Muhammad.”

Muraj mengirik. Sayapnya mengepak, lalu ia hingga ke dada Damha. “Jangan menguji kesabaranku! Kau tak pantas menyebut zat yang tidak kau kenali,” ujarnya marah.

Damha terlanga. Jemarinya lengket dan dadanya seperti ditekan sesuatu yang berat. Ia mengatupkan mata, berharap saat membukanya kembali, apa yang kini terjadi di depannya ini hanyalah mimpi belaka.

“Petang yang celaka, wahai jahanam!” Rutuk Damha ketika membuka mata dan masih menemukan Muraj di atas dadanya. Ia terperangkap bersama makhluk itu dalam situasi yang aneh. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali cemas dan mengasihani dirinya sendiri. Ia berharap ada Marya di balik pintu dan segera menariknya keluar dari kamar ini. Tapi itu tak akan terjadi. Baru dua jam lalu Marya berlari pergi dari kamar ini. Ia marah karena Damha tak sengaja menyenggol dadanya.

Kebetulan yang luar biasa, bukan?

Muraj datang saat Marya tak bersamanya. Saat tak ada orang lain yang ia harap bisa menolongnya. Perut Damha berkecamuk, seperti gemuruh laut yang membadaikan petaka.

Hoeeek… Damha muntah. Ia keluarkan sepotong ubi yang belum ia cerna baik-baik.

**

Mengenai Muraj, sosok aneh yang mendatanginya itu, lebih serupa burung kecil dengan bulu halus berwarna kuning. Saat Muraj bicara, dari punggungnya merentang sayap berwarna pelangi. Tetapi Muraj tak menemui Damha sebagaimana cara setan Morou muncul dari bawah ranjang. Sosok kecil itu masuk lewat jendela yang terbuka, lalu semena-mena mengintimidasinya.

“Krrr….” Muraj mengirik pendek. ”Katakanlah!” Ia mengulangi lagi perintahnya.

“Apa?” Damha susah-payah melawan teror di dadanya.

“Katakanlah atas nama Tuhan!”

“Tuhan yang mana? Siapa?”

“Tuhan yang menciptakan dan meniupkan cinta!”

“Aku tidak bisa mengatakan apapun? Aku bukan penyair!”

“Tetapi kau seorang pecinta,” Muraj tersenyum. “Katakanlah!” Suara Muraj tiba-tiba meninggi lagi, membuat telinga Damha berdenging. Lelaki itu benar-benar kepayahan.

“Katakanlah Tuhan dalam cinta!” Muraj terus memerintahnya.

“Tapi aku juga bukan pecinta!” Damha keras kepala.

“Ulangi kata-kataku!” Muraj tak perduli, “oh, Tuhanku yang penuh cinta.”

“Oh, Tuhanku yang penuh cinta!” Damha menyerah.

Muraj segera menyambung, “Aku akan mematuhi Engkau dalam cinta!”

Tetapi Damha terdiam. Kepatuhan? “Kepatuhan pada siapa?” Tanya Damha.

Muraj merentangkan sayap kecil yang pelangi itu. Matanya memancarkan cahaya merah. “Ulangi saja kata-kataku!” Teriaknya.

Telinga Dahma berdentang. Ia mengeriap. “Patuh padamu, atau pada Tuhan?”

Muraj mendengus. “Kau pikirkan itu sampai aku datang lagi!” Serunya dan buru-buru melesat terbang lewat jendela.

**

Marya mengizinkan Damha menemuinya dekat air mancur di alun-alun kota. Gadis itu merengut saat Damha berjalan ke arahnya, lalu tanpa basa-basi ia meninju perut lelaki itu.

“Aku tak bermaksud membuatmu malu,” Damha meringis memegangi perutnya.

Gadis itu tak menyahut. Ia rogoh sakunya dan menjentikkan sebuah koin tembaga 25 sen ke dalam kolam air mancur. Di dasar kolam, koin-koin berkilat lembut terpapar cahaya. “Mohonlah sesuatu, Damha,” pinta Marya.

“Memohon untuk apa?” Damha balik bertanya.

Marya tersenyum. “Berdoalah. Mintalah sesuatu.”

Damha mengusap wajahnya. Ia memilih duduk. “Itu tak penting sekarang ini.”

Marya memutar tubuhnya. Ia kaget. “Kenapa tak penting? Kau tak suka berdoa?”

“Sesuatu telah mendatangiku,” nada suara Damha membuat Marya cemas

“Siapa?” Gadis itu langsung merespon lelaki di sisinya.

“Muraj,” Damha berharap Marya tak menyangkanya sudah gila, “ia sosok yang menghantui kamarku.”

“Kau gila, Damha! Di saat bersamaku pun, kau lebih suka bicara tentang hantu.”

Damha menyerah. Gadis itu baru saja membenarkan kegilaannya.

“Tapi, hantu itu bicara tentang Tuhan.”

Mulut Marya terbuka dan ia membungkuk memegangi perutnya. Lelaki di sisinya itu berhasil membuatnya terbahak. Marya mengibaskan kepala, matanya menyorot tajam. “Jadi Muraj ini sejenis hantu yang alim?”

Dahma tiba-tiba merasa canggung dengan pembicaraan ini. “Sudahlah. Aku tak mau membahasnya lagi.”

“Jangan merajuk begitu,” kelucuan di wajah gadis belum usai. “Aku percaya padamu. Ia memang hantu, dan ia datang setelah kau menyentuh dadaku.”

Damha benar-benar menyerah dengan sindiran Marya, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Marya adalah satu-satunya orang yang masih mau bicara padanya. Orang-orang menghindarinya karena menyangka ia dikelilingi maut. Marya tak peduli pada dugaan orang-orang. Ia menyukai Damha, walau lelaki di depannya itu tak pernah menyadarinya.

Mereka bergeser, memberi ruang pada orang-orang yang datang melemparkan koin ke dalam kolam seraya memohon sesuatu dalam doa.

“Baiklah. Maafkan aku. Tapi kau harus tahu bahwa selera humormu buruk sekali.” Marya mengalah. “Sampai di mana kita tadi? Oh ya, soal hantu yang mendatangimu.”

“Entahlah. Ia bicara tentang cinta dan Tuhan. Aku tak tahu maksudnya.” Damha bangkit, menepis debu dari belakang celananya. “Hantu itu akan menemuiku lagi. Aku pikir, akan lebih baik kau bersamaku saat ia datang nanti.”

Seingat Marya, banyak kitab yang juga menjelaskan tentang malaikat yang membangkangi perintah menyambah manusia karena kesetiaannya pada Tuhan, sebagaimana yang diingat Marya dari kisah yang diceritakan neneknya yang alim: tentang manusia dan malaikat pembangkang.

“Kata nenekku, malaikat mengikuti tujuan penciptaannya; hanya setia menyembah Tuhan saja. Ia menolak menyembah selain Tuhan. Oh, Nenek, betapa aku merindukanmu.” Marya mengulangi apa yang dulu dikisahkan oleh neneknya.

Kisah purba yang belum selesai, kata neneknya yang alim itu. Kisah yang hanya akan selesai apabila malaikat itu bersedia berdamai dengan manusia untuk membayar pembangkangannya pada Tuhan.

Andai neneknya masih hidup, Marya ingin menanyainya beberapa hal; siapa nama malaikat yang membangkang itu? Benarkah ia dihukum menjadi hantu? Itukah harga yang harus ia bayar untuk kepatuhannya? Adakah kepatuhan itu sebuah pembangkangan?

**

Muraj mendarat keras di lantai kamar Damha. Makhluk itu tampak payah. Sebelah sayapnya membentang lunglai, sebelah lagi tertutupi darah kering. “Inikah hantu yang kau bicarakan itu?” Bisik Marya ke telinga Damha.

Damha mengangguk. “Ya. Dialah Muraj.”

Tapi Marya tak perduli siapapun namanya. “Kenapa sayapnya berdarah?”

Damha berlutut dan mendapati Muraj yang bergeming lemah. Makhluk itu bernafas nyaris senyap. Marya teringat lagi pada kisah neneknya.

“Ia sepertinya tak bernafas lagi.” Damha membalikkan tubuh Muraj agar terlentang.

Marya merengut. “Ini burung, Damha. Bukan hantu. Tak ada burung yang bisa bicara. Kau berhalusinasi, dan bodohnya aku memercayaimu!” Rutuk Marya berdiri dari jongkoknya.

Muraj membuka matanya. “Marya. Aku bukan malaikat pembangkang. Malaikat yang membangkangi Tuhan karena kepatuhannya yang nenekmu maksud dalam ceritanya itu adalah malaikat yang kini kerap menghalau dirimu mematuhi Tuhan. Ia tidak menyukai cinta.”

Marya gelagapan. Mulutnya tiba-tiba terkunci.

“Cinta,” Muraj mengirik pada Damha, ”aku harus menuntaskan urusanku, Damha. Ingatlah selalu pada Cinta, kata pertama yang diajarkan Tuhan pada manusia. Cinta. Katakanlah, bahwa Tuhanmu menciptakan cinta. Cintailah setiap makhluk Tuhanmu.”

“Sudah kukatakanaku bukan pecinta. Aku tak pernah melihat wajah ayah dan ibuku,” Dahma tertunduk, “bagaimana mungkin aku mencintai orang-orang yang tak pernah aku temui?”

“Jangan cemas, Damha. Bukankah kau mencintai Tuhan, sedang kau tak pernah melihat-Nya? Aku tahu, kau kelak bisa mencintai dua orangtuamu. Bersabarlah, Damha. Kita akan bertemu lagi,” napas Muraj kian tipis, matanya mengerjap lemah. “Oya, Marya,” sapa Muraj, “nenekmu menitipkan salam dan rindunya untukmu.”

Muraj tersenyum pada Marya dan perlahan mengatupkan mata. Tak ia buka lagi dan benar-benar pergi.

Mengenai luka di tubuh Muraj, luka yang membuat Muraj menemui kematiannya itu adalah luka peluru senapan. Muraj tertembak penembak jitu saat ia melintasi kota yang dikepung huru-hara, saat orang-orang begitu bernafsu membunuh cinta. Mereka membakar, menjarah, membunuh, dan memerkosa. Walau tertembak, ia tetap datang memenuhi janjinya.

Damha dan Marya memakamkan Muraj di bawah jendela. (*)

Molenvliet, Januari 2014

Twitter: @IlhamQM

 

* Cerpen ini didedikasikan untuk Hanna Fransisca.


%d blogger menyukai ini: