Tag Archives: kosong

[Esai] Sastra NTT, Nisan Kosong dan Epitaf yang Belum Ditatah

Esai berikut ini ditulis oleh Mario F. Lawi, seorang penulis dan penyair Nusa Tenggara Timur (NTT). Namanya tentu akrab di telinga para penikmat sastra di NTT. Mario lahir di Kupang, 18 Februari 1991. Ia dinobatkan sebagai Tokoh Seni versi Majalah Tempo, bidang Sastra Puisi tahun 2014. Buku kumpulan puisinya, Ekaristi (2014) dikukuhkan sebagai buku sastra puisi terbaik 2014 dan ia diganjar Academia Award 2014 kategori Literatur. Bersama beberapa kawannya, ia mendirikan Komunitas Sastra Dusun Flobamora di Kupang, pada 19 Februari 2011. Komunitas ini bergerak di bidang penulisan esai, puisi, cerpen, dan resensi buku. Setahun kemudian, pada 12 Mei 2012, komunitas ini menerbitkan Jurnal Sastra Santarang dan Mario menjadi Pemimpin Redaksi pada jurnal yang terbit rutin setiap bulan ini. Tiga buku puisi Mario adalah Memoria (2013), Ekaristi (2014), Lelaki Bukan Malaikat (2015). Esai Mario F. Lawi yang sedang Anda baca ini telah dipublikasikan di Harian Timor Express, Minggu 9 Maret 2014.

 

Sastra NTT, Nisan Kosong dan Epitaf yang Belum Ditatah

Oleh: Mario F. Lawi

mario lawi_2015Pada terbitan Harian Jawa Pos, 19 Januari 2014, saya membaca cerpen Ilham Q. Moehiddin yang berjudul Nisan Kosong. Hanya dengan melihat ilustrasi yang menyertai cerpen sebelum tenggelam ke dalam cerpen tersebut, saya jadi ingat tradisi perburuan paus di Lamalera.

Saya ingat, jauh sebelum cerpen ini terbit di Jawa Pos, pada 26 September 2013, saya dan beberapa teman dari Komunitas Sastra Dusun Flobamora diundang untuk menyaksikan sebuah pementasan kecil dimotori oleh sekelompok seniman dari Yogyakarta dan Aceh bekerjasama dengan Museum Daerah Propinsi NTT berjudul Koteklema dan Ksatria Laut Lamalera di kompleks SMA Katolik Giovanni. Salah satu tujuan pementasan ini adalah untuk menarik minat masyarakat—terutama kaum muda—untuk semakin sering mengunjungi museum. Pentas yang menggabungkan story-telling, drama, tarian dan nyanyian ini didukung juga oleh peran beberapa siswa dari SMAK Giovanni, SMA Muhammadiyah, SMK Negeri 1 dan SMA Negeri 3 Kota Kupang. Pentas ini mengangkat kembali mitologi yang menceritakan situasi awal masyarakat Lamalera berburu paus. Salah satu adegan dalam pementasan menunjukkan kepercayaan awal masyarakat Lamalera bahwa paus merupakan kerbau yang terlepas dan lari ke dalam laut.

Sebagai proyek, saya pesimis tujuan penyadaran dari pementasan ini tercapai. Selain karena digarap dengan waktu yang relatif singkat, pendalaman naskah yang tidak maksimal dari para tokoh yang terlibat membuat pementasan ini hadir ala kadarnya. Kembali ke Nisan Kosong, cerpen ini mengingatkan saya akan tradisi perburuan paus di Lamalera karena pelukisan suasananya.

 

Tentang “Nisan Kosong”

Nisan Kosong merupakan cerita yang dipenggal ke dalam empat fragmen dengan alur yang tidak linear tapi mudah dipahami, mengisahkan tentang dua orang lelaki yang berjuang memenuhi kebutuhan makanan keluarga mereka di musim dingin dengan membunuh ikan paus, yang dagingnya juga dinikmati seisi desa. Di sebuah tempat antah-berantah, di tengah musim dingin yang mengepung, Edgar dan Allan ayahnya memutuskan untuk berburu ikan paus demi mengalahkan lapar dan paceklik bahan makanan yang dihasilkan musim dingin berkepanjangan.

Demi Clara istrinya dan Ilyana sang putri, Allan bersama Edgar putranya bertarung mengalahkan dingin untuk menjebak seekor ikan paus ke mulut teluk. Dalam Nisan Kosong, dua ekor paus berhasil dibunuh. Nyawa paus pertama tumpas di bawah mata belati Allan. Nyawa paus kedua dilenyapkan kelompok nelayan lain. Sebagai ungkapan rasa terima kasih, Edgar menguburkan belulang kedua paus itu di dua buah makam yang ditandai dua buah nisan kosong.

Beberapa pesan dapat dipetik dari Nisan Kosong; dari isu tentang lingkungan, satir terhadap budaya hingga potret simbolik manusia yang berubah dari sosok yang berjuang memenuhi kebutuhan menjadi makhluk yang serakah dan ingat diri. Ucapan Allan kepada Edgar sebelum pembunuhan paus pertama kian mengingatkan saya pada tradisi perburuan paus di Lamalera, “Daging terbaik adalah daging ikan paus yang diasapi.  Minyak dari lemaknya juga sangat baik.” Bagi saya, sejumlah pesan kuat yang dapat dipetik tidak diimbangi dengan penggarapan suspens dan logika cerita yang maksimal, sehingga pada beberapa bagian, cerpen ini nampak tergesa-gesa dan nirlogis. Bagian yang berpotensi diolah menjadi konflik yang lebih dalam—misalnya eksplorasi psikologis Edgar dan Allan menghadapi kepungan musim dingin di tengah laut demi menaklukkan seekor raksasa laut—justru digarap dengan sangat minimal.

Seminggu setelah cerpen ini dipublikasikan di Jawa Pos, saya menerima pesan singkat dari penulisnya bahwa cerpen tersebut terinspirasi dari tradisi perburuan paus di Lamalera yang pernah dikunjunginya pada tahun 2004. Ilham Q. Moehiddin kini berdomisili di Kendari. Ia seorang kontributor tulisan untuk beberapa media di Indonesia, baik cetak maupun online, juga seorang prosais yang produktif dan meraih penghargaan dalam sejumlah sayembara menulis. Saya mengenalnya sejak Ubud Writers and Readers Festival 10-16 Oktober 2013 di Bali. Dalam pesan singkat tersebut, ia sempatkan bertanya, “Bagaimana tanggapan teman-teman komunitasmu tentang cerpen Nisan Kosong?” Saya menjawab dengan malu, “Kami tidak sering mengikuti perkembangan cerpen di Jawa Pos, Bang. Jadi, kami jarang mendiskusikan cerpen-cerpen yang terbit di sana.”

 

Nisan Kosong dan Sastra NTT

Bagi saya, salah satu kiat seorang penulis untuk mengasah kemampuan menulisnya adalah dengan memperluas medan bacaan sekaligus menjadi pembaca yang kritis demi mempertajam visi menulisnya. Pertanyaan Ilham di atas, adalah sebuah peringatan yang juga ditujukan untuk siapa saja yang menulis. Perluasan medan bacaan juga ditandai dengan variasi bacaan yang dicerna. Memberi tanggapan terhadap sebuah bacaan berarti menjadi pembaca yang kritis. Hal ini yang masih belum secara maksimal dilakukan oleh komunitas kami yang ironisnya berlabel ‘Komunitas Sastra’.

Jika pun cerpen Nisan Kosong kami diskusikan, akankah kami mengelompokkannya sebagai bagian dari “sastra NTT”? Saya kembali pada rumusan Yohanes Sehandi tentang “sastra NTT”. Menurut Sehandi, sastra NTT adalah sastra tentang NTT atau sastra yang dihasilkan oleh orang NTT dengan menggunakan media bahasa Indonesia.” Ia kemudian mencontohkan novel Lembata (2008) karya F. Rahardi dan puisi Beri Daku Sumba (1970) karya Taufiq Ismail. Bagi Sehandi, kedua karya tersebut adalah bagian dari “sastra NTT” karena berbicara tentang NTT, tentang masyarakat dan kondisi alam dan geografis NTT, meskipun tidak dihasilkan oleh orang NTT (Sehandi, 2012: 12-13).

Rumusan Sehandi tentang “sastra NTT” sendiri, bagi saya, masih bersifat polemis, terutama jika ditarik ke sejumlah karya yang dijadikannya sebagai contoh. Lembata (2008) yang ditulis oleh F. Rahardi, misalnya, meskipun banyak menyelipkan informasi geografis dan sosiologis tentang Kabupaten Lembata, bagi saya, tetap saja tidak digarap dengan latar-belakang kultur penulis NTT apalagi ketika memasuki bagian dialog antar-tokoh. F. Rahardi menyelipkan beberapa baris kalimat bahasa Jawa di tengah percakapan antara Pater Fransiskus Bagun dan Romo Zebua. Ketika ditanya oleh Pater Fransiskus Ekonom Keuskupan Ruteng, “Romo ini sebenarnya Flores atau Batak?” Romo Zebua yang ditokohkan sebagai pastor berdarah asli Lio malah menjawab dengan bahasa Jawa, “Kulo niki Jowo, Pater. Seminari Menengah wonten Mertoyudan, mlebet Projo Larantuka, Seminari Inggil wonten Kentungan, lajeng dados romo paroki wonten Lembata mriki. Kados pundi Pater?

Jika bahasa Jawa berani diselipkan F. Rahardi dalam percakapan antara dua orang NTT yang ditokohkannya dalam novel, mengapa ia tidak berani menyelipkan dialek Melayu-Lembata pada percakapan tokoh-tokoh yang lain, seperti percakapan antara Pedro dan Romo Zebua, dua orang NTT yang sama-sama hidup di Lembata, dan malah memilih menggunakan format percakapan bahasa Indonesia yang baku? Bagi saya, novel ini tidak secara mendalam melukiskan Lembata dan kelembataan yang salah satu aspeknya termanifestasi dalam dialek. Meskipun pada tataran deskripsi F. Rahardi banyak menuliskan tentang Lembata, hal tersebut tidak mutlak menentukan ihwal Lembata dan ‘kelembataan’ mesti dilibatkan dalam urusan pemaknaan.

Contoh lain adalah puisi Beri Daku Sumba (1970) yang ditulis oleh Taufiq Ismail. Dalam kumpulan puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” (cetakan kelima, 2004), Beri Daku Sumbadan 99 puisi lain, bagi saya, adalah pelanjutan tradisi lirih Melayu-Sumatera yang ditinggalkan oleh Amir Hamzah (bandingkan dengan kumpulan puisi Amir Hamzah “Nyanyi Sunyi” dan “Buah Rindu”), meskipun Beri Daku Sumba sendiri ditujukan untuk Umbu Landu Paranggi, seorang penyair asal Sumba. Ketika pertama kali membaca puisi tersebut semasa SMA, yang saya bayangkan justru bukan Sumba, melainkan Uzbekistan—lokasi yang menginspirasi Taufiq untuk menulis puisi tersebut.

Dua contoh karya tersebut, yang dikatakan oleh Yohanes Sehandi, sebagai “sastra NTT” dan “sastra tentang NTT” tidak harus disebut “sastra NTT” apalagi “sastra tentang NTT”. Sebab, menurut saya, pelabelan “sastra NTT” atau “sastra tentang NTT” dalam dua contoh yang diangkat Sehandi baru bisa terjadi pada medan pemaknaan, dan bukankah otoritas pemaknaan tidak bergantung pada hanya satu pihak? Melabelkan “sastra tentang NTT” pada dua karya tersebut hanya akan mempersempit medan pemaknaan yang pada akhirnya juga berarti melakukan represi pada tataran teks. Bukankah bentuk represi pemaknaan adalah hal yang paling awal ditolak dalam kesusastraan demi membuka kemungkinan tak terduga terhadap eksplorasi kebahasaan?

Maka, meskipun merasakan anasir tradisi perburuan paus Lamalera dalam cerpen Nisan Kosong ditambah pengakuan langsung dari penulisnya, saya tetap enggan menggolongkan cerpen tersebut ke dalam “sastra NTT” atau “sastra tentang NTT”. Pelabelan “sastra NTT” dan “sastrawan NTT”, bagi saya, berpotensi menjebak, ibarat menyiapkan sebuah kubur dengan nisan dan tatahan epitaf untuk menjelaskan riwayat kehidupan yang telah menjadi bagian dari kenangan. “Sastra NTT” atau “sastrawan NTT” tidak boleh ada sebagai monumen yang diam, melainkan sebagai sebuah proses yang hidup dan kerja yang tak kenal lelah. (*)

—————————— sumber: mariolawi.wordpress.com

 


[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Koran Tempo Minggu 2014

Cover Arsip Cerpen Tempo 2014

Download: klik link di bawah ini

E-BOOK_KUMPULAN CERPEN KORAN TEMPO MINGGU 2014

tujuan pengarsipan dan dokumentasi 49 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah fisik atau karateristik material, dan penambahan dalam skala yang dapat ditoleransi. semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media dimana karya yang bersangkutan dipublis pertama kali. dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta dan media yang mempublikasi subyek karya pertama kali.


[Cerpen] Empang Kosong

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

“JASHAR bilang, ikan Nila sedang mahal sekarang ini, Ros!”

Rayu Tamim pada Rostini, istrinya, yang saat itu sibuk menjerang sayur untuk makan malam mereka.

Tamim jongkok di sisi Rostini sambil mengunjukkan wajah memelas. Rostini bertahan tak mau melihat wajah suaminya jika sedang bersikap begitu. Sejak semalam, di ranjang, Tamim sudah merayunya. Mulut Tamim sekadar berhenti bicara soal empang dan ikan Nila hanya saat dia merenggangkan selangkangan Rostini dan sibuk di sana sekitar lima menit. Setelah hajadnya tunai, mulutnya mulai mencacau lagi. Rostini bahkan tak tahu kapan Tamim berhenti, sebab Rostini terlelap tanpa sengaja.

Jashar, kawan sekerja suaminya, memang pernah cerita perihal keuntungan menambak ikan Nila Merah dalam obrolannya dengan Tamim, saat mereka istirahat di kedai kopi Imah, di luar pagar pelabuhan. Kedua berkawan ini, sudah dua tahun lalu, bekerja sebagai kuli panggul di pelabuhan. Jashar menyebut-nyebut soal keuntungan besar apabila empang Nila panen sesuai rencana. Mulut Tamim sampai-sampai terbuka, tercengang mendengar jumlah uang yang disebut-sebut Jashar. Entah darimana si Jashar memperoleh beragam informasi soal bertambak ikan Nila Merah, sedang dia sendiri tak punya warisan tanah empang seperti dirinya.

Empang miliknya itu tak besar, cuman sekitar 50 x 25 meter per segi. Letaknya persis di belakang rumah kecilnya. Empang itu warisan ayahnya yang meninggal dua tahun silam. Begitu diwariskan, Tamim dan Rostini langsung pindah ke sana. Bermodal seadanya, Tamim memperbaiki rumah kecil di samping empang. Tapi, ketika itu modalnya tak cukup untuk membiayai pengelolaan empang. Ayahnya hanya mewariskan padanya empang itu saja, tanpa uang tunai sama sekali. Dua tahun mereka mukim di situ, Rostini melahirkan dua anak yang umurnya berpaut setahun.

Kata-kata Jashar sungguh mempengaruhi Tamim. Empat hari dipikirkannya, dan baru pada hari kelima dia berani menyinggungkannya pada Rostini. Dia tahu mereka tak punya uang sama sekali. Satu-satunya harapan Tamim untuk rencananya itu adalah cincin milik Rostini, yang dulu dimas-kawinkannya buat perempuan itu.

Demi agar Rostini mau memberi cincinnya, Tamim rela melepas martabatnya barang sebentar, merayu istrinya itu hingga seolah memelas. Kini, tinggal menunggu putusan istrinya saja, maka empang itu akan segera terwujud.

***

Pada akhirnya Rostini menyetujui niat Tamim. Perempuan kurus itu menggadaikan satu-satunya harta miliknya yang paling berharga saat ini. Rostini tak peduli masih ada beberapa hutang mereka pada rentenir yang sebentar lagi jatuh tempo. Dia sangat berharap Tamim akan bersungguh-sungguh, dan mereka bisa menikmati laba dari hasil menambak di empang kecil itu.

Jika Tamim gagal, entah apalagi yang mesti diperjuangkannya. Tanah warisan mertuanya cuman sedikit. Hendak dijual pun, tak ada yang mau beli. Lalu setelah itu mereka berempat hendak tinggal di mana? Tanah di sekitar muara tak begitu diminati pembeli, sebab jauh jaraknya dari lokasi gudang pelabuhan. Parahnya, lokasi tanah mereka berjarak 200 meter dari jalan besar, dan 1.5 kilometer dari muara.

Dua anaknya masih kecil-kecil. Yang sulung saja umurnya baru dua tahun. Kebutuhan kedua anaknya pun tidak sedikit. Termasuk masih harus menbayar mahal bila mereka berdua sakit. Pembebasan biaya berobat yang dibilang pemerintah itu, seperti tak berlaku di wilayah pinggiran macam ini. Setiapkali anaknya sakit, Rostini harus menebus obat sedikit lebih mahal dari harga obat yang di jual di kios pinggiran jalan. Jangan tanya soal surat keterangan miskin dari kelurahan. Surat keterangan itu sudah lama dia buang, sebab ternyata tak berguna sama sekali.

Kini satu-satunya yang berharga padanya sudah dibawa pergi Tamim. Semua pikiran tentang kondisi hidupnya dan kedua anaknya itulah yang membuat Rostini menunda menyetujui permintaan Tamim tempo hari. Dia bisa stress karena memikirkan semua kebutuhan hidup keluarga kecil ini selanjutnya.

***

Setelah menggadaikan cincin istrinya, Tamim segera menuju Balai Benih Ikan. Untung saja harga emas sedang naik, sehingga hasil penjualan untuk cincin seberat tiga gram, lumayan banyak. Semoga saja, setelah dikurangi harga bibit ikan dan pakan, sisanya masih cukup banyak untuk diberikan pada istrinya. Begitu harapan Tamim.

Tapi, di Balai Benih Ikan, Tamim harus menelan ludahnya sendiri. Untuk empang seluas miliknya itu, dia harus membenam 25.000 ekor bibit ikan yang seukuran dua jari orang dewasa. Artinya, per meter akan berisi 20 ekor bibit ikan. Ini hitungan pas. Sebab jika terlalu banyak, maka bibit ikan akan mati, dan jika terlalu sedikit, maka dia tak akan balik modal. Tamim akhirnya memutuskan yang terbaik baginya.

Kini di boncengan sepedanya, tersusun rapi sekarung besar pakan ikan, dan lima kantong besar berisi bibit ikan. Dia harus hati-hati membawa bibit-bibit itu, sebab jika pecah, maka dia akan rugi besar.

Hatinya lapang dan tenang setelah usai menuang semua bibit ke empangnya. Hati yang diliputi bahagia membuatnya lupa pesan Wak Rasyid, pemilik empang lainnya, mempesankan agar Tamim lebih dulu menguatkan tanggul empang sebelum memasukkan bibit ikan.

***

Hati Rostini gundah luar biasa. Setelah Tamim berbelanja bibit ikan, dia hanya mengembalikan 75 ribu rupiah. Uang sejumlah itu tak akan membuat mereka berempat hidup seminggu, sedangkan suaminya menerima upah seminggu sekali dari mandor pelabuhan. Tamim harus bekerja lebih giat lagi di pelabuhan untuk mencukupi kebutuhan mereka di minggu berikutnya.

Ingin sekali Rostini membantu suaminya. Tapi sayang, tidak ada pekerjaan yang memberikan upah walau hanya dikerjakan di rumah saja. Tidak satupun ada perusahaan yang mau memberikan pola plasma di sekitar situ. Ada lowongan di perusahaan pengalengan ikan, namun sayang yang diterima hanya perempuan yang belum menikah atau tanpa anak.

Sejak hari itu, Rostini sudah tak bisa berkumpul bersama ibu-ibu lainnya dalam arisan PKK. Dia berutang dua bulan di situ. Pemilik toko sembako di simpang keluarahan sudah pula datang padanya, menagih piutang selama dua bulan ini. Si pemilik toko datang setelah mendapat kabar bahwa Tamim barusan belanja bibit dan pakan ikan, dan sedang mengupayakan empangnya lagi. Rostini sudah berusaha meyakinkan si pemilik toko tentang cerita sebenarnya. Tapi, si pemilik toko justru mencibirnya, dan menyebut dia dan suaminya sebagai pasangan pembohong. Sebelum pulang, dia mengancam, jika Rostini tak membayar utangnya, maka masalah itu akan diadukannya pada lurah.

Dua masalah itu saja sudah cukup membuat kepalanya nyaris pecah. Barangkali dia akan gila jika pemilik peralatan dapur yang dahulu dikreditkan padanya datang menagih juga. Bulan lalu saja dia sudah menunggak, dan diancam akan dikenakan bunga tinggi. Jika bulan ini tak juga dibayarnya, maka bunganya akan bertambah. Tamim sudah diberitahukannya, dan suaminya itu berjanji akan mengusahakan agar mandor memberinya panjar upah kerja. Tapi Rostini tak bisa percaya sepenuhnya. Dua pekan lalu saja, Tamim bermohon untuk hal yang sama, tapi ditolak.

Malam itu, Rostini terjebak ketakutan-ketakutan dalam pikirannya sendiri. Matanya menatap kosong, ke arah kedua anaknya, yang tertidur pulas setelah melahap bubur yang diaduk bersama gula putih.

***

“Air datang! Menyingkir… Air datang!!”

Wak Rasyid berlari menembus hujan badai sambil berteriak kesetanan. Setelah melompati pagar dan menggedor pintu rumah Tamim, Wak Rasyid berbalik kembali ke rumahnya. Lelaki tua itu berlari memutari rumahnya dan menendang pintu kandang kambing sambil berseru-seru. Kambing-kambingnya berlarian keluar, ikut bersamanya menembus hujan. Istri dan anak-anaknya sudah diselamatkannya lebih dulu.

Sedari sore, Wak Rasyid berdiri di belakang rumahnya, sambil memegang payung. Hujan sedari pagi membuatnya khawatir. Menurut pengalamannya, setiap kali hujan seharian penuh di musim penghujan macam ini, maka air akan berangsur naik. Kadangkala, air hanya perlahan saja merambat naik. Tapi tidak kali ini. Air begitu cepat mencapai pancang pemancingan, tempat yang tandai Wak Rasyid sebagai batas normal ketinggian air. Jika air sudah merendam pancang itu, artinya hulu sungai sedang tak bersahabat.

Benar saja dugaan Wak Rasyid. Air datang bergulung dan ikut menyeret sampah kayu dari hulu, menghantam pancang hingga hancur dan ikut hanyut terbawa air. Menurut perhitungannya, akan berselang 15 menit dari hanyutnya pancang itu, air akan mencapai pekarangan belakang rumahnya dan segera merendam dapur.

Semua tetangganya sudah dia peringatkan. Beberapa orang lainnya juga sudah menyebar untuk memperingatkan sekian banyak warga yang tinggal di dekat sungai agar segera menyingkir. Dia sendiri segera menuju balai kecamatan untuk bergabung bersama warga lainnya.

Setibanya Wak Rasyid di sana, dia heran, tak ditemuinya Tamim dan keluarganya. Ah, barangkali, mereka mengungsi di lain tempat. Balai ini saja sudah hampir dipenuhi orang.

Semakin larut, air sungai semakin naik. Air kemudian surut perlahan bersamaan dengan berhentinya hujan-badai saat larut malam. Menjelang pagi, air ikut surut, kendati masih cukup berbahaya karena arusnya cukup kuat di tengah sungai.

***

Tamim mencengkerem lengan Wak Rasyid. Matanya merah.

“Mengapa…Wak…tak…memeriksanya…sekali lagi?” Tanya Tamim terbata-bata.

Tapi Wak Rasyid bergeming. Lelaki tua itu juga sedang diliputi perasaan bersalah, sehingga menurutnya, bicara hanya akan memperkeruh suasana. Sepengetahuannya sudah semua warga diberitahukannya soal datangnya air besar.

Hati Tamim benar-benar terpuruk. Dia lunglai, matanya menatap kosong ke arah empang dan rumahnya.

Air telah menjebol tanggul empang di sisi utara, sehingga tanpa bisa dicegah, air menyapu rumahnya, mendorongnya hingga tumbang masuk empang. Jika saja tanggul di sisi selatan dan barat ikut roboh, tentu kerangka rumahnya akan terbawa air hingga ke muara.

Tamim rupanya tak ada di rumah ketika kejadian itu. Sepulang mereka dari pelabuhan, Dia dan Jashar terlambat mencapai jembatan. Keduanya harus bernaung sebab mereka dihadang angin kencang dalam perjalanan. Saat mencapai jembatan, mereka sudah terlambat. Ratusan orang tertahan dan berkerumun tak jauh dari lokasi jembatan yang telah putus dihanyutkan air.

Semua orang akhirnya menunggu hingga pagi menjelang. Bersama beberapa prajurit dan SAR, mereka membangun jembatan darurat dari lima pokok kelapa yang diikat menyatu. Orang-orang SAR itu bilang mereka harus mendahulukan evakuasi korban manusia.

***

Setelah para korban meninggal dibersihkan dan dikafani, orang-orang mempersiapkan penguburan. Tamim berdiri sejenak dan memandang onggokan kerangka rumah dalam empang miliknya, yang kembali kosong, tersapu air. Matanya berganti memandang kakinya sendiri. Perih hati Tamim, membayangkan bahwa di tempatnya berdiri itu, tadinya berdiri rumahnya.

Di antara puing-puing rumah di tengah empang, orang-orang menemukan istri dan kedua anaknya. Terbenam, tubuh mereka memutih pias.

Membayangkan wajah-wajah orang yang dicintainya, Tamim terhuyung, menubruk pohon, dan merosot ke tanah. Dalam kepiluan dan rintihan, lelaki itu meraung sekuat-kuatnya. (*)

Kendari, 2011

Tradisional (sumber: Wilhelm Gross)


%d blogger menyukai ini: