Tag Archives: kepala

Green Pen Award 2015

IMG_0009f2

GREEN PEN AWARD 2015 awarded to short story: “Musim Jamur”

GREEN PEN AWARD 2015 awarded to short story:
“Musim Jamur” by Ilham Q. Moehiddin

————————————————————————

Musim Jamur

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Satu

Sejak awal subuh Saimah sudah menyiapkan isi balase (keranjang anyam dari daun pandan kering). Musim ulepe (jamur hutan) sudah tiba di hutan-hutan gunung Saba Mpolulu, sepanjang Juni sampai November. Ia belum membangunkan suami dan anak lelakinya. Ia membiarkan mereka tidur sampai segalanya selesai dipersiapkan. Para pencari jamur butuh banyak tenaga. Di dalam hutan nanti, sebelum pencarian, mereka akan menghabiskan sedikit waktu di landaian, mendirikan olompu (bivak/kemah hutan) dan membangun penampungan.

Muhrim, putra mereka satu-satunya. Usai melahirkan Muhrim, entah kenapa Saimah tak lagi bisa beranak. Vonis dokter itu datang 13 tahun lalu. Walau akhirnya ia dan Ntoma, sanggup menerima kenyataan itu, tetap saja hati Saimah masih perih hingga kini.

Setiap orang di pulau ini selalu menunggu datangnya musim jamur. Musim penghujan telah menyuburkan spora jamur di hutan-hutan. Pada musim jamur tahun lalu, mereka mampu mengumpulkan jamur paling banyak di antara semua pencari jamur di sini. Muhrim mampu membaui jamur hutan dari tempatnya tumbuh, padahal jamur sukar ditemukan karena baunya yang tipis. Beberapa pencari jamur menggunakan anjing pencari.

Tahun ini pun mereka bertekad mengumpulkan jamur paling banyak. Sepekan lalu Ntoma sudah menentukan area pencarian nantinya. Ada beberapa area di hutan gunung Saba Mpolulu yang bahkan belum pernah dikunjungi orang. Jamur biasanya tumbuh di permukaan tanah, tetapi ada jamur tertentu yang tumbuh melekat di batang pohon. Jamur juga tumbuh di pokok pohon yang tumbang membusuk dan di celah bebatuan. Namun tidak semua jamur hutan dapat dikonsumsi karena beracun. Setiap pencari jamur telah diajari membedakan jenis jamur. Ulepe yang paling disukai pembeli karena warnanya yang putih terang dan beraroma earthy, mirip tanah lembap, seperti bau akar. Pernah Muhrim memetik rumpunan jamur putih seberat lima kilogram dengan garis tengah bervariasi.

Di pasaran harga jamur putih akan mahal jika dijual dalam sistem lelang. Orang-orang menggemari jamur hutan karena rasa dan teksturnya yang unik. Mereka suka membuat salad atau sejenis insatina —masakan dengan irisan jamur yang ditumis dengan campuran minyak zaitun, diracik dengan tomat dan aneka sayur lainnya

Sungguh kelezatan yang tercipta dari alam.

 

Dua

Subuh hampir habis saat Saimah membangunkan suami dan putranya. Perbekalan sudah siap. Balase mereka dipenuhi bekal untuk sepekan. Makanan dibungkus terpisah dari benda lainnya. Beliung kecil juga sudah diikat ke badan balase.

Ntoma dan Muhrim —seperti pemburu jamur lainnya— akan menghabiskan sepekan lamanya dalam hutan. Tahun ini, mereka akan melewatkan ritual penghormatan Sangkoleong (roh hutan dan kesuburan orang Moronene). Mereka percaya, doa pada Tuhan dan usaha yang sungguh-sungguh, akan membuat upaya mereka diberkati dan membuahkan hasil.

“Kami berangkat sebentar lagi,” ujar Ntoma seraya mengecup ubun-ubun Saimah dan langsung duduk menikmati kopi yang telah disiapkan istrinya itu. Saimah memukul-mukul persilangan simpul dua balase yang ia siapkan, memastikan ikatannya kuat sehingga benda-benda dalam keranjang itu tak mudah bergeser ke mana-mana. Ia tersenyum, merentangkan tangan, lalu meraih pipi Muhrim sebelum mendaratkan kecupannya. “Hati-hatilah di hutan nanti,” nasihat Saimah pada putranya itu. Muhrim membalas-cium tangan ibunya.

“Kami akan memisah di ketinggian 300 meter, lalu menikung ke arah utara,” ujarnya seraya mengarahkan telunjuknya ke atas punggungan hutan gunung Saba Mpolulu. “Akan ada area landai di sana untuk mendirikan olompu,” jelas Ntoma pada istrinya.

Saimah suka mendengarnya. “Kita butuh uang untuk memerbaiki rumah,” ujarnya.

Dua lelaki itu menatap Saimah.

“Tahun ini Dewan Adat juga membuat kompetisi bagi pengumpul jamur terbanyak. Hadiahnya lumayan untuk memerbaiki rumah,” tukas Saimah lagi.

Ntoma menempuk lembut pipi istrinya itu. “Bersabarlah. Semoga putramu itu kembali dengan banyak jamur,” janji Ntoma. Setelah menghabiskan sarapan dan kopi, ia dan putranya turun dari beranda belakang tumah.

 

Tiga

Muhrim berjalan mengikuti naluri dan penciumannya. Remaja itu yakin tak jauh dari posisinya sekarang ada sekumpulan jamur putih di bawah pohon Onene —sejenis pohon Resam. Ia melompati beberapa pohon yang tumbang dan berlumut, berhenti sesaat, lalu tersenyum saat matanya menatap rumpunan Onene di kejauhan. Ia tarik pangkal tali yang membuhul keluar melewati punggungnya. Beliung pun lepas dari ikatannya dan berpindah ke tangan kirinya.

Saat mendekati pohon itu, hidung Muhrim terpapar bau lembut jamur yang banyak. Matanya berputar. Ia tersenyum lebar, selain rumpunan Onene yang kini sedang diincarnya itu, di sekitar situ juga banyak pohon Ketapang yang tumbuh rapat. Dari sanalah datangnya aroma jamur sung bulan. “Banyak sekali,” gumamnya.

Muhrim berteriak memanggil ayahnya. Tiada sahutan. Tiga kali ia memanggil, tapi tiada jua berbalas. Ah, barangkali saja jarak ayahnya sudah jauh. Biar saja, toh mereka akan bertemu di bagian utara hutan ini.

Muhrim berjongkok dan mulai menggali akar Onene mencari sumber dari aroma yang ditangkap hidungnya. Bongkahan jamur satu demi satu ia keluarkan dari liang tanah dan segera masuk ke balase-nya. Jamur-jamur yang berat. Terbayang girang wajah ibunya saat nanti mendengarkan kabar dari Dewan Adat. Harapan yang membuatnya kian bersemangat menggali jamur. Satu per satu pohon Ketapang dihampirinya juga, memetik gerombolan ulepe di batangnya dan memasukkannya ke dalam balase kecilnya.

Jika balase penuh, ia harus segera ke olompu untuk memasukkan jamur ke wadah penyimpanan, sebelum kembali mencari ke tempat lain. Tetapi, ia benar-benar tak menyadari saat matahari merayapi ufuk, menelan bayangan pepohonan. Raibnya cahaya di dalam hutan itulah yang menghentikan keasyikan Muhrim mencari jamur. Kini ia bingung. Di samar sore seperti ini, ia tak bisa lagi melihat posisi pohon pertama yang menjadi patokan arah menuju olompu. Kegelapan sudah mengepung Muhrim.

 

Empat

Malam turun di punggungan hutan gunung Saba Mpolulu. Ntoma memutar keran minyak pada lampu tabung. Olompu mereka segera terang-benderang. Cahaya dari unggunan api tak mampu tembus sampai ke dalam bivak sederhana itu. Dahan cemara kering lumayan banyak sehingga ia tak sukar membuat api penghangat.

Bukan hewan buas yang kini sedang ia cemaskan, tetapi Muhrim. Putranya itu belum muncul di waktu yang mereka perjanjikan. Seharusnya Muhrim kembali ke olompu sebelum matahari pergi dari ufuk.

Ntoma tahu putranya bergerak ke punggungan hutan di sebelah barat, saat ia bergerak ke sisi utara. Ia membiarkan remaja itu mengikuti nalurinya. Balase Ntoma belum berisi jamur sama sekali, padahal ia sudah seharian penuh mengitari hutan bagian utara.

Jika Muhrim bergerak ke sisi barat, lalu berjalan membusur ke utara, maka mereka akan bertemu di lokasi teduhan yang memampang atol Sagori di kejauhan. Dari titik-temu itu mereka akan turun bersama menuju olompu. Saat Muhrim tak kunjung tiba di lokasi teduhan, Ntoma memutuskan untuk turun lebih dulu, sembari berharap Muhrim sudah mendahuluinya.

Sayangnya, tak ada Muhrim di olompu. Kemah hutan itu kosong. Bukan main risau hati Ntoma. Di hari pertama musim jamur tahun ini, ia harus mendapati masalah macam ini. Kecemasan menjadi bayangan yang tak henti-hentinya merajam kepalanya; bagaimana jika Muhrim tersesat? Bagaimana jika anak itu terperosok di tebing barat-daya, di bagian hutan yang terlarang untuk di dekati itu? Bagaimana jika ia jatuh ke jebakan rusa?

Aduh. Ntoma menekan kepalanya. Apa yang nanti akan dikatakannya pada Saimah.

Ntoma gelisah sepanjang malam. Ia menolak tidur dan terus menunggu, berharap anaknya tiba-tiba muncul dari kegelapan hutan. Jika saja gelap tak menghalangi, hendak ia terobos hutan gunung Saba Mpolulu mencari putranya. Tapi percuma mencari dalam keadaan gelap seorang diri. Ia bisa celaka, jatuh dalam jebakan rusa.

Ia harus segera ke punggungan hutan sebelah barat. Jika putranya tak ada di sana, ia akan ke bagian timur hutan, berharap bertemu dengan pemburu jamur lain untuk meminta bantuan. Ia tak hirau lagi dengan jamur apa pun.

Putranya jauh lebih berharga dari jutaan keranjang jamur putih.

Subuh belum tuntas, saat Ntoma menggegaskan dirinya ke punggungan hutan sisi barat. Ia masih ingat lokasi terakhir saat berpisah dengan Muhrim. Setibanya di sisi barat itu, Ntoma berteriak sekeras-kerasnya, berulang-ulang, memangil Muhrim. Tapi tiada balasan. Kini, ia harus bersusah payah menepis dugaan buruk yang ramai ke kepalanya.

Susah benar hati Ntoma. Tak sudi membuang waktu, Ntoma lalu berlari menembus lebatnya hutan menuju olompu para pemburu jamur lain di sisi timur. Di antara mereka ada Manek, sahabatnya. Lelaki itu tahu persis kondisi punggungan hutan sebelah barat dan utara.

Nyaris dua jam berlari, Ntoma tiba di sana bermandi peluh. Matanya merah. Untung mereka masih di sana. Pada Manek, ia ceritakan kejadian yang menimpa Muhrim. Manek juga mencemaskan Muhrim apabila remaja itu berkeliaran di sekitar jurang curam di bagian hutan barat-daya.

“Tebing itu harus diperiksa lebih dulu untuk memastikan Muhrim tidak berada di sekitarnya,” ujar Manek. Ia memutuskan menghentikan perburuan jamurnya demi membantu sahabatnya. Musim jamur hutan masih panjang dan izin perburuan jamur dari Dewan Adat baru akan selesai di akhir November. “Abaikan dulu jamur-jamur ini,” tukas Manek. “Kumpulkan anjing-anjing! Muhrim harus kita temukan sebelum hari berganti!” Serunya.

Selain Manek dan Ntoma, ada enam pemburu jamur lain di punggungan hutan bagian ini. Mereka juga sepakat mementingkan nasib Muhrim. Delapan orang itu memisah dalam dua kelompok. Manek memimpin kelompok pertama ke sisi barat, dan Ntoma memimpin kelompok kedua ke sisi utara. Dua kelompok ini akan bertemu di teduhan di sisi utara.

Punggungan hutan gunung Saba Mpolulu pun terjaga oleh riuh panggilan dan anjing-anjing yang tak henti menyalak, berebutan lari saling mendahului.

 

Lima

Muhrim tak panik. Begitulah ibunya mengajarkan. Hal pertama yang ia lakukannya adalah membuat api. Pemantiknya menyala begitu digesek. Ia mengumpulkan ranting kering untuk menjaga apinya tetap menyala. Remaja itu membuat olompu kecil yang menempel ke dinding sebuah batu besar —posisi aman dari intaian ular dan hewan buas lainnya. Percuma berjalan ke kemah dalam keadaan gelap. Itu bisa membuatnya kian tersesat.

Ia tak benar-benar tidur malam ini. Sesekali ia jilati jemari yang telah ia celupkan ke tabung garam untuk campuran tepung beras —agar ia terjaga. Malam merambati punggungan gunung Saba Mpolulu, meluruhkan embun dari udara dan mengendapkannya di lantai hutan. Hanya cahaya api yang bisa membuatnya terlihat dalam endapan embun setinggi pinggang orang dewasa itu. Muhrim jauh melenceng dari jalur yang ditunjukkan ayahnya. Posisinya sekarang tak jauh dari tepian tebing barat-daya.

Menunggu terbitnya matahari, ternyata lebih berat daripada berburu jamur.

Esoknya, dengan mata setengah mengatup karena deraan kantuk, Muhrim merapatkan sarung yang menggulung di bahunya. Subuh sudah usai, tapi cahaya matahari masih betah di pucuk pohon yang berdiri rapat dan enggan turun ke lantai hutan yang digenangi kabut. Rumpunan  pohon Onene terakhir yang dilihatnya kemarin, adalah satu-satunya yang masih dikenali Muhrim saat ini. “Aku benar-benar tersesat,” gumamnya.

Ia ingat ibunya, lalu ayahnya. Dua hal berputar di kepalanya saat ini; menemukan jalur menuju olompu, atau mencari sungai untuk ia susuri menuju kampung terdekat.

Dengan lumut, ia tutup sisa bara di perapiannya. Muhrim memastikan bara itu benar-benar padam sebelum ia pergi. Ia tak mau hutan ini terbakar karena ketidak-becusannya. Ia rapikan keranjang jamurnya, menarik keluar tali di sayap balase agar ia bisa menggendong keranjang itu serupa ransel di punggung. Mencari olompu ayahnya adalah hal tersulit dari dua pilihan itu. Lebih mudah mencari sungai. Menuju olompu ayahnya sangat mungkin bikin ia kian tersesat, sedang mencari aliran sungai Lakambula, akan membuatnya menjauhi hutan. Menuruti nalurinya, Muhrim harus turun ke lembah di bagian selatan punggungan hutan.

Muhrim sedang mengundi. Ia tak bisa memastikan butuh waktu berapa lama untuk sampai di batang sungai. Hutan di bagian ini rapat pepohonannya. Ia bersyukur bahwa setiap pemburu jamur selalu berbekal Taa, yang bisa ia gunakan untuk memapas perdu, membuka jalan, dan melindungi diri dari hewan buas.

Ini hari kedua Muhrim di punggungan hutan gunung Saba Mpolulu.

 

Enam

Dua kelompok pencari yang dipimpin Manek dan Ntoma sudah menyebar. Berlari dua jam membuat kelompok Manek lebih cepat tiba di tebing barat-daya. Waktu yang sedikit lebih lambat dari waktu Ntoma saat berlari menemui mereka ke sisi timur. Mereka berteriak memanggil Muhrim. Tapi tak ada sahutan dari remaja itu. Manek memutuskan menyebar di sekitar tebing dalam radius 200 meter.

“Jika Muhrim berteduh di sekitar sini, kita mudah menemukan jejaknya,” ujar Manek serius. Ia kenal areal ini. Penyusuran di pinggiran tebing dilakukan dengan pola vertikal; dua orang menyusur ke barat, dan dua lainnya menyusur sedikit ke utara. Sayang sekali, untuk urusan mencari orang, anjing-anjing itu bukan ahlinya. Hewan-hewan itu banyak berlarian dan menyalak saat mengendus aroma jamur. Mereka terbiasa dengan bau itu.

Mereka memeriksa pinggiran tebing dan lega tak menemukan jejak apapun. Mereka mencari rebahan perdu yang menjadi penanda bahwa ada sesuatu yang jatuh ke bawah sana. Kurang dari 500 meter menjauhi tebing, Manek menemukan sisa olompu dan bekas perapian. Ia menyibakkan abu, meletakkan telapak tangannya di dasar bekas perapian. “Masih cukup hangat,” gumam Manek.

Lantai hutan yang basah akan cepat mendinginkan tanah. Posisi olompu dan perapian Muhrim di dekat batu besar, membantunya mengawasi sekeliling. “Dia pandai. Sudah sejam lalu ia pergi dari tempat ini,” kata Manek. Anggota kelompok lainnya membenarkan.

Apungan kabut setinggi pinggang menyulitkan mereka mencari jejak Muhrim pada lantai hutan. Lumut di lantai hutan, jarang menyimpan jejak yang kentara. Jika bobot orang atau hewan tidak seberapa, lumut akan segera tegak lagi setelah beberapa menit.

Manek harus memilih; memecah kelompok kecil itu lagi, atau mengikuti sebuah jejak samar yang mengarah ke lembah. Ia duga itu jejak Muhrim yang mengarah ke sisi selatan, ke arah sungai. Jika remaja itu naik ke punggungan hutan utara, ia sudah bertemu kelompok Ntoma —dan sahabatnya itu pasti sudah turun untuk menggabungkan kelompok. Namun, jejak samar itu juga mencemaskan Manek. Sepengalamannya, besar kesempatan remaja itu bertemu hewan buas yang kerap berkumpul minum di pinggiran sungai saat siang.

Manek melepaskan nafasnya kuat-kuat. Uap air meluncur dari mulutnya. Ia pandangi kawan-kawannya. “Ntoma akan melepaskan semua urusannya dan membantu siapapun yang tertimpa kemalangan serupa ini. Putranya harus ditemukan, apapun resikonya,” ujar Manek pelan. “Aku akan terus mencari —bersama atau tanpa kalian,” sambungnya seraya menatap ketiga kawannya. Ia tak bisa memaksa dan tiga kawannya itu punya pilihan yang akan ia hormati.

Karai langsung melangkah ke sisi Manek. Dua orang lain menyentuh pundak Manek. Mereka akan bersama Manek sampai lelaki itu berkata sebaliknya. “Katakan saja apa yang harus kita lakukan.” Kata Karai.

Manek tersenyum pada mereka semua. “Karai, kau ikut denganku turun ke lembah.” Lalu Manek menyentuh bahu dua kawan lainnya. “Kalian, bawa anjing-anjing ini dan susuri jalur ke hutan utara, temui Ntoma di sana, dan kabarkan padanya tentang pencarian kami ke sisi selatan. Kalian ikut dengannya ke kampung, mengumpulkan orang untuk menyusuri sungai ke arah barat. Ntoma tahu apa yang aku maksudkan.”

Dua kawannya itu mengangguk dan disambut oleh Manek dan Karai. “Baiklah. Kita berpisah di sini,” tukas Karai seraya mengibaskan ujung sarungnya.

Di hutan utara, Ntoma terkejut menerima pesan dari Manek. Ia kenal betul kawannya itu. Permintaan Manek itu mengkonfirmasi kecemasan Ntoma bahwa putranya tak berada di jalur pencarian mereka. Manek memutuskan membuat jalur baru.

Kini, Ntoma merasa telah berhutang besar pada sahabatnya itu.

Mereka segera membongkar olompu, dan turun ke kampung. Mereka mengumpulkan orang untuk menyusuri sungai Lakambula. Itu bukan urusan mudah. Musim telah membuat kelembapan menetap di lembah dan mendinginkan air sungai. Kadang pula membuat batang sungai berkabut dengan tiba-tiba.

 

Tujuh

Muhrim mencari sungai. Dalam tiga hari, ia hanya pernah tidur dua kali dalam waktu yang sempit: bergelung di cerukan batu atau rebah dalam rongga pohon besar yang tumbang.

Suatu waktu, ketika hendak menuruni lereng dengan meniti sebatang pohon tumbang, lamat-lamat ia seperti mendengar namanya diteriakkan. Ia meneleng kepala sejenak, mencoba memastikan lebih saksama. Tapi sayang, suara seperti itu hanya sekali dan Muhrim mengira dirinya terbawa lamunan.

Bekalnya hampir habis. Tak ada waktu untuk menangkap hewan buruan. Sehari lagi, semua yang bisa ia gunakan bertahan hidup dalam balase jamurnya akan pungkas. Ia harus mendapatkan sesuatu untuk dimakan —walau daun sekali pun.

Sempat ia berputar-putar di satu tempat itu saja. Muhrim baru sadar saat ia kelelahan. Tiga hari berjalan mencari sungai tapi tak juga kunjung ia temukan. Hutan ini lebat di sekitar lembah, dan pepohonan menjulang tinggi. Derau angin kadang menghalangi pendengarannya.

Pada malam di hari keempat, Muhrim menyesali dirinya yang bisa tersesat seperti itu. Ia pemburu muda, walau berhidung peka, tetap saja ia kurang pandai soal hutan gunung Saba Mpolulu. Kepekaannya pada bau jamur tak membuatnya peka bau air, bau daun pepohonan dataran rendah, atau arah angin.

Muhrim mendapati pemantik api yang nyaris hancur karena lembap. Tinggal sebatang pula isinya. Tinggal itu kesempatannya malam ini. Dihimpunnya ranting pinus kering yang ia kumpulkan di sepanjang jalan, berharap damar yang menyelimuti ranting-ranting itu akan membuatnya cepat terbakar. Api dipantik dan hati-hati ia dekatkan ke ranting pinus. Cuma sebentar, reranting itu pun menyala dengan hebat. Muhrim lega. Ia punya api lagi. Tapi perutnya lapar. Ia mencari jamur dalam balase, dan kecewa tak menemukan apapun lagi. Sebongkah jamur terakhir ia makan mentah-mentah siang tadi.

Dalam balase, tersisa segumpal tepung beras yang disiapkan ibunya, persembahan bagi ruh hutan. Itu jelas bisa dimakan, namun Muhrim harus melembutkannya lebih dulu dengan air. Tapi bolehkah ia melakukan itu? Itu sesaji untuk roh hutan —Sangkoleong yang sangat dihormati dalam peradatan. Ruh hutan yang tak boleh dicemari siapapun. Jika tepung itu ia makan juga, Sangkoleong pasti akan marah.

Muhrim menyusun bebatuan membentuk undakan kecil dan meletakkan tepung beras itu di atasnya. Ia duduk dalam diam, mulai berdoa kepada Tuhan. Malam itu Muhrim tidur dengan tenang. Unggunan api mampu membuat hangat separuh tubuhnya.

 

Delapan

Manek menemukan jejak tebasan Taa pada tanaman perdu hutan yang pahit dalam pencariannya di hari ketiga. Tebasannya kasar. Manek menebak, itu perbuatan Muhrim.

Ia lega. Setidaknya, ia berada di jalur yang searah dengan Muhrim. Menyusuri jejak itu bisa membuat mereka menyusul Muhrim. Setelah jejak di perdu itu, beberapa kali Manek menemukan bekas perapian, membuatnya makin yakin jarak Muhrim tak jauh darinya.

Pada hari kelima, di sebuah cerukan yang terjal, Manek nyaris memutar jika saja ekor mata Karai tak menangkap sosok balase yang tersangkut pada perdu berduri di sisi cerukan. Mereka raih keranjang itu dan menemukan marka keluarga Ntoma pada penutupnya. Manek sadar, bengkoknya rimbunan perdu yang tumbuh di dinding cerukan karena tertimpa sesuatu. Lelaki itu dengan cepat menduga bahwa Muhrim telah jatuh ke dasar ceruk.

Manek menarik Taa’owu miliknya, memapas permukaan perdu agar terbuka. Samar-samar, di keremangan dasar ceruk, mata Manek melihat bayangan tubuh manusia. Itu tubuh Muhrim. Dibantu Karai, Manek turun ke dasar ceruk menggunakan tali dan menemukan remaja itu dalam keadaan yang menyedihkan.

Kondisi Muhrim bisa membuat siapapun jatuh iba. Luka memenuhi tubuh remaja itu. Kaki kanannya patah. Padahal ceruk itu tinggal berjarak 100 meter dari sungai Lakambula. Manek dan Karai segera menyelamatkannya, menyusuri sungai Lakambula dalam sehari, hingga mereka mencapai kampung Olondoro.

 

Sembilan

Muhrim sadar dari pingsan 24 jam berikutnya, di sisi Saimah. Ibunya merawat luka-lukanya hingga Muhrim cukup kuat untuk bercerita. Pada dua orangtuanya dan beberapa lainnya —Manek dan Kepala Adat— Muhrim menuturkan pengalamannya. Mereka takjub mendengar bagaimana Muhrim bertahan hidup di hutan yang belum ia kenali, sampai kemudian Muhrim menyumpahi para pemburu jamur. Mereka terperangah, terlebih Kepala Adat. Saimah seketika menunjukkan wajah murung.

“Tak sopan! Mereka menyelamatkanmu. Tetapi kau justru menyumpahi mereka. Kau tak punya rasa hormat sama sekali!” Geram Saimah sambil menatap Ntoma, meminta dukungan. Ntoma menegakkan tubuh, meminta penjelasan dari Muhrim. Manek mundur, tak mau ikut campur. Tetapi yang lainnya berdiri tegak. Bahkan Kepala Adat harus mencondongkan tubuh ke arah Muhrim.

“Kita semua sudah lalai,” begitu tunak suara Muhrim, “lalai pada akibat perbuatan kita pada hutan setiap musim jamur datang. Kita tak menghormati hutan. Kita lupa pada apa yang seharusnya kita pelihara,” ujar Muhrim dingin.

Semua orang berpaling pada Kepala Adat, membuat lelaki tua itu salah tingkah. Ia tak mengerti ke mana arah kata-kata Muhrim. Dahinya terlipat, bahunya terangkat saat menatap putra Ntoma itu —meminta kejelasan.

“Kita tergila-gila pada jamur dan di saat yang sama kita melupakan hal lain yang jauh lebih penting. Nafsu kita yang membuat Sangkoleong tak dihormati lagi sebagai ruh hutan.”

“Muhrim!” Saimah berseru menyebut nama putranya. Kesabarannya sudah habis.

“Aku baik-baik saja, Ibu.” Muhrim menggelengkan kepalanya. “Selain kakiku yang patah, tak ada yang aneh padaku.”

Kepala Adat menyentuh bahu Saimah.

“Kondisimu belum baik,” santun Kepala Adat kepada Muhrim, “kendalikanlah rasa takutmu.”

“Oh, Apua, nafsu kita pada Jamur telah mengabaikan sesuatu yang penting lainnya. Perburuan jamur bukan karena jamur bisa menjamin hidup kita,” Muhrim mendongak, “tapi kebutuhan kita akan jamur telah membunuh kehidupan lainnya,” ujarnya.

Muhrim kemudian bercerita apa yang ia lihat di hari pertama ketika ia tersesat. Ia menemukan rumpunan  pohon Onene yang tumbuh berkelompok di sisi barat hutan. Awalnya ia senang karena akan menemukan kumpulan ulepe dalam jumlah besar. Hidungnya tak terus membaui aroma jamur untoka dari akar-akar pohon itu. Namun, ia terkejut dengan apa yang ia saksikan esok harinya —suara Muhrim tercekat di bagian itu. Wajahnya tampak kecewa.

“Tak jauh dari rumpunan hidup pohon Onene, aku temukan rumpunan pohon Onene lain yang telah mati. Aku segera menyadari, saat kita mengeluarkan untoka dari akarnya, saat itulah kita membunuh pohonnya.” Muhrim menyeka air matanya. “Siapa kita yang merasa berhak membunuh kehidupan lainnya? Kenapa kita justru membunuh pohon Onene hanya karena jamur-jamur itu? Bukankah kita juga sedang membunuh ruh hutan? Sangkoleong?”

Orang-orang terdiam. Ntoma terhenyak di sisi kursi Kepala Adat yang juga membisu. Mata Saimah berkaca-kaca berusaha membendung kekesalannya.

“Jika kita ingin menghormati ruh hutan, seharusnya kita menjaga hutan tetap hidup.”

Saimah berdiri dan menuju ruang tengah. Ia raih balase Muhrim, mencari sesuatu yang tak ia temukan di dalamnya. Balase itu ia bawa di antara orang-orang, di dekat Muhrim. “Bukankah ibu membekalimu dengan sesajian buat Sangkoleong?” Tanya Saimah.

Muhrim menolakkan tangannya ke lantai dipan, mendorong tubuh agar tegak dan punggung ia sandarkan ke dinding. “Aku memakannya—” ujar Muhrim seraya menarik selimut menutupi kakinya yang patah.

“Sebenarnya, ibu-lah yang menolongku saat aku kelaparan. Sangkoleong tak marah. Ruh hutan itu hanya diam saja, membiarkanku melembutkan tepung sesajian untuknya agar bisa aku makan bersama garam yang ibu bekalkan.” Lingkas Muhrim.

Merah mata Saimah. Perempuan itu tak bisa lagi membendung air matanya. (*)

Molenvliet, Desember 2014

 

Catatan :

  • Balase, Olompu, Sangkoleong, Onene = frasa nativ orang ToKotua di Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara.

  • Gunung Saba Mpolulu, Atol Sagori, Olondoro, Sungai Lakambula = nama-nama tempat di pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara.

  • Untoka = sejenis jamur marasmus berhabitat di tanah dan kayu lapuk, lumut atau herba batang. Saat belum mekar, jamur ini berwarna cokelat kecil seperti jamur kancing.

  • Ulepe = sejenis jamur hutan hygrophorus, yang menjadi incaran pencari jamur hutan karena harganya yang mahal. Tumbuh baik di iklim tropis.

  • Taa = belati tradsional orang Moronene

  • Taa’owu = parang tradisional orang Moronene

  • Apua = sebutan untuk Kepala Dewan Adat orang Moronene

 


[Cerpen] Nisan Kosong | Jawa Pos | Minggu, 19 Januari 2014

Nisan Kosong

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Nisan Kosong

Setelah Pembunuhan Kedua

SEHARUSNYA musim dingin segera berakhir sebulan lalu, selepas tahun baru. Namun, angin utara yang dingin datang tanpa diduga, menyandera semua orang di desa kecil ini dalam dingin yang membekukan tulang. Udara beku membungkus setiap rumah. Edgar berpikir, doa akan menyelesaikan kesedihannya.

Harapannya serapuh dan setipis lapisan es yang menyaluti pagar dan tepian atap. Kecuali orang-orang berani mengarungi laut dalam dinginnya air dan udara, maka sesungguhnya tak ada yang perlu dicemaskan lagi. Orang-orang di sini tak punya sepetak kebun untuk ditanami. Itu bukan pilihan di desa yang sebagian besar areanya berbatu karang. Di sini, orang-orang hanya perlu menjadi nelayan yang baik.

Udara beku telah memporak-porandakan harapan dan keinginan orang-orang di sini, mengubah kehangatan serupa kepungan ketakutan. Itu jelas membuat kondisi desa dan mental orang-orang di dalamnya kian memburuk.

Ada dua nisan tegak di atas bukit pasir di ujung desa, menghadap laut. Tak ada nama tertera pada dua nisan itu. Edgar berdiri di depannya. Dalam keheningan di kepalanya, doanya terbang bersama gemerincing suara lonceng-lonceng angin yang digantungkan anak-anak di dahan pohon willow pantai. Udara beku telah meredam setiap aroma kayu balsa yang disemburkan dari setiap cerobong asap rumah-rumah di sini.

 

Sebelum Pembunuhan Pertama

Masih dalam musim dingin yang berat, dua bulan lalu, di ruang tengah rumah kecil yang tak jauh dari jalan setapak menuju pantai, Allan duduk memeluk lutut menghadap perapian bersama tiga anggota keluarganya. Sesekali tangan mereka lurus ke perapian untuk meraba kehangatan.

“Kayu hampir habis. Minyak untuk menerangi rumah juga tinggal sedikit. Hmm… hantu-hantu laut itu kian merapatkan kepungan. Mereka ingin kita segera menyerah,” keluh perempuan di ujung perapian. Itu Clara, istri Allan. Ia telah mengira hantu-hantu laut adalah penyebab semua kemalangan ini. “Mereka datang menggandeng kematian,” sambungnya.

Mendengar Clara bicara begitu, Allan tiba-tiba berdiri. “Edgar, ikutlah denganku.”

Edgar bergegas bangkit mengikuti ayahnya. Mata kecil Ilyana berbinar memandangi punggung ayahnya dan kakaknya itu. Dua lelaki itu menuju ruang dekat dapur dan cekatan mempersiapkan peralatan melaut. Ilyana menyukai sop sirip hiu masakan ibunya. Gadis kecil itu menyukai setiap irisan lobak yang berenang-renang di dalam mangkuk sopnya. Usianya 12 tahun, terpaut lebih muda enam tahun dari Edgar.

Menahan terpaan angin, Edgar berjalan condong di sisi ayahnya menuju perahu yang ditambat di bibir pantai, di mulut teluk yang serupa bejana itu. Saat mempersiapkan perahu, mata Allan tiba-tiba terpaku pada benda gelap yang mengapung tak jauh dari mulut teluk. Lalu terdengar pekikan putranya. “Itu ikan paus!”

Ikan besar itu berenang lamban di mulut teluk. “Kau tahu Edgar,” ujar Allan. “Daging terbaik adalah daging ikan paus yang diasapi. Minyak dari lemaknya juga sangat baik.”

Edgar mengangguk. Pilihlah. Membiarkan ikan paus itu pergi atau dagingnya akan membantu semua orang di desanya melewati musim yang buruk ini.

Segera setelah melarung perahu, mereka berdua mendekati ikan paus itu dan berusaha keras menghalaunya masuk lebih dalam ke mulut teluk. Mereka ingin menjebak ikan itu di sana. Udara dingin yang menyelimuti pesisir seketika burai oleh suara gaduh keduanya.

Suara mereka membuat orang-orang desa berdatangan, memenuhi bibir pantai dengan mata berbinar. Semangat mereka tiba-tiba penuh saat melihat ikan besar yang berenang gugup di depan perahu Allan.

“Kita bantu dia!” Seseorang berseru dan bergegaslah nelayan lainnya ikut melarung perahu. Membentuk lingkaran dengan kepungan yang rapat dan kegaduhan kian memecahkan kesuraman di mulut teluk itu. Lunas bawah perahu membelah air, bersama kecipak dayung yang dikayuh kuat-kuat.

Allan menghunus belatinya. Ia sedikit ragu. Ikan raksasa itu berenang menjauh dari perahu Allan, namun tindakan justru membuatnya kian masuk ke mulut teluk. Ikan itu kini terjebak. Allan melompat seraya mengujamkan belati. Darah segera mengubah air laut yang dingin berwarna merah saat belati ia tikamkan tiga kali ke tengkorak kepala ikan besar itu.

Itu kematian yang canggung.

Para nelayan segera melemparkan kait bertali. Perahu dikayuh cepat melampaui tubuh ikan, langsung menuju pantai. Di sana sudah menunggu puluhan orang lain yang bersiap menyambut tali, beramai-ramai menarik ikan itu ke pasir pantai.

Orang-orang yang tergesa-gesa.

Tergesa-gesa mengakhiri riwayat ikan itu. Tergesa-gesa mengiris-iris tubuhnya. Tergesa-gesa pula mereka mengambil bagian masing-masing.

Allan nyaris tak mendapatkan apapun, jika saja ia tak segera melabuhkan perahunya. Ia memenuhi keranjang kecilnya dengan daging ikan. Mengambil kulit ikan untuk ia gunakan melapisi jendela. Edgar mengumpulkan belulang ikan untuk dibuat arang. Dua ruas belulang kecil ia simpan sendiri.

Akan ada kemeriahan kecil di setiap rumah malam ini. Irisan lobak akan berenang di mangkuk sop Ilyana. Kemeriahan kecil setelah kematian yang canggung siang tadi.

 

Sebelum Pembunuhan Kedua

Cuaca dingin masih berlanjut. Kelaparan kini kembali mengintai seisi desa. Daging asap dari ikan paus nyaris habis. Selepas pembunuhan pertama, orang-orang desa lebih sering memancing harapan, berdiri di bibir pantai dan memandang ke mulut teluk seraya berharap ikan-ikan besar datang lagi. Orang-orang ini mengharapkan pembunuhan berikutnya.

Kail harapan mereka terpaut akhirnya. Di suatu pagi, saat lapisan es memenuhi sela kayu, suara teriakan seseorang terdengar dari pantai. Teriakan yang meminta agar orang-orang segera datang dan melihat apa yang ia lihat. Di antara kerumunan ada Allan dan Edgar.

Ada ikan paus yang terjebak semalam. Ikan itu berenang gelisah di sisi palung teluk. Tapi, orang-orang terlanjur mengira bahwa harapan merekalah yang telah membuat ikan itu datang. Aroma pembunuhan bercampur dengan udara dingin.

“Ikan ini tiga kali lebih besar dari ikan yang tertangkap sebelumnya,” ujar Edgar pada ayahnya. Orang-orang tampak bergegas, mempersiapkan perahu dan senjata tajam. Maka seperti pembunuhan sebelumnya, ikan paus itu juga mati dengan cara yang canggung. Tak ada perlawanan. Ia terima orang-orang yang merebahkan kematian ke atas tubuhnya.

Tetapi, pembunuhan kali ini berbeda. “Kita sudah selesai di sini,” pelan Allan mengelus punggung Edgar, mengajaknya pergi. Apa yang mereka lihat itu sungguh memuakkan. Wajah dan tangan orang-orang dilumuri darah. Air laut mengantar darah ke tepian pantai.

“Malam ini dan malam-malam berikutnya, di rumah kita hanya akan ada sop lobak dan sedikit irisan daging asap dari ikan paus pertama,” begitu tenang Allan mengingatkan putranya.

Orang-orang desa menuntaskan pembunuhan kedua ini dengan cara yang paling masuk akal. Dalam cuaca dingin seperti ini, dalam intaian kelaparan, mereka kerat setiap daging dan lemak dari belulang ikan paus. Mereka tergesa-gesa. Ikan malang itu belum benar-benar mati saat orang-orang mulai mengambil setiap bagian daging dari tubuhnya.

Barangkali ini terlihat sekadar urusan bertahan hidup. Siapapun berhak melewati musim dingin yang buruk ini dengan tetap hidup. Tetapi untuk urusan semacam itu, orang-orang desa tak harus melepaskan kemanusiaannya.

Edgar kembali ke pantai saat tempat itu telah sepi. Ia berjongkok di sisi belulang ikan yang terserak. Memanggul beberapa belulang besar untuk ibunya dan menyelipkan dua ruas belulang kecil lagi ke dalam sakunya.

 

Setelah Pembunuhan Kedua

Semua orang desa kecil ini masih harus bersabar melihat bebungaan willow mekar di awal musim semi. Waktu yang terulur ini akan segera membangkitkan kecemasan, seperti kecemasan yang sudah mereka rasakan sebelum dua pembunuhan terakhir.

Seperti tiga pagi berturutan dalam sepekan Edgar selalu terlihat menyusuri jalan setepak menuju bukit pasir, maka pagi ini pun Edgar berjalan perlahan menuju ke arah sana. Kepalanya bertudung dan dua telapak tangannya tenggelam dalam saku. Pada kantong kain yang terselempang di tubuhnya, menyembul selembar batu pipih.

Di atas bukit pasir, Edgar memutar tubuhnya, memandang ke teluk yang terlihat indah dari atas sini. Matanya menjelajahi setiap rumah, perahu-perahu yang diam, dan pohon willow pantai yang rajin mengirimkan dentingan lelonceng angin yang digantung di dahan-dahannya.

Ia sudah menyadari bahwa bencana yang menyebabkan kecemasan di desanya bukan tentang udara dingin yang berembus dari utara, tetapi tentang sesuatu yang datang dari lubuk hati setiap orang di desanya.

Lelaki muda itu mengeluarkan isi kantong kainnya dan menegakkan nisan kedua di sisi nisan pertama. Kedua nisan itu menghadap ke laut. Kosong, tak bernama. Ia keluarkan bunga kering dari sakunya dan ditancapkannya ke atas pasir, berdekatan dengan nisan kedua. Ia lalu senyap sejenak, mengembarakan doa untuk makhluk Tuhan yang telah menerima kematian dengan canggung. Setiap ruas belulang yang ia simpan, telah ia kuburkan berdampingan.

Edgar masih tegak dalam diam, saat tangan Allan singgah ke bahunya. Ayahnya sudah ada di dekatnya, entah sejak kapan. “Selamat pagi, Ayah.” Sapa Edgar tanpa menoleh.

Allan membalas salam putranya. “Mereka berterima kasih padamu,” katanya lagi.

Edgar menoleh, mendapati wajah ayahnya yang tenang. Lelaki muda itu tertunduk. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada memakamkan empati yang dipaksa mati. “Kelak kau akan tahu…” Allan merangkul bahu putranya, “saat orang-orang tak lagi memedulikan cara, maka mereka telah usai melakukan kekeliruan yang ingin dipahami.” (*)

Molenvliet, April 2013

Twitter: @IlhamQM


[Cerpen] Pesta Kunang-Kunang | Jawa Pos | Minggu, 27 April 2014

Pesta Kunang-Kunang

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Ilust_Pesta Kunang-Kunang_Jawa Pos

1/

TIDAK ada makam di sini. Hanya rongga di batang pohon Dedalu raksasa yang tegak di tengah desa. Rongga yang disebabkan hantaman petir, dan kerap dipenuhi kunang-kunang yang berpesta selepas jasad diletakkan di dalamnya, membuatnya tampak seperti pesta lampion di malam tahun baru.

Saat Dedalu tua itu ditemukan di hutan utara, Ama (bapak) Huga takjub pada ukurannya. Ia kemudian mendirikan rumah 500 meter dari pohon itu. Pada tiga tahun pertama, orang-orang berduyun datang lalu ikut mendirikan rumah di situ. Rumah-rumah yang kini mengepung Dedalu tua raksasa. Ketakjuban Ama Huga pada Dedalu tua itu tak pernah hilang bahkan menjelang kematiannya. Ia ingin agar rongga di Dedalu tua itu menjadi makamnya dan makam setiap orang yang kelak mati di kampung yang ia namakan Lere’Ea ini. Orang-orang menurutinya. Karena pohon Dedalu menyerap aroma busuk di sekelilingnya, maka pohon itu juga menghisap bau kematian dari jasad-jasad orang mati.

Pemakaman pohon adalah solusi efektif agar lahan kampung tak habis untuk makam. Pemakaman yang tak merepotkan dan efisien. Pohon Dedalu tetap hidup dan tumbuh gergasi, sebagai rumah terakhir bagi orang-orang mati.

2/

Intina mencemaskan sikap beberapa lelaki yang tak hirau pada hal-hal istimewa yang ia simpan tentang Mori. Para lelaki menyukai Intina. Menyukai rambut hitam berombaknya, alis tebal di wajahnya yang oval, atau tubuhnya yang padat. Intina dinikahi Mori 12 tahun silam, dan ia masih istri Mori sampai kelak lelaki yang ia cintai itu pulang.

“Berhentilah menunggu Mori,” seorang di antara mereka coba meyakinkan Intina. Tetapi ia menjawab mereka dengan bantingan pintu. Cara yang perlu ia lakukan untuk menghancurkan harapan setiap lelaki di kampung ini.

Intina mungkin bebal karena masih memelihara rindu. Mori pergi saat Waipode berusia delapan bulan. Di subuh terakhir ia menatap suaminya, adalah subuh saat Mori mengecup kening putrinya, lalu Mori menutup pintu rumah dari luar. Intina menanti di setiap subuh berikutnya, berharap Mori menguak pintu dan tersenyum pada mereka berdua. Waipode kecil yang tak pernah membaui tubuh ayahnya itu kini beranjak remaja.

Waipode tak menanyakan ayahnya. Tentu sukar merindukan sesuatu yang tak pernah ia temui. Bagi Waipode, Mori adalah masalah ibunya dan itu bukan urusannya. Mori bukan orang yang ia lihat pertama kali saat matanya mulai terbuka.

3/

Suatu malam, sebelum usianya genap 13 tahun, Waipode mendadak demam. Empat hari berikutnya, demamnya meninggi dan tak ada dukun Lere’Ea yang bisa meredakannya. Mereka menyerah begitu saja, serupa dukun pemula yang baru belajar mengaduk ramuan obat. Di hari ke enam, Waipode sempat membuka mata, sebelum kejang dan diam.

Sakit misterius dan kematian yang mendadak itu mengejutkan setiap orang di Lere’Ea. Intina membersihkan tubuh putrinya dan membungkusnya dengan kain bersih. Seperti adab di sini, maka jasad Waipode akan masuk ke rongga Dedalu raksasa.

Dari kursi kayu di beranda rumahnya, Intina tak beranjak hingga malam datang. Ia tatapi rongga yang telah dipenuhi kunang-kunang itu. Ia pingsan karena lelah dan tersadar di pembaringan pada malam ketiga, saat orang-orang kampung gaduh.

Pesta Kunang-kunang di rongga Dedalu itu, memendarkan cahaya keperakan seiring munculnya dua tangan yang menggapai-gapai. Orang-orang ngeri saat dua tangan itu mencengkeram rerumputan, merangkak, seperti berusaha menyeret tubuhnya keluar dari rongga. Tubuh polos berlumur tanah seorang gadis yang dirubung kunang-kunang. Orang-orang kian gaduh. Baru kali ini mereka melihat bangkitnya orang mati dari dalam rongga Dedalu.

Berdiri kebingungan, gadis itu bertanya. “Mana ibuku? Mana Intina, ibuku?”

Ya. Gadis itu menyebut nama dan mengakui Intina sebagai ibunya.

“Aku Waipode, putrinya.”

Orang-orang tercekat. Gadis itu mengaku sebagai Waipode putri Intina yang mati tiga hari lalu. Intina melepas sarungnya dan gegas menghampiri —siapapun ia— seraya ia selubungi tubuh polos yang mulai jadi perhatian mata tiap lelaki dalam kerumunan itu.

Semua lelaki, kecuali Kalai. Si pembuat boneka di ujung kampung Lere’Ea itu mendadak sakit dan tertidur akibat pengaruh obat. Ia tak tahu kegaduhan yang baru saja terjadi di sini.

4/

Di Lere’Ea tak ada yang bisa membuat boneka kayu sebaik Kalai. Ia curahkan segenap perasaannya saat membuat boneka-bonekanya. Memahat boneka-boneka perempuan setinggi satu meter yang seolah hidup. Hanya boneka perempuan. Di akhir pekan, kereta tuanya berderit-derit menapaki jalan kampung berbatu menuju kota, ke toko tempat ia biasa menitipkan boneka untuk dijual.

Selalu saja ada boneka yang tak laku. Beberapa model tertentu entah kenapa tak mau dibeli orang. Mungkin mereka tak suka pada bentuknya. Boneka-boneka yang tak laku itu ia bawa pulang dan dijejerkan di sebuah rak khusus di ruang tengah rumahnya, sebagai penanda untuk tak lagi membuat model seperti itu. Bahan baku boneka kian sukar ia dapatkan. Pohon Dedalu di tengah kampung sukar dipanjati untuk sebatang dahan yang lurus.

Ya. Dahan Dedalu adalah rahasia keunggulan boneka pahatan Kalai. Kayu Dedalu dipanasi lebih dulu sebelum ia pahat menjadi kepala, tubuh, tangan dan kaki bagi boneka-bonekanya. Tekstur kayu yang lunak membuat pisau Kalai lincah menari-nari di sekujur kayu.

Dedalu seperti tumbuh untuk Kalai. Aroma kematian yang dihisap Dedalu dari jejasad di rongganya, telah menyuburkan dan menumbuhkan dedahan baru.

Tetapi Kalai tak membuat boneka pada hari seorang gadis keluar dari rongga Dedalu. Ia juga tak ada di antara banyak lelaki yang merasa beruntung karena memergoki tubuh gadis itu. Sakit membuat Kalai harus menemui dukun Lere’Ea untuk membeli ramuan obat. Efek ramuan itu membuatnya lelah dan merasa mengantuk. Ia tidur seharian dan tak tahu sesuatu telah terjadi di kampung itu selepas petang.

Para dukun di Lere’Ea membenarkan, bahwa gadis dewasa yang keluar dari rongga Dedalu itu adalah Waipode, putri Intina. Hal aneh yang sukar mereka jelaskan. Dedalu itu telah menghidupkan Waipode pada tiga hari setelah kematiannya. Waipode keluar dalam rupa gadis dewasa, 10 tahun lebih tua dari umur gadis remaja yang dimasukkan Intina ke rongga pohon itu.

Intina tak mau mempersoalkannya. Gadis itu hidup kembali dalam bentuk apapun, jika ia memang Waipode, maka Intina akan mengakuinya. Akan terasa aneh, mereka menjalani hidup seperti semula. Seperti sebelum kematian mendatangi putrinya lalu mengembalikannya.

5/

Bagi Waipode, dari si pemahat boneka itu. Waipode menyukai boneka-boneka buatan Kalai. Boneka dan pemuda tampan, adalah dua hal yang selalu bisa menciptakan cerita bagi seorang gadis dewasa. “Aku suka bonekamu,” ujar Waipode.

Kalai tersenyum. “Kudengar, kau membuat gaduh seisi kampung. Apa yang terjadi di sebrang sana? Sehingga para dewa mengizinkanmu pulang?” Kalai bercanda.

Waipode tertawa. “Di sebrang sana lebih tenang. Tak ada orang berkelahi karena tanah. Tak ada kejadian seperti yang dialami keluarga Adenar yang dilarang sembahyang dan terusir dari Laibatara (rumah ibadat). Dunia orang mati lebih toleran daripada dunia orang-orang hidup.”

Kalai tertegun mendengar kata-kata Waipode.

“Ini buatmu,” Kalai menawari Waipode sebuah boneka yang baru selesai ia buat. Waipode mengangguk gembira. Kendati boneka itu belum diwarnai.

Itu hanya perbincangan kecil. Tetapi Waipode selalu ada saat pemuda itu bekerja. Keintiman mereka membuat pemuda lainnya cemburu. Waipode telah memilih, dan pemuda beruntung itu adalah Kalai.

6/

Kalai menyadari bahwa hal aneh kerap terjadi di rumahnya saat larut malam. Bengkel kerjanya yang berantakan saat ia tinggalkan, selalu rapi esok paginya. Perkakas tersusun di tempat semula. Sampah rautan kayu hilang tak berbekas. Seluruh penjuru rumah bersih. Seperti ada tangan misterius yang telah membantu membereskan kekacauan itu.

Saat Kalai pulas, para boneka buatannya bergerak. Ya. Boneka-boneka kayu itu hidup dan turun dari rak pajang di tengah rumah. Mereka jelajahi tiap ruangan, bertingkah layaknya gadis muda yang sibuk merapikan rumah. Mereka kembalikan semua benda ke tempatnya, menanak bubur dan memanaskan kopi buat Kalai sebelum mereka kembali ke tempat semula sebelum fajar menyingsing.

Tetapi, boneka-boneka itu mulai kerap membicarakan Waipode. Kehadiran gadis itu jadi masalah yang serius bagi mereka.

Dedalu raksasa di tengah kampung menyimpan keganjilan sejak pohon itu mulai dijadikan makam. Pohon itu tak saja menyerap aroma kematian, tetapi juga menyimpan arwah para gadis dewasa yang mati dalam pembuluh getahnya. Arwah-arwah itu berdiam di sana dan menunggu untuk tubuh baru. Mereka tak sengaja hidup oleh cinta yang dicurahkan Kalai saat ia memahat boneka-bonekanya.

Mereka benci mendapati pemuda itu kerap mengagumi Waipode. Hanya butuh sedikit alasan untuk sebuah rencana kematian.

7/

Bukan kebetulan saat sebuah benturan kecil membuat roda kereta Kalai lepas dan menggulingkan kereta tua itu bersama penumpangnya. Waipode sudah mati saat Kalai mengeluarkan tubuhnya dari himpitan kereta.

Perasaan Intina kembali hancur atas kematian Waipode untuk kedua kalinya itu. Ia menunggu keajaiban yang tak datang di hari ketiga setelah jasad Waipode ia masukkan ke rongga Dedalu. Putrinya tak hidup lagi. Tak ada cahaya keperakan, kecuali kerumunan kunang-kunang yang tetap berpesta.

Tetapi, Kalai punya cara mengatasi dukanya. Pada hari ketiga, di saat Intina berharap Waipode keluar dari rongga Dedalu, Kalai telah menyelesaikan sebuah boneka kayu.

Boneka yang sangat menyerupai Waipode. Boneka yang membuat Kalai tergila-gila. Boneka yang hidup di pengujung malam dan diam kembali sebelum fajar datang. Boneka yang kerap memestakan gairah Kunang-kunang, meminta Kalai memasukkan sepuluh boneka lainnya ke api tungku, dan membuat pemuda itu bersumpah tak lagi memahat boneka. (*)

Ubud, Oktober 2013

Twitter: @IlhamQM

 

Catatan:

*) cerpen ini meminjam tradisi penguburan bayi pada liang pohon di Tana Toraja dan tradisi penguburan pohon di Trunyan, Bali.


[Filem] Karinding dan Berburu Kepala di Warriors of the Rainbow

Karinding dan Berburu Kepala di Warriors of the Rainbow

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Warriors of the Rainbow: Seediq Bale

SAAT melihat scene (sin) sekelompok orang suku Seediq menari-nari diiringi bunyi dari sejenis alat musik serupa Karinding, saya tersenyum. Bagaimana bisa Karinding muncul di sebuah filem berlatar sejarah besutan sineas Taiwan? Sebuah filem yang mengangkat sejarah Insiden Wushe, insiden berdarah yang terjadi di dekat Gunung Qilai Taiwan saat invasi Kekaisaran Jepang di Formosa tahun 1930. Seorang Seediq, Mona Rudao, kepala desa Mahebu, memimpin prajurit sukunya berperang melawan Jepang.

Seediq adalah satu dari 14 suku asli pulau Formosa (Taiwan) yang menempati wilayah Nantou dan Hualien. Sebagaimana nama sukunya, maka bahasa yang mereka gunakan dikenali sebagai bahasa Seediq. Namun begitu, pengakuan atas keberadaan suku ini tergolong lambat dilakukan. Suku Seediq baru resmi diakui pemerintah Taiwan sebagai satu dari 14 kelompok adat Taiwan pada tanggal 23 April 2008. Baru enam tahun terakhir saat tulisan ini dibuat. Sebelumnya, suku Seediq bersama suku Truku yang masih memiliki kekerabatan erat, diklasifikasikan sebagai suku Atayal.

Filem Warriors of the Rainbow: Seediq Bale terdiri dari dua bagian. Bagian pertama berjudul The Sun Flag, dan bagian kedua berjudul The Rainbow Bridge. Di bagian pertama itulah Karinding dan tradisi perburuan kepala bermunculan dalam sin-sinnya.

 

Insiden Wushe

Pada tahun 1895, Taiwan berada di bawah kontrol pemerintah Kekaisaran Jepang melalui Perjanjian Shimonoseki. Pendudukan Jepang atas Taiwan terjadi setelah Jepang berhasil mengalahkan Dinasti Han China. Pejabat militer Jepang yang ditempatkan di Taiwan berpendapat bahwa penduduk asli adalah hambatan utama bagi mereka untuk menguasai sumber daya alam Taiwan. Pendudukan itu menyebabkan pertempuran tak seimbang antara penduduk asli dan militer Jepang. Perlawanan demi perlawanan meninggalkan cerita panjang pada jejak tebing.

Sementara itu, intrik lain menjadi satu dalam perjuangan suku Seediq melawan tekanan pemerintah militer Jepang. Hubungan baik Mona Rudao dalam hubungan dagang dengan kalangan China Han, mendapat saingan dari Temu Wali, seorang muda suku Bunun dari kelompok Toda. Militer Jepang melarang hubungan dagang itu dan berkolaborasi dengan sekelompok suku Bunun untuk menyergap sekelompok lelaki suku Seediq yang mabuk saat mereka sedang tidur. Pembunuhan itu direspon dengan keras oleh Mona Rudao. Namun setelah beberapa kali pertempuran, Rudao Luhe—ayah Mona Rudao—terluka, sehingga melemahkan perlawanan Mona Rudao dan desa-desa suku Mahebu. Kematian Rudao Luhe membuat persekutuan tiba-tiba berakhir dan suku-suku di Taiwan kembali berada di bawah kendali dan tekanan militer Jepang.

Ketakutan terbesar penguasa militer Jepang adalah aktivitas adat suku Seediq—dan 13 suku lainnya—berburu kepala manusia dari musuh-musuh mereka. Selama 20 tahun penguasa militer Jepang berusaha menghapuskan kebiasaan itu. Para pria dari 14 suku asli Taiwan dibujuk menjadi buruh perusahaan kayu. Walau berupah rendah, mereka menerima tawaran itu karena tekanan kuat militer Jepang. Mereka dilarang memegang senjata api (musket) untuk keperluan berburu hewan secara tradisional.

Sedangkan para wanita suku-suku asli Taiwan bekerja di rumah-rumah orang Jepang dan dilarang menenun kain tradisional. Anak-anak—termasuk anak Pawan Nawi—bersekolah di desa Wushe.

Namun, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, para pria suku Seediq tetap melakukan hubungan dagang dengan orang China Han. Mereka mendapatkan alkohol dan obat-obatan dari toko kelontong seorang China Han yang membolehkan mereka mendapatkan semua barang-barang itu secara kredit. Di atas segalanya, tetap saja, militer Jepang melarang siapapun memakai tato wajah. Padahal tato wajah diyakini oleh suku-suku Taiwan sebagai jalan ke sisi lain di ujung jembatan pelangi setelah kematian.

Setelah 20 tahun berada dalam tekanan militer Jepang, upaya pelemahan itu tampaknya berhasil. Sekelompok orang suku Seediq—seperti Dakis Nomin, Dakis Nawi, Obing Nawi, dan Obing Tadao—bahkan mengadopsi nama, pendidikan, bekerja dan hidup di antara orang-orang Jepang. Merasa berhasil dengan upaya pelemahannya, militer Jepang justru tak menyadari bahwa ada ketegangan yang terpicu dalam kepemimpinan setiap suku di Taiwan.

Pada akhir musim gugur 1930, Mona Rudao melangsungkan sebuah acara pernikahan untuk pasangan muda warga desanya. Untuk memenuhi keperluan upacara, Mona Rudao memimpin sekelompok orang desanya untuk berburu hewan upacara. Di sinilah filem ini dimulai.

Seediq3

Dimulai dengan adegan perburuan hewan di sebuah sungai di gunung Qilai. Dua orang pemburu suku Bunun yang sedang berburu babi hutan, bertemu dengan kelompok pemburu suku Seediq yang dipimpin Mona Rudao.

Temu Wali yang sedang berburu bersama seorang polisi militer Jepang, Kojima Genji dan anaknya, tak sengaja bertemu kelompok pemburu Mona Rudao. Pertemuan tak sengaja ini membuat dua kepala kampung itu berdebat soal batas areal perburuan. Berdebatan itu memanas saat kawan Temu Wali menodongkan senjata yang segera memicu kemarahan Mona Rudao yang langsung menyerang dan membunuhnya. Mona Rudao juga merampas hasil buruan yang diperoleh Temu Wali dari wilayah perburuan suku Seediq. Pertengkaran itu akan berbuntut panjang.

Saat pesta pernikahan warga Mona Rudao, seorang polisi militer Jepang yang baru saja dilantik bernama Yoshimura, berkeliling memeriksa keamanan desa. Tado Mona—anak Mona Rudao—menawari Yoshimura segelas bir millet, sejenis bir tradisional suku Seediq yang difermentasi dengan air liur. Yoshimura yang gugup menyangka niat baik Tado Mona sebagai upaya meracuninya. Yoshimura mendorong Tado Mona hingga terjatuh ke liang berisi darah bekas penyembelihan hewan.

Melihat saudaranya dikasari orang Jepang, Baso Mona memukul Yoshimura dan perkelahian tak bisa dihindari. Mona Rudao menghentikan pertarungan, namun Yoshimura yang cemas akan keselamatannya, mengancam akan menghukum seluruh warga desa. Ancaman ini membuat para pemuda suku Seediq—termasuk Piho Sapo dari desa Hogo—mendesak Mona Rudao untuk memulai perang dengan Jepang. Mona Rudao bilang bahwa mereka tak mungkin menang. Namun Mona Rudao juga melihat perang sangat dibutuhkan untuk memutus tekanan militer Jepang selama ini.

Dalam beberapa hari Mona Rudao menyeru desa-desa Seediq agar masuk dalam pakta, menggabungkan kekuatan untuk sebuah serangan terbuka. Mona Rudao berdemonstrasi dari desa ke desa. Di desa terakhir, desa Hogo, kepala desa Tadao Nogan setuju bergabung dengan Mona Rudao. Mereka berencana menyerang Jepang pada tanggal 27 Oktober 1930, saat Jepang sedang menggelar pertandingan olahraga di halaman sekolah desa Wushe untuk menghormati Pangeran Kitashirakawa Yoshihisa. Para wanita suku Seediq, termasuk Mahung Mona, putri Mona Rudao, tahu rencana perang itu.

Dakis Nomin, seorang pemuda suku Seediq yang telah menjadi polisi militer Jepang—dan berganti nama menjadi Hanaoka Ichiro—mendapat kabar bahwa Mona Rudao sedang bersiap untuk perang. Kendati ia tak mebocorkan rencana itu, ia tetap datang menemui Mona Rudao. Ia datang ke air terjun dan membujuk Mona Rudao agar membatalkan rencananya. Justru Mona Rudao berbalik membujuknya untuk berkolaborasi. Setelah Dakis Nomin pergi, Mona Rudao bernyanyi bersama roh Rudao Luhe (ayahnya) sekaligus memutuskan untuk memulai peperangan.

Pada tanggal 27 Oktober 1930, serangan berlangsung sesuai jadwal dan menggunakan taktik perang Seediq. Orang-orang suku Seediq menyerang pos-pos polisi militer Jepang. Semua laki-laki, wanita dan anak-anak Jepang tewas dalam kondisi terpancung. Rupanya, suku Seediq menggunakan tradisi perburuan kepala dalam perlawanan itu.

Pawan Nawi membunuh seorang guru Jepang beserta seluruh keluarganya. Obing Nawi, seorang wanita suku Seediq yang sedang memakai pakaian Jepang, terhindar dari pembunuhan hanya karena suaminya (Dakis Nomin) membungkus tubuhnya dengan kain tenun tradisional suku Seediq. Obing Tadao, putri kepala desa Tadao Nogan yang juga sedang memakai pakaian Jepang, lolos dari pembunuhan karena bersembunyi di ruang penyimpanan. Orang-orang China Han tak diserang. Orang-orang suku Seediq merampas semua senjata Jepang. Seorang polisi militer Jepang yang lolos memberitahu dunia luar tentang serangan mematikan itu.

Pada sin akhir filem ini, tampak Mona Rudao berdiri di bawah tiang bendera di tengah dewa Wushe yang dipenuhi mayat tanpa kepala dari orang-orang Jepang. Kepala-kepala mereka diambil sebagai tanda kemenangan.

 

Karinding (Mouth Harp)

Karinding

Karinding

Penggarapan filem ini luar biasa. Sutradara berhasil meracik filem sehingga benar-benar persis dengan kejadian sebenarnya. Saat ditampilkan dalam Venice International Film Festival, filem ini mendapat sambutan hangat dari para kritikus. Filem ini terpilih sebagai nominator pada Academy Awards ke-84 untuk Film Berbahasa Asing Terbaik pada tahun 2011—salah satu dari sembilan filem yang dinominasikan untuk maju ke babak berikutnya. Sayang sekali, filem ini gagal menang karena dua bagian filem ini terlalu panjang sehingga harus digabungkan yang justru memangkas beberapa adegan penting.

Anggaran produksi filem ini adalah yang termahal dalam sejarah sinema Taiwan. Para kritikus filem dunia menyandingkan kualitas skenario dan sinamatografi dua bagian filem ini dengan Braveheart dan The Last of the Mohicans.

Mengenai alat musik yang dimainkan suku Seediq—pada sin pesta perkawinan—baik cara memainkan dan suara yang dihasilkannya serupa suara Karinding, membuat saya bertanya-tanya, apakah benar alat musik itu serupa Karinding dari Jawa Barat?

Dari penelusuran referensif, akhirnya saya temukan jawabannya. Beberapa sumber menyatakan bahwa alat musik serupa ini tidak saja ditemukan pada kebudayaan tradisional Sunda, namun juga ada di beberapa kebudayaan tradisional lain di Indonesia, dan di banyak negara dengan nama yang berbeda, baik sejarah keberadaan dan kemunculannya pertama kali.

Di Bali, alat musik ini disebut Genggong. Orang Jawa Tengah punya Rinding, dan orang Kalimantan menyebutnya Karimbi. Di luar Indonesia, ada banyak kebudayaan yang menggunakan alat musik ini. Di Eropa dinamai Zeus Harp. Suara yang diproduksi alat musik ini tak berbeda, hanya saja cara memainkannya yang sedikit berlainan: di getarkan dengan disentir (trim), dipukul (tap), atau di tarik menggunakan benang.

Awalnya alat musik ini disebut Jew’s Harp. Juga dikenali sebagai Jaw Harp, Mouth Harp, Ozark Harp, Trump, atau Juice Harp. Ini sejenis instrumen lamellophone, yang dimasukkan dalam kategori alat musik petik idiophonik. Ditempatkan di mulut pemain dan dipetik dengan jari untuk menghasilkan nada.

Alat musik ini dianggap sebagai salah satu alat musik tertua di dunia. Seorang musisi yang tampak memainkannya, dilihat pertama kali dalam sebuah lukisan Cina dari abad ke-4 SM. Meskipun secara umum nama yang digunakan berbahasa Inggris, tetapi tak ada hubungannya sama sekali dengan orang Yahudi (Yudaisme). Dalam penelitian selanjutnya diketahui bahwa alat musik ini merupakan instrumen asli suku bangsa Turky, yang dalam bahasa setempat disebut dalam beberapa nama: Komuz Temir, Agiz Komuzu, Gubuz, Doromb.

Kyrgyz Musician playing the Temir Komuz

Karena wilayah Turky yang berada di perbatasan Asia dan Eropa, instrumen ini menyebar dan akhirnya dikenal di banyak budaya yang berbeda dengan nama yang berbeda pula di Asia, Eropa, hingga ke Amerika.

Nama awal Jew’s Harp yang digunakan oleh para peneliti kadang dianggap kontroversial atau berpotensi menyesatkan, sehingga dihindari (secara ofensif) oleh beberapa pembicara ilmiah atau kalangan perajin. Belakangan nama ini diganti sebagai Snoopy Harp. Nama lain yang digunakan untuk mengidentifikasi instrumen ini dalam literatur ilmiah adalah Guimbarde, sebuah lemma Perancis yang berarti instrumen.

Instrumen ini memiliki nama berbeda di beberapa kebudayaan: Kouxian (Cina & Taiwan), Dan Moi Tre (Vietnam), Morsing (India Selatan), Tombagl (Papua New Guinea), Honto (Yaguna), Ontoior Ontoima (Auyana), Wege (Dumaka), Susap (Papua), Morchang / Mording / Diruba / Esraj (Indian), Gogona (Assam, India), Mukkuri (Hokkaido, Japan), Kubing (Filipina), Sindhi (Pakistan), Scacciapensieri (Italia), Marranzanu (Sicilia). Alat ini juga ditemukan dalam kebudayaan Hungaria, Nepal, Kyrgyztan, dan Russia sebagai alat musik tradisional.

Di Turky, Temir Komuz pertama kali dibuat dari besi dengan panjang 100-200 mm dan lebar sekitar 2-7 mm. Kisaran nada bervariasi sesuai ukuran instrumen, tetapi umumnya berada di sekitar rentang oktaf. Orang-orang Kyrgyztan sangat mahir mengunakan Temir Komuz dan populer di kalangan anak-anak, meski orang dewasa di wilayah itu terus melestarikan instrumen kuno ini.

Komuz

Dalam aktivitas pengobatan tradisional, kadang kondisi trance difasilitasi suatu droning suara, sehingga mereka umunnya menggunakan instrumen ini. Maka instrumen ini tak pelak sering pula dikaitkan dengan aktivitas sihir dan ritual perdukunan.

Namun ada banyak teori mengenai asal nama Jew’s Harp. Menurut Oxford English Dictionary, nama itu muncul pertama kali di Walter Raleigh Discouerie Guyana pada tahun 1596, dieja sebagai Lewes Harp. Lemma Jaw dipakai setidaknya sejak 1774 dan tahun 1809, sedangkan lemma Juice diperkirakan muncul di akhir abad 19 dan abad ke-20. Kamus Oxford juga menyarankan penggunaan lemma Perancis Jeu-trompe yang berarti trompet mainan.

 

Tradisi Berburu Kepala Manusia

Cannibalism_on_Tanna

Hal menarik lainnya pada filem Warriors of the Rainbow: Seediq Bale itu adalah tradisi berburu kepala manusia oleh suku Seediq. Ada kemungkinan tradisi ini direntang oleh kemiripan tradisi di banyak kebudayaan dan tak hanya berlaku pada kebudayaan proto melayu (melayu tua). Tak bisa pula dipungkiri bahwa kini aktivitas ini telah hilang —kendati di beberapa suku tersiar kabar masih dilakukan sembunyi-sembunyi— tetapi tradisi berburu kepala manusia tersebar dan dilakukan oleh umumnya suku asli di Amerika, orang Yunan di China, suku-suku Taiwan dan oleh beberapa suku di Indonesia.

Di Indonesia, semisal —menyebut beberapa contoh saja— saat Marco Polo tiba di Sumatera, ia melaporkan sempat mengunjungi Perlak, bagian utara Sumatra, pada 1292. Di sana, Marco melihat penduduk yang tinggal di pegunungan memakan daging manusia. Berselang lima bulan kemudian, Marco tiba di Pidie, daerah di utara Sumatra lainnya, dan di tempat ini ia mendapati sebuah keluarga menyantap tubuh seorang anggota keluarganya sendiri yang mati karena sakit.

suku batak toba-natgeo

“Saya yakinkan Anda bahwa mereka bahkan menyantap semua sumsum dalam tulang-tulang orang itu,” tulis Marco Polo dalam Para Kanibal dan Raja-Raja: Sumatera Utara dimuat pada Sumatera Tempo Doeloe karya Anthony Reid.

Dalam naskah Sejarah Dinasti Ming (1368-1643) Buku 323, ada disebutkan satu suku Dayak Beaju (Hokkian Selatan: Be-oa-jiu) pemburu kepala di Wulonglidan (Wu-long-li-dan) di pedalaman Banjarmasin, Kalimantan. Orang Beaju berkeliaran di malam hari untuk memenggal dan mengoleksi kepala manusia.

“Kepala ini mereka bawa lari dan dihiasi dengan emas. Para pedagang sangat takut terhadap mereka,” demikian W.P. Groeneveldt dalam Nusantara Dalam Catatan Tionghoa.

image002-1

Pada tahun 1894, dibuatlah sebuah perjanjian antar suku —yang terkenal dengan nama Rapat Damai Tumbang Anoi— untuk menghentikan habunu (saling bunuh), hakayau (memenggal kepala), dan hajipen (memperbudak).

Beberapa suku di Borneo terkenal sebagai pemburu kepala musuh. Citra itu dikukuhkan dalam The Head-Hunters of Borneo, yang diterbitkan pada tahun 1881 oleh Carl Bock, seorang penulis berkebangsaan Norwegia. Ia menuliskan bahwa suku-suku itu berburu kepala dengan mandau, tombak, dan perisai. Setelah seseorang mendapatkan kepala musuh, ia berhak mendapatkan tato simbol kedewasaan. Kendati suku-suku ini memiliki beragam alasan saat melakukan perburuan kepala musuh seperti; balas dendam, tanda kekuatan dan kebanggaan, pemurnian jiwa musuh, atau bentuk pertahanan diri. Pulau Borneo dihuni oleh beragam suku sehingga tiap suku memiliki cara pandang berbeda mengenai tradisi ngayau (memburu kepala).

Momani_Tarian Perang_Kabaena

Sementara itu, di Sulawesi, tradisi perburuan kepala diketahui telah berlangsung sebelum dan sesudah kedatangan orang Eropa. Ada tradisi mompakoto (memotong kepala) oleh To Moronene di Sulawesi Tenggara. Mereka mengambil kepala musuh dalam setiap peperangan, kemudian dibawa pulang untuk diupacarakan sebelum dimasukan dalam sorongA (peti kayu kecil) dan ditempatkan di lubang-lubang batu atau goa yang dijaga. Tradisi lampau yang sudah ditinggalkan ini masih sempat bertahan bahkan saat kedatangan orang Eropa (Jerman).

Kemiripan dengan tradisi sejenis terdapat pada suku To Riaja Bare’e yang bermukim di perbatasan Sulawesi Tengah, yang juga selalu mengambil kepala musuhnya di setiap peperangan. Mereka membunuh dan dengan cepat memotong kepala agar musuhnya tak menderita terlalu lama. Kepala musuh kemudian mereka bawa ke kampung dan diupacarakan.

goa tengkorak lawolatu_sulawesi tenggara

“Kepala diperlukan sebagai penanda akhir masa berperang dan penahbisan sebagai tanda seseorang telah menjadi dewasa dan berani,” tulis R.E. Downs dalam Head-Hunting in Indonesia (Jurnal KITLV Vol. 111 No. 1—1995). Alasan dan tata-cara yang nyaris sama itu dimungkinkan karena adanya unsur kekerabatan dua suku ini.

Alfred Russel Wallace, seorang naturalis Inggris, saat mengunjungi Manado pada 10 Juni 1859, mendapatkan sebuah cerita dari penduduk Minahasa. Kepala manusia dipakai untuk menghiasi makam dan rumah. “Ketika seorang kepala suku meninggal, dua kepala manusia yang baru dipenggal digunakan sebagai penghias makamnya. Tengkorak manusia merupakan hiasan yang paling disukai untuk rumah kepala suku,” tulis Wallace dalam catatannya, dikutip George Miller dalam Indonesia Timur Tempo Doeloe 1544-1992.

Di Kepulauan Moluccas (Ambon) ada catatan bersejarah yang termuat dalam Jurnal KITLV Vol. 149 No. 2. Catatan itu mengungkapkan kisah sebuah perang antar-kampung yang telah berlangsung berhari-hari di pulau Seram pada tahun 1648. Perang antara orang-orang di wilayah pantai dan orang-orang di gunung (suku Alifuru). Contreuleur VOC, Robert Padtbrugge, Gubernur Ambon saat itu, mengirim satu tim untuk mengusahakan perdamaian, dan saat tim itu kembali, mereka melaporkan penemuan banyak korban tewas dari pihak orang pantai ditemukan tanpa kepala. Robert Padtbrugge lantas meminta tim itu untuk meneliti tradisi berburu kepala pada suku Alifuru. Tetapi perang terus berkobar dan tim itu tak mendapatkan hasil apapun. Mereka tak bisa menjelaskan secara pasti mengapa secara adat orang Alifuru berburu kepala musuhnya.

Dalam The Saniri Tiga Air (Seram), Gerrit J. Knaap menulis, “Tim tak berhasil menjelaskan secara gamblang karena orang Alifuru sangat klenik. Tim sukar memahami mereka,” kecuali bahwa adat berburu kepala musuh merupakan bagian tak terpisahkan dari ritus hidup suku Alifuru tanpa diketahui kapan mulanya. Berburu kepala musuh menempati posisi penting dalam hidup sosial dan kepercayaan suku Alifuru. Anehnya, orang Alifuru tak melakukan tradisi itu terhadap orang asing, baik kepada orang Eropa atau orang dari wilayah Nusantara lainnya. Orang Alifuru, menerima orang asing dengan sangat baik. Bahkan, mereka bersedia merundingkan perdamaian melalui perantaraan VOC meski usaha itu akhirnya gagal.

Sejarah-Pemburu-Kepala_historia

Namun apa yang ditulis Anthony Reid dalam Para Kanibal dan Raja-Raja: Sumatera Utara dan para penjelajah asing di Nusantara tentang tradisi kanibalisme orang-orang Indonesia lampau, itu tidaklah berdiri sendiri dalam kajian antropologi manusia dunia. Jauh di negeri para penjelajah itu, budaya lampau mereka pun tidak lepas dari tradisi kanibalisme.

Arkeolog asal Natural History Museum dan Universitas London telah menemukan bukti jika manusia gua Eropa yang hidup 14.700 tahun silam adalah kanibal. Para arkelolog menemukan bekas-bekas luka aneh pada beberapa tulang yang digali dari gua Gough di daerah Somerset, Inggris Selatan.

Praktek kanibalisme orang-orang di Nusantara itu tidak cukup mengerikan dari praktek sejenis oleh nenek moyang orang Eropa. Manusia gua Eropa tidak saja memakan tumbuhan atau hewan, tetapi mereka pun memakan sesama alias kanibal.

Dari tulang yang digali tahun 1880-1992, para peneliti menemukan beberapa pecahan tengkorak manusia yang terlihat sengaja dibentuk menjadi mangkuk. Di tengkorak-tengkorak yang sudah terbelah itu juga tampak bekas sayatan untuk menguliti terlebih dahulu sebelum diubah menjadi mangkuk. “Kami menemukan tanda sayatan di seluruh kepala dan wajah. Kami menduga, manusia gua Eropa sengaja membuang semua sisa kulit di tengkorak. Terlihat tanda pemotongan bibir, pencabutan mata, hingga pengangkatan pipi,” ujar Dr. Silvia Bello dari Natural History Museum, sebagaimana yang dikutip oleh Daily Mail pada 17 April 2015.

Hal yang cukup mengerikan, bahwa bukti kanibalisme manusia gua juga ditemukan di situs penggalian di Eropa Tengah dan Barat. Para arkeolog Natural History Museum percaya bila kanibalisme adalah hal yang wajar bagi manusia gua Eropa yang hidup di zaman es terakhir, lebih dari 14.000 tahun lalu.

Kanibalisme manusia Eropa diklaim sebagai salah satu bentuk ritual penguburan manusia gua yang kerap disebut Magdalenian. Nenek moyang manusia Eropa ini diketahui adalah manusia pindahan dari benua Afrika yang masuk melalui daerah Eropa Selatan seperti Spanyol. Mereka mempunyai fisik yang mirip dengan manusia modern, tetapi lebih kuat. Cukup beralasan, sebab kegiatan utama mereka memang berburu, termasuk memakan sesamanya.

Demikian. Dua hal “kecil” yang cenderung identik, yang saya lihat dalam sebuah filem yang digarap dengan latar belakang sejarah Taiwan yang luar biasa. Tentu saja bukan karena entitas Mouth Harp dan tradisi perburuan kepala yang ditampilkannya, namun —lebih jauh masuk ke dalam— simbol-simbol tradisi adalah sesuatu yang mengikat jati-diri dan nilai-nilai tertentu sebuah suku bangsa —kendati sukar dipahami dan tidak bisa dijustifikasi— untuk merdeka dari bentuk tekanan apapun.

Insiden Wushe yang menjadi plot utama filem Warriors of the Rainbow: Seediq Bale, berusaha keras diterjemahkan sebagai jalan damai bagi semua orang di pulau Formosa. Sebuah jalan yang harus diambil untuk melanjutkan hidup seperti pada syair kuno dalam lagu yang dinyanyikan Rudao Luhe saat ia berjalan menuju jembatan pelangi yang membentang di sisi air terjun dalam hutan gunung Qilai. (IQM)

Kendari, Desember 2014

Twitter: @IlhamQM


[Arsip] Uang untuk Kepala Daerah Harus Jelas

Jakarta, KP.

Departemen Dalam Negeri (Depdagri) saat ini tengah menggodok Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) yang merupakan penyempurnaan PP No.109 Tahun 2000 yang mengatur tentang hak-hak keuangan kepala daerah. Alasannya, ketentuan yang ada di PP 109 itu sudah kadaluarsa, tidak bisa mengakomodir dinamika yang berkembang. Aturan yang baru juga akan lebih menjamin kepastian anggaran bagi kegiatan-kegiatan kepala daerah-wakil kepala daerah.

“Dana untuk kepala daerah harus jelas, supaya fair. Saya sudah bicara dengan menteri keuangan, dana block grand yang layak bagi kepala daerah-wakil kepala daerah itu berapa. PP 109 tahun 2009 secara teknis sudah tidak memadai lagi, tidak sejalan dengan dinamika perkembangan yang terjadi saat ini dalam aspek penyelenggaraan pemerintah,” ulas Mendagri Gamawan Fauzi saat membuka Rapat Kerja Nasional Keuangan Daerah Tahun 2009 di Jakarta (15/12). Acara ini dihadiri para sekada dan kepala buro keuangan dari sejumlah pemda di Indonesia.

Disebutkan Gamawan, struktur dan besaran penghasilan serta tunjangan kepala daerah-wakil kepala daerah belum sesuai dengan anatomi kegiatan, beban tugas, dan nilai politis (previlage) kepala daerah selaku simbol dan kepala pemerintah daerah. Dikatakan menteri yang meniti karir sebagai PNS dari bawah itu, dalam aturan yang baru nanti akan dipertegas dana dukungan operasional kepala daerah, menyangkut kriteria besarannya serta format pertanggungjawabannya.

“Memperjelas cakupan dan pola pengelolaan belanja rumah tangga kepala daerah, serta lebih memperjelas ketentuan terkait dengan rumah dan mobil jabatan,” urai Gamawan. ***

 

Harian Kendari Pos. Rabu, 16 Desember 2009. Halaman 07. Reporters: Sam/JPNN

Kendari Pos Daily Copy Right Reserved

Ilham Q. Moehiddin Digital Clipping

 


%d blogger menyukai ini: