Tag Archives: kemokolean

[Cerpen] Bilangari | #2 Cerpen Lahat Untuk Nusantara

Bilangari

Oleh Ilham Q. Moehiddin

hikayat-tiga-ksatria_13b

BERHARI-HARI kami dikepung sekelompok orang. Mereka berteriak lewat pelantang suara bahwa mereka lebih tahu situasi di hutan ini. Jika mereka bisa ada di sekitar pondok kami, maka itu artinya hutan ini masih termasuk dalam areal penguasaan perusahaan mereka—begitu yang mereka teriakkan. Darah tama’mtua (kakek) mendidih mendengarnya.

“Kalian tak tahu apapun tentang hutan ini. Selain aku, kalian tidak dilahirkan untuk berada di sini!” Teriak kakek dari bagian tergelap hutan.

**

KAMI harus pindah. Begitu kata kakek sembari memandang kami satu per satu, kemudian menatap lama pada ama-ku (ayahku). Ayah hanya sekali berpaling, menghembuskan nafasnya lalu memandang ke arah ngarai.

“Harus?” Mata tina’mtua (nenek) sayu ke wajah suaminya. Kakek menggangguk kecil dan langsung membuat mata nenek terpejam. Wajah nenek seperti jeri.

“Mereka tidak memberi kita pilihan. Dua tobu (kampung) di tanjung sudah rata, bahkan sebelum matahari membuat tanah menjadi panas,” jelas kakek.

“Kapan?” Ayahku bertanya tanpa menoleh.

Kakek meletakkan bilangari di lantai. Ia menarik piring kaleng berisi tembakau hitam ke dekatnya, menjumputnya sedikit, lalu mengaturnya di atas selembar daun jagung tipis. Dua ibu jari kakek menekan-nekan tembakau agar padat. “Belum tampak waktu yang baik di bilangari ini—” ujarnya seraya mendorong lembut telapak tangannya di atas pahanya sendiri seketika kulit jagung tipis berisi tembakau hitam itu menggulung sempurna, “—jika saatnya tiba aku akan ke hutan. Ina-mu (ibumu) akan ikut denganku.”

“Hutan? Kenapa harus ke hutan? Orang-orang sudah menyingkir ke lokasi baru di kota kecamatan—tapi kenapa Ama harus ke hutan?”

Ayahku menyudahi pandangannya ke arah ngarai. Kini ayah duduk di hadapan kakek, ingin agar ayahnya itu menjelaskan alasannya. Tembakau kakek sudah menyala garang.

“Aku tidak bisa meninggalkan tobu ini. Dahulu, mbue (buyut) kami yang mendirikannya, kemudian tama’mtua dan ama merawatnya, saat tobu ini dipercayakan padaku, maka aku harus menjaganya. Bawalah anak-istrimu ke kota kecamatan. Kalian akan aman di sana.”

Ayahku tertunduk. Sepertinya ayah belum bisa mengerti alasan kakek.

**

AKU kadang harus berjalan meniti pematang, atau menonton anak-anak yang ramai memerangkap gerombolan pipit yang mengintai tanaman padi mereka. Kadang aku harus ke sungai, memantau dua remaja memandikan lusinan kerbau milik kakek.

Ayahku sudah diberitahu akan datang serombongan orang dari kabupaten. Tapi penolakan Penghulu Keenam, Ntama’Ate (paman) Manek —adik ayah— justru berubah menjadi dilema di kepala banyak orang tiga bulan terakhir ini. Bagaimana jika Paman Manek terus menerus menolak? Seperti apa anggapan warga dan Pu’uno Adati (Dewan Adat)? Bukankah keputusan Dewan Adat adalah bagian dari sistim yang dihormati?

“Penghulu Keenam melangkahi adat. Sedari tobu ini didirikan, begitu besar harapan orang. Tapi kini Penghulu Keenam malah menolak hal-hal baik yang ingin kita putuskan bersama,” begitu kata Paman Runtu —kakak ayah itu paling keras kepala jika sudah bicara soal peradatan.

“Kau ingat, bagaimana kaki kecil Manek berlari-lari di antara Laica Ngkoa (rumah adat orang Moronene berbentuk panggung). Letih aku mengikutinya hanya agar kepalanya tak membentur kayu. Belum lagi saat ia masuk ke kolong rumah dan menolak keluar walau aku bujuk —wah, hampir menangis aku dibuatnya. Aku takut dimarahi Ina,” cerita Runtu.

Ya. Ayahku bahkan ingat saat ibunya harus melelehkan air mata mendengar kata-kata ayahnya mereka selepas Manek terjun ke kubangan Kerbau. “Ina memangku Manek sampai malam, sampai si bungsu itu tertidur di pangkuannya. Bahkan ina menolak ama yang hendak membaringkan Manek ke ayunan. Ina meminta ama menelan dulu amarahnya, barulah ama boleh memegang anak bungsunya itu lagi.” Kenang ayahku dan disambut tawa keras Paman Runtu.

Tapi kecemasan soal penggurusan kampung ini mulai mewabah ke dada orang-orang.

Sedangkan Paman Manek sendiri menolak bicara dirapat Dewan Adat saat warga meminta putusan. Ia mencemaskan satu hal saja: tanggung jawab pihak pertambangan.

Tak ada keputusan yang diambil pada hari di mana rapat itu digelar hanya gara-gara Paman Manek belum menyuarakan pendapatnya. Pak Djama, Penghulu Ketiga, sampai kecewa dibuatnya dan menutup rapat itu sampai Paman Manek bisa memutuskan keinginannya.

**

KAMPUNG Sampala masih seperti dulu. Tak pernah berubah. Sedari aku bisa melihat keindahan alamnya, atau dari mendengar kisah-kisah miano’mtua (para tetua), kampung ini masih selalu sesegar ingatanku pertama kali.

Aku belum mengenal tabiat Paman Manek sampai nenek menegurnya di suatu sore di bulan April yang panas —dua tahun lalu. “Kau tak ke sungai, Manek? Persediaan air minum kita sudah tipis. Bantulah Ina memenuhi dua gumbang (bejana air dari tanah) itu saja,” ujar nenek seraya menunjuk dua di antara empat bejana besar di sudut dapur.

Paman Manek mendesah. Ia tak suka membayangkan jalan setapak menuju sungai saat panas menyengat tanah hingga ranggas. Seringkali kelabang merah sebesar kelingking merintangi jalan.

“Kita tunggu Kakak Runtu saja ya, Ina?” Pinta Paman Manek dengan wajah kusut.

“Tak akan sempat, Manek.” Nenek melangkah turun dari rumah panggung menuju tali jemuran di sisi rumah, “Ama-mu dan tukaka’u (kakakmu) itu baru pulang dari Teomokole (kota raja) selepas malam. Ama-mu akan marah jika pulang tak ada air matang.”

Paman Manek membanting kakinya hingga membuat lantai kayu rumah ini berbunyi nyaring. Nenek pasti mendengar kekesalannya, tapi nenek tak mau menyahutinya lagi.

Itu kejadian dua tahun lalu. Hari ini pun sama panasnya seperti saat Paman Manek nyaris menolak permintaan nenek. Jarak perigi di sisi sungai dari rumah kakek ini cukup jauh. Hari ini aku kena tugas mengisi dua bejana air dan untuk itu aku ia harus bolak-balik ke sungai dengan dua jerigen memberati lenganku.

Sebelum pulang dari perigi nanti, aku bisa saja naik agak ke hulu sungai dan berendam di sana. Air sungai akan terasa sangat sejuk di hari panas begini. Di sana pasti ada teman-temanku yang biasa mandi seusai mencuci. Ibu telah mengambil alih tugasku mencuci tadi pagi. Entah kenapa ibu melakukannya di saat tubuhnya belum kuat benar —baru saja sembuh dari sakit demam.

Aku meninggalkan ambang jendela dan berjalan ke dapur. Kuraih dua jerigen plastik kosong dengan tangan kiri dan turun dari rumah melalui pintu dapur. Ibu sedang menumbuk jagung di kolong rumah.

Aku harus memutari dua rumah, sebelum memasuki areal ilalang yang tembus ke tepian hutan. Hutan itu tak rapat pohonnya hingga panas matahari masih sampai ke kulitku. Aku patahkan ranting kecil sepanjang dua kali panjang lenganku. Ranting itulah yang aku pukul-pukulkan ke setiap perdu kecil yang kulalui. Biar ular atau biawak segera lari. Jalan setapak itu keras sekali. Karena berjalan sendirian saja, aku berdendang kecil untuk menghibur diri. Mataku tetap awas ke arah jalan. Aku akan langsung menetak kelabang dengan ranting di tanganku ini jika hewan itu kedapatan merintangi jalanku.

Lima menit berikutnya, suara air sungai masuk ke telingaku. Tak jauh lagi. Berjalan turun macam ini memang mudah, apalagi tak ada yang memberati tangan. Kerepotanku akan dimulai saat pulang dengan dua jerigen plastik penuh air —sembari berjalan mendaki, bikin paha terasa membesar dan betis terasa berat jika diangkat.

Semakin dekat jarak dengan sungai, telingaku ikut memerangkap suara tawa teman-temanku. Entah mengapa mereka itu betah berlama-lama di sungai. Itu suara tertawa Sare dan Boang. Suara mereka berdua saling bersahutan sebelum diakhiri dengan tawa panjang.

“Ohoooiii…!” Aku berseru dari sisi sungai.

Sahutan serupa aku terima dari arah hulu. Teman-temanku itu sudah selesai mencuci rupanya. Kini mereka sedang mandi.

“Naiklah, Una!” Seru Boang, “kami semua ada di sini. Para lelaki sedang mencari udang di bawah sana —kemarilah!”

Aku harus berjalan menyusuri sisi sungai sebelum berbelok kecil untuk mendapati teman-temanku. Mereka usai menyusun bebatuan membentuk bendungan kecil untuk tempat berendam. Selain Sare dan Boang, juga ada Epi dan Gea. Mereka melambai-lambai menyambut kedatanganku.

“Bagaimana ina-mu, Una?” Tanya Sare saat aku menaikkan kain sarungku.

“Sudah sehat. Ina sudah turun dari rumah. Mungkin sekarang ina sedang berangin-angin setelah menumbuk jagung di kolong rumah. Panas sekali hari ini.”

Mereka berempat membenarkan ucapanku. Pantas saja mereka sengaja berlama-lama di sungai, sebab tempat ini lebih sejuk daripada di sekitar kampung. Setelah menanggalkan baju dan menaikkan sarung sebatas dada, aku turun perlahan ke bendungan kecil, bergabung dengan mereka. Aku tak mau pasir di dasar sungai naik karena aku melompat turun.

“Orang-orang tambang sudah berdatangan—” Epi mencolek tanganku, “—katanya mereka membawa banyak peralatan. Padahal kampung akan menggelar Montula (upacara beras bambu) tiga hari ke depan.”

Aku mengangguk. Aku tahu kabar itu dari Paman Runtu. Tapi akan ada upacara, yang berarti akan ada pemasukan uang untuk warga —dan itu juga berarti pemasukan dana untuk kampung. Acara itu akan membuat warga sibuk.

Una menanyakan Bonde. Ia memang menyukai kakakku. Bonde saja yang seperti tak peduli saat ada seorang gadis sedang memerhatikannya. Kami berlima berendam sampai nyaris sore. Aku sebenarnya sudah akan pulang, tapi mereka menahanku dan berjanji akan membantuku mengangkat jerigen hingga ke depan rumah. Sampai keriput kulit kami sebab berendam terlalu lama. Setelah matahari bergeser sedikit, kami sudah berkemas untuk pulang ke kampung. Kami masih sempat bercanda sebelum naik ke sisian sungai.

Tiba-tiba dua mobil penuh lumpur masuk lewat jalan utara dan berhenti di pelataran perigi. Pada masing-masing mobil itu menumpang dua lelaki. Seperti mobilnya, tubuh-tubuh mereka kotor berlumpur dan berkeringat.

Begitu mobil berhenti, mereka bergegas turun ke perigi. Kehadiran mereka yang tiba-tiba itu mengejutkan kami yang baru selesai mandi. Kami meneriaki keempat lelaki itu agar mereka keluar dari perigi. Landaian perigi jadi kotor berlumpur saat mereka menyeka tubuh mereka. Tapi para lelaki itu tak hirau. Gea yang jengkel, menyiram salah seorang di antaranya. Lelaki itu diam saja. Ia terus maju, meletakkan kepalanya di bawah solonsa (pipa bambu) perigi, berbasahan sepuas hati.

Kemudian lelaki itu menegakkan tubuh. Puas wajahnya. Ia melepas baju, bertelanjang dada, dan matanya ia edarkan pada kami. Matanya berhenti pada Gea yang tadi menyiraminya. Tiga orang kawan lelaki itu menyusul ikut membasahi kepala.

“Kenapa tak sekalian kau mandikan aku saja?” Tanyanya pelan pada Gea.

Tak sopan —gerutu Gea, membuang muka, lalu merapikan letak kainnya. Jarak perigi dari tobu cukup jauh. Jika hal buruk terjadi, teriakan kami tak akan membuat orang kampung berdatangan.

“Mandilah bersamanya!” timpal seseorang dari empat lelaki itu seraya terkekeh ke arah kami yang mematung cemas.

“Bagaimana—” lelaki itu mengangguk pada Gea, “—mau kau memandikanku?”

“TIDAK!”

Sebuah suara lantang terdengar dari bukit kecil di samping perigi itu. Semua orang berpaling ke asal suara. Di atas sana, berdiri seorang lelaki bertubuh besar, bertelanjang dada dan tak beralas kaki. Di pundaknya ada kompe (keranjang pandan) dan taa’Owu (parang panjang khas orang Moronene).

“Apa ini maksud kalian datang ke mari? Tak traktor saja kalian bawa, tabiat buruk kalian pun ikut pula!” Teriaknya sinis.

Keempat lelaki itu saling pandang. Mereka segera menjauhi perigi, mendekat ke mobil mereka. Tak berkedip, mata mereka mengawasi lelaki besar bersenjata yang baru datang itu. Kami segera mengumpulkan alat mandi dan bergegas ke sisi lain sungai. Kami bersyukur pertolongan datang.

Ngeri dengan ukuran tubuh dan parang panjang lelaki di atas bukit, keempat lelaki itu masuk ke mobil dan selekasnya pergi.

Aku mendongak, mendapati Paman Manek menatapi dua mobil yang bergerak menjauhi perigi. Paman Manek menengok ke bawah. “Lekas selesaikan urusan kalian dan pergi dari sini! Orang perempuan tak baik berlama-lama di perigi. Kampung tak aman sejak orang-orang tambang itu datang,” ujar Paman Manek pada kami semua.

Kami menurut. Bersegera sebelum matahari benar-benar tergelincir di ufuk.

**

PENGALAMAN di sungai itu membuatku tak paham. Paman Manek sebagai Penghulu Keenam —oleh ayahku dan Paman Runtu dibicarakan sebagai penyebab orang-orang tambang datang ke kampung ini. Manek dituduh menolak memberi pendapat di hadapan Dewan Adat dan membuat lima Penghulu lain kesukaran menentukan sikap.

Tapi apa yang aku lihat di sungai itu tak tampak seperti Paman Manek yang dibicarakan ayahku dan Paman Runtu. Ia garang sekali pada tingkah para penambang.

“Sebagai Penghulu Keenam dalam Dewan Adat, Manek harus percaya pada bilangari. Ia tak mau mengambil sikap dan menolak berpendapat karena bilangari tak sedikit pun mengisyaratkan sebaliknya. Para penambang itu datang bukan karena keinginan Manek —melainkan keinginan pemerintah Kabupaten,” Kakek menjelaskan sikap Paman Manek saat kutanyakan.

Mbue, apakah ama-ku tak tahu soal ini?” Tanyaku.

Kakek tersenyum. “Mereka tahu. Ama-mu dan Runtu tahu soal ini. Mereka hanya bingung kenapa Manek meminta kita menyingkir ke hutan —bukan ke kota kecamatan seperti yang dilakukan orang-orang.”

Bilangari telah menunjukkan apa pada Ntama’Ate Manek?”

Untuk pertanyaanku itu, kakek menghembuskan asap tembakaunya kuat-kuat.

**

“KALIAN tak tahu apapun tentang hutan ini. Selain aku, kalian tidak dilahirkan untuk berada di sini!” Teriak kakek dari bagian tergelap hutan.

Suara kakek menggema dan membuat para pengepung kasak-kusuk. Mereka tak bisa melihat posisi kakek. Walau kepungan mereka tak juga longgar, tapi mendengar bicara kakek yang bernada mengancam itu tak urung membuat hati mereka jeri.

Seseorang yang bernama Umang bicara lagi dari pelantang suara yang tersandang di bahunya. “Kami sudah diizinkan berada di areal ini. Kampung dan hutan ini berada dalam penguasaan perusahaan kami. Jadi kami minta kalian keluar dari hutan ini sekarang juga!”

“Jika kami menolak—?!” Tanya kakek.

—Pertanyaan itu tak segera dijawab. Keheningan hadir beberapa saat lamanya di antara orang-orang yang mengepung pondok kami.

“Kami tak akan bertanggung jawab dengan apa yang mungkin terjadi.”

“Begitu?” Nada suara kakek seperti mengejek, “—menurutmu, siapa yang sedang mengepung siapa saat ini?”

Orang-orang yang mengepung pondok kami itu saling pandang.

“Bukankah sudah aku katakan —kalian tidak dilahirkan untuk berada di hutan ini. Hutan ini sudah mengepung kalian semenjak kalian masuk ke dalamnya. Hukum Adat kami tak hanya berlaku di tobu, tapi juga di sini. Hutan ini dalam pemeliharaan Pu’uno Adati. Jadi seharusnya, kepada siapa pun, kamilah yang tak akan bertanggung jawab jika ada hal-hal buruk menimpa diri kalian.”

Ucapan kakek benar-benar serius. Terdengar olehku lebih mirip ultimatum.

Kemudian, kasak-kusuk terdengar dari orang-orang yang mengepung pondok kami. Suara beberapa dari mereka terdengar panik dan menunjuk-nunjuk pada bagian tergelap hutan, ke arah pepohonan yang tampak bergerak-gerak. Mereka seperti panik menoleh ke kiri dan ke kanan, seperti memastikan bahwa tak ada apapun di sekitar mereka saat ini.

Kakek benar —sekarang, siapa yang sedang mengepung siapa.

Orang-orang yang tadinya mengepung pondok kami sesungguhnya tak tahu, bahwa merekalah yang sedang terkepung. Ayah, Paman Runtu dan lusinan lampio’O (pasukan adat), sudah merapatkan kepungan terhadap mereka, begitu mereka memasuki batas hutan ini. Paman Manek bersama lima Penghulu lain mengatur pergerakan orang-orang. Kakek, sebagai Puu’Tobu (kepala kampung), berdiri memimpin.

“Bertindak bijaklah—” kata kakek lagi, “siapapun kalian, sebaiknya tidak melanggar Hukum Adat kami. Pulanglah pada siapapun yang telah menyuruh kalian datang ke mari.”

Kali ini kata-kata kakek lebih tajam. Itu mungkin peringatan terakhir.

Orang-orang yang tadi menyangka telah mengepung pondok kami, mundur perlahan-lahan. Kemudian mereka berkumpul di satu titik, lalu bergerak menyusuri jalan hutan dari mana mereka masuk sebelumnya. Wajah-wajah mereka cemas, sesekali Umang menoleh ke belakang, atau mendongak menatapi kanopi pepohonan yang memayungi hutan ini.

Hari ini, orang-orang telah menghindari pertikaian.

**

PAMAN Manek memang pandai membaca bilangari. Ia tak percaya desas-desus sebelum melihat penanggalan adat kami. Paman Manek percaya, kampung ini tak akan terusik seingin apapun orang yang datang untuk mengubahnya menjadi areal tambang seperti yang sudah mereka lakukan pada dua kampung di tanjung.

Itulah mengapa Paman Manek menolak berpendapat. Sebagai Penghulu Keenam ia berhak tak sepakat dengan lima penghulu lainnya. Paman Manek berpedoman bilangari —dan semenjak orang-orang di Kedatuan Bombana menggunakannya, penanggalan adat itu belum pernah meleset.

Kakek tertawa melihatku mengangguk-angguk mendengar Paman Manek menjelaskan fungsi dan bagaimana bilangari merujuk pada keputusan-keputusan penting dalam Dewan Adat kami. (*)

Molenvliet, Maret 2015

 

Catatan:

Bilangari = sistem almanak kuno peradatan Orang Moronene-Tokotua di Kedatuan/Kemokolean Bombana. Lazim disebut Bilangari To Moronene. Almanak bilangari berdasarkan perhitungan lunar, sistem penanggalan ini menggunakan papan matriks dengan 11 simbol utama dalam sembilan varian. Digunakan sehari-hari oleh orang Moronene hingga kini. Sistem penanggalan ini diciptakan dan dipakai pada tiga protektorat Kedatuan Bombana (Keuwia, Lembopari, dan to’Kotua), sejak abad ke-9. Kedatuan Bombana adalah kerajaan proto melayu tertua di Sulawesi Tenggara.

Takrif:

Sebagai sebuah kekayaan intelektual dan pemegang hak cipta atas cerpen ini, maka cerpen ini dapat saya publish di blog pribadi saya dan akan masuk sebagai salah satu karya dalam kumpulan cerpen saya. Demikian untuk diketahui dan dimaklumi.

Sumber:

Pemenang Cerpen Lahat untuk Nusantara

 

Iklan

[Cerpen] Kuda-Kuda Terakhir | Femina | No.04/XLII ~ 25–31 Januari 2014

Kuda-Kuda Terakhir

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Ilust_Kuda-Kuda Terakhir_Femina

LEMBAH-lembah dan padang ilalang di punggung bukit Saba Mpolulu kian sepi dari derap kaki kuda yang berlarian bebas. Sejak kuda-kuda ditangkapi secara liar untuk diperdagangkan, tidak ada lagi gemuruh saat kawanan hewan cantik itu berlari menembus cahaya matahari. Surai kuda-kuda yang direbahkan angin, leher yang berkilat saat mereka berpacu membelah ilalang di padang miring ini lenyap.

Gadis itu tidak pernah memimpikan buruknya situasi ini. Satu per satu kuda lenyap dari padang yang telah mereka huni ratusan tahun. Hewan-hewan menawan itu seakan pergi dari tempat-tempat yang sering ia datangi. Hanya angin yang berkelana saat tubuh gadis itu tegak di atas bebatuan di kaki bukit. Angin yang seharusnya menemani derap para kuda yang datang saat gadis itu memanggil mereka adalah juga angin yang menyapu pesisir Sikeli saat kuda-kuda itu dinaikkan paksa ke kapal-kapal para penangkap kuda liar.

Tinggallah senandung gadis itu saja yang merajai punggungan bukit miring berilalang ini. Rerumputan tak bergairah, seperti muram yang datang dan berdiam. Gadis itu berjongkok di atas bebatuan, pindah dari satu batu ke batu lainnya, menunggu dalam cemas yang terkadang menerbitkan air matanya.

“Datanglah ke hadapanku…,” bisiknya. Telapak tangannya mengusap pipinya yang sudah basah. Matanya tajam mengawasi tiap gerakan yang mungkin terlihat di antara ilalang yang menari, atau dari keremangan di bibir hutan.

“Tidak boleh begini. Jangan seperti ini,” gadis itu berbisik lagi.

**

Gadis bernama Loka itu sendirian. Ia generasi terakhir dari para perempuan pemanggil kuda. Ia mewarisi kemampuan langka sebagai pauno-dara dari moyangnya, para perempuan yang dapat membaca hasrat paling liar hewan-hewan cantik itu.

Dahulu, Suria, buyutnya berdiri di hadapan Mokole dan Kapita, menentang orang-orang berderajat tinggi itu. Suria tegas menolak menghadirkan kuda-kuda ke halaman istana Laica Ngkoa yang luas itu. Kematian para kuda telah mengubah keputusannya. Kecewa dan kemarahan menggulung hatinya dari kengerian yang menggumpal saat mengetahui nasib macam apa yang akan menimpa hewan-hewan cantik yang ia lindungi.

Mokole telah menyeret para kuda dalam perang suku yang ambisius. Demi hasrat kuasa dan perluasan wilayah, para mokole mengobarkan perang yang menyisakan kematian pada rakyatnya, tak terkecuali para kuda. Bisa dibayangkan, betapa remuk perasaan Suria saat memandang padang Sangampuri yang dipenuhi darah dan bangkai kuda yang bercampur dengan aroma kematian dari prajurit kemokolean. Perang dan kematian yang seharusnya bisa dihindari.

Suria telah memanggil para kuda, tetapi para Mokole justru mengirim mereka ke medan perang untuk mati sia-sia. Ya. Kematian yang sungguh sia-sia.

“Para kuda telah berbicara padaku. Maka, telah sampai masanya aku tak akan menuruti kalian lagi, wahai Mokole. Para kuda mempertanyakan kematian yang datang melalui tanganmu!” Suria meradang. Perempuan itu meraba pinggangnya. Hulu Taa memantulkan cahaya mentari dari sela jemarinya.

Perlawanan Suria telah mengakhiri persinggungan para kuda dengan manusia di tanah Moronene ini. Meski karenanya, Mokole Tontodama menyamakan posisi para pemanggil dan tegas menyatakan kepentingan mereka yang berseberangan.

Tapi, Suria hanya tersenyum di hadapan Tontodama.

“Itulah senyum terakhir yang aku lihat dari wajah buyut perempuanmu. Senyum nenekku itu tak pernah kulihat lagi saat terakhir ia tegak di sebuah batu besar di padang ilalang Saba Mpolulu.” Aniati mengenang neneknya dalam cerita yang disimak Loka dengan saksama.

“Semenjak itu, aku dan ibuku hanya bisa memandangi punggungnya dari kejauhan. Saat ia berlari bersama kuda-kuda, atau menunggangi salah satu dari hewan cantik itu. Beliau memegang teguh janjinya agar para kuda tidak lagi berurusan dengan ambisi manusia.”

Ketika itu Loka masih berusia 15 tahun. Kepalanya rebah di pangkuan ibunya, mendengarkan kisah-kisah tentang buyut perempuannya. Aniati memastikan, tidak ada perempuan pemanggil kuda lainnya yang sekuat Suria.

“Apa yang dilakukan para mokole setelah itu, Ibu?”

Aniati membelai rambut Loka dengan sayang. Bibirnya disaput senyum. Matanya berbinar bangga. “Mereka marah besar dan memerintahkan para Kapita untuk memburunya, setelah mendengar buyut perempuanmu itu berkata: “Inilah aku, wahai yang ditinggikan. Aku tidak akan memperdebakan perkara ini. Engkau yang akan menanggungnya. Biar Tuhan yang menuntun jalanku.”

Lalu, Aniati menoleh ke dinding. “Lihatlah itu,” tunjuknya pada dua benda yang tampaknya berpasangan. “Itu Taa dan Korobi milik buyut perempuanmu. Bukan main marahnya para Mokole, saat ia meloloskan Taa dari Korobi-nya dan melemparkannya ke tanah. Buyutmu telah menghina para raja dengan cara yang halus, sekaligus mempermalukan mereka. Tapi, ibuku memungutnya untuk ia simpan.”

“Bagaimana dengan buyut lelakiku?”

“Merekalah pelindung kami. Buyut lelakimu, kakekmu, dan ayahmu, adalah bagian keberadaan kami. Mereka pelindung para pemanggil, dan mereka melakukan tugasnya dengan baik.”

“Aku merindukan Ayah…”

Aniati beringsut , menegakkan tubuh Loka, membuat wajah putrinya menghadap ke wajahnya. “Tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa. Ibu juga merindukannya.” Aniati tercekat keharuannya sendiri, “…kelak, akan datang lelaki yang akan melindungimu seperti para lelaki hebat dari rumah ini.”

Aniati menarik wajah putrinya itu, memberikan kecupan sayang yang lama di kening Loka.

**

Kuda-kuda telah memilihnya sebagai Pauno-dara berikutnya. Sama seperti saat para kuda memilih para pemanggil terdahulu, ibunya telah pula mengantarkannya ke padang ilalang ini, ke hadapan para kuda. Aniati tersenyum bangga saat si Kepala Berlian mengendus tubuh Loka, sebelum merendahkan dua kaki depannya, dan menundukkan kepala di hadapan putrinya itu. Usia Loka persis 23 tahun ketika itu.

Aniati menyatakan kelegaannya dan berterima kasih di hadapan para kuda. Seingat Loka, itu juga kesempatan terakhir ibunya mengunjungi padang ilalang Saba Mpolulu. Ibunya wafat tiga bulan berikutnya.

“Jangan menangis, Sayang. Tidak apa-apa. Ibu senang para kuda telah memilihmu. Mereka akan menjagamu sebagaimana takdirmu sebagai penjaga mereka. Kau hanya butuh kepercayaan mereka, Sayang.”

Loka masih ingat dengan jelas kata-kata terakhir ibunya setahun lalu itu. Kini, ia tegak sendiri di tepian padang ilalang ini, menanti para kuda datang memenuhi panggilannya.

“Holeeei!” Seruan Loka berkumandang seperti hendak menembus tiap sekat alam. Seharusnya kuda-kuda berderap datang saat ia memanggil. Tapi, hewan-hewan cantik itu tak muncul. Sepekan lalu, kawanan kuda berderap dari sisi hutan, memasuki padang dan membelah ilalang untuk datang menghampirinya.

Adakah masanya tiap pemanggil kuda akan kehilangan kekuatannya? Pakah para kuda juga akan menolak datang memenuhi seruan para pemanggil? Apakah ia akan sedih jika suatu saat hanya bisa memandangi bekas kaki para kuda yang tertinggal di padang ilalang Saba Mpolulu, di aliran sungai Laa Kambula, atau seolah mendengar ringkikan mereka di sela pepohonan hutan Sangia Wita?

“Mereka pasti datang.” Suara berat seorang lelaki datang dari belakang Loka. Gadis itu terkejut. Madara berdiri tak jauh darinya, bersandang tali pengikat tula nira enau. “Maaf, mengejutkanmu.”

Mata Loka menggeriap. Ia tidak tahu sejak kapan Madara berdiri di situ. Ia lelaki yang tinggal di selatan sungai Laa Kambula. Meramu pohon Enau adalah pekerjaannya sehari-hari.

“Kemarin kulihat si Kepala Berlian memimpin kawanan di pinggiran hutan di utara padang ini. Saat matahari beranjak naik, mereka akan berlarian melintasi hutan ke arah sana.” Madara menunjuk ujung padang yang berbatasan langsung dengan hutan di bagian timur. Lalu lelaki itu menurunkan tabung tula dari bahunya, meletakkannya hati-hati agar isinya tak tumpah. “Kau jarang ke sini lagi,” sambungnya.

Loka berjongkok. Kagetnya sudah hilang. Kini wajahnya tampak dipenuhi pertanyaan akan kehadiran Madara. Kepalanya dimiringkan. “Sejak kapan kau mulai berkeliaran di dekat sini?” Tanya Loka.

“Kapan pun aku mau,” jawab Madara, tersenyum. “Wilayah peramuanku di sebrang padang ini. Aku melintasi sisinya jika hendak pulang ke desa. Aku tak harus selalu melintas di sisi air terjun Wataroda, bukan?”

“Kuharap kau tidak mengganggu mereka.”

Madara menggeleng cepat. “Oh, tentu tidak. Jangan mengira aku akan melakukannya. Aku hanya mengawasi mereka.”

“Mengawasi?”

Lelaki itu mengangguk. “Apa sudah kau hitung jumlah mereka terakhir kali?”

Loka terpana. “Apa?”

“Seharusnya kau lebih sering bicara pada si Kepala Berlian.”

“Apa yang…?”

Madara menoleh cepat. “Kau tidak memperhatikan rupanya. Kuda berkurang dua, bahkan saat kau mengunjungi mereka sepekan lalu.”

Loka sontak berdiri, membalikkan tubuhnya dengan cepat. Dipandanginya batas padang nun jauh di sana yang tampak bergerak-gerak akibat panas yang menguapkan tanah. Kedua tangannya membentuk corong. “Holeeeii!” serunya, tiga kali.

Tidak terjadi apa pun. Tidak ada derap kaki kuda mendekat.

“Ke mana mereka? Seharusnya mereka…,” gumamnya. Mata Loka memejam.

Selarik bayangan wajah ibunya melintasi kenangannya sekali lagi. Perempuan itu berdiri di atas batu seperti dirinya sekarang ini, mengajarinya cara memanggil kuda. Bagaimana ia berkosentrasi dan menyakini sesuatu, sebelum ia berseru memanggil. Mata ibunya berbinar-binar saat bercerita tentang neneknya yang tangkas menggulung kain dan berlari di antara kawanan kuda seraya tertawa-tawa.

“Lihat itu!” Seru Madara. Telunjuknya mengarah ke bagian remang di tepian hutan, pada sesuatu yang bergerak senyap dan mendengus. Ada sepasang mata hitam berkilat yang mengawasi mereka berdua dari arah itu.

“Si Kepala Berlian,” desis Loka. Wajahnya berseri-seri. Bayangan hitam itu bergerak ragu-ragu. Kuda itu cemas dan gugup.

“Ayo, ke sini! Tak apa-apa!” Teriak Madara.

“Diam!” Tangan Loka terangkat, membuat Madara menahan teriakannya. “Turun! Turunlah perlahan!” Pinta Loka.

Lelaki itu menurut. Madara mundur perlahan, membalikkan tubuh, lalu meluncur turun dari batu. Bergerak pelan, seolah tak ingin terlihat, lalu Madara jongkok di balik batu lainnya. Matanya tajam menatap Loka yang tegak di atas sana.

“Holeeei!” Loka berseru. Suaranya melengking, memantul di sisi bukit dan merambah padang ilalang miring itu. Kuda mana pun seharusnya datang saat ia memanggil. Mereka mengenali suara setiap pemanggil, sebab merekalah yang telah memilihnya. Kemampuan yang hanya dimiliki kaum perempuan di tempat ini dan hanya diwariskan kepada perempuan berikutnya.

Sosok gugup di remang bayangan pepohonan itu bangkit, lalu perlahan berjalan mendekati tempat Loka berdiri. “Jangan bergerak, Madara. Ia sedang tak memercayai siapa pun saat ini. Bahkan aku!” Nada sedih terdengar di ujung perintahnya.

Tangan Loka terangkat, meminta kuda itu berjalan lurus ke arahnya. “Jangan takut. Aku memanggilmu untuk melihat keadaanmu. Mendekatlah.”

Cukup lama kuda bercorak berlian di antara kedua matanya itu memperhatikan Loka. Kepalanya mendongak, seperti membaui sesuatu dari udara. Lalu ia mendekati Loka dan menempelkan kepalanya ke kulit lengan gadis itu.

“Ada apa denganmu? Mana anggota kawanan lainnya?” Tanya Loka. Kaki depan kuda itu menyepak-nyepak tanah. Lalu meringkik pelan. Kepala Loka terangkat, saat matanya menangkap sembilan sosok kuda lagi berlari ke arah si Kepala Berlian. Gadis itu menunduk sedih. Ia mencium kening Kepala Berlian, lalu berbisik, “maafkan aku.”

Seperti kata Madara, kawanan Kepala Berlian berkurang dua ekor. Sepekan saja ia tidak datang menjenguk mereka di padang ilalang ini, cukup memberi kesempatan para penangkap kuda liar menyelesaikan urusan mereka. (*)

Molenvliet, 2013

Twitter: @IlhamQM

 

Catatan:

* Pauno-dara: pemanggil kuda/pelindung kuda.

* Mokole: raja Moronene.

* Kapita: panglima, di struktur peristiadatan pemerintahan Kerajaan Moronene.

* Laica Ngkoa: rumah adat/istana Kerajaan Moronene.

* Taa: parang pendek. Senjata tradisional Moronene. Bentuk parang yang lebih panjang disebut Taa’Owu.

* Korobi: sarung senjata Taa dan Taa’owu.

* Moronene: etnis tertua di Sulawesi Tenggara. Mendiami daratan besar (Rumbia, Poleang, Huka’Ea, La’Ea, Lanowulu, dan Langgosipi) di selatan Sulawasi Tenggara dan di empat pulau (Kabaena, Talaga Besar, Talaga Kecil, dan Koko’E).

* Tula: bambu betung.

* Saba Mpolulo, Sikeli, Sangampuri, Laa Kambula, Wataroda, Sangia Wita: adalah nama-nama tempat di pulau Kabaena (Bombana, Sulawesi Tenggara).

 


%d blogger menyukai ini: