Tag Archives: kematian

[Esai] Monolog Kasim

Monolog Kasim

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Reportase Kematian

SEBUAH ruang, sebuah level, lelampu yang temaram, menanti hening yang pecah. Seorang lelaki terpekur. Kepalanya menunduk takzim pada diam yang cekam. Di sebelahnya, seorang perempuan duduk tenang. Tapi bukan tenang yang lazim. Ia berduka.

Lumen kuning dari lampu di sudut ruang, berpendar. Cahayanya perlahan mencoba menerobos tiga sudut lain dalam ruang itu. Tapi ia berhenti di batas jarak yang mampu jangkau. Seperti ketidak kuasaan pada waktu yang sempit dan pada ruang yang berwarna tunggal—hitam—lumen cahaya itu kemudian menetap.

Kegelisahan kemudian terpancar dari raut wajah lelaki yang tadi terpekur. Wajahnya kini terangkat, tubuhnya perlahan tegak, tangannya mengembang. Kemudian…

Lelaki itu tiba-tiba terhempas di tahun 1969, 45 tahun lampau. Di sebuah rumah kecil di tengah kota pesisir Baubau. Malam yang demam, dipecahkan oleh derap sepatu puluhan orang. Mereka bersenjata dan usai merampungkan kepungan. Dua orang kini di beranda dan mengetuk.

Perempuan tadi terperanjat, mukanya tenang dan bertanya. Ada orang-orang yang tidak sopan datang bertandang di malam buta. Ia bangunkan lelakinya. Pintu depan terbuka, dan lima orang masuk tanpa permisi. Lelakinya harus segera mengikuti mereka dan tidak boleh bertanya lagi. Itulah jawaban pertama dan terakhir dari satu-satunya pertanyaan yang lepas dari bibir si lelaki. Perempuan itu lalu menulis kesaksiaannya: di benak dan airmatanya.

Lelaki itu terguling dan tiba-tiba saja ia kini berada di ruang kecil seorang diri. Lantai dan dindingnya keras, sekeras wajah dan tabiat para ular yang berkeliaran di luar sana. Lalu kecemasan melampai di seluruh ruangan itu. Lelaki itu melepaskan cinta pada putrinya dan perempuan yang menangisinya. Kata-kata duka menjilami udara, menggarami air matanya.

 

Berangkat dari Puisi.

LELAKI yang sedih dalam ruang berjeruji dan lelaki yang terhempas ke masa silam itu, tampak bersandingan erat dalam gerakan, bunyi dan kata-kata Stone. Pelakon dan pendiri Teater Sendiri Kendari itu, membuka monolognya dengan apik. Ia mampu mendatangkan keterasingan dan cekam yang ngilu ke dada puluhan orang yang memenuhi ruang utama Rumah Pengetahuan (RUPA) Idea Project Kendari.

Ahmad ‘Stone’ Zain membuka monolog Kesaksian dengan beberapa larik liris dari puisi Reportase Kematian karya Irianto Ibrahim. Naskah Kesaksian itu memang sari-kembang dari puisi Reportase Kematian yang terilhami oleh kesaksian perempuan Ainun, istri tercinta Drs. Muhammad Kasim, Bupati Buton yang diculik, dikurung di RTM Kodim Baubau. Saksi mata menuturkan, di sel itulah Muhammad Kasim ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung, tapi jenazahnya tak pernah pulang kepada istri dan putrinya. Kuburannya entah, laporan kematiannya ditutupi dan alasan di balik penculikan itu sengaja dibungkus rapat.

Keseluruhan kesaksian ini juga pernah dituliskan dalam sebuah buku DOM 1969: Buton Basis PKI (cetakan pertama, 1996) yang merangkum hasil investigasi sebuah peristiwa pelanggaran HAM dan memilukan atas sebuah fitnah. Oleh Pangkopkamtib ketika itu, Buton di fitnah menjadi basis Partai Komunis Indonesia di Sulawesi, yang ditandai dengan isu droping senjata dari RRC oleh KRI Pattimura di teluk Sampolawa. Fitnah droping senjata itu sendiri tidak pernah berhasil dibuktikan oleh pihak Pangkopkamtib. Rosihan Anwar yang mula-mula menelusuri jejak KRI Pattimura di Sampolawa juga tidak menemukan secuil pun alasan yang mendasari tuduhan itu.

 

Ruang Kebenaran dalam Sejarah.

MALAM itu, Stone dan Pipin (Sulprina Rahim Putri, pembaca puisi, karakter Ainun) mengantarkan monolog dengan gemilang. Stone bergerak ritmik. Pipin begitu ekspresif. Keduanya memukau puluhan pasang mata yang belum menyadari masalah apa sebenarnya yang sedang mereka saksikan dan dengar dalam pementasaan itu. Pengungkapan fakta dalam puisi Reportase Kematian cukup memadai bagi Stone dan Pipin untuk mendedah dan mengekspresikan sebagian kisah menjadi sebuah Kesaksian yang lain.

Dari sisi estetik pementasan, tata ruang dan lampu yang tak “ramai” ternyata mampu menguatkan naskah serta gerak dan kalimat-kalimat intonatif dalam monolog itu.

Dalam gelanggang diskusi selepas pementasan 20 menit itu, Ahid Hidayat, juga menyatakan ketertarikannya dan kuat mendorong agar pementasan itu digarap dalam durasi yang lebih panjang. “Lakon ini akan sangat berdaya dan kuat apabila ditampilkan dalam durasi yang tepat, dalam bentuk pementasan drama atau teater. Pesan-pesan dalam monolog yang singkat mungkin masih mampu diserap dengan baik oleh penonton, tetapi akan lebih kuat jika fakta itu disajikan dalam pementasan yang lengkap,” demikian Ahid.

Ahid benar. Kekuatan pada puisi Reportase Kematian adalah kemampuan Irianto Ibrahim menghadirkan suasana secara faktual yang terjadi di sepanjang tahun memilukan itu. Fakta yang disajikan secara puitik, juga mampu menularkan kekuatannya pada monolog yang dibawakan secara reportoar oleh Stone. Kesan serupa akan lebih kuat jika ditampilkan secara utuh dalam pertunjukan teater atau sebuah doku-drama.

Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa pertunjukan monolog malam itu, berhasil. Ruangan yang kecil di mana monolog itu dipentaskan mendadak sesak oleh puluhan orang yang menonton. Sepertinya, tinggi atensi menyaksikan pertunjukan itu kurang diantisipasi. Instrumen perkusif —yang berada di tangan sebagian penonton— yang awalnya saya kira akan mengisi plot menolog sebagai ilustrasi, tak saya dengar dibunyikan di sepanjang pementasan.

Bagaimana pun, monolog Kesaksian yang ditampilkan Stone dan Pipin malam itu begitu memukau. Saya memujinya. Sebagai sebuah upaya memelihara ingatan, sebuah upaya agar kekerasan dan ketidak-adilan tak tenggelam sebelum diungkapkan, maka monolog Kesaksian dari Repostase Kematian ini berhasil secara historik, estetik, dan kontekstual. Sebuah upaya mengembalikan ruang kebenaran pada sejarah melalui kesenian. (IQM)

Kendari, Mei 2014

Iklan

[Cerpen] Nisan Kosong | Jawa Pos | Minggu, 19 Januari 2014

Nisan Kosong

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Nisan Kosong

Setelah Pembunuhan Kedua

SEHARUSNYA musim dingin segera berakhir sebulan lalu, selepas tahun baru. Namun, angin utara yang dingin datang tanpa diduga, menyandera semua orang di desa kecil ini dalam dingin yang membekukan tulang. Udara beku membungkus setiap rumah. Edgar berpikir, doa akan menyelesaikan kesedihannya.

Harapannya serapuh dan setipis lapisan es yang menyaluti pagar dan tepian atap. Kecuali orang-orang berani mengarungi laut dalam dinginnya air dan udara, maka sesungguhnya tak ada yang perlu dicemaskan lagi. Orang-orang di sini tak punya sepetak kebun untuk ditanami. Itu bukan pilihan di desa yang sebagian besar areanya berbatu karang. Di sini, orang-orang hanya perlu menjadi nelayan yang baik.

Udara beku telah memporak-porandakan harapan dan keinginan orang-orang di sini, mengubah kehangatan serupa kepungan ketakutan. Itu jelas membuat kondisi desa dan mental orang-orang di dalamnya kian memburuk.

Ada dua nisan tegak di atas bukit pasir di ujung desa, menghadap laut. Tak ada nama tertera pada dua nisan itu. Edgar berdiri di depannya. Dalam keheningan di kepalanya, doanya terbang bersama gemerincing suara lonceng-lonceng angin yang digantungkan anak-anak di dahan pohon willow pantai. Udara beku telah meredam setiap aroma kayu balsa yang disemburkan dari setiap cerobong asap rumah-rumah di sini.

 

Sebelum Pembunuhan Pertama

Masih dalam musim dingin yang berat, dua bulan lalu, di ruang tengah rumah kecil yang tak jauh dari jalan setapak menuju pantai, Allan duduk memeluk lutut menghadap perapian bersama tiga anggota keluarganya. Sesekali tangan mereka lurus ke perapian untuk meraba kehangatan.

“Kayu hampir habis. Minyak untuk menerangi rumah juga tinggal sedikit. Hmm… hantu-hantu laut itu kian merapatkan kepungan. Mereka ingin kita segera menyerah,” keluh perempuan di ujung perapian. Itu Clara, istri Allan. Ia telah mengira hantu-hantu laut adalah penyebab semua kemalangan ini. “Mereka datang menggandeng kematian,” sambungnya.

Mendengar Clara bicara begitu, Allan tiba-tiba berdiri. “Edgar, ikutlah denganku.”

Edgar bergegas bangkit mengikuti ayahnya. Mata kecil Ilyana berbinar memandangi punggung ayahnya dan kakaknya itu. Dua lelaki itu menuju ruang dekat dapur dan cekatan mempersiapkan peralatan melaut. Ilyana menyukai sop sirip hiu masakan ibunya. Gadis kecil itu menyukai setiap irisan lobak yang berenang-renang di dalam mangkuk sopnya. Usianya 12 tahun, terpaut lebih muda enam tahun dari Edgar.

Menahan terpaan angin, Edgar berjalan condong di sisi ayahnya menuju perahu yang ditambat di bibir pantai, di mulut teluk yang serupa bejana itu. Saat mempersiapkan perahu, mata Allan tiba-tiba terpaku pada benda gelap yang mengapung tak jauh dari mulut teluk. Lalu terdengar pekikan putranya. “Itu ikan paus!”

Ikan besar itu berenang lamban di mulut teluk. “Kau tahu Edgar,” ujar Allan. “Daging terbaik adalah daging ikan paus yang diasapi. Minyak dari lemaknya juga sangat baik.”

Edgar mengangguk. Pilihlah. Membiarkan ikan paus itu pergi atau dagingnya akan membantu semua orang di desanya melewati musim yang buruk ini.

Segera setelah melarung perahu, mereka berdua mendekati ikan paus itu dan berusaha keras menghalaunya masuk lebih dalam ke mulut teluk. Mereka ingin menjebak ikan itu di sana. Udara dingin yang menyelimuti pesisir seketika burai oleh suara gaduh keduanya.

Suara mereka membuat orang-orang desa berdatangan, memenuhi bibir pantai dengan mata berbinar. Semangat mereka tiba-tiba penuh saat melihat ikan besar yang berenang gugup di depan perahu Allan.

“Kita bantu dia!” Seseorang berseru dan bergegaslah nelayan lainnya ikut melarung perahu. Membentuk lingkaran dengan kepungan yang rapat dan kegaduhan kian memecahkan kesuraman di mulut teluk itu. Lunas bawah perahu membelah air, bersama kecipak dayung yang dikayuh kuat-kuat.

Allan menghunus belatinya. Ia sedikit ragu. Ikan raksasa itu berenang menjauh dari perahu Allan, namun tindakan justru membuatnya kian masuk ke mulut teluk. Ikan itu kini terjebak. Allan melompat seraya mengujamkan belati. Darah segera mengubah air laut yang dingin berwarna merah saat belati ia tikamkan tiga kali ke tengkorak kepala ikan besar itu.

Itu kematian yang canggung.

Para nelayan segera melemparkan kait bertali. Perahu dikayuh cepat melampaui tubuh ikan, langsung menuju pantai. Di sana sudah menunggu puluhan orang lain yang bersiap menyambut tali, beramai-ramai menarik ikan itu ke pasir pantai.

Orang-orang yang tergesa-gesa.

Tergesa-gesa mengakhiri riwayat ikan itu. Tergesa-gesa mengiris-iris tubuhnya. Tergesa-gesa pula mereka mengambil bagian masing-masing.

Allan nyaris tak mendapatkan apapun, jika saja ia tak segera melabuhkan perahunya. Ia memenuhi keranjang kecilnya dengan daging ikan. Mengambil kulit ikan untuk ia gunakan melapisi jendela. Edgar mengumpulkan belulang ikan untuk dibuat arang. Dua ruas belulang kecil ia simpan sendiri.

Akan ada kemeriahan kecil di setiap rumah malam ini. Irisan lobak akan berenang di mangkuk sop Ilyana. Kemeriahan kecil setelah kematian yang canggung siang tadi.

 

Sebelum Pembunuhan Kedua

Cuaca dingin masih berlanjut. Kelaparan kini kembali mengintai seisi desa. Daging asap dari ikan paus nyaris habis. Selepas pembunuhan pertama, orang-orang desa lebih sering memancing harapan, berdiri di bibir pantai dan memandang ke mulut teluk seraya berharap ikan-ikan besar datang lagi. Orang-orang ini mengharapkan pembunuhan berikutnya.

Kail harapan mereka terpaut akhirnya. Di suatu pagi, saat lapisan es memenuhi sela kayu, suara teriakan seseorang terdengar dari pantai. Teriakan yang meminta agar orang-orang segera datang dan melihat apa yang ia lihat. Di antara kerumunan ada Allan dan Edgar.

Ada ikan paus yang terjebak semalam. Ikan itu berenang gelisah di sisi palung teluk. Tapi, orang-orang terlanjur mengira bahwa harapan merekalah yang telah membuat ikan itu datang. Aroma pembunuhan bercampur dengan udara dingin.

“Ikan ini tiga kali lebih besar dari ikan yang tertangkap sebelumnya,” ujar Edgar pada ayahnya. Orang-orang tampak bergegas, mempersiapkan perahu dan senjata tajam. Maka seperti pembunuhan sebelumnya, ikan paus itu juga mati dengan cara yang canggung. Tak ada perlawanan. Ia terima orang-orang yang merebahkan kematian ke atas tubuhnya.

Tetapi, pembunuhan kali ini berbeda. “Kita sudah selesai di sini,” pelan Allan mengelus punggung Edgar, mengajaknya pergi. Apa yang mereka lihat itu sungguh memuakkan. Wajah dan tangan orang-orang dilumuri darah. Air laut mengantar darah ke tepian pantai.

“Malam ini dan malam-malam berikutnya, di rumah kita hanya akan ada sop lobak dan sedikit irisan daging asap dari ikan paus pertama,” begitu tenang Allan mengingatkan putranya.

Orang-orang desa menuntaskan pembunuhan kedua ini dengan cara yang paling masuk akal. Dalam cuaca dingin seperti ini, dalam intaian kelaparan, mereka kerat setiap daging dan lemak dari belulang ikan paus. Mereka tergesa-gesa. Ikan malang itu belum benar-benar mati saat orang-orang mulai mengambil setiap bagian daging dari tubuhnya.

Barangkali ini terlihat sekadar urusan bertahan hidup. Siapapun berhak melewati musim dingin yang buruk ini dengan tetap hidup. Tetapi untuk urusan semacam itu, orang-orang desa tak harus melepaskan kemanusiaannya.

Edgar kembali ke pantai saat tempat itu telah sepi. Ia berjongkok di sisi belulang ikan yang terserak. Memanggul beberapa belulang besar untuk ibunya dan menyelipkan dua ruas belulang kecil lagi ke dalam sakunya.

 

Setelah Pembunuhan Kedua

Semua orang desa kecil ini masih harus bersabar melihat bebungaan willow mekar di awal musim semi. Waktu yang terulur ini akan segera membangkitkan kecemasan, seperti kecemasan yang sudah mereka rasakan sebelum dua pembunuhan terakhir.

Seperti tiga pagi berturutan dalam sepekan Edgar selalu terlihat menyusuri jalan setepak menuju bukit pasir, maka pagi ini pun Edgar berjalan perlahan menuju ke arah sana. Kepalanya bertudung dan dua telapak tangannya tenggelam dalam saku. Pada kantong kain yang terselempang di tubuhnya, menyembul selembar batu pipih.

Di atas bukit pasir, Edgar memutar tubuhnya, memandang ke teluk yang terlihat indah dari atas sini. Matanya menjelajahi setiap rumah, perahu-perahu yang diam, dan pohon willow pantai yang rajin mengirimkan dentingan lelonceng angin yang digantung di dahan-dahannya.

Ia sudah menyadari bahwa bencana yang menyebabkan kecemasan di desanya bukan tentang udara dingin yang berembus dari utara, tetapi tentang sesuatu yang datang dari lubuk hati setiap orang di desanya.

Lelaki muda itu mengeluarkan isi kantong kainnya dan menegakkan nisan kedua di sisi nisan pertama. Kedua nisan itu menghadap ke laut. Kosong, tak bernama. Ia keluarkan bunga kering dari sakunya dan ditancapkannya ke atas pasir, berdekatan dengan nisan kedua. Ia lalu senyap sejenak, mengembarakan doa untuk makhluk Tuhan yang telah menerima kematian dengan canggung. Setiap ruas belulang yang ia simpan, telah ia kuburkan berdampingan.

Edgar masih tegak dalam diam, saat tangan Allan singgah ke bahunya. Ayahnya sudah ada di dekatnya, entah sejak kapan. “Selamat pagi, Ayah.” Sapa Edgar tanpa menoleh.

Allan membalas salam putranya. “Mereka berterima kasih padamu,” katanya lagi.

Edgar menoleh, mendapati wajah ayahnya yang tenang. Lelaki muda itu tertunduk. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada memakamkan empati yang dipaksa mati. “Kelak kau akan tahu…” Allan merangkul bahu putranya, “saat orang-orang tak lagi memedulikan cara, maka mereka telah usai melakukan kekeliruan yang ingin dipahami.” (*)

Molenvliet, April 2013

Twitter: @IlhamQM


[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Koran Tempo Minggu 2014

Cover Arsip Cerpen Tempo 2014

Download: klik link di bawah ini

E-BOOK_KUMPULAN CERPEN KORAN TEMPO MINGGU 2014

tujuan pengarsipan dan dokumentasi 49 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah fisik atau karateristik material, dan penambahan dalam skala yang dapat ditoleransi. semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media dimana karya yang bersangkutan dipublis pertama kali. dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta dan media yang mempublikasi subyek karya pertama kali.


%d blogger menyukai ini: