Tag Archives: juan

[Cerpen] Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia | Jawa Pos | Minggu, 10 Januari 2016

Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia

Oleh Ilham Q. Moehiddin

[Ilust] Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia3

Hari Pertama Setelah Malam Tahun Baru.

Orang-orang yang bekerja sejak malam tahun baru itu seperti tak lelah. Ketika subuh pertama beranjak, di hari pertama Januari, mereka setia melubangi tanah, mendirikan tiang, dan menggosok alas pualam di sebuah altar.

Sesuatu telah membuat orang-orang itu tergesa memersiapkan semuanya. Sesuatu peristiwa mendesak mereka, peristiwa yang diawali persis sepekan lalu, menyita perhatian warga Vastivia dan membuhul gunjingan di setiap kumpulan orang-orang, bahkan di pertemuan kelompok rajut. Aku mengumpulkan semua catatan mengenai peristiwa itu, untuk tetap membuatku ingat bahwa Vastivia pernah merekam sebuah pengkhianatan.

 

Sepekan Sebelum Malam Tahun Baru.

“Tangkap dia—sekarang!” Teriak Hakim Jaloz. Telapak tangannya menempel ke permukaan meja. Dua petugas Pengadilan yang diteriakinya berlompatan, tergesa-gesa melewati koridor yang langsung mengakses pintu menuju lobi utama Kantor Pengadilan Vastivia. Satu regu segera bergerak untuk melaksanakan perintah sang Hakim.

Di Vastivia, Hakim adalah orang kedua paling berkuasa menjalankan pemerintahan, setelah wali kota. Hukum tertinggi berada pada kolektifitas warga Vastivia.

Itulah mengapa ada plaza luas di tengah kota ini. Ada tribun berjenjang lima yang melingkar panjang mengelilingi plaza luas ini. Ada sebuah panggung besar berisi tiga meja di sisi Timur plaza. Juga sebuah panggung kecil, 2×2 meter luasnya, dan dua meter tingginya, di sisi berlawanan dari panggung besar, di sisi Barat plaza.

Plaza itu dikepung empat jalan yang membuatnya terasing jika terlihat dari udara. Viesneva memisahkan plaza itu dari kumpulan kantor pemerintah di sebelah Barat. Liesnabon, memotong plaza dari sarana perekonomi warga di sisi Utara. Ulasijan, mengiris plaza dari pusat studi dan kepustakaan di sisi Selatan. Ainnestock, meregresi plaza itu dari kawasan industri di sisi Timur. Lokasinya strategis, bukan? Posisi empat jalan itu memudahkan warga menuju plaza. Di akhir pekan, orang-orang akan datang menanak kesenangan di rerumputan hijau plaza itu, bersapaan, memuja keakraban di antara mereka, dan membiarkan kanak bermain.

Di plaza ini semua orang setara.

Mataku melihat dengan saksama kesibukan yang segera usai itu. Tepat di hari pertama tahun baru, di sisi Selatan plaza telah siap lubang dengan kedalaman dua meter. Di sampingnya, ada tiang lima meter berbentuk huruf “L” terbalik. Di sudut lain plaza, ada altar marmer berceruk busur selingkar leher orang dewasa.

Seorang bernama Zamboni telah dibawa paksa ke depan Hakim Jaloz. Sepekan lalu, satu regu beranggota enam orang telah menyatroni ruang kerjanya, mencokoknya ke hadapan Jaloz, di lantai dua Kantor Hakim Vastivia. Zamboni gemetar. Mata Hakim Jaloz seperti menyala-nyala saat itu. Air muka Zamboni dipenuhi kecemasan.

“Kau mengubah dokumen perbendaharaan kota!” Tajam Hakim Jaloz melemparkan tuduhan ke muka Zamboni.

Tak satu katapun keluar dari mulut Zamboni. Jaloz lebih menyeramkan ketimbang seorang Mestizo yang menantang Juan Dahlmann bertarung pisau di wilayah Selatan Argentina dalam cerpen Borges. Tak ada orang yang begitu yakin mengeluarkan perintah penangkapan pada pejabat kota—bahkan ketika si pejabat berada di ruang kerjanya..

“Jawab aku!” Teriak Jaloz. Sendi Zamboni seperti patah. Ia kini berdiri pada lututnya. “Aku—aku tak melakukannya,” sahut Zamboni ngeri. Nyalinya sudah lama pergi.

“Lalu siapa! Hantu!?” Jaloz memajukan kepalanya. Ujung hidungnya melampaui ujung meja. Suara Jaloz menjalar bagai api. Tapi Zamboni tak mengerti mengapa kemalangan hanya menimpa dirinya saja. Ia tiba-tiba jadi pesakitan di hadapan Jaloz. Padahal karirnya sedang menanjak saat ini.

Mengenai Zamboni—semula ia pegawai rendahan di Balai Kota Vastivia. Tugasnya mengumpulkan dan merestorasi dokumen kota, mengadas, kemudian menatanya di jejeran lemari ruang data. Ia membuat dua salinan untuk setiap dokumen yang dikadas, sebelum satu salinan ia kirim ke Kepustakaan Vastivia. Zamboni 15 tahun bertugas di balai kota, sebelum dipromosikan sebagai Kepala Biro Kependudukan Vastivia. Ia menikahi putri Imam Kuil Rastyan, perempuan tercantik distrik kecil Kastien di Tenggara Vastivia.

Barangkali, Zamboni menganggap diri orang termujur se-Vastivia dan orang-orang juga mengiranya begitu, sampai pada siang di mana satu grup petugas menggebah dan menghadapkannya ke Hakim Jaloz.

“Panggil Panitera!”

Leher Jaloz terangkat tinggi, meneriaki seorang petugas yang bergegas bicara ke interkom. Tak semenit, seorang lelaki tua datang tergopoh-gopoh. “Yang Mulia?—”

“Siapkan peradilan untuk orang ini!” Perintah Jaloz. Zamboni tersedak ludahnya sendiri. Panitera menyanggupi lalu berbalik pergi.

Jaloz memicingkan mata kepada Zamboni. “Kau—kau akan mendapatkan perhitungan. Kau harus membela dirimu sendiri. Aku akan memeriksamu, Zamboni. Kau harus hati-hati menjelaskan perkara ini di hadapan warga kota,” desisnya.

Zamboni langsung dijebloskan ke tahanan. Ia akan mendekam di situ menunggu peradilan atas dirinya. Ia tak boleh menelepon.

Wali kota Palyska menggerutu. Kabar sudah sampai ke mejanya, beberapa menit setelah penangkapan Zamboni. Petrova gugup saat bercerita tentang pendadakan terhadap lelaki itu. Muka sekretaris Palyska itu pias bagai kertas. Tubuhnya lunglai di sofa kantor wali kota.

“Apa yang diakui Zamboni?” Tanya Palyska

Petrova menggeleng pelan. “Tak ada—ia seperti kucing basah di hadapan Jaloz.”

Palyska menyeka keringat dingin yang tiba-tiba membanjiri lehernya. Hari masih pagi, ruangan itu berpendingin udara, tapi gerah menyergap tubuh Palyska. Ini ide Petrova—dan untuk jasa Zamboni, Petrova memberinya 10 juta hast serta merelakan tubuhnya dicumbui Zamboni di hotel paling mewah di Vastivia.

“Zamboni menerima apapun yang pantas ia terima,” kata Petrova. Ia mencoba menenangkan dirinya. Ia terus membayangkan bagaimana lelaki paling mujur di Vastivia itu membuncahkan segala gairah ke tubuhnya. Satu jam bersama Zamboni—dan Petrova tak menikmati apapun. Lima jam perempuan itu harus mandi untuk menangisinya.

 

Hari Pertama Setelah Malam Tahun Baru.

Usai kesibukan yang melelahkan di malam tahun baru itu, para pekerja bergiliran pulang. Kehadiran mereka segera digantikan ratusan warga kota yang langsung memenuhi tribun di plaza itu.

Orang-orang seketika hening. Tiga orang bertoga memasuki plaza dan naik ke panggung besar. Hakim Jaloz berjalan terburu-buru, mengamit ujung jubahnya agar tak terkena tanah. Wakil Hakim menyusul di belakangnya. Sang Panitera tampak terlalu kikuk untuk hadir di plaza ini. Orang-orang menertawakannya. Asin laut terbawa angin dari arah Timur plaza.

Jaloz menganggukkan kepala pada petugas pengadilan yang segera berteriak. “Warga Vastivia memanggil ke peradilan ini seorang lelaki bernama Zamboni yang diduga menggelapkan dokumen perbendaharaan Vastivia!”

Masuklah dua petugas mengawal Zamboni. Ia hampir tak sanggup berjalan sendiri dan harus dipapah untuk naik ke panggung kecil. Istrinya yang cantik dan dua putranya berdiri sedih di sudut tribun Utara.

“Baiklah, Zamboni—” Hakim Jaloz membuka peradilan. Wajahnya yang berminyak terlihat berkilat, “—kau harus membuktikan bahwa kau tak bersalah.”

Sebagai hakim, tugas Jaloz hanya memeriksa. Penentu hukuman di peradilan ini adalah warga Vastivia. Jika Zamboni tak bisa membuktikan dakwaan terhadapnya, maka warga Vastivia akan menentukan hukuman untuknya. Warga kota tiba-tiba riuh. Para Hakim menunggu dengan sabar sampai semua orang berhenti bersuara. “Zamboni—apakah kau menerima dakwaan?” Tanya Jaloz.

Zamboni tergugu. Kedua puteranya menyembunyikan wajah mereka ke perut ibunya.

“Tidak—” Zamboni memelas. Matanya diedarkan ke semua warga di tribun. Namun orang-orang mendelik padanya dengan kesumat kebencian, “—aku tak tahu bahwa angka-angka yang aku ubah itu adalah isi laporan kwartal perbendaharaan kota.”

Jaloz gusar. Zamboni memandang takut. Dagunya diangkat, perutnya bergejolak. Jaloz berusaha mengatasi kecemasan yang menyerangnya. “Jika kau diperintah—lalu siapa yang memerintahmu?” Teriak Jaloz.

“Petrova—sekretaris wali kota Vastivia!”

Warga tertegun. Mereka kemudian berbisik-bisik. Jaloz menyeka keringat di dahinya. “Hadapkan Petrova ke depan warga Vastivia!” pemerintahnya.

Petrova digiring turun dari tribun. Wajah perempuan itu pias bukan main. Tapi anggukan Hakim Jaloz membuatnya tenang. Ia tak menyangka Zamboni akan menyebut namanya. Ia dinaikkan ke panggung, bersisian dengan Zamboni.

“Petrova—” datar suara Hakim Jaloz, “—apa pembelaanmu?”

“Aku tak melakukannya—”

Plak!

Telapak kanan Zamboni mendarat di pipi Petrova. Perempuan itu kaget setengah mati. Darahnya mengalir cepat. Wajahnya panas, harga dirinya jatuh. “Kau—kau berbohong Petrova!” Zamboni menunjuk muka perempuan itu. “Kau menyogokku dengan tubuhmu dan uang 10 juta hast agar aku tak bicara pada siapapun!”

Orang-orang terkejut—termasuk istri Zamboni. Perempuan cantik itu buru-buru membekap mulutnya sendiri. Ia sukar memercayai apa yang baru diucapkan suaminya. Amarah warga Vastivia sukar ditahan lagi. Benda-benda beterbangan ke panggung kecil di mana Zamboni dan Petrova berdiri. Petrova menutup hidungnya—sebuah benda membuat hidungnya berdarah.

Dengan suara sengau dan telunjuk yang mengacung ke udara, perempuan itu bicara, “—Palyska juga terlibat perkara ini!” Petrova menyahuti warga dengan keras.

Tangan-tangan yang hendak melayangkan benda ke panggung, tiba-tiba terhenti. Mata mereka kini tertuju pada Palyska yang sedang duduk di tribun utama.

Hakim Jaloz menghela napas berat. “Hadapkan Palyska ke depan warga Vastivia!” Teriaknya. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali menghadirkan orang-orang itu.

Palyska segera turun dan dikawal naik ke panggung, bersisian bersama Zamboni dan Petrova. Seharusnya Jaloz segera meminta Palyska membela dirinya atas tudingan Petrova. Jaloz hanya menyandarkan punggungnya saat orang-orang menuding ke arah mereka bertiga. Palyska mengedarkan matanya ke tribun. Ada anak perempuannya duduk di antara warga.

“Semua akhirnya terbuka. Aku tak mengira akan secepat ini,” lelaki itu mendelik pada Petrova di sisi kirinya. Perempuan itu sibuk menyeka darah dari hidungnya.

“Seusai jam kantor, kami ke Paterna Uljibeer untuk beberapa gelas bir dingin. Tiba-tiba Petrova bercerita tentang keanehan laporan kwartalan perbendaharaan kota. Dokumen itu harus diperbaiki, katanya—dan aku setuju. Auditor akan datang dua hari berselang—” ujar Palyska. Ia meneruskan ceritanya.

Mereka kemudian mencari orang yang tepat untuk memerbaiki dokumen dan Petrova menyebut nama Zamboni. Menurut Petrova, lelaki itu berpengalaman 15 tahun bekerja di balai kota. Petrova menemui Zamboni untuk membicarakan hal itu.

Seorang perempuan berdiri dan membuat Palyska berhenti bicara. “Mengapa tak kau biarkan auditor memeriksa dan menemukan kekeliruan itu?” Tanyanya.

“Benar—” Palyska menegakkan punggungnya, “—cukup sederhana, bukan? Membiarkan auditor menemukan keanehan itu dan menghancurkan kredibilitasku sebagai wali kota Vastivia.” Palyska menggeleng. “Tentu saja tidak. Sebab itulah kubiarkan Petrova menyelesaikan sisanya.”

Palyska kagum pada hasil kerja Zamboni. Tapi auditor tak mau kompromi. Secara teknis dokumen itu benar, tapi kebocoran tetaplah kebocoran. Hilangnya sejumlah uang dari perbendaharaan kota tak bisa dianggap tak pernah terjadi. Auditor membuat aduan ke pengadilan.

Orang-orang berteriak gusar. Dari arah tribun terdengar teriakan, “hukum mati mereka!” Teriakannya memicu kegaduhan warga lainnya. Telunjuk mereka menuding ketiga orang di panggung kecil itu. Jaloz siap mengetuk palu, mengesahkan vonis warga untuk ketiganya.

Petrova panik. Keadaan itu di luar dugaannya. Perempuan itu melompat turun dari panggung, tersungkur keras dengan wajah mencium tanah. Cemong darah bercampur tanah memenuhi hidung dan mulutnya. Perempuan itu langsung bangun dan lari menuju panggung besar. “Tembak dia—tembak!” Teriak Jaloz.

Tapi tak ada yang mencegah Petrova. Tak ada suara letusan. Gadis itu tegak di depan panggung besar. “Hukum dia juga—” Petrova menuding muka Hakim Jaloz, “—dia tak menyelesaikan pekerjaan yang didanai pajak warga Vastivia. Ia menyuapku agar membujuk wali kota dan Zamboni—tapi ia bahkan tak berusaha menolongku di hadapan kalian,” Petrova mendaku dalam isak tangisnya.

Warga Vastivia diam tak bergerak. Pengakuan Petrova seperti pecut yang dilecutkan ke telinga mereka. Wakil Hakim tiba-tiba memerintahkan penangkapan dan enam petugas sudah mengepung Jaloz.

 

Hari Kedua Setelah Malam Tahun Baru.

Angin laut yang kering berhembus dari Selatan Vastivia di hari kedua tahun baru. Kota itu baru saja mengakhiri riwayat empat pelaku korupsi. Angin yang meniup tubuh Zamboni yang mengayun pelan di tiang gantungan, menyapukan debu ke wajah Petrova yang ditanam sebatas leher di liang dua meter, mengirim bau anyir darah dari kepala Palyska yang menggelinding dekat altar marmer. Angin yang mengeringkan tubuh Jaloz yang teronggok di sudut panggung besar. Di toganya ada liang menganga, bekas tikaman belati Panitera yang ikut mengepungnya. (*)

 

Molenvliet, Desember 2015

Cerpen ini berhutang gagasan dari filsafat negara Thomas Hobbes.

Iklan

[Pertala] Mestizo | Jorge Luis Borges

Mestizo

Oleh Jorge Luis Borges

(Dipertalakan oleh Ilham Q. Moehiddin)

 

Sur

JOHANNES Dahlmann seorang pendeta Gereja Evangelica Jerman yang datang ke Buenos Aires pada tahun 1871. Tapi Juan Dahlmann —seorang cucunya yang kini bekerja di perpustakaan kota— lebih suka menganggap dirinya orang Argentina. Juan menyukai semua hal tentang Argentina dan Francisco Flores —ayah dari ibunya. Flores seorang prajurit Infanteri Divisi Ke-II Argentina. Sayang sekali, Flores tewas tertombak seorang Indian dari Catriel, saat pasukannya melerai perselisihan antara dua suku yang berseteru di perbatasan Buenos Aires. Juan kini mengenang Flores pada litograf pria berjenggot, pada pedangnya, kotak musik, buku puisi Martin Fierro, dan kenangan masa kecilnya di rumah besar bercat merah milik kakeknya yang sudah ia warisi itu. Tapi pekerjaan —dan juga kemalasannya— membuatnya menelantarkan peternakan itu.

Sampai ia terbangun di suatu pagi dan mendapati hidupnya berantakan.

**

Kadang takdir bisa secara kejam mengubah nasib seseorang. Juan begitu senang saat berhasil memperoleh salinan terbatas buku Seribu Satu Malam. Tapi saat terburu-buru naik ke apartemennya, sesuatu telah membentur wajahnya dan meninggalkan luka di dahinya.

Luka itu membuatnya demam esok harinya. Suhu tubuhnya meninggi, membuatnya merasa seperti dalam neraka. Selama sepekan kondisinya tak kunjung membaik, sehingga dokter yang kerap merawatnya harus memeriksanya lebih teliti di sebuah sanatorium. Para perawat melepas bajunya, membaringkannya di ranjang kecil dan menyinari tubuhnya dengan X-ray. Mereka juga memantau jantungnya dengan sebuah alat. Obat yang disuntikkan seorang perawat segera membuatnya pingsan.

Juan tersadar dengan perasaan mual dan lemas. Kondisinya cukup serius sehingga dokter mengharuskannya dirawat-inap. Di sebuah kamar khususnya, ia menjalani hari-hari berat dalam berbagai upaya penyembuhan. Ia menerima semua upaya menyakitkan itu hingga merasa hampir gila. Saat pemeriksaannya rampung, dokter justru mengabarkan sesuatu yang membuat perasaannya hancur: ia mengidap keracunan darah.

Itu vonis kematian baginya. Juan membenci dirinya sendiri, merasa terhina dengan semua alat yang melekat di tubuhnya, jenggot meranggas di wajahnya yang tak terurus. Kelelahan fisik dari upaya penyembuhan itu tidak memungkinkan baginya memikirkan sesuatu tentang kematian.

Akhirnya dokter menghentikan pengobatan dan menyarankan Juan memulihkan diri di suatu tempat yang ia sukai. Saat itulah Juan teringat pada peternakan miliknya. Ia ingin memulihkan diri di sana sembari bersiap untuk hal terburuk karena penyakitnya.

Kenyamanan adalah realitas yang simetris dan anakronis: Juan datang ke sanatorium diantar seorang dokter dan dokter itu pula yang kini menemaninya ke stasiun Constitucion.

Juan menghirup kesegaran udara di hari terakhir musim gugur sepuas hatinya. Ia telah melalui pertarungan yang melelahkan di ruang perawatan. Buenos Aires di jam tujuh pagi, selalu mengendapkan sedikit embun yang disisakan malam. Ia tentu saja mengenali kota yang jangat ini: sudut-sudutnya, papan reklame, dan kesederhanaan Buenos Aires dalam cahaya matahari pagi.

Setiap orang Argentina tahu persis bahwa batas kota ke arah Selatan adalah gerbang masuk ke sisi lain Rivadavia. Itu tidak sekadar pernyataan. Siapapun yang melintasi batas kota ini akan segera memasuki dunia yang kuno dan keras. Dunia yang menyuguhkan lansekap luas dan berdebu, gedung-gedung tua, jendela berjeruji, pengetuk pintu dari kuningan, dan gerbang lengkung bergaya klasik.

Juan masih punya waktu 30 menit sebelum kereta api yang akan ia tumpangi meninggalkan stasiun. Ia menuju ke sebuah kafe di sayap stasiun di mana pemiliknya meletakkan seekor kucing dalam kaca. Ya. Kucing itu masih di tempatnya. Ia memesan secangkir kopi, perlahan mengaduk gula sebelum menyesapnya —kenikmatan yang tidak bisa ia dapatkan di sanatorium.

**

Kereta api masih mendesis di peron menanti sisa waktu keberangkatannya. Juan bergegas naik dan mendapatkan sebuah kursi kosong. Ia susun tasnya di rak-jaring. Saat kereta api mulai bergerak, ia turunkan kembali kopernya dan mengeluarkan buku. Ia pikir baik mengisi waktu di perjalanan ini dengan membaca buku Seribu Satu Malam, yang di banyak bagiannya seperti menceritakan kisah hidupnya.

Dari jendela kereta api, tampak Buenos Aires berlari menjauh. Matanya kemudian menangkap lansekap lain di pinggiran kota. Banyak keindahan lain yang kemudian ia saksikan: taman-taman indah dan villa-villa yang menawan. Ia harus menunda bacaannya, kisah Scherezade teralihkan oleh kegembiraan yang lain. Juan menutup buku, membiarkan dirinya menikmati suasana di luar kereta. Saat makan siang, kaldu yang disajikan dalam mangkuk logam, berhasil mengembalikan banyak ingatan masa kecilnya di setiap musim panas. Ia tersenyum. Baginya, perjalanan ini sungguh menyenangkan dan membuatnya merasa seperti dua orang berbeda di waktu yang sama: seorang yang sedang melakukan perjalanan di musim gugur, dan seorang lain yang terkurung di sanatorium.

Besok ia akan bangun pagi di peternakan —pikirnya. Lewat jendela kereta, matanya menangkap hal-hal yang sepertinya tak akan pernah berubah; rumah miring berdinding bata, penunggang kuda di jalanan tanah, selokan irigasi, sungai dan awan besar yang dibiasi cahaya sehingga tampak mirip marmer. Mendapati kembali hal-hal seperti itu membuat Juan seperti berada di dunia imajiner.

Beberapa kali Juan tertidur di sisi jendela dan memimpikan hal-hal yang berhubungan dengan yang ia lihat di sepanjang berjalanan siang ini. Saat ia terbangun, sudut matahari sudah berubah. Langit menyisakan cahaya terang yang kerap mendahului datangnya malam, cahaya yang perlahan berubah menjadi merah.

Warna lansekap di luar kereta api sudah berubah sepenuhnya. Di luar membentang bayangan hitam tak terbatas yang tampak bergerak menuju cakrawala. Sebuah kontradiksi dari Buenos Aires yang dipenuhi pemukiman dan hal lain yang dibuat manusia. Kesunyian yang sempurna dalam kenyataan yang berseberangan. Ini tak sekadar perjalanan pulang, tapi benar-benar seperti perjalanan ke masa lalu.

Lewat kondektur kereta api yang memeriksa tiket, Juan mendengar informasi bahwa sedikit kerusakan akan membuat kereta api ini berhenti di stasiun kecil, di luar stasiun reguler yang seharusnya. Pria itu juga menjelaskan hal teknis yang tidak ia pahami.

Kereta api dengan susah payah akhirnya berhenti. Kereta ini akan menjalani sedikit perbaikan sebelum melanjutkan perjalanannya esok hari. Tidak banyak bangunan di dekat stasiun kecil ini. Kecuali penginapan yang bisa ditemukan sekitar sepuluh blok jauhnya, maka yang tampak hanya beberapa istal penitipan kuda, gudang kargo dan sebuah rumah bercat merah. Matahari masih menyisakan sedikit bias keemasan yang menyembul dari balik perbukitan, sebelum gelap malam benar-benar menelannya.

**

Juan memang menganggap perjalanan pulang ini adalah petualangan kecil ke masa lalu. Ia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan menikmati suasana malam di pedesaan seperti ini hanya karena sedikit rasa lelah. Ia berjalan pelan, menghirup aroma semanggi dari tanah dengan penuh suka-cita.

Rupanya rumah bercat merah itu sebuah kedai. Desain rumah itu tampak kuno dengan baja berukir yang menghiasi strukturnya —mungkin ini satu-satunya yang tersisa dari gaya arsitektur klasik Paul et-Virginie. Beberapa ekor kuda ditambatkan di pagar depan kedai. Juan memutuskan makan malam di kedai itu saja. Saat masuk, ia sempat tertipu kemiripan pria pemilik kedai itu dengan salah seorang perawat di sanatorium. Ia sebut namanya dan pemilik kedai menemaninya ke sebuah meja dan berjanji segera mengantarkan pesanannya. Ia tidak begitu tertarik pada beberapa gaucho yang sedang minum di beberapa meja. Ia pernah berbicara dengan seorang gaucho di Entre Rios, dan cukup aneh menemukannya berada di luar wilayah Selatan.

Juan duduk sambil mengenang waktu yang ia lewati. Waktu yang telah membentuk dirinya seperti tetesan air pada batu. Ia telah merasakan kesepian, kemiskinan, diremehkan, dan ia mampu beradaptasi dengan cepat. Ia menandai keberhasilannya dengan ponco tebal, chiripa panjang, dan sepatu boot terbaik. Juan memilih meja dekat jendela, agar ia bisa memandang kegelapan yang membungkus suasana di luar sana, mengendus aroma alami yang diterbangkan angin ke kisi-kisi jendela.

Pemilik kedai mengantarkan pesanannya —sarden dan sepotong daging panggang. Juan menuntaskan makan malamnya dengan menikmati anggur merah seraya merayapi semua bagian kedai dengan matanya. Ada lampu minyak tanah yang tertempel di dinding, di seberang meja bar, ada seseorang yang menikmati minumannya tanpa melepaskan topi. Tiba-tiba, Juan merasakan sesuatu yang ringan menyapu sisi wajahnya. Di dekat gelas anggurnya, tampak segumpal remah roti yang sepertinya sengaja dilemparkan seseorang ke arahnya.

Juan tidak mengubrisnya. Tubuhnya masih lemah setelah masa penyembuhan dan ia tak suka cari masalah. Ia buka buku dan berniat melanjutkan bacaannya. Namun, remah roti lain mendarat lagi di mejanya dan kali ini disambut tawa beberapa gaucho. Ia tak ingin diremehkan orang lain, tetapi kesalahan besar membiarkan para gaucho bertingkah seperti itu. Darah Argentina di tubuhnya mendidih. Ia sudah berdiri saat pemilik kedai datang dan bicara dengan suara memohon. “Tuan Dahlmann, mohon jangan hiraukan mereka.”

Juan merasa kata-kata yang menenangkan justru hanya akan memperburuk situasi. Seringkali, provokasi para gaucho sengaja diarahkan pada orang-orang yang tidak mereka kenal, tapi terhadap orang tertentu, mereka tidak suka mengambil resiko. Sekarang, mereka sedang meremehkan dirinya, berteriak menghinanya dengan sebutan mestizo di depan banyak orang. Ia menahan tubuh pemilik kedai dan maju menghadapi para gaucho. Ia ingin tahu apa yang mereka inginkan darinya.

Penghinaan adalah cara yang efektif untuk segera membesarkan masalah. Di antara para gaucho, seseorang yang sedang mempermainkan pisau memandang tajam ke arahnya. Orang itu jelas menantangnya untuk bertarung. Pemilik kedai protes sambil menunjukkan bahwa Juan tidak bersenjata.

Tapi dari sudut ruangan, seorang gaucho tua melemparkan belati miliknya ke kaki Juan. Gaucho tua seolah telah memutuskan bahwa ia harus menerima tantangan duel itu. Juan tahu, pisau itu tidak sekadar benda yang akan ia gunakan membela diri, tetapi benda yang akan membenarkan pembunuhan atas dirinya.

Juan membungkuk meraih belati di lantai.

“Ayo kita selesaikan, Mestizo!” kata gaucho yang menantangnya.

Juan tersenyum. Penyakitnya akan segera mengundang kematian datang lebih cepat. Gaucho itu tidak membuatnya takut sama sekali. Ia tidak pulang ke Selatan hanya untuk kembali menunggu kematiannya di ranjang sanatorium. Inilah makna perjalanannya. Ya. Ia sudah pulang. Ia sudah berada di rumah sekarang.

Lelaki yang telah menganggap dirinya seorang Argentina itu berjalan ke depan kedai seraya menggenggam erat pisaunya —benda yang sama sekali tak bisa ia gunakan. (*)

 

Catatan :

– Gaucho = buruh kasar; petani tradisional; penghuni wilayah selatan Argentina.

– Mestizo = olok-olok bagi orang keturunan Eropa-Indian.

 

Jorge Luis Borges adalah seorang penulis cerpen, esais, penyair dan penerjemah dari Argentina dan tokoh penting dalam sastra Spanyol. Cerpen ini seolah menceritakan kehidupan Borges: bekerja di perpustakaan, dan di tahun baru 1939, ia menderita luka berat di kepala dan hampir meninggal karena keracunan darah. Cerpen ini berjudul asli El Sur (1953) yang dialih-bahasakan oleh Ilham Q. Moehiddin dari terjemahan berbahasa Inggris Anthony Bonner, The South (1962).


Marcial Antonio Requelme

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

AKU teringat pada kawan Marcial Antonio Requelme, lelaki asal Paraguay. Marcy sebagai nama yang kukenali. Marcy pernah menuliskan suatu kalimat di balik sampul buku koleksiku:

“Mahasiswa yang bernafas kini adalah di jaman revolusioner. Pada saat rakyat memberontak dan menentang kolonialisme, feodalisme, imperealisme dan diktator dengan tujuan satu kemerdekaan penuh, cukup makan, kemanusiaan, dan pendidikan. Diktator dan kelaparan adalah musuh mahasiswa.”

Goresan pena Marcy itu entah kutipan siapa. Itu mungkin kutipannya, atau barangkali juga kutipan orang lain. Dia tak membubuhkan penanda quote pada bagian akhir kalimat panjang itu. Aku yakini saja bahwa itu memang kutipanmu yang berangkat dari prinsip prinsipmu.

Ah, Marcy…tulisanmu itu masih ada di balik sampul buku Sangkur dan Pena koleksiku, tapi kini engkau entah dimana. Kabarmu tak pernah kudengar lagi, kecuali email terakhirmu yang kau kirimkan padaku awal tahun 2001, bertepat di tanggal kelahiranku; 8 February.

Barangkali sekarang Marcy sudah mati. Aku tak pernah menyesali kematiannya—jika benar benar dia telah mati. Sebab dia dan aku tahu, itulah resiko terkecil dari prinsip dan jalan hidup yang kami pilih. Yang aku sesalkan, sampai tahun 2008, mengapa tak ada yang memberitahuku perihal kabarnya, berterus terang padaku tentang kabar kematiannya.

Ketika itu, kawan kawannya tak pernah mau menjawab pertanyaanku dengan tuntas, selalu dibelokkan dengan basa basi yang tak perlu kuketahui. Begitupun kekasihnya, Erica (Erica Gloria Rosaria) selalu berbelit belit menjawabku saat kutanyakan bagaimana kabar Marcy.

Suatu kali, di tahun 2008, aku merasa harus mengakhiri kepura-puraan Erica. Aku meneleponnya via sambungan international ke nomor telepon yang diberikannya padaku via email. Begitu aku sebut namaku, suara Erica terdengar senang. Dua menit berikutnya suaranya berubah, dan selebihnya aku hanya mendengarkan suara tangisnya yang pilu. Aku langsung tahu, dan aku mulai mengerti. Kuakhiri sambungan telepon itu tanpa pamit padanya. Aku merasa sayang harus mensia-siakan uang untuk mendengar tangisnya saja di dua menit berikutnya.

Sepekan berselang setelah itu, saat membuka email, kutemukan surat Erica. Bertanggal 14 Maret. Itu empat hari setelah aku meneleponnya. Aku melewatkan surat itu tiga hari. Dalam suratnya, Erica meminta maaf atas sikapnya terakhir kali itu.

Dia merasa senang ketika aku menelepon waktu itu. Senang, sebab aku masih ingat padanya, walau kami tak terlalu akrab. Memang, aku mengetahui Erica hanya karena dia kekasih Marcy saja. Selain itu aku tak banyak mengetahui perihal tentangnya. Dia tahu banyak tentangku lewat cerita Marcy. Dan, diakuinya, bahwa sikapku itu cukup membuatnya menangis haru, sebab aku tak pernah melupakan kekasihnya, Marcy dan padanya.

Dan akhirnya, Erica secara terbuka mulai menceritakan mengapa kami kehilangan kontak di beberapa tahun terakhir. Selain hanya mengenalku secara pribadi lewat cerita Marcy, perempuan itu merasa segan harus membuka pembicaraan perihal sesuatu yang akan membuatnya sedih. Erica menduga, aku akan ikut sedih begitu tahu seperti apa nasib Marcy. Barangkali memang akan begitu.

***

Pertama kali bertemu Marcy saat aku berkunjung ke Bali, sekitar pertengahan tahun 1996. Aku datang ke pulau itu disebabkan sebuah undangan, dan Marcy hanya berkunjung biasa, sebagai turis. Kebetulan kami di hotel yang sama. Aku tahu, Marcy banyak memperhatikanku ketika sedang tekun membaca. Beberapa kali dia hendak menghampiriku dan berkenalan, namun ragu…barangkali tindakannya itu akan menggangguku ketika sedang membaca.

Dia salah. Saat membaca…konsentrasiku tentu berpusat pada bacaanku, tetapi aku pun masih peka situasi di sekelilingku. Itulah mengapa aku tetap tahu…Marcy itu rupanya memperhatikanku. Dia sendirian saja. Tak bersama kekasihnya, Erica. Marcy duduk pada set sofa di seberang set sofa yang aku tempati, di lobby Wisma Yani, di jalan yang bersisian dengan pantai Kuta. Kuangkat kepalaku dan aku tersenyum padanya. Aku tutup buku pada batas yang sudah kutandai sebelumnya, mengangkatnya tinggi tinggi ke arahnya, sambil mengirim isyarat padanya dengan kerutan kening dan kedua bahuku yang terangkat; “What wrong with me, brother? Why U look at me like that?”—begitu arti isyarat yang kemudian dia mengerti.

Marcy lantas berdiri dan berjalan menyeberang ke set sofa dimana aku berada, menghampiriku, dan mengangsurkan tangannya bersalaman. Di situlah saat pertama kami bertemu.

Aku tanyakan padanya…apa yang aneh padaku sehingga menarik perhatiannya. Dia tertawa sebelum menjawab pertanyaanku. Tertawanya renyah, rupanya dia itu mudah akrab. Marcy senang pada gayaku ketika membaca. Duduk santai, melipat kaki sebagai tumpuan buku dan sebelah tangan menggantung sambil memainkan sebuah koin. Ya, sebuah koin. Seperti yang diterangkan Marcy, kerap aku memainkan sebuah koin di tangan kananku saat membaca. Itu koin tiongkok bertera huruf tiongkok di kedua sisinya. Pada satu sisi tertera angka 10 yang dikelilingi bunga, sedang di sisi sebaliknya ada karakter seorang pria plontos, yang aku duga sebagai Dr. Sun Yat Sen. Entahlah. Koin itu sudah ada padaku sejak lama, aku lupa kapan. Selalu ada disakuku. Pernah sekali aku nyaris salah membayarkannya saat belanja.

Kami berdua banyak bertukar kisah saat itu, dan beberapa hari setelahnya. Bahasa Inggrisnya lucu, fasih namun diucapkan dengan langgam Spanyol berdialek Guarani. Aku kemudian mengetahui bahwa dia itu mahasiswa hukum di Universitas National Asuncion, tingkat tiga. Ikut di banyak pergerakan di negaranya untuk memprotes kebijakan presiden Juan Carlos Wasmosy Monti yang dianggap sebagian besar rakyat Paraguay sebagai diktator.

Marcy sangat membenci kelaparan. Itu nasib paling buruk yang bisa dialami manusia. Paling tidak, itu menurut Marcy. Aku pun setuju saja. Marcy berkisah secara terbuka…mengapa mereka (kaum mahasiswa) di Paraguay terlalu peka pada persoalan seperti itu. Ternyata itu pun hanya sebagian kecil dari keadaannya dan keluarganya di masa lalu.

Keluarga besar Marcy hidup di pinggiran Asuncion yang kumuh. Marcy kecil kerap tak makan seharian, dan baru pada esok harinya, dia akan menyantap masakan yang dibuat sederhana oleh ibunya. Makan bagi mereka suatu yang mewah. Tak perlu kenyang, kata Marcy. Yang penting bisa merasakannya saja…itu sudah baik. Untuk sepanci kecil masakan ibunya, Marcy harus berbagi dengan tiga saudaranya yang lain.

Suatu ketika, ibunya jatuh sakit, sehingga tak ada kesempatan memasak buat mereka. Nyaris dua hari Marcy dan tiga saudaranya kelaparan, sampai seorang tetangganya bernama Mohemmed Massud Passula, seorang muslim turunan Paraguay, datang pada malam hari. Massud tertarik menengok mereka sebab sempat mendengar Fontada, adik Marcy, terisak isak kelaparan.

Massud lalu membawa mereka berempat, setelah sebelumnya meminta ijin pada ibu mereka. Massud menenangkan ibu Marcy, untuk tak khawatir. Marcy nyaris tak mau ikut sebab khawatir dengan kondisi ibunya…tapi Massud menenangkannya dengan bilang, bahwa ibunya baik baik saja.

Malam itu juga, Massud memasak banyak sekali. Keempat anak malang itu makan sampai kenyang. Saat hendak kembali pulang, Massud membekali Marcy dan adik adiknya serta ibunya, setempayan besar penuh makanan. Massud tahu ibu Marcy belum terlalu kuat untuk memasak, jadi sebaiknya ibunya istirahat saja. Makanan itu habis dalam tiga hari berikutnya, saat ibu Marcy sudah cukup kuat untuk menjaga keempat anaknya.

“Bapak Massud itu masih hidup. Beliau seorang muslim yang baik. Tak pernah marah pada tetangga. Bersama istrinya, dia sering meringankan beban ibuku. Bahkan karena itulah, ibuku pernah marah besar pada seorang tetangga lain yang mengganggu keluarga Massud.” Kata Marcy. Wajahnya berseri seri ketika bercerita perihal ibunya dan keluarga Massud. Rupanya peristiwa itu begitu membekas padanya.

Ayah Marcy tak ada. Lelaki itu meninggalkan ibunya saat kelahiran adik Marcy yang nomor dua, Manuella. Lelaki itu tak pernah kembali, dan entah sekarang dimana. Marcy dan ibunya yang bekerja bahu membahu untuk memenuhi semua kebutuhan mereka sekeluarga. Apa saja akan dilakukan Marcy agar ibu dan ketiga adiknya bisa makan dan bersekolah. Intensitas kerja serabutan yang dilakukan Marcy mulai agak berkurang sejak dia masuk ke universitas.

Marcy lalu bekerja magang di sebuah firma hukum, dan sedikit demi sedikit menerima penghasilan yang layak. Perubahan mulai terjadi di keluarganya.

Namun soal pembangkangan yang mereka lakukan pada pemerintahan Paraguay yang sedang berkuasa, ingatanku melayang pada perlawanan rakyat Chili pada Augusto Jose Ramon Pinochet Ugarte, dan pada Salvador Allende.

Tapi soal pembangkangan itu, aku awalnya tak mengerti. Sebab berita berita yang aku sering baca soal Paraguay tidak terbetik sedikitpun masalah atau skandal. Marcy menyangkal dengan keras pemberitaan media macam itu. Yang terjadi di Paraguay, menurut Marcy, terbalik sama sekali.

Menurut Marcy, pergerakan mereka didasari atas ketidakstabilan politik yang memicu resesi ekonomi di bawah pemerintahan Juan Carlos Wasmosy Monti—berikutnya dalam surat suratnya, Marcy pun bercerita tentang keburukan pemerintahan baru lainnya, seperti; pemerintahan presiden Raul Cubas Grau (yang mengundurkan diri karena terlibat dalam pembunuhan atas wakil presidennya sendiri), dan presiden Luis Angel Gonzales Macchi.

Akibat dari kericuhan itu banyak aktivis yang dibungkam dengan pemenjaraan dan penghilangan. Tekanan dari kalangan aktivis membuat Partai Liberal Radikal Otentik mengancam akan keluar dari koalisi. Akan ada rencana kudeta, begitu kata Marcy. Aku mendengarkannya dengan saksama.

Kondisi Paraguay saat itu tidak berbeda jauh dengan kondisi Indonesia yang sedang memasuki masa transisi. Gejalanya sudah mencuat, dan bermunculan secara spartan. Kami makin sering bertukar kisah tentang kondisi dan perkembangan terbaru di negara kami masing masing melalui email saat Marcy kembali ke negaranya. Seringkali kisah kisah itu menjadi bahan diskusi seru via email, apalagi saat kawan kawan pergerakannya juga mulai ikut ikutan dalam diskusi.

Diskusi macam itu makin intens ketika gerakan perubahan menyentuh Indonesia sejak tahun 1997-1998. Aku kerap menuliskan padanya berbagai kisah heroik kawan kawan mahasiswa, kisah lucu atau bahkan aneh pada semua entitas pergerakan kami. Kukirimi dia foto kekacauan di Jakarta 17-19 Mei 1998, dan di beberapa kota lainnya.

Bahkan tak lupa aku kirimi dia catatan pergerakan besar yang terjadi di Kendari saat 24 Mei (aku kembali ke Kendari pada 22 Mei 1998). Pergerakan yang melumpuhkan kota itu dalam sehari. Tak ada aktivitas militer. Mahasiswa dan penduduk lainnya memenuhi jalanan. Markas Kodim, markas Korem kosong, hanya dijaga beberapa orang berpakaian sipil tanpa senjata. Kantor gubernuran pun demikian. Sunyi. Saat rombongan besar mahasiswa datang hanya di temui seorang tegas dan masih keturunan Lakilaponto, raja di Tongkuno. Laode Kaimoeddin yang menjabat gubernur Sulawesi Tenggara ketika itu, keluar menemui mahasiswa, dan beliau hanya menurut saja ketika mahasiswa memaksanya menurunkan bendera menjadi setengah tiang. Kacau nyaris terjadi saat seorang Polisi Pamong Praja, merasa sok tahu dan berusaha mencegah. Kami ‘mengamankan’ Pol-PP itu, lalu menurunkan bendera setengah sambil berlagu Indonesia Raya. Gubernur yang baik itu hanya dapat menghormat dengan tegap dan gagah.

Yang lucu, saat rombongan mahasiswa melintas di depan Markas Polisi Daerah Sultra. Tak ada polisi seorang pun yang tampak. Markas Polda itu justru dipenuhi ibu ibu Bhayangkari yang siap dengan puluhan doz besar berisi nasi campur dan puluhan galon air mineral. Ibu ibu itu justru menjamu mahasiswa ketika 26 truk besar melintasi jalan utama di depan kantor suami mereka, saat sedang konvoi menuju bandara untuk tujuan penguasaan.

Ya, kamilah yang menggerakkan demo besar itu. Aku, bersama kawan-kawan Saleh Hanan, Jusuf Tallama, Imam As’roi, Bambang Hendratmo (Alm.), Irianto Ibrahim, Jayadi, Iwan Rompo, Haris Palisuri, Rasman Manafi, Endang SA, Mastri Susilo, Hayani ‘Theo’ Imbu, Ruslan Adijaya, Boy, Deli, Arminus Wuniwasa dan Adi (keduanya dari barisan LMND) dan beberapa kawan lainnya yang tak teringat lagi olehku.

***

Ah, Marcy…aku ingat padamu kembali malam ini. Saat memandangi koleksi bukuku pada rak yang sesak. Mataku tak sengaja melihat kembali buku Sangkur dan Pena yang bersampul merah dan putih itu. Di sanalah aku menemukan kembali jejakmu. Tulisan tanganmu itu.

Lalu, aku temukan semua jawaban atas semua pertanyaanku lewat kekasihmu, Erica itu. Erica membenarkan telah terjadi kudeta yang dilancarkan kelompok oposisi yang diboncengi mahasiswa. Marcy ikut didalamnya. Marcy tak kenal lelah menyuarakan kepentingan “orang kelaparan”. Sekali Marcy ditangkap, lalu dibebaskan. Begitu kisah Erica dalam suratnya.

Kudeta memang akhirnya terjadi pada tahun 2000. Marcy dan kawan kawannya mulai menyerang secara subtantif kepentingan LA Gonzales Macchi. Ikut mendesak Senat dan Majelis Rendah untuk meng-impeachment presiden Macchi. Gerakan kudeta tak berdarah itu, kata Erica, gagal total. Sebab kubu pendukung presiden Macchi sangat kuat di Senat. Benturan dan aksi Marcy dan kawan kawannya yang gagal itu, membuat Erica kehilangan dua kali; aksi itu sendiri dan Marcy yang ditangkap kembali.

Sejak itu, Erica dan kawan kawan Marcy yang sempat lolos dari penangkapan tak pernah lagi mendengar kabar Marcy. Seorang kerabat Erica yang bekerja di kepolisian nasional Paraguay hanya menyebut Marcy “tewas ditahanan oleh sebab yang tidak diketahui”.

Erica sedih bukan main. Kondisi itu diperparah dengan tidak pernah adanya kepastian bagaimana jenazah Marcy bisa dikembalikan kepada keluarganya. “Tak ada. Tak pernah ada informasi atau niat baik pemerintah Macchi untuk membeberkan sejumlah kasus itu”. Demikian di bagian tengah dari surat Erica. Artinya, kawan baikku…Marcy, memang sulit diketemukan lagi.

Tulis Erica di email-nya :

“Kawan Ilo, kami ada harapan menemukan kebenaran perihal nasib Marcy ketika Macchi gagal mempertahankan jabatannya di pemilu 2003. Kami mendesak presiden baru Nicanor Duarte untuk membongkar kebusukan pejabat kepolisian dan siapa saja yang berada dibelakangnya, atas sejumlah kasus kematian aktivis. Aku, dan keluarga Marcy, khususnya ibunya…akan sangat berterima kasih pada pemerintah Duarte jika cukup diberitahu soal makam Marcy dan aktivis lain yang ikut mati bersamanya. Tapi…itu tak pernah terjadi.”

Marcy dan Erica memanggilku dengan nama kecilku; Ilo. Mereka suka menyebutnya begitu, sebab singkat dan mengingatkan mereka dengan ILO (organisasi buruh UN). Aku suka senyum (nyaris tertawa) jika mendengar mereka menyebutku dengan nama itu…pada lidah mereka yang ‘terlipat’.

“Satu satunya harapan Marcy yang terwujud adalah terbongkarnya skandal penipuan dan penggelapan pajak yang dilakukan mantan presiden Macchi. Orang sesat itu dihukum enam tahun penjara dua tahun yang lalu (2006).”

Surat Erica ini bertahun 2008. Jadi dua tahun sebelumnya, saat kubaca email Erica, musuh Marcy sudah dijebloskan ke penjara.

***

Ah, Marcy…kau membuatku ingat padamu lagi, kawan. Sejak kabarmu tak aku dengar atau kerap aku baca lewat surat surat elektronikmu…rupanya kau telah lama hilang. Erica cuman bisa mengenangmu dengan tangisannya. Perempuan itu dipinang teman dekatmu…namun dia jujur bilang dalam suratnya; tak pernah bisa melupakanmu. Calon suaminya, yang juga kawanmu, tahu benar soal derita Erica itu. Makanya, setiap hari dia berusaha keras menemukan dan mengumpulkan setiap informasi soal keberadan kuburanmu atau sedikit saja petunjuk mengenai sejumlah kematian di sel tahanan diktator Macchi.

Menurut Erica, calon suaminya itu merasa tak pernah bisa benar benar dicintai olehnya, jika belum bisa menghapus bayang bayangmu dari fikiran Erica.

Ah, Marcy…telah kutulis pula balasan surat untuk Erica. Intinya aku sudah cukup senang mengetahui semua hal yang mereka sembunyikan selama ini. Tak ada lagi kepura-puraan perihal dirimu, kawan. Aku mengirimkan doa buatmu lewat Erica. Pada perempuan itu, aku minta agar dia mencoba berdamai dengan dirinya, dengan hatinya. Sehingga dia tak terbelenggu semua kenangan tentang kalian. Aku menaruh iba pada lelaki kawanmu, yang meminang dirinya itu… Tak mudah menemukan calon suami yang baik seperti dia. Aku meminta Erica tidak mensia-siakan usahanya. Aku minta Erica melupakan semua kenangan tentangmu dan mulai belajar mempercayai calon suaminya. Tapi aku pun memintanya tak surut untuk terus mencari makammu.

Ah, Marcy…sudah dulu kawan. Aku telah berusaha memelihara kenangan perkawanan kita. Aku tak tahu kini engkau sebahagia apa…tapi aku yakin engkau sekarang lebih tenang dari siapapun.

Marcy…dimana pun engkau…demi semua prinsipmu, aku senang telah mengenalmu.

Demi perkawanan kita; …kini tenanglah. ***

Kendari, 03 Januari 2011

Marcy dan Erica di salah satu sudut cafe di Paraguay, 1997 (foto: dok. Erica & Marcy)

Tunangan Erica dan Ibu Marcy di depan kantor Polisi Paraguay, 2008 (foto: dok. Erica)


%d blogger menyukai ini: