Tag Archives: jawa pos

[Esai] Sastra NTT, Nisan Kosong dan Epitaf yang Belum Ditatah

Esai berikut ini ditulis oleh Mario F. Lawi, seorang penulis dan penyair Nusa Tenggara Timur (NTT). Namanya tentu akrab di telinga para penikmat sastra di NTT. Mario lahir di Kupang, 18 Februari 1991. Ia dinobatkan sebagai Tokoh Seni versi Majalah Tempo, bidang Sastra Puisi tahun 2014. Buku kumpulan puisinya, Ekaristi (2014) dikukuhkan sebagai buku sastra puisi terbaik 2014 dan ia diganjar Academia Award 2014 kategori Literatur. Bersama beberapa kawannya, ia mendirikan Komunitas Sastra Dusun Flobamora di Kupang, pada 19 Februari 2011. Komunitas ini bergerak di bidang penulisan esai, puisi, cerpen, dan resensi buku. Setahun kemudian, pada 12 Mei 2012, komunitas ini menerbitkan Jurnal Sastra Santarang dan Mario menjadi Pemimpin Redaksi pada jurnal yang terbit rutin setiap bulan ini. Tiga buku puisi Mario adalah Memoria (2013), Ekaristi (2014), Lelaki Bukan Malaikat (2015). Esai Mario F. Lawi yang sedang Anda baca ini telah dipublikasikan di Harian Timor Express, Minggu 9 Maret 2014.

 

Sastra NTT, Nisan Kosong dan Epitaf yang Belum Ditatah

Oleh: Mario F. Lawi

mario lawi_2015Pada terbitan Harian Jawa Pos, 19 Januari 2014, saya membaca cerpen Ilham Q. Moehiddin yang berjudul Nisan Kosong. Hanya dengan melihat ilustrasi yang menyertai cerpen sebelum tenggelam ke dalam cerpen tersebut, saya jadi ingat tradisi perburuan paus di Lamalera.

Saya ingat, jauh sebelum cerpen ini terbit di Jawa Pos, pada 26 September 2013, saya dan beberapa teman dari Komunitas Sastra Dusun Flobamora diundang untuk menyaksikan sebuah pementasan kecil dimotori oleh sekelompok seniman dari Yogyakarta dan Aceh bekerjasama dengan Museum Daerah Propinsi NTT berjudul Koteklema dan Ksatria Laut Lamalera di kompleks SMA Katolik Giovanni. Salah satu tujuan pementasan ini adalah untuk menarik minat masyarakat—terutama kaum muda—untuk semakin sering mengunjungi museum. Pentas yang menggabungkan story-telling, drama, tarian dan nyanyian ini didukung juga oleh peran beberapa siswa dari SMAK Giovanni, SMA Muhammadiyah, SMK Negeri 1 dan SMA Negeri 3 Kota Kupang. Pentas ini mengangkat kembali mitologi yang menceritakan situasi awal masyarakat Lamalera berburu paus. Salah satu adegan dalam pementasan menunjukkan kepercayaan awal masyarakat Lamalera bahwa paus merupakan kerbau yang terlepas dan lari ke dalam laut.

Sebagai proyek, saya pesimis tujuan penyadaran dari pementasan ini tercapai. Selain karena digarap dengan waktu yang relatif singkat, pendalaman naskah yang tidak maksimal dari para tokoh yang terlibat membuat pementasan ini hadir ala kadarnya. Kembali ke Nisan Kosong, cerpen ini mengingatkan saya akan tradisi perburuan paus di Lamalera karena pelukisan suasananya.

 

Tentang “Nisan Kosong”

Nisan Kosong merupakan cerita yang dipenggal ke dalam empat fragmen dengan alur yang tidak linear tapi mudah dipahami, mengisahkan tentang dua orang lelaki yang berjuang memenuhi kebutuhan makanan keluarga mereka di musim dingin dengan membunuh ikan paus, yang dagingnya juga dinikmati seisi desa. Di sebuah tempat antah-berantah, di tengah musim dingin yang mengepung, Edgar dan Allan ayahnya memutuskan untuk berburu ikan paus demi mengalahkan lapar dan paceklik bahan makanan yang dihasilkan musim dingin berkepanjangan.

Demi Clara istrinya dan Ilyana sang putri, Allan bersama Edgar putranya bertarung mengalahkan dingin untuk menjebak seekor ikan paus ke mulut teluk. Dalam Nisan Kosong, dua ekor paus berhasil dibunuh. Nyawa paus pertama tumpas di bawah mata belati Allan. Nyawa paus kedua dilenyapkan kelompok nelayan lain. Sebagai ungkapan rasa terima kasih, Edgar menguburkan belulang kedua paus itu di dua buah makam yang ditandai dua buah nisan kosong.

Beberapa pesan dapat dipetik dari Nisan Kosong; dari isu tentang lingkungan, satir terhadap budaya hingga potret simbolik manusia yang berubah dari sosok yang berjuang memenuhi kebutuhan menjadi makhluk yang serakah dan ingat diri. Ucapan Allan kepada Edgar sebelum pembunuhan paus pertama kian mengingatkan saya pada tradisi perburuan paus di Lamalera, “Daging terbaik adalah daging ikan paus yang diasapi.  Minyak dari lemaknya juga sangat baik.” Bagi saya, sejumlah pesan kuat yang dapat dipetik tidak diimbangi dengan penggarapan suspens dan logika cerita yang maksimal, sehingga pada beberapa bagian, cerpen ini nampak tergesa-gesa dan nirlogis. Bagian yang berpotensi diolah menjadi konflik yang lebih dalam—misalnya eksplorasi psikologis Edgar dan Allan menghadapi kepungan musim dingin di tengah laut demi menaklukkan seekor raksasa laut—justru digarap dengan sangat minimal.

Seminggu setelah cerpen ini dipublikasikan di Jawa Pos, saya menerima pesan singkat dari penulisnya bahwa cerpen tersebut terinspirasi dari tradisi perburuan paus di Lamalera yang pernah dikunjunginya pada tahun 2004. Ilham Q. Moehiddin kini berdomisili di Kendari. Ia seorang kontributor tulisan untuk beberapa media di Indonesia, baik cetak maupun online, juga seorang prosais yang produktif dan meraih penghargaan dalam sejumlah sayembara menulis. Saya mengenalnya sejak Ubud Writers and Readers Festival 10-16 Oktober 2013 di Bali. Dalam pesan singkat tersebut, ia sempatkan bertanya, “Bagaimana tanggapan teman-teman komunitasmu tentang cerpen Nisan Kosong?” Saya menjawab dengan malu, “Kami tidak sering mengikuti perkembangan cerpen di Jawa Pos, Bang. Jadi, kami jarang mendiskusikan cerpen-cerpen yang terbit di sana.”

 

Nisan Kosong dan Sastra NTT

Bagi saya, salah satu kiat seorang penulis untuk mengasah kemampuan menulisnya adalah dengan memperluas medan bacaan sekaligus menjadi pembaca yang kritis demi mempertajam visi menulisnya. Pertanyaan Ilham di atas, adalah sebuah peringatan yang juga ditujukan untuk siapa saja yang menulis. Perluasan medan bacaan juga ditandai dengan variasi bacaan yang dicerna. Memberi tanggapan terhadap sebuah bacaan berarti menjadi pembaca yang kritis. Hal ini yang masih belum secara maksimal dilakukan oleh komunitas kami yang ironisnya berlabel ‘Komunitas Sastra’.

Jika pun cerpen Nisan Kosong kami diskusikan, akankah kami mengelompokkannya sebagai bagian dari “sastra NTT”? Saya kembali pada rumusan Yohanes Sehandi tentang “sastra NTT”. Menurut Sehandi, sastra NTT adalah sastra tentang NTT atau sastra yang dihasilkan oleh orang NTT dengan menggunakan media bahasa Indonesia.” Ia kemudian mencontohkan novel Lembata (2008) karya F. Rahardi dan puisi Beri Daku Sumba (1970) karya Taufiq Ismail. Bagi Sehandi, kedua karya tersebut adalah bagian dari “sastra NTT” karena berbicara tentang NTT, tentang masyarakat dan kondisi alam dan geografis NTT, meskipun tidak dihasilkan oleh orang NTT (Sehandi, 2012: 12-13).

Rumusan Sehandi tentang “sastra NTT” sendiri, bagi saya, masih bersifat polemis, terutama jika ditarik ke sejumlah karya yang dijadikannya sebagai contoh. Lembata (2008) yang ditulis oleh F. Rahardi, misalnya, meskipun banyak menyelipkan informasi geografis dan sosiologis tentang Kabupaten Lembata, bagi saya, tetap saja tidak digarap dengan latar-belakang kultur penulis NTT apalagi ketika memasuki bagian dialog antar-tokoh. F. Rahardi menyelipkan beberapa baris kalimat bahasa Jawa di tengah percakapan antara Pater Fransiskus Bagun dan Romo Zebua. Ketika ditanya oleh Pater Fransiskus Ekonom Keuskupan Ruteng, “Romo ini sebenarnya Flores atau Batak?” Romo Zebua yang ditokohkan sebagai pastor berdarah asli Lio malah menjawab dengan bahasa Jawa, “Kulo niki Jowo, Pater. Seminari Menengah wonten Mertoyudan, mlebet Projo Larantuka, Seminari Inggil wonten Kentungan, lajeng dados romo paroki wonten Lembata mriki. Kados pundi Pater?

Jika bahasa Jawa berani diselipkan F. Rahardi dalam percakapan antara dua orang NTT yang ditokohkannya dalam novel, mengapa ia tidak berani menyelipkan dialek Melayu-Lembata pada percakapan tokoh-tokoh yang lain, seperti percakapan antara Pedro dan Romo Zebua, dua orang NTT yang sama-sama hidup di Lembata, dan malah memilih menggunakan format percakapan bahasa Indonesia yang baku? Bagi saya, novel ini tidak secara mendalam melukiskan Lembata dan kelembataan yang salah satu aspeknya termanifestasi dalam dialek. Meskipun pada tataran deskripsi F. Rahardi banyak menuliskan tentang Lembata, hal tersebut tidak mutlak menentukan ihwal Lembata dan ‘kelembataan’ mesti dilibatkan dalam urusan pemaknaan.

Contoh lain adalah puisi Beri Daku Sumba (1970) yang ditulis oleh Taufiq Ismail. Dalam kumpulan puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” (cetakan kelima, 2004), Beri Daku Sumbadan 99 puisi lain, bagi saya, adalah pelanjutan tradisi lirih Melayu-Sumatera yang ditinggalkan oleh Amir Hamzah (bandingkan dengan kumpulan puisi Amir Hamzah “Nyanyi Sunyi” dan “Buah Rindu”), meskipun Beri Daku Sumba sendiri ditujukan untuk Umbu Landu Paranggi, seorang penyair asal Sumba. Ketika pertama kali membaca puisi tersebut semasa SMA, yang saya bayangkan justru bukan Sumba, melainkan Uzbekistan—lokasi yang menginspirasi Taufiq untuk menulis puisi tersebut.

Dua contoh karya tersebut, yang dikatakan oleh Yohanes Sehandi, sebagai “sastra NTT” dan “sastra tentang NTT” tidak harus disebut “sastra NTT” apalagi “sastra tentang NTT”. Sebab, menurut saya, pelabelan “sastra NTT” atau “sastra tentang NTT” dalam dua contoh yang diangkat Sehandi baru bisa terjadi pada medan pemaknaan, dan bukankah otoritas pemaknaan tidak bergantung pada hanya satu pihak? Melabelkan “sastra tentang NTT” pada dua karya tersebut hanya akan mempersempit medan pemaknaan yang pada akhirnya juga berarti melakukan represi pada tataran teks. Bukankah bentuk represi pemaknaan adalah hal yang paling awal ditolak dalam kesusastraan demi membuka kemungkinan tak terduga terhadap eksplorasi kebahasaan?

Maka, meskipun merasakan anasir tradisi perburuan paus Lamalera dalam cerpen Nisan Kosong ditambah pengakuan langsung dari penulisnya, saya tetap enggan menggolongkan cerpen tersebut ke dalam “sastra NTT” atau “sastra tentang NTT”. Pelabelan “sastra NTT” dan “sastrawan NTT”, bagi saya, berpotensi menjebak, ibarat menyiapkan sebuah kubur dengan nisan dan tatahan epitaf untuk menjelaskan riwayat kehidupan yang telah menjadi bagian dari kenangan. “Sastra NTT” atau “sastrawan NTT” tidak boleh ada sebagai monumen yang diam, melainkan sebagai sebuah proses yang hidup dan kerja yang tak kenal lelah. (*)

—————————— sumber: mariolawi.wordpress.com

 

Iklan

[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Jawa Pos 2015

Cover JP 2015e2

Download: klik link di bawah ini

eBOOK KUMCER JAWA POS 2015

tujuan pengarsipan dan dokumentasi cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah fisik atau karateristik material, dan penambahan dalam skala yang dapat ditoleransi. semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media dimana karya yang bersangkutan dipublis pertama kali. dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta dan media yang mempublikasi subyek karya pertama kali.


[Cerpen] Tuhan Kecil di Vsyehrad Hills | Jawa Pos | Minggu, 2 Agustus 2015

Tuhan Kecil di Vsyehrad Hills

Oleh Ilham Q. Moehiddin

[CERPEN] Tuhan Kecil di Vsyehrad Hills - Ilham Q Moehiddin_Ilust2

#1

DI bawah payung besar, di sebuah meja di kafetaria itu, Lavinsky merendahkan punggung di sandaran kursi. Kepalanya terangkat dan menemukan mata gadis itu lagi —dengan kesuraman yang begitu tampak di dalamnya. Kabut yang menyisa tipis di Vsyehrad Hills membuat pandangan terbatas ke arah Jembatan Karluvmost. Ia menutup Umberto Eco dan meletakkannya di meja.

“Kau suka buku?” Lavinsky duduk tepat di depannya.

“Tidak!” Ketus jawaban gadis itu —namanya Lalena.

“Kenapa?”

“Aku tidak suka saja!”

“Tentu kau punya alasan.”

Lalena meliriknya dengan jengkel. Lavinsky menyentuh bibirnya sendiri. “Baiklah,” selanya tenang, “bagaimana dengan bunga? Apa kau suka bunga?”

“Aku juga tak suka bunga!”

“Aneh—” Lavinsky berkemam, “—biasanya perempuan suka pada bunga.”

“Aku bukan perempuan seperti itu!” Lalena menyahutinya.

Lavinsky tersenyum. Jemarinya menyentuh lengan Lalena. “Kau tak suka buku, juga bunga. Lalu, apa yang kau sukai?”

“Kenapa kau begitu ingin tahu?”

Lavinsky menggeleng cepat. “Tidak. Ceritalah jika kau suka saja.”

Lalu kecanggungan menyergap. Dua menit yang terasa lama. Lalena memandangi sebagian Praha di bawah sana. Ia menyukai ketenangan seperti itu. “Aku menyukai belati dan gunting kuku.” Suara gadis itu datar sekali.

Bola mata Lavinsky membesar. Sebenarnya ia sedang penasaran mengapa Lalena kerap menghabiskan kesendiriannya di kafetaria ini. Suasana di tempat ini tidak cocok untuk merenung. Lalu, tiba-tiba saja gadis itu mengatakan sesuatu tentang belati dan gunting kuku. Bukankah itu aneh?

Tidak mudah bercakap-cakap dengan gadis pendiam seperti Lalena. Pun jarang ada gadis yang sudi berbicara pada lelaki asing yang baru dikenalnya. Tapi tampaknya Lalena tak punya apapun, kecuali lamunan yang bisa ia ceritakan.

 

#2

LAVINSKY bertemu Lalena saat hujan pertama di bulan November, di kafetaria kecil di satu bagian di bukit Vsyehrad ini. Gadis itu sedang sendirian di meja dekat jendela, memandangi rincis hujan di luar sana.

Aneh cara gadis itu menatapnya. Hanya beberapa detik mata mereka bertemu dan gadis itu buru-buru membuang pandangannya. Lavinsky ingin mengenalnya, mendekatinya dan sopan meminta untuk bisa duduk semeja dengannya. Lalena setuju saja. Perkenalan dan obrolan kecil bersama dua sloki Vodka yang tandas sebelum mereka berpisah untuk urusan masing-masing.

Entah kenapa mereka kerap bertemu di kafetaria ini. Lalena tak pernah banyak bicara, kecuali jawaban kecil atas satu-dua pertanyaan Lavinsky. Barangkali —untuk standar Lavinsky— Lalena adalah gadis paling beruntung. Ia bukan sejenis lelaki yang serius. Tetapi untuk Lalena, entah bagaimana Lavinsky berhasil menahan diri dari sikap isengnya. Lavinsky tiba-tiba menjelma lelaki paling ramah, tak seperti Lavinsky yang suka berpura-pura mendengarkan kesah para perempuan dan mengakhiri kesepian mereka dengan omong kosong di depan perapian bersama sebotol Vernaccia merah ceri.

“Aku penasaran perihal gunting kuku itu,” gumam Lavinsky.

“Itu tentang seorang lelaki—” Jawab Lalena tanpa berkedip. Matanya berkilat.

“Seorang lelaki?”

“—Lelaki itu mati karena gunting kuku.”

Lavinsky tertegun. Lalena mengawali ceritanya dengan intonasi yang aneh. Lebih aneh dari suara Phoebe saat mendesiskan bagian-bagian menakutkan dari kisah kematian di perkemahan musim panas Arawak kepada anak-anak yang mengelilingi api unggun dalam film Sleepaway Camp. “Bagaimana gunting kuku bisa membuat seorang lelaki —mati?”

Lalena berpaling ke jendela. “Diabetes. Gunting kuku melukainya dan dosa membuat lukanya membusuk dengan cepat,” nafas Lalena memburu. “Aku ada di dunia ini karena lelaki itu menjejalkan cintanya pada ibuku dengan cara dan di tempat yang tak pantas.”

Lavinsky menahan kagetnya. Lidahnya tiba-tiba pahit.

Mata gadis itu berkaca-kaca. “Seperti perempuan Liguria umumnya, ibuku punya garis pelipis yang menarik. Beliau cantik sekali,” ujarnya kemudian. “Ibuku menjadi pelayan di kafetaria ini saat lelaki itu menggodanya.”

Well —Itu perkenalan yang cukup lancar.”

Lalena mendengus. Ia tak peduli pada sindiran Lavinsky.

“Ibuku hanya menceritakan apa yang ia ingin aku ketahui. Mungkin saja ibuku memang pernah menerimanya. Tapi menurutku, ibu lebih suka menempatkannya seperti seekor dubuk yang gelisah.”

Lalena mengangguk pelan dan menatap Lavinsky. Perbukitan Vsyehrad yang basah dan berangin seperti membenarkan dugaan Lavinsky pada temperamen gadis di depannya itu. “Lelaki itu merenggut kehormatan ibuku di toilet kafetaria ini. Jahanam itu mengurung ibuku di toilet sebelum menuntaskan urusannya kurang dari satu menit.”

“Heh —” Lavinsky menarik bibirnya. Itu cara berani mengungkapkan sesuatu dan itu benar-benar hal yang mengejutkan dari seorang gadis perenung seperti Lalena. Diam-diam Lavinsky tertawa dalam hati mendengar kalimat terakhir Lalena. Ia usap mukanya, lalu menyisiri rambut sendiri dengan jemari. Ini kisah rumit. Tidak pernah mudah menceritakan kepedihan macam itu tanpa perlu terdengar satir.

“Seharusnya lelaki itu memberi ibuku peluang melepaskan gairahnya di sebuah motel kecil, daripada seumur hidup merasa dipecundangi di lantai toilet yang basah dan dingin.”

Jengah. Lavinsky jengah mendengarnya. Pembicaraan ini tak nyaman lagi.

Vodka dari sloki kedua membuat tubuh mereka hangat. Lalena memperlihatkan deritanya seperti buku yang terbuka. Tidakkah itu cukup rumit setelah beberapa pertemuan yang tak pernah direncanakan?

“Tentang belati itu?” Lavinsky menyodorkan lagi se-sloki Vodka pada Lalena.

“Aku tak suka langsung ke topik itu!” Gadis itu berubah ketus. Lalena tiba-tiba didera amarah setelah meneguk isi slokinya.

Lavinsky mengangkat alisnya. Tidak mudah membaca gadis ini.

 

#3

MENGENAI Lalena, gadis itu hanya punya sedikit cinta. Ia menyukai detil kecil yang ia pikir bisa mengubah hidupnya. Ia berimajinasi tentang detil-detil kecil itu. Imajinasi yang membuatnya sanggup membangun benteng paling aman untuk menyimpan semua impian dan kenyataan —sekaligus.

Lavinsky ingin percaya bahwa apa yang ia dengar dari gadis itu hanya bentuk lain dari imajinasinya. Bukan kenyataan yang memuakkan. Tetapi, tampak sekali bahwa perasaan gadis itu tak bertepi. Pengalaman yang ingin ia jelmakan serupa Juan Dahlmann di negeri selatan versinya sendiri —dalam kisah Borges.

“Baiklah.” Lavinsky bersabar. “Lanjutkan saja cerita gunting kuku itu.”

Lalena bernafas pelan-pelan sebelum mengibaskan kepala.

“Ibu melakukan semua itu tanpa perhitungan. Ibu sedang mengandung diriku, saat kembali ke kafetaria ini, setiap hari selama dua pekan, akhirnya ibuku bertemu lelaki itu. Ia bersama tiga kawannya dan berlagak tak mengenali ibuku. Di meja yang kerap mereka pesan, mereka menertawai gadis pelayan yang bermuka masam usai mereka goda.”

Lavinsky mengusap tengkuknya. “Sebentar Lalena—” tahannya, “—apakah bagian ini ada hubungannya dengan belati?”

“Belum,” desis Lalena. “Ini masih tentang diabetes!”

Lavinsky buru-buru mengangkat tangannya, tersenyum ramah dan enggan menanggapi kekesalan Lalena.

“Lelaki itu kembali membuntuti seorang gadis pelayan ke toilet. Ya. Lelaki itu hendak mengulang apa yang ia perbuat pada ibuku. Gadis pelayan itu sedang menggigil ketakutan dan berusaha menutupi tubuhnya saat ibuku menggedor pintu. Ibuku menarik tubuh pelayan itu, mendorong lelaki yang belum sempat membereskan dirinya itu hingga terhuyung dan menggoreskan gunting kuku ke selangkangnya sebelum jatuh usai menabrak wastafel.”

“Lelaki itu sukar ditemukan setelah kejadian itu, kan?”

Lalena tak menggubris Lavinsky. “Ibuku tak perlu mencarinya, karena lelaki itulah yang kerap datang menemui ibuku. Di hari saat ibuku berkenan menemuinya, kondisi lelaki itu sudah payah. Ia mencium kaki ibuku dan memohon maafnya.”

“Ibumu memaafkannya?”

“Seharusnya tidak—” Lalena mengatupkan matanya, “—wanita yang terluka sukar melupakan. Tetapi lelaki yang bersalah seperti dubuk kebiri yang akan mengikutimu ke mana pun. ‘Dubuk’ yang selalu datang pagi-pagi dan duduk di depan pintu apartemen ibuku.”

Mata Lalena menyala lagi. Lavinsky menelan ludah.

“Kondisi lelaki itu memburuk. Dosa, penyesalan dan kebencian ibuku, membuat lukanya membusuk dengan cepat. Tak ada dokter yang cukup gila untuk mengurusi luka di selangkang lelaki dengan diabetes akut. Aku lahir sebulan setelah lelaki itu tak bisa berdiri tegak. Barangkali kau mengira, itulah hal terburuk yang harus ia alami?” Lalena menyeringai. “Bukan —bukan itu. Maaf yang tak diberikan ibuku adalah siksaan paling buruk yang harus ia tanggung.”

“Ibumu memaafkannya?” Ulang Lavinsky.

“Hanya jika lelaki itu telah berkalang tanah.”

Lavinsky bergidik. “Bukankah menyangkali lelaki itu, berarti menyangkali dirimu?”

“Itu soal lain. Ibu lebih suka melihat jasad lelaki itu daripada memberinya maaf atas namaku. Mungkin ibu menyukai beban yang ia ciptakan sendiri. Ia memilih caranya sendiri.”

Amarah dalam suara Lalena itu membuat mereka terdiam. Vodka sudah lama kosong dari dua sloki mereka. Udara dingin merasuk dari hujan di luar sana. Lavinsky merasa tertampar. Ingatannya terbang ke sebuah tempat di mana mungkin saja seorang wanita sedang menunggunya.

“Bagaimana lelaki itu setelahnya?” Lavinsky memecahkan kebisuan.

“Mati!” Tak ada ekspresi di wajah Lalena. “Ia menyerah. Tekanan akibat kebisuan ibuku dan deraan penyakitnya, membuat lelaki itu menikam jantungnya dengan belati.”

Lavinsky menyerahkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia cukup terkejut saat tahu posisi belati dalam kisah Lalena dan memaklumi pilihan lelaki itu mengakhiri hidupnya. Lavinsky kini tahu alasan gadis itu menyukai belati.

“Apakah kau masih ingin mendengarkan kisah belati itu?”

Lavinsky menggeleng. “Cukup tentang gunting kuku dan diabetes saja.”

Lalena mengangguk. Angin yang masuk lewat pintu membuat anak rambut menari di dahi dan pelipisnya. Cantik sekali.

 

#4

MATA Lalena menjelajahi sepotong Praha di bawah sana. Jembatan Karluvmost dan orang-orang yang tergesa di bawah hujan dalam selubung ponco. Matanya menyapu dinding menara Zizkov dan Jam Astronomi di Balai Kota. Pucuk pepohonan bergerak-gerak di sepanjang sisi sungai Vltava yang tenang.

“Ibuku tenggelam dan aku tak sempat menyelamatkannya.” Lalena tiba-tiba bicara seraya memejamkan mata. Air mukanya berubah saat mengatakan itu.

“Hah?” Lavinsky gelagapan.

“Ibu menghabiskan waktu dengan imajinasinya. Tangannya tak bosan menari di atas kertas, tenggelam bersama semua kesedihan yang ia tuliskan.”

Lavinsky menghembuskan nafas kuat-kuat. Ia baru saja keliru, mengira gadis itu bicara tentang ibunya yang tenggelam di sungai Vltava. Ternyata bukan itu.

Pelipis Lalena mengeras. “Aku bukukan semua tulisan ibu, walau aku sendiri menolak membacanya. Sukar bagiku memahami cara ibuku tenggelam dalam kesedihannya. Kini kau tahu alasan mengapa aku tak menyukai buku.”

Lavinsky mengangguk seraya menuliskan sesuatu di serbet dan menyelipkannya di antara halaman terakhir The Prague Cemetery. Ia tepuk lengan Lalena, menyorongkan buku Umberto Eco itu ke dekatnya. Lewat isyarat matanya, Lavinsky ingin gadis itu membaca apa yang sudah ia tulis, sebelum meletakkan sejumlah uang di meja dan segera meninggalkan kafetaria.

Lalena memandangi punggung Lavinsky yang menjauh. Ia baca pesan yang ditulis untuknya: Aku harus menyelesaikan sedikit urusan. Aku menyukai percakapan kecil ini, Lalena. Tapi aku tidak mau menjadi Tuhan. Sungguh mati —itu pekerjaan yang paling tidak diinginkan oleh siapa pun.

Gadis itu tersenyum kecil. Lalu, matanya kembali mengalir di sungai Vltava. (*)

 

Molenvliet, Maret 2015


[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Jawa Pos 2014

Cover Jawa Pos_blog

Download: klik link di bawah ini

e-BOOK_CERPEN JAWA POS 2014

tujuan pengarsipan dan dokumentasi 52 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah fisik atau karateristik material, dan penambahan dalam skala yang dapat ditoleransi. semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media dimana karya yang bersangkutan dipublis pertama kali. dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta dan media yang mempublikasi subyek karya pertama kali.


[Cerpen] Nisan Kosong | Jawa Pos | Minggu, 19 Januari 2014

Nisan Kosong

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Nisan Kosong

Setelah Pembunuhan Kedua

SEHARUSNYA musim dingin segera berakhir sebulan lalu, selepas tahun baru. Namun, angin utara yang dingin datang tanpa diduga, menyandera semua orang di desa kecil ini dalam dingin yang membekukan tulang. Udara beku membungkus setiap rumah. Edgar berpikir, doa akan menyelesaikan kesedihannya.

Harapannya serapuh dan setipis lapisan es yang menyaluti pagar dan tepian atap. Kecuali orang-orang berani mengarungi laut dalam dinginnya air dan udara, maka sesungguhnya tak ada yang perlu dicemaskan lagi. Orang-orang di sini tak punya sepetak kebun untuk ditanami. Itu bukan pilihan di desa yang sebagian besar areanya berbatu karang. Di sini, orang-orang hanya perlu menjadi nelayan yang baik.

Udara beku telah memporak-porandakan harapan dan keinginan orang-orang di sini, mengubah kehangatan serupa kepungan ketakutan. Itu jelas membuat kondisi desa dan mental orang-orang di dalamnya kian memburuk.

Ada dua nisan tegak di atas bukit pasir di ujung desa, menghadap laut. Tak ada nama tertera pada dua nisan itu. Edgar berdiri di depannya. Dalam keheningan di kepalanya, doanya terbang bersama gemerincing suara lonceng-lonceng angin yang digantungkan anak-anak di dahan pohon willow pantai. Udara beku telah meredam setiap aroma kayu balsa yang disemburkan dari setiap cerobong asap rumah-rumah di sini.

 

Sebelum Pembunuhan Pertama

Masih dalam musim dingin yang berat, dua bulan lalu, di ruang tengah rumah kecil yang tak jauh dari jalan setapak menuju pantai, Allan duduk memeluk lutut menghadap perapian bersama tiga anggota keluarganya. Sesekali tangan mereka lurus ke perapian untuk meraba kehangatan.

“Kayu hampir habis. Minyak untuk menerangi rumah juga tinggal sedikit. Hmm… hantu-hantu laut itu kian merapatkan kepungan. Mereka ingin kita segera menyerah,” keluh perempuan di ujung perapian. Itu Clara, istri Allan. Ia telah mengira hantu-hantu laut adalah penyebab semua kemalangan ini. “Mereka datang menggandeng kematian,” sambungnya.

Mendengar Clara bicara begitu, Allan tiba-tiba berdiri. “Edgar, ikutlah denganku.”

Edgar bergegas bangkit mengikuti ayahnya. Mata kecil Ilyana berbinar memandangi punggung ayahnya dan kakaknya itu. Dua lelaki itu menuju ruang dekat dapur dan cekatan mempersiapkan peralatan melaut. Ilyana menyukai sop sirip hiu masakan ibunya. Gadis kecil itu menyukai setiap irisan lobak yang berenang-renang di dalam mangkuk sopnya. Usianya 12 tahun, terpaut lebih muda enam tahun dari Edgar.

Menahan terpaan angin, Edgar berjalan condong di sisi ayahnya menuju perahu yang ditambat di bibir pantai, di mulut teluk yang serupa bejana itu. Saat mempersiapkan perahu, mata Allan tiba-tiba terpaku pada benda gelap yang mengapung tak jauh dari mulut teluk. Lalu terdengar pekikan putranya. “Itu ikan paus!”

Ikan besar itu berenang lamban di mulut teluk. “Kau tahu Edgar,” ujar Allan. “Daging terbaik adalah daging ikan paus yang diasapi. Minyak dari lemaknya juga sangat baik.”

Edgar mengangguk. Pilihlah. Membiarkan ikan paus itu pergi atau dagingnya akan membantu semua orang di desanya melewati musim yang buruk ini.

Segera setelah melarung perahu, mereka berdua mendekati ikan paus itu dan berusaha keras menghalaunya masuk lebih dalam ke mulut teluk. Mereka ingin menjebak ikan itu di sana. Udara dingin yang menyelimuti pesisir seketika burai oleh suara gaduh keduanya.

Suara mereka membuat orang-orang desa berdatangan, memenuhi bibir pantai dengan mata berbinar. Semangat mereka tiba-tiba penuh saat melihat ikan besar yang berenang gugup di depan perahu Allan.

“Kita bantu dia!” Seseorang berseru dan bergegaslah nelayan lainnya ikut melarung perahu. Membentuk lingkaran dengan kepungan yang rapat dan kegaduhan kian memecahkan kesuraman di mulut teluk itu. Lunas bawah perahu membelah air, bersama kecipak dayung yang dikayuh kuat-kuat.

Allan menghunus belatinya. Ia sedikit ragu. Ikan raksasa itu berenang menjauh dari perahu Allan, namun tindakan justru membuatnya kian masuk ke mulut teluk. Ikan itu kini terjebak. Allan melompat seraya mengujamkan belati. Darah segera mengubah air laut yang dingin berwarna merah saat belati ia tikamkan tiga kali ke tengkorak kepala ikan besar itu.

Itu kematian yang canggung.

Para nelayan segera melemparkan kait bertali. Perahu dikayuh cepat melampaui tubuh ikan, langsung menuju pantai. Di sana sudah menunggu puluhan orang lain yang bersiap menyambut tali, beramai-ramai menarik ikan itu ke pasir pantai.

Orang-orang yang tergesa-gesa.

Tergesa-gesa mengakhiri riwayat ikan itu. Tergesa-gesa mengiris-iris tubuhnya. Tergesa-gesa pula mereka mengambil bagian masing-masing.

Allan nyaris tak mendapatkan apapun, jika saja ia tak segera melabuhkan perahunya. Ia memenuhi keranjang kecilnya dengan daging ikan. Mengambil kulit ikan untuk ia gunakan melapisi jendela. Edgar mengumpulkan belulang ikan untuk dibuat arang. Dua ruas belulang kecil ia simpan sendiri.

Akan ada kemeriahan kecil di setiap rumah malam ini. Irisan lobak akan berenang di mangkuk sop Ilyana. Kemeriahan kecil setelah kematian yang canggung siang tadi.

 

Sebelum Pembunuhan Kedua

Cuaca dingin masih berlanjut. Kelaparan kini kembali mengintai seisi desa. Daging asap dari ikan paus nyaris habis. Selepas pembunuhan pertama, orang-orang desa lebih sering memancing harapan, berdiri di bibir pantai dan memandang ke mulut teluk seraya berharap ikan-ikan besar datang lagi. Orang-orang ini mengharapkan pembunuhan berikutnya.

Kail harapan mereka terpaut akhirnya. Di suatu pagi, saat lapisan es memenuhi sela kayu, suara teriakan seseorang terdengar dari pantai. Teriakan yang meminta agar orang-orang segera datang dan melihat apa yang ia lihat. Di antara kerumunan ada Allan dan Edgar.

Ada ikan paus yang terjebak semalam. Ikan itu berenang gelisah di sisi palung teluk. Tapi, orang-orang terlanjur mengira bahwa harapan merekalah yang telah membuat ikan itu datang. Aroma pembunuhan bercampur dengan udara dingin.

“Ikan ini tiga kali lebih besar dari ikan yang tertangkap sebelumnya,” ujar Edgar pada ayahnya. Orang-orang tampak bergegas, mempersiapkan perahu dan senjata tajam. Maka seperti pembunuhan sebelumnya, ikan paus itu juga mati dengan cara yang canggung. Tak ada perlawanan. Ia terima orang-orang yang merebahkan kematian ke atas tubuhnya.

Tetapi, pembunuhan kali ini berbeda. “Kita sudah selesai di sini,” pelan Allan mengelus punggung Edgar, mengajaknya pergi. Apa yang mereka lihat itu sungguh memuakkan. Wajah dan tangan orang-orang dilumuri darah. Air laut mengantar darah ke tepian pantai.

“Malam ini dan malam-malam berikutnya, di rumah kita hanya akan ada sop lobak dan sedikit irisan daging asap dari ikan paus pertama,” begitu tenang Allan mengingatkan putranya.

Orang-orang desa menuntaskan pembunuhan kedua ini dengan cara yang paling masuk akal. Dalam cuaca dingin seperti ini, dalam intaian kelaparan, mereka kerat setiap daging dan lemak dari belulang ikan paus. Mereka tergesa-gesa. Ikan malang itu belum benar-benar mati saat orang-orang mulai mengambil setiap bagian daging dari tubuhnya.

Barangkali ini terlihat sekadar urusan bertahan hidup. Siapapun berhak melewati musim dingin yang buruk ini dengan tetap hidup. Tetapi untuk urusan semacam itu, orang-orang desa tak harus melepaskan kemanusiaannya.

Edgar kembali ke pantai saat tempat itu telah sepi. Ia berjongkok di sisi belulang ikan yang terserak. Memanggul beberapa belulang besar untuk ibunya dan menyelipkan dua ruas belulang kecil lagi ke dalam sakunya.

 

Setelah Pembunuhan Kedua

Semua orang desa kecil ini masih harus bersabar melihat bebungaan willow mekar di awal musim semi. Waktu yang terulur ini akan segera membangkitkan kecemasan, seperti kecemasan yang sudah mereka rasakan sebelum dua pembunuhan terakhir.

Seperti tiga pagi berturutan dalam sepekan Edgar selalu terlihat menyusuri jalan setepak menuju bukit pasir, maka pagi ini pun Edgar berjalan perlahan menuju ke arah sana. Kepalanya bertudung dan dua telapak tangannya tenggelam dalam saku. Pada kantong kain yang terselempang di tubuhnya, menyembul selembar batu pipih.

Di atas bukit pasir, Edgar memutar tubuhnya, memandang ke teluk yang terlihat indah dari atas sini. Matanya menjelajahi setiap rumah, perahu-perahu yang diam, dan pohon willow pantai yang rajin mengirimkan dentingan lelonceng angin yang digantung di dahan-dahannya.

Ia sudah menyadari bahwa bencana yang menyebabkan kecemasan di desanya bukan tentang udara dingin yang berembus dari utara, tetapi tentang sesuatu yang datang dari lubuk hati setiap orang di desanya.

Lelaki muda itu mengeluarkan isi kantong kainnya dan menegakkan nisan kedua di sisi nisan pertama. Kedua nisan itu menghadap ke laut. Kosong, tak bernama. Ia keluarkan bunga kering dari sakunya dan ditancapkannya ke atas pasir, berdekatan dengan nisan kedua. Ia lalu senyap sejenak, mengembarakan doa untuk makhluk Tuhan yang telah menerima kematian dengan canggung. Setiap ruas belulang yang ia simpan, telah ia kuburkan berdampingan.

Edgar masih tegak dalam diam, saat tangan Allan singgah ke bahunya. Ayahnya sudah ada di dekatnya, entah sejak kapan. “Selamat pagi, Ayah.” Sapa Edgar tanpa menoleh.

Allan membalas salam putranya. “Mereka berterima kasih padamu,” katanya lagi.

Edgar menoleh, mendapati wajah ayahnya yang tenang. Lelaki muda itu tertunduk. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada memakamkan empati yang dipaksa mati. “Kelak kau akan tahu…” Allan merangkul bahu putranya, “saat orang-orang tak lagi memedulikan cara, maka mereka telah usai melakukan kekeliruan yang ingin dipahami.” (*)

Molenvliet, April 2013

Twitter: @IlhamQM


%d blogger menyukai ini: