Tag Archives: italia

[Cerpen] Empat Plot di Tulouse | Media Indonesia, Minggu 21 Mei 2017

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Plot Pertama

SAAT bunga-bunga bermekaran di himpunan perdu, kita sedang terjangkit rindu. Itu penanda hubungan kita yang ragu. Tahun kedua di Tulouse dan kau tak betah. Itu aneh. Kau meneleponku pada subuh di hari pertama minggu terakhir Maret. Ah, aku nyaris lupa apa yang telah kita bicarakan dan ingatan yang kita labuh pada subuh itu—saat seharusnya kita lelap seperti orang-orang yang lelah memerangi waktu.

Tidurku terganggu oleh telepon darimu. Kau terisak-isak di seberang sana, menyansak waktuku yang sesak, untuk sekadar mendengarmu bicara pendek-pendek tentang gemuruh yang mendesak dadamu. Kau bicara tentang sesuatu yang seharusnya bukan urusanku. Kau iris waktu tidurku hanya untuk mendengar potongan hidupmu yang tragis.

—Seharusnya kau tembak saja aku.

Masih kusimpan pistol lada yang dulu sengaja kubeli untuk membunuh lelaki tua itu. Lelaki tua itu mengajakku bertemu dan bicara empat mata. Ini hanya antar dua lelaki saja—katanya. Omong kosong. Nyatanya, saat kami bicara itu, ada dua pengawalnya yang tegak di sisinya. “Jangan ganggu Gorny lagi,” lelaki tua itu memberiku ultimatum.

Percayalah, saat itu ingin sekali kuledakkan pistol lada tepat ke wajahnya. Biar mampus ia, biar kecemasan dan rencana-rencana di kepalanya berhamburan ke lantai kafe. Mungkin setelah itu, aku pun akan terkapar mati ditikam dua pengawalnya—atau sebaliknya: aku habisi mereka bertiga.

Aku cemas kau akan bosan menungguku keluar dari tempat terkutuk itu. Tentu saja aku takut dipenjara. Tapi ketakutanku itu tidak lebih besar dari kecemasanku pada para napi lelaki yang kesepian. Narkotika dan kesepian, kudengar, telah mengubah penjara seperti pasar malam dan rumah madat.

“Sebaiknya kita bertemu,” pintamu.

 

Plot Kedua

HARI ini aku tak perlu kembali ke kantor setelah menepati janji bertemu Gorny di kafe tenda dekat anjungan pelabuhan. Aku suka tempat yang dipilih Gorny. Cukup nyaman. Burung-burung Camar di sini masih segan pada manusia—tak seperti Camar di pesisir Laut Hitam yang suka mencuri makanan dari piring pengunjung. Entah kenapa burung-burung itu lebih menyukai kentang daripada ikan. Sesuatu dalam air laut mungkin telah mengubah mereka menjadi mutan.

“Bawa kami pergi—” kau menyentuh lenganku. Kau masih perempuan yang selalu mengejutkanku dengan permintaan-permintaan aneh dan mendadak.

Apa yang kau cemaskan? Mataku menatap bibirmu yang menyembunyikan kepahitan.

“—suamiku gila,” sambungmu lagi.

Amboi. Inilah pengakuan yang paling jujur yang meluncur dari bibirmu tentang lelaki tua itu. Sudah kuduga, lelaki tua yang menikahimu itu memang gila.

“Ia memukuliku—” ujarmu cepat, “—juga mengancam akan membunuhku.”

Dasar pasangan gila. Kau pun pernah nyaris membunuhku dengan keputus-asaan yang kau ciptakan. Lalu kini kau akan terbunuh oleh keputus-asaan suamimu.

“Anakmu?”

Kau mengangguk. “Ya—Seine baik-baik saja.”

Syukurlah. Kepalaku berpaling ke arah laut. Kilau airnya memantulkan lumen matari sore yang magis. Mataku tertuju pada pulau kecil di kejauhan sana. Pulau dengan enam cottage berdesain Palma. Seingatku, di pulau itu ada sepotong tulang yang diakui para pengurus cottage sebagai tulang rusuk Mermaid. Air muka mereka begitu meyakinkan saat menceritakannya.

Wajahmu serius sekali. Aku mendesah. “Baiklah—”

Kau memajukan kepalamu. “Bawa kami pergi. Ya. Bawa kami ke tempat paling aman.”

“Kau mendengarku dengan jelas, Gorny.” Aku menggerutu. Betapa menyedihkan situasi ini. Aku pernah mengharapkanmu menjadi istriku, tapi kau memilih lelaki tua pemilik perusahaan ikan beku itu. Kini kau hendak memasuki hidupku lagi dan bertingkah seolah-olah kau tak pernah mengecewakanku. “Kau punya uang?” Tanyaku.

“Tabunganku cukup.”

“Paspor?”

“Ada.” Wajahmu memelas.

Aku tatap matamu. “Baiklah. Kau tahu Baukje?”

Kau mengangguk.

“Baukje tinggal di Belanda. Ia akan senang menerima kalian. Ia menyukai anak kecil.”

Aku yakin orang suruhan suamimu tak akan menemukanmu di sana. Walau aku tak tampak seperti orang yang punya kenalan banyak begundal di jalan Dusk Paris, atau di desa kecil di tebing Amalfi Italia, tapi aku yakin rumah Baukje adalah tempat teraman bagimu.

 

Plot Ketiga

SUAMIMU menemuiku untuk kedua kalinya. Di pertemuan pertama saja aku sempat berniat membunuhnya. Tapi saat ini, suamimu yang paling mungkin melakukan itu kepadaku.

Lelaki tua kaya yang marah karena terbakar cemburu dan dua pengawal bertubuh besar yang tampak mampu menganiaya siapapun, adalah sebuah kombinasi berbahaya. Mereka memergokiku di parkiran kantor dan menggelandangku ke gudang ini.

“Kau pasti tahu di mana Gorny,” tuduh suamimu.

Aku menggeleng. Suamimu tertawa sinis. Dari saku jas panjangnya, ia tarik tabung ganda berbahan kulit berisi dua batang cerutu. Dicabutnya sebatang, lalu mengembalikan wadahnya ke balik jas. Dikeluarkannya juga cincin pemotong cerutu bersama pemantik kayu. “Maaf—aku tak bisa menawarimu. Cerutu bermutu tinggi sukar dicari saat ini.”

Aku tersenyum mengejek.

“Kau tahu—” ujarnya seraya memantik api ke ujung cerutunya, “—api dari pemantik kayu akan menjaga citarasa cerutu. Kau harus mencobanya sewaktu-waktu.”

Huh, aku tahu. Itu pernah aku baca di lembar sisipan koran minggu. “Kau mau apa?”

Suamimu mengangguk. “Jawab saja pertanyaanku tadi.”

“Sejak kau menikahinya, seharusnya kau lebih tahu soal Gorny.”

Suamimu memukul meja. “Jangan coba mengalihkan masalah. Aku bisa membunuhmu!” Desisnya ke wajahku. Aku menjauhkan kepalaku, tapi gagal karena pengawalnya menekan belakang leherku.

Aku tersenyum kecut. “Lalu apa yang kau tunggu?”

“Baiklah—” Suamimu menggeleng seraya menatapku dengan licik, “—kita akan melakukan ini seharian penuh. Percayalah.”

Dua pengawalnya lelalu menekan telapak tangan kiriku ke atas meja. Suamimu yang gila itu mengeluarkan benda dari saku jasnya dan dengan benda itu ia tetak punggung telapak tanganku. Rasa sakitnya menjalar ke telingaku, sebelum menuju tulang belakang. Sakitnya membuat setiap persendianku gemetar.

Jika kubilang aku tak menangis saat menerima pukulan benda itu, maka aku berbohong. Sungguh, popor pistol suamimu membuat dua tulang jemariku patah. Darahku menetesi lantai.

“Baiklah! Aku akan mencari Gorny,” aku terbata-bata menahan sakit.

Suamimu tertawa sinis lagi. “Apa aku harus memercayaimu?”

Aku menggeleng. “Tidak perlu—tapi kau bisa mengawasiku,” kataku sambil melirik dua pengawalnya. “Buatlah dua orang dungu ini lebih berguna. Uangmu hanya membuat tubuh mereka membesar, tapi tidak dengan otaknya.”

Suamimu tertawa saat seorang pengawalnya segera menepak belakang kepalaku karena jengkel. Ia kemudian menunjuk lelaki yang menepak kepalaku tadi. “Dia akan senang menancapkan sesuatu ke lehermu jika kau mengelabuiku.”

Lelaki besar itu menyeringai dan mengangguk.

 

Plot Keempat

“KALIAN siap?” Tanyaku.

“Ya—” kau mengangguk, “—jam berapa kita ke bandara? Jika terlalu lama, kami bisa ketinggalan penerbangan.”

Jika aku tak mencintaimu, tak mungkin aku mengambil resiko sebesar ini. Tapi kau merasa perlu mendesakku untuk rencana yang sedang aku jalankan buatmu. Tak ada orang yang begitu mencintaimu seperti aku.

Pintu terpentang, saat seorang lelaki bertubuh besar masuk dan merenggut tanganmu. Kau terkejut dan meraung karena kecewa. Kau menghujaniku dengan tinjumu. Pengawal suamimu itu menarik dan mendorongmu ke dalam mobil. Anakmu menangis ketakutan sambil berpeluk pada pengasuhnya.

“Kau—menipuku!” Kau meneriaki aku dalam perjalanan ke tempat di mana suamimu telah menunggu. Aku tersenyum sinis. “Menipumu? Kau tak tahu sakitnya saat kau memutuskan menikahi majikan si dungu ini,” timpalku. Si pengawal di sisimu mendengus jengkel.

Kau menangis. “Kau tidak memahamiku.”

“Aku memang belum selesai melakukannya,” kataku.

“Aku mencemaskan keselamatan kalian.”

“Omong kosong!” Hardikku.

Lalu kau membanting punggungmu ke jok mobil. Sepertinya, hatimu remuk.

Suamimu tersenyum melihat kau keluar dari sedan hitam yang kita tumpangi. Aku menyusul turun. “Orang sepertimu banyak sekali di dunia ini,” kata lelaki tua itu.

Aku menjawabnya dengan meludah ke lantai.

Suamimu mengulurkan tangan saat kau berjalan ketakutan menghampirinya. Tatapanmu tiba-tiba kosong. Sepertinya, mereka akan segera membawamu pergi.

Aku menyela. “Jangan lupa singgah menjemput putra kalian di rumahku.”

“Tak perlu—” Suamimu menjawab cepat. Aku kaget.

“Itu anakmu, bodoh!—” wajah licik suamimu tampak lagi, “—aku hanya menginginkan milikku. Hal lainnya bukan urusanku.”

“Gorny—?” Aku menatapmu, meminta penjelasan. Kau memejamkan mata.

Aku terguncang. Situasi ini segera menjadi jelas saat kau menganggukkan kepala ke arahku. Aku teringat ucapanmu di mobil tadi—aku mencemaskan keselamatan kalian.

Kalian! Kepalaku tiba-tiba berat, seperti ada setan yang sedang mendudukinya dan sibuk membujuk melakukan sesuatu yang kuanggap perlu. Itu nasehat jahat di waktu yang tepat. Saat aku usai memutar tubuhku, seorang pengawal di belakangku terjengkang. Pistol lada melubangi lehernya. Lelaki dungu lain yang berdiri di depan mobil, sempat terlanga, tapi segera rubuh ke lantai saat peluru kedua dari pistol ladaku menembus dadanya. Masih ada dua butir peluru lagi.

Pias wajah suamimu. Ia salah mengira bahwa aku terlalu lemah untuk membuatnya tak waspada. Ia lupa membawa pistolnya. Aku mintamu menyingkir.

“Aku tak akan memohon padamu,” ujar suamimu.

“Jangan—” aku menggeleng. Aku tarik kerah jas panjang lelaki tua itu dan kuselipkan tanganku ke sakunya. Kutarik keluar tabung cerutunya, “—bagus juga sesekali mencoba cerutu bermutu tinggi.”

Kuminta lelaki tua itu mengeluarkan cincin pemotong dan pemantik api. Pistolku terarah padanya. Ia menurut. Ia memotong ujung cerutu dan memantikkan api untukku sekaligus. Asap cerutu segera membumbung. Aku tersenyum. “Artikel di koran minggu selalu benar.”

Suamimu sinis menatapku. “Aku belum selesai denganmu—”

Ledakan pistol ladaku meredam ocehannya, “—tapi aku sudah selesai!”

Lelaki tua itu memegang perutnya. “Kau—kau tak bisa…”

Pistol ladaku meledak sekali lagi. Suamimu tersentak kemudian diam seketika. Peluruku habis, namun ada liang baru di kepalanya. (*)

Molenvliet, Maret 2017

Iklan

[Cerpen] Magnolia de Capoterra

Oleh :  Ilham Q. Moehiddin

 

SEORANG wanita 72 tahun, duduk di sebuah kursi Bar Cavallo. Bergaun mewah, dengan belahan dada rendah, memamerkan garis buah dada dan sebentuk kalung mutiara. Syal putih bulu Angsa tersampir di sekitar pundaknya. Rambutnya tergelung dengan baik. Jemari dan pergelangan tangannya, berhias emas. Bahkan telinganya, ada sepasang giwang bermata berlian kecil.

Wanita tua itu duduk tenang di sudut remang Bar Cavallo, dekat bartender biasa menyajikan minuman. Setiap kali wanita itu datang, selalu saja duduk di tempat yang sama, memesan minuman yang sama, Cannonau. Di permulaan pagi, wanita itu pulang dalam keadaan yang sama pula—sempoyongan karena sedikit mabuk.

Aku bukan warga kota Capoterra. Aku berasal dari kota lain, Cabras, berjarak 300 kilometer dari kota ini. Aku sangat suka Capoterra. Suka pada udara kering yang berhembus dari laut Mediterania.

Di kota ini, aku datang untuk membunuh sepi di tepian pantai Capoterra, menghabiskan waktu bersama gadis-gadis lokal, menyantap Bottarga yang gurih, ditemani anggur putih Vernaccia beraroma kacang Badam. Entah kenapa? Aku sendiri tak tahu. Yang jelas, aku selalu bergairah ketika membaui aroma udara pagi yang kering dan asin dari balkon kamarku saat menikmati dua tangkup roti dan Pecorino.

Biasanya aku hanya menghabiskan waktu di kafe-kafe kecil di sepanjang jalan pasar ikan, di utara kota Capoterra. Bercerita hal yang tak perlu pada gadis-gadis Sassari yang wangi dan sintal sambil memangku beberapa dari mereka. Gadis-gadis itu akan menemaniku tidur dengan bayaran murah setelah mendengarkan bualanku perihal kapal-kapal, samudera dan benua-benua.

Sejak kunjungan pertamaku di Bar Cavallo ini, wanita tua itu tak pernah absen dari penglihatanku. Dia selalu hadir di sana. Sambil memainkan jemarinya pada bibir gelas, lamat-lamat kudengar dia menyenandungkan lagu Tu Per Me Canta La Voce Del Nord. Lagu tentang hati yang patah. Senandungnya hanya berhenti saat pintu bar terbuka dan seseorang terlihat masuk. Tubuhnya akan ditegakkan, lalu matanya seperti menyala dalam rupa yang aneh.

Ya, matanya itu tak pernah luput dari pintu masuk. Setiap tamu lelaki yang melalui pintu itu, ditatapinya dengan tajam. Seolah mata itu sanggup menelanjangi setiap mereka, satu per satu. Wanita tua ini seperti sedang mencari sesuatu pada wajah-wajah itu.

Aku baru menyadari sikapnya saat mata kami bersirobok pandang. Saat kami bertatapan, wanita itu bahkan tak tersenyum sama sekali. Matanya segera beralih pada wajah orang lain yang baru datang, dan begitu seterusnya.

Aku menanyakan kelakuan wanita itu pada bartender yang dengan senang hati berkisah padaku. Katanya, wanita itu bernama Magnolia. Nama panggung yang begitu dikenali setiap pria di Capoterra ini, 50 tahun silam. Namanya membuat Bar Cavallo ramai setiap malam. Tak ada malam yang dilewatkan para pria di kota ini tanpa berkerumun di dekat panggung pada pesona Magnolia saat menyanyikan A Tenore dengan suara soprannya yang memukau.

Kini orang-orang telah menyangka wanita tua itu sudah gila.

***

Gadis muda Magnolia, cantik seperti arti namanya. Panggung Bar Cavallo selalu semarak dengan hentakan kakinya saat bernyanyi. Magnolia saat itu berumur 22 tahun.

Sepi gadis itu sirna saat cintanya tersangkut pada Morty, seorang cellis muda yang baru setahun bekerja di Cavallo. Morty menawan hati Magnolia lewat gesekan Cello-nya yang membuat merinding.

Magnolia dan Morty, seperti kebanyakan pasangan muda yang dirundung asmara, menikmati hari-hari mereka dalam cinta yang gelora. Pada malam yang berangin, saat kabut menghampar di sepanjang pantai Capoterra, menyusupi belulang kota itu yang sedang lelap, keduanya dimabuk gairah. Cahaya lampu minyak memantulkan bayang mereka yang berkelindan. Dua bayang yang saling memagut, merasuk, dan berusaha merampungkan petualangan dalam hasrat yang menjilam-jilam. Kemudian pecah dalam gemuruh yang tuntas. Mereka berdua lindap dalam senyum, memagut sekali lagi di penghabisan, sebelum pulas dalam dekapan satu sama lain.

Cinta mereka memang manis. Semua lelaki iri pada keberuntungan Morty. Namun semua wanita di Capoterra justru bersukacita. Akhirnya, ada lelaki yang akan membawa Magnolia de Capoterra itu pergi dari kota ini. Meninggalkan kota itu dengan kaum lelaki hanya untuk mereka saja.

Magnolia hamil dan begitu bahagia karenanya. Tetapi Morty lebih murung dari biasanya. Dia tak bergairah lagi mengesek Cello. Gadis itu tak pernah menyangka Morty akan menyangkali kehamilannya. Mereka bertahan dalam kepura-puraan cinta di hadapan semua orang, hingga suatu malam Morty tak pernah lagi muncul di panggung Bar Cavallo.

Gadis itu hanya menemukan selembar surat yang berisi maaf Morty untuk kepergiannya yang tiba-tiba itu. Lelaki itu pergi. Meninggalkan Magnolia yang merasa sangat terkutuk telah menerima semua cinta lelaki itu. Magnolia bertekad menunggu Morty. Walau dia harus terus menghibur dengan perut yang kian membesar.

Magnolia melahirkan anak perempuan yang cantik. Tetapi Magnolia segera kehilangan bayinya empat jam berikutnya. Bayi perempuannya itu mati karena gagal jantung. Bukan main hancur perasaan Magnolia. Satu-satunya alasan dia terus bertahan menunggu Morty, adalah bayinya itu.

Setelah ditinggalkan oleh bayinya, kini Magnolia benar-benar berada dalam kesepian yang tak berujung. Magnolia memang tolol. Buat apa menunggu lelaki yang telah menyetubuhinya, lalu pergi begitu saja? Barangkali saja, lelaki itu kini sedang bersama gadis lain di Tortili. Atau, sedang menjual cintanya pada janda-janda kaya di Carbonia.

“Ah, brengsek kau Morty! Persetan dengan tubuhmu, dan cintamu. Kau menawanku dalam penjara tak bertepi ini. Aku akan memelihara parasaan ini dan menunggumu hingga kau kembali padaku,” kecam Magnolia, sebelum memukul keras permukaan meja dan meneguk seketika wisky dari slokinya.

Hari itu, hari terakhir Magnolia menyanyi untuk Bar Cavallo.

Dia memulai penantiannya. Magnolia menolak tawaran bernyanyi dari beberapa bar dan restoran ternama lainnya di Capoterra. Dia juga menolak cinta seorang lelaki yang begitu gigih merebut perhatiannya. Namun hati Magnolia hanyalah untuk Morty saja.

***

Barangkali aku memang beruntung. Tak pernah menyangka, menyaksikan bagian akhir dari kisah Magnolia.

Saat aku sedang menikmati suasana Cavallo seperti biasa, Magnolia tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berseru. Melihatnya berdiam di keremangan sudut Cavallo saja sudah aneh, apalagi melihatnya berdiri dan berseru seperti itu.

“Morty!” Teriak Magnolia.

Seorang lelaki tua yang baru masuk dan hendak memilih meja, berpaling dengan heran. Mencoba menajamkan mata pada sosok yang menyebut namanya di keremangan Cavallo ini.

Lelaki tua itu berjalan mendekat. Saat jarak keduanya tinggal dua meter, lelaki itu terkejut. “Kaukah itu, Magnolia? Aku kira, engkau sudah…” katanya gugup.

Magnolia menarik segaris senyum di wajahnya yang keriput. Dia telah menyebut nama yang puluhan tahun tak bisa enyah dari kepalanya. “Inilah aku, Morty…Magnolia-mu. Cinta yang menunggumu pulang, Morty.” Suara Magnolia bergetar.

Morty nanap. Sejujurnya, Morty tak berharap mengalami peristiwa ini. Dia mengira Magnolia telah lama mati. Pertemuan ini sulit membuatnya tersenyum. Tapi ada rasa aneh yang menuntunnya hendak merangkul wanita tua di depannya itu. Sedikit cinta yang tersisa mendorongnya untuk memeluk Magnolia. Tangan Morty berkembang.

“Hukkk….!”

Morty langsung terbatuk. Menggeriap. Mata tuanya nanar menjelajahi wajah Magnolia. Perlahan matanya turun, melihat telapak tangan kirinya yang kini merah. Perutnya tiba-tiba terasa panas.

Sebilah pisau tipis kini menancap di perut Morty. Magnolia menghujamkan pisau itu tepat sebelum Morty memeluknya. Lelaki tua itu kaget bukan main.

Morty luruh di lantai Cavallo. Darah membanjir dari sobekan luka di perutnya.

Kepanikan lalu pecah di bar itu. Pengunjung wanita histeris. Beberapa lelaki, termasuk aku, segera mendekati Morty. Tetapi, lelaki tua itu baru saja mati.

Magnolia tersenyum. Matanya tak berkedip menatap tubuh Morty. Cavallo adalah tempat pertama kali mereka bertemu, dan di tempat itu pula Magnolia mengakhiri riwayat Morty. “Akulah saja yang mencintaimu. Jangan kemana-mana lagi, Morty?” katanya tenang.

Airmata mengaliri pipi Magnolia.  Itulah kata-kata terakhir Magnolia yang aku dengar, karena beberapa saat kemudian, polisi datang dan membawanya pergi.

Magnolia tak gila.

Selama 49 tahun, Magnolia hanya menunggu datangnya hari ini. (*)

 

Sardinia, 2009

Catatan :

Capoterra; salah satu kota pesisir di Pulau Sardinia (Sardegna), Italia.

Cannonau; anggur merah asal Cagliari.

Bottarga; telur ikan kering, biasa dihidangkan dengan pasta, makanan khas Costa Smeralda. 

Vernaccia; anggur putih asal Oristano, umumnya beraroma kacang Badam. 

Pecorino; keju dari susu domba, dihasilkan banyak pertanian di Logudoro. 

Cellis; istilah untuk pemusik yang memainkan Cello.

Sassari,Tortili, dan Carbonia; nama kota-kota lain di Sardegna

*) Salah satu cerpen yang termuat dalam Kumcer “Membunuh Gibran” (2011).

**) Dimuat di Suara Merdeka, edisi Minggu 17 Juli 2011.

Woman In A Blue Summer Dress Standing Alone Enjoying View On The Mediterranean Sea Cyprus (sumber: flickr)

 

 


[Telisik Literasi] Keinginan Sapardi Dilafaz Cinta Gibran

(Mengakhiri silang sengkarut debat dan klaim khalayak pada jejak sebuah puisi)

Oleh Ilham Q. Moehiddin

SILANG pendapat perihal dua entitas puisi yang masing masing berjudul “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono dan “Lafaz Cinta” karya Kahlil Gibran yang sangat identik dalam syair-syairnya, sepertinya akan segera berakhir.

Bagi saya, awalnya persilangan pendapat yang ramai terjadi di berbagai situs dan blogger sastra Indonesia, soal kedua puisi ini belum menyita perhatian saya. Sampai suatu waktu Shinta Miranda, seorang sastrais perempuan, membuat umpan pada komentarnya di tulisan saya Ada Apa Antara Dauglas Mulloch dan Taufiq Ismail.

Pada Shinta Miranda, saya kemudian menyanggupi untuk membuat telisik literasi atas dua puisi berjudul berbeda namun memiliki kesamaan larik itu.

Persilangan pendapat yang bermula pada adanya kesamaan nash puisi ini membuat saya tertarik. Entah siapa yang mulai membenturkan dua nama penyair itu pada satu bidang puisi? Tetapi saya pun sependapat jika sebuah karya mesti ditahbiskan pada pengkaryanya, bukan pada pengutipnya, atau pada pengklaiman pihak lain.

Sapardi Djoko Damono (foto: arelano photographic)

Agar lebih jelas, yang mana nash puisi yang “disengketakan” itu, berikut saya kutip puisi tersebut;

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan kata yang tak sempat diucapkan/ kayu kepada api yang menjadikannya abu// Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan isyarat yang tak sempat disampaikan/ awan kepada hujan yang menjadikannya tiada//

Syair ini tentu saja indah, sehingga sering bahkan terkutip di banyak undangan pernikahan, dan kartu ucapan pada kado antar kekasih. Ini seketika menarik bagi saya. Sebab dibeberapa situs atau blog pecinta sastra, ketika literasi ini ditampilkan dengan menyebut salah satu dari dua penyair itu, seketika lahir debat. Konyol, sebab kadang debat tadi berganti keras bahkan sering lancung menjadi sarkas. Tak ada yang mau mengalah, masing-masing pihak mengemukakan pendapat dan sangkaan yang sebenarnya tak berujung-pangkal.

Penelusuran Literasi untuk Membuktikan Akurasi Klaim

Untuk membuktikan siapa sebenarnya pemilik sah karya puisi itu, saya pun mencoba melakukan penisikan literasi pada kedua penyair. Ketersediaan bahan penisikan lumayan membantu.

Karena saya percaya pada premis bahwa sejak awal melihat dan membaca puisi itu adalah nama Sapardi Djoko Damono yang tertera dan belum pernah melihatnya diterakan atas nama Kahlil Gibran, dan menangkap kemungkinan lain adalahnya duplikasi, maka saya berangkat dengan sebuah hipotesa subjektif untuk menisik karya-karya Gibran.

Alasan saya pada hipotesa subjektif ini adalah; 1) karya Gibran kebanyakan berbahasa asing, dan hanya sedikit yang telah ditranslasi ke bahasa Indonesia, sehingga merujuk dokumen aslinya agak sukar; 2) total karya Gibran beserta varian dan derifasinya berjumlah 522 karya, termasuk karya-karya Gibran dalam bahasa Arab, Inggris, terjemahan dari bahasa Arab, karya seni, artikel pendek, puisi, kumpulan surat, biografinya, dan kritisasi, tesis, essai, artikel dan review atas karyanya, rekaman suara, pochette, laporan pameran, dan sejumlah karyanya dalam bahasa Italia dan Perancis; 3) jejak kepenyairan Sapardi mudah ditelusuri.

Ada dua sumber dokumen yang saya gunakan dalam penisikan; hardcopy berliterasi Indonesia (cetak/buku) dan softcopy berliterasi asing (digital/literasi internet). Untuk kepentingan menguber literasi Kahlil Gibran dalam bahasa asing, saya memutuskan menggunakan tiga mesin mencari (search engine) yang terbukti akurat, yakni Google.com, Yahoo.com, dan Bing.com. Sebuah mesin pencari Ask.com tidak saya gunakan sebab memiliki kelemahan (sukar menemukan dokumen dengan kata kunci panjang secara akurat).

Metodenya sederhana saja, namun butuh kesabaran ekstra untuk menisik sekian banyak literatur rujukan. Jika pada karya Gibran, saya temukan memang ada syair serupa yang merujuk namanya, maka saya terpaksa harus kembali “menguber” karya-karya Sapardi. Saya mendahulukan Gibran sebab ini bisa membantu mempercepat uji tisik literasi yang saya lakukan.

Ada enam buku Gibran Kahlil Gibran (berbahasa Indonesia, terbitan Pustaka Jaya) yang menjadi acuan saya sebagai bahan uji, yakni; Lagu Gelombang; Pasir dan Buih; Potret Diri; Sang Pralambang; Sayap-Sayap Patah; dan Taman Sang Nabi.

Sebagai pembanding saya sertakan pula beberapa karya Gibran dalam bahasa Inggris. Lima e-book novel Gibran Kahlil Gibran berbahasa Inggris; The Broken Wings (1959); The Earth Gods (1931); The Perfect World (1918); A Tear and a Smile (1914); dan Nymphs of the Valley (1908).

Kumpulan surat-surat; 1) Beloved Prophet: The Love Letters of Kahlil Gibran and Mary Haskell and her Private Journal, [New York, Alfred A. Knopf, 1972 (in notes B.P.) – Hilu, V. (ed. and arr.)]; 2) Blue Flame: The Love Letters of Kahlil Gibran and May Ziadah, [Harlow, Longman, 1983 – Bushrui, S. B. and S. H. al-Kuzbari (eds. and trans.)]; 3) Gibran: Love Letters, [Oxford, Oneworld, 1995 (rev. ed. of Blue Flame) – Bushrui, S. B. and S. H. al-Kuzbari (eds. and trans.)]; 4) Chapel Hill papers (Minis family papers), in the Southern Historical Collection, University of North Carolina at Chapel Hill, item #2725, [1948, includes correspondence of Mary Elizabeth (Haskell) Minis from and about Kahlil Gibran]; 5) I Care about your Happiness: Quotations from the Love Letters of Kahlil Gibran and Mary Haskell, [selected by S. P. Schutz and N. Hoffman, Boulder, Blue Mountain Arts, 1976]; 6) The Love Letters of Kahlil Gibran and Mary Haskell, [Houston, Annie Salem Otto, 1964 – Otto, A. S. (ed. and arr.)]; 7) Unpublished Gibran Letters to Ameen Rihani, [trans. S. B. Bushrui, Beirut, Rihani House for the World Lebanese Cultural Union, 1972].

Defeat (poem); Freedom and Slavery (poem); Love (poem); O Mother Mine (moulaya; syrian folk songs); Out of My Deeper Heart (short articles); Reflections on Love (short articles); Speech and Silence (short articles); Three Maiden Lovers (moulaya; syrian folk songs); Youth and Age (short articles); The Wisdom of Gibran: Aphorisms and Maxims, ed. and trans. J. Sheban, New York, Philosophical Library, 1966.

Saya menyertakan pula kumpulan surat Gibran, sejumlah puisi penting, artikel pendek, teks moulaya, dan kumpulan kata bijak Gibran, sebab saya menaruh sangka bahwa bisa saja enam larik puisi itu diselipkan Gibran dalam surat-suratnya, atau bagian dari artikel, puisi, moulaya, atau bahkan dalam salah satu kutipan bijak Gibran.

Memulai Penisikan.

Setelah menyiapkan tiga mesin pencari berbeda, saya pun memasukkan kata kunci; kahlil gibran‘s book containing these words i want to love you with a simple like the words that were not spoken to the fire that makes wood ashes i want to love you with a simple like cues that were not delivered to the rain clouds that make it dead.

Hasilnya, hanya satu rujukan yang memuat puisi itu sebagai milik Gibran, yakni fatoerblogs_wordpress_aphorisms-love. Sayangnya blog ini adalah blog milik orang Indonesia yang memuat translasi syair dalam bahasa Inggris yang gramarnya acak-kadut.

Kata kunci saya sempitkan, menjadi; all+kahlil gibran’s books have containing words I want to love you with a simple, like the words that were not spoken to the fire that makes wood ashes, I want to love you with a simple, like cues that were not delivered to the rain clouds that make it dead. 

Setelah disaring, rujukan yang persis benar mengacu pada syair bermilik Gibran ada tiga, yakni; fatoerblogs_wordpress_aphorisms-love; jovinohidayat_blogspot_jika-cinta-berbicara; jovinohidayat_ blogspot_archive. Sayangnya lagi, ketiga rujukan ini adalah blog milik orang Indonesia yang memuat translasi syair seadanya. Malah ada kemungkinan tiga puisi pada tiga blog ini berasal dari satu sumber penerjemahan.

Lalu kata kuncinya saya sempitkan lagi, menjadi; all + kahlil gibran’s + books + have containing + words + fire + wood + ashes + cues + rain + clouds 

Sama seperti kata kunci format kedua, saya kembali menemukan tiga rujukan blog yang sama.

Semua rujukan mesin pencari terhadap Gibran dan Sapardi hasilnya identik, sehingga jelas sekali kongklusi bahwa syair-syair itu disadur sekenanya dari satu blog ke blog lainnya (tanpa memperdulikan fakta pengkarya).

Sama halnya untuk literasi penyair Gibran dalam bahasa Inggris, perlakuan yang sama juga saya berikan untuk literasi penyair Gibran dan Sapardi dalam penelusuran berbahasa Indonesia.

Kata kunci mengalami tiga kali formasi penajaman, untuk menghasilkan rujukan yang seakurat mungkin.

  1. Kata kunci pertama; kahlil gibran+sapardi buku yang mengandung kata Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…seperti kata-kata yang tidak berbicara dengan api yang membuat abu kayu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…seperti isyarat yang tidak disampaikan kepada awan hujan yang membuatnya mati.
  2. Kata kunci kedua, yang disempitkan; buku+Kahlil Gibran+Sapardi memiliki kata-kata yang mengandung aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kata-kata yang tidak berbicara dengan api yang membuat abu kayu, aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti isyarat yang tidak disampaikan kepada awan hujan yang membuatnya mati.
  3. Kata kunci ketiga, yang kian disempitkan dengan separasi kata inti pembentuk puisi; semua + buku + kahlil gibran + sapardi + api + kayu + abu + isyarat + hujan + awan.

Yang menarik, ketika saya menggunakan kata kunci berbahasa Indonesia dan sekaligus mempadankan dua nama (kahlil gibran+sapardi) untuk syair yang sama, diperoleh rujukan dengan pembagian; 6.412 hasil untuk Gibran, dan 5.159 hasil untuk Sapardi. Uniknya, dari 11.571 rujukan puisi ini yang ditemukan semuanya sama persis pada larik, yang membedakannya hanya judul dan tera pengkaryanya saja.

***

Semua rujukan ini dipisahkan sesuai karakter literasi yang paling kuat rujukannya, dengan ditentukan oleh kelengkapan kata dan kalimat yang disadur oleh para pemilik blog. Dari rujukan yang tersisa jika berbentuk file *.pdf maka akan didownload terlebih dulu lalu disaring dengan menggunakan fasilitas (tools) software pemilah kata.

Karena semua karya awal Gibran ditranslasi dalam bahasa Inggris maka saya melacak puisi tersebut dengan menggunakan ektraksi kata inti menggunakan software pemilah kata.

Hasilnya, sungguh membuat saya lega. Ternyata yang diperdebatkan selama ini tidak lebih sekadar bualan belaka. Semata-mata hanya memetik karya tanpa mengecek referensi awal. Parahnya, karya itu sudah tersebar kemana-mana, dan dipolemikkan dalam silang sengkarut yang tak berujung.

Saya berani mengatakan, bahwa dengan ini, perdebatan perihal syair tersebut telah berakhir. Bahwa syair indah itu adalah milik Sapardi Djoko Damono dengan judul asli “Aku Ingin”, dan bukan syair milik Gibran yang diberi judul “Lafaz Cinta”. Saya merekomendasikan agar para pemilik blog segera mencabut syair jiplakan berjudul “Lafaz Cinta” yang didaulatkan atas nama Gibran, dan memasang nama Sapardi Djoko Damono, sebagai pemilik asli syair itu. 

Kesimpulan ini dapat saya buktikan secara empiris. Perhatikan penggunaan kata kunci (fire, wood, ashes, cues, rain, dan clouds) pada beberapa karya utama Gibran dari enam sample buku yang digunakan, dan lima e-book, serta beberapa literasi Gibran berformat *.pdf.

Dari enam kata kunci utama pembentuk syair, hanya dua kata yang sering muncul dalam karya-karya Gibran, yakni Ashes (abu) dan Fire (api). Dan, tidak ada karya Gibran yang mempertemukan enam kata di atas dalam larik-larik pada dua bait pendek, atau pada sebuah puisi utuh.

Karya-karya Gibran yang mengandung kata Ashes :

“life is as cold as ice and as grey as ashes.”

[ Kahlil Gibran to Yusuf Huwayik, in A Self-Portrait (1972), 26. ]

“like ashes which hide the embers but do not extinguish them.”

[ Jessie Fremont Beale to Fred Holland Day, Nov. 25, 1896. Quoted in J. and K. Gibran, Life and World, 37–38. ]

“Night is over, and we children of night must die when dawn comes leaping upon the hills; and out of our ashes a mightier love shall rise. And it shall laugh in the sun and it shall be deathless.”

[ Beloved Prophet, 323 ]

Sedangkan, dalam karya Gibran (dan yang merujuk Gibran dan karyanya) yang mengandung kata Fire :

One of his greatest delights was to cast images in lead using old sardine tins. He used to put the lead on the fire to melt and then fill the two halves of the can with fine moist sand. Then pressing the image in between the two, he would scrape away the sand that squeezed out, put the two halves together again and pour the lead into the mold until the image had cooled.

[ Beloved Prophet, 429 ]

“Dust of the Ages and the Eternal Fire”

[ in Nymphs of the Valley, 30. Gibran also wrote “The Poet from Baalbek,” a story with the theme of reincarnation (Thoughts and Meditations, 1–8). Ameen Rihani in his magisterial work The Book of Khalid, which was to later influence Gibran’s own writings, refers to Baalbek as being the place where Shakib spent much of his childhood. ]

His rebellion, no doubt in this instance fired by his own bitter rejection by Hala’s powerful family, is evident in “The Broken Wings”.

[ Man and Poet, Khalil Gibran ]

After the fire, Gibran began painting and writing with renewed resolution. Perhaps in recognition of his indebtedness to Fred Holland Day he wrote “Letters of Fire”, beginning his soliloquy with the lines inscribed on Keats’ grave in Rome: “Here lies one whose name was writ in water.”

[ Man and Poet, Khalil Gibran ]

“Write upon my gravestone: Here lies the remains of him who wrote his name on Heaven’s face in letters of fire.”

[ A Tear and a Smile ]

Three stories written during this period, “Martha,” “Yuhanna the Mad,” and the “Dust of the Ages and the Eternal Fire,” were later published together under the title “Ara’is al-Muruj”.

[ Nymphs of the Valley ]

The other story in the trilogy, “Dust of the Ages and the Eternal Fire,” deals with the themes of reincarnation and preordained love. The hero appears first as Nathan, the son of a Phoenician priest in Baalbek, and then in his new incarnation as Ali al-Husaini, a Bedouin nomad.

[ Nymphs of the Valley, The Husainis were an Arab tribe dwelling in tents around Baalbek ]

In January 1912, after much delay, Gibran’s Arabic novella al-’Ajnihah al-Mutakassirah (The Broken Wings) was published. He sent Mary a copy in which he had translated the dedication: TO THE ONE who stares at the sun with glazed eyes and grasps the fire with untrembling fingers and hears the spiritual time of Eternity behind the clamorous shrieking of the blind. To M.E.H. I dedicate this book. – Gibran.

[ Kahlil Gibran, dedication in The Broken Wings, 1959 ]

It is true the world will be apt enough to censure thee for a madman in walking contrary to it: And thou art not to be surprised if the children thereof laugh at thee, calling thee silly fool. For the way to the love of God is folly to the world, but is wisdom to the children of God. Hence, whenever the world perceiveth this holy fire of love in God’s children, it concludeth immediately that they are turned fools, and are besides themselves. But to the children of God, that which is despised of the world is the greatest treasure.

[ The Perfect World  was later published in 1918 in The Madman: His Parables and Poems (1918); quoted in Heinemann edition (1971), 71. ]

The name of Arrabitah spread wide and far becoming tantamount to renaissance, to rejuvenation in the minds of the younger generations, and to iconoclasm and hot-headed rebellion in the eyes of the older and more conservative ones. The lines of battle were clearly drawn: the issue was never in doubt. So quickly was the tide turned in favor of Arrabitah that those who hailed it were no less puzzled than those who opposed it…no one knows the “secret” save that hidden power which brought the members of Arrabitah together at a certain spot, in a certain time, and for a certain purpose entirely irrespective of their conscious planning, endowing each with a flame that may be more, or less brilliant than that of another, but all coming from the selfsame fireplace.

[ Naimy, A Biography, 157, 158. ]

My life has a great deal of seeing people in it, just individuals, one by one, and groups as well. And I want it to be so more and more. I want to live reality. Better than to write ever so truly about fire, is to be one little live coal. I want some day simply to live what I would say, and talk to people. I want to be a teacher. Because I have been so lonely, I want to talk to those who are lonely.

[ Beloved Prophet, 356 ]

Who shall inscribe the name of the present generation in the scrolls of Time, who they are and where they are? I do not find them among the many “nightingales of the Nile and the warblers of Syria and Lebanon,” but among the few whose lips and hearts have been touched by a new fire. Of those some are still within the womb of Creative Silence; some are breathing the air we breathe, and treading the ground we tread. Of the latter –, nay, leading the latter – is the poet of Night and Solitude, the poet of Loneliness and Melancholy, the poet of Longing and Spiritual Awakening, the poet of the sea and the Tempest – Gibran Kahlil Gibran.

[ Naimy, A Biography, 159–60. First published in Beirut in 1934 and translated into English by Mikhail Naimy in 1950, and published by the Philosophical Library. ]

Again in Mother Earth the artist portrays men and women, rooted to the earth and at the same time endowed with the transformational and unifying power of fire, expressed in The Earth Gods thus:

Behold, man and woman/ Flame to flame/ In white ecstasy// Roots that suck at the breast of purple earth/ Flame flowers at the breasts of the sky// And we are the purple breast/ And we are the enduring sky// Our soul, even the soul of life, your soul and mine/ Dwells this night in a throat enflamed/ And garments the body of a girl with beating waves// Your sceptre cannot sway this destiny/ Your weariness is but ambition// This and all is wiped away// In the passion of a man and a maid//

[ The Earth Gods, 31. ]

Dari rujukan ini dapat saya simpulkan, bahwa dalam karya-karya Gibran tidak ada dua bait yang menggabungkan enam kata kunci yang terdapat pada puisi yang dipolemikkan, sehingga dapat dipastikan bahwa TIDAK PERNAH ADA puisi berjudul Lafaz Cinta karya Khalil Gibran. Uji literasi membuktikan bahwa secara eksistensial, syair pada puisi di bawah ini adalah sah milik Sapardi Djoko Damono:

 

Aku Ingin

Oleh Sapardi Djoko Damono

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada 

***

Saya puas dengan hasilnya. Tentu saja, saya pribadi puas atas penelusuran dua hari ini. Hanya saja, masih ada yang sedikit mengganjal hati saya. Mengapa selama ini penyair Sapardi DD, tidak berusaha meralat sangkaan keliru orang-orang atas syairnya tersebut. Apakah beliau sengaja membiarkannya demikian, agar polemik menjadi ramai, atau beliau tak mau ikut-ikutan “capek” pada sesuatu yang tiba-tiba menjadi silang sengkarut.

Entahlah…yang pasti selamat buat beliau atas syair indahnya itu. ***

—————————

Catatan penulis:

*] Akumulasi rata-rata data yang berhasil diperoleh dari ketiga mesin pencari untuk literasi Gibran berkata kunci bahasa Inggris; Google [124.000], Yahoo [0], Bing [12.900]

**] Sedangkan akumulasi rata-rata data yang berhasil diperoleh dari ketiga mesin pencari untuk literasi Gibran+Sapardi berkata kunci bahasa Indonesia; Gibran : Google [955], Yahoo [17], Bing [5.440], dan Sapardi : Google [635], Yahoo [54], Bing [4.470]

***] Software dan fasilitas pemilah kata+kalimat pada file PDF dan e-book: Adobe Reader 9.2, dan PDF Word+Phrase Extractor 3.0 Beta 3

Gibran Kahlil Gibran (sumber foto: flickr)

 

Diskusi lengkap soal ini dapat dilihat pada Catatan Facebook Ilham Q. Moehiddin


%d blogger menyukai ini: