Tag Archives: islam

Senggama

Senggama itu boleh, tapi sebaiknya lakukan bersama muhrim-mu. Senggama boleh tapi aneh jika merekam-rekamnya. Merekam mungkin tak mengapa, tapi salah jika beredar-edar.

Senggama boleh tapi tak baik ditonton orang. Terekam, mungkin lagi sial, tapi lebih sial jika tertonton. Terlarang pula menyebarkannya. Kini senggama itu bukan hal privat lagi.

Dahulu engkau mesti mempersiapkan banyak hal ketika hendak melakukannya; tempat yang baik, waktu yang tepat, momentum yang romantis, persetujuan yang teguh, dan penyelesain yang paripurna. Tak boleh ada kecewa terselip di antara keduanya, setelahnya.

Kini senggama itu jadi hiburan, atau untuk menghibur.

Padahal Tuhan, untuk urusan senggama ini, menunggu Adam dirundung sepi dahulu, kemudian Dia bertindak. Bagi Adam, dibuatkannya seorang Hawa, perempuan untuk menghapus sepinya, untuk disenggama agar keturunannya banyak.

Bukan main urusan senggama itu? Bukankah senggama ini urusan yang luar biasa penting, sehingga Tuhan harus mencipta dua jenis kelamin berbeda; agar bisa bertemu. Itulah mengapa senggama itu sakral.

Di berbagai peradaban dunia, senggama ini demikian sakral dan kultus. Pada kebudayaan India, senggama itu menjelma sebuah kitab khusus; Kamasutra. Banyak prosesi, banyak pantangan, banyak rutinitas, sebelum engkau melangkah pada senggama.

Di kebudayaan Mesir, engkau harus direndam pada rempah, agar harum. Biar Amum Ra tidak kecewa, konon. Tubuhmu akan berbungkus sutra, peraduanmu akan ditebari mawar dan diberi gaharu. Konon, pula, pada Lingga dan Yoni, disepuh segala haruman berlapis-lapis aromanya. Biar Amum Ra tidak kecewa, konon.

Di kebudayaan Eropa, urusan senggama itu berbelit sengkarut urusannya. Lelaki harus melalui 90 hari kenal, satu tahun tunang, sebulan pingit. Di sepanjang waktu itu, si perempuan dipersiapkan dengan serius. Maka itu, prosesi nikahnya berlangsung cepat. Keluarga mengawasi sedemikian ketat. Selalu ada pengawal si perempuan ketika berduaan dengan tunangannya, sekali pun. Sayang sekali, saat senggama mereka masih merasa harus; polos telanjang.

Di kebudayaan Arab-Islam, senggama sedemikian kultus, sehingga jika abai dan lalai, kau bisa kena rajam, akibatnya. Perempuan tak boleh jalan sendiri tanpa muhrim. Memandang dengan seronok akan membangun prasangka di kalangan keluarga perempuan, dan perempuan itu sendiri. Ketika bertemu pun, lelaki hanya cukup melihat melalui barzah, melalui tabir. Prosesnya panjang berjenjang. Setelah semuanya kau lewati, masih tersisa satu pantang; engkau berdua harus berpenutup saat senggama. Tak boleh telanjang polos.

Cukup hanya pada bagian yang akan bertemu; penyenggama dan tersenggama, yang terbuka. Sebab, jika polos, engkau berdua akan lebih mirip binatang. Rasakan sensasinya, tapi jangan pula mempermalukan malaikat. Malaikat akan malu, menutup mata, jika ada sepasang muhrim bersenggama tak berpenutup. Mereka akan membalikkan badan sampai engkau berdua, usai.

Bahkan sebelum senggama, engkau, kalian berdua, harus berdoa dulu; agar senggama itu tak dicampuri setan dan iblis, agar senggama itu berbuah anak sholeh, patuh pada Rabb Ul-llah. Setelah selesai, berdoalah pula, sebaiknya. Dan, engkau sekalian harus mandi pada akhirnya. Junub akan mengakhiri prosesi senggama ini. Ibadahmu akan percuma jika engkau tak menutupnya dengan junub.

Tetapi, sekarang, lihatlah senggama itu.

Orang orang mempermainkannya semaunya. Menjadi boleh dengan siapa saja, dilakukan dengan cara apa saja, di mana saja. Kadang pula diabadikan; buat di tonton sendiri, atau beramai-ramai kawan dan sahabat. Masih tak puas, diedar dengan sengaja, sehingga orang sedunia melihat perbuatanmu.

Segala mitos kau buat, sebagai alasan. Ukuran, bentuk, dan kepiawaian “menjungkir-balikkan” perempuan, engkau banggakan. Karena ketidakpuasanmu, hewan pun kau bunuh. Apa salah Buaya, engkau kejar tangkurnya? Apa dosa Badak, engkau gergaji culanya? Ada apa dengan kambing? Setelah melahapnya, jadi alasanmu mengunjungi lokalisasi. Ular kau betot tubuhnya, hingga darahnya muncrat lalu lahap kau teguk. Macan kau kejar-kejar hanya karena kuku dan tulangnya. Bahkan bakau pun kau balak untuk bisa melingkarkan akar baharnya di lenganmu.

Perbuatan yang bodoh, sungguh!

Apa hewan-hewan itu pernah berperjanjian padamu perihal tubuh mereka? Apa mereka berutang seutas tangkur, sebuah cula, sekilo daging, seliter darah, sepotong kuku dan tulang, dan sebatang akar, padamu? Tidak, tentunya. Lalu mengapa angkau bunuh mereka? Tingkahmu mirip rentenir, membunuh penghutang yang tak membayar puluhan tahun.

Setelah engkau anggap diri hebat pada urusan senggama, tak cukup perempuan bagimu, lelaki pun kau senggama. Kau bilang; tak mengapa Lingga itu berlumuran tinja. Hih…najis!

Padahal engkau cuman mengejar; sensasi dan erotisme. Tidak cuman lelaki, perempuan pun, kini, sama saja.

Tahukah engkau, bahwa senggama itu, dihakikatkan pada urusan keturunan saja.

Lalu, orang-orang berteori dan berspekulasi tentang cara dan upaya. Bahkan ada sekolahnya untuk kau pelajari dengan juluk seksologis.

Senggama itu, kini, pun dipelototi kanak-kanak. Urusan perempuan buka paha, buka dada menjadi gampang. Yang dahulu kau harus datang dalam rombongan memintanya dengan cara yang baik dan diberitahukan pada umum dengan cara yang baik pula.

Lembaga nikah tidak sekuat dan keramat lagi. Dahulu memeriksa orang zina itu cepat dan berujung hukum yang keras, kini terbalik. Dahulu perempuan akan sangat marah jika dipelototi dengan pandangan seronok, lalu baru akan marah besar jika pantatnya kau tepuk, lalu baru akan murka jika dadanya kau senggol, dan engkau akhirnya dilaporkan sebagai peleceh.

Kini, kadang perempuan baru marah besar, murka hatinya, jika tak kau peluk, tak kau raba-raba, tak kau berikan sensasi dan erotisme yang dia minta.

Perempaun saat ini, umumnya, tak ada malu tersisa lagi pada hati dan fikirnya. Walau pada tubuhnya tinggal melekat kutang dan cawat saja. Batasan rogol menjadi makin tinggi.

Seharusnya internet itu, material bergambar senggama itu, diawasi tidak saja Kementerian dan polisi, tetapi orangtua juga. Terlalu besar lembaga Kementerian (Depag dan Kemenkominfo) itu jika urusannya hanya haji, penyuluhan, pendidikan dan latihan. Seharusnya mereka duduk pula di kursi pengawas (bukan pengatur) sebagai polisi content. Jika kau tak bisa awasi content maka tak perlu sok ribut soal material senggama yang teredar.

China saja yang kau tuduh komunis dan ateis itu, mampu mengawasi content hingga material senggama tak edar bebas. Tiap tahun ribuan orang dibui di sana karena coba-coba. Jika kau bukan ateis mengapa tak mencoba lebih baik dari orang yang kau sangka ateis. ***

Catatan ringan Ilham Q. Moehiddin (Juni 2010)

 

*Maaf, catatan ini aku tulis seusai “nge-dumel” pada media, pada lembaga terkait, dan para penyuka senggama. Kebodohan itu laksana tongkat; semakin panjang semakin rapuh. Tongkat serupa itu baiknya segera dipatahkan.

Kata “Muhrim” biasa dilafalkan lidah orang Indonesia untuk “Mahrom”. Secara gramatikal penggunaan yang benar adalah ‘Mahrom’ yang merujuk hubungan keluarga/sedarah. Sedangkan ‘Muhrim’ merujuk pada pemakai kain ihram saat berhaji. Info ini dimungkinkan atas revisi, saudaraku Syaiful Alim.

Iklan

Akuntansi Dalam Islam

Oleh Agus Nurhuda (24 Januari 2008)

Akuntansi, menurut sejarah konvensional, disebutkan muncul di Italia pada abad ke-13 yang lahir dari tangan seorang Pendeta Italia bernama Luca Pacioli yang menulis buku “Summa de Arithmatica Geometria et Propotionalita” dengan memuat satu bab mengenai “Double Entry Accounting System”.
Namun apabila kita pelajari “Sejarah Islam” ditemukan bahwa setelah munculnya Islam di Semananjung Arab di bawah pimpinan Rasulullah SAW dan terbentuknya Daulah Islamiah di Madinah yang kemudian di lanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin terdapat undang-undang akuntansi yang diterapkan untuk perorangan, perserikatan (syarikah) atau perusahaan, akuntansi wakaf, hak-hak pelarangan penggunaan harta (hijr), dan anggaran negara.

Rasulullah SAW sendiri pada masa hidupnya juga telah mendidik secara khusus beberapa sahabat untuk menangani profesi akuntan dengan sebutan “hafazhatul amwal” (pengawas keuangan). Bahkan Al Quran sebagai kitab suci umat Islam menganggap masalah ini sebagai suatu masalah serius dengan diturunkannya ayat terpanjang , yakni surah Al-Baqarah ayat 282 yang menjelaskan fungsi-fungsi pencatatan (kitabah) dalam bermuamalah (bertransaksi), penunjukan seorang pencatat beserta saksinya, dasar-dasarnya, dan manfaat-manfaatnya, seperti yang diterangkan oleh kaidah-kaidah hukum yang harus dipedomani dalam hal tersebut.

Dengan demikian, dapat kita saksikan dari sejarah, bahwa ternyata Islam lebih dahulu mengenal sistem akuntansi, karena Al Quran telah diturunkan pada tahun 610M, yakni 800 tahun lebih dahulu dari Luca Pacioli yang menerbitkan bukunya pada tahun 1494M.

Dalil Akuntansi Dalam Al Qur’an

Dari sisi ilmu pengetahuan, Akuntansi adalah ilmu informasi yang mencoba mengkonversi bukti dan data menjadi informasi dengan cara melakukan pengukuran atas berbagai transaksi dan akibatnya yang dikelompokkan dalam account, perkiraan atau pos keuangan seperti aktiva, utang, modal, hasil, biaya, dan laba.
Dalam Al Quran disampaikan bahwa kita harus mengukur secara adil, jangan dilebihkan dan jangan dikurangi. Kita dilarang untuk menuntut keadilan ukuran dan timbangan bagi kita, sedangkan bagi orang lain kita menguranginya.

Dalam hal ini, Al Quran menyatakan dalam berbagai ayat, antara lain dalam surah
Asy-Syu’ara ayat 181-184 yang berbunyi:

”Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu.”
Kebenaran dan keadilan dalam mengukur (menakar) tersebut, menurut Dr. Umer Chapra juga menyangkut pengukuran kekayaan, utang, modal pendapatan, biaya, dan laba perusahaan, sehingga seorang Akuntan wajib mengukur kekayaan secara benar dan adil. Agar pengukuran tersebut dilakukan dengan benar, maka perlu adanya fungsi auditing.
Dalam Islam, fungsi Auditing ini disebut “tabayyun” sebagaimana yang dijelaskan dalam Surah Al-Hujuraat ayat 6 yang berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman,jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Kemudian, sesuai dengan perintah Allah dalam Al Quran, kita harus menyempurnakan pengukuran di atas dalam bentuk pos-pos yang disajikan dalam Neraca, sebagaimana digambarkan dalam Surah Al-Israa’ ayat 35 yang berbunyi:

“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
Dari paparan di atas, dapat kita tarik kesimpulan, bahwa kaidah Akuntansi dalam konsep Islam dapat didefinisikan sebagai kumpulan dasar-dasar hukum yang baku dan permanen, yang disimpulkan dari sumber-sumber Syariah Islam dan dipergunakan sebagai aturan oleh seorang Akuntan dalam pekerjaannya, baik dalam pembukuan, analisis, pengukuran, pemaparan, maupun penjelasan, dan menjadi pijakan dalam menjelaskan suatu kejadian atau peristiwa.
Dasar hukum dalam Akuntansi Syariah bersumber dari Al Quran, Sunah Nabawiyyah, Ijma (kesepakatan para ulama), Qiyas (persamaan suatu peristiwa tertentu), dan ‘Uruf (adat kebiasaan) yang tidak bertentangan dengan Syariah Islam. Kaidah-kaidah Akuntansi dalam Islam, memiliki karakteristik khusus yang membedakan dari kaidah Akuntansi Konvensional. Kaidah-kaidah Akuntansi Syariah sesuai dengan norma-norma masyarakat islami, dan termasuk disiplin ilmu sosial yang berfungsi sebagai pelayan masyarakat pada tempat penerapan Akuntansi tersebut.
Akuntansi Meta Rule

Menurut, Toshikabu Hayashi dalam tesisnya yang berjudul “On Islamic Accounting”, Akuntansi Barat (Konvensional) memiliki sifat yang dibuat sendiri oleh kaum kapital dengan berpedoman pada filsafat kapitalisme, sedangkan dalam Akuntansi Islam ada “meta rule” yang berasal diluar konsep akuntansi yang harus dipatuhi, yaitu hukum Syariah yang berasal dari Tuhan yang bukan ciptaan manusia, dan Akuntansi Islam sesuai dengan kecenderungan manusia yaitu “hanief” yang menuntut agar perusahaan juga memiliki etika dan tanggung jawab sosial, bahkan ada pertanggungjawaban di akhirat, dimana setiap orang akan mempertanggungjawabkan tindakannya di hadapan Tuhan yang memiliki Akuntan sendiri (Rakib dan Atid) yang mencatat semua tindakan manusia bukan saja di bidang ekonomi, tetapi juga bidang sosial-masyarakat dan pelaksanaan hukum Syariah lainnya.
Jadi, dapat kita simpulkan dari uraian di atas, bahwa konsep Akuntansi dalam Islam jauh lebih dahulu dari konsep Akuntansi Konvensional, dan bahkan Islam telah membuat serangkaian kaidah yang belum terpikirkan oleh pakar-pakar Akuntansi Konvensional.
Terakhir, marilah kita renungi firman Allah SWT berikut ini:

“…… Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang
berserah diri.” (QS.16/ An-Nahl: 89).


Imam Al Bukhari

Mata al-Bukhari tidak bisa melihat sejak kecil. Suatu malam ibunya mimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam. Kemudian Nabi Ibrahim berkata, “Wahai Ibu, kini Allah telah mengembalikan penglihatan anak lelakimu dengan sebab seringnya ibu menangis dan berdoa.”

Benar, pada pagi harinya mereka mendapati mata al-Bukhari tidak buta lagi. Al-Bukhari mengisahkan dirinya sebagai berikut, “Ketika aku di usia menghafal al-Qur’an, aku sudah mulai pula menghafal hadits. Saat itu, ada yang bertanya kepadaku, ‘Ketika itu berapa umurmu?’ Aku menjawab, ’10 tahun atau kurang sedikit.’ Aku sudah menyelesaikan hafalan al-Qur’an pada usia 10 tahun.”

Suatu hari ada seorang Syaikh meriwayatkan sebuah hadits, katanya, “Dari Sufyan, dari Abu Zubair dari Ibrahim.” Maka seketika itu aku katakan, “Sesungguhnya Abu Zubair tidak pernah meriwayatkan hadits dari Ibrahim.” Maka dia mencelaku, lalu aku katakan padanya, “Coba lihat ulang catatan aslinya.”

Kemudian beliau masuk ruangan untuk mengecek ulang catatannya. Setelah keluar dari ruangan tersebut beliau bertanya kepadaku, “Bagaimana yang benar wahai anakku?” Aku jawab, “Dari az-Zubair bin Adi dari Ibrahim.” Lalu Syaikh tersebut mengambil pena dan menulis periwayatan hadits dariku serta mengoreksi tulisannya.

Syaikh tersebut berkata, “Kamu benar”. Ada yang bertanya kepada al-Bukhari, “Berapa usiamu ketika membantah Syaikh tersebut?” Aku jawab, “11 tahun. Dan menjelang usia 16 tahun aku telah hafal buku-buku karya Ibnul Mubarak dan Waki’. Aku juga menguasai pendapat Ahlu Ra’yi. Hingga suatu ketika, aku, ibuku dan adikku yang bernama Ahmad pergi ke Makkah. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, ibu dan adikku pulang ke negeriku sementara aku tinggal di Makkah untuk belajar hadits.”

Sumber : Tahdzibul Kamal, 1169; as-Siyar, 12/393.
Dinukil oleh : Abu Thalhah Andri Abdul Halim
Sumber: http://www.alsofwah.or.id


Islam dan Subhat Paham Gender

Jakarta, Paham Gender telah berkali-kali diulas kaum feminis. Beberapa saat yang lalu, Emmy Astuti, Sekretaris Wilayah-Sulawesi Tenggara Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi juga menulis masalah ini. Seringkali, paham Gender diseret kaum feminis dengan perspektif ke-Islam-an, untuk mencoba menembus pemahaman keperempuanan Muslim, tetapi telah keliru menempatkan nash-nash Al-Quran yang suci, terhadap ide dan gagasannya tentang Paham Gender dan feminisme.

Tetapi, mari kita berdiskusi tentang hal ini. Bahwa, sesungguhnya dua kutub pemikiran ini tidaklah salah pada tempatnya masing-masing, namun sangat keliru jika kedua aliran pemikiran ini coba diselaraskan, hingga menimbulkan perdebatan yang jelas sekali tidak akan berakhir. Saya akan buka diskusi kritis ini dengan Surat Iqra:1-5;

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Yang telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Mengajarkan kepada manusia apa-apa yang belum diketahuinya.” [QS (96): 1-5].

Seperti judul tulisan ini, konsep Gender tidak dikenal dalam Islam. Tetapi, bahwa posisi dan kedudukan perempuan dalam Islam dan hubungannya dengan laki-laki, telah ada sejak awal Islam, disiarkan oleh Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW adalah sosok yang santun, pemurah, dan menyayangi semua orang. Ini tak terbantah. Sebagai pemimpin agama besar, Rasulullah SAW memiliki tanggung jawab yang berat dalam membina hubungan setiap manusia, setiap Muslim, khususnya dalam interaksi positif antara perempuan dan laki-laki.

Tidak saja dalam Al-Quran, dalam Al-Hadist sekalipun konsep gender tidak ditemukan. Jika ada yang mengatakan hal sebaliknya, itu hanya upaya syubhat untuk menegaskan kefasikannya. Islam hanya mengenal keistimewaan posisi dan kedudukan perempuan. Selanjutnya saya akan menyebutnya dan memperkenalkannya sebagai ‘keistimewaan’ Muslimah. Konsep ini sangat berbeda dengan apa yang disebut sebagai paham Gender, atau malah feminisme. Akan kita lihat mengapa posisi perempuan penting dalam tradisi Islam.

Kehidupan Rasulullah SAW, sejak beliau bayi, kanak-kanak hingga masa awal kerasulan, beliau sangat dipengaruhi oleh beberapa tokoh perempuan. Sebut saja Halimah binti Abi Dzuaib, seorang perempuan Badui yang menyusui beliau saat bayi. Kemudian, Khadijah, istri pertama beliau, yang juga sekaligus menjadi pemeluk Islam pertama. Ada Aisyah, istri lain Rasulullah SAW, yang juga termasuk para perawi hadist yang utama karena dia hampir selalu hadir di saat-saat genting kehidupan Nabi, atau pada saat turunnya ayat.

Para perempuan yang disebut di atas sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan Rasulullah SAW. Maka tidak heran jika, Rasulullah SAW menempatkan perempuan dalam suatu keistimewaan. Masih banyak peristiwa yang menggambarkan betapa besar peran perempuan dalam perjalanan awal Islam.

Bahkan, setelah wafatnya Rasulullah SAW pun, perempuan Muslim makin memperlihatkan eksistensinya. Para perempuan Muslim melihat adanya kekuasaan, pengaruh besar dan kekuatan yang mereka lihat dari para istri Nabi. Mereka pun kemudian mendesak kalifah dan suami-suami mereka, bahwa hak istimewa yang diberikan Rasullullah pada istri-istrinya, juga harus diberikan pada mereka. Mulai saat itulah, para perempuan menggunakan hijab.

Riwayat lain juga menyebut, bagaimana Aisyah memerangi pengaruh Abdullah Ibnu Saba dalam perang Jamal. Menjelang berakhirnya kekalifahan Usman, muncullah seorang Yahudi, Abdullah Ibnu Saba. Dalam sejarah dia dikenal sebagai orang yang berpura-pura menjadi Muslim, sedang dalam hatinya penuh dengan kebusukan dan bermaksud merusak Islam dari dalam.

Ia menyadari ketidakmampuannya merobohkan Islam dengan kekuatan dan kekerasan. Karena itu, ia mengalihkan siasatnya dengan memperalat kondisi yang bergejolak dalam lingkungannya. Sebagai sesuatu yang berkaitan dengan Islam, baik itu ayat dan hadist Rasulullah SAW, dijadikannya hujjah (alat pembenar) untuk menunjang kehendak dan pendapatnya. Kekacauan demi kekacauan yang dibuatnya itu, berakhir pada titik dimana umat Muslim tidak dapat mentolerirnya lagi, dan berpuncak pada munculnya Aisyah memimpin pasukan Muslim dalam perang Jamal, (H. Soekarno dan Ahmad Supardi, 2001, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, Angkasa).

Pun, tentang hal peran perempuan dalam kesultanan Islam. Prof. DR. A. Syalabi menerangkan, “Khalifah Muawiyah kerap kali mengundang para ulama, sastrawan, sufi dan ahli sejarah untuk menghadiri majelisnya. Mereka dipertemukan dalam gelanggang untuk munazharah (diskusi) ilmiah dan kesusasteraan. Munazharah itu dihadiri semua ahli dari golongan laki-laki dan perempuan.” Atau, siapa yang tak kenal Fakhroenvissa Sheika Shulda, sastrawan dan penyair terkemuka Baghdad pada zaman Sultan Harun Al-Rasyid.

Namun sekali lagi, peran-peran perempuan Muslim ini, tidak bisa disejajarkan atau bahkan disamakan dengan gerakan feminisme atau disebut sebagai kemandirian gender. Sebab tingkatan peran perempuan Muslim lebih tinggi dari sekadar gagasan feminisme. Gambaran di atas juga untuk menegaskan bahwa riwayat-riwayat tersebut, oleh kaum feminis, tidak boleh dijadikan hujjah untuk membenarkan ide dan gagasan mereka. Bukan itu maksud tulisan ini. Sebab dasar dari dua kutub pemikiran ini sangat berbeda; feminisme adalah produk sekulerisme Eropa, sedangkan ‘keistimewaan’ Muslimah terbentuk dari tradisi Islam.

Muslimah tidak pernah dikenalkan dengan konsep kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Sebab, tanpa konsep kesetaraan seperti yang dikampanyekan para kaum sekuler feminis, laki-laki dan perempuan dalam Islam telah setara. Wanita Muslim memiliki posisi yang istimewa dalam kehidupan Islam. Wanita Muslim tahu benar bagaimana perbedaan mendasar antara perempuan dan laki-laki sehingga mereka memperoleh hak dan posisi istimewa dalam Islam dan kekhususan dari Rasulullah SAW. Mereka tahu benar bagaimana bersikap terhadap laki-laki atau suami mereka, dan bagaimana Rasulullah SAW mengistimewakan posisi mereka terhadap suami mereka.

Klaim Ayat

Dalam opini saudari Emmy Astuti, dikatakan bahwa soal hak waris, sebelum datangnya Islam, perempuan tidak memiliki hak waris sedikitpun. Saudari Emmy telah keliru dalam hal ini.

Mengutip Muhammad bin Ishaq (wafat + 767 M), ahli sejarah terkemuka periode klasik Islam, menyebutkan, pada zaman pra Islam, keturunan sering diperhitungkan dari garis perempuan. Secara resmi harta diwarisi oleh perempuan, tetapi ini pun tidak memberi perempuan kekuatan dan pengaruh. Laki-laki kadang mengawini perempuan hanya untuk mendapatkan warisannya secara resmi.

Kemudian Islam memperbaiki ini dengan menentukan hak waris bagi anak perempuan seperdua dari anak laki-laki. Ini untuk mencegah laki-laki mengambil perempuan dari golongannya hanya untuk menguasai hartanya. Langkah Rasulullah SAW ini kemudian ditegaskan Allah SWT dalam surat An-Nisa. (Karen Armstrong, Muhammad Sang Nabi, 1991, Risalah Gusti).

Di sini jelas sekali, bahwa Emmy Astuti –yang menyebut dirinya feminis Muslim– telah keliru dan tidak mampu menjelaskan tentang latar-belakang turunnya ayat tersebut. Dalil-dalil yang digunakannya lemah. Secara historis, Emmy tidak mengecek kebenaran sejarah peristiwa tersebut. Ini tentu fatal.

Tradisi Muslimah ini sudah dilakukan dan terus berkembang dalam Islam selama 12 abad (600 – 1800 M), bahkan sebelum para pemikir sekuler Eropa menemukan konsep gender dan gerakan feminisme.

Artinya, Islam telah lama mendukung dan mengenal nash-nash yang berhubungan dengan kehidupan laki-laki dan perempuan. Pada saat wanita Muslim merasakan “kemerdekaan” mereka lewat keistimewaan yang diajarkan Rasulullah SAW, wanita Eropa justru saat itu masih terbelenggu sistem kastorian yang dikembangkan para bangsawan dan kaum terpelajar Eropa.

Ketika Aisyah menjadi salah satu tokoh utama dalam Islam dan memimpin pasukan melawan para penyeleweng agama Allah SWT dalam perang Jamal, di belahan bumi lain wanita Eropa dilarang terlibat dalam politik, bahkan sampai tahun 1800 wanita Venesia masih dilarang membaca buku.

Lantas apa yang hendak diperbandingkan di sini? Dalam opini saudari Emmy Astuti, diangkat sejumlah ayat untuk mendukung ide dan gagasan feminisme yang coba dikaitkannya dengan Islam. Ayat-ayat yang disebutkan itu benar. Namun ketika ayat-ayat ini merujuk klaim yang ditunjukkan untuk mendukung gagasan feminisme, terlihat jelas tidak tepat.

Sebut saja; Al-Mu’Min:40, At-Taubah:71-72, Al-Baqarah:187, An-Nahl:97, Al-Ahzab:35, adalah sekian ayat yang membicarakan kedudukan dan persamaan laki-laki dan perempuan dalam tataran keimanan. Sesuatu yang abstrak dan ukurannya hanya Allah SWT yang mengetahui. Padahal dalam gagasan feminisme dan gerakan gender, yang menjadi tuntutan adalah persamaan dan kedudukan secara harfiah dan fisik. Nash-nash ini tidak cukup untuk mendukung gagasan adanya paham gender dan feminisme dalam Islam.

Jadi benarlah, jika penggunaan ayat-ayat suci Al-Quran untuk sekadar menegaskan ide dan gagasan feminisme dan gender pada kaum Muslimah tidaklah tepat. Untuk hal di atas, sesungguhnya Allah SWT telah memperingatkan umat Muslim dalam firman;

“Maka sampaikanlah olehmu apa yang telah diperintahkan kepadamu secara tegas (terang-terangan), dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan kamu.” [QS (15): 95-95].

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” [QS: 15:9]

Untuk lebih jelas, mari kita tengok apa dan bagimana ide dan gagasan feminisme itu sesungguhnya. Sebagai produk sekulerisme Eropa, feminisme, gerakan gender dan kajian wanita mulai tumbuh sekitar awal tahun 1800. Sebagai gerakan abad pertengahan, feminisme di Eropa dilihat sebagai sebuah gagasan yang baru. Tidak mengherankan memang. Sebab pada saat itu, Eropa sedang dalam transisi politik dan reformasi pemikiran yang sangat hebat. Perang Dunia I dan Perang Sipil di Amerika mengacaukan tatanan politik, dan pada saat itulah ide dan gagasan feminisme seperti memperoleh peluang.

Jika Anda seorang feminis, pastilah Anda mengenal Simone de Beauvoir, salah satu peletak dasar feminisme. Maka ketika bukunya, The Second Sex, mengupas secara kompleks pemikirannya tentang feminisme dan gerakan wanita, seketika The Second Sex “dibaptis” menjadi buku wajib dalam pemikiran feminisme. Buku ini membantu para feminis untuk mengerti arti sepenuhnya tentang otherness (yang lain atau objek) perempuan. Kendati dalam peletakan konsep-konsepnya, Beauvoir juga dipengaruhi Jean Paul Sartre, di mana bagian filsafatnya yang paling dekat dengan feminisme adalah etre-pour-les autres, atau being for others (ada-untuk-orang lain).

Dan dalam pandangan Sartre, bahwa apa yang terjadi adalah pengalaman pada suatu saat “saya” sebagai objek mengobjekkan orang lain (saya subjek-orang lain objek) dan dapat juga terjadi “saya” sebagai subjek diobjekkan orang lain (saya objek orang lain subjek).

Dengan mengadopsi prinsip-prinsip eksistensialisme, terutama konsep etre-pour-autrui atau ada-untuk-orang lain, Beauvoir yakin bahwa antara hubungan dua jenis, laki-laki telah mengklaim dirinya sebagai jati diri dan perempuan sebagai yang lain, atau laki-laki sebagai subjek dan perempuan sebagai objek. Beauvoir menegaskan dalam The Second Sex, bila hal ini benar, itu berarti ada ancaman bahwa perempuan kelak ingin menjadi subjek. Jadi, bila laki-laki ingin terus menjadi bebas, ia harus mensubordinasikan perempuan, dengan menindasnya. (Simone de Beauvoir. The Second Sex (1949), terj. H.M. Parsley. Great Britain: Penguin Books, 1989).

Dalam buku yang lain, pemikiran Sartre tentang kebebasan dan Tuhan, dianggap sangat berbahaya dalam hubungannya dengan Akidah dan Tauhid dalam Islam. Konsepsi tentang kebebasan inilah yang merupakan penolakan Tuhan oleh Sartre. “Seandainya Tuhan ada”, kata Sartre, “tidak mungkin saya bebas. Seandainya Tuhan Maha Tahu dan Maha Segalanya, kalau begitu tidak ada lagi kreativitas kebebasan. Tuhan yang absolut itu akan menghancurkan kebebasan saya, karena itu Engkau saya tolak,” demikian Sartre. (Dagfinn Dagfinn, “Sartre on Freedom”, dalam Paul Arthur; The Philosophy of Jean-Paul Sartre; Jurnal Perempuan Edisi-2).

Tetapi, kajian wanita tidak sama persis dengan feminisme. Kalaupun keduanya dinyatakan sebagai hal yang identik, akan muncul pertanyaan baru: feminisme macam apa? Seperti kita ketahui, feminisme memiliki banyak aliran: feminisme marxis, liberal, radikal, psikoanalisis, sosialis, dan seterusnya. Namun demikian dapat dikatakan bahwa memang ada kaitan erat antara kedua hal tersebut. Feminisme sebagai gerakan politik di satu pihak dan kajian wanita sebagai kegiatan akademis di pihak lain, kerap tumpang tindih. Rumusan yang paling tepat mengenai hubungan antara kedua hal tersebut adalah perkembangan kajian wanita dirangsang oleh gerakan feminisme. (Sandra Kartika & Ida Rosdalina, Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, LSPP dan Asia Foundation, 1999).

Nah, kita telah menemukan titik-titik di mana dua kutub antara gagasan feminisme dan Keistimewaan Muslimah tidak dapat bertautan. Berbagai perbedaan mendasar dan bertolak belakang menjadi landasan pengertian ini. Bagaimana mungkin para feminis mendesakkan ide dan gagasan feminisme sekuler Eropa (kendati telah banyak pengaruh yang disebut sebagai feminisme yang Indonesianis) kepada perwujudan Keistimewaan Muslimah? Bagaimana mungkin para feminis menyebut diri feminis Muslim, sedang kedua hal ini tidak saling bertautan. Penggunaan istilah ini justru terdengar rancu bagi kalangan Muslimah.

Jadi Al-Quran tidak pernah mengulas tentang paham Gender, namun posisi perempuan dalam Islam adalah istimewa. Sesungguhnya Islam tidak pernah menutup diri terhadap ide dan gagasan lain di luar Islam, selama ide dan gagasan itu tidak bertentangan dengan hukum Al-Quran dan Sunnah Rasul. Bagi Ahlul Sunnah, sumber hukum itu terdiri dari Al-Quran dan Sunnah Rasul, tapi jika ada hal-hal baru, yang memerlukan ketetapan hukum, sedang dalam Al-Quran dan Sunnah Rasul belum ada jawabannya, maka hendaknya para pemimpin mereka melakukan Ijtihad-nya, baik dengan jalan Ra’yu maupun dengan jalan Qiyas. Demikianlah tuntunan Rasulullah SAW.

Sayangnya, ide dan gagasan feminisme dan tentunya paham Gender tidak ditemukan hukumnya dalam Al-Quran dan Sunnah Rasul. Karena sifatnya yang bertentangan dengan nash-nash Islam, bahkan untuk ijtihad terhadap ide dan gagasan feminisme sangat sulit dilakukan. Bahkan pula dengan jalan Ra’yu maupun dengan jalan Qiyas.

Ada pesan bijaksana bagi kaum feminisme; yakni jika hendak mengetahui keindahan arsitektur sebuah rumah, jangan hanya memandanginya dari kejauhan, kemudian membuat penilaian-penilaian, tetapi cobalah jejaki halamannya lalu masuklah dalam rumah itu. Kadangkala penilaian kita akan lebih objektif ketika kita berada di dalam daripada penilaian kita saat masih melihatnya dari kejauhan.

Jadi, jelaslah bahwa posisi dan kedudukan perempuan Muslimah telah menempati level dan tingkat kesadarannya sendiri, yang telah sesuai dengan Al-Quran dan Al-Hadist. Apa yang salah dengan pemahaman ini menurut gagasan feminisme? Tentu tidak ada, sebab Keistimewaan Muslimah sejatinya telah berjalan di jalurnya sendiri. Dan, seharusnya gerakan gender dan sekuler feminisme, silakan berjalan di jalurnya pula.

Bagi Muslimah yang merasa terus didesakkan dengan bentuk-bentuk syubhat, hendaklah bersabar dan mengingat firman Allah ini. “Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” [QS: 73:10]. ***

[Ilham Q. Moehiddin/www.hidayatullah.com]

Artikel ini dapat pula di baca di Majalah Hidayatullah: Islam dan Subhat Paham Gender.

Islam dan Sbhat Paham Gender (Ilham Q. Moehiddin - Hidayatullah)


%d blogger menyukai ini: