Tag Archives: ikan

[Film] Humanitarian and Environmental Narratives dalam Film Suara Dari Pesisir

oleh Ilham Q. Moehiddin

SEORANG remaja lelaki duduk di pasir, menghadap laut. Suaranya lirih oleh lagu yang ia nyanyikan berulang-ulang. Ia sedang menghafal lirik lagu yang disertainya dengan gerakan itu. Kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki—remaja lelaki itu mengulang-ulang lirik dalam bahasa Inggris. Sesekali ia lupa, lantas melirik catatannya, kemudian mengulang lagi dari awal. Bajo, nama remaja lelaki itu.

Suara Bajo terbawa angin ke telinga seorang lelaki lain. Ia berdiri tak jauh dari posisi duduk Bajo. Lelaki itu tersenyum, sebelum menyambung lirik lagu yang luput. Bajo terperangah dan lelaki itu mendekat, mengulurkan tangannya. “My name is Bonco,” ujarnya datar. Senyum Bajo merekah sebelum scene beralih disolve.

Scene pendek ini membuka film Suara Dari Pesisir, besutan sutradara Susilo Rahardjo. Tampaknya Susilo asik bermain-main dengan plot yang berayun cepat. Ia mampu mendorong beberapa karakter utama tampil menonjol di sepanjang film. Susilo beruntung, filmnya didukung sejumlah talent jempolan.

Sebut saja Al Galih yang memerankan tokoh Haseng (Ayah Bajo). Al Galih ini pemain watak jebolan Bengkel Teater Rendra. Arfina Rahmalia yang memerankan karakter Nurul/Ibu Guru; dan Peter H. Sumawijaya yang memerankan karakter Bonco. Tentu saja, jangan lupakan Erik, talent muda asal desa Bajo Labengki yang lolos casting untuk memerankan karakter Bajo, karakter utama film ini. Erik kemudian dilatih khusus untuk bisa memerankan karakter Bajo dengan baik. Kecuali Al Galih, Arfina dan Peter tergolong baru dalam seni peran. Kendati begitu, empat talent ini mampu berkolaborasi, bermain baik dan padu sehingga Anda nyaman menyaksikan akting mereka.

Tetapi, tidak saja kemampuan para talent yang bermain bagus yang patut mendapat pujian. Susilo mampu menggambarkan sisi lain dari keindahan alam dan kehidupan orang-orang Bajo—di gugus pulau Labengki—sekaligus masalah krusial lingkungan hidup yang menjadi meme kritis film ini. Labengki adalah gugus pulau-pulau karang kecil yang membentuk formasi unik dengan panorama yang indah. Keindahan alam di atas dan di bawah lautnya setingkat dengan gugus Raja Ampat di Papua. Satu hal yang membedakan dari kedua lokasi itu; di Labengki, Anda akan menemukan komunitas suku laut Bajo. Mereka menempati satu pulau utama di antara gugusan pulau-pulau kecil karang itu. Soal bagaimana orang-orang laut ini berada di daratan, barangkali itu menjadi hal menarik lainnya.

Saya pikir, sebagai sutradara Susilo memahami betul masalah-masalah yang ingin ia tampilkan dalam film ini—yang ide cerita dan skenarionya ia tulis sendiri. Bagaimana Susilo mengarahkan ceritanya berjalan alami? Atau seperti apa ia mendorong isu-isu sentral itu menyisi di sepanjang film dan tidak sekadar menjadikannya sampiran belaka.

Rangkaian gambar yang baik itu tidak akan terwujud tanpa peran Director of Photography & Cameratographer Yoel Zakka. Footage yang rapi dan ditampilkan berlapis-lapis di sepanjang film paling tidak diambil dengan dua jenis kamera berbeda. Beberapa gambar tampak shake, tetapi tampaknya itu disengaja untuk menjaga continuitas settingnya. Pengambilan gambar sudut tinggi (extreme high shoot) dengan menggunakan drone tidak berubah serupa aksesoris belaka di sepanjang film, namun mampu membantu memberi gambaran besar perihal lokasi dan kaitan isu lingkungan yang juga diusung film ini.

Orang Bajo dalam Film Indonesia

Tidak banyak film Indonesia yang mengangkat kehidupan laut sebagai latar belakang ceritanya—pun suku laut, suku Bajo. Dua di antara yang sedikit itu adalah The Mirror Never Lies garapan sutradara Kamila Andini, dan yang lain adalah Suara Dari Pesisir karya sutradara Susilo Rahardjo. Keduanya sutradara muda. Meski kedua film ini mengusung format berbeda—The Mirror Never Lies berformat film panjang dan Suara Dari Pesisir berformat film pendek—namun keduanya berusaha memotret keunikan kehidupan laut beserta orang-orangnya dari kacamata yang aparsial.

Saya bertemu Kamila di Bali pada tahun 2013, dua tahun setelah The Mirror Never Lies di rilis. Seusai diskusi yang kami hadiri sebagai pemateri, di halaman Left Bank Ubud, kami berbicara banyak soal filmnya itu. Menurutnya, kehidupan laut dan orang-orangnya adalah sesuatu yang seksi diangkat dalam layar lebar. Proyek itu sendiri digarap di Wangi-Wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara dan berakhir pada tahun 2011. Putri sutradara Garin Nugroho ini mengangkat pendidikan sebagai tema sentral filmnya. Ada masalah besar dalam pemerataan pendidikan di Indonesia, menurut Kamila—dan itu benar-benar tampak di banyak komunitas yang nyaris tidak tersentuh oleh kebutuhan dasar ini. Seolah-olah negara tidak hadir di antara mereka dan mereka harus berusaha sendiri menemukan “negara” dengan meninggalkan laut sebagai komunitasnya dan penopang kehidupannya.

Tentu saja, dengan mengekspos kesenjangan ini, bukan berarti hendak mempermalukan pihak-pihak terkait. Ini hanya sebuah autokritik, dan saya pikir, apa yang berusaha didorong oleh para sineas sebagai tema sentral di dalam film, juga berfungsi seperti alat menuju solusi yang bersifat afirmatif. Sehingga kemudian saya melihat hal yang sama pada Suara Dari Pesisir produksi Koheo Films Kendari. Sebuah film yang hendak mendorong komunikasi dua arah dengan cara yang baik.

Forsdale menulis; communication is the process by which a system is established, maintained and altered by means of shared signals that operate according to rules. Bahwa komunikasi adalah sebuah proses di mana sistem terbentuk, dipelihara, kemudian diubah dengan tujuan bahwa pesan-pesan yang dikirimkan dan diterima akan dilakukan sesuai aturan.

Nah, persoalan serupa juga tampak sebagai salah satu isu di Labengki, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara—di mana menjadi setting utama film Suara Dari Pesisir. Pemilihan lokasi tentu bukan kebetulan. Sebagai pemilik ide cerita, Susilo Rahardjo, sepertinya telah memilih Labengki (dengan komunitas Bajo di sana) sebagai setting yang tepat untuk mendorong gagasannya. Labengki dengan lingkungan alaminya; Labengki dengan keindahan panorama bawah lautnya; Labengki dengan species Kima terbanyak di dunia, sekaligus satu species Kima Raksasa (Giant Clam) terlangka di dunia; dan Labengki dengan besarnya potensi remaja putus sekolah. Hanya ada satu sekolah di sana, sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang berdiri di satu atap. Untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, setiap anak Bajo harus ke kota kabupaten yang jauh jaraknya. Maka persoalan kian menjadi rumit saat remaja-remaja Bajo ini pergi bersekolah ke luar desa; tidak ada lagi yang membantu setiap orangua mereka melaut untuk menghidupi keluarga. Bagi setiap kepala keluarga itu, kerumitan ini perlu solusi yang cepat dan mudah—mereka kemudian melakukan aktivitas destructive fishing dengan membom ikan.

Cerita yang baik adalah cerita yang ditopang data. Aktivitas destructive fishing dengan membom ikan akan merusak terumbu karang Labengki, sekaligus mengancam 88% terumbu karang di Asia Tenggara. Susilo jelas telah melakukan riset untuk ceritanya, sehingga ketika gagasan ini dikemas ke dalam bentuk film, maka Suara Dari Pesisir menjadi alat kampanye yang sangat edukatif untuk siapa saja.

Bajo, remaja yang sedang dikepung kekhawatiran karena beberapa masalah yang hampir pasti akan menghambat cita-citanya kelak, bertambah cemas mendapati kenyataan bahwa ayahnya mengambil jalan pintas menjadi nelayan pengebom ikan. Jiwa Bajo terusik. Ia protes dengan membuang botol-botol peledak ke laut yang bahkan belum sempat digunakan ayahnya, dan ia mau menerima kemarahan ayahnya akibat tindakannya itu. Tetapi ia tidak bisa menerima saat sang ayah membuang bukunya ke laut. Apa yang kemudian dilakukan Bajo? Bagaimana sikapnya? Pesan apa yang hendak dikirimkan Susilo kepada Anda semua? Nah, Anda harus menonton film ini untuk menemukan jawabannya.

Kolaborasi apik juga tampak dari kerjasama tim produksi Koheo Films Kendari. Saya menyukai cara Susilo membangun perubahan sikap Ayah Bajo terhadap anak lelaki satu-satunya itu. Sutradara Susilo Rahardjo, DoP & cameratographer Yoel Zakka, tim artistik dan tata cahaya—juga kru produksi lainnya—berhasil menerjemahkan keinginan cerita dalam gambar yang lembut, low noise, dan momen yang tepat. Semua plot dalam cerita seperti berhimpun di satu frame itu—menurut saya, inilah frame yang menjadi kesimpulan jalan hidup Bajo, sekaligus memuat pesan utama di film Suara Dari Pesisir. Frame ini bahkan mampu membuat saya terharu. Cara mengakhiri konflik yang baik dalam cerita dengan frame yang bagus sekali.

Film ini sekaligus membenarkan apa yang dicatat Johannes Paulmann, peneliti di Leibniz Institute of European History, Mainz, saat Kolokium Berlin ke-21 tentang Sejarah Kontemporer di Forum Einstein, Potsdam, 3 Desember 2015 silam. Bahwa pendidikan dan lingkungan hidup serta lingkungan sosial adalah hak suaka; bagian besar dari kemanusiaan. Sebuah konvergensi logika yang menghadirkan perspektif yang selalu tidak memiliki penjelasan yang cukup. Kritik sosial berubah menjadi gerakan yang meningkat dan membawa integrasi sosial ke dalam perdebatan publik.

Kehidupan sosial dan sejarah masyarakat tempatan pasti memiliki segudang kisah, sebuah narasi unik di tengah “kebisuannya”. Maka film—sebagai sebuah afirmasi—maju ke depan untuk bersama-sama mengidentifikasi masalah dan menawarkan solusi secara naratif. Film sebagai sebuah medium sebaiknya tidak kekurangan bahasa untuk menafsirkan gejolak, gerak sosial dan sejarah masyarakat tempatan. Apa yang kemudian tampak menonjol dalam film Suara Dari Pesisir? Ya, humanitarian and environmental narratives, sebuah narasi kemanusiaan dan lingkungan hidup orang-orang Bajo yang kini hidup dan menjadi bagian dari masyarakat pesisir.

Film Suara Dari Pesisir punya cita-cita besar selain sebagai proyek prestisius dalam diri setiap kru yang terlibat dalam produksi. Menurut Tirtayasa, produser film Suara Dari Pesisir, film ini memang dipersiapkan untuk sebuah misi besar; menegasi masalah, dan memperkenalkan Labengki sekaligus mendorong Pariwisata Sulawesi Tenggara ke level Nasional dan Internasional. Selain misi pendidikan dan lingkungan hidup yang tidak kalah pentingnya.

“Kami menargetkan Suara Dari Pesisir bisa ikut berlaga di beberapa Festival Film Internasional di tahun 2017 ini, antara lain; Cannes Short Film Festival, New York International Short Film Festival, Los Angeles International Short Film Festival, Oneota Film Festival Japan, Berlin Short Film Festival, dan beberapa festival film dalam negeri, seperti Festival Film Indonesia dan XXI Short Film Festival,” jelas Tirtayasa didampingi Joanne dan semua kru produksi sesaat sebelum premiere film ini untuk kalangan terbatas.

Saya yakin, dengan kekuatan gagasan, penceritaan dan semua hal yang terkait teknik sinematografi, film Suara Dari Pesisir dapat meraih minimal dua-tiga penghargaan di ajang Internasional dan Nasional yang akan mereka ikuti.

Saya merekomendasikan Suara Dari Pesisir ini sebagai film yang humanis, menghibur, dan mampu mendorong perubahan sikap pada diri setiap orang untuk berbuat yang lebih baik. Saya memberinya empat bintang. Bravo!

Film Suara Dari Pesisir akan tayang mulai 1 Juli 2017 nanti. Dari total pendapatan film ini, 25% akan kembalikan berupa sumbangan untuk sarana pendidikan di SD dan SLTP Labengki. (*)

 

Ilham Q. Moehiddin

Film reviewer, Penulis prolifik, dan Sastrawan Indonesia

 

Judul Film: Suara Dari Pesisir.

Pemeran: Erik sebagai Bajo; Al Galih sebagai Haseng/Ayah Bajo; Arfina Rahmalia sebagai Nurul/Ibu Guru; Peter H. Sumawijaya sebagai Bonco.

Sutradara: Susilo Raharjo.

DoP & Cameratographer: Yoel Zakka.

Produser: Tirtayasa & Joanne.

Produksi: Koheo Films Kendari, 2017.


[Cerpen] Hikayat Kota Orang-orang Putus Asa | Jawa Pos | Minggu, 31 Mei 2015

Hikayat Kota Orang-orang Putus Asa

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilustrasi Cerpen Jawa Pos Minggu 31 mei 20152

1/

Berjalanlah ke selatan, akan kau temui sebuah kota, di mana orang-orang putus asa tinggal. Kota yang memiliki telaga kecil dengan kilauan di permukaannya. Telaga yang mengisap harapan. Konon, tak ada ikan di dalamnya. Telaga yang hanya memantulkan cahaya merah rembulan, dan tepiannya ditumbuhi lumut putih yang bertangkai sebesar lidi kelapa dengan bola-bola berlendir pada ujungnya.

Orang-orang putus asa di kota itu menamai telaga kecil mereka —Telaga Dosa.

Konon, orang-orang putus asa terjun ke telaga itu, lalu mati karam ke dasarnya. Kematian telah mengubah suasana di sekeliling telaga itu menjadi suram. “Jangan coba-coba kau ungkit kisah ini. Orang di sana tak suka. Pamali!” Kecam para Apua (Tetua Adat).

Larangan itu harus dipatuhi semua orang dari luar kota itu. Tetapi, larangan itu mencungkil keingin-tahuanku. Pada satu-satunya Penujum di sini, kutanyai ia tentang kisah Para Pendahulu dan telaga itu. Bukan cerita yang kudapatkan darinya, justru diberinya aku amarahnya. Penujum tua itu melotot, menghumbalangkan panci ramuannya, lalu buru-buru mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang. Diusirnya aku saat itu juga.

 

2/

Ikutilah jejak ular pasir di gurun itu, kau akan tiba di kota yang ditinggali orang-orang putus asa. Orang-orang putus asa dari segala penjuru negeri datang ke kota itu untuk membuang diri. Melunta-luntakan hidup mereka yang mereka kira telah habis harapan itu.

“Sudah aku katakan jangan kau ungkit-ungkit kisah Para Pendahulu. Kelakuanmu itu sangat terlarang!” Begitu jengkelnya Apua saat mengetahui perbuatanku.

Penasaranku telah menyusahkannya. Tetapi, siapapun yang dilarang dengan nada kalimat macam itu, maka bohong besar jika ia tak terpancing keingin-tahuannya.

Wahai, pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang

Begitulah peringatan diejakan pada anak-remaja yang beranjak dewasa dan setiap orang yang datang. Kalimat yang disampaikan dari generasi ke generasi. Jika kau berani mempermainkan kalimat itu, kau akan segera mendapat cap makhluk paling laknat yang pernah hidup di antara orang-orang putus asa.

“Kota itu kosong sebelum orang-orang putus asa datang. Keputus-asaan telah mengikat orang-orang di sana. Tiada harapan bisa kau temukan, kecuali kecurigaan belaka.”

Apua menceritakan suatu peristiwa; tentang sekumpulan kecil orang datang ke kota itu, lalu dengan dalih reformasi mereka coba-coba mengubah kalimat keramat yang telah dipahatkan di tugu pembatas kota. Seketika mereka dihujat karena menista Para Pendahulu, dituduh telah berbuat amoral dengan memberikan harapan pada orang lain.

—Satu-satunya moral yang diterima di kota ini hanyalah keputus-asaan.

Sekumpulan kecil orang itu dimahkamahkan, lalu diarak ke tepian Telaga Dosa. Kemudian, seseorang dari mereka dijadikan contoh buat semua orang yang hadir di situ. Ia dianiaya hingga kepayahan, sebelum dilemparkan ke tengah telaga. Ia karam mati di situ. Mayatnya dikuburkan di luar tapal batas kota.

Hukuman yang paling menakutkan bagi penduduk kota itu bukanlah mati ditenggelamkan, tetapi dikuburkan di luar kota. Hukuman itu adalah pembantaian atas marwah mereka sebagai orang-orang putus asa.

 

3/

Jika kau mengikuti bayangan burung Nasar yang sedang terbang, maka kau akan tiba di gerbang kota yang dihuni orang-orang putus asa. Orang-orang yang merendahkan dirinya serendah-rendahnya. Orang-orang di kota itu bersedia membunuh hanya karena setitik harapan yang coba diterbitkan. Mereka hanya setia pada kalimat yang terpahat di tugu batu di batas kota.

Wahai, pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang

Ada masanya mereka melakukan sebuah ritual perjalanan suci. Orang-orang putus asa di kota itu memulai napak tilas dari tugu batu di batas kota, melafazkan kalimat keramat dengan sungguh-sungguh, berulang-ulang, sehingga perjalanan itu selesai di tepian telaga.

Tiada sesajian, karena tak ada yang bisa mereka sajikan dari tanah kota yang tak pernah mereka garap. Mereka menghabiskan apa yang ada dan tak peduli jika kelak punah apapun yang ada di atas tanah kota itu. Tiada doa yang dipanjatkan, sebab harapan tak dibutuhkan.

—Harapan adalah dosa maha besar di kota itu.

Di tepian telaga, mereka mencukuri rambut di kepala mereka untuk dilarung ke dasar telaga. Demi kepatuhan, orang-orang putus asa itu akan memakan bola-bola jamur putih berlendir yang tumbuh di sepanjang tepian telaga. Entah seperti apa rasanya. Barangkali, rasa aneh berlendir dan pahit luar biasa itulah yang mengubah wajah mereka menjadi jeri dan takut, seperti menahan dera siksa yang paling maut. Mereka kerap pingsan seusai memuntahkannya kembali.

Apua bilang, mereka sangat menikmati keterasingan. Menikmati derita dari kematian Para Pendahulu melalui bola-bola jamur putih berlendir itu. Ada kalanya, satu-dua orang mengamuk karena kerasukan sesuatu; memukuli tubuh sendiri dengan benda tajam dan merasa sedang menikmati keputus-asaan yang diberkatkan kepadanya. Darah dan luka adalah keputus-asaan tanpa batas.

Tapi itulah harga sebuah kepatuhan —kata Apua.

 

4/

Aku mengikuti sebentuk awan kelabu yang berarak ke selatan, sehingga sampailah aku di depan gerbang kota orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang menerima kekalahan, sekaligus tak memberi apapun melebihi keputus-asaan mereka sendiri.

Seperti apa yang mereka sampaikan kepada setiap orang yang datang ke sini, kepadaku pun mereka sampaikan larangan yang sama; jangan sekali menanyakan perihal telaga di tengah kota ini dan kenapa para pendahulu memilih kekal ke dasarnya.

—Itu bukan untuk didiskusikan. Pamali!

Tetapi, seringnya larangan itu diulang-ulang membuat kesabaranku terkikis. Keingin-tahuan mendorongku datang pada satu-satunya orang yang memiliki jawaban. Ya. Si Penujum tua itu. Namun ia seketika melotot, menendang panci ramuan hingga terhumbalang, mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang seraya mengoceh tak putus-putus. “Pamali, pamali, pamali—”

“Informasi itu penting untuk cerita yang sedang aku tulis,” ujarku memohon.

“Memangnya kau siapa hendak menulis sesuatu yang kami larang—?” Si Penujum tua berteriak dari bawah selimutnya, “—cukuplah bagimu apa yang terpahat di tugu batu di depan kota ini.”

“Baiklah, jika Tuan tak mau,” aku menenangkannya, “—tapi katakanlah pada siapa aku bisa mendapatkan keterangan tentang itu?”

Seketika si Penujum tua keluar dari tumpukan bulu Beruang. Seperti baru saja tergigit seekor Semut Api Amazon, matanya merah karena terbakar amarah. “Pergilah! Jangan sampai aku mengadukanmu pada para Pengawas Kota. Akan aku lupakan bahwa kau pernah ke sini dan melontarkan kekotoran dari mulutmu. Pergilah!”

Bukankah telah jelas —siapapun yang dilarang dengan kalimat seperti itu, maka ia pasti berbohong jika rasa penasarannya tak terpancing.

Aku keluar dari rumah si Penujum tua. Aku hendak menjemput jawaban dari orang-orang putus asa lainnya di kota ini. Aku hampiri mereka satu per satu. Aku singgahi setiap tempat mereka berkumpul.

 

5/

Mendongaklah —saat kau mendapati bulan berwarna merah di ujung gurun, maka sinarnya akan menuntunmu ke kota yang dihuni orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang membunuh setiap pertanyaan perihal leluhur mereka, tentang keanehan telaga, tentang kepatuhan yang tak boleh diungkap.

“Tidakkah kau baca pahatan di tugu batu di depan gerbang kota ini?” Seorang Pengawas Kota memuntahkan amarahnya ke wajahku. Aku kini berada di mahkamah yang disesaki orang-orang putus asa.

Aku memprotes mahkamah ini. Tak ada perlunya mereka mendakwaku untuk hal yang tak aku pahami. “Tapi aku tak memahami maksudnya—”

Orang itu mendelik. “Kau tak perlu memahaminya. Kau hanya perlu mematuhinya.”

“Bagaimana aku mematuhi sesuatu yang tak aku pahami?” Aku mendebatnya.

“Kau mengganggu keteraturan di kota ini dengan berbagai pertanyaan yang kami larang.”

Aku menegakkan punggung. “Jadi? Apa yang nantinya akan kuceritakan tentang kota ini?”

Pengawas Kota itu mengangguk tegas. “Tidak ada —terima saja keadaan kami. Kau tahu, kau tak patut memaksakan keberatan atas apa yang telah kami lakukan turun temurun.”

“Aku tak memaksa. Hanya ingin jawaban.”

“Apa bedanya? Bukankah kau sedang berusaha membuat kami melanggar sesuatu yang kami haramkan—?”

Aku terdiam. Wajah si Pengawas Kota tiba-tiba sinis, “—karenanya, kau akan kami hukum!”

“Tunggu—!” Aku berdiri, “—aku bahkan bukan warga kota ini.”

Tetapi Pengawas Kota tak hirau lagi. Ia menoleh pada empat Pengawas Kota lain yang telah menganggukkan kepala mereka padanya.

“Kalian!” Pengawas Kota itu menunjuk dua orang di belakangku, “bawa orang ini ke telaga!”

“Tunggu dulu—!” Aku menolak perlakuan mereka. Tetapi, orang-orang putus asa itu tak peduli. Mereka menggamit lenganku, memaksaku berjalan menuju telaga. Orang-orang putus asa lainnya mengekori kami seraya mendengungkan kalimat keramat.

Wahai, pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang

Para Pengawas Kota memerintahkan agar aku dicampakkan ke tengah telaga. Tubuhku tercebur, membenam beberapa saat. Tanganku menggapai-gapai di permukaan air, berusaha sekuat tenaga menuju tepian. Tetapi air telaga itu seperti sedang mencarak semua harapanku, menarik tubuhku untuk dikaramkan ke dasar telaga.

Aku bukan salah satu dari orang-orang putus asa di kota ini. Aku tak ingin mati di dasar telaga. Walau kepayahan, aku berhasil menggapai tepian telaga. Seorang gadis muda berjongkok di atas tubuhku yang sekarat itu. Kata-kata seperti hendak berlompatan dari bibirku.

“Kau tahu —jawaban yang kalian cari ada di dasar telaga ini. Mungkin aku tak akan sempat lagi menuliskannya dalam ceritaku.”

Gadis itu nyaris tak mendengar gumamku. Ia mendekatkan telinganya.

“Jangan dengarkan apa yang mereka ingin agar kau percayai.”

“Ada apa di bawah sana?” Gadis itu mendesak.

“Di bawah sana banyak ikan —banyak sekali,” suaraku nyaris hilang. “Harapan lebih banyak di dasar telaga ini daripada di atasnya, di kota yang mengepungnya. Kau harus tahu bahwa di bawah sana tak ada jejak Para Pendahulu.”

Gadis itu terpana, sebelum cahaya pergi dari bola mataku. (*)

 

Molenvliet, Januari 2013


[Short Story] The Boat Thief | Republika | Sunday, May 1, 2011

The Boat Thief

By Ilham Q. Moehiddin

Translated by Suzan ‘Sue’ Piper (Australia)

mencuri-perahu

1/

AMA, am I really the daughter of a fish?”

“Who called you something like that!” Ama Bandi was furious hearing his 15 year old daughter, Ripah’s question. His knuckles stiffened, ready to punch someone at any moment.

“The people in the market let their children make fun of me,” Ripah explained. His face paled when her father, Ama as she called him, filled with rage. Bandi jumped up from his chair, to quickly open the knife sheath and take down the Taa blade from where it hung.

“There’s no point in you paying attention to them. It doesn’t matter to me.” Commented Ripah at her father’s tantrum.

Ripah’s flat tone made Bandi cease his movements, his face surprised, his rage suddenly subdued. “Why, Ripah?” Bandi squatted, placing the Taa blade on the floor, then gazed at his daughter, “I’ll defend you if someone mocks you like that.”

“There’s no need. Your actions will only encourage them. It’ll make me even more embarrassed.” Said Ripah wiping her tears.

Bandi’s face was bowed. He drew a deep breath.

“Ripah… there’s no need for you to listen to people’s nonsense. There’s no such thing as the child of a fish. Humans give birth to humans of course.”

Ama Bandi tried nicely to invite his daughter to talk.

Ripah immediately stood up, glared at her father, then walked in to the kitchen. Bandi got up from his crouch, hung the Taa back on its hook and walked to the window sill. His eyes swept the edge of the Talaga Besar beach where the west wind blew fiercely.

It had already been a week since he had gone to sea. Just like most of the other fisherman. Many of them did not dare to go dawn to the sea during the season of the west wind. Yet, for certain reasons, occasionally some would dare to risk their life at sea. But, Bandi did not want to take such a risk. Ripah was his only child and she was not married yet either. His wife had passed away a long time ago giving birth to Ripah.

2/

When Ripah was still a little baby, Bandi had almost lost his faith hearing all the gossip people tatled about his wife. Who knows what sort of devil had entered the heart and mind of Salamah, his wife, that she did such a reckless thing.

After giving birth, even before the baby’s placenta had emerged, Salamah had suddenly got up from her bed and jumped out of the house, running for the beach. Bandi had no idea how fast she could move. He did not catch up with his wife; it was too late for him to stop her from plunging into the sea. Her body immediately vanished swallowed by the huge waves. This also heppened excatly during the west wind season.

Bandi suspected his wife had gone crazy thingking about their family’s finances. The long west wing season had made both the husband and wife restless. Bandi needed money to pay for Salamah’s giving birth, but instead his wife had stopped him from going to sea.

Going forward was impossible, and unfeasible. They were both truly between a rock and a hard place. That is probably why Salamah did not think it through but killed her self instead in such a crazy manner.

For one full night all the men in the fishing village, including Bandi, went searching for Salamah’s body. The baby was left with the village midwife who had helped Salamah give birth. Until early morning they had not found Salamah’s body. It was not her body they found near the beach but a fish, an ikan duyung, behaving strangely.

It was swimming back and forth near the beach. Occasionally it would push half its body to the water’s surface, then make a sound. The people who were busy looking for Salamah’s body tried to drive it away, but it still would not go. Who knows where the fish had come from.

Bandi had no problem with the fish being there. What concerned him was not that, but the people’s gossip that emerged three days later. None of the male inhabitants had stopped searching for a week, but nor had the mouths of the village women stopped gossiping.

They had began to consider the presence of the ikan duyung as Salamah’s reincarnation. As time passed the gossip grew wilder and Bandi’s name also began to be linked with it. “You can see why their life was difficult. Seems like he married an ikan duyung.” So a woman gossiped.

“They bring bad luck to fisherman, right? They must be chased away if they approach the boats. What do you know Bandi merried one instead?” Snapped another women. Then, they busily occupied themselves gossiping about it.

Then they began to talk about Salamah’s baby who had not even yet been given a name. They began to forbid anyone going to see Salamah’s baby. Don’t want to get bad luck, they said. If they met Bandi nursing his baby in front of the house, they would hurriedly pass by without saying hello. In fact they did not even turn their heads.

It was this that had always worried Bandi. From the beginning, he had always suspected this time would come. Ripah would finally have to face this situation and the old-fashioned attitude of the people around them. Bandi too before had tended to believe in that sort of superstition, but since he had learned to read via the Paket-B program, slowly he had to discard many of those superstition that just did not make senses.

But, Ripah. What hope did a teenage girl of her age have facing the ridicule and gossip of the villagers. What had just happened in the market increased Bandi’s concern.

3/

“Ripah!” Bandi called from the living room.

There was no reply from his daughter’s room. The time for magrib or dusk prayers had just passed. Bandi headed for the kitchen. His stomach needed filling. The fragrant smell of vegetables cooked in coconut milk wafting from the kitchen strongly stirred his tastebuds. But Ripah was not in the kitchen. Ah, perhaps the child was fetching water, filling the tub at the back of the house. Bandi decided to eat first. It if got cold, the coconut milk vegetables would no longer taste delicious.

He had just devoured half a plate, when something alarmed him. His blood run fast. He jumped from his chair, abandoning his food just like that. Without even touching the steps, Bandi jumped down and shouted to his younger brother who as it happened lived right beside his house.

“Bakri…come out! Come out, Bakri…!!”

Bakri appeared sticking his has out of the windows. “What’s up?! Why are you shouting like this at night?”

“Come down! Help me find your niece. Find Ripah! My oars are missing. My boat’s been stolen!” Shouted Bandi in reply.

Bakri’s face grew pale. Paying no attention to his wife, he too jumped down from his house and run after Bandi who had first run towards the beach. Who knows what difficulties his niece was now facing.

Villagers who had also heard Bandi’s shouts came out of their houses. They stopped Bakri asking, “what’s going on with you?”

“Bandi’s oars are missing!” Bakri shouted briefly, running after his older brother.

The men also grew pale. They did not waste time but joined in running after Bakri and Bandi. It was only the men in that villages who sympathised with Bandi’s family. They ignored their wive’s requests not to socialise with Bandi.

Arriving at the beach, Bandi immediately went to where the boats were moored. Bakri together eith two other men gathered dried coconut fronds, weaving them tightly together, folding the ends into two. They made torches, divided them among all the men who came to help.

After being lit, they began to comb the beach calling out Ripah’s name repeteadly. Their voices competed with the volume of the breaking waves. Bandi found Bakri. “My boat’s not at its moorings,” he said anxiously. His face was sweaty and his eyes were wild. “What’s happening?” He asked in a panic.

“Untie some boats and prepare the petromaks. We have to find Ripah this very night!” Bakri ordered. Bandi hurriedly followed his younger brother’s command. He found it difficult to think at this moment. Luckily his brother was calmer than him.

As he ate earlier, Bandi’s heart had almost stopped when he saw his oars no longer hanging from their hooks. When a fisherman does not go to sea, the oars are hung up in their spot. Especially now it was the season of the west wind. At such a season, the boats are moored rather far from the beach edge. Because if the water rises, sometimes boats that are not tethered at their moorings will be swept off to sea. Even when moored, if the water reaches them, the waves can still smash one boat against the other.

When Bandi realised hias oars were no longer in their place, there was no doubt it was Ripah who had taken them. Oars must be one with their boat. If the oars are missing from their hooks, that is a sign that the boat is missing stolen.

Ripah had pushed the boat herself to sea when the waves were at their highest. The teenager did not know what dangers awaited her.

The villagers had already gathered at the beach. They had each brought a lamp so the beach was now bright from their light. Most of the women’s faces held anxiety, seeing their husbands and adult sons side by side helping Bandi and Bakri follow Ripah out to sea.

Waves occasionally beat hard at the beach edge, almost overcoming their attempts to launch the boats. They desperately held onto the boats so they stayed afloat and did not fill with the seawater that slammed into them repeatedly.

They departed in small groups, three boats at a time. Each boat containing two people. Bandi had already preceded them and was now already far at sea. Then another group was launched. Bakri was in the third group. Then the fourth and fifth groups followed. One boat from the fourth group was almost unable to follow after being overturned and struck side-on by a wave.

Fifteen lamps now flickered at sea. The sounds of their calls competed to overcome the fierce roar of the waves. When they arrived at the meeting point, each boat spread out within a radius that slowly grew wider and wider. Their lamps now were like fireflies spreading over the water’s surface.

Bakri had said if they found Ripah’s boat to quickly signal with the lamp seen in the distance. It seemed a boat had just found  something. Hopefully not Ripah’s body or the broken remains of the boat.

On seeing the signal, all the boats slowly moved closer. Bandi whowas closest to the position of the signalling boat, had drawn closer first. The man almost broke out in tears on seeing his daughter safe. Ripah’s boat had almost filled with water and her oars were not there. The first fishermen to find Ripah had tied the girl’s boat to their boat and were scooping out the water.

“Ripah…! What’s the matter with you, Child? Why did you behave like this?!” Shouted Bandi trying to question his daughter over the wave’s roar. Ripah only glanced at her father , the her eyes went back to combing the water’s surface. As if she no longer paid attention to her surroundings.

“That big fish took Ama’s oars,” said Ripah briefly.

“What fish?! Why are you doing this?” Asked Bandi again.

“I want to find Ina. My Ina appeared here, near the boat, then she grabbed Ama’s oars and took them away.”

“What are you talking about now?” Bandi began to lose patience. He shook Ripah’s body to make her aware.

But Ripah was silent again. Her eyes continued to sharply roam trying to penetrate the dark night at sea. Now all the boats had each drawn close. Bakri jumped to the boat where Bandi and Ripah were. His hands clutched his niece.

“Ripah, what are you doing?” He asked , his face soft.

Ripah looked at her uncle’s face. Her tears suddenly fell. Weeping, Ripah still tried to look towards the ocean. “I want to look for Ina. Because the people in the market said, my Ina is an ikan duyung and I am her daughter, bringing bad luck.”

Bakri bowed. And Bandi fell to his seat holding his head. The man cried for the first time. He had never even done that when his wife went missing 15 years earlier.

“Why do you listen to that those people say. I’ve told you countless times, just listen to your Ama. Your Ama knows more about this all than those people.” Bakri tried to coax Ripah.

Ripah shook her head firmly. “No. Those people are right. Ina came to me earlier, swimming beside my boat. She pushed the boat to his place, but she grabbed the oars and took them away.”

“No, Ripah. Your Ina is not a fish. No fish can give birth to humans.”

Ripah suddenly turned away from her uncle. Her face showed she was unhappy with what her uncle had just said. Ripah then moved to the boat’s edge. As she held it her eyes now wildly kept watch over the water’s surface.

Bakri drew a heavy breath. He got up and turned his hand in the air. That was a signal for all the fishermen to return to the beach. This night had already been hard enough for them all. They could just settle Ripah’s problems on land.

The groups of boats slowly broke up and one by one they headed for the beach, Ripah now together with her father in their boat. Her father had borrowed some oars and the boat was tied to the back of Bakri’s.

About 200 metres from the beach, from who knows where it came, an ikan duyung suddenly emerged swimming to the right of Bandi’s boat. Occasionally it would dive and reappear on the other side.

Ripah who had noticed it first, unrestrained, threw herself into the ocean. As if she wanted to follow the ikan duyung.

Bandi, who had been caught off-guard, also jumped into the water. But a wave from behind the boat crashed into his body, rolling him, so that he had to quickly grab the boat’s outrigger to stay afloat. But Ripah’s body could not be seen. Bandi shouted to Bakri, “Ripah’s jumped into the seal,” he exclaimed.

Bandi dived again. Bakri followed jumping from the boat. The two of them, older and younger brother, dived over and over again looking for Ripah’s body. The two people in Bakri’s boat also jumped in trying to help Bandi dan Bakri. For several minutes they searched for Ripah trying to resist the pounding waves, until finally Bakri gave up.

Bakri pulled at Bandi’s body, trying to float on the waves that pushed them boat and the two others towards the beach. Bandi submitted. He let his body be dragged by Bakri towards the beach. On the sand, the man wept.

4/

For the next four days, the people were still carrying out the search for Ripah, But, just like her mother before, Ripah was never found again.

Since that day, Bandi would often spend his afternoon at the water’s edge, sitting on his moored prow. His eyes continously swept the water’s surface, as if trying to find the tracks of his two sweethearts. When his younger brother, or other people asked him to come home, Bandi just replied to them expressionless.

“I’m guarding my boat so the fish don’t steal it,” he replied curtly. (*)

Molenvliet, April 2011.

Note:

Ama: father (in the language of the Moronene People)

Taa: the short machete typical of the Moronene People.

Ikan Duyung: a type of saltwater irawaddy dolphin, in some legends also believed to be a mermaid.

Petromaks: a pressurised-paraffin light.

Ina: mother (in the language of the Moronene People).

Source from Through Darkness to Light: A Bilingual Anthology of Indonesian Writing (10th Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), 11-15 October 2013)

—————

About Suzan Piper (Sue) Piper

Suzan Piper_02

SUZAN PIPER

Award Winning Indonesian Translator

Sydney, New South Wales, Australia

In Indonesia, I worked for 6 years in World Bank funded training projects in the public sector and 4 years as a manager in the education services and marketing sector. I have taught translating and interpreting at the University of Western Sydney and Petersham TAFE. In early 2003 I completed the Judicial Training Program, University of Melbourne, conducted by the Asian Law Group for Australian Legal Resources International, and have since interpreted for various parties of senior visiting Indonesian judges and public prosecutors. I have also convened a oneday seminar at UNSW on interpreters and legal professionals working together and have been twice asked to speak to members of the Sydney Refugee Review Tribunal on professional collaboration with interpreters. I frequently interpret at tribunals, local and district courts up to the federal court level.

I have provided translation and interpreting services for multinational agencies, Australian government, corporate and private clients. Clients include the World Bank (Conflict Resolution – see * below), Australian Federal Police, Legal Aid NSW, NSW Crime Commission, Asian Law Group, Commonwealth Director of Public Prosecutions, Autore Group (pearling), George Lombard Consultancy, the ABC (Four Corners), SBS (Dateline) and commercial TV current affairs programs (including live to air translation of Suharto’s resignation speech and the sentencing of Amrozi, the ‘Bali bomber’.) For over a decade I have taught Indonesian language and cultural studies in the 5 public Sydney universities that offered Indonesian Studies, and at Charles Sturt University, Bathurst, NSW.

My translation work into both languages in the arts is informed by deep engagement in the arts in both countries. My literary/arts translations include various poems by Rendra and the prizewinning collection of short stories by Seno Gumira Ajidarma’s Eyewitness (Imprint Press, 1995, in collaboration with Jan Lingard and Bibi Langker, awarded the SBS Dinny O’Hearn Prize for Literary Translation in the 1997 Victorian Premier’s Literary Awards), and ‘The Test’, Foeza ME Hutabarat, in Menagerie 5, (Lontar Press, Jakarta, 2003). Painting catalogues translated include Crossing Boundaries: A Window to Twentieth Century Indonesian Art; Crescent Moon: Islamic Art & Civilisation in Southeast Asia and Yan Suryana: Crossing the Sea of Colours. I have translated scripts, subtitles and provided voiceovers for feature and documentary films in Australia and Indonesia, including Lucky Miles, Troubled Waters, The Golden Sow and The Mirage (directed by Slamet Rahardjo).

More about Suzan Piper:

http://www.wotcrossculture.com.au/index.html

http://www.proz.com/profile/115536

Catatan:

Suzan Piper kini menetap di Australia, bersama suaminya, Sawung Jabo (seniman dan musisi kondang Indonesia) dan kedua anaknya.


[Cerpen] Empang Kosong

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

“JASHAR bilang, ikan Nila sedang mahal sekarang ini, Ros!”

Rayu Tamim pada Rostini, istrinya, yang saat itu sibuk menjerang sayur untuk makan malam mereka.

Tamim jongkok di sisi Rostini sambil mengunjukkan wajah memelas. Rostini bertahan tak mau melihat wajah suaminya jika sedang bersikap begitu. Sejak semalam, di ranjang, Tamim sudah merayunya. Mulut Tamim sekadar berhenti bicara soal empang dan ikan Nila hanya saat dia merenggangkan selangkangan Rostini dan sibuk di sana sekitar lima menit. Setelah hajadnya tunai, mulutnya mulai mencacau lagi. Rostini bahkan tak tahu kapan Tamim berhenti, sebab Rostini terlelap tanpa sengaja.

Jashar, kawan sekerja suaminya, memang pernah cerita perihal keuntungan menambak ikan Nila Merah dalam obrolannya dengan Tamim, saat mereka istirahat di kedai kopi Imah, di luar pagar pelabuhan. Kedua berkawan ini, sudah dua tahun lalu, bekerja sebagai kuli panggul di pelabuhan. Jashar menyebut-nyebut soal keuntungan besar apabila empang Nila panen sesuai rencana. Mulut Tamim sampai-sampai terbuka, tercengang mendengar jumlah uang yang disebut-sebut Jashar. Entah darimana si Jashar memperoleh beragam informasi soal bertambak ikan Nila Merah, sedang dia sendiri tak punya warisan tanah empang seperti dirinya.

Empang miliknya itu tak besar, cuman sekitar 50 x 25 meter per segi. Letaknya persis di belakang rumah kecilnya. Empang itu warisan ayahnya yang meninggal dua tahun silam. Begitu diwariskan, Tamim dan Rostini langsung pindah ke sana. Bermodal seadanya, Tamim memperbaiki rumah kecil di samping empang. Tapi, ketika itu modalnya tak cukup untuk membiayai pengelolaan empang. Ayahnya hanya mewariskan padanya empang itu saja, tanpa uang tunai sama sekali. Dua tahun mereka mukim di situ, Rostini melahirkan dua anak yang umurnya berpaut setahun.

Kata-kata Jashar sungguh mempengaruhi Tamim. Empat hari dipikirkannya, dan baru pada hari kelima dia berani menyinggungkannya pada Rostini. Dia tahu mereka tak punya uang sama sekali. Satu-satunya harapan Tamim untuk rencananya itu adalah cincin milik Rostini, yang dulu dimas-kawinkannya buat perempuan itu.

Demi agar Rostini mau memberi cincinnya, Tamim rela melepas martabatnya barang sebentar, merayu istrinya itu hingga seolah memelas. Kini, tinggal menunggu putusan istrinya saja, maka empang itu akan segera terwujud.

***

Pada akhirnya Rostini menyetujui niat Tamim. Perempuan kurus itu menggadaikan satu-satunya harta miliknya yang paling berharga saat ini. Rostini tak peduli masih ada beberapa hutang mereka pada rentenir yang sebentar lagi jatuh tempo. Dia sangat berharap Tamim akan bersungguh-sungguh, dan mereka bisa menikmati laba dari hasil menambak di empang kecil itu.

Jika Tamim gagal, entah apalagi yang mesti diperjuangkannya. Tanah warisan mertuanya cuman sedikit. Hendak dijual pun, tak ada yang mau beli. Lalu setelah itu mereka berempat hendak tinggal di mana? Tanah di sekitar muara tak begitu diminati pembeli, sebab jauh jaraknya dari lokasi gudang pelabuhan. Parahnya, lokasi tanah mereka berjarak 200 meter dari jalan besar, dan 1.5 kilometer dari muara.

Dua anaknya masih kecil-kecil. Yang sulung saja umurnya baru dua tahun. Kebutuhan kedua anaknya pun tidak sedikit. Termasuk masih harus menbayar mahal bila mereka berdua sakit. Pembebasan biaya berobat yang dibilang pemerintah itu, seperti tak berlaku di wilayah pinggiran macam ini. Setiapkali anaknya sakit, Rostini harus menebus obat sedikit lebih mahal dari harga obat yang di jual di kios pinggiran jalan. Jangan tanya soal surat keterangan miskin dari kelurahan. Surat keterangan itu sudah lama dia buang, sebab ternyata tak berguna sama sekali.

Kini satu-satunya yang berharga padanya sudah dibawa pergi Tamim. Semua pikiran tentang kondisi hidupnya dan kedua anaknya itulah yang membuat Rostini menunda menyetujui permintaan Tamim tempo hari. Dia bisa stress karena memikirkan semua kebutuhan hidup keluarga kecil ini selanjutnya.

***

Setelah menggadaikan cincin istrinya, Tamim segera menuju Balai Benih Ikan. Untung saja harga emas sedang naik, sehingga hasil penjualan untuk cincin seberat tiga gram, lumayan banyak. Semoga saja, setelah dikurangi harga bibit ikan dan pakan, sisanya masih cukup banyak untuk diberikan pada istrinya. Begitu harapan Tamim.

Tapi, di Balai Benih Ikan, Tamim harus menelan ludahnya sendiri. Untuk empang seluas miliknya itu, dia harus membenam 25.000 ekor bibit ikan yang seukuran dua jari orang dewasa. Artinya, per meter akan berisi 20 ekor bibit ikan. Ini hitungan pas. Sebab jika terlalu banyak, maka bibit ikan akan mati, dan jika terlalu sedikit, maka dia tak akan balik modal. Tamim akhirnya memutuskan yang terbaik baginya.

Kini di boncengan sepedanya, tersusun rapi sekarung besar pakan ikan, dan lima kantong besar berisi bibit ikan. Dia harus hati-hati membawa bibit-bibit itu, sebab jika pecah, maka dia akan rugi besar.

Hatinya lapang dan tenang setelah usai menuang semua bibit ke empangnya. Hati yang diliputi bahagia membuatnya lupa pesan Wak Rasyid, pemilik empang lainnya, mempesankan agar Tamim lebih dulu menguatkan tanggul empang sebelum memasukkan bibit ikan.

***

Hati Rostini gundah luar biasa. Setelah Tamim berbelanja bibit ikan, dia hanya mengembalikan 75 ribu rupiah. Uang sejumlah itu tak akan membuat mereka berempat hidup seminggu, sedangkan suaminya menerima upah seminggu sekali dari mandor pelabuhan. Tamim harus bekerja lebih giat lagi di pelabuhan untuk mencukupi kebutuhan mereka di minggu berikutnya.

Ingin sekali Rostini membantu suaminya. Tapi sayang, tidak ada pekerjaan yang memberikan upah walau hanya dikerjakan di rumah saja. Tidak satupun ada perusahaan yang mau memberikan pola plasma di sekitar situ. Ada lowongan di perusahaan pengalengan ikan, namun sayang yang diterima hanya perempuan yang belum menikah atau tanpa anak.

Sejak hari itu, Rostini sudah tak bisa berkumpul bersama ibu-ibu lainnya dalam arisan PKK. Dia berutang dua bulan di situ. Pemilik toko sembako di simpang keluarahan sudah pula datang padanya, menagih piutang selama dua bulan ini. Si pemilik toko datang setelah mendapat kabar bahwa Tamim barusan belanja bibit dan pakan ikan, dan sedang mengupayakan empangnya lagi. Rostini sudah berusaha meyakinkan si pemilik toko tentang cerita sebenarnya. Tapi, si pemilik toko justru mencibirnya, dan menyebut dia dan suaminya sebagai pasangan pembohong. Sebelum pulang, dia mengancam, jika Rostini tak membayar utangnya, maka masalah itu akan diadukannya pada lurah.

Dua masalah itu saja sudah cukup membuat kepalanya nyaris pecah. Barangkali dia akan gila jika pemilik peralatan dapur yang dahulu dikreditkan padanya datang menagih juga. Bulan lalu saja dia sudah menunggak, dan diancam akan dikenakan bunga tinggi. Jika bulan ini tak juga dibayarnya, maka bunganya akan bertambah. Tamim sudah diberitahukannya, dan suaminya itu berjanji akan mengusahakan agar mandor memberinya panjar upah kerja. Tapi Rostini tak bisa percaya sepenuhnya. Dua pekan lalu saja, Tamim bermohon untuk hal yang sama, tapi ditolak.

Malam itu, Rostini terjebak ketakutan-ketakutan dalam pikirannya sendiri. Matanya menatap kosong, ke arah kedua anaknya, yang tertidur pulas setelah melahap bubur yang diaduk bersama gula putih.

***

“Air datang! Menyingkir… Air datang!!”

Wak Rasyid berlari menembus hujan badai sambil berteriak kesetanan. Setelah melompati pagar dan menggedor pintu rumah Tamim, Wak Rasyid berbalik kembali ke rumahnya. Lelaki tua itu berlari memutari rumahnya dan menendang pintu kandang kambing sambil berseru-seru. Kambing-kambingnya berlarian keluar, ikut bersamanya menembus hujan. Istri dan anak-anaknya sudah diselamatkannya lebih dulu.

Sedari sore, Wak Rasyid berdiri di belakang rumahnya, sambil memegang payung. Hujan sedari pagi membuatnya khawatir. Menurut pengalamannya, setiap kali hujan seharian penuh di musim penghujan macam ini, maka air akan berangsur naik. Kadangkala, air hanya perlahan saja merambat naik. Tapi tidak kali ini. Air begitu cepat mencapai pancang pemancingan, tempat yang tandai Wak Rasyid sebagai batas normal ketinggian air. Jika air sudah merendam pancang itu, artinya hulu sungai sedang tak bersahabat.

Benar saja dugaan Wak Rasyid. Air datang bergulung dan ikut menyeret sampah kayu dari hulu, menghantam pancang hingga hancur dan ikut hanyut terbawa air. Menurut perhitungannya, akan berselang 15 menit dari hanyutnya pancang itu, air akan mencapai pekarangan belakang rumahnya dan segera merendam dapur.

Semua tetangganya sudah dia peringatkan. Beberapa orang lainnya juga sudah menyebar untuk memperingatkan sekian banyak warga yang tinggal di dekat sungai agar segera menyingkir. Dia sendiri segera menuju balai kecamatan untuk bergabung bersama warga lainnya.

Setibanya Wak Rasyid di sana, dia heran, tak ditemuinya Tamim dan keluarganya. Ah, barangkali, mereka mengungsi di lain tempat. Balai ini saja sudah hampir dipenuhi orang.

Semakin larut, air sungai semakin naik. Air kemudian surut perlahan bersamaan dengan berhentinya hujan-badai saat larut malam. Menjelang pagi, air ikut surut, kendati masih cukup berbahaya karena arusnya cukup kuat di tengah sungai.

***

Tamim mencengkerem lengan Wak Rasyid. Matanya merah.

“Mengapa…Wak…tak…memeriksanya…sekali lagi?” Tanya Tamim terbata-bata.

Tapi Wak Rasyid bergeming. Lelaki tua itu juga sedang diliputi perasaan bersalah, sehingga menurutnya, bicara hanya akan memperkeruh suasana. Sepengetahuannya sudah semua warga diberitahukannya soal datangnya air besar.

Hati Tamim benar-benar terpuruk. Dia lunglai, matanya menatap kosong ke arah empang dan rumahnya.

Air telah menjebol tanggul empang di sisi utara, sehingga tanpa bisa dicegah, air menyapu rumahnya, mendorongnya hingga tumbang masuk empang. Jika saja tanggul di sisi selatan dan barat ikut roboh, tentu kerangka rumahnya akan terbawa air hingga ke muara.

Tamim rupanya tak ada di rumah ketika kejadian itu. Sepulang mereka dari pelabuhan, Dia dan Jashar terlambat mencapai jembatan. Keduanya harus bernaung sebab mereka dihadang angin kencang dalam perjalanan. Saat mencapai jembatan, mereka sudah terlambat. Ratusan orang tertahan dan berkerumun tak jauh dari lokasi jembatan yang telah putus dihanyutkan air.

Semua orang akhirnya menunggu hingga pagi menjelang. Bersama beberapa prajurit dan SAR, mereka membangun jembatan darurat dari lima pokok kelapa yang diikat menyatu. Orang-orang SAR itu bilang mereka harus mendahulukan evakuasi korban manusia.

***

Setelah para korban meninggal dibersihkan dan dikafani, orang-orang mempersiapkan penguburan. Tamim berdiri sejenak dan memandang onggokan kerangka rumah dalam empang miliknya, yang kembali kosong, tersapu air. Matanya berganti memandang kakinya sendiri. Perih hati Tamim, membayangkan bahwa di tempatnya berdiri itu, tadinya berdiri rumahnya.

Di antara puing-puing rumah di tengah empang, orang-orang menemukan istri dan kedua anaknya. Terbenam, tubuh mereka memutih pias.

Membayangkan wajah-wajah orang yang dicintainya, Tamim terhuyung, menubruk pohon, dan merosot ke tanah. Dalam kepiluan dan rintihan, lelaki itu meraung sekuat-kuatnya. (*)

Kendari, 2011

Tradisional (sumber: Wilhelm Gross)


[Cerpen] Mencuri Perahu | Republika | Minggu, 1 Mei 2011

Mencuri Perahu

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

“Ama (bapak), benarkah aku anak ikan?”

“Siapa yang mengatai kau macam itu!”

Meradang Bandi mendengar pertanyaan Ripah, anak perempuannya limabelas tahun itu. Buku-buku jemarinya mengeras. Sepertinya, hendak lekas saja dia meninju seseorang.

“Orang-orang di pasar membiarkan anak mereka mengejekku,” jelas Ripah. Mukanya pucat melihat Ama-nya dipenuhi amarah.

Bandi melompat dari kursi, sigap melepas sarung, dan menurunkan sebilah Taa (parang pendek) dari gantungannya.

“Tak usahlah Ama melayani mereka. Aku tak apa-apa.” Sergah Ripah pada tingkah ayahnya.

Suara datar Ripah membuat Bandi menghentikan gerakannya. Mukanya heran, amarahnya tiba-tiba surut. “Mengapa Ripah…?”

Bandi berjongkok, meletakkan bilah Taa itu di lantai, lalu menatap anak perempuannya itu, “Ama akan membelamu jika ada orang yang mengejekmu serupa itu.”

“Tak perlu. Tindakan Ama hanya akan membuat mereka kian menjadi-jadi. Makin malu aku dibuatnya nanti,” ujar Ripah sambil mengusap airmatanya.

Bandi menunduk. Dihelanya napas perlahan.

“Ripah…kau tak perlu mendengar bualan mereka. Mana ada anak ikan itu. Manusia tentu beranak manusia.”

Bandi mencoba mengajak anak perempuannya bicara baik-baik.

Ripah langsung berdiri. Mendelik pada ayahnya, lalu berjalan masuk dapur. Bandi bangkit dari jongkoknya, menggantung kembali Taa pada sangkutannya dan berjalan ke bibir jendela. Matanya menyapu pinggiran pantai Talaga Besar, yang sedang dihadang angin barat.

Sudah sepekan dia tak melaut. Pun sama dengan kebanyakan nelayan lainnya. Banyak di antara mereka tak ada yang berani turun melaut jika musim angin barat. Tetapi untuk alasan tertentu, sesekali ada juga yang memberanikan diri menyabung nyawa di lautan.

Tapi, Bandi tak mau ambil resiko seperti itu. Anaknya hanya Ripah saja, dan belum menikah pula. Istrinya sudah lama wafat, ketika melahirkan Ripah.

***

Ketika Ripah masih bayi, imannya nyaris tak kuat jika mendengar gunjing orang banyak perihal istrinya. Entah setan apa yang merasuk ke hati dan pikiran Salamah, istrinya itu, hingga dia berbuat nekad begitu.

Setelah persalinan, bahkan ari-ari bayi belum sempat diputuskan, Salamah tiba-tiba bangkit dari pembaringan dan melompat keluar rumah, berlari menuju pantai. Gerak cepat Salamah, tak disangka Bandi. Tak dapat dikejar istrinya itu, sehingga terlambat baginya menghalau Salamah menceburkan diri ke laut. Tubuh salamah langsung hilang ditelan ombak besar. Kejadiannya juga persis saat musim angin barat.

Bandi menduga, istrinya itu jadi gila memikirkan ekonomi keluarga mereka. Musim angin barat yang panjang membuat kedua orang suami-istri itu resah. Bandi harus punya uang untuk persalinan Salamah, tapi istrinya itu justru mencegahnya melaut.

Maju tak mungkin, apalagi mundur. Mereka berdua benar-benar terjepit keadaan. Maka, itulah sebabnya barangkali, sehingga Salamah berpikiran pendek. Bunuh diri dengan cara gila macam itu.

Semalaman semua lelaki di kampung nelayan itu mencari tubuh Salamah, termasuk Bandi. Si bayi dititipkan pada bidan desa yang membantu Salamah melahirkan. Hingga pagi menjelang, mereka tak menemukan tubuh Salamah. Bukan jasad perempuan itu yang mereka dapati di sekitar pantai, justru seekor ikan Duyung (dugong) yang bertingkah aneh.

Ikan Duyung itu berenang kesana-kemari mengitari pantai. Kadang menyembulkan separuh tubuhnya ke permukaan air, lalu berbunyi sesekali. Orang-orang yang sedang sibuk mencari jasad Salamah, mencoba mengusirnya, tapi ikan Duyung itu tak juga mau pergi. Entah dari mana datangnya ikan itu.

Bandi tidak mempersoalkan kehadiran ikan itu. Bukan hal itu yang membuat dia risau, tapi gunjingan orang setelah tiga hari kemudian. Semua penduduk lelaki memang tak berhenti mencari selama sepekan, tapi mulut perempuan-perempuan kampung pun tak juga berhenti bergunjing.

Mereka mulai menanggapi kehadiran ikan Duyung itu sebagai jelmaan Salamah. Lama kelamaan pergunjingan itu bertambah liar, dan nama Bandi mulai pula disangkut-pautkan.

“Pantas saja hidupnya susah, si Bandi itu mengawini ikan Duyung rupanya.” Demikian gunjing seorang perempuan.

“Eh, ikan Duyung kan, bawa sial pada nelayan. Ikan itu harus diusir jika mendekati kapal. Si Bandi itu malah mengawininya ya?” sambar perempuan lainnya. Lalu ramai di antara mereka membincangkan satu masalah itu saja.

Mereka bahkan mulai menyebut-nyebut bayi Salamah yang bahkan belum diberi nama itu. Mereka mulai melarang siapa saja datang menjenguk bayi Salamah. Takut kena sial, kata mereka. Jika bertemu Bandi sedang menggendong bayinya di depan rumah, mereka buru-buru berlalu tanpa menyapa. Bahkan menoleh pun tidak.

Keadaan inilah yang selalu dikhawatirkan Bandi. Sejak duhulu dia sudah menduga akan datang saat-saat seperti ini. Ripah akhirnya harus menghadapi situasi dan sikap kolot masyarakat di sekitar mereka. Dahulu Bandi pun masih suka percaya tahayul macam itu, tapi semenjak dia bisa membaca lewat program paket B, perlahan-lahan banyak tahayul yang tak masuk akal harus dia buangnya.

Tetapi Ripah. Apalah daya gadis remaja seusia dia menghadapi cemooh dan gunjingan orang sekampung. Kejadian di pasar barusan itu, membuat Bandi makin khawatir.

***

“Ripah!” Panggil Bandi dari ruang tamu.

Tak ada sahutan dari kamar putrinya itu. Waktu Maghrib baru saja berlalu. Bandi menuju dapur. Perutnya minta diisi. Aroma harum kuah santan dari arah dapur begitu menggugah seleranya. Tapi Ripah tak ada di dapur. Ah, barangkali anak itu sedang mengambil air, mengisi bak di belakang rumah.

Bandi memutuskan makan lebih dulu. Jika dibiarkan dingin, sayur kuah santan itu tak akan lezat lagi.

Baru saja separuh piringnya tandas, Bandi terkejut bukan main. Darahnya mengalir cepat. Dia melompat dari kursi, meninggalkan makanannya begitu saja. Tak menjejak anak tangga lagi, Bandi melompat seraya berteriak pada adiknya yang kebetulan berumah persis di sebelah rumahnya.

“Bakri…keluar kau! Keluar Bakri…!!”

Bakri tampak menjulurkan kepalanya dari jendela. “Ada apa?! Mengapa berteriak malam-malam begini?”

“Turun kau…! Bantu aku cari kemenakanmu. Cari Ripah! Dayungku hilang. Perahuku dicuri!” Balas Bandi berteriak.

Wajah Bakri pun pucat. Tanpa menghiraukan istrinya, Bakri ikut melompat turun dari rumahnya, dan mengejar Bandi yang sudah lebih dulu berlari ke arah pantai. Entah kesulitan apa yang sekarang dihadapi kemenakannya itu.

Orang-orang yang mendengar teriakan Bandi pun ikut keluar rumah. Mereka menghadang Bakri dan bertanya, “ada apa dengan kalian?”

“Dayung Bandi hilang!” teriak Bakri pendek, sambil berlari mengejar kakaknya.

Orang-orang lelaki itu pun ikut pucat. Mereka tak membuang waktu, ikut berlari menyusul Bakri dan Bandi.

Hanya kaum lelaki saja di kampung itu yang menaruh simpati pada keluarga Bandi. Mereka mengabaikan permintaan istri mereka untuk tidak bergaul dengan Bandi.

Setibanya di pantai, Bandi langsung menuju tempat tambatan perahu. Bakri bersama dua lelaki lainnya mengumpulkan pelapah Kelapa kering, memilinnya hingga erat, melipat ujungnya menjadi dua. Mereka membuat obor. Dibaginya semua obor itu pada setiap orang lelaki yang datang membantu. Setelah dinyalakan, mulailah mereka menyusuri pantai, sambil meneriakkan nama Ripah, berulang-ulang.

Suara mereka beradu dengan kerasnya hempasan ombak.

Bandi mendapati Bakri. “Perahuku tak ada ditambatannya,” kata Bandi gugup. Wajahnya berkeringat dan matanya menjadi liar. “Ini bagaimana?” Tanyanya panik.

“Lepaskan beberapa perahu dan siapkan Petromax. Kita harus temukan Ripah malam ini juga!” Perintah Bakri.

Bandi bergegas melaksanakan permintaan adiknya itu. Dia sukar berpikir saat ini. Untung saja adiknya bisa lebih tenang darinya.

Saat sedang makan tadi, jantung Bandi hampir berhenti saat melihat dayungnya tak ada digantungannya. Jika nelayan tak melaut maka dayung digantungkan ditempatnya. Apalagi sekarang ini musim angin barat. Pada musim macam ini, perahu akan ditambatkan agak jauh dari bibir pantai, sebab kadangkala jika air naik, perahu yang tak diikat pada tambatan akan diseret air ke tengah laut. Jika diikat pun, dan air mencapainya, maka air akan membenturkan satu perahu dengan lainnya.

Saat Bandi menyadari dayungnya sudah tak ada ditempatnya, maka tak ada sangkaan lain jika Ripah-lah yang telah mengambilnya. Dayung harus satu dengan perahunya. Jika dayung disangkutan hilang, itulah pertanda bahwa perahu telah hilang dicuri.

Ripah seorang diri mendorong perahu dan menuju laut disaat ombak sedang tinggi-tingginya saat ini. Gadis remaja itu tak tahu bahaya apa yang sedang dihalaunya.

Orang-orang sekampung sudah berkumpul di tepi pantai. Mereka masing-masing membawa lampu penerang, sehingga pantai itu kini benderang dibuatnya. Sebagian besar wajah perempuan-perempuan itu menyimpan cemas melihat suami dan anak lelaki dewasa mereka bahu membahu membantu Bandi dan Bakri menyusul Ripah ke tengah laut.

Ombak sesekali menghempas keras pinggiran pantai. Membuat mereka sedikit kewalahan melarungkan perahu. Mati-matian mereka menahan perahu agar tetap mengapung dan tak kemasukan air laut yang datang menghantam silih-berganti.

Mereka diberangkatkan dalam kelompok-kelompok kecil, setiap tiga perahu. Setiap perahu berisi dua orang. Bandi sudah mendahului mereka dan kini sudah agak ke tengah. Lalu satu kelompok lagi dilarungkan. Bakri masuk di kelompok ketiga. Kemudian, menyusul kelompok keempat dan kelima. Satu perahu dari kelompok keempat nyaris tak bisa menyusul setelah terbalik dihantam ombak dari arah samping.

Limabelas lampu kini berkelap-kelip di tengah laut. Suara-suara panggilan mereka berlomba hendak mengalahkan hebatnya suara debur ombak. Setibanya mereka di titik pertemuan, masing-masing perahu kemudian menyebar dalam radius yang perlahan-lahan makin luas. Lampu-lampu mereka kini bagai kunang-kunang yang menyebar di atas air.

Bakri telah memberitahu, jika bertemu perahu Ripah, segeralah memberi isyarat lampu pada lainnya. Bukan saja besarnya ombak yang mereka khawatirkan tapi lusinan karang di bagian utara pulau, dan tentunya Ripah yang tidak berpengalaman sama sekali.

Hampir dua jam lebih semua perahu itu menyebar, saat sebuah isyarat terlihat dari kejauhan. Tampaknya sebuah perahu baru saja menemukan sesuatu. Semoga bukan jasad Ripah atau pecahan perahunya.

Begitu melihat isyarat itu, semua perahu bergerak perlahan saling mendekat. Bandi ada dijarak terdekat dari perahu itu, dan dia tiba lebih dulu. Hampir pecah tangis lelaki itu tatkala melihat anak gadisnya dalam keadaan selamat. Perahunya nyaris penuh dengan air, dan dayungnya tidak ada.

Salah seorang telah mengikatkan perahu Ripah ke perahu lainnya, dan airnya sedang dikuras.

“Ripah…! Ada apa denganmu, nak? Mengapa berbuat seperti ini?!” Teriak bandi berusaha melawan debur ombak saat menanyai Ripah.

Ripah hanya sekilas melihat ayahnya, lalu kembali matanya menyusuri permukaan air. Sepertinya gadis itu tak hirau lagi dengan sekelilingnya.

“Ikan besar itu mengambil dayung Ama,” kata Ripah pendek.

“Ikan apa? Mengapa kau melakukan ini, hah?” Tanya Bandi lagi.

“Aku hendak mencari Ina (ibu). Inaku tadi muncul di sini, di dekat perahu, lalu dayung Ama disambarnya, dibawanya pergi.”

“Apa yang kau bicarakan ini?” Bandi jadi hilang kesabaran. Tubuh Ripah diguncangkan, agar sadar.

Ripah diam lagi. Matanya terus berputar awas berusaha menembus kegelapan malam di laut itu. Sekarang, semua perahu sudah saling merapat. Bakri melompat ke perahu dimana Bandi dan Ripah berada. Tangannya lalu meraih anak itu.

“Ripah, apa yang kau lakukan?” Tanyanya dengan wajah lembut.

Ripah memandangi wajah pamannya itu. Air matanya tiba-tiba jatuh.

Dalam tangisnya, Ripah masih berusaha memandang ke arah laut. “Ripah hendak mencari Ina. Sebab orang-orang di pasar bilang, Ina-ku adalah ikan Duyung, dan aku anak ikan yang bawa sial.”

Bakri tertunduk. Bandi justru jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya. Lelaki itu menangis untuk pertama kalinya. Bahkan dia tak melakukan itu saat istrinya hilang 15 tahun silam.

“Mengapa kau dengarkan kata-kata orang. Paman sudah berulang kali bilang, dengarkan Ama-mu saja. Ama-mu lebih paham tentang ini semua daripada orang-orang itu.” Bakri sedang mencoba membujuk Ripah.

Ripah menggeleng kuat-kuat. “Tidak. Orang-orang itulah yang benar. Tadi Ina menghampiriku, berenang di sisi perahuku. Ina mendorong perahuku ke tempat ini, tapi lalu menyambar dayung dan membawanya pergi.”

“Tidak, Ripah. Inamu bukan ikan. Tak ada ikan beranak manusia.”

Ripah tiba-tiba menolak tubuh pamannya. Mimiknya tak suka pada ucapan pamannya itu. Ripah lalu bergerak ke bibir perahu. Sambil memegangi bibir perahu, matanya kini nyalang mengawasi permukaan air.

Bakri menghela nafas dengan berat. Dia bangkit dan memutar tangannya di udara. Itu isyarat untuk kembali ke pantai. Malam ini sudah cukup berat bagi semuanya. Masalah Ripah nanti mereka selesaikan di darat saja.

Rombongan perahu itu pun pelan-pelan memisah, dan satu persatu menuju pantai. Ripah kini bersama ayahnya di perahu milik mereka. Ayahnya mendapat pinjaman dayung dan perahunya diikat dibelakang perahu Bakri.

Sekitar 200 meter dari pantai, entah dari mana datangnya, seekor ikan Duyung tiba-tiba muncul berenang di sisi kanan perahu Bandi. Sesekali ikan itu menyelam lalu muncul lagi di sisi satunya. Ripah yang menyadari itu lebih dulu, dan tanpa tercegah lagi, gadis itu membuang dirinya ke laut, seolah hendak menyusul ikan itu.

Bandi yang sedikit lengah, ikut melompat ke air. Namun gelombang yang datang dari belakang perahu menambrak tubuhnya, menggulingkannya hingga dia harus segera meraih cadik perahu agar bisa mengapung. Tapi tubuh Ripah tak dilihatnya. Bandi terteriak pada Bakri, “Ripah terjun ke laut!” Serunya.

Bandi menyelam lagi. Bakri menyusulnya melompat dari perahu. Kedua kakak-beradik itu berulang-ulang menyelam mencari tubuh Ripah. Dua orang di perahu Bakri ikut pula melompat berusaha membantu Bandi dan Bakri. Beberapa menit mereka mencari Ripah sambil berjuang melawan hantaman ombak, akhirnya Bakri menyerah.

Bakrie menarik tubuh Bandi, berusaha mengapung di atas ombak yang mendorong keduanya, dan dua orang lainnya menuju pantai. Bandi kini pasrah. Dia biarkan tubuhnya diseret Bakri menuju pantai. Dia atas pasir, kemudian lelaki itu menangis.

***

Selama empat hari selanjutnya, orang-orang melakukan pencarian atas Ripah. Tapi, sama seperti ibunya dahulu, Ripah tak pernah ditemukan lagi.

Semenjak hari itu, Bandi kerap menghabiskan sorenya di tepi pantai, duduk di atas perahunya yang ditambat. Matanya terus-menerus menyapu permukaan air. Seperti berusaha mencari jejak kedua buah hatinya itu. Jika adiknya atau orang-orang mengajaknya pulang, Bandi hanya menyahuti mereka tanpa ekspresi.

“Aku sedang menjaga perahu agar tidak dicuri para ikan,” ujarnya pendek. ***

April, 2011

(Cerpen ini dimuat di Harian Republika, 01 Mei 2011)


%d blogger menyukai ini: