Tag Archives: hukaea

[Cerpen] Kuda-Kuda Terakhir | Femina | No.04/XLII ~ 25–31 Januari 2014

Kuda-Kuda Terakhir

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Ilust_Kuda-Kuda Terakhir_Femina

LEMBAH-lembah dan padang ilalang di punggung bukit Saba Mpolulu kian sepi dari derap kaki kuda yang berlarian bebas. Sejak kuda-kuda ditangkapi secara liar untuk diperdagangkan, tidak ada lagi gemuruh saat kawanan hewan cantik itu berlari menembus cahaya matahari. Surai kuda-kuda yang direbahkan angin, leher yang berkilat saat mereka berpacu membelah ilalang di padang miring ini lenyap.

Gadis itu tidak pernah memimpikan buruknya situasi ini. Satu per satu kuda lenyap dari padang yang telah mereka huni ratusan tahun. Hewan-hewan menawan itu seakan pergi dari tempat-tempat yang sering ia datangi. Hanya angin yang berkelana saat tubuh gadis itu tegak di atas bebatuan di kaki bukit. Angin yang seharusnya menemani derap para kuda yang datang saat gadis itu memanggil mereka adalah juga angin yang menyapu pesisir Sikeli saat kuda-kuda itu dinaikkan paksa ke kapal-kapal para penangkap kuda liar.

Tinggallah senandung gadis itu saja yang merajai punggungan bukit miring berilalang ini. Rerumputan tak bergairah, seperti muram yang datang dan berdiam. Gadis itu berjongkok di atas bebatuan, pindah dari satu batu ke batu lainnya, menunggu dalam cemas yang terkadang menerbitkan air matanya.

“Datanglah ke hadapanku…,” bisiknya. Telapak tangannya mengusap pipinya yang sudah basah. Matanya tajam mengawasi tiap gerakan yang mungkin terlihat di antara ilalang yang menari, atau dari keremangan di bibir hutan.

“Tidak boleh begini. Jangan seperti ini,” gadis itu berbisik lagi.

**

Gadis bernama Loka itu sendirian. Ia generasi terakhir dari para perempuan pemanggil kuda. Ia mewarisi kemampuan langka sebagai pauno-dara dari moyangnya, para perempuan yang dapat membaca hasrat paling liar hewan-hewan cantik itu.

Dahulu, Suria, buyutnya berdiri di hadapan Mokole dan Kapita, menentang orang-orang berderajat tinggi itu. Suria tegas menolak menghadirkan kuda-kuda ke halaman istana Laica Ngkoa yang luas itu. Kematian para kuda telah mengubah keputusannya. Kecewa dan kemarahan menggulung hatinya dari kengerian yang menggumpal saat mengetahui nasib macam apa yang akan menimpa hewan-hewan cantik yang ia lindungi.

Mokole telah menyeret para kuda dalam perang suku yang ambisius. Demi hasrat kuasa dan perluasan wilayah, para mokole mengobarkan perang yang menyisakan kematian pada rakyatnya, tak terkecuali para kuda. Bisa dibayangkan, betapa remuk perasaan Suria saat memandang padang Sangampuri yang dipenuhi darah dan bangkai kuda yang bercampur dengan aroma kematian dari prajurit kemokolean. Perang dan kematian yang seharusnya bisa dihindari.

Suria telah memanggil para kuda, tetapi para Mokole justru mengirim mereka ke medan perang untuk mati sia-sia. Ya. Kematian yang sungguh sia-sia.

“Para kuda telah berbicara padaku. Maka, telah sampai masanya aku tak akan menuruti kalian lagi, wahai Mokole. Para kuda mempertanyakan kematian yang datang melalui tanganmu!” Suria meradang. Perempuan itu meraba pinggangnya. Hulu Taa memantulkan cahaya mentari dari sela jemarinya.

Perlawanan Suria telah mengakhiri persinggungan para kuda dengan manusia di tanah Moronene ini. Meski karenanya, Mokole Tontodama menyamakan posisi para pemanggil dan tegas menyatakan kepentingan mereka yang berseberangan.

Tapi, Suria hanya tersenyum di hadapan Tontodama.

“Itulah senyum terakhir yang aku lihat dari wajah buyut perempuanmu. Senyum nenekku itu tak pernah kulihat lagi saat terakhir ia tegak di sebuah batu besar di padang ilalang Saba Mpolulu.” Aniati mengenang neneknya dalam cerita yang disimak Loka dengan saksama.

“Semenjak itu, aku dan ibuku hanya bisa memandangi punggungnya dari kejauhan. Saat ia berlari bersama kuda-kuda, atau menunggangi salah satu dari hewan cantik itu. Beliau memegang teguh janjinya agar para kuda tidak lagi berurusan dengan ambisi manusia.”

Ketika itu Loka masih berusia 15 tahun. Kepalanya rebah di pangkuan ibunya, mendengarkan kisah-kisah tentang buyut perempuannya. Aniati memastikan, tidak ada perempuan pemanggil kuda lainnya yang sekuat Suria.

“Apa yang dilakukan para mokole setelah itu, Ibu?”

Aniati membelai rambut Loka dengan sayang. Bibirnya disaput senyum. Matanya berbinar bangga. “Mereka marah besar dan memerintahkan para Kapita untuk memburunya, setelah mendengar buyut perempuanmu itu berkata: “Inilah aku, wahai yang ditinggikan. Aku tidak akan memperdebakan perkara ini. Engkau yang akan menanggungnya. Biar Tuhan yang menuntun jalanku.”

Lalu, Aniati menoleh ke dinding. “Lihatlah itu,” tunjuknya pada dua benda yang tampaknya berpasangan. “Itu Taa dan Korobi milik buyut perempuanmu. Bukan main marahnya para Mokole, saat ia meloloskan Taa dari Korobi-nya dan melemparkannya ke tanah. Buyutmu telah menghina para raja dengan cara yang halus, sekaligus mempermalukan mereka. Tapi, ibuku memungutnya untuk ia simpan.”

“Bagaimana dengan buyut lelakiku?”

“Merekalah pelindung kami. Buyut lelakimu, kakekmu, dan ayahmu, adalah bagian keberadaan kami. Mereka pelindung para pemanggil, dan mereka melakukan tugasnya dengan baik.”

“Aku merindukan Ayah…”

Aniati beringsut , menegakkan tubuh Loka, membuat wajah putrinya menghadap ke wajahnya. “Tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa. Ibu juga merindukannya.” Aniati tercekat keharuannya sendiri, “…kelak, akan datang lelaki yang akan melindungimu seperti para lelaki hebat dari rumah ini.”

Aniati menarik wajah putrinya itu, memberikan kecupan sayang yang lama di kening Loka.

**

Kuda-kuda telah memilihnya sebagai Pauno-dara berikutnya. Sama seperti saat para kuda memilih para pemanggil terdahulu, ibunya telah pula mengantarkannya ke padang ilalang ini, ke hadapan para kuda. Aniati tersenyum bangga saat si Kepala Berlian mengendus tubuh Loka, sebelum merendahkan dua kaki depannya, dan menundukkan kepala di hadapan putrinya itu. Usia Loka persis 23 tahun ketika itu.

Aniati menyatakan kelegaannya dan berterima kasih di hadapan para kuda. Seingat Loka, itu juga kesempatan terakhir ibunya mengunjungi padang ilalang Saba Mpolulu. Ibunya wafat tiga bulan berikutnya.

“Jangan menangis, Sayang. Tidak apa-apa. Ibu senang para kuda telah memilihmu. Mereka akan menjagamu sebagaimana takdirmu sebagai penjaga mereka. Kau hanya butuh kepercayaan mereka, Sayang.”

Loka masih ingat dengan jelas kata-kata terakhir ibunya setahun lalu itu. Kini, ia tegak sendiri di tepian padang ilalang ini, menanti para kuda datang memenuhi panggilannya.

“Holeeei!” Seruan Loka berkumandang seperti hendak menembus tiap sekat alam. Seharusnya kuda-kuda berderap datang saat ia memanggil. Tapi, hewan-hewan cantik itu tak muncul. Sepekan lalu, kawanan kuda berderap dari sisi hutan, memasuki padang dan membelah ilalang untuk datang menghampirinya.

Adakah masanya tiap pemanggil kuda akan kehilangan kekuatannya? Pakah para kuda juga akan menolak datang memenuhi seruan para pemanggil? Apakah ia akan sedih jika suatu saat hanya bisa memandangi bekas kaki para kuda yang tertinggal di padang ilalang Saba Mpolulu, di aliran sungai Laa Kambula, atau seolah mendengar ringkikan mereka di sela pepohonan hutan Sangia Wita?

“Mereka pasti datang.” Suara berat seorang lelaki datang dari belakang Loka. Gadis itu terkejut. Madara berdiri tak jauh darinya, bersandang tali pengikat tula nira enau. “Maaf, mengejutkanmu.”

Mata Loka menggeriap. Ia tidak tahu sejak kapan Madara berdiri di situ. Ia lelaki yang tinggal di selatan sungai Laa Kambula. Meramu pohon Enau adalah pekerjaannya sehari-hari.

“Kemarin kulihat si Kepala Berlian memimpin kawanan di pinggiran hutan di utara padang ini. Saat matahari beranjak naik, mereka akan berlarian melintasi hutan ke arah sana.” Madara menunjuk ujung padang yang berbatasan langsung dengan hutan di bagian timur. Lalu lelaki itu menurunkan tabung tula dari bahunya, meletakkannya hati-hati agar isinya tak tumpah. “Kau jarang ke sini lagi,” sambungnya.

Loka berjongkok. Kagetnya sudah hilang. Kini wajahnya tampak dipenuhi pertanyaan akan kehadiran Madara. Kepalanya dimiringkan. “Sejak kapan kau mulai berkeliaran di dekat sini?” Tanya Loka.

“Kapan pun aku mau,” jawab Madara, tersenyum. “Wilayah peramuanku di sebrang padang ini. Aku melintasi sisinya jika hendak pulang ke desa. Aku tak harus selalu melintas di sisi air terjun Wataroda, bukan?”

“Kuharap kau tidak mengganggu mereka.”

Madara menggeleng cepat. “Oh, tentu tidak. Jangan mengira aku akan melakukannya. Aku hanya mengawasi mereka.”

“Mengawasi?”

Lelaki itu mengangguk. “Apa sudah kau hitung jumlah mereka terakhir kali?”

Loka terpana. “Apa?”

“Seharusnya kau lebih sering bicara pada si Kepala Berlian.”

“Apa yang…?”

Madara menoleh cepat. “Kau tidak memperhatikan rupanya. Kuda berkurang dua, bahkan saat kau mengunjungi mereka sepekan lalu.”

Loka sontak berdiri, membalikkan tubuhnya dengan cepat. Dipandanginya batas padang nun jauh di sana yang tampak bergerak-gerak akibat panas yang menguapkan tanah. Kedua tangannya membentuk corong. “Holeeeii!” serunya, tiga kali.

Tidak terjadi apa pun. Tidak ada derap kaki kuda mendekat.

“Ke mana mereka? Seharusnya mereka…,” gumamnya. Mata Loka memejam.

Selarik bayangan wajah ibunya melintasi kenangannya sekali lagi. Perempuan itu berdiri di atas batu seperti dirinya sekarang ini, mengajarinya cara memanggil kuda. Bagaimana ia berkosentrasi dan menyakini sesuatu, sebelum ia berseru memanggil. Mata ibunya berbinar-binar saat bercerita tentang neneknya yang tangkas menggulung kain dan berlari di antara kawanan kuda seraya tertawa-tawa.

“Lihat itu!” Seru Madara. Telunjuknya mengarah ke bagian remang di tepian hutan, pada sesuatu yang bergerak senyap dan mendengus. Ada sepasang mata hitam berkilat yang mengawasi mereka berdua dari arah itu.

“Si Kepala Berlian,” desis Loka. Wajahnya berseri-seri. Bayangan hitam itu bergerak ragu-ragu. Kuda itu cemas dan gugup.

“Ayo, ke sini! Tak apa-apa!” Teriak Madara.

“Diam!” Tangan Loka terangkat, membuat Madara menahan teriakannya. “Turun! Turunlah perlahan!” Pinta Loka.

Lelaki itu menurut. Madara mundur perlahan, membalikkan tubuh, lalu meluncur turun dari batu. Bergerak pelan, seolah tak ingin terlihat, lalu Madara jongkok di balik batu lainnya. Matanya tajam menatap Loka yang tegak di atas sana.

“Holeeei!” Loka berseru. Suaranya melengking, memantul di sisi bukit dan merambah padang ilalang miring itu. Kuda mana pun seharusnya datang saat ia memanggil. Mereka mengenali suara setiap pemanggil, sebab merekalah yang telah memilihnya. Kemampuan yang hanya dimiliki kaum perempuan di tempat ini dan hanya diwariskan kepada perempuan berikutnya.

Sosok gugup di remang bayangan pepohonan itu bangkit, lalu perlahan berjalan mendekati tempat Loka berdiri. “Jangan bergerak, Madara. Ia sedang tak memercayai siapa pun saat ini. Bahkan aku!” Nada sedih terdengar di ujung perintahnya.

Tangan Loka terangkat, meminta kuda itu berjalan lurus ke arahnya. “Jangan takut. Aku memanggilmu untuk melihat keadaanmu. Mendekatlah.”

Cukup lama kuda bercorak berlian di antara kedua matanya itu memperhatikan Loka. Kepalanya mendongak, seperti membaui sesuatu dari udara. Lalu ia mendekati Loka dan menempelkan kepalanya ke kulit lengan gadis itu.

“Ada apa denganmu? Mana anggota kawanan lainnya?” Tanya Loka. Kaki depan kuda itu menyepak-nyepak tanah. Lalu meringkik pelan. Kepala Loka terangkat, saat matanya menangkap sembilan sosok kuda lagi berlari ke arah si Kepala Berlian. Gadis itu menunduk sedih. Ia mencium kening Kepala Berlian, lalu berbisik, “maafkan aku.”

Seperti kata Madara, kawanan Kepala Berlian berkurang dua ekor. Sepekan saja ia tidak datang menjenguk mereka di padang ilalang ini, cukup memberi kesempatan para penangkap kuda liar menyelesaikan urusan mereka. (*)

Molenvliet, 2013

Twitter: @IlhamQM

 

Catatan:

* Pauno-dara: pemanggil kuda/pelindung kuda.

* Mokole: raja Moronene.

* Kapita: panglima, di struktur peristiadatan pemerintahan Kerajaan Moronene.

* Laica Ngkoa: rumah adat/istana Kerajaan Moronene.

* Taa: parang pendek. Senjata tradisional Moronene. Bentuk parang yang lebih panjang disebut Taa’Owu.

* Korobi: sarung senjata Taa dan Taa’owu.

* Moronene: etnis tertua di Sulawesi Tenggara. Mendiami daratan besar (Rumbia, Poleang, Huka’Ea, La’Ea, Lanowulu, dan Langgosipi) di selatan Sulawasi Tenggara dan di empat pulau (Kabaena, Talaga Besar, Talaga Kecil, dan Koko’E).

* Tula: bambu betung.

* Saba Mpolulo, Sikeli, Sangampuri, Laa Kambula, Wataroda, Sangia Wita: adalah nama-nama tempat di pulau Kabaena (Bombana, Sulawesi Tenggara).

 

Iklan

[Puisi] Gurauan Episode Mati

(dua belas kesaksianku)

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Keranda paksi mulai bergerak.

ada yang berwajah murung di awan.

I.

Lima bocah menengadahkan wajah ke ufuk, seperti sepi, tegak mereka menyatakan sebuah keterpaksaan. Nasib ini adalah lapik lapik kain, dan kerenteng kaleng. Olah jiwa itu, mengembara dalam putaran waktu yang bicara patah patah.

Jiwa keadilan mengeluarkan telunjuk dalam genangan darah hitam di ladang ladang. Sepinya Wijaya, sesepi Timor saat dentang lonceng dan raungan sirine jam malam. Bersuara berarti menghentikan napas.

II.

Ada sebuah tugu mati di ujung barat jadi saksi perjalanan yang gaib. Jemari ibu yang membuat tenang menjamahi, namun kami harus bertegur sapa dengan cemoohan dan ketuk ketuk palu di ruang sidang. Dinding dingin, lantai lembab, dan kekokohan jeruji sebagai penguji iman dalam ketakutan terperi di ruang siksa. Ribuan manusia harus bisu, harus teraniaya, harus mengalah, harus merunduk wajah, dan membuang muka dari genderang perang yang tidak ditabuh.

Catatan asasi ini menumpuk. Hak mereka di…Rancamaya, Tanjung Priok, Kedung Ombo, Karang Serang, Citayeum, Cijayanti, Cimacan, Badega, Kaca Piring, Waduk Nipah, Haur Koneng, Hukaea-Laea, dan Irian Jaya. Seperti kesaksian mati yang tidak dapat disebutkan.

Seperti gurauan mati di episode ini.

III.

Bara ini, saat pagi membuta seakan ditiup dari corong bambu. Sidoarjo, Mei, seribu Sembilan ratus Sembilan puluh tiga.

Menjadi kesaksian yang mengambang di atas tubuh menyedihkan seorang wanita muda di hutan Wilangun, Nganjuk. Dari tubuhnya menyebar bau aroma luka empat hari. Aroma penderitaan dan ketidakberdayaan anak manusia yang menuntut haknya.

Ambangan kesaksian ini, di atas tubuh perempuan MARSINAH.

IV.

Kesaksian kedua:

Akhir 1996, diangkasa ribuan malaikat menaungi pertiwi.

Mereka menangis mencoba meredakan panas dengan air matanya. Akhir 1996, seonggok tubuh bisu, dijilati anjing, menghadap angkasa dengan jantan. Keteguhannya, bagai karang bukit pare. Namun, kematiannya itu dicatat sebagai dosa jamannya. Dia nadir dengan setumpuk kebenaran di hati dan jiwanya.

Ambangan kesaksian ini, di atas tubuh lelaki MUHAMMAD FUAD SYAFRUDDIN.

V.

Kesaksian berikutnya:

Azan menyeru di cungkup masjid. Karna, sore tadi, puluhan anak ibu terbaring dengan

paksa.

Di tubuh tubuh basah itu, tertulis kebiadaban militer. Karena, sore tadi saat kesejahteraan pesantren dan keabadian kalimat kalimat Allah di injak injak dan menjadi derai tangis.

Ambangan kesaksian ini, di atas pondok pesantren HAUR KONENG.

VI.

Kesaksian ini terpenggal sementara, di sini.

Ya, Rabb…orang orang ini ditelanjangi keadilan kotor, lalu dicampakkan bagai fitnah tiada ampun.

“Akhirnya, sanggup juga ku buang topeng kerendahan hati dan kebajikan. Sekarang kalian lihat istana merdeka yang asli.”

Kesaksian-kesaksian terpuruk di laci laci Istana Merdeka. Ribuan orang dihitung dengan pelor dan deraan sangkur.

***

Jerit lapar menjatuhkan hati, memilukan sebagai nasib yang runtuh dari tatakannya. Sepohon cendana rindang mengatapi anak anak bangsa, memilin perutnya kosong. Bongkol pisang jadi mahal, biji beras jadi jarang jarang, dan rupiah terserak di antara kaki kaki.

Bangsa ini di azab, atas dosa dipermulaan. Kelaparan melubangi telinga, meletuskan kepala, karena keranda putih merah tidak pernah berkurang.

Perjalanan ini makin pahit, bangsaku. Langit semakin kelam. Kami sadar, untuk kemudian terjaga, dari jerit perih lapar di malam buta. Dari onggokan gubuk gardus di rel kereta, dari ranjang ranjang keras di emperan toko, dari denting denting piring kaleng kosong di barak barak pengungsi.

Mereka hilang pegangan, kami gaib kata kata, dan bunga bunga kemboja bermekaran

memanggil manggil. Inilah wajah pertiwi yang tidak bermuka. Asing, dan…asing.

“Jangan bercanda dengan nasib di episode ini.” Tegur seorang penarik becak.

“Tampaknya, hanya pertobatan model Ninive yang bisa menyelamatkan bangsa ini, dan

yang masih belum bisa dimutlakkan sebagai sodom dan gemorrah. Karena, masih banyak mahasiswa yang berani bicara lantang dan keras.” Ujar seorang penjaga kubur.

VII.

Jalinan episode dari kesaksian empat:

Jakarta, pukul dua puluh tiga, lebih sedikit. Tembok Trisakti tegak kokoh, diam. Malam beranjak membawa kebisuan yang lain. Malam itu, yang bernasib besok, kumpul dalam keseriusan dan gurau.

Deretan batang lontar menyambut dari pintu masuk. Maya, kemboja merah bermekaran

di halaman Trisakti. Mahasiswa mahasiswa berkumpul satu dalam ruangan, sebagian lelap di atas meja. Yang terjaga, kumpul dalam keseriusan dan diskusi yang hangat. Kepelikan baur satu dalam otak dan ocehan. Malam ini, menjelang esok yang berdarah.

Menjelang dini hari pukul kosong empat, kurang sedikit. Empat mahasiswa ini masih terjaga. Melamun tentang gerakan esok yang permulaan. Hanya langkah besar tidak pernah terbayang. Detik-detik awal, dua belas Mei, berempat anak muda itu belum juga melelapkan mata.

Jakarta menunggu pukul empat sore. Langit membasahi bumi, awan memanahi kumpulan mahasiswa hingga kuyup. Gelombang mahasiswa maju dengan panji panji dan yel yel perjuangan.

Dari Veteran, ratusan prajurit menunggu dengan senjata kokang siap tembak.

Saya terus mencatat…

Gedung gedung bisu memberi langkah pada gelombang ini.

Mereka kuyup, namun terbakar. Mereka tidak pernah sepi dengan teriakan perubahan yang membahana. Kerongkongan kering, baju basah, dan tetesan air mengalir menetes dari ujung ujung rambut. Mahasiswi berbaur pula. Air mata pun menyatu dalam yel yel yang perih.

Di ujung Daan Mogot, mahasiswa disambut berondong senjata. Terdepan roboh mencium bumi. Barisan kedua berbaring melindungi. “Jangan tembak kami! Jangan tembak kami! Mohon jangan tembak kami!” Terdengar teriakan dari sudut utara barisan mahasiswa.

Tembakan terus menyahuti teriakan itu, tidak peduli. “Ada yang kena, ada yang kena… Di depan ada yang kena…” teriak panik mahasiswa barisan kedua.

“Mundur, mundur sepuluh langkah ke front! Hindari konfrontasi…! Mundur…!” terdengar komando dari depan.

Tembakan terus berbunyi. Pelor pelor menyambar kepala.

“Dua orang kawan kena lagi! Hentikan tembakan! Kami bukan binatang. Jangan tembak lagi!” terdengar dari pengeras suara.

Emosi baur dalam tangis, mahasiswa pecah ke tempat perlindungan. Seorang mahasiswi berlutut dalam tangis, “Kawan kami kena, jangan tembak lagi. Kawan kami kena!”

Lalu, bangkit berlari, memeluk tubuh yang basah oleh darah dalam jas almamater. Mahasiswi ini meraung. “Kalian telah membunuhnya. Kalian telah tembak dia. Kami tidak membawa apa apa. Mengapa tembak kami!”

Saat itu, malaikat turun dengan kain kain putih. Sangat hikmat di angkasa, sampai mereka pun menangis. Menutupi tubuh yang bisu di atas aspal yang berdarah campur air hujan.

Sunyi kembali, prajurit berhenti duaratus meter di depan. Senjata masih terarah. Menunggu.

Mahasiswa kumpul kembali. Terdengar tangis takut dari para mahasiswi, dan tangis kemarahan dari yang lain. Yel yel perjuangan berubah jadi derai tangis. Kepedihan menyumbat dada. Doa doa seketika terlontar.

—dari mana mereka berasal, ke sana pula mereka kembali—

Sepasang mahasiswa dari kumpulan itu lalu bangkit, dengan mawar merah di tangan mereka maju ke barisan prajurit. Pipi mereka basah, mata mereka lumer, sementara senyum sudah pergi.

Satu per satu kembang itu, mereka sematkan ke moncong senjata, ke saku prajurit berwajah kaku. Mereka melakukannya dalam diam, hanya suasana yang bicara: “Terimalah bunga ini dari kami, karena sore ini kalian telah membunuh empat kawan kami.”

VIII.

Hari ini, sore ini, latihan revolusioner usai.

Gerakan perubahan itu pulang dengan empat keranda besar. Mereka berjalan dengan wajah tunduk pilu, wajah wajah menghujam bumi, mencoba menahan jatuhnya duka yang amat dalam.

Di jalan pasar buah, rombongan itu lewat. Seorang penjual buah, menggandeng seorang mahasiswa, mereka berjalan pelan, beriring : “Siapa mereka yang diusung itu?”

“Teman teman mahasiswa yang gugur hari ini.”

“Mengapa mereka gugur?”

“Ditembak, pak. Oleh prajurit.”

“Siapa kawan kawan itu?”

“Mahasiswa juga, pak.”

“Maafkan saya. Saya tidak dapat bantu apa apa. Ini seikat rambutan jika kalian lapar.”

Setelah itu, rombongan terus berjalan pulang, kembali ke halaman Trisakti. Kembali ke front.

—seterusnya, perjuangan hari ini belum berakhir—

(hari ini saya telah mencatat)

IX.

Kemarin adalah perjuangan.

Hari ini pun, demikian adanya.

Terkemudian sekali, datang kabar tentang kawan kawan mahasiswa yang ikut kemarin. Delapan orang aktifis hilang. Mereka berdelapan tidak pulang ke kampus dan rumah masing masing. Lalu, merebak emosi yang berbeda.

Secara terang terangan berdelapan mahasiswa ini diculik militer, lalu dibawa ke penyiksaan yang sadis. “Kami dikurung dalam ruang satu kali satu berempat empat. Setiap sejam, kami disiram air seni dari atas. Lalu, selang dua jam kami disuruh mandi dengan air dingin. Setelah itu kami ditanyai segala hal di bawah ancaman senjata dan sengatan listrik. Sakit, sungguh sakit.”

“Setelah lima hari, kami dipisahkan satu satu. Entah dibawa kemana tujuh orang kawan lainnya. Yang tahu, hanya Tuhan, para penculik dan mereka sendiri. Aku dibebaskan setelah mengalami penyiksaan yang perih, menyakitkan yang tidak pernah dialami

oleh hewan sekali pun. Dengan mata tertutup, hak kami diinjak injak.”

Ambangan kesaksian ini di atas hak lelaki DESMOND.

X.

Jakarta, 18 Mei.

Ada kesaksian lain di sejarah pertiwi, kini.

Mahasiswa dengan panji masing masing bersatu di kaki dewan. Rumah mereka, rumah rakyat, mereka penuhi dengan yel yel dan semangat yang berkobar kobar. Gedung rakyat itu terdengar suara yel yel, ada suara dari bait bait puisi, ada cemoohan atas kondisi ekonomi bangsa, ada suara dari mimbar bebas, ada jerit-jerit lain…menuntut perubahan.

Dewan tidak bicara. Kini giliran mereka yang harus mendengar, apa yang akan dikatakan rakyat pada mereka. Ribuan mahasiswa memenuhi halaman rumah rakyat dengan satu tujuan membinasakan kekotoran di negeri ini yang mendarah daging dari permulaan.

—di aras langit, semangat empat kawan mahasiswa yang mati kemarin menyeruak di antara mereka. Mereka mengiringi prosesi pendudukan itu dengan senyum mereka—

XI.

Pertiwi, dua puluh Mei seribu sembilan ratus sebilan puluh delapan.

Nusantara memuntahkan semangat. Mahasiswa Indonesia yang tidak pernah lekang dalam sejarah bangsa lebih dari tiga dasawarsa.

Hari ini, teriakan lantang membahana. Memenuhi horison, mahasiswa bergerak di pelosok pelosok. Tidak pernah terbayang kekuatan ini akan sangat besar, bahkan lebih besar dari perubahan tiga puluh dua tahun lampau. Gelombang gerakan mahasiswa Indonesia ini seketika bagai mimpi buruk bagi penguasa zalim.

—hari itu, Tuhan memang berada di atas Indonesia—

XII.

Kesaksian penghabisan untuk episode ini.

Dua puluh satu Mei, terdengar : Gempita gema dari rumah rakyat, mahasiswa bersorak menang, mencebur riang dalam kolam kebebasan setelah di gerus kelaliman. Ini sebuah kemenangan yang permulaan.

Di dalam rumah rakyat, saat rejim menyatakan mundur, derai tangis puluhan mahasiswa menghias pilar pilar putih di situ. Perjuangan permulaan yang tidak sia sia. Atas darah darah mahasiswa yang telah dihitung. Atas perjuangan asasi yang masih akan berlanjut.

Karena permulaan, maka perjuangan ini masih akan berlanjut.

Sukacita rakyat. Dukacita mahasiswa. Alam baru yang menyeruakkan keharuman nyaring. Episode ini bukan penghabisan. Episode selanjutnya masih akan saya tulis.

“Kawan kawan mahasiswa, perjuangan belum selesai, belum usai. Tolonglah kami, teruskan semangat ini, agar kami dapat beristirahat dengan damai.”

—suara suara itu berkumandang dari aras langit—

Tidurlah kawan, kerandamu telah diantar, namun kami masih setengah jalan.

 

Kesaksianku. Jakarta, Mei 1998

Tiga puluh dua tahun setelah 1966

Kerusuhan Mei 1998 (sumber foto: flickr)


%d blogger menyukai ini: