Tag Archives: hitam

[Cerpen] Empat Plot di Tulouse | Media Indonesia, Minggu 21 Mei 2017

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Plot Pertama

SAAT bunga-bunga bermekaran di himpunan perdu, kita sedang terjangkit rindu. Itu penanda hubungan kita yang ragu. Tahun kedua di Tulouse dan kau tak betah. Itu aneh. Kau meneleponku pada subuh di hari pertama minggu terakhir Maret. Ah, aku nyaris lupa apa yang telah kita bicarakan dan ingatan yang kita labuh pada subuh itu—saat seharusnya kita lelap seperti orang-orang yang lelah memerangi waktu.

Tidurku terganggu oleh telepon darimu. Kau terisak-isak di seberang sana, menyansak waktuku yang sesak, untuk sekadar mendengarmu bicara pendek-pendek tentang gemuruh yang mendesak dadamu. Kau bicara tentang sesuatu yang seharusnya bukan urusanku. Kau iris waktu tidurku hanya untuk mendengar potongan hidupmu yang tragis.

—Seharusnya kau tembak saja aku.

Masih kusimpan pistol lada yang dulu sengaja kubeli untuk membunuh lelaki tua itu. Lelaki tua itu mengajakku bertemu dan bicara empat mata. Ini hanya antar dua lelaki saja—katanya. Omong kosong. Nyatanya, saat kami bicara itu, ada dua pengawalnya yang tegak di sisinya. “Jangan ganggu Gorny lagi,” lelaki tua itu memberiku ultimatum.

Percayalah, saat itu ingin sekali kuledakkan pistol lada tepat ke wajahnya. Biar mampus ia, biar kecemasan dan rencana-rencana di kepalanya berhamburan ke lantai kafe. Mungkin setelah itu, aku pun akan terkapar mati ditikam dua pengawalnya—atau sebaliknya: aku habisi mereka bertiga.

Aku cemas kau akan bosan menungguku keluar dari tempat terkutuk itu. Tentu saja aku takut dipenjara. Tapi ketakutanku itu tidak lebih besar dari kecemasanku pada para napi lelaki yang kesepian. Narkotika dan kesepian, kudengar, telah mengubah penjara seperti pasar malam dan rumah madat.

“Sebaiknya kita bertemu,” pintamu.

 

Plot Kedua

HARI ini aku tak perlu kembali ke kantor setelah menepati janji bertemu Gorny di kafe tenda dekat anjungan pelabuhan. Aku suka tempat yang dipilih Gorny. Cukup nyaman. Burung-burung Camar di sini masih segan pada manusia—tak seperti Camar di pesisir Laut Hitam yang suka mencuri makanan dari piring pengunjung. Entah kenapa burung-burung itu lebih menyukai kentang daripada ikan. Sesuatu dalam air laut mungkin telah mengubah mereka menjadi mutan.

“Bawa kami pergi—” kau menyentuh lenganku. Kau masih perempuan yang selalu mengejutkanku dengan permintaan-permintaan aneh dan mendadak.

Apa yang kau cemaskan? Mataku menatap bibirmu yang menyembunyikan kepahitan.

“—suamiku gila,” sambungmu lagi.

Amboi. Inilah pengakuan yang paling jujur yang meluncur dari bibirmu tentang lelaki tua itu. Sudah kuduga, lelaki tua yang menikahimu itu memang gila.

“Ia memukuliku—” ujarmu cepat, “—juga mengancam akan membunuhku.”

Dasar pasangan gila. Kau pun pernah nyaris membunuhku dengan keputus-asaan yang kau ciptakan. Lalu kini kau akan terbunuh oleh keputus-asaan suamimu.

“Anakmu?”

Kau mengangguk. “Ya—Seine baik-baik saja.”

Syukurlah. Kepalaku berpaling ke arah laut. Kilau airnya memantulkan lumen matari sore yang magis. Mataku tertuju pada pulau kecil di kejauhan sana. Pulau dengan enam cottage berdesain Palma. Seingatku, di pulau itu ada sepotong tulang yang diakui para pengurus cottage sebagai tulang rusuk Mermaid. Air muka mereka begitu meyakinkan saat menceritakannya.

Wajahmu serius sekali. Aku mendesah. “Baiklah—”

Kau memajukan kepalamu. “Bawa kami pergi. Ya. Bawa kami ke tempat paling aman.”

“Kau mendengarku dengan jelas, Gorny.” Aku menggerutu. Betapa menyedihkan situasi ini. Aku pernah mengharapkanmu menjadi istriku, tapi kau memilih lelaki tua pemilik perusahaan ikan beku itu. Kini kau hendak memasuki hidupku lagi dan bertingkah seolah-olah kau tak pernah mengecewakanku. “Kau punya uang?” Tanyaku.

“Tabunganku cukup.”

“Paspor?”

“Ada.” Wajahmu memelas.

Aku tatap matamu. “Baiklah. Kau tahu Baukje?”

Kau mengangguk.

“Baukje tinggal di Belanda. Ia akan senang menerima kalian. Ia menyukai anak kecil.”

Aku yakin orang suruhan suamimu tak akan menemukanmu di sana. Walau aku tak tampak seperti orang yang punya kenalan banyak begundal di jalan Dusk Paris, atau di desa kecil di tebing Amalfi Italia, tapi aku yakin rumah Baukje adalah tempat teraman bagimu.

 

Plot Ketiga

SUAMIMU menemuiku untuk kedua kalinya. Di pertemuan pertama saja aku sempat berniat membunuhnya. Tapi saat ini, suamimu yang paling mungkin melakukan itu kepadaku.

Lelaki tua kaya yang marah karena terbakar cemburu dan dua pengawal bertubuh besar yang tampak mampu menganiaya siapapun, adalah sebuah kombinasi berbahaya. Mereka memergokiku di parkiran kantor dan menggelandangku ke gudang ini.

“Kau pasti tahu di mana Gorny,” tuduh suamimu.

Aku menggeleng. Suamimu tertawa sinis. Dari saku jas panjangnya, ia tarik tabung ganda berbahan kulit berisi dua batang cerutu. Dicabutnya sebatang, lalu mengembalikan wadahnya ke balik jas. Dikeluarkannya juga cincin pemotong cerutu bersama pemantik kayu. “Maaf—aku tak bisa menawarimu. Cerutu bermutu tinggi sukar dicari saat ini.”

Aku tersenyum mengejek.

“Kau tahu—” ujarnya seraya memantik api ke ujung cerutunya, “—api dari pemantik kayu akan menjaga citarasa cerutu. Kau harus mencobanya sewaktu-waktu.”

Huh, aku tahu. Itu pernah aku baca di lembar sisipan koran minggu. “Kau mau apa?”

Suamimu mengangguk. “Jawab saja pertanyaanku tadi.”

“Sejak kau menikahinya, seharusnya kau lebih tahu soal Gorny.”

Suamimu memukul meja. “Jangan coba mengalihkan masalah. Aku bisa membunuhmu!” Desisnya ke wajahku. Aku menjauhkan kepalaku, tapi gagal karena pengawalnya menekan belakang leherku.

Aku tersenyum kecut. “Lalu apa yang kau tunggu?”

“Baiklah—” Suamimu menggeleng seraya menatapku dengan licik, “—kita akan melakukan ini seharian penuh. Percayalah.”

Dua pengawalnya lelalu menekan telapak tangan kiriku ke atas meja. Suamimu yang gila itu mengeluarkan benda dari saku jasnya dan dengan benda itu ia tetak punggung telapak tanganku. Rasa sakitnya menjalar ke telingaku, sebelum menuju tulang belakang. Sakitnya membuat setiap persendianku gemetar.

Jika kubilang aku tak menangis saat menerima pukulan benda itu, maka aku berbohong. Sungguh, popor pistol suamimu membuat dua tulang jemariku patah. Darahku menetesi lantai.

“Baiklah! Aku akan mencari Gorny,” aku terbata-bata menahan sakit.

Suamimu tertawa sinis lagi. “Apa aku harus memercayaimu?”

Aku menggeleng. “Tidak perlu—tapi kau bisa mengawasiku,” kataku sambil melirik dua pengawalnya. “Buatlah dua orang dungu ini lebih berguna. Uangmu hanya membuat tubuh mereka membesar, tapi tidak dengan otaknya.”

Suamimu tertawa saat seorang pengawalnya segera menepak belakang kepalaku karena jengkel. Ia kemudian menunjuk lelaki yang menepak kepalaku tadi. “Dia akan senang menancapkan sesuatu ke lehermu jika kau mengelabuiku.”

Lelaki besar itu menyeringai dan mengangguk.

 

Plot Keempat

“KALIAN siap?” Tanyaku.

“Ya—” kau mengangguk, “—jam berapa kita ke bandara? Jika terlalu lama, kami bisa ketinggalan penerbangan.”

Jika aku tak mencintaimu, tak mungkin aku mengambil resiko sebesar ini. Tapi kau merasa perlu mendesakku untuk rencana yang sedang aku jalankan buatmu. Tak ada orang yang begitu mencintaimu seperti aku.

Pintu terpentang, saat seorang lelaki bertubuh besar masuk dan merenggut tanganmu. Kau terkejut dan meraung karena kecewa. Kau menghujaniku dengan tinjumu. Pengawal suamimu itu menarik dan mendorongmu ke dalam mobil. Anakmu menangis ketakutan sambil berpeluk pada pengasuhnya.

“Kau—menipuku!” Kau meneriaki aku dalam perjalanan ke tempat di mana suamimu telah menunggu. Aku tersenyum sinis. “Menipumu? Kau tak tahu sakitnya saat kau memutuskan menikahi majikan si dungu ini,” timpalku. Si pengawal di sisimu mendengus jengkel.

Kau menangis. “Kau tidak memahamiku.”

“Aku memang belum selesai melakukannya,” kataku.

“Aku mencemaskan keselamatan kalian.”

“Omong kosong!” Hardikku.

Lalu kau membanting punggungmu ke jok mobil. Sepertinya, hatimu remuk.

Suamimu tersenyum melihat kau keluar dari sedan hitam yang kita tumpangi. Aku menyusul turun. “Orang sepertimu banyak sekali di dunia ini,” kata lelaki tua itu.

Aku menjawabnya dengan meludah ke lantai.

Suamimu mengulurkan tangan saat kau berjalan ketakutan menghampirinya. Tatapanmu tiba-tiba kosong. Sepertinya, mereka akan segera membawamu pergi.

Aku menyela. “Jangan lupa singgah menjemput putra kalian di rumahku.”

“Tak perlu—” Suamimu menjawab cepat. Aku kaget.

“Itu anakmu, bodoh!—” wajah licik suamimu tampak lagi, “—aku hanya menginginkan milikku. Hal lainnya bukan urusanku.”

“Gorny—?” Aku menatapmu, meminta penjelasan. Kau memejamkan mata.

Aku terguncang. Situasi ini segera menjadi jelas saat kau menganggukkan kepala ke arahku. Aku teringat ucapanmu di mobil tadi—aku mencemaskan keselamatan kalian.

Kalian! Kepalaku tiba-tiba berat, seperti ada setan yang sedang mendudukinya dan sibuk membujuk melakukan sesuatu yang kuanggap perlu. Itu nasehat jahat di waktu yang tepat. Saat aku usai memutar tubuhku, seorang pengawal di belakangku terjengkang. Pistol lada melubangi lehernya. Lelaki dungu lain yang berdiri di depan mobil, sempat terlanga, tapi segera rubuh ke lantai saat peluru kedua dari pistol ladaku menembus dadanya. Masih ada dua butir peluru lagi.

Pias wajah suamimu. Ia salah mengira bahwa aku terlalu lemah untuk membuatnya tak waspada. Ia lupa membawa pistolnya. Aku mintamu menyingkir.

“Aku tak akan memohon padamu,” ujar suamimu.

“Jangan—” aku menggeleng. Aku tarik kerah jas panjang lelaki tua itu dan kuselipkan tanganku ke sakunya. Kutarik keluar tabung cerutunya, “—bagus juga sesekali mencoba cerutu bermutu tinggi.”

Kuminta lelaki tua itu mengeluarkan cincin pemotong dan pemantik api. Pistolku terarah padanya. Ia menurut. Ia memotong ujung cerutu dan memantikkan api untukku sekaligus. Asap cerutu segera membumbung. Aku tersenyum. “Artikel di koran minggu selalu benar.”

Suamimu sinis menatapku. “Aku belum selesai denganmu—”

Ledakan pistol ladaku meredam ocehannya, “—tapi aku sudah selesai!”

Lelaki tua itu memegang perutnya. “Kau—kau tak bisa…”

Pistol ladaku meledak sekali lagi. Suamimu tersentak kemudian diam seketika. Peluruku habis, namun ada liang baru di kepalanya. (*)

Molenvliet, Maret 2017


[Pertala] Wanita Bergaun Hitam | Eleanor H. Porter

Wanita Bergaun Hitam

Oleh Eleanor H. Porter

(Dipertalakan oleh Ilham Q. Moehiddin)

 

lady-in-black

DI KAMAR kecil di atas beranda, wanita bergaun hitam duduk sendirian. Di dekatnya, gadis kecil bergaun putih terbaring. Di lantai, sepasang sepatu kecil terserak, seperti telah dilemparkan begitu saja. Sebuah boneka tergantung terbalik di sandaran kursi dan mainan prajurit dengan pedang terhunus tegak di sisi ranjang. Suasana hening—keheningan aneh yang datang ke kamar itu tiga bulan lalu.

Ada jam kecil di atas rak yang tegak di kaki ranjang. Jam itu tampak mengerikan baginya—dan tidak masuk akal—bahwa bandul berwarna emas masih berayun di bawahnya, sedang di atas ranjang berlapis linen putih, sesuatu yang lain sudah berhenti berdenyut. Maka wanita bergaun hitam itu mengulurkan tangan dan menghentikan ayunan bandulnya. Saat sesuatu sudah diam, maka jam itu juga harus diam.

Masih perlukah waktu berdetak saat ini? Seolah itu sesuatu yang penting, saat Kathleen kecilnya terbaring di bawah salju dan tanah hitam di luar sana! Hari ini, jam itu pula yang mengingatkan wanita bergaun hitam itu pada gelombang amarah yang meledak saat doanya ditolak pada suatu malam tiga bulan sebelumnya.

“Muvver…!”

Wanita bergaun hitam yang sedang diaduk kegelisahan itu melirik ke arah pintu yang tertutup. Ia tahu, di balik pintu itu, ada seorang bocah lelaki bermata biru dengan dekik di pipi yang sedang membutuhkannya, tapi ia ingin anak lelaki itu tidak memanggilnya dengan nama itu. Sebutan itu hanya akan mengingatkannya pada sosok cantik berbibir tipis—yang kini sudah tak ada.

“Muvver…!” Desak suara itu.

Wanita bergaun hitam tidak menyahut. Ia pikir, mungkin anak lelaki itu akan segera pergi, jika tidak mendengar sahutannya.

Ada keheningan yang singkat, sebelum gagang pintu berputar turun dan terdengar engsel yang berderit saat pintu perlahan-lahan membuka, menampakkan anak lelaki dalam setelan Rusia.

Ia menceguk sesaat, lalu seketika hening kembali. Di balik gaun hitamnya, wanita itu tak tersenyum dan memanggil anak lelaki itu agar mendekat. Anak itu berdiri diam, ragu-ragu, kemudian berbicara terbata-bata, “aku sudah…di sini, Muvver.”

Kata-kata itu, bagi wanita bergaun hitam, hanya mengingatkannya pada kepahitan lain yang kini tidak ada di sana. Ia menjerit tertahan dan menutupi wajahnya dengan tangan. “Bobby, Bobby, mengapa kau berolok-olok dengan sebutan itu?” Ia mengerang dengan hati gulana. “Pergi… Pergi! Aku ingin sendiri—sendirian!”

Semua keriangan di wajah bocah lelaki itu lenyap seketika. Dekik di pipinya hilang dan matanya menampakkan kesedihan yang dalam. Perlahan-lahan anak lelaki itu berpaling. Di ujung tangga anak lelaki itu berhenti dan menoleh sejenak. Pintu itu masih terbuka dan wanita bergaun hitam masih duduk dengan tangan di wajahnya. Anak lelaki itu menunggu, tapi wanita itu tak bergeming. Seraya menahan tangis, anak lelaki itu melangkah menuruni tangga.

Beberapa menit setelahnya, wanita bergaun hitam mengangkat kepalanya dan kembali memandang melalui jendela. Anak lelaki itu kini berada di halaman bersama ayahnya, sedang bermain di bawah pohon apel.

Bermain!

Wanita bergaun hitam memandang mereka dengan mata muram. Di halaman tampak Bobby sedang bermain, tertawa dan menari. Akan selalu ada orang yang mengajak Bobby bermain, seseorang yang akan mencintai dan merawatnya; sementara di sana, di lereng bukit, Kathleen sendirian—benar-benar sendirian.

Wanita bergaun hitam itu berdiri dan berjalan ke kamarnya. Tangannya gemetar saat mengenakan topi dan menurunkan lipatan cadar menutupi wajahnya. Langkahnya tampak mantap saat menuruni tangga, menyusuri lantai bawah dan melangkah ke luar.

Pria di bawah pohon apel melihatnya dan datang menyongsong. “Helen, Sayang—jangan lakukan ini lagi!” Suaminya memohon. “—Ini tidak ada gunanya, sayang!”

“Tapi ia sendirian. Kenapa kau tidak memikirkannya! Tidak seorang pun yang tahu perasaanku. Kau tidak mengerti. Jika kau paham, kau pasti menemaniku. Jangan memintaku untuk berdiam diri di sini!” Sergah wanita itu.

“Aku bersamamu, sayang,” kata pria itu lembut. “Aku selalu bersamamu hari ini dan setiap hari—sejak Kathleen meninggalkan kita. Tapi tidak baik memperlihatkan kemurungan di makamnya. Kau tahu, sayang, ini hanya menambah kesedihanmu, aku, dan Bobby!”

“Tidak, tidak,” wanita itu terisak lagi. “Kau tidak mengerti—kau tidak mengerti!” Ia membalikkan tubuh dan berjalan terseok-seok menuju bukit, meninggalkan bayangan hitam kesedihan dalam tatapan suaminya dan kebingungan di mata anak lelakinya.

Jalur landai di bawah kanopi pepohonan hanya ditembusi cahaya matahari yang sedikit sampai ke tanah. Walau wanita bergaun hitam itu tahu tujuannya, ia seperti linglung, terhuyung-huyung dan kerap tersandung. Bangkit setelah jatuh, wajahnya tampak lelah. Namun ia berhasil mencapai bagian bukit yang ditandai batu bertulis ‘Kathleen’. Tidak jauh darinya tampak seorang wanita lain sedang menatapnya dengan simpatik, tangannya dipenuhi bebunga mawar merah muda dan putih. Wanita berambut kelabu itu seperti hendak bicara, tapi tampak ragu saat membuka bibirnya, kemudian urung. Ia berbalik perlahan-lahan dan mengatur bunga-bunga yang ia bawa ke sebuah pot di sisi sebuah makam.

Dalam dera kesedihan, wanita bergaun hitam mengangkat kepalanya. Untuk sesaat ia mengamati wanita berambut kelabu, sebelum ia mengangkat cadarnya dan berbicara. “Anda mengunjunginya—” katanya lembut. “Aku yakin pernah melihatmu di sini sebelumnya. Anak itu—seorang gadis kecil juga?”

Wanita berambut kelabu menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Ia anak lelaki—setidaknya ia seorang anak lelaki 40 tahun yang lalu.”

“Empat puluh tahun—itu waktu yang lama! Bagaimana Anda bisa bertahan selama 40 tahun—tanpanya?”

Lagi, wanita berambut kelabu itu menggelengkan kepalanya.

“Terkadang—kita harus melaluinya. Tapi ia bukan anakku, bahkan bukan kerabatku.”

“Tapi Anda merawat makamnya. Aku melihat Anda kerap ke sini.”

“Ya. Tidak ada yang merawat makam ini. Aku sesekali datang untuknya.”

“Untuk anak lelaki ini?”

“Ibunya.”

“Oh!” Wanita bergaun hitam mengangguk, tapi matanya lurus ke makam Kathleen.

“Aku tidak ingin terdengar bisa memahami ibunya,” gumam wanita berambut kelabu itu setelah usai menata bunganya dan menoleh pada wanita bergaun hitam. “Aku bekerja sebagai perawat anak lelaki ini ketika semua itu terjadi, dan bertahun-tahun setelahnya aku tetap bekerja di keluarga itu—jadi aku tahu. Aku melihat semuanya, sejak awal dan di hari ketika anak laki-laki ini mengalami kecelakaan.”

“Kecelakaan!”

“Ya. Itu peristiwa tabrak lari dan hidupnya tak sampai dua hari.”

“Aku tahu rasanya…!” Wanita bergaun hitam tersedak kepiluannya, namun ia sama sekali tidak sedang memikirkan anak laki-laki itu dan penabraknya.

“Banyak hal yang kemudian sukar aku lupakan,” lanjut wanita kecil berambut kelabu setelah beberapa saat, “…dan itu adalah awal dari segalanya. Ibu anak lelaki ini melepaskan perhatiannya pada suami dan putrinya. Ia tidak memperdulikan mereka, kecuali makam ini. Ia datang ke makam ini menghabiskan waktu berjam-jam—berbicara dan merangkai bunga untuk anak lelakinya.”

Wanita bergaun hitam tiba-tiba mengangkat kepala, memandang sekilas ke wajah wanita berambut kelabu, tetapi wanita itu telah memalingkan wajahnya sebelum beberapa saat kemudian kembali bicara.

“Walau memiliki apapun, tapi ibunya tampak tidak memikirkannya. Bahkan tampak tidak menginginkannya. Ia menutup diri, menyingkirkan banyak foto. Ia membiarkan piano tidak dibuka sama sekali. Ia tidak pernah berada di mana pun di rumah itu kecuali di kamar anak lelakinya dan membiarkan segala sesuatu di kamar itu tetap berada di tempatnya. Aku bertanya, apakah ia tidak menyadari dampak atas tindakannya—tapi ia tidak mau bicara.”

“Dampak…?” Wanita bergaun hitam terkejut.

“Ya. Ia tidak perlu merasa kehilangan suami dan putrinya—ia tidak menyadarinya.”

Wanita bergaun hitam itu tiba-tiba merasakan keheningan yang pekat di sekitarnya.

Wanita berambut kelabu bicara lagi. “Anda kini tahu alasanku datang dan meletakkan bunga-bunga di sini—itu kulakukan untuk ibunya. Setelah ia wafat, tidak ada lagi yang akan melakukannya,” ia mendesah seraya bangkit berdiri.

“Tetapi Anda belum bercerita—apa yang terjadi pada suami dan putrinya.” Wanita bergaun hitam itu bersungut-sungut.

“Aku hanya tahu sedikit tentang mereka. Setelah ia wafat, aku hanya tahu bahwa suaminya banyak melakukan perjalanan—jadi pria itu tak selalu berada di rumah. Ada cerita bahwa pria itu melakukan hal-hal buruk—tapi mungkin itu tidak benar. Bagaimanapun, pria itu jarang pulang dan suatu saat ia kembali ke rumah itu, kondisinya tampak buruk dan sakit. Pria itu wafat dan dimakamkan di sana, di sisi istri dan putranya. Mengenai putrinya—hmm… tidak ada yang tahu di mana gadis itu. Anda tahu—hidup para gadis seperti bunga-bunga dan sinar matahari, dan selalu tentang pesta dan pemuda tampan. Gadis itu merasa tidak akan mendapatkan salah satu dari itu dengan hanya berdiam di rumah. Jadi, gadis itu pergi—kurasa, ke tempat ia bisa mendapatkan semuanya. Tidak ada yang tahu dimana gadis itu. Begitulah—jika aku tidak pergi, Anda pasti akan lelah mengobrol denganku!” Wanita berambut kelabu itu tampak cemas. “Aku bahkan tidak tahu mengapa aku menceritakan ini!”

“Tidak—aku senang mendengarkan Anda.” Wanita bergaun hitam buru-buru berdiri.

Wajah wanita berambut kelabu itu berubah pucat. “Tapi aku harus pergi sekarang. Terima kasih.” Ia berbalik dan bergegas pergi.

***

Rumah itu masih tampak muram ketika wanita bergaun hitam pulang—dan ia seperti menggigil kedinginan. Ia susuri lantai bawah dan terburu-buru menapaki anak tangga dengan perasaan yang dipenuhi rasa bersalah. Di kamar, jemarinya merobek cadar di wajahnya saat keterasingan melintasi benaknya. Pengalamannya hari ini membuatnya menangis—menangis tanpa suara, dan dia masih menangis saat tangannya melucuti gaun hitam yang muram itu.

Beberapa menit kemudian, ia—kini tanpa gaun hitam—perlahan menuruni anak tangga dengan wajah yang masih membekaskan jejak-jejak air mata. Dagunya bergetar, tetapi bibirnya telah dilengkungi senyuman. Ia mengenakan gaun putih dan setangkai mawar putih terselip di rambutnya. Di ruangan kecil di atas beranda, di atas rak yang tegak di kaki ranjang, jam berbandul emas kembali berdetak. Suara kakinya yang berlari memenuhi lantai bawah. Kemudian:

“Muvver!—Itu Muvver telah kembali!” Seorang anak lelaki berteriak gembira.

Sedikit terisak, wanita itu membentangkan tangan untuk putranya. (*)

 

Eleanor Hodgman Porter (1868-1920), novelis dan cerpenis perempuan Amerika. Ketika menulis novel Pollyanna, ia masih bekerja sebagai penyanyi di New England Conservatory of Music di Boston dan menerbitkan cerpen-cerpen terkenalnya di majalah Woman’s Home Companion dan majalah Harper’s Weekly.


[Cerpen] Guci Sop | Suara Merdeka | Minggu, 01 Februari 2015

Guci Sop

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilustrasi_Guci Sop_Ilham Q Moehiddin

UDARA panas siang itu seperti hendak melelehkan bola mata setiap orang yang melintasi strada Salvatore, membuat basah ketiak yang menyebarkan bau tak sedap kemana-mana. Pesisir Genoa dibungkam aroma garam.

Aku menyiapkan pertunjukan malam untuk Arrigo Tavern sebelum matahari sore datang ke jendela rumah minum ini. Aku mewarisi bisnis ini dari ayahku, Arrigo Ando. Tempat ini mendadak ramai di enam bulan terakhir.

Enam bulan lalu, seorang gadis berdiri di depan meja bar Arrigo Tavern. Aku tentu saja menerima tawarannya untuk menari. Dialeknya tak seperti kebanyakan perempuan Genoa. Gadis itu dari pesisir utara. “Elda dari Manarola,” katanya.

Seperti kebanyakan perempuan Manarola, Elda mewarisi tulang pipi yang lembut, pucuk hidung yang kecil, dagu sedikit runcing dengan wajah oval, dan rambut hitam bergelombang. Elda punya sesuatu yang diidamkan banyak lelaki—dada dan pinggul yang padat.

“Menarilah mulai besok,” kataku. Seperti harum yang memancar dari tubuh Elda, begitulah kabar baik dan keberuntungan yang mendatangiku siang itu—dan di hari-hari berikutnya.

Para perempuan Manarola pandai melenturkan tubuh. Tarian mereka memikat, lincah meliuk dengan gerakan erotis yang menggoda. Elda segera menjadi primadona Arrigo Tavern dan namanya begitu terkenal di sepanjang pesisir Genoa. Setiap lelaki di pesisir ini bisa menggambarkan kemolekannya, ketimbang kondisi istri mereka sendiri. Wajah Elda segera membayangi pelupuk mata tiap lelaki yang menggumamkan namanya. Tetapi bagiku, Elda tak sekadar mesin uang di taverna ini.

**

Arrigo Ando adalah contoh buruk pebisnis rumah minum. Taverna ini baru ramai setelah 39 tahun dibuka dan 10 tahun kematiannya. Para penggemar bir berduyun-duyun memenuhi tempat ini, bukan karena rasa birnya. Tak ada yang menyukai bir beraroma jerami lembab dengan rasa keju basi. Siapapun pasti memuntahkannya setelah tegukan pertama, kecuali jika mereka sedang mabuk berat. Mereka ke tempat ini semata-mata karena Elda.

Setiap malam, sejak matahari tenggelam dan udara kering menyebarkan aroma garam dari laut, taverna ini sudah sesak. Para lelaki menelan ludah, memukul meja, dan meneriakkan nama Elda. Sebelum gadis itu datang, aku biasa menampilkan pertunjukan berupa sulap yang kuanggap bisa mengocok perut pengunjung. Seringkali itu berhasil. Tetapi para kelasi, tentara, dan buruh pelabuhan lebih suka menganggapnya gagal dan melempari setiap pesulap yang tampil. Kini mereka menginginkan Elda dan mereka tak harus mabuk berat untuk mengacaukan tempat ini.

Beberapa pejabat kota biasa berlindung di keremangan balkon saat menonton tarian Elda. Mereka tak mau terlihat oleh para pemilih. Moral sangat penting bagi reputasi dan karir politik. Tetapi di tempat ini, mereka boleh mengantongi moral mereka, lalu berpura-pura tak kehilangan apapun esok paginya.

Aku hanya butuh uang mereka. Asal mereka membayar, maka habis perkara.

Setiap lelaki yang datang ke taverna ini punya mimpi yang sama; berharap Elda mengakhiri kesepian mereka di sisa malam. Paling tidak, berharap bisa menyentuh kulit pinggul gadis itu saat mereka menyelipkan lembaran uang ke balik celananya. Mereka rela membayar lebih banyak hanya agar Elda bersedia membuka kakinya dalam satu nomor tarian, sembari membayangkan hal-hal cabul tentang gadis itu.

**

Sedikit sekali lelaki yang mampu menghamburkan uang di sebuah taverna hingga pagi. Sedikit lelaki yang ingin ditemani gadis muda saat menyantap scallopine—irisan tipis daging sapi muda segar—dan mengakhiri malam di motel murah. Lebih banyak dari mereka patut dikasihani karena beristri perempuan yang siap menyita setiap uang dari kantongnya. Namun ada alasan lain sehingga para penggemar pescara kerap datang ke Arrigo Tavern.

Lupakan bir basi. Tangguhkan dulu khayalan tentang Elda. Arrigo Tavern punya zuppa yang lezat. Saat menghidangkan Zuppa di Pescara, Carmela selalu menambahkan seporsi scallopine. Carmela tahu cara membuat scallopine dengan kaldu yang lezat. Aku tak mau terang-terangan menyakiti hati istriku dengan mengistimewakan Elda. Carmela akan cemburu dan menolak ikut mengurus dapur tempat ini.

Elda memang menggoda. Lirikannya sanggup membuat siapapun berkeringat.

“Anda tak seharusnya berada di sini,” Elda terdengar ketus.

“Tetaplah menari untuk Arrigo Tavern,” aku berdiri di ambang pintu kamar rias.

Elda berbalik dan mengangkat alisnya. “Maka penuhilah janjimu.”

Aku gelisah. “Taverna ini butuh uang untuk membayar piutang bank.”

“Oya? Apa itu termasuk hutangku pada Hueno?” Elda memajukan wajahnya. “Aku harus membayar lelaki itu agar ia tak mengusirku dari flat,” lanjut gadis itu. Peluh membasahi tengkukku. Aku maju dan menutup pintu. “Kau dapat melakukan sesuatu untuk itu.”

Mendengarku bicara begitu, leher Alda memutar cepat. “Brengsek!” kecamnya, seraya menarik korsetnya lebih tinggi, menutupi dadanya yang putih. “Aku tidak selugu itu.” Desisnya tajam.

Aku angkat bahu dan memiringkan kepala.

“Aku tak sudi menemani para pejabat kota!” Elda nyaris berteriak. Aku panik. Aku meminta Elda memelankan suaranya. “Mereka pernah menipuku. Aku muak mendengar omong kosong Wali Kota keparat itu. Aku tak sudi berkorban lebih banyak untuk tinggal lebih lama di tempat busuk ini.”

Aku mengembangkan tangan, menahan bahu Elda. “Pertimbangkanlah untuk tak meninggalkan taverna ini sampai aku selesai mengurus semua permintaanmu.”

“Sampai semua pemabuk di kota ini puas meraba tubuhku dengan tangan kotor mereka? Sampai Carmela selesai menguras tiap keping tip yang menjadi hakku?”

Aku menurunkan tanganku. Elda benar. “Kau boleh menyimpan semua tip yang kau dapatkan. Gajimu naik satu kali lipat mulai bulan depan.” Aku berjanji.

Gasi itu tersenyum sinis. “Baik. Sekarang keluarlah!”

Seruan itu menahan gerakanku. “Elda, aku…”

“Keluar! Aku harus bersiap sebelum para pemabuk itu merusak tempat ini.”

“Elda…”

Namun gadis itu sudah memutariku, memelintir gagang pintu hingga terbuka, dan berdiri menunggu aku keluar, sebelum membanting pintu dan menguncinya dari dalam.

Malam itu Elda menggila. Ia menggelorakan panggung Arrigo Tavern. Gerakannya liar, menggoda. Sesekali Elda duduk di pangkuan pengunjung dan menerima apapun yang diselipkan ke balik celananya.

**

Sepekan berikutnya, Elda tak terlihat sejak sore. Seharusnya ia sudah datang dan mempersiapkan diri di kamar rias. Tak ada kabar tentangnya membuatku cemas. Hueno pun tak tahu kemana perginya gadis itu, saat aku menelepon menanyakannya. Elda tak pulang ke flatnya sejak semalam.

Carmela tetap melayani para tamu menikmati Zuppa di Pescara. Aku cukup puas dengan kerakusan pengunjung setengah mabuk yang terusir dari taverna lain. Orang-orang itu sanggup menandaskan dua tong bir basi sebelum sore usai. Namun aku harus mengusir beberapa orang, sebelum mereka terlanjur mabuk berat dan menyusahkanku.

Aku menikahi Carmela saat perempuan itu berusia 16 tahun, saat usia kami terpaut 15 tahun. Ayahku mengadopsi Carmela dari pasangan gipsy yang tewas dalam kebakaran besar di pesisir Genoa, 10 tahun sebelumnya. Seperti umumnya orang gipsy, Carmela setia pada ayahku dan menjadi pelayan di taverna miliknya, sampai aku menikahinya. Pernikahan yang dipaksakan. Aku menikahi Carmela untuk menutupi perbuatan laknat ayahku. Ayah mabuk berat saat memerkosa Carmela dan membuat gadis itu hamil. Bayi Carmela meninggal sehari setelah dilahirkan.

Carmela tak banyak bicara. Ia sepertinya siap menerima nasibnya. Waktunya habis untuk melayani taverna dan mendampingiku. Jika pengunjung taverna ini sepi, ia habiskan waktunya dengan membaca buku resep tua peninggalan ibunya. Ia mengunci diri selama berjam-jam di kamar rajut di lantai tiga. Dari kamar itu tercium aroma harum menyengat, saat Carmela mempraktekkan beberapa resep.

“Aku mau menari,” Carmela bergumam.

Kata-katanya itu mengejutkanku. Aku memiringkan kepala, isyarat agar Carmela mengulangi ucapannya. Aku mungkin sudah salah dengar.

“Aku bisa menari seperti Elda. Bisa lebih baik darinya.”

Aku menggeleng. ”Kau tak sedang—”

“Aku juga bisa mengelola taverna ini sekaligus.” Carmela memotong kalimatku.

“—meracau, kan?” Aku menyelesaikan kalimatmu.

Carmela menyeringai. “Kau seperti semua lelaki yang datang ke sini. Jika bukan hendak mabuk, kalian bermimpi bisa meniduri Elda.”

“Carmela!”

“Aku tahu. Ya. Aku tahu isi kepalamu yang sama busuknya seperti isi kepala lelaki yang mewarisimu tempat terkutuk ini!” Kemarahan Carmela itu tak biasa.

“Tutup mulutmu! Kau tak bisa bicara tentang ayah—”

“—Ayah?!” Carmela berteriak. “Alfie, kau hanya sedikit mujur karena tak mewarisi kedunguan Arrigo. Nasibmu tak lebih menyedihkan dari keparat itu!”

Kata-kata Carmela usai saat tiga orang polisi masuk dan segera menghalangi pintu belakang taverna. Mereka juga menutup pintu dapur dan memblokir lorong kecil menuju kamar rias. Carmela mendengus. Ia tuding mukaku. “Kau! Kau menginginkan Elda, kan? Kau hendak menuntaskan nafsumu dengan mengunjungi flatnya.”

Aku mundur dua langkah. “Aku? Aku tidak—” Terbata-bata aku menolak tuduhan Carmela. “Oh, Carmela. Kau—”

“—Tidak?” Carmela mendelik. “Kenapa kau tak jelaskan ketidakhadiran Elda saat ini? Mana dia? Hanya kau yang pernah terlihat mengunjungi flatnya,” desis Carmela. “Kau membunuhnya!”

Seperti tersengat listrik, rahangku menggelembung mendengar tuduhan itu. Aku sudah akan merenggut lehernya jika saja seorang polisi tak segera memepet tubuhku. Tapi aku tak peduli. “Elda mungkin pulang ke Manarola.”

Sayang sekali. Menurut polisi, tak seorang pun di Manarola melihat kepulangan Elda. Aku ditangkap polisi. Itulah sore terakhir aku melihat kebencian di mata Carmela.

**

Arrigo Tavern tak berubah. Tempat ini tetap ramai pengunjung. Sepertinya, orang-orang itu tak tahu—bahkan tak peduli—pada kejanggalan di taverna ini. Tak tampaknya aku dan Elda, agaknya tak menarik perhatian mereka. Itu aneh, sebab kerapnya mereka memenuhi tempat ini justru karena tarian Elda.

Carmela membelanjakan uang dengan efisien. Ia mengubah tampilan tempat ini menjadi lebih semarak. Ia bahkan mengubah nama Arrigo Tavern dengan nama baru: Taverna de Carmela, dan ia tak lagi menjual bir basi.

Perempuan itu mendapatkan keinginannya. Ia akhirnya bisa menari di hadapan para pengunjung yang juga mengelu-elukan liukan tubuhnya. Para lelaki menyelipkan lembaran uang ke balik celananya, tak peduli bahwa pinggulnya yang besar itu mampu merobohkan panggung. Para lelaki ikut menari dalam tempo musik yang cepat. Beberapa dari mereka meringis, berusaha meredam gelora yang menjilam-jilam saat tubuh tambun Carmela meliuk-liuk.

Mereka tergila-gila pada erotisme Carmela, seperti yang pernah aku saksikan pada Elda. Para lelaki di pesisir Genoa berdatangan untuk menghabiskan uang mereka demi bir dan tarian Cermela.

Carmela tahu cara memperoleh keberuntungannya. Di lantai tiga, di sudut kamar rajut yang berhias manik-manik kaca, di atas pemanas parafin, sebuah guci tembikar bercorak bunga Murbei mendesis-desis mendidihkan sop. Setiap hari, sebelum taverna dibuka, Carmela ke kamar itu untuk mencicipi semangkuk kecil zuppa ramuannya.

Zuppa dan el-Cuerpo membuat Carmela mencapai impiannya. Ia memiliki taverna, menari, merebut perhatian setiap lelaki di pesisir Genoa. Zuppa di Elda telah membuat gadis Manarola itu hidup di tubuh Carmela. (*)

Molenvliet, Januari 2015

 

Catatan:

– Strada = jalan; – Zuppa = sop; – el-cuerpo = sihir hitam gipsy untuk mencuri citra orang lain dengan memasak bagian tubuhnya.


[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Koran Tempo Minggu 2014

Cover Arsip Cerpen Tempo 2014

Download: klik link di bawah ini

E-BOOK_KUMPULAN CERPEN KORAN TEMPO MINGGU 2014

tujuan pengarsipan dan dokumentasi 49 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah fisik atau karateristik material, dan penambahan dalam skala yang dapat ditoleransi. semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media dimana karya yang bersangkutan dipublis pertama kali. dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta dan media yang mempublikasi subyek karya pertama kali.


Desa yang Teduh, Buah Mpana, dan Siluet Hitam

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Dari : Hera Hizboel (Rabu pukul 9:46)

Dear Ilham,

Aku lega bahwa ternyata Pos sungguh masih setia pada kita. Semua teman baikku, mendapat jatah 1 novel dariku. Kalau aku kirim padamu, berarti dikau termasuk teman baikku. Jangan pikirkan itu.
hmmm… Aku membayangkan indahnya tempatmu menyepi. Kapan2 cerita detail tentang tempat itu ya!
Ilham yang baik,
Please jangan sebut aku penulis cerdas cendekia, ah! Salah banget tahu nggak. hahahaha
Aku tak sabar menunggu ceritamu ttg pengalaman spiritual itu, dan aku juga “berdebar” menunggu bacaanmu tentangku. hehehehe

Salam hangat,
hera

***

KAMIS, minggu ketiga bulan Mei 2010. Sepagian itu aku menunggu suara yang tentunya demikian melekat di anak telinga. Suara sepeda motor tukang pos. Sengaja aku meluang waktu di beranda depan rumah; “menyantap” koran pagi…sesekali menyesap kopi yang segera menjadi dingin karena udara pagi diluaran. Meluang waktu seperti ini bukan tanpa alasan, aku sedang menunggu sesuatu, tentunya.

Biasanya, selepas kunjung dari sebuah toko buku, pulangnya tasku pasti terselip satu buku belanjaanku, setidaknya. Tetapi pada minggu sebelumnya, tiga buah buku yang menyita selera bacaku tidak kutemui di rak pajang. Sebuah buku tentang tinjauan ekonomi; sebuah lagi buku tentang thasawuf karya penulis asing terjemahan; dan buku milik Naimah Herawati Hizboel, Pendar Jingga di Langit Ka’bah, terbitan Langit Kata.

Tak usahlah aku menyebut dua judul buku lainnya di atas itu, tak mau aku, sebab diterbitkan atas dasar lisensi, bukan murni karya penulis dan penerbit nasional.

Lalu mengapa aku sepagian itu menunggu pak Pos di beranda depan? Karena tidak kutemukan di rak pajang, jadilah aku memesan lewat jasa toko buku bersangkutan. Mereka berjanji padaku paling lambat tujuh hari.

Baiklah, mumpung harga buku terbitan nasional masih cocok dengan kantong pas pasan seperti aku, maka aku pun lanjur memesan. Tetapi, aku dengar kabar harga buku akan naik beberapa persen di bulan bulan ke depan, sebabnya yang aku dengar; harga kertas sedang naik.

Wualaah…ini akal akalan para industrialis pulp and papers saja. Para pembalak berijin itu sedang dijepit perang terhadap illegal logging, mereka lantas merajuk dengan trik menurunkan produksi. Beralasan itulah hingga isunya melebar ke soal harga kertas. Padahal, ketika perang pemerintah melawan pembalak itu sedang ramainya seperti sekarang, mana mungkin mereka kena imbas. Bukankah mereka itu “pembalak berijin keluaran menteri”? Bukankah pemerintah hanya memerangi para pembalak liar? Jujur sajalah jika hendak memperlebar gain keuntungan, tidak dengan cara bersembunyi di balik punggung program anti-balak bikinan pemerintah, dan lalu “menghasut” usaha yang bahan bakunya mereka pasok.

Bip…bip…bip… suara klakson sepeda motor hadir disela bunyi mesinnya. Itu pak Pos. Dia tersenyum, yang aku balas dengan menanyakan kabarnya. Sehat saja, katanya. Tangannya merogoh tas gandeng mirip saku besar warna cokelat, lalu dikeluarkan-lah tiga paket berpembungkus cokelat. Dua dari paket itu segera kutebak sebagai buku pesananku, sebab di sisi kiri berdekatan dengan cap pos ada cap penerbit. Tetapi apa paket ketiga itu? Melihat bentuknya mirip dengan kedua paket lainnya. Kuduga itu buku kiriman Hera, penulis Pendar Jingga di Langit Ka’bah itu.

Jika benar, maka buku itu terlambat sehari, hingga datangnya pas betul dengan dua buku lainnya itu.

Setelah bercanda sebentar dengan pak Pos, kulepas dia menjalankan tugasnya. Tidak ada pegawai di dunia ini setelaten pengantar surat, urusan jasa yang paling tua umurnya. Tak peduli hujan, panas, perang, atau damai, pun mereka tetap bekerja. Resiko pekerjaan? Mungkin. Tetapi, siapapun boleh memilih untuk menolak melakukannya, bukan? Dan, orang seperti pak Pos, buktinya, tidak menolak tugas macam itu.

Aku langsung membuka pembungkus paket ketiga, yang dua biar belakangan saja, toh aku sudah tahu apa isinya. Penasaranku benar, paket ketiga itu adalah buku karya penulis Hera. Warna jingga pada sampulnya menegaskan judulnya. Ada gambar orang tawaf di sana. Megah Ka’bah berselubung kiswah beludru hitam tebal, memampang pintunya yang besar, kesan emas juga terlihat. Aku buka segel plastik tipis pelungkupnya, lalu aku ke bagian daftar isi buku. Begitulah kebiasaanku sebelum membaca buku; menelusuri judul bab lebih duhulu.

Setelah menerima buku Pendar Jingga di Langit Ka’bah, aku simpan buku Hera itu, pada tumpukan teratas dari tiga buku bekalku. Tak kubaca dulu buku itu. Siang itu aku harus berangkat menuju ke sebuah tempat, di sebuah pulau, untuk menyepi, meluang waktu dengan sengaja. Demikianlah aku jika hendak membaca, tak boleh ada interupsi, biar isi buku benar melekat pada benak.

Mobil sudah dipanaskan mesinnya, sepagian tadi. Aku masuk rumah untuk berbenah, memilah beberapa pakaian untuk aku bawa, notebook, se-pack rokok kegemaran, dan…baju hangat, sebab tempatku menyepi nanti udaranya lumayan dingin.

Maka, jadilah aku berangkat ketika mentari nyaris vertikal.

***

AKU selalu ke tempat ini untuk menghindari bingar, dan lepas dari rindu. Kabaena, nama tempat itu. Ini pulau kelahiran ibu bapakku. Letaknya paling selatan di jazirah tenggara Sulawesi. Mencapainya; berkendara kurang lebih tiga jam dengan mobil, lalu naik kapal kurang lebih tiga jam pula. Penciri bagi siapapun untuk tahu apakah pulau itu sudah dekat; ketika angin menyibak awan nimbus yang berkumpul di pangkal sebuah gunung batu berbentuk kotak. Begitu gunung batu itu terlihat, maka perjalananmu akan segera pungkas di dermaga. Nama gunung itu Watu Sangia (harfiah dari bahasa setempat untuk Batu Suci, atau Batu Para Dewa).

Gunung Watu Sangia

Ada beberapa versi riwayat yang berkenaan penamaan pulau Kabaena hubungannya dengan keberadaan gunung batu itu. Pelaut muslim dari kesultanan Ternate, Tidore, dan Bacan, dahulu ketika mengunjungi Jawa untuk berdagang, menjadikan gunung batu di pulau itu sebagai penanda separuh perjalanan laut mereka. Konon, nama Kabaena itu juga awalnya dari mereka itu; saat mereka bersua pertama kali, mereka terkejut dengan bentuknya yang nyaris menyerupai kubus. Lalu mereka teringat pada Baitullah, dan memberinya sebutan “batu yang mirip Ka’bah” atau Kaba’ena. Itu merujuk karena mirip saja, tidak ada maksud lain.

Allah SWT memang berkuasa atas segalanya. Gunung Watu Sangia ini menjadi landmark pulau Kabaena hingga kini. Jika melihatnya dan memandangnya dengan lekat, seketika engkau akan tersadar pada pertanyaan; bagaimana bisa batu sebesar itu seolah olah ditancapkan pada bumi? Atau macam terlihat tumbuh dari alas bumi. Allahu Akbar!

Akan eksotik melihat pemandangan pada gunung itu tatkala engkau mengunjunginya pada bulan antara Maret sampai Juni. Sebab pada bulan bulan itu hujan demikian rapat turun, sehingga puncak gunung itu terlihat berselimut halimun. Berputar putar mengitari dinding tebingnya yang vertikal. Sesekali engkau akan menemuinya diselubungi halimun tebal pada puncaknya, hingga tampaklah seperti jamur raksasa.

Selepas dermaga Sikeli, aku masih harus berkendara menuju sebuah desa sejuk di kaki gunung batu itu. Ada tiga desa yang inap tetap pada punggungnya; desa Rahadopi, desa Tirongkotua, dan desa Tangkeno. Nah, tujuanku adalah desa Rahadopi itu. Disanalah aku akan menghabiskan waktu lepas dari bingar kota.

Umumnya, ketiga desa ini bersuhu sejuk. Pada musim penghujan, dingin akan mengigit mencapai tulang, kadangkala. Ada lelucon bahwa tempat seperti ini sangat bagus buat beranak pinak; karena dingin akan melarangmu bangkit dari peraduan, asik mendekap istri, bolehlah. Hahahahaha…lelucon segar, sesekali, tak mengapa kan?

Tempat ini, desa Rahadopi, aku memilihnya untuk bertenang, barang sebentar. Desa ini asri, udaranya sejuk, indah. Bagai melekat di punggung gunung Watu Sangia. Di seberang tampak jajaran gunung Sampapolulo, yang juga kerap berselimut kabut. Selalu, warganya ramah menyambut. Pada beranda rumah tinggi, tempatku sering membaca, dapat kulihat Sikeli, wilayah pelabuhan, dan beberapa desa lain yang berjejer indah di sepanjang jalan; Rahampuu, dan Teomokole.

Di relung lembah, di kaki gunung Sampapopulo, menjalar alir air sungai La’Kambula; berarus deras tatkala musim penghujan, dipenuhi batu besar, berair dingin sekali. Sejuk berenang di sana pada musim kemarau. Selalu senang, khidmat rasanya berada di sini saat Ramadhan; selalu tak terasa waktu saat Idul Fitri menjemputmu. Waktu seakan lekas rasanya.

Buah. Ada suatu buah yang tak ada di tempat lain, mungkin. Suatu buah hutan yang aku gemari, buah Mpana namanya. Rasanya asam manis. Munculnya di pangkal batang pada tumbuhan Mpana, berdaun pedang yang lebar. Warna buahnya cokelat tua mirip warna kulit lengkeng, namun tampak ditumbuhi duri permukaannya. Bukan duri yang tajam dan melukai, cuman duri lunak. Isi buahnya; terdiri dari puluhan bulatan kecil bertitik hitam tengahnya yang berkumpul hingga ukurannya sebesar gundu. Menyantap buah ini sangat asik saat ramai dengan keluarga atau kawan, sambil bercakap cakap.

Di desa itulah aku “melahap” Sazkia. Tiga hari aku menikmatinya. Saat petang, dan saat malam mendekat subuh.

Aku baca Pendar Jingga di Langit Ka’bah lebih dulu, agar perhatianku tidak disusupi fikiran hasil bacaan dari buku lainnya.

Pengalaman “Menakutkan”

Membaca pengalaman trance Sazkia pada saat dia dihampiri Lailatul Qadr di mesjid Atta’awun itu membuat aku teringat pada pengalaman serupa yang aku alami.

Jika Sazkia berjumpa dengan rombongan malaikat yang shalat berjamaan didepannya, maka aku sulit menyebut mahkluk apa yang aku jumpai saat trance itu. Warna dan penampakannya saja berbeda, seingatku.

Pengalamanku bukan Lailatul Qadr, sebab terjadi tidak pada saat pertengahan Ramadhan. Terjadi pada malam malam biasa, saat sendirian, seusai sholat malam.

Ketika itu, wanita yang pernah menjadi istri pertamaku, sedang menjalankan tugas jurnalistik; ikut serta dalam rombongan KRI Soputan ke sejumlah pulau kecil di wilayah laut paling tenggara Sulawesi. Pada hari kedua kepergiannya, aku tiba tiba terbangun dari tidurku disebabkan sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan. Aku mendadak terbangun dan tertegun duduk di pinggir ranjang.

Jam pada dinding menunjuk angka kurang sedikit setengah dua dinihari. Sulit memejam mata kembali, aku memutuskan berwudhu, lalu sholat lail. Aku tak peduli apakah waktu untuk sholat lail sudah tepat atau lewat, namun saat itu aku sholat niatku adalah sholat lail. Seusai mengucap salam, sesuatu seperti mendorongku… bergerak ke arah tempat tidur.

(maaf, semua rambut di tubuhku merinding kembali sebab ketika menuliskan ini aku kembali mengingat pengalaman itu…).

Aku duduk dengan baik, aku angkat kedua kaki dan mengarahkan punggungku ke bantal di bagian kepala ranjang. Rasanya tidak semenit punggungku melekat pada springbed lunak itu, tiba tiba aku merasa berada pada sebuah ruang yang maya mengambang. Tubuhku seolah ringan bukan main. Aku mencoba menoleh panik pada dinding, dan mataku bersirobok pada jam dinding; jarum merah menunjuk detik tidak bergerak sama sekali. Sepi sekali sekelilingku.

Dalam keadaan ringan ini, sekuat tenaga aku hendak mendorong keinginanku untuk tersadar dari tidurku. Tetapi aku bingung, sebab sebenarnya aku memang berada dalam kondisi tidak sedang tidur, namun tidak pula sedang terjaga; aku berada di ruang dan waktu di antara sadar dan tidak.

Saat itulah aku melihat serombongan orang berjalan ke arahku. Seketika takut menyelubungi tubuhku. Aku benar benar takut. Selama ini aku tidak gentar pada siapapun, kecuali satu hal yang tak nampak olehku di dunia; Allah SWT. Menurutku, aku sebaiknya hanya pantas takut pada satu hal Itu. Aku tak akan pernah mau manusia dan mahkluk membuatku takut. Tetapi saat itu aku benar benar takut luar biasa. Orang orang—atau lebih tepat kusebut, siluet siluet hitam—besar itu, merebutku dari udara, menekanku hingga menyentuh tanah, mengikat tutup pada mataku dengan sehelai kain, kemudian tubuhku diangkat kembali dan ditumpukan pada bahu masing masing dari mereka.

Aku mengira ada kurang lebih enam siluet yang memikul tubuhku, sementara telingaku dengan jelas mendengar ribuan langkah dibelakang mereka. Banyak siluet lain yang mengikuti siluet siluet yang membopongku. Rasanya agak lama aku di kondisi itu, sehingga aku rasakan mereka berhenti di sebuah tempat. Aku tak tahu tempat apa itu. Mataku dibebat kain, aku tak bisa melihat suasana sekelilingku. Aku merasakan tubuhku diangkat lalu seperti diturunkan, dan diletakkan di sebuah bidang datar (yang belakangan aku tahu mirip sebuah altar dari batu pualam keras).

Setelah membaringkan tubuhku. Mereka seperti bersorak sorak, riuh sekali, bingar sekali. Aku bahkan mencoba untuk mengerti kata apa yang mereka teriakkan. Mirip diksi Arab, namun kurang jelas karena diucapkan sambil berteriak dan berulang ulang. Lalu seketika mereka diam serentak. Tak terlalu lama aku rasakan sesuatu menempel dileherku. Rasanya dingin dan tajam. Dalam kondisi itu, aku bahkan bisa merasakan apa apa yang menyentuh tubuhku. Bidang datar itu terasa dingin di punggungku. Demikian pula benda yang menempael di leherku itu.

Belakangan aku tahu ternyata benda itu semacam belati besar mirip pedang; semacam senjata pemenggal.

Rupanya aku dibawa mereka ke tempat itu tujuannya untuk dipenggal, tetapi aku tidak tahu mengapa, dan kenapa harus aku yang mengalaminya. Tapi aku tak peduli dengan jawabannya, sebab benda dileherku terasa makin dingin dan mulai bergerak menggesek. Saat itulah kepanikan, ketakutanku menjadi jadi. Menggigil hingga berpeluh, aku rasakan.

Tetapi semua gerakan mereka tiba tiba berhenti. Seperti ada sesuatu yang membuat mereka terdiam seketika, mematung. Karena terasa terlalu lama, aku merasa tubuhku sedikit bertenaga. Aku memberanikan diri membuka penutup mataku. Saat itulah, dari jarak yang demikian dekat, aku dapat melihat siluet siluet ini dengan jelas. Tak berwajah, tanpa bentuk paripurna, hanya siluet; mirip bayangan tubuh pada tanah yang bangun dan berjalan tegak. Sebuah siluet yang paling dekat denganku terlihat menggenggam pisau besar itu. Ketika melihat tempatku berbaring, sebuah batu persegi, serupa pualam keras, licin dan dingin.

Mereka tidak bergerak, diam mematung. Pada bagian muka yang aku duga adalah bagian wajah mereka, aku lihat tampak menengadah ke arah langit. Semuanya mereka, siluet yang ribuan itu, disekelilingku menengadah menghadap pada satu pandangan. Ke langit.

Apa yang sedang mereka pandangi sehingga mereka bisa diam mematung semacam itu? Aku pun menoleh ke arah langit seperti kelakuan mereka. Langit yang sebelumnya kelabu, tiba tiba perlahan menghitam. Di balik awan yang bergulung gulung hitam itu, terlihat cahaya sesekali benderang, seperti ada petir yang menyambar hingga membuatnya terang sesekali. Semakin lama cahaya itu berpendar kian terang, kemudian membuat silau. Mataku terasa sakit. Lalu sinar cemerlang itu meredup perlahan seiring dengan tersibaknya awan membuka ke arah berlawanan, seperti gerbang yang rentang terbuka. Pada bagian yang terbuka itulah sinar cemerlang seperti menerobos hendak menghujam bumi.

Hal aneh kemudian terjadi. Siluet yang kuduga ribuan jumlahnya itu, tanpa aba aba langsung jatuh bersujud di hadapan sinar itu. Semuanya bertingkah seperti itu. Maksudku semuanya, kecuali aku. Dari tempatku dibaringkan aku dapat melihat jumlah mereka, Naudzubillah… Allahu Akbar…ternyata jumlah mereka mungkin jutaan, sebab mataku tak menemukan ufuk yang bersih tanpa ada sosok sosok itu.

Sejauh mataku memandang berkeliling, kulihat hanya sosok sosok itu yang sedang bersujud tanpa bergerak. Aku segera turun dan berjalan ke tepian di mana bagian cahaya itu jatuh. Disanalah aku melihat dengan jelas dari sumber mana sinar itu keluar; sinar itu memancar cemerlang dari sebuah benda yang besar membentuk huruf arab ber-harakaat. Aku baca, dan segera sadar untuk menghapalnya; kalimat tauhid itu.

Setelah membacanya tiga kali dan yakin telah aku hapalkan, anehnya suasana di sekitarku perlahan berubah. Sosok sosok bayangan itu menipis perlahan lahan kemudian hilang. Begitu juga dengan kondisi di sekelilingku, yang kembali mewujud seperti semula; ke bentuk kamar yang aku tempati.

Kudapati tubuhku masih terbaring pada posisi ketika aku hendak bersandar tadi. Jarum penunjuk detik pada jam di dinding terlihat bergerak lagi.

Ketika semua kondisi kamar itu terasa sudah kembali seperti semula, maka inilah hal yang membuatku takjub dan merasa luar biasa hingga kini. Kalimat tauhid, yang bersinar cemerlang itu seperti masih melekat tepat di flafon kamar itu, tepat di atas kepalaku. Aku dirasuki takjub yang luar biasa hebat hingga tak bisa bergerak.

Berbeda dengan suasana sekelilingku yang berubah cukup cepat itu, kalimat tauhid yang seolah menempel di flafon itu demikian perlahan menipis dari pandanganku. Itulah mengapa aku bisa membacanya berulang ulang sampai tulisan itu benar benar hilang sama sekali. Agak sedikit lama hingga aku pulih benar dari kondisi kesima itu. Sadarku pulih sepenuhnya, dan segera tahu mesjid sudah mengumandangkan azan subuh.

Peristiwa itu terjadi di penghujung tahun 1999. Selama empat tahun selanjutnya, setelah pengalaman itu, aku tidak pernah berhasil tahu apa makna dari pengalaman yang aku alami. Satu satunya hal yang aku lakukan pada permulaan adalah; segera mencari tahu apa arti sesungguhnya kalimat itu. Hampir tiga bulan pertama aku sibuk mengejar literatur, yang tak kusangka ternyata jawabannya datang dari ibuku sendiri, seorang guru agama Islam dan pengajar mengaji itu.

Pada beliau aku ceritakan pengalaman itu. Beliau terdiam setelah mendengarnya, lalu menangis masuk ke kamar. Aku pulang saja. Dua hari setelahnya, beliau menelepon, meminta agar aku mengunjunginya lagi. Tanpa diminta pun aku memang akan selalu mengunjungi beliau.

Dihadapanku, beliau berkata tentang arti kalimat itu. Menurut beliau kalimat yang aku lihat itu adalah bentuk penegasan yang keras perihal ketauhidan Allah SWT. Sebentuk kalimat dasar yang sekaligus membangun makna maha luas.

“Ceritakan pengalaman itu untuk mengurangi takutmu, tetapi jangan sebut kalimat yang kau lihat itu pada orang lain. Tentunya ada alasan hingga mengapa kamu diperlihatkan hal hal macam itu. Jika Allah menghendaki pengalaman itu untuk semua orang, maka Allah akan memperlihatkannya pada semua orang. Simpanlah untukmu, dan bersabarlah.” Begitu pesan ibuku.

Sayangnya…hingga sekarang, aku kira aku telah “ditegur” oleh Khalik. Ada sesuatu salah, atau keliru berat yang pernah aku buat, barangkali.

Ya…mungkin itu adalah sebuah teguran, peringatan. Sayangnya lagi, aku tak pernah ingat atau tahu apa salahku. Apakah aku harus ingat? Barangkali…dengan ingat apa salahku…sedikit menenangkan fikir dari ribuan tanya perihal tersebut.

Tapi, tak mengapa…aku masih bersyukur; jiwaku tak direnggut-Nya saat itu juga.

Dan, yang aku tahu, ketika berurusan dengan hal hal sulit, aku cukup mengucapkan kalimat itu dalam hati dengan sungguh sungguh dan takzim; maka urusanku pasti mudah.

Mungkin itu faedahnya….***


%d blogger menyukai ini: