Tag Archives: gunung

Green Pen Award 2015

IMG_0009f2

GREEN PEN AWARD 2015 awarded to short story: “Musim Jamur”

GREEN PEN AWARD 2015 awarded to short story:
“Musim Jamur” by Ilham Q. Moehiddin

————————————————————————

Musim Jamur

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Satu

Sejak awal subuh Saimah sudah menyiapkan isi balase (keranjang anyam dari daun pandan kering). Musim ulepe (jamur hutan) sudah tiba di hutan-hutan gunung Saba Mpolulu, sepanjang Juni sampai November. Ia belum membangunkan suami dan anak lelakinya. Ia membiarkan mereka tidur sampai segalanya selesai dipersiapkan. Para pencari jamur butuh banyak tenaga. Di dalam hutan nanti, sebelum pencarian, mereka akan menghabiskan sedikit waktu di landaian, mendirikan olompu (bivak/kemah hutan) dan membangun penampungan.

Muhrim, putra mereka satu-satunya. Usai melahirkan Muhrim, entah kenapa Saimah tak lagi bisa beranak. Vonis dokter itu datang 13 tahun lalu. Walau akhirnya ia dan Ntoma, sanggup menerima kenyataan itu, tetap saja hati Saimah masih perih hingga kini.

Setiap orang di pulau ini selalu menunggu datangnya musim jamur. Musim penghujan telah menyuburkan spora jamur di hutan-hutan. Pada musim jamur tahun lalu, mereka mampu mengumpulkan jamur paling banyak di antara semua pencari jamur di sini. Muhrim mampu membaui jamur hutan dari tempatnya tumbuh, padahal jamur sukar ditemukan karena baunya yang tipis. Beberapa pencari jamur menggunakan anjing pencari.

Tahun ini pun mereka bertekad mengumpulkan jamur paling banyak. Sepekan lalu Ntoma sudah menentukan area pencarian nantinya. Ada beberapa area di hutan gunung Saba Mpolulu yang bahkan belum pernah dikunjungi orang. Jamur biasanya tumbuh di permukaan tanah, tetapi ada jamur tertentu yang tumbuh melekat di batang pohon. Jamur juga tumbuh di pokok pohon yang tumbang membusuk dan di celah bebatuan. Namun tidak semua jamur hutan dapat dikonsumsi karena beracun. Setiap pencari jamur telah diajari membedakan jenis jamur. Ulepe yang paling disukai pembeli karena warnanya yang putih terang dan beraroma earthy, mirip tanah lembap, seperti bau akar. Pernah Muhrim memetik rumpunan jamur putih seberat lima kilogram dengan garis tengah bervariasi.

Di pasaran harga jamur putih akan mahal jika dijual dalam sistem lelang. Orang-orang menggemari jamur hutan karena rasa dan teksturnya yang unik. Mereka suka membuat salad atau sejenis insatina —masakan dengan irisan jamur yang ditumis dengan campuran minyak zaitun, diracik dengan tomat dan aneka sayur lainnya

Sungguh kelezatan yang tercipta dari alam.

 

Dua

Subuh hampir habis saat Saimah membangunkan suami dan putranya. Perbekalan sudah siap. Balase mereka dipenuhi bekal untuk sepekan. Makanan dibungkus terpisah dari benda lainnya. Beliung kecil juga sudah diikat ke badan balase.

Ntoma dan Muhrim —seperti pemburu jamur lainnya— akan menghabiskan sepekan lamanya dalam hutan. Tahun ini, mereka akan melewatkan ritual penghormatan Sangkoleong (roh hutan dan kesuburan orang Moronene). Mereka percaya, doa pada Tuhan dan usaha yang sungguh-sungguh, akan membuat upaya mereka diberkati dan membuahkan hasil.

“Kami berangkat sebentar lagi,” ujar Ntoma seraya mengecup ubun-ubun Saimah dan langsung duduk menikmati kopi yang telah disiapkan istrinya itu. Saimah memukul-mukul persilangan simpul dua balase yang ia siapkan, memastikan ikatannya kuat sehingga benda-benda dalam keranjang itu tak mudah bergeser ke mana-mana. Ia tersenyum, merentangkan tangan, lalu meraih pipi Muhrim sebelum mendaratkan kecupannya. “Hati-hatilah di hutan nanti,” nasihat Saimah pada putranya itu. Muhrim membalas-cium tangan ibunya.

“Kami akan memisah di ketinggian 300 meter, lalu menikung ke arah utara,” ujarnya seraya mengarahkan telunjuknya ke atas punggungan hutan gunung Saba Mpolulu. “Akan ada area landai di sana untuk mendirikan olompu,” jelas Ntoma pada istrinya.

Saimah suka mendengarnya. “Kita butuh uang untuk memerbaiki rumah,” ujarnya.

Dua lelaki itu menatap Saimah.

“Tahun ini Dewan Adat juga membuat kompetisi bagi pengumpul jamur terbanyak. Hadiahnya lumayan untuk memerbaiki rumah,” tukas Saimah lagi.

Ntoma menempuk lembut pipi istrinya itu. “Bersabarlah. Semoga putramu itu kembali dengan banyak jamur,” janji Ntoma. Setelah menghabiskan sarapan dan kopi, ia dan putranya turun dari beranda belakang tumah.

 

Tiga

Muhrim berjalan mengikuti naluri dan penciumannya. Remaja itu yakin tak jauh dari posisinya sekarang ada sekumpulan jamur putih di bawah pohon Onene —sejenis pohon Resam. Ia melompati beberapa pohon yang tumbang dan berlumut, berhenti sesaat, lalu tersenyum saat matanya menatap rumpunan Onene di kejauhan. Ia tarik pangkal tali yang membuhul keluar melewati punggungnya. Beliung pun lepas dari ikatannya dan berpindah ke tangan kirinya.

Saat mendekati pohon itu, hidung Muhrim terpapar bau lembut jamur yang banyak. Matanya berputar. Ia tersenyum lebar, selain rumpunan Onene yang kini sedang diincarnya itu, di sekitar situ juga banyak pohon Ketapang yang tumbuh rapat. Dari sanalah datangnya aroma jamur sung bulan. “Banyak sekali,” gumamnya.

Muhrim berteriak memanggil ayahnya. Tiada sahutan. Tiga kali ia memanggil, tapi tiada jua berbalas. Ah, barangkali saja jarak ayahnya sudah jauh. Biar saja, toh mereka akan bertemu di bagian utara hutan ini.

Muhrim berjongkok dan mulai menggali akar Onene mencari sumber dari aroma yang ditangkap hidungnya. Bongkahan jamur satu demi satu ia keluarkan dari liang tanah dan segera masuk ke balase-nya. Jamur-jamur yang berat. Terbayang girang wajah ibunya saat nanti mendengarkan kabar dari Dewan Adat. Harapan yang membuatnya kian bersemangat menggali jamur. Satu per satu pohon Ketapang dihampirinya juga, memetik gerombolan ulepe di batangnya dan memasukkannya ke dalam balase kecilnya.

Jika balase penuh, ia harus segera ke olompu untuk memasukkan jamur ke wadah penyimpanan, sebelum kembali mencari ke tempat lain. Tetapi, ia benar-benar tak menyadari saat matahari merayapi ufuk, menelan bayangan pepohonan. Raibnya cahaya di dalam hutan itulah yang menghentikan keasyikan Muhrim mencari jamur. Kini ia bingung. Di samar sore seperti ini, ia tak bisa lagi melihat posisi pohon pertama yang menjadi patokan arah menuju olompu. Kegelapan sudah mengepung Muhrim.

 

Empat

Malam turun di punggungan hutan gunung Saba Mpolulu. Ntoma memutar keran minyak pada lampu tabung. Olompu mereka segera terang-benderang. Cahaya dari unggunan api tak mampu tembus sampai ke dalam bivak sederhana itu. Dahan cemara kering lumayan banyak sehingga ia tak sukar membuat api penghangat.

Bukan hewan buas yang kini sedang ia cemaskan, tetapi Muhrim. Putranya itu belum muncul di waktu yang mereka perjanjikan. Seharusnya Muhrim kembali ke olompu sebelum matahari pergi dari ufuk.

Ntoma tahu putranya bergerak ke punggungan hutan di sebelah barat, saat ia bergerak ke sisi utara. Ia membiarkan remaja itu mengikuti nalurinya. Balase Ntoma belum berisi jamur sama sekali, padahal ia sudah seharian penuh mengitari hutan bagian utara.

Jika Muhrim bergerak ke sisi barat, lalu berjalan membusur ke utara, maka mereka akan bertemu di lokasi teduhan yang memampang atol Sagori di kejauhan. Dari titik-temu itu mereka akan turun bersama menuju olompu. Saat Muhrim tak kunjung tiba di lokasi teduhan, Ntoma memutuskan untuk turun lebih dulu, sembari berharap Muhrim sudah mendahuluinya.

Sayangnya, tak ada Muhrim di olompu. Kemah hutan itu kosong. Bukan main risau hati Ntoma. Di hari pertama musim jamur tahun ini, ia harus mendapati masalah macam ini. Kecemasan menjadi bayangan yang tak henti-hentinya merajam kepalanya; bagaimana jika Muhrim tersesat? Bagaimana jika anak itu terperosok di tebing barat-daya, di bagian hutan yang terlarang untuk di dekati itu? Bagaimana jika ia jatuh ke jebakan rusa?

Aduh. Ntoma menekan kepalanya. Apa yang nanti akan dikatakannya pada Saimah.

Ntoma gelisah sepanjang malam. Ia menolak tidur dan terus menunggu, berharap anaknya tiba-tiba muncul dari kegelapan hutan. Jika saja gelap tak menghalangi, hendak ia terobos hutan gunung Saba Mpolulu mencari putranya. Tapi percuma mencari dalam keadaan gelap seorang diri. Ia bisa celaka, jatuh dalam jebakan rusa.

Ia harus segera ke punggungan hutan sebelah barat. Jika putranya tak ada di sana, ia akan ke bagian timur hutan, berharap bertemu dengan pemburu jamur lain untuk meminta bantuan. Ia tak hirau lagi dengan jamur apa pun.

Putranya jauh lebih berharga dari jutaan keranjang jamur putih.

Subuh belum tuntas, saat Ntoma menggegaskan dirinya ke punggungan hutan sisi barat. Ia masih ingat lokasi terakhir saat berpisah dengan Muhrim. Setibanya di sisi barat itu, Ntoma berteriak sekeras-kerasnya, berulang-ulang, memangil Muhrim. Tapi tiada balasan. Kini, ia harus bersusah payah menepis dugaan buruk yang ramai ke kepalanya.

Susah benar hati Ntoma. Tak sudi membuang waktu, Ntoma lalu berlari menembus lebatnya hutan menuju olompu para pemburu jamur lain di sisi timur. Di antara mereka ada Manek, sahabatnya. Lelaki itu tahu persis kondisi punggungan hutan sebelah barat dan utara.

Nyaris dua jam berlari, Ntoma tiba di sana bermandi peluh. Matanya merah. Untung mereka masih di sana. Pada Manek, ia ceritakan kejadian yang menimpa Muhrim. Manek juga mencemaskan Muhrim apabila remaja itu berkeliaran di sekitar jurang curam di bagian hutan barat-daya.

“Tebing itu harus diperiksa lebih dulu untuk memastikan Muhrim tidak berada di sekitarnya,” ujar Manek. Ia memutuskan menghentikan perburuan jamurnya demi membantu sahabatnya. Musim jamur hutan masih panjang dan izin perburuan jamur dari Dewan Adat baru akan selesai di akhir November. “Abaikan dulu jamur-jamur ini,” tukas Manek. “Kumpulkan anjing-anjing! Muhrim harus kita temukan sebelum hari berganti!” Serunya.

Selain Manek dan Ntoma, ada enam pemburu jamur lain di punggungan hutan bagian ini. Mereka juga sepakat mementingkan nasib Muhrim. Delapan orang itu memisah dalam dua kelompok. Manek memimpin kelompok pertama ke sisi barat, dan Ntoma memimpin kelompok kedua ke sisi utara. Dua kelompok ini akan bertemu di teduhan di sisi utara.

Punggungan hutan gunung Saba Mpolulu pun terjaga oleh riuh panggilan dan anjing-anjing yang tak henti menyalak, berebutan lari saling mendahului.

 

Lima

Muhrim tak panik. Begitulah ibunya mengajarkan. Hal pertama yang ia lakukannya adalah membuat api. Pemantiknya menyala begitu digesek. Ia mengumpulkan ranting kering untuk menjaga apinya tetap menyala. Remaja itu membuat olompu kecil yang menempel ke dinding sebuah batu besar —posisi aman dari intaian ular dan hewan buas lainnya. Percuma berjalan ke kemah dalam keadaan gelap. Itu bisa membuatnya kian tersesat.

Ia tak benar-benar tidur malam ini. Sesekali ia jilati jemari yang telah ia celupkan ke tabung garam untuk campuran tepung beras —agar ia terjaga. Malam merambati punggungan gunung Saba Mpolulu, meluruhkan embun dari udara dan mengendapkannya di lantai hutan. Hanya cahaya api yang bisa membuatnya terlihat dalam endapan embun setinggi pinggang orang dewasa itu. Muhrim jauh melenceng dari jalur yang ditunjukkan ayahnya. Posisinya sekarang tak jauh dari tepian tebing barat-daya.

Menunggu terbitnya matahari, ternyata lebih berat daripada berburu jamur.

Esoknya, dengan mata setengah mengatup karena deraan kantuk, Muhrim merapatkan sarung yang menggulung di bahunya. Subuh sudah usai, tapi cahaya matahari masih betah di pucuk pohon yang berdiri rapat dan enggan turun ke lantai hutan yang digenangi kabut. Rumpunan  pohon Onene terakhir yang dilihatnya kemarin, adalah satu-satunya yang masih dikenali Muhrim saat ini. “Aku benar-benar tersesat,” gumamnya.

Ia ingat ibunya, lalu ayahnya. Dua hal berputar di kepalanya saat ini; menemukan jalur menuju olompu, atau mencari sungai untuk ia susuri menuju kampung terdekat.

Dengan lumut, ia tutup sisa bara di perapiannya. Muhrim memastikan bara itu benar-benar padam sebelum ia pergi. Ia tak mau hutan ini terbakar karena ketidak-becusannya. Ia rapikan keranjang jamurnya, menarik keluar tali di sayap balase agar ia bisa menggendong keranjang itu serupa ransel di punggung. Mencari olompu ayahnya adalah hal tersulit dari dua pilihan itu. Lebih mudah mencari sungai. Menuju olompu ayahnya sangat mungkin bikin ia kian tersesat, sedang mencari aliran sungai Lakambula, akan membuatnya menjauhi hutan. Menuruti nalurinya, Muhrim harus turun ke lembah di bagian selatan punggungan hutan.

Muhrim sedang mengundi. Ia tak bisa memastikan butuh waktu berapa lama untuk sampai di batang sungai. Hutan di bagian ini rapat pepohonannya. Ia bersyukur bahwa setiap pemburu jamur selalu berbekal Taa, yang bisa ia gunakan untuk memapas perdu, membuka jalan, dan melindungi diri dari hewan buas.

Ini hari kedua Muhrim di punggungan hutan gunung Saba Mpolulu.

 

Enam

Dua kelompok pencari yang dipimpin Manek dan Ntoma sudah menyebar. Berlari dua jam membuat kelompok Manek lebih cepat tiba di tebing barat-daya. Waktu yang sedikit lebih lambat dari waktu Ntoma saat berlari menemui mereka ke sisi timur. Mereka berteriak memanggil Muhrim. Tapi tak ada sahutan dari remaja itu. Manek memutuskan menyebar di sekitar tebing dalam radius 200 meter.

“Jika Muhrim berteduh di sekitar sini, kita mudah menemukan jejaknya,” ujar Manek serius. Ia kenal areal ini. Penyusuran di pinggiran tebing dilakukan dengan pola vertikal; dua orang menyusur ke barat, dan dua lainnya menyusur sedikit ke utara. Sayang sekali, untuk urusan mencari orang, anjing-anjing itu bukan ahlinya. Hewan-hewan itu banyak berlarian dan menyalak saat mengendus aroma jamur. Mereka terbiasa dengan bau itu.

Mereka memeriksa pinggiran tebing dan lega tak menemukan jejak apapun. Mereka mencari rebahan perdu yang menjadi penanda bahwa ada sesuatu yang jatuh ke bawah sana. Kurang dari 500 meter menjauhi tebing, Manek menemukan sisa olompu dan bekas perapian. Ia menyibakkan abu, meletakkan telapak tangannya di dasar bekas perapian. “Masih cukup hangat,” gumam Manek.

Lantai hutan yang basah akan cepat mendinginkan tanah. Posisi olompu dan perapian Muhrim di dekat batu besar, membantunya mengawasi sekeliling. “Dia pandai. Sudah sejam lalu ia pergi dari tempat ini,” kata Manek. Anggota kelompok lainnya membenarkan.

Apungan kabut setinggi pinggang menyulitkan mereka mencari jejak Muhrim pada lantai hutan. Lumut di lantai hutan, jarang menyimpan jejak yang kentara. Jika bobot orang atau hewan tidak seberapa, lumut akan segera tegak lagi setelah beberapa menit.

Manek harus memilih; memecah kelompok kecil itu lagi, atau mengikuti sebuah jejak samar yang mengarah ke lembah. Ia duga itu jejak Muhrim yang mengarah ke sisi selatan, ke arah sungai. Jika remaja itu naik ke punggungan hutan utara, ia sudah bertemu kelompok Ntoma —dan sahabatnya itu pasti sudah turun untuk menggabungkan kelompok. Namun, jejak samar itu juga mencemaskan Manek. Sepengalamannya, besar kesempatan remaja itu bertemu hewan buas yang kerap berkumpul minum di pinggiran sungai saat siang.

Manek melepaskan nafasnya kuat-kuat. Uap air meluncur dari mulutnya. Ia pandangi kawan-kawannya. “Ntoma akan melepaskan semua urusannya dan membantu siapapun yang tertimpa kemalangan serupa ini. Putranya harus ditemukan, apapun resikonya,” ujar Manek pelan. “Aku akan terus mencari —bersama atau tanpa kalian,” sambungnya seraya menatap ketiga kawannya. Ia tak bisa memaksa dan tiga kawannya itu punya pilihan yang akan ia hormati.

Karai langsung melangkah ke sisi Manek. Dua orang lain menyentuh pundak Manek. Mereka akan bersama Manek sampai lelaki itu berkata sebaliknya. “Katakan saja apa yang harus kita lakukan.” Kata Karai.

Manek tersenyum pada mereka semua. “Karai, kau ikut denganku turun ke lembah.” Lalu Manek menyentuh bahu dua kawan lainnya. “Kalian, bawa anjing-anjing ini dan susuri jalur ke hutan utara, temui Ntoma di sana, dan kabarkan padanya tentang pencarian kami ke sisi selatan. Kalian ikut dengannya ke kampung, mengumpulkan orang untuk menyusuri sungai ke arah barat. Ntoma tahu apa yang aku maksudkan.”

Dua kawannya itu mengangguk dan disambut oleh Manek dan Karai. “Baiklah. Kita berpisah di sini,” tukas Karai seraya mengibaskan ujung sarungnya.

Di hutan utara, Ntoma terkejut menerima pesan dari Manek. Ia kenal betul kawannya itu. Permintaan Manek itu mengkonfirmasi kecemasan Ntoma bahwa putranya tak berada di jalur pencarian mereka. Manek memutuskan membuat jalur baru.

Kini, Ntoma merasa telah berhutang besar pada sahabatnya itu.

Mereka segera membongkar olompu, dan turun ke kampung. Mereka mengumpulkan orang untuk menyusuri sungai Lakambula. Itu bukan urusan mudah. Musim telah membuat kelembapan menetap di lembah dan mendinginkan air sungai. Kadang pula membuat batang sungai berkabut dengan tiba-tiba.

 

Tujuh

Muhrim mencari sungai. Dalam tiga hari, ia hanya pernah tidur dua kali dalam waktu yang sempit: bergelung di cerukan batu atau rebah dalam rongga pohon besar yang tumbang.

Suatu waktu, ketika hendak menuruni lereng dengan meniti sebatang pohon tumbang, lamat-lamat ia seperti mendengar namanya diteriakkan. Ia meneleng kepala sejenak, mencoba memastikan lebih saksama. Tapi sayang, suara seperti itu hanya sekali dan Muhrim mengira dirinya terbawa lamunan.

Bekalnya hampir habis. Tak ada waktu untuk menangkap hewan buruan. Sehari lagi, semua yang bisa ia gunakan bertahan hidup dalam balase jamurnya akan pungkas. Ia harus mendapatkan sesuatu untuk dimakan —walau daun sekali pun.

Sempat ia berputar-putar di satu tempat itu saja. Muhrim baru sadar saat ia kelelahan. Tiga hari berjalan mencari sungai tapi tak juga kunjung ia temukan. Hutan ini lebat di sekitar lembah, dan pepohonan menjulang tinggi. Derau angin kadang menghalangi pendengarannya.

Pada malam di hari keempat, Muhrim menyesali dirinya yang bisa tersesat seperti itu. Ia pemburu muda, walau berhidung peka, tetap saja ia kurang pandai soal hutan gunung Saba Mpolulu. Kepekaannya pada bau jamur tak membuatnya peka bau air, bau daun pepohonan dataran rendah, atau arah angin.

Muhrim mendapati pemantik api yang nyaris hancur karena lembap. Tinggal sebatang pula isinya. Tinggal itu kesempatannya malam ini. Dihimpunnya ranting pinus kering yang ia kumpulkan di sepanjang jalan, berharap damar yang menyelimuti ranting-ranting itu akan membuatnya cepat terbakar. Api dipantik dan hati-hati ia dekatkan ke ranting pinus. Cuma sebentar, reranting itu pun menyala dengan hebat. Muhrim lega. Ia punya api lagi. Tapi perutnya lapar. Ia mencari jamur dalam balase, dan kecewa tak menemukan apapun lagi. Sebongkah jamur terakhir ia makan mentah-mentah siang tadi.

Dalam balase, tersisa segumpal tepung beras yang disiapkan ibunya, persembahan bagi ruh hutan. Itu jelas bisa dimakan, namun Muhrim harus melembutkannya lebih dulu dengan air. Tapi bolehkah ia melakukan itu? Itu sesaji untuk roh hutan —Sangkoleong yang sangat dihormati dalam peradatan. Ruh hutan yang tak boleh dicemari siapapun. Jika tepung itu ia makan juga, Sangkoleong pasti akan marah.

Muhrim menyusun bebatuan membentuk undakan kecil dan meletakkan tepung beras itu di atasnya. Ia duduk dalam diam, mulai berdoa kepada Tuhan. Malam itu Muhrim tidur dengan tenang. Unggunan api mampu membuat hangat separuh tubuhnya.

 

Delapan

Manek menemukan jejak tebasan Taa pada tanaman perdu hutan yang pahit dalam pencariannya di hari ketiga. Tebasannya kasar. Manek menebak, itu perbuatan Muhrim.

Ia lega. Setidaknya, ia berada di jalur yang searah dengan Muhrim. Menyusuri jejak itu bisa membuat mereka menyusul Muhrim. Setelah jejak di perdu itu, beberapa kali Manek menemukan bekas perapian, membuatnya makin yakin jarak Muhrim tak jauh darinya.

Pada hari kelima, di sebuah cerukan yang terjal, Manek nyaris memutar jika saja ekor mata Karai tak menangkap sosok balase yang tersangkut pada perdu berduri di sisi cerukan. Mereka raih keranjang itu dan menemukan marka keluarga Ntoma pada penutupnya. Manek sadar, bengkoknya rimbunan perdu yang tumbuh di dinding cerukan karena tertimpa sesuatu. Lelaki itu dengan cepat menduga bahwa Muhrim telah jatuh ke dasar ceruk.

Manek menarik Taa’owu miliknya, memapas permukaan perdu agar terbuka. Samar-samar, di keremangan dasar ceruk, mata Manek melihat bayangan tubuh manusia. Itu tubuh Muhrim. Dibantu Karai, Manek turun ke dasar ceruk menggunakan tali dan menemukan remaja itu dalam keadaan yang menyedihkan.

Kondisi Muhrim bisa membuat siapapun jatuh iba. Luka memenuhi tubuh remaja itu. Kaki kanannya patah. Padahal ceruk itu tinggal berjarak 100 meter dari sungai Lakambula. Manek dan Karai segera menyelamatkannya, menyusuri sungai Lakambula dalam sehari, hingga mereka mencapai kampung Olondoro.

 

Sembilan

Muhrim sadar dari pingsan 24 jam berikutnya, di sisi Saimah. Ibunya merawat luka-lukanya hingga Muhrim cukup kuat untuk bercerita. Pada dua orangtuanya dan beberapa lainnya —Manek dan Kepala Adat— Muhrim menuturkan pengalamannya. Mereka takjub mendengar bagaimana Muhrim bertahan hidup di hutan yang belum ia kenali, sampai kemudian Muhrim menyumpahi para pemburu jamur. Mereka terperangah, terlebih Kepala Adat. Saimah seketika menunjukkan wajah murung.

“Tak sopan! Mereka menyelamatkanmu. Tetapi kau justru menyumpahi mereka. Kau tak punya rasa hormat sama sekali!” Geram Saimah sambil menatap Ntoma, meminta dukungan. Ntoma menegakkan tubuh, meminta penjelasan dari Muhrim. Manek mundur, tak mau ikut campur. Tetapi yang lainnya berdiri tegak. Bahkan Kepala Adat harus mencondongkan tubuh ke arah Muhrim.

“Kita semua sudah lalai,” begitu tunak suara Muhrim, “lalai pada akibat perbuatan kita pada hutan setiap musim jamur datang. Kita tak menghormati hutan. Kita lupa pada apa yang seharusnya kita pelihara,” ujar Muhrim dingin.

Semua orang berpaling pada Kepala Adat, membuat lelaki tua itu salah tingkah. Ia tak mengerti ke mana arah kata-kata Muhrim. Dahinya terlipat, bahunya terangkat saat menatap putra Ntoma itu —meminta kejelasan.

“Kita tergila-gila pada jamur dan di saat yang sama kita melupakan hal lain yang jauh lebih penting. Nafsu kita yang membuat Sangkoleong tak dihormati lagi sebagai ruh hutan.”

“Muhrim!” Saimah berseru menyebut nama putranya. Kesabarannya sudah habis.

“Aku baik-baik saja, Ibu.” Muhrim menggelengkan kepalanya. “Selain kakiku yang patah, tak ada yang aneh padaku.”

Kepala Adat menyentuh bahu Saimah.

“Kondisimu belum baik,” santun Kepala Adat kepada Muhrim, “kendalikanlah rasa takutmu.”

“Oh, Apua, nafsu kita pada Jamur telah mengabaikan sesuatu yang penting lainnya. Perburuan jamur bukan karena jamur bisa menjamin hidup kita,” Muhrim mendongak, “tapi kebutuhan kita akan jamur telah membunuh kehidupan lainnya,” ujarnya.

Muhrim kemudian bercerita apa yang ia lihat di hari pertama ketika ia tersesat. Ia menemukan rumpunan  pohon Onene yang tumbuh berkelompok di sisi barat hutan. Awalnya ia senang karena akan menemukan kumpulan ulepe dalam jumlah besar. Hidungnya tak terus membaui aroma jamur untoka dari akar-akar pohon itu. Namun, ia terkejut dengan apa yang ia saksikan esok harinya —suara Muhrim tercekat di bagian itu. Wajahnya tampak kecewa.

“Tak jauh dari rumpunan hidup pohon Onene, aku temukan rumpunan pohon Onene lain yang telah mati. Aku segera menyadari, saat kita mengeluarkan untoka dari akarnya, saat itulah kita membunuh pohonnya.” Muhrim menyeka air matanya. “Siapa kita yang merasa berhak membunuh kehidupan lainnya? Kenapa kita justru membunuh pohon Onene hanya karena jamur-jamur itu? Bukankah kita juga sedang membunuh ruh hutan? Sangkoleong?”

Orang-orang terdiam. Ntoma terhenyak di sisi kursi Kepala Adat yang juga membisu. Mata Saimah berkaca-kaca berusaha membendung kekesalannya.

“Jika kita ingin menghormati ruh hutan, seharusnya kita menjaga hutan tetap hidup.”

Saimah berdiri dan menuju ruang tengah. Ia raih balase Muhrim, mencari sesuatu yang tak ia temukan di dalamnya. Balase itu ia bawa di antara orang-orang, di dekat Muhrim. “Bukankah ibu membekalimu dengan sesajian buat Sangkoleong?” Tanya Saimah.

Muhrim menolakkan tangannya ke lantai dipan, mendorong tubuh agar tegak dan punggung ia sandarkan ke dinding. “Aku memakannya—” ujar Muhrim seraya menarik selimut menutupi kakinya yang patah.

“Sebenarnya, ibu-lah yang menolongku saat aku kelaparan. Sangkoleong tak marah. Ruh hutan itu hanya diam saja, membiarkanku melembutkan tepung sesajian untuknya agar bisa aku makan bersama garam yang ibu bekalkan.” Lingkas Muhrim.

Merah mata Saimah. Perempuan itu tak bisa lagi membendung air matanya. (*)

Molenvliet, Desember 2014

 

Catatan :

  • Balase, Olompu, Sangkoleong, Onene = frasa nativ orang ToKotua di Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara.

  • Gunung Saba Mpolulu, Atol Sagori, Olondoro, Sungai Lakambula = nama-nama tempat di pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara.

  • Untoka = sejenis jamur marasmus berhabitat di tanah dan kayu lapuk, lumut atau herba batang. Saat belum mekar, jamur ini berwarna cokelat kecil seperti jamur kancing.

  • Ulepe = sejenis jamur hutan hygrophorus, yang menjadi incaran pencari jamur hutan karena harganya yang mahal. Tumbuh baik di iklim tropis.

  • Taa = belati tradsional orang Moronene

  • Taa’owu = parang tradisional orang Moronene

  • Apua = sebutan untuk Kepala Dewan Adat orang Moronene

 

Iklan

[Puisi] Hikayat Tiga Ksatria & Batu Lateng’U

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Hikayat Tiga Ksatria

 

: Manjawari

 

Lelaki yang perkasa

Sebelah kakinya di gunung Sampapolulo

Di dadanya pokok-pokok enau berkelindan

Dialah raja bertubuh besar; Mokole RangkaEa.

 

Lompatannya melampaui pulau-pulau

tangannya menyisir awan

lalu matahari kentara dari timur

Dari Wolio datang kabar menggemparkan

Lamun laut akan menyerang benteng dalam tiga ratus ribu tombak

 

Kabaena sepandangan mata

Tetapi Wolio harus sabar

Sebelum Murhum dan Lakilaponto menjemput

Pantang baginya menulah sakti

sebelum dua saudaranya datang

 

Ohoi….Manjawari melompat sigap

Di gerbang Wolio, di pesisir yang bergejolak

Sapuan tangannya menenggelamkan armada lamun

Dia menghalau, dia menghadang, menjaga dua saudara

Di saat Murhum mengamuk di utara

Lakilaponto menerjang di barat daya

 

Manjawari, sang Mokole Kabaena

Padanya, Sapati dianugerahkan

Padanya, Selayar dikuasakan

 

Di tangannya, Kabaena menuai jaya

Mokole ketujuh yang perkasa, Opu Manjawari

Di bekas istananya kini dia tenang

Di keheningan Sampapolulo, dia bersedekap

Sebuah kerangka raksasa tujuh meter

Duduk hening di kursi batu.

 

: Lakilaponto

 

Lakilaponto mendulang firasat

Mimpinya semalam tentang putri yang dirapun

Putri yang bermukena

Entah siapa yang kini bersiasat

Dua pulau mengapit, haturkan sembah

di jantung Tongkuno

 

Murhum telah datang

Padanya terkabar perihal bencana

Wolio sedang dirapun, ada lamun mendekat

Murhum tak bergerak, Lakilaponto tak bangkit

Kesaktian tak akan berguna, jika Manjawari tak dijemput

 

Kepada siapa selendang Sultan hendak dititipkan

Pada riasan bomba di tengah makam

Tongkuno yang tua, Lakilaponto berwasiat

Jika dia tak kembali, selendang Sultan mesti dilipat

 

Lakilaponto, manusia sakti negeri Tongkuno

Di Barat Daya, lelaki perkasa ini mengamuk

Dia terjang lamun, yang merapun di sudut

Seratus tombak, musuh rebah ke tanah

Inilah akhir mimpinya, inilah tafsirnya

 

Wanita bermukena dalam mimpinya

adalah Wolio, penebus akhir riwayat

Pada Murhum, diwasiatkannya tentang mukena

Kerudung sebagai permulaan masa.

Manjawari diciumnya. Setiap lelaki perkasa

Tahu kemana harus pulang.

 

: Murhum

 

Murhum yang sakti datang

Di hadapan Lakilaponto dia bersimpuh

Sultan itu tak bangkit, Murhum pun tak bergerak

Wolio harus bersabar, katanya.

 

Kabar yang dibawa Murhum, sungguh lena

Wolio akan dirapun, lamun dari timur sepenggalahan

Murhum harus tahu, adalah Manjawari yang bertuah

Lakilaponto tak akan beranjak,

Maka Manjawari harus berbilang ikut serta

 

Lelaki beraras langit, Murhum orangnya

Utara Wolio dijaganya, dihalaunya dari lamun

Senjatanya berputar, memakan lawan

Tiga saudara, tiga tuah

Lakilaponto merusak lamun begitu hebat

Tubuh Manjawari yang besar bikin lamun ngeri

Menjerit dan lintang pukang mereka

Melihat amukan ketiga saudara

 

Pada Murhum, Lakilaponto menitip wasiat

Agar memasang gerudung pada Wolio

Opu Manjawari sebagai saksi

 

Pada Murhum, Lakilaponto memberi tegas

Opu Manjawari akan menjaganya dari selatan

Hormati kuasa Manjawari dengan kabalu

Jaga hati Manjawari dengan kande-kandea

 

Lunas mimpi Lakilaponto

Tunai harkat Manjawari

Wolio kini bermukena

Di bawah duli Murhum, Butuni bersolek

2011

***

Hikayat Tiga Ksatria adalah gubahan ke bentuk syair yang mereduksi kisah sejarah lampau perihal tiga kesatria yang datang membantu kerajaan Wolio, dari ancaman serbuan perompak di perairan Ternate dan Tidore.

***

Batu Lateng’U

 

1

berlimpah hormat kami haturkan

dua puluh lembah mengantarainya

benda persembahan terbentang di muka

Dari seberang lautan kau berperahu. Dua ribu armada dalam bentangan sayap bangau. Dua puluh empat bidadari menyambut dengan selendang. Dibukanya jalan saat kakimu menyentuh bumi. Batu Lateng’U, batu keramat, kau pijak, memecah tiga. Pusaka kau simpan di belahan rambut pada seorang bidadari tujuh wajah. Wahai, lelaki yang di dadanya keluar para Opu. Bilakah batu Lateng’U memberi isyarat? Pada rumpun padi yang bunting? Pada kemilau sebiji mutiara kuning laksana emas? Kau wasiatkan Bala Olo Pedandi’A padaku untuk aku ingat: pada masa ketiga akan datang tiga yang bercahaya bagai sebatang bombana dan dua lembar kain enu.

2

pinang satu kerat, sirih sekapur

kesana-kemari, laksana sebiji kemiri dalam gendang

tanduk rumah, bumbungan mahligai

Menemani perjalananmu, sebatang tongkat bambu yang ruasnya dari belulang naga. Oh, Sawerigading, kami harus menepuk pundak untuk mengingatmu. Di tepian konali engkau mengiris topi untuk kau pupuri tanah yang dipenuhi doa dan harapan. Dendeangi tunduk di kakimu, menerima perintah. Dendeangi menata keturunannya di pesisir selatan, pada tenggara pulau Sulawesi. Sebelum Sawerigading menurunkan tumit, engkau pijak batu Lateng’U, hingga pecah. Menjadi tiga lajur, tiga warna-warni. Sawerigading berjanji akan kembali, sebelum badik Tamano Moronene memutih garam pada ujungnya.

3

irisan atapnya, potongan pangkal kasaunya

teduh tirisan atapnya, ujung potongan kayunya

agar mereka senantiasa ingat kapak dan parang sebagai alat pencahariannya

sampai mereka beruban dan berjalan bungkuk bertongkat

Pada pagi yang rawan, datang kabar tentang Nungkulangi yang rebah. Lelaki perkasa itu hujub di anak sungai mata permaisuri. Digenggamnya hulu badik Tamano Moronene. “Inilah waktu yang diperjanjikan, wahai….para pewaris,” suara putri Luwuk mengiringi Bala Olo Pendandi’A. Tiga tuan dan seorang puan berdiri di bawah bambu, menunggu api menyentuh kepala. Badik Tamano Moronene di hujamkan ke bumi. Saat telapak Nungkulangi menyentuh bahu maka restu diberikan, titah diturunkan, wasiat disampaikan. Di hadapan Nungkulangi yang membusung, Ntina Sio Ropa, si putri tujuh rupa menjadi pembela Poleang. Di hadapan Nungkulangi yang tegak, Eluntoluwu, si putra bijak menjadi payung Rumbia. Dihadapan Nungkulangi yang perkasa, Indaulu, si putri jelita menjadi benteng Kabaena. Bala Olo Pedandi’A telah ditunaikan; tatkala batu Lateng’U pecah tiga di bawah telapak kaki moyangnya, sang Dendeangi. Bombana menjelma serupa tiga sulur bersimpul tunggal.

2011

***

Diangkat dari sejarah tua terbentuknya kerajaan Bombana yang kemudian memecah menjadi tiga protektorat kerajaan; Kabaena, Poleang, Rumbia.

Fig. 68. Wandzeichnungen aus der Batu Buri-Honle bei Tankeno - gez. Grundler. (Gambar 68: Lukisan dinding di Gua Batu Buri, di Tankeno - ttd. Grundler)

Fig. 2. Die beiden hochsten Berge Kabaenas vom Norden her. (Gambar 2: Gunung Tertinggi di Kabaena, tampak dari sisi utara).

Collectie Tropenmuseum: Tekening van Het Skelet van Een Woonhuis op Kabaena Celebes - tmnr 10003886 (Kerangka rumah di Kabaena Sulawesi - Gambar: Koleksi Tropenmuseum)

Fig. 2. Balo-Haus im ostlichen Kabaena; vorn ein Grab mit Opferpfahl (Gambar 2: Rumah Balo-Moronene di Kabaena bagian timur; dengan tiang pengorbanan pada bagian depannya).

Fig. 1. Ein Huis in der Landsehaft Tankeno, Nord-Kabaena; Blick von Enano auf den Sangia Wita (Gambar 1: Sebuah rumah di wilayah Tankeno, Kabaena Utara, gambar diambil di Enano, Sangia Wita).

Fig. 1. Ein Huis in der Landsehaft Tankeno, Nord-Kabaena; Blick von Enano auf den Sangia Wita Gambar 1: Sebuah rumah di wilayah Tankeno, Kabaena Utara, gambar diambil di Enano, Sangia Wita.

Ein Moronene-Haus in Sud-Rumbia (Sebuah rumah orang Moronene di wilayah Rumbia).

Deskripsi gambar 3: Kampiri, salah satu bentuk rumah dari tiga jenis rumah dalam peradatan orang Moronene, di Pulau Kabaena. Dua lainnya adalah; Laica Ngkoa (rumah besar), dan Olompu (rumah kebun).

Sistem Perhitungan Waktu / Sistem Papan Bilangan Orang Moronene.

Sistem Perhitungan Waktu / Sistem Matriks Bilang'ari Sosial-Ekonomi Orang Moronene.

Salah satu sudut benteng kerajaan Kabaena-Moronene di Tankeno.

Salah satu sudut benteng kerajaan Kabaena-Moronene di Tankeno.

Gunung Watu Sangia, dilihat dari Tankeno.

Gunung Sampapolulo (di selatan Gunung Watu Sangia).

Situs gua bersejarah Watu Buri (Batu bertulis) di Tankeno. Beberapa bentuk lukisan pada dinding gua dapat dilihat pada gambar pertama di atas. Goa ini dipercaya sebagai tempat Ratu Indaulu pertama bermukim sebelum membangun istana kerajaan di Tankeno. Di dalam gua ini masih dapat ditemui berbagai perkakas dan meubel terbuat dari batu. Mulut gua ini sangat besar. Perhatian gambar orang di tengah di sisi bawah foto.

Gua Watuburi (gambar tampak dari bagian dalam).

Foto-foto berbahasa asing adalah koleksi antropolog Jerman, Grubeur dan Johannes serta koleksi Tropenmuseum, Belanda. Sedang foto lainnya diambil dari berbagai sumber terkait.


Rubaiyat [XXXIX]: Kornelian Satu Qirat

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

aku telah pulang, seusai

menyampaikan pesan

kelembutan yang terkirim dalam hembusan

saat pelupukmu menyiapkan tangisan

 

kepada laut aku berunding tentang sungai

kepada sungai aku titipkan kerinduan hutan

kepada hutan aku bisikkan salam hujan

kepada hujan aku simpan keinginan langit

 

tiada syair yang dapat mengindahkan dunia

tiada syair yang dapat menghancurkan dunia

tiada syair yang menjelma dalam kedirian manusia

hanyalah ada syair manusia perusak dunia

 

yang mematahkan gunung dengan telunjuk mereka

yang mengeringkan samudera dengan mata mereka

yang membalik tanah dengan tumit mereka

: tidak datang yang dua sebelum yang empat

 

tidak datang yang empat sebelum yang dua

tidak datang yang empat sebelum yang empat

tidak datang yang tiga sebelum yang empat, dan

tidak datang yang empat sebelum yang tiga

 

tiada manusia yang mampu sempurnakan syair

syair manusia selalu beraroma anyir

mata mereka terbuka saat pesan datang padanya

: lewat sungai, laut, hutan, hujan, gunung

 

pada tanah yang bergerak, mereka

menyerukan kerinduan

meneriakkan sesalan

meminta pangkuan

 

bukankah pernah Dia gemerincingkan lonceng

: tidak akan datang padamu tujuh barhut

dan tujuh walayah

sebelum dar asbab merapatkan permukaan langit dan bumi.

***

Januari, 2011

Glosarium: barhut [azab]; walayah [kecintaan/kasih]; dar asbab [rumah segala sebab-akibat]; kornelian [permata merah]; qirat [duabelas dinar]

Kornelian (sumber foto: indonetwork.co.id)

Rubaiyat ini juga dapat disimak di Lumbung-Puisi-Sastra Digital


Desa yang Teduh, Buah Mpana, dan Siluet Hitam

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Dari : Hera Hizboel (Rabu pukul 9:46)

Dear Ilham,

Aku lega bahwa ternyata Pos sungguh masih setia pada kita. Semua teman baikku, mendapat jatah 1 novel dariku. Kalau aku kirim padamu, berarti dikau termasuk teman baikku. Jangan pikirkan itu.
hmmm… Aku membayangkan indahnya tempatmu menyepi. Kapan2 cerita detail tentang tempat itu ya!
Ilham yang baik,
Please jangan sebut aku penulis cerdas cendekia, ah! Salah banget tahu nggak. hahahaha
Aku tak sabar menunggu ceritamu ttg pengalaman spiritual itu, dan aku juga “berdebar” menunggu bacaanmu tentangku. hehehehe

Salam hangat,
hera

***

KAMIS, minggu ketiga bulan Mei 2010. Sepagian itu aku menunggu suara yang tentunya demikian melekat di anak telinga. Suara sepeda motor tukang pos. Sengaja aku meluang waktu di beranda depan rumah; “menyantap” koran pagi…sesekali menyesap kopi yang segera menjadi dingin karena udara pagi diluaran. Meluang waktu seperti ini bukan tanpa alasan, aku sedang menunggu sesuatu, tentunya.

Biasanya, selepas kunjung dari sebuah toko buku, pulangnya tasku pasti terselip satu buku belanjaanku, setidaknya. Tetapi pada minggu sebelumnya, tiga buah buku yang menyita selera bacaku tidak kutemui di rak pajang. Sebuah buku tentang tinjauan ekonomi; sebuah lagi buku tentang thasawuf karya penulis asing terjemahan; dan buku milik Naimah Herawati Hizboel, Pendar Jingga di Langit Ka’bah, terbitan Langit Kata.

Tak usahlah aku menyebut dua judul buku lainnya di atas itu, tak mau aku, sebab diterbitkan atas dasar lisensi, bukan murni karya penulis dan penerbit nasional.

Lalu mengapa aku sepagian itu menunggu pak Pos di beranda depan? Karena tidak kutemukan di rak pajang, jadilah aku memesan lewat jasa toko buku bersangkutan. Mereka berjanji padaku paling lambat tujuh hari.

Baiklah, mumpung harga buku terbitan nasional masih cocok dengan kantong pas pasan seperti aku, maka aku pun lanjur memesan. Tetapi, aku dengar kabar harga buku akan naik beberapa persen di bulan bulan ke depan, sebabnya yang aku dengar; harga kertas sedang naik.

Wualaah…ini akal akalan para industrialis pulp and papers saja. Para pembalak berijin itu sedang dijepit perang terhadap illegal logging, mereka lantas merajuk dengan trik menurunkan produksi. Beralasan itulah hingga isunya melebar ke soal harga kertas. Padahal, ketika perang pemerintah melawan pembalak itu sedang ramainya seperti sekarang, mana mungkin mereka kena imbas. Bukankah mereka itu “pembalak berijin keluaran menteri”? Bukankah pemerintah hanya memerangi para pembalak liar? Jujur sajalah jika hendak memperlebar gain keuntungan, tidak dengan cara bersembunyi di balik punggung program anti-balak bikinan pemerintah, dan lalu “menghasut” usaha yang bahan bakunya mereka pasok.

Bip…bip…bip… suara klakson sepeda motor hadir disela bunyi mesinnya. Itu pak Pos. Dia tersenyum, yang aku balas dengan menanyakan kabarnya. Sehat saja, katanya. Tangannya merogoh tas gandeng mirip saku besar warna cokelat, lalu dikeluarkan-lah tiga paket berpembungkus cokelat. Dua dari paket itu segera kutebak sebagai buku pesananku, sebab di sisi kiri berdekatan dengan cap pos ada cap penerbit. Tetapi apa paket ketiga itu? Melihat bentuknya mirip dengan kedua paket lainnya. Kuduga itu buku kiriman Hera, penulis Pendar Jingga di Langit Ka’bah itu.

Jika benar, maka buku itu terlambat sehari, hingga datangnya pas betul dengan dua buku lainnya itu.

Setelah bercanda sebentar dengan pak Pos, kulepas dia menjalankan tugasnya. Tidak ada pegawai di dunia ini setelaten pengantar surat, urusan jasa yang paling tua umurnya. Tak peduli hujan, panas, perang, atau damai, pun mereka tetap bekerja. Resiko pekerjaan? Mungkin. Tetapi, siapapun boleh memilih untuk menolak melakukannya, bukan? Dan, orang seperti pak Pos, buktinya, tidak menolak tugas macam itu.

Aku langsung membuka pembungkus paket ketiga, yang dua biar belakangan saja, toh aku sudah tahu apa isinya. Penasaranku benar, paket ketiga itu adalah buku karya penulis Hera. Warna jingga pada sampulnya menegaskan judulnya. Ada gambar orang tawaf di sana. Megah Ka’bah berselubung kiswah beludru hitam tebal, memampang pintunya yang besar, kesan emas juga terlihat. Aku buka segel plastik tipis pelungkupnya, lalu aku ke bagian daftar isi buku. Begitulah kebiasaanku sebelum membaca buku; menelusuri judul bab lebih duhulu.

Setelah menerima buku Pendar Jingga di Langit Ka’bah, aku simpan buku Hera itu, pada tumpukan teratas dari tiga buku bekalku. Tak kubaca dulu buku itu. Siang itu aku harus berangkat menuju ke sebuah tempat, di sebuah pulau, untuk menyepi, meluang waktu dengan sengaja. Demikianlah aku jika hendak membaca, tak boleh ada interupsi, biar isi buku benar melekat pada benak.

Mobil sudah dipanaskan mesinnya, sepagian tadi. Aku masuk rumah untuk berbenah, memilah beberapa pakaian untuk aku bawa, notebook, se-pack rokok kegemaran, dan…baju hangat, sebab tempatku menyepi nanti udaranya lumayan dingin.

Maka, jadilah aku berangkat ketika mentari nyaris vertikal.

***

AKU selalu ke tempat ini untuk menghindari bingar, dan lepas dari rindu. Kabaena, nama tempat itu. Ini pulau kelahiran ibu bapakku. Letaknya paling selatan di jazirah tenggara Sulawesi. Mencapainya; berkendara kurang lebih tiga jam dengan mobil, lalu naik kapal kurang lebih tiga jam pula. Penciri bagi siapapun untuk tahu apakah pulau itu sudah dekat; ketika angin menyibak awan nimbus yang berkumpul di pangkal sebuah gunung batu berbentuk kotak. Begitu gunung batu itu terlihat, maka perjalananmu akan segera pungkas di dermaga. Nama gunung itu Watu Sangia (harfiah dari bahasa setempat untuk Batu Suci, atau Batu Para Dewa).

Gunung Watu Sangia

Ada beberapa versi riwayat yang berkenaan penamaan pulau Kabaena hubungannya dengan keberadaan gunung batu itu. Pelaut muslim dari kesultanan Ternate, Tidore, dan Bacan, dahulu ketika mengunjungi Jawa untuk berdagang, menjadikan gunung batu di pulau itu sebagai penanda separuh perjalanan laut mereka. Konon, nama Kabaena itu juga awalnya dari mereka itu; saat mereka bersua pertama kali, mereka terkejut dengan bentuknya yang nyaris menyerupai kubus. Lalu mereka teringat pada Baitullah, dan memberinya sebutan “batu yang mirip Ka’bah” atau Kaba’ena. Itu merujuk karena mirip saja, tidak ada maksud lain.

Allah SWT memang berkuasa atas segalanya. Gunung Watu Sangia ini menjadi landmark pulau Kabaena hingga kini. Jika melihatnya dan memandangnya dengan lekat, seketika engkau akan tersadar pada pertanyaan; bagaimana bisa batu sebesar itu seolah olah ditancapkan pada bumi? Atau macam terlihat tumbuh dari alas bumi. Allahu Akbar!

Akan eksotik melihat pemandangan pada gunung itu tatkala engkau mengunjunginya pada bulan antara Maret sampai Juni. Sebab pada bulan bulan itu hujan demikian rapat turun, sehingga puncak gunung itu terlihat berselimut halimun. Berputar putar mengitari dinding tebingnya yang vertikal. Sesekali engkau akan menemuinya diselubungi halimun tebal pada puncaknya, hingga tampaklah seperti jamur raksasa.

Selepas dermaga Sikeli, aku masih harus berkendara menuju sebuah desa sejuk di kaki gunung batu itu. Ada tiga desa yang inap tetap pada punggungnya; desa Rahadopi, desa Tirongkotua, dan desa Tangkeno. Nah, tujuanku adalah desa Rahadopi itu. Disanalah aku akan menghabiskan waktu lepas dari bingar kota.

Umumnya, ketiga desa ini bersuhu sejuk. Pada musim penghujan, dingin akan mengigit mencapai tulang, kadangkala. Ada lelucon bahwa tempat seperti ini sangat bagus buat beranak pinak; karena dingin akan melarangmu bangkit dari peraduan, asik mendekap istri, bolehlah. Hahahahaha…lelucon segar, sesekali, tak mengapa kan?

Tempat ini, desa Rahadopi, aku memilihnya untuk bertenang, barang sebentar. Desa ini asri, udaranya sejuk, indah. Bagai melekat di punggung gunung Watu Sangia. Di seberang tampak jajaran gunung Sampapolulo, yang juga kerap berselimut kabut. Selalu, warganya ramah menyambut. Pada beranda rumah tinggi, tempatku sering membaca, dapat kulihat Sikeli, wilayah pelabuhan, dan beberapa desa lain yang berjejer indah di sepanjang jalan; Rahampuu, dan Teomokole.

Di relung lembah, di kaki gunung Sampapopulo, menjalar alir air sungai La’Kambula; berarus deras tatkala musim penghujan, dipenuhi batu besar, berair dingin sekali. Sejuk berenang di sana pada musim kemarau. Selalu senang, khidmat rasanya berada di sini saat Ramadhan; selalu tak terasa waktu saat Idul Fitri menjemputmu. Waktu seakan lekas rasanya.

Buah. Ada suatu buah yang tak ada di tempat lain, mungkin. Suatu buah hutan yang aku gemari, buah Mpana namanya. Rasanya asam manis. Munculnya di pangkal batang pada tumbuhan Mpana, berdaun pedang yang lebar. Warna buahnya cokelat tua mirip warna kulit lengkeng, namun tampak ditumbuhi duri permukaannya. Bukan duri yang tajam dan melukai, cuman duri lunak. Isi buahnya; terdiri dari puluhan bulatan kecil bertitik hitam tengahnya yang berkumpul hingga ukurannya sebesar gundu. Menyantap buah ini sangat asik saat ramai dengan keluarga atau kawan, sambil bercakap cakap.

Di desa itulah aku “melahap” Sazkia. Tiga hari aku menikmatinya. Saat petang, dan saat malam mendekat subuh.

Aku baca Pendar Jingga di Langit Ka’bah lebih dulu, agar perhatianku tidak disusupi fikiran hasil bacaan dari buku lainnya.

Pengalaman “Menakutkan”

Membaca pengalaman trance Sazkia pada saat dia dihampiri Lailatul Qadr di mesjid Atta’awun itu membuat aku teringat pada pengalaman serupa yang aku alami.

Jika Sazkia berjumpa dengan rombongan malaikat yang shalat berjamaan didepannya, maka aku sulit menyebut mahkluk apa yang aku jumpai saat trance itu. Warna dan penampakannya saja berbeda, seingatku.

Pengalamanku bukan Lailatul Qadr, sebab terjadi tidak pada saat pertengahan Ramadhan. Terjadi pada malam malam biasa, saat sendirian, seusai sholat malam.

Ketika itu, wanita yang pernah menjadi istri pertamaku, sedang menjalankan tugas jurnalistik; ikut serta dalam rombongan KRI Soputan ke sejumlah pulau kecil di wilayah laut paling tenggara Sulawesi. Pada hari kedua kepergiannya, aku tiba tiba terbangun dari tidurku disebabkan sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan. Aku mendadak terbangun dan tertegun duduk di pinggir ranjang.

Jam pada dinding menunjuk angka kurang sedikit setengah dua dinihari. Sulit memejam mata kembali, aku memutuskan berwudhu, lalu sholat lail. Aku tak peduli apakah waktu untuk sholat lail sudah tepat atau lewat, namun saat itu aku sholat niatku adalah sholat lail. Seusai mengucap salam, sesuatu seperti mendorongku… bergerak ke arah tempat tidur.

(maaf, semua rambut di tubuhku merinding kembali sebab ketika menuliskan ini aku kembali mengingat pengalaman itu…).

Aku duduk dengan baik, aku angkat kedua kaki dan mengarahkan punggungku ke bantal di bagian kepala ranjang. Rasanya tidak semenit punggungku melekat pada springbed lunak itu, tiba tiba aku merasa berada pada sebuah ruang yang maya mengambang. Tubuhku seolah ringan bukan main. Aku mencoba menoleh panik pada dinding, dan mataku bersirobok pada jam dinding; jarum merah menunjuk detik tidak bergerak sama sekali. Sepi sekali sekelilingku.

Dalam keadaan ringan ini, sekuat tenaga aku hendak mendorong keinginanku untuk tersadar dari tidurku. Tetapi aku bingung, sebab sebenarnya aku memang berada dalam kondisi tidak sedang tidur, namun tidak pula sedang terjaga; aku berada di ruang dan waktu di antara sadar dan tidak.

Saat itulah aku melihat serombongan orang berjalan ke arahku. Seketika takut menyelubungi tubuhku. Aku benar benar takut. Selama ini aku tidak gentar pada siapapun, kecuali satu hal yang tak nampak olehku di dunia; Allah SWT. Menurutku, aku sebaiknya hanya pantas takut pada satu hal Itu. Aku tak akan pernah mau manusia dan mahkluk membuatku takut. Tetapi saat itu aku benar benar takut luar biasa. Orang orang—atau lebih tepat kusebut, siluet siluet hitam—besar itu, merebutku dari udara, menekanku hingga menyentuh tanah, mengikat tutup pada mataku dengan sehelai kain, kemudian tubuhku diangkat kembali dan ditumpukan pada bahu masing masing dari mereka.

Aku mengira ada kurang lebih enam siluet yang memikul tubuhku, sementara telingaku dengan jelas mendengar ribuan langkah dibelakang mereka. Banyak siluet lain yang mengikuti siluet siluet yang membopongku. Rasanya agak lama aku di kondisi itu, sehingga aku rasakan mereka berhenti di sebuah tempat. Aku tak tahu tempat apa itu. Mataku dibebat kain, aku tak bisa melihat suasana sekelilingku. Aku merasakan tubuhku diangkat lalu seperti diturunkan, dan diletakkan di sebuah bidang datar (yang belakangan aku tahu mirip sebuah altar dari batu pualam keras).

Setelah membaringkan tubuhku. Mereka seperti bersorak sorak, riuh sekali, bingar sekali. Aku bahkan mencoba untuk mengerti kata apa yang mereka teriakkan. Mirip diksi Arab, namun kurang jelas karena diucapkan sambil berteriak dan berulang ulang. Lalu seketika mereka diam serentak. Tak terlalu lama aku rasakan sesuatu menempel dileherku. Rasanya dingin dan tajam. Dalam kondisi itu, aku bahkan bisa merasakan apa apa yang menyentuh tubuhku. Bidang datar itu terasa dingin di punggungku. Demikian pula benda yang menempael di leherku itu.

Belakangan aku tahu ternyata benda itu semacam belati besar mirip pedang; semacam senjata pemenggal.

Rupanya aku dibawa mereka ke tempat itu tujuannya untuk dipenggal, tetapi aku tidak tahu mengapa, dan kenapa harus aku yang mengalaminya. Tapi aku tak peduli dengan jawabannya, sebab benda dileherku terasa makin dingin dan mulai bergerak menggesek. Saat itulah kepanikan, ketakutanku menjadi jadi. Menggigil hingga berpeluh, aku rasakan.

Tetapi semua gerakan mereka tiba tiba berhenti. Seperti ada sesuatu yang membuat mereka terdiam seketika, mematung. Karena terasa terlalu lama, aku merasa tubuhku sedikit bertenaga. Aku memberanikan diri membuka penutup mataku. Saat itulah, dari jarak yang demikian dekat, aku dapat melihat siluet siluet ini dengan jelas. Tak berwajah, tanpa bentuk paripurna, hanya siluet; mirip bayangan tubuh pada tanah yang bangun dan berjalan tegak. Sebuah siluet yang paling dekat denganku terlihat menggenggam pisau besar itu. Ketika melihat tempatku berbaring, sebuah batu persegi, serupa pualam keras, licin dan dingin.

Mereka tidak bergerak, diam mematung. Pada bagian muka yang aku duga adalah bagian wajah mereka, aku lihat tampak menengadah ke arah langit. Semuanya mereka, siluet yang ribuan itu, disekelilingku menengadah menghadap pada satu pandangan. Ke langit.

Apa yang sedang mereka pandangi sehingga mereka bisa diam mematung semacam itu? Aku pun menoleh ke arah langit seperti kelakuan mereka. Langit yang sebelumnya kelabu, tiba tiba perlahan menghitam. Di balik awan yang bergulung gulung hitam itu, terlihat cahaya sesekali benderang, seperti ada petir yang menyambar hingga membuatnya terang sesekali. Semakin lama cahaya itu berpendar kian terang, kemudian membuat silau. Mataku terasa sakit. Lalu sinar cemerlang itu meredup perlahan seiring dengan tersibaknya awan membuka ke arah berlawanan, seperti gerbang yang rentang terbuka. Pada bagian yang terbuka itulah sinar cemerlang seperti menerobos hendak menghujam bumi.

Hal aneh kemudian terjadi. Siluet yang kuduga ribuan jumlahnya itu, tanpa aba aba langsung jatuh bersujud di hadapan sinar itu. Semuanya bertingkah seperti itu. Maksudku semuanya, kecuali aku. Dari tempatku dibaringkan aku dapat melihat jumlah mereka, Naudzubillah… Allahu Akbar…ternyata jumlah mereka mungkin jutaan, sebab mataku tak menemukan ufuk yang bersih tanpa ada sosok sosok itu.

Sejauh mataku memandang berkeliling, kulihat hanya sosok sosok itu yang sedang bersujud tanpa bergerak. Aku segera turun dan berjalan ke tepian di mana bagian cahaya itu jatuh. Disanalah aku melihat dengan jelas dari sumber mana sinar itu keluar; sinar itu memancar cemerlang dari sebuah benda yang besar membentuk huruf arab ber-harakaat. Aku baca, dan segera sadar untuk menghapalnya; kalimat tauhid itu.

Setelah membacanya tiga kali dan yakin telah aku hapalkan, anehnya suasana di sekitarku perlahan berubah. Sosok sosok bayangan itu menipis perlahan lahan kemudian hilang. Begitu juga dengan kondisi di sekelilingku, yang kembali mewujud seperti semula; ke bentuk kamar yang aku tempati.

Kudapati tubuhku masih terbaring pada posisi ketika aku hendak bersandar tadi. Jarum penunjuk detik pada jam di dinding terlihat bergerak lagi.

Ketika semua kondisi kamar itu terasa sudah kembali seperti semula, maka inilah hal yang membuatku takjub dan merasa luar biasa hingga kini. Kalimat tauhid, yang bersinar cemerlang itu seperti masih melekat tepat di flafon kamar itu, tepat di atas kepalaku. Aku dirasuki takjub yang luar biasa hebat hingga tak bisa bergerak.

Berbeda dengan suasana sekelilingku yang berubah cukup cepat itu, kalimat tauhid yang seolah menempel di flafon itu demikian perlahan menipis dari pandanganku. Itulah mengapa aku bisa membacanya berulang ulang sampai tulisan itu benar benar hilang sama sekali. Agak sedikit lama hingga aku pulih benar dari kondisi kesima itu. Sadarku pulih sepenuhnya, dan segera tahu mesjid sudah mengumandangkan azan subuh.

Peristiwa itu terjadi di penghujung tahun 1999. Selama empat tahun selanjutnya, setelah pengalaman itu, aku tidak pernah berhasil tahu apa makna dari pengalaman yang aku alami. Satu satunya hal yang aku lakukan pada permulaan adalah; segera mencari tahu apa arti sesungguhnya kalimat itu. Hampir tiga bulan pertama aku sibuk mengejar literatur, yang tak kusangka ternyata jawabannya datang dari ibuku sendiri, seorang guru agama Islam dan pengajar mengaji itu.

Pada beliau aku ceritakan pengalaman itu. Beliau terdiam setelah mendengarnya, lalu menangis masuk ke kamar. Aku pulang saja. Dua hari setelahnya, beliau menelepon, meminta agar aku mengunjunginya lagi. Tanpa diminta pun aku memang akan selalu mengunjungi beliau.

Dihadapanku, beliau berkata tentang arti kalimat itu. Menurut beliau kalimat yang aku lihat itu adalah bentuk penegasan yang keras perihal ketauhidan Allah SWT. Sebentuk kalimat dasar yang sekaligus membangun makna maha luas.

“Ceritakan pengalaman itu untuk mengurangi takutmu, tetapi jangan sebut kalimat yang kau lihat itu pada orang lain. Tentunya ada alasan hingga mengapa kamu diperlihatkan hal hal macam itu. Jika Allah menghendaki pengalaman itu untuk semua orang, maka Allah akan memperlihatkannya pada semua orang. Simpanlah untukmu, dan bersabarlah.” Begitu pesan ibuku.

Sayangnya…hingga sekarang, aku kira aku telah “ditegur” oleh Khalik. Ada sesuatu salah, atau keliru berat yang pernah aku buat, barangkali.

Ya…mungkin itu adalah sebuah teguran, peringatan. Sayangnya lagi, aku tak pernah ingat atau tahu apa salahku. Apakah aku harus ingat? Barangkali…dengan ingat apa salahku…sedikit menenangkan fikir dari ribuan tanya perihal tersebut.

Tapi, tak mengapa…aku masih bersyukur; jiwaku tak direnggut-Nya saat itu juga.

Dan, yang aku tahu, ketika berurusan dengan hal hal sulit, aku cukup mengucapkan kalimat itu dalam hati dengan sungguh sungguh dan takzim; maka urusanku pasti mudah.

Mungkin itu faedahnya….***


%d blogger menyukai ini: