Tag Archives: giant

[Film] Humanitarian and Environmental Narratives dalam Film Suara Dari Pesisir

oleh Ilham Q. Moehiddin

SEORANG remaja lelaki duduk di pasir, menghadap laut. Suaranya lirih oleh lagu yang ia nyanyikan berulang-ulang. Ia sedang menghafal lirik lagu yang disertainya dengan gerakan itu. Kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki—remaja lelaki itu mengulang-ulang lirik dalam bahasa Inggris. Sesekali ia lupa, lantas melirik catatannya, kemudian mengulang lagi dari awal. Bajo, nama remaja lelaki itu.

Suara Bajo terbawa angin ke telinga seorang lelaki lain. Ia berdiri tak jauh dari posisi duduk Bajo. Lelaki itu tersenyum, sebelum menyambung lirik lagu yang luput. Bajo terperangah dan lelaki itu mendekat, mengulurkan tangannya. “My name is Bonco,” ujarnya datar. Senyum Bajo merekah sebelum scene beralih disolve.

Scene pendek ini membuka film Suara Dari Pesisir, besutan sutradara Susilo Rahardjo. Tampaknya Susilo asik bermain-main dengan plot yang berayun cepat. Ia mampu mendorong beberapa karakter utama tampil menonjol di sepanjang film. Susilo beruntung, filmnya didukung sejumlah talent jempolan.

Sebut saja Al Galih yang memerankan tokoh Haseng (Ayah Bajo). Al Galih ini pemain watak jebolan Bengkel Teater Rendra. Arfina Rahmalia yang memerankan karakter Nurul/Ibu Guru; dan Peter H. Sumawijaya yang memerankan karakter Bonco. Tentu saja, jangan lupakan Erik, talent muda asal desa Bajo Labengki yang lolos casting untuk memerankan karakter Bajo, karakter utama film ini. Erik kemudian dilatih khusus untuk bisa memerankan karakter Bajo dengan baik. Kecuali Al Galih, Arfina dan Peter tergolong baru dalam seni peran. Kendati begitu, empat talent ini mampu berkolaborasi, bermain baik dan padu sehingga Anda nyaman menyaksikan akting mereka.

Tetapi, tidak saja kemampuan para talent yang bermain bagus yang patut mendapat pujian. Susilo mampu menggambarkan sisi lain dari keindahan alam dan kehidupan orang-orang Bajo—di gugus pulau Labengki—sekaligus masalah krusial lingkungan hidup yang menjadi meme kritis film ini. Labengki adalah gugus pulau-pulau karang kecil yang membentuk formasi unik dengan panorama yang indah. Keindahan alam di atas dan di bawah lautnya setingkat dengan gugus Raja Ampat di Papua. Satu hal yang membedakan dari kedua lokasi itu; di Labengki, Anda akan menemukan komunitas suku laut Bajo. Mereka menempati satu pulau utama di antara gugusan pulau-pulau kecil karang itu. Soal bagaimana orang-orang laut ini berada di daratan, barangkali itu menjadi hal menarik lainnya.

Saya pikir, sebagai sutradara Susilo memahami betul masalah-masalah yang ingin ia tampilkan dalam film ini—yang ide cerita dan skenarionya ia tulis sendiri. Bagaimana Susilo mengarahkan ceritanya berjalan alami? Atau seperti apa ia mendorong isu-isu sentral itu menyisi di sepanjang film dan tidak sekadar menjadikannya sampiran belaka.

Rangkaian gambar yang baik itu tidak akan terwujud tanpa peran Director of Photography & Cameratographer Yoel Zakka. Footage yang rapi dan ditampilkan berlapis-lapis di sepanjang film paling tidak diambil dengan dua jenis kamera berbeda. Beberapa gambar tampak shake, tetapi tampaknya itu disengaja untuk menjaga continuitas settingnya. Pengambilan gambar sudut tinggi (extreme high shoot) dengan menggunakan drone tidak berubah serupa aksesoris belaka di sepanjang film, namun mampu membantu memberi gambaran besar perihal lokasi dan kaitan isu lingkungan yang juga diusung film ini.

Orang Bajo dalam Film Indonesia

Tidak banyak film Indonesia yang mengangkat kehidupan laut sebagai latar belakang ceritanya—pun suku laut, suku Bajo. Dua di antara yang sedikit itu adalah The Mirror Never Lies garapan sutradara Kamila Andini, dan yang lain adalah Suara Dari Pesisir karya sutradara Susilo Rahardjo. Keduanya sutradara muda. Meski kedua film ini mengusung format berbeda—The Mirror Never Lies berformat film panjang dan Suara Dari Pesisir berformat film pendek—namun keduanya berusaha memotret keunikan kehidupan laut beserta orang-orangnya dari kacamata yang aparsial.

Saya bertemu Kamila di Bali pada tahun 2013, dua tahun setelah The Mirror Never Lies di rilis. Seusai diskusi yang kami hadiri sebagai pemateri, di halaman Left Bank Ubud, kami berbicara banyak soal filmnya itu. Menurutnya, kehidupan laut dan orang-orangnya adalah sesuatu yang seksi diangkat dalam layar lebar. Proyek itu sendiri digarap di Wangi-Wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara dan berakhir pada tahun 2011. Putri sutradara Garin Nugroho ini mengangkat pendidikan sebagai tema sentral filmnya. Ada masalah besar dalam pemerataan pendidikan di Indonesia, menurut Kamila—dan itu benar-benar tampak di banyak komunitas yang nyaris tidak tersentuh oleh kebutuhan dasar ini. Seolah-olah negara tidak hadir di antara mereka dan mereka harus berusaha sendiri menemukan “negara” dengan meninggalkan laut sebagai komunitasnya dan penopang kehidupannya.

Tentu saja, dengan mengekspos kesenjangan ini, bukan berarti hendak mempermalukan pihak-pihak terkait. Ini hanya sebuah autokritik, dan saya pikir, apa yang berusaha didorong oleh para sineas sebagai tema sentral di dalam film, juga berfungsi seperti alat menuju solusi yang bersifat afirmatif. Sehingga kemudian saya melihat hal yang sama pada Suara Dari Pesisir produksi Koheo Films Kendari. Sebuah film yang hendak mendorong komunikasi dua arah dengan cara yang baik.

Forsdale menulis; communication is the process by which a system is established, maintained and altered by means of shared signals that operate according to rules. Bahwa komunikasi adalah sebuah proses di mana sistem terbentuk, dipelihara, kemudian diubah dengan tujuan bahwa pesan-pesan yang dikirimkan dan diterima akan dilakukan sesuai aturan.

Nah, persoalan serupa juga tampak sebagai salah satu isu di Labengki, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara—di mana menjadi setting utama film Suara Dari Pesisir. Pemilihan lokasi tentu bukan kebetulan. Sebagai pemilik ide cerita, Susilo Rahardjo, sepertinya telah memilih Labengki (dengan komunitas Bajo di sana) sebagai setting yang tepat untuk mendorong gagasannya. Labengki dengan lingkungan alaminya; Labengki dengan keindahan panorama bawah lautnya; Labengki dengan species Kima terbanyak di dunia, sekaligus satu species Kima Raksasa (Giant Clam) terlangka di dunia; dan Labengki dengan besarnya potensi remaja putus sekolah. Hanya ada satu sekolah di sana, sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang berdiri di satu atap. Untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, setiap anak Bajo harus ke kota kabupaten yang jauh jaraknya. Maka persoalan kian menjadi rumit saat remaja-remaja Bajo ini pergi bersekolah ke luar desa; tidak ada lagi yang membantu setiap orangua mereka melaut untuk menghidupi keluarga. Bagi setiap kepala keluarga itu, kerumitan ini perlu solusi yang cepat dan mudah—mereka kemudian melakukan aktivitas destructive fishing dengan membom ikan.

Cerita yang baik adalah cerita yang ditopang data. Aktivitas destructive fishing dengan membom ikan akan merusak terumbu karang Labengki, sekaligus mengancam 88% terumbu karang di Asia Tenggara. Susilo jelas telah melakukan riset untuk ceritanya, sehingga ketika gagasan ini dikemas ke dalam bentuk film, maka Suara Dari Pesisir menjadi alat kampanye yang sangat edukatif untuk siapa saja.

Bajo, remaja yang sedang dikepung kekhawatiran karena beberapa masalah yang hampir pasti akan menghambat cita-citanya kelak, bertambah cemas mendapati kenyataan bahwa ayahnya mengambil jalan pintas menjadi nelayan pengebom ikan. Jiwa Bajo terusik. Ia protes dengan membuang botol-botol peledak ke laut yang bahkan belum sempat digunakan ayahnya, dan ia mau menerima kemarahan ayahnya akibat tindakannya itu. Tetapi ia tidak bisa menerima saat sang ayah membuang bukunya ke laut. Apa yang kemudian dilakukan Bajo? Bagaimana sikapnya? Pesan apa yang hendak dikirimkan Susilo kepada Anda semua? Nah, Anda harus menonton film ini untuk menemukan jawabannya.

Kolaborasi apik juga tampak dari kerjasama tim produksi Koheo Films Kendari. Saya menyukai cara Susilo membangun perubahan sikap Ayah Bajo terhadap anak lelaki satu-satunya itu. Sutradara Susilo Rahardjo, DoP & cameratographer Yoel Zakka, tim artistik dan tata cahaya—juga kru produksi lainnya—berhasil menerjemahkan keinginan cerita dalam gambar yang lembut, low noise, dan momen yang tepat. Semua plot dalam cerita seperti berhimpun di satu frame itu—menurut saya, inilah frame yang menjadi kesimpulan jalan hidup Bajo, sekaligus memuat pesan utama di film Suara Dari Pesisir. Frame ini bahkan mampu membuat saya terharu. Cara mengakhiri konflik yang baik dalam cerita dengan frame yang bagus sekali.

Film ini sekaligus membenarkan apa yang dicatat Johannes Paulmann, peneliti di Leibniz Institute of European History, Mainz, saat Kolokium Berlin ke-21 tentang Sejarah Kontemporer di Forum Einstein, Potsdam, 3 Desember 2015 silam. Bahwa pendidikan dan lingkungan hidup serta lingkungan sosial adalah hak suaka; bagian besar dari kemanusiaan. Sebuah konvergensi logika yang menghadirkan perspektif yang selalu tidak memiliki penjelasan yang cukup. Kritik sosial berubah menjadi gerakan yang meningkat dan membawa integrasi sosial ke dalam perdebatan publik.

Kehidupan sosial dan sejarah masyarakat tempatan pasti memiliki segudang kisah, sebuah narasi unik di tengah “kebisuannya”. Maka film—sebagai sebuah afirmasi—maju ke depan untuk bersama-sama mengidentifikasi masalah dan menawarkan solusi secara naratif. Film sebagai sebuah medium sebaiknya tidak kekurangan bahasa untuk menafsirkan gejolak, gerak sosial dan sejarah masyarakat tempatan. Apa yang kemudian tampak menonjol dalam film Suara Dari Pesisir? Ya, humanitarian and environmental narratives, sebuah narasi kemanusiaan dan lingkungan hidup orang-orang Bajo yang kini hidup dan menjadi bagian dari masyarakat pesisir.

Film Suara Dari Pesisir punya cita-cita besar selain sebagai proyek prestisius dalam diri setiap kru yang terlibat dalam produksi. Menurut Tirtayasa, produser film Suara Dari Pesisir, film ini memang dipersiapkan untuk sebuah misi besar; menegasi masalah, dan memperkenalkan Labengki sekaligus mendorong Pariwisata Sulawesi Tenggara ke level Nasional dan Internasional. Selain misi pendidikan dan lingkungan hidup yang tidak kalah pentingnya.

“Kami menargetkan Suara Dari Pesisir bisa ikut berlaga di beberapa Festival Film Internasional di tahun 2017 ini, antara lain; Cannes Short Film Festival, New York International Short Film Festival, Los Angeles International Short Film Festival, Oneota Film Festival Japan, Berlin Short Film Festival, dan beberapa festival film dalam negeri, seperti Festival Film Indonesia dan XXI Short Film Festival,” jelas Tirtayasa didampingi Joanne dan semua kru produksi sesaat sebelum premiere film ini untuk kalangan terbatas.

Saya yakin, dengan kekuatan gagasan, penceritaan dan semua hal yang terkait teknik sinematografi, film Suara Dari Pesisir dapat meraih minimal dua-tiga penghargaan di ajang Internasional dan Nasional yang akan mereka ikuti.

Saya merekomendasikan Suara Dari Pesisir ini sebagai film yang humanis, menghibur, dan mampu mendorong perubahan sikap pada diri setiap orang untuk berbuat yang lebih baik. Saya memberinya empat bintang. Bravo!

Film Suara Dari Pesisir akan tayang mulai 1 Juli 2017 nanti. Dari total pendapatan film ini, 25% akan kembalikan berupa sumbangan untuk sarana pendidikan di SD dan SLTP Labengki. (*)

 

Ilham Q. Moehiddin

Film reviewer, Penulis prolifik, dan Sastrawan Indonesia

 

Judul Film: Suara Dari Pesisir.

Pemeran: Erik sebagai Bajo; Al Galih sebagai Haseng/Ayah Bajo; Arfina Rahmalia sebagai Nurul/Ibu Guru; Peter H. Sumawijaya sebagai Bonco.

Sutradara: Susilo Raharjo.

DoP & Cameratographer: Yoel Zakka.

Produser: Tirtayasa & Joanne.

Produksi: Koheo Films Kendari, 2017.


[Short Story] Fireflies Party | Jawa Pos | Sunday, April 27, 2014

Fireflies Party

by Ilham Q Moehiddin

translated by Jonas Chapman (Canada)

Ilust_Pesta Kunang-Kunang_Jawa Pos 

1/

NO was tomb here. Only a cavity in a giant Willow tree, trunk upright in the middle of the village. Cavities are caused by lightning blow and often filled with fireflies were partying after the bodies placed, makes it look like a party on New Year’s Eve lanterns.

When the old Willow was found in the northern woods, Ama (father) Huga amazed with its size. Then he set up house 500 meters from the tree. In the first three years, the people come together, then took up a house there. The houses are now surrounded the giant old Willow. Ama Huga astonished at the old Willow was never lost even before his death. He wanted a cavity in the old Willow into his grave and the grave of every person who later died in the village that he calls this Lere’Ea. People obeyed. Because trees absorb Willow stench around him, the tree was also sucking the stench of death from the bodies of the dead.

Funeral tree is an effective solution that does not run out village land for the grave. Cemeteries aren’t cumbersome and inefficient.Willow trees alive and growing giant, as the final home for the dead.

2/

Intina worried about the attitude of some men aren’t attention to the special things that he keeps on Mori. They fascinated to him. Liked she heave black hair,thick eyebrows on the oval face, or solid body. Mori married Intina in 12 years ago, and he still Mori wife until one day the man she loved was home.

“Stop waiting for Mori,” one of them tried to convince Intina. But he answered them with a slamming door. How he needed to do to destroy the hopes of every man in this village.

Intina may fool for still maintaining missed. Mori went when Waipode have eight months old. On the last morning she looked at her husband, was dawn when Mori kissed her daughter forehead, then Mori shut the door from the outside. Intina waiting in each of the next morning, hoping Mori reveals the door and smiled at them both. Small Waipode never smell his father’s body is now a teenager.

Waipode didn’t ask his father. Of course to difficult misses something he had never meet. Mori is a problem of his mother and it was not for Waipode. Mori is not the first time he saw when his eyes began to open.

3/

One night, before he was 13 years, Waipode suddenly get fever. Four days later,the fever rises and nobody Lere’Ea shaman can suppress. They give up so easily, such as shaman beginners learn stirring potions. On the sixth day, Waipode had opened her eyes, before seizures and silent.

Mysterious diseased and sudden death was a shock every person in Lere’Ea. Intina cleaning her daughter body and wrapped it in a clean cloth. Such manners here, it’s Waipode dead body will go into cavity the giant Willow.

From wooden chair on the porch of his house, Intina not move until the night comes. She eyes show cavity that had filled the fireflies. He fainted due to fatigue and woke in his bed on the third night, when the rowdy village.

Fireflies party at the Willow cavity, casting a silvery glow as the emergence of two hands flailing. People are horrified when two hands were gripping the grass, crawling, like trying to drag him-self out of the cavity. Body covered in soil plain girl who surrounded fireflies. People are increasingly rowdy. For the first time they saw the dead rise from the cavity Willow.

Standing on confusion, the girl asked. “Where’s my mother? Where Intina, my mother?”

Yes. The girl’s name and acknowledge Intina as his mother.

“I’m Waipode, his daughter.”

People choked. She was admitted as Waipode, Intina daughter, who died three days ago. Intina removing the sheath and hurried over to —whoever he is— as he sheathed body began to be plain that the eyes of every man’s attention in the crowd.

All the men presented there, except Kalai. The doll maker at living the end of the Lere’Ea village, suddenly ill and fell asleep under the influence of drugs. He did not know the noise that just happened here.

4/

In Lere’Ea no one can make as good a wooden doll. Kalai poured all his feelings when making the dolls. Sculpt female dolls as high as one meter of living. The female doll only. On weekends, his old wagon it creaky to road up the rocky village to the town, to the store where he usually left the doll for sale.

There’s always a doll that is not salable. On some models, for some reason do not want to buy. Maybe they don’t like in shape. The dolls are not sold that he brought back and lined up on a shelf in the living room of his house, as a marker to no longer make such a model. Raw material stuffed it increasingly difficult to get. Willow tree in the middle of the village is difficult to be climbed to a branch of the straight.

Yes. Wicker Willow is a secret advantage Kalai sculptured dolls. Willow wood is heated first before he chisels into head, body,arms and legs for her dolls. Soft wood Texture to make the blade Kalai agile dancing all over the wood.

Willow as it grows to Kalai. Willow’s death smoked aroma of corpsesin their sockets, have to fertilize and cultivate new tree limbs.

But Kalai not make a doll when the girl out of the cavity Willow. He also did not exist among many men who feel lucky to catch the girl’s body. Because sick make Kalai must meet Lere’Ea shaman to buy potions. The effects of the potion made him feel tired and sleepy. He slept all day and did not know anything had happened in the village after dusk.

The shamans in Lere’Ea confirmed that girls who out of the Willow cavity that is Waipode, Intina daughter. The odd thing is they are difficult to explain. The willows have turned Waipode in three days after his death. Waipode out in such a big girl, 10 years older than the teenage girl Intina inserted into the tree cavity.

Intina not want to go about it. The girl came back to life in any form, if he does Waipode, then Intina will admit it. It feels weird, but their can lives as before. As before the death of her daughter went and returned.

5/

Waipode like Kalai made dolls. Dolls and handsome young man, are two things that can always create a story for a mature girl. “I like your dolls,”said Waipode.

Kalai smile. “I heard, you make noise the whole village. What happens on the other side there? So the gods let you go home?” Kalai kidding.

Waipode laugh. “On the other side is more quiet. There was no one to fight for theland. There was no such incident experienced by Adenar families banned prayer and expelled from Laibatara (house of worship). Sheol is more tolerant than the world of the living.”

Kalai was stunned to hear the words Waipode.

“This for you,” Kalai offered Waipode a newly doll he made finished. Waipode nodded happily. The doll has not been colored.

It was just a little conversation. But Waipode is always there if the young man working moment. Intimacy they make other youths jealous. Waipode have chosen, and Kalai it’s a lucky young man.

6/

Kalai realize that strange things often happen at his house late at night. His workshop is a mess when he left, always neatly next morning. Utensils arranged on the same spot. Sharpener timber garbage disappear without trace. All over the house clean. As there is a mysterious hand that has helped clean up the mess.

When Kalai asleep, the homemade doll moves. Yes. Wooden dolls that live on and off the display rack in the middle of the house. They explore each room, acting like a young girl who was busy tidying the house. They return all the objects into place, cooking porridge and coffee heats for Kalai before they go back into place before dawn.

However, the dolls start talk about Waipode. The presence of the girl is a serious problem for them.

Giant Willow in the middle of the village store incongruity since it began to be used as a tomb tree. Trees not only absorb thescent of death, but also save the souls of the dead girl in the adult sap vessels. The spirits that dwell there and wait for the new body. They accidentally life by the love that poured out when he Kalai sculpting dolls.

They hate have often the young man admired Waipode. It only took a little reason for a death plan.

7/

It’s no coincidence when a small collision Kalai get the wheels off and overthrow the old wagon with passengers. Waipode already dead when Kalai issuing his body from the crush of the wagon.

Intina feeling devastated over Waipode back to the death for the second time. He is waiting for a miracle that never came in the thirdday after the body of Waipode he put in Willow cavity. Her daughter is not alive anymore. There was no light silvery, except fireflies crowd still partying.

However, Kalai has a way of overcoming grief. On the third day, when Intina hope Waipode out of the cavity of Willow, Kalai has completed one wooden doll.

One doll that closely resembles Waipode. The dolls are made Kalai crazy. Dolls who live at the end of the night and silence come back before dawn. The dolls are often celebrate passion of Fireflies, ask Kalai enter the ten other doll into the fire, and made the young man swears no longer sculpt doll. (*)

Ubud, October 2013

Twitter: @IlhamQM

 

*) The idea of this short story from tree-holebaby burial tradition in Tana Toraja and the tree-burial traditions in Trunyan, Bali.

**) In the Indonesian version, these stories was publication for first time in the Jawa Pos newspaper, issue on Sunday, April 27th, 2014.


%d blogger menyukai ini: