Tag Archives: gadis

[Cerpen] Guci Sop | Suara Merdeka | Minggu, 01 Februari 2015

Guci Sop

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilustrasi_Guci Sop_Ilham Q Moehiddin

UDARA panas siang itu seperti hendak melelehkan bola mata setiap orang yang melintasi strada Salvatore, membuat basah ketiak yang menyebarkan bau tak sedap kemana-mana. Pesisir Genoa dibungkam aroma garam.

Aku menyiapkan pertunjukan malam untuk Arrigo Tavern sebelum matahari sore datang ke jendela rumah minum ini. Aku mewarisi bisnis ini dari ayahku, Arrigo Ando. Tempat ini mendadak ramai di enam bulan terakhir.

Enam bulan lalu, seorang gadis berdiri di depan meja bar Arrigo Tavern. Aku tentu saja menerima tawarannya untuk menari. Dialeknya tak seperti kebanyakan perempuan Genoa. Gadis itu dari pesisir utara. “Elda dari Manarola,” katanya.

Seperti kebanyakan perempuan Manarola, Elda mewarisi tulang pipi yang lembut, pucuk hidung yang kecil, dagu sedikit runcing dengan wajah oval, dan rambut hitam bergelombang. Elda punya sesuatu yang diidamkan banyak lelaki—dada dan pinggul yang padat.

“Menarilah mulai besok,” kataku. Seperti harum yang memancar dari tubuh Elda, begitulah kabar baik dan keberuntungan yang mendatangiku siang itu—dan di hari-hari berikutnya.

Para perempuan Manarola pandai melenturkan tubuh. Tarian mereka memikat, lincah meliuk dengan gerakan erotis yang menggoda. Elda segera menjadi primadona Arrigo Tavern dan namanya begitu terkenal di sepanjang pesisir Genoa. Setiap lelaki di pesisir ini bisa menggambarkan kemolekannya, ketimbang kondisi istri mereka sendiri. Wajah Elda segera membayangi pelupuk mata tiap lelaki yang menggumamkan namanya. Tetapi bagiku, Elda tak sekadar mesin uang di taverna ini.

**

Arrigo Ando adalah contoh buruk pebisnis rumah minum. Taverna ini baru ramai setelah 39 tahun dibuka dan 10 tahun kematiannya. Para penggemar bir berduyun-duyun memenuhi tempat ini, bukan karena rasa birnya. Tak ada yang menyukai bir beraroma jerami lembab dengan rasa keju basi. Siapapun pasti memuntahkannya setelah tegukan pertama, kecuali jika mereka sedang mabuk berat. Mereka ke tempat ini semata-mata karena Elda.

Setiap malam, sejak matahari tenggelam dan udara kering menyebarkan aroma garam dari laut, taverna ini sudah sesak. Para lelaki menelan ludah, memukul meja, dan meneriakkan nama Elda. Sebelum gadis itu datang, aku biasa menampilkan pertunjukan berupa sulap yang kuanggap bisa mengocok perut pengunjung. Seringkali itu berhasil. Tetapi para kelasi, tentara, dan buruh pelabuhan lebih suka menganggapnya gagal dan melempari setiap pesulap yang tampil. Kini mereka menginginkan Elda dan mereka tak harus mabuk berat untuk mengacaukan tempat ini.

Beberapa pejabat kota biasa berlindung di keremangan balkon saat menonton tarian Elda. Mereka tak mau terlihat oleh para pemilih. Moral sangat penting bagi reputasi dan karir politik. Tetapi di tempat ini, mereka boleh mengantongi moral mereka, lalu berpura-pura tak kehilangan apapun esok paginya.

Aku hanya butuh uang mereka. Asal mereka membayar, maka habis perkara.

Setiap lelaki yang datang ke taverna ini punya mimpi yang sama; berharap Elda mengakhiri kesepian mereka di sisa malam. Paling tidak, berharap bisa menyentuh kulit pinggul gadis itu saat mereka menyelipkan lembaran uang ke balik celananya. Mereka rela membayar lebih banyak hanya agar Elda bersedia membuka kakinya dalam satu nomor tarian, sembari membayangkan hal-hal cabul tentang gadis itu.

**

Sedikit sekali lelaki yang mampu menghamburkan uang di sebuah taverna hingga pagi. Sedikit lelaki yang ingin ditemani gadis muda saat menyantap scallopine—irisan tipis daging sapi muda segar—dan mengakhiri malam di motel murah. Lebih banyak dari mereka patut dikasihani karena beristri perempuan yang siap menyita setiap uang dari kantongnya. Namun ada alasan lain sehingga para penggemar pescara kerap datang ke Arrigo Tavern.

Lupakan bir basi. Tangguhkan dulu khayalan tentang Elda. Arrigo Tavern punya zuppa yang lezat. Saat menghidangkan Zuppa di Pescara, Carmela selalu menambahkan seporsi scallopine. Carmela tahu cara membuat scallopine dengan kaldu yang lezat. Aku tak mau terang-terangan menyakiti hati istriku dengan mengistimewakan Elda. Carmela akan cemburu dan menolak ikut mengurus dapur tempat ini.

Elda memang menggoda. Lirikannya sanggup membuat siapapun berkeringat.

“Anda tak seharusnya berada di sini,” Elda terdengar ketus.

“Tetaplah menari untuk Arrigo Tavern,” aku berdiri di ambang pintu kamar rias.

Elda berbalik dan mengangkat alisnya. “Maka penuhilah janjimu.”

Aku gelisah. “Taverna ini butuh uang untuk membayar piutang bank.”

“Oya? Apa itu termasuk hutangku pada Hueno?” Elda memajukan wajahnya. “Aku harus membayar lelaki itu agar ia tak mengusirku dari flat,” lanjut gadis itu. Peluh membasahi tengkukku. Aku maju dan menutup pintu. “Kau dapat melakukan sesuatu untuk itu.”

Mendengarku bicara begitu, leher Alda memutar cepat. “Brengsek!” kecamnya, seraya menarik korsetnya lebih tinggi, menutupi dadanya yang putih. “Aku tidak selugu itu.” Desisnya tajam.

Aku angkat bahu dan memiringkan kepala.

“Aku tak sudi menemani para pejabat kota!” Elda nyaris berteriak. Aku panik. Aku meminta Elda memelankan suaranya. “Mereka pernah menipuku. Aku muak mendengar omong kosong Wali Kota keparat itu. Aku tak sudi berkorban lebih banyak untuk tinggal lebih lama di tempat busuk ini.”

Aku mengembangkan tangan, menahan bahu Elda. “Pertimbangkanlah untuk tak meninggalkan taverna ini sampai aku selesai mengurus semua permintaanmu.”

“Sampai semua pemabuk di kota ini puas meraba tubuhku dengan tangan kotor mereka? Sampai Carmela selesai menguras tiap keping tip yang menjadi hakku?”

Aku menurunkan tanganku. Elda benar. “Kau boleh menyimpan semua tip yang kau dapatkan. Gajimu naik satu kali lipat mulai bulan depan.” Aku berjanji.

Gasi itu tersenyum sinis. “Baik. Sekarang keluarlah!”

Seruan itu menahan gerakanku. “Elda, aku…”

“Keluar! Aku harus bersiap sebelum para pemabuk itu merusak tempat ini.”

“Elda…”

Namun gadis itu sudah memutariku, memelintir gagang pintu hingga terbuka, dan berdiri menunggu aku keluar, sebelum membanting pintu dan menguncinya dari dalam.

Malam itu Elda menggila. Ia menggelorakan panggung Arrigo Tavern. Gerakannya liar, menggoda. Sesekali Elda duduk di pangkuan pengunjung dan menerima apapun yang diselipkan ke balik celananya.

**

Sepekan berikutnya, Elda tak terlihat sejak sore. Seharusnya ia sudah datang dan mempersiapkan diri di kamar rias. Tak ada kabar tentangnya membuatku cemas. Hueno pun tak tahu kemana perginya gadis itu, saat aku menelepon menanyakannya. Elda tak pulang ke flatnya sejak semalam.

Carmela tetap melayani para tamu menikmati Zuppa di Pescara. Aku cukup puas dengan kerakusan pengunjung setengah mabuk yang terusir dari taverna lain. Orang-orang itu sanggup menandaskan dua tong bir basi sebelum sore usai. Namun aku harus mengusir beberapa orang, sebelum mereka terlanjur mabuk berat dan menyusahkanku.

Aku menikahi Carmela saat perempuan itu berusia 16 tahun, saat usia kami terpaut 15 tahun. Ayahku mengadopsi Carmela dari pasangan gipsy yang tewas dalam kebakaran besar di pesisir Genoa, 10 tahun sebelumnya. Seperti umumnya orang gipsy, Carmela setia pada ayahku dan menjadi pelayan di taverna miliknya, sampai aku menikahinya. Pernikahan yang dipaksakan. Aku menikahi Carmela untuk menutupi perbuatan laknat ayahku. Ayah mabuk berat saat memerkosa Carmela dan membuat gadis itu hamil. Bayi Carmela meninggal sehari setelah dilahirkan.

Carmela tak banyak bicara. Ia sepertinya siap menerima nasibnya. Waktunya habis untuk melayani taverna dan mendampingiku. Jika pengunjung taverna ini sepi, ia habiskan waktunya dengan membaca buku resep tua peninggalan ibunya. Ia mengunci diri selama berjam-jam di kamar rajut di lantai tiga. Dari kamar itu tercium aroma harum menyengat, saat Carmela mempraktekkan beberapa resep.

“Aku mau menari,” Carmela bergumam.

Kata-katanya itu mengejutkanku. Aku memiringkan kepala, isyarat agar Carmela mengulangi ucapannya. Aku mungkin sudah salah dengar.

“Aku bisa menari seperti Elda. Bisa lebih baik darinya.”

Aku menggeleng. ”Kau tak sedang—”

“Aku juga bisa mengelola taverna ini sekaligus.” Carmela memotong kalimatku.

“—meracau, kan?” Aku menyelesaikan kalimatmu.

Carmela menyeringai. “Kau seperti semua lelaki yang datang ke sini. Jika bukan hendak mabuk, kalian bermimpi bisa meniduri Elda.”

“Carmela!”

“Aku tahu. Ya. Aku tahu isi kepalamu yang sama busuknya seperti isi kepala lelaki yang mewarisimu tempat terkutuk ini!” Kemarahan Carmela itu tak biasa.

“Tutup mulutmu! Kau tak bisa bicara tentang ayah—”

“—Ayah?!” Carmela berteriak. “Alfie, kau hanya sedikit mujur karena tak mewarisi kedunguan Arrigo. Nasibmu tak lebih menyedihkan dari keparat itu!”

Kata-kata Carmela usai saat tiga orang polisi masuk dan segera menghalangi pintu belakang taverna. Mereka juga menutup pintu dapur dan memblokir lorong kecil menuju kamar rias. Carmela mendengus. Ia tuding mukaku. “Kau! Kau menginginkan Elda, kan? Kau hendak menuntaskan nafsumu dengan mengunjungi flatnya.”

Aku mundur dua langkah. “Aku? Aku tidak—” Terbata-bata aku menolak tuduhan Carmela. “Oh, Carmela. Kau—”

“—Tidak?” Carmela mendelik. “Kenapa kau tak jelaskan ketidakhadiran Elda saat ini? Mana dia? Hanya kau yang pernah terlihat mengunjungi flatnya,” desis Carmela. “Kau membunuhnya!”

Seperti tersengat listrik, rahangku menggelembung mendengar tuduhan itu. Aku sudah akan merenggut lehernya jika saja seorang polisi tak segera memepet tubuhku. Tapi aku tak peduli. “Elda mungkin pulang ke Manarola.”

Sayang sekali. Menurut polisi, tak seorang pun di Manarola melihat kepulangan Elda. Aku ditangkap polisi. Itulah sore terakhir aku melihat kebencian di mata Carmela.

**

Arrigo Tavern tak berubah. Tempat ini tetap ramai pengunjung. Sepertinya, orang-orang itu tak tahu—bahkan tak peduli—pada kejanggalan di taverna ini. Tak tampaknya aku dan Elda, agaknya tak menarik perhatian mereka. Itu aneh, sebab kerapnya mereka memenuhi tempat ini justru karena tarian Elda.

Carmela membelanjakan uang dengan efisien. Ia mengubah tampilan tempat ini menjadi lebih semarak. Ia bahkan mengubah nama Arrigo Tavern dengan nama baru: Taverna de Carmela, dan ia tak lagi menjual bir basi.

Perempuan itu mendapatkan keinginannya. Ia akhirnya bisa menari di hadapan para pengunjung yang juga mengelu-elukan liukan tubuhnya. Para lelaki menyelipkan lembaran uang ke balik celananya, tak peduli bahwa pinggulnya yang besar itu mampu merobohkan panggung. Para lelaki ikut menari dalam tempo musik yang cepat. Beberapa dari mereka meringis, berusaha meredam gelora yang menjilam-jilam saat tubuh tambun Carmela meliuk-liuk.

Mereka tergila-gila pada erotisme Carmela, seperti yang pernah aku saksikan pada Elda. Para lelaki di pesisir Genoa berdatangan untuk menghabiskan uang mereka demi bir dan tarian Cermela.

Carmela tahu cara memperoleh keberuntungannya. Di lantai tiga, di sudut kamar rajut yang berhias manik-manik kaca, di atas pemanas parafin, sebuah guci tembikar bercorak bunga Murbei mendesis-desis mendidihkan sop. Setiap hari, sebelum taverna dibuka, Carmela ke kamar itu untuk mencicipi semangkuk kecil zuppa ramuannya.

Zuppa dan el-Cuerpo membuat Carmela mencapai impiannya. Ia memiliki taverna, menari, merebut perhatian setiap lelaki di pesisir Genoa. Zuppa di Elda telah membuat gadis Manarola itu hidup di tubuh Carmela. (*)

Molenvliet, Januari 2015

 

Catatan:

– Strada = jalan; – Zuppa = sop; – el-cuerpo = sihir hitam gipsy untuk mencuri citra orang lain dengan memasak bagian tubuhnya.


[Cerpen] Pesta Kunang-Kunang | Jawa Pos | Minggu, 27 April 2014

Pesta Kunang-Kunang

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Ilust_Pesta Kunang-Kunang_Jawa Pos

1/

TIDAK ada makam di sini. Hanya rongga di batang pohon Dedalu raksasa yang tegak di tengah desa. Rongga yang disebabkan hantaman petir, dan kerap dipenuhi kunang-kunang yang berpesta selepas jasad diletakkan di dalamnya, membuatnya tampak seperti pesta lampion di malam tahun baru.

Saat Dedalu tua itu ditemukan di hutan utara, Ama (bapak) Huga takjub pada ukurannya. Ia kemudian mendirikan rumah 500 meter dari pohon itu. Pada tiga tahun pertama, orang-orang berduyun datang lalu ikut mendirikan rumah di situ. Rumah-rumah yang kini mengepung Dedalu tua raksasa. Ketakjuban Ama Huga pada Dedalu tua itu tak pernah hilang bahkan menjelang kematiannya. Ia ingin agar rongga di Dedalu tua itu menjadi makamnya dan makam setiap orang yang kelak mati di kampung yang ia namakan Lere’Ea ini. Orang-orang menurutinya. Karena pohon Dedalu menyerap aroma busuk di sekelilingnya, maka pohon itu juga menghisap bau kematian dari jasad-jasad orang mati.

Pemakaman pohon adalah solusi efektif agar lahan kampung tak habis untuk makam. Pemakaman yang tak merepotkan dan efisien. Pohon Dedalu tetap hidup dan tumbuh gergasi, sebagai rumah terakhir bagi orang-orang mati.

2/

Intina mencemaskan sikap beberapa lelaki yang tak hirau pada hal-hal istimewa yang ia simpan tentang Mori. Para lelaki menyukai Intina. Menyukai rambut hitam berombaknya, alis tebal di wajahnya yang oval, atau tubuhnya yang padat. Intina dinikahi Mori 12 tahun silam, dan ia masih istri Mori sampai kelak lelaki yang ia cintai itu pulang.

“Berhentilah menunggu Mori,” seorang di antara mereka coba meyakinkan Intina. Tetapi ia menjawab mereka dengan bantingan pintu. Cara yang perlu ia lakukan untuk menghancurkan harapan setiap lelaki di kampung ini.

Intina mungkin bebal karena masih memelihara rindu. Mori pergi saat Waipode berusia delapan bulan. Di subuh terakhir ia menatap suaminya, adalah subuh saat Mori mengecup kening putrinya, lalu Mori menutup pintu rumah dari luar. Intina menanti di setiap subuh berikutnya, berharap Mori menguak pintu dan tersenyum pada mereka berdua. Waipode kecil yang tak pernah membaui tubuh ayahnya itu kini beranjak remaja.

Waipode tak menanyakan ayahnya. Tentu sukar merindukan sesuatu yang tak pernah ia temui. Bagi Waipode, Mori adalah masalah ibunya dan itu bukan urusannya. Mori bukan orang yang ia lihat pertama kali saat matanya mulai terbuka.

3/

Suatu malam, sebelum usianya genap 13 tahun, Waipode mendadak demam. Empat hari berikutnya, demamnya meninggi dan tak ada dukun Lere’Ea yang bisa meredakannya. Mereka menyerah begitu saja, serupa dukun pemula yang baru belajar mengaduk ramuan obat. Di hari ke enam, Waipode sempat membuka mata, sebelum kejang dan diam.

Sakit misterius dan kematian yang mendadak itu mengejutkan setiap orang di Lere’Ea. Intina membersihkan tubuh putrinya dan membungkusnya dengan kain bersih. Seperti adab di sini, maka jasad Waipode akan masuk ke rongga Dedalu raksasa.

Dari kursi kayu di beranda rumahnya, Intina tak beranjak hingga malam datang. Ia tatapi rongga yang telah dipenuhi kunang-kunang itu. Ia pingsan karena lelah dan tersadar di pembaringan pada malam ketiga, saat orang-orang kampung gaduh.

Pesta Kunang-kunang di rongga Dedalu itu, memendarkan cahaya keperakan seiring munculnya dua tangan yang menggapai-gapai. Orang-orang ngeri saat dua tangan itu mencengkeram rerumputan, merangkak, seperti berusaha menyeret tubuhnya keluar dari rongga. Tubuh polos berlumur tanah seorang gadis yang dirubung kunang-kunang. Orang-orang kian gaduh. Baru kali ini mereka melihat bangkitnya orang mati dari dalam rongga Dedalu.

Berdiri kebingungan, gadis itu bertanya. “Mana ibuku? Mana Intina, ibuku?”

Ya. Gadis itu menyebut nama dan mengakui Intina sebagai ibunya.

“Aku Waipode, putrinya.”

Orang-orang tercekat. Gadis itu mengaku sebagai Waipode putri Intina yang mati tiga hari lalu. Intina melepas sarungnya dan gegas menghampiri —siapapun ia— seraya ia selubungi tubuh polos yang mulai jadi perhatian mata tiap lelaki dalam kerumunan itu.

Semua lelaki, kecuali Kalai. Si pembuat boneka di ujung kampung Lere’Ea itu mendadak sakit dan tertidur akibat pengaruh obat. Ia tak tahu kegaduhan yang baru saja terjadi di sini.

4/

Di Lere’Ea tak ada yang bisa membuat boneka kayu sebaik Kalai. Ia curahkan segenap perasaannya saat membuat boneka-bonekanya. Memahat boneka-boneka perempuan setinggi satu meter yang seolah hidup. Hanya boneka perempuan. Di akhir pekan, kereta tuanya berderit-derit menapaki jalan kampung berbatu menuju kota, ke toko tempat ia biasa menitipkan boneka untuk dijual.

Selalu saja ada boneka yang tak laku. Beberapa model tertentu entah kenapa tak mau dibeli orang. Mungkin mereka tak suka pada bentuknya. Boneka-boneka yang tak laku itu ia bawa pulang dan dijejerkan di sebuah rak khusus di ruang tengah rumahnya, sebagai penanda untuk tak lagi membuat model seperti itu. Bahan baku boneka kian sukar ia dapatkan. Pohon Dedalu di tengah kampung sukar dipanjati untuk sebatang dahan yang lurus.

Ya. Dahan Dedalu adalah rahasia keunggulan boneka pahatan Kalai. Kayu Dedalu dipanasi lebih dulu sebelum ia pahat menjadi kepala, tubuh, tangan dan kaki bagi boneka-bonekanya. Tekstur kayu yang lunak membuat pisau Kalai lincah menari-nari di sekujur kayu.

Dedalu seperti tumbuh untuk Kalai. Aroma kematian yang dihisap Dedalu dari jejasad di rongganya, telah menyuburkan dan menumbuhkan dedahan baru.

Tetapi Kalai tak membuat boneka pada hari seorang gadis keluar dari rongga Dedalu. Ia juga tak ada di antara banyak lelaki yang merasa beruntung karena memergoki tubuh gadis itu. Sakit membuat Kalai harus menemui dukun Lere’Ea untuk membeli ramuan obat. Efek ramuan itu membuatnya lelah dan merasa mengantuk. Ia tidur seharian dan tak tahu sesuatu telah terjadi di kampung itu selepas petang.

Para dukun di Lere’Ea membenarkan, bahwa gadis dewasa yang keluar dari rongga Dedalu itu adalah Waipode, putri Intina. Hal aneh yang sukar mereka jelaskan. Dedalu itu telah menghidupkan Waipode pada tiga hari setelah kematiannya. Waipode keluar dalam rupa gadis dewasa, 10 tahun lebih tua dari umur gadis remaja yang dimasukkan Intina ke rongga pohon itu.

Intina tak mau mempersoalkannya. Gadis itu hidup kembali dalam bentuk apapun, jika ia memang Waipode, maka Intina akan mengakuinya. Akan terasa aneh, mereka menjalani hidup seperti semula. Seperti sebelum kematian mendatangi putrinya lalu mengembalikannya.

5/

Bagi Waipode, dari si pemahat boneka itu. Waipode menyukai boneka-boneka buatan Kalai. Boneka dan pemuda tampan, adalah dua hal yang selalu bisa menciptakan cerita bagi seorang gadis dewasa. “Aku suka bonekamu,” ujar Waipode.

Kalai tersenyum. “Kudengar, kau membuat gaduh seisi kampung. Apa yang terjadi di sebrang sana? Sehingga para dewa mengizinkanmu pulang?” Kalai bercanda.

Waipode tertawa. “Di sebrang sana lebih tenang. Tak ada orang berkelahi karena tanah. Tak ada kejadian seperti yang dialami keluarga Adenar yang dilarang sembahyang dan terusir dari Laibatara (rumah ibadat). Dunia orang mati lebih toleran daripada dunia orang-orang hidup.”

Kalai tertegun mendengar kata-kata Waipode.

“Ini buatmu,” Kalai menawari Waipode sebuah boneka yang baru selesai ia buat. Waipode mengangguk gembira. Kendati boneka itu belum diwarnai.

Itu hanya perbincangan kecil. Tetapi Waipode selalu ada saat pemuda itu bekerja. Keintiman mereka membuat pemuda lainnya cemburu. Waipode telah memilih, dan pemuda beruntung itu adalah Kalai.

6/

Kalai menyadari bahwa hal aneh kerap terjadi di rumahnya saat larut malam. Bengkel kerjanya yang berantakan saat ia tinggalkan, selalu rapi esok paginya. Perkakas tersusun di tempat semula. Sampah rautan kayu hilang tak berbekas. Seluruh penjuru rumah bersih. Seperti ada tangan misterius yang telah membantu membereskan kekacauan itu.

Saat Kalai pulas, para boneka buatannya bergerak. Ya. Boneka-boneka kayu itu hidup dan turun dari rak pajang di tengah rumah. Mereka jelajahi tiap ruangan, bertingkah layaknya gadis muda yang sibuk merapikan rumah. Mereka kembalikan semua benda ke tempatnya, menanak bubur dan memanaskan kopi buat Kalai sebelum mereka kembali ke tempat semula sebelum fajar menyingsing.

Tetapi, boneka-boneka itu mulai kerap membicarakan Waipode. Kehadiran gadis itu jadi masalah yang serius bagi mereka.

Dedalu raksasa di tengah kampung menyimpan keganjilan sejak pohon itu mulai dijadikan makam. Pohon itu tak saja menyerap aroma kematian, tetapi juga menyimpan arwah para gadis dewasa yang mati dalam pembuluh getahnya. Arwah-arwah itu berdiam di sana dan menunggu untuk tubuh baru. Mereka tak sengaja hidup oleh cinta yang dicurahkan Kalai saat ia memahat boneka-bonekanya.

Mereka benci mendapati pemuda itu kerap mengagumi Waipode. Hanya butuh sedikit alasan untuk sebuah rencana kematian.

7/

Bukan kebetulan saat sebuah benturan kecil membuat roda kereta Kalai lepas dan menggulingkan kereta tua itu bersama penumpangnya. Waipode sudah mati saat Kalai mengeluarkan tubuhnya dari himpitan kereta.

Perasaan Intina kembali hancur atas kematian Waipode untuk kedua kalinya itu. Ia menunggu keajaiban yang tak datang di hari ketiga setelah jasad Waipode ia masukkan ke rongga Dedalu. Putrinya tak hidup lagi. Tak ada cahaya keperakan, kecuali kerumunan kunang-kunang yang tetap berpesta.

Tetapi, Kalai punya cara mengatasi dukanya. Pada hari ketiga, di saat Intina berharap Waipode keluar dari rongga Dedalu, Kalai telah menyelesaikan sebuah boneka kayu.

Boneka yang sangat menyerupai Waipode. Boneka yang membuat Kalai tergila-gila. Boneka yang hidup di pengujung malam dan diam kembali sebelum fajar datang. Boneka yang kerap memestakan gairah Kunang-kunang, meminta Kalai memasukkan sepuluh boneka lainnya ke api tungku, dan membuat pemuda itu bersumpah tak lagi memahat boneka. (*)

Ubud, Oktober 2013

Twitter: @IlhamQM

 

Catatan:

*) cerpen ini meminjam tradisi penguburan bayi pada liang pohon di Tana Toraja dan tradisi penguburan pohon di Trunyan, Bali.


[Cerpen] Makam di Bawah Jendela | Jawa Pos| Minggu, 10 Agustus 2014

Makam di Bawah Jendela

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Ilust_Makam di Bawah Jendela_Jawa Pos

MURAJ membuat Damha ketakutan dan hampir mati tersedak lidahnya sendiri. Begitulah awalnya. Entah bagaimana Muraj memilih seorang lelaki serapuh Damha, lelaki yang selalu mengira tak memiliki nyali dan merasa telah ditinggalkan siapa pun.

Apa yang diinginkan Muraj dari lelaki yang 25 tahun hidupnya disita derita itu. Kematian demi kematian mengelilinginya. Ayahnya mati sebelum ia sempat dilahirkan, lalu ibunya menyusul mati tiga bulan setelah ia lahir. Ia disusui seorang wanita paruh-baya yang juga baru saja mati tiga tahun lalu. Dua adiknya, mati sekaligus dalam kecelakaan lalu-lintas.

**

Muraj memberi Damha perintah untuk ia patuhi. Perintah yang bagai selubung besar membungkus tubuhnya, seolah memerah seluruh darah di tubuhnya. Damha terintimidasi oleh sebuah perintah sederhana.

Ya. Perintah sederhana yang mendentam di kepalanya serupa palu pada lonceng.

“Katakanlah,” bisik Muraj.

Tetapi Damha tak sedikit pun memahami keinginan Muraj. Lelaki itu terdiam mematung, sehingga Muraj harus menumpahkan ampas kopi ke atas meja kerjanya. Muraj mengacak-acak ampas kopi itu dengan kaki-kaki kecilnya.

“Makhluk apa kau ini?!” Desis Damha pada sosok di depannya itu.

“Aku Muraj.”Jawab sosok itu seraya mengirik seperti hantu kecil yang kerap bergelayut di punggung setiap orang alim dan berusaha menikamkan godaan ke hati lewat telinga mereka. Muraj mendekut serupa setan Morou yang senantiasa menunggui orang-orang agar tak terjaga dari tidur mereka saat subuh.

“Katakanlah!” Muraj memerintah Damha sekali lagi. Ia ingin agar Damha menurutinya. Perintah yang membuat lelaki itu nyaris menelan lidahnya sendiri karena ketakutan.

Muraj melompat ke atas mesin tik, menghentak-hentakkan kakinya, membuat pita karbon di mesin itu kusut-masai. Makhluk itu tampaknya tak peduli pada ketakutan lelaki di depannya. “Apa akan kau habiskan ubi ini?” Muraj justru menunjuk dua potong ubi rebus dalam piring porselein di meja Damha.

Belum sempat Damha menggeleng, Muraj menyambar dua potong ubi itu, lalu menghabiskannya dalam sekali telan. Makhluk itu lalu bersandar pada penyangga buku, menggesekan tubuh seperti seekor kucing yang gatal, sebelum menarik penyangga itu dan membuat buku-buku roboh. Ia cekit lembaran-lembaran buku sehingga robek dan melemparkannya ke lantai.

“Jangan…jangan lakukan itu,” Damha memelas.

“Memohonlah padaku!” Desis Muraj. “Kau bahkan tak berani melakukannya, bukan?” Ejeknya.

Damha menggeleng. Sendi-sendinya lunglai, belulangnya seperti karet. Wajahnya kebas. “Aku tak akan melakukannya padamu. Kau hanya seorang makhluk, bukan Tuhannya Musa, Isa dan Muhammad.”

Muraj mengirik. Sayapnya mengepak, lalu ia hingga ke dada Damha. “Jangan menguji kesabaranku! Kau tak pantas menyebut zat yang tidak kau kenali,” ujarnya marah.

Damha terlanga. Jemarinya lengket dan dadanya seperti ditekan sesuatu yang berat. Ia mengatupkan mata, berharap saat membukanya kembali, apa yang kini terjadi di depannya ini hanyalah mimpi belaka.

“Petang yang celaka, wahai jahanam!” Rutuk Damha ketika membuka mata dan masih menemukan Muraj di atas dadanya. Ia terperangkap bersama makhluk itu dalam situasi yang aneh. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali cemas dan mengasihani dirinya sendiri. Ia berharap ada Marya di balik pintu dan segera menariknya keluar dari kamar ini. Tapi itu tak akan terjadi. Baru dua jam lalu Marya berlari pergi dari kamar ini. Ia marah karena Damha tak sengaja menyenggol dadanya.

Kebetulan yang luar biasa, bukan?

Muraj datang saat Marya tak bersamanya. Saat tak ada orang lain yang ia harap bisa menolongnya. Perut Damha berkecamuk, seperti gemuruh laut yang membadaikan petaka.

Hoeeek… Damha muntah. Ia keluarkan sepotong ubi yang belum ia cerna baik-baik.

**

Mengenai Muraj, sosok aneh yang mendatanginya itu, lebih serupa burung kecil dengan bulu halus berwarna kuning. Saat Muraj bicara, dari punggungnya merentang sayap berwarna pelangi. Tetapi Muraj tak menemui Damha sebagaimana cara setan Morou muncul dari bawah ranjang. Sosok kecil itu masuk lewat jendela yang terbuka, lalu semena-mena mengintimidasinya.

“Krrr….” Muraj mengirik pendek. ”Katakanlah!” Ia mengulangi lagi perintahnya.

“Apa?” Damha susah-payah melawan teror di dadanya.

“Katakanlah atas nama Tuhan!”

“Tuhan yang mana? Siapa?”

“Tuhan yang menciptakan dan meniupkan cinta!”

“Aku tidak bisa mengatakan apapun? Aku bukan penyair!”

“Tetapi kau seorang pecinta,” Muraj tersenyum. “Katakanlah!” Suara Muraj tiba-tiba meninggi lagi, membuat telinga Damha berdenging. Lelaki itu benar-benar kepayahan.

“Katakanlah Tuhan dalam cinta!” Muraj terus memerintahnya.

“Tapi aku juga bukan pecinta!” Damha keras kepala.

“Ulangi kata-kataku!” Muraj tak perduli, “oh, Tuhanku yang penuh cinta.”

“Oh, Tuhanku yang penuh cinta!” Damha menyerah.

Muraj segera menyambung, “Aku akan mematuhi Engkau dalam cinta!”

Tetapi Damha terdiam. Kepatuhan? “Kepatuhan pada siapa?” Tanya Damha.

Muraj merentangkan sayap kecil yang pelangi itu. Matanya memancarkan cahaya merah. “Ulangi saja kata-kataku!” Teriaknya.

Telinga Dahma berdentang. Ia mengeriap. “Patuh padamu, atau pada Tuhan?”

Muraj mendengus. “Kau pikirkan itu sampai aku datang lagi!” Serunya dan buru-buru melesat terbang lewat jendela.

**

Marya mengizinkan Damha menemuinya dekat air mancur di alun-alun kota. Gadis itu merengut saat Damha berjalan ke arahnya, lalu tanpa basa-basi ia meninju perut lelaki itu.

“Aku tak bermaksud membuatmu malu,” Damha meringis memegangi perutnya.

Gadis itu tak menyahut. Ia rogoh sakunya dan menjentikkan sebuah koin tembaga 25 sen ke dalam kolam air mancur. Di dasar kolam, koin-koin berkilat lembut terpapar cahaya. “Mohonlah sesuatu, Damha,” pinta Marya.

“Memohon untuk apa?” Damha balik bertanya.

Marya tersenyum. “Berdoalah. Mintalah sesuatu.”

Damha mengusap wajahnya. Ia memilih duduk. “Itu tak penting sekarang ini.”

Marya memutar tubuhnya. Ia kaget. “Kenapa tak penting? Kau tak suka berdoa?”

“Sesuatu telah mendatangiku,” nada suara Damha membuat Marya cemas

“Siapa?” Gadis itu langsung merespon lelaki di sisinya.

“Muraj,” Damha berharap Marya tak menyangkanya sudah gila, “ia sosok yang menghantui kamarku.”

“Kau gila, Damha! Di saat bersamaku pun, kau lebih suka bicara tentang hantu.”

Damha menyerah. Gadis itu baru saja membenarkan kegilaannya.

“Tapi, hantu itu bicara tentang Tuhan.”

Mulut Marya terbuka dan ia membungkuk memegangi perutnya. Lelaki di sisinya itu berhasil membuatnya terbahak. Marya mengibaskan kepala, matanya menyorot tajam. “Jadi Muraj ini sejenis hantu yang alim?”

Dahma tiba-tiba merasa canggung dengan pembicaraan ini. “Sudahlah. Aku tak mau membahasnya lagi.”

“Jangan merajuk begitu,” kelucuan di wajah gadis belum usai. “Aku percaya padamu. Ia memang hantu, dan ia datang setelah kau menyentuh dadaku.”

Damha benar-benar menyerah dengan sindiran Marya, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Marya adalah satu-satunya orang yang masih mau bicara padanya. Orang-orang menghindarinya karena menyangka ia dikelilingi maut. Marya tak peduli pada dugaan orang-orang. Ia menyukai Damha, walau lelaki di depannya itu tak pernah menyadarinya.

Mereka bergeser, memberi ruang pada orang-orang yang datang melemparkan koin ke dalam kolam seraya memohon sesuatu dalam doa.

“Baiklah. Maafkan aku. Tapi kau harus tahu bahwa selera humormu buruk sekali.” Marya mengalah. “Sampai di mana kita tadi? Oh ya, soal hantu yang mendatangimu.”

“Entahlah. Ia bicara tentang cinta dan Tuhan. Aku tak tahu maksudnya.” Damha bangkit, menepis debu dari belakang celananya. “Hantu itu akan menemuiku lagi. Aku pikir, akan lebih baik kau bersamaku saat ia datang nanti.”

Seingat Marya, banyak kitab yang juga menjelaskan tentang malaikat yang membangkangi perintah menyambah manusia karena kesetiaannya pada Tuhan, sebagaimana yang diingat Marya dari kisah yang diceritakan neneknya yang alim: tentang manusia dan malaikat pembangkang.

“Kata nenekku, malaikat mengikuti tujuan penciptaannya; hanya setia menyembah Tuhan saja. Ia menolak menyembah selain Tuhan. Oh, Nenek, betapa aku merindukanmu.” Marya mengulangi apa yang dulu dikisahkan oleh neneknya.

Kisah purba yang belum selesai, kata neneknya yang alim itu. Kisah yang hanya akan selesai apabila malaikat itu bersedia berdamai dengan manusia untuk membayar pembangkangannya pada Tuhan.

Andai neneknya masih hidup, Marya ingin menanyainya beberapa hal; siapa nama malaikat yang membangkang itu? Benarkah ia dihukum menjadi hantu? Itukah harga yang harus ia bayar untuk kepatuhannya? Adakah kepatuhan itu sebuah pembangkangan?

**

Muraj mendarat keras di lantai kamar Damha. Makhluk itu tampak payah. Sebelah sayapnya membentang lunglai, sebelah lagi tertutupi darah kering. “Inikah hantu yang kau bicarakan itu?” Bisik Marya ke telinga Damha.

Damha mengangguk. “Ya. Dialah Muraj.”

Tapi Marya tak perduli siapapun namanya. “Kenapa sayapnya berdarah?”

Damha berlutut dan mendapati Muraj yang bergeming lemah. Makhluk itu bernafas nyaris senyap. Marya teringat lagi pada kisah neneknya.

“Ia sepertinya tak bernafas lagi.” Damha membalikkan tubuh Muraj agar terlentang.

Marya merengut. “Ini burung, Damha. Bukan hantu. Tak ada burung yang bisa bicara. Kau berhalusinasi, dan bodohnya aku memercayaimu!” Rutuk Marya berdiri dari jongkoknya.

Muraj membuka matanya. “Marya. Aku bukan malaikat pembangkang. Malaikat yang membangkangi Tuhan karena kepatuhannya yang nenekmu maksud dalam ceritanya itu adalah malaikat yang kini kerap menghalau dirimu mematuhi Tuhan. Ia tidak menyukai cinta.”

Marya gelagapan. Mulutnya tiba-tiba terkunci.

“Cinta,” Muraj mengirik pada Damha, ”aku harus menuntaskan urusanku, Damha. Ingatlah selalu pada Cinta, kata pertama yang diajarkan Tuhan pada manusia. Cinta. Katakanlah, bahwa Tuhanmu menciptakan cinta. Cintailah setiap makhluk Tuhanmu.”

“Sudah kukatakanaku bukan pecinta. Aku tak pernah melihat wajah ayah dan ibuku,” Dahma tertunduk, “bagaimana mungkin aku mencintai orang-orang yang tak pernah aku temui?”

“Jangan cemas, Damha. Bukankah kau mencintai Tuhan, sedang kau tak pernah melihat-Nya? Aku tahu, kau kelak bisa mencintai dua orangtuamu. Bersabarlah, Damha. Kita akan bertemu lagi,” napas Muraj kian tipis, matanya mengerjap lemah. “Oya, Marya,” sapa Muraj, “nenekmu menitipkan salam dan rindunya untukmu.”

Muraj tersenyum pada Marya dan perlahan mengatupkan mata. Tak ia buka lagi dan benar-benar pergi.

Mengenai luka di tubuh Muraj, luka yang membuat Muraj menemui kematiannya itu adalah luka peluru senapan. Muraj tertembak penembak jitu saat ia melintasi kota yang dikepung huru-hara, saat orang-orang begitu bernafsu membunuh cinta. Mereka membakar, menjarah, membunuh, dan memerkosa. Walau tertembak, ia tetap datang memenuhi janjinya.

Damha dan Marya memakamkan Muraj di bawah jendela. (*)

Molenvliet, Januari 2014

Twitter: @IlhamQM

 

* Cerpen ini didedikasikan untuk Hanna Fransisca.


[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Koran Tempo Minggu 2014

Cover Arsip Cerpen Tempo 2014

Download: klik link di bawah ini

E-BOOK_KUMPULAN CERPEN KORAN TEMPO MINGGU 2014

tujuan pengarsipan dan dokumentasi 49 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah fisik atau karateristik material, dan penambahan dalam skala yang dapat ditoleransi. semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media dimana karya yang bersangkutan dipublis pertama kali. dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta dan media yang mempublikasi subyek karya pertama kali.


%d blogger menyukai ini: