Tag Archives: festival

[Film] Humanitarian and Environmental Narratives dalam Film Suara Dari Pesisir

oleh Ilham Q. Moehiddin

SEORANG remaja lelaki duduk di pasir, menghadap laut. Suaranya lirih oleh lagu yang ia nyanyikan berulang-ulang. Ia sedang menghafal lirik lagu yang disertainya dengan gerakan itu. Kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki—remaja lelaki itu mengulang-ulang lirik dalam bahasa Inggris. Sesekali ia lupa, lantas melirik catatannya, kemudian mengulang lagi dari awal. Bajo, nama remaja lelaki itu.

Suara Bajo terbawa angin ke telinga seorang lelaki lain. Ia berdiri tak jauh dari posisi duduk Bajo. Lelaki itu tersenyum, sebelum menyambung lirik lagu yang luput. Bajo terperangah dan lelaki itu mendekat, mengulurkan tangannya. “My name is Bonco,” ujarnya datar. Senyum Bajo merekah sebelum scene beralih disolve.

Scene pendek ini membuka film Suara Dari Pesisir, besutan sutradara Susilo Rahardjo. Tampaknya Susilo asik bermain-main dengan plot yang berayun cepat. Ia mampu mendorong beberapa karakter utama tampil menonjol di sepanjang film. Susilo beruntung, filmnya didukung sejumlah talent jempolan.

Sebut saja Al Galih yang memerankan tokoh Haseng (Ayah Bajo). Al Galih ini pemain watak jebolan Bengkel Teater Rendra. Arfina Rahmalia yang memerankan karakter Nurul/Ibu Guru; dan Peter H. Sumawijaya yang memerankan karakter Bonco. Tentu saja, jangan lupakan Erik, talent muda asal desa Bajo Labengki yang lolos casting untuk memerankan karakter Bajo, karakter utama film ini. Erik kemudian dilatih khusus untuk bisa memerankan karakter Bajo dengan baik. Kecuali Al Galih, Arfina dan Peter tergolong baru dalam seni peran. Kendati begitu, empat talent ini mampu berkolaborasi, bermain baik dan padu sehingga Anda nyaman menyaksikan akting mereka.

Tetapi, tidak saja kemampuan para talent yang bermain bagus yang patut mendapat pujian. Susilo mampu menggambarkan sisi lain dari keindahan alam dan kehidupan orang-orang Bajo—di gugus pulau Labengki—sekaligus masalah krusial lingkungan hidup yang menjadi meme kritis film ini. Labengki adalah gugus pulau-pulau karang kecil yang membentuk formasi unik dengan panorama yang indah. Keindahan alam di atas dan di bawah lautnya setingkat dengan gugus Raja Ampat di Papua. Satu hal yang membedakan dari kedua lokasi itu; di Labengki, Anda akan menemukan komunitas suku laut Bajo. Mereka menempati satu pulau utama di antara gugusan pulau-pulau kecil karang itu. Soal bagaimana orang-orang laut ini berada di daratan, barangkali itu menjadi hal menarik lainnya.

Saya pikir, sebagai sutradara Susilo memahami betul masalah-masalah yang ingin ia tampilkan dalam film ini—yang ide cerita dan skenarionya ia tulis sendiri. Bagaimana Susilo mengarahkan ceritanya berjalan alami? Atau seperti apa ia mendorong isu-isu sentral itu menyisi di sepanjang film dan tidak sekadar menjadikannya sampiran belaka.

Rangkaian gambar yang baik itu tidak akan terwujud tanpa peran Director of Photography & Cameratographer Yoel Zakka. Footage yang rapi dan ditampilkan berlapis-lapis di sepanjang film paling tidak diambil dengan dua jenis kamera berbeda. Beberapa gambar tampak shake, tetapi tampaknya itu disengaja untuk menjaga continuitas settingnya. Pengambilan gambar sudut tinggi (extreme high shoot) dengan menggunakan drone tidak berubah serupa aksesoris belaka di sepanjang film, namun mampu membantu memberi gambaran besar perihal lokasi dan kaitan isu lingkungan yang juga diusung film ini.

Orang Bajo dalam Film Indonesia

Tidak banyak film Indonesia yang mengangkat kehidupan laut sebagai latar belakang ceritanya—pun suku laut, suku Bajo. Dua di antara yang sedikit itu adalah The Mirror Never Lies garapan sutradara Kamila Andini, dan yang lain adalah Suara Dari Pesisir karya sutradara Susilo Rahardjo. Keduanya sutradara muda. Meski kedua film ini mengusung format berbeda—The Mirror Never Lies berformat film panjang dan Suara Dari Pesisir berformat film pendek—namun keduanya berusaha memotret keunikan kehidupan laut beserta orang-orangnya dari kacamata yang aparsial.

Saya bertemu Kamila di Bali pada tahun 2013, dua tahun setelah The Mirror Never Lies di rilis. Seusai diskusi yang kami hadiri sebagai pemateri, di halaman Left Bank Ubud, kami berbicara banyak soal filmnya itu. Menurutnya, kehidupan laut dan orang-orangnya adalah sesuatu yang seksi diangkat dalam layar lebar. Proyek itu sendiri digarap di Wangi-Wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara dan berakhir pada tahun 2011. Putri sutradara Garin Nugroho ini mengangkat pendidikan sebagai tema sentral filmnya. Ada masalah besar dalam pemerataan pendidikan di Indonesia, menurut Kamila—dan itu benar-benar tampak di banyak komunitas yang nyaris tidak tersentuh oleh kebutuhan dasar ini. Seolah-olah negara tidak hadir di antara mereka dan mereka harus berusaha sendiri menemukan “negara” dengan meninggalkan laut sebagai komunitasnya dan penopang kehidupannya.

Tentu saja, dengan mengekspos kesenjangan ini, bukan berarti hendak mempermalukan pihak-pihak terkait. Ini hanya sebuah autokritik, dan saya pikir, apa yang berusaha didorong oleh para sineas sebagai tema sentral di dalam film, juga berfungsi seperti alat menuju solusi yang bersifat afirmatif. Sehingga kemudian saya melihat hal yang sama pada Suara Dari Pesisir produksi Koheo Films Kendari. Sebuah film yang hendak mendorong komunikasi dua arah dengan cara yang baik.

Forsdale menulis; communication is the process by which a system is established, maintained and altered by means of shared signals that operate according to rules. Bahwa komunikasi adalah sebuah proses di mana sistem terbentuk, dipelihara, kemudian diubah dengan tujuan bahwa pesan-pesan yang dikirimkan dan diterima akan dilakukan sesuai aturan.

Nah, persoalan serupa juga tampak sebagai salah satu isu di Labengki, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara—di mana menjadi setting utama film Suara Dari Pesisir. Pemilihan lokasi tentu bukan kebetulan. Sebagai pemilik ide cerita, Susilo Rahardjo, sepertinya telah memilih Labengki (dengan komunitas Bajo di sana) sebagai setting yang tepat untuk mendorong gagasannya. Labengki dengan lingkungan alaminya; Labengki dengan keindahan panorama bawah lautnya; Labengki dengan species Kima terbanyak di dunia, sekaligus satu species Kima Raksasa (Giant Clam) terlangka di dunia; dan Labengki dengan besarnya potensi remaja putus sekolah. Hanya ada satu sekolah di sana, sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang berdiri di satu atap. Untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, setiap anak Bajo harus ke kota kabupaten yang jauh jaraknya. Maka persoalan kian menjadi rumit saat remaja-remaja Bajo ini pergi bersekolah ke luar desa; tidak ada lagi yang membantu setiap orangua mereka melaut untuk menghidupi keluarga. Bagi setiap kepala keluarga itu, kerumitan ini perlu solusi yang cepat dan mudah—mereka kemudian melakukan aktivitas destructive fishing dengan membom ikan.

Cerita yang baik adalah cerita yang ditopang data. Aktivitas destructive fishing dengan membom ikan akan merusak terumbu karang Labengki, sekaligus mengancam 88% terumbu karang di Asia Tenggara. Susilo jelas telah melakukan riset untuk ceritanya, sehingga ketika gagasan ini dikemas ke dalam bentuk film, maka Suara Dari Pesisir menjadi alat kampanye yang sangat edukatif untuk siapa saja.

Bajo, remaja yang sedang dikepung kekhawatiran karena beberapa masalah yang hampir pasti akan menghambat cita-citanya kelak, bertambah cemas mendapati kenyataan bahwa ayahnya mengambil jalan pintas menjadi nelayan pengebom ikan. Jiwa Bajo terusik. Ia protes dengan membuang botol-botol peledak ke laut yang bahkan belum sempat digunakan ayahnya, dan ia mau menerima kemarahan ayahnya akibat tindakannya itu. Tetapi ia tidak bisa menerima saat sang ayah membuang bukunya ke laut. Apa yang kemudian dilakukan Bajo? Bagaimana sikapnya? Pesan apa yang hendak dikirimkan Susilo kepada Anda semua? Nah, Anda harus menonton film ini untuk menemukan jawabannya.

Kolaborasi apik juga tampak dari kerjasama tim produksi Koheo Films Kendari. Saya menyukai cara Susilo membangun perubahan sikap Ayah Bajo terhadap anak lelaki satu-satunya itu. Sutradara Susilo Rahardjo, DoP & cameratographer Yoel Zakka, tim artistik dan tata cahaya—juga kru produksi lainnya—berhasil menerjemahkan keinginan cerita dalam gambar yang lembut, low noise, dan momen yang tepat. Semua plot dalam cerita seperti berhimpun di satu frame itu—menurut saya, inilah frame yang menjadi kesimpulan jalan hidup Bajo, sekaligus memuat pesan utama di film Suara Dari Pesisir. Frame ini bahkan mampu membuat saya terharu. Cara mengakhiri konflik yang baik dalam cerita dengan frame yang bagus sekali.

Film ini sekaligus membenarkan apa yang dicatat Johannes Paulmann, peneliti di Leibniz Institute of European History, Mainz, saat Kolokium Berlin ke-21 tentang Sejarah Kontemporer di Forum Einstein, Potsdam, 3 Desember 2015 silam. Bahwa pendidikan dan lingkungan hidup serta lingkungan sosial adalah hak suaka; bagian besar dari kemanusiaan. Sebuah konvergensi logika yang menghadirkan perspektif yang selalu tidak memiliki penjelasan yang cukup. Kritik sosial berubah menjadi gerakan yang meningkat dan membawa integrasi sosial ke dalam perdebatan publik.

Kehidupan sosial dan sejarah masyarakat tempatan pasti memiliki segudang kisah, sebuah narasi unik di tengah “kebisuannya”. Maka film—sebagai sebuah afirmasi—maju ke depan untuk bersama-sama mengidentifikasi masalah dan menawarkan solusi secara naratif. Film sebagai sebuah medium sebaiknya tidak kekurangan bahasa untuk menafsirkan gejolak, gerak sosial dan sejarah masyarakat tempatan. Apa yang kemudian tampak menonjol dalam film Suara Dari Pesisir? Ya, humanitarian and environmental narratives, sebuah narasi kemanusiaan dan lingkungan hidup orang-orang Bajo yang kini hidup dan menjadi bagian dari masyarakat pesisir.

Film Suara Dari Pesisir punya cita-cita besar selain sebagai proyek prestisius dalam diri setiap kru yang terlibat dalam produksi. Menurut Tirtayasa, produser film Suara Dari Pesisir, film ini memang dipersiapkan untuk sebuah misi besar; menegasi masalah, dan memperkenalkan Labengki sekaligus mendorong Pariwisata Sulawesi Tenggara ke level Nasional dan Internasional. Selain misi pendidikan dan lingkungan hidup yang tidak kalah pentingnya.

“Kami menargetkan Suara Dari Pesisir bisa ikut berlaga di beberapa Festival Film Internasional di tahun 2017 ini, antara lain; Cannes Short Film Festival, New York International Short Film Festival, Los Angeles International Short Film Festival, Oneota Film Festival Japan, Berlin Short Film Festival, dan beberapa festival film dalam negeri, seperti Festival Film Indonesia dan XXI Short Film Festival,” jelas Tirtayasa didampingi Joanne dan semua kru produksi sesaat sebelum premiere film ini untuk kalangan terbatas.

Saya yakin, dengan kekuatan gagasan, penceritaan dan semua hal yang terkait teknik sinematografi, film Suara Dari Pesisir dapat meraih minimal dua-tiga penghargaan di ajang Internasional dan Nasional yang akan mereka ikuti.

Saya merekomendasikan Suara Dari Pesisir ini sebagai film yang humanis, menghibur, dan mampu mendorong perubahan sikap pada diri setiap orang untuk berbuat yang lebih baik. Saya memberinya empat bintang. Bravo!

Film Suara Dari Pesisir akan tayang mulai 1 Juli 2017 nanti. Dari total pendapatan film ini, 25% akan kembalikan berupa sumbangan untuk sarana pendidikan di SD dan SLTP Labengki. (*)

 

Ilham Q. Moehiddin

Film reviewer, Penulis prolifik, dan Sastrawan Indonesia

 

Judul Film: Suara Dari Pesisir.

Pemeran: Erik sebagai Bajo; Al Galih sebagai Haseng/Ayah Bajo; Arfina Rahmalia sebagai Nurul/Ibu Guru; Peter H. Sumawijaya sebagai Bonco.

Sutradara: Susilo Raharjo.

DoP & Cameratographer: Yoel Zakka.

Produser: Tirtayasa & Joanne.

Produksi: Koheo Films Kendari, 2017.

Iklan

Separuh Jalan Menuju Matahari

Menyaksikan festival budaya-tradisi suku tertua di Sulawesi Tenggara. Kedatuan ini memiliki banyak sejarah dan kisah unik yang terus terpelihara.

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Plaza Tangkeno di hari pembukaan festival -- photo@IQM

Plaza Tangkeno di hari pembukaan festival — photo@IQM

Tubuh berbungkus jaket parasut tebal saat kami bersua pagi di desa Rahadopi. Waktu menunjuk pukul 07:10. Darman, bangun lebih dulu dan berjongkok di sisi perapian tanah. Ia kedinginan. Pemilik rumah menyuguhi kopi plus sepiring kue. Kami sengaja datang untuk Festival Tangkeno 2015; sebuah festival budaya-tradisi dari suku tertua di Sulawesi Tenggara. Festival ini dirangkai Sail Indonesia 2015 yang melayari rute Sail Sagori 2015.

Dari desa Rahadopi, di ketinggian 680 mdpl, atol Sagori tampak di sisi barat, berjarak 2,5 nautikal mil dari pantai Kabaena, melengkung sabit bulan berwarna putih dengan laguna biru pekat di tengahnya. Air surut, laut teduh sekali di awal September ini. Karang Sagori, atol terbesar ketiga di Indonesia dan keempat di dunia.

Saya teringat sejarah kelam di atol Sagori ini. Pada paruh abad ke-17, dunia pelayaran dikejutkan suatu malapetaka—Ternatan Fleet: Bergen op Zoom (jenis jacht, berbobot 300 GT), Luijpaert (jacht, 320 GT), Aechtekercke (jacht, 100 GT), dan De Joffer (fluyt, 480 GT), dikomandoi Tijger (retourschip, 1000 GT) karam sekaligus di karang ini pada tanggal 4 Maret 1650. Armada VOC ini sedang melayari rute Batavia-Ternate melalui Selat Kabaena. 581 orang awak kapal, serdadu dan saudagar dapat menyelamatkan diri.

Tijger itu jenis mothership space kelas utama, kapal terbesar yang pernah dibangun VOC pada 1640-41. Kapal kebanggaan VOC ini mengakhiri riwayat pelayarannya di karang Sagori. Duapuluh pucuk meriam, tujuh cartouw (meriam kecil) plus amunisi, diangkut prajurit Mokole (raja) XVII Kabaena dan diletakkan di lima benteng kedatuan. Salinan mikrofilem catatan itu disimpan Breede Raadt, di National Archives of the Netherlands, di bawah Fonds-Code: 1.04.02, Item No.1179A/B, Sec.296-340.

Matahari beranjak naik. Menurut informasi, festival akan dibuka pukul 10 pagi (2 September 2015). Kami harus bergegas ke plaza Tangkeno. Motor sewaan kami harus menanjak 5 Km hingga di ketinggian 800 mdpl, di pinggang gunung Sabampolulu. Jalan beraspal dan sedikit pengerasan sebagai bagian dari proyek lingkar pulau Kabaena.

Cukup mudah mencapai Kabaena. Dari kota Kendari dan kota Baubau, Kabaena dicapai melalui darat sebelum menumpang jet-foil atau pelra. Sedangkan dari Bulukumba (Sulawesi Selatan) menggunakan ferry via Tanjung Bira. Pun mudah dicapai menggunakan yatch (kapal layar tiang tinggi) atau kapal pesiar yang berlabuh di perairan bagian selatan. Jika kelak resmi sebagai kabupaten, sebuah bandara akan dibangun di utara pulau.

Kurang dari 25 menit, kami tiba di desa Tangkeno. Kemarau panjang tahun ini mengubah wajah Tangkeno yang hijau menjadi kemerahan dan kering. Angin menerbangkan debu tanah merah ke mana-mana. Suhu naik 34-35ºC di siang hari, dan secara ekstrem turun hingga 15ºC menjelang sore hingga malam. Kondisi kontras justru tampak di dua desa sebelumnya, Tirongkotua dan Rahadopi yang dibalut hijau hutan sub-tropis serta tajuk-tajuk pohon Cengkih.

Di ketinggian Tangkeno, rata-rata kecepatan angin 2 knot, dan uniknya, mampu menghalau rasa panas di kulit. Kami tak berkeringat saat berada di plaza Tangkeno, di tengah siraman cahaya matahari siang hari. Percayalah, berjalan di plaza Tangkeno di musim kemarau, laksana menapaki separuh jalan menuju matahari.

Kabaena—dan 11 pulau besar-kecil yang mengepungnya—bersiap menjadi kabupaten baru, memisah dari kabupaten Bombana. Jarak administrasi, luas wilayah dan kecemasan akibat laju deforestasi karena operasi pertambangan menjadi sebab utama. Kenyataan itu membuat warga lokal kecewa dan pihak Kedatuan Kabaena marah besar.

“Ada kerapatan adat sebelum penyambutan,” Darman berbisik. Baiklah, itu tak ada di run-down acara. Darman menyiapkan kamera dan peralatan rekam. Saya berinteraksi dengan beberapa tokoh adat di sisi Baruga Utama. Petugas penyambut berpakaian adat dan para pementas gelisah karena udara panas, sebagian sibuk merapikan kostum yang disergap angin.

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama -- photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama — photo@IQM

Darman berlari ke arah Baruga Utama saat orang-orang bergerak ke arah yang sama untuk menyimak sambutan dari Mokole Kedatuan Kabaena. Di akhir sambutan Mokole, kerapatan adat dimulai dan dihadiri para Bonto (pemangku adat), Mokole Kedatuan Keuwia dan kerabat Kedatuan Lembopari. Kerapatan adat menyetujui acara itu, sekaligus mengundang Bupati Bombana, para peserta Sail Indonesia 2015, dan utusan dari sejumlah kerajaan tetangga (Bone, Wuna, dan Tolaki) ke Baruga Utama. Kedatuan Lembopari juga mengirim utusan sebab sedang memersiapkan Mohombuni (penobatan) Mokole baru.

Lembopari, Keuwia, dan Kabaena, adalah tiga protektorat Kedatuan Bombana lampau. Kedatuan suku Moronene ini dipecah kepada tiga pewaris di masa pemerintahan Nungkulangi (Mokole ke-III Bombana). Dendaengi, Mokole ke-I Bombana, adalah adik Sawerigading, tokoh poros dalam epos La Galigo. Menurut etnolog Dinah Bergink (Belanda), dan Tengku Solichin (Johor), eksistensi suku Moronene dimulai sekitar abad ke-5 dan ke-6 Sebelum Masehi, namun jejak suku bangsa proto Melayu ini ditemukan melalui hubungan monarkisme dengan Kedatuan Luwu (Sulawesi Selatan) dan moyang mereka di Yunan Selatan, Tiongkok.

Demi festival ini, Darman rela mengulur waktu penelitian gelar masternya. Bujukan saya ampuh membuatnya meninggalkan lokasi riset. Tahun lalu ia kecewa karena festival dibatalkan saat sungai Lakambula membanjiri empat desa di poros utama ke lokasi festival.

Di sisi selatan plaza Tangkeno yang luas itu, tampak 10 perempuan bersiap. Di genggaman lima penarinya ada parang nan tajam. Ke-10 perempuan ini akan menarikan Lumense, tarian tradisi perempuan Kabaena. Lima perempuan berparang tajam itu bergerak cepat saling mengitari dengan penari lainnya. Rampak gerak dalam formasi yang kerap berubah cepat sanggup membuat merinding. Menjelang akhir tarian mereka menebas sebatang pohon pisang sebagai simbol kekuatan dan pengorbanan. Intensitas gerakan Lumense sedikit menurun saat parang disarungkan dan 10 penari melakukan Lulo asli. Lulo asli Kabaena punya 21 varian tarian dengan ritme tabuhan gendang yang berbeda. Tetapi, sejarah tari Lumense memang mengerikan.

Tari Lumense dibawakan gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa'combo dan Enu -- photo@IQM

Tari Lumense dibawakan gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa’combo dan Enu — photo@IQM

Menurut Mokole ke-XXIX Kabaena, Muhammad Ilfan Nurdin, SH. M.Hum., Lumense tumbuh dan berkembang sesuai peradaban. Di zaman pra-Islam, Lumense sakral dan hanya ditarikan para yo’bisa (orang yang paham alam gaib dan berilmu kanuragan). Yo’bisa secara spontan menari (vovolia) saat mendengar gendang Lumense ditabuh. Di pulau ini, miano da’Vovalia berumur panjang. Ina Wendaha, Maestro Lumense, mencapai usia 114 tahun.

Lumense adalah penebus diri para pelanggar adat (me’oli). Pelanggaran berdampak pada ketidak-imbangan kosmos, alam, manusia dan menyebabkan bencana. Nah, ini yang menyeramkan!—maka Lumense menjadi media ritual persembahan. Para Bonto menggelar Lumense yang diakhiri pemenggalan (penebasan) leher subyek persembahan, yakni seorang gadis/jejaka. Di era Islam, subyek tarian diganti ternak, hingga Kyai Haji Daud bin Haji Abdullah Al-Kabaeny menggantinya dengan pohon pisang.

Suara musik mengalihkan pandangan semua orang. Kabaena Campo Tangkeno dinyanyikan tujuh biduan dengan iringan alat musik perkusi tradisional, Ore’Ore. Ketujuh penyanyi memegang alat musik bambu monotonik pelengkap irama Ore’Ore. Berikutnya, orkestra musik bambu mengalun di depan Baruga Utama, oleh 30 siswa SDN 1 Tirongkotua yang dipandu konduktor. Itu menarik perhatian para tamu asing. Mereka meminta orkestra itu diulang dua kali.

Agnes menyempatkan diri menjajal nada Ore’Ore. Patrick dan istrinya menyapa para siswa orkestra musik bambu dan membagikan flute pada mereka. Wajah semua orang puas sekali. Gerah mencapai plaza Tangkeno dalam perjalanan ini, terbayar dengan apa yang kami saksikan.

Pukul 12 siang, para pemangku adat mengajak tamu ke bawah Laica Ngkoa (rumah adat) Kabaena. Kami dijamu kuliner tradisional. Suguhan ikan bakar dan kacang merah bersantan membuat Darman tergila-gila—ia tambah dua kali.

Usai jamuan makan, pembukaan festival dilanjutkan tari Lulo-Alu yang eksotik dan ditutup drama-tari kolosal tentang kisah Ratu Indaulu. Mengisahkan fragmen pelayaran Ratu Indaulu dari Tanah Besar menuju Kabaena, menempati Goa Batuburi, hingga istana kerajaan selesai didirikan di Tangkeno. Sendratari berlangsung 12 menit.

Peserta Sail Indonesia 2015 memadati Fort Tuntuntari dan Fort Tawulagi—dua dari lima benteng pertahanan Kabaena—pada sore hari. Dua benteng ini berdiri kokoh menjaga kota raja. Di pagi hari, mereka mengunjungi permukiman, pasar tradisional, dan berbagai obyek wisata; pantai Lanere, pantai Wulu, Air Terjun Ulungkura, Air Terjun Manuru, permandian Tondopano, padang pengembalaan Kuda, kampung laut Suku Bajau, wisata bahari selat Damalawa, konservasi Mangrove Pising, eco-farm, Air Panas Lamonggi, sentra kerajinan batu mulia, snorkling dan diving di kuburan kapal karang Sagori, caving di Goa Batuburi, dan lainnya. Pengelola menjajaki bike-tracking, paralayang dan arung jeram.

Tracking di gunung Sabampolulu (1700 mdpl) dan climbing di gunung Watu Sangia (1200 mdpl) sangat digemari para tamu festival. Gunung Watu Sangia ini pernah dijajal Norman Edwin (alm), enam bulan sebelum pendakiannya di Aconcagua, Argentina.

Pementasan seni malam hari paling ditunggu. Warga dan sekolah se-pulau Kabaena berpartisipasi dalam berbagai lomba selama festival; tari tradisi, permainan, hingga sastra lisan Tumburi’Ou (hikayat/dongeng). Festival tahun depan akan menambah cabang sastra lisan; Kada (epos) dan Mo’ohohi (syair). Itu tiga dari lima sastra lisan Kabaena, selain Ka’Olivi (nasihat/amanah) dan Mo’odulele (syair perkabaran).

Kabaena memang kaya tradisi yang terpelihara. Kedatuan Kabaena lampau punya banyak sejarah dan kisah unik. Selatnya digunakan sebagai rute penting pelayaran rempah Nusantara, hingga dua ekspedisi besar pernah memetakan potensinya; Ekspedisi Sunda, 1911 dan Ekspedisi Celebes, 1929. Ekspedisi yang disebut terakhir itu, dipimpin Prof. H.A. Brouwer dan berhasil memerkenalkan batuan mulia (carnelian) Kabaena ke Eropa. Carnelian serta rekaman petrologi pulau ini dipresentasikan oleh C.G. Egeler di Bandung tahun 1946, dan kini tersimpan rapi di Geological Institute, University of Amsterdam.

Peradaban Kabaena punya sistem penanggalan unik yang disebut Bilangari. Almanak bermatriks lunar dengan 9 varian ini masih digunakan sehari-hari, khususnya menentukan permulaan musim tanam, pelayaran, pernikahan, pendirian rumah, upacara adat, bahkan konon, menghitung waktu kelahiran dan kematian seseorang.

Pulau “kecil” ini juga berkontribusi pada sastra Indonesia. Khrisna Pabicara, novelis Sepatu Dahlan, adalah satu dari beberapa penulis Indonesia yang menghabiskan masa kecil hingga SMA di sini. Bambang Sukmawijaya, cerpenis Anita, juga dari pulau ini. Generasi Kabaena sungguh dibesarkan dalam tradisi sastra yang baik.

Kami tak lagi menunggu penutupan festival, sebab Darman harus kembali ke lokasi risetnya dan saya yang ditunggu banyak tugas. Kabaena, selalu saja memancarkan magisme tradisi yang berkelindan dalam eksotisme alamnya. Suatu keindahan puitik yang memanggil-manggil. (*)

Akses menuju Pulau Kabaena

Akses menuju Pulau Kabaena

Tips:

  • Waktu kunjungan paling baik ke Kabaena antara bulan Mei-Agustus (musim panen/Po’kotua), dan bulan September-Desember (festival tradisi-budaya).

  • Pada bulan-bulan ini laut begitu teduh.

  • Sebaiknya melalui jalur Kendari-Kasipute (via darat + 3 jam) dengan jalan darat yang mulus, dan Kasipute-Kabaena (via laut). Gunakan jet-foil untuk menghemat waktu tempuh (2 jam). Jet-foil beroperasi hanya pada hari Selasa dan Sabtu, berangkat pagi 08:00 dan siang 12:00 WITA. Dari Kabaena-Kasipute, jet-foil melayani pada hari yang sama. Jika kebetulan Anda sedang berada di kota Baubau, ada jet-foil yang melayani jalur ini (Baubau-Kabaena-Kasipute) pada Senin dan Jumat.

  • Jika bingung, mintalah bantuan warga setempat. Setiap orang akan membantu Anda. Jika Anda lebih suka menggunakan jasa ojek, tarifnya murah dan bisa diatur. Penyewaan kendaraan juga ada. Tarif guide tidak dipatok.

  • Anda tak (belum) bisa menemukan hotel/motel/penginapan. Tetapi setiap rumah warga bisa Anda jadikan home-stay. Mereka bahkan tak meminta apapun dari Anda.

  • Untuk hicking, selalu gunakan guide warga lokal, untuk menghindari beberapa wilayah larangan (tak boleh dimasuki). Untuk rock-climbing, sebaiknya persiapkan alat Anda dengan baik. Tingkat kesulitan dan kemiringan tebing batu di Gunung Watu Sangia beragam. Formasi batuannya berupa kars muda.

 

Catatan:

Artikel ini dimuat Koran Tempo Minggu, edisi 27 September 2015.

 

Foto-foto lain:

Undangan makan di bawah rumah adat -- photo@IQM

Undangan makan di bawah rumah adat — photo@IQM

Kerapatan Adat Kedatuan Kabaena -- photo@IQM

Kerapatan Adat Kedatuan Kabaena — photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama -- photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama — photo@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 dijamu kuliner adat -- photo@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 dijamu kuliner adat — photo@IQM

Penari Lumense -- photo@IQM

Penari Lumense — photo@IQM

Gadis-gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa'Combo & Enu -- photo@IQM

Gadis-gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa’Combo & Enu — photo@IQM

Orkestra Musik Tradisional Kabaena (Musik Tiup Bambu) -- photos@IQM

Orkestra Musik Tradisional Kabaena (Musik Tiup Bambu) — photos@IQM

Orkestra Musik Bambu - 03 --@IQM Orkestra Musik Bambu - 02 --@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 berinteraksi dengan siswa pemusik bambu dan membagikan flute -- photos@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 berinteraksi dengan siswa pemusik bambu dan membagikan flute — photos@IQM

Patrick dan Istri berinteraksi dengan siswa Musik Bambu - 01 --@IQM Patrick dan Istri berinteraksi dengan siswa Musik Bambu - 03b --@IQM

Persembahan Ore'Ore (Musik Tradisional Kabaena) -- photo@IQM

Persembahan Ore’Ore (Musik Tradisional Kabaena) — photo@IQM

Salah seorang peserta Sail Indonesia 2015 menjajal nada Ore'Ore  -- photo@IQM

Salah seorang peserta Sail Indonesia 2015 menjajal nada Ore’Ore — photo@IQM

Tari Lulo Alu - 03 --@IQM Tari Lulo Alu - 02 --@IQM Tari Lulo Alu - 02b --@IQM

Persembahan Tari Lulo Alu (Tokotua-Kabaena Traditional Heritage Dance) - -- photo@IQM

Persembahan Tari Lulo Alu (Tokotua-Kabaena Traditional Heritage Dance) – — photo@IQM

Persembahan Sendratari Kolosal tentang Pendaratan Ratu Indaulu --photos@IQM

Persembahan Sendratari Kolosal tentang Pendaratan Ratu Indaulu –photos@IQM

Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 03 --@IQM Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 02 --@IQM Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 01 --@IQM

Partisipasi (olahraga dan seni) para siswa dari berbagai sekolah se-pulau Kabaena dalam Festival Tangkeno 2015 - --photos@IQM

Partisipasi (olahraga dan seni) para siswa dari berbagai sekolah se-pulau Kabaena dalam Festival Tangkeno 2015 – –photos@IQM

Partisipasi siswa dalam Festival Tangkeno 2014 - 01  --@IQM Partisipasi siswa dalam Festival Tangkeno 2014 - 03  --@IQM

Tangkeno Fest 2015

Tangkeno Fest 2015

Festival Tangkeno 2015

Pesisir Selatan Pulau Kabaena Tampak Dari Puncak Gunung Watu Sangia -- photo@Dody

Pesisir Selatan Pulau Kabaena Tampak Dari Puncak Gunung Watu Sangia — photo@Dody

Dataran Tinggi Gunung Sabampolulu -- photo@BahasaKabaena

Dataran Tinggi Gunung Sabampolulu — photo@BahasaKabaena

Plaza Tangkeno -- photo@Ist.

Plaza Tangkeno — photo@Ist.

Padang Pengembalaan Kuda -- photo@Dody

Padang Pengembalaan Kuda — photo@Dody

Olompu (Rumah Kebun) Orang Tokotua-Kabaena --photo@Dody

Olompu (Rumah Kebun) Orang Tokotua-Kabaena –photo@Dody

Goa Watuburi --photo@Hary

Goa Watuburi –photo@Hary

Air Terjun Ulungkura -01 -- @Ist

Air Terjun Ulungkura --photos@Ist

Air Terjun Ulungkura –photos@Ist

Panorama dari atas Gunung Watu Sangia --photo@Dody

Panorama dari atas Gunung Watu Sangia –photo@Dody

Atol Sagori - 01 -- @Ist Atol Sagori - 02 -- @Ist

Atol Karang Sagori --photos@Dody

Atol Karang Sagori –photos@Dody

 


[Short Story] The Boat Thief | Republika | Sunday, May 1, 2011

The Boat Thief

By Ilham Q. Moehiddin

Translated by Suzan ‘Sue’ Piper (Australia)

mencuri-perahu

1/

AMA, am I really the daughter of a fish?”

“Who called you something like that!” Ama Bandi was furious hearing his 15 year old daughter, Ripah’s question. His knuckles stiffened, ready to punch someone at any moment.

“The people in the market let their children make fun of me,” Ripah explained. His face paled when her father, Ama as she called him, filled with rage. Bandi jumped up from his chair, to quickly open the knife sheath and take down the Taa blade from where it hung.

“There’s no point in you paying attention to them. It doesn’t matter to me.” Commented Ripah at her father’s tantrum.

Ripah’s flat tone made Bandi cease his movements, his face surprised, his rage suddenly subdued. “Why, Ripah?” Bandi squatted, placing the Taa blade on the floor, then gazed at his daughter, “I’ll defend you if someone mocks you like that.”

“There’s no need. Your actions will only encourage them. It’ll make me even more embarrassed.” Said Ripah wiping her tears.

Bandi’s face was bowed. He drew a deep breath.

“Ripah… there’s no need for you to listen to people’s nonsense. There’s no such thing as the child of a fish. Humans give birth to humans of course.”

Ama Bandi tried nicely to invite his daughter to talk.

Ripah immediately stood up, glared at her father, then walked in to the kitchen. Bandi got up from his crouch, hung the Taa back on its hook and walked to the window sill. His eyes swept the edge of the Talaga Besar beach where the west wind blew fiercely.

It had already been a week since he had gone to sea. Just like most of the other fisherman. Many of them did not dare to go dawn to the sea during the season of the west wind. Yet, for certain reasons, occasionally some would dare to risk their life at sea. But, Bandi did not want to take such a risk. Ripah was his only child and she was not married yet either. His wife had passed away a long time ago giving birth to Ripah.

2/

When Ripah was still a little baby, Bandi had almost lost his faith hearing all the gossip people tatled about his wife. Who knows what sort of devil had entered the heart and mind of Salamah, his wife, that she did such a reckless thing.

After giving birth, even before the baby’s placenta had emerged, Salamah had suddenly got up from her bed and jumped out of the house, running for the beach. Bandi had no idea how fast she could move. He did not catch up with his wife; it was too late for him to stop her from plunging into the sea. Her body immediately vanished swallowed by the huge waves. This also heppened excatly during the west wind season.

Bandi suspected his wife had gone crazy thingking about their family’s finances. The long west wing season had made both the husband and wife restless. Bandi needed money to pay for Salamah’s giving birth, but instead his wife had stopped him from going to sea.

Going forward was impossible, and unfeasible. They were both truly between a rock and a hard place. That is probably why Salamah did not think it through but killed her self instead in such a crazy manner.

For one full night all the men in the fishing village, including Bandi, went searching for Salamah’s body. The baby was left with the village midwife who had helped Salamah give birth. Until early morning they had not found Salamah’s body. It was not her body they found near the beach but a fish, an ikan duyung, behaving strangely.

It was swimming back and forth near the beach. Occasionally it would push half its body to the water’s surface, then make a sound. The people who were busy looking for Salamah’s body tried to drive it away, but it still would not go. Who knows where the fish had come from.

Bandi had no problem with the fish being there. What concerned him was not that, but the people’s gossip that emerged three days later. None of the male inhabitants had stopped searching for a week, but nor had the mouths of the village women stopped gossiping.

They had began to consider the presence of the ikan duyung as Salamah’s reincarnation. As time passed the gossip grew wilder and Bandi’s name also began to be linked with it. “You can see why their life was difficult. Seems like he married an ikan duyung.” So a woman gossiped.

“They bring bad luck to fisherman, right? They must be chased away if they approach the boats. What do you know Bandi merried one instead?” Snapped another women. Then, they busily occupied themselves gossiping about it.

Then they began to talk about Salamah’s baby who had not even yet been given a name. They began to forbid anyone going to see Salamah’s baby. Don’t want to get bad luck, they said. If they met Bandi nursing his baby in front of the house, they would hurriedly pass by without saying hello. In fact they did not even turn their heads.

It was this that had always worried Bandi. From the beginning, he had always suspected this time would come. Ripah would finally have to face this situation and the old-fashioned attitude of the people around them. Bandi too before had tended to believe in that sort of superstition, but since he had learned to read via the Paket-B program, slowly he had to discard many of those superstition that just did not make senses.

But, Ripah. What hope did a teenage girl of her age have facing the ridicule and gossip of the villagers. What had just happened in the market increased Bandi’s concern.

3/

“Ripah!” Bandi called from the living room.

There was no reply from his daughter’s room. The time for magrib or dusk prayers had just passed. Bandi headed for the kitchen. His stomach needed filling. The fragrant smell of vegetables cooked in coconut milk wafting from the kitchen strongly stirred his tastebuds. But Ripah was not in the kitchen. Ah, perhaps the child was fetching water, filling the tub at the back of the house. Bandi decided to eat first. It if got cold, the coconut milk vegetables would no longer taste delicious.

He had just devoured half a plate, when something alarmed him. His blood run fast. He jumped from his chair, abandoning his food just like that. Without even touching the steps, Bandi jumped down and shouted to his younger brother who as it happened lived right beside his house.

“Bakri…come out! Come out, Bakri…!!”

Bakri appeared sticking his has out of the windows. “What’s up?! Why are you shouting like this at night?”

“Come down! Help me find your niece. Find Ripah! My oars are missing. My boat’s been stolen!” Shouted Bandi in reply.

Bakri’s face grew pale. Paying no attention to his wife, he too jumped down from his house and run after Bandi who had first run towards the beach. Who knows what difficulties his niece was now facing.

Villagers who had also heard Bandi’s shouts came out of their houses. They stopped Bakri asking, “what’s going on with you?”

“Bandi’s oars are missing!” Bakri shouted briefly, running after his older brother.

The men also grew pale. They did not waste time but joined in running after Bakri and Bandi. It was only the men in that villages who sympathised with Bandi’s family. They ignored their wive’s requests not to socialise with Bandi.

Arriving at the beach, Bandi immediately went to where the boats were moored. Bakri together eith two other men gathered dried coconut fronds, weaving them tightly together, folding the ends into two. They made torches, divided them among all the men who came to help.

After being lit, they began to comb the beach calling out Ripah’s name repeteadly. Their voices competed with the volume of the breaking waves. Bandi found Bakri. “My boat’s not at its moorings,” he said anxiously. His face was sweaty and his eyes were wild. “What’s happening?” He asked in a panic.

“Untie some boats and prepare the petromaks. We have to find Ripah this very night!” Bakri ordered. Bandi hurriedly followed his younger brother’s command. He found it difficult to think at this moment. Luckily his brother was calmer than him.

As he ate earlier, Bandi’s heart had almost stopped when he saw his oars no longer hanging from their hooks. When a fisherman does not go to sea, the oars are hung up in their spot. Especially now it was the season of the west wind. At such a season, the boats are moored rather far from the beach edge. Because if the water rises, sometimes boats that are not tethered at their moorings will be swept off to sea. Even when moored, if the water reaches them, the waves can still smash one boat against the other.

When Bandi realised hias oars were no longer in their place, there was no doubt it was Ripah who had taken them. Oars must be one with their boat. If the oars are missing from their hooks, that is a sign that the boat is missing stolen.

Ripah had pushed the boat herself to sea when the waves were at their highest. The teenager did not know what dangers awaited her.

The villagers had already gathered at the beach. They had each brought a lamp so the beach was now bright from their light. Most of the women’s faces held anxiety, seeing their husbands and adult sons side by side helping Bandi and Bakri follow Ripah out to sea.

Waves occasionally beat hard at the beach edge, almost overcoming their attempts to launch the boats. They desperately held onto the boats so they stayed afloat and did not fill with the seawater that slammed into them repeatedly.

They departed in small groups, three boats at a time. Each boat containing two people. Bandi had already preceded them and was now already far at sea. Then another group was launched. Bakri was in the third group. Then the fourth and fifth groups followed. One boat from the fourth group was almost unable to follow after being overturned and struck side-on by a wave.

Fifteen lamps now flickered at sea. The sounds of their calls competed to overcome the fierce roar of the waves. When they arrived at the meeting point, each boat spread out within a radius that slowly grew wider and wider. Their lamps now were like fireflies spreading over the water’s surface.

Bakri had said if they found Ripah’s boat to quickly signal with the lamp seen in the distance. It seemed a boat had just found  something. Hopefully not Ripah’s body or the broken remains of the boat.

On seeing the signal, all the boats slowly moved closer. Bandi whowas closest to the position of the signalling boat, had drawn closer first. The man almost broke out in tears on seeing his daughter safe. Ripah’s boat had almost filled with water and her oars were not there. The first fishermen to find Ripah had tied the girl’s boat to their boat and were scooping out the water.

“Ripah…! What’s the matter with you, Child? Why did you behave like this?!” Shouted Bandi trying to question his daughter over the wave’s roar. Ripah only glanced at her father , the her eyes went back to combing the water’s surface. As if she no longer paid attention to her surroundings.

“That big fish took Ama’s oars,” said Ripah briefly.

“What fish?! Why are you doing this?” Asked Bandi again.

“I want to find Ina. My Ina appeared here, near the boat, then she grabbed Ama’s oars and took them away.”

“What are you talking about now?” Bandi began to lose patience. He shook Ripah’s body to make her aware.

But Ripah was silent again. Her eyes continued to sharply roam trying to penetrate the dark night at sea. Now all the boats had each drawn close. Bakri jumped to the boat where Bandi and Ripah were. His hands clutched his niece.

“Ripah, what are you doing?” He asked , his face soft.

Ripah looked at her uncle’s face. Her tears suddenly fell. Weeping, Ripah still tried to look towards the ocean. “I want to look for Ina. Because the people in the market said, my Ina is an ikan duyung and I am her daughter, bringing bad luck.”

Bakri bowed. And Bandi fell to his seat holding his head. The man cried for the first time. He had never even done that when his wife went missing 15 years earlier.

“Why do you listen to that those people say. I’ve told you countless times, just listen to your Ama. Your Ama knows more about this all than those people.” Bakri tried to coax Ripah.

Ripah shook her head firmly. “No. Those people are right. Ina came to me earlier, swimming beside my boat. She pushed the boat to his place, but she grabbed the oars and took them away.”

“No, Ripah. Your Ina is not a fish. No fish can give birth to humans.”

Ripah suddenly turned away from her uncle. Her face showed she was unhappy with what her uncle had just said. Ripah then moved to the boat’s edge. As she held it her eyes now wildly kept watch over the water’s surface.

Bakri drew a heavy breath. He got up and turned his hand in the air. That was a signal for all the fishermen to return to the beach. This night had already been hard enough for them all. They could just settle Ripah’s problems on land.

The groups of boats slowly broke up and one by one they headed for the beach, Ripah now together with her father in their boat. Her father had borrowed some oars and the boat was tied to the back of Bakri’s.

About 200 metres from the beach, from who knows where it came, an ikan duyung suddenly emerged swimming to the right of Bandi’s boat. Occasionally it would dive and reappear on the other side.

Ripah who had noticed it first, unrestrained, threw herself into the ocean. As if she wanted to follow the ikan duyung.

Bandi, who had been caught off-guard, also jumped into the water. But a wave from behind the boat crashed into his body, rolling him, so that he had to quickly grab the boat’s outrigger to stay afloat. But Ripah’s body could not be seen. Bandi shouted to Bakri, “Ripah’s jumped into the seal,” he exclaimed.

Bandi dived again. Bakri followed jumping from the boat. The two of them, older and younger brother, dived over and over again looking for Ripah’s body. The two people in Bakri’s boat also jumped in trying to help Bandi dan Bakri. For several minutes they searched for Ripah trying to resist the pounding waves, until finally Bakri gave up.

Bakri pulled at Bandi’s body, trying to float on the waves that pushed them boat and the two others towards the beach. Bandi submitted. He let his body be dragged by Bakri towards the beach. On the sand, the man wept.

4/

For the next four days, the people were still carrying out the search for Ripah, But, just like her mother before, Ripah was never found again.

Since that day, Bandi would often spend his afternoon at the water’s edge, sitting on his moored prow. His eyes continously swept the water’s surface, as if trying to find the tracks of his two sweethearts. When his younger brother, or other people asked him to come home, Bandi just replied to them expressionless.

“I’m guarding my boat so the fish don’t steal it,” he replied curtly. (*)

Molenvliet, April 2011.

Note:

Ama: father (in the language of the Moronene People)

Taa: the short machete typical of the Moronene People.

Ikan Duyung: a type of saltwater irawaddy dolphin, in some legends also believed to be a mermaid.

Petromaks: a pressurised-paraffin light.

Ina: mother (in the language of the Moronene People).

Source from Through Darkness to Light: A Bilingual Anthology of Indonesian Writing (10th Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), 11-15 October 2013)

—————

About Suzan Piper (Sue) Piper

Suzan Piper_02

SUZAN PIPER

Award Winning Indonesian Translator

Sydney, New South Wales, Australia

In Indonesia, I worked for 6 years in World Bank funded training projects in the public sector and 4 years as a manager in the education services and marketing sector. I have taught translating and interpreting at the University of Western Sydney and Petersham TAFE. In early 2003 I completed the Judicial Training Program, University of Melbourne, conducted by the Asian Law Group for Australian Legal Resources International, and have since interpreted for various parties of senior visiting Indonesian judges and public prosecutors. I have also convened a oneday seminar at UNSW on interpreters and legal professionals working together and have been twice asked to speak to members of the Sydney Refugee Review Tribunal on professional collaboration with interpreters. I frequently interpret at tribunals, local and district courts up to the federal court level.

I have provided translation and interpreting services for multinational agencies, Australian government, corporate and private clients. Clients include the World Bank (Conflict Resolution – see * below), Australian Federal Police, Legal Aid NSW, NSW Crime Commission, Asian Law Group, Commonwealth Director of Public Prosecutions, Autore Group (pearling), George Lombard Consultancy, the ABC (Four Corners), SBS (Dateline) and commercial TV current affairs programs (including live to air translation of Suharto’s resignation speech and the sentencing of Amrozi, the ‘Bali bomber’.) For over a decade I have taught Indonesian language and cultural studies in the 5 public Sydney universities that offered Indonesian Studies, and at Charles Sturt University, Bathurst, NSW.

My translation work into both languages in the arts is informed by deep engagement in the arts in both countries. My literary/arts translations include various poems by Rendra and the prizewinning collection of short stories by Seno Gumira Ajidarma’s Eyewitness (Imprint Press, 1995, in collaboration with Jan Lingard and Bibi Langker, awarded the SBS Dinny O’Hearn Prize for Literary Translation in the 1997 Victorian Premier’s Literary Awards), and ‘The Test’, Foeza ME Hutabarat, in Menagerie 5, (Lontar Press, Jakarta, 2003). Painting catalogues translated include Crossing Boundaries: A Window to Twentieth Century Indonesian Art; Crescent Moon: Islamic Art & Civilisation in Southeast Asia and Yan Suryana: Crossing the Sea of Colours. I have translated scripts, subtitles and provided voiceovers for feature and documentary films in Australia and Indonesia, including Lucky Miles, Troubled Waters, The Golden Sow and The Mirage (directed by Slamet Rahardjo).

More about Suzan Piper:

http://www.wotcrossculture.com.au/index.html

http://www.proz.com/profile/115536

Catatan:

Suzan Piper kini menetap di Australia, bersama suaminya, Sawung Jabo (seniman dan musisi kondang Indonesia) dan kedua anaknya.


[Kajian] Purnami yang Manis, dan Gugatan Perbenturan Sosio-Kultural dalam Ide Tulisan

(catatan ringan dari diskusi Satellite Event Ubub Writers & Readers Festival 2010 , Cafe Lapiaza, Kamis 10 Februari 2011)

Oleh Ilham Q. Moehiddin

RUANG duabelas kali tujuh meter persegi pada Kamis malam, 10 Februari 2011, itu dipenuhi para sastrais muda Kendari. Beberapa budayawan kawakan Sultra juga hadir. Lima buah kursi menemani meja panjang yang diatur rapi membelakangi backdrop bertulis Satellite Event Ubud Writers & Readers Festival 2010.

Di luar Cafe Lapiaza, petir sesekali menerangi malam yang beranjak, menemani gerimis yang jatuh sejak petang. Tiba tiba hujan lebat berbaur angin, hampir saja menciutkan nyali panitia acara malam itu. Tentu saja, kondisi macam itu, dapat membuat banyak undangan tak bisa hadir. Tapi mereka kembali tersenyum, saat hujan mereda, satu per satu kawan kawan sastrais Kendari berdatangan, memenuhi tempat itu. Sebagian basah oleh gerimis yang menyisa.

Community Development Manager UWRF, Kadek Purnami

Community Development Manager UWRF, Kadek Purnami, dan I Wayan Juniartha serta M. Aan Mansyur telah datang sekitar 10 menit sebelum tengat acara yang dipatok pukul 19.30 waktu Indonesia bagian Timur. Agar lebih menikmati acara malam itu, saya bersama penyair Adhy Rical mengambil tempat duduk agak pojok, dekat kerai bambu, membelakangi jalan Sao Sao yang telah kuyup oleh hujan.

Suasana hangat di Cafe Lapiaza cukup menenangkan semua orang. Apalagi bagi sastrawan Syaifuddin Gani, dari Teater Sendiri yang bertindak sebagai koordinator acara. Kegiatan pendukung sebagai bagian dari promo Ubud Writers & Readers Festival 2010, memang antara lain hendak membedah buku ‘Bhineka Tunggal Ika’ Harmony in Diversity, yang diselaraskan dengan diskusi, pembacaan puisi, pemutaran film pendek UWRF di Bali 2010, yang barusan kelar Oktober lalu.

Sebelum memasuki inti acara, kami semua dihibur dengan pembacaan puisi oleh penyair Irianto Ibrahim, penyair Syaifuddin Gani, penyair M. Aan Mansyur, Sulprina Rahmin Putri, Galih, Sendri Yakti,  Laode Gusman Nasiru dan Frans Patadungan. Suguhan sebuah puisi yang sangat kuat, Perahu Kanak-Kanak karya Irianto Ibrahim, ikut membangun gairah setiap orang yang malam itu tampak “kedinginan”.

Semakin hangat suasana, saat seorang remaja bernama Debora Grace L, melagukan “Mei” puisi Joko Pinurbo, dan sebuah puisi lain milik Hamdy Salad. Suara merdu Debora, demikian ritmik melagukan dua puisi itu. Seandainya saja malam itu, Joko Pinurbo dan Hamdy Salad hadir, saya sangat yakin mereka berdua kelak mau sepanggung dengan Debora ini.

Debora Grace L, melagukan "Mei" puisi Joko Pinurbo, dan sebuah puisi lain milik Hamdy Salad

Lalu acara dimulai. Panitia UWRF langsung menyuguhkan ke mata sastrawan Kendari sebuah film pendek UWRF 2010. Wajah wajah sastrais Indonesia silih berganti dengan beberapa sastrais asing yang menjadi peserta dan tamu UWRF 2010. Kurnia Effendi berkomentar soal kenyaman lokasi acara sejak pertama kali dia datang, lalu silih muncul Sitor Situmorang, Sutardji C. Bachri, bahkan Head Chief of CitiBank Indonesia. Footage saling berlapis cepat, menyuguhkan pada mata beragam acara selingan dalam UWRF. Ramai, menarik, dan prestisius tentunya. Ubud Writers & Readers Festival memang dikemas sangat apik oleh Mudra Swari Saraswati Foundation, yang didukung penuh oleh Hivos, sebuah lembaga nirlaba yang bertujuan memajukan literasi dan perdamaian.

Tercatat di situs resmi UWRF, pada perhelatan 2010 lalu, dari 143 peserta yang diundang, 37 peserta adalah partisipan tuan rumah, Indonesia, sedang sisanya berasal dari berbagai negara (49 diantaranya dari Australia).

Dalam monolognya selepas penayangan film pendek, Kadek Purnami yang manis itu, mengatakan bahwa UWRF berangkat dari gagasan besar mempromosikan kembali Bali seusai dua kali tragedi bom. Mengembalikan Bali sebagai kota perdamaian, kota kultur, bahwa rakyat Bali khususnya, dan Indonesia pada umumnya, tidak akan tunduk dengan aksi negatif pada kemanusiaan macam itu. UWRF juga hendak menegaskan posisi atas gagasan tersebut dalam bentuk literasi perdamaian yang berpokok pada keragaman budaya dalam kesatuan. Itulah mengapa UWRF mengambil tema Bhineka Tunggal Ika pada perhelatan 2010. Tema yang beragam telah menghias tujuh sepuluh kali penyelenggaraan UWRF sebelumnya, sejak 2003 silam.

“Secara keseluruhan, mencerminkan keberagaman daerah serta kantong-kantong kesusasteraan di Indonesia. Juga mencerminkan keragaman genre, aliran, tema, dan kecenderungan kesusasteraan Indonesia, yang mempresentasikan penghormatan Ubud Writers & Readers Festival pada upaya memajukan penulis-penulis muda berkualtas,” jelas Purnami.

Kebangsaan penulis bukan hal terpenting. Karya dan kiprahnya yang berkaitan dengan tema festival yang menjadi pertimbangan utama UWRF. “Pemilihan peserta undangan lebih didasari kriteria yang berkaitan dengan dunia kepenulisan dan perbukuan. Tidak ada di luar hal itu,” tambah I Wayan Juniartha.

Intinya, Purnami hendak menegaskan, bahwa Mudra Swari Saraswati Foundation dan Hivos berkeinginan kegiatan UWRF yang mereka gagas dan laksanakan itu untuk menampilkan para penulis muda berkualitas dari jumlahnya yang banyak itu. Dari beberapa penyelenggaraan, UWRF mendapat pujian dan apresiasi yang sangat baik, tidak saja dari kalangan penulis muda, tetapi juga dari para penulis kawakan yang sengaja diundang pada UWRF.

Penjelasan yang konprehensif dan detil itu, ditambah wajah manis Purnami, agaknya membuat semua yang hadir segera faham seperti apa dan bagaimana gagasan besar UWRF itu. “Penjelasannya oke…yang ngejelasinnya juga manis,” celetuk seorang sasrais tepat di samping saya. Saya hanya tersenyum dengan celetuk itu. Tapi, paras Purnami memang manis malam itu, yang berhias dengan dandanan batik berpunggung belah rendah, dipadankan legging hitam dan sepatu merah datar.

Yang menarik pada acara malam itu, saat buku ‘Bhineka Tunggal Ika’ Harmony in Diversity, ikut dibedah oleh peserta bersama pihak UWRF. Prosa Batubujang karya Benny Arnas antara lain menjadi topik pembicaraan, bersama karya lain; prosa Barong karya Sunaryono Basuki Ks, prosa La Runduma karya Waode Wulan Ratna.

Ikut disikusikan juga beberapa puisi, macam; Gerombolan Sepeda karya Andha S., Lukisan yang Hendak Diselesaikan karya Arif Rizki, dan Pesta Makan Laba-Laba karya Wendoko. Saya sendiri ikut mengulas prosa Batubujang (B. Arnas) dan puisi Suluk Bunga Padi (A. Muttaqin).

Prosa Batubujang karya B. Arnas, disepakati oleh para peserta malam itu sebagai prosa yang kuat. Pilihan kata yang digunakan Benny Arnas tidak menjadi soal, namun beberapa peserta memang tertarik pada muatan sosio-kultural yang disuguhkan Benny dalam prosanya itu. Bahwa Benny dikatakan hendak mengajukan dua soal kekinian yang memang sangat akrab disekeliling orang kampung, yakni perbenturan tradisi lokal dan tradisi modern. Benny hendak menunjukkan pada pembacanya, bahwa perbenturan macam itu memang sukar dihindari namun bukan berarti tidak bisa ditemukan titik tengahnya. Menurut Syaifuddin Gani, ide Benny cenderung orisinil dan mengakhiri perdebatan pada dua mainstream tradisi ini dengan tak satupun pihak yang dimenangkan. Karakter pak Mur akhirnya mati tertimpa batubujang yang dibela-belanya, sedang Mang Jali harus kembali ke Lubuk Senalang, membengkalai pekerjaan, sebab investor pun menarik diri dari proyek itu.

Barangkali memang demikian maksud yang hendak dibenam Benny dalam Bajubajang-nya, yang kemudian ditangkap oleh kawan kawan malam itu. Tetapi bagi saya pribadi, yang ikut memberikan apresiasi pada putaran ketiga, Benny memang ikut mengetengahkan realitas perbenturan tersebut. Tapi itu hanya cara Benny saja untuk mengantar protesnya pada kerja kerja kebanyakan LSM lingkungan yang kerap tak bertanggungjawab. Itu dikemas rapi oleh Benny, bahkan sejak dari paragraf ke empat dari 58 paragraf panjang prosanya.

Anas juga tak habis pikir, bagaimana penduduk bisa lebih mendengarkan ajakan pemerintah kota. Orang-orang berseragam coklat itu selalu berseru panjang lebar perihal penggunaan batamerah, untuk menyemen parit dan membuat jalan-jalan kecil—mereka menyebutnya “trotoar”—di pinggir jalan raya yang baru mulai dibangun beberapa minggu yang lalu. Mengapa pula penduduk patuh pada orang-orang LSM yang katanya peduli lingkungan tapi tak sedikitpun peduli pada kehidupan orang lain. Para ‘pecinta alam’ itu selalu berkoar-mengajak orang-orang kampung agar tidak menggunakan batubujang bila hendak menyemen parit, memperkuat dinding-dinding beton rumah tua, atau bentuk pekerjaan lain, yang memungkinkan batubujang dipilih sebagai bahan bakunya. (Paragraf ke-4, Batubajang, Benny Arnas).

Cukup telak, Benny, mengemukakan pendapatnya yang dia bungkus rapi pada Batubajang-nya itu. Dalam kenyataannya memang benarlah apa kata Benny. Kebanyakan LSM yang mambangun site di tengah masyarakat, sekadar menjalankan proyek pemerintah atau proyek yang didonori asing belaka. Setelah usai pekerjaan mereka itu, merekapun pergi. Meninggalkan masyarakat yang masih saja hidup kekurangan. Bukankah persoalan lingkungan hidup adalah persoalan kemasyarakatan juga. Justru di masyarakat itulah intinya. Jika masyarakat tak terbangun (ekonomi dan sosial), mana mungkin lingkungan akan ikut terjaga. Ketimbang membuang uang untuk membeli minyak tanah, misalnya, masyarakat yang berekonomi lemah akan lebih memilih masuk hutan untuk mencari kayu bakar. Menangkapi hewan langka untuk dijual dengan harga mahal. Untuk realitas macam ini, Benny telah tepat mengetengahkannya.

Buku 'Bhineka Tunggal Ika’ Harmony in Diversity (UWRF 2010)

Beberapa mahasiswa penggiat sastra juga berusaha menelaah isi buku Bhinaka Tunggal Ika kaitannya dengan beberapa karya yang ada didalamnya. Bahwa buku tersebut tidak sedemikian dapat langsung mempesonakan keberagaman (diversity) dalam konteks adat-budaya. “Serangan” dimulai dari La Runduma karya Waode Wulan Ratna, yang mengugat perlawanan batin dan laku seorang perempuan muda dalam adat pingitan (posuo—adat Buton) di kampungnya. Penentangan si perempuan muda berpuncak pada laku terlarangnya dengan lelaki pilihannya dalam kamar (tempat di mana adat Posuo itu difokuskan) di hari akhir prosesi adat tersebut.

Kritik keras perihal ide prosa ini datang dari budayawan dan seniman Laode Djagur Bolu. Menurut Djagur, sebatas literasi yang berangkat dari ide kreatif penulisnya, maka La Runduma sepenuhnya bisa diterima, tetapi jika telah mengugat dasar tradisi suatu komunitas adat-budaya maka akan lancung menajamkan friksi. Literasi sebagai salah satu produk budaya-manusia, menurut Djagur akan berpotensi mengkooptasi pandangan penikmat literasi usia muda yang mengkonsumsi literasi tersebut. Diperparah, jika para remaja penikmat literasi kurang bisa mencari literasi pembandingnya, sehingga literasi awal yang mereka baca seketika membentuk presepsi tunggal. Kecemasan budayawan Djagur itu memang beralasan, sehingga I Wayan Juniartha menanggapinya dengan santun. Lelaki tampan bertubuh subur itu, menegaskan pihaknya akan ikut memperhatikan aspek tersebut. Namun, Juniartha juga menyarankan agar sebuah karya literasi semestinya “dilawan” dengan literasi juga.

Masih terkait dengan itu, seorang penikmat sastra lainnya, Irfan Ido, juga ikut menyuarakan pendapatnya sehubungan prosa Madakaripura, yang dinukil dari novel Niskala, karya Hermawan Aksan. Pada prosa, atau novel itu, menurut Irfan, telah terjadi pendobrakan sejarah perihal figur Gajahmada, yang oleh penulisnya digambarkan sebagai penindas dan penakluk. Novel Niskala sendiri memang diangkat dari kisah kuno Perang Bubat perihal perang antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Majapahit (Jawa). Peristiwa ini melibatkan Mahapatih Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat pada abad ke-14, sekitar tahun 1360 Masehi.

Menurut Irfan, pendobrakan sejarah yang dilakukan Hermawan sudah pasti berlandaskan ide tertentu, tetapi seketika akan menampilkan wajah  lain dari Gajahmada yang selama ini dikenal umum sebagai tokoh pemersatu. Kendati membawa cara pandang baru, semestinya, kata Irfan, Hermawan juga mempertimbangkan perasaan sosio-historycal masyarakat Jawa dan Sunda.

M. Aan Mansyur menjawab kecemasan Ifran, bahwa novel Niskala, yang dipetik ke bentuk prosa Madakaripura dalam buku itu, hanyalah bentuk keberagaman atas ide kepenulisan. Hermawan rupanya, hendak menampilkan sosok lain dari Gajahmada yang selama ini luput dikenal umum.

Secara garis besar, saya sepakat dengan Aan Mansyur. Menurut saya, orang harus diberikan alternatif perspektif perihal sosok Gajahmada ini. Gajahmada memang benar kerap tampil dalam pembacaan sebagai sosok pemersatu Majapahit (Mataram), tetapi bukankah langkah pemersatuannya itu dilakukan lewat jalan penaklukan? Artinya, Gajahmada harus dilihat dalam perspektif yang imparsial, yakni Gajahmada sebagai permersatu sekaligus sebagai penakluk. Dua karakter tugas yang dilakukannya dalam waktu bersamaan.

Tidak beberapa karya di atas saja yang dinilai memuat ide perbenturan sosio-kultural, sosio-knowledge, dan sosio-history. Pada putaran ketiga, saya pun sempat mengapresiasi puisi Suluk Bunga Padi karya A. Muttaqin, yang sempat dinilai pada sesi pertama sebagai karya sosio-kultural. Barangkali berbeda cara pandang, saya justru menenggarai bahwa ide dasar A. Muttaqin dalam Suluk Bunga Padi, adalah hendak menggugah kegamangan sosio-attitude masyarakat sekarang yang dicitrakannya melalui padi.

A. Muttaqin, barangkali, mencoba bersabar pada sikap ketidak-pedulian masyarakat lokal dan peran pemerintah yang sama sekali kosong, terhadap isu investasi yang sedang marak. Terlihat jelas, entitas masyarakat desa yang diwakili oleh kalimat “Setenang perahu Fansuri”.

Hamzah Fansuri adalah penyair sufi Melayu Klasik (Angkatan Pujangga Lama) yang sangat terkenal dengan syair-syair keagamaannya, semisal pada Syair Perahu-nya yang begitu teduh dan tenang.

Sesuatu yang hendak dipotret A. Muttaqin, sejauh pengamatan saya, mirip dengan kegundahan selepas “tragedi” Kedungombo. Saat rumah rebah, dan ladang menjadi danau.

Tak pelak memang, semua karya yang termuat dalam buku ‘Bhineka Tunggal Ika’ Harmoni in Diversity, ini adalah karya terpilih dan hebat. Apresiasi bagus wajarlah bila diberikan pada panitia UWRF dan tim kurator yang telah berpayah-payah menseleksi dan menempatkan kedudukan karya sesuai kualitasnya. Buku ini sendiri, sebagai sebuah bunga rampai, patut mendapat penghargaan.

Baik Kadek Purnami, Ni Wayan Juniartha, M. Aan Masyur, dan Syaifuddin Gani yang hadir malam itu “mengkuliahi” para sasrais Kendari perihal UWRF, patut mendapat pujian. Dengan lancar mereka mampu menjawab semua gugatan, telaah, diskursus yang berkembang dalam diskusi yang dipandu penyair Adhy Rical itu.

Namun, sayang sekali, keempat panelis itu tidak satupun yang menjawab kecemasan saya, yang pada sesi ketiga diamini semua peserta. Kecemasan saya soal ancaman terhadap perkembangan literasi nasional Indonesia, dihadapan panel Pasar Bebas. Panel Pasar Bebas, mau tidak mau, harus dilihat sebagai salah satu instrumen ancaman terhadap perkembangan literasi nasional. Dunia kepengarangan, termasuk sastrawan dan penulis pada umumnya, serta dunia perbukuan, akan diterjang oleh entitas literasi asing dalam mainstream selera pasar.

Gejalanya bukan tidak tampak. Lihat saja, ketika harian Kompas menurunkan laporan soal “Suram dan Lesunya Penerbitan Buku” (Senin, 31 Januari 2011). Laporan itu dengan rinci menyebut salah satu persoalan yang menghadang adalah langka dan mahalnya bahan baku, yang secara umum diambil dari kayu (wood-paper). Pembalakan resmi yang mengkatrol kuota kayu tebang labih dari 55% teralokasi ke ekspor, adalah pemicu utama kelangkaan. Lalu investasi asing di sektor furniture ikut menggerus bahan baku sebanyak 15% dan sisanya masih harus dibagi pada pengusaha pulp & paper nasional dan asing. Mahalnya bahan baku akan ikut mengkerek tingginya harga cetak buku, lalu berimbas pada tingginya nilai cetak oleh penerbit dan pengarang, serta berakhir pada tingginya harga buku yang harus dibayar oleh konsumen.

Serbuan literasi asing juga mencemaskan. Lusinan penerbit lebih suka membeli hak cetak sejumlah karya novel asing, kemudian diterjemahkan, ikut membanjiri pasar buku nasional. Jika tidak begitu, maka penetrasi penerbit asing dapat dilakukan dengan bagi modal kepemilikan (penyertaan modal), atau pure-investment publishing (non penyertaan modal).

Anak-anak kita sekarang cenderung mengikuti trend, dan lebih memilih membaca novel-novel; Saptaquel Harry Potter, atau Cronicles of Narnia, padahal ada The Cronicles of Willy Flarkies karya Satrio Wibowo. Bahkan orang muda lebih suka membaca novel-novel; The Doomsday Key 2012-nya James Rollins, You Suck (The Vampir Diaries) karya Christopher Moore, atau Escape Over The Himalayas karya Maria Blumencron, ketimbang membaca Giganto (Primata Purba Raksasa di Jantung Borneo) karya Koen Setyawan, atau Dwilogi Prabu Siliwangi-nya E. Rokajat Asura.

Perkembangan literasi asing lewat transliterasi akan ikut mempengaruhi perkembangan tema lokal, dan paling mencemaskan adalah perpindahan literasi lokal/kuno/langka secara sistematis lewat metode transliterasi bahasa Indonesia ke bahasa asing. Kejadian serupa yang menandai pengklaiman literasi kuno epos La Galigo, dan banyak literasi kuno Bali dan Jawa, serta bentuk bentuk literasi langka di daerah lainnya.

Sebagaimana imperialisme kuno yang masuk lewat jalur trading, perpindahan kekayaan literasi asli Indonesia dahulu sukar dicegah. Eropa terbukti menyimpan ratusan ribu manuskrip dan perkamen (bahkan lontara) sastra tradisional nusantara, baik dalam bentuk asli maupun hasil terjemahannya saja. Pola trading gaya baru (pasar bebas) akan membawa dampak yang tak jauh berbeda, dan makin memperkeras bentuk ancamannya.

Kendatipun demikian, saya sangat berharap kegiatan UWRF ini terus ada dan berkembang. Bagi saya, kegiatan lain seperti UWRF, ini pun jika bisa juga lahir, sehingga makin menegaskan bentuk kehendak kita pada kebangunan dan kecemerlangan kembali literasi Indonesia yang sempat pernah mendunia.

Selebihnya, acara Satellite Event Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), yang diselenggarakan Yayasan Mudra Swari Saraswati yang diwakili Kadek Purnami dan I Wayan Juniartha, difasilitasi oleh Teater Sendiri (Syaifuddin Gani), serta disponsori Hivos, berlangsung dengan sangat baik. Elegan dan tuntas.

Malam kian larut saat acara itu pungkas, tepat pukul 24.00 waktu Indonesia bagian Timur. Kadek Purnami dan I Wayan Juniartha masih akan ke Ternate besok paginya untuk promo UWRF yang sama. “Sampai bertemu di Ubud,” seru keduanya berpamitan, sebelum masuk ke dalam mobil menuju hotel.

Mari menegakkan kembali kebangunan tradisi literasi Indonesia asli. Sekian. ***

Kendari, 11 Februari 2011

Penyair Irianto Ibrahim, membacakan 'Perahu Kanak-Kanak' yang dicuplik dari bukunya "Buton, Ibu dan Sekantong Luka".

M. Aan Mansyur, salah satu kurator UWRF, juga membacakan salah satu sajak pada sesi pembukaan.

Sulprina Rahmin Putri, juga tak ketinggalan menghibur undangan dalam pembacaan puisi.

Frans Patadungan, membaca puisi pada pembukaan.

Sastrawan Syaifuddin Gani, ikut mempersembahkan sebuah puisi di pembukaan.

Panelis: Syaifuddin Gani, M. Aan Mansyur, Kadek Purnami, I Wayan Juniartha. Adhy Rical (Moderator)

Undangan menyimak Frans Patadungan membaca puisi pada pembukaan acara.

Arham Kendari (Karikaturis & Penulis), Laode Djagur Bolu (Budayawan & Seniman), Sidin Lahoga (Sastrais), Irfan Ido (Sastrais). Cermat menyimak diskusi.

Ahid Hidayat (Dosen & Sastrawan), Sendri Yekti, dan undangan diskusi lainnya.

Ilham Q. Moehiddin, mojok bersama sastrais Iwan A'rab di meja bernomor 12.

Para undangan (mahasiswa dan penggiat sastra) mengikuti diskusi dengan antusias.

Syaifuddin Gani, Kadek Purnami, I Wayan Juniartha, Adhy Rical, dan M. Aan Mansyur. Berpose bersama seusai acara.


%d blogger menyukai ini: