Tag Archives: damono

[Telisik Literasi] Siklus Dodolitmuk

Catatan: telisik literasi ini adalah kritik sastra yang saya ikutkan dalam Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013. Walau belum menang, paling tidak telisik literasi ini semoga bisa menjawab pertanyaan seputar gagasan “orang berjalan di atas air”, bagaimana gagasan tersebut terus didaur ulang, dituliskan kembali (hingga remuk), dan seperti apa Seno Gumira Adjidarma mengolok-olok para re-writers itu. Demikian.

Siklus Dodolitmuk

(Pulang Bersama Seno dari Rumah Tolstoy)

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

PERDEBATAN tentang gagasan Orang Berjalan di Atas Air di tanah sastra Indonesia, bermula saat melayangnya tudingan plagiasi untuk cerita pendek Dodolitdodolitdodolibret (selanjutnya ditulis Dodolibret) karya Seno Gumira Ajidarma (selanjutnya ditulis Seno). Cerpen itu didaulat sebagai Cerita Pendek Terbaik Kompas 2011, di Bentara Budaya Jakarta pada 27 Juni 2011.

Saya akan mengkritisi gagasan itu, dan menelisik secara dalam dari mana gagasan ini bermula dan sebesar apa dampaknya bagi diskursif sastra Indonesia. Saya berangkat dari buku Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada, (Penerbit Serambi Ilmu Semesta, 2011).

Buku itu memuat lima karya Leo Tolstoy (selanjutnya ditulis Tolstoy) yang dianggap paling monumental, yakni Di Mana Ada Cinta, di Sana Tuhan Ada; Tuhan Tahu, Tapi Menunggu; Tiga Pertapa; Majikan dan Pelayan; dan Dua Lelaki Tua.

Martin Avdeich adalah karakter utama pada Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada, cerpen pembuka di buku ini. Ia pengrajin sepatu yang ditinggal mati istri dan anak-anaknya. Kehilangan beruntun membuat Martin putus asa dan ia meninggalkan Tuhan. Seorang biarawan menganjurkannya untuk tetap berada di jalan Tuhan. Martin berubah. Ia mulai rajin membaca Kitab Suci dan menjadi pria yang menyenangkan. Suatu malam di mimpinya, Martin mendengar Tuhan berbicara dan berjanji akan bertamu ke rumahnya. Esoknya, Martin menanti kedatangan Tuhan. Tapi bukan Tuhan yang ia lihat, melainkan seorang lelaki tua kedinginan, seorang perempuan dan anaknya, dan seorang perempuan tua penjual apel. Tuhan yang ia nantikan tidak datang? Tapi datang dalam bentuk pemahaman bahwa di mana ada cinta, di situ Tuhan hadir.

Tuhan Tahu, Tapi Menunggu adalah cerpen kedua di buku ini. Tentang Aksionov, seorang saudagar muda yang difitnah membunuh temannya. Ia didera 26 tahun hukuman kerja paksa di Siberia atas kejahatan yang tidak ia lakukan. Di sana ia bertemu pelaku pembunuhan yang sebenarnya, dan ia dihadapkan pada pilihan: mengampuni orang itu atau tidak.

Pelayaran seorang Uskup ke sebuah biara yang jauh, membuka cerpen Tiga Pertapa. Pada cerpen ketiga ini, sang Uskup mendengar kabar tentang tiga orang tua yang tinggal di sebuah pulau tak bernama di jalur pelayarannya. Sang Uskup pun singgah ke pulau itu dengan niat hendak mengajarkan pemahaman Kitab Suci dan cara berdoa yang baik kepada tiga lelaki tua itu. Namun sang Uskup justru dibuat terkejut di akhir cerita.

Sejatinya, kisah keempat pada buku ini bukanlah cerpen. Cerita yang diterjemahkan Atta Verin menjadi Majikan dan Pelayan ini berjudul asli Master and Man yang ditulis Tolstoy pada tahun 1895, berbentuk novelet dalam 10 bagian. Ceritanya tentang Vasili, seorang pedagang yang melakukan perjalanan ditemani Nikita, pelayannya, di suatu malam pada musim dingin yang buruk. Sebuah perjalanan yang membuat Vasili harus melepaskan keegoisannya dan belajar pada kesetiaan Nikita yang tetap menemaninya dalam perjalanan berbahaya itu. Hanya seorang saja yang bertahan hidup. Seseorang dari mereka rela mati agar seorang lainnya tetap hidup.

Dua Lelaki Tua adalah kisah terakhir di dalam buku ini. Berjudul asli Two Old Men yang ditulis Tolstoy pada tahun 1885, 10 tahun lebih awal dari Master and Man. Juga berbentuk novelet dalam 12 bagian. Mengisahkan dua sahabat lelaki tua, Efim dan Elisha, yang melakukan perjalanan suci ke kota Yerusalem. Saat mereka melewati suatu daerah, Elisha yang kehausan berniat singgah untuk sedikit air. Tapi daerah itu sedang dilanda wabah penyakit. Tergerak ingin membantu, Elisha berniat tinggal sebentar dan berjanji menyusul Efim. Kecamuk di batin Elisha. Ia bertanya pada dirinya: Apa guna menyebrang lautan mencari Tuhan, bila itu membuat kebenaran dalam dirinya hilang. Itulah yang membuat Elisha harus tinggal lama di tempat itu dan ia tak bisa menyusul Efim. Ia langsung pulang ke rumahnya. Efim yang tiba di Yerusalem langsung beribadah, dan menyangka telah melihat Elisha juga ada di sana, sedang beribadah seperti dirinya. Saat Efim pulang, tahulah ia bahwa Elisha tidak pernah sampai ke Yerusalem. Elisha telah beribadah pada Tuhan, dengan caranya sendiri: menolong sesama manusia.

Tentu kisah-kisah yang terhimpun dalam buku ini, menonjolkan watak kepengarangan Tolstoy, sastrawan besar Rusia. Gagasan-gagasan sufistik, bercorak realis, penuh moralitas dan filsafat, serta menggugah kesadaran pembaca akan kedirian sebagai manusia. Gagasan-gagasan yang kontroversial dan tidak lazim untuk masanya, seringkali membuat ia dianggap sebagai anarkis oleh kaum Puritan.

Leo Tolstoy lahir dengan nama Lev Nikolayevich Tolstoy pada 9 September 1828 di Yasnaya Polyana, provinsi Tula, Rusia. Ia berdarah ningrat dan anak keempat dari pasangan Count Nikolai Ilyich Tolstoy dan Countess Mariya Tolstaya (Volkonskaya), namun menjadi yatim piatu di usia sangat muda. Tolstoy belajar ilmu hukum dan bahasa di Kazan University pada tahun 1844, namun tidak selesai. Ia kemudian kembali ke Yasnaya Polyana, dan banyak menghabiskan waktu di Moskow dan St. Petersburg. Pengaruhnya sangat luas dalam peta sastra dunia. Ia pemikir sosial-moralis terkemuka di jamannya—mungkin juga hingga kini.

Saya akan mengkritisi satu cerita di buku ini, hubungannya dengan tuduhan pada Seno. Saya akan menelisik sedalm-dalamnya dari mana gagasan dalam cerita itu datang dan sejauh mana gagasan itu dituliskan kembali, berulang-ulang, dalam berbagai bentuk, serta dampaknya pada ranah kepengarangan Indonesia. Namun, sebelum kita melangkah lebih jauh, saya akan mendorong sebuah premis utama, bahwa semua penulis yang telah menulis ulang gagasan Orang Berjalan di Atas Air patut berada di luar kotak gagasan yang dimaksud.

Pada buku Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada, pada kisah Tiga Pertapa, itulah gagasan Orang Berjalan di Atas Air berdiam. Selama ini, setiap kali Tiga Pertapa (Three Hermits) disebutkan, maka ingatan orang langsung lekat pada nama Tolstoy. Kecuali kisahnya, maka gagasan dalam cerita itu tidak lahir dari pemikiran Tolstoy.

Banyak kalangan yang tidak mengetahui bahwa gagasan Orang Berjalan di Atas Air telah ditulis kembali dalam cerita Tri Otshel’nika karya Tolstoy beraksara Rusia pada 1886. Cerita ini diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul Three Hermits dan dipublikasikan tahun 1906 oleh Oxford University Press Inc., New York, sebagai Oxford World’s Classics. Leo Tolstoy. The Raid and Other Stories.

Anda barangkali terkesima jika saya katakan bahwa gagasan dan cerita ini pertama kali dituliskan kembali oleh seorang Syekh al-Kabir, sufi dan penguasa bernama Nawab al-Hasyimi, asal Sardana dekat Delhi di India, dengan judul Pani Para Calane Loga, dalam aksara Hindi, antara abad ke-11 dan ke-12.

Ini fakta yang menarik. Gagasan Orang Berjalan di Atas Air dalam Pani Para Calane Loga yang ditulis Nawab al-Hasyimi, telah ditulis kembali oleh Tolstoy. Keduanya dapat dikatakan saling memengaruhi. Secara sederhana, dapat dikatakan secara partisional, baik Nawab maupun Tolstoy, keduanya telah menuliskan kisah lisan itu ke bentuk tertulis.

Dari mana fakta ini? Saya hendak mengajak Anda kembali ke abad-11 dan abad ke-17, menyimak bagaimana gagasan dan kisah Orang Berjalan di Atas Air, telah berakhir di ujung pena Nawab dan Tolstoy.

GAGASAN dan kisah Orang Berjalan di Atas Air berasal dari kisah-kisah sufisme pada Legenda-Sejarah dan biasa diceritakan secara lisan oleh para pengelana/musafir Muslim. Kisah-kisah ini menggelintar jauh hingga ke padang rumput di wilayah Hindu-Kush di India, dan Volga-Ural di Eurasia.

Distrik Volga—yang disebut Tolstoy dalam cerpen Tri Otshel’nika itu—adalah Volga-Ural di abad ke-17, di masa pemerintahan Tsarina Yekaterina II Velikaya. Setelah penaklukan, wilayah itu dijadikan Privolzhsky Federalny Okrug Volga (Volga District Rusian Federation) yang merupakan satu dari tujuh distrik federal di Rusia. Wilayah Volga seluas 1.038.000 Km per segi dan terletak di selatan Rusia itu, berpenduduk lebih dari 31 juta jiwa. Distrik Volga kini punya 14 sub-divisi wilayah: Bashkortostan, Chuvashia, Kirov Oblast, Mari El, Mordovia, Nizhny Novgorod Oblast, Orenburg Oblast, Penza Oblast, Perm Krai, Samara Oblast, Saratov Oblast, Tatarstan, Udmurtia, Ulyanovsk Oblast. Distrik Federasi setingkat provinsi di Indonesia, dan sub-divisi setingkat kabupaten.

Mengenai takrif “legenda tua yang masih sering diceritakan di wilayah distrik Volga” di awal cerita Tri Otshel’nika, memang berkaitan kisah lisan para sufi di wilayah Volga-Ural yang ia tuliskan kembali.

Kisah-kisah sufi dalam Legenda-Sejarah itu berhubungan dengan Iskandar Dhul-Qarnayn (Alexander Agung) dan Socrates, serta hubungan kedua tokoh ini dengan kota-kota lokal dan tokoh-tokoh sejarah lainnya, yang disebut oleh penduduk setempat sebagai Siklus Legenda.

Siklus Legenda ini tetap diperiksa secara keseluruhan, sehingga tetap jadi contoh yang sangat berguna dari interaksi di kawasan Volga-Ural antara Historiografi Islam dan Legenda-Sejarah, serta hubungannya dalam penaklukan oleh Kekaisaran Rusia.

Legenda-Sejarah sering dikisahkan sejak abad ke-11 oleh musafir Arab dan Persia, tetapi tampaknya telah muncul kembali di wilayah Bulgharist (Bukhara) yang menjadi pusat budaya Islam di Eropa yang berkembang di pergantian abad ke-18 dan ke-19. Perkembangan ini tak lepas dari hubungan baik antara Tsarina Rusia, Yekaterina (Catherine) II Alekseyevna of Russia (Yekaterina II Velikaya, 1729-1796) dan Majelis Spiritual Muslim Orenburg, pada tahun 1788.

Penaklukan Rusia atas kawasan Volga-Ural, yang dimulai pada 1552, bersamaan dengan penaklukan Khanat Kazan yang berakhir pada tahun 1730 dan penaklukan terakhir di Bashkirs, telah memengaruhi perkembangan Historiografi Islam di sana. Di mana pengganti sumber-sumber tertulis dan lisan dalam tradisi Legenda-Sejarah, Historiografi Islam dicatat kembali lalu dimasukkan ke dalam karya-karya sejarah sastra bangsa Rusia.

Akibatnya, karya-karya sastra penting dalam Historiografi Islam di kawasan Volga-Ural telah diproduksi kembali pada abad ke-17. Jami ‘al-Tawarikh karya Qadir’ Ali Bek Jalayiri, telah digubah oleh Kasimov pada tahun 1602. Sedang Daftar Nama Jengis oleh penulis anonim, telah disusun kembali pada akhir abad ke-17, yang berisi berbagai cerita dari Legenda-Sejarah pengembara padang rumput, terutama dari wilayah Bashkirs. Kisah-kisah lisan sufisme itu ditulis dan disusun kembali.

Di abad ke-17 itulah, pada tahun 1886, Tolstoy menuliskan kembali gagasan dan kisah Orang Berjalan di Atas Air, yang bahkan penulisan kembali itu tidak bertindak sebagai insinuasi dari Legenda-Sejarah masyarakat Volga-Ural yang melatar belakanginya.

Asal kisah itu sendiri secara valid dapat ditemukan pada buku Daravesa ki Katha, yang ditulis kembali oleh Sayyid Idries Shah al-Hasyimi, alias Idries Shah. Dia juga seorang sufi, Syekh al-Kabir, dan putera sulung Zada Sayyid al Hasyimi.

Idries Shah lahir di Simla-Himalaya, berlatar belakang ajaran sufisme dan keluarganya yang berkuasa di Kerajaan Pagham di Hindu-Kush, di mana nenek moyangnya, Nawab al-Hasyimi memerintah di sana sejak 1221 (abad ke-11). Fakta ini menjelaskan kompetensi Idries Shah dalam menyerap berbagai informasi untuk kisah-kisah tertulis dan kisah lisan mistik-tasawuf lainnya yang ia tulis kembali. Selain Daravesa ki Katha, Idries juga menulis sejumlah buku mistik-tasawuf yang telah diterjemahkan dalam The Sufis (Mahkota Sufi) dan The Way of the Sufi (Jalan Sufi), sejumlah kumpulan cerita sufi, serta 42 karya lainnya.

Buku Daravesa ki Katha, yang banyak mereduksi kisah-kisah sufistik dari Plato Persia, telah diterjemahkan ke dalam Tales of The Dervishes, yang berisi 82 kisah sufi, dan kisah Orang Berjalan di Atas Air adalah kisah ke-31 dalam kitab itu. Sebagaimana yang tertera pada buku tersebut, Idries menuliskan: “Tales of The Dervishesteaching stories of the Sufi. Masters Over the past thousand year, selected from the sufi classics, from oral tradition, from unpublished manuscripts and schools of sufi teaching in many countries.

Keterangan itu mengonfirmasi asal-usul kisah, bahwa semua gagasan cerita dalam bukunya, berasal dari kisah pengajaran sufistik. “Bahan utama pengajaran sufi selama seribu tahun terakhir yang dipilih, bersumber dari kisah-kisah klasik sufi, dari tradisi lisan, dari naskah yang tidak diterbitkan, dan dari sekolah pengajaran sufi di seluruh negeri.”

Konfirmasi positif lain perihal latar belakang keluarga Idries Shah yang memerintah di Pagham Hindu-Kush pada abad ke-11 ikut menguatkan premis bahwa ia bersinggungan langsung dengan tradisi Historiografi Islam (lisan/tulisan) sebagai sumber ajaran sufisme di wilayah-wilayah Ural-Himalaya. Keluarganya terlibat membantu proses penulisan kembali Legenda-Sejarah itu untuk buku-bukunya.

Idries kerap menuliskan takrif di bagian akhir setiap kisah yang ia tuliskan. Pada kisah Orang Berjalan di Atas Air, dalam buku Tales of The Dervishes, Idries menulis:  “Dalam bahasa Inggris hanya satu arti yang bisa kita tangkap dari kisah ini. Versi Arab sering menggunakan kata-kata yang bunyinya sama tetapi artinya berbeda (homonim) untuk menandakan bahwa kata itu dimaksudkan untuk memperdalam kesadaran, dan juga untuk menunjukkan suatu moral yang dangkal nilainya. Selain terdapat dalam sastra populer masa kini di Timur, kisah ini ditemukan dalam naskah-naskah ajaran darwis, beberapa di antaranya merupakan naskah utama. Versi ini berasal dari Tarekat Asaaseen di Timur Tengah.”

Mari kita telusuri lebih jauh lagi, bagaimana kisah-kisah sufisme dari wilayah Darvish Khel di Plato Persia dan Timur Tengah—beserta ajaran Tarekat Asaaseen—dapat sampai ke Timur Dekat, dan memengaruhi tradisi Historiografi Islam di wilayah-wilayah itu.

Darvish Khel terletak dekat Willow River di Plato Persia dan namanya melekat pada sejarah Kavaleri Darwis selama era Qajar. Dinamai sama karena berlokasi di Avysh, sebuah lokasi yang merupakan lokasi awal pekemah Arab dan kelompok pengelana menetap. Sekaligus lokasi di mana kekuatan kelompok Mrshyan bergabung dengan Kavaleri Darwis.

Di utara Willow River, terdapat jalur-jalur yang berabad-abad dilalui para kelompok kecil nomaden sebagai jalur perdagangan. Selama periode perang Qajar, kelompok Mrshyan kembali secara berangsur-angsur ke daerah Rab’u, di mana mereka mendirikan kuil Abdullah seperti yang dikisahkan dalam kitab-kitab para Darwis.

Timur Tengah adalah istilah yang sering digunakan para arkeolog dan sejarawan untuk merujuk kawasan Levant atau Sham (sekarang Israel, Jalur Gaza, Lebanon, Suriah, Tepi Barat dan Yordania), Anatolia (Turki), Mesopotamia (Irak dan Suriah timur), dan Plato Persia (Iran). Istilah alternatif yang jarang dipakai adalah Asia Barat Daya. Istilah alternatif ‘Timur Tengah’, tidak dipakai para arkeolog dan sejarawan Timur Dekat karena maknanya tak jelas.

Anatolia adalah etimologi dari bahasa Turki Anadolu. Karena letaknya di pertemuan Asia dan Eropa, membuat Anatolia menjadi tempat strategis bagi lahirnya beberapa peradaban dan tradisi literasi dunia. Peradaban dan penduduk utama yang tinggal atau menaklukkan Anatolia termasuk Hattia, Luwia, Hittit, Phrygia, Simeria, Lidia, Persia, Kelt, Tabal, Mesekh, Yunani, Pelasgia, Armenia, Romawi, Goth, Kurd, Bizantium, Turki Seljuk dan Turki Utsmani. Mereka adalah bagian dari banyak budaya etnis dan linguistik, serta ikut memengaruhi khazanah literasi dan historiografi di wilayah ini.

Sepanjang sejarah yang terlacak, penduduk Anatolia telah bercakap dalam bahasa Indo-Eropa dan Semit, dan banyak bahasa dari pertalian yang tidak pasti. Nyatanya, karena bahasa purba Hittit Indo-Eropa dan Luwia, beberapa sejarawan terkemuka telah mengusulkan Anatolia sebagai pusat hipotesis dari penyebaran bahasa Indo-Eropa. Peneliti lain mengusulkan bahwa bahasa penduduk Anatolia berasal dari bangsa Etruria (Italia kuno). Letak wilayah dan penyebarannya itulah kisah-kisah sufisme Timur Tengah mencapai Timur Dekat dan menyebar ke Indo-Eropa, ke Himalaya, Ural, dan Andes.

Berabad-abad kemudian, kisah-kisah sufisme ini tetap dikisahkan, sampai kemudian ditulis kembali oleh keluarga dinasti Pagham al-Hasyimi (keluarga Idries Shah) pada abad ke-11 dan oleh Tolstoy pada akhir abad ke-17. Tak sampai seabad setelahnya, Idries Shah kembali memasukkannya dalam buku kompilasinya. Kemudian digunakan di banyak kepentingan, termasuk Sri Sathya Sai Baba dalam pengajaran di sekolahnya, hingga sastrawan India, Anthony de Mello S.J., yang telah memasukkan kisah itu dalam The Song of The Bird (1982), dengan judul berbeda, We Are Three, You Are Three.

Di India, kisah-kisah sufi seperti Orang Berjalan di Atas Air kerap dikisahkan dalam pelajaran-pelajaran di berbagai organisasi, semisal International Sri Sathya Sai Organization, sebuah organisasi yang didirikan Sathya Sai Baba (Sathyanarayana Raju), tokoh spiritual India —wafat tanggal 24 April 2011 silam.

Menurut Sathya Sai, gagasan dan kisah Orang Berjalan di Atas Air itu sejatinya adalah kisah sufisme Islam yang diadaptasi menjadi kisah Sadhu Tina dalam tradisi lisan Hindu India. Dahulu, kisah Sadhu Tina jarang diceritakan terbuka dalam pengajaran sufisme timur di India, sebab kisah itu dimaksudkan sebagai olok-olok pada kepercayaan yang dianggap mengancam keberadaan ajaran Hindu.

Namun, dalam perkembangannya, kisah Sadhu Tina justru digunakan sekolah Katolik, dan menjadi populer di kalangan itu sejak Anthony menuliskan kembali cerita yang dikisahkan Sathya Sai Baba, dengan memodifikasi judul, tanpa mengubah apapun.

Bukti lain bahwa kisah itu berasal dari kisah Legenda-Sejarah dan Historiografi Islam dapat dirujuk dari pengakuan Anthony, bahwa kisah-kisah yang ia rangkum memiliki tendensi sufistik dengan memadukan kecenderungan religius berbeda ke dalamnya; Buddha, Kristen, Zen, Hasidic, Rusia, Cina, Hindu, kisah-kisah kuno, dan bahkan kontemporer.

Anthony lebih terbuka mengungkapkan sumber kisahnya, tinimbang para penyadur lain. Kemungkinan besar ia memang membaca Pani Para Calane Loga, atau Sadhu Tina, atau Three Hermits. Faktanya, saat Tolstoy menjumput sedikit keterangan sumber kisah—wilayah Volga—dalam literasi pendeknya, Anthony justru menyamarkannya.

Ada hal menarik ketika kisah ini dituliskan kembali oleh Anthony; ia cukup jujur memahaman para pembacanya bahwa gagasan kisah ini bukan miliknya. Sayang, Anthony pun tidak menuliskan sumber terperinci dari mana gagasan kisah itu datang. Atau, jika Anthony terinspirasi, maka pada karya adaptasinya itu kita mestinya akan membaca nama Nawab al-Hasyimi (Pani Para Calane Loga) atau Leo Tolstoy (Three Hermits) diterakan.

Hal sama tidak dilakukan oleh Serambi Ilmu Semesta sebagai penerbit buku Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada. Tidak ada halaman penjelasan untuk memeriksa gagasan pada beberapa karya Tolstoy. Ketelitian seperti ini perlu saat menerbitkan kembali cerita-cerita klasik. Pembaruan data penting, menurut saya. Karya klasik yang mampu ditelusuri sebaiknya mendapat perlakuan ini, agar para pembaca tidak terjebak dalam tempurung yang keliru.

‘Keteledoran’ para pihak yang menuliskan kembali gagasan dan kisah itu, disangkakan telah pula menjangkiti Seno. Sepintas, muncul kesan bahwa Seno telah mengupayakannya, namun disclaimer ‘abu-abu’ yang ditera Seno di akhir cerpen Dodolibret, menurut saya, tak bisa dituduhkan sebagai upaya menjadikan karyanya dipandang sebagai karya baru, atau memungkiri gagasan asal, dan bertindak sebagai insinuasi dari kondisi masyarakat saat ini.

Seno sastrawan kawakan. Ia teruji di dunia literasi Indonesia. Sehingga terlalu mudah membiarkan prasangka keliru berkeliaran di dekatnya, bahwa ia telah berupaya memplagiasi Tiga Pertapa menjadi Dodolibret. Tapi, apa mungkin—seperti yang disangsikan orang— Seno memplagiasi Tiga Pertapa? Akan kita lihat di bagian lain kritik ini. Sebab, tuduhan mudah diarahkan tanpa dalil yang valid.

Agar kita kian mendalami sudut tudingan dan tahu persis seperti apa masalah yang mengintai para penulis ulang gagasan di atas, maka sebagaimana seekor monyet, sejenak kita melompat ke sebuah dahan lain pada pohon susastra itu: dahan plagiasi. Kita urai sejenak ia.

Sejak Januari hingga Agustus 2011, tak kurang ada lima kasus kritis di ruang sastra Indonesia yang menyimpul debat dan memberi perhatian lebih perihal pentingnya keaslian karya, yakni satu kasus pengklaiman karya, tiga kasus plagiasi, dan satu kasus dugaan plagiasi.

Pengklaiman puisi Aku Ingin karya sastrawan Sapardi Djoko Damono, yang dituduhkan khalayak pecinta puisi Indonesia sebagai milik Kahlil Gibran. Puisi Aku Ingin dituduh menjiplak Lafaz Cinta karya Gibran. Namun Telisik Literasi yang saya lakukan berhasil membuktikan bahwa tak pernah ada Lafaz Cinta karya Gibran, dan Aku Ingin adalah asli puisi Sapardi.

Hal sama juga terjadi pada beberapa karya. Puisi Be The Best of Whatever You Are karya Douglas Malloch yang diplagiat seseorang bernama Taufik Ismail (dengan ‘k’ bukan ‘q’) dalam Kerendahan Hati. Cerpen Rashomon karya Ryunosuke Akuntagawa yang diplagiat Dadang Ari Murtono dalam Perempuan Tua dalam Rashomon. Cerpen Blongkeng karya Imron Tohari yang diplagiat Joko Utomo dalam Kota Telanjang yang memenangkan sayembara cerpen Solopos. Kembali, metode Telisik Literasi berhasil membuktikan tiga kasus itu sebagai praktik plagiasi.

Dua di antara kasus itu, tidak baru, justru sudah terpendam lama. Dugaan plagiasi juga dilontarkan terhadap cerpen Dodolibret karya Seno atas cerpen Tiga Pertapa karya Tolstoy dari buku terbitan Serambi.

Telisik Literasi adalah kecabangan baru kritik sastra, yang saya kembangkan paska klaim terhadap puisi Aku Ingin. Metode ini mampu membuktikan keotentikan dan sejarah penciptaan sebuah karya. Ia telah digunakan sebagai alat uji beberapa mahasiswa Prodi Sastra Bandingan di Universitas Negeri Semarang. Selain beberapa kasus di atas, metode ini mampu membuktikan keaslian puisi I Am Afraid sebagai karya Qyazzirah Syeikh Ariffin, seorang penyair perempuan dari Jeddah, sebagai pemilik sah puisi itu. Bukan milik William Shakespeare seperti sangkaan para pecinta Shakespeare di seluruh dunia. Telisik Literasi berjudul Melepaskan Ketakutan Shakespeare dari Puisi Misterius Turky, konon diterjemahkan ke berbagai bahasa oleh para anti-Shakespeare untuk mematahkan klaim sebaliknya.

Sesungguhnya, orang mengira bahwa plagiarisme hanya semata tindak menyalin karya orang lain, atau meminjam gagasan asli orang lain. Tidak demikian. Menurut MerriamWebster Dictionary istilah ‘menyalin’ dan ‘meminjam’ untuk arti kata plagiarize dapat menyamarkan seriusnya dampak dari tindakan itu.

Kamus Meriam-Webster, menyebutkan plagiarize: mencuri ide-ide atau dengan kata lain, sebuah karya milik seseorang; Menggunakan (sebuah karya) tanpa mencantumkan kredit sumber; Melakukan pencurian literasi langsung; Menghadirkan atau mengklaim sebuah karya sebagai karya baru atau gagasan asli dari karya yang sudah ada sebelumnya.

Plagiasi adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain (KBBI, 1997).

Untuk memberi penekanan pada maksud plagiasi sebagai tindak tak bermoral dan sikap berliterasi yang buruk, maka baiknya kita rujuk pula berbagai kamus international yang secara matang menelaah sikap ini dalam arti kata itu sendiri.

Dalam Tesaurus Abad 21-Roget’s, Edisi Ketiga, kata plagiarisme ditampilkan dalam ejaan “pla·gia·rism” [pley-Juh-riz-uhm]. Di mana kata benda dijelaskan sebagai; 1) penggunaan yang tidak sah atau bentuk imitasi bahasa dan pikiran penulis lain, dan representasi karya asli orang lain; 2) sesuatu yang digunakan dan diwakili dengan cara ini.

Berasal dari kata plagiar(y)+-ism, yang merupakan bentuk terkait dari kata benda [pla·gia·rist] dan kata sifat [pla·gia·ris·tic], sehingga ditemukan beberapa bentuk terkait lainnya dari kata ini, yakni: plagiarisme, pembajakan, plagiarisation, plagiarization.

Ragam lain plagiarisme berdefinisi sebagai ‘menyalin dari karya tulis lain’ bersinonim; apropriasi, meminjam, pemalsuan, penjiplakan, pemalsuan, penipuan, pelanggaran, mengangkat, pencurian sastra, pembajakan, mencuri, pencurian. Berlawanan pada kata: asli, orisinalitas.

@plagiarism

(Roget’s 21st Century Thesaurus, Third Edition. Copyright © 2011 by the Philip Lief Group.)

Definisi plagiarisme yang berarti ‘kasar’ ditemukan pada Kamus Etimologi, Douglas Harper, Emisi 2010. Plagiat didefinsikan dari bentuk plagiarius yang merujuk pada ‘penculik, penggoda, penjarah’ yang sering dilekatkan pada paham ‘pencuri sastra’ sebagai bentuk terbalik dari plagium (penculikan). Kata Plaga (snare, bersih), didasari oleh kata p(e)lag- (datar, menyebar). Penyebaran definisi ini juga berlaku di bidang musik atau seni lainnya.

Bentuk yang tak kalah menarik untuk disimak adalah sufiks kata plagiarisme berdasar pada perilaku. Pada Kamus Medis Stedman, The American Heritage (2002, 2001, 1995) Houghton Mifflin Company, menyebut sekurang-kurangnya lima sufiks dari plagiarisme; 1) Vegetarianisme sebagai tindakan, proses, praktik; 2) Puerilism sebagai perilaku karakteristik, kualitas; 3) Senilism sebagai negara, kondisi, kualitas; 4) Strychninism sebagai keadaan atau kondisi akibat kelebihan dari sesuatu yang ditentukan; 5) Darwinisme sebagai doktrin, teori, sistem prinsip-prinsip.

Berbagai penegasan perihal plagiarisme sebagai suatu praktik negatif dalam tradisi literasi dapat dirujuk pula pada Kamus Random House (2011); Kamus Lengkap Bahasa Inggris Dunia (World English Dictionary), William Collins Sons & Co – Edisi 10 (1979 – 2009); Sejarah dan Asal Kata (Word Origin & History); Kamus Budaya, The American Heritage – New Dictionary of Cultural Literacy, edisi Ketiga, diterbitkan Houghton Mifflin Company (2005); Encyclopedia Britannica (2008).

Dengan begitu, plagiarisme adalah tindakan penipuan. Ini melibatkan dua hal: mencuri karya orang lain, dan berbohong tentang perbuatan itu. Tetapi masalahnya, dapatkah sebuah ide, benar-benar dikatakan telah dicuri? Tentu saja. Rujuklah dua aturan hukum yang berlaku di dua negara, Undang-undang Hak Cipta di Amerika Serikat (1976), dan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta. Demikian pula pada panel Agreement Between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the United States of America on Copyright Protection: Ekspresi dari ide asli dianggap sebagai sebuah kekayaan intelektual, dan itu dilindungi oleh Hukum Hak Cipta, sebagai sebuah penemuan asli. Hampir semua bentuk ekspresi jatuh di bawah Hukum Perlindungan Hak Cipta selama tercatat dalam beberapa cara, bahkan semisal, dalam bentuk buku atau bahkan masih file komputer.

Tak perlu hak atas paten jika menyangkut gagasan literasi. Sebab setelah dibukukan atau masih berupa file komputer, sebuah gagasan dianggap telah plagiasi bila dapat dibuktikan bahwa ada tindakan penduplikasian oleh pihak lain secara sengaja.

Hak Cipta merupakan salah satu jenis Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), namun Hak Cipta berbeda secara mencolok dari hak kekayaan intelektual lainnya (seperti Paten, yang memberikan hak monopoli atas penggunaan invensi). Hak Cipta bukan hak monopoli untuk melakukan sesuatu, melainkan hak untuk mencegah orang lain melakukan pelanggaran. Berbeda dengan merek dagang, Hukum Hak Cipta ada untuk melindungi karya asli sastra, media, seni, dan sebagainya.

Alih-alih melindungi ide-ide (Hak Paten) atau frasa komersial (Merek Dagang), Hak Cipta melindungi ekspresi ide dalam bentuk aslinya dan terhadap pelanggaran kreatif tertentu, seperti pada buku, artikel, karya seni, rekaman lagu, atau sinema. Secara tradisional, Hak Cipta memberikan hak kepada pemiliknya untuk menyalin, mendistribusikan dan/atau melakukan terjemahan atau adaptasi dari pekerjaan ke dalam bentuk-bentuk baru terhadap materi yang bersangkutan. Tapi terlarang untuk pihak lain manapun. Hak-hak tersebut berbeda di masing-masing negara, meskipun hukum internasional seperti Konvensi Berne menentukan sejumlah persyaratan minimum untuk negara-negara anggotanya.

Berne Convention for the Protection of Artistic and Literary Works (Konvensi Bern tentang Perlindungan Karya Seni dan Sastra) dikenal sebagai Konvensi Bern (1886) adalah hukum yang pertama kali mengatur soal Hak Cipta (copyright). Dalam aturan ini, Hak Cipta diberikan secara otomatis kepada karya cipta, dan pengarang tidak harus mendaftarkan karyanya untuk mendapatkannya. Segera setelah sebuah karya dicetak atau terbaca di sebuah media, si pengarang otomatis mendapatkan hak eksklusif Hak Cipta terhadap karyanya dan juga terhadap karya derivatifnya, hingga si pengarang secara eksplisit menyatakan sebaliknya atau hingga masa berlaku Hak Cipta tersebut selesai.

Tapi ada definisi yang berbeda di setiap negara, dan individu harus berhati-hati tidak melanggar Undang-undang Hak Cipta pada yuridiksi di mana ia berada. Hak Cipta biasanya dilengkapi tanggal kedaluwarsa eksplisit. Menurut Undang-undang Hak Cipta Amerika Serikat, semua publikasi pemerintah secara otomatis menjadi domain publik; penulis individu juga dapat memilih untuk melepaskan Hak Cipta-nya ke publik. Jika tidak, Hak Cipta berakhir setelah waktu yang telah ditentukan.

Di banyak negara, kadaluwarsa sebuah Hak Cipta adalah antara 50 sampai 70 tahun setelah si penulis wafat, atau jumlah waktu yang sama setelah publikasi. Karya akan dianggap pseudonim (tidak ada identifikasi dari penulis yang hidup). Di Amerika Serikat, itu dapat dilakukan. Namun nama samaran dan penerbit memiliki Hak Cipta yang lebih pendek dari 120 tahun dari yang dimiliki penulis asli, atau 95 tahun setelah mereka menerbitkannya.

Jika seorang penulis mampu membuktikan bahwa gagasannya telah dicuri, melalui perilaku; seseorang yang memplagiasi telah melihat dengan sengaja karyanya, lalu sengaja menduplikasi atau menggubah tanpa menyebut sumber gagasan itu, maka cukuplah dijadikan bukti telah terjadi sebuah praktik plagiasi.

Sebaliknya, keangkeran Hukum Hak Cipta tak akan dianggap apabila seseorang tidak bisa membuktikan karyanya telah dicuri, dilihat, diduplikasi dengan sengaja. Saya dapat menyatakan, bahwa hukum moral akan sukar diterapkan jika hukum normatif (perdata/pidana) tak bisa membuktikannya.

Sehingga, saya dapat mengatakan landasan tindak plagiasi apabila: Mengakui karya orang lain sebagai milik Anda; Menyalin ide-ide dari orang lain tanpa memberikan kredit; Tidak menempatkan nama pemilik kutipan (quote) ketika Anda menuliskan sebuah kutipan; Memberikan informasi yang salah atau mengubah sumber kutipan; Mengubah dan menyalin sebagian kata-kata dari struktur kalimat asli pada sebuah sumber narasi khusus tanpa memberikan kredit; dan, menyalin banyak kata atau ide dari sebuah sumber literasi dan memasukkannya ke sebagian besar karya Anda, kendati Anda memberikannya kredit atau tidak.

Praktiknya, sebagian besar kasus plagiarisme dapat dihindari—bagaimana pun itu— dengan hanya mengutip sumber. Cukup mengakui bahwa materi tertentu telah Anda pinjam, dan memberikan informasi yang tepat kepada pembaca sehingga sumbernya dapat ditemukan, biasanya dianggap cukup mencegah sebuah praktik plagiarisme.

Pada acuan Hukum Hak Cipta, terdapat panduan bagaimana mengutip sumber dengan benar, untuk memberitahu pembaca bahwa material tertentu dalam sebuah tulisan berasal dari sumber lain.

Kadang ditemukan bahwa gagasan seorang penulis seringkali lebih akurat dan menarik daripada gagasan dari sumber-sumber yang ia gunakan. Cara mengutip yang tepat akan menjaga seorang penulis menjadi bagian dari ide-ide buruk orang lain. Selain menerakan sumber dengan tepat dan baik akan mendukung sebuah tulisan dengan ide-ide dari sumber bersangkutan.

Dari premis-premis itu, tampaknya segera menyembul sebuah pertanyaan mendasar: jika seorang penulis tak mengutip sumber tulisannya, benarkah tulisannya akan tampak kurang asli? Tentu tidak demikian. Jawaban pertanyaan itu secara inplisit sudah terjawab pada uraian di atas. Namun perlu saya tegaskan, bahwa semua tata cara di atas hanya berlaku pada sumber dengan narasi khusus. Pada sumber bernarasi umum, penyebutan sumber boleh tidak dilakukan, kendati tetap melakukannya pun akan kian baik.

Isu laten plagiasi terletak pada faktor-faktor yang membuat penulis cenderung menjiplak: Buruknya keterampilan meriset, kejujuran penulis, manajemen waktu, persepsi penulis terhadap rekan mereka yang berlaku curang, akan merusak penilaian mereka terhadap risikonya. Tindak plagiasi dapat dicegah dengan mengatasi faktor-faktor kunci ini.

MARI melompat kembali ke dahan semula. Sebelum Seno menulis Dodolibret itu, di wilayah sastra Indonesia, lebih dulu gagasan dan kisah ini sudah diterjemahkan di empat buku berbeda; ST. Sjahboedin Latif menerjemahkan Leo Tolstoy: The Raid and Other Stories (Oxford World’s Classics) dalam L.N. Tolstoj: Tjeritera Iwan Pandir dan Tjeritera-tjeritera Kampung (1949); Yayasan Cipta Loka Caraka memertalakan The Song of The Bird gubahan Anthony de Mello S.J. dalam Burung Berkicau (1984); Ahmad Bahar menyulihkan Tales of The Dervishes anggitan Idries Shah (The Octagon Press, London. 1967) dalam Harta Karun dari Timur Tengah: Kisah Bijak Para Sufi (Kanisius, 2005); dan, Atta Verin mengalihbahasakan lima karya Tolstoy dalam Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada, (Serambi Ilmu Semesta, 2011).

Lalu lahirlah Dodolibret, dan khalayak menuding Seno telah memplagiasi Tiga Pertapa dari buku Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada. Persangkaan ini seketika menjadi gempa kecil di tanah sastra Indonesia. Kredibilitas Seno diragukan. Tapi benarkah Seno memperjudikan eksistensinya? Seno tentu tidak sudi melakukannya. Bagaimana bantahan ini bisa saya jelaskan? Anda akan membacanya di bagian akhir kritik ini.

MENYOAL TAKRIF

PADA kisah Tiga Pertapa di buku Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada, atau We Are Three, You Are Three dalam The Song of The Bird, Anthony de Mello S.J., ada takrif pada masing-masing kisah tersebut. Seperti Tolstoy, Anthony pun telah menyampaikan secara umum.

Pola ungkap Anthony sedikit banyak memiliki kemiripan dengan takrif yang dituliskan Seno di akhir Dodolibret. “Cerita ini hanyalah versi penulis atas berbagai cerita serupa, dengan latar belakang berbagai agama di muka bumi.” Demikian tera takrif di cerpen itu.

Menurut saya, takrif semacam ini seharusnya tak membuat Seno dituding plagiat. Ia memang tak menuliskan sumber pada kisah adaptasi itu, atau apapun sebutannya. Dalam tradisi literasi, penyebutan sumber harus dilakukan agar terhindar dari tuduhan plagiasi. Namun, sebuah takrif (disclaimer) sudah cukup untuk menandai gagasan pada kisah tersebut bukanlah milik penulis yang ceritanya sedang kita baca.

Saya memilah takrif itu dalam tiga frasa: 1) versi penulis—dalam hal ini Seno; 2) berbagai cerita serupa; 3) berlatar berbagai agama di muka bumi—dalam hal ini Kristen. Sebab dalam Dodolibret ada tata cara peribadatan lain yang disebut selain tata cara peribadatan Kristen.

Takrif seperti ini sudah menjelaskan pesan yang ingin disampaikan Seno. Sebab jika merujuk “berbagai cerita serupa”, maka jelas gagasannya adalah Orang Berjalan di Atas Air. Lalu potongan kalimat “berlatar berbagai agama di muka bumi” juga tetap merujuk gagasan awal kisah tersebut. Bahwa yang ia pilih adalah tata cara peribadatan Kristen—yang juga dipakai dalam Tiga Pertapa—hanyalah insinuasi dari isu di sekeliling Seno.

Menariknya, justru pada potongan pertama, bahwa Dodolibret adalah “versi penulis” yang menegaskan perbedaan plot dan karakter dari kisah Tiga Pertapa. Potongan kalimat pertama dalam takrif itu telah mengugurkan premis plagiat yang timbul. Frasa versi penulis telah mengonfirmasi bahwa Dodolibret adalah sebuah kisah yang retold by (diceritakan kembali). Pada cerpen gubahan, Seno menggunakan versi ceritanya—dengan maksud tertentu—agar berbeda dengan cerita-cerita sejenis.

Sesuatu yang sedikit aneh, menurut saya, saat Seno tak tegas menakrif bahwa Dodolibret itu “terinspirasi dari gagasan pada kisah sufistik Orang-orang Berjalan di Atas Air”, atau “kisah ini mereduksi gagasan yang sama pada Tiga Pertapa karya Tolstoy”. Takrif macam ini terasa lebih pas. Lebih tepat.

Baik Nawab, Tolstoy, kemudian Idries Shah, Satya Sai, Anthony, dan mungkin banyak lagi penulis lainnya, saat menceritakan kembali gagasan dan kisah Orang Berjalan di Atas Air akan sukar keluar dari cetak birunya; 1) bahwa apa yang menurut Anda benar, belum pasti sedemikian halnya bagi orang lain; 2) setiap orang (atau komunitas) memiliki cara sendiri menuju Tuhan; 3) esensi Ketuhanan tak dapat diukur oleh girah manusia.

Maka inilah pertanyaan kuncinya: jika Seno dipersangkai melakukan plagiasi pada gagasan Orang Berjalan di Atas Air, apakah Anda tak patut memberikan persangkaan yang sama pada Nawab, Tolstoy, Idries Shah, Satya Sai, Anthony, dan mungkin banyak lainnya?

Karena itulah, Anda harus memerbaiki cara pandang Anda atas masalah ini. Siapapun yang telah menuliskan kembali gagasan dan kisah Orang Berjalan di Atas Air yang dinukil dari akar Afsanah Darwis yang lahir pertama kali di Plato Persia, tentu saja tidak bisa disebut plagiat. Mereka hanya menceritakan kembali (retold by) gagasan tersebut dengan bahasa dan perspektif mereka sebagai penulis.

Di luar soal takrif itu, dapat pula dikatakan adanya upaya para penulis melakukan gubahan pada sejumlah unsur dalam gagasan awal. Upaya-upaya itu terlihat dari usaha mereka mengubah karakter utama, alur dan plot cerita, namun sukar lari dari gagasan awal.

Menurut saya, Seno telah gilang-gemilang mengolok-olok para “retold by writer” yang tampak terlalu mudah mendaur-ulang gagasan Orang Berjalan di Atas Air dalam berbagai versi. Seno lihai membungkus ‘kejengkelannya’ dalam judul mengelitik: Dodolitdodolitdodolibret—sebuah frasa slank yang boleh diartikan sebagai perilaku klise: terlalu kerap dilakukan hingga berkesan membosankan.

Ya. Judul cerpen Seno itu adalah sindiran yang ia reduksi dari bahasa slank remaja saat ini: Dodolit Pret, atau Ngecebres, yang kurang lebih artinya: omongan yang tak berisi, sukar dipahami dan hanya membebek perilaku orang lain. Ini memang kecenderungan yang tampak pada perilaku “menceritakan kembali” atau menulis cerita dengan menggunakan gagasan Orang Berjalan di Atas Air.

Jelas terlihat bahwa upaya-upaya reduksi itu telah membuat gagasan dalam kisah-kisah di Siklus-Legenda sufisme itu kian remuk. Gagasan-gagasan dalam literasi bersejarah itu dibikin remuk oleh berbagai penceritaan kembali, berulang-ulang, yang akhirnya kerap membuat para penulisnya justru gagal menegakkan pesan-pesan utama dalam gagasan. Seno cukup malu-malu menyatakannya secara terang lewat esai-esainya yang cerdas, alih-alih menyampaikan olok-oloknya dalam sebuah cerita.

Saya menekankan satu hal lagi dalam kritik ini, bahwa tradisi literatif kita masih rawan dari sangkaan praktik plagiasi yang tidak pernah selesai dibahas. Masih banyak pelaku literasi yang tidak paham pada rambu formal plagiasi, sehingga mengelak dari jebakan plagiasi dilihat bukan sebagai hal penting.

Pengalihbahasaan, penulisan kembali, atau pengklaiman karya seseorang kepada orang lain secara seenaknya begitu mudah dilakukan. Ini merugikan domain literasi Indonesia. Kritik saya atas karya-karya itu hanyalah hendak memuliakan tradisi literasi Indonesia. Tidak lain.

Dengan ini, mari gamit tangan Seno dan mengajaknya pulang dari rumah Tolstoy.

Sekian. (*)

Sumber rujukan:

Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada.  Penerbit Serambi Ilmu Semesta, 2011.

– The Song Of The Bird by Anthony de Mello S. J. (Image Books, 1982). Diterjemahkan ke bahasa Indonesia dalam judul “Burung Berkicau” (1984).

– Harian Kompas, edisi 26 September 2010.

– Encyclopedia Britannica, 2008. Encyclopedia Britannica Online.

– The American Heritage® New Dictionary of Cultural Literacy, Third Edition. Copyright © 2005 by Houghton Mifflin Company. Published by Houghton Mifflin Company. All rights reserved.

– The American Heritage® Stedman’s Medical Dictionary. Copyright © 2002, 2001, 1995 by Houghton Mifflin Company. Published by Houghton Mifflin Company.

– Online Etymology Dictionary © 2010 Douglas Harper.

– Collins English Dictionary – Complete & Unabridged 10th Edition 2009 © William Collins Sons & Co. Ltd. 1979, 1986 © HarperCollins. Publishers 1998, 2000, 2003, 2005, 2006, 2007, 2009.

– Based on the Random House Dictionary © Random House, Inc. 2011.

– Roget’s 21st Century Thesaurus, Third Edition. Copyright © 2011 by the Philip Lief Group

– Three Hermits by Leo Tolstoy, 1886 [http://www.online-literature.com/tolstoy/2896/]

– What is Plagiarism [http://www.plagiarism.org/plag_article_what_is_plagiarism.html]

– What is Citation [http://www.plagiarism.org/plag_article_what_is_citation.html]

– Preventing Plagiarism [http://www.plagiarism.org/plag_article_preventing_plagiarism.html]

– Plagiarism [http://www.unc.edu/depts/wcweb/handouts/plagiarism.html]

– Plagiarism Checker Tool – Software [http://www.writecheck.com]

– Volga Federal District [http://www.pfo.ru/]

– Volga-Ural [http://remmm.revues.org/index274.html]

– Agreement Between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the United States of America on Copyright Protection

– Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1997: 775

– Konsultasi Seputar Hak Cipta [http://www.ambadar.co.id/]

– Konsultasi Seputar Hak Kekayaan Intelektual [http://www.dgip.go.id/ebscript/publicportal.cgi?.ucid=2604]

– Irving Hexham (2005). “Academic Plagiarism Defined”

– Harta Karun dari Timur Tengah – Kisah Bijak Para Sufi, Idries Shah, Penerbit Kanisius, 2005. Penerjemah: Ahmad Bahar. Judul asli: Tales of The Dervishes, The Octagon Press, London, 1967.

– Sathya Sai Baba Memories [http://http://www.sathyasai.org]

– Oxford World’s Classics. Leo Tolstoy. The Raid and Other Stories. Oxford University Press Inc., New York. Translations First Published 1906, 1935, 1982, 1999.

http://www.persian-language.org/literature-story-fulltext-181.html

Iklan

[Telisik Literasi] Keinginan Sapardi Dilafaz Cinta Gibran

(Mengakhiri silang sengkarut debat dan klaim khalayak pada jejak sebuah puisi)

Oleh Ilham Q. Moehiddin

SILANG pendapat perihal dua entitas puisi yang masing masing berjudul “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono dan “Lafaz Cinta” karya Kahlil Gibran yang sangat identik dalam syair-syairnya, sepertinya akan segera berakhir.

Bagi saya, awalnya persilangan pendapat yang ramai terjadi di berbagai situs dan blogger sastra Indonesia, soal kedua puisi ini belum menyita perhatian saya. Sampai suatu waktu Shinta Miranda, seorang sastrais perempuan, membuat umpan pada komentarnya di tulisan saya Ada Apa Antara Dauglas Mulloch dan Taufiq Ismail.

Pada Shinta Miranda, saya kemudian menyanggupi untuk membuat telisik literasi atas dua puisi berjudul berbeda namun memiliki kesamaan larik itu.

Persilangan pendapat yang bermula pada adanya kesamaan nash puisi ini membuat saya tertarik. Entah siapa yang mulai membenturkan dua nama penyair itu pada satu bidang puisi? Tetapi saya pun sependapat jika sebuah karya mesti ditahbiskan pada pengkaryanya, bukan pada pengutipnya, atau pada pengklaiman pihak lain.

Sapardi Djoko Damono (foto: arelano photographic)

Agar lebih jelas, yang mana nash puisi yang “disengketakan” itu, berikut saya kutip puisi tersebut;

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan kata yang tak sempat diucapkan/ kayu kepada api yang menjadikannya abu// Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan isyarat yang tak sempat disampaikan/ awan kepada hujan yang menjadikannya tiada//

Syair ini tentu saja indah, sehingga sering bahkan terkutip di banyak undangan pernikahan, dan kartu ucapan pada kado antar kekasih. Ini seketika menarik bagi saya. Sebab dibeberapa situs atau blog pecinta sastra, ketika literasi ini ditampilkan dengan menyebut salah satu dari dua penyair itu, seketika lahir debat. Konyol, sebab kadang debat tadi berganti keras bahkan sering lancung menjadi sarkas. Tak ada yang mau mengalah, masing-masing pihak mengemukakan pendapat dan sangkaan yang sebenarnya tak berujung-pangkal.

Penelusuran Literasi untuk Membuktikan Akurasi Klaim

Untuk membuktikan siapa sebenarnya pemilik sah karya puisi itu, saya pun mencoba melakukan penisikan literasi pada kedua penyair. Ketersediaan bahan penisikan lumayan membantu.

Karena saya percaya pada premis bahwa sejak awal melihat dan membaca puisi itu adalah nama Sapardi Djoko Damono yang tertera dan belum pernah melihatnya diterakan atas nama Kahlil Gibran, dan menangkap kemungkinan lain adalahnya duplikasi, maka saya berangkat dengan sebuah hipotesa subjektif untuk menisik karya-karya Gibran.

Alasan saya pada hipotesa subjektif ini adalah; 1) karya Gibran kebanyakan berbahasa asing, dan hanya sedikit yang telah ditranslasi ke bahasa Indonesia, sehingga merujuk dokumen aslinya agak sukar; 2) total karya Gibran beserta varian dan derifasinya berjumlah 522 karya, termasuk karya-karya Gibran dalam bahasa Arab, Inggris, terjemahan dari bahasa Arab, karya seni, artikel pendek, puisi, kumpulan surat, biografinya, dan kritisasi, tesis, essai, artikel dan review atas karyanya, rekaman suara, pochette, laporan pameran, dan sejumlah karyanya dalam bahasa Italia dan Perancis; 3) jejak kepenyairan Sapardi mudah ditelusuri.

Ada dua sumber dokumen yang saya gunakan dalam penisikan; hardcopy berliterasi Indonesia (cetak/buku) dan softcopy berliterasi asing (digital/literasi internet). Untuk kepentingan menguber literasi Kahlil Gibran dalam bahasa asing, saya memutuskan menggunakan tiga mesin mencari (search engine) yang terbukti akurat, yakni Google.com, Yahoo.com, dan Bing.com. Sebuah mesin pencari Ask.com tidak saya gunakan sebab memiliki kelemahan (sukar menemukan dokumen dengan kata kunci panjang secara akurat).

Metodenya sederhana saja, namun butuh kesabaran ekstra untuk menisik sekian banyak literatur rujukan. Jika pada karya Gibran, saya temukan memang ada syair serupa yang merujuk namanya, maka saya terpaksa harus kembali “menguber” karya-karya Sapardi. Saya mendahulukan Gibran sebab ini bisa membantu mempercepat uji tisik literasi yang saya lakukan.

Ada enam buku Gibran Kahlil Gibran (berbahasa Indonesia, terbitan Pustaka Jaya) yang menjadi acuan saya sebagai bahan uji, yakni; Lagu Gelombang; Pasir dan Buih; Potret Diri; Sang Pralambang; Sayap-Sayap Patah; dan Taman Sang Nabi.

Sebagai pembanding saya sertakan pula beberapa karya Gibran dalam bahasa Inggris. Lima e-book novel Gibran Kahlil Gibran berbahasa Inggris; The Broken Wings (1959); The Earth Gods (1931); The Perfect World (1918); A Tear and a Smile (1914); dan Nymphs of the Valley (1908).

Kumpulan surat-surat; 1) Beloved Prophet: The Love Letters of Kahlil Gibran and Mary Haskell and her Private Journal, [New York, Alfred A. Knopf, 1972 (in notes B.P.) – Hilu, V. (ed. and arr.)]; 2) Blue Flame: The Love Letters of Kahlil Gibran and May Ziadah, [Harlow, Longman, 1983 – Bushrui, S. B. and S. H. al-Kuzbari (eds. and trans.)]; 3) Gibran: Love Letters, [Oxford, Oneworld, 1995 (rev. ed. of Blue Flame) – Bushrui, S. B. and S. H. al-Kuzbari (eds. and trans.)]; 4) Chapel Hill papers (Minis family papers), in the Southern Historical Collection, University of North Carolina at Chapel Hill, item #2725, [1948, includes correspondence of Mary Elizabeth (Haskell) Minis from and about Kahlil Gibran]; 5) I Care about your Happiness: Quotations from the Love Letters of Kahlil Gibran and Mary Haskell, [selected by S. P. Schutz and N. Hoffman, Boulder, Blue Mountain Arts, 1976]; 6) The Love Letters of Kahlil Gibran and Mary Haskell, [Houston, Annie Salem Otto, 1964 – Otto, A. S. (ed. and arr.)]; 7) Unpublished Gibran Letters to Ameen Rihani, [trans. S. B. Bushrui, Beirut, Rihani House for the World Lebanese Cultural Union, 1972].

Defeat (poem); Freedom and Slavery (poem); Love (poem); O Mother Mine (moulaya; syrian folk songs); Out of My Deeper Heart (short articles); Reflections on Love (short articles); Speech and Silence (short articles); Three Maiden Lovers (moulaya; syrian folk songs); Youth and Age (short articles); The Wisdom of Gibran: Aphorisms and Maxims, ed. and trans. J. Sheban, New York, Philosophical Library, 1966.

Saya menyertakan pula kumpulan surat Gibran, sejumlah puisi penting, artikel pendek, teks moulaya, dan kumpulan kata bijak Gibran, sebab saya menaruh sangka bahwa bisa saja enam larik puisi itu diselipkan Gibran dalam surat-suratnya, atau bagian dari artikel, puisi, moulaya, atau bahkan dalam salah satu kutipan bijak Gibran.

Memulai Penisikan.

Setelah menyiapkan tiga mesin pencari berbeda, saya pun memasukkan kata kunci; kahlil gibran‘s book containing these words i want to love you with a simple like the words that were not spoken to the fire that makes wood ashes i want to love you with a simple like cues that were not delivered to the rain clouds that make it dead.

Hasilnya, hanya satu rujukan yang memuat puisi itu sebagai milik Gibran, yakni fatoerblogs_wordpress_aphorisms-love. Sayangnya blog ini adalah blog milik orang Indonesia yang memuat translasi syair dalam bahasa Inggris yang gramarnya acak-kadut.

Kata kunci saya sempitkan, menjadi; all+kahlil gibran’s books have containing words I want to love you with a simple, like the words that were not spoken to the fire that makes wood ashes, I want to love you with a simple, like cues that were not delivered to the rain clouds that make it dead. 

Setelah disaring, rujukan yang persis benar mengacu pada syair bermilik Gibran ada tiga, yakni; fatoerblogs_wordpress_aphorisms-love; jovinohidayat_blogspot_jika-cinta-berbicara; jovinohidayat_ blogspot_archive. Sayangnya lagi, ketiga rujukan ini adalah blog milik orang Indonesia yang memuat translasi syair seadanya. Malah ada kemungkinan tiga puisi pada tiga blog ini berasal dari satu sumber penerjemahan.

Lalu kata kuncinya saya sempitkan lagi, menjadi; all + kahlil gibran’s + books + have containing + words + fire + wood + ashes + cues + rain + clouds 

Sama seperti kata kunci format kedua, saya kembali menemukan tiga rujukan blog yang sama.

Semua rujukan mesin pencari terhadap Gibran dan Sapardi hasilnya identik, sehingga jelas sekali kongklusi bahwa syair-syair itu disadur sekenanya dari satu blog ke blog lainnya (tanpa memperdulikan fakta pengkarya).

Sama halnya untuk literasi penyair Gibran dalam bahasa Inggris, perlakuan yang sama juga saya berikan untuk literasi penyair Gibran dan Sapardi dalam penelusuran berbahasa Indonesia.

Kata kunci mengalami tiga kali formasi penajaman, untuk menghasilkan rujukan yang seakurat mungkin.

  1. Kata kunci pertama; kahlil gibran+sapardi buku yang mengandung kata Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…seperti kata-kata yang tidak berbicara dengan api yang membuat abu kayu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…seperti isyarat yang tidak disampaikan kepada awan hujan yang membuatnya mati.
  2. Kata kunci kedua, yang disempitkan; buku+Kahlil Gibran+Sapardi memiliki kata-kata yang mengandung aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kata-kata yang tidak berbicara dengan api yang membuat abu kayu, aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti isyarat yang tidak disampaikan kepada awan hujan yang membuatnya mati.
  3. Kata kunci ketiga, yang kian disempitkan dengan separasi kata inti pembentuk puisi; semua + buku + kahlil gibran + sapardi + api + kayu + abu + isyarat + hujan + awan.

Yang menarik, ketika saya menggunakan kata kunci berbahasa Indonesia dan sekaligus mempadankan dua nama (kahlil gibran+sapardi) untuk syair yang sama, diperoleh rujukan dengan pembagian; 6.412 hasil untuk Gibran, dan 5.159 hasil untuk Sapardi. Uniknya, dari 11.571 rujukan puisi ini yang ditemukan semuanya sama persis pada larik, yang membedakannya hanya judul dan tera pengkaryanya saja.

***

Semua rujukan ini dipisahkan sesuai karakter literasi yang paling kuat rujukannya, dengan ditentukan oleh kelengkapan kata dan kalimat yang disadur oleh para pemilik blog. Dari rujukan yang tersisa jika berbentuk file *.pdf maka akan didownload terlebih dulu lalu disaring dengan menggunakan fasilitas (tools) software pemilah kata.

Karena semua karya awal Gibran ditranslasi dalam bahasa Inggris maka saya melacak puisi tersebut dengan menggunakan ektraksi kata inti menggunakan software pemilah kata.

Hasilnya, sungguh membuat saya lega. Ternyata yang diperdebatkan selama ini tidak lebih sekadar bualan belaka. Semata-mata hanya memetik karya tanpa mengecek referensi awal. Parahnya, karya itu sudah tersebar kemana-mana, dan dipolemikkan dalam silang sengkarut yang tak berujung.

Saya berani mengatakan, bahwa dengan ini, perdebatan perihal syair tersebut telah berakhir. Bahwa syair indah itu adalah milik Sapardi Djoko Damono dengan judul asli “Aku Ingin”, dan bukan syair milik Gibran yang diberi judul “Lafaz Cinta”. Saya merekomendasikan agar para pemilik blog segera mencabut syair jiplakan berjudul “Lafaz Cinta” yang didaulatkan atas nama Gibran, dan memasang nama Sapardi Djoko Damono, sebagai pemilik asli syair itu. 

Kesimpulan ini dapat saya buktikan secara empiris. Perhatikan penggunaan kata kunci (fire, wood, ashes, cues, rain, dan clouds) pada beberapa karya utama Gibran dari enam sample buku yang digunakan, dan lima e-book, serta beberapa literasi Gibran berformat *.pdf.

Dari enam kata kunci utama pembentuk syair, hanya dua kata yang sering muncul dalam karya-karya Gibran, yakni Ashes (abu) dan Fire (api). Dan, tidak ada karya Gibran yang mempertemukan enam kata di atas dalam larik-larik pada dua bait pendek, atau pada sebuah puisi utuh.

Karya-karya Gibran yang mengandung kata Ashes :

“life is as cold as ice and as grey as ashes.”

[ Kahlil Gibran to Yusuf Huwayik, in A Self-Portrait (1972), 26. ]

“like ashes which hide the embers but do not extinguish them.”

[ Jessie Fremont Beale to Fred Holland Day, Nov. 25, 1896. Quoted in J. and K. Gibran, Life and World, 37–38. ]

“Night is over, and we children of night must die when dawn comes leaping upon the hills; and out of our ashes a mightier love shall rise. And it shall laugh in the sun and it shall be deathless.”

[ Beloved Prophet, 323 ]

Sedangkan, dalam karya Gibran (dan yang merujuk Gibran dan karyanya) yang mengandung kata Fire :

One of his greatest delights was to cast images in lead using old sardine tins. He used to put the lead on the fire to melt and then fill the two halves of the can with fine moist sand. Then pressing the image in between the two, he would scrape away the sand that squeezed out, put the two halves together again and pour the lead into the mold until the image had cooled.

[ Beloved Prophet, 429 ]

“Dust of the Ages and the Eternal Fire”

[ in Nymphs of the Valley, 30. Gibran also wrote “The Poet from Baalbek,” a story with the theme of reincarnation (Thoughts and Meditations, 1–8). Ameen Rihani in his magisterial work The Book of Khalid, which was to later influence Gibran’s own writings, refers to Baalbek as being the place where Shakib spent much of his childhood. ]

His rebellion, no doubt in this instance fired by his own bitter rejection by Hala’s powerful family, is evident in “The Broken Wings”.

[ Man and Poet, Khalil Gibran ]

After the fire, Gibran began painting and writing with renewed resolution. Perhaps in recognition of his indebtedness to Fred Holland Day he wrote “Letters of Fire”, beginning his soliloquy with the lines inscribed on Keats’ grave in Rome: “Here lies one whose name was writ in water.”

[ Man and Poet, Khalil Gibran ]

“Write upon my gravestone: Here lies the remains of him who wrote his name on Heaven’s face in letters of fire.”

[ A Tear and a Smile ]

Three stories written during this period, “Martha,” “Yuhanna the Mad,” and the “Dust of the Ages and the Eternal Fire,” were later published together under the title “Ara’is al-Muruj”.

[ Nymphs of the Valley ]

The other story in the trilogy, “Dust of the Ages and the Eternal Fire,” deals with the themes of reincarnation and preordained love. The hero appears first as Nathan, the son of a Phoenician priest in Baalbek, and then in his new incarnation as Ali al-Husaini, a Bedouin nomad.

[ Nymphs of the Valley, The Husainis were an Arab tribe dwelling in tents around Baalbek ]

In January 1912, after much delay, Gibran’s Arabic novella al-’Ajnihah al-Mutakassirah (The Broken Wings) was published. He sent Mary a copy in which he had translated the dedication: TO THE ONE who stares at the sun with glazed eyes and grasps the fire with untrembling fingers and hears the spiritual time of Eternity behind the clamorous shrieking of the blind. To M.E.H. I dedicate this book. – Gibran.

[ Kahlil Gibran, dedication in The Broken Wings, 1959 ]

It is true the world will be apt enough to censure thee for a madman in walking contrary to it: And thou art not to be surprised if the children thereof laugh at thee, calling thee silly fool. For the way to the love of God is folly to the world, but is wisdom to the children of God. Hence, whenever the world perceiveth this holy fire of love in God’s children, it concludeth immediately that they are turned fools, and are besides themselves. But to the children of God, that which is despised of the world is the greatest treasure.

[ The Perfect World  was later published in 1918 in The Madman: His Parables and Poems (1918); quoted in Heinemann edition (1971), 71. ]

The name of Arrabitah spread wide and far becoming tantamount to renaissance, to rejuvenation in the minds of the younger generations, and to iconoclasm and hot-headed rebellion in the eyes of the older and more conservative ones. The lines of battle were clearly drawn: the issue was never in doubt. So quickly was the tide turned in favor of Arrabitah that those who hailed it were no less puzzled than those who opposed it…no one knows the “secret” save that hidden power which brought the members of Arrabitah together at a certain spot, in a certain time, and for a certain purpose entirely irrespective of their conscious planning, endowing each with a flame that may be more, or less brilliant than that of another, but all coming from the selfsame fireplace.

[ Naimy, A Biography, 157, 158. ]

My life has a great deal of seeing people in it, just individuals, one by one, and groups as well. And I want it to be so more and more. I want to live reality. Better than to write ever so truly about fire, is to be one little live coal. I want some day simply to live what I would say, and talk to people. I want to be a teacher. Because I have been so lonely, I want to talk to those who are lonely.

[ Beloved Prophet, 356 ]

Who shall inscribe the name of the present generation in the scrolls of Time, who they are and where they are? I do not find them among the many “nightingales of the Nile and the warblers of Syria and Lebanon,” but among the few whose lips and hearts have been touched by a new fire. Of those some are still within the womb of Creative Silence; some are breathing the air we breathe, and treading the ground we tread. Of the latter –, nay, leading the latter – is the poet of Night and Solitude, the poet of Loneliness and Melancholy, the poet of Longing and Spiritual Awakening, the poet of the sea and the Tempest – Gibran Kahlil Gibran.

[ Naimy, A Biography, 159–60. First published in Beirut in 1934 and translated into English by Mikhail Naimy in 1950, and published by the Philosophical Library. ]

Again in Mother Earth the artist portrays men and women, rooted to the earth and at the same time endowed with the transformational and unifying power of fire, expressed in The Earth Gods thus:

Behold, man and woman/ Flame to flame/ In white ecstasy// Roots that suck at the breast of purple earth/ Flame flowers at the breasts of the sky// And we are the purple breast/ And we are the enduring sky// Our soul, even the soul of life, your soul and mine/ Dwells this night in a throat enflamed/ And garments the body of a girl with beating waves// Your sceptre cannot sway this destiny/ Your weariness is but ambition// This and all is wiped away// In the passion of a man and a maid//

[ The Earth Gods, 31. ]

Dari rujukan ini dapat saya simpulkan, bahwa dalam karya-karya Gibran tidak ada dua bait yang menggabungkan enam kata kunci yang terdapat pada puisi yang dipolemikkan, sehingga dapat dipastikan bahwa TIDAK PERNAH ADA puisi berjudul Lafaz Cinta karya Khalil Gibran. Uji literasi membuktikan bahwa secara eksistensial, syair pada puisi di bawah ini adalah sah milik Sapardi Djoko Damono:

 

Aku Ingin

Oleh Sapardi Djoko Damono

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada 

***

Saya puas dengan hasilnya. Tentu saja, saya pribadi puas atas penelusuran dua hari ini. Hanya saja, masih ada yang sedikit mengganjal hati saya. Mengapa selama ini penyair Sapardi DD, tidak berusaha meralat sangkaan keliru orang-orang atas syairnya tersebut. Apakah beliau sengaja membiarkannya demikian, agar polemik menjadi ramai, atau beliau tak mau ikut-ikutan “capek” pada sesuatu yang tiba-tiba menjadi silang sengkarut.

Entahlah…yang pasti selamat buat beliau atas syair indahnya itu. ***

—————————

Catatan penulis:

*] Akumulasi rata-rata data yang berhasil diperoleh dari ketiga mesin pencari untuk literasi Gibran berkata kunci bahasa Inggris; Google [124.000], Yahoo [0], Bing [12.900]

**] Sedangkan akumulasi rata-rata data yang berhasil diperoleh dari ketiga mesin pencari untuk literasi Gibran+Sapardi berkata kunci bahasa Indonesia; Gibran : Google [955], Yahoo [17], Bing [5.440], dan Sapardi : Google [635], Yahoo [54], Bing [4.470]

***] Software dan fasilitas pemilah kata+kalimat pada file PDF dan e-book: Adobe Reader 9.2, dan PDF Word+Phrase Extractor 3.0 Beta 3

Gibran Kahlil Gibran (sumber foto: flickr)

 

Diskusi lengkap soal ini dapat dilihat pada Catatan Facebook Ilham Q. Moehiddin


%d blogger menyukai ini: