Tag Archives: Dahlmann

[Cerpen] Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia | Jawa Pos | Minggu, 10 Januari 2016

Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia

Oleh Ilham Q. Moehiddin

[Ilust] Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia3

Hari Pertama Setelah Malam Tahun Baru.

Orang-orang yang bekerja sejak malam tahun baru itu seperti tak lelah. Ketika subuh pertama beranjak, di hari pertama Januari, mereka setia melubangi tanah, mendirikan tiang, dan menggosok alas pualam di sebuah altar.

Sesuatu telah membuat orang-orang itu tergesa memersiapkan semuanya. Sesuatu peristiwa mendesak mereka, peristiwa yang diawali persis sepekan lalu, menyita perhatian warga Vastivia dan membuhul gunjingan di setiap kumpulan orang-orang, bahkan di pertemuan kelompok rajut. Aku mengumpulkan semua catatan mengenai peristiwa itu, untuk tetap membuatku ingat bahwa Vastivia pernah merekam sebuah pengkhianatan.

 

Sepekan Sebelum Malam Tahun Baru.

“Tangkap dia—sekarang!” Teriak Hakim Jaloz. Telapak tangannya menempel ke permukaan meja. Dua petugas Pengadilan yang diteriakinya berlompatan, tergesa-gesa melewati koridor yang langsung mengakses pintu menuju lobi utama Kantor Pengadilan Vastivia. Satu regu segera bergerak untuk melaksanakan perintah sang Hakim.

Di Vastivia, Hakim adalah orang kedua paling berkuasa menjalankan pemerintahan, setelah wali kota. Hukum tertinggi berada pada kolektifitas warga Vastivia.

Itulah mengapa ada plaza luas di tengah kota ini. Ada tribun berjenjang lima yang melingkar panjang mengelilingi plaza luas ini. Ada sebuah panggung besar berisi tiga meja di sisi Timur plaza. Juga sebuah panggung kecil, 2×2 meter luasnya, dan dua meter tingginya, di sisi berlawanan dari panggung besar, di sisi Barat plaza.

Plaza itu dikepung empat jalan yang membuatnya terasing jika terlihat dari udara. Viesneva memisahkan plaza itu dari kumpulan kantor pemerintah di sebelah Barat. Liesnabon, memotong plaza dari sarana perekonomi warga di sisi Utara. Ulasijan, mengiris plaza dari pusat studi dan kepustakaan di sisi Selatan. Ainnestock, meregresi plaza itu dari kawasan industri di sisi Timur. Lokasinya strategis, bukan? Posisi empat jalan itu memudahkan warga menuju plaza. Di akhir pekan, orang-orang akan datang menanak kesenangan di rerumputan hijau plaza itu, bersapaan, memuja keakraban di antara mereka, dan membiarkan kanak bermain.

Di plaza ini semua orang setara.

Mataku melihat dengan saksama kesibukan yang segera usai itu. Tepat di hari pertama tahun baru, di sisi Selatan plaza telah siap lubang dengan kedalaman dua meter. Di sampingnya, ada tiang lima meter berbentuk huruf “L” terbalik. Di sudut lain plaza, ada altar marmer berceruk busur selingkar leher orang dewasa.

Seorang bernama Zamboni telah dibawa paksa ke depan Hakim Jaloz. Sepekan lalu, satu regu beranggota enam orang telah menyatroni ruang kerjanya, mencokoknya ke hadapan Jaloz, di lantai dua Kantor Hakim Vastivia. Zamboni gemetar. Mata Hakim Jaloz seperti menyala-nyala saat itu. Air muka Zamboni dipenuhi kecemasan.

“Kau mengubah dokumen perbendaharaan kota!” Tajam Hakim Jaloz melemparkan tuduhan ke muka Zamboni.

Tak satu katapun keluar dari mulut Zamboni. Jaloz lebih menyeramkan ketimbang seorang Mestizo yang menantang Juan Dahlmann bertarung pisau di wilayah Selatan Argentina dalam cerpen Borges. Tak ada orang yang begitu yakin mengeluarkan perintah penangkapan pada pejabat kota—bahkan ketika si pejabat berada di ruang kerjanya..

“Jawab aku!” Teriak Jaloz. Sendi Zamboni seperti patah. Ia kini berdiri pada lututnya. “Aku—aku tak melakukannya,” sahut Zamboni ngeri. Nyalinya sudah lama pergi.

“Lalu siapa! Hantu!?” Jaloz memajukan kepalanya. Ujung hidungnya melampaui ujung meja. Suara Jaloz menjalar bagai api. Tapi Zamboni tak mengerti mengapa kemalangan hanya menimpa dirinya saja. Ia tiba-tiba jadi pesakitan di hadapan Jaloz. Padahal karirnya sedang menanjak saat ini.

Mengenai Zamboni—semula ia pegawai rendahan di Balai Kota Vastivia. Tugasnya mengumpulkan dan merestorasi dokumen kota, mengadas, kemudian menatanya di jejeran lemari ruang data. Ia membuat dua salinan untuk setiap dokumen yang dikadas, sebelum satu salinan ia kirim ke Kepustakaan Vastivia. Zamboni 15 tahun bertugas di balai kota, sebelum dipromosikan sebagai Kepala Biro Kependudukan Vastivia. Ia menikahi putri Imam Kuil Rastyan, perempuan tercantik distrik kecil Kastien di Tenggara Vastivia.

Barangkali, Zamboni menganggap diri orang termujur se-Vastivia dan orang-orang juga mengiranya begitu, sampai pada siang di mana satu grup petugas menggebah dan menghadapkannya ke Hakim Jaloz.

“Panggil Panitera!”

Leher Jaloz terangkat tinggi, meneriaki seorang petugas yang bergegas bicara ke interkom. Tak semenit, seorang lelaki tua datang tergopoh-gopoh. “Yang Mulia?—”

“Siapkan peradilan untuk orang ini!” Perintah Jaloz. Zamboni tersedak ludahnya sendiri. Panitera menyanggupi lalu berbalik pergi.

Jaloz memicingkan mata kepada Zamboni. “Kau—kau akan mendapatkan perhitungan. Kau harus membela dirimu sendiri. Aku akan memeriksamu, Zamboni. Kau harus hati-hati menjelaskan perkara ini di hadapan warga kota,” desisnya.

Zamboni langsung dijebloskan ke tahanan. Ia akan mendekam di situ menunggu peradilan atas dirinya. Ia tak boleh menelepon.

Wali kota Palyska menggerutu. Kabar sudah sampai ke mejanya, beberapa menit setelah penangkapan Zamboni. Petrova gugup saat bercerita tentang pendadakan terhadap lelaki itu. Muka sekretaris Palyska itu pias bagai kertas. Tubuhnya lunglai di sofa kantor wali kota.

“Apa yang diakui Zamboni?” Tanya Palyska

Petrova menggeleng pelan. “Tak ada—ia seperti kucing basah di hadapan Jaloz.”

Palyska menyeka keringat dingin yang tiba-tiba membanjiri lehernya. Hari masih pagi, ruangan itu berpendingin udara, tapi gerah menyergap tubuh Palyska. Ini ide Petrova—dan untuk jasa Zamboni, Petrova memberinya 10 juta hast serta merelakan tubuhnya dicumbui Zamboni di hotel paling mewah di Vastivia.

“Zamboni menerima apapun yang pantas ia terima,” kata Petrova. Ia mencoba menenangkan dirinya. Ia terus membayangkan bagaimana lelaki paling mujur di Vastivia itu membuncahkan segala gairah ke tubuhnya. Satu jam bersama Zamboni—dan Petrova tak menikmati apapun. Lima jam perempuan itu harus mandi untuk menangisinya.

 

Hari Pertama Setelah Malam Tahun Baru.

Usai kesibukan yang melelahkan di malam tahun baru itu, para pekerja bergiliran pulang. Kehadiran mereka segera digantikan ratusan warga kota yang langsung memenuhi tribun di plaza itu.

Orang-orang seketika hening. Tiga orang bertoga memasuki plaza dan naik ke panggung besar. Hakim Jaloz berjalan terburu-buru, mengamit ujung jubahnya agar tak terkena tanah. Wakil Hakim menyusul di belakangnya. Sang Panitera tampak terlalu kikuk untuk hadir di plaza ini. Orang-orang menertawakannya. Asin laut terbawa angin dari arah Timur plaza.

Jaloz menganggukkan kepala pada petugas pengadilan yang segera berteriak. “Warga Vastivia memanggil ke peradilan ini seorang lelaki bernama Zamboni yang diduga menggelapkan dokumen perbendaharaan Vastivia!”

Masuklah dua petugas mengawal Zamboni. Ia hampir tak sanggup berjalan sendiri dan harus dipapah untuk naik ke panggung kecil. Istrinya yang cantik dan dua putranya berdiri sedih di sudut tribun Utara.

“Baiklah, Zamboni—” Hakim Jaloz membuka peradilan. Wajahnya yang berminyak terlihat berkilat, “—kau harus membuktikan bahwa kau tak bersalah.”

Sebagai hakim, tugas Jaloz hanya memeriksa. Penentu hukuman di peradilan ini adalah warga Vastivia. Jika Zamboni tak bisa membuktikan dakwaan terhadapnya, maka warga Vastivia akan menentukan hukuman untuknya. Warga kota tiba-tiba riuh. Para Hakim menunggu dengan sabar sampai semua orang berhenti bersuara. “Zamboni—apakah kau menerima dakwaan?” Tanya Jaloz.

Zamboni tergugu. Kedua puteranya menyembunyikan wajah mereka ke perut ibunya.

“Tidak—” Zamboni memelas. Matanya diedarkan ke semua warga di tribun. Namun orang-orang mendelik padanya dengan kesumat kebencian, “—aku tak tahu bahwa angka-angka yang aku ubah itu adalah isi laporan kwartal perbendaharaan kota.”

Jaloz gusar. Zamboni memandang takut. Dagunya diangkat, perutnya bergejolak. Jaloz berusaha mengatasi kecemasan yang menyerangnya. “Jika kau diperintah—lalu siapa yang memerintahmu?” Teriak Jaloz.

“Petrova—sekretaris wali kota Vastivia!”

Warga tertegun. Mereka kemudian berbisik-bisik. Jaloz menyeka keringat di dahinya. “Hadapkan Petrova ke depan warga Vastivia!” pemerintahnya.

Petrova digiring turun dari tribun. Wajah perempuan itu pias bukan main. Tapi anggukan Hakim Jaloz membuatnya tenang. Ia tak menyangka Zamboni akan menyebut namanya. Ia dinaikkan ke panggung, bersisian dengan Zamboni.

“Petrova—” datar suara Hakim Jaloz, “—apa pembelaanmu?”

“Aku tak melakukannya—”

Plak!

Telapak kanan Zamboni mendarat di pipi Petrova. Perempuan itu kaget setengah mati. Darahnya mengalir cepat. Wajahnya panas, harga dirinya jatuh. “Kau—kau berbohong Petrova!” Zamboni menunjuk muka perempuan itu. “Kau menyogokku dengan tubuhmu dan uang 10 juta hast agar aku tak bicara pada siapapun!”

Orang-orang terkejut—termasuk istri Zamboni. Perempuan cantik itu buru-buru membekap mulutnya sendiri. Ia sukar memercayai apa yang baru diucapkan suaminya. Amarah warga Vastivia sukar ditahan lagi. Benda-benda beterbangan ke panggung kecil di mana Zamboni dan Petrova berdiri. Petrova menutup hidungnya—sebuah benda membuat hidungnya berdarah.

Dengan suara sengau dan telunjuk yang mengacung ke udara, perempuan itu bicara, “—Palyska juga terlibat perkara ini!” Petrova menyahuti warga dengan keras.

Tangan-tangan yang hendak melayangkan benda ke panggung, tiba-tiba terhenti. Mata mereka kini tertuju pada Palyska yang sedang duduk di tribun utama.

Hakim Jaloz menghela napas berat. “Hadapkan Palyska ke depan warga Vastivia!” Teriaknya. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali menghadirkan orang-orang itu.

Palyska segera turun dan dikawal naik ke panggung, bersisian bersama Zamboni dan Petrova. Seharusnya Jaloz segera meminta Palyska membela dirinya atas tudingan Petrova. Jaloz hanya menyandarkan punggungnya saat orang-orang menuding ke arah mereka bertiga. Palyska mengedarkan matanya ke tribun. Ada anak perempuannya duduk di antara warga.

“Semua akhirnya terbuka. Aku tak mengira akan secepat ini,” lelaki itu mendelik pada Petrova di sisi kirinya. Perempuan itu sibuk menyeka darah dari hidungnya.

“Seusai jam kantor, kami ke Paterna Uljibeer untuk beberapa gelas bir dingin. Tiba-tiba Petrova bercerita tentang keanehan laporan kwartalan perbendaharaan kota. Dokumen itu harus diperbaiki, katanya—dan aku setuju. Auditor akan datang dua hari berselang—” ujar Palyska. Ia meneruskan ceritanya.

Mereka kemudian mencari orang yang tepat untuk memerbaiki dokumen dan Petrova menyebut nama Zamboni. Menurut Petrova, lelaki itu berpengalaman 15 tahun bekerja di balai kota. Petrova menemui Zamboni untuk membicarakan hal itu.

Seorang perempuan berdiri dan membuat Palyska berhenti bicara. “Mengapa tak kau biarkan auditor memeriksa dan menemukan kekeliruan itu?” Tanyanya.

“Benar—” Palyska menegakkan punggungnya, “—cukup sederhana, bukan? Membiarkan auditor menemukan keanehan itu dan menghancurkan kredibilitasku sebagai wali kota Vastivia.” Palyska menggeleng. “Tentu saja tidak. Sebab itulah kubiarkan Petrova menyelesaikan sisanya.”

Palyska kagum pada hasil kerja Zamboni. Tapi auditor tak mau kompromi. Secara teknis dokumen itu benar, tapi kebocoran tetaplah kebocoran. Hilangnya sejumlah uang dari perbendaharaan kota tak bisa dianggap tak pernah terjadi. Auditor membuat aduan ke pengadilan.

Orang-orang berteriak gusar. Dari arah tribun terdengar teriakan, “hukum mati mereka!” Teriakannya memicu kegaduhan warga lainnya. Telunjuk mereka menuding ketiga orang di panggung kecil itu. Jaloz siap mengetuk palu, mengesahkan vonis warga untuk ketiganya.

Petrova panik. Keadaan itu di luar dugaannya. Perempuan itu melompat turun dari panggung, tersungkur keras dengan wajah mencium tanah. Cemong darah bercampur tanah memenuhi hidung dan mulutnya. Perempuan itu langsung bangun dan lari menuju panggung besar. “Tembak dia—tembak!” Teriak Jaloz.

Tapi tak ada yang mencegah Petrova. Tak ada suara letusan. Gadis itu tegak di depan panggung besar. “Hukum dia juga—” Petrova menuding muka Hakim Jaloz, “—dia tak menyelesaikan pekerjaan yang didanai pajak warga Vastivia. Ia menyuapku agar membujuk wali kota dan Zamboni—tapi ia bahkan tak berusaha menolongku di hadapan kalian,” Petrova mendaku dalam isak tangisnya.

Warga Vastivia diam tak bergerak. Pengakuan Petrova seperti pecut yang dilecutkan ke telinga mereka. Wakil Hakim tiba-tiba memerintahkan penangkapan dan enam petugas sudah mengepung Jaloz.

 

Hari Kedua Setelah Malam Tahun Baru.

Angin laut yang kering berhembus dari Selatan Vastivia di hari kedua tahun baru. Kota itu baru saja mengakhiri riwayat empat pelaku korupsi. Angin yang meniup tubuh Zamboni yang mengayun pelan di tiang gantungan, menyapukan debu ke wajah Petrova yang ditanam sebatas leher di liang dua meter, mengirim bau anyir darah dari kepala Palyska yang menggelinding dekat altar marmer. Angin yang mengeringkan tubuh Jaloz yang teronggok di sudut panggung besar. Di toganya ada liang menganga, bekas tikaman belati Panitera yang ikut mengepungnya. (*)

 

Molenvliet, Desember 2015

Cerpen ini berhutang gagasan dari filsafat negara Thomas Hobbes.

Iklan

[Pertala] Mestizo | Jorge Luis Borges

Mestizo

Oleh Jorge Luis Borges

(Dipertalakan oleh Ilham Q. Moehiddin)

 

Sur

JOHANNES Dahlmann seorang pendeta Gereja Evangelica Jerman yang datang ke Buenos Aires pada tahun 1871. Tapi Juan Dahlmann —seorang cucunya yang kini bekerja di perpustakaan kota— lebih suka menganggap dirinya orang Argentina. Juan menyukai semua hal tentang Argentina dan Francisco Flores —ayah dari ibunya. Flores seorang prajurit Infanteri Divisi Ke-II Argentina. Sayang sekali, Flores tewas tertombak seorang Indian dari Catriel, saat pasukannya melerai perselisihan antara dua suku yang berseteru di perbatasan Buenos Aires. Juan kini mengenang Flores pada litograf pria berjenggot, pada pedangnya, kotak musik, buku puisi Martin Fierro, dan kenangan masa kecilnya di rumah besar bercat merah milik kakeknya yang sudah ia warisi itu. Tapi pekerjaan —dan juga kemalasannya— membuatnya menelantarkan peternakan itu.

Sampai ia terbangun di suatu pagi dan mendapati hidupnya berantakan.

**

Kadang takdir bisa secara kejam mengubah nasib seseorang. Juan begitu senang saat berhasil memperoleh salinan terbatas buku Seribu Satu Malam. Tapi saat terburu-buru naik ke apartemennya, sesuatu telah membentur wajahnya dan meninggalkan luka di dahinya.

Luka itu membuatnya demam esok harinya. Suhu tubuhnya meninggi, membuatnya merasa seperti dalam neraka. Selama sepekan kondisinya tak kunjung membaik, sehingga dokter yang kerap merawatnya harus memeriksanya lebih teliti di sebuah sanatorium. Para perawat melepas bajunya, membaringkannya di ranjang kecil dan menyinari tubuhnya dengan X-ray. Mereka juga memantau jantungnya dengan sebuah alat. Obat yang disuntikkan seorang perawat segera membuatnya pingsan.

Juan tersadar dengan perasaan mual dan lemas. Kondisinya cukup serius sehingga dokter mengharuskannya dirawat-inap. Di sebuah kamar khususnya, ia menjalani hari-hari berat dalam berbagai upaya penyembuhan. Ia menerima semua upaya menyakitkan itu hingga merasa hampir gila. Saat pemeriksaannya rampung, dokter justru mengabarkan sesuatu yang membuat perasaannya hancur: ia mengidap keracunan darah.

Itu vonis kematian baginya. Juan membenci dirinya sendiri, merasa terhina dengan semua alat yang melekat di tubuhnya, jenggot meranggas di wajahnya yang tak terurus. Kelelahan fisik dari upaya penyembuhan itu tidak memungkinkan baginya memikirkan sesuatu tentang kematian.

Akhirnya dokter menghentikan pengobatan dan menyarankan Juan memulihkan diri di suatu tempat yang ia sukai. Saat itulah Juan teringat pada peternakan miliknya. Ia ingin memulihkan diri di sana sembari bersiap untuk hal terburuk karena penyakitnya.

Kenyamanan adalah realitas yang simetris dan anakronis: Juan datang ke sanatorium diantar seorang dokter dan dokter itu pula yang kini menemaninya ke stasiun Constitucion.

Juan menghirup kesegaran udara di hari terakhir musim gugur sepuas hatinya. Ia telah melalui pertarungan yang melelahkan di ruang perawatan. Buenos Aires di jam tujuh pagi, selalu mengendapkan sedikit embun yang disisakan malam. Ia tentu saja mengenali kota yang jangat ini: sudut-sudutnya, papan reklame, dan kesederhanaan Buenos Aires dalam cahaya matahari pagi.

Setiap orang Argentina tahu persis bahwa batas kota ke arah Selatan adalah gerbang masuk ke sisi lain Rivadavia. Itu tidak sekadar pernyataan. Siapapun yang melintasi batas kota ini akan segera memasuki dunia yang kuno dan keras. Dunia yang menyuguhkan lansekap luas dan berdebu, gedung-gedung tua, jendela berjeruji, pengetuk pintu dari kuningan, dan gerbang lengkung bergaya klasik.

Juan masih punya waktu 30 menit sebelum kereta api yang akan ia tumpangi meninggalkan stasiun. Ia menuju ke sebuah kafe di sayap stasiun di mana pemiliknya meletakkan seekor kucing dalam kaca. Ya. Kucing itu masih di tempatnya. Ia memesan secangkir kopi, perlahan mengaduk gula sebelum menyesapnya —kenikmatan yang tidak bisa ia dapatkan di sanatorium.

**

Kereta api masih mendesis di peron menanti sisa waktu keberangkatannya. Juan bergegas naik dan mendapatkan sebuah kursi kosong. Ia susun tasnya di rak-jaring. Saat kereta api mulai bergerak, ia turunkan kembali kopernya dan mengeluarkan buku. Ia pikir baik mengisi waktu di perjalanan ini dengan membaca buku Seribu Satu Malam, yang di banyak bagiannya seperti menceritakan kisah hidupnya.

Dari jendela kereta api, tampak Buenos Aires berlari menjauh. Matanya kemudian menangkap lansekap lain di pinggiran kota. Banyak keindahan lain yang kemudian ia saksikan: taman-taman indah dan villa-villa yang menawan. Ia harus menunda bacaannya, kisah Scherezade teralihkan oleh kegembiraan yang lain. Juan menutup buku, membiarkan dirinya menikmati suasana di luar kereta. Saat makan siang, kaldu yang disajikan dalam mangkuk logam, berhasil mengembalikan banyak ingatan masa kecilnya di setiap musim panas. Ia tersenyum. Baginya, perjalanan ini sungguh menyenangkan dan membuatnya merasa seperti dua orang berbeda di waktu yang sama: seorang yang sedang melakukan perjalanan di musim gugur, dan seorang lain yang terkurung di sanatorium.

Besok ia akan bangun pagi di peternakan —pikirnya. Lewat jendela kereta, matanya menangkap hal-hal yang sepertinya tak akan pernah berubah; rumah miring berdinding bata, penunggang kuda di jalanan tanah, selokan irigasi, sungai dan awan besar yang dibiasi cahaya sehingga tampak mirip marmer. Mendapati kembali hal-hal seperti itu membuat Juan seperti berada di dunia imajiner.

Beberapa kali Juan tertidur di sisi jendela dan memimpikan hal-hal yang berhubungan dengan yang ia lihat di sepanjang berjalanan siang ini. Saat ia terbangun, sudut matahari sudah berubah. Langit menyisakan cahaya terang yang kerap mendahului datangnya malam, cahaya yang perlahan berubah menjadi merah.

Warna lansekap di luar kereta api sudah berubah sepenuhnya. Di luar membentang bayangan hitam tak terbatas yang tampak bergerak menuju cakrawala. Sebuah kontradiksi dari Buenos Aires yang dipenuhi pemukiman dan hal lain yang dibuat manusia. Kesunyian yang sempurna dalam kenyataan yang berseberangan. Ini tak sekadar perjalanan pulang, tapi benar-benar seperti perjalanan ke masa lalu.

Lewat kondektur kereta api yang memeriksa tiket, Juan mendengar informasi bahwa sedikit kerusakan akan membuat kereta api ini berhenti di stasiun kecil, di luar stasiun reguler yang seharusnya. Pria itu juga menjelaskan hal teknis yang tidak ia pahami.

Kereta api dengan susah payah akhirnya berhenti. Kereta ini akan menjalani sedikit perbaikan sebelum melanjutkan perjalanannya esok hari. Tidak banyak bangunan di dekat stasiun kecil ini. Kecuali penginapan yang bisa ditemukan sekitar sepuluh blok jauhnya, maka yang tampak hanya beberapa istal penitipan kuda, gudang kargo dan sebuah rumah bercat merah. Matahari masih menyisakan sedikit bias keemasan yang menyembul dari balik perbukitan, sebelum gelap malam benar-benar menelannya.

**

Juan memang menganggap perjalanan pulang ini adalah petualangan kecil ke masa lalu. Ia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan menikmati suasana malam di pedesaan seperti ini hanya karena sedikit rasa lelah. Ia berjalan pelan, menghirup aroma semanggi dari tanah dengan penuh suka-cita.

Rupanya rumah bercat merah itu sebuah kedai. Desain rumah itu tampak kuno dengan baja berukir yang menghiasi strukturnya —mungkin ini satu-satunya yang tersisa dari gaya arsitektur klasik Paul et-Virginie. Beberapa ekor kuda ditambatkan di pagar depan kedai. Juan memutuskan makan malam di kedai itu saja. Saat masuk, ia sempat tertipu kemiripan pria pemilik kedai itu dengan salah seorang perawat di sanatorium. Ia sebut namanya dan pemilik kedai menemaninya ke sebuah meja dan berjanji segera mengantarkan pesanannya. Ia tidak begitu tertarik pada beberapa gaucho yang sedang minum di beberapa meja. Ia pernah berbicara dengan seorang gaucho di Entre Rios, dan cukup aneh menemukannya berada di luar wilayah Selatan.

Juan duduk sambil mengenang waktu yang ia lewati. Waktu yang telah membentuk dirinya seperti tetesan air pada batu. Ia telah merasakan kesepian, kemiskinan, diremehkan, dan ia mampu beradaptasi dengan cepat. Ia menandai keberhasilannya dengan ponco tebal, chiripa panjang, dan sepatu boot terbaik. Juan memilih meja dekat jendela, agar ia bisa memandang kegelapan yang membungkus suasana di luar sana, mengendus aroma alami yang diterbangkan angin ke kisi-kisi jendela.

Pemilik kedai mengantarkan pesanannya —sarden dan sepotong daging panggang. Juan menuntaskan makan malamnya dengan menikmati anggur merah seraya merayapi semua bagian kedai dengan matanya. Ada lampu minyak tanah yang tertempel di dinding, di seberang meja bar, ada seseorang yang menikmati minumannya tanpa melepaskan topi. Tiba-tiba, Juan merasakan sesuatu yang ringan menyapu sisi wajahnya. Di dekat gelas anggurnya, tampak segumpal remah roti yang sepertinya sengaja dilemparkan seseorang ke arahnya.

Juan tidak mengubrisnya. Tubuhnya masih lemah setelah masa penyembuhan dan ia tak suka cari masalah. Ia buka buku dan berniat melanjutkan bacaannya. Namun, remah roti lain mendarat lagi di mejanya dan kali ini disambut tawa beberapa gaucho. Ia tak ingin diremehkan orang lain, tetapi kesalahan besar membiarkan para gaucho bertingkah seperti itu. Darah Argentina di tubuhnya mendidih. Ia sudah berdiri saat pemilik kedai datang dan bicara dengan suara memohon. “Tuan Dahlmann, mohon jangan hiraukan mereka.”

Juan merasa kata-kata yang menenangkan justru hanya akan memperburuk situasi. Seringkali, provokasi para gaucho sengaja diarahkan pada orang-orang yang tidak mereka kenal, tapi terhadap orang tertentu, mereka tidak suka mengambil resiko. Sekarang, mereka sedang meremehkan dirinya, berteriak menghinanya dengan sebutan mestizo di depan banyak orang. Ia menahan tubuh pemilik kedai dan maju menghadapi para gaucho. Ia ingin tahu apa yang mereka inginkan darinya.

Penghinaan adalah cara yang efektif untuk segera membesarkan masalah. Di antara para gaucho, seseorang yang sedang mempermainkan pisau memandang tajam ke arahnya. Orang itu jelas menantangnya untuk bertarung. Pemilik kedai protes sambil menunjukkan bahwa Juan tidak bersenjata.

Tapi dari sudut ruangan, seorang gaucho tua melemparkan belati miliknya ke kaki Juan. Gaucho tua seolah telah memutuskan bahwa ia harus menerima tantangan duel itu. Juan tahu, pisau itu tidak sekadar benda yang akan ia gunakan membela diri, tetapi benda yang akan membenarkan pembunuhan atas dirinya.

Juan membungkuk meraih belati di lantai.

“Ayo kita selesaikan, Mestizo!” kata gaucho yang menantangnya.

Juan tersenyum. Penyakitnya akan segera mengundang kematian datang lebih cepat. Gaucho itu tidak membuatnya takut sama sekali. Ia tidak pulang ke Selatan hanya untuk kembali menunggu kematiannya di ranjang sanatorium. Inilah makna perjalanannya. Ya. Ia sudah pulang. Ia sudah berada di rumah sekarang.

Lelaki yang telah menganggap dirinya seorang Argentina itu berjalan ke depan kedai seraya menggenggam erat pisaunya —benda yang sama sekali tak bisa ia gunakan. (*)

 

Catatan :

– Gaucho = buruh kasar; petani tradisional; penghuni wilayah selatan Argentina.

– Mestizo = olok-olok bagi orang keturunan Eropa-Indian.

 

Jorge Luis Borges adalah seorang penulis cerpen, esais, penyair dan penerjemah dari Argentina dan tokoh penting dalam sastra Spanyol. Cerpen ini seolah menceritakan kehidupan Borges: bekerja di perpustakaan, dan di tahun baru 1939, ia menderita luka berat di kepala dan hampir meninggal karena keracunan darah. Cerpen ini berjudul asli El Sur (1953) yang dialih-bahasakan oleh Ilham Q. Moehiddin dari terjemahan berbahasa Inggris Anthony Bonner, The South (1962).


%d blogger menyukai ini: