Tag Archives: cinta

[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Kompas 2015

Cover Kompas5b-depan

Download: klik link di bawah ini

 @E-BOOK KUMCER KOMPAS 2015

Tujuan pengarsipan dan dokumentasi 52 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. Penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah drastis fisik atau karateristik material, dan modifikasi material dalam skala yang dapat ditoleransi. Semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media di mana karya yang bersangkutan diterbitkan pertama kali. Dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta (penulis) dan media yang menerbitkan subyek karya pertama kali.

Iklan

[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Jawa Pos 2015

Cover JP 2015e2

Download: klik link di bawah ini

eBOOK KUMCER JAWA POS 2015

tujuan pengarsipan dan dokumentasi cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah fisik atau karateristik material, dan penambahan dalam skala yang dapat ditoleransi. semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media dimana karya yang bersangkutan dipublis pertama kali. dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta dan media yang mempublikasi subyek karya pertama kali.


[Buku Baru] 4 Musim Cinta | Novel | Pringadi Abdi Surya

4 Musim Cinta

4 Musim Cinta

(sebuah novel)

Terbit 13 Maret 2015 !

 

Apa kau percaya jika satu hati hanya diciptakan untuk satu cinta? Barangkali beruntung orang-orang yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidupnya. Tetapi aku yakin, lebih beruntung mereka yang sanggup menghabiskan hidupnya dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya.

4 Musim Cinta adalah sebuah novel yang bertutur tentang lika-liku kehidupan cinta empat birokrat muda: satu wanita, tiga pria. Gayatri, wanita Bali yang merasa berbeda dengan wanita-wanita pada umumnya. Gafur, pria Makassar yang menjalin kasih dengan seorang barista asal Sunda yang enggan menikah. Pring, pria Palembang yang nikah muda tetapi harus terpisah jauh dari istrinya karena tugas negara. Arga, pria Jawa yang selalu gagal menjalin hubungan dengan wanita. Mereka bertemu dan saling berbagi rahasia. Tak disangka, setiap rahasia kemudian menjadi benih-benih rindu yang terlarang. Persahabatan, cinta, dan kesetiaan pun dipertaruhkan.

 

4 Musim Cinta (sebuah novel)

Penulis: Mandewi Gafur Puguh Pringadi (a.k.a Pringadi Abdi Surya)

Penerbit: Exchange

ISBN: 978-602-72024-2-9

Spek Buku: 333 hlm. | 14 x 21 cm | SC | Bookpaper

Harga: Rp 59.500,-

Email: fiksiexchange@gmail.com

Website: http://www.kaurama.com

 

“Inspiratif! Menggetarkan! Menghanyutkan! Tak kusangka bisa lahir sebuah karya hebat dari tangan para abdi negara.”

—Ahmad Fuadi, pengarang Trilogi Negeri 5 Menara.

“Ada banyak hikmah dalam novel ini. Tak hanya melulu soal cinta. Selain menyajikan suka-duka kehidupan para pegawai negara, buku ini pun bisa menjadi sebuah kritik tentang bagaimana mengatur negara seharusnya.”

—Marwanto Harjowiryono, Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu RI.

“Novel ini menggambarkan kesenyawaan ragam cerita, pengalaman dan harapan yang berjejal dan lalu-lalang di layar kehidupan para pegawai negara. Sebuah upaya yang ambisius!”

—Ahmad Nurholis, inisiator penulisan 4 Musim Cinta.

“Sensasi membaca novel ini mirip ketika aku mendengarkan deep house music. Di setiap keluk dan tikungan kisahnya menyajikan kejutan atau ungkapan yang tidak bikin bosan.”

—Victor Delvy Tutupary, kandidat doktor filsafat.


[Cerpen] Makam di Bawah Jendela | Jawa Pos| Minggu, 10 Agustus 2014

Makam di Bawah Jendela

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Ilust_Makam di Bawah Jendela_Jawa Pos

MURAJ membuat Damha ketakutan dan hampir mati tersedak lidahnya sendiri. Begitulah awalnya. Entah bagaimana Muraj memilih seorang lelaki serapuh Damha, lelaki yang selalu mengira tak memiliki nyali dan merasa telah ditinggalkan siapa pun.

Apa yang diinginkan Muraj dari lelaki yang 25 tahun hidupnya disita derita itu. Kematian demi kematian mengelilinginya. Ayahnya mati sebelum ia sempat dilahirkan, lalu ibunya menyusul mati tiga bulan setelah ia lahir. Ia disusui seorang wanita paruh-baya yang juga baru saja mati tiga tahun lalu. Dua adiknya, mati sekaligus dalam kecelakaan lalu-lintas.

**

Muraj memberi Damha perintah untuk ia patuhi. Perintah yang bagai selubung besar membungkus tubuhnya, seolah memerah seluruh darah di tubuhnya. Damha terintimidasi oleh sebuah perintah sederhana.

Ya. Perintah sederhana yang mendentam di kepalanya serupa palu pada lonceng.

“Katakanlah,” bisik Muraj.

Tetapi Damha tak sedikit pun memahami keinginan Muraj. Lelaki itu terdiam mematung, sehingga Muraj harus menumpahkan ampas kopi ke atas meja kerjanya. Muraj mengacak-acak ampas kopi itu dengan kaki-kaki kecilnya.

“Makhluk apa kau ini?!” Desis Damha pada sosok di depannya itu.

“Aku Muraj.”Jawab sosok itu seraya mengirik seperti hantu kecil yang kerap bergelayut di punggung setiap orang alim dan berusaha menikamkan godaan ke hati lewat telinga mereka. Muraj mendekut serupa setan Morou yang senantiasa menunggui orang-orang agar tak terjaga dari tidur mereka saat subuh.

“Katakanlah!” Muraj memerintah Damha sekali lagi. Ia ingin agar Damha menurutinya. Perintah yang membuat lelaki itu nyaris menelan lidahnya sendiri karena ketakutan.

Muraj melompat ke atas mesin tik, menghentak-hentakkan kakinya, membuat pita karbon di mesin itu kusut-masai. Makhluk itu tampaknya tak peduli pada ketakutan lelaki di depannya. “Apa akan kau habiskan ubi ini?” Muraj justru menunjuk dua potong ubi rebus dalam piring porselein di meja Damha.

Belum sempat Damha menggeleng, Muraj menyambar dua potong ubi itu, lalu menghabiskannya dalam sekali telan. Makhluk itu lalu bersandar pada penyangga buku, menggesekan tubuh seperti seekor kucing yang gatal, sebelum menarik penyangga itu dan membuat buku-buku roboh. Ia cekit lembaran-lembaran buku sehingga robek dan melemparkannya ke lantai.

“Jangan…jangan lakukan itu,” Damha memelas.

“Memohonlah padaku!” Desis Muraj. “Kau bahkan tak berani melakukannya, bukan?” Ejeknya.

Damha menggeleng. Sendi-sendinya lunglai, belulangnya seperti karet. Wajahnya kebas. “Aku tak akan melakukannya padamu. Kau hanya seorang makhluk, bukan Tuhannya Musa, Isa dan Muhammad.”

Muraj mengirik. Sayapnya mengepak, lalu ia hingga ke dada Damha. “Jangan menguji kesabaranku! Kau tak pantas menyebut zat yang tidak kau kenali,” ujarnya marah.

Damha terlanga. Jemarinya lengket dan dadanya seperti ditekan sesuatu yang berat. Ia mengatupkan mata, berharap saat membukanya kembali, apa yang kini terjadi di depannya ini hanyalah mimpi belaka.

“Petang yang celaka, wahai jahanam!” Rutuk Damha ketika membuka mata dan masih menemukan Muraj di atas dadanya. Ia terperangkap bersama makhluk itu dalam situasi yang aneh. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali cemas dan mengasihani dirinya sendiri. Ia berharap ada Marya di balik pintu dan segera menariknya keluar dari kamar ini. Tapi itu tak akan terjadi. Baru dua jam lalu Marya berlari pergi dari kamar ini. Ia marah karena Damha tak sengaja menyenggol dadanya.

Kebetulan yang luar biasa, bukan?

Muraj datang saat Marya tak bersamanya. Saat tak ada orang lain yang ia harap bisa menolongnya. Perut Damha berkecamuk, seperti gemuruh laut yang membadaikan petaka.

Hoeeek… Damha muntah. Ia keluarkan sepotong ubi yang belum ia cerna baik-baik.

**

Mengenai Muraj, sosok aneh yang mendatanginya itu, lebih serupa burung kecil dengan bulu halus berwarna kuning. Saat Muraj bicara, dari punggungnya merentang sayap berwarna pelangi. Tetapi Muraj tak menemui Damha sebagaimana cara setan Morou muncul dari bawah ranjang. Sosok kecil itu masuk lewat jendela yang terbuka, lalu semena-mena mengintimidasinya.

“Krrr….” Muraj mengirik pendek. ”Katakanlah!” Ia mengulangi lagi perintahnya.

“Apa?” Damha susah-payah melawan teror di dadanya.

“Katakanlah atas nama Tuhan!”

“Tuhan yang mana? Siapa?”

“Tuhan yang menciptakan dan meniupkan cinta!”

“Aku tidak bisa mengatakan apapun? Aku bukan penyair!”

“Tetapi kau seorang pecinta,” Muraj tersenyum. “Katakanlah!” Suara Muraj tiba-tiba meninggi lagi, membuat telinga Damha berdenging. Lelaki itu benar-benar kepayahan.

“Katakanlah Tuhan dalam cinta!” Muraj terus memerintahnya.

“Tapi aku juga bukan pecinta!” Damha keras kepala.

“Ulangi kata-kataku!” Muraj tak perduli, “oh, Tuhanku yang penuh cinta.”

“Oh, Tuhanku yang penuh cinta!” Damha menyerah.

Muraj segera menyambung, “Aku akan mematuhi Engkau dalam cinta!”

Tetapi Damha terdiam. Kepatuhan? “Kepatuhan pada siapa?” Tanya Damha.

Muraj merentangkan sayap kecil yang pelangi itu. Matanya memancarkan cahaya merah. “Ulangi saja kata-kataku!” Teriaknya.

Telinga Dahma berdentang. Ia mengeriap. “Patuh padamu, atau pada Tuhan?”

Muraj mendengus. “Kau pikirkan itu sampai aku datang lagi!” Serunya dan buru-buru melesat terbang lewat jendela.

**

Marya mengizinkan Damha menemuinya dekat air mancur di alun-alun kota. Gadis itu merengut saat Damha berjalan ke arahnya, lalu tanpa basa-basi ia meninju perut lelaki itu.

“Aku tak bermaksud membuatmu malu,” Damha meringis memegangi perutnya.

Gadis itu tak menyahut. Ia rogoh sakunya dan menjentikkan sebuah koin tembaga 25 sen ke dalam kolam air mancur. Di dasar kolam, koin-koin berkilat lembut terpapar cahaya. “Mohonlah sesuatu, Damha,” pinta Marya.

“Memohon untuk apa?” Damha balik bertanya.

Marya tersenyum. “Berdoalah. Mintalah sesuatu.”

Damha mengusap wajahnya. Ia memilih duduk. “Itu tak penting sekarang ini.”

Marya memutar tubuhnya. Ia kaget. “Kenapa tak penting? Kau tak suka berdoa?”

“Sesuatu telah mendatangiku,” nada suara Damha membuat Marya cemas

“Siapa?” Gadis itu langsung merespon lelaki di sisinya.

“Muraj,” Damha berharap Marya tak menyangkanya sudah gila, “ia sosok yang menghantui kamarku.”

“Kau gila, Damha! Di saat bersamaku pun, kau lebih suka bicara tentang hantu.”

Damha menyerah. Gadis itu baru saja membenarkan kegilaannya.

“Tapi, hantu itu bicara tentang Tuhan.”

Mulut Marya terbuka dan ia membungkuk memegangi perutnya. Lelaki di sisinya itu berhasil membuatnya terbahak. Marya mengibaskan kepala, matanya menyorot tajam. “Jadi Muraj ini sejenis hantu yang alim?”

Dahma tiba-tiba merasa canggung dengan pembicaraan ini. “Sudahlah. Aku tak mau membahasnya lagi.”

“Jangan merajuk begitu,” kelucuan di wajah gadis belum usai. “Aku percaya padamu. Ia memang hantu, dan ia datang setelah kau menyentuh dadaku.”

Damha benar-benar menyerah dengan sindiran Marya, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Marya adalah satu-satunya orang yang masih mau bicara padanya. Orang-orang menghindarinya karena menyangka ia dikelilingi maut. Marya tak peduli pada dugaan orang-orang. Ia menyukai Damha, walau lelaki di depannya itu tak pernah menyadarinya.

Mereka bergeser, memberi ruang pada orang-orang yang datang melemparkan koin ke dalam kolam seraya memohon sesuatu dalam doa.

“Baiklah. Maafkan aku. Tapi kau harus tahu bahwa selera humormu buruk sekali.” Marya mengalah. “Sampai di mana kita tadi? Oh ya, soal hantu yang mendatangimu.”

“Entahlah. Ia bicara tentang cinta dan Tuhan. Aku tak tahu maksudnya.” Damha bangkit, menepis debu dari belakang celananya. “Hantu itu akan menemuiku lagi. Aku pikir, akan lebih baik kau bersamaku saat ia datang nanti.”

Seingat Marya, banyak kitab yang juga menjelaskan tentang malaikat yang membangkangi perintah menyambah manusia karena kesetiaannya pada Tuhan, sebagaimana yang diingat Marya dari kisah yang diceritakan neneknya yang alim: tentang manusia dan malaikat pembangkang.

“Kata nenekku, malaikat mengikuti tujuan penciptaannya; hanya setia menyembah Tuhan saja. Ia menolak menyembah selain Tuhan. Oh, Nenek, betapa aku merindukanmu.” Marya mengulangi apa yang dulu dikisahkan oleh neneknya.

Kisah purba yang belum selesai, kata neneknya yang alim itu. Kisah yang hanya akan selesai apabila malaikat itu bersedia berdamai dengan manusia untuk membayar pembangkangannya pada Tuhan.

Andai neneknya masih hidup, Marya ingin menanyainya beberapa hal; siapa nama malaikat yang membangkang itu? Benarkah ia dihukum menjadi hantu? Itukah harga yang harus ia bayar untuk kepatuhannya? Adakah kepatuhan itu sebuah pembangkangan?

**

Muraj mendarat keras di lantai kamar Damha. Makhluk itu tampak payah. Sebelah sayapnya membentang lunglai, sebelah lagi tertutupi darah kering. “Inikah hantu yang kau bicarakan itu?” Bisik Marya ke telinga Damha.

Damha mengangguk. “Ya. Dialah Muraj.”

Tapi Marya tak perduli siapapun namanya. “Kenapa sayapnya berdarah?”

Damha berlutut dan mendapati Muraj yang bergeming lemah. Makhluk itu bernafas nyaris senyap. Marya teringat lagi pada kisah neneknya.

“Ia sepertinya tak bernafas lagi.” Damha membalikkan tubuh Muraj agar terlentang.

Marya merengut. “Ini burung, Damha. Bukan hantu. Tak ada burung yang bisa bicara. Kau berhalusinasi, dan bodohnya aku memercayaimu!” Rutuk Marya berdiri dari jongkoknya.

Muraj membuka matanya. “Marya. Aku bukan malaikat pembangkang. Malaikat yang membangkangi Tuhan karena kepatuhannya yang nenekmu maksud dalam ceritanya itu adalah malaikat yang kini kerap menghalau dirimu mematuhi Tuhan. Ia tidak menyukai cinta.”

Marya gelagapan. Mulutnya tiba-tiba terkunci.

“Cinta,” Muraj mengirik pada Damha, ”aku harus menuntaskan urusanku, Damha. Ingatlah selalu pada Cinta, kata pertama yang diajarkan Tuhan pada manusia. Cinta. Katakanlah, bahwa Tuhanmu menciptakan cinta. Cintailah setiap makhluk Tuhanmu.”

“Sudah kukatakanaku bukan pecinta. Aku tak pernah melihat wajah ayah dan ibuku,” Dahma tertunduk, “bagaimana mungkin aku mencintai orang-orang yang tak pernah aku temui?”

“Jangan cemas, Damha. Bukankah kau mencintai Tuhan, sedang kau tak pernah melihat-Nya? Aku tahu, kau kelak bisa mencintai dua orangtuamu. Bersabarlah, Damha. Kita akan bertemu lagi,” napas Muraj kian tipis, matanya mengerjap lemah. “Oya, Marya,” sapa Muraj, “nenekmu menitipkan salam dan rindunya untukmu.”

Muraj tersenyum pada Marya dan perlahan mengatupkan mata. Tak ia buka lagi dan benar-benar pergi.

Mengenai luka di tubuh Muraj, luka yang membuat Muraj menemui kematiannya itu adalah luka peluru senapan. Muraj tertembak penembak jitu saat ia melintasi kota yang dikepung huru-hara, saat orang-orang begitu bernafsu membunuh cinta. Mereka membakar, menjarah, membunuh, dan memerkosa. Walau tertembak, ia tetap datang memenuhi janjinya.

Damha dan Marya memakamkan Muraj di bawah jendela. (*)

Molenvliet, Januari 2014

Twitter: @IlhamQM

 

* Cerpen ini didedikasikan untuk Hanna Fransisca.


[Puisi] Ibu Rebah di Rumah Bambu

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

 

Kau tahu darimana aku ada

Aku terlahir dari dentuman cinta

Dentuman yang merubuhkan rumah kakekku

 

Kau tahu darimana aku datang

Aku muncul dari haluan yang hilang

Haluan yang tak seimbang di kiri dan kanannya

 

Kau tahu kepada siapa aku singgah

Aku menitipkan serumpun bambu untuk bekal

Bambu yang kau ubah sebagai dinding dan lantai

 

Kau tahu kepada siapa aku berpesan

Kata-kata yang telah diuangkan sebagai janji

Uang yang terpercik darah dan bau tanah kuburan

 

Sepertinya, kaupun tahu apa yang melumpuhkanku

Cinta yang telah merebahkan tubuh ibuku

Pada rumah bambu, pada haluan paling kiri

 

 

April, 2011.

 

Ibu dan anak (foto: flickr)


%d blogger menyukai ini: