Tag Archives: berita

[Kliping Media] Surat Kabar Umum BERITA KERATON

Penerbit: Yayasan Rambana Media Keraton. Alamat Redaksi/Sekretariat/Tata Usaha: Jl. Diponegoro, No. 48 Baubau, Buton, Sulawesi Tenggara. Pemimpin Perusahaan: Muchlis Muhdar. Dewan Redaksi: Drs. H. Laode Moch. Halaka Manarfa (Ketua), LM Yamir Bay, SE., AR. Rasyidi Budiman, Jaenal Mare. Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Fajar Ishak. Wakil Pemimpin Umum: Nalmas, SE. Wakil Pemimpin Redaksi: Laode Asraruddin. Staf Redaksi: Drs. Labia, Hainis, Asep Saifullah, Anie Trisnawati, M. Ridwan Is (Kendari). Sekretaris Redaksi: Jumaria. Perwajahan: Zulkifli, Yohannes. Koordinator Sirkulasi: Ali Ismail Harun. Percetakan: PT. Selatan Jaya. SIUPP: No. 1355/SK/Menpen/SIUPP/1999. Tanggal 4 Juni 1999.

Surat kabar yang tampak di blog adalah Edisi No. 01/Tahun 01/Agustus 1999. Harga: Rp. 1.500,-

Sesuai namanya, Surat Kabar Umum Berita Keraton, lahir dan dimiliki oleh trah Sultan  Buton, dan kerabat keraton Buton. Surat kabar ini mengklaim dirinya sebagai media massa pertama di Kabupaten Buton. Tampil perdana tak segarang namanya. Berukuran plano, sembilan kolom dan empat baris vertikal, agaknya cukup besar, hingga membingungkan dalam format tata letaknya. Simaklah edisi perdana ini, menampilan satu foto (ditempatkan kecil di sudut kiri atas head news), dan sebuah foto lainnya (ditempatkan sebagai insert pada kolom kedua, baris ke empat—simetris dengan foto head news di atasnya). Penampilan awal yang kering ini tidak urung mendapat sambutan senada dari praktisi media massa lainnya, namun tetap saja mendapat apresiasi besar dari masyarakat Baubau.

Aroma kampanye tercium sangit dari penerbitan ini. Maklum saja, sebab media ini selain dimiliki tokoh Masyumi dari Partai Bulan Bintang (PBB), juga tergambar jelas dari formasi pemberitaannya yang tidak lepas dari nuansa tersebut. Penerbitan ini tetap harus diberi penghargaan yang setimpal, sebab dianggap berani. Dengan SDM yang tidak populer dan terlampau baru di dunia jurnalistik dan bisnis media di Sultra, Berita Keraton mampu menarik keluar akar masyarakat masyumi yang berkembang di daratan Buton. Kemampuannya melirik pasar kader masyumi yang besar, dan menjadikan pasar tersebut sebagai acuan pemberitaan, menunjukkan bahwa media ini siap berkompetisi dan siap memetik untung dari upayanya. Awak iklan di koran ini mampu menjual kolom iklan di kanan-kiri benner sebelum tengat waktu terbit perdana; sesuatu yang cukup sulit dilakukan pada kebanyakan media-media di daerah yang hendak terbit perdana.

Edisi perdana ini digarap kurang maksimal. Halaman-halaman berikutnya pun kering-kerontang, bahkan halaman 7 cukup dengan sebuah foto kecil di bagian tengah kepala berita. Tajuk redaksi yang dibingkai dengan nama Nurani Redaksi. Sedikit unik, ketika redaksi meluncurkan edisi perdananya, dan tajuk mereka membahas Pasar dan Otonomi Daerah, membawa bukti bahwa manajemen media ini mampu melirik pasarnya.

Tidak ada data resmi tentang berapa besar tiras dan coverage area media ini. Tapi dilihat dari segmentasi, sasaran, dan area pasarnya, serta perusahaan dimana media ini dicetak, dapat dipastikan tirasnya tidak kurang dari 2.000 eksemplar. Terbit setiap minggu, 8 halaman.

Bermotto: Mendukung Pancasila Menuju Masyarakat Madani. Rubrik-rubriknya, antara lain, Manusia & Kehidupan; Berita Kota; Daerah; Opini; Kolom Referensi; Budaya Buton; dan Hiburan. []


[Kliping Media] Tabloid Berita Mingguan SULTRA POS

Penerbit: — Alamat Redaksi: Jl. Mawar, Baubau, Sulawesi Tenggara. Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Agus Sana’a. Redaktur Pelaksana: Gino Samsudin Mirsab. Redaktur Eksekutif: Sudirman Duhari, Agus Sana’a. Staf Redaksi: Agus Sana’a, Gino SM, Sudirman, Arif Balawi, Mustari. Layout: Kasmudin. Manager Sirkulasi: Samsuddin. Manager Iklan: Rio.

Tabloid yang tampak di blog adalah Edisi No. 01/Tahun Ke-01/Minggu Ke IV/Agustus 2000. Harga: Rp. 2.000,-

Pada boks Dari Redaksi, media ini disebut sebagai reinkarnasi Surat Kabar Umum Buton Pos, sebuah media ber-flatform plano dan terbit mingguan di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra). Menurut para penggagasnya, tabloid ini lahir dengan manajemen baru, semangat baru, dan tekad baru. Kelahiran kembali ini, menurut para pengelolanya, dilakukan setelah melalui berbagai kajian manajemen usaha, kajian redaksi, kajian manajemen redaksi, dan dukungan personel yang sudah teruji di bidangnya masing-masing. Semangat para pendirinya ini, sekaligus membingkai kekhawatiran mereka atas persaingan media lokal yang sudah terlanjur ketat dan solid. Tak jelas berapa oplah media ini, kendati rubrikasinya—memisahkan kompartemen daerah dengan nama-nama kabupaten; Buton, Kolaka, Unaaha, Muna, dan Kota Kendari—memaktub area edar se-Sultra, tapi ada kemungkinan oplahnya kurang lebih 2.000 eksemplar/edisi. Penjudulan yang bombastis tak cukup memberi kesan pada isinya. Upaya yang wajar untuk menjemput pasar di saat-saat perdananya. Penempatan rubrik yang terkesan acak, dan kadang keluar dari konteks berita didalamnya, meragukan maksud para penggagasnya mengenai konsep dan kajian yang disebut-sebut dalam boks itu. Terbit Perdana Agustus 2000. Terbit setiap minggu, 16 halaman.

Bermotto: Menghargai Perbedaan Pendapat, Adil Menegakkan Kebenaran. Rubrik-rubriknya, antara lain, Laporan Khusus; Buton; Kolaka; Muna; Kota Kendari; Unaaha; Nasional; Politik; Tokoh & Peristiwa; Serba Neka; Olah Raga & Kesehatan; dan Opini. []


[Kliping Media] Tabloid Berita Mingguan PRO DEMOKRASI (Periode II)

Penerbit: Yayasan Tegar Media Mandiri. Alamat Redaksi: Jl. Tamburaka No. 35, Kendari, Sulawesi Tenggara. Pendiri: Mappajarungi Daeng Pabali. Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Mappajarungi Daeng Pabali. Redaktur Pelaksana: Ilham Q. Moehiddin. Sekretaris Redaksi: Endang Sarjawati, S.Sos. Staf Redaksi: Hasrul, Rosmawati, Sukmawati, Jura Raja Ali. Wartawan & Peliputan Daerah: Harun (Baubau); Syahrial Ashaf (Raha); Alimuddin (Kolaka). Disain Artistik & Layout: Abdul Rasyid. Karikatur/Grafis: Irzamsyah. Sirkulasi & Distribusi: Hasrul, A.Md. Litbang: Ahmad Rifai Budiman SE., Muh. Iksan. SIUPP: No. 548/SK/MENPEN/SIUPP/1998/Tanggal 25 September 1998.

Tabloid yang tampak di blog adalah Edisi No. 27/Tahun Kedua/Minggu III/April 2000. Harga: Rp. 2.000,-

Pro Demokrasi adalah tabloid pertama di Sulawesi Tenggara (Sultra) paska reformasi. Tabloid ini terbit untuk memapas hegemoni penerbitan daerah yang ketika itu didominasi koran harian. Dari namanya, segmentasi tabloid ini, diperuntukkan bagi masyarakat pluralis dan demokratis di Sulawesi Tenggara. Memanfaatkan euforia tumbangnya Orde Baru, tabloid ini terbukti sukses dalam terbitan perdananya. Beroplah 5.000 eksemplar, tabloid ini mampu menetrasi pasar media di Sultra hingga ke pelosok. Gaya penulisan dan tendensi pemberitaan yang kritis dan lugas tabloid ini, menjadi warna baru media di Sultra. Terbit Perdana Oktober 1998. Terbit setiap mingguan, 16 halaman.

Rubrik-rubriknya, antara lain, Laporan Utama; Laporan Khusus; Laporan Daerah; Hukum & Kriminal; Bisnis & Pasar; SexKlusif; Nasional; Lingkungan & Wisata; Olahraga; Wawancara; Rendezvous; Aneka; dan Visi (Opini), dan lainnya.

Cover Tabloid Pro Demokrasi yang tampak pada blog adalah cover setelah sempat vacum selama kurang lebih enam bulan. Gaya pemberitaan dan penulisan tetap sama; kritis, tegas, lugas. Tata letak di rombak total. Kualitas kertas dikurangi untuk menekan biaya cetak, dan kelebihan biaya dialihkan untuk memaksimalkan distribusi. Jika Anda menyimak komposisi manajemen dan redaksi yang ada di atas, tampak perubahan yang dimaksud. Beberapa komponen manajemen, termasuk jurnalis, berganti dengan wajah baru. Dalam dua bulan, sejak terbit perdana kedua kalinya, tabloid ini berhasil membukukan keuntungan dari sektor iklan yang signifikan—jika diukur dengan penggunaan modal yang minim.

Namun keuntungan itu, nyaris terpakai separuhnya untuk operasional. Ternyata pula, perpecahan itu masih berlarut dan merembet ke badan Yayasan Tegar Media Mandiri sebagai penerbit Tabloid Pro Demokrasi. Para pendiri yayasan masih bersengketa soal boleh tidaknya media ini mencantumkan nama yayasan dalam boks redaksi. Di sisi lain, ke-vacum-an terbit itu membuat berkurangnya jumlah pelanggan yang sangat berarti, sekaligus menambah beban bagi bagian sirkulasi dan distribusi. Pelanggan major, yang kebanyakan berasal dari instansi/lembaga pemerintah dan non-pemerintah pun berkurang drastis.

Setelah kurang lebih empat bulan berjalan, tabloid ini mulai didera masalah. Maintenance peralatan, khususnya komputer, dan peralatan pendukung kerja redaksi lainnya, rusak dan sulit untuk diperbaiki karena membutuhkan biaya yang besar. Ditambah, sebagian aset peralatan tabloid belum diserahkan (masih dalam penguasaan) manajemen lama, dan digunakan untuk kerja redaksi media baru, SKM Kendari Ekspress. Jadilah, beban operasional yang membengkak tak bisa dihindari, kendati gaji jurnalis masih dapat dibayarkan, media ini mulai menyiapkan pengumuman penutupan (penghentian kinerja) secara permanen. Dua pekan setelah persiapan penutupan, media ini, Tabloid Pro Demokrasi, diumumkan dan dinyatakan ditutup permanen, di Edisi 34/Tahun III/Januari 2001. []


[Kliping Media] Tabloid Berita Mingguan PRO DEMOKRASI (Periode I)

Penerbit: Yayasan Tegar Media Mandiri. Alamat Redaksi: Wirawan Building, Lantai 3, Jl. Dr. Ratulangi No. 75, Kendari, Sulawesi Tenggara. Pendiri: Baso Sumange Rellung, SH., Arbab Paproeka, SH., Mappajarungi Daeng Pabali, Syahrir Lantoni. Pengarah Manajemen: Sultan Eka Putra, Syahrir Lantoni. Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Mappajarungi Daeng Pabali. Redaktur Pelaksana: Andi Sangkarya Amir. Staf Redaksi: Rustam, Ilham Q. Moehiddin, Hasrul, Jumwal Shaleh, Rosmawati, Sukmawati, Indarwati. Wartawan & Peliputan Daerah: Harun (Baubau); Syahrial Ashaf (Raha); Alimuddin (Kolaka). Disain Artistik & Layout: Abdul Rasyid, M. Iqbal Arman, Irzamsyah (Karikatur). Fotografer: Dedy Muhammad. Iklan/Promosi: Astian, SP. Sirkulasi & Distribusi: Laode Andi Muna; Darman Mbesu. SIUPP: No. 548/SK/MENPEN/SIUPP/1998/Tanggal 25 September 1998.

Tabloid yang tampak di blog adalah Edisi No. 10/Tahun Pertama/Januari 1999. Harga: Rp. 2.000,-

Pro Demokrasi adalah tabloid pertama di Sulawesi Tenggara (Sultra) paska reformasi. Tabloid ini terbit untuk memapas hegemoni penerbitan daerah yang ketika itu didominasi koran harian. Dari namanya, segmentasi tabloid ini, diperuntukkan bagi masyarakat pluralis dan demokratis di Sulawesi Tenggara. Memanfaatkan euforia tumbangnya Orde Baru, tabloid ini terbukti sukses dalam terbitan perdananya. Beroplah 5.000 eksemplar, tabloid ini mampu menetrasi pasar media di Sultra hingga ke pelosok. Gaya penulisan dan tendensi pemberitaan yang kritis dan lugas pada tabloid ini, menjadi warna baru media di Sultra ketika itu. Terbit Perdana Oktober 1998. Terbit setiap minggu, 16 halaman.

Rubrik-rubriknya, antara lain, Laporan Utama; Laporan Khusus; Laporan Daerah; Hukum & Kriminal; Ekonomi & Bisnis; Eksklusif; Seni Budaya & Pariwisata; Olahraga; Wawancara; Beranda; Bianglala; dan Visi (Opini).

Tabloid ini, dalam perjalanannya, kemudian mengalami pasang-surut. Kendati tak pernah terlambat tiba di tangan pelanggannya, namun regresi yang masih dilakukan pemerintah nyaris mematikan media ini. Karena pemberitaannya yang kritis dan tergolong keras, media ini pernah dua kali terancam penutupan dan jurnalisnya terancam di bui. Dua edisi dengan judul yang keras; “DPR: Dewan Penipu Rakyat” dan “Kejaksaan Gombal”—inilah yang hampir membuat media ini ditutup. Pernah pula dimasukan dalam daftar 10 media yang terancam dibredel secara nasional—bersama Majalah Populer, dan lainnya—karena “diduga” sebagai media porno. Setelah pemerintah mengakui kelalaiannya, bahwa telah keliru memasukkan media ini dalam daftar tersebut, Pro Demokrasi kemudian dicabut dari daftar itu.

Formasi manajemen yang Anda baca di atas adalah formasi manajemen sebelum media ini memasuki masa-masa transisi manajemen yang cukup rumit. Karena konflik manajemen dan kepemilikan, serta diwarnai tindak korupsi di badan perusahaan, Tabloid Pro Demokrasi kemudian memutuskan melakukan refreshing manajemen. Perombakan manajemen inilah yang kemudian memicu bubarnya komposisi pendiri lama, memaksa Pro Demokrasi berjalan dengan pengawalan salah seorang—Mappajarungi Daeng Pabali—dari keempat dewan pendari terdahulu. Perpecahan internal itu, tidak dapat dipungkiri, juga dipicu inisiasi sebuah media baru, Koran Mingguan Kendari Ekspress—kini menjadi Koran Harian Kendari Ekspress. Koran ini kelak diakusisi oleh Group Fajar, pemilik Harian Fajar Makassar. Perpecahan itu pun menandai berakhirnya manajemen lama, sekaligus peralihan semua aset media, dan perpindahan kantor. Setelah itu, Pro Demokrasi memasuki masa vacum terbit selama enam bulan. Penghentian terbit sementara itu, terjadi saat Tabloid Prodemokrasi memasuki Edisi 27, Tahun II, Minggu III, April, Tahun 2000. []


%d blogger menyukai ini: