Tag Archives: berani

[Cerpen] Hanya Fabel yang Kita Punya | Media Indonesia | Minggu, 08 Mei 2016

Hanya Fabel yang Kita Punya

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Hanya Fabel yang Kita Punya | Ilustrasi: Pata Areadi

KAU pandangi wajah ibumu yang tiba-tiba murung. Wajah yang murung sekali. Ibumu menoleh dan bicara. “Ayahmu tak pernah ragu-ragu—” desisnya “—entah dari mana rasa takut itu kau warisi?”

Ibumu baru saja membuka ingatannya tentang mendiang ayahmu. Lihatlah mata ibumu—lihatlah, betapa mata ibumu kehilangan cahayanya. Suram dan sepi seperti kuburan. Seharusnya kau memerhatikan laknat di depanmu itu. Laknat yang sedang bergerak-gerak, ingin terbebas dari sesuatu yang lengket.

“Bekuk dia demi Ibumu ini! Laknat itu telah mengisap semua harapan kita. Bekuk dia demi mendiang Ayahmu!” Ibumu berseru jengkel. Ibumu itu telah melalui semua kengerian yang tak pernah kau saksikan. Ibumu ingin agar kau menjadi harapan terakhirnya untuk menuntut balas.

Kau seharusnya mulai bergerak, membayangi sang laknat yang sedang ceroboh dan berusaha membebaskan diri dari jebakan buatanmu. Tapi, ah, matamu itu membersitkan ketakutan. Aku bisa melihatnya. Ibumu bisa melihatnya.

**

SEINGATKU, ayahmu adalah pemberani yang pernah kita kenal. Seumur hidup kita, baru sekali kita menyaksikan pemberani seperti dirinya. Ia bukan pengecut seperti lainnya—yang memilih lari daripada harus bertarung. Kau tahu, ia juga pecinta. Ayahmu menerima keadaan ini dan tak mengeluhkannya. Betapa tak segan ia menunjukkan cintanya yang besar itu.

Dari ayahmu, kita belajar cara bertarung. Ia sering bilang: pemenang adalah petarung yang cerdik. Menjadi cerdik lebih baik dari sekadar berani dan menjadi berani lebih baik dari sekadar kuat. Tetapi mencintai adalah kenyataan yang membuat pertarungan harus diakhiri.

Saat itulah aku tahu, bahwa cinta adalah hal terkuat yang pernah ada.

Sekali-dua kita gagal mengulang petunjuknya. Tapi ayahmu sabar mengajari kita. Hal-hal yang belum kita percayai selalu saja berhasil membuat kita ngeri, berlari ketakutan, menjerit-jerit. Seringkali kita harus pulang dengan harga diri yang koyak-moyak.

Tetapi dari ibumu, kita belajar cara menguatkan simpul, juga belajar cara menentukan lokasi terbaik untuk memasang perangkap. Ibumu pandai melakukannya. Aku senang melihatnya cekatan menganyam benang dan membentangkannya di bawah matahari.

“Kalian harus mengeratkan simpul-simpulnya—” ujar ibumu suatu ketika “—di situlah kekuatan inti perangkap. Simpul-simpul yang tak terjalin baik, akan membuat perangkap mudah rusak dan melepaskan buruan begitu saja.”

Aku bertanya, “mengapa ketika usai membekuk buruan, kita harus membungkusnya rapat-rapat, sebelum mempersilakan para tetua hadir dalam perjamuan?”

Ibumu tersenyum. “Itulah moral kita,” ujar ibumu. Ayahmu kemudian mendekat, menyentuh bahu kita. “Tuhan tak menakdirkan kita mendapatkan buruan seraya berlari. Kita harus mendapatkannya diam-diam. Kesabaran adalah inti dari semua proses yang harus kita lalui.” Ayahmu mengusap pelipisnya. “Ingat! Buruan kita tak bodoh. Kita hanya perlu tahu kapan mereka lengah dan ceroboh.”

**

ITU percakapan terakhir kita dengan ayahmu. Ia pamit ke suatu tempat tiga hari kemudian seraya berjanji pada ibumu akan pulang sebelum hari sore. Tapi, ketika sore datang, ayahmu belum pulang dan ibumu cemas saat beranjak mencarinya.

Peristiwa hari itu sukar enyah dari ingatan ibumu. Peristiwa yang sebenarnya tak mau ia lupakan. Hari yang ia tandai sebagai permulaan semua kekacauan di tempat ini. Hari saat ketertiban terbunuh dan semata-mata peruntungan yang memegang kendali.

“Mana Paman?” Tanyaku pada ibumu.

“Pamanmu baik-baik saja sekarang,” jawab ibumu. Aku tak tahu, ibumu sedang meredam kesedihannya. Soal bagaimana ayahmu menjadi ‘baik-baik saja’, tak jelas aku ketahui. Sikap ibumu membuat kita menumpuk penasaran.

Betapa cemasku pecah saat ibumu mengakhiri kecanggungan itu. Ia menceritakan apa yang ia saksikan. “Laknat menerjang ayahmu di luar perangkap yang terpasang dan umur yang lapuk membuat gerakan ayahmu melamban—” Ibumu menggantung kalimatnya. Ia diam sejenak sebelum menyiramkan seluruh kesedihan dari matanya ke hadapan kita, “—ayahmu terlambat menghindar, sehingga laknat menerjang tubuhnya. Ayahmu terjatuh dan ayahmu bahkan belum berdiri ketika laknat menyambar tubuhnya.” Ibumu berhenti di situ dan menolak melanjutkan ceritanya lagi.

Aku tahu, itulah ketakutan terbesarmu. Ketakutan yang menjelma sejak ayahmu tiada. Teror segera menjadi kerumitan baru saat laknat bertandang ke semua tempat di negeri ini, menyergap siapapun yang lengah. Hanya kita saja yang tetap bertahan saat yang lainnya memilih menyingkir.

Firasatku buruk sekali tentangmu saat kau muncul di depan ibumu dengan mata kemerah-merahan. Mata majemuk yang dipenuhi kecemasan. Betapa kau ingin seperti ayahmu—menjadi pemberani seperti dirinya. Tapi kau ketakutan.

“Bibi—” aku menatap mata ibumu, “—kita berada di rantai makanan paling kritis. Ketertiban harus tegak untuk memastikan hal-hal buruk tidak terjadi pada kita.”

Aku ingat betul kata-kata itu. Itu adalah kata-kata ayahmu yang aku ulangi.

“Para laknat merusak kenyamanan kita. Mereka mengunyah apapun yang bisa mereka temukan dan merampas semua yang ingin mereka miliki.” Perutku mendadak mual saat mengucapkan kata-kata itu.

Ibumu mengangguk tetapi senyumnya seperti gelatin dalam mangkuk. “Pastikan saja, mereka mendapatkan pembalasan yang setimpal!” Ibumu mendesis. Matanya tepat mengarah pada jejak yang ditinggalkan para laknat.

“Aku cemas, Bu.” Kau tiba-tiba mengejutkan ibumu dengan kata-kata itu. Kau pandangi wajah ibumu yang tiba-tiba murung. Wajah yang murung sekali. “Mereka akan membunuhku seperti yang mereka lakukan pada Ayah.”

“Tentu saja mereka akan mencobanya,” sahut ibumu.

Kau tahu, saat itu, betapa aku ingin sekali meninju perutmu, menitipkan sikuku ke dadamu sehingga membuat mulutmu berbusa-busa menahan sakit. Ayahmu pasti malu jika mendengar kepengecutan yang keluar dari mulutmu itu.

**

MAKA hari ini, laknat itu terjebak di atas sana. Perangkap kita terlalu kuat untuknya. Jaring kita yang lengket telah membekuk tubuhnya, membuatnya seperti mengapung di udara. Tapi ibumu menahan kita. “Belum sekarang,” bisiknya.

Laknat itu sedang berpura-pura, berusaha memancing kita agar mendekat. Tipuan yang dilakukannya pada ayahmu. Laknat itu akan gembira jika bisa membuat kita celaka.

“Apa yang harus kita lakukan, Bi?” Tanyaku.

“Sama seperti yang sedang dilakukannya,” ibumu menatap tajam ke arah sang laknat. “Menunggu—kita menunggu.”

Lalu kita berdiam diri. Tapi matamu seperti obor yang tak bisa padam, kejam dan tajam. Matamu —dan mata laknat di ujung sana— seperti bersitatap dalam hening. Hening yang melelahkan. Menyedihkan, mengetahui bahwa keheningan seperti inilah yang awalnya menjatuhkan ayahmu dalam penaklukkan.

“Serang!” lengkingan tajam suara ibumu mengejutkanku. Tetapi aku lebih terkejut melihatmu menerjang saat laknat itu menarik kepalanya. Kau berlari seperti ayahmu di usia mudanya, petarung pemberani yang cekatan dan penuh perhitungan. Aku tak menyangka bahwa itu adalah kau yang kemarin diremas kecemasan. Tubuhmu bergerak, seraya menggenggam benang-benang perangkap, maju ke tengah medan pertempuranmu.

Lengah karena mengira kami tak mampu berbuat apa-apa, membuat laknat itu menjadi ceroboh. Sang laknat menarik kepalanya, membuat benang-benang perangkap membelit erat lehernya. Ia ceroboh saat berusaha memutuskan benang-benang lengket itu dengan giginya. Rupanya peluang itulah yang ditunggu ibumu.

Tubuhmu tangkas menyusup ke bawah perangkap, melepaskan empat benang utama yang seperti pegas menghantam perut sang laknat. Ia mengaduh, menggeliat seraya menarik kepalanya. Tetapi itu sia-sia. Kau tak sudi membuang sedikit pun kesempatan yang tak sempat dimiliki ayahmu. Cepat sekali kau sudah berada di belakangnya dan dengan cekatan berusaha membekuk tubuh sang laknat.

Ibumu mengawasi dari tempatnya berdiri dan menunggu seperti apa akhir pertarunganmu. Laknat itu meronta. Tetapi, seutas benang utama yang menahan perangkapmu di ranting Acacia tiba-tiba putus. Saat itulah ibumu dan aku bergerak membantu. Aku harus menahan benang itu saat ibumu berputar mencapai posisimu. Ibumu menarik benang dari kelenjarnya sendiri untuk membekuk kaki-kaki sang laknat.

Tak kau sangka mulut laknat itu berhasil menyambar satu kakimu. Tetapi hanya dengan tujuh kaki tersisa, kau berusaha melumpuhkannya sebelum pertarungan kau tuntaskan. Jika saja ayahmu hadir saat ini, betapa bangganya ia. Laba-laba muda yang ia cintai, telah bertarung atas namanya.

Ibumu membiarkanmu membungkus tubuh laknat itu. Kau bekuk kepala, empat kakinya, sekaligus ekornya. Kita apungkan tubuhnya tinggi-tinggi, untuk memastikan bahwa kita akan selalu bisa mengawasinya.

“Ibu!” Kau berseru penuh kemenangan ke arah ibumu, “mari persiapkan perjamuan untuk mengenang ayah. Apa yang telah ia ajarkan telah melindungi kita dari kadal itu.”

“Kau melakukannya dengan baik,” ibumu tersenyum, “inilah pertarunganmu kelak.”

Tujuh kakimu menekuk rendah dalam hormat. (*)

Molenvliet, November 2015

kepada Abraham Samad.

Iklan

[Cerpen] Kehormatan | Pikiran Rakyat | Minggu, 22 Maret 2015

Kehormatan

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilustrasi_Kehormatan_Pikiran Rakyat_22 Maret 2015

1/

Sebuah perayaan sedang berlangsung di hadapan Matsumoto. Ada meja panjang berbendera. Ada pohon cemara berlampu. Orang-orang berpakaian licin dan harum. Jemari Matsumoto bergetar.

Seorang pemuda melangkah ke podium kecil, melewati tamu-tamu yang mengangguk hormat padanya. Di podium, pemuda itu sejenak diam sebelum meraih mikrofon. Ia menatap kerumunan di depannya. “Terima kasih telah menghadiri acara ayah saya. Beliau wafat dua hari lalu. Tentu saya sedih, tetapi juga bangga. Bangga mengenai segala hal dalam hidupnya dan bahagia dengan apa yang ia capai. Sebagai veteran perang —dengan semua tragedinya— ia berhasil bertahan.”

Di kursi barisan depan, Matsumoto diam mematung. Bibirnya terkunci. Hatinya berbisik —entah apa yang membuatnya ada di tempat ini.

2/

Pulau Wawoni’i diberi bendera matahari terbit dalam peta Dai Nippon. Di depannya terhampar Staring Bay yang oleh Jepang sedang dipersiapkan sebagai Prime Naval Base untuk Operasi Selatan dalam misi penaklukan Australia.

Malam ini, langit di atas pulau mendadak terang oleh cahaya-cahaya merah. Suar menerangi angkasa, lalu tanah bergetar, seperti dentuman petir yang menghantam tanah. Mortir-mortir —entah berapa banyaknya— meledak beruntun, menyasar barak, dan mungkin telah membunuh separuh prajurit Jepang di tempat ini.

Yoshiro Matsumoto merendahkan tubuhnya. Sepuluh menit sebelum serangan itu datang, entah bagaimana ia memutuskan berjalan ke arah hutan untuk menenangkan diri. Gelombang kejut dari mortir tiba-tiba menjatuhkannya ke tanah dan membuatnya pingsan.

Tetapi sebuah ledakan lain segera menyadarkan Matsumoto. Ia berusaha fokus pada dirinya, menatap ke arah barak dan menyadari bahwa induk pasukannya telah hancur. Serangan ini sangat mungkin membuat rekan-rekannya terbunuh atau tertangkap, karena sekelilingnya kini mendadak hening —tak ada tembakan dan ledakan lagi.

Matsumoto merayap dalam gelap. Sebagai seorang prajurit terlatih, ia merangkak di kegelapan. Di tepian sebuah lubang bekas ledakan, tampak sesosok tubuh yang tak bisa ia kenali karena gelap yang nyaris pekat. Matsumoto mendekat —tapi mendadak sadar bahwa posisinya kini sangat berbahaya.

Di lubang itu ada seorang pejuang kemerdekaan. Dari jarak sedekat itu, Matsumoto yakin kaki kanan pria itu hancur. Pasti karena ranjau darat yang mereka tanam sekitar 500 meter dari barak komando. Sosok tubuh itu mengerang lirih. Matsumoto kaget, tak ia sangka bahwa sosok itu masih hidup.

3/

Pekatnya malam kembali diterangi cahaya kemerah-merahan di udara. Matsumoto mengendus aroma tajam dari asap suar di udara. Ia sentuh pistolnya. Perutnya melilit. Ia dorong tubuhnya agar lebih dekat pada sosok dalam lubang bekas ranjau itu. Ia lepas barel kosong dari pinggangnya dan menopang kepala lelaki di depannya itu agar lebih tinggi. Udara kering dari laut bercampur asap mesiu. Matsumoto berjongkok, tangannya bergetar. Ia rapatkan kerah bajunya, mencoba nahan mengusir gigil. Lubang hidungnya membesar saat ia jejalkan udara kering ke dalam paru-parunya, kemudian ia berusaha fokus.

Teriakan rekan-rekannya dari bagian lain pulau sampai ke telinganya. Letusan senjata dan desing mortir di udara sesekali memburai suasana malam. Ia meringkuk di kegelapan, hanya mendengar dan tak bisa berbuat apa-apa saat sebagian rekannya berjibaku menahan serangan para pejuang Indonesia —pasukan lelaki di depannya ini. Ya. Lelaki ini musuhnya.

Matsumoto teringat sumpah prajurit kekaisaran yang rela mati demi kehormatan Kaisar Jepang. Ia kunci rahangnya, mengarahkan pistolnya ke pelipis lelaki itu. Perlahan jemarinya bergerak meremas. Di saat kritis akan keputusannya, lelaki itu mengerang dan menyentuh lengannya —keraguan menyergap Matsumoto.

Itu erangan yang akrab di telinganya sepanjang tugasnya dalam misi okupasi selama ini. Mungkin lelaki malang itu menginginkan sesuatu sebelum nyawanya putus. Matsumoto merendahkan kepalanya, hingga cukup dekat untuk mendengarkan permintaan terakhir lelaki itu. Kepalanya begitu dekat sehingga ia bisa melihat kilatan di mata lelaki itu.

“Air —beri aku air,” suara lelaki itu nyaris habis.

Tetapi kilatan mata itu —kilatan mata lelaki itu mengusik hatinya. Ia seperti melihat dirinya di dalam sana, berdiri gagah dengan kehormatan sebagai seorang lelaki yang setia pada negaranya. Matsumoto teringat sumpahnya, kehormatannya sebagai seorang samurai. Hatinya jeri. Susah payah ia redam sakit di dadanya. Ketegangan telah membuatnya cemas. Tangan Matsumoto bergetar, tapi ia merasa siap untuk kembali menarik picu.

Lelaki di depannya itu tiba-tiba berguling, membuat Matsumoto refleks mengarahkan pistolnya. Perlahan, bibir lelaki itu terbuka, berusaha kembali membisikkan sesuatu. Bibirnya bergerak-gerak, tanpa suara. Keringat Matsumoto meleleh. Ia merendahkan kepalanya. “Aku harus membunuhmu. Aku harus menyelesaikan tugasku —sumpahku pada negaraku.”

Lelaki di depannya terbatuk, lalu tersenyum. Tangan lelaki itu terangkat ke arah lengan Matsumoto. “Tak apa-apa. Kau harus lakukan tugasmu—” mata lelaki itu mengatup sesaat, “—tapi beri aku air. Aku haus.”

Lelaki itu menginginkan air. Matsumoto menoleh ke belakangnya, mencari-cari, lalu teringat pada barel kosong miliknya yang tadi ia gunakan menopang kepala lelaki itu. Ia raih benda itu dan mundur dalam kegelapan di belakangnya. Tak begitu lama Matsumoto kembali dengan barel yang penuh air. Ia angkat kepala lelaki itu seraya menuangkan air ke mulutnya, sedikit demi sedikit. “Pelan-palan biar kau tak tersedak,” ujarnya. Lelaki itu tersenyum dan terus menerima air dari barel milik Matsumoto.

“Terima kasih—sekarang lakukanlah tugasmu.” Lelaki itu tersenyum sambil menatap matanya. Matsumoto tertegun. Ia menatap pistol di tangannya, lalu ke arah wajah lelaki itu. Tatapan mereka bertemu. Sumpah seperti berdengung dalam kepalanya, mengingatkan Matsumoto agar segera mengarahkan pistolnya ke kepala lelaki itu. Demi kehormatannya —sebagai seorang samurai, sebagai prajurit kekaisaran, ia harus mengambil keputusan ini.

Matsumoto meremas gagang pistolnya. Telunjuknya mengeras di logam picu.

4/

Tiba-tiba, cahaya merah berpendar di sekeliling Matsumoto. Sebuah kilatan sejenak membutakan matanya, disusul teriakan-teriakan ke arahnya, memerintahnya agar diam. Darah Matsumoto mengalir cepat, saat ia dengar suara-suara senjata dikokang bersamaan. Ia dikepung sepasukan pejuang Indonesia.

Seseorang menyuruhnya berdiri. Beberapa tangan merenggut kerah belakang bajunya. Matsumoto patuh —tangannya terangkat ke atas kepala. Sisa sobekan bajunya menggantung keluar dari rim di pinggangnya.

Dua orang pejuang segera memeriksa lelaki di dekat Matsumoto. Sesaat kepanikan tampak di wajah mereka, sebelum menunjuk-nunjuk ke arah Matsumoto. Baginya, alasan atas tindakannya tak penting lagi—bahkan karena itu, ia harus melucuti kehormatannya.

Kepala Matsumoto tertunduk. Saat kepalanya tegak, wajahnya dilelehi air mata. Ya. Samurai itu menangisi kehormatannya. Ia lepaskan kehormatannya dan menerima kehinaan ini. Matsumoto berlutut dan menyorongkan wajahnya ke laras senapan seorang pejuang. “Utsu!” Teriaknya.

Para pejuang kemerdekaan terdiam. Mereka hanya menatap Matsumoto.

Matsumoto mendorong dahinya lebih keras ke laras senjata. “Aku mohon, berikanlah kehormatanku—Utsu!” Teriaknya sekali lagi.

Tapi, tak seorang pun pejuang yang sudi memenuhi permintaannya.

Matsumoto tergugu. Ia meratapi dirinya. Matanya mendapati tubuh semua rekannya yang telah mendapatkan kehormatannya —mati demi negara dan kekaisaran, dan ia tidak seberuntung mereka. Walau mungkin berbeda, namun entah seperti apa nilai dan ukuran kehormatan bagi para pejuang di sekelilingnya saat ini. Mereka tak memahami pentingnya kehormatan —yang tak bisa mereka berikan pada Matsumoto— bagi seorang samurai dan tentara kekaisaran seperti dirinya.

Utsu! Utsuuuuu!” Teriak Matsumoto putus asa.

5/

Matsumoto seperti menemukan dirinya di sebuah jalan di tengah ibukota negaranya. Di sekelilingnya bertebaran wajah kesakitan. Wajah-wajah yang kalah. Wajah-wajah malu karena hilangannya kehormatan.

Sebagaimana wajah-wajah itu, Matsumoto pun harus menangisi dirinya. Kehormatan yang juga tak bisa ia tebus. Deraan malu pernah membuat Matsumoto memohon agar ia bisa melakukan seppuku—tradisi samurai. Tapi para pejuang Indonesia tak pernah mau menuruti permintaannya.

Setelah Kaisar Akihito mengumumkan kekalahan negaranya, ia memilih menghukum dirinya sendiri; ia menolak pulang dan memilih berada di antara orang-orang yang tak memahami arti kehormatan.

Matsumoto membangun kehidupannya. Ia menikahi seorang perempuan Indonesia, bekerja di perusahaan teh, dan menabung untuk hari tuanya. Tapi, Parkinson datang tergesa-gesa, melemahkan syaraf-syarafnya. Matsumoto memilih melupakan apapun yang ia alami di bulan Agustus di penghujung tahun 1945. Ia memilih melupakan lelaki yang menjadi sebab hilangnya kehormatannya itu.

Sampai seseorang menemukan jejaknya dan datang menemuinya. Seseorang yang harus membuatnya menangis lagi. Seseorang yang keras memintanya untuk mengingat apapun yang hendak ia lupakan. Seseorang yang mengingatkannya pada wajah lelaki yang baginya sudah mati 69 tahun silam demi sebuah kehormatan.

***

Matsumoto mengguyurkan air dari barel ke kepala lelaki itu, menggunakan sobekan bajunya untuk membersihkan wajahnya. Ia menggunakan sisa sobekan bajunya untuk perban, membebat kaki putus lelaki itu sekencang mungkin. Dengan sisa kain bajunya, ia tutupi tulang yang hancur dari sisa kaki musuhnya itu.

“Serangan kalian rapi sekali. Tak ada yang menyangka kalian akan menyerang malam ini,” ujar Matsumoto sambil mengutuk ketidak-becusan intelijen pasukannya sendiri.

“Namaku Syamsul,” lelaki itu mencengkeram bahu Matsumoto.

“Jangan banyak bergerak. Lukamu banyak mengeluarkan darah,” Matsumoto bicara terbata-bata, “—aku Matsumoto.”

Syamsul mengangguk. Matsumoto kembali meneteskan air ke mulut Syamsul.

Entah apa yang menghentikannya membunuh lelaki itu.

6/

“Inilah impian ayahku selama ini.” Pemuda itu sudah berdiri di depan Matsumoto. “Puluhan tahun, ayahku sangat ingin bertemu orang yang ia hormati, orang yang setiap hari ia sebut namanya dan ceritakan kisahnya pada kami. Seorang samurai yang telah menunjukkan kehormatannya dengan sangat berani.” Suara pemuda itu meninggi saat ia dan keluarganya membungkukkan tubuh ke arah Matsumoto.

Matsumoto tersedak keharuannya sendiri.

“Kami berterima kasih pada Tuan Yoshiro Matsumoto. Dengan kehormatannya ia mempertahankan kemanusiaannya, menyelamatkan ayah kami dan membuat kami setiap saat mensyukurinya. Terimalah hormat kami setinggi-tingginya—” Pemuda itu kembali membungkuk hormat pada Matsumoto. Saat tubuhnya tegak, pemuda itu menoleh pada semua tamu yang hadir di pemakaman ayahnya— “Saudara-saudara, inilah lelaki terhormat yang berjuang di sisi ayah kami dalam perang.”

Matsumoto menggeriap. Di antara orang-orang yang selama ini ia anggap tidak memahami arti kehormatan, untuk pertama kali sejak 69 tahun lalu, Matsumoto menemukan kehormatannya —dalam kemanusiaan yang sesungguhnya tak pernah pergi darinya. (*)

Molenvliet, Oktober 2014

 

Catatan:

Prime Naval Base = Pangkalan Angkatan Laut Utama; Jibaku = berani mati; Utsu = tembak


%d blogger menyukai ini: