Tag Archives: beranda

[Cerpen] Pesta Kunang-Kunang | Jawa Pos | Minggu, 27 April 2014

Pesta Kunang-Kunang

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Ilust_Pesta Kunang-Kunang_Jawa Pos

1/

TIDAK ada makam di sini. Hanya rongga di batang pohon Dedalu raksasa yang tegak di tengah desa. Rongga yang disebabkan hantaman petir, dan kerap dipenuhi kunang-kunang yang berpesta selepas jasad diletakkan di dalamnya, membuatnya tampak seperti pesta lampion di malam tahun baru.

Saat Dedalu tua itu ditemukan di hutan utara, Ama (bapak) Huga takjub pada ukurannya. Ia kemudian mendirikan rumah 500 meter dari pohon itu. Pada tiga tahun pertama, orang-orang berduyun datang lalu ikut mendirikan rumah di situ. Rumah-rumah yang kini mengepung Dedalu tua raksasa. Ketakjuban Ama Huga pada Dedalu tua itu tak pernah hilang bahkan menjelang kematiannya. Ia ingin agar rongga di Dedalu tua itu menjadi makamnya dan makam setiap orang yang kelak mati di kampung yang ia namakan Lere’Ea ini. Orang-orang menurutinya. Karena pohon Dedalu menyerap aroma busuk di sekelilingnya, maka pohon itu juga menghisap bau kematian dari jasad-jasad orang mati.

Pemakaman pohon adalah solusi efektif agar lahan kampung tak habis untuk makam. Pemakaman yang tak merepotkan dan efisien. Pohon Dedalu tetap hidup dan tumbuh gergasi, sebagai rumah terakhir bagi orang-orang mati.

2/

Intina mencemaskan sikap beberapa lelaki yang tak hirau pada hal-hal istimewa yang ia simpan tentang Mori. Para lelaki menyukai Intina. Menyukai rambut hitam berombaknya, alis tebal di wajahnya yang oval, atau tubuhnya yang padat. Intina dinikahi Mori 12 tahun silam, dan ia masih istri Mori sampai kelak lelaki yang ia cintai itu pulang.

“Berhentilah menunggu Mori,” seorang di antara mereka coba meyakinkan Intina. Tetapi ia menjawab mereka dengan bantingan pintu. Cara yang perlu ia lakukan untuk menghancurkan harapan setiap lelaki di kampung ini.

Intina mungkin bebal karena masih memelihara rindu. Mori pergi saat Waipode berusia delapan bulan. Di subuh terakhir ia menatap suaminya, adalah subuh saat Mori mengecup kening putrinya, lalu Mori menutup pintu rumah dari luar. Intina menanti di setiap subuh berikutnya, berharap Mori menguak pintu dan tersenyum pada mereka berdua. Waipode kecil yang tak pernah membaui tubuh ayahnya itu kini beranjak remaja.

Waipode tak menanyakan ayahnya. Tentu sukar merindukan sesuatu yang tak pernah ia temui. Bagi Waipode, Mori adalah masalah ibunya dan itu bukan urusannya. Mori bukan orang yang ia lihat pertama kali saat matanya mulai terbuka.

3/

Suatu malam, sebelum usianya genap 13 tahun, Waipode mendadak demam. Empat hari berikutnya, demamnya meninggi dan tak ada dukun Lere’Ea yang bisa meredakannya. Mereka menyerah begitu saja, serupa dukun pemula yang baru belajar mengaduk ramuan obat. Di hari ke enam, Waipode sempat membuka mata, sebelum kejang dan diam.

Sakit misterius dan kematian yang mendadak itu mengejutkan setiap orang di Lere’Ea. Intina membersihkan tubuh putrinya dan membungkusnya dengan kain bersih. Seperti adab di sini, maka jasad Waipode akan masuk ke rongga Dedalu raksasa.

Dari kursi kayu di beranda rumahnya, Intina tak beranjak hingga malam datang. Ia tatapi rongga yang telah dipenuhi kunang-kunang itu. Ia pingsan karena lelah dan tersadar di pembaringan pada malam ketiga, saat orang-orang kampung gaduh.

Pesta Kunang-kunang di rongga Dedalu itu, memendarkan cahaya keperakan seiring munculnya dua tangan yang menggapai-gapai. Orang-orang ngeri saat dua tangan itu mencengkeram rerumputan, merangkak, seperti berusaha menyeret tubuhnya keluar dari rongga. Tubuh polos berlumur tanah seorang gadis yang dirubung kunang-kunang. Orang-orang kian gaduh. Baru kali ini mereka melihat bangkitnya orang mati dari dalam rongga Dedalu.

Berdiri kebingungan, gadis itu bertanya. “Mana ibuku? Mana Intina, ibuku?”

Ya. Gadis itu menyebut nama dan mengakui Intina sebagai ibunya.

“Aku Waipode, putrinya.”

Orang-orang tercekat. Gadis itu mengaku sebagai Waipode putri Intina yang mati tiga hari lalu. Intina melepas sarungnya dan gegas menghampiri —siapapun ia— seraya ia selubungi tubuh polos yang mulai jadi perhatian mata tiap lelaki dalam kerumunan itu.

Semua lelaki, kecuali Kalai. Si pembuat boneka di ujung kampung Lere’Ea itu mendadak sakit dan tertidur akibat pengaruh obat. Ia tak tahu kegaduhan yang baru saja terjadi di sini.

4/

Di Lere’Ea tak ada yang bisa membuat boneka kayu sebaik Kalai. Ia curahkan segenap perasaannya saat membuat boneka-bonekanya. Memahat boneka-boneka perempuan setinggi satu meter yang seolah hidup. Hanya boneka perempuan. Di akhir pekan, kereta tuanya berderit-derit menapaki jalan kampung berbatu menuju kota, ke toko tempat ia biasa menitipkan boneka untuk dijual.

Selalu saja ada boneka yang tak laku. Beberapa model tertentu entah kenapa tak mau dibeli orang. Mungkin mereka tak suka pada bentuknya. Boneka-boneka yang tak laku itu ia bawa pulang dan dijejerkan di sebuah rak khusus di ruang tengah rumahnya, sebagai penanda untuk tak lagi membuat model seperti itu. Bahan baku boneka kian sukar ia dapatkan. Pohon Dedalu di tengah kampung sukar dipanjati untuk sebatang dahan yang lurus.

Ya. Dahan Dedalu adalah rahasia keunggulan boneka pahatan Kalai. Kayu Dedalu dipanasi lebih dulu sebelum ia pahat menjadi kepala, tubuh, tangan dan kaki bagi boneka-bonekanya. Tekstur kayu yang lunak membuat pisau Kalai lincah menari-nari di sekujur kayu.

Dedalu seperti tumbuh untuk Kalai. Aroma kematian yang dihisap Dedalu dari jejasad di rongganya, telah menyuburkan dan menumbuhkan dedahan baru.

Tetapi Kalai tak membuat boneka pada hari seorang gadis keluar dari rongga Dedalu. Ia juga tak ada di antara banyak lelaki yang merasa beruntung karena memergoki tubuh gadis itu. Sakit membuat Kalai harus menemui dukun Lere’Ea untuk membeli ramuan obat. Efek ramuan itu membuatnya lelah dan merasa mengantuk. Ia tidur seharian dan tak tahu sesuatu telah terjadi di kampung itu selepas petang.

Para dukun di Lere’Ea membenarkan, bahwa gadis dewasa yang keluar dari rongga Dedalu itu adalah Waipode, putri Intina. Hal aneh yang sukar mereka jelaskan. Dedalu itu telah menghidupkan Waipode pada tiga hari setelah kematiannya. Waipode keluar dalam rupa gadis dewasa, 10 tahun lebih tua dari umur gadis remaja yang dimasukkan Intina ke rongga pohon itu.

Intina tak mau mempersoalkannya. Gadis itu hidup kembali dalam bentuk apapun, jika ia memang Waipode, maka Intina akan mengakuinya. Akan terasa aneh, mereka menjalani hidup seperti semula. Seperti sebelum kematian mendatangi putrinya lalu mengembalikannya.

5/

Bagi Waipode, dari si pemahat boneka itu. Waipode menyukai boneka-boneka buatan Kalai. Boneka dan pemuda tampan, adalah dua hal yang selalu bisa menciptakan cerita bagi seorang gadis dewasa. “Aku suka bonekamu,” ujar Waipode.

Kalai tersenyum. “Kudengar, kau membuat gaduh seisi kampung. Apa yang terjadi di sebrang sana? Sehingga para dewa mengizinkanmu pulang?” Kalai bercanda.

Waipode tertawa. “Di sebrang sana lebih tenang. Tak ada orang berkelahi karena tanah. Tak ada kejadian seperti yang dialami keluarga Adenar yang dilarang sembahyang dan terusir dari Laibatara (rumah ibadat). Dunia orang mati lebih toleran daripada dunia orang-orang hidup.”

Kalai tertegun mendengar kata-kata Waipode.

“Ini buatmu,” Kalai menawari Waipode sebuah boneka yang baru selesai ia buat. Waipode mengangguk gembira. Kendati boneka itu belum diwarnai.

Itu hanya perbincangan kecil. Tetapi Waipode selalu ada saat pemuda itu bekerja. Keintiman mereka membuat pemuda lainnya cemburu. Waipode telah memilih, dan pemuda beruntung itu adalah Kalai.

6/

Kalai menyadari bahwa hal aneh kerap terjadi di rumahnya saat larut malam. Bengkel kerjanya yang berantakan saat ia tinggalkan, selalu rapi esok paginya. Perkakas tersusun di tempat semula. Sampah rautan kayu hilang tak berbekas. Seluruh penjuru rumah bersih. Seperti ada tangan misterius yang telah membantu membereskan kekacauan itu.

Saat Kalai pulas, para boneka buatannya bergerak. Ya. Boneka-boneka kayu itu hidup dan turun dari rak pajang di tengah rumah. Mereka jelajahi tiap ruangan, bertingkah layaknya gadis muda yang sibuk merapikan rumah. Mereka kembalikan semua benda ke tempatnya, menanak bubur dan memanaskan kopi buat Kalai sebelum mereka kembali ke tempat semula sebelum fajar menyingsing.

Tetapi, boneka-boneka itu mulai kerap membicarakan Waipode. Kehadiran gadis itu jadi masalah yang serius bagi mereka.

Dedalu raksasa di tengah kampung menyimpan keganjilan sejak pohon itu mulai dijadikan makam. Pohon itu tak saja menyerap aroma kematian, tetapi juga menyimpan arwah para gadis dewasa yang mati dalam pembuluh getahnya. Arwah-arwah itu berdiam di sana dan menunggu untuk tubuh baru. Mereka tak sengaja hidup oleh cinta yang dicurahkan Kalai saat ia memahat boneka-bonekanya.

Mereka benci mendapati pemuda itu kerap mengagumi Waipode. Hanya butuh sedikit alasan untuk sebuah rencana kematian.

7/

Bukan kebetulan saat sebuah benturan kecil membuat roda kereta Kalai lepas dan menggulingkan kereta tua itu bersama penumpangnya. Waipode sudah mati saat Kalai mengeluarkan tubuhnya dari himpitan kereta.

Perasaan Intina kembali hancur atas kematian Waipode untuk kedua kalinya itu. Ia menunggu keajaiban yang tak datang di hari ketiga setelah jasad Waipode ia masukkan ke rongga Dedalu. Putrinya tak hidup lagi. Tak ada cahaya keperakan, kecuali kerumunan kunang-kunang yang tetap berpesta.

Tetapi, Kalai punya cara mengatasi dukanya. Pada hari ketiga, di saat Intina berharap Waipode keluar dari rongga Dedalu, Kalai telah menyelesaikan sebuah boneka kayu.

Boneka yang sangat menyerupai Waipode. Boneka yang membuat Kalai tergila-gila. Boneka yang hidup di pengujung malam dan diam kembali sebelum fajar datang. Boneka yang kerap memestakan gairah Kunang-kunang, meminta Kalai memasukkan sepuluh boneka lainnya ke api tungku, dan membuat pemuda itu bersumpah tak lagi memahat boneka. (*)

Ubud, Oktober 2013

Twitter: @IlhamQM

 

Catatan:

*) cerpen ini meminjam tradisi penguburan bayi pada liang pohon di Tana Toraja dan tradisi penguburan pohon di Trunyan, Bali.

Iklan

[Cerpen] Kapal Terakhir | Jawa Pos | Minggu, 23 November 2014

Kapal Terakhir

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilust_Kapal Terakhir2

Di tepian Nieuwe Maas, Rotterdam

RODERICK menemui Slavina selepas matahari tergelincir pukul tiga sore. Cahayanya menyandari punggung gadis itu —membiaskan kemilau kemerahan di rambutnya. Tapi kondisi Slavina membuat lelaki itu cemas. Ia tegak di beranda, di sisi Slavina, menghadap ke sungai Nieuwe Maas dalam kebisuan. Mereka ditikam canggung. Ah, bukan mereka, tapi cuma Roderick saja. Untuk pertama kali, lelaki itu harus mengasihani dirinya. Ia butuh penebusan atas kerumitan yang sedang terjadi.

“Aku datang, Slavina,” pelan lelaki itu berujar seraya meletakkan telapak tangannya di bahu Slavina, “aku datang, Sayang.”

Tetapi Slavina tak bergeming. Matanya lurus ke aliran air sungai Nieuwe Maas yang mengalir pelan menuju delta Rotte dengan puluhan pintu air di ujung Hoogstraat yang dibangun tahun 1260 itu. Slavina menggumam. Gumaman yang datar kemudian lembut —seperti suara yang jatuh di tengah musim dingin di akhir November.

Gumam yang membuat jantung Roderick seperti berhenti. Kini, ia tak akan seyakin apa yang ia sangkakan sebelum meninggalkan Soerabaja. Keadaan ini ternyata tak akan baik-baik saja. Ini kekalahannya? Kekalahan dari sesuatu yang diimpikan Slavina?

Juli 1825. Seperti ada kerudung yang menyelimuti wajah Slavina. Seperti wajah yang diselimuti hamparan salju. Kemurungan yang datang bergegas. Mata Slavina juga sedingin angin di bulan-bulan bersalju. Hangatnya angin laut yang berhembus dari selatan seperti tak akan pernah dirasakan gadis itu lagi.

“Bicaralah, Sayang.” Pinta Roderick. Ia ingin berharap agar gadis di sisinya itu menusukkan rumpunan kata-kata menyakitkan tepat ke jantungnya. “Katakanlah bahwa aku lelaki paling terkutuk di muka bumi.”

Suara lelaki itu nyaris meratap.

 

Di tepian Brantas, Soerabaja

Srijanti duduk di beranda belakang rumahnya, memandangi aliran air sungai Brantas yang tenang. Rintik kecil air hujan bentrok di permukaannya. Mata gadis itu juga tiris. Semestinya, harmoni itu bisa menenteramkan hatinya. Tetapi Srijanti sedang tak peduli.

Ini April yang gerimis dan waktu menggigil di aliran Brantas. Kehangatan di dada mereka sudah pergi. Pinggiran pagar beranda di mana Srijanti duduk, berderit menyedihkan. Tumit gadis itu sengaja dibentur-benturkan ke kisi-kisi bercat hijau. Roderick bangkit dari duduknya, pinggulnya kebas. Ia berjalan ke arah Srijanti dan menopangkan tangannya di pinggiran pagar beranda.

Srijanti mendehem. “Kau jadi pulang ke Rotterdam?” Ia menyela suara rerintik pada atap sirap. Setelah bergumul berhari-hari dengan perasaannya, ia akhirnya bersedia menerima kedatangan Roderick.

Sepekan lalu, tersebar kabar rencana kepulangan Roderick ke Rotterdam. Hampir setiap klerk di kantor Keresidenan Soerabaja itu menggunjingkan ihwal kepulangannya yang tiba-tiba. Entah bagaimana ihwal itu pun bocor pada Srijanti. Ada nama Slavina terselip di antara pembicaraan orang-orang sekantor.

Namun Roderick tak sedang mencemaskan gunjingan itu dan siapa orang yang telah menyebarkannya. Saat ini, ada benda besar berkilat di pangkuan Srijanti yang membuat lelaki itu harus bicara hati-hati. “Kau bisa menahanku,” tukas Roderick segera. Lelaki itu menegakkan tubuhnya dan memandang searah pandangan Srijanti, “aku akan tetap di sini jika kau inginkan.”

Heh…” Srijanti tersenyum tipis. “Untuk apa?”

Pertanyaan pendek Srijanti membuat lelaki itu tertunduk lagi.

**

Entah kenapa ia menjadi canggung di depan Srijanti. Padahal, setahun terakhir ini, mereka selalu lancar membincangkan banyak hal. Srijanti selalu bisa memancingnya agar bercerita tentang kisah heroik di Jardin des Plantes di istana Versailles, atau tentang gurihnya Bottarga di sebuah motel kecil di Sardinia. Kadang Roderick pun sukar untuk tak memamerkan lezatnya Cabernet Sauvignon yang diproses dari anggur-anggur bermutu di sepanjang Ribera del Duero. Srijanti lalu menimpalinya dengan puluhan pertanyaan saat Roderick berkisah tentang bebungaan cantik yang mekar di perbukitan Savoy.

“Untuk cerita-cerita yang belum sempat aku kisahkan,” Roderick segera menjawab pertanyaan Srijanti tadi.

Situasi mereka saat ini tak seperti kata Scherezade tentang waktu yang menakjubkan, yang seharusnya dimiliki setiap pasangan kekasih saat mereka memiliki kisah untuk diceritakan. Kisah yang layak mereka pertukarkan.

Selalu ada kelirihan dalam suara Srijanti dan itu membuat darah Roderick memompa dengan cepat. Lelaki itu belum pernah cemas luar biasa sampai ketika ia mendapati Srijanti duduk sendirian dengan belati besar di pangkuannya.

“Oh, semua itu tak penting lagi bagiku.”

“Tapi penting bagiku.” Roderick menggeleng, “aku hargai setiap waktu bersamamu.”

“Seperti poppy yang menjadi benar hanya karena orang-orang menyukainya?” Srijanti lagi-lagi membuat Roderick didera rasa bersalah.

“Tidak seperti itu,” desis Roderick.

Srijanti memalingkan wajahnya. Matanya dipenuhi penyesalan. “Apakah kau akan membenciku, jika aku menjadi penyebab hilangnya satu-satunya harapanmu yang paling berharga, walau itu akan jadi sebab kehancuranku sendiri?”

“Jangan, Sri…” Roderick menyentuh lengan gadis itu.

**

Srijanti bisa membuat Roderick kehilangan kata-kata. Setahun lalu, betapa menyenangkan memulai pertemuan dengan gadis itu, saat Roderick dihinggapi kebosanan di jamuan makan malam di kantor Keresidenan Soerabaja. Srijanti memperkenalkan diri dan segera membuat suasana beku di hati lelaki itu menjadi cair. Lalu, pertemuan demi pertemuan membuat Roderick bisa melepaskan diri dari himpitan jenuh akibat rutinitas tugasnya.

Mereka punya banyak alasan untuk bertemu. Mengisi sore di taman kota di depan kantor Keresidenan, atau duduk bertukar cerita di jamuan teh sore. Srijanti merasa begitu romantis saat bersama Roderick bersampan menyusuri sungai Brantas.

Srijanti menjadikan tiap pertemuan itu sebagai alasannya membangun perasaan. Roderick luput menyadari dan mengira semua baik-baik saja.

“Kau lihat. Betapa jahatnya aku yang hendak merebut harapan perempuan lain.”

“Sri, hentikan..!”

“Oh, naifnya aku, Roderick.”

Mata Roderick mengatup. “Aku mohon, Sri…”

Wajah Srijanti kembali berpaling ke aliran Brantas. Lingkaran rintik hujan kini merata di permukaan sungai itu. Roderick harus membayar setiap jengkal kerumitan ini. Kecemasan kian mencengkeram hatinya setelah Srijanti menuntaskan rajukannya.

“Aku tak pernah menduga kita akan berada di posisi ini.”

Ucapan Roderick itu membuat mata Srijanti berkaca-kaca. Baginya, lelaki itu seketika berubah menjadi sosok yang asing. “Kau bahkan tak bisa meyakinkan dirimu sendiri,” pungkas Srijanti.

Wajah Roderick panas. Kata-kata Srijanti begitu keras menamparnya.

 

Di geladak de Luijpaert, Samudera Pasifik

Angin lemah dari buritan membuat de Luijpaert bergerak lamban. Roderick menantikan hari saat kapal ini merapat di dermaga Rotterdam. Tiga bulan perjalanan yang membosankan. Masih tersisa dua pekan lagi baginya merasakan siksaan mabuk laut. Sedikit sekali waktunya untuk membaca, dan masih banyak buku yang sepertinya tak akan terbuka.

Ia telah menerima semua perasaan Srijanti. Bagi Roderick, kini tersisa sebuah permintaan lain yang harus ia penuhi. Sekujur tubuhnya tiba-tiba ngilu dan kepahitan mendera batinnya, saat ia mendapati wajahnya di pupil mata Srijanti yang membesar.

Roderick nyaris tak pernah berada di geladak de Luijpaert. Sempat ia singkirkan setiap kecemasannya pada kondisi Slavina. Tetapi, seperti hari-hari yang harus dilalui seorang penyihir tua, seperti itulah perasaan terkutuk yang membalun di dadanya.

Pada detik terakhir setelah meriam kecil de Luijpaert dibunyikan untuk menandai keberangkatannya, entah dari mana datangnya keputusan yang kini membuatnya tegak di geladak kapal terakhir yang meninggalkan Soerabaja di akhir musim pelayaran tahun 1825.

Menuju Rotterdam, bagi Roderick, adalah harapan untuk menyelesaikan sebuah kerumitan lagi, setelah ia gagal menuntaskan kerumitan yang lain.

Di geladak de Luijpaert, lelaki itu membayangkan senyum di wajah Slavina. Ini perjalanan penebusan seorang lelaki pemimpi yang dungu. Ia kini merasa seperti Pandora yang tergila-gila pada kotak yang menyimpan semua kutukannya sendiri.

 

Mata lelaki itu adalah Pandora

“Sayang, aku di sini sekarang. Aku menepati janjiku.” Roderick ingin agar Slavina menyahutinya. Warna tembaga di ufuk membias di aliran Nieuwe Maas.

Slavina hanya menatap nanar pada lelaki yang sangat ia harapkan kehadirannya itu. Segaris senyum tipis menghiasi sudut bibir gadis itu saat Roderick mendatanginya selepas turun dari de Luijpaert.

Roderick hendak mendahului waktu yang sudah koyak dan hanya akan menemukan Slavina yang terbebas dari kerinduan yang meremas hatinya. Tetapi, Roderick hanya menemukan gadis yang duduk diam di kursi yang disiapkan untuknya di beranda ini. Slavina duduk berselimut, dalam pelukan lumen lembut cahaya mentari sore.

Langit sore belum sempurna merah tembaga saat Roderick mendekati punggung Slavina di beranda itu. Air mata lelaki itu tumpah, saat menyadari nasibnya yang buruk: Slavina bahkan tak mengenali wajahnya lagi.

Wajah yang dipinta Slavina lima tahun lalu dan di tiga bulan terakhir ini.

Roderick memejamkan mata, merasa begitu terkutuk, saat ia mendengar Slavina terus mengumamkan kata-kata yang sama. “Aku siap, Sayang. Aku siap untuk hari ini.”

Gumaman yang terus ia ulangi, sampai kepalanya terkulai.

Roderick melihat kehancuran berderap mendatanginya. Wajah pias Slavina tertutupi rambutnya yang kemerahan. Gadis itu pergi begitu saja, tanpa benar-benar menyadari kehadiran Roderick. Seperti saat Roderick menemukan pantulan wajahnya di pupil mata Srijanti, ia juga menemukan wajahnya di pupil mata Slavina.

“Cinta yang menghidupkan itu, nyatanya telah membunuhku,” Roderick terngiang ucapan Srijanti sebelum gadis itu mengiris pipa nadinya dengan belati besar di pangkuannya. Betapa Roderick menyadari, matanya telah menjadi Pandora: kotak yang berhasil menampung semua kemalangan. (*)

Molenvliet, Juni 2014

Twitter: @IlhamQM

Catatan:

Klerk: pegawai

Poppy: nama lain candu (Papaver somniferum L.)

 


%d blogger menyukai ini: