Tag Archives: batu

Separuh Jalan Menuju Matahari

Menyaksikan festival budaya-tradisi suku tertua di Sulawesi Tenggara. Kedatuan ini memiliki banyak sejarah dan kisah unik yang terus terpelihara.

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Plaza Tangkeno di hari pembukaan festival -- photo@IQM

Plaza Tangkeno di hari pembukaan festival — photo@IQM

Tubuh berbungkus jaket parasut tebal saat kami bersua pagi di desa Rahadopi. Waktu menunjuk pukul 07:10. Darman, bangun lebih dulu dan berjongkok di sisi perapian tanah. Ia kedinginan. Pemilik rumah menyuguhi kopi plus sepiring kue. Kami sengaja datang untuk Festival Tangkeno 2015; sebuah festival budaya-tradisi dari suku tertua di Sulawesi Tenggara. Festival ini dirangkai Sail Indonesia 2015 yang melayari rute Sail Sagori 2015.

Dari desa Rahadopi, di ketinggian 680 mdpl, atol Sagori tampak di sisi barat, berjarak 2,5 nautikal mil dari pantai Kabaena, melengkung sabit bulan berwarna putih dengan laguna biru pekat di tengahnya. Air surut, laut teduh sekali di awal September ini. Karang Sagori, atol terbesar ketiga di Indonesia dan keempat di dunia.

Saya teringat sejarah kelam di atol Sagori ini. Pada paruh abad ke-17, dunia pelayaran dikejutkan suatu malapetaka—Ternatan Fleet: Bergen op Zoom (jenis jacht, berbobot 300 GT), Luijpaert (jacht, 320 GT), Aechtekercke (jacht, 100 GT), dan De Joffer (fluyt, 480 GT), dikomandoi Tijger (retourschip, 1000 GT) karam sekaligus di karang ini pada tanggal 4 Maret 1650. Armada VOC ini sedang melayari rute Batavia-Ternate melalui Selat Kabaena. 581 orang awak kapal, serdadu dan saudagar dapat menyelamatkan diri.

Tijger itu jenis mothership space kelas utama, kapal terbesar yang pernah dibangun VOC pada 1640-41. Kapal kebanggaan VOC ini mengakhiri riwayat pelayarannya di karang Sagori. Duapuluh pucuk meriam, tujuh cartouw (meriam kecil) plus amunisi, diangkut prajurit Mokole (raja) XVII Kabaena dan diletakkan di lima benteng kedatuan. Salinan mikrofilem catatan itu disimpan Breede Raadt, di National Archives of the Netherlands, di bawah Fonds-Code: 1.04.02, Item No.1179A/B, Sec.296-340.

Matahari beranjak naik. Menurut informasi, festival akan dibuka pukul 10 pagi (2 September 2015). Kami harus bergegas ke plaza Tangkeno. Motor sewaan kami harus menanjak 5 Km hingga di ketinggian 800 mdpl, di pinggang gunung Sabampolulu. Jalan beraspal dan sedikit pengerasan sebagai bagian dari proyek lingkar pulau Kabaena.

Cukup mudah mencapai Kabaena. Dari kota Kendari dan kota Baubau, Kabaena dicapai melalui darat sebelum menumpang jet-foil atau pelra. Sedangkan dari Bulukumba (Sulawesi Selatan) menggunakan ferry via Tanjung Bira. Pun mudah dicapai menggunakan yatch (kapal layar tiang tinggi) atau kapal pesiar yang berlabuh di perairan bagian selatan. Jika kelak resmi sebagai kabupaten, sebuah bandara akan dibangun di utara pulau.

Kurang dari 25 menit, kami tiba di desa Tangkeno. Kemarau panjang tahun ini mengubah wajah Tangkeno yang hijau menjadi kemerahan dan kering. Angin menerbangkan debu tanah merah ke mana-mana. Suhu naik 34-35ºC di siang hari, dan secara ekstrem turun hingga 15ºC menjelang sore hingga malam. Kondisi kontras justru tampak di dua desa sebelumnya, Tirongkotua dan Rahadopi yang dibalut hijau hutan sub-tropis serta tajuk-tajuk pohon Cengkih.

Di ketinggian Tangkeno, rata-rata kecepatan angin 2 knot, dan uniknya, mampu menghalau rasa panas di kulit. Kami tak berkeringat saat berada di plaza Tangkeno, di tengah siraman cahaya matahari siang hari. Percayalah, berjalan di plaza Tangkeno di musim kemarau, laksana menapaki separuh jalan menuju matahari.

Kabaena—dan 11 pulau besar-kecil yang mengepungnya—bersiap menjadi kabupaten baru, memisah dari kabupaten Bombana. Jarak administrasi, luas wilayah dan kecemasan akibat laju deforestasi karena operasi pertambangan menjadi sebab utama. Kenyataan itu membuat warga lokal kecewa dan pihak Kedatuan Kabaena marah besar.

“Ada kerapatan adat sebelum penyambutan,” Darman berbisik. Baiklah, itu tak ada di run-down acara. Darman menyiapkan kamera dan peralatan rekam. Saya berinteraksi dengan beberapa tokoh adat di sisi Baruga Utama. Petugas penyambut berpakaian adat dan para pementas gelisah karena udara panas, sebagian sibuk merapikan kostum yang disergap angin.

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama -- photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama — photo@IQM

Darman berlari ke arah Baruga Utama saat orang-orang bergerak ke arah yang sama untuk menyimak sambutan dari Mokole Kedatuan Kabaena. Di akhir sambutan Mokole, kerapatan adat dimulai dan dihadiri para Bonto (pemangku adat), Mokole Kedatuan Keuwia dan kerabat Kedatuan Lembopari. Kerapatan adat menyetujui acara itu, sekaligus mengundang Bupati Bombana, para peserta Sail Indonesia 2015, dan utusan dari sejumlah kerajaan tetangga (Bone, Wuna, dan Tolaki) ke Baruga Utama. Kedatuan Lembopari juga mengirim utusan sebab sedang memersiapkan Mohombuni (penobatan) Mokole baru.

Lembopari, Keuwia, dan Kabaena, adalah tiga protektorat Kedatuan Bombana lampau. Kedatuan suku Moronene ini dipecah kepada tiga pewaris di masa pemerintahan Nungkulangi (Mokole ke-III Bombana). Dendaengi, Mokole ke-I Bombana, adalah adik Sawerigading, tokoh poros dalam epos La Galigo. Menurut etnolog Dinah Bergink (Belanda), dan Tengku Solichin (Johor), eksistensi suku Moronene dimulai sekitar abad ke-5 dan ke-6 Sebelum Masehi, namun jejak suku bangsa proto Melayu ini ditemukan melalui hubungan monarkisme dengan Kedatuan Luwu (Sulawesi Selatan) dan moyang mereka di Yunan Selatan, Tiongkok.

Demi festival ini, Darman rela mengulur waktu penelitian gelar masternya. Bujukan saya ampuh membuatnya meninggalkan lokasi riset. Tahun lalu ia kecewa karena festival dibatalkan saat sungai Lakambula membanjiri empat desa di poros utama ke lokasi festival.

Di sisi selatan plaza Tangkeno yang luas itu, tampak 10 perempuan bersiap. Di genggaman lima penarinya ada parang nan tajam. Ke-10 perempuan ini akan menarikan Lumense, tarian tradisi perempuan Kabaena. Lima perempuan berparang tajam itu bergerak cepat saling mengitari dengan penari lainnya. Rampak gerak dalam formasi yang kerap berubah cepat sanggup membuat merinding. Menjelang akhir tarian mereka menebas sebatang pohon pisang sebagai simbol kekuatan dan pengorbanan. Intensitas gerakan Lumense sedikit menurun saat parang disarungkan dan 10 penari melakukan Lulo asli. Lulo asli Kabaena punya 21 varian tarian dengan ritme tabuhan gendang yang berbeda. Tetapi, sejarah tari Lumense memang mengerikan.

Tari Lumense dibawakan gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa'combo dan Enu -- photo@IQM

Tari Lumense dibawakan gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa’combo dan Enu — photo@IQM

Menurut Mokole ke-XXIX Kabaena, Muhammad Ilfan Nurdin, SH. M.Hum., Lumense tumbuh dan berkembang sesuai peradaban. Di zaman pra-Islam, Lumense sakral dan hanya ditarikan para yo’bisa (orang yang paham alam gaib dan berilmu kanuragan). Yo’bisa secara spontan menari (vovolia) saat mendengar gendang Lumense ditabuh. Di pulau ini, miano da’Vovalia berumur panjang. Ina Wendaha, Maestro Lumense, mencapai usia 114 tahun.

Lumense adalah penebus diri para pelanggar adat (me’oli). Pelanggaran berdampak pada ketidak-imbangan kosmos, alam, manusia dan menyebabkan bencana. Nah, ini yang menyeramkan!—maka Lumense menjadi media ritual persembahan. Para Bonto menggelar Lumense yang diakhiri pemenggalan (penebasan) leher subyek persembahan, yakni seorang gadis/jejaka. Di era Islam, subyek tarian diganti ternak, hingga Kyai Haji Daud bin Haji Abdullah Al-Kabaeny menggantinya dengan pohon pisang.

Suara musik mengalihkan pandangan semua orang. Kabaena Campo Tangkeno dinyanyikan tujuh biduan dengan iringan alat musik perkusi tradisional, Ore’Ore. Ketujuh penyanyi memegang alat musik bambu monotonik pelengkap irama Ore’Ore. Berikutnya, orkestra musik bambu mengalun di depan Baruga Utama, oleh 30 siswa SDN 1 Tirongkotua yang dipandu konduktor. Itu menarik perhatian para tamu asing. Mereka meminta orkestra itu diulang dua kali.

Agnes menyempatkan diri menjajal nada Ore’Ore. Patrick dan istrinya menyapa para siswa orkestra musik bambu dan membagikan flute pada mereka. Wajah semua orang puas sekali. Gerah mencapai plaza Tangkeno dalam perjalanan ini, terbayar dengan apa yang kami saksikan.

Pukul 12 siang, para pemangku adat mengajak tamu ke bawah Laica Ngkoa (rumah adat) Kabaena. Kami dijamu kuliner tradisional. Suguhan ikan bakar dan kacang merah bersantan membuat Darman tergila-gila—ia tambah dua kali.

Usai jamuan makan, pembukaan festival dilanjutkan tari Lulo-Alu yang eksotik dan ditutup drama-tari kolosal tentang kisah Ratu Indaulu. Mengisahkan fragmen pelayaran Ratu Indaulu dari Tanah Besar menuju Kabaena, menempati Goa Batuburi, hingga istana kerajaan selesai didirikan di Tangkeno. Sendratari berlangsung 12 menit.

Peserta Sail Indonesia 2015 memadati Fort Tuntuntari dan Fort Tawulagi—dua dari lima benteng pertahanan Kabaena—pada sore hari. Dua benteng ini berdiri kokoh menjaga kota raja. Di pagi hari, mereka mengunjungi permukiman, pasar tradisional, dan berbagai obyek wisata; pantai Lanere, pantai Wulu, Air Terjun Ulungkura, Air Terjun Manuru, permandian Tondopano, padang pengembalaan Kuda, kampung laut Suku Bajau, wisata bahari selat Damalawa, konservasi Mangrove Pising, eco-farm, Air Panas Lamonggi, sentra kerajinan batu mulia, snorkling dan diving di kuburan kapal karang Sagori, caving di Goa Batuburi, dan lainnya. Pengelola menjajaki bike-tracking, paralayang dan arung jeram.

Tracking di gunung Sabampolulu (1700 mdpl) dan climbing di gunung Watu Sangia (1200 mdpl) sangat digemari para tamu festival. Gunung Watu Sangia ini pernah dijajal Norman Edwin (alm), enam bulan sebelum pendakiannya di Aconcagua, Argentina.

Pementasan seni malam hari paling ditunggu. Warga dan sekolah se-pulau Kabaena berpartisipasi dalam berbagai lomba selama festival; tari tradisi, permainan, hingga sastra lisan Tumburi’Ou (hikayat/dongeng). Festival tahun depan akan menambah cabang sastra lisan; Kada (epos) dan Mo’ohohi (syair). Itu tiga dari lima sastra lisan Kabaena, selain Ka’Olivi (nasihat/amanah) dan Mo’odulele (syair perkabaran).

Kabaena memang kaya tradisi yang terpelihara. Kedatuan Kabaena lampau punya banyak sejarah dan kisah unik. Selatnya digunakan sebagai rute penting pelayaran rempah Nusantara, hingga dua ekspedisi besar pernah memetakan potensinya; Ekspedisi Sunda, 1911 dan Ekspedisi Celebes, 1929. Ekspedisi yang disebut terakhir itu, dipimpin Prof. H.A. Brouwer dan berhasil memerkenalkan batuan mulia (carnelian) Kabaena ke Eropa. Carnelian serta rekaman petrologi pulau ini dipresentasikan oleh C.G. Egeler di Bandung tahun 1946, dan kini tersimpan rapi di Geological Institute, University of Amsterdam.

Peradaban Kabaena punya sistem penanggalan unik yang disebut Bilangari. Almanak bermatriks lunar dengan 9 varian ini masih digunakan sehari-hari, khususnya menentukan permulaan musim tanam, pelayaran, pernikahan, pendirian rumah, upacara adat, bahkan konon, menghitung waktu kelahiran dan kematian seseorang.

Pulau “kecil” ini juga berkontribusi pada sastra Indonesia. Khrisna Pabicara, novelis Sepatu Dahlan, adalah satu dari beberapa penulis Indonesia yang menghabiskan masa kecil hingga SMA di sini. Bambang Sukmawijaya, cerpenis Anita, juga dari pulau ini. Generasi Kabaena sungguh dibesarkan dalam tradisi sastra yang baik.

Kami tak lagi menunggu penutupan festival, sebab Darman harus kembali ke lokasi risetnya dan saya yang ditunggu banyak tugas. Kabaena, selalu saja memancarkan magisme tradisi yang berkelindan dalam eksotisme alamnya. Suatu keindahan puitik yang memanggil-manggil. (*)

Akses menuju Pulau Kabaena

Akses menuju Pulau Kabaena

Tips:

  • Waktu kunjungan paling baik ke Kabaena antara bulan Mei-Agustus (musim panen/Po’kotua), dan bulan September-Desember (festival tradisi-budaya).

  • Pada bulan-bulan ini laut begitu teduh.

  • Sebaiknya melalui jalur Kendari-Kasipute (via darat + 3 jam) dengan jalan darat yang mulus, dan Kasipute-Kabaena (via laut). Gunakan jet-foil untuk menghemat waktu tempuh (2 jam). Jet-foil beroperasi hanya pada hari Selasa dan Sabtu, berangkat pagi 08:00 dan siang 12:00 WITA. Dari Kabaena-Kasipute, jet-foil melayani pada hari yang sama. Jika kebetulan Anda sedang berada di kota Baubau, ada jet-foil yang melayani jalur ini (Baubau-Kabaena-Kasipute) pada Senin dan Jumat.

  • Jika bingung, mintalah bantuan warga setempat. Setiap orang akan membantu Anda. Jika Anda lebih suka menggunakan jasa ojek, tarifnya murah dan bisa diatur. Penyewaan kendaraan juga ada. Tarif guide tidak dipatok.

  • Anda tak (belum) bisa menemukan hotel/motel/penginapan. Tetapi setiap rumah warga bisa Anda jadikan home-stay. Mereka bahkan tak meminta apapun dari Anda.

  • Untuk hicking, selalu gunakan guide warga lokal, untuk menghindari beberapa wilayah larangan (tak boleh dimasuki). Untuk rock-climbing, sebaiknya persiapkan alat Anda dengan baik. Tingkat kesulitan dan kemiringan tebing batu di Gunung Watu Sangia beragam. Formasi batuannya berupa kars muda.

 

Catatan:

Artikel ini dimuat Koran Tempo Minggu, edisi 27 September 2015.

 

Foto-foto lain:

Undangan makan di bawah rumah adat -- photo@IQM

Undangan makan di bawah rumah adat — photo@IQM

Kerapatan Adat Kedatuan Kabaena -- photo@IQM

Kerapatan Adat Kedatuan Kabaena — photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama -- photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama — photo@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 dijamu kuliner adat -- photo@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 dijamu kuliner adat — photo@IQM

Penari Lumense -- photo@IQM

Penari Lumense — photo@IQM

Gadis-gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa'Combo & Enu -- photo@IQM

Gadis-gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa’Combo & Enu — photo@IQM

Orkestra Musik Tradisional Kabaena (Musik Tiup Bambu) -- photos@IQM

Orkestra Musik Tradisional Kabaena (Musik Tiup Bambu) — photos@IQM

Orkestra Musik Bambu - 03 --@IQM Orkestra Musik Bambu - 02 --@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 berinteraksi dengan siswa pemusik bambu dan membagikan flute -- photos@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 berinteraksi dengan siswa pemusik bambu dan membagikan flute — photos@IQM

Patrick dan Istri berinteraksi dengan siswa Musik Bambu - 01 --@IQM Patrick dan Istri berinteraksi dengan siswa Musik Bambu - 03b --@IQM

Persembahan Ore'Ore (Musik Tradisional Kabaena) -- photo@IQM

Persembahan Ore’Ore (Musik Tradisional Kabaena) — photo@IQM

Salah seorang peserta Sail Indonesia 2015 menjajal nada Ore'Ore  -- photo@IQM

Salah seorang peserta Sail Indonesia 2015 menjajal nada Ore’Ore — photo@IQM

Tari Lulo Alu - 03 --@IQM Tari Lulo Alu - 02 --@IQM Tari Lulo Alu - 02b --@IQM

Persembahan Tari Lulo Alu (Tokotua-Kabaena Traditional Heritage Dance) - -- photo@IQM

Persembahan Tari Lulo Alu (Tokotua-Kabaena Traditional Heritage Dance) – — photo@IQM

Persembahan Sendratari Kolosal tentang Pendaratan Ratu Indaulu --photos@IQM

Persembahan Sendratari Kolosal tentang Pendaratan Ratu Indaulu –photos@IQM

Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 03 --@IQM Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 02 --@IQM Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 01 --@IQM

Partisipasi (olahraga dan seni) para siswa dari berbagai sekolah se-pulau Kabaena dalam Festival Tangkeno 2015 - --photos@IQM

Partisipasi (olahraga dan seni) para siswa dari berbagai sekolah se-pulau Kabaena dalam Festival Tangkeno 2015 – –photos@IQM

Partisipasi siswa dalam Festival Tangkeno 2014 - 01  --@IQM Partisipasi siswa dalam Festival Tangkeno 2014 - 03  --@IQM

Tangkeno Fest 2015

Tangkeno Fest 2015

Festival Tangkeno 2015

Pesisir Selatan Pulau Kabaena Tampak Dari Puncak Gunung Watu Sangia -- photo@Dody

Pesisir Selatan Pulau Kabaena Tampak Dari Puncak Gunung Watu Sangia — photo@Dody

Dataran Tinggi Gunung Sabampolulu -- photo@BahasaKabaena

Dataran Tinggi Gunung Sabampolulu — photo@BahasaKabaena

Plaza Tangkeno -- photo@Ist.

Plaza Tangkeno — photo@Ist.

Padang Pengembalaan Kuda -- photo@Dody

Padang Pengembalaan Kuda — photo@Dody

Olompu (Rumah Kebun) Orang Tokotua-Kabaena --photo@Dody

Olompu (Rumah Kebun) Orang Tokotua-Kabaena –photo@Dody

Goa Watuburi --photo@Hary

Goa Watuburi –photo@Hary

Air Terjun Ulungkura -01 -- @Ist

Air Terjun Ulungkura --photos@Ist

Air Terjun Ulungkura –photos@Ist

Panorama dari atas Gunung Watu Sangia --photo@Dody

Panorama dari atas Gunung Watu Sangia –photo@Dody

Atol Sagori - 01 -- @Ist Atol Sagori - 02 -- @Ist

Atol Karang Sagori --photos@Dody

Atol Karang Sagori –photos@Dody

 

Iklan

[Puisi] Hikayat Tiga Ksatria & Batu Lateng’U

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Hikayat Tiga Ksatria

 

: Manjawari

 

Lelaki yang perkasa

Sebelah kakinya di gunung Sampapolulo

Di dadanya pokok-pokok enau berkelindan

Dialah raja bertubuh besar; Mokole RangkaEa.

 

Lompatannya melampaui pulau-pulau

tangannya menyisir awan

lalu matahari kentara dari timur

Dari Wolio datang kabar menggemparkan

Lamun laut akan menyerang benteng dalam tiga ratus ribu tombak

 

Kabaena sepandangan mata

Tetapi Wolio harus sabar

Sebelum Murhum dan Lakilaponto menjemput

Pantang baginya menulah sakti

sebelum dua saudaranya datang

 

Ohoi….Manjawari melompat sigap

Di gerbang Wolio, di pesisir yang bergejolak

Sapuan tangannya menenggelamkan armada lamun

Dia menghalau, dia menghadang, menjaga dua saudara

Di saat Murhum mengamuk di utara

Lakilaponto menerjang di barat daya

 

Manjawari, sang Mokole Kabaena

Padanya, Sapati dianugerahkan

Padanya, Selayar dikuasakan

 

Di tangannya, Kabaena menuai jaya

Mokole ketujuh yang perkasa, Opu Manjawari

Di bekas istananya kini dia tenang

Di keheningan Sampapolulo, dia bersedekap

Sebuah kerangka raksasa tujuh meter

Duduk hening di kursi batu.

 

: Lakilaponto

 

Lakilaponto mendulang firasat

Mimpinya semalam tentang putri yang dirapun

Putri yang bermukena

Entah siapa yang kini bersiasat

Dua pulau mengapit, haturkan sembah

di jantung Tongkuno

 

Murhum telah datang

Padanya terkabar perihal bencana

Wolio sedang dirapun, ada lamun mendekat

Murhum tak bergerak, Lakilaponto tak bangkit

Kesaktian tak akan berguna, jika Manjawari tak dijemput

 

Kepada siapa selendang Sultan hendak dititipkan

Pada riasan bomba di tengah makam

Tongkuno yang tua, Lakilaponto berwasiat

Jika dia tak kembali, selendang Sultan mesti dilipat

 

Lakilaponto, manusia sakti negeri Tongkuno

Di Barat Daya, lelaki perkasa ini mengamuk

Dia terjang lamun, yang merapun di sudut

Seratus tombak, musuh rebah ke tanah

Inilah akhir mimpinya, inilah tafsirnya

 

Wanita bermukena dalam mimpinya

adalah Wolio, penebus akhir riwayat

Pada Murhum, diwasiatkannya tentang mukena

Kerudung sebagai permulaan masa.

Manjawari diciumnya. Setiap lelaki perkasa

Tahu kemana harus pulang.

 

: Murhum

 

Murhum yang sakti datang

Di hadapan Lakilaponto dia bersimpuh

Sultan itu tak bangkit, Murhum pun tak bergerak

Wolio harus bersabar, katanya.

 

Kabar yang dibawa Murhum, sungguh lena

Wolio akan dirapun, lamun dari timur sepenggalahan

Murhum harus tahu, adalah Manjawari yang bertuah

Lakilaponto tak akan beranjak,

Maka Manjawari harus berbilang ikut serta

 

Lelaki beraras langit, Murhum orangnya

Utara Wolio dijaganya, dihalaunya dari lamun

Senjatanya berputar, memakan lawan

Tiga saudara, tiga tuah

Lakilaponto merusak lamun begitu hebat

Tubuh Manjawari yang besar bikin lamun ngeri

Menjerit dan lintang pukang mereka

Melihat amukan ketiga saudara

 

Pada Murhum, Lakilaponto menitip wasiat

Agar memasang gerudung pada Wolio

Opu Manjawari sebagai saksi

 

Pada Murhum, Lakilaponto memberi tegas

Opu Manjawari akan menjaganya dari selatan

Hormati kuasa Manjawari dengan kabalu

Jaga hati Manjawari dengan kande-kandea

 

Lunas mimpi Lakilaponto

Tunai harkat Manjawari

Wolio kini bermukena

Di bawah duli Murhum, Butuni bersolek

2011

***

Hikayat Tiga Ksatria adalah gubahan ke bentuk syair yang mereduksi kisah sejarah lampau perihal tiga kesatria yang datang membantu kerajaan Wolio, dari ancaman serbuan perompak di perairan Ternate dan Tidore.

***

Batu Lateng’U

 

1

berlimpah hormat kami haturkan

dua puluh lembah mengantarainya

benda persembahan terbentang di muka

Dari seberang lautan kau berperahu. Dua ribu armada dalam bentangan sayap bangau. Dua puluh empat bidadari menyambut dengan selendang. Dibukanya jalan saat kakimu menyentuh bumi. Batu Lateng’U, batu keramat, kau pijak, memecah tiga. Pusaka kau simpan di belahan rambut pada seorang bidadari tujuh wajah. Wahai, lelaki yang di dadanya keluar para Opu. Bilakah batu Lateng’U memberi isyarat? Pada rumpun padi yang bunting? Pada kemilau sebiji mutiara kuning laksana emas? Kau wasiatkan Bala Olo Pedandi’A padaku untuk aku ingat: pada masa ketiga akan datang tiga yang bercahaya bagai sebatang bombana dan dua lembar kain enu.

2

pinang satu kerat, sirih sekapur

kesana-kemari, laksana sebiji kemiri dalam gendang

tanduk rumah, bumbungan mahligai

Menemani perjalananmu, sebatang tongkat bambu yang ruasnya dari belulang naga. Oh, Sawerigading, kami harus menepuk pundak untuk mengingatmu. Di tepian konali engkau mengiris topi untuk kau pupuri tanah yang dipenuhi doa dan harapan. Dendeangi tunduk di kakimu, menerima perintah. Dendeangi menata keturunannya di pesisir selatan, pada tenggara pulau Sulawesi. Sebelum Sawerigading menurunkan tumit, engkau pijak batu Lateng’U, hingga pecah. Menjadi tiga lajur, tiga warna-warni. Sawerigading berjanji akan kembali, sebelum badik Tamano Moronene memutih garam pada ujungnya.

3

irisan atapnya, potongan pangkal kasaunya

teduh tirisan atapnya, ujung potongan kayunya

agar mereka senantiasa ingat kapak dan parang sebagai alat pencahariannya

sampai mereka beruban dan berjalan bungkuk bertongkat

Pada pagi yang rawan, datang kabar tentang Nungkulangi yang rebah. Lelaki perkasa itu hujub di anak sungai mata permaisuri. Digenggamnya hulu badik Tamano Moronene. “Inilah waktu yang diperjanjikan, wahai….para pewaris,” suara putri Luwuk mengiringi Bala Olo Pendandi’A. Tiga tuan dan seorang puan berdiri di bawah bambu, menunggu api menyentuh kepala. Badik Tamano Moronene di hujamkan ke bumi. Saat telapak Nungkulangi menyentuh bahu maka restu diberikan, titah diturunkan, wasiat disampaikan. Di hadapan Nungkulangi yang membusung, Ntina Sio Ropa, si putri tujuh rupa menjadi pembela Poleang. Di hadapan Nungkulangi yang tegak, Eluntoluwu, si putra bijak menjadi payung Rumbia. Dihadapan Nungkulangi yang perkasa, Indaulu, si putri jelita menjadi benteng Kabaena. Bala Olo Pedandi’A telah ditunaikan; tatkala batu Lateng’U pecah tiga di bawah telapak kaki moyangnya, sang Dendeangi. Bombana menjelma serupa tiga sulur bersimpul tunggal.

2011

***

Diangkat dari sejarah tua terbentuknya kerajaan Bombana yang kemudian memecah menjadi tiga protektorat kerajaan; Kabaena, Poleang, Rumbia.

Fig. 68. Wandzeichnungen aus der Batu Buri-Honle bei Tankeno - gez. Grundler. (Gambar 68: Lukisan dinding di Gua Batu Buri, di Tankeno - ttd. Grundler)

Fig. 2. Die beiden hochsten Berge Kabaenas vom Norden her. (Gambar 2: Gunung Tertinggi di Kabaena, tampak dari sisi utara).

Collectie Tropenmuseum: Tekening van Het Skelet van Een Woonhuis op Kabaena Celebes - tmnr 10003886 (Kerangka rumah di Kabaena Sulawesi - Gambar: Koleksi Tropenmuseum)

Fig. 2. Balo-Haus im ostlichen Kabaena; vorn ein Grab mit Opferpfahl (Gambar 2: Rumah Balo-Moronene di Kabaena bagian timur; dengan tiang pengorbanan pada bagian depannya).

Fig. 1. Ein Huis in der Landsehaft Tankeno, Nord-Kabaena; Blick von Enano auf den Sangia Wita (Gambar 1: Sebuah rumah di wilayah Tankeno, Kabaena Utara, gambar diambil di Enano, Sangia Wita).

Fig. 1. Ein Huis in der Landsehaft Tankeno, Nord-Kabaena; Blick von Enano auf den Sangia Wita Gambar 1: Sebuah rumah di wilayah Tankeno, Kabaena Utara, gambar diambil di Enano, Sangia Wita.

Ein Moronene-Haus in Sud-Rumbia (Sebuah rumah orang Moronene di wilayah Rumbia).

Deskripsi gambar 3: Kampiri, salah satu bentuk rumah dari tiga jenis rumah dalam peradatan orang Moronene, di Pulau Kabaena. Dua lainnya adalah; Laica Ngkoa (rumah besar), dan Olompu (rumah kebun).

Sistem Perhitungan Waktu / Sistem Papan Bilangan Orang Moronene.

Sistem Perhitungan Waktu / Sistem Matriks Bilang'ari Sosial-Ekonomi Orang Moronene.

Salah satu sudut benteng kerajaan Kabaena-Moronene di Tankeno.

Salah satu sudut benteng kerajaan Kabaena-Moronene di Tankeno.

Gunung Watu Sangia, dilihat dari Tankeno.

Gunung Sampapolulo (di selatan Gunung Watu Sangia).

Situs gua bersejarah Watu Buri (Batu bertulis) di Tankeno. Beberapa bentuk lukisan pada dinding gua dapat dilihat pada gambar pertama di atas. Goa ini dipercaya sebagai tempat Ratu Indaulu pertama bermukim sebelum membangun istana kerajaan di Tankeno. Di dalam gua ini masih dapat ditemui berbagai perkakas dan meubel terbuat dari batu. Mulut gua ini sangat besar. Perhatian gambar orang di tengah di sisi bawah foto.

Gua Watuburi (gambar tampak dari bagian dalam).

Foto-foto berbahasa asing adalah koleksi antropolog Jerman, Grubeur dan Johannes serta koleksi Tropenmuseum, Belanda. Sedang foto lainnya diambil dari berbagai sumber terkait.


[Puisi] Ampuan Ibu

Oleh Ilham Q.Moehiddin

 

 

lapik kain yang rendah, wajahmu putih

selendang air menyampir di pundak

sanggulmu tersisip rembulan

tiada jelangak meluap kecuali senyum

 

awan menggelung indah di punggung sheng shan

membungkus mentari pagi, memuja tepian awan

cahaya meniti pada dalu tulang pipimu

kupu-kupu chimaera hinggap di bibirku

 

ibu, simpanlah rindu atasku

di pundak kiri dan di perutmu

bila engkau rasakan kehadiranku, tepuklah pundak kirimu

bila engkau rindu padaku, eluslah perutmu

 

hendak ke mana kuampu kepalaku?

apakah di sudut rumah di sebelah peti?

wahai…sang peneduh, usaplah kepalaku dipangkuanmu

di saat pulangku padamu kelak

 

***

 

18 Maret 2011

 

Sheng shan* : batu suci (watu Sangi’A)

Chimaera* : Ornithoptera chimaera (kupu-kupu sayap burung peri)

 

Iraq war files uncover more incidents of private security guards opening fire and killing civilians (sumber foto: fourtounis.gr)


Desa yang Teduh, Buah Mpana, dan Siluet Hitam

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Dari : Hera Hizboel (Rabu pukul 9:46)

Dear Ilham,

Aku lega bahwa ternyata Pos sungguh masih setia pada kita. Semua teman baikku, mendapat jatah 1 novel dariku. Kalau aku kirim padamu, berarti dikau termasuk teman baikku. Jangan pikirkan itu.
hmmm… Aku membayangkan indahnya tempatmu menyepi. Kapan2 cerita detail tentang tempat itu ya!
Ilham yang baik,
Please jangan sebut aku penulis cerdas cendekia, ah! Salah banget tahu nggak. hahahaha
Aku tak sabar menunggu ceritamu ttg pengalaman spiritual itu, dan aku juga “berdebar” menunggu bacaanmu tentangku. hehehehe

Salam hangat,
hera

***

KAMIS, minggu ketiga bulan Mei 2010. Sepagian itu aku menunggu suara yang tentunya demikian melekat di anak telinga. Suara sepeda motor tukang pos. Sengaja aku meluang waktu di beranda depan rumah; “menyantap” koran pagi…sesekali menyesap kopi yang segera menjadi dingin karena udara pagi diluaran. Meluang waktu seperti ini bukan tanpa alasan, aku sedang menunggu sesuatu, tentunya.

Biasanya, selepas kunjung dari sebuah toko buku, pulangnya tasku pasti terselip satu buku belanjaanku, setidaknya. Tetapi pada minggu sebelumnya, tiga buah buku yang menyita selera bacaku tidak kutemui di rak pajang. Sebuah buku tentang tinjauan ekonomi; sebuah lagi buku tentang thasawuf karya penulis asing terjemahan; dan buku milik Naimah Herawati Hizboel, Pendar Jingga di Langit Ka’bah, terbitan Langit Kata.

Tak usahlah aku menyebut dua judul buku lainnya di atas itu, tak mau aku, sebab diterbitkan atas dasar lisensi, bukan murni karya penulis dan penerbit nasional.

Lalu mengapa aku sepagian itu menunggu pak Pos di beranda depan? Karena tidak kutemukan di rak pajang, jadilah aku memesan lewat jasa toko buku bersangkutan. Mereka berjanji padaku paling lambat tujuh hari.

Baiklah, mumpung harga buku terbitan nasional masih cocok dengan kantong pas pasan seperti aku, maka aku pun lanjur memesan. Tetapi, aku dengar kabar harga buku akan naik beberapa persen di bulan bulan ke depan, sebabnya yang aku dengar; harga kertas sedang naik.

Wualaah…ini akal akalan para industrialis pulp and papers saja. Para pembalak berijin itu sedang dijepit perang terhadap illegal logging, mereka lantas merajuk dengan trik menurunkan produksi. Beralasan itulah hingga isunya melebar ke soal harga kertas. Padahal, ketika perang pemerintah melawan pembalak itu sedang ramainya seperti sekarang, mana mungkin mereka kena imbas. Bukankah mereka itu “pembalak berijin keluaran menteri”? Bukankah pemerintah hanya memerangi para pembalak liar? Jujur sajalah jika hendak memperlebar gain keuntungan, tidak dengan cara bersembunyi di balik punggung program anti-balak bikinan pemerintah, dan lalu “menghasut” usaha yang bahan bakunya mereka pasok.

Bip…bip…bip… suara klakson sepeda motor hadir disela bunyi mesinnya. Itu pak Pos. Dia tersenyum, yang aku balas dengan menanyakan kabarnya. Sehat saja, katanya. Tangannya merogoh tas gandeng mirip saku besar warna cokelat, lalu dikeluarkan-lah tiga paket berpembungkus cokelat. Dua dari paket itu segera kutebak sebagai buku pesananku, sebab di sisi kiri berdekatan dengan cap pos ada cap penerbit. Tetapi apa paket ketiga itu? Melihat bentuknya mirip dengan kedua paket lainnya. Kuduga itu buku kiriman Hera, penulis Pendar Jingga di Langit Ka’bah itu.

Jika benar, maka buku itu terlambat sehari, hingga datangnya pas betul dengan dua buku lainnya itu.

Setelah bercanda sebentar dengan pak Pos, kulepas dia menjalankan tugasnya. Tidak ada pegawai di dunia ini setelaten pengantar surat, urusan jasa yang paling tua umurnya. Tak peduli hujan, panas, perang, atau damai, pun mereka tetap bekerja. Resiko pekerjaan? Mungkin. Tetapi, siapapun boleh memilih untuk menolak melakukannya, bukan? Dan, orang seperti pak Pos, buktinya, tidak menolak tugas macam itu.

Aku langsung membuka pembungkus paket ketiga, yang dua biar belakangan saja, toh aku sudah tahu apa isinya. Penasaranku benar, paket ketiga itu adalah buku karya penulis Hera. Warna jingga pada sampulnya menegaskan judulnya. Ada gambar orang tawaf di sana. Megah Ka’bah berselubung kiswah beludru hitam tebal, memampang pintunya yang besar, kesan emas juga terlihat. Aku buka segel plastik tipis pelungkupnya, lalu aku ke bagian daftar isi buku. Begitulah kebiasaanku sebelum membaca buku; menelusuri judul bab lebih duhulu.

Setelah menerima buku Pendar Jingga di Langit Ka’bah, aku simpan buku Hera itu, pada tumpukan teratas dari tiga buku bekalku. Tak kubaca dulu buku itu. Siang itu aku harus berangkat menuju ke sebuah tempat, di sebuah pulau, untuk menyepi, meluang waktu dengan sengaja. Demikianlah aku jika hendak membaca, tak boleh ada interupsi, biar isi buku benar melekat pada benak.

Mobil sudah dipanaskan mesinnya, sepagian tadi. Aku masuk rumah untuk berbenah, memilah beberapa pakaian untuk aku bawa, notebook, se-pack rokok kegemaran, dan…baju hangat, sebab tempatku menyepi nanti udaranya lumayan dingin.

Maka, jadilah aku berangkat ketika mentari nyaris vertikal.

***

AKU selalu ke tempat ini untuk menghindari bingar, dan lepas dari rindu. Kabaena, nama tempat itu. Ini pulau kelahiran ibu bapakku. Letaknya paling selatan di jazirah tenggara Sulawesi. Mencapainya; berkendara kurang lebih tiga jam dengan mobil, lalu naik kapal kurang lebih tiga jam pula. Penciri bagi siapapun untuk tahu apakah pulau itu sudah dekat; ketika angin menyibak awan nimbus yang berkumpul di pangkal sebuah gunung batu berbentuk kotak. Begitu gunung batu itu terlihat, maka perjalananmu akan segera pungkas di dermaga. Nama gunung itu Watu Sangia (harfiah dari bahasa setempat untuk Batu Suci, atau Batu Para Dewa).

Gunung Watu Sangia

Ada beberapa versi riwayat yang berkenaan penamaan pulau Kabaena hubungannya dengan keberadaan gunung batu itu. Pelaut muslim dari kesultanan Ternate, Tidore, dan Bacan, dahulu ketika mengunjungi Jawa untuk berdagang, menjadikan gunung batu di pulau itu sebagai penanda separuh perjalanan laut mereka. Konon, nama Kabaena itu juga awalnya dari mereka itu; saat mereka bersua pertama kali, mereka terkejut dengan bentuknya yang nyaris menyerupai kubus. Lalu mereka teringat pada Baitullah, dan memberinya sebutan “batu yang mirip Ka’bah” atau Kaba’ena. Itu merujuk karena mirip saja, tidak ada maksud lain.

Allah SWT memang berkuasa atas segalanya. Gunung Watu Sangia ini menjadi landmark pulau Kabaena hingga kini. Jika melihatnya dan memandangnya dengan lekat, seketika engkau akan tersadar pada pertanyaan; bagaimana bisa batu sebesar itu seolah olah ditancapkan pada bumi? Atau macam terlihat tumbuh dari alas bumi. Allahu Akbar!

Akan eksotik melihat pemandangan pada gunung itu tatkala engkau mengunjunginya pada bulan antara Maret sampai Juni. Sebab pada bulan bulan itu hujan demikian rapat turun, sehingga puncak gunung itu terlihat berselimut halimun. Berputar putar mengitari dinding tebingnya yang vertikal. Sesekali engkau akan menemuinya diselubungi halimun tebal pada puncaknya, hingga tampaklah seperti jamur raksasa.

Selepas dermaga Sikeli, aku masih harus berkendara menuju sebuah desa sejuk di kaki gunung batu itu. Ada tiga desa yang inap tetap pada punggungnya; desa Rahadopi, desa Tirongkotua, dan desa Tangkeno. Nah, tujuanku adalah desa Rahadopi itu. Disanalah aku akan menghabiskan waktu lepas dari bingar kota.

Umumnya, ketiga desa ini bersuhu sejuk. Pada musim penghujan, dingin akan mengigit mencapai tulang, kadangkala. Ada lelucon bahwa tempat seperti ini sangat bagus buat beranak pinak; karena dingin akan melarangmu bangkit dari peraduan, asik mendekap istri, bolehlah. Hahahahaha…lelucon segar, sesekali, tak mengapa kan?

Tempat ini, desa Rahadopi, aku memilihnya untuk bertenang, barang sebentar. Desa ini asri, udaranya sejuk, indah. Bagai melekat di punggung gunung Watu Sangia. Di seberang tampak jajaran gunung Sampapolulo, yang juga kerap berselimut kabut. Selalu, warganya ramah menyambut. Pada beranda rumah tinggi, tempatku sering membaca, dapat kulihat Sikeli, wilayah pelabuhan, dan beberapa desa lain yang berjejer indah di sepanjang jalan; Rahampuu, dan Teomokole.

Di relung lembah, di kaki gunung Sampapopulo, menjalar alir air sungai La’Kambula; berarus deras tatkala musim penghujan, dipenuhi batu besar, berair dingin sekali. Sejuk berenang di sana pada musim kemarau. Selalu senang, khidmat rasanya berada di sini saat Ramadhan; selalu tak terasa waktu saat Idul Fitri menjemputmu. Waktu seakan lekas rasanya.

Buah. Ada suatu buah yang tak ada di tempat lain, mungkin. Suatu buah hutan yang aku gemari, buah Mpana namanya. Rasanya asam manis. Munculnya di pangkal batang pada tumbuhan Mpana, berdaun pedang yang lebar. Warna buahnya cokelat tua mirip warna kulit lengkeng, namun tampak ditumbuhi duri permukaannya. Bukan duri yang tajam dan melukai, cuman duri lunak. Isi buahnya; terdiri dari puluhan bulatan kecil bertitik hitam tengahnya yang berkumpul hingga ukurannya sebesar gundu. Menyantap buah ini sangat asik saat ramai dengan keluarga atau kawan, sambil bercakap cakap.

Di desa itulah aku “melahap” Sazkia. Tiga hari aku menikmatinya. Saat petang, dan saat malam mendekat subuh.

Aku baca Pendar Jingga di Langit Ka’bah lebih dulu, agar perhatianku tidak disusupi fikiran hasil bacaan dari buku lainnya.

Pengalaman “Menakutkan”

Membaca pengalaman trance Sazkia pada saat dia dihampiri Lailatul Qadr di mesjid Atta’awun itu membuat aku teringat pada pengalaman serupa yang aku alami.

Jika Sazkia berjumpa dengan rombongan malaikat yang shalat berjamaan didepannya, maka aku sulit menyebut mahkluk apa yang aku jumpai saat trance itu. Warna dan penampakannya saja berbeda, seingatku.

Pengalamanku bukan Lailatul Qadr, sebab terjadi tidak pada saat pertengahan Ramadhan. Terjadi pada malam malam biasa, saat sendirian, seusai sholat malam.

Ketika itu, wanita yang pernah menjadi istri pertamaku, sedang menjalankan tugas jurnalistik; ikut serta dalam rombongan KRI Soputan ke sejumlah pulau kecil di wilayah laut paling tenggara Sulawesi. Pada hari kedua kepergiannya, aku tiba tiba terbangun dari tidurku disebabkan sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan. Aku mendadak terbangun dan tertegun duduk di pinggir ranjang.

Jam pada dinding menunjuk angka kurang sedikit setengah dua dinihari. Sulit memejam mata kembali, aku memutuskan berwudhu, lalu sholat lail. Aku tak peduli apakah waktu untuk sholat lail sudah tepat atau lewat, namun saat itu aku sholat niatku adalah sholat lail. Seusai mengucap salam, sesuatu seperti mendorongku… bergerak ke arah tempat tidur.

(maaf, semua rambut di tubuhku merinding kembali sebab ketika menuliskan ini aku kembali mengingat pengalaman itu…).

Aku duduk dengan baik, aku angkat kedua kaki dan mengarahkan punggungku ke bantal di bagian kepala ranjang. Rasanya tidak semenit punggungku melekat pada springbed lunak itu, tiba tiba aku merasa berada pada sebuah ruang yang maya mengambang. Tubuhku seolah ringan bukan main. Aku mencoba menoleh panik pada dinding, dan mataku bersirobok pada jam dinding; jarum merah menunjuk detik tidak bergerak sama sekali. Sepi sekali sekelilingku.

Dalam keadaan ringan ini, sekuat tenaga aku hendak mendorong keinginanku untuk tersadar dari tidurku. Tetapi aku bingung, sebab sebenarnya aku memang berada dalam kondisi tidak sedang tidur, namun tidak pula sedang terjaga; aku berada di ruang dan waktu di antara sadar dan tidak.

Saat itulah aku melihat serombongan orang berjalan ke arahku. Seketika takut menyelubungi tubuhku. Aku benar benar takut. Selama ini aku tidak gentar pada siapapun, kecuali satu hal yang tak nampak olehku di dunia; Allah SWT. Menurutku, aku sebaiknya hanya pantas takut pada satu hal Itu. Aku tak akan pernah mau manusia dan mahkluk membuatku takut. Tetapi saat itu aku benar benar takut luar biasa. Orang orang—atau lebih tepat kusebut, siluet siluet hitam—besar itu, merebutku dari udara, menekanku hingga menyentuh tanah, mengikat tutup pada mataku dengan sehelai kain, kemudian tubuhku diangkat kembali dan ditumpukan pada bahu masing masing dari mereka.

Aku mengira ada kurang lebih enam siluet yang memikul tubuhku, sementara telingaku dengan jelas mendengar ribuan langkah dibelakang mereka. Banyak siluet lain yang mengikuti siluet siluet yang membopongku. Rasanya agak lama aku di kondisi itu, sehingga aku rasakan mereka berhenti di sebuah tempat. Aku tak tahu tempat apa itu. Mataku dibebat kain, aku tak bisa melihat suasana sekelilingku. Aku merasakan tubuhku diangkat lalu seperti diturunkan, dan diletakkan di sebuah bidang datar (yang belakangan aku tahu mirip sebuah altar dari batu pualam keras).

Setelah membaringkan tubuhku. Mereka seperti bersorak sorak, riuh sekali, bingar sekali. Aku bahkan mencoba untuk mengerti kata apa yang mereka teriakkan. Mirip diksi Arab, namun kurang jelas karena diucapkan sambil berteriak dan berulang ulang. Lalu seketika mereka diam serentak. Tak terlalu lama aku rasakan sesuatu menempel dileherku. Rasanya dingin dan tajam. Dalam kondisi itu, aku bahkan bisa merasakan apa apa yang menyentuh tubuhku. Bidang datar itu terasa dingin di punggungku. Demikian pula benda yang menempael di leherku itu.

Belakangan aku tahu ternyata benda itu semacam belati besar mirip pedang; semacam senjata pemenggal.

Rupanya aku dibawa mereka ke tempat itu tujuannya untuk dipenggal, tetapi aku tidak tahu mengapa, dan kenapa harus aku yang mengalaminya. Tapi aku tak peduli dengan jawabannya, sebab benda dileherku terasa makin dingin dan mulai bergerak menggesek. Saat itulah kepanikan, ketakutanku menjadi jadi. Menggigil hingga berpeluh, aku rasakan.

Tetapi semua gerakan mereka tiba tiba berhenti. Seperti ada sesuatu yang membuat mereka terdiam seketika, mematung. Karena terasa terlalu lama, aku merasa tubuhku sedikit bertenaga. Aku memberanikan diri membuka penutup mataku. Saat itulah, dari jarak yang demikian dekat, aku dapat melihat siluet siluet ini dengan jelas. Tak berwajah, tanpa bentuk paripurna, hanya siluet; mirip bayangan tubuh pada tanah yang bangun dan berjalan tegak. Sebuah siluet yang paling dekat denganku terlihat menggenggam pisau besar itu. Ketika melihat tempatku berbaring, sebuah batu persegi, serupa pualam keras, licin dan dingin.

Mereka tidak bergerak, diam mematung. Pada bagian muka yang aku duga adalah bagian wajah mereka, aku lihat tampak menengadah ke arah langit. Semuanya mereka, siluet yang ribuan itu, disekelilingku menengadah menghadap pada satu pandangan. Ke langit.

Apa yang sedang mereka pandangi sehingga mereka bisa diam mematung semacam itu? Aku pun menoleh ke arah langit seperti kelakuan mereka. Langit yang sebelumnya kelabu, tiba tiba perlahan menghitam. Di balik awan yang bergulung gulung hitam itu, terlihat cahaya sesekali benderang, seperti ada petir yang menyambar hingga membuatnya terang sesekali. Semakin lama cahaya itu berpendar kian terang, kemudian membuat silau. Mataku terasa sakit. Lalu sinar cemerlang itu meredup perlahan seiring dengan tersibaknya awan membuka ke arah berlawanan, seperti gerbang yang rentang terbuka. Pada bagian yang terbuka itulah sinar cemerlang seperti menerobos hendak menghujam bumi.

Hal aneh kemudian terjadi. Siluet yang kuduga ribuan jumlahnya itu, tanpa aba aba langsung jatuh bersujud di hadapan sinar itu. Semuanya bertingkah seperti itu. Maksudku semuanya, kecuali aku. Dari tempatku dibaringkan aku dapat melihat jumlah mereka, Naudzubillah… Allahu Akbar…ternyata jumlah mereka mungkin jutaan, sebab mataku tak menemukan ufuk yang bersih tanpa ada sosok sosok itu.

Sejauh mataku memandang berkeliling, kulihat hanya sosok sosok itu yang sedang bersujud tanpa bergerak. Aku segera turun dan berjalan ke tepian di mana bagian cahaya itu jatuh. Disanalah aku melihat dengan jelas dari sumber mana sinar itu keluar; sinar itu memancar cemerlang dari sebuah benda yang besar membentuk huruf arab ber-harakaat. Aku baca, dan segera sadar untuk menghapalnya; kalimat tauhid itu.

Setelah membacanya tiga kali dan yakin telah aku hapalkan, anehnya suasana di sekitarku perlahan berubah. Sosok sosok bayangan itu menipis perlahan lahan kemudian hilang. Begitu juga dengan kondisi di sekelilingku, yang kembali mewujud seperti semula; ke bentuk kamar yang aku tempati.

Kudapati tubuhku masih terbaring pada posisi ketika aku hendak bersandar tadi. Jarum penunjuk detik pada jam di dinding terlihat bergerak lagi.

Ketika semua kondisi kamar itu terasa sudah kembali seperti semula, maka inilah hal yang membuatku takjub dan merasa luar biasa hingga kini. Kalimat tauhid, yang bersinar cemerlang itu seperti masih melekat tepat di flafon kamar itu, tepat di atas kepalaku. Aku dirasuki takjub yang luar biasa hebat hingga tak bisa bergerak.

Berbeda dengan suasana sekelilingku yang berubah cukup cepat itu, kalimat tauhid yang seolah menempel di flafon itu demikian perlahan menipis dari pandanganku. Itulah mengapa aku bisa membacanya berulang ulang sampai tulisan itu benar benar hilang sama sekali. Agak sedikit lama hingga aku pulih benar dari kondisi kesima itu. Sadarku pulih sepenuhnya, dan segera tahu mesjid sudah mengumandangkan azan subuh.

Peristiwa itu terjadi di penghujung tahun 1999. Selama empat tahun selanjutnya, setelah pengalaman itu, aku tidak pernah berhasil tahu apa makna dari pengalaman yang aku alami. Satu satunya hal yang aku lakukan pada permulaan adalah; segera mencari tahu apa arti sesungguhnya kalimat itu. Hampir tiga bulan pertama aku sibuk mengejar literatur, yang tak kusangka ternyata jawabannya datang dari ibuku sendiri, seorang guru agama Islam dan pengajar mengaji itu.

Pada beliau aku ceritakan pengalaman itu. Beliau terdiam setelah mendengarnya, lalu menangis masuk ke kamar. Aku pulang saja. Dua hari setelahnya, beliau menelepon, meminta agar aku mengunjunginya lagi. Tanpa diminta pun aku memang akan selalu mengunjungi beliau.

Dihadapanku, beliau berkata tentang arti kalimat itu. Menurut beliau kalimat yang aku lihat itu adalah bentuk penegasan yang keras perihal ketauhidan Allah SWT. Sebentuk kalimat dasar yang sekaligus membangun makna maha luas.

“Ceritakan pengalaman itu untuk mengurangi takutmu, tetapi jangan sebut kalimat yang kau lihat itu pada orang lain. Tentunya ada alasan hingga mengapa kamu diperlihatkan hal hal macam itu. Jika Allah menghendaki pengalaman itu untuk semua orang, maka Allah akan memperlihatkannya pada semua orang. Simpanlah untukmu, dan bersabarlah.” Begitu pesan ibuku.

Sayangnya…hingga sekarang, aku kira aku telah “ditegur” oleh Khalik. Ada sesuatu salah, atau keliru berat yang pernah aku buat, barangkali.

Ya…mungkin itu adalah sebuah teguran, peringatan. Sayangnya lagi, aku tak pernah ingat atau tahu apa salahku. Apakah aku harus ingat? Barangkali…dengan ingat apa salahku…sedikit menenangkan fikir dari ribuan tanya perihal tersebut.

Tapi, tak mengapa…aku masih bersyukur; jiwaku tak direnggut-Nya saat itu juga.

Dan, yang aku tahu, ketika berurusan dengan hal hal sulit, aku cukup mengucapkan kalimat itu dalam hati dengan sungguh sungguh dan takzim; maka urusanku pasti mudah.

Mungkin itu faedahnya….***


%d blogger menyukai ini: