Tag Archives: ama

[Cerpen] Kunang-kunang Laut | Koran Tempo | Minggu, 5 Juli 2015

Kunang-kunang Laut

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilustrasi Cerpen Koran Tempo Minggu 05 Juli 2015c

 

URASHIMA Yoshi mendapat jawaban atas kecemasannya. “Orang-orang sudah meninggalkan tradisi tua yang tak kau lepaskan. Zaman Edo sudah berakhir dan kebiasaanmu itu membuat mereka cemas,” tukas Jiraiya, lelaki tua penjaga kuil Hachiman.

Jiraiya meminta Yoshi membakar batang hio sebelum mereka larut dalam doa.

Bagi Yoshi, tak terlintas di benaknya untuk melepaskan kebiasaan klan Urashima yang teguh menentang modernisasi sejak era Meiji. Jika pun kecemasan orang-orang Sugashima dapat ia perhitungkan sejak awal, belum tentu ia menuruti kehendak mereka. Harumi, adalah satu-satunya kerumitan yang ingin ia hindari.

Pertama kali Yoshi melihat gadis itu, saat para Ama —perempuan penyelam tradisional— berkumpul di atas bukit Mohimjo sebelum melakukan penyelaman di awal musim. Para Ama menuruni bukit dari sisi barat, menggendong keranjang kayu isooke berisi peralatan selam seraya berbincang dan tertawa. Di bawah bukit, mereka berkumpul dalam kelompok kecil tiga orang, menunggu para lelaki menurunkan perahu ke air. Saat itulah Yoshi bersitatap dengan Harumi. Yoshi buru-buru membuang pandangannya dan pura-pura mengetam bibir perahunya. Merasa telah membuat Yoshi malu, Harumi membungkuk dalam-dalam dari kejauhan untuk menyatakan maafnya.

“Apa yang harus aku lakukan?” Yoshi berbalik menghadapi Jiraiya, setelah berdoa cukup lama. “Tidakkah pendapat mereka akan berubah?”

Jiraiya menekan tubuhnya, membungkuk kecil saat menyodorkan teh dan disambut Yoshi dengan dua tangan. Yoshi meneguk teh pahit itu.

“Lihatlah bagaimana aku berakhir di sini. Mereka menghendakimu menjadi seperti yang mereka inginkan.” Penjaga kuil Hachiman itu pelan mengibaskan kepalanya. “Kayu selalu dapat dibentuk, Urashima San.”

Yoshi memahami Jiraiya. Ia harus menempatkan dirinya seperti batang-batang perdu kacang Miju yang menjalar di atas pasir. Ia harus berusaha keras membuktikan apapun kepada kepala keluarga Hatake. Demi Harumi.

 

YOSHI mengetam bibir perahunya. Bukit Mohimjo berwarna kelabu di kejauhan, menjorok ke laut tertopang kokoh. Beberapa camar kamome mengapung di udara. Sesekali menukik, menyambar ketam kecil hamaguri yang berusaha menyamarkan diri dalam cerukan karang. Matahari serong, mendorong bayangan Mohimjo rebah ke pasir pantai Teluk Ise di pesisir Sugashima.

Tak jauh dari pantai, tegak rumah kecil Yoshi yang dipenuhi perabotan kayu buatan tangan. Yoshi mendirikan rumah di puncak bayangan Mohimjo, di bagian landai sebelah utara, 500 meter dari desa nelayan Sugashima. Impian yang kini tersisa di kepala Yoshi adalah melihat rumah itu dipenuhi lima orang anak. Itulah janjinya pada ibunya, sebelum Mida wafat tujuh tahun silam.

Mida adalah seorang Ama juga di Sugashima. Dinikahi Urashima Daiyo yang wafat saat Yoshi berusia 18 tahun. Menjadi Ama adalah kebanggaan perempuan Sugashima. Para perempuan berani yang hanya mengenakan cawat nelayan perempuan, fundoshi, menembus kedalaman Teluk Ise berbekal tali pengikat pinggang mengumpulkan kerang mutiara.

Dari ibunya, Yoshi menerima sifatnya yang ramah. Tetapi dari Daiyo, Yoshi menetapkan karakter dirinya sebagai pemuda rajin dengan tubuh berhias otot dan berkulit terang. Tidak seperti umumnya nelayan di pesisir timur Honshu, kulit Yoshi tak terbakar matahari. Ia tak menghabiskan semua umurnya di laut. Kemahirannya mengolah kayu adalah alasan separuh waktunya berada di daratan. Entah kenapa para kepala keluarga di Sugashima tak berkenan mengambilnya sebagai menantu.

 

MENGENAI Harumi —ia gadis lincah dan riang. Ia cantik dengan dahi sempit dan anak rambut yang kerap membelah di tepian ikat kepala hachimaki berpola bunga sakura. Matanya sedikit besar dengan kulit muka yang agak gelap. Ia putri kedua kepala keluarga Hatake, seorang berpengaruh besar di Sugashima.

Apa yang Harumi kenali soal laut hanyalah mutiara, dinginnya air teluk Ise dan ketelanjangan. Gadis itu tak kuasa menyatakan penolakannya di hadapan kepala keluarga Hatake. Ia seperti sedang berdiri di ambang pintu, saat satu kakinya berada di seberang pintu rumah ayahnya.

Harumi tak berdaya mengubah pendapat kepala keluarga Hatake. Ia hanya satu dari tiga anak perempuan Hatake yang menyukai dinginnya laut, walau tetap mengikuti cara-cara lama Ama yang tidak menyekat rasa malu di tubuhnya. Ia memang tak pernah berpikir untuk menolak tradisi ini. Harumi menikmati hangatnya cahaya matahari di tubuh yang hanya terbalut fundoshi dan hachimaki. Menikmati perbincangan saat menuruni bukit Mohimjo sambil menjinjing isooke dan berbagi hal yang bisa memancing tawa. Ia menyukai kulitnya yang terbakar matahari.

—Airmata tak pernah lelah merawat rasa malunya sebagai perempuan.

Bahkan seorang nelayan lelaki harus merasa malu saat mendapatinya dalam penampilan Ama. Tetapi tradisi tak akan berubah hanya karena seorang telah terperangkap rasa malu, sekaligus menyadari bahwa itulah sebab dua anak perempuan Hatake menolak tradisi Ama.

Dua saudarinya menolak dengan alasan yang ia temui lewat cara Yoshi menatapnya. Mereka tolak cara-cara lama para Ama di seluruh pesisir timur Honshu dengan cara masing-masing, dan tak mau terjebak pada tradisi kuno Sugashima yang mengatur seperti apa perempuan memandang dirinya sendiri.

Oh, Harumi. Betapa cemas ia membayangkan seperti apa pendapat Yoshi.

“Bulan purnama menandakan waktu bagi kerang mutiara untuk dipanen. Seorang Ama dari keluarga Hatake akan bergabung bersama para Ama lain di pantai Sugashima,” kepala keluarga Hatake memberi maklumat.

“Sampai kapan Harumi menjadi Ama, Ayah?” Entah apa yang membuat Ando berani bertanya seperti itu pada kepala keluarga Hatake.

Merah muka Hatake. “Kehormatan perempuan Sugashima harus dipelihara!”

“Ke mana rasa malu klan Hatake saat Harumi telanjang dan hanya mengenakan fundoshi?”

Mottainai!” Hatake memukul meja dan seketika mengubah warna dalu di pipi Ando menjadi pias. Ibunya menyerukan nama kehormatan Hatake, sebelum lelaki itu bertindak terlalu jauh. “Patuhi ayahmu, Hatake Ando! Bersikaplah seperti gadis lain di Sugashima ini. Jangan membuat kami malu.”

Malu? —Kata itu seperti belati kissaki-moroha.

Tatapan Ando memancarkan kebencian yang membuat ibunya cemas. Ando mengasihani Harumi, adik perempuannya yang bintik kulit dadanya berkilau seperti umi hotaru di kedalaman air.

 

YOSHI memahami setiap kecemasan Harumi. Ia mendengarkan gunjing para Ama tentang keluarga Hatake. Hari kepala keluarga Hatake menelan rasa malunya adalah hari di mana Ando terang-terangan menyatakan penolakannya pada tradisi kuno Ama di Sugashima. Harumi tetap turun menyelam dengan fundoshi menutupi pinggulnya.

Para Ama mencemooh Hatake sebagai lelaki Sugashima yang tak bisa mengendalikan anak-anak perempuannya. Penghinaan menghunjam telinga Hatake. Lelaki itu kini merasa kehormatannya telah dinodai di hadapan penduduk Sugashima.

Yoshi seperti mendengar kabar yang dibawa kamome, bahwa Hatake telah mendera punggung Ando dengan cemeti ekor pari. Hukuman itu diterima Ando tanpa keluh, kecuali mata yang memancarkan kebencian dan amarah. Ia menolak permintaan ibunya agar menjerit untuk mengakhiri tindakan ayahnya. Ando mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

Dua hari berikutnya, saat Ama turun melaut, orang-orang dikejutkan dengan kehadiran Ando yang tegak di tepian karang bukit Mohimjo dengan tsumugi (kimono sehari-hari perempuan) berwarna biru berpola putih sakura, memasrahkan rambutnya dipermainkan angin. Di belakangnya, tegak berdiri Harumi dengan fundoshi dan isooke.

Senyum Hatake Ando seperti senyum gadis yang bahagia, saat melepas adiknya melaut di penyelaman terakhir musim ini. Ando seperti telah memahami Harumi. Hanya mata mereka yang bicara. Di bawah Mohimjo, kamome terbang lincah menyisir permukaan air, menukik seketika lalu kembali mengapung di udara dengan ikan kecil atau hamaguri terkepit di paruhnya.

“Maafkan aku, Ando.” Harumi membungkuk kecil pada kakaknya. Kelembutan menyaput di mata Ando. “Kenapa ini kau lakukan?”

“Aku suka umi hotaru. Kunang-kunang laut,” kata Harumi, “Kunang-kunang Laut yang bebas berenang di permukaan air dan menerangi laut. Memandu perahu nelayan dan membiarkan mereka mencintaiku dengan cara yang mereka pahami sebagai Ama.”

“Aku menyayangimu, Harumi—” bibir Ando bergetar, “—aku menghormatimu seperti aku menghormati diriku sendiri.”

Harumi membungkuk lagi, lalu tegak perlahan dengan wajah yang langsung dihadapkan ke laut sebelum turun bergabung bersama Ama lainnya. Mata Ando mengikuti Harumi. Tak ada lagi yang ingin ia cemaskan. “Kita akan baik-baik saja, Harumi.”

Dua hari setelahnya, kepala keluarga Hatake memimpin keluarganya berdoa di puncak Mohimjo. Ando mengundang Yoshi untuk ikut bersama dalam doa bagi Harumi. Memakai tsumugi seperti kemarin, Ando berdiri di sisi Yoshi yang mengenakan kinagashi (kimono sehari-hari lelaki) berwarna senada. Di tengah doa, Yoshi menatap hamparan laut teluk Ise yang teduh. Di tangan kanannya, ada segenggam rumput laut hitam hijiki. Dagunya terangkat saat ia penuhi dadanya dengan udara laut yang kering.

—Oh, Harumi yang malang.

Semoga umi hotaru menyambutnya dengan gembira. Tiga hari lalu, Harumi terseret arus Teluk Ise, memutuskan tali pengikat pinggangnya dan menyeret tubuhnya menuju kedalaman laut. Mungkin ini menjawab impiannya ingin seperti Kunang-kunang laut yang melebur, berpendak kebiruan di antara terumbu teluk Ise untuk merayakan cahaya.

 

untuk Ryotaro Shiba

Iklan

[Cerpen] Bilangari | #2 Cerpen Lahat Untuk Nusantara

Bilangari

Oleh Ilham Q. Moehiddin

hikayat-tiga-ksatria_13b

BERHARI-HARI kami dikepung sekelompok orang. Mereka berteriak lewat pelantang suara bahwa mereka lebih tahu situasi di hutan ini. Jika mereka bisa ada di sekitar pondok kami, maka itu artinya hutan ini masih termasuk dalam areal penguasaan perusahaan mereka—begitu yang mereka teriakkan. Darah tama’mtua (kakek) mendidih mendengarnya.

“Kalian tak tahu apapun tentang hutan ini. Selain aku, kalian tidak dilahirkan untuk berada di sini!” Teriak kakek dari bagian tergelap hutan.

**

KAMI harus pindah. Begitu kata kakek sembari memandang kami satu per satu, kemudian menatap lama pada ama-ku (ayahku). Ayah hanya sekali berpaling, menghembuskan nafasnya lalu memandang ke arah ngarai.

“Harus?” Mata tina’mtua (nenek) sayu ke wajah suaminya. Kakek menggangguk kecil dan langsung membuat mata nenek terpejam. Wajah nenek seperti jeri.

“Mereka tidak memberi kita pilihan. Dua tobu (kampung) di tanjung sudah rata, bahkan sebelum matahari membuat tanah menjadi panas,” jelas kakek.

“Kapan?” Ayahku bertanya tanpa menoleh.

Kakek meletakkan bilangari di lantai. Ia menarik piring kaleng berisi tembakau hitam ke dekatnya, menjumputnya sedikit, lalu mengaturnya di atas selembar daun jagung tipis. Dua ibu jari kakek menekan-nekan tembakau agar padat. “Belum tampak waktu yang baik di bilangari ini—” ujarnya seraya mendorong lembut telapak tangannya di atas pahanya sendiri seketika kulit jagung tipis berisi tembakau hitam itu menggulung sempurna, “—jika saatnya tiba aku akan ke hutan. Ina-mu (ibumu) akan ikut denganku.”

“Hutan? Kenapa harus ke hutan? Orang-orang sudah menyingkir ke lokasi baru di kota kecamatan—tapi kenapa Ama harus ke hutan?”

Ayahku menyudahi pandangannya ke arah ngarai. Kini ayah duduk di hadapan kakek, ingin agar ayahnya itu menjelaskan alasannya. Tembakau kakek sudah menyala garang.

“Aku tidak bisa meninggalkan tobu ini. Dahulu, mbue (buyut) kami yang mendirikannya, kemudian tama’mtua dan ama merawatnya, saat tobu ini dipercayakan padaku, maka aku harus menjaganya. Bawalah anak-istrimu ke kota kecamatan. Kalian akan aman di sana.”

Ayahku tertunduk. Sepertinya ayah belum bisa mengerti alasan kakek.

**

AKU kadang harus berjalan meniti pematang, atau menonton anak-anak yang ramai memerangkap gerombolan pipit yang mengintai tanaman padi mereka. Kadang aku harus ke sungai, memantau dua remaja memandikan lusinan kerbau milik kakek.

Ayahku sudah diberitahu akan datang serombongan orang dari kabupaten. Tapi penolakan Penghulu Keenam, Ntama’Ate (paman) Manek —adik ayah— justru berubah menjadi dilema di kepala banyak orang tiga bulan terakhir ini. Bagaimana jika Paman Manek terus menerus menolak? Seperti apa anggapan warga dan Pu’uno Adati (Dewan Adat)? Bukankah keputusan Dewan Adat adalah bagian dari sistim yang dihormati?

“Penghulu Keenam melangkahi adat. Sedari tobu ini didirikan, begitu besar harapan orang. Tapi kini Penghulu Keenam malah menolak hal-hal baik yang ingin kita putuskan bersama,” begitu kata Paman Runtu —kakak ayah itu paling keras kepala jika sudah bicara soal peradatan.

“Kau ingat, bagaimana kaki kecil Manek berlari-lari di antara Laica Ngkoa (rumah adat orang Moronene berbentuk panggung). Letih aku mengikutinya hanya agar kepalanya tak membentur kayu. Belum lagi saat ia masuk ke kolong rumah dan menolak keluar walau aku bujuk —wah, hampir menangis aku dibuatnya. Aku takut dimarahi Ina,” cerita Runtu.

Ya. Ayahku bahkan ingat saat ibunya harus melelehkan air mata mendengar kata-kata ayahnya mereka selepas Manek terjun ke kubangan Kerbau. “Ina memangku Manek sampai malam, sampai si bungsu itu tertidur di pangkuannya. Bahkan ina menolak ama yang hendak membaringkan Manek ke ayunan. Ina meminta ama menelan dulu amarahnya, barulah ama boleh memegang anak bungsunya itu lagi.” Kenang ayahku dan disambut tawa keras Paman Runtu.

Tapi kecemasan soal penggurusan kampung ini mulai mewabah ke dada orang-orang.

Sedangkan Paman Manek sendiri menolak bicara dirapat Dewan Adat saat warga meminta putusan. Ia mencemaskan satu hal saja: tanggung jawab pihak pertambangan.

Tak ada keputusan yang diambil pada hari di mana rapat itu digelar hanya gara-gara Paman Manek belum menyuarakan pendapatnya. Pak Djama, Penghulu Ketiga, sampai kecewa dibuatnya dan menutup rapat itu sampai Paman Manek bisa memutuskan keinginannya.

**

KAMPUNG Sampala masih seperti dulu. Tak pernah berubah. Sedari aku bisa melihat keindahan alamnya, atau dari mendengar kisah-kisah miano’mtua (para tetua), kampung ini masih selalu sesegar ingatanku pertama kali.

Aku belum mengenal tabiat Paman Manek sampai nenek menegurnya di suatu sore di bulan April yang panas —dua tahun lalu. “Kau tak ke sungai, Manek? Persediaan air minum kita sudah tipis. Bantulah Ina memenuhi dua gumbang (bejana air dari tanah) itu saja,” ujar nenek seraya menunjuk dua di antara empat bejana besar di sudut dapur.

Paman Manek mendesah. Ia tak suka membayangkan jalan setapak menuju sungai saat panas menyengat tanah hingga ranggas. Seringkali kelabang merah sebesar kelingking merintangi jalan.

“Kita tunggu Kakak Runtu saja ya, Ina?” Pinta Paman Manek dengan wajah kusut.

“Tak akan sempat, Manek.” Nenek melangkah turun dari rumah panggung menuju tali jemuran di sisi rumah, “Ama-mu dan tukaka’u (kakakmu) itu baru pulang dari Teomokole (kota raja) selepas malam. Ama-mu akan marah jika pulang tak ada air matang.”

Paman Manek membanting kakinya hingga membuat lantai kayu rumah ini berbunyi nyaring. Nenek pasti mendengar kekesalannya, tapi nenek tak mau menyahutinya lagi.

Itu kejadian dua tahun lalu. Hari ini pun sama panasnya seperti saat Paman Manek nyaris menolak permintaan nenek. Jarak perigi di sisi sungai dari rumah kakek ini cukup jauh. Hari ini aku kena tugas mengisi dua bejana air dan untuk itu aku ia harus bolak-balik ke sungai dengan dua jerigen memberati lenganku.

Sebelum pulang dari perigi nanti, aku bisa saja naik agak ke hulu sungai dan berendam di sana. Air sungai akan terasa sangat sejuk di hari panas begini. Di sana pasti ada teman-temanku yang biasa mandi seusai mencuci. Ibu telah mengambil alih tugasku mencuci tadi pagi. Entah kenapa ibu melakukannya di saat tubuhnya belum kuat benar —baru saja sembuh dari sakit demam.

Aku meninggalkan ambang jendela dan berjalan ke dapur. Kuraih dua jerigen plastik kosong dengan tangan kiri dan turun dari rumah melalui pintu dapur. Ibu sedang menumbuk jagung di kolong rumah.

Aku harus memutari dua rumah, sebelum memasuki areal ilalang yang tembus ke tepian hutan. Hutan itu tak rapat pohonnya hingga panas matahari masih sampai ke kulitku. Aku patahkan ranting kecil sepanjang dua kali panjang lenganku. Ranting itulah yang aku pukul-pukulkan ke setiap perdu kecil yang kulalui. Biar ular atau biawak segera lari. Jalan setapak itu keras sekali. Karena berjalan sendirian saja, aku berdendang kecil untuk menghibur diri. Mataku tetap awas ke arah jalan. Aku akan langsung menetak kelabang dengan ranting di tanganku ini jika hewan itu kedapatan merintangi jalanku.

Lima menit berikutnya, suara air sungai masuk ke telingaku. Tak jauh lagi. Berjalan turun macam ini memang mudah, apalagi tak ada yang memberati tangan. Kerepotanku akan dimulai saat pulang dengan dua jerigen plastik penuh air —sembari berjalan mendaki, bikin paha terasa membesar dan betis terasa berat jika diangkat.

Semakin dekat jarak dengan sungai, telingaku ikut memerangkap suara tawa teman-temanku. Entah mengapa mereka itu betah berlama-lama di sungai. Itu suara tertawa Sare dan Boang. Suara mereka berdua saling bersahutan sebelum diakhiri dengan tawa panjang.

“Ohoooiii…!” Aku berseru dari sisi sungai.

Sahutan serupa aku terima dari arah hulu. Teman-temanku itu sudah selesai mencuci rupanya. Kini mereka sedang mandi.

“Naiklah, Una!” Seru Boang, “kami semua ada di sini. Para lelaki sedang mencari udang di bawah sana —kemarilah!”

Aku harus berjalan menyusuri sisi sungai sebelum berbelok kecil untuk mendapati teman-temanku. Mereka usai menyusun bebatuan membentuk bendungan kecil untuk tempat berendam. Selain Sare dan Boang, juga ada Epi dan Gea. Mereka melambai-lambai menyambut kedatanganku.

“Bagaimana ina-mu, Una?” Tanya Sare saat aku menaikkan kain sarungku.

“Sudah sehat. Ina sudah turun dari rumah. Mungkin sekarang ina sedang berangin-angin setelah menumbuk jagung di kolong rumah. Panas sekali hari ini.”

Mereka berempat membenarkan ucapanku. Pantas saja mereka sengaja berlama-lama di sungai, sebab tempat ini lebih sejuk daripada di sekitar kampung. Setelah menanggalkan baju dan menaikkan sarung sebatas dada, aku turun perlahan ke bendungan kecil, bergabung dengan mereka. Aku tak mau pasir di dasar sungai naik karena aku melompat turun.

“Orang-orang tambang sudah berdatangan—” Epi mencolek tanganku, “—katanya mereka membawa banyak peralatan. Padahal kampung akan menggelar Montula (upacara beras bambu) tiga hari ke depan.”

Aku mengangguk. Aku tahu kabar itu dari Paman Runtu. Tapi akan ada upacara, yang berarti akan ada pemasukan uang untuk warga —dan itu juga berarti pemasukan dana untuk kampung. Acara itu akan membuat warga sibuk.

Una menanyakan Bonde. Ia memang menyukai kakakku. Bonde saja yang seperti tak peduli saat ada seorang gadis sedang memerhatikannya. Kami berlima berendam sampai nyaris sore. Aku sebenarnya sudah akan pulang, tapi mereka menahanku dan berjanji akan membantuku mengangkat jerigen hingga ke depan rumah. Sampai keriput kulit kami sebab berendam terlalu lama. Setelah matahari bergeser sedikit, kami sudah berkemas untuk pulang ke kampung. Kami masih sempat bercanda sebelum naik ke sisian sungai.

Tiba-tiba dua mobil penuh lumpur masuk lewat jalan utara dan berhenti di pelataran perigi. Pada masing-masing mobil itu menumpang dua lelaki. Seperti mobilnya, tubuh-tubuh mereka kotor berlumpur dan berkeringat.

Begitu mobil berhenti, mereka bergegas turun ke perigi. Kehadiran mereka yang tiba-tiba itu mengejutkan kami yang baru selesai mandi. Kami meneriaki keempat lelaki itu agar mereka keluar dari perigi. Landaian perigi jadi kotor berlumpur saat mereka menyeka tubuh mereka. Tapi para lelaki itu tak hirau. Gea yang jengkel, menyiram salah seorang di antaranya. Lelaki itu diam saja. Ia terus maju, meletakkan kepalanya di bawah solonsa (pipa bambu) perigi, berbasahan sepuas hati.

Kemudian lelaki itu menegakkan tubuh. Puas wajahnya. Ia melepas baju, bertelanjang dada, dan matanya ia edarkan pada kami. Matanya berhenti pada Gea yang tadi menyiraminya. Tiga orang kawan lelaki itu menyusul ikut membasahi kepala.

“Kenapa tak sekalian kau mandikan aku saja?” Tanyanya pelan pada Gea.

Tak sopan —gerutu Gea, membuang muka, lalu merapikan letak kainnya. Jarak perigi dari tobu cukup jauh. Jika hal buruk terjadi, teriakan kami tak akan membuat orang kampung berdatangan.

“Mandilah bersamanya!” timpal seseorang dari empat lelaki itu seraya terkekeh ke arah kami yang mematung cemas.

“Bagaimana—” lelaki itu mengangguk pada Gea, “—mau kau memandikanku?”

“TIDAK!”

Sebuah suara lantang terdengar dari bukit kecil di samping perigi itu. Semua orang berpaling ke asal suara. Di atas sana, berdiri seorang lelaki bertubuh besar, bertelanjang dada dan tak beralas kaki. Di pundaknya ada kompe (keranjang pandan) dan taa’Owu (parang panjang khas orang Moronene).

“Apa ini maksud kalian datang ke mari? Tak traktor saja kalian bawa, tabiat buruk kalian pun ikut pula!” Teriaknya sinis.

Keempat lelaki itu saling pandang. Mereka segera menjauhi perigi, mendekat ke mobil mereka. Tak berkedip, mata mereka mengawasi lelaki besar bersenjata yang baru datang itu. Kami segera mengumpulkan alat mandi dan bergegas ke sisi lain sungai. Kami bersyukur pertolongan datang.

Ngeri dengan ukuran tubuh dan parang panjang lelaki di atas bukit, keempat lelaki itu masuk ke mobil dan selekasnya pergi.

Aku mendongak, mendapati Paman Manek menatapi dua mobil yang bergerak menjauhi perigi. Paman Manek menengok ke bawah. “Lekas selesaikan urusan kalian dan pergi dari sini! Orang perempuan tak baik berlama-lama di perigi. Kampung tak aman sejak orang-orang tambang itu datang,” ujar Paman Manek pada kami semua.

Kami menurut. Bersegera sebelum matahari benar-benar tergelincir di ufuk.

**

PENGALAMAN di sungai itu membuatku tak paham. Paman Manek sebagai Penghulu Keenam —oleh ayahku dan Paman Runtu dibicarakan sebagai penyebab orang-orang tambang datang ke kampung ini. Manek dituduh menolak memberi pendapat di hadapan Dewan Adat dan membuat lima Penghulu lain kesukaran menentukan sikap.

Tapi apa yang aku lihat di sungai itu tak tampak seperti Paman Manek yang dibicarakan ayahku dan Paman Runtu. Ia garang sekali pada tingkah para penambang.

“Sebagai Penghulu Keenam dalam Dewan Adat, Manek harus percaya pada bilangari. Ia tak mau mengambil sikap dan menolak berpendapat karena bilangari tak sedikit pun mengisyaratkan sebaliknya. Para penambang itu datang bukan karena keinginan Manek —melainkan keinginan pemerintah Kabupaten,” Kakek menjelaskan sikap Paman Manek saat kutanyakan.

Mbue, apakah ama-ku tak tahu soal ini?” Tanyaku.

Kakek tersenyum. “Mereka tahu. Ama-mu dan Runtu tahu soal ini. Mereka hanya bingung kenapa Manek meminta kita menyingkir ke hutan —bukan ke kota kecamatan seperti yang dilakukan orang-orang.”

Bilangari telah menunjukkan apa pada Ntama’Ate Manek?”

Untuk pertanyaanku itu, kakek menghembuskan asap tembakaunya kuat-kuat.

**

“KALIAN tak tahu apapun tentang hutan ini. Selain aku, kalian tidak dilahirkan untuk berada di sini!” Teriak kakek dari bagian tergelap hutan.

Suara kakek menggema dan membuat para pengepung kasak-kusuk. Mereka tak bisa melihat posisi kakek. Walau kepungan mereka tak juga longgar, tapi mendengar bicara kakek yang bernada mengancam itu tak urung membuat hati mereka jeri.

Seseorang yang bernama Umang bicara lagi dari pelantang suara yang tersandang di bahunya. “Kami sudah diizinkan berada di areal ini. Kampung dan hutan ini berada dalam penguasaan perusahaan kami. Jadi kami minta kalian keluar dari hutan ini sekarang juga!”

“Jika kami menolak—?!” Tanya kakek.

—Pertanyaan itu tak segera dijawab. Keheningan hadir beberapa saat lamanya di antara orang-orang yang mengepung pondok kami.

“Kami tak akan bertanggung jawab dengan apa yang mungkin terjadi.”

“Begitu?” Nada suara kakek seperti mengejek, “—menurutmu, siapa yang sedang mengepung siapa saat ini?”

Orang-orang yang mengepung pondok kami itu saling pandang.

“Bukankah sudah aku katakan —kalian tidak dilahirkan untuk berada di hutan ini. Hutan ini sudah mengepung kalian semenjak kalian masuk ke dalamnya. Hukum Adat kami tak hanya berlaku di tobu, tapi juga di sini. Hutan ini dalam pemeliharaan Pu’uno Adati. Jadi seharusnya, kepada siapa pun, kamilah yang tak akan bertanggung jawab jika ada hal-hal buruk menimpa diri kalian.”

Ucapan kakek benar-benar serius. Terdengar olehku lebih mirip ultimatum.

Kemudian, kasak-kusuk terdengar dari orang-orang yang mengepung pondok kami. Suara beberapa dari mereka terdengar panik dan menunjuk-nunjuk pada bagian tergelap hutan, ke arah pepohonan yang tampak bergerak-gerak. Mereka seperti panik menoleh ke kiri dan ke kanan, seperti memastikan bahwa tak ada apapun di sekitar mereka saat ini.

Kakek benar —sekarang, siapa yang sedang mengepung siapa.

Orang-orang yang tadinya mengepung pondok kami sesungguhnya tak tahu, bahwa merekalah yang sedang terkepung. Ayah, Paman Runtu dan lusinan lampio’O (pasukan adat), sudah merapatkan kepungan terhadap mereka, begitu mereka memasuki batas hutan ini. Paman Manek bersama lima Penghulu lain mengatur pergerakan orang-orang. Kakek, sebagai Puu’Tobu (kepala kampung), berdiri memimpin.

“Bertindak bijaklah—” kata kakek lagi, “siapapun kalian, sebaiknya tidak melanggar Hukum Adat kami. Pulanglah pada siapapun yang telah menyuruh kalian datang ke mari.”

Kali ini kata-kata kakek lebih tajam. Itu mungkin peringatan terakhir.

Orang-orang yang tadi menyangka telah mengepung pondok kami, mundur perlahan-lahan. Kemudian mereka berkumpul di satu titik, lalu bergerak menyusuri jalan hutan dari mana mereka masuk sebelumnya. Wajah-wajah mereka cemas, sesekali Umang menoleh ke belakang, atau mendongak menatapi kanopi pepohonan yang memayungi hutan ini.

Hari ini, orang-orang telah menghindari pertikaian.

**

PAMAN Manek memang pandai membaca bilangari. Ia tak percaya desas-desus sebelum melihat penanggalan adat kami. Paman Manek percaya, kampung ini tak akan terusik seingin apapun orang yang datang untuk mengubahnya menjadi areal tambang seperti yang sudah mereka lakukan pada dua kampung di tanjung.

Itulah mengapa Paman Manek menolak berpendapat. Sebagai Penghulu Keenam ia berhak tak sepakat dengan lima penghulu lainnya. Paman Manek berpedoman bilangari —dan semenjak orang-orang di Kedatuan Bombana menggunakannya, penanggalan adat itu belum pernah meleset.

Kakek tertawa melihatku mengangguk-angguk mendengar Paman Manek menjelaskan fungsi dan bagaimana bilangari merujuk pada keputusan-keputusan penting dalam Dewan Adat kami. (*)

Molenvliet, Maret 2015

 

Catatan:

Bilangari = sistem almanak kuno peradatan Orang Moronene-Tokotua di Kedatuan/Kemokolean Bombana. Lazim disebut Bilangari To Moronene. Almanak bilangari berdasarkan perhitungan lunar, sistem penanggalan ini menggunakan papan matriks dengan 11 simbol utama dalam sembilan varian. Digunakan sehari-hari oleh orang Moronene hingga kini. Sistem penanggalan ini diciptakan dan dipakai pada tiga protektorat Kedatuan Bombana (Keuwia, Lembopari, dan to’Kotua), sejak abad ke-9. Kedatuan Bombana adalah kerajaan proto melayu tertua di Sulawesi Tenggara.

Takrif:

Sebagai sebuah kekayaan intelektual dan pemegang hak cipta atas cerpen ini, maka cerpen ini dapat saya publish di blog pribadi saya dan akan masuk sebagai salah satu karya dalam kumpulan cerpen saya. Demikian untuk diketahui dan dimaklumi.

Sumber:

Pemenang Cerpen Lahat untuk Nusantara

 


[Cerpen] Mencuri Perahu | Republika | Minggu, 1 Mei 2011

Mencuri Perahu

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

“Ama (bapak), benarkah aku anak ikan?”

“Siapa yang mengatai kau macam itu!”

Meradang Bandi mendengar pertanyaan Ripah, anak perempuannya limabelas tahun itu. Buku-buku jemarinya mengeras. Sepertinya, hendak lekas saja dia meninju seseorang.

“Orang-orang di pasar membiarkan anak mereka mengejekku,” jelas Ripah. Mukanya pucat melihat Ama-nya dipenuhi amarah.

Bandi melompat dari kursi, sigap melepas sarung, dan menurunkan sebilah Taa (parang pendek) dari gantungannya.

“Tak usahlah Ama melayani mereka. Aku tak apa-apa.” Sergah Ripah pada tingkah ayahnya.

Suara datar Ripah membuat Bandi menghentikan gerakannya. Mukanya heran, amarahnya tiba-tiba surut. “Mengapa Ripah…?”

Bandi berjongkok, meletakkan bilah Taa itu di lantai, lalu menatap anak perempuannya itu, “Ama akan membelamu jika ada orang yang mengejekmu serupa itu.”

“Tak perlu. Tindakan Ama hanya akan membuat mereka kian menjadi-jadi. Makin malu aku dibuatnya nanti,” ujar Ripah sambil mengusap airmatanya.

Bandi menunduk. Dihelanya napas perlahan.

“Ripah…kau tak perlu mendengar bualan mereka. Mana ada anak ikan itu. Manusia tentu beranak manusia.”

Bandi mencoba mengajak anak perempuannya bicara baik-baik.

Ripah langsung berdiri. Mendelik pada ayahnya, lalu berjalan masuk dapur. Bandi bangkit dari jongkoknya, menggantung kembali Taa pada sangkutannya dan berjalan ke bibir jendela. Matanya menyapu pinggiran pantai Talaga Besar, yang sedang dihadang angin barat.

Sudah sepekan dia tak melaut. Pun sama dengan kebanyakan nelayan lainnya. Banyak di antara mereka tak ada yang berani turun melaut jika musim angin barat. Tetapi untuk alasan tertentu, sesekali ada juga yang memberanikan diri menyabung nyawa di lautan.

Tapi, Bandi tak mau ambil resiko seperti itu. Anaknya hanya Ripah saja, dan belum menikah pula. Istrinya sudah lama wafat, ketika melahirkan Ripah.

***

Ketika Ripah masih bayi, imannya nyaris tak kuat jika mendengar gunjing orang banyak perihal istrinya. Entah setan apa yang merasuk ke hati dan pikiran Salamah, istrinya itu, hingga dia berbuat nekad begitu.

Setelah persalinan, bahkan ari-ari bayi belum sempat diputuskan, Salamah tiba-tiba bangkit dari pembaringan dan melompat keluar rumah, berlari menuju pantai. Gerak cepat Salamah, tak disangka Bandi. Tak dapat dikejar istrinya itu, sehingga terlambat baginya menghalau Salamah menceburkan diri ke laut. Tubuh salamah langsung hilang ditelan ombak besar. Kejadiannya juga persis saat musim angin barat.

Bandi menduga, istrinya itu jadi gila memikirkan ekonomi keluarga mereka. Musim angin barat yang panjang membuat kedua orang suami-istri itu resah. Bandi harus punya uang untuk persalinan Salamah, tapi istrinya itu justru mencegahnya melaut.

Maju tak mungkin, apalagi mundur. Mereka berdua benar-benar terjepit keadaan. Maka, itulah sebabnya barangkali, sehingga Salamah berpikiran pendek. Bunuh diri dengan cara gila macam itu.

Semalaman semua lelaki di kampung nelayan itu mencari tubuh Salamah, termasuk Bandi. Si bayi dititipkan pada bidan desa yang membantu Salamah melahirkan. Hingga pagi menjelang, mereka tak menemukan tubuh Salamah. Bukan jasad perempuan itu yang mereka dapati di sekitar pantai, justru seekor ikan Duyung (dugong) yang bertingkah aneh.

Ikan Duyung itu berenang kesana-kemari mengitari pantai. Kadang menyembulkan separuh tubuhnya ke permukaan air, lalu berbunyi sesekali. Orang-orang yang sedang sibuk mencari jasad Salamah, mencoba mengusirnya, tapi ikan Duyung itu tak juga mau pergi. Entah dari mana datangnya ikan itu.

Bandi tidak mempersoalkan kehadiran ikan itu. Bukan hal itu yang membuat dia risau, tapi gunjingan orang setelah tiga hari kemudian. Semua penduduk lelaki memang tak berhenti mencari selama sepekan, tapi mulut perempuan-perempuan kampung pun tak juga berhenti bergunjing.

Mereka mulai menanggapi kehadiran ikan Duyung itu sebagai jelmaan Salamah. Lama kelamaan pergunjingan itu bertambah liar, dan nama Bandi mulai pula disangkut-pautkan.

“Pantas saja hidupnya susah, si Bandi itu mengawini ikan Duyung rupanya.” Demikian gunjing seorang perempuan.

“Eh, ikan Duyung kan, bawa sial pada nelayan. Ikan itu harus diusir jika mendekati kapal. Si Bandi itu malah mengawininya ya?” sambar perempuan lainnya. Lalu ramai di antara mereka membincangkan satu masalah itu saja.

Mereka bahkan mulai menyebut-nyebut bayi Salamah yang bahkan belum diberi nama itu. Mereka mulai melarang siapa saja datang menjenguk bayi Salamah. Takut kena sial, kata mereka. Jika bertemu Bandi sedang menggendong bayinya di depan rumah, mereka buru-buru berlalu tanpa menyapa. Bahkan menoleh pun tidak.

Keadaan inilah yang selalu dikhawatirkan Bandi. Sejak duhulu dia sudah menduga akan datang saat-saat seperti ini. Ripah akhirnya harus menghadapi situasi dan sikap kolot masyarakat di sekitar mereka. Dahulu Bandi pun masih suka percaya tahayul macam itu, tapi semenjak dia bisa membaca lewat program paket B, perlahan-lahan banyak tahayul yang tak masuk akal harus dia buangnya.

Tetapi Ripah. Apalah daya gadis remaja seusia dia menghadapi cemooh dan gunjingan orang sekampung. Kejadian di pasar barusan itu, membuat Bandi makin khawatir.

***

“Ripah!” Panggil Bandi dari ruang tamu.

Tak ada sahutan dari kamar putrinya itu. Waktu Maghrib baru saja berlalu. Bandi menuju dapur. Perutnya minta diisi. Aroma harum kuah santan dari arah dapur begitu menggugah seleranya. Tapi Ripah tak ada di dapur. Ah, barangkali anak itu sedang mengambil air, mengisi bak di belakang rumah.

Bandi memutuskan makan lebih dulu. Jika dibiarkan dingin, sayur kuah santan itu tak akan lezat lagi.

Baru saja separuh piringnya tandas, Bandi terkejut bukan main. Darahnya mengalir cepat. Dia melompat dari kursi, meninggalkan makanannya begitu saja. Tak menjejak anak tangga lagi, Bandi melompat seraya berteriak pada adiknya yang kebetulan berumah persis di sebelah rumahnya.

“Bakri…keluar kau! Keluar Bakri…!!”

Bakri tampak menjulurkan kepalanya dari jendela. “Ada apa?! Mengapa berteriak malam-malam begini?”

“Turun kau…! Bantu aku cari kemenakanmu. Cari Ripah! Dayungku hilang. Perahuku dicuri!” Balas Bandi berteriak.

Wajah Bakri pun pucat. Tanpa menghiraukan istrinya, Bakri ikut melompat turun dari rumahnya, dan mengejar Bandi yang sudah lebih dulu berlari ke arah pantai. Entah kesulitan apa yang sekarang dihadapi kemenakannya itu.

Orang-orang yang mendengar teriakan Bandi pun ikut keluar rumah. Mereka menghadang Bakri dan bertanya, “ada apa dengan kalian?”

“Dayung Bandi hilang!” teriak Bakri pendek, sambil berlari mengejar kakaknya.

Orang-orang lelaki itu pun ikut pucat. Mereka tak membuang waktu, ikut berlari menyusul Bakri dan Bandi.

Hanya kaum lelaki saja di kampung itu yang menaruh simpati pada keluarga Bandi. Mereka mengabaikan permintaan istri mereka untuk tidak bergaul dengan Bandi.

Setibanya di pantai, Bandi langsung menuju tempat tambatan perahu. Bakri bersama dua lelaki lainnya mengumpulkan pelapah Kelapa kering, memilinnya hingga erat, melipat ujungnya menjadi dua. Mereka membuat obor. Dibaginya semua obor itu pada setiap orang lelaki yang datang membantu. Setelah dinyalakan, mulailah mereka menyusuri pantai, sambil meneriakkan nama Ripah, berulang-ulang.

Suara mereka beradu dengan kerasnya hempasan ombak.

Bandi mendapati Bakri. “Perahuku tak ada ditambatannya,” kata Bandi gugup. Wajahnya berkeringat dan matanya menjadi liar. “Ini bagaimana?” Tanyanya panik.

“Lepaskan beberapa perahu dan siapkan Petromax. Kita harus temukan Ripah malam ini juga!” Perintah Bakri.

Bandi bergegas melaksanakan permintaan adiknya itu. Dia sukar berpikir saat ini. Untung saja adiknya bisa lebih tenang darinya.

Saat sedang makan tadi, jantung Bandi hampir berhenti saat melihat dayungnya tak ada digantungannya. Jika nelayan tak melaut maka dayung digantungkan ditempatnya. Apalagi sekarang ini musim angin barat. Pada musim macam ini, perahu akan ditambatkan agak jauh dari bibir pantai, sebab kadangkala jika air naik, perahu yang tak diikat pada tambatan akan diseret air ke tengah laut. Jika diikat pun, dan air mencapainya, maka air akan membenturkan satu perahu dengan lainnya.

Saat Bandi menyadari dayungnya sudah tak ada ditempatnya, maka tak ada sangkaan lain jika Ripah-lah yang telah mengambilnya. Dayung harus satu dengan perahunya. Jika dayung disangkutan hilang, itulah pertanda bahwa perahu telah hilang dicuri.

Ripah seorang diri mendorong perahu dan menuju laut disaat ombak sedang tinggi-tingginya saat ini. Gadis remaja itu tak tahu bahaya apa yang sedang dihalaunya.

Orang-orang sekampung sudah berkumpul di tepi pantai. Mereka masing-masing membawa lampu penerang, sehingga pantai itu kini benderang dibuatnya. Sebagian besar wajah perempuan-perempuan itu menyimpan cemas melihat suami dan anak lelaki dewasa mereka bahu membahu membantu Bandi dan Bakri menyusul Ripah ke tengah laut.

Ombak sesekali menghempas keras pinggiran pantai. Membuat mereka sedikit kewalahan melarungkan perahu. Mati-matian mereka menahan perahu agar tetap mengapung dan tak kemasukan air laut yang datang menghantam silih-berganti.

Mereka diberangkatkan dalam kelompok-kelompok kecil, setiap tiga perahu. Setiap perahu berisi dua orang. Bandi sudah mendahului mereka dan kini sudah agak ke tengah. Lalu satu kelompok lagi dilarungkan. Bakri masuk di kelompok ketiga. Kemudian, menyusul kelompok keempat dan kelima. Satu perahu dari kelompok keempat nyaris tak bisa menyusul setelah terbalik dihantam ombak dari arah samping.

Limabelas lampu kini berkelap-kelip di tengah laut. Suara-suara panggilan mereka berlomba hendak mengalahkan hebatnya suara debur ombak. Setibanya mereka di titik pertemuan, masing-masing perahu kemudian menyebar dalam radius yang perlahan-lahan makin luas. Lampu-lampu mereka kini bagai kunang-kunang yang menyebar di atas air.

Bakri telah memberitahu, jika bertemu perahu Ripah, segeralah memberi isyarat lampu pada lainnya. Bukan saja besarnya ombak yang mereka khawatirkan tapi lusinan karang di bagian utara pulau, dan tentunya Ripah yang tidak berpengalaman sama sekali.

Hampir dua jam lebih semua perahu itu menyebar, saat sebuah isyarat terlihat dari kejauhan. Tampaknya sebuah perahu baru saja menemukan sesuatu. Semoga bukan jasad Ripah atau pecahan perahunya.

Begitu melihat isyarat itu, semua perahu bergerak perlahan saling mendekat. Bandi ada dijarak terdekat dari perahu itu, dan dia tiba lebih dulu. Hampir pecah tangis lelaki itu tatkala melihat anak gadisnya dalam keadaan selamat. Perahunya nyaris penuh dengan air, dan dayungnya tidak ada.

Salah seorang telah mengikatkan perahu Ripah ke perahu lainnya, dan airnya sedang dikuras.

“Ripah…! Ada apa denganmu, nak? Mengapa berbuat seperti ini?!” Teriak bandi berusaha melawan debur ombak saat menanyai Ripah.

Ripah hanya sekilas melihat ayahnya, lalu kembali matanya menyusuri permukaan air. Sepertinya gadis itu tak hirau lagi dengan sekelilingnya.

“Ikan besar itu mengambil dayung Ama,” kata Ripah pendek.

“Ikan apa? Mengapa kau melakukan ini, hah?” Tanya Bandi lagi.

“Aku hendak mencari Ina (ibu). Inaku tadi muncul di sini, di dekat perahu, lalu dayung Ama disambarnya, dibawanya pergi.”

“Apa yang kau bicarakan ini?” Bandi jadi hilang kesabaran. Tubuh Ripah diguncangkan, agar sadar.

Ripah diam lagi. Matanya terus berputar awas berusaha menembus kegelapan malam di laut itu. Sekarang, semua perahu sudah saling merapat. Bakri melompat ke perahu dimana Bandi dan Ripah berada. Tangannya lalu meraih anak itu.

“Ripah, apa yang kau lakukan?” Tanyanya dengan wajah lembut.

Ripah memandangi wajah pamannya itu. Air matanya tiba-tiba jatuh.

Dalam tangisnya, Ripah masih berusaha memandang ke arah laut. “Ripah hendak mencari Ina. Sebab orang-orang di pasar bilang, Ina-ku adalah ikan Duyung, dan aku anak ikan yang bawa sial.”

Bakri tertunduk. Bandi justru jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya. Lelaki itu menangis untuk pertama kalinya. Bahkan dia tak melakukan itu saat istrinya hilang 15 tahun silam.

“Mengapa kau dengarkan kata-kata orang. Paman sudah berulang kali bilang, dengarkan Ama-mu saja. Ama-mu lebih paham tentang ini semua daripada orang-orang itu.” Bakri sedang mencoba membujuk Ripah.

Ripah menggeleng kuat-kuat. “Tidak. Orang-orang itulah yang benar. Tadi Ina menghampiriku, berenang di sisi perahuku. Ina mendorong perahuku ke tempat ini, tapi lalu menyambar dayung dan membawanya pergi.”

“Tidak, Ripah. Inamu bukan ikan. Tak ada ikan beranak manusia.”

Ripah tiba-tiba menolak tubuh pamannya. Mimiknya tak suka pada ucapan pamannya itu. Ripah lalu bergerak ke bibir perahu. Sambil memegangi bibir perahu, matanya kini nyalang mengawasi permukaan air.

Bakri menghela nafas dengan berat. Dia bangkit dan memutar tangannya di udara. Itu isyarat untuk kembali ke pantai. Malam ini sudah cukup berat bagi semuanya. Masalah Ripah nanti mereka selesaikan di darat saja.

Rombongan perahu itu pun pelan-pelan memisah, dan satu persatu menuju pantai. Ripah kini bersama ayahnya di perahu milik mereka. Ayahnya mendapat pinjaman dayung dan perahunya diikat dibelakang perahu Bakri.

Sekitar 200 meter dari pantai, entah dari mana datangnya, seekor ikan Duyung tiba-tiba muncul berenang di sisi kanan perahu Bandi. Sesekali ikan itu menyelam lalu muncul lagi di sisi satunya. Ripah yang menyadari itu lebih dulu, dan tanpa tercegah lagi, gadis itu membuang dirinya ke laut, seolah hendak menyusul ikan itu.

Bandi yang sedikit lengah, ikut melompat ke air. Namun gelombang yang datang dari belakang perahu menambrak tubuhnya, menggulingkannya hingga dia harus segera meraih cadik perahu agar bisa mengapung. Tapi tubuh Ripah tak dilihatnya. Bandi terteriak pada Bakri, “Ripah terjun ke laut!” Serunya.

Bandi menyelam lagi. Bakri menyusulnya melompat dari perahu. Kedua kakak-beradik itu berulang-ulang menyelam mencari tubuh Ripah. Dua orang di perahu Bakri ikut pula melompat berusaha membantu Bandi dan Bakri. Beberapa menit mereka mencari Ripah sambil berjuang melawan hantaman ombak, akhirnya Bakri menyerah.

Bakrie menarik tubuh Bandi, berusaha mengapung di atas ombak yang mendorong keduanya, dan dua orang lainnya menuju pantai. Bandi kini pasrah. Dia biarkan tubuhnya diseret Bakri menuju pantai. Dia atas pasir, kemudian lelaki itu menangis.

***

Selama empat hari selanjutnya, orang-orang melakukan pencarian atas Ripah. Tapi, sama seperti ibunya dahulu, Ripah tak pernah ditemukan lagi.

Semenjak hari itu, Bandi kerap menghabiskan sorenya di tepi pantai, duduk di atas perahunya yang ditambat. Matanya terus-menerus menyapu permukaan air. Seperti berusaha mencari jejak kedua buah hatinya itu. Jika adiknya atau orang-orang mengajaknya pulang, Bandi hanya menyahuti mereka tanpa ekspresi.

“Aku sedang menjaga perahu agar tidak dicuri para ikan,” ujarnya pendek. ***

April, 2011

(Cerpen ini dimuat di Harian Republika, 01 Mei 2011)


%d blogger menyukai ini: