Tag Archives: 1998

German-Indonesian Film Award Winner 2003

[Dokumen]

FILM JERMAN :

 Quiero Ser

Der Peruckenmacher

Ein Einfacher Auftrag

Balance

Kleingeld

Quest

Schwarzfahrer

Gregors Grobte Erfindung

FILM INDONESIA :

 Kamar Mandi

Dapupu Project

Mayar

Violance Against Fruits

Diantara Masa Lalu dan Masa Sekarang

Mass Grave

Ketok

Loud Me Loud

Geothe Institute Jakarta

 

Loud Me Loud

Loud Me Loud. Sutradara: Bayu Sulistyo S.

Bayu Sulistyo S (Sutradara), Indonesia, 2002, Animasi, Digital AV, Berwarna, 26’ 49”.

Bercerita tentang Muki, perjaka tulen yang senang berjoget diiringi musik keras kesukaannya yang bertetangga dengan Jowee yang cinta damai dan pemuja ketenangan. Apa yang kemudian dilakukan Jowee, dan bagaimana aksi balas dendam Muki?

Penghargaan : Special Mention Kuldesak Award & People’s Choice Konfiden Award FFVII 2002.

***

Ketok

Ketok. Sutradara: Maria Clementine Wulia

Maria Clementine Wulia (Sutradara), Indonesia, 2002, Dokumenter, Eksperimental, DV, Berwarna, 5’ 35”.

Menggambarkan kesaksian sepasang suami-istri tentang ketukan misterius di pintu rumah mereka… atau?

Penghargaan: Best Film SET Award & Best Technical Achievement Kuldesak Award FFVII 2002.

***

Mass Grave

Mass Grave. Sutradara: Lexy Junior Rambadeta

Lexy Junior Rambadeta (Sutradara), Indonesia, 2002, Dokumenter, DV, Berwarna, 26’.

Setelah diktator Soeharto dijatuhkan pada 21 Mei 1998, rakyat Indonesia mulai berani mempertanyakan kembali sejarah bangsanya. Salah satu peristiwa kejam yang ditutup-tutupi adalah pembantaian massal terhadap lebih dari 500 ribu rakyat Indonesia tahun 1965-1968 yang diorganisasikan oleh militer di bawah perintah diktator tersebut. Pada tanggal 16 November 2000, beberapa orang tua yang merupakan keluarga dari korban pembantaian 1965-1968 tersebut, menggali sebidang tanah perkebunan di hutan di pinggiran Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Mereka, dengan bantuan beberapa dokter forensik, menemukan 26 kerangka manusia yang ditimbun bertumpuk-tumpuk menjadi satu. Beberapa keluarga korban berhasil mengindentifikasi tulang-belulang yang ditemukan sebagai keluarga yang mereka cari. Ibu Sri Muhayati misalnya, mengenali tulang ayahnya yang dibunuh tentara pada 1966. Keluarga lainnya juga mengenali identitas keluarga mereka. Empat bulan setelah pemugaran kuburan massal di tengah hutan wilayah Wonosobo tersebut, keluarga korban ingin melakukan pemakaman kembali yang layak untuk kerangka-kerangka keluarga mereka. Seorang teman mereka bernama Pak Irawan berbaik hati menyumbangkan sebagian tanahnya di Desa Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, untuk tempat penguburan. Namun, rencana pemakaman kembali tersebut digagalkan oleh sekelompok orang. Peristiwa ini tidak dipublikasikan dengan jujur dan terbuka oleh media massa.

Penghargaan : Best Documentary SET Award FFVII 2002.

***

Diantara Masa Lalu dan Masa Sekarang

Diantara Masa Lalu dan Masa Sekarang. Sutradara: Eddie Cahyono

Eddie Cahyono (Sutradara), Indonesia, 2001, DV, Berwarna, 12’.

Film ini bercerita tentang semangat perjuangan yang tidak pernah luntur dari seorang anak bangsa yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Keprihatinan dalam melihat kenyataan bangsa Indonesia pada saat ini, dimana segala cita-cita pada masa perjuangan telah dikotori oleh keserakahan manusia. Film ini juga menyentuh kesadaran sosial tentang pentingnya penghormatan terhadap semangat perjuangan yang tidak pernah luntur.

Penghargaan : Best Short Film SET Award & People’s Choice Konfiden Award FFVII 2001.

***

Violance Against Fruits

Violance Against Fruits. Sutradara: Maria Clementine Wulia

Maria Clementine Wulia (Sutradara), Indonesia, 2000, Eksperimental, DV, Berwarna, 3’

Santai saja, nikmati pembantaian Diospyros Kaki di depan mata Anda. Terinspirasi oleh kerusuhan Mei 1998.

Penghargaan : Best Cenceptual Film Kuldesak Award FFVII 2000.

***

Mayar

Mayar. Sutradara: Ifa Isfansyah

Ifa Isfansyah (Sutradara), Indonesia, 2002, Fiksi, MiniDV, Berwarna, 32’.

Mayar adalah seorang penduduk urban di Jakarta Selatan. Pada tanggal 15 sampai 18 Agustus ia pulang ke kampungnya, Yogyakarta, untuk menengok ibunya. Banyak hal yang terjadi dikampungnya ketika ia pulang, sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk menetap di Jakarta Selatan. 

Penghargaan : Best Art Director & Director of Photography SET Award FFVII 2002, Jakarta.

***

Dapupu Project

Dapupu Project. Sutradara: Wahyu Aditya

Wahyu Aditya (Sutradara), Indonesia, 2000, Animasi Komputer, Berwarna, 3’

Menceritakan sebuah robot burung unta yang diburu oleh robot seniman.

Penghargaan : Best Film Animation Film Festival 2001, Best Animation Film SET Award FFVII 2001.

***

Kamar Mandi

Kamar Mandi. Sutradara: Rusli

Rusli (Sutradara), Indonesia, 1999, Fiksi, Betacam, Hitam-Putih, 10’ 11”.

Keluarga… Ayah… Ibu… Anak… Satu hari… Di kamar mandi…

Penghargaan : Best Independen Short Film Garin Nugroho Award & Best Short Film Director Kuldesak Award in 1st Indonesia Independent Film-Video Festival (FFVII) 1999.

***

Gregors Grobte Erfindung

Gregors Grobte Erfindung. Sutradara: Johannes Kiefer

Johannes Kiefer (Sutradara), Jerman, 2001, Dialog Jerman, Kurzspielfilm, Komedi, Berwarna, 35mm, 11’.

Dari hari ke hari neneknya Gregor makin susah berjalan. Teman-teman wanitanya mendesak dia untuk pindah ke panti jompo… Tetapi Gregor menyayangi neneknya dan ia adalah seorang penemu yang jenius: ketika ia menyadari, bahwa neneknya bisa berjalan di air tanpa rasa sakit, ia punya ide yang hebat…

Penghargaan / Anerkennung : Oscar Nomination for Best Short Film 2002, Best Comedy Los Angeles 2002, Audience Award Best Short Austin 2001, Jury Award New York 2001, Best Comedy Burbank 2001, Best Comedy Short Cinequest 2002, Best Short Magnolia 2002.

***

Schwarzfahrer

Schwarzfahrer. Sutradara: Pepe Danquart

Pepe Danquart (Sutradara), Jerman, 1992, Dialog Jerman, Kurzspielfilm, Komedi, Hitam-Putih, 35mm, 12’.

Ia seorang kulit hitam dalam perjalanan dengan sebuah trem, duduk di tempat pilihannya: hal ini membuat meledaknya kebencian ras seorang nenek Jerman. Namun orang kulit hitam itu tahu bagaimana harus bereaksi.

Penghargaan / Anerkennung : Best Short Film Berlinale 1993, First Audience Award Hamburg Short Film Festival NO BUDGET 1993, Best Short Film in Melbourne 1993, New York 1994, Oscar Best Short Film, 1st Prize, 11th International Odense Film Festival 1995 and many others.

***

Quest

Quest. Sutradara: Thomas Stellmach

Thomas Stellmach (Sutradara), Jerman, 1996, Tanpa Dialog, Film Animasi, Berwarna, 35mm, 11’.

Sebuah figur dari pasir menunggalkan dunia pasir, tempat ia tinggal, untuk mencari air. Ia berkelana ke dunia-dunia lain dari kertas, batu dan besi, selalu mengikuti titik-titik air. Pada akhirnya figur pasir ini berhasil mencapai air… dengan cara tragis. 

Penghargaan / Anerkennung : 1997 Oscar for Best Short Animation Film, Cartoon-d’Or-Preis 1996, Friedrich-Wilhelm Murnau Preis Best Shortfilm 1996, etc. (about 50).

***

Kleingeld

Kleingeld. Sutradara: Marc Andreas Bochert

Marc Andreas Bochert (Sutradara), Jerman, 1999, Dialog Jerman, Kurzspielfilm, Drama Sosial, Berwarna, 35mm, 15’ 32”.

Film karya Bochert mengisahkan tentang hubungan yang luar biasa antara seorang pengemis dengan seorang pengusaha. Suatu hari si pengemis berdiri membisu di trotoar diantara sebuah bangunan kantor dan tempat parkir. Dengan sebuah gelas kertas ia meminta-minta uang. Berawal dari sebuah sumbangan dari seorang berdasi yang kemudian menjadi kebiasaan setiap hari. Keadaannya menjadi rumit ketika suatu hari si pengemis mulai mencuci mobil sang pengusaha… Kisah dari Berlin tahun 90-an yang diceritakan secara tragis, lucu dan profesional.

Penghargaan / Anerkennung : Oscar Student 1999, Deutscher Kurzfilmpreis in Silber 1999, Oscar Nomination for Best Short Film 1999.

***

Balance

Balance. Sutradara: Wolfgang & Christoph Lauenstein

Wolfgang & Christoph Lauenstein (Sutradara), Jerman, 1989, Tanpa Dialog, Film Animasi, Berwarna, 35mm, 7’ 20”.

Lima figur bergerak di atas sebuah plat. Hal ini hanya bisa dilakukan apabila ada keseimbangan, dengan cara keseimbangan semua orang/figur dibagi merata. Permainan dimulai, dimana keseimbangan terus-terusan terancam, dan ketergantungan satu figur dengan yang lainnya menjadi jelas terlihat.

Penghargaan / Anerkennung : Best Short Animation Film Oscar 1990.

***

Ein Einfacher Auftrag

Ein Einfacher Auftrag. Sutradara: Raymond Boy

Raymond Boy (Sutradara), Jerman, 1996, Dialog Bahasa Jerman, Kurzpielfilm, Komedi, Berwarna, 35mm, 10’ 50”.

Fee Marie, yang sudah sejak bertahun-tahun berhasil memenuhi keinginan-keinginan orang, harus mengunjungi seorang tukang tembok Jakob Brumme di gubuknya yang reot dan memenuhi 3 keinginannya. Sebuah pekerjaan yang mudah, kelihatannya.

Penghargaan / Anerkennung : International Short Film Festival Hamburg 1996, “Premiere-Preis” / Oscar Student 1997.

***

Der Peruckenmacher

Der Peruckenmacher. Sutradara: Steffen Schoffler

Steffen Schoffler (Sutradara), Jerman, 1999, Dialog Bahasa Inggris, Film Animasi, Fantasi, Berwarna, 35mm, 15’.

Kisah seorang pria yang menutupi dirinya sendiri rapat-rapat di Landon yang tercemar pest pada jaman abad pertengahan untuk menghindar dari infeksi. Ketika seorang gadis kecil yang sakit meminta pertolongannya, dunianya seakan mau runtuh.

Penghargaan / Annerkennung : Jury Etudiant, Prix de la mise en scene – Vendome 2000, 2001 Oscar Nomination for Best Short (Animation) Film.

***

Quiero Ser

Quiero Ser. Sutradara: Florian Gallenberger

Florian Gallenberger (Sutradara), Jerman, 1999, 35mm, Berwarna, Dialog Bahasa Spanyol, Fiksi, 34’.

Dua orang kakak beradik yatim piatu berjuang hidup di jalan-jalan kota Mexico. Impian akan masa depan yang lebih baik membuat mereka mampu menyisihkan setiap peso yang mereka dapat untuk ditabung. Tetapi ketika si kakak jatuh cinta, maka semua uang tabungannya dipakai untuk pacaran dengan sang gadis, perbuatannya ini memyebabkan si adik sakit hati. 25 tahun kemudian secara tak sengaja mereka bertemu kembali…

Penghargaan / Anerkennung : (terseleksi)

Academy Award (Oscar) 2001/Student Academy Award, First Steps Award 2001, GWFF – Award for Best Film for Graduation 1999, Prize UNICEF Bilbao, Film Prize from The City of Munich, Best Jury Jeune Best Shortfilm, Best Actors Vendome, Audience Award & Horizont Award Aspen, Best Directing & Audience Award Poitiers, Internationales Festival der Filmhochschulen Munchen, Best Actors & Audience Award Giffoni, Grand Prix Lodz. FBW Pradikat Obesonders Wertvollo. ***

Iklan

[Puisi] Gurauan Episode Mati

(dua belas kesaksianku)

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Keranda paksi mulai bergerak.

ada yang berwajah murung di awan.

I.

Lima bocah menengadahkan wajah ke ufuk, seperti sepi, tegak mereka menyatakan sebuah keterpaksaan. Nasib ini adalah lapik lapik kain, dan kerenteng kaleng. Olah jiwa itu, mengembara dalam putaran waktu yang bicara patah patah.

Jiwa keadilan mengeluarkan telunjuk dalam genangan darah hitam di ladang ladang. Sepinya Wijaya, sesepi Timor saat dentang lonceng dan raungan sirine jam malam. Bersuara berarti menghentikan napas.

II.

Ada sebuah tugu mati di ujung barat jadi saksi perjalanan yang gaib. Jemari ibu yang membuat tenang menjamahi, namun kami harus bertegur sapa dengan cemoohan dan ketuk ketuk palu di ruang sidang. Dinding dingin, lantai lembab, dan kekokohan jeruji sebagai penguji iman dalam ketakutan terperi di ruang siksa. Ribuan manusia harus bisu, harus teraniaya, harus mengalah, harus merunduk wajah, dan membuang muka dari genderang perang yang tidak ditabuh.

Catatan asasi ini menumpuk. Hak mereka di…Rancamaya, Tanjung Priok, Kedung Ombo, Karang Serang, Citayeum, Cijayanti, Cimacan, Badega, Kaca Piring, Waduk Nipah, Haur Koneng, Hukaea-Laea, dan Irian Jaya. Seperti kesaksian mati yang tidak dapat disebutkan.

Seperti gurauan mati di episode ini.

III.

Bara ini, saat pagi membuta seakan ditiup dari corong bambu. Sidoarjo, Mei, seribu Sembilan ratus Sembilan puluh tiga.

Menjadi kesaksian yang mengambang di atas tubuh menyedihkan seorang wanita muda di hutan Wilangun, Nganjuk. Dari tubuhnya menyebar bau aroma luka empat hari. Aroma penderitaan dan ketidakberdayaan anak manusia yang menuntut haknya.

Ambangan kesaksian ini, di atas tubuh perempuan MARSINAH.

IV.

Kesaksian kedua:

Akhir 1996, diangkasa ribuan malaikat menaungi pertiwi.

Mereka menangis mencoba meredakan panas dengan air matanya. Akhir 1996, seonggok tubuh bisu, dijilati anjing, menghadap angkasa dengan jantan. Keteguhannya, bagai karang bukit pare. Namun, kematiannya itu dicatat sebagai dosa jamannya. Dia nadir dengan setumpuk kebenaran di hati dan jiwanya.

Ambangan kesaksian ini, di atas tubuh lelaki MUHAMMAD FUAD SYAFRUDDIN.

V.

Kesaksian berikutnya:

Azan menyeru di cungkup masjid. Karna, sore tadi, puluhan anak ibu terbaring dengan

paksa.

Di tubuh tubuh basah itu, tertulis kebiadaban militer. Karena, sore tadi saat kesejahteraan pesantren dan keabadian kalimat kalimat Allah di injak injak dan menjadi derai tangis.

Ambangan kesaksian ini, di atas pondok pesantren HAUR KONENG.

VI.

Kesaksian ini terpenggal sementara, di sini.

Ya, Rabb…orang orang ini ditelanjangi keadilan kotor, lalu dicampakkan bagai fitnah tiada ampun.

“Akhirnya, sanggup juga ku buang topeng kerendahan hati dan kebajikan. Sekarang kalian lihat istana merdeka yang asli.”

Kesaksian-kesaksian terpuruk di laci laci Istana Merdeka. Ribuan orang dihitung dengan pelor dan deraan sangkur.

***

Jerit lapar menjatuhkan hati, memilukan sebagai nasib yang runtuh dari tatakannya. Sepohon cendana rindang mengatapi anak anak bangsa, memilin perutnya kosong. Bongkol pisang jadi mahal, biji beras jadi jarang jarang, dan rupiah terserak di antara kaki kaki.

Bangsa ini di azab, atas dosa dipermulaan. Kelaparan melubangi telinga, meletuskan kepala, karena keranda putih merah tidak pernah berkurang.

Perjalanan ini makin pahit, bangsaku. Langit semakin kelam. Kami sadar, untuk kemudian terjaga, dari jerit perih lapar di malam buta. Dari onggokan gubuk gardus di rel kereta, dari ranjang ranjang keras di emperan toko, dari denting denting piring kaleng kosong di barak barak pengungsi.

Mereka hilang pegangan, kami gaib kata kata, dan bunga bunga kemboja bermekaran

memanggil manggil. Inilah wajah pertiwi yang tidak bermuka. Asing, dan…asing.

“Jangan bercanda dengan nasib di episode ini.” Tegur seorang penarik becak.

“Tampaknya, hanya pertobatan model Ninive yang bisa menyelamatkan bangsa ini, dan

yang masih belum bisa dimutlakkan sebagai sodom dan gemorrah. Karena, masih banyak mahasiswa yang berani bicara lantang dan keras.” Ujar seorang penjaga kubur.

VII.

Jalinan episode dari kesaksian empat:

Jakarta, pukul dua puluh tiga, lebih sedikit. Tembok Trisakti tegak kokoh, diam. Malam beranjak membawa kebisuan yang lain. Malam itu, yang bernasib besok, kumpul dalam keseriusan dan gurau.

Deretan batang lontar menyambut dari pintu masuk. Maya, kemboja merah bermekaran

di halaman Trisakti. Mahasiswa mahasiswa berkumpul satu dalam ruangan, sebagian lelap di atas meja. Yang terjaga, kumpul dalam keseriusan dan diskusi yang hangat. Kepelikan baur satu dalam otak dan ocehan. Malam ini, menjelang esok yang berdarah.

Menjelang dini hari pukul kosong empat, kurang sedikit. Empat mahasiswa ini masih terjaga. Melamun tentang gerakan esok yang permulaan. Hanya langkah besar tidak pernah terbayang. Detik-detik awal, dua belas Mei, berempat anak muda itu belum juga melelapkan mata.

Jakarta menunggu pukul empat sore. Langit membasahi bumi, awan memanahi kumpulan mahasiswa hingga kuyup. Gelombang mahasiswa maju dengan panji panji dan yel yel perjuangan.

Dari Veteran, ratusan prajurit menunggu dengan senjata kokang siap tembak.

Saya terus mencatat…

Gedung gedung bisu memberi langkah pada gelombang ini.

Mereka kuyup, namun terbakar. Mereka tidak pernah sepi dengan teriakan perubahan yang membahana. Kerongkongan kering, baju basah, dan tetesan air mengalir menetes dari ujung ujung rambut. Mahasiswi berbaur pula. Air mata pun menyatu dalam yel yel yang perih.

Di ujung Daan Mogot, mahasiswa disambut berondong senjata. Terdepan roboh mencium bumi. Barisan kedua berbaring melindungi. “Jangan tembak kami! Jangan tembak kami! Mohon jangan tembak kami!” Terdengar teriakan dari sudut utara barisan mahasiswa.

Tembakan terus menyahuti teriakan itu, tidak peduli. “Ada yang kena, ada yang kena… Di depan ada yang kena…” teriak panik mahasiswa barisan kedua.

“Mundur, mundur sepuluh langkah ke front! Hindari konfrontasi…! Mundur…!” terdengar komando dari depan.

Tembakan terus berbunyi. Pelor pelor menyambar kepala.

“Dua orang kawan kena lagi! Hentikan tembakan! Kami bukan binatang. Jangan tembak lagi!” terdengar dari pengeras suara.

Emosi baur dalam tangis, mahasiswa pecah ke tempat perlindungan. Seorang mahasiswi berlutut dalam tangis, “Kawan kami kena, jangan tembak lagi. Kawan kami kena!”

Lalu, bangkit berlari, memeluk tubuh yang basah oleh darah dalam jas almamater. Mahasiswi ini meraung. “Kalian telah membunuhnya. Kalian telah tembak dia. Kami tidak membawa apa apa. Mengapa tembak kami!”

Saat itu, malaikat turun dengan kain kain putih. Sangat hikmat di angkasa, sampai mereka pun menangis. Menutupi tubuh yang bisu di atas aspal yang berdarah campur air hujan.

Sunyi kembali, prajurit berhenti duaratus meter di depan. Senjata masih terarah. Menunggu.

Mahasiswa kumpul kembali. Terdengar tangis takut dari para mahasiswi, dan tangis kemarahan dari yang lain. Yel yel perjuangan berubah jadi derai tangis. Kepedihan menyumbat dada. Doa doa seketika terlontar.

—dari mana mereka berasal, ke sana pula mereka kembali—

Sepasang mahasiswa dari kumpulan itu lalu bangkit, dengan mawar merah di tangan mereka maju ke barisan prajurit. Pipi mereka basah, mata mereka lumer, sementara senyum sudah pergi.

Satu per satu kembang itu, mereka sematkan ke moncong senjata, ke saku prajurit berwajah kaku. Mereka melakukannya dalam diam, hanya suasana yang bicara: “Terimalah bunga ini dari kami, karena sore ini kalian telah membunuh empat kawan kami.”

VIII.

Hari ini, sore ini, latihan revolusioner usai.

Gerakan perubahan itu pulang dengan empat keranda besar. Mereka berjalan dengan wajah tunduk pilu, wajah wajah menghujam bumi, mencoba menahan jatuhnya duka yang amat dalam.

Di jalan pasar buah, rombongan itu lewat. Seorang penjual buah, menggandeng seorang mahasiswa, mereka berjalan pelan, beriring : “Siapa mereka yang diusung itu?”

“Teman teman mahasiswa yang gugur hari ini.”

“Mengapa mereka gugur?”

“Ditembak, pak. Oleh prajurit.”

“Siapa kawan kawan itu?”

“Mahasiswa juga, pak.”

“Maafkan saya. Saya tidak dapat bantu apa apa. Ini seikat rambutan jika kalian lapar.”

Setelah itu, rombongan terus berjalan pulang, kembali ke halaman Trisakti. Kembali ke front.

—seterusnya, perjuangan hari ini belum berakhir—

(hari ini saya telah mencatat)

IX.

Kemarin adalah perjuangan.

Hari ini pun, demikian adanya.

Terkemudian sekali, datang kabar tentang kawan kawan mahasiswa yang ikut kemarin. Delapan orang aktifis hilang. Mereka berdelapan tidak pulang ke kampus dan rumah masing masing. Lalu, merebak emosi yang berbeda.

Secara terang terangan berdelapan mahasiswa ini diculik militer, lalu dibawa ke penyiksaan yang sadis. “Kami dikurung dalam ruang satu kali satu berempat empat. Setiap sejam, kami disiram air seni dari atas. Lalu, selang dua jam kami disuruh mandi dengan air dingin. Setelah itu kami ditanyai segala hal di bawah ancaman senjata dan sengatan listrik. Sakit, sungguh sakit.”

“Setelah lima hari, kami dipisahkan satu satu. Entah dibawa kemana tujuh orang kawan lainnya. Yang tahu, hanya Tuhan, para penculik dan mereka sendiri. Aku dibebaskan setelah mengalami penyiksaan yang perih, menyakitkan yang tidak pernah dialami

oleh hewan sekali pun. Dengan mata tertutup, hak kami diinjak injak.”

Ambangan kesaksian ini di atas hak lelaki DESMOND.

X.

Jakarta, 18 Mei.

Ada kesaksian lain di sejarah pertiwi, kini.

Mahasiswa dengan panji masing masing bersatu di kaki dewan. Rumah mereka, rumah rakyat, mereka penuhi dengan yel yel dan semangat yang berkobar kobar. Gedung rakyat itu terdengar suara yel yel, ada suara dari bait bait puisi, ada cemoohan atas kondisi ekonomi bangsa, ada suara dari mimbar bebas, ada jerit-jerit lain…menuntut perubahan.

Dewan tidak bicara. Kini giliran mereka yang harus mendengar, apa yang akan dikatakan rakyat pada mereka. Ribuan mahasiswa memenuhi halaman rumah rakyat dengan satu tujuan membinasakan kekotoran di negeri ini yang mendarah daging dari permulaan.

—di aras langit, semangat empat kawan mahasiswa yang mati kemarin menyeruak di antara mereka. Mereka mengiringi prosesi pendudukan itu dengan senyum mereka—

XI.

Pertiwi, dua puluh Mei seribu sembilan ratus sebilan puluh delapan.

Nusantara memuntahkan semangat. Mahasiswa Indonesia yang tidak pernah lekang dalam sejarah bangsa lebih dari tiga dasawarsa.

Hari ini, teriakan lantang membahana. Memenuhi horison, mahasiswa bergerak di pelosok pelosok. Tidak pernah terbayang kekuatan ini akan sangat besar, bahkan lebih besar dari perubahan tiga puluh dua tahun lampau. Gelombang gerakan mahasiswa Indonesia ini seketika bagai mimpi buruk bagi penguasa zalim.

—hari itu, Tuhan memang berada di atas Indonesia—

XII.

Kesaksian penghabisan untuk episode ini.

Dua puluh satu Mei, terdengar : Gempita gema dari rumah rakyat, mahasiswa bersorak menang, mencebur riang dalam kolam kebebasan setelah di gerus kelaliman. Ini sebuah kemenangan yang permulaan.

Di dalam rumah rakyat, saat rejim menyatakan mundur, derai tangis puluhan mahasiswa menghias pilar pilar putih di situ. Perjuangan permulaan yang tidak sia sia. Atas darah darah mahasiswa yang telah dihitung. Atas perjuangan asasi yang masih akan berlanjut.

Karena permulaan, maka perjuangan ini masih akan berlanjut.

Sukacita rakyat. Dukacita mahasiswa. Alam baru yang menyeruakkan keharuman nyaring. Episode ini bukan penghabisan. Episode selanjutnya masih akan saya tulis.

“Kawan kawan mahasiswa, perjuangan belum selesai, belum usai. Tolonglah kami, teruskan semangat ini, agar kami dapat beristirahat dengan damai.”

—suara suara itu berkumandang dari aras langit—

Tidurlah kawan, kerandamu telah diantar, namun kami masih setengah jalan.

 

Kesaksianku. Jakarta, Mei 1998

Tiga puluh dua tahun setelah 1966

Kerusuhan Mei 1998 (sumber foto: flickr)


%d blogger menyukai ini: