Category Archives: Esai

[Esai] Korpus Awal Cerita Remaja

Korpus Awal Cerita Remaja

Student_Hidjo 

SEBENARNYA, ada pertanyaan yang menggelitik saya selama ini: sejak kapan sih kesusastraan populer dan cerita-cerita remaja mulai di kenal di tanah air? Nah, ini pertanyaan yang rumit, yang tidak semua orang bisa menjawabnya.

Ada yang menyebut sastra populer tumbuh dan menempati kurun waktu tertentu dan setiap kurun waktu itu menunjukkan ciri-ciri tertentu pula. Sastra populer telah tumbuh sejak abad ke-19, terutama pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Sastra populer pada masa ini ditulis, baik oleh kaum Indo-Belanda, peranakan Cina, maupun kaum pribumi, dengan menggunakan bahasa Melayu Pasar.

Kendati rujukan ini masih mungkin ditelusuri lebih jauh. Sebab zaman Hindia Belanda, teks sastra populer, selain yang dikaryakan kalangan yang tersebut di atas, kebanyakan karya merupakan terjemahan novel atau cerita pendek dari Belanda dan Eropa. Sukar pula dirujuk apakah karya-karya itu bisa digolongkan karya bergagasan remaja—untuk memberi ia penyebutan lain sebagai sastra populer.

Kesukaran merujuk juga diakibatkan tidak adanya peneliti sastra Indonesia yang sudi memasukkan kekaryaan sastra populer ke dalam Periodisasi Sastra Indonesia. Tetapi, bukan karena tidak ada atau belum pernah diperiodisasikan hingga lantas kekaryaan sastra populer tidak terlihat mengambil tempat dalam khazanah literasi Indonesia.

Nenden Lilis A., seorang pengajar Universitas Indonesia bilang, bahwa penggolongan karya sastra Indonesia juga sukar lepas dari kecenderungan pijak pemikiran modernisme grand narrative (narasi besar) dalam arus pikir Jean Francois Lyotard. Narasi besar modernisme bukan tidak menimbulkan korban: bagi yang tidak bersinggungan dengan isu pusat, ia akan dianggap tidak ada dan marjinal.

Cara pandang modernisme tidak membuka ruang yang cukup bagi lahirnya jenis sastra baru. Ruang sastra hanya untuk sastra tinggi dan sastra-sastra yang sebelumnya telah ditahbiskan sebagai sastra utama. Cara pandang ini menyebabkan sastra populer dan sastra lokal, dianggap bukan sastra dan diabaikan dalam penulisan sejarah sastra.

Perumusan periodisasi sastra ini korpusnya selalu sama dan dilakukan berdasarkan perkembangan sastra dalam kurun waktu yang diisi oleh konvensi, norma, standar, dan tema sastra tertentu yang dominan. Sastra populer tidak ditilik kehadirannya dalam setiap periode itu sehingga karakteristik dan kekhasan yang ia miliki tidak tertelaah, terjelaskan dan tidak dirangkum.

Baiklah, kita sederhanakan saja seperti ini: tulisan populer belum dapat tempat di wilayah sastra Indonesia. Nah, mari kembali pada pertanyaan di awal esai ini: Sejak kapan tulisan populer lahir dan tumbuh (termasuk medianya) di Indonesia?

Sastra populer yang ditulis pada masa ini meliputi cerita-cerita tentang kehidupan para nyai, cerita kriminal yang diangkat dari kisah nyata di pengadilan, cerita silat, cerita hantu (gaib), dan cerita percintaan (yang tak jarang dibumbui seks). Cerita-cerita seperti ini biasa ditulis oleh R.M. Tirto Adhi Soerjo dan Marco Kartodikromo, untuk menyebut nama dua pengarang.

Di zaman Jepang (1942-1949), sastra populer harus tiarap. Hal ini, bilang Jakob Sumardjo, dikarenakan zaman itu penuh pergolakan politik-sosial. Menulis dan membaca butuh ketenangan khusus yang sukar diperoleh.

Sastra populer kembali marak di awal kemerdekaan (1950 -1968-an). Bermunculan novel dan cerpen remaja dengan tema-tema percintaan dan detektif yang dibumbui sensualitas. Marga Tjoa berkibar di genre ini. Tahun 1970-an, tema sastra populer kembali bergeser, karena sastra populer masa itu banyak ditulis perempuan yang didominasi tema-tema rumah tangga.

Sajian dan tema bergeser cepat di akhir tahun 70-an. Tema remaja berkembang baik (berupa cerita petualangan maupun percintaan). Reduksi tema dari penulis asing juga sukar dielak, sebab usaha penerbitan buku dan kegemaran membaca makin meningkat. Di picu novel serial Lima Sekawan dan Sapta Siaga (Enid Blyton) dan Trio Detektif (Alfred Hitchcock), maka bermunculan pula tema serupa di Indonesia.

Majalah Anita (berubah jadi Anita Cemerlang), majalah remaja yang memuat cerpen dan cerber populer lahir pada tahun 1979. Untuk tidak menyebut semuanya—beberapa pengarang cerita remaja saat itu antara lain Gus Tf. Sakai, Agus Noor, Sujiwo Tejo, Donatus A. Nugroho, Leila Chudori, Ana Mustamim, Bambang Sukma Wijaya, Tina Kardjono, Putra Gara, dan Rina Erina sebagai salah satu penulis cerita remaja paling produktif saat itu.

Tema dan motif karya sastra populer berkembang pesat. Muncul juga novel dan cerpen bertema keagamaan Ispolit (Islam Popular Literature), juga bertema perempuan kosmopolitan dalam hidup keseharian perkotaan pada genre chicklit dan teenlit yang lebih mengusung gagasan feminisme lunak, meminjam istilah Aquarini Prabasmoro.

Karya-karya itu memperlihatkan pergeseran bobot tema dalam gagasan ceritanya, dengan menonjolkan muatan intelektual namun ditulis secara ringan. (IQM)

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 51 / Th. V / Januari 2014)

Iklan

[Esai] Hikayat Sayembara Menulis di Indonesia

Hikayat Sayembara Menulis di Indonesia

Hikayat Sayembara Menulis di Indonesia2 ANDA pasti ingat beberapa lomba kepenulisan yang digagas oleh Majalah Story? Salah satunya Lomba Menulis Cerdak Majalah Story yang diadakan beberapa kali sepanjang 2013. Juga ada Lomba Menulis Cerpen Ultah Story 2011. Bahkan majalah ini pernah membuat Lomba Puisi Cinta pada tahun 2010.

Sebenarnya, sejak kapan lomba atau sayembara kepenulisan itu diadakan pertama kali? Ini dia pertanyaan besarnya. Catatan perjalanan sejarah sastra Indonesia itu sangat kurang sehingga agak rumit mengetahui persisnya kapan.

Semua bentuk lomba atau sayembara kepenulisan itu maksudnya memang untuk mengasah bakat kepenulisan dalam bentuk kompetisi yang selektif (menggunakan panel juri). Terbukti, setiap kompetisi macam ini ternyata mampu memunculkan banyak bakat penulis muda yang siap di medan sastra murni bahkan sastra-pop.

Perlumbaan (maksudnya: perlombaan) Karang-mengarang pertama kali hadir di zaman Hindia Belanda sejak akhir abad ke-19. Berbagai sayembara kepenulisan di zaman itu memang dipicu keinginan Belanda memajukan bidang penerbitan di Hindia.

Awal penerbitan di Hindia-Belanda dimulai saat datangnya sebuah mesin cetak dari Belanda pada tahun 1624. Ketiadaan ahli cetak untuk menjalankan mesin menyebabkan mesin itu mangkrak begitu saja. Pada tahun 1659, Cornelis Pijl memrakarsai produksi Tijtboek (semacam almanak). Selepas itu, mesin cetak kembali tak beroperasi. Percetakan itu kembali bekerja saat mencetak dokumen resmi Perjanjian Bongaya antara Laksamana Cornelis Speelman dan Sultan Hasanuddin, 15 Maret 1668. Sejak itulah, Verenigde Nederlandsche Geoctroyeerde Oost-Indische Compagnie (VOC) mulai rutin mencetak berbagai kontrak dan dokumen perjanjian dagang, hingga kemudian buku-buku sastra terjemahan.

Pemerintah kolonial lewat Commissie Voor de VoLfrcslectuur (CVVL) membuat Literaire Schrijfwedstrijd Nederlands-Indie pertama kali pada tahun 1879 dalam format karya saduran. Lomba itu menghasilkan dua pemenang: novel Si Jamin dan Si Johan karya Merari Siregar sebagai pemenang pertama, dan Pengibur Hati karya J. Paimin sebagai pemenang kedua. Saat hendak dicetak, diketahui bahwa nama J. Paimin adalah nama samaran Merari Siregar sendiri.

Tetapi, karangan kecil yang berjudul Penghibur Hati itu menurut A. Teeuw, dikarang oleh J. Paimin dari Slakas, Tasikmalaya. Pada sampul buku tersebut tertulis “Soewatoe karangan yang beroleh hadijah dan diploma dalam perloembaan karangan dan hal madat”.

Karena judul dua karangan itu mempunyai tujuan yang sama, maka keduanya disatukan menjadi sebuah buku. Dalam saduran itu Merari Siregar menciptakan lingkungan cerita yang baik sehingga tanpa membaca cerita aslinya kita seolah-olah membaca sebuah cerita baru. Daerah-daerah seperti Prinsenlaan di Taman Sari dan Glodok serta suasana Betawi tahun 20-an dilukiskan sehingga menimbulkan kerawanan di hati pembacanya. CVVL terus mengadakan lomba sejenis sampai tahun 1918.

Setelah CVVL berganti nama menjadi Balai Poestaka, lembaga itu dipercayai memegang peran dalam penerbitan novel sastra dalam bahasa Melayu dan bahasa daerah, seperti sastra Jawa dan Sunda. Balai Poestaka membentuk jaringan perpustakaan rakyat dan sekolah, serta toko buku yang tertata, sehingga membantu penyebaran buku-buku terbitannya. Bangkitnya minat baca menyebabkan Balai Pustaka harus aktif mencari naskah-naskah baru agar buku terbitannya kian banyak.

Itulah yang mendorong lembaga itu kembali membuat sayembara mengarang pada tahun 1937 dengan tajuk Perlumbaan Mengarang Novel yang disertakan dalam Pedoman Pembaca 1937. Belakangan, pedoman tersebut ternyata menjadi bahan penting untuk mengetahui apa sebenarnya pandangan penerbit pemerintah itu terhadap kesusastraan.

Hikayat Sayembara Menulis di Indonesia3

Balai Pustaka masih rutin melaksanakan sayembara, sampai Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) juga menggelar sayembara pertamanya pada 1974. Awalnya juga DKJ memberlakukan syarat-syarat umum untuk semua pengarang Indonesia yang ikut serta dengan tema karangan bebas, ditulis dalam bahasa Indonesia, diketik dua spasi setebal 100 halaman, belum pernah diumumkan dalam majalah atau surat kabar, dan dirangkap tiga.

Saat itu ada 64 naskah yang masuk tetapi hanya 59 yang layak administrasi. Juri pertama mereka adalah Umar Kayam, Boen S. Oemarjati, Sapardi Djoko Damono, S. Effendi, dan Mh. Rustandi Kartakusuma. Uniknya, sayembara menulis pertama DKJ itu tidak menghasilkan seorang pemenang pun. Tiga tempat juara, kosong melompong. Namun juri tetap memilih lima pemenang penghargaan dengan masing-masing memperoleh hadiah Rp 75.000.

Novel-novel yang dicatat dalam sejarah persayembaraan penulisan DKJ pertama kali itu adalah, Astiti Rahayu karya Iskasiah Sumarto dari Yogyakarta, Dari Hari Ke Hari karya Mahbub Djunaidi dari Jakarta, Arus karya Aspar Paturusi dari Ujung Pandang, Sisa-sisa Hari Kemarin karya Suparto Brata dari Surabaya, dan Qisas karya C.M. Nas dari Jakarta. (IQM)

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 50 / Th. V / Desember 2013)


[Esai] Shakespeare, The Master of Word

Shakespeare, The Master of Word

William Shakespeare, The Bard of Avon.

William Shakespeare, The Bard of Avon.

WILLIAM Shakespeare, lahir di Stratford-upon-Avon, Warwickshire, Inggris pada 26 April 1564. Di sini ia menghabiskan waktunya berkarya: menulis pertama kali pada tahun 1585 dan berhenti pada tahun 1611. Di rentang waktu itu, ia menghasilkan 43 karya, tersusun dalam 37 naskah sandiwara (12 tragedi; 16 komedi; 10 sejarah), dan 6 kompilasi puisi (154 soneta, 2 naratif, dan puisi umum). Ia tetap di Stratford hingga wafat pada 23 April 1616.

Di akhir abad ke-15 hingga abad ke-17 adalah zaman Renaisance di mana Shakesperae hidup. Britania dan Irlandia diperintah Ratu Elizabeth I. Zaman itu dikenal sebagai zaman damai di Eropa, sebab diplomasi ratu membuat posisi Perancis dan Spanyol seimbang di antara Inggris.

Kota London begitu padat, ramai, dan penuh peluang. Perdagangan dan seni berkembang pesat, gedung-gedung teater dibangun untuk menampung minat masyarakat terhadap seni pertunjukan. Renaisance yang melanda Eropa menjamin bangkitnya pembelajaran klasik, khususnya seni, musik, dan arsitektur.

Bahasa Latin jadi bahasa pengantar di institusi pendidikan. Semua dokumen penting negara, gereja, dan perdagangan, ditulis dalam bahasa tersebut. Shakespeare memelajari karya para penulis dan filsuf Yunani dan Romawi kuno. Ia juga belajar beberapa bahasa lain. Berlatar belakang keluarga pengusaha, Shakespeare mampu membeli buku-buku dalam berbagai bahasa (Italia, Perancis, Asia Minor, dan Afrika Utara) yang kelak berperan penting dalam proses kreatifnya.

Shakespeare membaca The Golden Ass, tentang Apuleius—sebuah kisah kuno dari Afrika Utara yang jadi sumber inspirasi utama saat ia menulis A Midsummer Night’s Dream. Ia tak sekadar terpengaruh atau terinspirasi—yang hingga kini masih menjadi perdebatan serius. Bahkan cerita Romeo and Juliet bukan karya asli Shakespeare. Ia diketahui telah meminjam cerita itu dari seorang penulis Inggris lain yang mengaku mendapatkan kisah itu dari seorang penerjemah Perancis yang memertalakan karya-karya Luigi da Porta, seorang penulis Italia abad ke-16. Kisah-kisah yang ia baca, kelak menjadi pondasi utama karya-karyanya.

Sejauh mana Shakespeare dipengaruhi buku-buku yang ia baca, terlihat dari kecenderungan bahasa yang ia digunakan dalam karyanya. Latar belakang masyarakat dan negara di mana ia hidup, patut pula mendapat tempat untuk dicermati.

Ratu Elizabeth I bahkan menyukai karya-karyanya. Di antara pelaku seni di London, kemampuan berbahasa Shakespeare membuatnya sangat populer di kalangan kerajaan dan bangsawan yang kerap datang menonton pertunjukannya di gedung Teater Blackfriars—kebiasaan yang dimulai sejak pemerintahan Ratu Elizabeth I sampai Raja James I.

Ia membawa bahasa Inggris pada tingkatan tertentu dengan kemampuannya menciptakan kosa-kata baru. Saat ia menulis dan kesulitan menemukan kata untuk mengungkapkan maksudnya, maka ia akan menciptakan sebuah kata baru. Tercatat ada 1.700 kata yang ia ciptakan yang hingga kini masih digunakan, antara lain: deafening, hush, hurry, downstairs, gloomy, lonely, embrace, dawn, dll. Ia juga memerkenalkan hampir 3.000 kata baru lainnya, dan menggunakan lebih dari 7.000 kata baru dalam pertunjukan dramanya. Sehingga total Shakespeare telah menciptakan 884.429 kata baru.

Ejaan yang digunakan Shakespeare di zamannya, tentu berbeda dari ejaan zaman sekarang. Orang Inggris terbiasa mengeja kata yang tertulis. Jika menulis me dan ingin menekan kata tersebut, maka kata itu dituliskan sebagai mee atau meee (seolah berteriak). Pada beberapa naskah teaternya sering ditemukan kata stayed yang dieja stay’d. Kata itu diucapkan dalam satu suku kata: steid—sebagaimana ejaan Inggris modern—bukan dua suku kata: stei-ed, seperti adab menulis dan pengucapan Shakespeare.

Bahasa Inggris modern masih kerap memakai metode tulis zaman dulu, tapi menggunakan ejaan baru. Seperti kata knight, dulu dieja seperti tulisannya: k-ni-gh-t, dengan 4 suku kata. Para penulis di zaman itu peka terhadap detail intonasi, nada suara, dan bunyi yang timbul dalam percakapan, sehingga bahasa Inggris lisan dan tulisan yang digunakan pada zaman Renaisance lebih kaya daripada bahasa Inggris modern.

Kata-kata dalam karya Shakespeare masih bertahan bahkan 400 tahun setelah kematiannya. Kata-kata yang ia ciptakan dianggap paling puitis yang pernah ditulis manusia, bahkan ketika dituliskan dalam pengaruh bahasa Inggris modern. Seperti, penggunaan pound of flesh (dalam Merchant Venesia) dan green-eyed monster (dalam Othello) adalah yang paling terkenal. Shakespeare adalah orang yang pertama kali memperkenalkan kata umbrella, mengganti kata umbra untuk menyebut payung, ia gunakan kata sifat misplaced (dalam King Lear), neighbouring (dalam Henry IV, Part 1), obscenely (dalam Love’s Labour’s Lost), atau out of work (dalam Henry V).

Belakangan, para ahli bahasa menyebut derajat bahasa Inggris yang ada sekarang telah turun drastis. Tata bahasa, tanda baca, dan ejaan kini lebih standar ketimbang di abad ke-16 dan ke-17. Namun, bahasa Inggris modern justru menjadi penerang untuk karya-karya sang Bard of Avon itu. (IQM)

Shakespeare, The Master of Word.

Shakespeare, The Master of Word.

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 49 / Th. V / November 2013)


[Esai] Perempuan Indonesia di Antara Kanon Sastra Dunia

Perempuan Indonesia di Antara Kanon Sastra Dunia

 

Ininnawakku muwita / Mau natuddu’ solo’ / Mola linrung muwa

(Lihatlah bathinku / Walau dihempas arus deras—kesusahan / Aku tetap berdiri tegar)

Bait 122, Syair Sarea Baweng, karya Colliq Pujie.

Tjollie Poejie Arung Pancana Toa Datu Lamuru (Collectie Tropenmuseum No. 1853 - 2)

Tjollie Poejie Arung Pancana Toa Datu Lamuru
(Collectie Tropenmuseum No. 1853 – 2)

SEDIKIT orang yang mengenal pemilik syair sufistik ini. Namanya pun tidak begitu familiar di kalangan sastrawan Indonesia saat kini, kecuali orang di daerah kelahirannya dan di Eropa. Syair Sarea Baweng di atas ditulisnya dalam bahasa Bugis.

Nama asli pengarang perempuan berdarah Bugis-Melayu ini adalah Tjollie Poejie Arung Pancana Toa Datu Lamuru.

Sebut saja ia, Tjollie Poejie (baca: Collie Pujie) atau Ratna Kencana. Tjollie Poejie adalah sastrawan yang diakui dunia asal kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Karya-karyanya dibukukan masyarakat sastra di berbagai belahan dunia, diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, dan disimpan di berbagai perpustakaan internasional. Tjollie Poejie lahir di Tucae (Lamuru) pada tahun 1812, dari ayahnya Collipakue Daeng Tarappe Arung Rappang (Raja Tanete), dengan gadis bangsawan Melayu, Siti Johar Manikam (bergelar: La Rumpang Megga To Sappaile Sultan Ibrahim Datu Mariworiwawo).

Colliq Pujie mewarisi darah intelektual ibu dan kakek (dari ayahnya), Ince Muhammad Ali Abdullah Datu Pabean, kepala syahbandar Makassar pada fase awal abad ke-19. Nama Ratna Kencana adalah pemberian sang kakek. Dari kakeknya pula, Colliq Pujie diajari berbagai bahasa asing, termasuk beberapa bahasa penting dalam dunia perdagangan kala itu: Arab, Tiongkok, Belanda, Inggris dan Portugis.

Colliq Pujie menulis berbagai buku, namun yang membuatnya mendunia adalah buku Sejarah Tanete; buku Syair Sarea Baweng, dan terjemahan kanon epos Sureq I La Galigo—untuk menyebut tiga di antaranya. Karya-karya tersebut berbicara tentang historikal, sufisme, kesusteraan, keperempuanan, termasuk menceritakan berbagai kisah sedih rakyatnya dalam perlawanan terhadap kolonialisme.

Menurut D.A.F. Brautigam dan Dr. Benyamin Frederik Matthess, karya-karya Colliq Pujie dibicarakan di kalangan sastrawan dan intelektualis Eropa, sebagai karya-karya sastra yang cemerlang, dan diterima dalam tradisi literasi dunia barat.

Bahkan, Dr. B.F. Matthess, menyebut tipologi Colliq Pujie membuatnya disegani kalangan sastrawan Eropa sebagai satu-satunya perempuan dari dunia timur di bidang kesusastraan yang kala itu sulit dicari sandingannya.

Namun yang membuat namanya melambung ke dunia sastra international adalah ketekunannya selama 20 tahun menerjemahkan dan menyalin 12 jilid naskah kuno paling legendaris yang menjadi kanon sastra dunia: Sureq I La Galigo, ke dalam bahasa Belanda dan Inggris. Colliq Pujie menyusunnya dengan teliti dan membukukan naskah I La Galigo, karya sastra terpanjang di dunia yang terdiri dari 300.000 bait —melampaui naskah Mahabrata dan Ramayana dari India, dan naskah Homerus dari Yunani.

Colliq Pujie juga menyadur berbagai karya sastra Melayu, Parsi, dan Eropa. Sastrawan ini juga menciptakan aksara bilang-bilang yang terinspirasi dari huruf lontara (Bugis) dan huruf Arab.

Sebagai sastrawan dan intelektual, Colliq Pujie bersahabat dengan Ida Laura Reyer Pfeiffer, seorang etnolog Austria. Pada tahun 1853, dua perempuan berbeda kebangsaan ini bekerjasama dalam proyek pengindentifikasian orang-orang di belahan timur nusantara. Pada 1870, Colliq Pujie menerima dukungan peneliti Belanda, A. Lighvoed untuk menyusun buku-buku yang berisi catatan-catatan kesejarahan. Karya-karya Colliq Pujie itu kini tersimpan di beberapa perpustakaan di Leiden Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat.

Ida Pfeiffer, lahir pada 14 Oktober 1797 dan wafat 27 Oktober 1858 di Wina. Ida adalah pelancong sekaligus etnolog asal Austria. Ia salah satu penjelajah wanita pertama dan buku-buku perjalanannya begitu populer sehingga diterjemahkan dalam tujuh bahasa. Ida Pfeiffer adalah anggota Geographical Societies di Berlin dan Paris, sebuah lembaga yang berbeda dan tidak memiliki hubungan apapun dengan Royal Geographical Society di London.

Ida Pfeiffer sangat ingin mengatasi keterbatasannya sebagai seorang wanita dari abad ke-19, tetapi ia tak sepenuhnya menentang kodratnya.

Ida Laura Reyer Pfeiffer (Mary Somers Heidhues/Archipel)

Ida Laura Reyer Pfeiffer
(Mary Somers Heidhues/Archipel)

Buku Colliq Pujie tentang sejarah Tanete kuno diterbitkan Niemann di Belanda. Adat kebiasaan kerajaan ditulisnya dalam buku berjudul La Toa yang diterbitkan B.F. Matthess, dalam judul Boegineesche Christomatie II.

A. Ligtvoet dan B.F. Mathes berkali kali menyebut nama Colliq Pujie sebagai bangsawan Bugis yang benar-benar ahli sastra, untuk merujuk bukunya Macassaarsche en Boegineesche Chrestathien (Kumpulan Bunga Rampai Bugis Makassar).

Sejarawan Inggris, Dr. Ian Caldwel mengatakan, “Terlalu kecil kalau seorang sekaliber Colliq Pujie dikurung dalam tempurung Indonesia, karena ia adalah milik dunia. Namanya tak bisa dipisahkan dari epos I La Galigo sebagai ikon kebudayaan Indonesia yang menjadi kanon sastra dunia, yang kemudian menjadi sumber inspirasi banyak orang dalam merekonstruksi sejarah dan kebudayaan Indonesia (Asdar Muis R.M.S., dalam Andi Muhammad Rum, Titisan Colliq Pujie).

Banyak buku-buku dalam berbagai disiplin keilmuwan, serta naskah-naskah sastra asing yang terkumpul di kabupaten Barru, adalah upaya sungguh-sungguh Colliq Pujie bersama B.F. Matthess mendorong masyarakatnya memahami harta kesusasteraan dunia. Sejak tahun 1850, Matthess mencari berbagai karya tersebut, lalu disalin ulang dalam bahasa Melayu dan Bugis oleh Colliq Pujie.

Tjollie Poejie Arung Pancana Toa Datu Lamuru wafat pada 1876, dalam usia 64 tahun, dan dimakamkan di Tucae, sehingga ia pun digelari Matinroe ri Tucae. (IQM)

 

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 45 / Th. IV / Juni 2013)


[Esai] Si Jenaka Kwee Tek Hoay

Si Jenaka Kwee Tek Hoay

Si Jenaka Kwee Tek Hoay2

PERIODISASI sastra yang memuat sejarah kepengarangan Indonesia sejak 1920-an itu, tidak mengapreasiasi karya-karya sastra sebelumnya. Padahal kesusasteraan Indonesia juga dibangun oleh karya-karya sastrawan Melayu-Tiong Hoa. Beberapa kritikus sastra menyebut periodisasi itu tidak jujur. Periodisasi itu terbentur sikap politis kolonial Hindia dalam Commissie Voor de VoLfcslectuur.

Claudine Salmon, seorang peneliti Perancis, mencatat 3.000 karya sastra dihasilkan oleh para sastrawan Melayu-Tiong Hoa seabad lalu. Artinya, sejak akhir abad ke-19, para sastrawan Melayu-Tiong Hoa sudah berkontribusi untuk sastra Indonesia.

Nama yang paling menonjol adalah Kwee Tek Hoay. Novelis dan penulis drama kelahiran Bogor, 31 Juli 1886, ini adalah pemimpin surat kabar, bahkan menulis buku sejarah dan agama. Dua karya fenomenalnya, Drama di Boeven Digoel dan Zonder Lentera. Sayangnya, nama Kwee Tek Hoay tidak masuk dalam periodisasi sastra Indonesia, bahkan jarang dikenal.

Karangan Kwee Tek Hoay pada 1932 itu mampu mengangkat persoalan kecil ke dimensi yang lebih besar. Simaklah Zonder Lentera, yang bertumpu pada masalah kecil di lingkungannya, lalu menyentuh masalah-masalah besar. Berawal dari tertangkapnya seorang anak muda saat bersepeda tanpa lampu, lalu mengalir ke soal ketimpangan sosial, politik pemisahan, dan banyak lainnya yang mengusik di era itu.

Selain dua naskah itu, Kwee Tek Hoay juga menulis Nonton Cap Go Meh, Boenga Roos dari Tjikembang, Roema Sekola jang Saja Impiken, Drama dari Krakatau, dan Pentjuri Hati. Karya-karya Kwee Tek Hoay begitu komunikatif sebab menggunakan bahasa Melayu Pasar.

Novel The Rose of Cikembang karya Kwee Tek Hoay (dok. Lontar Library)

Novel The Rose of Cikembang karya Kwee Tek Hoay (dok. Lontar Library)

Di saat Belanda belum menerapkan politik etis lewat Balai Pustaka, Kwee Tek Hoay sudah merepsentasikan Melayu-Tiong Hoa di arus kesusasteraan zaman itu. Di zamannya berkembang penerbitan yang dibidani orang-orang Melayu-Tiong Hoa; mencetak almanak, memproduksi buku puisi dan cerita bersambung, bahkan mendirikan surat kabar. Kwee Tek Hoay berperan secara dominan.

Sebagai orang yang hanya berpendidikan setingkat sekolah dasar, pencapaian kesusasteraan Kwee Tek Hoay sungguh luar biasa. Di zaman yang tidak banyak memberi tempat bagi kalangan Melayu-Tiong Hoa, Kwee Tek Hoay belajar sendiri dan mencapai ketajaman intuisi keliterasiannya dalam tingkatan yang tinggi.

Di zaman yang traditional minded, Kwee Tek Hoay justru tampil demokratis. Wawasannya terbuka, jenaka, pandai berkelakar pula. Hal-hal baik dari barat dan timur diambilnya sebagai dasar gagasan dalam karya. Kemampuannya berkelakar dapat disimak dalam Nonton Cap Go Meh. Dengan jenaka Kwee Tek Hoay mengkritisi kekolotan tradisi Melayu-Tiong Hoa, lewat karya yang lahir tahun 1930-an itu.

Sepasang suami istri Tiong Hoa, Thomas dan Lies berencana menonton Cap Go Meh —sebuah perayaan 15 hari setelah Hari Raya Imlek. Sebagai perempuan kolot, Lies menolak ikut, sebab tabu keluar bersama rombongan teman suaminya. Thomas kesal. Ia menyuruh Franz temannya menyamar menjadi perempuan agar Lies cemburu. Mengira suaminya ditemani perempuan sungguhan, Lies juga meminta kerabat perempuannya menyamar menjadi pria untuk menemaninya. Benar saja, gantian Thomas yang cemburu. Sepulang nonton, mereka bertengkar, namun akhirnya tertawa setelah tahu kenyataan sesungguhnya. Menarik bukan?

 

Melahirkan Sastrawan Perempuan.

Kwee Tek Hoay membidani lahirnya para penulis perempuan Melayu-Tiong Hoa melalui majalah Panorama dan Moestika Panorama yang ia pimpin pada 1926-1932. Ia menyediakan halaman untuk karya mereka. Ia koreksi, lalu memuatnya. Secara normatif, ia pun membela perempuan dalam karya-karyanya.

Putri sulungnya, Kwee Yat Nio adalah bukti didikan Kwee Tek Hoay yang paling kentara. Yat Nio termasuk sastrawan cum jurnalis perempuan Melayu-Tiong Hoa paling berpengaruh. Sejak masih remaja, Yat Nio mengikuti kegiatan ayahnya. Karya sastra dan tulisan Yat Nio mewakili pemikiran perempuan Melayu-Tiong Hoa ketika itu, dan banyak termuat di Maanblat Istri (berbahasa Belanda).

Tetapi Kwee Tek Hoay tak hanya bergelimang di lingkungannya belaka. Ia mencatat tentang gerakan Indonesia modern. Dalam serial tulisan yang berjudul Atsal Moelahnja Timboel Pergerakan Tionghoa Modern Pertama di Indonesia, ia menulis tentang sekolah dan gerakan Tiong Hoa Hwee Kwan (THHK). Pada tahun 1969, Cornell University menerjemahkannya dalam bahasa Inggris. Asal tahu saja, Gerakan Boedi Oetomo banyak dipengaruhi oleh THHK ini.

Sayang sekali, pada 4 Juli 1952, rumah Kwee Tek Hoay di Cicurug, Sukabumi, disatroni maling. Ia melawan, namun banyaknya luka akibat aniaya para begundal itu, tak mampu membuatnya bertahan. Sebelum wafat, ia sempat meminta agar jenazahnya kelak diperabukan. Kwee Tek Hoay wafat dalam usia 65 tahun.

Selama hidupnya, Kwee Tek Hoay menulis 55 karya sastra, 73 buku keagamaan, dan tak terhitung esai-esainya. Ia juga terhitung pernah pemimpin harian Sin Bin dan empat majalah lainnya. 115 karyanya berhasil ditelusuri. Sisanya masih dalam pencarian. Pada Hari Pahlawan 10 November 2011, pemerintah menganugerahinya Lencana Budaya Parama Dharma, untuk perannya dalam kesusastraan Indonesia. (IQM)

Saga Siersa dan Erisca Saravati berlakon dalam Pentjoeri Hati (dok. Teater Bejana)

Saga Siersa dan Erisca Saravati berlakon dalam Pentjoeri Hati (dok. Teater Bejana)

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 46 / Th. IV / Juli 2013)


%d blogger menyukai ini: