Category Archives: Cerpen

[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2015

Cover tempo 2015_depan

Download: klik link di bawah ini

 @E-BOOK KUMCER KORAN TEMPO 2015

Tujuan pengarsipan dan dokumentasi 52 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. Penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah drastis fisik atau karateristik material, dan modifikasi material dalam skala yang dapat ditoleransi. Semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media di mana karya yang bersangkutan diterbitkan pertama kali. Dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta (penulis) dan media yang menerbitkan subyek karya pertama kali.

Iklan

[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Kompas 2015

Cover Kompas5b-depan

Download: klik link di bawah ini

 @E-BOOK KUMCER KOMPAS 2015

Tujuan pengarsipan dan dokumentasi 52 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. Penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah drastis fisik atau karateristik material, dan modifikasi material dalam skala yang dapat ditoleransi. Semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media di mana karya yang bersangkutan diterbitkan pertama kali. Dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta (penulis) dan media yang menerbitkan subyek karya pertama kali.


[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Jawa Pos 2015

Cover JP 2015e2

Download: klik link di bawah ini

eBOOK KUMCER JAWA POS 2015

tujuan pengarsipan dan dokumentasi cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah fisik atau karateristik material, dan penambahan dalam skala yang dapat ditoleransi. semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media dimana karya yang bersangkutan dipublis pertama kali. dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta dan media yang mempublikasi subyek karya pertama kali.


[Cerpen] Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia | Jawa Pos | Minggu, 10 Januari 2016

Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia

Oleh Ilham Q. Moehiddin

[Ilust] Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia3

Hari Pertama Setelah Malam Tahun Baru.

Orang-orang yang bekerja sejak malam tahun baru itu seperti tak lelah. Ketika subuh pertama beranjak, di hari pertama Januari, mereka setia melubangi tanah, mendirikan tiang, dan menggosok alas pualam di sebuah altar.

Sesuatu telah membuat orang-orang itu tergesa memersiapkan semuanya. Sesuatu peristiwa mendesak mereka, peristiwa yang diawali persis sepekan lalu, menyita perhatian warga Vastivia dan membuhul gunjingan di setiap kumpulan orang-orang, bahkan di pertemuan kelompok rajut. Aku mengumpulkan semua catatan mengenai peristiwa itu, untuk tetap membuatku ingat bahwa Vastivia pernah merekam sebuah pengkhianatan.

 

Sepekan Sebelum Malam Tahun Baru.

“Tangkap dia—sekarang!” Teriak Hakim Jaloz. Telapak tangannya menempel ke permukaan meja. Dua petugas Pengadilan yang diteriakinya berlompatan, tergesa-gesa melewati koridor yang langsung mengakses pintu menuju lobi utama Kantor Pengadilan Vastivia. Satu regu segera bergerak untuk melaksanakan perintah sang Hakim.

Di Vastivia, Hakim adalah orang kedua paling berkuasa menjalankan pemerintahan, setelah wali kota. Hukum tertinggi berada pada kolektifitas warga Vastivia.

Itulah mengapa ada plaza luas di tengah kota ini. Ada tribun berjenjang lima yang melingkar panjang mengelilingi plaza luas ini. Ada sebuah panggung besar berisi tiga meja di sisi Timur plaza. Juga sebuah panggung kecil, 2×2 meter luasnya, dan dua meter tingginya, di sisi berlawanan dari panggung besar, di sisi Barat plaza.

Plaza itu dikepung empat jalan yang membuatnya terasing jika terlihat dari udara. Viesneva memisahkan plaza itu dari kumpulan kantor pemerintah di sebelah Barat. Liesnabon, memotong plaza dari sarana perekonomi warga di sisi Utara. Ulasijan, mengiris plaza dari pusat studi dan kepustakaan di sisi Selatan. Ainnestock, meregresi plaza itu dari kawasan industri di sisi Timur. Lokasinya strategis, bukan? Posisi empat jalan itu memudahkan warga menuju plaza. Di akhir pekan, orang-orang akan datang menanak kesenangan di rerumputan hijau plaza itu, bersapaan, memuja keakraban di antara mereka, dan membiarkan kanak bermain.

Di plaza ini semua orang setara.

Mataku melihat dengan saksama kesibukan yang segera usai itu. Tepat di hari pertama tahun baru, di sisi Selatan plaza telah siap lubang dengan kedalaman dua meter. Di sampingnya, ada tiang lima meter berbentuk huruf “L” terbalik. Di sudut lain plaza, ada altar marmer berceruk busur selingkar leher orang dewasa.

Seorang bernama Zamboni telah dibawa paksa ke depan Hakim Jaloz. Sepekan lalu, satu regu beranggota enam orang telah menyatroni ruang kerjanya, mencokoknya ke hadapan Jaloz, di lantai dua Kantor Hakim Vastivia. Zamboni gemetar. Mata Hakim Jaloz seperti menyala-nyala saat itu. Air muka Zamboni dipenuhi kecemasan.

“Kau mengubah dokumen perbendaharaan kota!” Tajam Hakim Jaloz melemparkan tuduhan ke muka Zamboni.

Tak satu katapun keluar dari mulut Zamboni. Jaloz lebih menyeramkan ketimbang seorang Mestizo yang menantang Juan Dahlmann bertarung pisau di wilayah Selatan Argentina dalam cerpen Borges. Tak ada orang yang begitu yakin mengeluarkan perintah penangkapan pada pejabat kota—bahkan ketika si pejabat berada di ruang kerjanya..

“Jawab aku!” Teriak Jaloz. Sendi Zamboni seperti patah. Ia kini berdiri pada lututnya. “Aku—aku tak melakukannya,” sahut Zamboni ngeri. Nyalinya sudah lama pergi.

“Lalu siapa! Hantu!?” Jaloz memajukan kepalanya. Ujung hidungnya melampaui ujung meja. Suara Jaloz menjalar bagai api. Tapi Zamboni tak mengerti mengapa kemalangan hanya menimpa dirinya saja. Ia tiba-tiba jadi pesakitan di hadapan Jaloz. Padahal karirnya sedang menanjak saat ini.

Mengenai Zamboni—semula ia pegawai rendahan di Balai Kota Vastivia. Tugasnya mengumpulkan dan merestorasi dokumen kota, mengadas, kemudian menatanya di jejeran lemari ruang data. Ia membuat dua salinan untuk setiap dokumen yang dikadas, sebelum satu salinan ia kirim ke Kepustakaan Vastivia. Zamboni 15 tahun bertugas di balai kota, sebelum dipromosikan sebagai Kepala Biro Kependudukan Vastivia. Ia menikahi putri Imam Kuil Rastyan, perempuan tercantik distrik kecil Kastien di Tenggara Vastivia.

Barangkali, Zamboni menganggap diri orang termujur se-Vastivia dan orang-orang juga mengiranya begitu, sampai pada siang di mana satu grup petugas menggebah dan menghadapkannya ke Hakim Jaloz.

“Panggil Panitera!”

Leher Jaloz terangkat tinggi, meneriaki seorang petugas yang bergegas bicara ke interkom. Tak semenit, seorang lelaki tua datang tergopoh-gopoh. “Yang Mulia?—”

“Siapkan peradilan untuk orang ini!” Perintah Jaloz. Zamboni tersedak ludahnya sendiri. Panitera menyanggupi lalu berbalik pergi.

Jaloz memicingkan mata kepada Zamboni. “Kau—kau akan mendapatkan perhitungan. Kau harus membela dirimu sendiri. Aku akan memeriksamu, Zamboni. Kau harus hati-hati menjelaskan perkara ini di hadapan warga kota,” desisnya.

Zamboni langsung dijebloskan ke tahanan. Ia akan mendekam di situ menunggu peradilan atas dirinya. Ia tak boleh menelepon.

Wali kota Palyska menggerutu. Kabar sudah sampai ke mejanya, beberapa menit setelah penangkapan Zamboni. Petrova gugup saat bercerita tentang pendadakan terhadap lelaki itu. Muka sekretaris Palyska itu pias bagai kertas. Tubuhnya lunglai di sofa kantor wali kota.

“Apa yang diakui Zamboni?” Tanya Palyska

Petrova menggeleng pelan. “Tak ada—ia seperti kucing basah di hadapan Jaloz.”

Palyska menyeka keringat dingin yang tiba-tiba membanjiri lehernya. Hari masih pagi, ruangan itu berpendingin udara, tapi gerah menyergap tubuh Palyska. Ini ide Petrova—dan untuk jasa Zamboni, Petrova memberinya 10 juta hast serta merelakan tubuhnya dicumbui Zamboni di hotel paling mewah di Vastivia.

“Zamboni menerima apapun yang pantas ia terima,” kata Petrova. Ia mencoba menenangkan dirinya. Ia terus membayangkan bagaimana lelaki paling mujur di Vastivia itu membuncahkan segala gairah ke tubuhnya. Satu jam bersama Zamboni—dan Petrova tak menikmati apapun. Lima jam perempuan itu harus mandi untuk menangisinya.

 

Hari Pertama Setelah Malam Tahun Baru.

Usai kesibukan yang melelahkan di malam tahun baru itu, para pekerja bergiliran pulang. Kehadiran mereka segera digantikan ratusan warga kota yang langsung memenuhi tribun di plaza itu.

Orang-orang seketika hening. Tiga orang bertoga memasuki plaza dan naik ke panggung besar. Hakim Jaloz berjalan terburu-buru, mengamit ujung jubahnya agar tak terkena tanah. Wakil Hakim menyusul di belakangnya. Sang Panitera tampak terlalu kikuk untuk hadir di plaza ini. Orang-orang menertawakannya. Asin laut terbawa angin dari arah Timur plaza.

Jaloz menganggukkan kepala pada petugas pengadilan yang segera berteriak. “Warga Vastivia memanggil ke peradilan ini seorang lelaki bernama Zamboni yang diduga menggelapkan dokumen perbendaharaan Vastivia!”

Masuklah dua petugas mengawal Zamboni. Ia hampir tak sanggup berjalan sendiri dan harus dipapah untuk naik ke panggung kecil. Istrinya yang cantik dan dua putranya berdiri sedih di sudut tribun Utara.

“Baiklah, Zamboni—” Hakim Jaloz membuka peradilan. Wajahnya yang berminyak terlihat berkilat, “—kau harus membuktikan bahwa kau tak bersalah.”

Sebagai hakim, tugas Jaloz hanya memeriksa. Penentu hukuman di peradilan ini adalah warga Vastivia. Jika Zamboni tak bisa membuktikan dakwaan terhadapnya, maka warga Vastivia akan menentukan hukuman untuknya. Warga kota tiba-tiba riuh. Para Hakim menunggu dengan sabar sampai semua orang berhenti bersuara. “Zamboni—apakah kau menerima dakwaan?” Tanya Jaloz.

Zamboni tergugu. Kedua puteranya menyembunyikan wajah mereka ke perut ibunya.

“Tidak—” Zamboni memelas. Matanya diedarkan ke semua warga di tribun. Namun orang-orang mendelik padanya dengan kesumat kebencian, “—aku tak tahu bahwa angka-angka yang aku ubah itu adalah isi laporan kwartal perbendaharaan kota.”

Jaloz gusar. Zamboni memandang takut. Dagunya diangkat, perutnya bergejolak. Jaloz berusaha mengatasi kecemasan yang menyerangnya. “Jika kau diperintah—lalu siapa yang memerintahmu?” Teriak Jaloz.

“Petrova—sekretaris wali kota Vastivia!”

Warga tertegun. Mereka kemudian berbisik-bisik. Jaloz menyeka keringat di dahinya. “Hadapkan Petrova ke depan warga Vastivia!” pemerintahnya.

Petrova digiring turun dari tribun. Wajah perempuan itu pias bukan main. Tapi anggukan Hakim Jaloz membuatnya tenang. Ia tak menyangka Zamboni akan menyebut namanya. Ia dinaikkan ke panggung, bersisian dengan Zamboni.

“Petrova—” datar suara Hakim Jaloz, “—apa pembelaanmu?”

“Aku tak melakukannya—”

Plak!

Telapak kanan Zamboni mendarat di pipi Petrova. Perempuan itu kaget setengah mati. Darahnya mengalir cepat. Wajahnya panas, harga dirinya jatuh. “Kau—kau berbohong Petrova!” Zamboni menunjuk muka perempuan itu. “Kau menyogokku dengan tubuhmu dan uang 10 juta hast agar aku tak bicara pada siapapun!”

Orang-orang terkejut—termasuk istri Zamboni. Perempuan cantik itu buru-buru membekap mulutnya sendiri. Ia sukar memercayai apa yang baru diucapkan suaminya. Amarah warga Vastivia sukar ditahan lagi. Benda-benda beterbangan ke panggung kecil di mana Zamboni dan Petrova berdiri. Petrova menutup hidungnya—sebuah benda membuat hidungnya berdarah.

Dengan suara sengau dan telunjuk yang mengacung ke udara, perempuan itu bicara, “—Palyska juga terlibat perkara ini!” Petrova menyahuti warga dengan keras.

Tangan-tangan yang hendak melayangkan benda ke panggung, tiba-tiba terhenti. Mata mereka kini tertuju pada Palyska yang sedang duduk di tribun utama.

Hakim Jaloz menghela napas berat. “Hadapkan Palyska ke depan warga Vastivia!” Teriaknya. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali menghadirkan orang-orang itu.

Palyska segera turun dan dikawal naik ke panggung, bersisian bersama Zamboni dan Petrova. Seharusnya Jaloz segera meminta Palyska membela dirinya atas tudingan Petrova. Jaloz hanya menyandarkan punggungnya saat orang-orang menuding ke arah mereka bertiga. Palyska mengedarkan matanya ke tribun. Ada anak perempuannya duduk di antara warga.

“Semua akhirnya terbuka. Aku tak mengira akan secepat ini,” lelaki itu mendelik pada Petrova di sisi kirinya. Perempuan itu sibuk menyeka darah dari hidungnya.

“Seusai jam kantor, kami ke Paterna Uljibeer untuk beberapa gelas bir dingin. Tiba-tiba Petrova bercerita tentang keanehan laporan kwartalan perbendaharaan kota. Dokumen itu harus diperbaiki, katanya—dan aku setuju. Auditor akan datang dua hari berselang—” ujar Palyska. Ia meneruskan ceritanya.

Mereka kemudian mencari orang yang tepat untuk memerbaiki dokumen dan Petrova menyebut nama Zamboni. Menurut Petrova, lelaki itu berpengalaman 15 tahun bekerja di balai kota. Petrova menemui Zamboni untuk membicarakan hal itu.

Seorang perempuan berdiri dan membuat Palyska berhenti bicara. “Mengapa tak kau biarkan auditor memeriksa dan menemukan kekeliruan itu?” Tanyanya.

“Benar—” Palyska menegakkan punggungnya, “—cukup sederhana, bukan? Membiarkan auditor menemukan keanehan itu dan menghancurkan kredibilitasku sebagai wali kota Vastivia.” Palyska menggeleng. “Tentu saja tidak. Sebab itulah kubiarkan Petrova menyelesaikan sisanya.”

Palyska kagum pada hasil kerja Zamboni. Tapi auditor tak mau kompromi. Secara teknis dokumen itu benar, tapi kebocoran tetaplah kebocoran. Hilangnya sejumlah uang dari perbendaharaan kota tak bisa dianggap tak pernah terjadi. Auditor membuat aduan ke pengadilan.

Orang-orang berteriak gusar. Dari arah tribun terdengar teriakan, “hukum mati mereka!” Teriakannya memicu kegaduhan warga lainnya. Telunjuk mereka menuding ketiga orang di panggung kecil itu. Jaloz siap mengetuk palu, mengesahkan vonis warga untuk ketiganya.

Petrova panik. Keadaan itu di luar dugaannya. Perempuan itu melompat turun dari panggung, tersungkur keras dengan wajah mencium tanah. Cemong darah bercampur tanah memenuhi hidung dan mulutnya. Perempuan itu langsung bangun dan lari menuju panggung besar. “Tembak dia—tembak!” Teriak Jaloz.

Tapi tak ada yang mencegah Petrova. Tak ada suara letusan. Gadis itu tegak di depan panggung besar. “Hukum dia juga—” Petrova menuding muka Hakim Jaloz, “—dia tak menyelesaikan pekerjaan yang didanai pajak warga Vastivia. Ia menyuapku agar membujuk wali kota dan Zamboni—tapi ia bahkan tak berusaha menolongku di hadapan kalian,” Petrova mendaku dalam isak tangisnya.

Warga Vastivia diam tak bergerak. Pengakuan Petrova seperti pecut yang dilecutkan ke telinga mereka. Wakil Hakim tiba-tiba memerintahkan penangkapan dan enam petugas sudah mengepung Jaloz.

 

Hari Kedua Setelah Malam Tahun Baru.

Angin laut yang kering berhembus dari Selatan Vastivia di hari kedua tahun baru. Kota itu baru saja mengakhiri riwayat empat pelaku korupsi. Angin yang meniup tubuh Zamboni yang mengayun pelan di tiang gantungan, menyapukan debu ke wajah Petrova yang ditanam sebatas leher di liang dua meter, mengirim bau anyir darah dari kepala Palyska yang menggelinding dekat altar marmer. Angin yang mengeringkan tubuh Jaloz yang teronggok di sudut panggung besar. Di toganya ada liang menganga, bekas tikaman belati Panitera yang ikut mengepungnya. (*)

 

Molenvliet, Desember 2015

Cerpen ini berhutang gagasan dari filsafat negara Thomas Hobbes.


[Cerpen] Tuhan-tuhan yang Dekil | Jawa Pos | Minggu, 18 Oktober 2015

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Tuhan-tuhan yang Dekil

Perjumpaan Pertama.

Tak ada yang sebahagia Groot. Dalam 122 menit ia hanya mengucapkan I’m Groot dan we’re Groot. Ia kemudian melepaskan kunang-kunang dari tubuhnya dan reinkarnasinya menari kecil di sisi Drax yang sedang membersihkan belati besar.

Aku teringat kepada Groot saat aku sampai di seruas jalan di tengah kota Wina. Tubuhnya yang setinggi tiga meter itu tak kulihat sebagai bayangan pada dinding beton di kiri-kanan ruas jalan ini. Groot hanyalah bentuk keinginanku saja saat aku dicekam kecemasan di bawah tiang lampu yang menerangi sepotong jalan sempit di tengah kota ini. Besinya menyebarkan aroma karat yang terpapar air hujan. Kesuraman tampak membekas pada bayangan relung pintu rumah berbentuk lengkung zig-zag. Dua orang tampak berjalan di bawah payung. Bayangan mereka rebah ke belakang saat tubuh mereka terpapar cahaya bulan yang sedikit tinggi dari puncak-puncak bangunan.

Seekor kucing hitam melompat keluar dari dalam tong sampah membuat dua orang itu terkejut. Seorang di antaranya langsung merapat, mendekut ke dada seorang lainnya. Entah bagaimana mereka berdua ada di tengah hujan, di malam yang dingin dan sepi, di sebuah jalan di mana awal mula kabar kematian berkeliaran ke seluruh kota sejak dua pekan ini. Entah bagaimana pula aku harus mendapati mereka di sini, atau mungkin kami bertiga sejenis orang-orang yang menyukai bahaya.

Garis-garis cerobong yang hitam tampak menyeramkan. Jejaring laba-laba yang putus karena diberati jelaga melambai-lambai diterpa angin lembut. Air selokan tumpah dan mengaliri bebatuan padas yang menyusun jalan. Koran-koran sudah biasa menuliskan deskripsi seperti ini untuk meneror setiap pembacanya. Tidak ada imbauan singkat untuk tak keluar malam mulai pukul 06.00. Inilah yang membuat Terto kesal. Marry, sekretarisnya, bahkan bisa merasakan cekam kengerian karena teragitasi tulisan para reporter.

“Hujan sialan! Entah bagaimana cara mereka menyukainya, sedang ini sungguh menyusahkan.” Gerutuku. Ini sebenarnya kekesalan yang kusimpan buat Terto. Dialah yang bertanggung jawab sehingga aku ada di ruas jalan ini, di malam berhujan dan berangin ini.

Permintaan sang Pembunuh jelas tertulis. Aku, ia minta datang ke lokasi ia menghabisi korban pertamanya—sendirian. Kau harus datang sendiri—tulisnya pada baris ke tiga. Aku akan langsung menikammu jika kudapati sepotong pun bayangan manusia mengikutimu—itu ancamannya di baris ke empat. Aku bergidik. Suratnya ada di kantong ponco yang kukenakan saat ini. Namaku jelas tertulis sebagai penerima dan aku harus menyerahkannya kembali sebagai bukti aku menerima pesannya dengan baik.

Aku berjalan perlahan menjauhi tiang lampu dan harus selalu berada di sisi yang diterangi cahaya lampu atau bulan. Itu memang ia intruksikan —aku ingat persis ada di baris ke tujuh. Sepasang manusia berpayung sudah tak kelihatan lagi. Semoga mereka berdua baik-baik saja. Aku harus berharap seperti itu. Aku menyayangkan keberadaan mereka di ruas jalan ini, di saat seorang pembunuh sedang mendekam entah di mana menunggu kedatanganku. Oh, Tuhan —semoga mereka baik-baik saja.

Aku berbelok, ke suatu sudut di mana ada relung dangkal bagian dari pintu sebuah BARBERSHOP yang huruf “R” pada plang tokonya sudah mengelupas. Lampunya padam dari dalam, sehingga satu-satunya cahaya yang menimpa tubuhku bersumber dari lampu tembok di toko kelontong seberang jalan. Kuusap percikan air hujan dari wajahku. Ini sudah terlalu lama. Seharusnya si Pembunuh sudah menghampiri. Tak ada yang bisa melihat perjumpaan kami selain Tuhan yang Maha Melihat segalanya dan tak pernah tidur itu. Aku benar-benar dikepung kegelisahan.

“Aku bisa langsung menikammu saat ini—” kalimat pendek itu didesiskan dalam jarak kurang dari satu meter dari bagian gelap tembok di sebelah kiriku. “—demi menggantikan nasib malang seseorang yang akan kubunuh besok malam.”

Terus terang, kandung kemihku bergejolak. Dengan kalimat hebat itu dan (jika disertai) kemunculannya bisa seketika membuatku kencing di celana. Namun baru kata-katanya saja yang sampai ke telingaku. “Kenapa tidak kau lakukan?”

“Nasibmu tidak semalang nasibnya dan aku membutuhkanmu untuk mengungkap siapa diriku sebenarnya.”

“Kenapa harus malam ini? Hujan ini, kau tahu, begitu menjengkelkan—”

“—dan menyiksa perasaan delapan orang di atas butik di seberang ruas jalan ini. Kau tidak datang sendirian!” Ia menyambung kalimatku sekaligus menegaskan ketidaksukaannya.

“Apa itu artinya kau akan menikamku sekarang juga?”

Si Pembunuh tak langsung menjawabku. Satu menit lebih pertanyaanku ia gantung, sampai kemudian— “Kau beruntung mereka hanya mengawasimu dari kejauhan. Mereka cukup pintar dengan tak mengikutimu.”

Betapa lega aku mendengarnya. Perasaan tenang menjalar ke tulang belakangku. Tetapi menunggu semua hal yang ingin ia sampaikan padaku tentang dirinya —sambil berdiri seperti ini— sungguh lebih menjengkelkan dibanding hujan, suhu dingin, dan sepinya ruas jalan ini.

 

Wawancara.

Ia bukan seorang yang bahagia. Tapi ia sangat menyukai kuda. Ia juga menyukai mawar dan tempat-tempat yang asing. Seringkali ia mengenakan topi mawar saat memacu kudanya ke tempat-tempat asing itu, seperti Urdun dan Ratcha.

—Itu penjelasan awal yang ia ingin aku dengarkan darinya.

Ia menghabiskan masa muda di hutan belantara di kaki gunung. Ia tak pernah ingin naik lebih jauh dari batas sungai kecil yang mengaliri lembah tak jauh dari belakang rumahnya. Betapa ia kemudian menangguk banyak pujian atas kehadirannya di lembah itu. “Bisakah kau bayangkan nikmatnya, saat mereka memujiku seolah aku usai mengelilingi tujuh gunung dan tujuh lembah,” desisnya.

Saat kekacauan melanda kotanya, ia tahu ke mana harus berkuda. Ia pacu hewan itu menuju Urdun, singgah sebentar ke Ratcha menyampirkan cintanya. Mawar berkerumun di kepalanya. Ia diam di tempat-tempat asing itu, sampai ia yakin kekacauan di kotanya telah usai, dan orang-orang baru selesai menegakkan harapan.

Tapi, dari tempat-tempat asing itu, si Penyuka Mawar ini melepaskan keluhan, “betapa Tuhan-tuhan dekil itu telah memakan separuh isi kepalaku.”

—Itu kata-katanya selepas ia kutanyai mengapa ia lupa pada dirinya sendiri dan mengapa ia merasa penting agar aku mengetahui latar-belakang dirinya.

Ia lupa pada suara burung-burung, lupa pada warna-warna, juga lupa pada wajah-wajah. Betapa hatinya telah ia bentengi dengan tembok bata yang kokoh. Tembok dari bata yang ia susun satu demi satu. Tembok yang melindungi taman-taman mawar kesukaannya. Tembok yang menjaga kuda-kuda kesayangannya tetap berada dalam ranca yang aman, membelenggu sakit pada rasa setia yang tak pernah ia rasakan.

Sebagai anak manusia, sesungguhnya ia sedang mengobati kekalahannya. Mengobati rasa sakit dari karma yang ia terima: harus merasakan kesepian yang larut. Ia meninggalkan kota menuju tempat-tempat yang asing, dan teror sepi itu masih membelenggu sampai semuanya cukup.

“Siapa mereka?”

“Siapa yang kau tanyakan?”

“Mereka yang kau sebut Tuhan-tuhan yang dekil itu?”

Ia diam lagi —tapi tak lama seperti sebelumnya. “Merekalah alasanku memulai semuanya, di sini. Alasan kita bicara malam ini.”

“Kekacauan apa yang mereka timbulkan?”

Pertanyaan ini membuat pembicaraan menjadi pincang. Dari bagian gelap di sisi kiri tembok toko, aku hanya bisa mendengarnya menggeram, kemudian terdengar seperti isakan —yang samar. Suasana suram ini berlangsung kurang dari tiga menit.

Lumen kuning lampu jalan membuat rintik air yang curah dari langit begitu kentara, seperti panah-panah kecil yang datang menghunjam bebatuan padas penyusun ruas jalan ini. Wina masih lelap. Belulang kota ini lesu di sepertiga malam. Aku kedinginan di kepung hujan yang menyebalkan.

“Maria perempuan paling beruntung di muka bumi. Perempuan yang dihinakan setelah kemulian turun padanya. Ia tidak pernah disapa kesuraman dan deritanya berhenti saat orang suci keluar dari rahimnya. Tidak ada lagi perempuan yang seberuntung dirinya.”

—Kami kembali ke topik yang ingin ia bicarakan. “Itukah sebabnya kau menyusun pembalasan di Ratcha?”

“Harus kulakukan. Kotaku telah mereka segel?”

“Disegel?”

“Agar siapapun tak bisa mendengar tangisan dari dalamnya.”

“Tangisan siapa?”

“Jiwa-jiwa yang telah mereka renggut dengan sangkur kebengisan.”

“Kau rencanakan ini sendirian?”

Tidak ada suara yang kutangkap dari sudut gelap di sisi kiri tembok toko.

“Baiklah— Kapan semua ini selesai?”

Desisan tajam itu harus kudengar lagi. “Sekadar dikebiri tak akan menyelesaikan persoalan. Dikebiri, hanya akan membuat kelamin mereka berdarah paling lama tujuh menit. Sampai jantung semua korbanku berhenti berdenyut, aku belum menang.”

Mengerikan! Percuma memintanya berhenti. Pembicaraan ini sudah menggambarkan keseriusan tindakannya. “Apa yang kau ingin aku lakukan?”

Tak ada jawaban. Mungkin ia senang mendiamkanku selama satu, dua, tiga menit. Tapi kali ini sunyi yang aneh itu sudah terlalu lama. “Kau masih bersamaku?”

Keinginanku mendengar desisannya berakhir begitu saja. Bagian gelap di sisi kiri tembok toko ini kembali menjadi bagian gelap tanpa siapapun. Aku bergeser, mengeluarkan kepalaku dari lindungan relung pintu toko, mencari tanda keberadaannya di bagian gelap itu.

Ia sudah pergi —aku benar-benar sendirian. Ia pergi begitu saja. Aku rapatkan ponco dan kembali masuk ke dalam hujan. Kususuri jalan berbatu padas menuju batas yang lebih luas di luar sana, meninggalkan seruas jalan itu dalam kesepiannya. Oh, terima kasih, Tuhan —dua orang berpayung itu ternyata baik-baik saja.

Auf Wiedersehen, Fraulein,” bisikku.

 

Perjumpaan Kedua dan Bukan yang Terakhir.

Apa yang si Pembunuh inginkan dariku mungkin akan membuatnya senang sekarang. Ia tentu tahu bahwa aku bisa meraba jejaknya. Kekacauan telah menyegel Huber sehingga orang-orang harus menuju Urdun —dan Ratcha yang ia datangi adalah satu-satunya kota paling asing, sekaligus aman, bagi seorang gadis yang namanya terekam dalam catatan sipil di Balai Kota. Ia lari ke tempat terjauh dalam perasaannya. Ia mencapai Ratcha setelah insiden pemerkosaan massal di kota yang disegel agar kabar sekecil apapun tak keluar.

Sejak malam itu, lokasi pembunuhan pindah ke beberapa tempat. Seruas jalan kecil di tengah kota Wina, di dekat barbershop yang berhenti beroperasi, tempat kami bertemu itu adalah lokasi terakhir sebelum ia beranjak ke lokasi selanjutnya. Ada delapan pembunuhan lagi yang mencukupkan empat pembunuhan sebelumnya. Duabelas pembunuhan tak terpecahkan yang membuat pusing Inspektur Kepala Polisi, Humbertus Terto.

Koran-koran tetap menuliskan sensasi berlebihan atas 12 kejadian itu. Atas semua peristiwa itu, koran-koran seperti terjangkit panache—naluri kebintangan. Para reporternya masih kerap menuliskan agitasi yang membuat warga kota seperti Marry dicekam ketakutan. Itu karena koran dan para reporternya tak tahu apa-apa. Tetapi itu lumayan efektif mencegah orang-orang keluar malam jika tak ada urusan yang mendadak dan sangat penting.

Terto menimpakan semua kekesalannya padaku. Tentu saja. Aku tak jujur padanya untuk beberapa hal. Sepertinya aku cenderung berpihak pada kerumitan nasib si Pembunuh —cenderung bersikap seperti Groot. Tak peduli pada 12 pembunuhan yang ia lakukan dan membiarkannya menyelesaikan urusan dengan para pemerkosanya.

Di suatu sore, kami berjumpa lagi dalam suasana yang lebih terbuka. Gadis itu berkuda menjauhi matahari. Di kepalanya ada topi bermawar.

Di sakunya, banyak nama-nama. (*)

 

Molenvliet, Juni 2015.

 


%d blogger menyukai ini: