Daily Archives: 19 Mei 2016

[Cerpen] Hanya Fabel yang Kita Punya | Media Indonesia | Minggu, 08 Mei 2016

Hanya Fabel yang Kita Punya

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Hanya Fabel yang Kita Punya | Ilustrasi: Pata Areadi

KAU pandangi wajah ibumu yang tiba-tiba murung. Wajah yang murung sekali. Ibumu menoleh dan bicara. “Ayahmu tak pernah ragu-ragu—” desisnya “—entah dari mana rasa takut itu kau warisi?”

Ibumu baru saja membuka ingatannya tentang mendiang ayahmu. Lihatlah mata ibumu—lihatlah, betapa mata ibumu kehilangan cahayanya. Suram dan sepi seperti kuburan. Seharusnya kau memerhatikan laknat di depanmu itu. Laknat yang sedang bergerak-gerak, ingin terbebas dari sesuatu yang lengket.

“Bekuk dia demi Ibumu ini! Laknat itu telah mengisap semua harapan kita. Bekuk dia demi mendiang Ayahmu!” Ibumu berseru jengkel. Ibumu itu telah melalui semua kengerian yang tak pernah kau saksikan. Ibumu ingin agar kau menjadi harapan terakhirnya untuk menuntut balas.

Kau seharusnya mulai bergerak, membayangi sang laknat yang sedang ceroboh dan berusaha membebaskan diri dari jebakan buatanmu. Tapi, ah, matamu itu membersitkan ketakutan. Aku bisa melihatnya. Ibumu bisa melihatnya.

**

SEINGATKU, ayahmu adalah pemberani yang pernah kita kenal. Seumur hidup kita, baru sekali kita menyaksikan pemberani seperti dirinya. Ia bukan pengecut seperti lainnya—yang memilih lari daripada harus bertarung. Kau tahu, ia juga pecinta. Ayahmu menerima keadaan ini dan tak mengeluhkannya. Betapa tak segan ia menunjukkan cintanya yang besar itu.

Dari ayahmu, kita belajar cara bertarung. Ia sering bilang: pemenang adalah petarung yang cerdik. Menjadi cerdik lebih baik dari sekadar berani dan menjadi berani lebih baik dari sekadar kuat. Tetapi mencintai adalah kenyataan yang membuat pertarungan harus diakhiri.

Saat itulah aku tahu, bahwa cinta adalah hal terkuat yang pernah ada.

Sekali-dua kita gagal mengulang petunjuknya. Tapi ayahmu sabar mengajari kita. Hal-hal yang belum kita percayai selalu saja berhasil membuat kita ngeri, berlari ketakutan, menjerit-jerit. Seringkali kita harus pulang dengan harga diri yang koyak-moyak.

Tetapi dari ibumu, kita belajar cara menguatkan simpul, juga belajar cara menentukan lokasi terbaik untuk memasang perangkap. Ibumu pandai melakukannya. Aku senang melihatnya cekatan menganyam benang dan membentangkannya di bawah matahari.

“Kalian harus mengeratkan simpul-simpulnya—” ujar ibumu suatu ketika “—di situlah kekuatan inti perangkap. Simpul-simpul yang tak terjalin baik, akan membuat perangkap mudah rusak dan melepaskan buruan begitu saja.”

Aku bertanya, “mengapa ketika usai membekuk buruan, kita harus membungkusnya rapat-rapat, sebelum mempersilakan para tetua hadir dalam perjamuan?”

Ibumu tersenyum. “Itulah moral kita,” ujar ibumu. Ayahmu kemudian mendekat, menyentuh bahu kita. “Tuhan tak menakdirkan kita mendapatkan buruan seraya berlari. Kita harus mendapatkannya diam-diam. Kesabaran adalah inti dari semua proses yang harus kita lalui.” Ayahmu mengusap pelipisnya. “Ingat! Buruan kita tak bodoh. Kita hanya perlu tahu kapan mereka lengah dan ceroboh.”

**

ITU percakapan terakhir kita dengan ayahmu. Ia pamit ke suatu tempat tiga hari kemudian seraya berjanji pada ibumu akan pulang sebelum hari sore. Tapi, ketika sore datang, ayahmu belum pulang dan ibumu cemas saat beranjak mencarinya.

Peristiwa hari itu sukar enyah dari ingatan ibumu. Peristiwa yang sebenarnya tak mau ia lupakan. Hari yang ia tandai sebagai permulaan semua kekacauan di tempat ini. Hari saat ketertiban terbunuh dan semata-mata peruntungan yang memegang kendali.

“Mana Paman?” Tanyaku pada ibumu.

“Pamanmu baik-baik saja sekarang,” jawab ibumu. Aku tak tahu, ibumu sedang meredam kesedihannya. Soal bagaimana ayahmu menjadi ‘baik-baik saja’, tak jelas aku ketahui. Sikap ibumu membuat kita menumpuk penasaran.

Betapa cemasku pecah saat ibumu mengakhiri kecanggungan itu. Ia menceritakan apa yang ia saksikan. “Laknat menerjang ayahmu di luar perangkap yang terpasang dan umur yang lapuk membuat gerakan ayahmu melamban—” Ibumu menggantung kalimatnya. Ia diam sejenak sebelum menyiramkan seluruh kesedihan dari matanya ke hadapan kita, “—ayahmu terlambat menghindar, sehingga laknat menerjang tubuhnya. Ayahmu terjatuh dan ayahmu bahkan belum berdiri ketika laknat menyambar tubuhnya.” Ibumu berhenti di situ dan menolak melanjutkan ceritanya lagi.

Aku tahu, itulah ketakutan terbesarmu. Ketakutan yang menjelma sejak ayahmu tiada. Teror segera menjadi kerumitan baru saat laknat bertandang ke semua tempat di negeri ini, menyergap siapapun yang lengah. Hanya kita saja yang tetap bertahan saat yang lainnya memilih menyingkir.

Firasatku buruk sekali tentangmu saat kau muncul di depan ibumu dengan mata kemerah-merahan. Mata majemuk yang dipenuhi kecemasan. Betapa kau ingin seperti ayahmu—menjadi pemberani seperti dirinya. Tapi kau ketakutan.

“Bibi—” aku menatap mata ibumu, “—kita berada di rantai makanan paling kritis. Ketertiban harus tegak untuk memastikan hal-hal buruk tidak terjadi pada kita.”

Aku ingat betul kata-kata itu. Itu adalah kata-kata ayahmu yang aku ulangi.

“Para laknat merusak kenyamanan kita. Mereka mengunyah apapun yang bisa mereka temukan dan merampas semua yang ingin mereka miliki.” Perutku mendadak mual saat mengucapkan kata-kata itu.

Ibumu mengangguk tetapi senyumnya seperti gelatin dalam mangkuk. “Pastikan saja, mereka mendapatkan pembalasan yang setimpal!” Ibumu mendesis. Matanya tepat mengarah pada jejak yang ditinggalkan para laknat.

“Aku cemas, Bu.” Kau tiba-tiba mengejutkan ibumu dengan kata-kata itu. Kau pandangi wajah ibumu yang tiba-tiba murung. Wajah yang murung sekali. “Mereka akan membunuhku seperti yang mereka lakukan pada Ayah.”

“Tentu saja mereka akan mencobanya,” sahut ibumu.

Kau tahu, saat itu, betapa aku ingin sekali meninju perutmu, menitipkan sikuku ke dadamu sehingga membuat mulutmu berbusa-busa menahan sakit. Ayahmu pasti malu jika mendengar kepengecutan yang keluar dari mulutmu itu.

**

MAKA hari ini, laknat itu terjebak di atas sana. Perangkap kita terlalu kuat untuknya. Jaring kita yang lengket telah membekuk tubuhnya, membuatnya seperti mengapung di udara. Tapi ibumu menahan kita. “Belum sekarang,” bisiknya.

Laknat itu sedang berpura-pura, berusaha memancing kita agar mendekat. Tipuan yang dilakukannya pada ayahmu. Laknat itu akan gembira jika bisa membuat kita celaka.

“Apa yang harus kita lakukan, Bi?” Tanyaku.

“Sama seperti yang sedang dilakukannya,” ibumu menatap tajam ke arah sang laknat. “Menunggu—kita menunggu.”

Lalu kita berdiam diri. Tapi matamu seperti obor yang tak bisa padam, kejam dan tajam. Matamu —dan mata laknat di ujung sana— seperti bersitatap dalam hening. Hening yang melelahkan. Menyedihkan, mengetahui bahwa keheningan seperti inilah yang awalnya menjatuhkan ayahmu dalam penaklukkan.

“Serang!” lengkingan tajam suara ibumu mengejutkanku. Tetapi aku lebih terkejut melihatmu menerjang saat laknat itu menarik kepalanya. Kau berlari seperti ayahmu di usia mudanya, petarung pemberani yang cekatan dan penuh perhitungan. Aku tak menyangka bahwa itu adalah kau yang kemarin diremas kecemasan. Tubuhmu bergerak, seraya menggenggam benang-benang perangkap, maju ke tengah medan pertempuranmu.

Lengah karena mengira kami tak mampu berbuat apa-apa, membuat laknat itu menjadi ceroboh. Sang laknat menarik kepalanya, membuat benang-benang perangkap membelit erat lehernya. Ia ceroboh saat berusaha memutuskan benang-benang lengket itu dengan giginya. Rupanya peluang itulah yang ditunggu ibumu.

Tubuhmu tangkas menyusup ke bawah perangkap, melepaskan empat benang utama yang seperti pegas menghantam perut sang laknat. Ia mengaduh, menggeliat seraya menarik kepalanya. Tetapi itu sia-sia. Kau tak sudi membuang sedikit pun kesempatan yang tak sempat dimiliki ayahmu. Cepat sekali kau sudah berada di belakangnya dan dengan cekatan berusaha membekuk tubuh sang laknat.

Ibumu mengawasi dari tempatnya berdiri dan menunggu seperti apa akhir pertarunganmu. Laknat itu meronta. Tetapi, seutas benang utama yang menahan perangkapmu di ranting Acacia tiba-tiba putus. Saat itulah ibumu dan aku bergerak membantu. Aku harus menahan benang itu saat ibumu berputar mencapai posisimu. Ibumu menarik benang dari kelenjarnya sendiri untuk membekuk kaki-kaki sang laknat.

Tak kau sangka mulut laknat itu berhasil menyambar satu kakimu. Tetapi hanya dengan tujuh kaki tersisa, kau berusaha melumpuhkannya sebelum pertarungan kau tuntaskan. Jika saja ayahmu hadir saat ini, betapa bangganya ia. Laba-laba muda yang ia cintai, telah bertarung atas namanya.

Ibumu membiarkanmu membungkus tubuh laknat itu. Kau bekuk kepala, empat kakinya, sekaligus ekornya. Kita apungkan tubuhnya tinggi-tinggi, untuk memastikan bahwa kita akan selalu bisa mengawasinya.

“Ibu!” Kau berseru penuh kemenangan ke arah ibumu, “mari persiapkan perjamuan untuk mengenang ayah. Apa yang telah ia ajarkan telah melindungi kita dari kadal itu.”

“Kau melakukannya dengan baik,” ibumu tersenyum, “inilah pertarunganmu kelak.”

Tujuh kakimu menekuk rendah dalam hormat. (*)

Molenvliet, November 2015

kepada Abraham Samad.

Iklan

[Cerpen] Robohnya Bukit Kami | Jawa Pos | Minggu, 24 April 2016

Robohnya Bukit Kami

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Robohnya Bukit Kami | Ilustrasi: Bagus

SURAD berlari menembus belukar hutan yang rapat. Napasnya hampir habis, tapi suara gemuruh dari hutan bagian Selatan menghantuinya. Hutan di sisi Barat ini jalan terpendek satu-satunya menuju tobu (kampung) Olondoro. Hujan telah menggemburkan tanah, membuat goyah bukit Lere’Ea yang mengelilingi desa di mulut tanjung itu.

Tapi, harus ada yang memeringati orang-orang—harus ada.

 

Sebelum Robohnya Bukit Kami

Surad merasa harus melakukannya, kendati Ama (bapak) Karabu mendaratkan tempeleng ke pelipisnya selepas solat Jumat’an pekan lalu. Orang tua itu menganggap Surad lancang berbicara di depan jamaah, memprovokasi orang-orang agar berhenti mencungkili bebatuan dan mengambil pasir dari kelokan timur sungai La’Kambula, berhenti membalak pepohonan di Lere’Ea.

“Hanya Lere’Ea yang membentengi desa ini dari angin kering dari Selatan. Hanya bukit itu juga yang menjaga kampung Bajau di perairan Tanjung Lawota dari gelombang Selat Sulawesi. Dua tobu (kampung) ini akan…”

—Plak!

Kata-kata Surad terhenti, lehernya memutar ke kanan. Ama Karabu tegak di depannya dengan wajah kelabu, penuh amarah. Surad memegangi pelipisnya yang panas—darah melelehi hidungnya, jatuh menetesi lantai masjid.

Sebagian orang ikut-ikutan mengutuk Surad. Tetapi sebagian yang lain justru memprotes tindakan Ama Karabu, memukul orang dalam masjid. Ama Karabu sebenarnya bisa saja mengadukan Surad kepada Bonto (hakim adat), atau menghajar pemuda itu di luar masjid. Jika sudah lancung begitu, Doja Rasyid-lah yang akhirnya repot—harus membersihkan tetesan darah dari lantai masjid.

Ama Karabu tak peduli. Menurutnya, Surad tak boleh mencampuri urusannya dengan menghasut orang-orang. Tapi tekad Surad sudah bulat untuk terus memeringati orang-orang.

Surad menceritakan kecemasannya pada Pak Akla, Puu’tobu (kepala kampung) Bajau. Saat sedang mengamati burung-burung yang seharusnya sudah bermigrasi dari Tenggara, Surad tak sengaja melihat rengkahan tanah yang memanjang dari sisi timur ke bagian barat bukit di tanjung. Rengkahan itu selebar lima jari tangan orang dewasa.

Itu patahan tanah—Lere’Ea itu adalah bukit yang ditopang karang di bawahnya. Dinding karang itu juga pembatas pesisir Tanjung Lawota dari perairan di sisi utara pulau Kabaena. Jika memandang ke bawah—dari atas Lere’Ea, sejauh 600 meter dari tebing karang—tampak kampung Bajau membentang di atas air dalam formasi diagonal.

Surad meringis. “Tinggal dinding karang itu saja yang menahan bukit kita.”

Pak Akla menoleh ke pesisir, memandangi ujung Tanjung Lawota. Matanya menggeriap. Ia mengerti betapa besar kecemasan Surad. Bukit Lere’Ea itu menunjang Tanjung Lawota di mana orang-orang Bajau mengumpulkan hasil laut di pesisirnya.

Orang-orang membalak di bukit itu dimulai tujuh bulan lalu, mengambil kayu-kayu dari bukit untuk membendung sungai sebelum mengeruk pasir di dasarnya. Orang-orang itu suruhan Ama Karabu. Mereka menyisakan sedikit sekali pohon kecil yang tetap tak mengubah wajah kering bukit itu.

“Celahnya besar sekali ya—” gumam Pak Akla sembari mendorong sepiring pisang rebus ke depan Surad. “Bagaimana menurut Pak Madjid? Sudah kau ajak beliau melihatnya?”

“Sudah saya beritahu, tapi—” Surad menggeleng, “—beliau belum merespon.”

Pak Akla memenuhi dadanya dengan udara laut yang kering. Dari beranda belakang palemma (rumah apung) miliknya, ia leluasa memandang ke arah bukit Lere’Ea. Di perairan Tanjung Lawota ini, keluarganya turun-temurun menetap sebagai suku laut. Moyangnya mendirikan kampung ini atas seizin para Mokole (raja) Kabaena yang menguasai seluruh area itu hingga pulau Selayar. Saat kakek buyutnya mengepalai kampung ini, di tahun 1871 antropolog Johannes Elbert dan ilustrator Grundler, datang dan menulis tentang mereka. Kedua orang Jerman itu memperkenalkan mereka pada dunia lewat foto-foto. Grundler memotret kampungnya dengan kamera obscura dari film lempengan tembaga berlapis perak.

**

“Sesungguhnya, tak ada yang berubah dari bukit itu bagi kami—juga hutan utama Malate dan hamparan bakau di pesisir Lawota ini. Kondisinya Lere’Ea tiba-tiba berubah drastis sejak orang-orang menggali pasir di sungai La’Kambula. Bukit itu telah memberikan segalanya bagi kehidupan kami. Kami tetap jelas mengingatnya setelah delapan generasi. Dari sudut itulah—” Pak Akla menunjuk area terbuka di pesisir Barat, “—Grundler memotret kampung ini. Bukit itu, dan laut di depannya, adalah Puu’Wonua (Ibu Bumi) bagi kami.”

Surad terpekur. Kepalanya ikut menoleh dan matanya kembali mendapati Lere’Ea yang meranggas. Lalu tubuhnya memutar setengah dan lengannya terangkat. “Dari ujung sana, lalu melingkar hingga sampai ke pohon itu—” Surad menunjuk pohon Melinjo besar di bagian timur tanjung, “—patahannya jelas sekali. Dinding karang itu tak akan kuat menahan beban tanah yang terus bergerak.”

Pak Akla masygul. “Menurutmu, apa yang harus kita lakukan?”

Surad tak langsung menjawab pertanyaan itu. Matanya memandang sekeliling perkampungan. Dahulu, Pak Akla pernah mengajaknya melihat bagaimana orang Bajau mengenalkan laut pertama kali pada bayi-bayi mereka. Setelah sembilu memutuskan ari-ari setiap bayi Bajau, dalam gendongan bapaknya, bayi akan dibawa masuk ke air laut yang hangat. Saat bayi dilepaskan perlahan-lahan, saat itulah bayi diperkenalkan pada Ibu Laut—rahim pertama suku laut—bahkan sebelum bayi disapih ibu kandungnya. Bayi justru mengapung seolah-olah perenang yang ahli dan mereka tak sedikit pun menelan air laut. Bayi menyelam kesana-kemari dalam pengawasan bapaknya. Prosesi seperti itu tak lama—cuma sekitar dua menit, dan bagi Surad itu adalah dua menit yang sangat menakjubkan.

Surad menoleh. “Kita akan sibuk sekali, Ama. Tidak mudah menginapkan orang-orang laut ke daratan.”

Pak Akla mengangguk, menyeret dua keranjang bambu di atas lumpur bakau yang sadah. Perahu mereka ditambat di batas air pasang. Rajungan terbirit-birit masuk lubang saat melihat kedatangan mereka. Ikan-ikan belacak juga menyingkir, berlari di atas lumpur dan hinggap-berpeluk pada ujung akar-napas Bakau yang menyembul dari dalam lumpur. Sudah sesore ini keranjang bambu Pak Akla belum berisi seekor rajungan pun.

“Rajungan besar makin sukar dicari—” Pak Akla menunjuk beberapa Rajungan kecil yang mengawasi dari jarak aman, “—kecil dan hijau seperti itu tak bisa dimakan. Tak akan laku pula jika dijual.”

Surad membanting keranjang bambunya. Ia merasa benar-benar tak berdaya. Ia kemudian menaikkan keranjang-keranjang bambunya ke atas perahu Pak Akla sebelum naik dan duduk di haluan. Mereka mengayuh perahu menuju hutan Bakau di sisi pesisir Selatan.

 

Di Hari Robohnya Bukit Kami

Seruan pertama Pak Akla langsung menetak liang telinga Surad dan pemuda itu terbangun dalam perahu. Matanya menggeriap. Tiang penyangga petromaks bergoyang, membuat pantulan cahaya kuning dari lampu itu menjalar seperti ular api di atas permukaan air. Malam ini langit cerah berbulan, pun bersih tanpa awan. Bintang Utara terlihat terang sekali.

Sejak sore hingga menjelang dini hari ini, Surad kelelahan menemani Pak Akla mencari rajungan. Rasanya ia belum lama merebahkan tubuh dan teriakan keras Pak Akla sudah membuatnya tersentak bangun.

“Bersiaplah!” Teriak Pak Akla seraya bergerak membelah air menuju perahu. Dua keranjang bambu yang diikat menyatu tampak penuh rajungan. Hewan-hewan bercapit itu menggeliat saling bertindihan. “Bangunlah!” Ulang Pak Akla menaiki perahunya.

Surad melilitkan sarung ke lehernya. “Ada apa, Ama?”

“Tidurmu seperti ular, sampai-sampai tak kau dengar suara gemuruh dari tanjung.”

“Apa?—” Surad kaget setengah mati, “—jangan main-main, Ama!”

“Ambil dayungmu! Kita ke kampung laut sekarang juga!”

Surad meninggikan leher dan berusaha menangkap sesuatu dalam kegelapan jauh di tanjung sana. Kerlip lampu dari deretan palemma tampak menari-nari di kampung Bajau. Darahnya berdesir. Surad mengangkat dayungnya. Tanpa buang waktu mereka mengayuh perahu ramping itu secepat mungkin. Pak Akla sigap mengendalikan perahu dengan dayung pada dinding kayu buritan. Belum dua menit, peluh sudah membasahi punggung Surad.

“Aku sangat mencemaskan kampung.” Pak Akla berusaha bicara di tengah derau air yang berkecipak oleh kayuhan dayung mereka. Perahu kecil itu kian laju.

Mata Surad menyipit, berusaha melihat dalam terpaan silau cahaya petromaks. “Aku juga harus ke tobu Olondoro—aku harus memeringatkan orang-orang.”

Delapan menit berikutnya, mereka akhirnya sampai di kampung Bajau. Gelombang laut begitu hebat mengayun perahu dan rumah-rumah warga. Orang-orang sudah keluar rumah, membuat penerangan dengan menyalakan obor dan menempatkannya pada tiang pancang di depan palemma masing-masing. Beberapa lelaki bergegas menghampiri saat perahu Pak Akla merapat di tangga palemma miliknya.

“Setelah gemuruh, gelombang datang tiga menit setelahnya. Lere’Ea roboh malam ini, Ama—” mata Sadae berkaca-kaca saat bicara pada ayahnya.

Pak Akla menatap Surad, lalu beralih pada Sadae. “Lepaskan perahu-perahu besar! Bawa semua warga ke daratan, menjauhlah ke pesisir Timur sekarang juga! Mungkin saja akan ada longsoran susulan.”

Sadae melompat dan berteriak-teriak. Kawan-kawannya ikut membantu melepaskan tambatan perahu-perahu besar. Sisanya, mengatur warga keluar dari rumah menuju perahu.

Pak Akla menyodorkan dayungnya pada Surad. Mata orang tua itu seperti bicara bahwa Surad harus bergegas. Saat melihat Sadae, Pak Akla sadar bahwa belum ada seorang pun yang menyampaikan kabar itu ke kampung Surad.

“Pakai perahuku—” ujar orang tua itu, “—bergegaslah!”

Surad mengangguk. Ia membungkukkan tubuh, berpegangan di tiang palemma dan segera turun ke perahu. Ia palingkan wajah ke utara. Malam yang diterangi cahaya bulan menyergap matanya. Ia harus mengayuh perahu kecil itu ke mulut tanjung. Itu berbahaya sekali, sebab perahu kecilnya harus memintas gelombang yang disebabkan longsoran pertama. Dari sana ia harus memintas hutan menuju tobu Olondoro.

Harus ada yang memeringati orang-orang—harus ada.

Setelah mengayuh perahu, memintas sisa gelombang di mulut tanjung, pemuda itu berhasil mencapai pesisir utara. Ia mendongak ke arah Lere’Ea dan dalam keremangan cahaya bulan, ia bisa melihat kengerian yang mencemasinya selama ini.

Lere’Ea benar-benar patah. Tanah bukit itu tampak rengkah di dua sisinya dan turun beberapa meter. Runtuhan pertama telah mematahkan bagian atas dinding karang yang menopang bukit itu, mengirim ratusan ribu kubik tanah, sisa-sisa pohon kecil dan bebatuan besar tumpah ke perairan Lawota. Longsoran mengaduk air laut dan mengirimkan gelombangnya ke kampung Bajau. Bagian terbesar tanah di bukit itu tampak menggantung, menunggu waktu untuk longsor berikutnya ke arah tobu Olondoro sekaligus mengirimkan gelombang kedua ke kampung Bajau.

Surad berlari menembus belukar hutan yang rapat. Napasnya hampir habis. Tapi suara gemuruh pertama dari Lere’Ea menghantuinya. Berlari—ia harus berlari sekencang mungkin. Di benaknya kini terbayang wajah warga kampung, wajah ibunya.

Ia tak boleh terlambat, jika tak ingin kampung itu lenyap dalam timbunan tanah. Surad lari bertelanjang kaki menembus lebatnya hutan. Di ujung kampung, cahaya kecil dari lelampu tampak dari beranda rumah milik Ama Naja. Sedikit jarak lagi ia akan sampai. Semua bagian kakinya perih bukan main. Darah mengucur pelan dari sobekan luka oleh duri semak. Telapak kakinya mulai membengkak akibat luka tusukan bebatuan padas.

Sedikit lagi, Surad. sedikit jarak lagi— Surad itu membatin.

“Turunlah dari rumah!” Surad berteriak saat ia memasuki tobu. Ia harus membuat kegaduhan agar orang-orang terbangun. Ia memunguti kerikil, lalu melempari setiap rumah yang berada dalam jarak lemparannya. Upayanya berhasil. Orang-orang yang rumahnya ia lempari, keluar dan ikut berteriak, bertanya maksud Surad membangunkan mereka seperti itu.

“Bangunkan orang-orang lainnya. Pergi kalian dari sini. Lere’Ea roboh! Bukit kita roboh!” Surad kesetanan. Semua orang harus diselamatkan—harus!

Ama Karabu berlari menyongsong pemuda itu. “Panggil puu’tobu!” telunjuk Ama Karabu menuding muka Surad, “—dia ini sudah membuat keributan!”

Beberapa pemuda meringkus Surad, memegangi tangan dan lehernya.

Surad tak peduli. “Pergilah! Mengungsilah!—bukit kita akan roboh lagi!”

Pak Madjid tiba-tiba muncul dari luar kerumunan di sekitar Surad. “Siapa yang bikin keributan?” Tanyanya.

“Dia ini—anak Ina Ijja.” Tukas Ama Karabu.

Pak Madjid mendelik pada Ama Karabu. Orang-orang bicara lagi sembari menoleh pada Indara.

“Diam—” teriak Pak Madjid, “—apa maksudmu? Jelaskan padaku!”

“Aku dan warga kampung Bajau melihat sisian Lere’Ea roboh ke laut. Warga kampung Bajau sudah mengungsi ke pesisir setelah rumah mereka dihantam gelombang pertama. Masih ada rengkahan besar menggantung di sisi bukit dan mengarah ke tobu kita.” Surad menarik napas. “Aku harus menjemput ibuku—dan kalian juga harus pergi dari sini.”

**

Orang-orang bekerja bahu-membahu menyingkirkan timbunan tanah. Surad melihat Sakka berdiri mematung di atas talud. Anak lelaki itu melihat ke bawah, mengamati orang-orang yang bekerja menyingkirkan tanah dari lokasi di mana rumahnya pernah berdiri.

Dua jam berikutnya, orang-orang menemukan jasad Ama Karabu tertimbun tanah di antara balok kayu yang sengaja ditumpuk di halaman rumahnya. Ama Karabu hendak menyelubungi tumpukan kayu itu dengan terpal plastik, tapi longsoran tanah Lere’Ea keburu datang. (*)

Molenvliet, Maret 2016


%d blogger menyukai ini: