[Cerpen] Tuhan-tuhan yang Dekil | Jawa Pos | Minggu, 18 Oktober 2015

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Tuhan-tuhan yang Dekil

Perjumpaan Pertama.

Tak ada yang sebahagia Groot. Dalam 122 menit ia hanya mengucapkan I’m Groot dan we’re Groot. Ia kemudian melepaskan kunang-kunang dari tubuhnya dan reinkarnasinya menari kecil di sisi Drax yang sedang membersihkan belati besar.

Aku teringat kepada Groot saat aku sampai di seruas jalan di tengah kota Wina. Tubuhnya yang setinggi tiga meter itu tak kulihat sebagai bayangan pada dinding beton di kiri-kanan ruas jalan ini. Groot hanyalah bentuk keinginanku saja saat aku dicekam kecemasan di bawah tiang lampu yang menerangi sepotong jalan sempit di tengah kota ini. Besinya menyebarkan aroma karat yang terpapar air hujan. Kesuraman tampak membekas pada bayangan relung pintu rumah berbentuk lengkung zig-zag. Dua orang tampak berjalan di bawah payung. Bayangan mereka rebah ke belakang saat tubuh mereka terpapar cahaya bulan yang sedikit tinggi dari puncak-puncak bangunan.

Seekor kucing hitam melompat keluar dari dalam tong sampah membuat dua orang itu terkejut. Seorang di antaranya langsung merapat, mendekut ke dada seorang lainnya. Entah bagaimana mereka berdua ada di tengah hujan, di malam yang dingin dan sepi, di sebuah jalan di mana awal mula kabar kematian berkeliaran ke seluruh kota sejak dua pekan ini. Entah bagaimana pula aku harus mendapati mereka di sini, atau mungkin kami bertiga sejenis orang-orang yang menyukai bahaya.

Garis-garis cerobong yang hitam tampak menyeramkan. Jejaring laba-laba yang putus karena diberati jelaga melambai-lambai diterpa angin lembut. Air selokan tumpah dan mengaliri bebatuan padas yang menyusun jalan. Koran-koran sudah biasa menuliskan deskripsi seperti ini untuk meneror setiap pembacanya. Tidak ada imbauan singkat untuk tak keluar malam mulai pukul 06.00. Inilah yang membuat Terto kesal. Marry, sekretarisnya, bahkan bisa merasakan cekam kengerian karena teragitasi tulisan para reporter.

“Hujan sialan! Entah bagaimana cara mereka menyukainya, sedang ini sungguh menyusahkan.” Gerutuku. Ini sebenarnya kekesalan yang kusimpan buat Terto. Dialah yang bertanggung jawab sehingga aku ada di ruas jalan ini, di malam berhujan dan berangin ini.

Permintaan sang Pembunuh jelas tertulis. Aku, ia minta datang ke lokasi ia menghabisi korban pertamanya—sendirian. Kau harus datang sendiri—tulisnya pada baris ke tiga. Aku akan langsung menikammu jika kudapati sepotong pun bayangan manusia mengikutimu—itu ancamannya di baris ke empat. Aku bergidik. Suratnya ada di kantong ponco yang kukenakan saat ini. Namaku jelas tertulis sebagai penerima dan aku harus menyerahkannya kembali sebagai bukti aku menerima pesannya dengan baik.

Aku berjalan perlahan menjauhi tiang lampu dan harus selalu berada di sisi yang diterangi cahaya lampu atau bulan. Itu memang ia intruksikan —aku ingat persis ada di baris ke tujuh. Sepasang manusia berpayung sudah tak kelihatan lagi. Semoga mereka berdua baik-baik saja. Aku harus berharap seperti itu. Aku menyayangkan keberadaan mereka di ruas jalan ini, di saat seorang pembunuh sedang mendekam entah di mana menunggu kedatanganku. Oh, Tuhan —semoga mereka baik-baik saja.

Aku berbelok, ke suatu sudut di mana ada relung dangkal bagian dari pintu sebuah BARBERSHOP yang huruf “R” pada plang tokonya sudah mengelupas. Lampunya padam dari dalam, sehingga satu-satunya cahaya yang menimpa tubuhku bersumber dari lampu tembok di toko kelontong seberang jalan. Kuusap percikan air hujan dari wajahku. Ini sudah terlalu lama. Seharusnya si Pembunuh sudah menghampiri. Tak ada yang bisa melihat perjumpaan kami selain Tuhan yang Maha Melihat segalanya dan tak pernah tidur itu. Aku benar-benar dikepung kegelisahan.

“Aku bisa langsung menikammu saat ini—” kalimat pendek itu didesiskan dalam jarak kurang dari satu meter dari bagian gelap tembok di sebelah kiriku. “—demi menggantikan nasib malang seseorang yang akan kubunuh besok malam.”

Terus terang, kandung kemihku bergejolak. Dengan kalimat hebat itu dan (jika disertai) kemunculannya bisa seketika membuatku kencing di celana. Namun baru kata-katanya saja yang sampai ke telingaku. “Kenapa tidak kau lakukan?”

“Nasibmu tidak semalang nasibnya dan aku membutuhkanmu untuk mengungkap siapa diriku sebenarnya.”

“Kenapa harus malam ini? Hujan ini, kau tahu, begitu menjengkelkan—”

“—dan menyiksa perasaan delapan orang di atas butik di seberang ruas jalan ini. Kau tidak datang sendirian!” Ia menyambung kalimatku sekaligus menegaskan ketidaksukaannya.

“Apa itu artinya kau akan menikamku sekarang juga?”

Si Pembunuh tak langsung menjawabku. Satu menit lebih pertanyaanku ia gantung, sampai kemudian— “Kau beruntung mereka hanya mengawasimu dari kejauhan. Mereka cukup pintar dengan tak mengikutimu.”

Betapa lega aku mendengarnya. Perasaan tenang menjalar ke tulang belakangku. Tetapi menunggu semua hal yang ingin ia sampaikan padaku tentang dirinya —sambil berdiri seperti ini— sungguh lebih menjengkelkan dibanding hujan, suhu dingin, dan sepinya ruas jalan ini.

 

Wawancara.

Ia bukan seorang yang bahagia. Tapi ia sangat menyukai kuda. Ia juga menyukai mawar dan tempat-tempat yang asing. Seringkali ia mengenakan topi mawar saat memacu kudanya ke tempat-tempat asing itu, seperti Urdun dan Ratcha.

—Itu penjelasan awal yang ia ingin aku dengarkan darinya.

Ia menghabiskan masa muda di hutan belantara di kaki gunung. Ia tak pernah ingin naik lebih jauh dari batas sungai kecil yang mengaliri lembah tak jauh dari belakang rumahnya. Betapa ia kemudian menangguk banyak pujian atas kehadirannya di lembah itu. “Bisakah kau bayangkan nikmatnya, saat mereka memujiku seolah aku usai mengelilingi tujuh gunung dan tujuh lembah,” desisnya.

Saat kekacauan melanda kotanya, ia tahu ke mana harus berkuda. Ia pacu hewan itu menuju Urdun, singgah sebentar ke Ratcha menyampirkan cintanya. Mawar berkerumun di kepalanya. Ia diam di tempat-tempat asing itu, sampai ia yakin kekacauan di kotanya telah usai, dan orang-orang baru selesai menegakkan harapan.

Tapi, dari tempat-tempat asing itu, si Penyuka Mawar ini melepaskan keluhan, “betapa Tuhan-tuhan dekil itu telah memakan separuh isi kepalaku.”

—Itu kata-katanya selepas ia kutanyai mengapa ia lupa pada dirinya sendiri dan mengapa ia merasa penting agar aku mengetahui latar-belakang dirinya.

Ia lupa pada suara burung-burung, lupa pada warna-warna, juga lupa pada wajah-wajah. Betapa hatinya telah ia bentengi dengan tembok bata yang kokoh. Tembok dari bata yang ia susun satu demi satu. Tembok yang melindungi taman-taman mawar kesukaannya. Tembok yang menjaga kuda-kuda kesayangannya tetap berada dalam ranca yang aman, membelenggu sakit pada rasa setia yang tak pernah ia rasakan.

Sebagai anak manusia, sesungguhnya ia sedang mengobati kekalahannya. Mengobati rasa sakit dari karma yang ia terima: harus merasakan kesepian yang larut. Ia meninggalkan kota menuju tempat-tempat yang asing, dan teror sepi itu masih membelenggu sampai semuanya cukup.

“Siapa mereka?”

“Siapa yang kau tanyakan?”

“Mereka yang kau sebut Tuhan-tuhan yang dekil itu?”

Ia diam lagi —tapi tak lama seperti sebelumnya. “Merekalah alasanku memulai semuanya, di sini. Alasan kita bicara malam ini.”

“Kekacauan apa yang mereka timbulkan?”

Pertanyaan ini membuat pembicaraan menjadi pincang. Dari bagian gelap di sisi kiri tembok toko, aku hanya bisa mendengarnya menggeram, kemudian terdengar seperti isakan —yang samar. Suasana suram ini berlangsung kurang dari tiga menit.

Lumen kuning lampu jalan membuat rintik air yang curah dari langit begitu kentara, seperti panah-panah kecil yang datang menghunjam bebatuan padas penyusun ruas jalan ini. Wina masih lelap. Belulang kota ini lesu di sepertiga malam. Aku kedinginan di kepung hujan yang menyebalkan.

“Maria perempuan paling beruntung di muka bumi. Perempuan yang dihinakan setelah kemulian turun padanya. Ia tidak pernah disapa kesuraman dan deritanya berhenti saat orang suci keluar dari rahimnya. Tidak ada lagi perempuan yang seberuntung dirinya.”

—Kami kembali ke topik yang ingin ia bicarakan. “Itukah sebabnya kau menyusun pembalasan di Ratcha?”

“Harus kulakukan. Kotaku telah mereka segel?”

“Disegel?”

“Agar siapapun tak bisa mendengar tangisan dari dalamnya.”

“Tangisan siapa?”

“Jiwa-jiwa yang telah mereka renggut dengan sangkur kebengisan.”

“Kau rencanakan ini sendirian?”

Tidak ada suara yang kutangkap dari sudut gelap di sisi kiri tembok toko.

“Baiklah— Kapan semua ini selesai?”

Desisan tajam itu harus kudengar lagi. “Sekadar dikebiri tak akan menyelesaikan persoalan. Dikebiri, hanya akan membuat kelamin mereka berdarah paling lama tujuh menit. Sampai jantung semua korbanku berhenti berdenyut, aku belum menang.”

Mengerikan! Percuma memintanya berhenti. Pembicaraan ini sudah menggambarkan keseriusan tindakannya. “Apa yang kau ingin aku lakukan?”

Tak ada jawaban. Mungkin ia senang mendiamkanku selama satu, dua, tiga menit. Tapi kali ini sunyi yang aneh itu sudah terlalu lama. “Kau masih bersamaku?”

Keinginanku mendengar desisannya berakhir begitu saja. Bagian gelap di sisi kiri tembok toko ini kembali menjadi bagian gelap tanpa siapapun. Aku bergeser, mengeluarkan kepalaku dari lindungan relung pintu toko, mencari tanda keberadaannya di bagian gelap itu.

Ia sudah pergi —aku benar-benar sendirian. Ia pergi begitu saja. Aku rapatkan ponco dan kembali masuk ke dalam hujan. Kususuri jalan berbatu padas menuju batas yang lebih luas di luar sana, meninggalkan seruas jalan itu dalam kesepiannya. Oh, terima kasih, Tuhan —dua orang berpayung itu ternyata baik-baik saja.

Auf Wiedersehen, Fraulein,” bisikku.

 

Perjumpaan Kedua dan Bukan yang Terakhir.

Apa yang si Pembunuh inginkan dariku mungkin akan membuatnya senang sekarang. Ia tentu tahu bahwa aku bisa meraba jejaknya. Kekacauan telah menyegel Huber sehingga orang-orang harus menuju Urdun —dan Ratcha yang ia datangi adalah satu-satunya kota paling asing, sekaligus aman, bagi seorang gadis yang namanya terekam dalam catatan sipil di Balai Kota. Ia lari ke tempat terjauh dalam perasaannya. Ia mencapai Ratcha setelah insiden pemerkosaan massal di kota yang disegel agar kabar sekecil apapun tak keluar.

Sejak malam itu, lokasi pembunuhan pindah ke beberapa tempat. Seruas jalan kecil di tengah kota Wina, di dekat barbershop yang berhenti beroperasi, tempat kami bertemu itu adalah lokasi terakhir sebelum ia beranjak ke lokasi selanjutnya. Ada delapan pembunuhan lagi yang mencukupkan empat pembunuhan sebelumnya. Duabelas pembunuhan tak terpecahkan yang membuat pusing Inspektur Kepala Polisi, Humbertus Terto.

Koran-koran tetap menuliskan sensasi berlebihan atas 12 kejadian itu. Atas semua peristiwa itu, koran-koran seperti terjangkit panache—naluri kebintangan. Para reporternya masih kerap menuliskan agitasi yang membuat warga kota seperti Marry dicekam ketakutan. Itu karena koran dan para reporternya tak tahu apa-apa. Tetapi itu lumayan efektif mencegah orang-orang keluar malam jika tak ada urusan yang mendadak dan sangat penting.

Terto menimpakan semua kekesalannya padaku. Tentu saja. Aku tak jujur padanya untuk beberapa hal. Sepertinya aku cenderung berpihak pada kerumitan nasib si Pembunuh —cenderung bersikap seperti Groot. Tak peduli pada 12 pembunuhan yang ia lakukan dan membiarkannya menyelesaikan urusan dengan para pemerkosanya.

Di suatu sore, kami berjumpa lagi dalam suasana yang lebih terbuka. Gadis itu berkuda menjauhi matahari. Di kepalanya ada topi bermawar.

Di sakunya, banyak nama-nama. (*)

 

Molenvliet, Juni 2015.

 

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: