[Cerpen] Kunang-kunang Laut | Koran Tempo | Minggu, 5 Juli 2015

Kunang-kunang Laut

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilustrasi Cerpen Koran Tempo Minggu 05 Juli 2015c

 

URASHIMA Yoshi mendapat jawaban atas kecemasannya. “Orang-orang sudah meninggalkan tradisi tua yang tak kau lepaskan. Zaman Edo sudah berakhir dan kebiasaanmu itu membuat mereka cemas,” tukas Jiraiya, lelaki tua penjaga kuil Hachiman.

Jiraiya meminta Yoshi membakar batang hio sebelum mereka larut dalam doa.

Bagi Yoshi, tak terlintas di benaknya untuk melepaskan kebiasaan klan Urashima yang teguh menentang modernisasi sejak era Meiji. Jika pun kecemasan orang-orang Sugashima dapat ia perhitungkan sejak awal, belum tentu ia menuruti kehendak mereka. Harumi, adalah satu-satunya kerumitan yang ingin ia hindari.

Pertama kali Yoshi melihat gadis itu, saat para Ama —perempuan penyelam tradisional— berkumpul di atas bukit Mohimjo sebelum melakukan penyelaman di awal musim. Para Ama menuruni bukit dari sisi barat, menggendong keranjang kayu isooke berisi peralatan selam seraya berbincang dan tertawa. Di bawah bukit, mereka berkumpul dalam kelompok kecil tiga orang, menunggu para lelaki menurunkan perahu ke air. Saat itulah Yoshi bersitatap dengan Harumi. Yoshi buru-buru membuang pandangannya dan pura-pura mengetam bibir perahunya. Merasa telah membuat Yoshi malu, Harumi membungkuk dalam-dalam dari kejauhan untuk menyatakan maafnya.

“Apa yang harus aku lakukan?” Yoshi berbalik menghadapi Jiraiya, setelah berdoa cukup lama. “Tidakkah pendapat mereka akan berubah?”

Jiraiya menekan tubuhnya, membungkuk kecil saat menyodorkan teh dan disambut Yoshi dengan dua tangan. Yoshi meneguk teh pahit itu.

“Lihatlah bagaimana aku berakhir di sini. Mereka menghendakimu menjadi seperti yang mereka inginkan.” Penjaga kuil Hachiman itu pelan mengibaskan kepalanya. “Kayu selalu dapat dibentuk, Urashima San.”

Yoshi memahami Jiraiya. Ia harus menempatkan dirinya seperti batang-batang perdu kacang Miju yang menjalar di atas pasir. Ia harus berusaha keras membuktikan apapun kepada kepala keluarga Hatake. Demi Harumi.

 

YOSHI mengetam bibir perahunya. Bukit Mohimjo berwarna kelabu di kejauhan, menjorok ke laut tertopang kokoh. Beberapa camar kamome mengapung di udara. Sesekali menukik, menyambar ketam kecil hamaguri yang berusaha menyamarkan diri dalam cerukan karang. Matahari serong, mendorong bayangan Mohimjo rebah ke pasir pantai Teluk Ise di pesisir Sugashima.

Tak jauh dari pantai, tegak rumah kecil Yoshi yang dipenuhi perabotan kayu buatan tangan. Yoshi mendirikan rumah di puncak bayangan Mohimjo, di bagian landai sebelah utara, 500 meter dari desa nelayan Sugashima. Impian yang kini tersisa di kepala Yoshi adalah melihat rumah itu dipenuhi lima orang anak. Itulah janjinya pada ibunya, sebelum Mida wafat tujuh tahun silam.

Mida adalah seorang Ama juga di Sugashima. Dinikahi Urashima Daiyo yang wafat saat Yoshi berusia 18 tahun. Menjadi Ama adalah kebanggaan perempuan Sugashima. Para perempuan berani yang hanya mengenakan cawat nelayan perempuan, fundoshi, menembus kedalaman Teluk Ise berbekal tali pengikat pinggang mengumpulkan kerang mutiara.

Dari ibunya, Yoshi menerima sifatnya yang ramah. Tetapi dari Daiyo, Yoshi menetapkan karakter dirinya sebagai pemuda rajin dengan tubuh berhias otot dan berkulit terang. Tidak seperti umumnya nelayan di pesisir timur Honshu, kulit Yoshi tak terbakar matahari. Ia tak menghabiskan semua umurnya di laut. Kemahirannya mengolah kayu adalah alasan separuh waktunya berada di daratan. Entah kenapa para kepala keluarga di Sugashima tak berkenan mengambilnya sebagai menantu.

 

MENGENAI Harumi —ia gadis lincah dan riang. Ia cantik dengan dahi sempit dan anak rambut yang kerap membelah di tepian ikat kepala hachimaki berpola bunga sakura. Matanya sedikit besar dengan kulit muka yang agak gelap. Ia putri kedua kepala keluarga Hatake, seorang berpengaruh besar di Sugashima.

Apa yang Harumi kenali soal laut hanyalah mutiara, dinginnya air teluk Ise dan ketelanjangan. Gadis itu tak kuasa menyatakan penolakannya di hadapan kepala keluarga Hatake. Ia seperti sedang berdiri di ambang pintu, saat satu kakinya berada di seberang pintu rumah ayahnya.

Harumi tak berdaya mengubah pendapat kepala keluarga Hatake. Ia hanya satu dari tiga anak perempuan Hatake yang menyukai dinginnya laut, walau tetap mengikuti cara-cara lama Ama yang tidak menyekat rasa malu di tubuhnya. Ia memang tak pernah berpikir untuk menolak tradisi ini. Harumi menikmati hangatnya cahaya matahari di tubuh yang hanya terbalut fundoshi dan hachimaki. Menikmati perbincangan saat menuruni bukit Mohimjo sambil menjinjing isooke dan berbagi hal yang bisa memancing tawa. Ia menyukai kulitnya yang terbakar matahari.

—Airmata tak pernah lelah merawat rasa malunya sebagai perempuan.

Bahkan seorang nelayan lelaki harus merasa malu saat mendapatinya dalam penampilan Ama. Tetapi tradisi tak akan berubah hanya karena seorang telah terperangkap rasa malu, sekaligus menyadari bahwa itulah sebab dua anak perempuan Hatake menolak tradisi Ama.

Dua saudarinya menolak dengan alasan yang ia temui lewat cara Yoshi menatapnya. Mereka tolak cara-cara lama para Ama di seluruh pesisir timur Honshu dengan cara masing-masing, dan tak mau terjebak pada tradisi kuno Sugashima yang mengatur seperti apa perempuan memandang dirinya sendiri.

Oh, Harumi. Betapa cemas ia membayangkan seperti apa pendapat Yoshi.

“Bulan purnama menandakan waktu bagi kerang mutiara untuk dipanen. Seorang Ama dari keluarga Hatake akan bergabung bersama para Ama lain di pantai Sugashima,” kepala keluarga Hatake memberi maklumat.

“Sampai kapan Harumi menjadi Ama, Ayah?” Entah apa yang membuat Ando berani bertanya seperti itu pada kepala keluarga Hatake.

Merah muka Hatake. “Kehormatan perempuan Sugashima harus dipelihara!”

“Ke mana rasa malu klan Hatake saat Harumi telanjang dan hanya mengenakan fundoshi?”

Mottainai!” Hatake memukul meja dan seketika mengubah warna dalu di pipi Ando menjadi pias. Ibunya menyerukan nama kehormatan Hatake, sebelum lelaki itu bertindak terlalu jauh. “Patuhi ayahmu, Hatake Ando! Bersikaplah seperti gadis lain di Sugashima ini. Jangan membuat kami malu.”

Malu? —Kata itu seperti belati kissaki-moroha.

Tatapan Ando memancarkan kebencian yang membuat ibunya cemas. Ando mengasihani Harumi, adik perempuannya yang bintik kulit dadanya berkilau seperti umi hotaru di kedalaman air.

 

YOSHI memahami setiap kecemasan Harumi. Ia mendengarkan gunjing para Ama tentang keluarga Hatake. Hari kepala keluarga Hatake menelan rasa malunya adalah hari di mana Ando terang-terangan menyatakan penolakannya pada tradisi kuno Ama di Sugashima. Harumi tetap turun menyelam dengan fundoshi menutupi pinggulnya.

Para Ama mencemooh Hatake sebagai lelaki Sugashima yang tak bisa mengendalikan anak-anak perempuannya. Penghinaan menghunjam telinga Hatake. Lelaki itu kini merasa kehormatannya telah dinodai di hadapan penduduk Sugashima.

Yoshi seperti mendengar kabar yang dibawa kamome, bahwa Hatake telah mendera punggung Ando dengan cemeti ekor pari. Hukuman itu diterima Ando tanpa keluh, kecuali mata yang memancarkan kebencian dan amarah. Ia menolak permintaan ibunya agar menjerit untuk mengakhiri tindakan ayahnya. Ando mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

Dua hari berikutnya, saat Ama turun melaut, orang-orang dikejutkan dengan kehadiran Ando yang tegak di tepian karang bukit Mohimjo dengan tsumugi (kimono sehari-hari perempuan) berwarna biru berpola putih sakura, memasrahkan rambutnya dipermainkan angin. Di belakangnya, tegak berdiri Harumi dengan fundoshi dan isooke.

Senyum Hatake Ando seperti senyum gadis yang bahagia, saat melepas adiknya melaut di penyelaman terakhir musim ini. Ando seperti telah memahami Harumi. Hanya mata mereka yang bicara. Di bawah Mohimjo, kamome terbang lincah menyisir permukaan air, menukik seketika lalu kembali mengapung di udara dengan ikan kecil atau hamaguri terkepit di paruhnya.

“Maafkan aku, Ando.” Harumi membungkuk kecil pada kakaknya. Kelembutan menyaput di mata Ando. “Kenapa ini kau lakukan?”

“Aku suka umi hotaru. Kunang-kunang laut,” kata Harumi, “Kunang-kunang Laut yang bebas berenang di permukaan air dan menerangi laut. Memandu perahu nelayan dan membiarkan mereka mencintaiku dengan cara yang mereka pahami sebagai Ama.”

“Aku menyayangimu, Harumi—” bibir Ando bergetar, “—aku menghormatimu seperti aku menghormati diriku sendiri.”

Harumi membungkuk lagi, lalu tegak perlahan dengan wajah yang langsung dihadapkan ke laut sebelum turun bergabung bersama Ama lainnya. Mata Ando mengikuti Harumi. Tak ada lagi yang ingin ia cemaskan. “Kita akan baik-baik saja, Harumi.”

Dua hari setelahnya, kepala keluarga Hatake memimpin keluarganya berdoa di puncak Mohimjo. Ando mengundang Yoshi untuk ikut bersama dalam doa bagi Harumi. Memakai tsumugi seperti kemarin, Ando berdiri di sisi Yoshi yang mengenakan kinagashi (kimono sehari-hari lelaki) berwarna senada. Di tengah doa, Yoshi menatap hamparan laut teluk Ise yang teduh. Di tangan kanannya, ada segenggam rumput laut hitam hijiki. Dagunya terangkat saat ia penuhi dadanya dengan udara laut yang kering.

—Oh, Harumi yang malang.

Semoga umi hotaru menyambutnya dengan gembira. Tiga hari lalu, Harumi terseret arus Teluk Ise, memutuskan tali pengikat pinggangnya dan menyeret tubuhnya menuju kedalaman laut. Mungkin ini menjawab impiannya ingin seperti Kunang-kunang laut yang melebur, berpendak kebiruan di antara terumbu teluk Ise untuk merayakan cahaya.

 

untuk Ryotaro Shiba

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: