Monthly Archives: Februari 2015

[Bola Kultural] Sepak Bola dan Motif Politik Paling Mengerikan

[Bola Kultural] Sepak Bola dan Motif Politik Paling Mengerikan_Ilustrasi Bagus-JP

“Sepak bola menjadi populer, karena populernya kebodohan.”

~ Jorge Francisco Isidoro Luis Borges (1899-1986)

 

Benar. Jorge Luis Borges menyebut sepak bola sebagai estetisme yang buruk. Penulis Argentina yang dianggap sebagai tokoh kunci kesusasteraan Spanyol itu bahkan melontarkan satir yang keras, “sepak bola adalah satu dari banyak kejahatan terbesar bangsa Inggris.”

Borges sengaja mendorong kebencian pada sepak bola saat membawakan kuliah-kuliahnya. Itu ia lakukan untuk mengolok-olok intensitas politik dari konflik yang menurutnya sengaja diciptakan pada pertandingan perdana Argentina di Piala Dunia tahun 1978.

“Kebodohan membuat sepak bola menjadi olah raga populer,” ulang Borges di setiap kesempatan, bahkan di hadapan fans fanatik timnas Argentina. Menurutnya, untuk sesuatu yang oleh banyak orang dianggap sebagai permainan terhebat di muka bumi —tampaknya juga mencerminkan sikap khas para pembenci sepak bola hari ini— di mana sikap itu telah menjadi sebuah pernyataan utama: Sepakbola membosankan. Terlalu banyak nilai yang terikat di sana. Aku tak menerima kepalsuan semacam itu.

 

Alasan Borges Benci Sepak Bola

Tetapi ketidak sukaan Borges pada olahraga ini berasal dari sesuatu yang jauh lebih mengganggu daripada sekadar isu estetika. Masalahnya tampak jelas dari popularitas soccer fan culture yang ia kaitkan dengan sejenis dukungan buta yang dibakar oleh para pemimpin gerakan-gerakan politik paling mengerikan di abad ke-20. Sepanjang hidupnya, Borges melihat unsur-unsur fasisme, peronism, dan bahkan anti-semitisme menyatu dalam intrik politik Argentina, sehingga ia mencurigai popularitas itu telah melahirkan bentuk gerakan politik dan budaya massa yang baru dan lebih intens —terkait sebuah apogee: Argentina adalah sepak bola. Inilah yang membuat kecurigaan Borges sangat masuk akal.

“Ada gagasan supremasi dan kekuasaan (dalam sepak bola) yang tampak mengerikan bagi saya,” tulisnya suatu saat. Borges menentang dogmatisme dalam bentuk atau format apapun, sehingga ia secara resmi mencurigai motif umumnya warga negara sebagai ketidak mampuan memenuhi syarat pengabdian kepada doktrin atau agama mana pun — bahkan untuk para albiceleste.

Sepak bola terikat pada nasionalisme, adalah salah satu fanatisme dalam olahraga itu yang membuat Borges keberatan. “Nasionalisme hanya memungkinkan untuk diafirmasi, dan setiap doktrin tentang itu—yang kemudian diragukan dan disangkali—adalah suatu bentuk fanatisme dan kebodohan,” katanya.

Tim nasional menyamaratakan semangat nasionalis, menciptakan kemungkinan bagi pemerintah yang tidak bermoral untuk menggunakan pemain sebagai seorang juru bicara demi melegitimasi tindakan politis mereka. Pada kenyataannya, itulah yang terjadi pada Pele.

“Ketika pemerintahnya sedang menekan para pembangkang politik, dan aksi Pele menyundul bola ke arah gawang, sekaligus menghasilkan sebuah poster raksasa yang menggambarkan tujuan pemerintahnya, disertai slogan Ninguem mais segura este pais: sekarang, tak seorang pun dapat menghentikan negara ini,” tulis Dave Zirin dalam buku Brazil’s Dance with the Devil.

Pemerintahan diktator militer Brasil di mana Pele bermain untuk timnasnya, mengambil keuntungan dari obligasi penggemar timnas untuk memobilisasi dukungan. Inilah yang ditakuti dan dibenci Borges tentang sepak bola.

Saat membaca cerpen Esse Est Percipi (1967), siapapun dapat menemukan dan ikut menyelami kebencian Borges terhadap sepak bola. Di plot tengah cerpen itu, Borges menggulung ungkapan bahwa sepak bola di Argentina telah berhenti sebagai olahraga dan memasuki dunia hiburan. Secara fiksional, ia membuat simulakra bagi memerintahnya: representasi sepak bola telah menggantikan sepak bola yang sebenarnya.

Sepak bola tidak lagi berada di luar studio rekaman dan kantor surat kabar. Sepak bola telah begitu kuat menginspirasi para pendukung fanatik untuk mengikuti sebuah “permainan khayalan” di televisi dan radio tanpa mempertanyakan hal yang diungkap dalam narasi ini:

Stadion sudah lama dikutuk dan hancur berkeping-keping. Sekarang semuanya dipentaskan di televisi dan radio. Membawa kegembiraan palsu —membuat Anda tidak pernah menduga bahwa semua itu adalah omong kosong? Pada tanggal 24 Juni 1937, pertandingan sepak bola dimainkan terakhir kali di Buenos Aires. Di saat yang tepat, sepak bola dan semua gamut olahraga, serta semua genre drama, mampu ditampilkan oleh seseorang di sebuah bilik atau oleh seorang aktor berkostum pemain sepak bola di belakang kamera televisi.

Esse Est Percipi berpulang pada ketidak nyamanan Borges terhadap budaya pergerakan massa yang ia tuduhkan kepada media yang terlibat secara aktif dan efektif ikut menciptakan budaya massa melalui sepak bola —dan sebagai akibatnya— menjadi bagian dari penghasutan dan manipulasi itu sendiri.

Menurut Borges, seharusnya manusia merasa perlu menjadi bagian dari rencana besar jagat raya, sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Agama tidak untuk segelintir orang, sebagaimana sepak bola yang juga boleh menjadi milik semua orang.

Karakter-karakter dalam corpus Borgesian sering bergulat dengan keinginan ini, beralih kepada ideologi atau gerakan yang menjadi efek bencana: narator dalam Deutsches Requiem adalah seorang Nazi, sedangkan sebuah organisasi dalam The Lottery in Babylon atau The Congress yang tampak tidak berbahaya dengan cepat berubah menjadi buas, menjadi birokratis totaliter yang mengobral hukuman dan membakar buku.

Kami ingin menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, tetapi terlalu banyak hal yang membuat kita buta untuk mengikuti perkembangan dalam rencana besar ini —atau kekurangan yang mengikuti mereka semua selama ini…

Sebelumnya, narator dalam The Congress mengingatkan kita, bahwa daya pikat dari wacana besar tersebut sudah kerap membuktikan: “Sebenarnya yang penting adalah menjadi bagian dari rencana kami —di mana kami sering membuat lelucon tentang itu— yang sungguh-sungguh tak tampak pada dunia dan diri kita sendiri.”

 

Messi Est Percipi

Kalimat di atas secara akurat menggambarkan bagaimana perasaan jutaan orang di dunia tentang sepak bola. Saat Borges mengkritik sepak bola yang ditunggangi kepentingan politis peronian, saat itu Lionel Messi belum lahir. Messi lahir 20 tahun kemudian, atau tepat setahun, di bulan yang sama (kurang 10 hari) setelah kematian Borges. Bukan kebetulan jika Messi lahir di tanggal dan bulan yang sama (24 Juni), ketika pertandingan sepak bola dimainkan terakhir kali di Buenos Aires, 50 tahun lalu. Mungkin saja Messi mengenal Borges lewat tulisan-tulisannya. Messi tahu siapa Pele, dan mungkin bisa memahami kekesalan Borges pada ikon sepak bola Brazil itu.

Maradona dan Messi adalah dua generasi sepak bola Argentina yang terjebak dalam budaya massa: industri dan kapitalisasi olahraga. Kendati kita bisa memaklumi bahwa secara pribadi Maradona dan Messi pasti akan mengamini Borges, nyatanya dua pemain terhebat di zamannya itu tidak tenggelam sepenuhnya dalam motif mengerikan yang disebut Borges.

Maradona kerap mendonasikan uangnya untuk rumah yatim-piatu dan rumah sakit di Argentina dan Cuba. Lionel Messi baru saja menolak isu yang muncul usai Piala Dunia 2014 di Brazil tentang jutaan dolar sumbangannya ke Israel. “Saya tak simpati pada negara yang membunuh anak-anak. Israel negara kaya, jadi saya lebih baik menyumbang untuk rumah sakit dan sekolah di Argentina,” kecam Messi melalui laman mtv.com.lb. Paling tidak Maradona dan Messi masih punya nurani.

Sepak bola hari ini, setelah 29 tahun kepergian Borges, tetap tampil sebagai budaya massa yang kian distorsional. Tetap tampil sebagai siaran langsung atau siaran tunda di televisi (setelah edit dan mixing), diulas di radio, di koran-koran, dan di portal berita internet. Keabsahan yang menguatkan pesan dalam ketakutan dan kebencian Borges.

Bagi sebagian orang, tuduhan Borges tidak harus diamini. Argentina telah berubah lebih demokratis —yang kemungkinan besar adalah insinuasi dari kumparan dan lapisan gerakan politik masa lalu yang dibenci Borges. Argentina kini punya Cristina Fernandez de Kirchner, masih punya Maradona yang komunis, dan Lionel Messi yang membenci politik kolonialisme. Dan, sepak bola —dimana pun— masih berkutat dengan kepentingan politik. (*)

Twitter: @IlhamQM

 

Catatan :

  • Sebagian besar dari esai ini saya alih-bahasakan dari artikel Newrepublic: Why Did Borges Hate Soccer, sebagai fondasi tulisan.

 

Sumber :

Kolom Bola Kultural | Jawa Pos, Minggu 08 Februari 2015

Sepak Bola dan Motif Politik Paling Mengerikan | Jawa Pos | Selalu Ada Yang Baru

 

 

Iklan

[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Jawa Pos 2014

Cover Jawa Pos_blog

Download: klik link di bawah ini

e-BOOK_CERPEN JAWA POS 2014

tujuan pengarsipan dan dokumentasi 52 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah fisik atau karateristik material, dan penambahan dalam skala yang dapat ditoleransi. semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media dimana karya yang bersangkutan dipublis pertama kali. dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta dan media yang mempublikasi subyek karya pertama kali.


[Cerpen] Guci Sop | Suara Merdeka | Minggu, 01 Februari 2015

Guci Sop

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilustrasi_Guci Sop_Ilham Q Moehiddin

UDARA panas siang itu seperti hendak melelehkan bola mata setiap orang yang melintasi strada Salvatore, membuat basah ketiak yang menyebarkan bau tak sedap kemana-mana. Pesisir Genoa dibungkam aroma garam.

Aku menyiapkan pertunjukan malam untuk Arrigo Tavern sebelum matahari sore datang ke jendela rumah minum ini. Aku mewarisi bisnis ini dari ayahku, Arrigo Ando. Tempat ini mendadak ramai di enam bulan terakhir.

Enam bulan lalu, seorang gadis berdiri di depan meja bar Arrigo Tavern. Aku tentu saja menerima tawarannya untuk menari. Dialeknya tak seperti kebanyakan perempuan Genoa. Gadis itu dari pesisir utara. “Elda dari Manarola,” katanya.

Seperti kebanyakan perempuan Manarola, Elda mewarisi tulang pipi yang lembut, pucuk hidung yang kecil, dagu sedikit runcing dengan wajah oval, dan rambut hitam bergelombang. Elda punya sesuatu yang diidamkan banyak lelaki—dada dan pinggul yang padat.

“Menarilah mulai besok,” kataku. Seperti harum yang memancar dari tubuh Elda, begitulah kabar baik dan keberuntungan yang mendatangiku siang itu—dan di hari-hari berikutnya.

Para perempuan Manarola pandai melenturkan tubuh. Tarian mereka memikat, lincah meliuk dengan gerakan erotis yang menggoda. Elda segera menjadi primadona Arrigo Tavern dan namanya begitu terkenal di sepanjang pesisir Genoa. Setiap lelaki di pesisir ini bisa menggambarkan kemolekannya, ketimbang kondisi istri mereka sendiri. Wajah Elda segera membayangi pelupuk mata tiap lelaki yang menggumamkan namanya. Tetapi bagiku, Elda tak sekadar mesin uang di taverna ini.

**

Arrigo Ando adalah contoh buruk pebisnis rumah minum. Taverna ini baru ramai setelah 39 tahun dibuka dan 10 tahun kematiannya. Para penggemar bir berduyun-duyun memenuhi tempat ini, bukan karena rasa birnya. Tak ada yang menyukai bir beraroma jerami lembab dengan rasa keju basi. Siapapun pasti memuntahkannya setelah tegukan pertama, kecuali jika mereka sedang mabuk berat. Mereka ke tempat ini semata-mata karena Elda.

Setiap malam, sejak matahari tenggelam dan udara kering menyebarkan aroma garam dari laut, taverna ini sudah sesak. Para lelaki menelan ludah, memukul meja, dan meneriakkan nama Elda. Sebelum gadis itu datang, aku biasa menampilkan pertunjukan berupa sulap yang kuanggap bisa mengocok perut pengunjung. Seringkali itu berhasil. Tetapi para kelasi, tentara, dan buruh pelabuhan lebih suka menganggapnya gagal dan melempari setiap pesulap yang tampil. Kini mereka menginginkan Elda dan mereka tak harus mabuk berat untuk mengacaukan tempat ini.

Beberapa pejabat kota biasa berlindung di keremangan balkon saat menonton tarian Elda. Mereka tak mau terlihat oleh para pemilih. Moral sangat penting bagi reputasi dan karir politik. Tetapi di tempat ini, mereka boleh mengantongi moral mereka, lalu berpura-pura tak kehilangan apapun esok paginya.

Aku hanya butuh uang mereka. Asal mereka membayar, maka habis perkara.

Setiap lelaki yang datang ke taverna ini punya mimpi yang sama; berharap Elda mengakhiri kesepian mereka di sisa malam. Paling tidak, berharap bisa menyentuh kulit pinggul gadis itu saat mereka menyelipkan lembaran uang ke balik celananya. Mereka rela membayar lebih banyak hanya agar Elda bersedia membuka kakinya dalam satu nomor tarian, sembari membayangkan hal-hal cabul tentang gadis itu.

**

Sedikit sekali lelaki yang mampu menghamburkan uang di sebuah taverna hingga pagi. Sedikit lelaki yang ingin ditemani gadis muda saat menyantap scallopine—irisan tipis daging sapi muda segar—dan mengakhiri malam di motel murah. Lebih banyak dari mereka patut dikasihani karena beristri perempuan yang siap menyita setiap uang dari kantongnya. Namun ada alasan lain sehingga para penggemar pescara kerap datang ke Arrigo Tavern.

Lupakan bir basi. Tangguhkan dulu khayalan tentang Elda. Arrigo Tavern punya zuppa yang lezat. Saat menghidangkan Zuppa di Pescara, Carmela selalu menambahkan seporsi scallopine. Carmela tahu cara membuat scallopine dengan kaldu yang lezat. Aku tak mau terang-terangan menyakiti hati istriku dengan mengistimewakan Elda. Carmela akan cemburu dan menolak ikut mengurus dapur tempat ini.

Elda memang menggoda. Lirikannya sanggup membuat siapapun berkeringat.

“Anda tak seharusnya berada di sini,” Elda terdengar ketus.

“Tetaplah menari untuk Arrigo Tavern,” aku berdiri di ambang pintu kamar rias.

Elda berbalik dan mengangkat alisnya. “Maka penuhilah janjimu.”

Aku gelisah. “Taverna ini butuh uang untuk membayar piutang bank.”

“Oya? Apa itu termasuk hutangku pada Hueno?” Elda memajukan wajahnya. “Aku harus membayar lelaki itu agar ia tak mengusirku dari flat,” lanjut gadis itu. Peluh membasahi tengkukku. Aku maju dan menutup pintu. “Kau dapat melakukan sesuatu untuk itu.”

Mendengarku bicara begitu, leher Alda memutar cepat. “Brengsek!” kecamnya, seraya menarik korsetnya lebih tinggi, menutupi dadanya yang putih. “Aku tidak selugu itu.” Desisnya tajam.

Aku angkat bahu dan memiringkan kepala.

“Aku tak sudi menemani para pejabat kota!” Elda nyaris berteriak. Aku panik. Aku meminta Elda memelankan suaranya. “Mereka pernah menipuku. Aku muak mendengar omong kosong Wali Kota keparat itu. Aku tak sudi berkorban lebih banyak untuk tinggal lebih lama di tempat busuk ini.”

Aku mengembangkan tangan, menahan bahu Elda. “Pertimbangkanlah untuk tak meninggalkan taverna ini sampai aku selesai mengurus semua permintaanmu.”

“Sampai semua pemabuk di kota ini puas meraba tubuhku dengan tangan kotor mereka? Sampai Carmela selesai menguras tiap keping tip yang menjadi hakku?”

Aku menurunkan tanganku. Elda benar. “Kau boleh menyimpan semua tip yang kau dapatkan. Gajimu naik satu kali lipat mulai bulan depan.” Aku berjanji.

Gasi itu tersenyum sinis. “Baik. Sekarang keluarlah!”

Seruan itu menahan gerakanku. “Elda, aku…”

“Keluar! Aku harus bersiap sebelum para pemabuk itu merusak tempat ini.”

“Elda…”

Namun gadis itu sudah memutariku, memelintir gagang pintu hingga terbuka, dan berdiri menunggu aku keluar, sebelum membanting pintu dan menguncinya dari dalam.

Malam itu Elda menggila. Ia menggelorakan panggung Arrigo Tavern. Gerakannya liar, menggoda. Sesekali Elda duduk di pangkuan pengunjung dan menerima apapun yang diselipkan ke balik celananya.

**

Sepekan berikutnya, Elda tak terlihat sejak sore. Seharusnya ia sudah datang dan mempersiapkan diri di kamar rias. Tak ada kabar tentangnya membuatku cemas. Hueno pun tak tahu kemana perginya gadis itu, saat aku menelepon menanyakannya. Elda tak pulang ke flatnya sejak semalam.

Carmela tetap melayani para tamu menikmati Zuppa di Pescara. Aku cukup puas dengan kerakusan pengunjung setengah mabuk yang terusir dari taverna lain. Orang-orang itu sanggup menandaskan dua tong bir basi sebelum sore usai. Namun aku harus mengusir beberapa orang, sebelum mereka terlanjur mabuk berat dan menyusahkanku.

Aku menikahi Carmela saat perempuan itu berusia 16 tahun, saat usia kami terpaut 15 tahun. Ayahku mengadopsi Carmela dari pasangan gipsy yang tewas dalam kebakaran besar di pesisir Genoa, 10 tahun sebelumnya. Seperti umumnya orang gipsy, Carmela setia pada ayahku dan menjadi pelayan di taverna miliknya, sampai aku menikahinya. Pernikahan yang dipaksakan. Aku menikahi Carmela untuk menutupi perbuatan laknat ayahku. Ayah mabuk berat saat memerkosa Carmela dan membuat gadis itu hamil. Bayi Carmela meninggal sehari setelah dilahirkan.

Carmela tak banyak bicara. Ia sepertinya siap menerima nasibnya. Waktunya habis untuk melayani taverna dan mendampingiku. Jika pengunjung taverna ini sepi, ia habiskan waktunya dengan membaca buku resep tua peninggalan ibunya. Ia mengunci diri selama berjam-jam di kamar rajut di lantai tiga. Dari kamar itu tercium aroma harum menyengat, saat Carmela mempraktekkan beberapa resep.

“Aku mau menari,” Carmela bergumam.

Kata-katanya itu mengejutkanku. Aku memiringkan kepala, isyarat agar Carmela mengulangi ucapannya. Aku mungkin sudah salah dengar.

“Aku bisa menari seperti Elda. Bisa lebih baik darinya.”

Aku menggeleng. ”Kau tak sedang—”

“Aku juga bisa mengelola taverna ini sekaligus.” Carmela memotong kalimatku.

“—meracau, kan?” Aku menyelesaikan kalimatmu.

Carmela menyeringai. “Kau seperti semua lelaki yang datang ke sini. Jika bukan hendak mabuk, kalian bermimpi bisa meniduri Elda.”

“Carmela!”

“Aku tahu. Ya. Aku tahu isi kepalamu yang sama busuknya seperti isi kepala lelaki yang mewarisimu tempat terkutuk ini!” Kemarahan Carmela itu tak biasa.

“Tutup mulutmu! Kau tak bisa bicara tentang ayah—”

“—Ayah?!” Carmela berteriak. “Alfie, kau hanya sedikit mujur karena tak mewarisi kedunguan Arrigo. Nasibmu tak lebih menyedihkan dari keparat itu!”

Kata-kata Carmela usai saat tiga orang polisi masuk dan segera menghalangi pintu belakang taverna. Mereka juga menutup pintu dapur dan memblokir lorong kecil menuju kamar rias. Carmela mendengus. Ia tuding mukaku. “Kau! Kau menginginkan Elda, kan? Kau hendak menuntaskan nafsumu dengan mengunjungi flatnya.”

Aku mundur dua langkah. “Aku? Aku tidak—” Terbata-bata aku menolak tuduhan Carmela. “Oh, Carmela. Kau—”

“—Tidak?” Carmela mendelik. “Kenapa kau tak jelaskan ketidakhadiran Elda saat ini? Mana dia? Hanya kau yang pernah terlihat mengunjungi flatnya,” desis Carmela. “Kau membunuhnya!”

Seperti tersengat listrik, rahangku menggelembung mendengar tuduhan itu. Aku sudah akan merenggut lehernya jika saja seorang polisi tak segera memepet tubuhku. Tapi aku tak peduli. “Elda mungkin pulang ke Manarola.”

Sayang sekali. Menurut polisi, tak seorang pun di Manarola melihat kepulangan Elda. Aku ditangkap polisi. Itulah sore terakhir aku melihat kebencian di mata Carmela.

**

Arrigo Tavern tak berubah. Tempat ini tetap ramai pengunjung. Sepertinya, orang-orang itu tak tahu—bahkan tak peduli—pada kejanggalan di taverna ini. Tak tampaknya aku dan Elda, agaknya tak menarik perhatian mereka. Itu aneh, sebab kerapnya mereka memenuhi tempat ini justru karena tarian Elda.

Carmela membelanjakan uang dengan efisien. Ia mengubah tampilan tempat ini menjadi lebih semarak. Ia bahkan mengubah nama Arrigo Tavern dengan nama baru: Taverna de Carmela, dan ia tak lagi menjual bir basi.

Perempuan itu mendapatkan keinginannya. Ia akhirnya bisa menari di hadapan para pengunjung yang juga mengelu-elukan liukan tubuhnya. Para lelaki menyelipkan lembaran uang ke balik celananya, tak peduli bahwa pinggulnya yang besar itu mampu merobohkan panggung. Para lelaki ikut menari dalam tempo musik yang cepat. Beberapa dari mereka meringis, berusaha meredam gelora yang menjilam-jilam saat tubuh tambun Carmela meliuk-liuk.

Mereka tergila-gila pada erotisme Carmela, seperti yang pernah aku saksikan pada Elda. Para lelaki di pesisir Genoa berdatangan untuk menghabiskan uang mereka demi bir dan tarian Cermela.

Carmela tahu cara memperoleh keberuntungannya. Di lantai tiga, di sudut kamar rajut yang berhias manik-manik kaca, di atas pemanas parafin, sebuah guci tembikar bercorak bunga Murbei mendesis-desis mendidihkan sop. Setiap hari, sebelum taverna dibuka, Carmela ke kamar itu untuk mencicipi semangkuk kecil zuppa ramuannya.

Zuppa dan el-Cuerpo membuat Carmela mencapai impiannya. Ia memiliki taverna, menari, merebut perhatian setiap lelaki di pesisir Genoa. Zuppa di Elda telah membuat gadis Manarola itu hidup di tubuh Carmela. (*)

Molenvliet, Januari 2015

 

Catatan:

– Strada = jalan; – Zuppa = sop; – el-cuerpo = sihir hitam gipsy untuk mencuri citra orang lain dengan memasak bagian tubuhnya.


%d blogger menyukai ini: