[Cerpen] Perempuan di Jendela Equilla | Sastra Digital | Edisi Khusus Juli 2014

  1. Perempuan di Jendela Equilla

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

the pretty fishing village of equilla pretoria - southafrica

HARI-HARI berjalan biasa di tanah hitam yang cantik ini. Leola bekerja di pagi hari, menyapa dua jenis orang yang berbeda: orang-orang yang menyukai kerendahan hatinya, dan orang-orang yang iri pada warna kulitnya yang berkilat cokelat dengan rambut kemerahan.

Leola tinggal bersama kakak lelakinya, di pesisir Balley Bay. Buyutnya, Lugatti, seorang juru masak hebat di armada dagang Dutch yang tiba di Pretoria, Afrika Selatan, tahun 1652.

Orang-orang seperti itulah yang lebih banyak menyita waktunya dari pada duduk berdua kakaknya menonton Rugby, atau sepakbola di akhir pekan. Leola menyukai sepakbola, selain ada hal lain yang lebih suka dikerjakannya —bersama kaum oposan menolak Aparteid— selepas jam kantor, di balik tugas-tugas rutin melelahkan.

Begitulah hidup Leola. Ia bak kuda betina yang lepas merumput di padang, siap beranak pinak, tak peduli pada cap pemilik kuda di punggungnya. Ia dapat dicari sewaktu-waktu karena cap itu, digiring ke ranca, disatukan bersama kuda-kuda lainnya saat orang-orang asik bicara tentang harga kemanusiaan.

Pretoria tak pernah lebih panas dari perkirakan orang. Cuaca kering karena paparan matahari masih lebih sejuk dari gunjingan serta rencana-rencana yang keluar dari kantor de Klerk. Seperti kelaparan yang menyusup ke setiap rumah —dihampir separuh kawasan Pretoria— mengantarkan kecemasan ke kantor-kantor South Africa Police (SAP) yang siap membekuk leher kaum pro-Mandela.

Leola dan kakaknya, juga banyak imigran Italia lain seperti mereka, hidup dalam jepitan situasi. Senjata dan nafsu membunuh seperti gantungan kunci yang selalu ada menemani anak kunci. Anak-anak, perempuan dan lelaki dewasa, di tanah ini selalu punya tujuan dan maksud berbeda, kecuali tetap setia pada kaum mereka sendiri.

Tujuan-tujuan itu hampir pasti selalu berusaha diraih dengan letupan senjata atas nama cinta tanah air dan kebencian pada kolonialisme yang regresif.

Politik apartheid membelah negeri itu. Politik pemisahan yang diterapkan dalam kebijakan buruh pertambangan menjadi satu isu besar di Afrika Selatan. Sistem produksi sekunder memunculkan industri yang butuh banyak buruh murah. Politik segregasi sengaja dimunculkan sebagai strategi pengusaha kulit putih untuk menekan biaya produksi. Penanda formal bagi politik pemisahan berdasarkan ras yang melegitimasi dominasi kulit putih di Afrika Selatan dimulai tahun 1948, pasca kemenangan Partai National.

Leola pernah mendengar kisah seorang korban selamat dari tragedi Sharpville pada 1960-an. Polisi merepresi, mengarahkan senjata, menembaki para demonstran. Senjata-senjata SAP menewaskan 69 orang dan ratusan orang lainnya luka parah. Akibatnya, pemerintah melarang aktivitas African National Congress (ANC) dan Pan African Congress (PAC) yang mewakili perjuangan politik kulit hitam di negeri itu.

Cinta dan benci seperti tak ada bedanya saat orang memegang senjata. Senjata bisa berbahaya pada orang yang dirapun kebencian, tetapi senjata jauh lebih berbahaya di tangan orang yang mencintai. Filosofi orang Joseon di semenanjung Hankuk itu lebih nyata di tanah hitam bergelora ini.

**

Langit di atas dermaga Equilla masih samar saat nelayan mulai mengatur dan memisahkan ikan sesuai jenisnya. Cuaca April yang berangin, menggiring ikan-ikan dari tanjung ke bagian hangat di perairan Balley Bay.

Menurut cerita, teluk ini tak banyak berubah semenjak orang-orang Boer datang dan mendirikan kemah di tahun-tahun awal. Mereka menyisir pesisir selatan, lalu menusuk ke jantung sahara ke arah tenggara untuk mendirikan peternakan dan kebun-kebun jagung.

“Ikan kecil ini merana di jendela. Panas di sini melelehkan bola mata.” Desah Leola seraya memandu matanya menyusuri pesisir yang memberinya fatamorgana.

Ternak dan hasil pertanian adalah hal baik yang diberikan orang-orang Boer. Kecuali itu, orang-orang lokal lebih kerap melihat mereka sebagai kumpulan bersenjata yang merampas tanah-tanah dan menjauhkan Antelop dan Wild The Beast tanpa perlu menunggu musim migrasi.

Ketegangan tak pernah lama antara para Boer dan orang lokal. Tanah Afrika Selatan masih terlalu luas untuk dimiliki sendiri oleh suku-suku lokal, begitu yang sengit orang Boer katakan dalam setiap pertengkaran. Entah bagaimana dan seperti apa para suku lokal memahaminya, sehingga mereka mampu menurunkan panah dan tombak, sekaligus membagi kearifan hidup mereka pada para pendatang.

Leola juga begitu. Ia terkejut saat mendapati hidupnya jauh dari harapannya. Ia seperti orang bingung yang tersadar seusai pingsan begitu lama di ruang perawatan. Masa kecilnya tak terekam dengan baik, termasuk bagaimana ia menjadi yatim di usia satu tahun.

Saat kecil, Leola tak punya banyak kawan hitam di lingkungan ini. Ia tak pernah membayangkan bahwa warna kulit, dialek, dan kemampuan berpikir, akan menjadikan dirinya berbeda dari ‘kawan-kawan hitamnya’, dan itu kerap membuatnya dijauhi. Saat Leola menyadarinya, ia nyaris terlambat. Namun, kehilangan kabar tentang kawan-kawan masa kecilnya itu masih jauh lebih menyakitkan.

Entah di mana mereka kini. Politik regresif dan kekerasan yang menimpa orang-orang lokal, sangat mungkin sudah mengikis kepribadian mereka, membuat mereka jauh lebih keras. Mungkin beberapa dari mereka kini memilih berjuang bersama kelompok bersenjata, menukar hal-hal prinsipil yang telah dirampas dari hidup mereka.

“Sehingga itulah ini menjadi urusanku. Aku lahir di tanah ini, meminum airnya dan merasakan anginnya. Politik telah memisahkan akar kami dari tanah ini.” Kemam Leola.

Tiba-tiba saja, derau angin utara memilin kegundahan Leola. Matanya memburu sisa pelaut yang mendarat terakhir, sebelum telinganya menyongsong suara ombak menghempas di pantai Balley Bay.

Josef, terlihat baru saja mendaratkan perahunya.

**

Bergegaslah setelah jam kantormu usai. Nyonya tua mau bicara. Begitu tera pesan pada secarik kertas yang diselipkan Mafuzu di antara kadas buku yang kini tergeletak di mejanya. Lelaki itu tadi ada di sini, dan entah bagaimana cara ia menyusup ke kantor de Klerk. Tak setiap orang bisa leluasa keluar masuk ke kantor ini, tanpa lepas dari pengawasan ketat para agen SAP. Mereka punya daftar setiap orang yang diburu di negeri ini. Entah, apakah Mafuzu sudah masuk daftar itu atau belum.

Aroma perlawanan membumbung ke angkasa Pretoria sejak muncul desas-desus bahwa de Klerk akan mundur dari pencalonan Presiden. Orang-orang yang awalnya memilih friksi pada kekuatan Kongres Nasional Afrika, kini berbalik mendukung Mandela, dan mengajak Singa Tua itu duduk semeja dalam perundingan.

Ketakutan rezim de Clerk memicu gelombang tekanan yang setiap hari meracuni atmosfer Pretoria. Pergerakan yang simultan membuat gerakan pribumi mendapat angin. Desakan dunia internasional ikut memicu kekhawatiran akan kecamuk perang saudara.

Mereka mungkin mengira bahwa Mandela tak mengetahui maksud mereka memotong jalan secara politis, saat sadar beberapa faktor utama kebangunan Afrika Selatan telah condong kepada Mandela. Orang-orang itu sedang mengincar jabatan untuk tampuk kekuasaan yang hampir pasti datang sebentar lagi.

Namun semua ini sedang terasimilasi.

Pertemuan sore ini bisa menjawab semua keraguan para pengikut di garis depan perjuangan anti-Apartheid. Sudah terlalu banyak kehilangan, tak perlu ditambah dengan duduknya para culas demi kata “pengakomodiran” kekuasaan. Persetan dengan itu, rutuk Leola.

“Bergegaslah. Mafuzu menunggumu bersama Kakari,” desak Manuti di pintu masuk.

Hampir berlari Leola menuju ruang yang ditunjuk Manuti. Ia langsung duduk di sebelah Mafuzu, di depan. Ia bisa mendapat intisari pertemuan, tapi tak tahu sudah sejauh apa isu yang mereka bahas.

“Kau terlambat, Leola,” Mafuzu berbisik lewat tengkuknya.

Senyum tipis tertarik dari sudut bibir Leola. “Maafkan aku. Aku batal menonton Spring Show di Pierneefteater, hanya untuk bisa ke sini selekas mungkin,” tukas Leola.

Lelaki di sisinya mengangguk, sepertinya maklum. Selanjutnya, Leola bisa dengan jelas mendengar apa saja yang dikatakan Mafuzu. Pergerakan kelompok perlawanan tidak lagi berada pada level yang bisa dianggap biasa.

“Ini sudah mengkhawatirkan. Para pejuang Zimbabwe dan para militer Cuba kiriman Castro yang selama ini membantu Mandela, sudah bertemu dan menyetujui adanya plot rahasia pengiriman senjata di perbatasan. Ini mungkin baik, tetapi tetap harus dipantau. ANC tak mau terlalu banyak senjata yang beredar. Akan berbahaya jika jatuh ke pihak oposisi.” Maklumat Mafuzu mengakhiri sesi pertama rapat di permulaan malam itu.

Lelaki itu melirik Leola, menetak mata gadis itu dengan pandangan heran. Leola disergap cemas. Tangannya membuka buku yang dibawanya, lalu mengeluarkan secarik kertas di antara lembarannya.

Semacam puisi, tetapi bukan. Itu jelas sandi rahasia berisi informasi penting dari kantor de Klerk. Intelijen de Klerk terlalu ceroboh memercayai para SAP yang tak pernah becus bekerja. Selalu saja ada hal penting yang entah bagaimana caranya bisa keluar melalui dinas-dinas terpisah di kantor itu.

Leola memberikan kertas itu pada Mafuzu, yang lalu menyerahkannya pada juru sandi untuk ditranskrip. Si juru sandi memisahan suku kata dalam puisi itu kemudian menarik huruf kedua dari setiap kata dan melekatkannya pada huruf terakhir di setiap kata berikutnya. Padanan huruf-huruf itu kemudian dilokalisir dan diterjemahkan. Tak tiga menit lebih lama, secarik kertas kecil lain sudah ada di tangan Mafuzu.

“Bahkan dinding pun bertelinga,” gumamnya cemas. “Intelijen sudah tahu dalam dua hari ini ada kiriman senjata masuk ke Pretoria dari gerilyawan Zimbabwe,” tukas Mafuzu.

Semua yang hadir tercekat.

Kini organisasi itu dihadapkan pada dua pilihan sulit. Jika mereka menggagalkan sergapan SAP terhadap kiriman senjata, ada kemungkinan gerakan mereka segera diidentifikasi sebagai faksi bersenjata ANC. Tetapi jika tidak, maka komando perlawanan yang seharusnya menerima kiriman itu akan ditangkap, dan itu melemahkan posisi mereka.

“Ini berbahaya. Mandela tidak aman.” Dengus Mafuzu.

**

“Mereka harus keluar dari distrik ini. Tidak seharusnya orang-orang kulit putih meracuni permukiman kami. Mereka merusak masa depan anak-anak kami!” Ubotu berteriak dari ujung jembatan. Teriakannya disambut gempita ratusan orang di belakangnya. Dua orang SAP waspada. Senjata di tangan mereka serentak berbunyi saat dikokang.

Seharusnya kejadian pagi ini bisa diantisipasi Mafuzu.

Semalam, Leola bersikeras bertemu dengannya untuk menyampaikan sesuatu yang berkenaan dengan nota rahasia yang diberikannya saat rapat. Mereka memang bertemu, hanya saja Mafuzu cenderung meremehkan secuplik infomasi yang menyebutkan bahwa sebuah gerakan masif sedang terbangun di distrik Equilla.

Ini di luar ekspektasi sayap Sosialis Demokratik. Secara de facto, lingkungan Equilla berada dalam pembagian wilayah yang mereka klaim. Namun secara faksional, terlalu banyak elemen inti dari kelompok bertikai yang bermukim di wilayah pesisir itu, dan yang tak diduga Mafuzu, elemen-elemen ini telah membangun friksi yang keras dalam waktu singkat.

Leola merasakan panasnya suasana di Equilla sejak isu pembebasan Mandela, dan faksi-faksi pendukung de Klerk mulai melemah.

“Itu tak beralasan, Leola,” Mafuzu mendelik pada gadis itu.

Sukar mendebat Mafuzu jika asumsi yang diberikannya lemah.

“Josef bilang, persekutuan nelayan Boli sudah menekan warga pendatang untuk tidak ikut campur. Transisi akan membuat mereka berpihak. Itu membahayakan. Mazinha tidak bisa menjamin keselamatan warga keturunan Italia dan Polandia.”

“Bagaimana dengan posisi orang Boer?”

“Kecuali mereka, Mazinha tak bisa memastikan apakah akan berdiri berseberangan dengan orang Boer atau justru menyuarakan perlawanan.”

Mafuzu gegas berdiri, menuju meja kerjanya, mengangkat telepon dan segera memutar sebuah nomor. Begitu tersambung, suara Mafuzu terdengar mengancam seseorang di sebrang telepon —yang belakangan diketahui Leola adalah Clarkeman, pimpinan Faksi Pertahanan Wilayah Utara. Clarkeman tertawa-tawa, berusaha mencairkan kecemasan Mafuzu dengan jaminannya tentang perkembangan keamanan di sepanjang wilayah utara.

Pembicaraan telepon seperti itu beresiko disadap intel SAP. Tapi, orang-orang pergerakan selalu punya cara mengelabui mereka dalam pembicaraan.

Sesaat kemudian, Mafuzu menutup telepon dan berbalik ke Leola, mengangkat bahunya dan tersenyum. “Pulanglah, Leola,” katanya tenang, “ketegangan ini terlalu memengaruhimu. Istirahatlah. Kita ada tugas di plaza Pretoria dua hari lagi. Sampaikan salamku buat Josef, dan…” Mafuzu menaikkan telunjuknya, “mintalah ia untuk tenang sambil mengawasi infiltrasi orang-orang Boer di kalangan nelayan Italia dan Polandia.”

Leola mengangkat wajahnya dan menatap mata Mafuzu. Gadis itu tersenyum. Entah itu senyum untuk apa. Leola bahkan tak bisa menenangkan hatinya setiap kali bertemu dengan mata lelaki itu. Mafuzu membalas tersenyum.

Infomasi yang diperolehnya tak jelas sumbernya, tapi entah bagaimana Leola sangat yakin bahwa sesuatu akan terjadi. Matanya mengumpulkan bias aurora yang membersitkan sisa visual cantik di atas langit Pretoria. Gadis itu tiba-tiba rindu semua orang yang pernah dikenalnya.

Bias aurora di langit itu pertanda musim akan segera berganti, mengantar kelembapan ke pesisir Balley Bay. Malam yang memang selalu dingin, kini mendadak lebih dingin saat terdengar sorak-sorai di kejauhan sana, entah di rumah siapa. Bergegas Leola masuk dan mengunci semua pintu, merapatkan jendela. Dari sela tirai jendela, Leola memandang keluar dengan cemas.

Sampai pagi, Leola duduk di situ.

**

“Usir mereka pergi dari lingkungan ini!” Teriak Ubotu lewat pelantang suara.

Leola tergagap karena kaget. Gadis itu sempat tertidur sedikit. Ia berdiri dan mengintip lewat jendela. Seakan tak percaya, mata kepalanya melihat ratusan orang melintasi jalan-jalan permukiman. Mungkin aksi ini sudah bermula sejak pagi. Orang berduyun-duyun, mengular, berteriak penuh amarah.

Leola gugup, sebab apa yang semalam begitu dicemaskannya pada Mafuzu, kini menjadi nyata di luar sana. Bagaimana caranya menghubungi Mafuzu, atau Mazinha? Orasi Ubotu yang ditingkahi teriakan-teriakan provokatif pendukungnya sudah sangat mengkhawatirkan. Namun itu tak lebih mengerikan, daripada melihat beberapa orang di antara massa yang marah itu, sedang memegang senjata tajam dan beberapa di antaranya berusaha menyembunyikan senjata api di balik kain yang membungkus tubuh mereka.

Lutut Leola goyah. Bayangan masa lalu berkelabat cepat di kepalanya.

Gadis itu lari ke kamar Josef, berniat membangunkan kakaknya. Namun setibanya ia di sana, Josef rupanya sedang berdiri di sisi jendela, mengintip keluar. Di tangannya ada senapan terkokang.

“Josef, apa yang kau lakukan?” Leola berbisik gusar.

Josef tak menoleh, matanya menatap lurus pada kumpulan orang di luar sana. Wajahnya merah karena tegang. “Kau tak menyampaikan kabar itu pada Mafuzu?”

Leola sudah mengira Josef akan menanyakan itu. “Sudah kusampaikan. Tapi Mafuzu tak percaya,” elak Leola, lalu bergerak menghampiri telepon.

“Percuma. Mereka sudah memutuskan aliran telepon dan listrik.”

Leola terperangah. Diletakkannya kembali gagang telepon pada posisinya. Aksi di luar itu tak main-main. Sabotase yang sudah mereka lakukan lebih dulu menunjukkan bahwa gerakan itu benar-benar direncanakan. Melumpuhkan jalur komunikasi, memutus aliran listrik, memblokir lalu lintas, dan berkumpul di jalan-jalan, adalah umumnya trik untuk mendahului setiap keributan di kota ini.

“Josef…” Leola berbisik. Disentuhnya lengan kakaknya itu.

“Ya, mereka sudah menutup semua jalan keluar tiga blok dari sini.”

“Apa yang akan kita lakukan?”

Yosef belum menjawab. Wajahnya tegang di balik tirai jendela. “Entahlah…” bisiknya ragu. Suara Josef bergetar, “mungkin aku harus menembak siapa pun yang melewati pintu rumah ini.”

Leola gemetar mendengar itu. Kakaknya itu cukup gentar untuk melakukannya. Kegugupan Josef bisa membuat mereka berdua mati percuma. Leola mengeratkan cengkeraman di lengan kakaknya. Matanya sesaat terpejam, sebelum kemudian terbuka, dan nanar.

“Ya. Tembak. Tembak saja setiap orang yang melewati pintu itu!” Desis Leola.

“Leola…” Josef berkedip, tak percaya baru saja mendengar kengerian dari bibir adiknya. “Biar kukatakan pada Ubotu dan orang-orangnya, bahwa kita adalah anggota kelompok Mafuzu.”

Leola menggeleng. “Aku tidak mau lantai rumah ini dibasahi darah turunan Lugatti lagi.”

Kemungkinan itu sudah dicemaskan Josef. Ia membenarkan Leola untuk alasannya. “Mereka tak akan percaya, sampai Mafuzu berdiri di antara kita dan mengatakannya.”

Josef tercenung. “Tapi, kau yakin kita akan melakukan ini?”

Leola mengangguk yakin. Bayangan masa lalu berkelebat lagi di kepalanya.

**

Kakeknya, Luzandro Lugatti, langsung terkapar saat sebuah dayung menetak kepalanya. Darah dari ubun-ubunnya meleleh, menutupi pelipisnya lalu menetes meresapi pasir. Kemarahan seorang Zulu, kawannya sendiri, tak tertahan lagi setelah SAP mendobrak hampir sepuluh rumah nelayan di pesisir Balley Bay dan menembak mati delapan orang yang mereka prasangkai sebagai pengikut Mandela dan Mbeki.

Tak ada hubungan antara imigran Italia dengan politik represif de Klerk. Tapi, orang-orang Zulu tak peduli. Mereka dibutakan oleh kenyataan bahwa warna kulit Luzandro berbeda. Putih tetaplah putih, dan tentu banyak bedanya jika bercampur dengan orang-orang hitam.

Tubuh Luzandro masih bernyawa ketika mereka seret ke rumah ini. Di ruang depan, mereka campakkan tubuh Luzandro, membuat luka di ubun-ubunnya kian membanjirkan darah. Orang-orang itu berteriak-teriak, memaki dalam bahasa Zulu. Kemarahan yang sebenarnya tidak perlu lagi.

Luzandro yang sudah mandi darah tak sedikit pun menerbitkan belas kasihan di hati mereka, saat sebilah panga menetak punggung Luzandro yang tertelungkup, Leola tak kuasa menjerit lagi. Darah kakeknya seperti menghitam di mata Leola —tujuh tahun umurnya ketika itu. Gadis kecil itu histeris, tercekat dalam ketakutan, sampai-sampai ia tak lagi sadar mengencingi celananya sendiri.

Demi Tuhan —jika Dia memang ada—sepertinya kemarahan orang-orang itu telah membunuh semua kebaikan di muka bumi.

Mungkin itu akan menjadi ketakutan yang sama jika saja Leola juga melihat bagaimana ayahnya ditembaki di luar rumah ini, setelah keributan massal di wilayah barat Pretoria menjalar hingga ke pesisir. Ibunya, menyerahkan bayi Leola ke tangan Josef, lalu berusaha menahan kemarahan orang-orang itu sambil berlutut memohon.

Para penyerang tak peduli. Senjata tetap menyalak, membuat tubuh ibunya tersentak, melayang sebelum berhenti di bawah jendela. Josef melihat semuanya. Josef tak pernah sudi menceritakan kejadian itu pada Leola, hingga detik ini.

“Ya, Josef. Tembak siapa pun yang melewati pintu itu.” Sekali lagi, Leola mengingatkan kakaknya. Gadis itu menghunus kecemasannya.

**

Mafuzu terkejut setengah mati, saat ditemui Saima, yang datang tergopoh-gopoh mengabarkan adanya keributan di Equilla. Mafuzu langsung teringat apa yang dicemaskan Leola padanya semalam itu.

“Siapa?!”

“U…botu!” Saima masih berusaha bernapas dengan benar.

Mafuzu kini menyalahkan dirinya. Dia kenal tabiat Ubotu, tapi entah kenapa orang nomor satu di faksi Hutu itu berhasil membuatnya percaya. Entah kenapa pula ia tak begitu peka bahwa kecemasan Leola punya alasan.

“Kumpulkan orang-orang!” Teriak Mafuzu. Darah menjalar cepat di semua pipa darahnya. “Kita harus menghubungi Mazinha dan Fufu, agar mereka tidak terpancing provokasi Ubotu.”

“Percuma. Orang-orang Ubotu telah menyabot sambungan telepon, juga mematikan pasokan listrik di sepanjang pesisir Balley Bay dan bagian timur Pretoria.”

“Brengsek!” Mata Mombaza menyala. Dia marah sekali.

“Sampaikan pada Rake dan Frank untuk menemuiku di Equilla bersama semua orang-orangnya. Katakan juga, aku sedang menuju ke sana!”

Saima yang belum usai mengatur napasnya, harus kembali berlari ke rumah Rake. Di sana ada radio yang bisa ia gunakan untuk memberitahu Frank perihal permintaan Mafuzu. Di kejauhan tampak asap hitam pekat dari ban yang dibakar, membumbung ke angkasa.

Mafuzu melompat ke Jeep tuanya, lalu memacu mobil itu menembus jalanan Pretoria yang berdebu. Ia harus sampai ke Equilla, segera ke rumah keluarga Lugatti. Ia harus menemui Leola.

Tak sampai tiga menit, matanya sudah melihat kumpulan orang-orang di persimpangan empat jalan Balley Bay. Ruas jalan di bagian kiri akan merimpang pada enam jalur kecil yang memisahkan enam blok perumahan di sektor Equilla. Mafuzu menekan kuat-kuat klakson mobilnya, menyibak kumpulan orang-orang yang langsung meneriakinya penuh amarah.

Sepanjang jalan ini, orang berduyun-duyun ke arah perpotongan enam jalan kecil. Rupanya, di situlah Ubotu memusatkan aksinya. Taktik Ubotu itu memang jitu. Menguasai jalan itu, tak hanya akan memblokir semua ruas jalan di sektor Equilla, tetapi juga seketika melumpuhkan semua akses ke pesisir Balley Bay dan bagian timur Pretoria.

“Apa sebenarnya yang kau rencanakan Ubotu,” Mafuzu bergumam dari belakang kemudi. Matanya liar mencari-cari sosok Ubotu. Tak ada. Hanya terlihat olehnya Bakele dan tiga orang suruhan Ubotu lainnya.

Mafuzu mengerem mobilnya lima meter dari empat kaki-tangan Ubotu itu. Ia berteriak memanggil Bakele, dan orang itu segera menghampirinya.

“Kegilaan macam apa ini?!” Desak Mafuzu. Wajahnya penuh peluh.

Bakele menatap sinis padanya. “Ini perintah Ubotu!”

“Aku tahu. Tapi kenapa Equilla?!”

“Tanyalah sendiri padanya.”

Mafuzu menatap tajam pada Bakele, yang segera paham arti tatapan itu. Bakele menyerah. “Ia di ujung lain jembatan Manuzi,” ujarnya kemudian.

Ubotu tak pernah jauh-jauh dari markas kelompoknya. Di ruas jalan Bleekend, 200 meter dari ujung lain jembatan Manuzi, berdiri markas kelompok Ubotu yang selalu dijaga ketat orang bersenjata.

Perasaan Mafuzu kian cemas saat menyadari tak seorang pun anggota SAP di sekitar tempat ini. Dari belakang kemudi Jeep-nya, Mafuzu kini bingung pada pilihan, apakah lebih dulu menyinggahi Leola, atau menemui Ubotu untuk meredakan situasi ini.

Orang-orang hanya berkerumun di jalan, dan belum sampai merusak properti warga Equilla. Mungkin saja mereka pun sedang menunggu perintah. Leola aman. Ubotu harus ia temui agar blokade ini diakhiri.

**

Ubotu tegak berdiri di halaman markasnya saat Jeep Mafuzu berhenti tepat di dekat pohon Jacaranda. Mafuzu menunjuk muka Ubotu, dengan sinar mata menyala.

“Kau gila! Ini bisa membuat SAP segera memenuhi tempat ini.”

Ubotu tersenyum. “Begitu, ya?”

Kesinisan Ubotu menyadarkan Mafuzu bahwa ternyata gerakan ini sudah sepengetahuan SAP. Pantas saja, hanya ada dua personil SAP terlihat di sektor ini.

“Hentikan ini, Zaili!” Mafuzu menyebut nama kehormatan asal suku Ubotu.

Ubotu menggeleng. Tampak sekali Ubotu senang membuat Mafuzu terpojok. “Kami sudah dengar kabar soal rencana masuknya senjata dari Cuba lewat perbatasan Zimbabwe. Kami tak tahu apakah SAP mengetahui juga kabar itu. Tapi aku bisa jamin, mereka tak mendapatkan informasi soal itu dariku.”

“Kau tidak…?”

Ubotu menepiskan tangannya. “Tenanglah. Namamu tak ada dalam daftar SAP. Apa yang kaulihat hari ini adalah bayaran dari sedikit informasi yang kuberikan.”

“Kau berusaha memerasku dengan aksi hari ini.”

“Secara politis aku harus menggunakan peluang,” Ubotu memiringkan kepalanya. “Ya. Tapi ini lebih tepat disebut…pertukaran.”

Mafuzu ingin segera memukul mata orang di depannya ini. Pertukaran?

“Dengar Ubotu!” Geram Mafuzu, “kau berikan saja namaku pada SAP. Aku tak peduli, jika itu memang hendak kau lakukan. Kami sudah hitung semua resiko, termasuk jika SAP hendak menangkap kami.”

Mendadak Mafuzu sadar betapa dungunya Ubotu. “Kami lebih solid dari kelompok mana pun, Ubotu. Orang-orang Zulu tak pernah melanggar janji.”

Ubotu, lelaki pendek di depan Mafuzu itu bahkan tak memperhitungkan kemungkinan bahwa Mafuzu akan menolak. “Aku tahu setiap anggotamu di sektor Equilla.” Gertak Ubotu.

“Justru itu. Kau masih berdiri di hadapanku sekarang ini karena jaminan dan perlindungan mereka. Orang-orang Italia dan Polandia tak seperti dugaan kalian. Mereka tak pernah setuju dengan regresi ini. Sepenuhnya sadar bahwa apa yang diperjuangkan Mandela dan Mbeki adalah hal yang penting untuk Afrika Selatan.”

“Aku tak percaya!”

“Kau pikir dari siapa semua informasi intelijen SAP keluar dari kantor de Klerk? Itu kerja mereka bertahun-tahun. Mereka membantu Madiba seolah-olah dialah bapak mereka.”

Ubotu tercenung. Lalu mukanya mendadak pias, saat sebuah letusan terdengar dari sektor Equilla, sedetik kemudian. “Sialan. Apa saja kerja si Bakele itu. Aku belum memerintahkan apa pun.”

Mafuzu mundur, mengambil ancang-ancang naik ke mobilnya. Ditunjuknya muka Ubotu. “Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Leola, maka kau tanggung akibatnya. Orang Zulu akan mencabut persekutuannya dengan Zaili.”

Itu ancaman serius. Mafuzu tidak main-main jika sudah mengancamkan hal seperti itu. Di Pretoria, ucapan seperti itu dampaknya lebih berdarah-darah tinimbang saling melempar kursi di perundingan, atau tembakan pistol SAP di siang hari. Ubotu panik mendengarnya. Sungguh, tak ia perhitungkan Mafuzu akan bilang begitu.

Mobil Mafuzu dipacu kembali ke sisi lain jembatan Manuzi. Ubotu menyusul dengan tiga kendaraan yang dimuati orang-orang bersenjata. Saat ketiga mobil ini tiba di perpotongan jalan, tampak oleh Mafuzu, orang-orang sudah berlarian panik.

Leola. Hanya gadis itu yang seketika melintas di benaknya.

Jeep tua itu ia paksa menerobos kerumunan manusia yang memenuhi jalan Equilla dari arah timur. Klaksonnya berteriak-teriak, berusaha membelah arus orang-orang. Kepanikan tergambar jelas di wajah Mafuzu, saat dilihatnya sejumlah orang bersenjata sedang merangsek, berusaha memasuki rumah keluarga Lugatti.

**

Josef menyeringai jeri, mendengar luapan provokasi dari kerumunan orang di ujung jalan yang merimpang ke jalan dua jalur di sepanjang Balley Bay. Matanya tajam mengawasi dari balik tirai jendela. Tak ada yang lebih penting baginya kini, kecuali keselamatan Leola. Ia sudah berjanji pada kakeknya, akan menjaga adiknya itu dengan taruhan nyawa sekali pun.

Selain sepucuk senapan shootgun, ia masih punya sebuah revolver otomatis 9mm di laci pada sisi ranjangnya. Kini pistol itu dalam genggaman Leola. Ia tatap raut wajah tegang adiknya. Ibanya timbul. Semua ini tak seharusnya ada dalam hidup Leola. Bukan, bukan seperti ini seharusnya.

Gagang senapan di tangannya mendadak licin. Tegang membuat telapak tangannya berkeringat. Tapi kerumunan orang-orang marah di luar sana makin tak terkendali. Seseorang sedang berorasi dalam bahasa Hutu menggunakan pelantang suara. Setiap kali seruannya berakhir, akan serentak disambut teriakan kerumunan di sekitarnya.

Apa yang sebenarnya sudah mereka rencanakan?

Josef tak berani menduga-duga. Ia hanya tahu, mereka berdua akan menembak siapa pun yang melewati pintu jika keadaan tak terkendali, saat orang-orang itu mulai menjarah rumah-rumah di sepanjang jalan ini.

“Fokuslah, Josef. Fokus,” gumam Josef untuk dirinya sendiri.

Leola berdiri tegang di balik pintu yang memisahkan ruang tengah dan dapur. Revolver otomatis di tangannya sudah ia kokang. Kengerian tergambar di wajahnya.

Di mana kau, Mafuzu, jerit hati Leola.

Hanya lelaki yang disayanginya itu yang bisa meredam kegilaan Ubotu. Sukar ia bayangkan kejadian hari ini, padahal ini sudah diperkirakannya sejak semalam, saat Ubotu menolak berbicara dengan dua faksi bersenjata di utara Pretoria.

Terdengar benturan benda keras di pintu depan. Batu-batu beterbangan, menghantam kaca, membuatnya pecah berderai. Leola mengarahkan pistolnya lurus ke depan. Diliriknya Josef yang bersandar didinding ruang tengah, menopang punggungnya dari hentakan senapan jika sewaktu-waktu ia terpaksa menembak.

“Keluar kalian!” Seru beberapa suara sekaligus. Mereka sudah mulai merusak tanaman, membalikkan pot, dan menjungkir-balikkan ayunan besi di beranda depan. Tirai dari jendela yang tak lagi berkaca, melambai-lambai diterpa angin.

Tiba-tiba pintu depan pentang terbuka, terbanting dengan suara keras. Dua orang lelaki menerobos masuk. Mata mereka liar. Wajah dan dada mereka berpeluh.

Josef berinisiatif menembakkan senapan di tangannya ke plafon, memberi peringatan agar orang-orang itu tak berusaha melewati ruang tengah. Benar saja. Dua orang yang sudah menjejak ruang tamu, kembali melompat keluar. Sebagian orang-orang di luar rumah buru-buru mencari perlindungan.

Tapi sebagian lagi justru siaga. Seolah-olah mereka menemukan lawan sepadan bagi senjata-senjata di tangan mereka. Sepucuk AK-47 menyalak keras, saat disapukan ke dinding beranda depan.

Josef merapatkan punggungnya. Pertahanannya terlalu terbuka karena posisi jendela di sisi ruang tengah tepat mengarah padanya. Jika ada penyerang yang memasukkan moncong senapan otomatis ke jendela itu, peluangnya sangat tipis untuk selamat.

Ia minta agar Leola merunduk, lalu merapatkan tubuh ke dekat bingkai jendela. Itu artinya, Leola harus menembak siapapun yang tampak dari posisinya sekarang.

Apa yang diperhitungkan Josef memang terbukti. Seorang bersenjata melihat jendela itu, menghampirinya, mencoba mengintip ke dalam. Saat didapatinya Josef sedang berdiri siaga, dan mengarahkan senjata ke pintu belakang dari posisinya di ruang tengah, orang itu langsung bersiap membidik Josef. Ia meraba pelatuknya.

DOR!!

Lelaki bersenjata itu terjengkang, menimpa perdu pagar, membuat senjata otomatis di tangannya ikut terlepas. Sebuah lubang di bagian bawah lehernya langsung membuatnya mati. Kawannya-kawannya kini lebih awas, lebih siaga dan waspada.

Leola terpana. Gadis ini hampir-hampir tak percaya bahwa ia baru saja membunuh seorang penyerang yang nyaris saya menembak Josef. Ia menangkap bayangan yang menghalau sinar matahari, sebelum mengintip dan melihat orang itu siap membidik. Buru-buru Leola mendahuluinya. Pistolnya meledak, seketika membuat liang di pangkal leher orang itu.

Josef melirik adiknya. Ia tersenyum kecut. Telinganya juga menangkap teriakan dari luar rumah. Seperti perintah agar berhenti menembak dalam bahasa Hutu. Wajah Josef dan Leola kian tegang.

Josef meninggalkan posisinya, dan beralih ke ambang pintu dapur. Niatnya cuma satu; ia tak ingin para penyerang menerobos pintu dapur dan mendapati mereka berdua di ruang tengah. Leola, ia tinggalkan di sana, tetap menjaga jendela, membelakangi pintu yang memisahkan ruang tamu dan ruang tengah. Posisi Josef sekarang cukup bagus untuk mengawasi dua pintu sekaligus.

Terdengar langkah-langkah kaki seperti sibuk di lantai beranda. Tak ada lagi pintu yang bisa menghalangi siapa pun masuk ke ruang tamu. Terdengar juga suara orang-orang dari arah belakang rumahnya. Kelebatan orang-orang yang bergegas mengepung membayang lewat tirai. Josef waspada. Senjata di tangannya terarah ke pintu dapur. Matanya awas sekali.

Konsentrasinya pada orang-orang di belakang rumah, membuatnya lalai pada seseorang yang kini nyaris melewati pintu ke ruang tengah. Itu pula yang membuat Leola terkejut, seketika membalikkan tubuh sambil melepaskan tembakan berikutnya.

Sekali lagi, tembakan Leola membuat sasarannya terjengkang, jatuh berdebam ke lantai ruang tamu.

**

Amarah Mafuzu menjilam. Jeep-nya belum berhenti benar, saat ia melompat sigap dan berteriak, memberi perintah dalam bahasa Hutu agar orang-orang bersenjata di halaman rumah Leola berhenti menembak. Hampir bersamaan, Ubotu pun sampai di sisinya. Ikut marah-marah, bahkan menempeleng beberapa orang anak buahnya yang dekat dari posisinya.

Mafuzu melompat ke beranda. Wajahnya cemas. Ia harus menemukan Leola, membawa pergi gadis itu, sebelum Ubotu membereskan urusan yang dimulainya sendiri: membubarkan orang-orang ini.

Tergesa-gesa Mafuzu melewati pintu dan masuk ke ruang tamu. Pecahan kaca dari jendela yang terkena batu terserak, mengotori lantai dan sofa. Ia harus menemukan Leola. Kakinya melangkah ke ruang tengah. Saat itulah, sesuatu meledak, membuat dada kirinya panas. Panas yang menyengat, perih luar biasa. Membikin tubuhnya terlempar, terbanting keras ke lantai. Ekor matanya sempat mendapati sosok orang yang dicintainya, Leola, sedang berjongkok takut di sisi jendela.

Ketakutan di wajah gadis itu seketika berganti kejut yang sangat. Demi melihat tubuh yang terkapar di lantai ruang tamu adalah Mafuzu, histerislah gadis itu. Ia memburu, menjatuhkan dirinya ke sisi Mafuzu, meraba wajah dan leher lelaki itu.

Leola terkejut saat menyadari ada orang yang hendak melewati ambang pintu menuju ruang tengah. Refleks, Leola melepaskan tembakan dan membuat orang itu terjengkang. Peluru pistolnya mengenai sasaran dengan telak. Leola tak menyangka orang itu adalah Mafuzu.

“Kau selamat Leola. Kau selamat.” Kata lelaki itu seraya tersenyum. Mafuzu datang menjemputnya, seperti janjinya.

Setelah mengatakan itu, Mafuzu tak bergerak lagi. Lelaki yang dicintainya itu kini terbaring tak bernyawa di lantai ruang tamu, tepat di posisi Luzandro Lugatti dulu, yang tertelungkup mati dalam kenangan di kepala Leola. (*)

Molenvliet, 2013

Twitter: @IlhamQM

 

 

(Dipublis pertama kali di Sastra Digital, Edisi Khusus Juli 2014)

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: