[Cerpen] King Mati di Luar Bastion | BKK | Sabtu, 12 April 2014

King Mati di Luar Bastion

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Iles_du_salut_port_drawing_dessin

#1

HARI cerah, matahari terang di bandar. Satu lusin serdadu patroli laut waspada di seberang batas yang ditandai tiang-tiang merah. Ada seribuan orang marah, siaga di pesisir ke arah dermaga. Ada seribuan orang marah lainnya, berkumpul di luar tembok bastion. Mungkin mau menyerang? Belum.

Tetapi dua ribuan orang marah itu tak terima William de Jeirst dan anak buahnya bikin ekstirpasi di sepanjang muara. Habis pohon kopi orang ia suruh tebang. Controleur Johan sudah menduga, pastilah si dungu Jeirst itu habis paksa orang-orang bikin contingenten.

Di luar tembok bastion sudah siap sedia seribuan orang marah nan waspada. Ada benda-benda tajam di tangan mereka. “Mana itu Jeirst!” Teriak Rengui, “ia jangan suka bikin verplichte leverantien seenak perutnya! Ia main bunuh orang sembarangan!”

Controleur Johan panik, demi menyadari seribuan orang marah itu tak akan membiarkan manusia mana pun keluar dari bastion. Johan menyuruh seorang klerk segera mencari Jeirst.

Johan sungguh tak mau ada huru-hara. Berulang kali Jeirst itu bikin perkara, jadi biar si dungu itu yang tanggung akibatnya. Johan tak mau lagi beri oktroi pada kemanakannya itu. Perkara terakhir yang ia bikin sungguh rumit dan berbahaya. Tiga kapal belum tiba dari Rumbia, dan itu bisa jadi peluang bagi dua ribuan orang marah untuk menyerang mereka. “Habis kita, habis!“ Keluh Controleur Johan.

Tapal-tapal batas sudah dicap oleh Berckenrode. Itu garis moral yang lembab.

#2

Tersiar kabar perihal seorang pemuda yang ditikam serdadu mabuk di depan kedai dalam wilayah Moronenees Dorp, tak jauh dari bastion. Saat dikejar, serdadu mabuk itu menghilang di depan gerbang bastion. Belakangan mereka tahu, ternyata Jeirst orangnya. Padahal pangkatnya komandan.

Pemuda yang ditikamnya tak tahu apa-apa. Waktu berpapasan, Jeirst sekonyong-konyong menghinanya, mengatainya: babi. Walau tersinggung, pemuda itu diam saja, sekaligus enggan saat ia disuruh berlutut. Bukan main marahnya si Jeirst, hingga langsung ia tikam lambung pemuda itu sampai tembus.

Pemuda itu berusaha mencari pertolongan. Ia berjalan limbung menyeret kaki, mendekap lambungnya, kemudian jatuh mati tepat di depan gerbang bastion. Suasana langsung gempar, sebab ini terjadi di luar bastion. Sesuai perjanjian, orang pribumi tak boleh masuk bastion. Tapi orang Belanda pun tak boleh seenaknya keluar bastion dan bikin ribut. Terlebih lagi di Moronenees Dorp. Itu bakal dianggap penghinaan.

Kingian, nama pemuda yang mati ditikam Jeirst itu. Ia tak salah apa-apa.

Mayat King yang mandi darah di luar bastion, langsung diangkut keluarganya. Ia dibaringkan di ruang tengah rumah ayahnya, di hadapan ibunya, nenek dan saudara-saudaranya. Tak layak King dibikin begitu. Apa salahnya menolak berlutut?

“King tak pernah berlutut di depan orang sepanjang hidupnya,” rintih ibunya. Mata ibunya basah saat menatap Rengui. Sepupu King itu mengangguk, langsung pergi entah ke mana. Pengurus jenazah sudah datang, mau ukur mayat King untuk liang lahat.

#3

Makin pusing Controleur Johan. Begitu Jeirst datang ke hadapannya, ia maki-maki lelaki itu. Ia tempeleng Jeirst hingga terpelanting. “Kenapa kau dalangi keributan di luar bastion? Kau kira karena jabatanmu, orang-orang itu akan segan mencelakaimu?” Kecam Johan.

Jeirst tak bisa bicara. Ia ketahuan berjudi, sekaligus memadu-rayu seorang perempuan cantik piaraan pemilik kedai. Jeirst marah-marah karena kalah judi, berhutang dua botol tuak, lalu minum sendirian sampai mabuk. Saat pulang, ia berpapasan dengan Kingian. Ia lecehkan pemuda itu, lalu ditikamnya tanpa alasan. Begitulah ihwal ulah Jeirst yang bikin seribuan orang berhimpun di luar bastion dan seribuan lainnya mengepung pesisir.

“Kalau memang benakmu ada isinya,” murka Johan, “maka pikirkan cara agar orang-orang itu tak meringkusmu, mengiris pipa darah di lehermu. Jangan sampai aku yang ambil alih ini perkara, bisa-bisa kutembak kepalamu!”

Piaslah muka Jeirst. Dikiranya, karena yang mati itu pemuda pribumi, lantas Johan akan membelanya. Ia lupa, gara-gara ulahnya pada pemuda lain juga hingga Johan kehilangan Luvina—putri bungsunya yang jelita itu.

Murka Johan sekarang persis murkanya saat mendapati Luvina menggelantung mati di cornie kamarnya. Cuma gara-gara Luvina ketahuan pacaran dengan pemuda pribumi bernama Gamara.

Jeirst melapor soal si Gamara itu pada Johan, sehingga Jeirst diberi perintah menahan pemuda itu di kantor asisten Controleur selama dua minggu. Biar pemuda itu jera. Tapi Jeirst kelewatan. Gamara tak cuma ia tahan belaka, tapi ia aniaya hingga pecah tempurung lututnya. Bagaimana Controleur Johan tak sering memakinya sebagai orang dungu, bila ia sering bikin ulah dan bertindak di luar perintah.

Luvina tahu ulah Jeirst. Gadis itu marah besar pada ayahnya, menolak makan, juga tak mau bicara pada ibunya. Luvina muak pada Jeirst. Tak ada obat buat menyatukan tulang tempurung lutut yang pecah. Sepekan kemudian Gamara mati karena lukanya tak kering. Kabar kematian Gamara sampai ke telinga Luvina.

Mendadak Luvina depresi. Gadis itu mulai meracau hendak mati saja bersama Gamara, namun ancaman itu cuma dianggap kosong belaka. Di hari ketiga kematian Gamara, seorang jongos berteriak histeris dari kamar Luvina, saat menemukan tubuh setengah telanjang gadis itu menggelantung kaku di tali dari sobekan tirai yang diikatkan pada cornie. Leher Luvina patah dan ia mati tercekik.

Johan dan istrinya berkabung. Murka Johan hampir membuat Jeirst sial. Jika saja lelaki itu tak menghiba atas nama ibunya —Janet, adik Johan— pastilah kepala Jeirst sudah berhias liang peluru dari pistol Johan.

#4

Perihal orang-orang marah di luar bastion, pikiran Johan terbagi dua. Ia pasti akan menghukum si Jeirst, tapi tak mungkin ia serahkan kemanakannya itu seperti yang diminta keluarga King.

Hawa amarah dari orang-orang di luar bastion terbawa angin, menyelinap lewat dakvenster, masuk ke perasaan setiap orang di dalam bastion, membuat mereka gentar. “Habis kita, habis!” Cemas mereka.

“Panggil itu Jeirst ke sini!” Teriak Johan pada dua orang klerk, “beri ia senapan buat pimpin anak buahnya yang kemarin bikin ulah di muara!” Seraya matanya terus mengawasi seribuan orang di luar bastion dari jendela ruang kerjanya.

Di luar bastion, di antara seribuan orang marah, berdiri juga kerabat Kingian yang dibakar dendam. Ada Rengui dan selusin saudaranya, sambil menenteng senjata Taa’Owu dan Lambonga Asa’Sula.

Sejak dapat perintah dari kepala keluarga Hiang, Rengui langsung berkeliaran di setiap Moronenees Dorp. Siapa pun yang mendengar nasib King, langsung ikut marah, menurunkan senjata yang sudah lama jadi hiasan dinding. Mereka janji pada Rengui, akan berkumpul besok pagi di gerbang bastion.

Kasak-kusuk di luar bastion bikin serdadu Belanda cemas. Jeirst sudah menyiagakan 500 serdadu berjaga di sepanjang dinding bastion. Gerbang bastion cukup kokoh karena disambung ala Zwaluwstaart —sambungan yang sukar bergeser. Di lepas pantai sana, siaga juga 300 serdadu laut. Controleur Johan sudah kirim pesan darurat ke Rumbia.

#5

Memasuki waktu senja, suasana bastion mencekam. Orang-orang yang marah tiba-tiba lenyap. Jalanan kosong dan kedai juga senyap. Semua orang kumpul di Laica Ngkoa, sedang kirim doa untuk King.

Larut malam, lonceng di pos jaga bastion bagian selatan tiba-tiba berdentang ribut, bercampur tembakan beruntun dua serdadu jaga yang panik. Orang-orang Belanda dalam bastion jadi ikut ketakutan. Mereka mengira, orang-orang marah sudah datang menyerang.

Saat serdadu sedang berjaga, obor-obor mendadak mati, lalu ada kegaduhan dalam kegelapan. Tak ada yang tahu apa yang terjadi sampai seorang serdadu jaga lain kembali menyalakan obor.

Di lantai pos jaga, ada enam serdadu bergelimang darah mereka sendiri. Ada liang luka di setiap leher mereka. Para serdadu jaga itu tewas setelah disergap dan leher mereka ditusuk sekelompok kecil orang berbaju hitam. Orang-orang yang segera lenyap, secepat mereka datang. Dari aroma lukanya, mereka ditusuk belati bertuba. Controleur Johan lunglai saat dilapori kejadian itu.

“Dungunya itu Jeirst, bikin perkara begini berat.” Gumam Johan.

Pembangkangan ini kian berbahaya. Orang-orang marah itu tadinya adalah orang-orang patuh. Tak suka membantah, walau pajak sering naik tiba-tiba. Sejak Jeirst bikin ulah di muara, lalu menikam Kingian, seketika amarah mereka sukar diredam.

Siasat di luar bastion sudah matang saat pagi datang, usai malam yang cekam.

#6

Dua hari berikutnya, jarak antara para serdadu laut dan orang-orang yang marah di pesisir hanya 400 meter, di batas tiang-tiang merah. Setiap titik ego sudah ditempati. Di horison, tiga kapal dari Rumbia sedang laju ke dermaga. Datangnya tiga kapal itu akan bikin imbang kekuatan dua ribuan orang marah di luar bastion dan di pesisir. Jeirst dan 500 serdadu yang berjaga di bastion sangat yakin menang: mereka punya senapan dan meriam.

Siang belum penuh, namun bandar sudah panas.

Tiga kapal dari Rumbia sudah lego jangkar 400 meter di lepas pantai. Meriam-meriam kapal dan meriam-meriam di bastion sudah diarahkan, siap ditembakkan untuk bikin kocar kepungan di pesisir dan di luar bastion. Controleur Johan punya siasat pelarian sendiri: saat pelarian nanti, meriam-meriam kapal harus menembak, buat bikin kacau kerumunan orang-orang di luar bastion. Begitu juga saat mereka tiba di dermaga, maka meriam bastion harus menembak, biar lantak kumpulan orang di pesisir.

Jeirst buru-buru menurunkan 10 regu serdadu untuk menghadang orang-orang di luar bastion. Ia mengancungkan pedang sabre tinggi-tinggi. Aba-abanya membuat 10 regu serdadu bergerak. Orang-orang di luar bastion langsung bikin tiga lapis barisan, menyongsong pasukan Jeirst. Gelombang manusia berbenturan. Sabre beradu Taa’Owu, Golok Daun Liu, dan Dadao. Meriam dari kapal dan senapan meletus. Peluru mencari sasaran.

Rengui memutar Lambonga Asa’Sula hingga menyibak kerumunan orang yang sedang berkelahi. Matanya liar mencari Jeirst. Begitu Jeisrt terlihat, Rengui mengejarnya, melompat dan menetaknya dengan Taa’Owu. Sembari bertahan, sengit Jeirst menangkis serangan, tapi berkali-kali sodokan Lambonga Asa’Sula di tangan Rengui bikin Jeirst terdesak. Jeirst jatuh berlutut. Belum sempat lengannya naik menangkis, Taa’Owu dengan cepat berbalik arah.

Dendam kerabat Kingian, juga kematian Gamara —kakak Rengui— terbalas. Jeirst mati dengan leher terbuka. Ia dimakan Taa’Owu. Tapi, Controleur Johan berhasil lolos. Serangan 10 regu serdadu berhasil mengalihkan perhatian.

Johan dan keluarganya berhasil mencapai dermaga. Orang-orang marah memburu mereka. Tapi meriam-meriam di bastion menembak, meledakkan bola besi di pasir dan menghantam batang kelapa. Kepungan sejenak kocar-kacir. Johan buru-buru melompat ke perahu, menaikkan istrinya dan beberapa lainnya. Para serdadu buru-buru mendayung menuju kapal. Johan berhasil naik dan berdiri di anjungan. Tangannya terangkat, dan saat ia turunkan, delapan meriam kapal meletus bergiliran. Orang-orang di pesisir bergelimpangan.

Pertarungan kini pindah ke laut.

Puluhan perahu berisi lima orang merapun tiga kapal Belanda, berkelahi dan menewaskan para serdadu laut. Teriakan, erangan sakit, dan gaduh. Darah bercampur buih ombak. Dua orang berhasil memasang bambu mesiu, meledakkan api yang segera membakar hebat dan melubangi lambung dua kapal.

Tetapi, kapal Controleur Johan berhasil lolos, bersiap putar haluan ke arah Rumbia.

Hari ini banyak orang mati. Orang-orang marah tak bubar, tapi menyerbu bastion untuk merebutnya. Air laut merah, mayat-mayat mengambang, terantuk-antuk ke kayu kapal yang karam separuh. Pesisir ini bak kubangan mayat. Anyir darah dan bacin laut bercampur, serupa warna tembaga, serupa warna keju Gouda yang tersiram minyak. (*)

Molenvliet, Desember 2013

Twitter: @IlhamQM

 

Catatan:

*Bastion: kubu pertahanan/benteng

*Ekstirpasi: penebangan tanaman milik rakyat, bertujuan mempertahankan harga rempah tak merosot saat hasil panen berlebihan

*Contingenten: istilah untuk hasil bumi yang wajib diserahkan sebagai pajak

*Verplichte Leverantien: penyerahan wajib, atau kewajiban menyerahkan hasil bumi dengan harga yang ditetapkan VOC

*Klerk: pegawai

*Oktroi: hak-hak istimewa

*Berckenrode: lengkapnya Frans van Berekenrode (1625-1635), seorang pengukur tanah yang juga ahli membuat peta grafis hitam-putih

*Moronenees Dorp: kampung Moronene

*Cornie: hiasan berupa profil mendatar di atas pintu

*Dakvenster: jendela pada atap

*Lambonga Asa’Sula: sejenis tombak bermata satu dengan pisau sisi ganda

*Zwaluwstaart: sambungan ekor burung

*Dadao: parang besar yang dapat memenggal kepala dalam satu tebasan

*Taa’Owu: golok bertepi tajam satu sisi, biasa digunakan untuk kavaleri dan infanteri pasukan Lampio’O

*Keju Gouda: keju bundar kuning dari susu sapi, namanya diambil dari kota Gouda di Belanda.

 

(Berita Kota Kendari, halaman Sastra dan Budaya, Sabtu, 12 April 2014)

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: