[Esai] Si Jenaka Kwee Tek Hoay

Si Jenaka Kwee Tek Hoay

Si Jenaka Kwee Tek Hoay2

PERIODISASI sastra yang memuat sejarah kepengarangan Indonesia sejak 1920-an itu, tidak mengapreasiasi karya-karya sastra sebelumnya. Padahal kesusasteraan Indonesia juga dibangun oleh karya-karya sastrawan Melayu-Tiong Hoa. Beberapa kritikus sastra menyebut periodisasi itu tidak jujur. Periodisasi itu terbentur sikap politis kolonial Hindia dalam Commissie Voor de VoLfcslectuur.

Claudine Salmon, seorang peneliti Perancis, mencatat 3.000 karya sastra dihasilkan oleh para sastrawan Melayu-Tiong Hoa seabad lalu. Artinya, sejak akhir abad ke-19, para sastrawan Melayu-Tiong Hoa sudah berkontribusi untuk sastra Indonesia.

Nama yang paling menonjol adalah Kwee Tek Hoay. Novelis dan penulis drama kelahiran Bogor, 31 Juli 1886, ini adalah pemimpin surat kabar, bahkan menulis buku sejarah dan agama. Dua karya fenomenalnya, Drama di Boeven Digoel dan Zonder Lentera. Sayangnya, nama Kwee Tek Hoay tidak masuk dalam periodisasi sastra Indonesia, bahkan jarang dikenal.

Karangan Kwee Tek Hoay pada 1932 itu mampu mengangkat persoalan kecil ke dimensi yang lebih besar. Simaklah Zonder Lentera, yang bertumpu pada masalah kecil di lingkungannya, lalu menyentuh masalah-masalah besar. Berawal dari tertangkapnya seorang anak muda saat bersepeda tanpa lampu, lalu mengalir ke soal ketimpangan sosial, politik pemisahan, dan banyak lainnya yang mengusik di era itu.

Selain dua naskah itu, Kwee Tek Hoay juga menulis Nonton Cap Go Meh, Boenga Roos dari Tjikembang, Roema Sekola jang Saja Impiken, Drama dari Krakatau, dan Pentjuri Hati. Karya-karya Kwee Tek Hoay begitu komunikatif sebab menggunakan bahasa Melayu Pasar.

Novel The Rose of Cikembang karya Kwee Tek Hoay (dok. Lontar Library)

Novel The Rose of Cikembang karya Kwee Tek Hoay (dok. Lontar Library)

Di saat Belanda belum menerapkan politik etis lewat Balai Pustaka, Kwee Tek Hoay sudah merepsentasikan Melayu-Tiong Hoa di arus kesusasteraan zaman itu. Di zamannya berkembang penerbitan yang dibidani orang-orang Melayu-Tiong Hoa; mencetak almanak, memproduksi buku puisi dan cerita bersambung, bahkan mendirikan surat kabar. Kwee Tek Hoay berperan secara dominan.

Sebagai orang yang hanya berpendidikan setingkat sekolah dasar, pencapaian kesusasteraan Kwee Tek Hoay sungguh luar biasa. Di zaman yang tidak banyak memberi tempat bagi kalangan Melayu-Tiong Hoa, Kwee Tek Hoay belajar sendiri dan mencapai ketajaman intuisi keliterasiannya dalam tingkatan yang tinggi.

Di zaman yang traditional minded, Kwee Tek Hoay justru tampil demokratis. Wawasannya terbuka, jenaka, pandai berkelakar pula. Hal-hal baik dari barat dan timur diambilnya sebagai dasar gagasan dalam karya. Kemampuannya berkelakar dapat disimak dalam Nonton Cap Go Meh. Dengan jenaka Kwee Tek Hoay mengkritisi kekolotan tradisi Melayu-Tiong Hoa, lewat karya yang lahir tahun 1930-an itu.

Sepasang suami istri Tiong Hoa, Thomas dan Lies berencana menonton Cap Go Meh —sebuah perayaan 15 hari setelah Hari Raya Imlek. Sebagai perempuan kolot, Lies menolak ikut, sebab tabu keluar bersama rombongan teman suaminya. Thomas kesal. Ia menyuruh Franz temannya menyamar menjadi perempuan agar Lies cemburu. Mengira suaminya ditemani perempuan sungguhan, Lies juga meminta kerabat perempuannya menyamar menjadi pria untuk menemaninya. Benar saja, gantian Thomas yang cemburu. Sepulang nonton, mereka bertengkar, namun akhirnya tertawa setelah tahu kenyataan sesungguhnya. Menarik bukan?

 

Melahirkan Sastrawan Perempuan.

Kwee Tek Hoay membidani lahirnya para penulis perempuan Melayu-Tiong Hoa melalui majalah Panorama dan Moestika Panorama yang ia pimpin pada 1926-1932. Ia menyediakan halaman untuk karya mereka. Ia koreksi, lalu memuatnya. Secara normatif, ia pun membela perempuan dalam karya-karyanya.

Putri sulungnya, Kwee Yat Nio adalah bukti didikan Kwee Tek Hoay yang paling kentara. Yat Nio termasuk sastrawan cum jurnalis perempuan Melayu-Tiong Hoa paling berpengaruh. Sejak masih remaja, Yat Nio mengikuti kegiatan ayahnya. Karya sastra dan tulisan Yat Nio mewakili pemikiran perempuan Melayu-Tiong Hoa ketika itu, dan banyak termuat di Maanblat Istri (berbahasa Belanda).

Tetapi Kwee Tek Hoay tak hanya bergelimang di lingkungannya belaka. Ia mencatat tentang gerakan Indonesia modern. Dalam serial tulisan yang berjudul Atsal Moelahnja Timboel Pergerakan Tionghoa Modern Pertama di Indonesia, ia menulis tentang sekolah dan gerakan Tiong Hoa Hwee Kwan (THHK). Pada tahun 1969, Cornell University menerjemahkannya dalam bahasa Inggris. Asal tahu saja, Gerakan Boedi Oetomo banyak dipengaruhi oleh THHK ini.

Sayang sekali, pada 4 Juli 1952, rumah Kwee Tek Hoay di Cicurug, Sukabumi, disatroni maling. Ia melawan, namun banyaknya luka akibat aniaya para begundal itu, tak mampu membuatnya bertahan. Sebelum wafat, ia sempat meminta agar jenazahnya kelak diperabukan. Kwee Tek Hoay wafat dalam usia 65 tahun.

Selama hidupnya, Kwee Tek Hoay menulis 55 karya sastra, 73 buku keagamaan, dan tak terhitung esai-esainya. Ia juga terhitung pernah pemimpin harian Sin Bin dan empat majalah lainnya. 115 karyanya berhasil ditelusuri. Sisanya masih dalam pencarian. Pada Hari Pahlawan 10 November 2011, pemerintah menganugerahinya Lencana Budaya Parama Dharma, untuk perannya dalam kesusastraan Indonesia. (IQM)

Saga Siersa dan Erisca Saravati berlakon dalam Pentjoeri Hati (dok. Teater Bejana)

Saga Siersa dan Erisca Saravati berlakon dalam Pentjoeri Hati (dok. Teater Bejana)

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 46 / Th. IV / Juli 2013)

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: