[Esai] Perempuan Indonesia di Antara Kanon Sastra Dunia

Perempuan Indonesia di Antara Kanon Sastra Dunia

 

Ininnawakku muwita / Mau natuddu’ solo’ / Mola linrung muwa

(Lihatlah bathinku / Walau dihempas arus deras—kesusahan / Aku tetap berdiri tegar)

Bait 122, Syair Sarea Baweng, karya Colliq Pujie.

Tjollie Poejie Arung Pancana Toa Datu Lamuru (Collectie Tropenmuseum No. 1853 - 2)

Tjollie Poejie Arung Pancana Toa Datu Lamuru
(Collectie Tropenmuseum No. 1853 – 2)

SEDIKIT orang yang mengenal pemilik syair sufistik ini. Namanya pun tidak begitu familiar di kalangan sastrawan Indonesia saat kini, kecuali orang di daerah kelahirannya dan di Eropa. Syair Sarea Baweng di atas ditulisnya dalam bahasa Bugis.

Nama asli pengarang perempuan berdarah Bugis-Melayu ini adalah Tjollie Poejie Arung Pancana Toa Datu Lamuru.

Sebut saja ia, Tjollie Poejie (baca: Collie Pujie) atau Ratna Kencana. Tjollie Poejie adalah sastrawan yang diakui dunia asal kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Karya-karyanya dibukukan masyarakat sastra di berbagai belahan dunia, diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, dan disimpan di berbagai perpustakaan internasional. Tjollie Poejie lahir di Tucae (Lamuru) pada tahun 1812, dari ayahnya Collipakue Daeng Tarappe Arung Rappang (Raja Tanete), dengan gadis bangsawan Melayu, Siti Johar Manikam (bergelar: La Rumpang Megga To Sappaile Sultan Ibrahim Datu Mariworiwawo).

Colliq Pujie mewarisi darah intelektual ibu dan kakek (dari ayahnya), Ince Muhammad Ali Abdullah Datu Pabean, kepala syahbandar Makassar pada fase awal abad ke-19. Nama Ratna Kencana adalah pemberian sang kakek. Dari kakeknya pula, Colliq Pujie diajari berbagai bahasa asing, termasuk beberapa bahasa penting dalam dunia perdagangan kala itu: Arab, Tiongkok, Belanda, Inggris dan Portugis.

Colliq Pujie menulis berbagai buku, namun yang membuatnya mendunia adalah buku Sejarah Tanete; buku Syair Sarea Baweng, dan terjemahan kanon epos Sureq I La Galigo—untuk menyebut tiga di antaranya. Karya-karya tersebut berbicara tentang historikal, sufisme, kesusteraan, keperempuanan, termasuk menceritakan berbagai kisah sedih rakyatnya dalam perlawanan terhadap kolonialisme.

Menurut D.A.F. Brautigam dan Dr. Benyamin Frederik Matthess, karya-karya Colliq Pujie dibicarakan di kalangan sastrawan dan intelektualis Eropa, sebagai karya-karya sastra yang cemerlang, dan diterima dalam tradisi literasi dunia barat.

Bahkan, Dr. B.F. Matthess, menyebut tipologi Colliq Pujie membuatnya disegani kalangan sastrawan Eropa sebagai satu-satunya perempuan dari dunia timur di bidang kesusastraan yang kala itu sulit dicari sandingannya.

Namun yang membuat namanya melambung ke dunia sastra international adalah ketekunannya selama 20 tahun menerjemahkan dan menyalin 12 jilid naskah kuno paling legendaris yang menjadi kanon sastra dunia: Sureq I La Galigo, ke dalam bahasa Belanda dan Inggris. Colliq Pujie menyusunnya dengan teliti dan membukukan naskah I La Galigo, karya sastra terpanjang di dunia yang terdiri dari 300.000 bait —melampaui naskah Mahabrata dan Ramayana dari India, dan naskah Homerus dari Yunani.

Colliq Pujie juga menyadur berbagai karya sastra Melayu, Parsi, dan Eropa. Sastrawan ini juga menciptakan aksara bilang-bilang yang terinspirasi dari huruf lontara (Bugis) dan huruf Arab.

Sebagai sastrawan dan intelektual, Colliq Pujie bersahabat dengan Ida Laura Reyer Pfeiffer, seorang etnolog Austria. Pada tahun 1853, dua perempuan berbeda kebangsaan ini bekerjasama dalam proyek pengindentifikasian orang-orang di belahan timur nusantara. Pada 1870, Colliq Pujie menerima dukungan peneliti Belanda, A. Lighvoed untuk menyusun buku-buku yang berisi catatan-catatan kesejarahan. Karya-karya Colliq Pujie itu kini tersimpan di beberapa perpustakaan di Leiden Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat.

Ida Pfeiffer, lahir pada 14 Oktober 1797 dan wafat 27 Oktober 1858 di Wina. Ida adalah pelancong sekaligus etnolog asal Austria. Ia salah satu penjelajah wanita pertama dan buku-buku perjalanannya begitu populer sehingga diterjemahkan dalam tujuh bahasa. Ida Pfeiffer adalah anggota Geographical Societies di Berlin dan Paris, sebuah lembaga yang berbeda dan tidak memiliki hubungan apapun dengan Royal Geographical Society di London.

Ida Pfeiffer sangat ingin mengatasi keterbatasannya sebagai seorang wanita dari abad ke-19, tetapi ia tak sepenuhnya menentang kodratnya.

Ida Laura Reyer Pfeiffer (Mary Somers Heidhues/Archipel)

Ida Laura Reyer Pfeiffer
(Mary Somers Heidhues/Archipel)

Buku Colliq Pujie tentang sejarah Tanete kuno diterbitkan Niemann di Belanda. Adat kebiasaan kerajaan ditulisnya dalam buku berjudul La Toa yang diterbitkan B.F. Matthess, dalam judul Boegineesche Christomatie II.

A. Ligtvoet dan B.F. Mathes berkali kali menyebut nama Colliq Pujie sebagai bangsawan Bugis yang benar-benar ahli sastra, untuk merujuk bukunya Macassaarsche en Boegineesche Chrestathien (Kumpulan Bunga Rampai Bugis Makassar).

Sejarawan Inggris, Dr. Ian Caldwel mengatakan, “Terlalu kecil kalau seorang sekaliber Colliq Pujie dikurung dalam tempurung Indonesia, karena ia adalah milik dunia. Namanya tak bisa dipisahkan dari epos I La Galigo sebagai ikon kebudayaan Indonesia yang menjadi kanon sastra dunia, yang kemudian menjadi sumber inspirasi banyak orang dalam merekonstruksi sejarah dan kebudayaan Indonesia (Asdar Muis R.M.S., dalam Andi Muhammad Rum, Titisan Colliq Pujie).

Banyak buku-buku dalam berbagai disiplin keilmuwan, serta naskah-naskah sastra asing yang terkumpul di kabupaten Barru, adalah upaya sungguh-sungguh Colliq Pujie bersama B.F. Matthess mendorong masyarakatnya memahami harta kesusasteraan dunia. Sejak tahun 1850, Matthess mencari berbagai karya tersebut, lalu disalin ulang dalam bahasa Melayu dan Bugis oleh Colliq Pujie.

Tjollie Poejie Arung Pancana Toa Datu Lamuru wafat pada 1876, dalam usia 64 tahun, dan dimakamkan di Tucae, sehingga ia pun digelari Matinroe ri Tucae. (IQM)

 

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 45 / Th. IV / Juni 2013)

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: