[Esai] Veronica Roth, Berteman dan Menyelami Kritik

Veronica Roth, Berteman dan Menyelami Kritik

Veronica Roth, Berteman dan Menyelami Kritik2

SAYA sedang mencari penulis muda terpopuler saat ini, saat terperangah mendapati begitu banyak pujian untuk Veronica Roth. Dalam riset saya di hampir 700 situs berita dunia (saya tidak melanjutkannya sebab angka 70 persen sudah merepresentasikan seluruh kemungkinan penelusuran saya, red.), nama ini muncul paling banyak di antara penulis cerita pendek dan novel remaja paling populer saat ini. Usianya baru 24 tahun. Wow!

Di Amerika, genre remaja disebut Young-Adult, semacam fase antara remaja dan menjadi dewasa. Para penulisnya menyebut diri mereka; Dystopian.

Veronica Roth lahir dan besar di Barrington, Illinois, pinggiran Chicago, 19 Agustus 1988. Pertama kali menulis di usia 12 tahun, dan kini bergelar sarjana penulisan kreatif dari Northwestern University. Ia menikah dengan Nelson Fitch, seorang fotografer, tahun 2011 lalu. Mereka tinggal di kota yang digunakan Roth sebagai setting novel Trilogi Divergen.

Novel ini disebut sebagai buku terlaris versi koran New York Times. Menerima Goodreads Choice Award for Favorite Book of 2011 dan Best Young Adult Fantasy & Science Fiction (2011), ALA Teens’ Top Ten Nominee (2012), Children’s Choice Book Award Nominee for Teen Choice Book of the Year (2012), Abraham Lincoln Award Nominee (2014), DABWAHA for Best Young Adult Romance (2012). Trilogi ini difilemkan oleh Summit Entertainment dan akan dirilis pada Oktober 2013 mendatang. Roth juga menerbitkan kumpulan cerpen Free Four: Tobias Tells the Divergent Knife-Throwing Scene.

Trilogi Divergen inilah yang melambungkan namanya, mengalahkan saptalogi Harry Potter dan The Hunger Games. Amazon Author Rank, menempatkannya sebagai terpopuler dari 100 penulis dari genre berbeda.

Pada sebuah pertemuan, Roth dimintai beberapa saran untuk penulis muda lainnya. Roth tersenyum seraya menaikkan alisnya. “Belajarlah mencintai kritik.” Itulah hal pertama yang ia sarankan. Lalu Roth mulai bercerita.

Saat mulai menulis di usia 12 tahun, Roth tak mau siapapun membaca tulisannya sebab cemas akan olok-olok kawan-kawannya. Ia menyembunyikan setiap cerpennya. Kebiasaan buruk itu berhenti saat ia mengikuti kuliah kepenulisan. Ia tidak punya pilihan lain kecuali memperlihatkannya. Ia menulis cerpennya dengan hati-hati sebelum ia bacakan. Ia berpikir, “Aku melakukannya dengan baik. Mungkin mereka akan menyukainya.” Namun, ia dikritik habis-habisan. Hatinya hancur.

Roth sangat sedih karena kritik itu. Ia marah dan menangis. Tapi beberapa hari kemudian, saat ia membaca cerpenya lagi, sesuatu yang menarik terjadi. Ia bisa melihat berbagai kekeliruannya secara jujur. Ia menyelami sudut pandang para pengeritiknya, dan ia akhirnya melihat apa yang mereka lihat.

Ia mulai merevisi, menyelaraskan ceritanya, menyempurnakan bagian yang kasar, dan mengerjakan ulang beberapa tema. Dan cerpennya, walau belum bagus, namun menjadi lebih baik.

Ia kagum pada para atlit olahraga ekstrim (skateboarder, BMX, atau parkour) karena walau sering terluka (bahkan cedera parah), setelah sembuh, mereka kembali berada di papan luncur mereka, tertantang untuk mencoba lagi.

Menurut Roth, jika ingin menjadi penulis yang baik, kamu harus meniru semangat mereka. Baginya, kritik selalu menyakitkan. Tapi ia segera menceburkan diri ke dalam kritik itu. Ia suka menulis—dan tidak sekadar menulis, tetapi ingin agar tulisannya terus membaik seiring waktu. Setahun setelah kejadian itu, dosennya bilang betapa Roth telah mengejutkannya dengan kemajuannya yang pesat pada cerpen The Story We Do Not Speak Of.

Biarkan orang membaca karyamu. Orang-orang yang bisa memberikan masukan jujur dan konstruktif. Ketika kamu dikritik jangan keras kepala dan dengarkanlah. “Kamu masih muda dan tidak tahu segalanya. Aku tahu, sebab aku juga masih muda. Tidak apa-apa, karena kita punya waktu untuk belajar.”

Ia pernah membaca kutipan Samuel Beckett: Ever try. Ever fail. No matter. Try again. Fail again. Fail better (Setiapkali mencoba. Setiapkali gagal. Tidak peduli. Coba lagi. Gagal lagi. Kegagalan akan menjadikanmu lebih baik). Ia menyukai frasa “Kegagalan akan membuatmu lebih baik”. Roth mengaku, sangat berguna berpikir seperti itu untuk setiap tulisannya. Ia terus meyakinkan diri untuk menjadi lebih baik lagi.

Gigih. Itu saran kedua Roth. Jika kamu menulis karena kamu menyukai cerita dan kata-kata, kamu akan terus menulis, tidak peduli, seberapa keras pembaca mengkritik. Pahamilah itu. Menulislah, jika pun karena itu banyak orang mengira kamu akan menjadi pertapa. “Begitulah saya melakukannya!”

Saran terakhir: bersabar. Sulit memang. Jika kamu menyelesaiakan tulisanmu dengan cepat, maka kamu akan merasa frustrasi dengan cepat pula. Luangkan waktu untuk belajar, bukan hanya tentang menulis, tapi tentang dunia penerbitan dan bagaimana cara kerjanya.

Sungguh, semua itu bermuara pada hal ini: menulislah. Menulis itu menyenangkan. Tapi kamu harus tetap berusaha, dan kesuksesan tidak sekadar jatuh ke pangkuanmu. Itu terjadi dalam profesi apa pun. “Tapi menulis tetaplah yang terbaik,” kata Roth. (IQM)

Veronica Roth, Berteman dan Menyelami Kritik1

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 47 / Th. IV / Agustus – September 2013)

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: