[Esai] Sijo Setelah Reformasi Gabo

Sijo Setelah Reformasi Gabo

Sijo Setelah Reformasi Gabo3

SASTRA Korea dimulai pada Zaman Tiga Kerajaan (37 SM-985 M). Sastra klasik Korea saat itu ditulis dalam Hanja (aksara Cina) dengan gaya Tiongkok di bawah pengaruh akar pemikiran yang kuat tertanam pada tradisi, kepercayaan dan kehidupan rakyat Korea. Kendati tetap dalam pengaruh Buddhisme, Konfusianisme dan Taoisme.

Puisi sangat terkenal di era itu, sehingga ada pertunjukan puisi dalam format opera tradisional yang disebut Pansori. Kemunculan aksara Haegul, membuat tradisi sastra Korea berkembang pesat, karena mendorong rakyat Korea menikmati sastra dan mengurangi buta huruf. Ironisnya, karya-karya sastra beraksara Haegul justru populer di awal abad ke-19.

Karya sastra di zaman itu eksklusif bagi kalangan bangsawan dan pejabat istana saja. Karya sastra resmi kerajaan ditera menggunakan aksara Hanmun. Di sisi lain, karya-karya tidak resmi tetap ditulis dengan aksara Tiongkok dalam sistim Idu dan Gugyeol. Kemunculan aksara Haegul menjadi jembatan bagi sastra untuk bisa dinikmati semua lapisan rakyat.

Hyangga adalah sastra Silla berupa syair beraksara Tiongkok dengan sistem Idu, yang dicirikan susunan formal atas 4, 8, atau 10 bait. Syair 10 bait (berstruktur 4-4-2) paling digemari.

Goryeo Gayo adalah seni sastra (lagu) yang lahir diera Dinasti Goryeo. Lagu-lagu Goryeo umumnya bertema kehidupan manusia dan alam, dalam bentuk khusus Byeolgok pada dua jenis Dallyeonche (satu bait) dan Yeonjanche (banyak bait). Gayo yang terkenal adalah Gwandong Byeolgok (Byeolgok pesisir timur) yang bercerita tentang keindahan pantai laut timur Gangwon.

Puisi yang berkembang di era Joseon adalah Sijo, yang merefleksikan pemikiran Konfusianisme dan tema-tema kesetiaan. Sijo tersusun atas 3 bait (per bait 4 baris kalimat) dengan 44- 46 kata.

Bentuk puisi Sijo adalah yang paling berkembang di Korea. Seni menyanyikan Sijo disebut Sijochang dan Danga (lagu pendek), atau Sijeolga (lagu musim). Tradisi menyanyikan syair sudah lama di Korea, namun genre Sijochang baru diperkenalkan pada masa Raja Yeongjo (1724-1776) dan komposisinya dipopulerkan Yi Se Chun dari Hanyang, kendati buku musik Gura Jeolsa Geumbo (Sijo diiringi alat musik kecapi Yanggeum) sudah ditulis sastrawan Sin Gwang-su, sejak zaman Yeongjo.

Setelah pembakuan gaya dan komposisi Sijo, genre ini berkembang pesat pada masa Raja Jeongjo (1776-1800) dan Sunjo (1800-1834). Komposisi Yi Se-chun diwariskan hingga kini dan berkembang dalam beberapa bentuk. Sijo 3 stanza sangat populer karena sederhana dan mudah diterima.

Tidak seperti seni vokal Gasa dan Gagok, Sijo berkembang di banyak daerah dan versi (Gyeongpan dari Seoul, Naepoje dari Chungcheong, Wanje dari Jeolla, Yeongje dari Gyeongsang).

Sejumlah ahli musik Korea menduga, keotentikan dan kemudahan Sijo bertransformasi kemungkinan telah membangun dasar gaya musik Pop di Korea Modern saat ini.

 

Sijo Setelah Reformasi Gabo1
PARA PENYAIR TERLUPAKAN.

SIJO tetap populer bahkan selepas keruntuhan Dinasti Joseon dan dimulainya periode Gaehwa Gyemong (pencerahan) setelah Reformasi Gabo tahun 1894. Bermunculan sekolah-sekolah Eropa dan media cetak yang menerbitkan sastra yang lebih bebas dan tidak terikat aturan tertentu. Genre puisi Sinchesi lahir dengan Jayusi sebagai gaya puisi bebas. Pencerahan yang cepat itu berkat meluasnya penggunaan aksara Hangeul.

Segala aspek budaya, seni dan sastra Korea diberangus di masa penjajahan Jepang, yang memaksa terjadinya proses akulturatif. Sastra Korea dipaksa mencari bentuk baru untuk bisa beradaptasi dengan tema-tema klasik seperti pencarian jati diri dengan penderitaan rakyat jelata yang memilukan di awal tahun 1920-an.

Akibatnya, budaya, seni dan sastra Korea lantak. Sampai era 1980-an, sastra Korea nyaris tidak dikenal di luar negeri. Flowers of Fire adalah antologi sastra Korea dalam bahasa Ingris yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1986.

Salah satu dari beberapa sastrawan Korea legendaris baru kembali dikenal publik di era 1980-an adalah O Sangsun (1894-1963), yang berkelana ke berbagai negara mengunjungi kuil-kuil untuk bermeditasi, lalu bergabung dengan kelompok The Ruins (1920) yang sejenak meninggalkan nihilistic karena kecewa dengan situasi nasional setelah Pergerakkan Kemerdekaan. Karya-karyanya ialah The First Night; Poetry, Cigarettes and I; dan Wanderlust.

Pyon Yongno (1898-1961) seorang penyair yang mencolok dengan kejeniusan, kecerdasan dan retorikanya. Karya-karyanya meliputi The Korean Mind (1924) dan The Azaleas (1947).

Penyair Yi Sanghwa (1900-1941) dikenal dengan puisi-puisi romantik yang sangat sentimental. Ia berafiliasi dengan The White Waves dan melahirkan Does Spring Come to These Forfeited Fields, sebuah kumpulan puisi bertema penderitaan bangsa tertindas.

Yi Changhui (1900-1929) adalah satu-satunya sastrawan Korea yang berhasil mengguncang sastra dunia oleh kesentimentilan dalam puisi-puisinya yang segar dan sensual dalam The Korean Literary World, 1925. Ia memilih membangun pertahanannya sendiri, sekaligus menolak terpengaruh semangat morbid dalam karya Spring Is A Cat; A Lonesome Season; dan The Insect Cries. Yi bunuh diri pada usia 26 tahun. (IQM)

 

Sijo Setelah Reformasi Gabo2

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

One response to “[Esai] Sijo Setelah Reformasi Gabo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: