[Esai] Samurai Biru dari Tosei

Samurai Biru dari Tosei

Samurai Biru dari Tosei1

sebuah kolam kuno
katak melompat
air memercik

HAIKAI yang sangat terkenal ini ditulis oleh Matsuo Basho dan saya sarikan dari kompilasi Nozarashi Kiko, 1686. Matsuo Basho adalah sastrawan besar Jepang yang hidup di zaman Edo. Basho dikenal karena mengangkat haiku ke tingkatan tertinggi dalam sastra dunia.

Nama aslinya, Matsuo Chuemon Munefusa, dilahirkan di dekat Ueno (Tosei), di provinsi Iga—sekarang prefektur Mie—pada tahun 1644 dalam keluarga Matsuo Kinsaku yang bertradisi samurai. Jalan samurai justru mempertemukan Munefusa pada sastra.

Saat mengabdi sebagai juru masak pada daimyo Todo Yoshitada itulah, ia dikenalkan pada sastra. Munefusa mulai menulis dan pertama kali mengganti nama Tiseu (pir biru) dan kelak menjadi Basho. Nama itu ia ambil dari tradisi penyair Tosei, sebagai penghormatan Munefusa untuk Li Po (plum putih) seorang penyair Tiong Hoa.

Sebenarnya Basho menulis haikai pada renga, sebuah bentuk kolaboratif, komposisi urutan puisi yang dibuka dengan mora (ayat) pertama berpola 5-7-5, lalu disusul mora kedua berpola 7-7.

Mora pertama itulah yang kelak dikenal sastra dunia sebagai hokku/haiku ketika disajikan sebagai puisi yang berdiri sendiri. Saat ini, orang salah mengenali Basho sebagai master haiku. Sebab ia mengakui karya terbaiknya menyatu pada renku. “Banyak pengikutku bisa menulis hokku. Diri saya sesungguhnya berbaring pada ayat-ayat haikai (renku).”

Tahun 1662, puisi pertamanya terbit, dan dua tahun berikutnya, dua haikai-nya dicetak dalam kompilasi. Pada tahun 1665, Tiseu dan Yoshitada menyusun sebuah Hyakuin (seratus ayat renku).

Yoshitada mati mendadak pada 1666 dan itu mengubah hidup Munefusa sebagai hamba daimyo. Ia lepas status samurai, meninggalkan rumah dan berganti nama menjadi Tiseu. Kepergiannya itu, diduga karena cintanya pada seorang shinto miko bernama Jutei, yang tak mungkin dipersatukan.

Ia relatif terpangaruh oleh pandangan masyarakat yang merendahkan status puisi renga—dan haikai pada renga—sebagai sebuah bentuk kritik sosial daripada sebuah upaya artistik yang serius. Tetapi ia tetap menerbitkan Kai Oi, dan pada musim semi 1672 ia pindah ke Edo.

Dalam lingkaran sastra Nihonbashi, Tiseu dengan cepat diakui karena gaya puisinya yang sederhana dan alami. Pada 1674, ia dilantik dan memenuhi kualifikasi sebagai seorang Sosho (master haikai), dan menerima ajaran rahasia dari Kitamura Kigin (1624-1705). Kesempatan membuktikan dirinya sebagai haigo dari Tosei, bersama 20 muridnya, ia terbitkan Tosei-montei Dokugin-Nijukasen (Puisi Terbaik 20 Murid Tosei, 1680), sekaligus jadi promosi yang baik untuk memperlihatkan bakat-bakat susastera dari Tosei.

Di musim dingin itu pula, ia memutuskan melintasi sungai menuju Fukagawa, menghindari publik dan hidup lebih tertutup. Para muridnya mendirikan pondok pedesaan untuknya dan menanam pohon pisang (Basho) di halamannya. Ia menghargai pohon pisang itu dengan mengganti nama Tiseu menjadi Basho, kendati ia tak suka pada penampilan miscanthus asli Fukagawa itu. Ia menulis: pisang baruku/ pertanda yang kubenci/ tunas rerumputan!

Pada musim dingin 1682 rumahnya terbakar, dan ibunya meninggal pada awal 1683. Takarai Kikaku, menerbitkan antologi Minashiguri berisi puisi Basho dan penyair lain. Akhir tahun 1684, ia memulai perjalanan ke Yamura, menjauhi Edo untuk pertama kali dari empat pengembaraan utamanya.

Pengembaraan keduanya melintasi gunung Fuji, Ueno, dan Kyoto, ia menikmati perubahan musim dan bertemu beberapa penyair yang ingin menjadi muridnya. “Banyak mora yang tak layak ditulis,” kata Basho kepada mereka agar mengabaikan gaya Edo kontemporer, sekaligus menyindir Minashiguri yang berisi karyanya sendiri. Ia kembali ke Edo pada musim panas 1685, mengambil waktu sepanjang jalan untuk menulis lebih banyak haikai tentang hidupnya sendiri: tahun hilang/ musafir teduh di kepalaku/ sandal jerami di kakiku.

Puisinya dari perjalanan pertamanya itu introspektif tentang dunia di sekelilingnya, mentransformasikan adegan pada elemen sederhana, dan diterbitkan dengan judul Nozarashi Kiko, 1686.

Seusai perjalanan lainnya menuju Hiraizumi, mendaki di sepanjang garis pantai, melalui daerah timur laut Honshu, ia kembali ke Edo pada akhir 1691. Saat ia mencapai Ogaki, ia telah menyelesaikan catatan perjalanannya. Ia edit selama tiga tahun, dan menulis versi final pada 1694 sebagai Oku no Hosomichi (The Narrow Road to the Interior, edisi anumerta 1702). Perjalanan sukses itu ditiru banyak penyair lain. Haikai Amanogawa (1689), dianggap karya terbaiknya.

Di akhir hidupnya, Basho menjalani prinsip karumi (mendekatkan diri pada kefanaan). Ia tutup pintu rumahnya dan menolak bertemu siapa pun selama satu bulan. Basho meninggalkan Edo terakhir kalinya pada musim panas 1694, dan datang ke Osaka. Ia wafat karena sakit perut yang mendera dengan dikelilingi para muridnya pada 1694.

Meski ia tak menulis apapun menjelang kematiannya, namun Meguru yang ia tulis selama sakit, diterima sastra dunia sebagai renku perpisahannya: musafir jatuh sakit/ mimpiku mengembara/ padang rumput kering. (IQM)

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: