[Esai] Merari, Maurik, dan Opium

Merari, Maurik, dan Opium

Merari, Maurik, dan Opium2 

ADA loh sastrawan terkemuka Indonesia yang umurnya 100 tahun lebih. Namanya Merari Siregar. Merari adalah pelopor prosa Indonesia modern. Saat wafat pada 23 April 1941, Merari berusia 116 tahun. HB. Jassin, memasukkan Merari dalam Angkatan Balai Pustaka.

Siang yang teduh, pada Senin 13 Juli 1896, di sebuah Bagas Godang (rumah besar khas Batak Siporok), lahirlah anak lelaki yang kelak menjadi penonggak zaman sastra Indonesia modern: zamannya prosa modern Indonesia. Tak begitu jauh dari rumah ayahnya, Danau Marsabut tampak tenang airnya, tak bergolak seperti biasanya, saat angin bertiup membawa aroma belerang dari aek milas di sekitar Parandolok. Bayi lelaki itu diberi nama Merari.

Merari memperhatikan apa yang terjadi di sekelilingnya. Masa kecil yang ia habiskan di kampungnya, mau tak mau membentuk sikap, perbuatan, dan jiwanya yang kental pada budaya masyarakat Sipirok. Kepincangan sosial yang ia jumpai, dibawanya ke atas kertas. Azab dan Sengsara menjadi karyanya yang paling tersohor. Prosa berbentuk roman itu muncul saat pemerintah kolonial Belanda sedang gencar mengkampanyekan politik etis, berupa penyebaran bacaan, seperti terjemahan, saduran, dan karangan asing kepada rakyat dan para pelajar sekolah bumi putera, lewat Commissie Voor Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakyat) pada 1908.

Di komisi inilah Merari bersentuhan dengan karya Justus van Maurik, penulis kenamaan Belanda, dan sebagaimana kakeknya, dia ahli membuat cerutu. Persinggungan Merari dan Maurik itu lewat cerpen Jan Smees yang disadur Merari menjadi Si Jamin dan Si Johan. Merari memang terlibat menerjemahkan kumpulan cerpen Lift het Volk yang terbit pada 1879.

Nasib dua orang ini bertalian benar. Maurik menghabiskan 58 tahun hidupnya dalam tradisi masyarakat Amsterdam. Demikian pula permulaan hidup Merari di Siporok. Gagasan dalam karya Maurik (maupun Merari) orisinal berangkat dari lingkungan di sekitarnya.

Maurik adalah editor di majalah Amsterdammer (media perdagangan, industri dan seni, berdiri 1877, dan kini menjadi mingguan De Groene Amsterdammer). Maurik mulai dikenal lewat karya Kluchten en Blijspelen. Pada tahun 1878, novel pertamanya muncul. Maurik tahu cara membuat pembacanya senyum, menangis, dan tertawa dengan kecerdasannya bercerita, dan sangat kental dengan spritualisme. Ilustrasi novelnya digambar oleh seniman grafis Johan Braakensiek.

 

Merari, Maurik, dan Opium3
Senafas dengan hidup Maurik dan gagasan dalam Si Jamin dan Si Johan, tak disangka, hidup Merari pun bersinggungan dengan candu. Merari tak menggunakan candu, tetapi justru aktif melawan peredarannya yang dijual bebas di daerah Glodok. Namun, di episode akhir hidupnya, Merari tak menyangka akan bersinggungan dengan barang yang dibencinya itu.

Merari menemui hambatan memindahkan suasana Eropa dalam suasana Indonesia, saat menyadur Si Jamin dan Si Johan, karena ukuran kemiskinan di Eropa berbeda dari Indonesia, begitu pula dengan konsep hidup spiritualnya.

Seiring waktu, sastra modern Indonesia kian berkembang karena pergaulan sastrawan dengan karya sastra barat, terutama Belanda, lewat penerjemahan dan penyaduran. Perkembangan itu terasa saat Commissie Voor de VoLfcslectuur (Balai Poestaka) melaksanakan kampanye baru; melatih pengarang dalam gaya bahasa dan bentuk baru.

Bobot prosa modern menjadi lebih baik, dengan nampaknya kemandirian pada karakter dalam cerita: karakter-karakter itu menentukan nasibnya sendiri dan tidak tergantung pada lingkungan dan ikatan masyarakat. Itu tercermin dalam prosa-roman Azab dan Sengsara, di mana tokoh utamanya bernama Mariamin, mengakhiri penderitaannya akibat kawin paksa lewat pengajuan cerai. Namun begitu, Merari tetap menonjolkan kesadaran susila yang tinggi sebagai bentuk spiritualisme.

Selepas sekolah, Merari bekerja sebagai guru bantu di Medan. Dia kemudian pindah ke Jakarta, dan bekerja di Rumah Sakit CBZ (sekarang RS. Cipto Mangunkusumo). Persinggungannya dengan candu terjadi saat Merari pindah bekerja di Opium end Zouregie (Badan Manajemen Garam dan Opium) di Kalianget, Madura.

 

COLLECTIE TROPENMUSEUM_Litho naar een oorspronkelijke tekening die opium roken_Auguste Van Pers_1854
Pada Statistiek Beschrijving van Semarang, tahun 1836, dijelaskan bagaimana Opium end Zouregie mengatur tata niaga opium dan garam sepanjang periode tahun 1742-1865. Statistiek administratief Overzigt van Nederlandsch Indië, 8 November 1823, menerangkan isi koleksi mikrofilm perihal perdagangan opium di Surabaya, di mana der Chijs ‘Inventaris van’ s Lands Archief te Batavia (1602-1816) melepaskan rincian pacht opium atau sistem pertaniannya disertai catatan pendapatan perusahaan dalam Buku Persediaan Nomor 6. Di Indonesia, selain Madura (Surabaya) Belanda menanam bunga Poppy (bunga opium) di kawasan pegunungan Cipanas, Bandungan, Batu, dan Ijen. Bahkan Auguste van Pers melukiskannya dalam sebuah litografi penduduk Jawa yang sedang memakai candu pada tahun 1854.

Merari bekerja di perusahaan itu hingga akhir hayatnya, pada 23 April 1941, di Kalianget, Madura, dalam keadaan sangat sepuh. (IQM)

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 44 / Th. IV / Mei 2013)

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: