Daily Archives: 8 Januari 2015

[Esai] Veronica Roth, Berteman dan Menyelami Kritik

Veronica Roth, Berteman dan Menyelami Kritik

Veronica Roth, Berteman dan Menyelami Kritik2

SAYA sedang mencari penulis muda terpopuler saat ini, saat terperangah mendapati begitu banyak pujian untuk Veronica Roth. Dalam riset saya di hampir 700 situs berita dunia (saya tidak melanjutkannya sebab angka 70 persen sudah merepresentasikan seluruh kemungkinan penelusuran saya, red.), nama ini muncul paling banyak di antara penulis cerita pendek dan novel remaja paling populer saat ini. Usianya baru 24 tahun. Wow!

Di Amerika, genre remaja disebut Young-Adult, semacam fase antara remaja dan menjadi dewasa. Para penulisnya menyebut diri mereka; Dystopian.

Veronica Roth lahir dan besar di Barrington, Illinois, pinggiran Chicago, 19 Agustus 1988. Pertama kali menulis di usia 12 tahun, dan kini bergelar sarjana penulisan kreatif dari Northwestern University. Ia menikah dengan Nelson Fitch, seorang fotografer, tahun 2011 lalu. Mereka tinggal di kota yang digunakan Roth sebagai setting novel Trilogi Divergen.

Novel ini disebut sebagai buku terlaris versi koran New York Times. Menerima Goodreads Choice Award for Favorite Book of 2011 dan Best Young Adult Fantasy & Science Fiction (2011), ALA Teens’ Top Ten Nominee (2012), Children’s Choice Book Award Nominee for Teen Choice Book of the Year (2012), Abraham Lincoln Award Nominee (2014), DABWAHA for Best Young Adult Romance (2012). Trilogi ini difilemkan oleh Summit Entertainment dan akan dirilis pada Oktober 2013 mendatang. Roth juga menerbitkan kumpulan cerpen Free Four: Tobias Tells the Divergent Knife-Throwing Scene.

Trilogi Divergen inilah yang melambungkan namanya, mengalahkan saptalogi Harry Potter dan The Hunger Games. Amazon Author Rank, menempatkannya sebagai terpopuler dari 100 penulis dari genre berbeda.

Pada sebuah pertemuan, Roth dimintai beberapa saran untuk penulis muda lainnya. Roth tersenyum seraya menaikkan alisnya. “Belajarlah mencintai kritik.” Itulah hal pertama yang ia sarankan. Lalu Roth mulai bercerita.

Saat mulai menulis di usia 12 tahun, Roth tak mau siapapun membaca tulisannya sebab cemas akan olok-olok kawan-kawannya. Ia menyembunyikan setiap cerpennya. Kebiasaan buruk itu berhenti saat ia mengikuti kuliah kepenulisan. Ia tidak punya pilihan lain kecuali memperlihatkannya. Ia menulis cerpennya dengan hati-hati sebelum ia bacakan. Ia berpikir, “Aku melakukannya dengan baik. Mungkin mereka akan menyukainya.” Namun, ia dikritik habis-habisan. Hatinya hancur.

Roth sangat sedih karena kritik itu. Ia marah dan menangis. Tapi beberapa hari kemudian, saat ia membaca cerpenya lagi, sesuatu yang menarik terjadi. Ia bisa melihat berbagai kekeliruannya secara jujur. Ia menyelami sudut pandang para pengeritiknya, dan ia akhirnya melihat apa yang mereka lihat.

Ia mulai merevisi, menyelaraskan ceritanya, menyempurnakan bagian yang kasar, dan mengerjakan ulang beberapa tema. Dan cerpennya, walau belum bagus, namun menjadi lebih baik.

Ia kagum pada para atlit olahraga ekstrim (skateboarder, BMX, atau parkour) karena walau sering terluka (bahkan cedera parah), setelah sembuh, mereka kembali berada di papan luncur mereka, tertantang untuk mencoba lagi.

Menurut Roth, jika ingin menjadi penulis yang baik, kamu harus meniru semangat mereka. Baginya, kritik selalu menyakitkan. Tapi ia segera menceburkan diri ke dalam kritik itu. Ia suka menulis—dan tidak sekadar menulis, tetapi ingin agar tulisannya terus membaik seiring waktu. Setahun setelah kejadian itu, dosennya bilang betapa Roth telah mengejutkannya dengan kemajuannya yang pesat pada cerpen The Story We Do Not Speak Of.

Biarkan orang membaca karyamu. Orang-orang yang bisa memberikan masukan jujur dan konstruktif. Ketika kamu dikritik jangan keras kepala dan dengarkanlah. “Kamu masih muda dan tidak tahu segalanya. Aku tahu, sebab aku juga masih muda. Tidak apa-apa, karena kita punya waktu untuk belajar.”

Ia pernah membaca kutipan Samuel Beckett: Ever try. Ever fail. No matter. Try again. Fail again. Fail better (Setiapkali mencoba. Setiapkali gagal. Tidak peduli. Coba lagi. Gagal lagi. Kegagalan akan menjadikanmu lebih baik). Ia menyukai frasa “Kegagalan akan membuatmu lebih baik”. Roth mengaku, sangat berguna berpikir seperti itu untuk setiap tulisannya. Ia terus meyakinkan diri untuk menjadi lebih baik lagi.

Gigih. Itu saran kedua Roth. Jika kamu menulis karena kamu menyukai cerita dan kata-kata, kamu akan terus menulis, tidak peduli, seberapa keras pembaca mengkritik. Pahamilah itu. Menulislah, jika pun karena itu banyak orang mengira kamu akan menjadi pertapa. “Begitulah saya melakukannya!”

Saran terakhir: bersabar. Sulit memang. Jika kamu menyelesaiakan tulisanmu dengan cepat, maka kamu akan merasa frustrasi dengan cepat pula. Luangkan waktu untuk belajar, bukan hanya tentang menulis, tapi tentang dunia penerbitan dan bagaimana cara kerjanya.

Sungguh, semua itu bermuara pada hal ini: menulislah. Menulis itu menyenangkan. Tapi kamu harus tetap berusaha, dan kesuksesan tidak sekadar jatuh ke pangkuanmu. Itu terjadi dalam profesi apa pun. “Tapi menulis tetaplah yang terbaik,” kata Roth. (IQM)

Veronica Roth, Berteman dan Menyelami Kritik1

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 47 / Th. IV / Agustus – September 2013)

Iklan

[Esai] Fakta Poe yang Luput Diceritakan

Fakta Poe yang Luput Diceritakan

 Fakta Poe yang Luput Diceritakan3

PERNAH dengar The Master of Horor? Yap. Itu julukan Edgar Allan Poe. Karyanya fenomenal. Ia penyair, esais dan penulis cerita pendek yang terkenal di abad ke-19, hingga kini, setelah 204 tahun kematiannya. Karyanya sepopuler kisah aneh di seputar kehidupan dan kematiannya. Dari yang pernah Anda baca tentangnya, akan saya ungkap beberapa detil menarik yang tak pernah terbaca pada khalayak di Indonesia.

Ingatkah cerita Ballon Boy pada tahun 2009? Keluarga Heene yang membuat tipuan itu penjiplak gagasan Poe. Tahun 1844, Poe menulis di koran New York Sun, tentang Monck Mason yang terbang dengan balon bernama Victoria dari Inggris ke Pulau Sullivan dalam 75 jam. Balon terbang itu membawa tujuh orang menyeberangi transatlantik. Tulisan itu menghebohkan. Para pembaca antri di luar kantor New York Sun untuk mendapatkan salinan edisi bersejarah itu.

Poe menceritakan bagaimana balon itu diisi gas batubara. Ia merinci peralatan di balon itu, termasuk alat pintal, barometer, teleskop, tong berisi keperluan selama dua minggu, tong air, tas-karpet, dan lainnya, termasuk pemanas kopi slack-lime, yang memanaskan tanpa api. Ia juga mengutip ratusan jurnal penumpang.

Seorang editor The Sun’s menyadari laporan Poe itu sepenuhnya fiksi, dan menyebutnya sebagai tipuan Poe. The Sun’s mencabut tulisan itu dengan pengantar: “Kita cenderung percaya bahwa kecerdasan adalah kekeliruan.”
Fakta Poe yang Luput Diceritakan1
Jika cermat membaca The Gold-Bug, Anda akan tahu bahwa Poe seorang kriptografer (pengurai kode). Ia terapkan pada tahun 1839, saat ia meminta pembaca koran Philadelphia mengiriminya pesan berkode, yang membuatnya berkutat dengan teka-teki itu selama berjam-jam. Jawabannya ia terbitkan di koran yang sama, dan seketika membuat tiras Philadelphia meroket. Poe menerbitkan kode itu untuk menjaga para pembacanya tetap sibuk.

Pada tahun 1841, Poe menawarkan diri sebagai pengurai kode bagi Pemerintahan Tyler. Dia bilang, “Tidak ada sesuatu yang dipahami dapat dituliskan, lalu saya tak bisa mengurainya.” Tapi pemerintah Tyler menolaknya.

Nama Allan di tengah Edgar Poe bukanlah nama aslinya. Edgar Poe lahir di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat, pada 19 Januari 1809 dari orangtua aktor. Ibunya wafat saat ia balita, dan ayahnya menyikapi kematian itu dengan meninggalkan Poe bersama dua saudaranya. John dan Frances Allan, pasangan yang tinggal di Richmond, membawa Poe dan dua saudaranya. Meski Allan tak secara resmi mengadopsi Poe, ia menambahkan Allan sebagai nama tengah Poe dan dua saudaranya.

Kisahnya bersama John Allan tak berakhir bahagia. Saat Poe remaja, hubungan mereka merenggang, dan setelah Poe masuk Universitas Virginia, mereka menjadi sangat asing. Ini akibat kecenderungan Poe yang berjudi dengan uang kiriman Allan.

Seperti penulis lain, Poe punya nemesis (saingan), bernama Rufus Wilcot Griswold, seorang penyair, kritikus, dan editor. Meski Griswold pernah memasukkan karya Poe dalam antologi Penyair dan Puisi Amerika yang ia terbitkan tahun 1842, Poe hanya mendapat sedikit integritas sastra dari Griswold. Saat Poe menulis esai yang mengolok antologi Griswold, persaingan pun memanas.

Griswold menyaingi Poe sebagai editor di Majalah Graham dengan gaji lebih tinggi, namun Poe secara terbuka mencerca motivasi Griswold itu. Ia mengklaim Griswold bagian sastra homer yang sombong di kalangan penyair New England.

Poe punya titik tertentu atas pandangan kritis Griswold, tapi Griswold bernasib baik karena hidup lebih lama. Setelah kematian Poe, Griswold menulis obituari yang kejam, di mana ia mengklaim kematian Poe sebagai sesuatu yang “mengejutkan banyak orang, tetapi sedikit yang bersedih karenanya.” Poe, ia sebut sebagai maniak.

Sungguh tercela mengejek kenangan seseorang atas kematiannya, namun Griswold meyakinkan Maria Clemm, untuk mengeksekusi karya-karya Poe dalam biografi yang akan ia terbitkan. Di biografi itu, Griswold menggambarkan Poe sebagai pemabuk berat, seraya mendapat keuntungan dari penjualan buku tersebut.

Pada tahun 1849, Poe menuju Richmond, tapi ia tak pernah terlihat di sana. Justru Poe ditemukan dalam selokan di depan bar di Baltimore, sambil mengoceh dalam pakaian yang aneh. Pejalan kaki membawa Poe ke rumah sakit, tapi ia wafat empat hari kemudian tanpa jelas apa yang telah terjadi padanya. Ia wafat pada 7 Oktober 1849, dalam usia 40 tahun.
Fakta Poe yang Luput Diceritakan2
Kematian Poe dikabarkan karena radang dan penyumbatan otak sebagai eufemisme sopan untuk keracunan alkohol. Tak ada asumsi kedokteran modern tentang itu. Karakterisasi buruk Poe sebagian besar dari kampanye Griswold: kekacauan pikiran Poe diakibatkan virus rabies atau sifilis.

Teori menakutkan soal wafatnya sastrawan itu, muncul dari laporan tentang Poe yang menjadi korban “pengurungan” praktik politik kotor abad-19. Mafia di balik kampanye politik diketahui mengumpulkan tunawisma dan mengurung mereka di tempat yang disebut “kandang” sebelum digiring ke tempat-tempat pemungutan suara. Pemilu di Baltimore pada tanggal 3 Oktober 1849, adalah hari Poe ditemukan sekarat. (IQM)

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 48 / Th. IV / Oktober 2013)


[Esai] Merari, Maurik, dan Opium

Merari, Maurik, dan Opium

Merari, Maurik, dan Opium2 

ADA loh sastrawan terkemuka Indonesia yang umurnya 100 tahun lebih. Namanya Merari Siregar. Merari adalah pelopor prosa Indonesia modern. Saat wafat pada 23 April 1941, Merari berusia 116 tahun. HB. Jassin, memasukkan Merari dalam Angkatan Balai Pustaka.

Siang yang teduh, pada Senin 13 Juli 1896, di sebuah Bagas Godang (rumah besar khas Batak Siporok), lahirlah anak lelaki yang kelak menjadi penonggak zaman sastra Indonesia modern: zamannya prosa modern Indonesia. Tak begitu jauh dari rumah ayahnya, Danau Marsabut tampak tenang airnya, tak bergolak seperti biasanya, saat angin bertiup membawa aroma belerang dari aek milas di sekitar Parandolok. Bayi lelaki itu diberi nama Merari.

Merari memperhatikan apa yang terjadi di sekelilingnya. Masa kecil yang ia habiskan di kampungnya, mau tak mau membentuk sikap, perbuatan, dan jiwanya yang kental pada budaya masyarakat Sipirok. Kepincangan sosial yang ia jumpai, dibawanya ke atas kertas. Azab dan Sengsara menjadi karyanya yang paling tersohor. Prosa berbentuk roman itu muncul saat pemerintah kolonial Belanda sedang gencar mengkampanyekan politik etis, berupa penyebaran bacaan, seperti terjemahan, saduran, dan karangan asing kepada rakyat dan para pelajar sekolah bumi putera, lewat Commissie Voor Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakyat) pada 1908.

Di komisi inilah Merari bersentuhan dengan karya Justus van Maurik, penulis kenamaan Belanda, dan sebagaimana kakeknya, dia ahli membuat cerutu. Persinggungan Merari dan Maurik itu lewat cerpen Jan Smees yang disadur Merari menjadi Si Jamin dan Si Johan. Merari memang terlibat menerjemahkan kumpulan cerpen Lift het Volk yang terbit pada 1879.

Nasib dua orang ini bertalian benar. Maurik menghabiskan 58 tahun hidupnya dalam tradisi masyarakat Amsterdam. Demikian pula permulaan hidup Merari di Siporok. Gagasan dalam karya Maurik (maupun Merari) orisinal berangkat dari lingkungan di sekitarnya.

Maurik adalah editor di majalah Amsterdammer (media perdagangan, industri dan seni, berdiri 1877, dan kini menjadi mingguan De Groene Amsterdammer). Maurik mulai dikenal lewat karya Kluchten en Blijspelen. Pada tahun 1878, novel pertamanya muncul. Maurik tahu cara membuat pembacanya senyum, menangis, dan tertawa dengan kecerdasannya bercerita, dan sangat kental dengan spritualisme. Ilustrasi novelnya digambar oleh seniman grafis Johan Braakensiek.

 

Merari, Maurik, dan Opium3
Senafas dengan hidup Maurik dan gagasan dalam Si Jamin dan Si Johan, tak disangka, hidup Merari pun bersinggungan dengan candu. Merari tak menggunakan candu, tetapi justru aktif melawan peredarannya yang dijual bebas di daerah Glodok. Namun, di episode akhir hidupnya, Merari tak menyangka akan bersinggungan dengan barang yang dibencinya itu.

Merari menemui hambatan memindahkan suasana Eropa dalam suasana Indonesia, saat menyadur Si Jamin dan Si Johan, karena ukuran kemiskinan di Eropa berbeda dari Indonesia, begitu pula dengan konsep hidup spiritualnya.

Seiring waktu, sastra modern Indonesia kian berkembang karena pergaulan sastrawan dengan karya sastra barat, terutama Belanda, lewat penerjemahan dan penyaduran. Perkembangan itu terasa saat Commissie Voor de VoLfcslectuur (Balai Poestaka) melaksanakan kampanye baru; melatih pengarang dalam gaya bahasa dan bentuk baru.

Bobot prosa modern menjadi lebih baik, dengan nampaknya kemandirian pada karakter dalam cerita: karakter-karakter itu menentukan nasibnya sendiri dan tidak tergantung pada lingkungan dan ikatan masyarakat. Itu tercermin dalam prosa-roman Azab dan Sengsara, di mana tokoh utamanya bernama Mariamin, mengakhiri penderitaannya akibat kawin paksa lewat pengajuan cerai. Namun begitu, Merari tetap menonjolkan kesadaran susila yang tinggi sebagai bentuk spiritualisme.

Selepas sekolah, Merari bekerja sebagai guru bantu di Medan. Dia kemudian pindah ke Jakarta, dan bekerja di Rumah Sakit CBZ (sekarang RS. Cipto Mangunkusumo). Persinggungannya dengan candu terjadi saat Merari pindah bekerja di Opium end Zouregie (Badan Manajemen Garam dan Opium) di Kalianget, Madura.

 

COLLECTIE TROPENMUSEUM_Litho naar een oorspronkelijke tekening die opium roken_Auguste Van Pers_1854
Pada Statistiek Beschrijving van Semarang, tahun 1836, dijelaskan bagaimana Opium end Zouregie mengatur tata niaga opium dan garam sepanjang periode tahun 1742-1865. Statistiek administratief Overzigt van Nederlandsch Indië, 8 November 1823, menerangkan isi koleksi mikrofilm perihal perdagangan opium di Surabaya, di mana der Chijs ‘Inventaris van’ s Lands Archief te Batavia (1602-1816) melepaskan rincian pacht opium atau sistem pertaniannya disertai catatan pendapatan perusahaan dalam Buku Persediaan Nomor 6. Di Indonesia, selain Madura (Surabaya) Belanda menanam bunga Poppy (bunga opium) di kawasan pegunungan Cipanas, Bandungan, Batu, dan Ijen. Bahkan Auguste van Pers melukiskannya dalam sebuah litografi penduduk Jawa yang sedang memakai candu pada tahun 1854.

Merari bekerja di perusahaan itu hingga akhir hayatnya, pada 23 April 1941, di Kalianget, Madura, dalam keadaan sangat sepuh. (IQM)

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 44 / Th. IV / Mei 2013)


[Esai] Samurai Biru dari Tosei

Samurai Biru dari Tosei

Samurai Biru dari Tosei1

sebuah kolam kuno
katak melompat
air memercik

HAIKAI yang sangat terkenal ini ditulis oleh Matsuo Basho dan saya sarikan dari kompilasi Nozarashi Kiko, 1686. Matsuo Basho adalah sastrawan besar Jepang yang hidup di zaman Edo. Basho dikenal karena mengangkat haiku ke tingkatan tertinggi dalam sastra dunia.

Nama aslinya, Matsuo Chuemon Munefusa, dilahirkan di dekat Ueno (Tosei), di provinsi Iga—sekarang prefektur Mie—pada tahun 1644 dalam keluarga Matsuo Kinsaku yang bertradisi samurai. Jalan samurai justru mempertemukan Munefusa pada sastra.

Saat mengabdi sebagai juru masak pada daimyo Todo Yoshitada itulah, ia dikenalkan pada sastra. Munefusa mulai menulis dan pertama kali mengganti nama Tiseu (pir biru) dan kelak menjadi Basho. Nama itu ia ambil dari tradisi penyair Tosei, sebagai penghormatan Munefusa untuk Li Po (plum putih) seorang penyair Tiong Hoa.

Sebenarnya Basho menulis haikai pada renga, sebuah bentuk kolaboratif, komposisi urutan puisi yang dibuka dengan mora (ayat) pertama berpola 5-7-5, lalu disusul mora kedua berpola 7-7.

Mora pertama itulah yang kelak dikenal sastra dunia sebagai hokku/haiku ketika disajikan sebagai puisi yang berdiri sendiri. Saat ini, orang salah mengenali Basho sebagai master haiku. Sebab ia mengakui karya terbaiknya menyatu pada renku. “Banyak pengikutku bisa menulis hokku. Diri saya sesungguhnya berbaring pada ayat-ayat haikai (renku).”

Tahun 1662, puisi pertamanya terbit, dan dua tahun berikutnya, dua haikai-nya dicetak dalam kompilasi. Pada tahun 1665, Tiseu dan Yoshitada menyusun sebuah Hyakuin (seratus ayat renku).

Yoshitada mati mendadak pada 1666 dan itu mengubah hidup Munefusa sebagai hamba daimyo. Ia lepas status samurai, meninggalkan rumah dan berganti nama menjadi Tiseu. Kepergiannya itu, diduga karena cintanya pada seorang shinto miko bernama Jutei, yang tak mungkin dipersatukan.

Ia relatif terpangaruh oleh pandangan masyarakat yang merendahkan status puisi renga—dan haikai pada renga—sebagai sebuah bentuk kritik sosial daripada sebuah upaya artistik yang serius. Tetapi ia tetap menerbitkan Kai Oi, dan pada musim semi 1672 ia pindah ke Edo.

Dalam lingkaran sastra Nihonbashi, Tiseu dengan cepat diakui karena gaya puisinya yang sederhana dan alami. Pada 1674, ia dilantik dan memenuhi kualifikasi sebagai seorang Sosho (master haikai), dan menerima ajaran rahasia dari Kitamura Kigin (1624-1705). Kesempatan membuktikan dirinya sebagai haigo dari Tosei, bersama 20 muridnya, ia terbitkan Tosei-montei Dokugin-Nijukasen (Puisi Terbaik 20 Murid Tosei, 1680), sekaligus jadi promosi yang baik untuk memperlihatkan bakat-bakat susastera dari Tosei.

Di musim dingin itu pula, ia memutuskan melintasi sungai menuju Fukagawa, menghindari publik dan hidup lebih tertutup. Para muridnya mendirikan pondok pedesaan untuknya dan menanam pohon pisang (Basho) di halamannya. Ia menghargai pohon pisang itu dengan mengganti nama Tiseu menjadi Basho, kendati ia tak suka pada penampilan miscanthus asli Fukagawa itu. Ia menulis: pisang baruku/ pertanda yang kubenci/ tunas rerumputan!

Pada musim dingin 1682 rumahnya terbakar, dan ibunya meninggal pada awal 1683. Takarai Kikaku, menerbitkan antologi Minashiguri berisi puisi Basho dan penyair lain. Akhir tahun 1684, ia memulai perjalanan ke Yamura, menjauhi Edo untuk pertama kali dari empat pengembaraan utamanya.

Pengembaraan keduanya melintasi gunung Fuji, Ueno, dan Kyoto, ia menikmati perubahan musim dan bertemu beberapa penyair yang ingin menjadi muridnya. “Banyak mora yang tak layak ditulis,” kata Basho kepada mereka agar mengabaikan gaya Edo kontemporer, sekaligus menyindir Minashiguri yang berisi karyanya sendiri. Ia kembali ke Edo pada musim panas 1685, mengambil waktu sepanjang jalan untuk menulis lebih banyak haikai tentang hidupnya sendiri: tahun hilang/ musafir teduh di kepalaku/ sandal jerami di kakiku.

Puisinya dari perjalanan pertamanya itu introspektif tentang dunia di sekelilingnya, mentransformasikan adegan pada elemen sederhana, dan diterbitkan dengan judul Nozarashi Kiko, 1686.

Seusai perjalanan lainnya menuju Hiraizumi, mendaki di sepanjang garis pantai, melalui daerah timur laut Honshu, ia kembali ke Edo pada akhir 1691. Saat ia mencapai Ogaki, ia telah menyelesaikan catatan perjalanannya. Ia edit selama tiga tahun, dan menulis versi final pada 1694 sebagai Oku no Hosomichi (The Narrow Road to the Interior, edisi anumerta 1702). Perjalanan sukses itu ditiru banyak penyair lain. Haikai Amanogawa (1689), dianggap karya terbaiknya.

Di akhir hidupnya, Basho menjalani prinsip karumi (mendekatkan diri pada kefanaan). Ia tutup pintu rumahnya dan menolak bertemu siapa pun selama satu bulan. Basho meninggalkan Edo terakhir kalinya pada musim panas 1694, dan datang ke Osaka. Ia wafat karena sakit perut yang mendera dengan dikelilingi para muridnya pada 1694.

Meski ia tak menulis apapun menjelang kematiannya, namun Meguru yang ia tulis selama sakit, diterima sastra dunia sebagai renku perpisahannya: musafir jatuh sakit/ mimpiku mengembara/ padang rumput kering. (IQM)


[Esai] Sijo Setelah Reformasi Gabo

Sijo Setelah Reformasi Gabo

Sijo Setelah Reformasi Gabo3

SASTRA Korea dimulai pada Zaman Tiga Kerajaan (37 SM-985 M). Sastra klasik Korea saat itu ditulis dalam Hanja (aksara Cina) dengan gaya Tiongkok di bawah pengaruh akar pemikiran yang kuat tertanam pada tradisi, kepercayaan dan kehidupan rakyat Korea. Kendati tetap dalam pengaruh Buddhisme, Konfusianisme dan Taoisme.

Puisi sangat terkenal di era itu, sehingga ada pertunjukan puisi dalam format opera tradisional yang disebut Pansori. Kemunculan aksara Haegul, membuat tradisi sastra Korea berkembang pesat, karena mendorong rakyat Korea menikmati sastra dan mengurangi buta huruf. Ironisnya, karya-karya sastra beraksara Haegul justru populer di awal abad ke-19.

Karya sastra di zaman itu eksklusif bagi kalangan bangsawan dan pejabat istana saja. Karya sastra resmi kerajaan ditera menggunakan aksara Hanmun. Di sisi lain, karya-karya tidak resmi tetap ditulis dengan aksara Tiongkok dalam sistim Idu dan Gugyeol. Kemunculan aksara Haegul menjadi jembatan bagi sastra untuk bisa dinikmati semua lapisan rakyat.

Hyangga adalah sastra Silla berupa syair beraksara Tiongkok dengan sistem Idu, yang dicirikan susunan formal atas 4, 8, atau 10 bait. Syair 10 bait (berstruktur 4-4-2) paling digemari.

Goryeo Gayo adalah seni sastra (lagu) yang lahir diera Dinasti Goryeo. Lagu-lagu Goryeo umumnya bertema kehidupan manusia dan alam, dalam bentuk khusus Byeolgok pada dua jenis Dallyeonche (satu bait) dan Yeonjanche (banyak bait). Gayo yang terkenal adalah Gwandong Byeolgok (Byeolgok pesisir timur) yang bercerita tentang keindahan pantai laut timur Gangwon.

Puisi yang berkembang di era Joseon adalah Sijo, yang merefleksikan pemikiran Konfusianisme dan tema-tema kesetiaan. Sijo tersusun atas 3 bait (per bait 4 baris kalimat) dengan 44- 46 kata.

Bentuk puisi Sijo adalah yang paling berkembang di Korea. Seni menyanyikan Sijo disebut Sijochang dan Danga (lagu pendek), atau Sijeolga (lagu musim). Tradisi menyanyikan syair sudah lama di Korea, namun genre Sijochang baru diperkenalkan pada masa Raja Yeongjo (1724-1776) dan komposisinya dipopulerkan Yi Se Chun dari Hanyang, kendati buku musik Gura Jeolsa Geumbo (Sijo diiringi alat musik kecapi Yanggeum) sudah ditulis sastrawan Sin Gwang-su, sejak zaman Yeongjo.

Setelah pembakuan gaya dan komposisi Sijo, genre ini berkembang pesat pada masa Raja Jeongjo (1776-1800) dan Sunjo (1800-1834). Komposisi Yi Se-chun diwariskan hingga kini dan berkembang dalam beberapa bentuk. Sijo 3 stanza sangat populer karena sederhana dan mudah diterima.

Tidak seperti seni vokal Gasa dan Gagok, Sijo berkembang di banyak daerah dan versi (Gyeongpan dari Seoul, Naepoje dari Chungcheong, Wanje dari Jeolla, Yeongje dari Gyeongsang).

Sejumlah ahli musik Korea menduga, keotentikan dan kemudahan Sijo bertransformasi kemungkinan telah membangun dasar gaya musik Pop di Korea Modern saat ini.

 

Sijo Setelah Reformasi Gabo1
PARA PENYAIR TERLUPAKAN.

SIJO tetap populer bahkan selepas keruntuhan Dinasti Joseon dan dimulainya periode Gaehwa Gyemong (pencerahan) setelah Reformasi Gabo tahun 1894. Bermunculan sekolah-sekolah Eropa dan media cetak yang menerbitkan sastra yang lebih bebas dan tidak terikat aturan tertentu. Genre puisi Sinchesi lahir dengan Jayusi sebagai gaya puisi bebas. Pencerahan yang cepat itu berkat meluasnya penggunaan aksara Hangeul.

Segala aspek budaya, seni dan sastra Korea diberangus di masa penjajahan Jepang, yang memaksa terjadinya proses akulturatif. Sastra Korea dipaksa mencari bentuk baru untuk bisa beradaptasi dengan tema-tema klasik seperti pencarian jati diri dengan penderitaan rakyat jelata yang memilukan di awal tahun 1920-an.

Akibatnya, budaya, seni dan sastra Korea lantak. Sampai era 1980-an, sastra Korea nyaris tidak dikenal di luar negeri. Flowers of Fire adalah antologi sastra Korea dalam bahasa Ingris yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1986.

Salah satu dari beberapa sastrawan Korea legendaris baru kembali dikenal publik di era 1980-an adalah O Sangsun (1894-1963), yang berkelana ke berbagai negara mengunjungi kuil-kuil untuk bermeditasi, lalu bergabung dengan kelompok The Ruins (1920) yang sejenak meninggalkan nihilistic karena kecewa dengan situasi nasional setelah Pergerakkan Kemerdekaan. Karya-karyanya ialah The First Night; Poetry, Cigarettes and I; dan Wanderlust.

Pyon Yongno (1898-1961) seorang penyair yang mencolok dengan kejeniusan, kecerdasan dan retorikanya. Karya-karyanya meliputi The Korean Mind (1924) dan The Azaleas (1947).

Penyair Yi Sanghwa (1900-1941) dikenal dengan puisi-puisi romantik yang sangat sentimental. Ia berafiliasi dengan The White Waves dan melahirkan Does Spring Come to These Forfeited Fields, sebuah kumpulan puisi bertema penderitaan bangsa tertindas.

Yi Changhui (1900-1929) adalah satu-satunya sastrawan Korea yang berhasil mengguncang sastra dunia oleh kesentimentilan dalam puisi-puisinya yang segar dan sensual dalam The Korean Literary World, 1925. Ia memilih membangun pertahanannya sendiri, sekaligus menolak terpengaruh semangat morbid dalam karya Spring Is A Cat; A Lonesome Season; dan The Insect Cries. Yi bunuh diri pada usia 26 tahun. (IQM)

 

Sijo Setelah Reformasi Gabo2


%d blogger menyukai ini: