Monthly Archives: Januari 2015

[Buku Baru] Halte Biru | Afrilia Utami | Kumpulan Puisi

Halte Biru

Afrilia Utami

Penerbit Silalatu

Genre Puisi

 

lihatlah taman di dadaku

bermain sepercik bunga api

dengan titik hujan….

 

“aku memanggil-Mu,

Tuhanku yang sempurna.”

 

“Afrilia Utami masih muda, namun keakrabannya dengan bahasa, khususnya puisi, seperti sudah berlangsung lama. Jika pun ada hal-hal yang diperhatikan secara khusus, menurut saya terutama dalam hal menimbang serta menakar kata-kata agar puisi tidak lebihan gula atau kekurangan garam.” Acep Zamzam Noer, sastrawan, budayawan.

“Afrilia Utami menulis soal-soal sosial, politik, ekonomi, budaya, dll. Saya menyimpan keyakinan dan harapan besar kepada Afrilia bahwa satu saat ia akan menjadi penyair (penulis) yang diperhitungkan di Indonesia kalau dua hal terjadi tetap menjadi bagian dari dirinya. Dalam usianya kini Afrilia memiliki modal baik seorang penulis, pikiran yang cerdas dan hati yang peka.” Ashmansyah Timutiah, penyair, budayawan.

Halte Biru 

Judul Buku : Halte Biru

Penulis : Afrilia Utami

Penerbit : Penerbit Silalatu

ISBN : 978-979-16947-7-3

Pengantar : Hudan Hidayat

Harga Penerbit : Rp.35.000 + (Belum termasuk FOB atau Ongkir)

 

Cara Pemesanan:

  1. Via SMS. format Nama(spasi)Alamat Lengkap Rumah(spasi)Kuantiti Pemesanan(spasi)Tanda bukti transfer akumulasi dari harga+FOB disesuaikan wilayahnya. Tanda bukti bisa dikirimkan ke email: haltebiru@yahoo.co.id No. Tlp.: 082240205509 (Rani Ramdani) No. Rek.: BCA 3211019725 a.n. Rani Ramdani
  2. Via email langsung. format sama dengan butir (1).
  3. Kemudian tunggu konfirmasi pengiriman.
Iklan

[Esai] Monolog Kasim

Monolog Kasim

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Reportase Kematian

SEBUAH ruang, sebuah level, lelampu yang temaram, menanti hening yang pecah. Seorang lelaki terpekur. Kepalanya menunduk takzim pada diam yang cekam. Di sebelahnya, seorang perempuan duduk tenang. Tapi bukan tenang yang lazim. Ia berduka.

Lumen kuning dari lampu di sudut ruang, berpendar. Cahayanya perlahan mencoba menerobos tiga sudut lain dalam ruang itu. Tapi ia berhenti di batas jarak yang mampu jangkau. Seperti ketidak kuasaan pada waktu yang sempit dan pada ruang yang berwarna tunggal—hitam—lumen cahaya itu kemudian menetap.

Kegelisahan kemudian terpancar dari raut wajah lelaki yang tadi terpekur. Wajahnya kini terangkat, tubuhnya perlahan tegak, tangannya mengembang. Kemudian…

Lelaki itu tiba-tiba terhempas di tahun 1969, 45 tahun lampau. Di sebuah rumah kecil di tengah kota pesisir Baubau. Malam yang demam, dipecahkan oleh derap sepatu puluhan orang. Mereka bersenjata dan usai merampungkan kepungan. Dua orang kini di beranda dan mengetuk.

Perempuan tadi terperanjat, mukanya tenang dan bertanya. Ada orang-orang yang tidak sopan datang bertandang di malam buta. Ia bangunkan lelakinya. Pintu depan terbuka, dan lima orang masuk tanpa permisi. Lelakinya harus segera mengikuti mereka dan tidak boleh bertanya lagi. Itulah jawaban pertama dan terakhir dari satu-satunya pertanyaan yang lepas dari bibir si lelaki. Perempuan itu lalu menulis kesaksiaannya: di benak dan airmatanya.

Lelaki itu terguling dan tiba-tiba saja ia kini berada di ruang kecil seorang diri. Lantai dan dindingnya keras, sekeras wajah dan tabiat para ular yang berkeliaran di luar sana. Lalu kecemasan melampai di seluruh ruangan itu. Lelaki itu melepaskan cinta pada putrinya dan perempuan yang menangisinya. Kata-kata duka menjilami udara, menggarami air matanya.

 

Berangkat dari Puisi.

LELAKI yang sedih dalam ruang berjeruji dan lelaki yang terhempas ke masa silam itu, tampak bersandingan erat dalam gerakan, bunyi dan kata-kata Stone. Pelakon dan pendiri Teater Sendiri Kendari itu, membuka monolognya dengan apik. Ia mampu mendatangkan keterasingan dan cekam yang ngilu ke dada puluhan orang yang memenuhi ruang utama Rumah Pengetahuan (RUPA) Idea Project Kendari.

Ahmad ‘Stone’ Zain membuka monolog Kesaksian dengan beberapa larik liris dari puisi Reportase Kematian karya Irianto Ibrahim. Naskah Kesaksian itu memang sari-kembang dari puisi Reportase Kematian yang terilhami oleh kesaksian perempuan Ainun, istri tercinta Drs. Muhammad Kasim, Bupati Buton yang diculik, dikurung di RTM Kodim Baubau. Saksi mata menuturkan, di sel itulah Muhammad Kasim ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung, tapi jenazahnya tak pernah pulang kepada istri dan putrinya. Kuburannya entah, laporan kematiannya ditutupi dan alasan di balik penculikan itu sengaja dibungkus rapat.

Keseluruhan kesaksian ini juga pernah dituliskan dalam sebuah buku DOM 1969: Buton Basis PKI (cetakan pertama, 1996) yang merangkum hasil investigasi sebuah peristiwa pelanggaran HAM dan memilukan atas sebuah fitnah. Oleh Pangkopkamtib ketika itu, Buton di fitnah menjadi basis Partai Komunis Indonesia di Sulawesi, yang ditandai dengan isu droping senjata dari RRC oleh KRI Pattimura di teluk Sampolawa. Fitnah droping senjata itu sendiri tidak pernah berhasil dibuktikan oleh pihak Pangkopkamtib. Rosihan Anwar yang mula-mula menelusuri jejak KRI Pattimura di Sampolawa juga tidak menemukan secuil pun alasan yang mendasari tuduhan itu.

 

Ruang Kebenaran dalam Sejarah.

MALAM itu, Stone dan Pipin (Sulprina Rahim Putri, pembaca puisi, karakter Ainun) mengantarkan monolog dengan gemilang. Stone bergerak ritmik. Pipin begitu ekspresif. Keduanya memukau puluhan pasang mata yang belum menyadari masalah apa sebenarnya yang sedang mereka saksikan dan dengar dalam pementasaan itu. Pengungkapan fakta dalam puisi Reportase Kematian cukup memadai bagi Stone dan Pipin untuk mendedah dan mengekspresikan sebagian kisah menjadi sebuah Kesaksian yang lain.

Dari sisi estetik pementasan, tata ruang dan lampu yang tak “ramai” ternyata mampu menguatkan naskah serta gerak dan kalimat-kalimat intonatif dalam monolog itu.

Dalam gelanggang diskusi selepas pementasan 20 menit itu, Ahid Hidayat, juga menyatakan ketertarikannya dan kuat mendorong agar pementasan itu digarap dalam durasi yang lebih panjang. “Lakon ini akan sangat berdaya dan kuat apabila ditampilkan dalam durasi yang tepat, dalam bentuk pementasan drama atau teater. Pesan-pesan dalam monolog yang singkat mungkin masih mampu diserap dengan baik oleh penonton, tetapi akan lebih kuat jika fakta itu disajikan dalam pementasan yang lengkap,” demikian Ahid.

Ahid benar. Kekuatan pada puisi Reportase Kematian adalah kemampuan Irianto Ibrahim menghadirkan suasana secara faktual yang terjadi di sepanjang tahun memilukan itu. Fakta yang disajikan secara puitik, juga mampu menularkan kekuatannya pada monolog yang dibawakan secara reportoar oleh Stone. Kesan serupa akan lebih kuat jika ditampilkan secara utuh dalam pertunjukan teater atau sebuah doku-drama.

Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa pertunjukan monolog malam itu, berhasil. Ruangan yang kecil di mana monolog itu dipentaskan mendadak sesak oleh puluhan orang yang menonton. Sepertinya, tinggi atensi menyaksikan pertunjukan itu kurang diantisipasi. Instrumen perkusif —yang berada di tangan sebagian penonton— yang awalnya saya kira akan mengisi plot menolog sebagai ilustrasi, tak saya dengar dibunyikan di sepanjang pementasan.

Bagaimana pun, monolog Kesaksian yang ditampilkan Stone dan Pipin malam itu begitu memukau. Saya memujinya. Sebagai sebuah upaya memelihara ingatan, sebuah upaya agar kekerasan dan ketidak-adilan tak tenggelam sebelum diungkapkan, maka monolog Kesaksian dari Repostase Kematian ini berhasil secara historik, estetik, dan kontekstual. Sebuah upaya mengembalikan ruang kebenaran pada sejarah melalui kesenian. (IQM)

Kendari, Mei 2014


Rohto Golden Award 2013

 

ROHTO GOLDEN AWARD 2013 awarded to short story: “Pertarungan”

 Pertarungan

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

1/

KEPALA Nungku seakan pecah, saat darah mengalir cepat dari ribuan pembuluh di tulang belakangnya. Telapak dan jemarinya panas, perih tergesek tali pancing. Bebuku jemarinya pun terasa ngilu. Perutnya geli. Ombak menggulung berlapis, menyeret perahu kecil itu kemana-mana, dihantam air dari segala arah, bikin lambungnya bergolak dan isinya serasa hendak tumpah.

Di tengah deru badai, nelayan muda itu bertahan. Ia membatin: demi Tuhan yang hidup dan matiku di tangan-Nya, sekarang bukan waktunya untuk menyerah.

“Sebaiknya pakai perahu kakakmu saja, Nung. Mesinnya lebih besar dan kuat.” Begitu saran Maulida pada Nungku, sebelum ia melaut subuh kemarin. Saran ibunya itu kini terngiang-ngiang lagi di anak telinganya.

Bukannya Nungku tak mau mengindahkan saran itu. Dalam cuaca yang cerah, perahu kecil pun bisa mengarungi laut yang tenang begitu. Sedari kecil hingga jadi pemuda begini, ia diajari untuk percaya diri saat melaut sendirian. Kulitnya legam, juga karena terpanggang teriknya matahari di laut. Segala bengkak, memar, dan retak di belulangnya, juga pengalaman yang membenam di benaknya, tak ia dapat dari sekadar melihat.

Nungku memang harus membuktikan sesuatu.

2/

Sehari berselang, pada bale bambu di pekarangan samping rumah ibunya, Nungku sedang menyesap nikmat kopi hitam buatan Saimah, kakak iparnya. Dingin pagi ini belum benar-benar pergi, tapi telinganya sudah kemasukan bualan Makati bersama dua kawannya. Peruntungan di laut sudah habis, simpul mereka.

“Aneh. Sekarang ini kan bukan musim angin barat, tak ada ombak pula, tapi kenapa laut di depan sana tidur serupa bayi? Tenang sekali. Ikan pun tak ada.” Gerutu Lasindu.

Tamba menimpal. “Keadaan ini sudah nyaris lima bulan. Mobil-mobil pengepul tak mau lagi datang ke desa ini, sebab tak ada ikan yang bisa mereka bawa pergi.”

Mirip kerapu tua, kepala Maulida terangguk-angguk mendengar bualan kawan-kawan Makati, putra tertuanya. Tapi di liang telinga Nungku, omongan itu terdengar putus asa. Seperti orang raib harapannya sama sekali, begitu kata Nungku dalam hati.

Hilang harapan, maka hilang pula peruntungan, serupa tepung yang dibuyarkan angin. Terbang sia-sia. Mereka itu saja yang tak suka mencoba-coba, Nungku membenak lagi.

Ia sesap lagi kopinya. Belum sehari lewat, ia berhasil menjaring dua keranjang ikan kecil di sekitar karang selatan. Memang hanya ikan-ikan kecil, tapi satu keranjang setengah itu oleh juragan dibayari 50 ribu rupiah. Sisa ikan ia bawa pulang dan itulah yang ditanak ibunya untuk lauk.

Berputus harapan seperti itu, seolah mereka tak memikirkan akibatnya pada hidup anak-istri sendiri. Saat dapur mereka sudah tak berasap lagi, barulah mereka kaget serupa ular yang tersedak ranting.

“Buat apa melaut. Toh perut laut tiada mengandung ikan seekor pun.” Terdengar suara Lasindu membangun alasan.

“Buang-buang solar saja,” pedar Tamba pula.

“Sampai layar sobek dan jaring koyak pun, laut tenang seperti itu percuma diarungi.” Kali ini, Makati ikut bicara.

Saimah berjalan keluar dari pintu dapur sambil membawa tiga gelas kopi dan sepiring ketela rebus. “Kami ini lebih suka berharap saat kalian pulang membawa sesuatu yang bisa jadi uang. Tapi melaut di kondisi seperti ini, kalian hanya akan membuat jantung kami berdenyut mencemaskan kalian.”

Wah, Saimah ikut menyahut juga. Menyela bicara kawan-kawan suaminya, sungguh bukan sesuatu yang sopan. Nungku geleng-geleng kepala melihat tingkah iparnya itu.

Makati mendelik. Ia lempar matanya jauh-jauh, menyapu ujung pesisir utara hingga ke tanjung di bagian selatan. Perahu-perahu tertambat rapi di pantai. Drum-drum solar berdiri kosong di bawah bivak beratap pelepah kelapa. Debur ombak selalu asik didengar, walau kini tanpa suara nelayan bersahutan kala menurunkan ikan dari perahu.

Nungku menandaskan kopinya, lalu masuk rumah. Ia harus menyiapkan keperluan untuk melaut subuh esok. Ia rapikan gulungan tali pancing, lalu menegakkan dayung dekat keranjang ikan. Walau masih muda dan belum menikah, malu juga ia hidup menumpang percuma di rumah ibunya.

“Nung, kulihat sudah tegak dayungmu itu. Apa kau hendak melaut sekarang?” Maulida memergoki kesibukan Nungku.

“Besok subuh, Ina.” Nungku menjawab ibunya.

Maulida tertegun. Jika berangkat saat subuh, artinya nelayan akan melaut jauh dari pantai. “Kau yakin, Nung?”

Nungku mengangguk sambil tersenyum pada ibunya yang sepuh itu. Mendiang ayahnya yang mengajarinya melaut. Walau ibunya juga tak melaut lagi karena uzur, tetap saja Nungku kerap butuh pertimbangannya—kendati ia boleh tak perlu menurutinya karena alasan tertentu. “Semoga kali ini aku lebih beruntung dibanding hari-hari sebelumnya.”

Maulida membalas jawaban putra keduanya dengan senyuman.

Saimah yang baru masuk membawa nampan, sempat terlanga di dekat pintu dapur. Ia tersenyum melihat tingkah Nungku.

“Kenapa kau senyum macam itu?”

“Ah, tidak. Semoga beruntung ya, Nung.” Sinis Saimah.

Nungku mendelik. Ya. Oloklah aku sesukamu, Saimah. Kelak kau yang akan susah jika tak punya uang. Suamimu itu tak mau melaut, sebab bertahan dengan sangkaannya.

“Sebaiknya kau pakai perahu kakakmu saja, Nung. Mesinnya lebih besar dan kuat.” Saran Maulida pada putra keduanya itu.

“Tak apa-apa, Ina. Perahu kecil itu cukup kuat diajak melaut saat cuaca cerah begini.”

Ibunya mengangguk. “Kau hati-hatilah,” pesannya.

3/

“Kau serius, Nung? Kita sudah jarang melaut jauh dari pantai.” Makati memastikan aduan Saimah. Selepas dua kawan suaminya pergi, Saimah mengadukan tingkah adik iparnya itu pada Makati.

“Tidak terlalu jauh. Aku hanya rindu pada laut saja.” Jawab Nungku.

“Tak ada ikan besar di laut sana, Nung.”

Nungku tersenyum pada kakaknya. “Kalau benar begitu, maka aku bisa pulang lebih cepat, bukan?”

Makati berpaling pada istrinya yang hanya bisa angkat bahu. Ia pantas mencemaskan niat adiknya yang tiba-tiba itu. “Di bagian mana kau melaut nanti?”

“Di laut dalam, 10 kilometer jaraknya dari pesisir utara. Di bagian itu matahari tak begitu terik saat siang. Jadi aku bisa pulang sebelum sore.”

Makati tak mungkin menahan adiknya yang sedang merindui laut seperti itu. Nungku pasti kecewa jika ia halang-halangi. Niatan serupa itu wajar keluar dari benak seorang nelayan muda seperti adiknya. Suhu air di pesisir utara masih hangat di akhir bulan Juli ini, sehingga jika beruntung, adiknya masih bisa mengumpulkan ikan selebar telapak tangan.

Maka saat subuh datang, pergilah Nungku menuju pantai. Makati meminjamkan solar pada adiknya itu. Dayung sudah ia lapisi lilin, agar garam tak memenuhi pori kayu dan membuatnya berat saat dikayuh. Saimah membekalinya dengan ketela rebus dalam rantang plastik dan air minum dalam jerigen kecil.

Ia dorong perahu kecil itu agar melabuh. Udara kering laut menerobos paru-parunya, membuatnya nyaman dan hangat di subuh yang dingin itu. Empat ratus meter selepas pantai, arus balik mendorong perahu ke tengah laut. Bagus sekali. Nungku bisa menghemat bahan bakar. Ini angin timur dan Nungku menuruti nalurinya; ia arahkan perahu ke bagian utara. Mesin perahu menderu-deru saat laju, dan lunas tegak-nya membelah air.

4/

Maulida didera cemas luar biasa. Awan gelap menghalangi cahaya matahari sore yang seharusnya condong ke ufuk. Sebenarnya, cemasnya itu sudah lebih dulu datang saat hadirnya hembusan angin yang terasa aneh sejak siang tadi.

Tak hanya ibunya yang cemas macam itu, tapi Makati juga. Terang saja mereka berdua mencemaskan Nungku. Sesuai janji Nungku, mestinya perahu adiknya itu sudah tampak sejajar dengan horison langit selepas siang tadi. Tapi perahu Nungku tak nampak.

Para nelayan di desa Talaga Besar ini selalu berharap perubahan cuaca adalah pertanda baik berakhirnya paceklik ikan di perairan di depan desa mereka. Tapi bisa jadi itu pertanda lain. Tak sesiapa pun yang dapat menebak cuaca dengan persis.

Maulida mengutarakan cemasnya pada Makati sekali lagi. Makati pun paham kekhawatiran ibunya. Lalu Makati minta pertimbangan pada istrinya: akankah Saimah melarang, jika saat ini hendak ia susul adiknya ke tengah laut?

Terang saja Saimah protes dengan memasamkan muka. Bukannya ia tak sayang pada adik iparnya itu, tapi melepas suaminya ke tengah laut saat angin menderu ganas macam ini, bukanlah hal yang patut ia timbang-timbang lagi.

“Tapi, Imah. Kau lihat sendiri seperti apa cemasnya Ibu. Tak di saat begini pun, Ibu kadang mengkhawatirkan Nungku jika memancing di karang selatan. Aku juga cemas membayangkan Nungku melawan ombak sendirian.”

“Lantas subuh tadi, kenapa Abang izinkan dia?”

“Kita tidak tahu akan begini cuacanya, Imah. Kau kan tahu seperti apa gairah si Nungku itu pada laut. Ia gagal kuliah selepas SMA, maka jadi nelayan ia pikir satu-satunya hal yang pantas ia baktikan pada Ibu. Ia ingin seperti Ayah, katanya. Satu-satunya orang yang bisa membuatnya meninggalkan laut hanyalah mendiang Ayah. Bila gairahnya itu datang, bagaimana mungkin ia hendak kau tahan?”

“Hanya itukah cara Abang membawa Nungku kembali ke darat?”

Makati terdiam. Pertanyaan inilah yang tak mau ia dengar. Makati masygul sekarang. Tak kuasa melakukan apa-apa. Tak mungkin meminta pertimbangan ibunya yang sedang didera cemas. Ibunya pasti mengizinkan, namun Saimah sudah terang tak akan setuju.

5/

“Ayolah, Nung…!” Gumam Nungku menyemangati dirinya sendiri. Persis begitu ucapan ibu setiap kali menyemangatinya. Di tengah kesendiriannya di tengah laut begini, di saat badai sedang mengintai, hanya kata-kata ibunya saja yang membuat ia merasa tak sedang sendirian.

Ia memejamkan mata. Merasakan angin mengenai wajahnya. Liang telinganya seperti pekak saat dipenuhi angin yang berkesiur. Air laut mengayun perahu kecil itu. Nalurinya harus peka saat ini. Awan hitam yang bergulung, terdengar seperti menggelegak di atas sana. Mendiang ayah sering bilang, seorang nelayan harus menyatukan batinnya dengan laut. Ia harus menyatu dengan suasana di sekelilingnya. Telinganya akan berubah peka. Perasaannya akan tajam.

Gelap subuh tadi membuatnya tak awas, dan betapa kaget ia mendapati pagi saat berada di bagian lautan ini. Ada kelabu menutupi ufuk, sedang ia sudah sangat jauh dari pantai. Jauh dari orang-orang yang mungkin sedang mencemaskannya.

Kakinya sampai kebas dan tulang ekornya sakit karena duduk terlalu lama di undakan papan pada buritan perahu. Nungku tak mau berkilah pada dirinya sendiri. Di tengah laut begini, ia merasa seperti tamu. Duduk sendiri di hadapan tuan rumah yang sedang tak ramah. Masih beruntung, arus tak mendorongnya kian masuk ke mulut samudera.

Menjelang siang, belum ada seekor ikan yang menyambar satu umpan pun, dari 20 mata kail yang ia sebar. Sesekali Nungku menarik tali rawai seraya menatap langit di atas kepalanya. Perlahan rawai itu ia gulung kembali. Ia membawang, karena kesal tak ada ikan di ujung setiap mata kail dan kakinya mulai kesemutan.

Perahu kecil itu bagai noktah hitam di tengah laut. Di lazuardi, kelabu segera menjadi hitam yang menakutkan. Saat ini, seharusnya gelombang membuat ikan-ikan aktif bergerak, sehingga lapar dan bikin mereka memakan apa saja yang tampak berkilau.

Kelelahan membuat tubuh Nungku gayang. Di benaknya, terus terulang-ulang tekad untuk menjinjing pulang seekor ikan besar buat ibunya. Cukup seekor saja, dan itu cukup untuk mengakhiri spekulasi para nelayan lain di desanya.

Pantulan awan kelabu di atas sana, membayang hitam di permukaan laut. Lalu rerintik hujan mulai curah dari langit. Tapi tak terlalu lama, rerintik itu berubah seperti panah air yang lesak deras, menusuk daging. Angin menderu-deru. Air laut sudah bergejolak. Laut siap mendulang badai yang sejak tadi menghantui angkasa. Jujur saja, situasi ini membuat Nungku cemas luar biasa.

Lalu badai benar-benar datang. Perahu kecil itu diombang-ambingkan gelombang. Dihantam ombak dari segala arah. Diterpa air hingga dinding perahu terdengar berderak seperti mau lepas. Nungku mengikatkan tali ke pinggangnya pada undakan di buritan perahu. Ia jungkit mesin perahu, lalu memasang kitir. Bersiap-siap menghadapi badai yang mungkin akan menggila. Semua yang pernah diajarkan ayahnya sudah ia lakukan. Perahu kecil itu kini siap menari di sela gelombang.

Berbekal kitir di tangan kanan, cukup lincah Nungku mengikuti ayunan gelombang. Matanya tak mau lepas dari tali rawai yang ia gulung dengan tangan kiri, lalu silih-berganti mengawasi setiap puncak gelombang yang menuju ke arahnya, agar ia bisa lekas belok menghindar. Jangan pernah berada dalam cekungan di antara dua bukit gelombang, sebab salah satunya kemungkinan akan mendorong perahu ke dekat gelombang lainnya, mengurung dan memecahkan perahu dalam himpitan gelombang. Begitu kata ayahnya. Nungku bergidik membayangkan akibatnya.

Ayunan gelombang memainkan perahu kecil itu seperti batang korek api yang diaduk dalam tempayan. Gelora kini berhimpun di dadanya, bercampur cemas dan keberanian yang ia bangkit-bangkitkan. Satu per satu pelajaran dari ayahnya bergegas datang ke kepalanya, seperti saling berebutan memberi saran dalam suara yang ribut dan Nungku harus merukunkan mereka agar bisa mengambil keputusan terbaik sebelum bertindak.

Sedikit demi sedikit perahu kecil itu kemasukan air. Horison langit sudah raib dari matanya. Semuanya tampak hitam belaka, menyembunyikan batas pertemuan langit dan bumi. Nungku terus berharap agar awan gelap menyingkir secepatnya hingga ia bisa melihat ufuk di tengah hujan yang memanahi punggungnya. Mesin tak akan berguna di saat seperti ini. Sebatang kitir itu semoga bisa membawanya keluar menuju tepian badai.

Saat sedang menggulung tali rawai ke-16, sesuatu seperti bergerak-gerak liar di ujungnya. “Kena kau!” Desis Nungku. Tarikan ikan di ujung tali rawai itu seolah hendak menjerumuskan perahu kecilnya ke dasar samudera. Nungku menyangkutkan kitir, lalu ia pisahkan tali kailnya dari himpunan rawai sebelum ia sentak kuat-kuat. Tampaklah di matanya seekor ikan Layar di ujung sana. Ikan itu gelenyar tak henti-henti berusaha melepaskan diri.

Luar biasa besar ikan Layar di ujung tali kail Nungku. Dua meter panjangnya, nyaris sebesar perahunya. Lelaki muda itu berdiri di buritan, mengimbangi perahu dengan dua kakinya. Sesekali ia ulur tali saat ikan itu menjauh. Telapak tangannya panas terkikis tali. Belum apa-apa, ikan itu sudah menguras separuh tenaganya.

6/

Air laut, hujan dan angin tak henti menghantam perahu dan tubuhnya, tapi Nungku tak mau menyerah. Ia mengulur tali, sesekali menyentak seraya menggulung dengan cepat, agar ikan itu segera kehabisan tenaga dan kian dekat ke perahu. Sesekali pula ia harus berjongkok menahan kitir yang bergetar hebat saat perahunya condong memanjati ombak. Nungku nyaris terlempar dari perahu, saat segulung ombak besar menghantam tubuhnya dari sisi kiri. Ia buru-buru merebahkan diri sambil berpegangan erat pada bibir perahu.

Saat duduk kembali, perahu kecil itu tampak aneh. Rupanya, segulung ombak tadi telah mematahkan jarangka di sisi kiri dan menghanyutkannya entah kemana. Kini jarangka perahunya tinggal satu dan ia harus meneruskan pertarungan untuk pulang. Di tengah prahara macam ini, tak mau ia mati percuma. Ia tak sudi melepas nyawa sebelum pertarungan usai.

Menjelang subuh berikut, agaknya pertarungan mereka belum akan usai. Nungku melayani ikan Layar itu sampai di batas tenaganya akan pungkas terkuras. Angin sedikit mereda, namun gelombang masih mengaduk permukaan air. Dua makhluk Tuhan itu gigih saling mengalahkan.

Sebenarnya Nungku sedang menunggu sebuah kesempatan untuk segera mengakhiri perlawanan si ikan Layar. Ia menanti, namun tak jua kesempatan itu datang. Ikan besar itu seperti mengolok-olok kesabarannya dengan berenang cepat mengitari perahu, lalu tiba-tiba melompat saat tali kail mengencang. Serasa hendak patah tungkai lengan Nungku dibuatnya.

Suatu kali, saat peluang itu datang, justru ketika perahunya itu berada di antara dua gelombang yang membentuk bukit. Ia terpaksa mengayun kitir, membelokkan perahu untuk membelah gelombang, sehingga peluang itu lepas begitu saja.

Namun kesabarannya terbayar. Saat peluang datang sekali lagi, mata Nungku membesar melihat permukaan air yang tersibak, menyembulkan tombak di ujung hidung ikan Layar itu. Nungku yakin, ikan itu akan memukul permukaan air kuat-kuat dengan ekornya sebelum melesatkan tubuh ke udara. Ya. Itulah tandanya.

Nungku melilitkan tali kail di telapak tangan kanannya secepat yang ia bisa. Genggamannya harus kokoh, sebelum ia bersiap menyentak tali kail sekuat tenaga. Tangan kirinya juga sigap menahan rentangan tali dengan kuat. Cukup sekali peluang itu datang, maka seterusnya ada tiga kali berturut-turut ikan akan bergerak seperti itu untuk meredakan efek benturan air. Peluang itu dimanfaatkan benar-benar olehnya. Berulang ia sentak tali kailnya dan membuat ikan Layar itu terbanting tiga kali. Semoga saja itu cukup mengakhiri perlawanan si ikan Layar.

Benar saja. Ikan itu terlihat payah saat Nungku menariknya ke sisi perahu. Agak repot ia menjaga ikan itu tetap bersisian dengan perahu kecilnya saat gelombang terus mengayun dan layar besar di punggung ikan tegak mengancam. Jika tak hati-hati, ujung tulang layar ikan yang runcing itu bisa menusuk dadanya.

Nungku menghunus pisau besar dari pinggangnya. “Kau hebat sekali tadi,” bisiknya pada ikan besar itu, “aku menghormatimu di pertarungan ini. Tapi, maafkan aku, kawan. Kita harus memenuhi takdir kita masing-masing.”

Perlahan Nungku menekan pisaunya ke lambung ikan besar itu. Menahannya sejenak agar darah ikan tak banyak keluar dan ikan bisa mati tanpa banyak kesakitan. Akan repot ia nanti jika darah ikan justru mengundang datangnya kawanan hiu.

“Aku janji akan menguburkan jantungmu di pantai.” Nungku menjanjikan ritual Tosangia, sebagai penghormatan bagi makhluk laut yang ia kalahkan dalam pertarungan. Ini penting. Tapi ia harus kembali ke pantai dengan selamat untuk bisa memenuhi janjinya.

Tubuh ikan Layar itu ia ikat di sisi kiri perahu, di bagian jarangka yang patah. Ternyata segelombang ombak terakhir yang menerjang perahunya telah pula mematahkan kitir, membuat mesinnya kemasukan air dan tak bisa lagi dinyalakan. Hanya sebatang dayung saja harapannya untuk pulang.

Langit belum cerah, dan ombak masih cukup tinggi. Hujan sudah selesai dan angin perlahan mereda. Tapi Nungku harus pulang, semoga bisa mencapai pantai sebelum siang. Ikan di sisi perahunya itu akan memupus sangkaan orang tentang laut, tentang peruntungan yang kata mereka sudah habis. Sangkaan-sangkaan yang serupa buih ombak di setiap benak nelayan desa Talaga Besar akan reda saat ia nanti mendaratkan ikan ini di pantai.

Terlintas wajah ibunya, juga wajah ayahnya. Wajah Makati dan istrinya. Wajah-wajah yang menemani kesendiriannya dalam pertarungan di tengah badai tadi. Senyum ibunya masih membekas di pelupuk matanya, seolah memberinya semangat untuk terus mengayuh menuju pantai. Pertarungan yang membuatnya lebih percaya diri. Ia kian yakin pada petatah-petitih yang kerap diucapkan ibunya: Tuhan tak pernah menyembunyikan setitik nikmat pun dari hambanya.

Saatnya pulang.

“Terima kasih, Ibu.” Nungku mengayuh dayung menuju pantai. (*)

Molenvliet, 2013.

Selengkapnya, baca di: LMCR-RayaKultura


[Short Story] Fireflies Party | Jawa Pos | Sunday, April 27, 2014

Fireflies Party

by Ilham Q Moehiddin

translated by Jonas Chapman (Canada)

Ilust_Pesta Kunang-Kunang_Jawa Pos 

1/

NO was tomb here. Only a cavity in a giant Willow tree, trunk upright in the middle of the village. Cavities are caused by lightning blow and often filled with fireflies were partying after the bodies placed, makes it look like a party on New Year’s Eve lanterns.

When the old Willow was found in the northern woods, Ama (father) Huga amazed with its size. Then he set up house 500 meters from the tree. In the first three years, the people come together, then took up a house there. The houses are now surrounded the giant old Willow. Ama Huga astonished at the old Willow was never lost even before his death. He wanted a cavity in the old Willow into his grave and the grave of every person who later died in the village that he calls this Lere’Ea. People obeyed. Because trees absorb Willow stench around him, the tree was also sucking the stench of death from the bodies of the dead.

Funeral tree is an effective solution that does not run out village land for the grave. Cemeteries aren’t cumbersome and inefficient.Willow trees alive and growing giant, as the final home for the dead.

2/

Intina worried about the attitude of some men aren’t attention to the special things that he keeps on Mori. They fascinated to him. Liked she heave black hair,thick eyebrows on the oval face, or solid body. Mori married Intina in 12 years ago, and he still Mori wife until one day the man she loved was home.

“Stop waiting for Mori,” one of them tried to convince Intina. But he answered them with a slamming door. How he needed to do to destroy the hopes of every man in this village.

Intina may fool for still maintaining missed. Mori went when Waipode have eight months old. On the last morning she looked at her husband, was dawn when Mori kissed her daughter forehead, then Mori shut the door from the outside. Intina waiting in each of the next morning, hoping Mori reveals the door and smiled at them both. Small Waipode never smell his father’s body is now a teenager.

Waipode didn’t ask his father. Of course to difficult misses something he had never meet. Mori is a problem of his mother and it was not for Waipode. Mori is not the first time he saw when his eyes began to open.

3/

One night, before he was 13 years, Waipode suddenly get fever. Four days later,the fever rises and nobody Lere’Ea shaman can suppress. They give up so easily, such as shaman beginners learn stirring potions. On the sixth day, Waipode had opened her eyes, before seizures and silent.

Mysterious diseased and sudden death was a shock every person in Lere’Ea. Intina cleaning her daughter body and wrapped it in a clean cloth. Such manners here, it’s Waipode dead body will go into cavity the giant Willow.

From wooden chair on the porch of his house, Intina not move until the night comes. She eyes show cavity that had filled the fireflies. He fainted due to fatigue and woke in his bed on the third night, when the rowdy village.

Fireflies party at the Willow cavity, casting a silvery glow as the emergence of two hands flailing. People are horrified when two hands were gripping the grass, crawling, like trying to drag him-self out of the cavity. Body covered in soil plain girl who surrounded fireflies. People are increasingly rowdy. For the first time they saw the dead rise from the cavity Willow.

Standing on confusion, the girl asked. “Where’s my mother? Where Intina, my mother?”

Yes. The girl’s name and acknowledge Intina as his mother.

“I’m Waipode, his daughter.”

People choked. She was admitted as Waipode, Intina daughter, who died three days ago. Intina removing the sheath and hurried over to —whoever he is— as he sheathed body began to be plain that the eyes of every man’s attention in the crowd.

All the men presented there, except Kalai. The doll maker at living the end of the Lere’Ea village, suddenly ill and fell asleep under the influence of drugs. He did not know the noise that just happened here.

4/

In Lere’Ea no one can make as good a wooden doll. Kalai poured all his feelings when making the dolls. Sculpt female dolls as high as one meter of living. The female doll only. On weekends, his old wagon it creaky to road up the rocky village to the town, to the store where he usually left the doll for sale.

There’s always a doll that is not salable. On some models, for some reason do not want to buy. Maybe they don’t like in shape. The dolls are not sold that he brought back and lined up on a shelf in the living room of his house, as a marker to no longer make such a model. Raw material stuffed it increasingly difficult to get. Willow tree in the middle of the village is difficult to be climbed to a branch of the straight.

Yes. Wicker Willow is a secret advantage Kalai sculptured dolls. Willow wood is heated first before he chisels into head, body,arms and legs for her dolls. Soft wood Texture to make the blade Kalai agile dancing all over the wood.

Willow as it grows to Kalai. Willow’s death smoked aroma of corpsesin their sockets, have to fertilize and cultivate new tree limbs.

But Kalai not make a doll when the girl out of the cavity Willow. He also did not exist among many men who feel lucky to catch the girl’s body. Because sick make Kalai must meet Lere’Ea shaman to buy potions. The effects of the potion made him feel tired and sleepy. He slept all day and did not know anything had happened in the village after dusk.

The shamans in Lere’Ea confirmed that girls who out of the Willow cavity that is Waipode, Intina daughter. The odd thing is they are difficult to explain. The willows have turned Waipode in three days after his death. Waipode out in such a big girl, 10 years older than the teenage girl Intina inserted into the tree cavity.

Intina not want to go about it. The girl came back to life in any form, if he does Waipode, then Intina will admit it. It feels weird, but their can lives as before. As before the death of her daughter went and returned.

5/

Waipode like Kalai made dolls. Dolls and handsome young man, are two things that can always create a story for a mature girl. “I like your dolls,”said Waipode.

Kalai smile. “I heard, you make noise the whole village. What happens on the other side there? So the gods let you go home?” Kalai kidding.

Waipode laugh. “On the other side is more quiet. There was no one to fight for theland. There was no such incident experienced by Adenar families banned prayer and expelled from Laibatara (house of worship). Sheol is more tolerant than the world of the living.”

Kalai was stunned to hear the words Waipode.

“This for you,” Kalai offered Waipode a newly doll he made finished. Waipode nodded happily. The doll has not been colored.

It was just a little conversation. But Waipode is always there if the young man working moment. Intimacy they make other youths jealous. Waipode have chosen, and Kalai it’s a lucky young man.

6/

Kalai realize that strange things often happen at his house late at night. His workshop is a mess when he left, always neatly next morning. Utensils arranged on the same spot. Sharpener timber garbage disappear without trace. All over the house clean. As there is a mysterious hand that has helped clean up the mess.

When Kalai asleep, the homemade doll moves. Yes. Wooden dolls that live on and off the display rack in the middle of the house. They explore each room, acting like a young girl who was busy tidying the house. They return all the objects into place, cooking porridge and coffee heats for Kalai before they go back into place before dawn.

However, the dolls start talk about Waipode. The presence of the girl is a serious problem for them.

Giant Willow in the middle of the village store incongruity since it began to be used as a tomb tree. Trees not only absorb thescent of death, but also save the souls of the dead girl in the adult sap vessels. The spirits that dwell there and wait for the new body. They accidentally life by the love that poured out when he Kalai sculpting dolls.

They hate have often the young man admired Waipode. It only took a little reason for a death plan.

7/

It’s no coincidence when a small collision Kalai get the wheels off and overthrow the old wagon with passengers. Waipode already dead when Kalai issuing his body from the crush of the wagon.

Intina feeling devastated over Waipode back to the death for the second time. He is waiting for a miracle that never came in the thirdday after the body of Waipode he put in Willow cavity. Her daughter is not alive anymore. There was no light silvery, except fireflies crowd still partying.

However, Kalai has a way of overcoming grief. On the third day, when Intina hope Waipode out of the cavity of Willow, Kalai has completed one wooden doll.

One doll that closely resembles Waipode. The dolls are made Kalai crazy. Dolls who live at the end of the night and silence come back before dawn. The dolls are often celebrate passion of Fireflies, ask Kalai enter the ten other doll into the fire, and made the young man swears no longer sculpt doll. (*)

Ubud, October 2013

Twitter: @IlhamQM

 

*) The idea of this short story from tree-holebaby burial tradition in Tana Toraja and the tree-burial traditions in Trunyan, Bali.

**) In the Indonesian version, these stories was publication for first time in the Jawa Pos newspaper, issue on Sunday, April 27th, 2014.


[Cerpen] Hikayat Penulis yang Mati di Kota Orang-orang Putus Asa | Sastra Digital | Edisi Khusus Juli 2014

Hikayat Penulis yang Mati di Kota Orang-orang Putus Asa

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Mysterious Lake - Kiriban by Sebastian Wagner

JIKA kau berjalan lurus ke selatan, akan kau temui sebuah kota, di mana orang-orang putus asa tinggal. Kota yang memiliki telaga kecil dengan kilauan di permukaannya. Telaga yang mengisap harapan. Konon, tak ada ikan di dalamnya. Telaga yang hanya memantulkan cahaya merah rembulan, dan tepiannya ditumbuhi lumut putih yang bertangkai sebesar lidi kelapa dengan bola-bola berlendir pada ujungnya.

Orang-orang putus asa di kota itu menamai telaga kecil mereka sebagai Telaga Dosa.

Kata nenekku, dahulu orang-orang putus asa terjun ke telaga itu, lalu mati karam ke dasarnya. Kematian telah mengubah suasana di sekeliling telaga itu menjadi suram. “Jangan coba-coba kau ungkit kisah ini. Orang di sana tak suka. Pamali!” Kecam nenek.

Larangan itu harus dipatuhi semua orang dari luar kota itu. Tetapi, larangan itu mencungkil keingin tahuanku. Pada satu-satunya Penujum tua di sini, kutanyai ia tentang kisah para pendahulu dan telaga itu. Bukan cerita yang kudapatkan darinya, justru diberinya aku amarahnya. Penujum tua itu melotot, menghumbalangkan panci ramuannya, lalu buru-buru mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang. Diusirnya aku saat itu juga.

**

Jika kau ikuti jejak ular pasir di gurun, kau akan tiba di kota yang ditinggali orang-orang putus asa. Orang-orang putus asa dari segala penjuru negeri datang ke kota itu untuk membuang diri. Melunta-luntakan hidup mereka yang habis harapan itu.

“Sudah aku katakan jangan kau ungkit-ungkit kisah para pendahulu. Kelakuanmu itu sangat terlarang!” Begitu jengkelnya nenek saat mengetahui perbuatanku.

Rasa penasaranku telah menyusahkannya. Tetapi, siapa pun yang dilarang dengan bunyi kalimat macam itu, maka ia pasti berbohong jika tak terpancing keingintahuannya.

Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang.

Begitulah peringatan diejakan pada anak-remaja yang beranjak dewasa dan pada setiap orang yang datang. Kalimat yang disampaikan dari generasi ke generasi. Jika kau berani mempermainkan kalimat itu, kau akan segera mendapat cap makhluk paling laknat yang pernah hidup di antara orang-orang putus asa.

“Kota itu kosong sebelum orang-orang putus asa datang. Keputus asaan telah mengikat orang-orang di sana. Tiada harapan bisa kau temukan, kecuali kecurigaan belaka.”

Nenek menceritakan suatu peristiwa; tentang sekumpulan kecil orang putus asa datang ke kota itu, lalu coba-coba mengubah kalimat keramat itu dengan dalih reformasi. Seketika mereka dihujat karena menista para pendahulu, berbuat amoral dengan memberikan harapan pada orang lain. Sebab satu-satunya moral yang diterima di kota ini hanyalah: keputus-asaan.

Sekumpulan kecil orang putus asa itu dimahkamahkan, lalu diarak ke tepi telaga. Kemudian, seseorang dari mereka dijadikan contoh bagi kawan-kawannya. Ia dianiaya hingga kepayahan, sebelum dilemparkan ke tengah telaga. Ia karam mati di situ. Mayatnya dikubur di luar tapal batas kota.

Hukuman yang paling menakutkan bagi penduduk kota itu bukanlah mati ditenggelamkan, tetapi dikuburkan di luar kota. Itu adalah pembantaian atas marwah mereka sebagai orang-orang putus asa.

**

Jika kau ikuti burung Nasar yang terbang pulang, maka kau akan tiba di gerbang kota yang dihuni orang-orang putus asa. Orang-orang yang merendahkan dirinya serendah-rendahnya. Orang-orang di kota itu bersedia membunuh hanya karena sebuah harapan yang coba diterbitkan. Mereka hanya setia pada kalimat yang terpahat di tugu batu, di depan gerbang kota: Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang.

Ada masanya mereka melakukan ritual perjalanan suci. Orang-orang putus asa di kota itu memulai petilasan dari tugu batu di depan gerbang kota, melafalkan kalimat keramat dengan sungguh-sungguh, berulang-ulang, sehingga perjalanan itu selesai di tepi telaga.

Tiada sesajian, karena tak ada yang bisa mereka sajikan dari tanah kota yang tak mereka garap itu. Mereka menghabiskan apa yang ada, dan tak peduli jika kelak punah apapun yang ada di atas tanah kota itu. Tiada doa yang dipanjatkan, sebab harapan tak dibutuhkan. Harapan adalah dosa maha besar.

Di tepian telaga, mereka mencukuri rambut di kepala mereka untuk dibuang ke dalam telaga. Demi kepatuhan, orang-orang putus asa itu akan memakan jamur bola-bola putih berlendir yang tumbuh di sepanjang tepian telaga. Entah seperti apa rasanya. Barangkali, rasa aneh berlendir dan pahit luar biasa itulah yang mengubah wajah mereka menjadi jeri dan takut, seperti menahan dera siksa yang paling maut. Mereka selalu pingsan seusai memuntahkannya kembali.

Nenek bilang, mereka sangat menikmati keterasingan. Menikmati derita kematian para pendahulu melalui jamur bola-bola putih berlendir itu. Ada kalanya, satu-dua orang mengamuk seperti kerasukan sesuatu; memukuli tubuh sendiri dengan benda tajam dan merasa sedang menikmati keputus asaan yang diberkatkan padanya.

Darah dan luka adalah keputus asaan tanpa batas. Harga sebuah kepatuhan, kata nenekku.

**

Aku telah mengikuti awan kelabu yang berarak ke arah selatan, sehingga sampailah aku di depan gerbang kota orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang menerima kekalahan, sekaligus tak memberi apapun yang melebihi keputus asaan mereka sendiri.

Seperti pada setiap orang yang datang, padaku mereka sampaikan juga larangan yang sama: jangan sekali pun menanyakan perihal telaga di tengah kota ini, dan kenapa orang-orang putus asa terdahulu bunuh diri di situ. Itu bukan untuk didiskusikan. Pamali.

Tetapi, seringnya larangan itu diulang-ulang membuat kesabaranku terkikis. Keingin tahuan mendorongku datang pada satu-satunya orang yang aku anggap memiliki jawabannya. Ya. Si Penujum tua itu. Namun ia seketika melotot, menendang panci ramuan hingga terhumbalang, mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang, seraya mengoceh tak putus-putus. “Pamali, pamali, pamali…”

“Tapi informasi ini penting untuk tulisanku,” ujarku memohon.

“Memangnya kau siapa hendak menulis sesuatu yang kami larang?” Si Penujum tua berteriak dari bawah selimutnya, “cukuplah bagimu apa yang tertera di tugu batu di depan gerbang kota ini.”

“Baiklah, jika Tuan tak mau,” aku menenangkannya, “cukup katakan saja pada siapa aku harus bertanya selain padamu?”

Seketika si Penujum tua itu bangkit seolah baru saja tergigit seekor Semut Api. Ia singkapkan bulu Beruang yang menutupinya, matanya merah terbakar amarah. “Pergilah! Jangan sampai aku mengadukanmu pada para pengawas kota. Akan aku lupakan bahwa kau pernah ke sini dan melontarkan kekotoran dari mulutmu. Pergilah!”

Bukankah sudah kukatakan, siapa pun yang dilarang dengan bunyi kalimat macam itu, maka ia pasti berbohong jika penasarannya tak kian terpancing. Aku keluar dari rumah si Penujum tua. Tetapi, kepergianku justru hendak menjemput jawaban dari orang-orang putus asa lainnya di kota ini. Aku hampiri rumah mereka satu per satu. Aku singgahi setiap tempat mereka berkumpul.

**

Jika kau mendongak dan mendapati bulan berwarna merah di ujung gurun, maka sinarnya akan menuntunmu ke kota yang dihuni orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang membunuh setiap pertanyaan perihal leluhur mereka, tentang keanehan telaga, tentang kepatuhan yang tak boleh diungkap.

“Tidakkah kau baca pahatan di tugu batu, di depan gerbang kota ini?” Seorang Pengawas Kota mendesiskan amarahnya ke wajahku, di suatu mahkamah yang disesaki orang-orang putus asa.

Aku memprotes mahkamah ini. Tak ada perlunya mereka mendakwaku untuk hal yang tak aku pahami. “Tapi, aku tak memahami maksudnya.”

Orang itu mendelik. “Kau tak perlu memahaminya. Kau hanya perlu mematuhinya.”

“Mematuhi sesuatu yang tak aku pahami?” Aku mendebatnya.

“Kau mengganggu keteraturan di kota ini dengan berbagai pertanyaan yang kami larang.”

Aku menegakkan punggung. “Jadi? Apa yang nantinya akan kutuliskan tentang kota ini?”

Pengawas Kota itu mengangguk tegas. “Tidak ada. Diamlah, dan terima saja keadaan kami. Oh, tidak. Kau tak patut memaksakan keberatanmu atas apa yang telah kami lakukan turun temurun.”

“Aku tak memaksa. Hanya ingin jawaban.”

“Apa bedanya? Bukankah kau sedang berusaha membuat kami melanggar sesuatu yang kami tabukan?”

Aku terdiam. Wajah si Pengawas Kota tiba-tiba sinis, “karenanya, kau akan dihukum.”

“Tunggu…!” Aku berdiri, “aku bahkan bukan warga kota ini.”

“Diam kau!” Hardik si Pengawas Kota, lalu menoleh pada empat Pengawas Kota lainnya yang ikut mengangguk setuju. “Kalian!” Pengawas Kota di depanku itu menunjuk dua orang di belakangku, “bawa orang ini ke telaga!”

“Tunggu dulu…!” Aku menolak perlakuan orang-orang kota ini. Tetapi, orang-orang putus asa itu tak peduli. Mereka menggamit lenganku, memaksaku berjalan menuju telaga. Orang-orang putus asa lainnya mengekor seraya mendengungkan kalimat keramat.

Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang.

Para Pengawas Kota memerintahkan agar aku dicampakkan ke tengah telaga. Tubuhku tercebur, membenam beberapa saat. Tanganku menggapai-gapai di permukaan air, berusaha sekuat tenaga menuju tepian. Air telaga seperti sedang mencarak semua harapanku, menarik tubuhku kian karam ke dasar telaga.

Tetapi, aku bukan salah satu dari orang-orang putus asa di kota ini. Aku tak ingin mati di dasar telaga. Walau payah dan sekarat, aku berhasil menggapai tepian telaga. Seorang gadis muda berjongkok di atas tubuhku yang sekarat itu. Kata-kata seperti hendak berlompatan dari bibirku.

“Kau tahu? Jawaban yang kau cari ada di dasar telaga ini. Mungkin, aku tak akan sempat lagi menuliskannya.”

Gadis itu nyaris tak mendengar gumamku. Ia mendekatkan telinganya.

“Jangan dengarkan apa yang mereka ingin kau percayai.”

“Ada apa di bawah sana?” Gadis itu mendesak.

“Di bawah sana banyak ikan, sangat banyak,” suaraku nyaris hilang. “Harapan lebih banyak di dasar telaga ini daripada di atasnya, di kota yang mengepungnya. Kau tahu, di bawah sana tak ada jejak orang-orang terdahulu.”

Kulihat gadis itu terpana, sebelum cahaya pergi dari bola mataku. (*)

Molenvliet, Januari 2013

Twitter: @IlhamQM

 

(Dipublis pertama kali di Sastra Digital, Edisi Khusus Juli 2014)


%d blogger menyukai ini: