Sebuah Imajiner di Kedai Acta-rithimus

(Berharap Air Bercampur pada Minyak)

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Di suatu sudut sepi imajiner di pinggiran kota Manhattan, ada tempat semacam kedai kopi. Acta-rithimus namanya. Terletak di sisi Papaya Avenue, bernomor 03, kaveling 2012. Ini bukan sejenis kedai kopi yang kerap disinggahi Budi Darma saat menuliskan satu demi satu cerita pendek yang kemudian ia satukan dalam kumpulan paling terkenal; Orang-orang Bloomington. Sebuah rangkuman cerpen yang luar biasa dan menjadikannya sebagai sastrawan Indonesia berpengaruh.

Di hari yang sedikit dingin dan berangin, tujuh lelaki masuk bersamaan di kedai itu, melepas jas dan jaket di dekat pintu dan menyerahkannya pada seorang bell-boy untuk digantungkan. Mereka memilih sebuah meja besar di dekat jendela. Seorang pelayan cantik menghampiri sembari menanyakan apa yang hendak mereka pesan.

“Kopi tentunya akan baik di saat-saat seperti ini,” tukas pria berkemeja hitam.

“Kurasa aku perlu kudapan juga, Cep,” sela Malna pada lelaki berkemeja hitam bernama Acep, “Pai Apel dengan mint,” sambung Malna.

Kecuali seorang lelaki pendiam, maka seorang lelaki yang belum dikenali dan tiga lelaki lainnya mengangguk hampir bersamaan. Di sekeliling meja, selain Malna dan Acep, ada juga Agus memakai sweater leher kodok, Berthold berkemeja kotak bergaris halus dengan lengan yang digulung. Denny, duduk di ujung meja, bersisian dengan Agus.

Pelayan yang pergi untuk menyiapkan pesanan mereka, datang beberapa menit kemudian.

**

“Anda bersama kami sekarang, apa sebenarnya yang hendak dibicarakan?” Tanya lelaki yang belum dikenali. Malna perlahan meletakkan cangkir kopinya, setelah menyesap isinya sedikit.

Semua orang di meja ini tentu mendengar apa yang ditanyakan lelaki yang belum dikenali itu. Mereka berusaha menghalau dingin dengan kopi masing-masing. Acep sedang menuang kopinya ke tatakan dan menyesapnya dari situ. Pengunjung di meja lain dalam kedai itu mengamati dengan heran cara Acep menikmati kopinya. Para pengujung itu, belum pernah melihat orang minum kopi dengan cara begitu sebelumnya. Ini pinggiran Manhattan yang imajiner.

“Saya sudah memikirkan sebuah bentuk baru dalam sastra,” tukas Denny.

Sebagaimana lelaki yang belum dikenali itu, maka Malna, Acep, Agus dan Berthold pun ikut menyimak dengan serius. Denny bicara tentang Poetry, A Magazine of Verse, semacam jurnal sajak, yang tahun 2006 silam memuat tulisan John Barr; American Poetry in New Century. Menurut Denny, di sana Barr melontarkan kritik tajam terhadap perkembangan puisi di Amerika Serikat di tahun itu.[1]

Kata Denny, menurut Barr, puisi semakin sulit dipahami publik. Penulisannya mengalami stagnasi, tidak mengalami perubahan berarti selama puluhan tahun. Publik luas merasa semakin berjarak dengan dunia puisi, para penyair asyik masyuk dengan imajinasinya sendiri, alih-alih merespon penyair lain. “Barr melihat, bahwa para penyair tidak merespon persoalan yang dirasakan khalayak luas,” urai Denny.[2]

Malna mengangguk pelan. Pikirannya berkecamuk. Ia meletakkan dua tangannya ke atas meja. “Apa yang sebenarnya maksud Anda?” Tanyanya. Malna barangkali merasa basa-basi Denny mulai membosankan.

“Kritik Barr itu relevan juga dialamatkan pada perpuisian Indonesia saat ini,” kata Denny.[3]

Malna tersenyum seraya melirik Acep. Agus menarik sudut bibirnya. Kecuali lelaki yang diam membisu di belakang Denny, maka Berthold dan lelaki yang belum dikenali itu menatap lurus pada Denny.

“Bagaimana itu menjadi relevan di Indonesia?” Tiba-tiba lelaki yang belum dikenali itu bertanya.

Merespon pertanyaan itu, Denny mulai bercerita tentang sebuah riset terbatas tahun 2011 yang dilakukan lembaganya. Riset itu hendak melihat perkembangan puisi di Indonesia. Ia memilih secara acak lima puisi yang dimuat beberapa koran ternama Indonesia di rentang Januari-Desember 2011. “Saya tidak mengklaim itu representasi puisi seluruh Indonesia. Namun sampel itu representasi dari puisi yang diseleksi oleh koran yang paling besar oplahnya saja,” kilahnya.[4]

Pembaca yang ia survei ada tiga kelompok: sarjana semua strata, berpendidikan menengah (SMA dan SMP), dan berpendidikan rendah (hanya tamat SD). Setiap jenjang itu diwakili lima orang responden dan pada mereka diberi puisi Aku (Chairil Anwar, 1943) dan Khotbah (WS Rendra, 1971).[5]

Menurut Denny, hasil risetnya itu mengejutkan. Bahkan mereka yang tamat pendidikan tinggi tidak mengerti dan tidak memahami apa isi puisi tahun 2011 yang dijadikan sampel itu. Mereka yang berpendidikan menengah dan rendah lebih sulit lagi memahami. “Mereka menilai bahasa dalam puisi ini terlalu njelimet. Jika bahasanya saja tidak dimengerti, mereka sulit untuk tahu apa yang ingin disampaikan puisi itu,” klaim Denny.[6]

Lagi-lagi lelaki yang belum dikenali itu tersenyum kecut. Barangkali saja di benak lelaki yang belum dikenali itu, terlecut keanehan pada latar belakang klaim yang diucapkan Denny. Bagaimana mungkin ia memajukan klaim yang didasari pada ukuran yang ia buat sendiri, dan dengan jumlah responden semacam itu. Subyektifitas yang digunakannya terlalu rancu: menggunakan dua puisi lama pada (masing-masing) lima responden dengan tingkat pendidikan berbeda. Kerancuan timbul karena alasan yang dikemukakan Denny justru lari sama sekali dari konsep puisi. Tapi, lelaki yang belum dikenali itu belum mau menanggapi Denny lebih jauh. Ia ingin melihat kedalaman argumentasi “si surveyor” ini terhadap bidang sastra yang selama ini digeluti Malna, Acep, Agus dan banyak penyair penting Indonesia, yang sekaligus juga telah membesarkan nama mereka ke tingkat Internasional.

Responden yang diteliti masih bisa memahami dan menebak pesan dua puisi itu, lanjut Denny. Walau kesimpulan mereka beragam, mereka bisa menyampaikan apa yang mereka duga menjadi pesan dua puisi itu. “Ada yang lebih toleran berkomentar bahwa puisi itu sama seperti lukisan: ada lukisan realis yang mudah dipahami; ada lukisan abstrak yang membuat kita mengeryitkan dahi keras sekali untuk mengerti isinya,” tukas Denny. Bagaimana pun, katanya, ada dua sumber yang layak didengar. Sumber pertama, pendapat John Barr, sebagai landasan risetnya, dan sumber kedua publik luas yang diriset melalui sampel.[7]

Kali ini yang kecut mendengarnya adalah Acep. Penyair yang juga melukis itu, barangkali agak sangsi dengan pemisalan yang dibuat Denny. Di Amerika Serikat sendiri, ada banyak pakar puisi selain John Barr —dan tentunya ada banyak media yang juga menganalisa puisi— dan klaim tentang “publik luas” itu sangat mengganggu, mengingat jumlah responden yang mewakili penelitiannya.

“Begini saja,” Acep menegakkan pungungnya, “langsung saja sampaikan maksud Anda.” Rupanya, kebertele-telean itu, mulai mencemaskan.

“Puisi esai.” Kata Denny pendek. Ia menyebut dua nama. Mungkin sebuah nama.

“Puisi dan esai?” Tanya lelaki yang belum dikenali itu.

“Bukan. Puisi esai. Ini adalah puisi bercita rasa esai. Atau esai berformat puisi. Ia anak batin saya.” Jawab Denny.[8]

Tiga penyair dan lelaki yang belum dikenali itu nyaris kentut mendengar jawaban Denny. Cuaca dingin, dan lambung yang ditimpa kopi panas dan pai apel berasa mint bisa segera membuat mulas perut orang Indonesia. Ucapan Denny barusan nyaris saja membuat empat lelaki di meja itu –kecuali lelaki pembisu di belakang Denny— hendak bergegas ke jamban-toilet.

“Anda salah paham tentang puisi. Anda mengira bahwa saat orang sukar mengejar makna puisi, maka puisi itu spontan tak tergapai pesannya. Justru karena itulah puisi menjadi perlambang estetik dari bahasa. Karena itulah ia disebut puisi, bukan esai atau karangan ilmiah,” tukas lelaki yang belum dikenali itu.

“Tapi, sebagai medium, anak batin yang saya idamkan itu bisa menyentuh hati,” bantah Denny, “membuat pembaca mendapatkan pemahaman tentang sebuah isu sosial, walau secuplik.”[9]

“Boleh jadi begitu. Namun puisi sejatinya juga telah merangkum hal-hal yang Anda sebutkan itu. Semua itu ada pada puisi,” tangkis lelaki yang belum dikenali itu.

“Tapi anak batin saya itu punya kriteria-kriterianya sendiri,” Denny mendadak masygul. Ia agaknya mendapat firasat kegagalan di awal obrolan ini, “pertama, ia harus menyentuh hati dengan cara mengeskplor sisi batin, dan mengekspresikan interior psikologi manusia kongkret; Kedua, memotret manusia itu dalam suatu event sosial, sebuah realitas kongkret juga yang terjadi dalam sejarah. Tak terhindari sebuah riset dibutuhkan untuk memahami realitas sosial itu. Tak terhindari juga catatan kaki menjadi sentral dalam medium itu; Ketiga, ditulis dalam bahasa yang mudah dimengerti publik luas, tetapi tersusun indah; Dan keempat, menggambarkan suatu dinamika sosial atau dinamika karakter pelaku. Tak terhindari medium itu menjadi panjang dan berbabak.”[10]

Lelaki yang belum dikenali itu tertawa. Ia geleng-geleng kepala seraya berkata, “kecuali penjelasan Anda yang panjang berikut sejumlah istilah unik yang Anda gunakan itu, juga kenyataan bahwa catatan kaki itu tidak termasuk dalam konsep estetik puisi, maka secara umum kriteria-kriteria itu sudah sejak lama dikandung rahim puisi.”

“Tapi ini, saya pikir, bisa menjadi sebuah gerakan, cara baru beropini dan berpuisi.”[11] Denny terus berusaha menyakinkan semua lelaki di meja itu dengan argumennya.

“Tidak perlu dan tidak penting,” wajah lelaki yang belum dikenali itu mendadak serius sekali. “Saya baru sampai pada pendapat pertama, bahwa Anda sedang berusaha merusak puisi dan esai sekaligus. Puisi murni adalah medium opini, sebab ia memuat opini penyair. Keluwesan puisi mewadahi pendapat, maka puisi tidak saja menjadi ruang bagi penyair semata-mata, namun juga menjadi ruang bagi siapapun.”

Wajah Denny berubah. “Anda sepertinya hendak menyudutkan saya.”

Lelaki yang belum dikenali itu tersenyum. “Mungkin saja begitu. Tapi, belum 30 menit kita duduk di sini, Anda sudah salah paham dua kali,” katanya.

Denny mendehem pelan, dan seorang pembisu di belakangnya mendekut cemas.

“Anda seperti berusaha mendorong kegagalan. Anda gagal memahami ekspektasi orang terhadap puisi. Puisi menjadi sangat kuat apabila ia mampu menjadi medium yang multi-tafsir. Bahasa menjadi serambi bagi setiap orang untuk menafsirkan sebuah puisi dari sudut manapun. Arus yang Anda dorong itu hanya bermuara (dan semata-mata memiliki) satu tafsirnya saja. Varian baru itu berupaya mengacaukan ruang estetik dalam puisi. Hal estetik pada puisi bukan hanya berkutat pada kemampuan penyair memodifikasi penyebutan, typografi, mengantarkan rasa indah melalui penaklukan bahasa, tetapi juga membuka pemaknaan seluas-luasnya,” jelas lelaki yang belum dikenali itu.

Malna mendehem. Dingin barangkali telah membuat tenggorokannya gatal. Kedua telapak tangannya dikepungkan ke dinding luar cangkirnya. “Seabad lalu, puisi masih mengenakan pakaian kegagahan untuk melawan, menjadi martir, membawa moral pencerahan, mengusung seorang aku menghadapi militerisme maupun ideologi yang fasis. Aku-internal dibuat berhadap-hadapan dengan aku-eskternal. Dan aku-internal itu jauh bersembunyi dalam selubung kepenyairan: seorang fiksi yang memastikan aku-eksternal sebagai nyata dan ditelanjangi agar memang kelihatan nyata.”[12]

“Seorang aku yang menerima kenyataan bahwa bentuk-bentuk puisi lebih sebagai siklus yang teknis sifatnya, lalu membatalkan kenyataan ini kalau diperlakukan hanya untuk menjaga puisi tidak bergerak menjadi yang bukan-puisi. Politik narasi yang mencetak dan menjadikan puisi sebagai ladang pengulangan: Menciptakan kalimat-kalimat puitis, rima, sebuah pidato sejarah atau politik dalam balada agar puisi tidak batal sebagai puisi,”[13] lanjut Malna.

Dalam pandangan lelaki yang belum dikenali itu, Malna sudah mengulang dan menekan dua frase “seorang aku”, seraya memandang wajah Denny.

“Kebanyakan pendapat yang terus menjaga puisi tetap berdampingan dengan bahasa, sastra, keindahan, curahan hati, dan harus dibaca dengan cara menafsirkannya, pada gilirannya akan memperlihatkan bahwa puisi bukanlah sebuah kurikulum dan menjinakkannnya untuk mengembangkan teori-teori pembacaan sastra dan bahasa.”[14] Malna seolah-olah sedang menyorongkan sindiran.

Lelaki yang belum dikenali itu dan para lelaki lain di meja ini memerhatikan paparan Malna. Tapi lelaki yang belum dikenali itu, telah menduga bahwa Malna tampak sedang mematahkan argumen Denny —yang bahkan tidak disadarinya.

“Realitas seorang aku dalam rajutannya yang rapuh, mengubah dualisme antara aku-internal dan aku-eksternal hanya sebagai template, bukan sebagai kenyataan. Di-dalam-tubuh dan di-luar-tubuh, di-dalam-bahasa dan di-luar-bahasa, kedua dinding tubuh dan bahasa ini menjadi semakin lentur dalam membangun jembatan-jembatan kesementaraan, keretakan, keserentakan, percepatan, perlambatan untuk seorang aku dalam dunia puisi.”[15]

Malna membuat suasana berjeda setelah paparan singkatnya itu berakhir. Denny juga terdiam. Entah ia memahami, atau tidak, apa yang barusan diucapkan Malna, yang jelas ia tampak sedang memikirkan sesuatu.

Mencairkan suasana yang mendadak kaku itu, Acep menegakkan punggungnya. Lalu ia spontan bercerita tentang 15 penyair Jawa Barat yang sedang ia kurasi untuk mengikuti perhelatan sastra di Cibutak. Tampaknya pula, Acep juga cenderung tak gugah dengan konsep yang disodorkan Denny.

Di kedai ini, Acep justru berharap pada 15 penyair Jawa Barat itu, agar mereka tidak mengkorup bakatnya berpuisi. Menurut Acep, masing-masing penyair itu telah menunjukkan pencapaian yang berarti meski dengan kadar berbeda-beda. Tentu saja, menurut Acep pencapaian tersebut merupakan hasil dari pergulatan mereka dengan bahasa secara terus-menerus bahkan habis-habisan.[16]

Betapa Acep menegaskannya. Keketatan pada pilihan kata, kekentalan pada ungkapan, serta ketelatenan memilih simbol dan metafor menjadi perhatian utama, sebab kosentrasi pada tiga hal itu yang menjadi unsur penting dalam puisi.[17]

Lelaki gondrong berkacamata ini tegas membahas puisi dan para penyairnya. Tampaknya, ia bahkan tidak berminat menengok pada benda yang dijelaskan Denny.

Malna tertarik pada penuturan Acep, serta merta lelaki itu menyambung, “pemastian dan pembatalan juga bisa berlangsung bersamaan dalam jembatan kesementaraan ini. Puisi menjadi pelabuhan untuk banyak perjalanan tanpa memerlukan awal maupun ujungnya. Ia melakukan penetapan-penetapan sementara hanya untuk meninggalkan tanda atau kenangan, lalu bergerak lagi untuk mendapatkan durasinya yang intens,”[18] papar Malna.

“Tetapi,” Denny menarik lehernya saat hendak menyela Malna, “puisi esai potensial untuk dikemas menjadi sebuah movement juga.”[19]

“Bung Malna menyebut puisi, bukan puisi esai. Seharusnya Anda tak keliru mendengarkannya!” Lelaki yang belum dikenali itu jengkel dengan cara Denny memotong paparan Malna, namun enggan menyentuh intinya.

Tapi Denny seperti tidak peduli. “Puisi esai menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Agar yang berpendidikan menengah pun dapat memahami dengan cepat pesan yang hendak disampaikan.”[20]

“Apakah Anda pikir puisi bukan medium komunikasi?” Lelaki yang belum dikenali itu mengangkat jari telunjuknya, “sejak syair dijadikan alat pembawa kabar-berita yang dilakukan para penyair di ribuan tahun lampau, dengan melintasi batas-batas wilayah, tentu saja telah menempatkan puisi sebagai sesuatu yang komunikatif dan satu-satunya cara berkomunikasi paling intim di masa lalu antara subyek kabar, penyair dan publiknya. Sebagai alat penyampai kabar, tentu saat itu syair dalam puisi dengan mudah dipahami.”

Lelaki yang belum dikenali itu bereaksi terhadap kejanggalan argumen-argumen Denny. “Apakah bila seseorang membangun pandangan berbeda terhadap pesan yang hendak disampaikan penyair, maka penyair bersangkutan seketika disebut gagal mengomunikasikan keinginannya? Justru pada titik itulah puisi berhasil mendorong faktor internal ke ruang yang lebih eksternal. Tengoklah puisi terang, yakni puisi yang ditulis tanpa metafor —yang khas dan kerap ditulis penyair Aspar Paturusi. Puisi-puisi terang seperti itu akan menepiskan dugaan Anda sama sekali, bahwa bahasa dalam puisi telah memperburuk komunikasi.”

“Dalam ekspresi berbahasa, saya menganut paham: Lebih mudah dipahami lebih baik.”[21] Kata Denny.

“Terserah Anda saja, Bung,“ pedar lelaki yang belum dikenali itu, “jika Anda ingin orang yang membaca Anda sesegera mungkin memahami pesan dalam tulisan Anda, maka tulislah puisi terang seperti Aspar menuliskannya. Atau sebaiknya Anda menulis berita. Mungkin esai akan membantu Anda. Keinginan Anda untuk selekasnya dipahami bisa terwujud. Namun mencampurkan puisi dan esai sekaligus? Sebagaimana hendak mencampurkan air pada minyak, serupa menghempaskan terms-logic dari apa yang disebut puisi dan esai. Anda merasa, setelah mencampurkan keduanya, Anda telah berhasil membangun jembatan komunikasi dengan publik luas dengan cara yang paling benar, dan cara puisi adalah salah. Keinginan Anda itu persis benar dengan keinginan para penjual bensin eceran di pinggir jalan: menipu pembeli, sekaligus merusak mesin motor mereka, seraya mengambil keuntungan darinya.”

Setiap orang di situ tertawa mendengar kalimat akhir dari lelaki yang belum dikenali itu—kecuali lelaki pendiam di belakang Denny. Wajah Denny memerah karenanya.

“Puisi esai itu fiksi. Boleh saja puisi esai itu memotret tokoh riel yangh hidup dalam sejarah. Namun realitas itu diperkaya dengan aneka tokoh fiktif dan dramatisasi. Yang dipentingkan oleh puisi esai adalah renungan dan kandungan moral yang disampaikan lewat sebuah kisah, bukan semata potret akurat sebuah sejarah.”[22]

“Jika hanya begitu argumen Anda tentang anak batin yang Anda sebut puisi esai itu, maka bikinlah cerita pendek saja. Semua alasan pembenar itu mudah ditemukan dalam bentuk cerita pendek dan drama,” tukas lelaki yang belum dikenali itu, lagi.

Malna dan Acep tersenyum-senyum.

Wajah Denny menguratkan kecemasan. “Puisi esai tidak hanya lahir dari imajinasi penyair tapi hasil riset minimal realitas sosial. Ia merespon isu sosial yang sedang bergetar di sebuah komunitas, apapun itu. Walaupun puisi esai itu fiksi, tapi ia diletakkan dalam setting sosial yang benar.”[23]

Lelaki yang belum dikenali itu tertawa. “Lalu apa bedanya itu dengan konsep puisi murni? Apa Anda pikir puisi tidak lahir dari imajinasi penyair sekaligus dari riset realitas sosial? Apa Anda pikir saat sebuah puisi diciptakan, para penyairnya hanya sekadar melamun dan enggan membidik realitas sosial di sekelilingnya? Puisi sebagai karya fiksi, selalu berpijak pada setting sosial yang benar.”

Malna terdengar menjentikkan telunjuk ke ibu jarinya.

“Puisi esai itu berbabak dan panjang. Pada dasarnya puisi esai itu adalah drama atau cerpen yang dipuisikan. Di dalamnya, selayaknya tergambar dinamika karakter pelaku utama atau perubahan sebuah realitas sosial.”[24] Kata Denny.

Lelaki yang belum dikenali itu mengangkat cangkir kopinya, namun sejenak menahannya di depan bibir. “Argumen Anda ambigu. Jika itu menurut Anda adalah dasar sebuah puisi esai, lantas mengapa Anda tak menulis cerpen atau naskah drama saja. Sejak lampau, Shakespeare telah menulis naskah drama dengan rasa estetik menggunakan bahasa yang puitik,” tetaknya seraya menyesap kopinya.

Kali ini Acep-lah yang terkekeh-kekeh.

Kerancuan demi kerancuan yang terlontar dalam argumen Denny tentang hakikat puisi-esai membuat orang-orang yang mengelilingi meja itu, makin mengeryitkan kening. Denny tampak sekali hendak memaksakan penyebutan dan pengakuan pada puisi esai, sedang ia menjelaskan semua faktor dasar anak batinnya itu dengan berbagai terminologi yang identik dengan genre sastra murni: puisi, cerpen, bahkan drama.

Lelaki yang belum dikenali itu melihat, sebenarnya, Malna dan Acep telah sejak awal membunuh argumen Denny. Malna seolah telah mempersonikasikan Denny sebagai “seorang aku” yang sedang berusaha keras mendefiniskan puisi-esai, namun selalu berakhir dengan kecenderungan kembalinya puisi kepada latennya untuk terus membuatnya tetap berdampingan dengan bahasa, sastra, keindahan dan ungkapan perasaan.

Upaya pendampingan yang terus berusaha membatalkan puisi sebagai karya seni, terus pula dijinakkan melalui kekuasan dari narasi-narasi besar. Maka pernyataan “apa itu puisi” dan “apa itu masakini” mengurai kembali rajutan seorang aku antara aku-internal dengan aku-eksternal.[25]

Malna memberi contoh pada Martin Glaz Serup, penyair dari Denmark, yang juga berusaha membawa puisi dalam penglihatan yang baru. Puisi Martin yang judulnya menggunakan penjelasan dengan kalimat panjang tentang puisi yang ditulisnya. Seorang aku dalam puisinya itu sama dengan gerak hiruk-pikuk yang saling melakukan pemastian, yang ada tidak akan pernah ada tanpa yang lain. Tetapi juga sekaligus saling melakukan pembatalan ruang: ruang tidak dikonstruksi hanya melalui sebuah objek yang berada di dalamnya, tetapi juga melalui objek-objek lainnya, termasuk warna.[26]

Tampaknya, sindiran Malna sudah menjawab Denny yang sejak semula meragukan kemampuan publik memaknai puisi dengan mendasari sangkaannya dari hasil riset yang ia lakukan. Puisi yang diragukan Denny sebagai alat komunikasi dimentahkan Malna dengan berbagai pesan pada puisi-puisi sejumlah penyair yang ia ungkapkan dari momen pertemuan penyair di Forum Penyair Internasional-Indonesia.

**

Dinding selatan Kedai Acta-rithimus, di mana obrolan ini berlangsung, terlihat semarak dengan pigura-pigura cantik berisi puisi-puisi luar biasa dari para penyair kenamaan dunia; Pablo Neruda, Derek Walcott, Allen Ginsberg, Charles Baudelaire, Georg Trakl, Arthur Rimbaud, dan E.E. Cumming.

Sedang pada dinding utara, bersisian dengan kaca besar, tampak beragam pigura lain yang berisi puisi-puisi para penyair Indonesia. Puisi-puisi yang bercerita lugas, menafsirkan manusia dalam waktu dan membawa semua kisah itu menjadi elemen dalam perjalanan kemanusiaan. Ketampakan itu begitu kontras, saat menyadari bahwa Denny sedang ingin mendorong puisi “oplosan” di kedai yang memajang berbagai instalasi puisi murni.

Seseorang yang sejak tadi berdiam diri di belakang Denny, menyodorkan dokumen berisi dua artikel ke tangan Denny. Dokumen yang berisi anak batin-nya itu. Dokumen yang berisi dua artikel yang ditulis panjang dan berbabak, dalam format puisi empat larik.

Di saat ia berusaha menjelaskan keunikan puisi esai sebagai sesuatu yang seharusnya bisa diterima publik puisi dan sastra di Indonesia, dua artikel itu justru tampak melawan premisnya sendiri. Hanya sedikit bagian —untuk tidak mengatakan sedikit sekali— dari dua artikel itu yang memajang catatan kaki, sekaligus ada catatan kaki yang nyaris menghabiskan halaman sehingga menyisakan tiga larik yang hendak dijelaskan itu. Inikah yang menurut Denny sebagai entitas puisi esai?

Lelaki yang belum dikenali itu mencermati catatan kaki yang lebih tampak seperti potongan berita-berita. Perca berita yang memuat waktu dan tempat kejadian suatu peristiwa. Perca yang sejatinya hanya menjadi pembeda belaka, alih-alih kemudian itu disebut sebagai penciri puisi esai.

Tampaknya, Agus mengikuti kemana Denny hendak mengarahkan argumennya, tetapi uraian Agus terlihat tak mengerucutkan kesetujuannya pada bentuk baru itu. Agus mengurai banyak hal terkait perbedaan elementer antara karangan sastra, karangan ilmiah, dan karangan esai. Ia juga berusaha meluruskan esai sebagai sebuah bentuk tulisan bebas —bukan karya sastra, sebagaimana posisi kritik sastra— yang mana bersebrangan langsung dengan sastra.

“Puisi esai, dilihat dari namanya, merupakan gabungan dari dua state of mind dalam tulisan, yakni puisi dan esai. Tak perlu dikemukakan lagi bahwa puisi adalah salah satu genre dalam sastra. Sementara esai, jelaslah bukan bagian dari karya sastra.”[27]

Keterangan Agus itu seperti menolak kata “terang” dalam dua artikel yang disebut Denny sebagai puisi esai itu. “Terang” pada dua artikel itu tidak serta merta lebih baik ketimbang puisi-puisi terang Aspar Paturusi, puisi-puisi yang sangat mudah dipahami pesannya tanpa memerlukan catatan kaki apapun.

Lelaki yang belum dikenali itu, lagi-lagi hendak memberaikan argumen Denny. “Menghadirkan tema, penokohan, alur, latar, dan bahasa yang baik dan benar sebagai elemen dan ketentuan umum, juga kemestiannya yang panjang dan berbabak pada puisi esai —yang Anda klaim sebagai varian tersendiri itu— bukanlah sesuatu yang baru dalam susastra Indonesia. Sang kawindra, WS Rendra sudah melakukannya dalam “Blues untuk Bonnie (1971)” dan “Nyanyian Angsa (1972)”. Rendra menyebutnya puisi dan sama sekali tidak menyebut species apapun untuk jenis puisi yang dibuatnya. Dua puisi indah dan fenomenal ini mudah dipahami sehingga membuatnya sangat terkenal. Para pecinta puisi dan publik, juga sangat mudah memahami pesan Rendra dalam “Potret Pembangunan dalam Puisi (1980)”. Puisi ini salah satu dari banyak puisi Rendra yang berhasil berkomunikasi dengan semua lapisan masyarat, membuat rakyat Indonesia berdiri di belakang sikap “pembangkangannya” itu. Kendati karenanya ia harus dijebloskan ke tahanan,” lelaki yang belum dikenali itu jeda sejenak, “jika pemerintah tak memahami dan cemas akan dampak puisi Rendra, mereka tak akan menjebloskan penyair itu ke tahanan. Dan Rendra…tak butuh catatan kaki untuk menceritakan pihak mana yang dikritiknya.”

Sindiran lelaki yang belum dikenali itu, mau tak mau membuat Acep dan Malna tersenyum.

Berthold yang sejak tadi menyimak obrolan ini, mulai angkat bicara. Tetapi, ia justru bercerita tentang cinta. Cerita cinta yang jika dicermati oleh lelaki yang belum dikenali itu, sepertinya sedang menyindir gagasan puisi esai. Ia membuat perbandingan dalam istilah ilmu biologi yang bahkan tidak didefinisikan dan tidak dianggap berkategori ilmiah.

“Cinta/kasih sebagai bukti keberadaan! Begitu jauh pemikiran seorang filsuf diterbangkan oleh fenomena yang satu ini. Begitu pula kreativitas para seniman, khususnya penyair. Tak terhitung banyaknya sajak yang diilhami perasaan cinta asmara. Mungkin cinta agape, apalagi cinta yang memuncak menjadi kasih universal, belum secukupnya digarap,”[28] ungkap Berthold.

Berthold melanjutkan, “namun, kita semua tahu, sajak yang baik tidak mutlak perlu menyampaikan sesuatu yang jarang, istimewa, ataupun serba baru. Sajak bertema “aus” bisa tetap gemilang andai hal-hal yang lama disampaikan dengan cara yang baru.”[29]

Berthold dengan tegas merujuk puisi atau sajak, tidak puisi esai.

Tangan Denny menimang bundel dokumen yang memuat dua artikelnya itu. Ia mulai bisa mencerna kemana arah dialog ini. Dialog yang serta-merta menggagalkan rencananya menjulangkan menara gading puisi esai. Denny —dengan semua penjelasannya— sama sekali sukar melakukan pendampingan terhadap sesuatu yang ia sebut anak batin-nya itu.

Ia bahkan tidak menyadari, bahwa setiap orang di meja ini, dalam kedai Acta-rithimus, kecuali seseorang yang membisu di belakangnya itu, tidak menyepakati argumennya. Argumennya terbunuh secara lekas, dan anak batinnya itu tampak berdarah-darah di atas meja. Mati mengganaskan.

Ia terlambat menyadari bahwa setiap lelaki di sekeliling meja, kecuali lelaki yang belum dikenali itu, telah bermain dengan cantik. Mereka memberi ruang pada argumen Denny tanpa perlu melewatkan rejeki. Ruang argumen yang juga ditutup dengan lekas dan terburu-buru. Ironisnya, semua itu terjadi di dalam kedai Acta-rithimus.

Seusai obrolan yang hebat, semua lelaki di meja itu keluar dari kedai. Mereka disongsong cuaca dingin dan berangin lagi. Denny berjalan menunduk, memasukkan tangannya ke dalam saku, diikuti seseorang yang terus membisu di sepanjang obrolan tadi. Denny tidak mempersoalkan rasa kopi di kedai Acta-rithimus itu. Bukan. Tetapi species tak jelas yang hendak ia tanam di kebun puisi, telah terbunuh di sana.

Para lelaki di meja itu, kecuali seseorang pendiam di belakang Denny, tahu-tahu telah membunuh —sengaja atau tidak— gagasannya yang tak jelas itu. Gagasan itu berdarah-darah di atas meja, di kedai Acta-rithimus.

Denny bahkan tak menyadari bahwa itu adalah “pembunuhan yang lekas”. Obrolan itu bahkan belum selesai saat mereka meninggalkan kedai.

Seseorang yang pendiam itu bernama Gaus. Sikapnya pada Denny, benar-benar membuatnya terlihat mirip jongos. Lelaki yang belum dikenali itu, di antara enam lelaki lainnya yang ikut mewarnai obrolan, adalah saya sendiri.

Saya hadir tanpa perlu cemas memikirkan apakah Denny akan membayari kopi yang saya minum. Saya menyelipkan selembar 10 dollar di bawah tatak gelas kopi saya. Saya bayar sendiri apa yang saya minum.

Sepi imajiner di pinggiran Lower Manhattan itu mendadak terang oleh bias matahari. Tapi cuaca masih dingin dan berangin. (*)

~ Takrif: tempat, nama dan semua kejadian dalam tulisan ini hanya terjadi dalam imajinasi penulis atas Jurnal Sajak No.2, Tahun ke-II, 2012.

Catatan:

[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [19] [20] [21] [22] [23] [24] [25] [26] Puisi Esai: Apa dan Mengapa – Denny JA – Jurnal Sajak, Nomor 03, 2012.

[12] [13] [14] [15] [18] Puisi, Realitas Template, dan Ladang Pembatalan – Afrizal Malna – Jurnal Sajak, Nomor 03, 2012.

[16] [17] Menjadi Sisifus – Acep Zamzam Noor – Jurnal Sajak, Nomor 03, 2012.

[27] Puisi Esai: Sebuah Kemungkinan, Sebuah Tantangan – Agus R. Sarjono – Jurnal Sajak, Nomor 03, 2012.

[28] [29] Tentang Cinta – Berthold Damshauser – Jurnal Sajak, Nomor 03, 2012.

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: