Monthly Archives: Agustus 2011

[Cerpen] Beduk Masjid Tua

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Perasaan Doja (penjaga masjid) Rasyid sangat gundah. Saat hendak mengirim isyarat ketiga sebelum Jum’at, tanpa dia sengaja, pukulannya memecahkan satu-satunya beduk di masjid itu. Semua jamaah yang sudah hadir duluan, terperangah, bahkan ada yang terkejut dan mulai menyalahkan Doja Rasyid. Menyalahkan, mengapa Doja Rasyid tak mengira-ngira tenaganya saat hendak memukul beduk.

Beduk itu sama tuanya dengan umur masjid ini, begitu alasan mereka mempersalahkan Doja Rasyid. Tentu saja Doja Rasyid kecut dibuatnya. Dia memang tak sengaja, dan dia sendiri tak tahu entah mengapa tiba-tiba saja ada kejadian macam itu. Setiap hari dia melakukan tugasnya dengan baik. Memberi ingat pada orang banyak perihal datangnya waktu sholat. Tanpa disangkanya, beduk itu justru robek saat digunakan pada Jum’at kali ini.

Ada kebiasaan di kampung ini sebelum proses Jum’atan dimulai. Seorang doja harus mengirim tanda panggilan sebanyak tiga kali. Tanda pertama, sebelum azan dikumandangkan, beduk harus dipukul tiga kali dengan interval ritme yang pendek, lalu disusul pukulan pendek dan berulang kali ke pinggiran beduk. Tanda kedua, setelah shalawat, dipukul tiga kali tanpa memukul pinggiran beduk. Dan, tanda ketiga, sebelum ikhomat dikumandangkan, beduk akan dipukul sebanyak lima kali dengan ritme yang lambat. Karena itu adalah tanda terakhir, maka semua orang harus sudah berada di masjid sebelum tanda itu dibunyikan. Ketika inilah, Doja Rasyid memecahkan kulit beduk tua itu.

 

***

 

Berhari-hari Doja Rasyid mengandung rasa bersalah dan malu. Dia takut jadi sasaran amarah penduduk kampung, sebab sebagian kecil warga masih percaya tahayul tentang beduk tua yang katanya keramat itu. Dia malu, akan dianggap tak becus menjadi doja. Padahal, tugas itu diamanahkan almarhum bapaknya. Tugas yang sukarela diemban bapaknya selama berpuluh tahun tanpa pamrih, kemudian pindah padanya.

Pada saat-saat inilah, Rasyid merasakan perannya sebagai doja bukan peran sembarang. Doja dan beduk, tak luput memegang peran penting dalam komunitas macam ini. Kejadian ini ikut membuktikan, bahwa menjadi doja bukanlah pekerjaan yang ringan, walau sepele terlihat di mata orang.

Sejak hari dimana musibah itu datang, Doja Rasyid harus berdiri di atas sebuah batu besar di depan masjid, dan mengumandangkan azan dari atasnya. Imam Masjid Ustad Abduh, dan sebagian pemangku adat, untuk sementara melihat cara itu sebagai jalan keluar. Tetapi tidak bagi sebagian kecil warga lainnya. Mereka mulai menertawakan dan mengolok-olok Doja Rasyid, mengira bahwa itulah karma akibat merusak beduk keramat.

Pada hari kedua setelah peristiwa, Doja Rasyid dipanggil oleh Kepala Kampung Amran. Saat Doja Rasyid tiba di rumah kepala kampung, telah hadir pula imam masjid dan para pemangku adat. Doja Rasyid tak banyak bicara dalam pertemuan itu. Dia hanya mendengar saja keluhan para pemangku adat perihal berbagai hal yang tiba-tiba tak teratur semenjak beduk masjid itu rusak.

Mendengar semua itu, perasaan Rasyid bagai remuk. Wajah bapaknya tiba-tiba melintas dibenaknya. “Oh, Bapak…” Bisik Rasyid, berusaha tak terdengar oleh lainnya.

 

***

 

 

Rasyid memang tak pernah berniat menjadi doja. Bapaknya tidak berencana bahwa kelak nasib anaknya akan seperti dirinya. Sebelum dipinjami sebidang tanah untuk berhuma, hidup bapaknya sekeluarga benar-benar bergantung dari sumbangan orang pada masjid.

Ladang itu pula yang telah ‘membunuh’ ibunya. Perempuan yang sangat disayanginya itu tertimpa pohon yang batangnya lapuk saat mengambil air untuk menyiram sayuran. Masih mujur, bapaknya tidak ikut tertimpa.

Maka dari itu, Doja Rasyid sedikit kecewa pada perlakuan warga kampung terhadapnya. Mereka bahkan tak memandang barang sedikit sosok bapaknya, dan tentunya pengorbanan Rasyid yang telah setia melayani mereka semua. Rasyid mengorbankan sekolahnya, sekadar untuk bisa menjalankan wasiat bapaknya, meneruskan tugas bapaknya menjadi doja di mesjid itu.

“Biar aku sholat di bilik ini saja, Ustad!” Ujar Rasyid suatu ketika, menolak ajakan Ustad Abduh untuk sholat bersama, sehari setelah dirinya dipanggil kepala kampung. Ustad Abduh hendak mencari penyebab mengapa Rasyid mengurung diri macam itu. “Apa tidak sebaiknya, kau menemaniku sholat Dzuhur berjamaah saja, Rasyid?” Ajak Ustad Abduh dengan lembut.

Rasyid tak menjawab lagi. Karena malu, tak berani dia menatap wajah Ustad Abduh. Orang tua itu membiarkannya.

Tapi Doja Rasyid berusaha tetap sadar. Robeknya kulit beduk itu bukan kehendaknya. Nasibnya sekarang inipun, yang menjadi bulan-bulanan diolok orang, juga di luar kuasanya. Beberapa hari lalu, Rasyid sudah memikirkan masalah ini, dan sudah pula mengambil sebuah keputusan perihal beduk itu.

 

***

 

Rasyid menemukan jalan keluar atas masalah robeknya kulit beduk itu. Upah yang diperolehnya tatkala membantu mengecat rumah orang di kampung ini, boleh dibilang tak banyak. Sudah cukup lama uang itu dia kumpulkannya, tapi tetap saja jumlahnya jauh dari cukup untuk membeli kulit kering yang terbaik. Harga selembar kulit kerbau yang tersamak sempurna sangatlah mahal.

Tetapi, Doja Rasyid tetap menuju pasar hewan pada keesokan paginya. Setelah lama berkeliling, melihat-lihat dan menaksir, Rasyid berhenti di depan seorang lelaki tua gemuk yang menjual tiga ekor kambing, dua jantan dan seekor betina. Lelaki tua gemuk dengan misai memenuhi wajahnya.

“Berapa harga kambing yang ini?” Tanya Rasyid sambil menyentuh kepala seekor kambing jantan kurus.

“Mengapa tak memilih yang gemuk ini?” Tanya lelaki tua gemuk itu keheranan. Menganggap aneh pada pilihan Rasyid, pada kambing kurus miliknya itu.

Rasyid tersenyum takzim. “Tak mengapa, Pak. Aku suka yang ini saja. Kira-kira berapa harganya?” Rasyid bersikeras. Tak mau berpanjang-kata, lelaki tua gemuk itu menyebutkan harganya. “600 ribu rupiah. Boleh kurang sedikit.”

Rasyid menghela nafas berat. Jika pun dia harus menawar, uangnya sangat jauh dari cukup.

“Hendak kau buat apa kambing kurus ini?” Tanya si penjual kambing yang melihat Rasyid bergeming setelah mendengarnya menyebut harga. “Jika kau hendak beternak, sebaiknya pilihlah yang betina ini. Tubuhnya gemuk dan sehat. Jika hendak kau sembelih, hendaknya yang jantan gemuk ini.” Penjual kambing itu memberi saran.

Merah muka Doja Rasyid karena malu. “Sebenarnya hendak aku potong saja. Aku berniat memberikan dagingnya buat beberapa janda miskin di sekitar kampung. Dan kulitnya hendak aku pakai sebagai pengganti kulit beduk yang sobek.”

Lelaki tua gemuk itu terkekeh. “Jika beduk itu besar, tentu saja kulit kambing kurus ini tak akan cukup.”

Sekali lagi Rasyid menghela nafas, masygul. “Entahlah, Pak. Bahkan uangku sekarang tak cukup buat kambing kurus ini.”

Lelaki tua gemuk itu terdiam sesaat. “Berapa jumlah uangmu?” Tanyanya kemudian.

Rasyid merogoh sakunya, lalu mengeluarkan semua isinya. “Hanya sejumlah ini….” Ujarnya sambil menunjukkan uang sejumlah 450 ribu rupiah.

Lelaki tua gemuk itu tersenyum. “Uang sebegitu tentu tak cukup membayar kambingku ini,” ujarnya, “tapi jika kau bersedia membantuku menggiring pulang kambing-kambing ini, maka aku akan bersedia menukar kambing itu dengan berapapun sisa uang di sakumu,” Jelas lelaki tua gemuk itu.

Rasyid langsung mengangguk. Wajah Rasyid berbinar mendengar tawaran yang tak terlampau sukar itu. Tanda setuju, Rasyid menjabat tangan lelaki tua yang ternyata bernama Ama (bapak) Jalad.

Petang hampir habis ketika mereka tiba di rumah Ama Jalad. Sebelum membersihkan tubuh, Rasyid harus membantu memasukkan dua ekor kambing tersisa ke kandang sederhana yang tepat berada di bawah rumah panggung Ama Jalad. Sedang kambing yang hendak dibayarnya, diikatkan terpisah pada tiang dekat kandang.

Ama Jalad tak memiliki anak, itulah mengapa rumah ini terasa sepi. Tapi melihat suami-istri itu hidup rukun, Rasyid sungguh bersyukur. Jarang ada suami-istri yang bisa rukun bertahun-tahun walau hidup mereka tak dihibur anak-turunan.

“Rasyid, terima kasih kau sudah mengantarku pulang. Kau boleh bawa pulang kambing itu sesuai tawaranmu, dan juga ini” kata Ama Jalad ambil mengangsurkan bungkusan di tangannya pada Rasyid.

Rasyid mendongak, menatap wajah Ama Jalad. Lelaki tua itu sedang tersenyum padanya.

“Terimalah. Bawalah kambing itu juga. Uang darimu, rasanya, sudah cukup banyak untuk kambing dan kulit kerbau itu. Lagipula, kambingku masih ada dua,” kata Ama Jalad, sambil mengangguk tegas.

“Aku tak tahu hendak kuapakan kulit kerbau itu semenjak aku memelikinya. Kini aku tahu dengan siapa kulit kerbau itu berjodoh,” terang Ama Jalad. “Aku senang dan bahagia bisa ikut memperbaiki beduk di mesjidmu,” pungkasnya.

Lidah Rasyid kelu sesaat, tak bisa bicara. Pemberian Ama Jalad adalah rejeki yang benar-benar di luar dugaannya. Hal yang tak pernah diharapkannya sedikit pun. Jika dia memang mengharapkan sesuatu, semisal korting yang pantas untuk harga kambing itu, maka yang diberikan Ama Jalad lebih dari sekadar potongan harga. Betapa beruntungnya Rasyid yang telah menahan sabar dan mencari jalan keluar selama berhari-hari.

Sebelum pergi, Doja Rasyid berpamitan sambil meletakkan punggung telapak tangan Ama Jalad ke keningnya. Tak putus syukurnya, dan tak henti terima kasihnya pada Ama Jalad. Perjalanan pulang terasa begitu singkat bagi Rasyid. (*)

(Republika, 7 Agustus 2011)

Iklan

Sketsa: Behind The Scene Skype Nazaruddin (2)

Oleh Iwan Piliang

 

Nazaruddin terindikasi berbohong untuk kebohongan dan kini kekeh ingin membongkar kebohongan.

SETELAH penayangan wawancara via Skype dengan Nazaruddin, aplikasi online berbicara tatap muka, ditayangkan oleh Metro TV pada 22 Juli 2011malam, telepon genggam saya seakan tiada henti bergetar. Miss call banyak. Ada telepon masuk dari sahabat lama, hingga pesan misterius tak beridentitas.

Maka tidak berlebihan bila Sabtu 23 Juli itu hari terasa panjang. Perasaan was-was menghadang. Ada ancaman baik-baik. Masuk pula telepon berkata-kata kasar. Di rembang petang menjelang, di saat saya masih berada di atas taksi di bilangan Cik Ditiro, Jakarta Pusat, seorang menelepon dari hand phone yang tiga nomor akhirnya 626.

“Halo apa kabar?”

Suara terkesan muda bernada gaul.

Maaf nih, HP gue hilang, data banyak lenyap, siapa ni? Saya menjawab.

Ahh masa lupa…saya Djoko, itu lho yang kontak waktu masalah David?”

Mendadak sontak saya berujar, nuwun sewu, waah orang besar menelepon, terima kasih, maaf banget ya Pak.

“He he tak apa …”

Saya mempersingkat obrolan dengan menyampaikan bahwa saya meminta waktu akan menghadap ke kantor Menko Polhukam.

Benar. Sosok itu adalah: Djoko Suyanto, Menteri Kordinator Politik dan Keamanan (Menko Polhukam), yang mengkordinasi 10 kementrian, termasuk Polri, dan lima badan seperti Badan Intelijen Negara (BIN).

Pada saat kasus David Haryanto, mahasiswa Indonesia yang “dibunuh” di Singapura di saat persidangan coroner terakhirnya, Wapres Boediono, bersamaan waktunya meresmikan kerjasama program S2 Rajaratnam-Nanyang Technological University (NTU) dengan Indonesia, di Singapura.

NTU adalah kampus di mana David “dibunuh”. Sehingga peresmian kerjasama dengan sekolah itu di akhir persidangan coroner kasus David, saya rasakan sebagai “penghinaan” kepada keluarga David, kepada anak dan bangsa Indonesia umumnya.

Maka sehari sebelum hal itu terjadi, saya berbicara keras di TVONE. Saya sampaikan ke pemirsa, bahwa saya bertemu dan berbicara dengan seorang warga Singapura. Saya Tanya opininya menyimak kasus seperti David. Dia bilang kalau warga Singapura satu saja kalimatnya, “Are you patriot or not?” Apalagi di tingkat penyidik, sebagai polisi. Pastilah yang diutamakannya kepatriotannya sebagai bangsa Singapura.

Pertanyaan yang sama seakan saya tujkukan di TVONE kepada Boediono, “Are you patriot or not?”

Jawabannya?

Di saat saya hendak menutup pintu rumah menuju bandara, sosok Djoko Suyanto menelepon. Ia bertanya apa sebaiknya dilakukan terhadap David? Saya katakan kerjasama antar negara karena memang sudah direncanakan lama silakan saja. Namun paling tidak negara harus menunjukkan empati.

Saya lempar ide, bagaimana bila keluarga David diterima oleh Bapak Boediono di Singapura. Djoko Suyanto lalu meminta waktu. Sekitar 10 menit ia balik menelepon saya kembali. Djoko mengatakan silakan pukul 14 hari itu juga Boediono berkenan menerima keluarga David di Hotel Shangrilla, Singapura. Pertemuan itu pun terjadilah. Adalah Menko Polhukam di belakang layar mengatur pertemuan itu.

Begitulah seorang Djoko Suyanto, yang saya kenal. Sosok rendah hati. Di luar kasus David itu, saya tak pernah lagi menjalin kontak. Pernah sekali waktu sebelum nomor HP-nya raib dari file saya, pernah mengirim SMS sekadar mengirim salam, tapi tak berbalas. Anda paham, sebagai Menko, pastilah ia sangat sibuk sekali.

Barulah setelah Metro TV menayangkan wawancara Skype saya dengan Nazaruddin, untuk kedua kalinya, Djoko Suyanto menjalin kontak kembali..

Senin, 25 Juli 2011, karena kesibukan sehari-hari, saya belum berkunjung ke kantor Menko Polhukam. Barulah Selasa esoknya setelah tampil di acara Apa Kabar Indonesia Pagi, dengan meminta diantar oleh mobil TVOne, saya langsung menuju ke kantor di kawasan Merdeka Barat itu.

Tentulah saya tak membuat janji. Saya langung menuju area belakang di mana ada warung kecil di pinggir parkir yang bersebelahan dengan kantor Kementrian Pemberdayaan Perempuan.

Sambil minum teh panas, saya mencoba menghubungi staf Djoko. Hari itu dapat kabar jadwal padat sang Menko. Saya melamun di warung yang masih sepi. Membayangkan apa gerangan yang hendak disampaikan. Saya berusaha berpikir positif.

Setelah lebih tiga puluh menit berlalu, kaki seakan menggerakkan saya untuk melangkah pulang. Namun di luar dugaan, sebelum melewati bangunan rumah bak pendopo di mana Menko berkantor, tampak keluar beberapa ajudan. Tak lama kemudian tampak Djoko Suyanto berjalan, menuju ke arah saya. Ia berpantalon hitam, berbaju batik bercorak coklat tua. Rambutnya diberi jeli, ditegakkan, bagaikan gaya anak muda. Segar.

Tentu dengan mudah saya dapat menyalaminya. Saya menjabat tangannya. Saya tanyakan kapan bisa mengahadap. Kepada stafnya Djoko bertanya apakah nanti sore setelah dengan Presiden ada jeda waktu untuk saya bisa jumpa. Stafnya mengatakan akan dicoba. Saya pun menyampaikan kesiapan kembali. Lalu kami berpisah.

Belum tiga langkah berjalan, Djoko memanggil, ia mengajak saya turut ke lantai 6. “Ada kegiatan media, sekalian saja ikut,” ujarnya.

Maka saya pun berjalan bersamanya menuju lantai 6 di Gedung Dewan Ketahanan Nasional. Rupanya di lantai 6 itu sudah banyak hadirin. Dominan yang hadir para tokoh media, pimpinan PWI, KPI dan lainnya. Di podium saya lihat bertuliskan: Peran Media Massa dalam Pengelolaan Masalah-Masalah Nasional. Rupanya ada seminar terbatas.

Begitu Menko Polhukam datang, acara langsung dibuka. Ia mengutarakan seluruh konten media setidaknya harus menganut tiga hal, yakni informasi, pendidikan, dan hiburan. Walaupun tidak lepas bahwa media ada unsur komoditas, tapi seyogianya roh jurnalisme harus menjadi topangan utama dibandingkan dengan roh bisnis.

Djoko juga mensitir bahwa media sosial yang berkembang saat ini, sebagai sesuatu yang positif. Agak tak “nyaman” saya, ketika di pengantar seminar ia menyebut saya sebagai tokoh media sosial yang hadir di ruangan itu. Kikuk rasanya , sebagai sosok tak diundang, mendadak datang. Apalagi di ruangan itu ada senior di jurnalisme Indonesia seperti Sabam Siagian.

Djoko Suyanto mengingatkan bahwa salah satu tanggung jawab media agar memiliki jiwa nasionalisme. Pola pikir besar media juga harus berpihak kepada negara. ”Pers harus ada keberpihakan terhadap negara,” tuturnya.

Sebelumnya F.H.B. Soelistyo, Deputi VII Menko Polhukam, di pengantarnya mengatakan desain silaturahmi iti ditujukan bukan untuk mempengaruhi peran dan fungsi masing-masing kelembagaan maupun institusi khususnya media massa, namun lebih pada upaya mencari titik temu simbol profesionalitas diantara fungsi dan peran masing-masing kelembagaan.

Pertemuan itu juga dihadiri J. Kristiadi Peneliti Senior Center for Strategic and International Studies (CSIS), Margiono Ketua PWI Pusat. Mereka berdua Pembicara. Moderator Tarman Azam Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat.

Margiono mengutip hasil riset Kompas, bagaimana saat ini lembaga yang dipercaya publik adalah TNI dan Pers. “Itu artinya kalau pers dan TNI bersatu, bikin apapun saat ini dukung rakyat,” ujar Margiono tertawa. Lembaga terendah mendapat kepercayaan rakyat kini adalah DPR, hanya 16%. Dalam hati saya bertanya berapa persen pula kalau dirinci kepercayaan publik terhadap pers mainstream dibanding media alternatif, media sosial?Saya mengikuti hingga acara tuntas di jam makan siang.

Hingga hari ini pertemuan khusus saya dengan Menko Polhukam belum terjadi. Agendanya padat sekali. Saya belum bisa menduga apa gerangan yang akan ia sampaikan berkait dengan kasus Skyping saya dengan Nazaruddin.

Bagi saya jika ditanyakan apa premis berwawancara dengan Nazaruddin?

Jawabnya sederhana, verifikasi. Tidak ada niat menjadi corongnya Nazar. Tanpa saya berwawancara pun jagad jurnalis sudah pasti mencari sosoknya untuk konfirmasi. Bukan media di Indonesia saja. Saya tahu pasti lembaga kantor berita asingpun mencari akses untuk bisa mewawancarainya.

Logikanya, bagaimana kita menilai sesuatu itu benar atau salah jika informasi saja tak ada. Dalam kerangka inilah menjadi penting mewawacarai Nazaruddin, tersangka kongkalingkong di kasus Wisma Atlit. Dari paparan Nazar pula, kita semua paham, bahwa ada indikasi tajam pemakaian uang, anggaran APBN, yang dominan dihimpun dari pajak rakyat, digunakan untuk kepentingan pribadi, di mana melibat beberapa nama mulai Anas Urbaningrum, Machfud Suroso, Andi Muchayat, dan kalangan anggota DPR, sebagaimana sudah banyak diberitakan media massa.

Dari wawancara melalui Skype dengan Nazar pula kita dapat informasi bahwa ada indikasi pertemuan anggota KPK di kediaman Nazar. Ia menyebut nama-nama anggota KPK Ade Raharja dan Chandra Hamzah. Sesesorang menuding saya, karena wawancara Skype saya telah membuat tokoh seperti mereka plus Johan Budi tidak lulus seleksi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Begitukah?

Menanggapi tudingan itu, saya hanya menjawab, bahwa saya sudah lama juga memverifikasi KPK, karenanya saya tidak mendukung salah satu pihak di era gencar-gencarnya dualisme Cicak-Buaya. Namun jika saya diminta beropini, saya tentu juga tak akan mengamini kalimat Marzuki Alie yang bikin kontroversi mengusulkan KPK dibubarkan saja.

Bagi saya institusi KPK penting. Ia menjadi tidak bergigi dan kredibel, karena orang-orang di dalamnya terindikasi melanggar komitmen pemeberantasan korupsi. Jika insannya bermasalah, mengapa institusinya kita lebur? Di lain sisi tak dipungkiri dengan banyak lembaga add-hoc kini, telah membenahi anggaran negara, namun hasil dicapai tak sesuai dengan harapan.

Selasa malam 27 Juli itu sebagaimana telah disimak publik, saya hadir di acara Jakarta Lawyer Club, TVOne, yang dipandu Karni Ilyas, dengan topik “Salahkah Media Menyiarkan Kasus Nazaruddin”, tentu termasuk di dalam topik utama ihwal ber-skype-ria saya dan Nazaruddin. Kuat dugaan saya Anda tentu telah menyimaknya apalagi Minggu, 31 Juli malam program itu telah disiarkan ulang.

Satu catatan saya, bahwa pada Kamis, 28 Juli, 2011, usai bertemu berberapa kawan dari TVOne di Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, saya menemui seorang kenalan di Mood Café. Saat itu pengunjung café sedang berkonsentrasi ke televisi, menyimak pertandingan bola Indonesia-Turkmenistan. Pada kesempatan bola masih 2-0 untuk Indonesia seuntaian kalimat itu disampaikan ke saya, “Bisa tidak seluruh data Nazar Anda minta dan ia tak usah pulang ke Indonesia?” Kalimat itu diikuti dengan tawaran ini dan itu.

Saya menjadi teringat akan serial film The Godfather. Bagaimana sebuah deal mafia dilangusngkan. Saya sangat kagum denagn orang-orang yang memainkan peran demikian, di banding dengan sosok yang mengaku “jagoan” mengancam-ancam lewat telepon.

Dulu ketika saya menulis soal sebuah restrukturisasi yang dilakukan BPPN, kini PRT Pengelola Asset, oknum pejabat di sana mengancam saya. Karena beraninya hanya melalui telepon saya berikan alamat lengkap saya dan saya tunggu ia kala itu juga.

Sehingga berbeda sekali langgam dulu dengan yang saya hadapi kini. Rada ngeri-ngeri sedap.

Saya akan menceritakan lagi ihwal ini di Sketsa berikutnya, sembari saat ini berfokus menjalin komunikasi dengan Nazaruddin menuntut janjinya untuk ber-skype lagi. Komunikasi dengannya, bagi akan juga terus berjalan dengan wartawan lain, terus terjalin melalui BackBerry Messenger.

Di balik hari-hari sejak wawancara ditayangkan Skype dengan Nazaruddin di Metro TV, hingga tulisan ini saya buat, keseharian saya tentulah tidak lagi sebagaimana biasanya.

Sekarang setiap saya keluar rumah, saya harus membuat janji dengan tek-tok; maksudnya dengan mengubah tempat pertemuan mendadak. Handphone disadap sudah biasa. Tetapi ancaman aneh-aneh tampaknya memang harus diantisipasi.

Akan halnya “serangan” terhadap tulisan dan momen mendapatkan Skype eksklusif itu, saya cukupkan ke haribaan publik yang menilainya.

Saya hanya sangat percaya satu: kerja jurnalisme itu kerja hati nurani. Muaranya kebenaran. Verifikasi tiada henti dengan kejernihan hati, saya yakini mengantarkan ke kebenaran sejati. (bersambung)

 

Iwan Piliang, literary citizen reporter, blogger, blog-presstalk.com

Baca artikel sebelumnya, Sketsa: Behind The Scene Skype Nazaruddin #1

Nazaruddin memegang flashdisk berisi bukti yang diklaimnya, dalam rekaman percakapan Skype dengan jurnalis Iwan Piliang (sumber foto: iwan piliang/istimewa)


%d blogger menyukai ini: