[Puisi] Ibu dan Rukmo untuk Pesisir Sidoarjo

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Ancol jam lima sore. Rukmo merunduk, memunguti bebatuan. Impiannya menjadi pecahan tanah. Mata sayu ibunya teliti gelisah pada Rukmo: “di sini seperti di pesisir Sidoarjo, ya Mbok? Tidak ribut seperti di Jakarta.”

Rukmo sedih, mengapa hanya ibunya yang bisa teduh. Geram tiba-tiba merabung pada bocah tujuh tahun itu. Di tempeleng lalat yang hinggap di koreng kakinya. “Ini juga Jakarta, tapi pinggiran, Mo…” Mata sayu, mulut gelembur ibunya mencoba menyabarkan. Rukmo merajuk. Ditatapinya mata ibunya yang begitu sabar menerima kegetiran dari dirinya: “Mbok, Rukmo ingin pulang,” bujuk Rukmo.

Sang ibu bergeming. Rukmo kian murung. Ibu selalu punya alasan terbaik buat anaknya itu. Rukmo angkat kendi bekas yang ditemukannya di antara sampah, lalu dengan geram kecil, Rukmo membanting kendi, pecah berantakan. Dilepasnya kesal dan derita ibunya sekaligus. Tanpa sandal. Tak peduli beling, kaki Rukmo mengayun. “Hei, Mo. Mau kemana?”

“Bu, mari pulang ke Sidoarjo!”

***

Ancol, 29 Mei 2007

Ditanggal yang sama, setahun setelah bencana.

Pulang (sumber foto: kompasiana)

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: