[Cerpen] Dekrit

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

JIKA murka, wajahnya bengis dalam seribu bentuk. Kemarahan yang seharusnya tak kulihat. Ah, mengapa aku tak berlama-lama di kantor saja. Atau singgah ke pasar, barang sebentar. Berpura-pura memilih barang, atau membunuh waktu di lapak koran. Atau, berpura-pura usai singgah ke dokter ahli tulang.

Sepertinya dia harus melihat medical report dari dokter itu. Si dokter menuliskan sesuatu, perihal beberapa tulang di kepalaku; tulang dahi akan memar permanen, tulang di atas telinga kanan mesti intensif diperiksakan sebulan sekali, area tulang rawan di belakang kepala agak lembek kini.

Perutku mendadak mulas saat menerima pertanyaan dokter ahli tulang itu. Dia curiga, dan mencoba menebak dengan kemampuan terbaiknya, musabab sekian banyak memar di kepalaku ini. Aku tak ada selera menjawabnya, takut terperangkap rasa malu.

Padahal, jika aku mau jujur padanya, dokter itu pasti akan terkejut. Ya, tentu saja…perkara objek-objek terbang di rumahku empat hari lalu. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja benda-benda beterbangan. Lalu makian dan geram amarah menyusul selanjutnya.

“Mengapa engkau sering pulang terlambat? Mengapa kau belum melunasi tagihan kartu kredit dari bank atas pembelian kalung mutiara? Itu kan kalungku? Seumur-umur kita menikah, belum pernah aku melihatmu membelikanku kalung  sekalipun!” Teriaknya dari ambang pintu dapur.

Hah, ini salah paham. Tapi, belum sempat itu semua aku jelaskan, sebuah periuk, lengkap dengan isinya, segera terbang dan mendarat tepat…di tengkukku. Selanjutnya, aku harus bergerak lincah, melompat sana, melompat sini, menghindari beberapa piring keramik yang beterbangan cepat.

Sejujurnya, aku paling tidak suka jika harus ada yang beterbangan di dalam rumahku. Semarah apapun dirimu, jangan menerbangkan apapun dalam rumahku.

Jika aku tidak segera keluar rumah ketika itu, dan menghindar ke pos ronda, barangkali aku bisa melihat jurus pisau terbang. Mirip serangan lusinan pisau terbang di film legenda Wong Fei Huang. Aku tahu jumlah pisau di dapur itu; ada dua lusin. Aneh, kan? Buat apa menyimpan pisau sebanyak itu di dapur? Ibuku malah biasa memasak berbagai jenis makanan hanya dengan satu pisau dapur saja. Aku mulai berfikir macam-macam.

Jangan-jangan ada rencana coup de etat atas posisiku. Atau, barangkali semua kebijakan lintas sektoral yang mengacu pada kepentingan pendidikan dan ekonomi ketiga anak-anakku, telah dianggap tak populer lagi. Ah, inilah akibatnya apabila menerima begitu saja proses pemilihan dari lembaga penasehat yang sangat aku hormati; ayah dan ibuku. Mengapa bukan pemilihan langsung saja? Apakah aku dianggap tidak kompeten memilih wakil hidupku sendiri. Setelah 15 tahun kepemimpinanku, wakil hidupku itu mulai bertingkah. Menyebar isu dan tuduhan tak berdasar tentangku pada kedua penasehat utamaku.

Atau, semua kejadian ini ada akibat campur tangan beberapa “negara” tetangga dalam konferensi arisan mingguan yang rutin dihadari wakil hidupku itu. Mereka telah memberi advis keliru padanya. Barangkali, ada yang menghasut dengan isu yang merusak kewibawaan pemerintahanku dalam rumah ini. Tapi, bagaimana caranya aku mengumpulkan semua kekuatan diplomasi dan kekuatan perangku, menghadapi konfrontasi terselubung dan perang urat syaraf yang sudah berlangsung beberapa pekan ini. Perang psikologis ini sudah mencapai level yang sangat mengkhawatirkan; siklus jatah tiga hari sekali mulai jarang kudapatkan.

Krisis internal ini membuatku mulai was was, dan mulai memikirkan, apakah lebih baik aku menerbitkan maklumat talak satu saja. Atau, barangkali langsung saja menerbitkan dekrit talak tiga, untuk segera menghentikan sejumlah pelanggaran wilayah udara di atas kepalaku dari infiltrasi piring terbang, panci terbang, pisau terbang, dan…centong sayur terbang.

Ah, nantilah. Kepemimpinanku masih akan bertahan beberapa hari, atau mungkin beberapa pekan. Aku masih bisa meminta saran dari kedua penasehat utamaku; ayah dan ibuku. Saran keduanya akan membantuku membuat keputusan yang terbaik.

Tetapi, mengingat tingkat tekanan politis dari para sekutu istriku dan bentuk serangan sporadis pada area wajah dan keseluruhan kepalaku, serta intervensi pada setiap kebijakanku, maka bisa saja aku tetap pada keputusan untuk langsung mengeluarkan dekrit talak tiga. Ya, demi tegaknya kredibilitasku. Aku harap dengan keluarnya dekrit itu nantinya, tidak akan ada kudeta berdarah.

***

         Pada suatu siang di penghujung pekan kedua, sebulan berikutnya, dekrit itu akhirnya kukeluarkan juga. Isi dekrit itu singkat saja; istriku harus segera keluar dari istana ini, dan wilayah hatiku dinyatakan darurat cinta hingga waktu yang tak ditentukan.

Para sekutu istriku segera mengutuk keluarnya dekrit itu. Tapi, aku tenang saja. Paling tidak, tak akan ada lagi ancaman atas wilayah udara di atas kepalaku. Tak akan ada lagi penerbangan ilegal oleh lusinan piring, panci, dan pisau.

Soalnya, aku memang tak pernah suka jika ada barang-barang terbang sesukanya dalam rumahku.  ***

Pertengkaran Suami-istri (sumber grafis: flickr)

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: