Daily Archives: 22 Juli 2011

[Cerpen] Mencerap Capung

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

BHARA melompati pematang dan terus berlari ke arah hutan. Dia tak hirau pada seruan Dewik yang berjarak cukup jauh di belakangnya. Wajah Dewik terlihat kesal sekali, tapi Bhara terus saja berlari. Kini Bhara sudah nyaris sampai di mulut hutan dan sebentar lagi akan segera menghilang. Tingkah Bhara itu adalah hasil dari pertengkaran kecil beberapa saat yang lalu.

***

“Jangan ikut!” Bhara nyaris berteriak.

“Kenapa tak boleh ikut! Teriak Dewik membalas, “kalian menyembunyikan sesuatu dariku, kan?” Wajah Dewik galak bukan main.

“Bukan tak boleh….tapi belum waktunya.” Bhara menyahut lagi, tangannya merenggut katapel yang tergantung pada paku di dinding.

“Ah, sama saja. Bilang saja kalau kalian tak mau mengajakku!” Dewik tetap bertahan pada sikapnya.

“Huh….!” Desah Bhara kasar. Ditepisnya tangan adiknya yang hendak merenggut ujung kemejanya. Dewik biasa melakukan itu jika berniat menahan abangnya agar tidak kemana-mana dan meninggalkannya sendirian. Tak akan dilepasnya ujung baju abangnya, sehingga ibu mereka datang melerai.

Bhara menggunakan kesempatan itu. Dia melompat ke beranda depan, lalu melompat sekali lagi, melewati tangga, menjejak tanah. Dewik berteriak kesal, memanggil ibu. Tapi Bhara sudah cukup jauh. Terpaksa Dewik pun mengejar.

Tapi lari Bhara tentu saja tak bisa disaingi oleh Dewik. Sebentar saja abangnya itu sudah sampai di hamparan sawah kering, dan dengan lincah melompat kesana-kemari, melampaui pematang. Orang-orang kampung baru usai panen raya, menyisakan deretan sawah kering yang dipenuhi timbunan jerami, dionggokkan dengan sengaja di tengah-tengah petakan.

Dewik tak melanjutkan pengejarannya. Dia menjatuhkan diri ke salah satu pematang, dan berusaha menahan air matanya agar tak jatuh. Hatinya kesal sekali. Entah apa yang sedang dirahasiakan abangnya itu.

***

Esok harinya, sepulang sekolah, Dewik sudah duduk gelisah di beranda depan. Sesekali ditengoknya jalan besar di depan rumahnya. Setiap kendaraan umum yang melintas diperhatikannya dengan saksama. Dan, pada setiap kendaraan yang berhenti, diharap-harapkannya sosok abangnya, si Bhara itu, yang turun.

Bhara bersekolah di salah satu sekolah menengah pertama di kota kecamatan ini. Jam pulang sekolah Bhara seringkali lewat dari biasanya. Kadangkala, Dewik sudah usai makan siang dan membantu ibunya berbenah di dapur, barulah abangnya itu muncul.

Dewik mendesah lega, saat melihat sebuah angkot berhenti dan menurunkan abangnya. Dia harus bisa membujuk abangnya agar membawanya serta ke hutan kecil di pinggiran desa mereka. Itulah satu-satunya tekad Dewik hari ini.

Bhara tersenyum padanya, begitu kakinya lepas dari anak tangga terakhir dan menjejak beranda depan itu. Aneh, guman Dewik dalam hati.

“Hari ini abang harus membawaku bersama abang!” Dewik berseru pada Bhara. Keinginannya sudah tak tertahankan lagi. Begitu usai dia menegur abangnya serupa itu, sedikit kelegaan menyusupi hatinya.

Tapi abangnya tidak menanggapinya kasar kali ini. Bhara hanya tersenyum, mengangguk dan bilang, “tunggulah abang barang sebentar. Usai makan siang, kau boleh menemani abang ke hutan. Wak Bajin sudah menunggu di sana.” Kata Bhara, lalu masuk ke kamarnya.

Wak Bajin? Apa pula hubungan rahasia abangnya itu dengan Wak Bajin? Paman dari pihak ibunya itu sudah tak pantas lagi bergaul dengan remaja sepantaran Bhara. Dewik sekarang diliputi pertanyaan-pertanyaan baru. Dia tegak mematung di depan kamar abangnya.

Saat Bhara keluar kamar, Dewik terus saja menatap abangnya dengan wajah seperti sedang memohon sesuatu. “Hei….,” tegur Bhara, “kau harus belajar bersabar untuk mendapatkan sesuatu. Jika kau kerap mendesak orang macam itu, bukan sesuatu yang kau harapkan yang datang, tapi kau lebih banyak kecewa.” Kata Bhara menyabarkan adiknya.

“Tenanglah barang sebentar, duduklah dulu. Kau harus belajar sabar seperti Capung. Hewan itu lebih pandai dari kau rupanya, ha ha ha….” tukas Bhara sambil tertawa, meninggalkannya sendirian menuju ruang makan.

Bah! Bhara memang senang mengulur-ulur waktu. Senang hatinya jika melihatku gelisah macam ini—gumam Dewik. Tapi, apa sebenarnya yang dilakukan abangnya itu di tengah hutan bersama Wak Bajin. Sepengetahuan Dewik, di sebalik hutan kecil itu adalah padang luas yang ditumbuhi Ilalang dan sedikit perdu berduri. Kadang burung Branjangan menyimpan telur mereka di cerukan tanah, di bawah perdu-perdu itu. Anak remaja senang sekali memerangkap mereka untuk dipelihara. Tapi lebih sering menunggui dan menjerat biawak yang datang hendak mencuri telur Branjangan.

Dewik pernah ke padang itu. Arealnya cukup luas, kurang lebih dua kali lapangan bola sepak. Padang ilalang itu adalah pemisah antara areal hutan kecil dan kaki bukit Sangampuri. Dari bukit itulah, ada percabangan anak sungai yang mengalir melewati pinggiran padang. Anakan sungai itu tak lebar, hanya dua meter setengah lebarnya, dan kedalaman airnya hanya sebatas lutut remaja. Airnya mengalir tenang, walau musim penghujan sekalipun. Maka itulah, orang-orang desa memanfaatkan sumber aliran air ini sebagai sumber pengairan sekunder bagi hamparan sawah di pinggiran desa.

Dewik hampir saja terlelap akibat lelah menunggu, saat dia terkejut disentak abangnya. Bhara tersenyum padanya. “Ayo, sekarang saatnya. Wak Bajin dan anak-anak lainnya pasti sudah menunggu,’ ujar Bhara.

***

Ah, mereka tak cuma berdua rupanya. Wak Bajin sudah menunggu bersama anak-anak lainnya. Untuk membunuh penasarannya, Dewik memutuskan diam saja sambil mengikuti langkah abangnya. Tidak lima menit, mereka berdua sudah sampai di batas antara sawah dan mulut hutan.

Abangnya berjalan pelan, seperti menuntun dirinya. Sesekali abangnya mempermainkan ketapel kayu yang tergantung di lehernya. Agak lama kemudian, telinga Dewik sudah menangkap suara gurau anak-remaja lainnya. Berarti mereka hampir mencapai tepian lain dari hutan kecil ini.

Begitu sampai pada kerumunan anak-remaja lainnya, mata Dewik dibuat terpukau dengan pemandangan di depannya. Padang Ilalang itu ternyata sedang memekarkan banyak sekali bunga rumput. Warnanya jingga dan kuning, elok sekali. Pemandangan itu menghampar sempurna dan luar biasa indah.

Tapi, tak dilihatnya Wak Bajin. Kemana pamannya itu? Kata Bhara, pamannya itu ikut serta pula hari ini. “Kemana Wak Bajin?” Tanya Dewik pada abangnya.

“Oh, Wak Bajin sebentar lagi akan muncul. Tapi paman sudah sedari tadi di sini, sedang melakukan sesuatu di dalam hutan sana,” kata Bhara sambil menunjuk ke arah hutan kecil di belakang mereka. “Kau mau melihat apa yang dilakukan Wak Bajin, ya?” Tanya Bhara. Dewik mengangguk mengiyakan.

Bhara kembali berjalan mendahuluinya. Mereka berjalan, hingga mendapati pinggiran aliran sungai kecil. Selanjutnya mereka berjalan menelusuri pinggiran sungai kecil itu, sampai mata mereka melihat seorang lelaki dewasa. Itu Wak Bajin, dan dia sedang merunduk-runduk, mendekatkan matanya ke semak air di pinggiran sungai. Serius sekali tampaknya dengan apa yang sedang dilakukannya.

“Mereka hampir kering semua!” Seru Wak Bajin.

Wak Bajin adalah sarjana biologi dari perguruan tinggi ilmu pendidikan di Jakarta. Baru sekitar dua tahun dia kembali ke desa ini. Rencananya, Wak Bajin akan mengabdi sebagai guru pada salah satu sekolah menengah pertama di sini. Tapi nasib belum berpihak padanya. Tak ada lowongan bagi guru biologi dalam waktu dekat, dan oleh kepala sekolah dia diminta bersabar menunggu. Sesekali waktu, Wak Bajin mengisi jam mengajar yang kosong sebagai guru pengganti. Lumayan honornya.

Dewik menjulurkan lehernya, hendak pula melihat lebih dekat apa yang sedang dikerjakan pamannya itu. Tiba-tiba Dewik menjerit takut. “Itu kan….ulat!” Teriak Dewik sambil berjalan mundur. Dia nyaris jatuh ke air, jika saja Bhara tak tangkas menyambar tanggannya.

Bhara dan Wak Bajin tertawa terbahak-bahak. Wak Bajin menarik tangan Dewik yang masih setengah takut agar mendekat. Wak Bajin memegang pundaknya, sambil menunjuk pada sejumlah benda yang melekat tak bergerak di batang-batang semak air.

“Itu bukan ulat. Itu bakal Capung, disebut juga Nimfa,” jelas Wak Bajin, tersenyum, “Nah, lihatlah Wik, beberapa capung sudah berhasil keluar dari tubuh Nimfa, dan mereka sedang menunggu sayap-sayapnya kering dan kakinya kuat untuk bisa terbang.”

Dewik memang melihat ada banyak Capung yang masih bertengger diam di batang-batang semak air. Ada yang sayapnya masih terlipat kusut, tapi sebagaian besar sudah mengembang dan sedang berusaha mengepak-ngepak gugup.

“Memang agak lama mereka bertingkah macam itu sebelum benar-benar siap untuk terbang,” jelas Wak Bajin. “Setelah meninggalkan tubuh Nimfa dan mengering dengan sempurna, capung akan mencoba seluruh kaki dan sayapnya. Kaki-kaki dilipat dan diregangkan satu demi satu dan sayapnya dinaik-turunkan. Nah, seperti itu,” kata Wak bajin sambil menunjuk seekor capung yang sedang mengerak-gerakkan sayap dan kakinya.

“Sebelum kalian datang, sudah banyak capung yang berhasil terbang, dan langsung menuju ke padang itu.” Kata Wak Bajin sambil menunjuk padang Ilalang yang dipenuhi bebungaan jingga dan kuning.

“Ini rupanya yang kalian rahasiakan selama ini. Mengapa tak memberitahuku sejak awal?” Ujar Dewik bersungut-sungut, protes.

Bhara tertawa-tawa senang, dan Wak Bajin hanya tersenyum. “Tadinya paman hendak mengajakmu juga, sebab bagus sekali jika kau mempelajari capung ini sejak awal. Tapi abangmu itu memang sengaja hendak mengerjaimu saja.”

Dewik merengut kecewa. Wak Bajin kembali tersenyum melihat wajah Dewik serupa itu. “Tak mengapa. Wak Bajin akan jelaskan lagi,” ujar Wak Bajin membujuknya.

“Capung memang senang bermain di permukaan air. Seperti biasa, mereka bertempat di aliran air macam ini. Walau ada juga yang senang tinggal di aliran air yang cuklup deras. Ketika hendak bertelur, Capung betina akan mencari air dengan kedangkalan tertentu dan meletakkan telur-telurnya di situ. Telur Capung berupa untaian bola putih yang sangat kecil namun kuat. Setelah menetas, kepompong atau nimfa Capung akan tinggal di dalam air selama tiga sampai empat tahun. Untuk bisa bertahan hidup, dengan capitnya yang kuat, nimfa memakan hewan kecil seperti ikan atau berudu. Nimfa menggunakan waktu-waktu itu untuk memperkuat lapisan tubuhnya.”

Wak Bajin kini berjongkok sambil meraup air sungai. “Itulah mengapa orang desa mempercayai Capung sebagai penanda air bersih. Karena, ketika masih berupa nimfa, sebagian besar hidup Capung dihabiskannya di dalam air. Makanya, nimfa Capung butuh kondisi air yang baik; bersih dan tidak mengandung zat pencemar. Jika orang-orang melihat nimfa dalam air, atau melihat Capung beterbangan di atas permukaan air, itu artinya, air tersebut bersih.”

“Selama tiga atau empat tahun itu, nimfa akan melepaskan kulitnya dalam empat masa yang berbeda. Hingga sampai pada perubahan terakhir, Nimfa akan meninggalkan air dengan memanjati batang tumbuhan atau batu, hingga kaki-kakinya terpancang kokoh. Nimfa akan berdiam di situ, melakukan proses pengubahan wujudnya menjadi capung, seperti yang kita lihat sekarang ini.”

Dewik mengangguk-angguk mengerti. Kini dia mulai memberanikan diri mendekati beberapa capung yang sedang bersiap terbang. Wak Bajin tersenyum melihatnya. “Lalu kulitnya lamanya bagaimana?” Tanya Dewik ingin tahu.

“Itu namanya Exuviae. Setelah kering akan jatuh sendiri dan terbawa air. Itu proses alami, Dewik,” jelas Wak Bajin.

“Manusia pun bisa belajar dari mencerap cara hidup Capung. Manusia harus arif menjaga lingkungannya agar tetap bersih sebagaimana halnya Capung. Menghargai kehidupan seperti yang tercermin dari keseluruhan proses perubahan dan hidup Capung. Secara kerohanian, Capung juga adalah contoh yang baik, sebagaimana Capung dewasa yang menjaga air dalam masa hidupnya yang demikian singkat.” Jelas Wak Bajin sambil tersenyum.

Setelah menjelaskan semua proses alami Capung, Wak Bajin mengajak Bhara dan Dewik meninggalkan tempat itu untuk bergabung bersama anak-remaja lainnya. Mereka semua melepas lelah di gundukan tanah sambil memandangi Capung-capung yang beterbangan riang di antara bunga-bunga rumput. ***

Capung (Dragonfy) di sisi sungai berkabut (sumber foto: accad.osu.edu)

Iklan

[Puisi] Hikayat Tiga Ksatria & Batu Lateng’U

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Hikayat Tiga Ksatria

 

: Manjawari

 

Lelaki yang perkasa

Sebelah kakinya di gunung Sampapolulo

Di dadanya pokok-pokok enau berkelindan

Dialah raja bertubuh besar; Mokole RangkaEa.

 

Lompatannya melampaui pulau-pulau

tangannya menyisir awan

lalu matahari kentara dari timur

Dari Wolio datang kabar menggemparkan

Lamun laut akan menyerang benteng dalam tiga ratus ribu tombak

 

Kabaena sepandangan mata

Tetapi Wolio harus sabar

Sebelum Murhum dan Lakilaponto menjemput

Pantang baginya menulah sakti

sebelum dua saudaranya datang

 

Ohoi….Manjawari melompat sigap

Di gerbang Wolio, di pesisir yang bergejolak

Sapuan tangannya menenggelamkan armada lamun

Dia menghalau, dia menghadang, menjaga dua saudara

Di saat Murhum mengamuk di utara

Lakilaponto menerjang di barat daya

 

Manjawari, sang Mokole Kabaena

Padanya, Sapati dianugerahkan

Padanya, Selayar dikuasakan

 

Di tangannya, Kabaena menuai jaya

Mokole ketujuh yang perkasa, Opu Manjawari

Di bekas istananya kini dia tenang

Di keheningan Sampapolulo, dia bersedekap

Sebuah kerangka raksasa tujuh meter

Duduk hening di kursi batu.

 

: Lakilaponto

 

Lakilaponto mendulang firasat

Mimpinya semalam tentang putri yang dirapun

Putri yang bermukena

Entah siapa yang kini bersiasat

Dua pulau mengapit, haturkan sembah

di jantung Tongkuno

 

Murhum telah datang

Padanya terkabar perihal bencana

Wolio sedang dirapun, ada lamun mendekat

Murhum tak bergerak, Lakilaponto tak bangkit

Kesaktian tak akan berguna, jika Manjawari tak dijemput

 

Kepada siapa selendang Sultan hendak dititipkan

Pada riasan bomba di tengah makam

Tongkuno yang tua, Lakilaponto berwasiat

Jika dia tak kembali, selendang Sultan mesti dilipat

 

Lakilaponto, manusia sakti negeri Tongkuno

Di Barat Daya, lelaki perkasa ini mengamuk

Dia terjang lamun, yang merapun di sudut

Seratus tombak, musuh rebah ke tanah

Inilah akhir mimpinya, inilah tafsirnya

 

Wanita bermukena dalam mimpinya

adalah Wolio, penebus akhir riwayat

Pada Murhum, diwasiatkannya tentang mukena

Kerudung sebagai permulaan masa.

Manjawari diciumnya. Setiap lelaki perkasa

Tahu kemana harus pulang.

 

: Murhum

 

Murhum yang sakti datang

Di hadapan Lakilaponto dia bersimpuh

Sultan itu tak bangkit, Murhum pun tak bergerak

Wolio harus bersabar, katanya.

 

Kabar yang dibawa Murhum, sungguh lena

Wolio akan dirapun, lamun dari timur sepenggalahan

Murhum harus tahu, adalah Manjawari yang bertuah

Lakilaponto tak akan beranjak,

Maka Manjawari harus berbilang ikut serta

 

Lelaki beraras langit, Murhum orangnya

Utara Wolio dijaganya, dihalaunya dari lamun

Senjatanya berputar, memakan lawan

Tiga saudara, tiga tuah

Lakilaponto merusak lamun begitu hebat

Tubuh Manjawari yang besar bikin lamun ngeri

Menjerit dan lintang pukang mereka

Melihat amukan ketiga saudara

 

Pada Murhum, Lakilaponto menitip wasiat

Agar memasang gerudung pada Wolio

Opu Manjawari sebagai saksi

 

Pada Murhum, Lakilaponto memberi tegas

Opu Manjawari akan menjaganya dari selatan

Hormati kuasa Manjawari dengan kabalu

Jaga hati Manjawari dengan kande-kandea

 

Lunas mimpi Lakilaponto

Tunai harkat Manjawari

Wolio kini bermukena

Di bawah duli Murhum, Butuni bersolek

2011

***

Hikayat Tiga Ksatria adalah gubahan ke bentuk syair yang mereduksi kisah sejarah lampau perihal tiga kesatria yang datang membantu kerajaan Wolio, dari ancaman serbuan perompak di perairan Ternate dan Tidore.

***

Batu Lateng’U

 

1

berlimpah hormat kami haturkan

dua puluh lembah mengantarainya

benda persembahan terbentang di muka

Dari seberang lautan kau berperahu. Dua ribu armada dalam bentangan sayap bangau. Dua puluh empat bidadari menyambut dengan selendang. Dibukanya jalan saat kakimu menyentuh bumi. Batu Lateng’U, batu keramat, kau pijak, memecah tiga. Pusaka kau simpan di belahan rambut pada seorang bidadari tujuh wajah. Wahai, lelaki yang di dadanya keluar para Opu. Bilakah batu Lateng’U memberi isyarat? Pada rumpun padi yang bunting? Pada kemilau sebiji mutiara kuning laksana emas? Kau wasiatkan Bala Olo Pedandi’A padaku untuk aku ingat: pada masa ketiga akan datang tiga yang bercahaya bagai sebatang bombana dan dua lembar kain enu.

2

pinang satu kerat, sirih sekapur

kesana-kemari, laksana sebiji kemiri dalam gendang

tanduk rumah, bumbungan mahligai

Menemani perjalananmu, sebatang tongkat bambu yang ruasnya dari belulang naga. Oh, Sawerigading, kami harus menepuk pundak untuk mengingatmu. Di tepian konali engkau mengiris topi untuk kau pupuri tanah yang dipenuhi doa dan harapan. Dendeangi tunduk di kakimu, menerima perintah. Dendeangi menata keturunannya di pesisir selatan, pada tenggara pulau Sulawesi. Sebelum Sawerigading menurunkan tumit, engkau pijak batu Lateng’U, hingga pecah. Menjadi tiga lajur, tiga warna-warni. Sawerigading berjanji akan kembali, sebelum badik Tamano Moronene memutih garam pada ujungnya.

3

irisan atapnya, potongan pangkal kasaunya

teduh tirisan atapnya, ujung potongan kayunya

agar mereka senantiasa ingat kapak dan parang sebagai alat pencahariannya

sampai mereka beruban dan berjalan bungkuk bertongkat

Pada pagi yang rawan, datang kabar tentang Nungkulangi yang rebah. Lelaki perkasa itu hujub di anak sungai mata permaisuri. Digenggamnya hulu badik Tamano Moronene. “Inilah waktu yang diperjanjikan, wahai….para pewaris,” suara putri Luwuk mengiringi Bala Olo Pendandi’A. Tiga tuan dan seorang puan berdiri di bawah bambu, menunggu api menyentuh kepala. Badik Tamano Moronene di hujamkan ke bumi. Saat telapak Nungkulangi menyentuh bahu maka restu diberikan, titah diturunkan, wasiat disampaikan. Di hadapan Nungkulangi yang membusung, Ntina Sio Ropa, si putri tujuh rupa menjadi pembela Poleang. Di hadapan Nungkulangi yang tegak, Eluntoluwu, si putra bijak menjadi payung Rumbia. Dihadapan Nungkulangi yang perkasa, Indaulu, si putri jelita menjadi benteng Kabaena. Bala Olo Pedandi’A telah ditunaikan; tatkala batu Lateng’U pecah tiga di bawah telapak kaki moyangnya, sang Dendeangi. Bombana menjelma serupa tiga sulur bersimpul tunggal.

2011

***

Diangkat dari sejarah tua terbentuknya kerajaan Bombana yang kemudian memecah menjadi tiga protektorat kerajaan; Kabaena, Poleang, Rumbia.

Fig. 68. Wandzeichnungen aus der Batu Buri-Honle bei Tankeno - gez. Grundler. (Gambar 68: Lukisan dinding di Gua Batu Buri, di Tankeno - ttd. Grundler)

Fig. 2. Die beiden hochsten Berge Kabaenas vom Norden her. (Gambar 2: Gunung Tertinggi di Kabaena, tampak dari sisi utara).

Collectie Tropenmuseum: Tekening van Het Skelet van Een Woonhuis op Kabaena Celebes - tmnr 10003886 (Kerangka rumah di Kabaena Sulawesi - Gambar: Koleksi Tropenmuseum)

Fig. 2. Balo-Haus im ostlichen Kabaena; vorn ein Grab mit Opferpfahl (Gambar 2: Rumah Balo-Moronene di Kabaena bagian timur; dengan tiang pengorbanan pada bagian depannya).

Fig. 1. Ein Huis in der Landsehaft Tankeno, Nord-Kabaena; Blick von Enano auf den Sangia Wita (Gambar 1: Sebuah rumah di wilayah Tankeno, Kabaena Utara, gambar diambil di Enano, Sangia Wita).

Fig. 1. Ein Huis in der Landsehaft Tankeno, Nord-Kabaena; Blick von Enano auf den Sangia Wita Gambar 1: Sebuah rumah di wilayah Tankeno, Kabaena Utara, gambar diambil di Enano, Sangia Wita.

Ein Moronene-Haus in Sud-Rumbia (Sebuah rumah orang Moronene di wilayah Rumbia).

Deskripsi gambar 3: Kampiri, salah satu bentuk rumah dari tiga jenis rumah dalam peradatan orang Moronene, di Pulau Kabaena. Dua lainnya adalah; Laica Ngkoa (rumah besar), dan Olompu (rumah kebun).

Sistem Perhitungan Waktu / Sistem Papan Bilangan Orang Moronene.

Sistem Perhitungan Waktu / Sistem Matriks Bilang'ari Sosial-Ekonomi Orang Moronene.

Salah satu sudut benteng kerajaan Kabaena-Moronene di Tankeno.

Salah satu sudut benteng kerajaan Kabaena-Moronene di Tankeno.

Gunung Watu Sangia, dilihat dari Tankeno.

Gunung Sampapolulo (di selatan Gunung Watu Sangia).

Situs gua bersejarah Watu Buri (Batu bertulis) di Tankeno. Beberapa bentuk lukisan pada dinding gua dapat dilihat pada gambar pertama di atas. Goa ini dipercaya sebagai tempat Ratu Indaulu pertama bermukim sebelum membangun istana kerajaan di Tankeno. Di dalam gua ini masih dapat ditemui berbagai perkakas dan meubel terbuat dari batu. Mulut gua ini sangat besar. Perhatian gambar orang di tengah di sisi bawah foto.

Gua Watuburi (gambar tampak dari bagian dalam).

Foto-foto berbahasa asing adalah koleksi antropolog Jerman, Grubeur dan Johannes serta koleksi Tropenmuseum, Belanda. Sedang foto lainnya diambil dari berbagai sumber terkait.


[Telisik Literasi] ‘Three Hermits’ sampai ‘Dodolitdodolitdodolibret’

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Sengkarut ini bermula dari pengumuman pemenang Cerpen Terbaik Kompas, di Malam Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2011, di Bentara Budaya Jakarta pada Senin, 27 Juni 2011 lalu. Kemiripan cerpen pemenang dengan karya Three Hermits karya Tolstoy segera disadari oleh Akmal Nasery Basral dan dibuatkan kritikannya dengan judul karikaturis “Dodolit Dodolstoy”. Di kajian itu Akmal NB menemukan sekurang-kurangnya 8 (delapan) kesamaan besar.

Saya menampilkan kembali kedua cerpen ini, disertai terjemahannya oleh Atta Verin, yang diketik ulang oleh Hanna Fransisca.

Dalam pembacaanku, setidaknya aku menemukan 12 persamaan mendasar, selain bahwa kedua cerpen itu memiliki ide dan gagasan yang sama persis. Dua belas (12) persamaan mendasar itu bisa di baca di bagian paling bawah catatan ini. Terlepas dari semua sengkarut yang bermula, dan tambahan catatan ini, silahkan berasumsi dan membangun penilaian masing-masing terhadap dua entitas karya ini. Demikian.

 ***

Three Hermits

By : Leo Tolstoy (Ditulis pada 1886)

Leo Tolstoy

A BISHOPwas sailing from Archangel to the Solovétsk Monastery; and on the same vessel were a number of pilgrims on their way to visit the shrines at that place. The voyage was a smooth one. The wind favourable, and the weather fair. The pilgrims lay on deck, eating, or sat in groups talking to one another. The Bishop, too, came on deck, and as he was pacing up and down, he noticed a group of men standing near the prow and listening to a fisherman who was pointing to the sea and telling them something. The Bishop stopped, and looked in the direction in which the man was pointing. He could see nothing however, but the sea glistening in the sunshine. He drew nearer to listen, but when the man saw him, he took off his cap and was silent. The rest of the people also took off their caps, and bowed.

‘Do not let me disturb you, friends,’ said the Bishop. ‘I came to hear what this good man was saying.’

‘The fisherman was telling us about the hermits,’ replied one, a tradesman, rather bolder than the rest.

‘What hermits?’ asked the Bishop, going to the side of the vessel and seating himself on a box. ‘Tell me about them. I should like to hear. What were you pointing at?’

‘Why, that little island you can just see over there,’ answered the man, pointing to a spot ahead and a little to the right. ‘That is the island where the hermits live for the salvation of their souls.’

‘Where is the island?’ asked the Bishop. ‘I see nothing.’

‘There, in the distance, if you will please look along my hand. Do you see that little cloud? Below it and a bit to the left, there is just a faint streak. That is the island.’

The Bishop looked carefully, but his unaccustomed eyes could make out nothing but the water shimmering in the sun.

‘I cannot see it,’ he said. ‘But who are the hermits that live there?’

‘They are holy men,’ answered the fisherman. ‘I had long heard tell of them, but never chanced to see them myself till the year before last.’

And the fisherman related how once, when he was out fishing, he had been stranded at night upon that island, not knowing where he was. In the morning, as he wandered about the island, he came across an earth hut, and met an old man standing near it. Presently two others came out, and after having fed him, and dried his things, they helped him mend his boat.

‘And what are they like?’ asked the Bishop.

‘One is a small man and his back is bent. He wears a priest’s cassock and is very old; he must be more than a hundred, I should say. He is so old that the white of his beard is taking a greenish tinge, but he is always smiling, and his face is as bright as an angel’s from heaven. The second is taller, but he also is very old. He wears tattered, peasant coat. His beard is broad, and of a yellowish grey colour. He is a strong man. Before I had time to help him, he turned my boat over as if it were only a pail. He too, is kindly and cheerful. The third is tall, and has a beard as white as snow and reaching to his knees. He is stern, with over-hanging eyebrows; and he wears nothing but a mat tied round his waist.’

‘And did they speak to you?’ asked the Bishop.

‘For the most part they did everything in silence and spoke but little even to one another. One of them would just give a glance, and the others would understand him. I asked the tallest whether they had lived there long. He frowned, and muttered something as if he were angry; but the oldest one took his hand and smiled, and then the tall one was quiet. The oldest one only said: “Have mercy upon us,” and smiled.’

While the fisherman was talking, the ship had drawn nearer to the island.

‘There, now you can see it plainly, if your Grace will please to look,’ said the tradesman, pointing with his hand.

The Bishop looked, and now he really saw a dark streak — which was the island. Having looked at it a while, he left the prow of the vessel, and going to the stern, asked the helmsman:

‘What island is that?’

‘That one,’ replied the man, ‘has no name. There are many such in this sea.’

‘Is it true that there are hermits who live there for the salvation of their souls?’

‘So it is said, your Grace, but I don’t know if it’s true. Fishermen say they have seen them; but of course they may only be spinning yarns.’

‘I should like to land on the island and see these men,’ said the Bishop. ‘How could I manage it?’

‘The ship cannot get close to the island,’ replied the helmsman, ‘but you might be rowed there in a boat. You had better speak to the captain.’

The captain was sent for and came.

‘I should like to see these hermits,’ said the Bishop. ‘Could I not be rowed ashore?’

The captain tried to dissuade him.

‘Of course it could be done,’ said he, ‘but we should lose much time. And if I might venture to say so to your Grace, the old men are not worth your pains. I have heard say that they are foolish old fellows, who understand nothing, and never speak a word, any more than the fish in the sea.’

‘I wish to see them,’ said the Bishop, ‘and I will pay you for your trouble and loss of time. Please let me have a boat.’

There was no help for it; so the order was given. The sailors trimmed the sails, the steersman put up the helm, and the ship’s course was set for the island. A chair was placed at the prow for the Bishop, and he sat there, looking ahead. The passengers all collected at the prow, and gazed at the island. Those who had the sharpest eyes could presently make out the rocks on it, and then a mud hut was seen. At last one man saw the hermits themselves. The captain brought a telescope and, after looking through it, handed it to the Bishop.

‘It’s right enough. There are three men standing on the shore. There, a little to the right of that big rock.’

The Bishop took the telescope, got it into position, and he saw the three men: a tall one, a shorter one, and one very small and bent, standing on the shore and holding each other by the hand.

The captain turned to the Bishop.

‘The vessel can get no nearer in than this, your Grace. If you wish to go ashore, we must ask you to go in the boat, while we anchor here.’

The cable was quickly let out, the anchor cast, and the sails furled. There was a jerk, and the vessel shook. Then a boat having been lowered, the oarsmen jumped in, and the Bishop descended the ladder and took his seat. The men pulled at their oars, and the boat moved rapidly towards the island. When they came within a stone’s throw they saw three old men: a tall one with only a mat tied round his waist: a shorter one in a tattered peasant coat, and a very old one bent with age and wearing an old cassock — all three standing hand in hand.

The oarsmen pulled in to the shore, and held on with the boathook while the Bishop got out.

The old men bowed to him, and he gave them his benediction, at which they bowed still lower. Then the Bishop began to speak to them.

‘I have heard,’ he said, ‘that you, godly men, live here saving your own souls, and praying to our Lord Christ for your fellow men. I, an unworthy servant of Christ, am called, by God’s mercy, to keep and teach His flock. I wished to see you, servants of God, and to do what I can to teach you, also.’

The old men looked at each other smiling, but remained silent.

‘Tell me,’ said the Bishop, ‘what you are doing to save your souls, and how you serve God on this island.’

The second hermit sighed, and looked at the oldest, the very ancient one. The latter smiled, and said:

‘We do not know how to serve God. We only serve and support ourselves, servant of God.’

‘But how do you pray to God?’ asked the Bishop.

‘We pray in this way,’ replied the hermit. ‘Three are ye, three are we, have mercy upon us.’

And when the old man said this, all three raised their eyes to heaven, and repeated:

‘Three are ye, three are we, have mercy upon us!’

The Bishop smiled.

‘You have evidently heard something about the Holy Trinity,’ said he. ‘But you do not pray aright. You have won my affection, godly men. I see you wish to please the Lord, but you do not know how to serve Him. That is not the way to pray; but listen to me, and I will teach you. I will teach you, not a way of my own, but the way in which God in the Holy Scriptures has commanded all men to pray to Him.’

And the Bishop began explaining to the hermits how God had revealed Himself to men; telling them of God the Father, and God the Son, and God the Holy Ghost.

‘God the Son came down on earth,’ said he, ‘to save men, and this is how He taught us all to pray. Listen and repeat after me: “Our Father.”‘

And the first old man repeated after him, ‘Our Father,’ and the second said, ‘Our Father,’ and the third said, ‘Our Father.’

‘Which art in heaven,’ continued the Bishop.

The first hermit repeated, ‘Which art in heaven,’ but the second blundered over the words, and the tall hermit could not say them properly. His hair had grown over his mouth so that he could not speak plainly. The very old hermit, having no teeth, also mumbled indistinctly.

The Bishop repeated the words again, and the old men repeated them after him. The Bishop sat down on a stone, and the old men stood before him, watching his mouth, and repeating the words as he uttered them. And all day long the Bishop laboured, saying a word twenty, thirty, a hundred times over, and the old men repeated it after him. They blundered, and he corrected them, and made them begin again.

The Bishop did not leave off till he had taught them the whole of the Lord’s prayer so that they could not only repeat it after him, but could say it by themselves. The middle one was the first to know it, and to repeat the whole of it alone. The Bishop made him say it again and again, and at last the others could say it too.

It was getting dark, and the moon was appearing over the water, before the Bishop rose to return to the vessel. When he took leave of the old men, they all bowed down to the ground before him. He raised them, and kissed each of them, telling them to pray as he had taught them. Then he got into the boat and returned to the ship.

And as he sat in the boat and was rowed to the ship he could hear the three voices of the hermits loudly repeating the Lord’s prayer. As the boat drew near the vessel their voices could no longer be heard, but they could still be seen in the moonlight, standing as he had left them on the shore, the shortest in the middle, the tallest on the right, the middle one on the left. As soon as the Bishop had reached the vessel and got on board, the anchor was weighed and the sails unfurled. The wind filled them, and the ship sailed away, and the Bishop took a seat in the stern and watched the island they had left. For a time he could still see the hermits, but presently they disappeared from sight, though the island was still visible. At last it too vanished, and only the sea was to be seen, rippling in the moonlight.

The pilgrims lay down to sleep, and all was quiet on deck. The Bishop did not wish to sleep, but sat alone at the stern, gazing at the sea where the island was no longer visible, and thinking of the good old men. He thought how pleased they had been to learn the Lord’s prayer; and he thanked God for having sent him to teach and help such godly men.

So the Bishop sat, thinking, and gazing at the sea where the island had disappeared. And the moonlight flickered before his eyes, sparkling, now here, now there, upon the waves. Suddenly he saw something white and shining, on the bright path which the moon cast across the sea. Was it a seagull, or the little gleaming sail of some small boat? The Bishop fixed his eyes on it, wondering.

‘It must be a boat sailing after us,’ thought he ‘but it is overtaking us very rapidly. It was far, far away a minute ago, but now it is much nearer. It cannot be a boat, for I can see no sail; but whatever it may be, it is following us, and catching us up.’

And he could not make out what it was. Not a boat, nor a bird, nor a fish! It was too large for a man, and besides a man could not be out there in the midst of the sea. The Bishop rose, and said to the helmsman:

‘Look there, what is that, my friend? What is it?’ the Bishop repeated, though he could now see plainly what it was — the three hermits running upon the water, all gleaming white, their grey beards shining, and approaching the ship as quickly as though it were not morning.

The steersman looked and let go the helm in terror.

‘Oh Lord! The hermits are running after us on the water as though it were dry land!’

The passengers hearing him, jumped up, and crowded to the stern. They saw the hermits coming along hand in hand, and the two outer ones beckoning the ship to stop. All three were gliding along upon the water without moving their feet. Before the ship could be stopped, the hermits had reached it, and raising their heads, all three as with one voice, began to say:

‘We have forgotten your teaching, servant of God. As long as we kept repeating it we remembered, but when we stopped saying it for a time, a word dropped out, and now it has all gone to pieces. We can remember nothing of it. Teach us again.’

The Bishop crossed himself, and leaning over the ship’s side, said:

‘Your own prayer will reach the Lord, men of God. It is not for me to teach you. Pray for us sinners.

And the Bishop bowed low before the old men; and they turned and went back across the sea. And a light shone until daybreak on the spot where they were lost to sight.***

AN OLD LEGEND CURRENT IN THE VOLGA DISTRICT

‘And in praying use not vain repetitions, as the Gentiles do: for they think that they shall be heard for their much speaking. Be not therefore like unto them: for your Father knoweth what things ye have need of, before ye ask Him.’ — Matt. vi. 7, 8.

Sumber: www.online-literature.com

***

Di bawah ini adalah terjemahan Three Hermits di atas. Diketik ulang oleh Hanna Fransisca dari buku kumpulan cerpen Di Mana Ada Cinta, di Sana Tuhan Ada karya Leo Tolstoy, diterjemahkan oleh Atta Verin. Di copy-paste dari catatan Hanna Fransisca.

Tiga Pertapa

Oleh : Leo Tolstoy (Terjemahan oleh Atta Verin)

Buku Kumpulan Cerpen Leo Tolstoy “Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada” (terjemahan)

SEORANG uskup berlayar menuju sebuah biara yang jauh. Pada kapal yang sama terdapat sejumlah peziarah. Mereka juga hendak mengunjungi tempat suci. Perjalanan itu berjalan lancar. Angin begitu kencang dan cuaca cerah.

Para peziarah di geledak kapal menatap hamparan air laut atau duduk berkelompok seraya bercakap-cakap. Lalu, sang uskup pun ikut bergabung di gelagak kapal. Saat ia melihat-lihat keadaan, ia melihat sekelompok lelaki tengah berdiri di buritan kapal. Mereka sedang mendengarkan seorang nelayan yang tengah menunjuk-nunjuk ke arah laut dan menceritakan sesuatu pada mereka. Uskup itu berhenti dan mencoba melihat ke arah yang ditunjuk oleh nelayan itu. Ia tak bisa melihat apa pun, kecuali laut yang berkilauan di bawah cahaya matahari. Uskup itu mendekat dan ikut menyimak. Namun, nelayan itu melihatnya. Dilepasnya topinya dan ia berhenti bicara. Orang-orang lainnya juga melepas topi mereka dan membungkuk hormat.

“Jangan biarkan aku mengganggu kalian,” ujar uskup itu dengan ramah. “Aku ingin mendengar apa yang dikatakan oleh orang baik ini.”

“Nelayan ini sedang bercerita pada kami tentang para pertapa,” jawab salah seorang di antara para lelaki itu, seorang saudagar. Ia lebih berani bicara dibanding yang lainnya.

“Pertapa apa?” tanya sang uskup. Ia bergerak ke sisi gelagak dan duduk di atas sebuah kotak. “Ceritakan padaku tentang mereka. Aku ingin mendengarnya. Apakah yang tadi kamu tunjuk?”

“Pulau mungil itu. Anda bisa melihatnya dari sini, “sahut lelaki itu. Ia menunjuk sebuah titik di depan agak ke kanan. “Di pulau itulah para pertapa itu tinggal. Hanya mereka yang menghuni pulau itu. Mereka ingin menyelamatkan jiwa mereka.”

“Pulau manakah?” tanya uskup itu. “Aku tidak melihat apapun.”

“Di sana di kejauhan—jika Anda mengikuti arah tangan saya. Apakah Anda melihat awan mungil itu? Lihatlah tepat di bawahnya, sedikit ke kiri. Ada sebuah gugus kecil. Itulah pulau yang dimaksud.”

Uskup itu menajamkan pandangan matanya dengan saksama. Tapi matanya tak terbiasa melihat ke lautan. Yang bisa dilihatnya hanyalah air yang berkilauan diterpa cahaya matahari.

“Aku tak bisa melihatnya,” ujarnya. “Tapi siapakah para pertapa yang tinggal di sana?”

“Mereka orang-orang suci,” sahut si nelayan. “Sudah lama saya mendengar kabar tentang mereka. Tapi saya belum pernah melihatnya sendiri hingga akhir tahun kemarin.”

Lalu nelayan itu bercerita tentang saat ia terdampar pada suatu malam di pulau itu. Ia baru saja hendak pergi menangkap ikan saat badai datang. Dalam kegelapan ia terseret arus hingga ke pantai. Ia tak tahu berada di mana saat itu.

Pada pagi harinya ia berkeliling dan sampai di sebuah pondok. Ada seorang lelaki tua tengah berdiri di dekat pondok itu. Sejenak kemudian, dua orang lainnya muncul. Lalu ketiga lelaki tua itu memberinya makan, mengeringkan bajunya yang basah, dan membantunya memperbaiki perahu.

“Seperti apakah mereka?” tanya sang uskup.

“Yang satu bertubuh mungil dan punggungya bungkuk,” sahut nelayan itu. “Ia memakai jubah pendeta dan tampak sangat tua. Mungkin umurnya lebih dari seratus tahun.Begitu tuanya sehingga janggut putihnya mulai berganti warna menjadi kehijau-hijauan. Tapi, ia selalu tersenyum—dan wajahnya secerah wajah malaikat.

“Yang kedua lebih tinggi, tapi juga sudah amat tua,” lanjut nelayan itu. “Ia memakai mantel petani. Janggutnya lebat dan berwarna kuning kelabu. Ia amat kuat. Sebelum saya sempat membantunya, ia telah membalikkan perahu sendirian seolah-olah itu hanyalah sebuah ember. Ia juga amat baik dan ramah.

“Yang ketiga bertubuh tinggi. Janggutnya seputih salju dan panjangnya hingga mencapai lutut. Ia orang yang tegas dengan alis tebal seperti semak belukar. Dan ia hanya memakai semacam kain melingkari pinggangnya.”

“Apakah mereka berbicara padamu?” tanya uskup.

“Sebagian besar mereka melakukan segala sesuatu sambil berdiam diri,” sahut nelayan itu. “Mereka bahkan tidak berbicara satu sama lain. Salah seorang dari mereka mengganggukan kepala dan yang lainnya tampak mengerrti apa yang dimaksud. Saya bertanya pada yang paling tinggi berapa lama mereka telah hidup di sana. Ia malah bermuka masam dan bergumam seakan-akan ia marah. Tapi yang paling tua menggamit lengannya dan tersenyum. Entah bagaimana itu membuat yang tinggi menjadi tenang. Yang tertua itu hanya bilang, ‘Kasihilah kami,’ dan kemudian ia tersenyum.”

Ketika nelayan itu tengah berbicara, kapal mereka mendekat ke pulau yang tengah mereka percakapkan.

“Itu! Kini Anda bisa melihatnya dengan jelas,” ujar si saudagar pada uskup. Ia menunjuk dengan jarinya.

“Uskup itu melihat gugusan gelap yang merupakan sebuah pulau. Sejenak ia hanya menatapnya. Lalu ia beranjak dari bagian depan kapal dan beralih ke tepi.

“Pulau apakah itu?” tanya uskup.

“Pulau itu tidak bernama,” ujar yang ditanya. “Ada banyak pulau kecil seperti itu di laut ini.”

“Benarkah ada pertapa yang tinggal di sana?” tanya uskup itu. “Benarkah mereka tinggal di sana untuk menyelamatkan jiwa mereka?”

“Begitulah kabarnya,” sahut yang ditanya. “Tapi saya tak tahu soal kebenarannya. Banyak nelayan mengatakan bahwa mereka pernah melihat para pertapa itu. Tapi, tentu saja mereka mungkin hanya tahu dari desas-desus belaka.”

“Sebaiknya aku mendarat di sana untuk membuktikannya,” kata uskup. “Bagaimanakah caranya?”

“Kapal ini tidak bisa mendekat ke pulau itu,” sahut seseorang. “Kita bisa karam. Tapi Anda bisa naik perahu kecil ke sana. Sebaiknya Anda berbicara dengan kapten kapal.”

Kapten kapal dipanggil dan kini berdiri di hadapan sang uskup.

“Aku ingin bertemu para pertapa itu,” Kata uskup. “Bisakah aku berdayung ke tepi pantai?”

Kapten mencoba mencegah niat sang uskup. “Tentu saja itu bisa dilakukan,” ujarnya. “Tapi kita akan kehilangan banyak waktu. Dan jika saya boleh mengatakan satu hal lagi. Para orangtua itu tak cukup layak membuat Anda sedemikian bersusah payah. Kabarnya mereka hanyalah orang-orang bodoh yang tak memahami apapun. Mereka tak pernah bicara—lebih pendiam daripada ikan-ikan di lautan.”

“Aku tetap ingin menjumpai mereka,” kata uskup. “Aku akan membayar semua jerih payah dan waktumu yang hilang. Tolong beri aku sebuah perahu.”

Tak ada lagi alasan, maka permintaan itu pun diluluskan. Para awak kapal mengembangkan layar. Juru mudi membelokkan arah kapal menuju pulau itu.

Sebuah kursi diletakkan di haluan untuk tempat duduk sang uskup. Para penumpang berkumpul di sisi kapal dan memandang pulau itu.  Yang memiliki pandangan paling tajam segera bisa melihat batu karang di sekitar pulau itu. Lalu terlihat sebuah pondok yang terbuat dari lumpur. Akhirnya seseorang melihat ketiga pertapa itu. Kapten kapal mengeluarkan teleskopnya. Setelah melihat melalui teleskop, ia menyodorkan benda itu pada sang uskup.

“Memang benar,” ujar kapten itu. “Ada tiga lelaki berdiri di pantai. Di sebelah sana—sedikit di sebelah kanan batu karang besar itu.”

Uskup mengambil teleskop dan memastikan arahnya. Lalu ia melihat ketiga orangtua itu. Ada yang bertubuh tinggi, yang bertubuh lebih pendek dengan punggung bungkuk. Mereka berdiri di tepi pantai, saling berpegangan tangan.

Kapten menoleh ke arah uskup. “Kapal ini tak bisa lebih dekat lagi ke pulau itu. Jika Anda ingin menepi, Anda sebaiknya menggunakan perahu kecil. Kami akan membuang jangkar di sini dan menunggu Anda.”

Jangkar pun diturunkan dan layar digulung. Kapal itu bergoncang saat ia berhenti. Lalu sebuah perahu dayung diturunkan dan juru dayung meloncat masuk. Akhirnya uskup itu turun dengan sebuah tangga dan duduk di perahu dayung.

Para juru dayung mulai mengayuh dan perahu itu pun bergerak dengan cepat menuju pulau itu. Saat jarak mereka tinggal sepelemparan batu, mereka melihat ketiga orangtua itu dengan sangat jelas. Yang paling tinggi hanya mengenakan semacam kain melingkari pinggangnya. Di sampingnya adalah lelaki yang lebih pendek yang memakai mantel petani. Di dekatnya tampak seorang lelaki amat tua, punggungnya bungkuk oleh usia dan ia mengenakan jubah pendeta. Ketiganya berdiri mematung, saling berpegangan tangan.

Para juru dayung mengayuh ke arah pantai. Mereka menambatkan perahu, lalu sang uskup beranjak turun.

Orang-orang tua itu membungkuk padanya. Uskup memberi salam pada mereka dan mereka membungkuk lebih dalam. Lalu uskup angkat bicara.

“Aku telah mendengar kabar bahwa kalian adalah orang-orang suci. Mereka bilang kalian tinggal di sini untuk menyelamatkan jiwa kalian dan berdoa  pada Tuhan,” ujarnya. “Aku, seorang pelayan Tuhan yang hina, terpanggil oleh kasih Tuhan untuk menjaga dan mengajari domba-dombanya. Aku berharap bisa bertemu dengan kalian yang juga merupakan pelayan Tuhan sehingga aku pun bisa mengajari kalian.“

Para orangtua itu saling melempar senyum, tapi tetap berdiam diri.

“Katakan kepadaku, apakah yang kalian lakukan untuk menyelamatkan jiwa kalian?” tanya uskup. “Dan bagaimana kalian melayani Tuhan di pulau ini?”

Pertapa yang kedua menarik nafas dan menatap yang tertua—yang usianya telah amat sangat tua. Orang ini tersenyum dan berkata, “Kami tidak tahu bagaimana cara melayani Tuhan. Kami hanya melayani dan membantu diri kami, wahai pelayan Tuhan.”

“Tapi bagaimana cara kalian berdoa kepada Tuhan?” tanya uskup.

“Kami berdoa seperti ini,” pertapa tua itu menjawab. “Engkau ada tiga, kami ada tiga, maka kasihanilah kami.”

Uskup itu tersenyum.

“Tampaknya kalian pernah mendengar tentang Trinitas Suci,” ujar uskup. “Tapi cara kalian berdoa tidak benar. Kalian membuatku iba. Kulihat kalian ingin berbakti pada Tuhan. Tapi kalian tak tahu bagaimana caranya. Bukan begitu cara berdoa. Dengarkan aku dan akan kuajari kalian. Yang kuajarkan ini bukan sesuatu yang mengada-ada, melainkan menurut apa yang diajarkan Tuhan melalui Kitab Suci kepada seluruh umat manusia.”

Lalu uskup itu mulai bercerita pada para pertapa bagaimana Tuhan memberi wahyu kepada manusia. Ia bercerita kepada mereka tentang Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus.

“Tuhan Anak turun ke bumi untuk menyelamatkan kita,” ujar uskup. “Dan seperti inilah berdoa yang diajarkan Tuhan pada kita. Dengarkan dan ikuti sesudahnya. “Bapak kami…”

Orang yang pertama lalu mengikutinya, “Bapak kami.” Yang kedua berkata, “Bapak kami.” Begitu pula yang ketiga.

“Yang ada di surga…” lanjut sang uskup.

Pertapa pertama mencoba mengulangi, “Yang ada di surga.” Tapi yang kedua tak mampu melafalkannya dengan benar. Begitu pula pertama yang bertubuh tinggi. Rambut di kepala dan wajahnya telah menutupi mulutnya sehingga ia tak bisa berbicara dengan jelas. Pertapa paling tua, yang sudah ompong, juga mengalami kesulitan dengan kata-kata itu.

Uskup mengulangi kata-kata itu lagi dan para orangtua itu mengikutinya. Lalu uskup duduk di atas sebuah batu dan para pertapa itu berdiri di hadapannya. Mereka menatap mulut uskup itu dengan saksama. Setiap kata yang diucapkan uskup itu mereka ulangi. Sepanjang hari uskup itu bekerja. Ia mengucapkan tiap-tiap kata hingga 20, 30, bahkan 100 kali. Lalu para pertapa tua itu menirunya. Saat mereka membuat kesalahan, ia membetulkannya, lalu mereka mulai lagi dari awal.

Uskup itu tidak berhenti hingga ia selesai mengajarkan seluruh doa itu. Ia mengajari mereka hingga mereka mampu mengucapkannya tanpa dibimbing lagi, bukan sekadar menirukan kata-katanya. Pertapa yang kedualah yang pertama kali berhasil mempelajarinya. Tak lama, yang lainnya berhasil pula mengucapkannya dengan baik.

Kini sudah mulai gelap. Bulan muncul di atas permukaan air. Uskup itu akhirnya bangkit untuk kembali ke kapal. Saat ia beranjak, ketiga lelaki itu bersujud di atas bumi di hadapannya. Ia membangunkan mereka dan mencium mereka satu persatu. Ia berpesan kepada mereka agar berdoa sesuai cara yang tadi telah diajarkannya. Lalu ia masuk ke perahu dayung dan kembali ke kapal.

Ketika uskup itu mendekat ke kapal, ia dapat mendengar suara ketiga pertapa itu. Mereka berdoa dengan suara nyaring. Saat perahu mencapai kapal, suara mereka tak lagi terdengar. Tapi ketiga lelaki tua itu masih bisa terlihat di bawah cahaya bulan. Mereka masih berdiri di tempat semula saat uskup meninggalkan mereka di tepi pantai.

Saat sang uskup telah masuk ke dalam kapal, jangkar dinaikkan dan layar kembali dikembangkan. Angin dengan cepat mendorong kapal layar itu dan mereka pun kembali berlayar ke laut lepas. Sang uskup duduk dan menatap ke arah pulau yang baru saja mereka tinggalkan. Sejenak ia bisa melihat para pertapa itu. Tapi segera mereka lenyap. Akhirnya, pulau itu juga hilang dari pandangan dan hanya laut belaka yang terlihat beriak di bawah sinar bulan.

Para peziarah membaringkan diri, bersiap untuk tidur. Segalanya terasa sepi di atas geladak. Tapi uskup itu tidak ingin tidur. Ia duduk sendirian memandang lautan, ke arah pulau yang tak lagi terlihat. Ia berpikir tentang para orangtua yang baik itu. Ia berpikir tentang betapa semangatnya mereka belajar berdoa. Dan ia berterima kasih pada Tuhan karena telah mengirimnya untuk mengajari dan membantu orang-orang sebaik itu.

Lalu tiba-tiba uskup itu melihat sesuatu yang putih dan bersinar-sinar. Secercah cahaya aneh bergerak di atas permukaan laut yang diterangi sinar bulan. Apakah itu seekor anjing laut? Atau hanyalah kilauan layar sebuah perahu kecil? Sang uskup berusaha menajamkan penglihatannya bertanya-tanya dalam hati.

“Pasti tu perahu yang berlayar di belakang kami,” pikirnya. “Tapi ia membututi kami begitu cepat. Beberapa saat yang lalu ia masih jauh. Kini ia makin mendekat. Tapi tampaknya itu bukan perahu—kini aku bisa melihat bahwa benda itu tak memiliki layar.”

Uskup tak tahu benda apakah itu sesungguhnya. Itu bukan perahu, juga bukan burung dan bukan pula ikan! Terlalu besar bila itu adalah orang. Lagi pula, mana mungkin orang berenang secepat itu di laut lepas?

Uskup itu bangkit dan bicara kepada juri mudi. “Lihatlah! Apakah itu?” teriaknya. “Apa itu?” ulangnya. Tapi kini ia bisa melihat benda itu dengan jelas. Ketiga pertapa itu berlari di atas air! Mereka memburu ke arah kapal seolah-olah perahu itu tidak bergerak sama sekali.”

Juri mudi melihatnya dan melepaskan kemudi dengan ketakutan. “Ya, Tuhan!” pekiknya. “Para pertapa itu berlari di atas air seolah-olah sedang berada di daratan.”

Para penumpang mendengarnya. Mereka melompat dan bergegas ke arah bagian belakang perahu. Mereka juga melihat para pertapa itu datang bersama-sama, saling berpegangan tangan. Dua lelaki tua di bagian samping melambaikan tangan, meminta agar kapal berhenti. Mereka bertiga meluncur di atas permukaan air laut tanpa menggerakkan kaki. Sebelum kapal berhenti, para pertapa itu telah lebih dulu mencapainya. Mereka menegakkan kepala dan berkata seolah-olah dengan satu suara.

“Kami lupa apa yang tadi kau ajarkan, wahai pelayan Tuhan, “kata mereka kepada sang uskup. “Saat kami terus menerus mengulanginya, kami ingat. Tapi saat kami berhenti mengatakannya suatu kali, satu kata terlupa. Kini doa itu tak bisa kami ingat lagi sedikit pun. Ajarilah kami sekali lagi.”

Uskup itu membuat tanda salib di dadanya. Lalu ia bersandar ke tepi kapal. “Doa kalian akan didengar Tuhan. Bukan aku yang harus mengajari kalian. Berdoalah untuk kami, para pendosa ini.”

Sang uskup lalu membungkuk dalam-dalam di hadapan ketiga orang tua itu. Mereka berbalik dan kembali melintasi laut. Hingga terbit fajar, secercah cahaya bersinar-sinar di titik mereka lenyap dari pandangan.

***

Bandingkan lagi dengan tulisan berikut, di bawah ini:

We Are Three, You Are Three

by Anthony de Mello S. J

THE SONG OF THE BIRD by Anthony de Mello S. J. (Image Books, 1982)

WHEN his ship stopped at a remote island for a day, the bishop determined to use the time as profitably as possible. He strolled along the seashore and came across three fishermen attending to their nets. In Pidgin English they announced to him that centuries be/ore they had been Christianized by missionaries. “We, Christians!” they said, proudly pointing to one another.

The bishop was impressed. Did they know the Lord’s Prayer? They had never heard of it. The bishop was shocked.

“What do you say, then, when you pray?”

“We lift eyes in heaven. We pray, ‘We are three, you are three, have mercy on us.” The bishop was appalled at the primitive, the downright here-tical, nature of the prayer. So he spent the whole day teaching them the Lord’s Prayer. The fishermen were poor learners, but they gave it all they had and before the bishop sailed away next day he had the satisfaction of hearing them go through the formula faultlessly.

Months later his ship happened to pass by those islands again and the bishop, as he paced the deck reciting evening prayer, recalled with pleasure the three men on that distant island who were now able to pray, thanks to his patient efforts.

Suddenly he saw a spot of light in the east that kept approaching the ship and, as he gazed in wonder, he saw three figures walking on the water. The captain stopped the boat and everyone leaned over the rails to see this sight.

They were the bishop’s fishermen, of course. “Bishop,” they exclaimed, “We hear your boat go past and come hurry-hurry meet you.”

“What is it you want?” asked the awe-stricken bishop.

“Bishop,” they said, “We so, so sorry. We forget lovely prayer. We say: Our Father in heaven, holy be your name, your kingdom come… then we forget. Tell us prayer again.”

It was a chastened bishop who replied, “Go back to your homes, my friends, and each time you pray, say, “We are three, you are three, and have mercy on us!”

From THE SONG OF THE BIRD by Anthony de Mello S. J. (Image Books, 1982)

Diterjemahkan ke bahasa Indonesia “Burung Berkicau” (1984).

***

Pada buku Anthony, bagian prakata kita dengan mudah menemukan pengakuan frater Anthony, secara implisit, bahwa cerita-cerita yang ditemukan di bukunya hanyalah sejenis kumpulan dari berbagai kisah dari berbagai tempat dan latar belakang agama. Dan, memang, jika membaca buku ini, kita dengan mudah menemukan berbagai kecenderungan religius di dalamnya; Buddha, Kristen, Zen, Hasidic, Rusia, Cina, Hindu, Sufi, kisah-kisah kuno, dan bahkan kontemporer.

This book has been written for people of every persuasion religious and non religious, I cannot, however, hide from my readers the fact that I am a priest of the Catholic Church. I have wandered free-ly in mystical traditions that are not Christian and not religious and I have been profoundly influenced by them. It is to my Church, however, that I keep returning, for she is my spiritual home; and while I am acutely, sometimes embarrassingly, conscious of her limitations and narrowness, I also know that it is she who has formed me and made me what I am today. So it is to her that I gratefully dedicate this book.

Everyone loves stories and you will find plenty of them in this book: Stories that are Buddhist, Christian, Zen, Hasidic, Russian, Chinese, Hindu, Sufi; stories ancient and contemporary. And they all have a special quality: if read in a cer-tain kind of way, they will produce spiritual growth.

Dalam Anthony terjadi pula pengubahan karakter dan alur kisah dari yang mula dituliskan Tolstoy;

  • Jumlah paragraf sangat pendek, hanya 10 paragraf.
  • Tiga Pertapa menjadi tiga nelayan.
  • Pengubahan alur kisah, yang mana pada Tolstoy ketiga pertapa hanyalah pertapa biasa, dan tidak mengakui diri mereka sebagai kristen, namun dalam Anthony, ketiga nelayan seketika mengaku sebagai, “Kami, orang Kristen!”
  • Alur kisah juga melipir jauh. Pada Tolstoy kapal yang ditumpangi sang Uskup tidak dituliskan telah melalui area perairan di mana pulau tersebut berada sebanyak dua kali. Tapi bahwa kapal itu hanya singgah. Tidak demikian pada Anthony, kapal sang Uskup sepertinya pernah singgah di suatu waktu, dan melayari perairan itu di lain waktu.

Months later his ship happened to pass by those islands again and the bishop, as he paced the deck reciting evening prayer, recalled with pleasure the three men on that distant island who were now able to pray, thanks to his patient efforts.

Atau, “Bishop,” they exclaimed, “We hear your boat go past and come hurry-hurry meet you.”

Apakah pengubahan drastis seperti ini akan ikut mengubah identitas dan penciri utama kisah yang dapat kita temukan dalam karakter dan alur kisah? Selain bahwa ide dan gagasannya yang sama, pengubahan drastis ini juga tidak mengubah prasangka apapun, bahwa kisah ini adalah milik Tolstoy.

Namun dua hal yang menarik, ketika kisah ini dituliskan kembali oleh Anthony; Anthony cukup jujur membangun pemahaman pada prakata bahwa kisah ini bukan kisah miliknya (yang hanya dilakukan sepintas lalu oleh SGA dalam bentuk disclaimer pada Dodolibret); dan, bahkan Anthony pun tidak menuliskan sumber kisah di mana dia terinspirasi/ambil (tak kita temukan nama Tolstoy atau Three Hermits dituliskan pada awal/akhir buku kumpulannya itu).

***

Dodolitdodolitdodolibret

Oleh : Seno Gumira Ajidarma (Dimuat Kompas pada 26 September 2010)

           KIPLIK sungguh mengerti, betapapun semua itu tentunya hanya dongeng.

“Mana ada orang bisa berjalan di atas air,” pikirnya.

Namun, ia memang berpendapat bahwa jika seseorang ingin membaca doa, maka ia harus belajar membaca doa secara benar.

“Bagaimana mungkin doanya sampai jika kata-katanya salah,” pikir Kiplik, “karena jika kata-katanya salah, tentu maknanya berbeda, bahkan jangan-jangan bertentangan. Bukankah buku Cara Berdoa yang Benar memang dijual di mana-mana?”

Adapun dongeng yang didengarnya menyampaikan pesan, betapa siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar, akan mampu berjalan di atas air.

Kiplik memang bisa membayangkan, bagaimana kebesaran jiwa yang dicapai seseorang setelah mampu membaca doa secara benar, akan membebaskan tubuh seseorang dari keterikatan duniawi, dan salah satu perwujudannya adalah bisa berjalan di atas air.

Namun, ia juga sangat sadar sesadar-sadarnya, pembayangan yang bagaimanapun, betapapun masuk akalnya, tidaklah harus berarti akan terwujudkan sebagai kenyataan, dalam pengertian dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri.

“Dongeng itu hanyalah perlambang,” pikirnya, “untuk menegaskan kebebasan jiwa yang akan didapatkan siapa pun yang berdoa dengan benar.”

Justru karena itu, semenjak Kiplik memperdalam ilmu berdoa, kepada siapa pun yang ditemuinya, ia selalu menekankan pentingnya berdoa dengan benar. Adapun yang dimaksudnya berdoa dengan benar bukanlah sekadar kata-katanya tidak keliru, gerakannya tepat, dan waktunya terukur, selain tentu saja perhatiannya terpusat, melainkan juga dengan kepercayaan yang mendalam dan tak tergoyahkan betapa sedang melakukan sesuatu yang benar, sangat benar, bagaikan tiada lagi yang akan lebih benar.

Kebahagiaan yang telah didapatkannya membuat Kiplik merasa mendapatkan suatu kekayaan tak ternilai, dan karena itulah kemudian ia pun selalu ingin membaginya. Setiap kali ia berhasil membagikan kekayaan itu, kebahagiaannya bertambah, sehingga semakin seringlah Kiplik menemui banyak orang dan mengajarinya cara berdoa yang benar.

Ternyata tidak sedikit pula orang percaya dan merasakan kebenaran pendapat Kiplik, bahwa dengan berdoa secara benar, bukan hanya karena cara-caranya, tetapi juga karena tahap kejiwaan yang dapat dicapai dengan itu, siapa pun akan mendapatkan ketenangan dan kemantapan yang lebih memungkinkan untuk mencapai kebahagiaan.

Demikianlah akhirnya Kiplik pun dikenal sebagai Guru Kiplik. Mereka yang telah mengalami bagaimana kebahagiaan itu dapat dicapai dengan berdoa secara benar, merasa sangat berterima kasih dan banyak di antaranya ingin mengikuti ke mana pun Kiplik pergi.

“Izinkan kami mengikutimu, Guru, izinkanlah kami mengabdi kepadamu, agar kami dapat semakin mendalami dan menghayati bagaimana caranya berdoa secara benar,” kata mereka.

Namun, Guru Kiplik selalu menolaknya.

“Tidak ada lagi yang bisa daku ajarkan, selain mencapai kebahagiaan,” katanya, “dan apalah yang bisa lebih tinggi dan lebih dalam lagi selain dari mencapai kebahagiaan?”

Guru Kiplik bukan semacam manusia yang menganggap dirinya seorang nabi, yang begitu yakin bisa membawa pengikutnya masuk surga. Ia hanya seperti seseorang yang ingin membagikan kekayaan batinnya, dan akan merasa bahagia jika orang lain menjadi berbahagia karenanya.

Demikianlah Guru Kiplik semakin percaya, bahwa berdoa dengan cara yang benar adalah jalan mencapai kebahagiaan. Dari satu tempat ke tempat lain Guru Kiplik pun mengembara untuk menyampaikan pendapatnya tersebut sambil mengajarkan cara berdoa yang benar. Dari kampung ke kampung, dari kota ke kota, dari lembah ke gunung, dari sungai ke laut, sampai ke negeri-negeri yang jauh, dan di setiap tempat setiap orang bersyukur betapa Guru Kiplik pernah lewat dan memperkenalkan cara berdoa yang benar.

Sementara itu, kadang-kadang Guru Kiplik terpikir juga akan gagasan itu, bahwa mereka yang berdoa dengan benar akan bisa berjalan di atas air.

“Ah, itu hanya takhayul,” katanya kepada diri sendiri mengusir gagasan itu.

Suatu ketika dalam perjalanannya tibalah Guru Kiplik di tepi sebuah danau. Begitu luasnya danau itu sehingga di tengahnya terdapatlah sebuah pulau. Ia telah mendengar bahwa di pulau tersebut terdapat orang-orang yang belum pernah meninggalkan pulau itu sama sekali. Guru Kiplik membayangkan, orang-orang itu tentunya kemungkinan besar belum mengetahui cara berdoa yang benar, karena tentunya siapa yang mengajarkannya? Danau itu memang begitu luas, sangat luas, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih luas, seperti lautan saja layaknya, sehingga Guru Kiplik pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Danau seluas lautan,” pikirnya, “apalagi yang masih bisa kukatakan?”

Maka disewanya sebuah perahu layar bersama awaknya agar bisa mencapai pulau itu, yang konon terletak tepat di tengah danau, benar-benar tepat di tengah, sehingga jika pelayaran itu salah memperkirakan arah, pulau itu tidak akan bisa ditemukan, karena kedudukannya hanyalah bagaikan noktah di danau seluas lautan.

Tiadalah usah diceritakan betapa lama dan susah payah perjalanan yang ditempuh Guru Kiplik. Namun, akhirnya ia pun sampai juga ke pulau tersebut. Ternyatalah bahwa pulau sebesar noktah itu subur makmur begitu rupa, sehingga penghuninya tiada perlu berlayar ke mana pun jua agar dapat hidup. Bahkan, para penghuninya itu juga tidak ingin pergi ke mana pun meski sekadar hanya untuk melihat dunia. Tidak terdapat satu perahu pun di pulau itu.

“Jangan-jangan mereka pun mengira, bahwa dunia hanyalah sebatas pulau sebesar noktah di tengah danau seluas lautan ini,” pikir Guru Kiplik.

Namun, alangkah terharunya Guru Kiplik setelah diketahuinya bahwa meskipun terpencil dan terasing, sembilan orang penduduk pulau sebesar noktah itu di samping bekerja juga tidak putus-putusnya berdoa!

“Tetapi sayang,” pikir Guru Kiplik, “mereka berdoa dengan cara yang salah.”

Maka dengan penuh pengabdian dan perasaan kasih sayang tiada terkira, Guru Kiplik pun mengajarkan kepada mereka cara berdoa yang benar.

Setelah beberapa saat lamanya, Guru Kiplik menyadari betapa susahnya mengubah cara berdoa mereka yang salah itu.

Dengan segala kesalahan gerak maupun ucapan dalam cara berdoa yang salah tersebut, demikian pendapat Guru Kiplik, mereka justru seperti berdoa untuk memohon kutukan bagi diri mereka sendiri!

“Kasihan sekali jika mereka menjadi terkutuk karena cara berdoa yang salah,” pikir Guru Kiplik.

Sebenarnya cara berdoa yang diajarkan Guru Kiplik sederhana sekali, bahkan sebetulnya setiap kali mereka pun berhasil menirunya, tetapi ketika kemudian mereka berdoa tanpa tuntunan Guru Kiplik, selalu saja langsung salah lagi.

“Jangan-jangan setan sendirilah yang selalu menyesatkan mereka dengan cara berdoa yang salah itu,” pikir Guru Kiplik, lagi.

Guru Kiplik hampir-hampir saja merasa putus asa. Namun, setelah melalui masa kesabaran yang luar biasa, akhirnya sembilan orang itu berhasil juga berdoa dengan cara yang benar.

Saat itulah Guru Kiplik merasa sudah tiba waktunya untuk pamit dan melanjutkan perjalanannya. Di atas perahu layarnya Guru Kiplik merasa bersyukur telah berhasil mengajarkan cara berdoa yang benar.

“Syukurlah mereka terhindar dari kutukan yang tidak dengan sengaja mereka undang,” katanya kepada para awak perahu.

Pada saat waktu untuk berdoa tiba, Guru Kiplik pun berdoa di atas perahu dengan cara yang benar.

Baru saja selesai berdoa, salah satu dari awak perahunya berteriak.

“Guru! Lihat!”

Guru Kiplik pun menoleh ke arah yang ditunjuknya. Alangkah terkejutnya Guru Kiplik melihat sembilan orang penghuni pulau tampak datang berlari-lari di atas air!

Guru Kiplik terpana, matanya terkejap-kejap dan mulutnya menganga. Mungkinkah sembilan penghuni pulau terpencil, yang baru saja diajarinya cara berdoa yang benar itu, telah begitu benar doanya, begitu benar dan sangat benar bagaikan tiada lagi yang bisa lebih benar, sehingga mampu bukan hanya berjalan, tetapi bahkan berlari-lari di atas air?

Sembilan orang penghuni pulau terpencil itu berlari cepat sekali di atas air, mendekati perahu sambil berteriak-teriak.

“Guru! Guru! Tolonglah kembali Guru! Kami lupa lagi bagaimana cara berdoa yang benar!” (*)

Ubud, Oktober 2009 / Kampung Utan, Agustus 2010

Cerita ini hanyalah versi penulis atas berbagai cerita serupa, dengan latar belakang berbagai agama di muka bumi.

Cerpen ini memenangkan penghargaan Cerpen Terbaik Kompas, pada Malam Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2011, di Bentara Budaya Jakarta, Senin, 27 Juni 2011.

***

Kemiripan (atau, kesamaan) sebagai berikut :

  1. Adanya karakter dalam cerita yang berjalan di atas air,
  2. Kesamaan ide cerita tentang belajar berdoa dengan benar,
  3. Pulau di tengah lautan; pulau di tengah danau yang luas laksana lautan,
  4. Tiga pertapa; sembilan penduduk,
  5. Karakter utama dalam kedua kisah ini berdoa tapi salah,
  6. Uskup mengajarkan cara berdoa; Guru Kiplik mengajarkan mereka cara berdoa,
  7. Kesamaan alur kisah: setiap kali mereka berdoa, maka setiap kali merekapun lupa,
  8. Ketiga orang berhasil berdoa secara benar; sembilan orang berhasil berdoa secara benar,
  9. Uskup di kapal; Guru Kiplik di perahu (sama-sama moda air),
  10. Nahkoda berteriak; pendayung berteriak,
  11. Tiga orang mendatangi kapal dengan berlari di atas air; sembilan orang mendatangi perahu dengan berlari di atas air,
  12. Mendatangi kapal dengan maksud yang sama: minta diajari kembali cara berdoa yang benar, sebab mereka selalu lupa setiap kata seusai mengulangi doa.

Hal-hal yang terganti (sekadar diganti tanpa mengubah citra dan fungsi karakter/alur) :

  1. Pulau di tengah laut; digubah menjadi Pulau di tengah danau yang luas laksana laut.
  2. Karakter Uskup; digubah menjadi karakter Guru Kiplik.
  3. Tiga pertapa; digubah menjadi karakter sembilan orang biasa yang rajin bekerja.
  4. Kapal; digubah menjadi perahu (ditemukan pula perahu dalam karya Tolstoy).
  5. Nahkoda kapal; digubah menjadi pendayung perahu (ditemukan juga adanya karakter pendayung perahu pada karya Tolstoy).
  6. Alur percakapan antara Uskup dan ketiga pertapa; berusaha digubah sedemikian rupa, kendati tetap tak bisa menyembunyikan kesan bahwa alur percakapannya itu sangat identik.

Kesamaan ide dan gagasan dasar:

  • Bahwa apa yang menurut Anda benar, belum tentu demikian halnya bagi orang lain.
  • Setiap orang (atau komunitas) memiliki cara sendiri-sendiri menuju Tuhannya.
  • Esensi Ketuhanan tak dapat diukur oleh girah kemanusiaan. Kemutlakan itu tidak fana.

Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa adanya upaya mengubah sejumlah unsur dalam kisah asli. Upaya-upaya itu terlihat dari usaha mengubah karakter utama, alur percakapan, alur utuh cerita, namun semua upaya itu terlihat gagal. Upaya pengaburan alur juga terjadi; yakni dengan memotong ending kisah (percakapan) di akhir kisah karya Tolstoy, dengan tidak menampilkannya pada cerpen gubahan. Penyederhanaan alur boleh juga disebut demikian. Upaya-upaya (pengubahan, pengaburan, pemotongan) dalam kisah Tolstoy ternyata gagal dilakukan, sehingga aroma alur kisah yang khas Tolstoy dalam Three Hermits, masih sangit–dan begitu mudah dibaui–walau kedua kisah hanya cukup di dengarkan saja.

Lalu, pada cerpen gubahan, penulis seperti hendak mendesakkan pemahaman yang ditangkapnya dalam cerpen Three Hermits. Terlalu banyak penjelasan, begitu kira-kira. Jadi, seolah-olah, cerpen gubahan itu, menjadi “juru takwil” dari sulur-sulur makna yang ditabur Tolstoy dan berusaha disampaikannya dalam cerpen Three Hermits.

Sekali lagi ini penilaian subjektif yang sifatnya tinjauan umum belaka. Sekian. (*)

Diskusi tentang ini dapat dilihat pada Catatan Ilham Q. Moehiddin di Facebook.

 


[Cerpen] Magnolia de Capoterra

Oleh :  Ilham Q. Moehiddin

 

SEORANG wanita 72 tahun, duduk di sebuah kursi Bar Cavallo. Bergaun mewah, dengan belahan dada rendah, memamerkan garis buah dada dan sebentuk kalung mutiara. Syal putih bulu Angsa tersampir di sekitar pundaknya. Rambutnya tergelung dengan baik. Jemari dan pergelangan tangannya, berhias emas. Bahkan telinganya, ada sepasang giwang bermata berlian kecil.

Wanita tua itu duduk tenang di sudut remang Bar Cavallo, dekat bartender biasa menyajikan minuman. Setiap kali wanita itu datang, selalu saja duduk di tempat yang sama, memesan minuman yang sama, Cannonau. Di permulaan pagi, wanita itu pulang dalam keadaan yang sama pula—sempoyongan karena sedikit mabuk.

Aku bukan warga kota Capoterra. Aku berasal dari kota lain, Cabras, berjarak 300 kilometer dari kota ini. Aku sangat suka Capoterra. Suka pada udara kering yang berhembus dari laut Mediterania.

Di kota ini, aku datang untuk membunuh sepi di tepian pantai Capoterra, menghabiskan waktu bersama gadis-gadis lokal, menyantap Bottarga yang gurih, ditemani anggur putih Vernaccia beraroma kacang Badam. Entah kenapa? Aku sendiri tak tahu. Yang jelas, aku selalu bergairah ketika membaui aroma udara pagi yang kering dan asin dari balkon kamarku saat menikmati dua tangkup roti dan Pecorino.

Biasanya aku hanya menghabiskan waktu di kafe-kafe kecil di sepanjang jalan pasar ikan, di utara kota Capoterra. Bercerita hal yang tak perlu pada gadis-gadis Sassari yang wangi dan sintal sambil memangku beberapa dari mereka. Gadis-gadis itu akan menemaniku tidur dengan bayaran murah setelah mendengarkan bualanku perihal kapal-kapal, samudera dan benua-benua.

Sejak kunjungan pertamaku di Bar Cavallo ini, wanita tua itu tak pernah absen dari penglihatanku. Dia selalu hadir di sana. Sambil memainkan jemarinya pada bibir gelas, lamat-lamat kudengar dia menyenandungkan lagu Tu Per Me Canta La Voce Del Nord. Lagu tentang hati yang patah. Senandungnya hanya berhenti saat pintu bar terbuka dan seseorang terlihat masuk. Tubuhnya akan ditegakkan, lalu matanya seperti menyala dalam rupa yang aneh.

Ya, matanya itu tak pernah luput dari pintu masuk. Setiap tamu lelaki yang melalui pintu itu, ditatapinya dengan tajam. Seolah mata itu sanggup menelanjangi setiap mereka, satu per satu. Wanita tua ini seperti sedang mencari sesuatu pada wajah-wajah itu.

Aku baru menyadari sikapnya saat mata kami bersirobok pandang. Saat kami bertatapan, wanita itu bahkan tak tersenyum sama sekali. Matanya segera beralih pada wajah orang lain yang baru datang, dan begitu seterusnya.

Aku menanyakan kelakuan wanita itu pada bartender yang dengan senang hati berkisah padaku. Katanya, wanita itu bernama Magnolia. Nama panggung yang begitu dikenali setiap pria di Capoterra ini, 50 tahun silam. Namanya membuat Bar Cavallo ramai setiap malam. Tak ada malam yang dilewatkan para pria di kota ini tanpa berkerumun di dekat panggung pada pesona Magnolia saat menyanyikan A Tenore dengan suara soprannya yang memukau.

Kini orang-orang telah menyangka wanita tua itu sudah gila.

***

Gadis muda Magnolia, cantik seperti arti namanya. Panggung Bar Cavallo selalu semarak dengan hentakan kakinya saat bernyanyi. Magnolia saat itu berumur 22 tahun.

Sepi gadis itu sirna saat cintanya tersangkut pada Morty, seorang cellis muda yang baru setahun bekerja di Cavallo. Morty menawan hati Magnolia lewat gesekan Cello-nya yang membuat merinding.

Magnolia dan Morty, seperti kebanyakan pasangan muda yang dirundung asmara, menikmati hari-hari mereka dalam cinta yang gelora. Pada malam yang berangin, saat kabut menghampar di sepanjang pantai Capoterra, menyusupi belulang kota itu yang sedang lelap, keduanya dimabuk gairah. Cahaya lampu minyak memantulkan bayang mereka yang berkelindan. Dua bayang yang saling memagut, merasuk, dan berusaha merampungkan petualangan dalam hasrat yang menjilam-jilam. Kemudian pecah dalam gemuruh yang tuntas. Mereka berdua lindap dalam senyum, memagut sekali lagi di penghabisan, sebelum pulas dalam dekapan satu sama lain.

Cinta mereka memang manis. Semua lelaki iri pada keberuntungan Morty. Namun semua wanita di Capoterra justru bersukacita. Akhirnya, ada lelaki yang akan membawa Magnolia de Capoterra itu pergi dari kota ini. Meninggalkan kota itu dengan kaum lelaki hanya untuk mereka saja.

Magnolia hamil dan begitu bahagia karenanya. Tetapi Morty lebih murung dari biasanya. Dia tak bergairah lagi mengesek Cello. Gadis itu tak pernah menyangka Morty akan menyangkali kehamilannya. Mereka bertahan dalam kepura-puraan cinta di hadapan semua orang, hingga suatu malam Morty tak pernah lagi muncul di panggung Bar Cavallo.

Gadis itu hanya menemukan selembar surat yang berisi maaf Morty untuk kepergiannya yang tiba-tiba itu. Lelaki itu pergi. Meninggalkan Magnolia yang merasa sangat terkutuk telah menerima semua cinta lelaki itu. Magnolia bertekad menunggu Morty. Walau dia harus terus menghibur dengan perut yang kian membesar.

Magnolia melahirkan anak perempuan yang cantik. Tetapi Magnolia segera kehilangan bayinya empat jam berikutnya. Bayi perempuannya itu mati karena gagal jantung. Bukan main hancur perasaan Magnolia. Satu-satunya alasan dia terus bertahan menunggu Morty, adalah bayinya itu.

Setelah ditinggalkan oleh bayinya, kini Magnolia benar-benar berada dalam kesepian yang tak berujung. Magnolia memang tolol. Buat apa menunggu lelaki yang telah menyetubuhinya, lalu pergi begitu saja? Barangkali saja, lelaki itu kini sedang bersama gadis lain di Tortili. Atau, sedang menjual cintanya pada janda-janda kaya di Carbonia.

“Ah, brengsek kau Morty! Persetan dengan tubuhmu, dan cintamu. Kau menawanku dalam penjara tak bertepi ini. Aku akan memelihara parasaan ini dan menunggumu hingga kau kembali padaku,” kecam Magnolia, sebelum memukul keras permukaan meja dan meneguk seketika wisky dari slokinya.

Hari itu, hari terakhir Magnolia menyanyi untuk Bar Cavallo.

Dia memulai penantiannya. Magnolia menolak tawaran bernyanyi dari beberapa bar dan restoran ternama lainnya di Capoterra. Dia juga menolak cinta seorang lelaki yang begitu gigih merebut perhatiannya. Namun hati Magnolia hanyalah untuk Morty saja.

***

Barangkali aku memang beruntung. Tak pernah menyangka, menyaksikan bagian akhir dari kisah Magnolia.

Saat aku sedang menikmati suasana Cavallo seperti biasa, Magnolia tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berseru. Melihatnya berdiam di keremangan sudut Cavallo saja sudah aneh, apalagi melihatnya berdiri dan berseru seperti itu.

“Morty!” Teriak Magnolia.

Seorang lelaki tua yang baru masuk dan hendak memilih meja, berpaling dengan heran. Mencoba menajamkan mata pada sosok yang menyebut namanya di keremangan Cavallo ini.

Lelaki tua itu berjalan mendekat. Saat jarak keduanya tinggal dua meter, lelaki itu terkejut. “Kaukah itu, Magnolia? Aku kira, engkau sudah…” katanya gugup.

Magnolia menarik segaris senyum di wajahnya yang keriput. Dia telah menyebut nama yang puluhan tahun tak bisa enyah dari kepalanya. “Inilah aku, Morty…Magnolia-mu. Cinta yang menunggumu pulang, Morty.” Suara Magnolia bergetar.

Morty nanap. Sejujurnya, Morty tak berharap mengalami peristiwa ini. Dia mengira Magnolia telah lama mati. Pertemuan ini sulit membuatnya tersenyum. Tapi ada rasa aneh yang menuntunnya hendak merangkul wanita tua di depannya itu. Sedikit cinta yang tersisa mendorongnya untuk memeluk Magnolia. Tangan Morty berkembang.

“Hukkk….!”

Morty langsung terbatuk. Menggeriap. Mata tuanya nanar menjelajahi wajah Magnolia. Perlahan matanya turun, melihat telapak tangan kirinya yang kini merah. Perutnya tiba-tiba terasa panas.

Sebilah pisau tipis kini menancap di perut Morty. Magnolia menghujamkan pisau itu tepat sebelum Morty memeluknya. Lelaki tua itu kaget bukan main.

Morty luruh di lantai Cavallo. Darah membanjir dari sobekan luka di perutnya.

Kepanikan lalu pecah di bar itu. Pengunjung wanita histeris. Beberapa lelaki, termasuk aku, segera mendekati Morty. Tetapi, lelaki tua itu baru saja mati.

Magnolia tersenyum. Matanya tak berkedip menatap tubuh Morty. Cavallo adalah tempat pertama kali mereka bertemu, dan di tempat itu pula Magnolia mengakhiri riwayat Morty. “Akulah saja yang mencintaimu. Jangan kemana-mana lagi, Morty?” katanya tenang.

Airmata mengaliri pipi Magnolia.  Itulah kata-kata terakhir Magnolia yang aku dengar, karena beberapa saat kemudian, polisi datang dan membawanya pergi.

Magnolia tak gila.

Selama 49 tahun, Magnolia hanya menunggu datangnya hari ini. (*)

 

Sardinia, 2009

Catatan :

Capoterra; salah satu kota pesisir di Pulau Sardinia (Sardegna), Italia.

Cannonau; anggur merah asal Cagliari.

Bottarga; telur ikan kering, biasa dihidangkan dengan pasta, makanan khas Costa Smeralda. 

Vernaccia; anggur putih asal Oristano, umumnya beraroma kacang Badam. 

Pecorino; keju dari susu domba, dihasilkan banyak pertanian di Logudoro. 

Cellis; istilah untuk pemusik yang memainkan Cello.

Sassari,Tortili, dan Carbonia; nama kota-kota lain di Sardegna

*) Salah satu cerpen yang termuat dalam Kumcer “Membunuh Gibran” (2011).

**) Dimuat di Suara Merdeka, edisi Minggu 17 Juli 2011.

Woman In A Blue Summer Dress Standing Alone Enjoying View On The Mediterranean Sea Cyprus (sumber: flickr)

 

 


[Cerpen] Empang Kosong

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

“JASHAR bilang, ikan Nila sedang mahal sekarang ini, Ros!”

Rayu Tamim pada Rostini, istrinya, yang saat itu sibuk menjerang sayur untuk makan malam mereka.

Tamim jongkok di sisi Rostini sambil mengunjukkan wajah memelas. Rostini bertahan tak mau melihat wajah suaminya jika sedang bersikap begitu. Sejak semalam, di ranjang, Tamim sudah merayunya. Mulut Tamim sekadar berhenti bicara soal empang dan ikan Nila hanya saat dia merenggangkan selangkangan Rostini dan sibuk di sana sekitar lima menit. Setelah hajadnya tunai, mulutnya mulai mencacau lagi. Rostini bahkan tak tahu kapan Tamim berhenti, sebab Rostini terlelap tanpa sengaja.

Jashar, kawan sekerja suaminya, memang pernah cerita perihal keuntungan menambak ikan Nila Merah dalam obrolannya dengan Tamim, saat mereka istirahat di kedai kopi Imah, di luar pagar pelabuhan. Kedua berkawan ini, sudah dua tahun lalu, bekerja sebagai kuli panggul di pelabuhan. Jashar menyebut-nyebut soal keuntungan besar apabila empang Nila panen sesuai rencana. Mulut Tamim sampai-sampai terbuka, tercengang mendengar jumlah uang yang disebut-sebut Jashar. Entah darimana si Jashar memperoleh beragam informasi soal bertambak ikan Nila Merah, sedang dia sendiri tak punya warisan tanah empang seperti dirinya.

Empang miliknya itu tak besar, cuman sekitar 50 x 25 meter per segi. Letaknya persis di belakang rumah kecilnya. Empang itu warisan ayahnya yang meninggal dua tahun silam. Begitu diwariskan, Tamim dan Rostini langsung pindah ke sana. Bermodal seadanya, Tamim memperbaiki rumah kecil di samping empang. Tapi, ketika itu modalnya tak cukup untuk membiayai pengelolaan empang. Ayahnya hanya mewariskan padanya empang itu saja, tanpa uang tunai sama sekali. Dua tahun mereka mukim di situ, Rostini melahirkan dua anak yang umurnya berpaut setahun.

Kata-kata Jashar sungguh mempengaruhi Tamim. Empat hari dipikirkannya, dan baru pada hari kelima dia berani menyinggungkannya pada Rostini. Dia tahu mereka tak punya uang sama sekali. Satu-satunya harapan Tamim untuk rencananya itu adalah cincin milik Rostini, yang dulu dimas-kawinkannya buat perempuan itu.

Demi agar Rostini mau memberi cincinnya, Tamim rela melepas martabatnya barang sebentar, merayu istrinya itu hingga seolah memelas. Kini, tinggal menunggu putusan istrinya saja, maka empang itu akan segera terwujud.

***

Pada akhirnya Rostini menyetujui niat Tamim. Perempuan kurus itu menggadaikan satu-satunya harta miliknya yang paling berharga saat ini. Rostini tak peduli masih ada beberapa hutang mereka pada rentenir yang sebentar lagi jatuh tempo. Dia sangat berharap Tamim akan bersungguh-sungguh, dan mereka bisa menikmati laba dari hasil menambak di empang kecil itu.

Jika Tamim gagal, entah apalagi yang mesti diperjuangkannya. Tanah warisan mertuanya cuman sedikit. Hendak dijual pun, tak ada yang mau beli. Lalu setelah itu mereka berempat hendak tinggal di mana? Tanah di sekitar muara tak begitu diminati pembeli, sebab jauh jaraknya dari lokasi gudang pelabuhan. Parahnya, lokasi tanah mereka berjarak 200 meter dari jalan besar, dan 1.5 kilometer dari muara.

Dua anaknya masih kecil-kecil. Yang sulung saja umurnya baru dua tahun. Kebutuhan kedua anaknya pun tidak sedikit. Termasuk masih harus menbayar mahal bila mereka berdua sakit. Pembebasan biaya berobat yang dibilang pemerintah itu, seperti tak berlaku di wilayah pinggiran macam ini. Setiapkali anaknya sakit, Rostini harus menebus obat sedikit lebih mahal dari harga obat yang di jual di kios pinggiran jalan. Jangan tanya soal surat keterangan miskin dari kelurahan. Surat keterangan itu sudah lama dia buang, sebab ternyata tak berguna sama sekali.

Kini satu-satunya yang berharga padanya sudah dibawa pergi Tamim. Semua pikiran tentang kondisi hidupnya dan kedua anaknya itulah yang membuat Rostini menunda menyetujui permintaan Tamim tempo hari. Dia bisa stress karena memikirkan semua kebutuhan hidup keluarga kecil ini selanjutnya.

***

Setelah menggadaikan cincin istrinya, Tamim segera menuju Balai Benih Ikan. Untung saja harga emas sedang naik, sehingga hasil penjualan untuk cincin seberat tiga gram, lumayan banyak. Semoga saja, setelah dikurangi harga bibit ikan dan pakan, sisanya masih cukup banyak untuk diberikan pada istrinya. Begitu harapan Tamim.

Tapi, di Balai Benih Ikan, Tamim harus menelan ludahnya sendiri. Untuk empang seluas miliknya itu, dia harus membenam 25.000 ekor bibit ikan yang seukuran dua jari orang dewasa. Artinya, per meter akan berisi 20 ekor bibit ikan. Ini hitungan pas. Sebab jika terlalu banyak, maka bibit ikan akan mati, dan jika terlalu sedikit, maka dia tak akan balik modal. Tamim akhirnya memutuskan yang terbaik baginya.

Kini di boncengan sepedanya, tersusun rapi sekarung besar pakan ikan, dan lima kantong besar berisi bibit ikan. Dia harus hati-hati membawa bibit-bibit itu, sebab jika pecah, maka dia akan rugi besar.

Hatinya lapang dan tenang setelah usai menuang semua bibit ke empangnya. Hati yang diliputi bahagia membuatnya lupa pesan Wak Rasyid, pemilik empang lainnya, mempesankan agar Tamim lebih dulu menguatkan tanggul empang sebelum memasukkan bibit ikan.

***

Hati Rostini gundah luar biasa. Setelah Tamim berbelanja bibit ikan, dia hanya mengembalikan 75 ribu rupiah. Uang sejumlah itu tak akan membuat mereka berempat hidup seminggu, sedangkan suaminya menerima upah seminggu sekali dari mandor pelabuhan. Tamim harus bekerja lebih giat lagi di pelabuhan untuk mencukupi kebutuhan mereka di minggu berikutnya.

Ingin sekali Rostini membantu suaminya. Tapi sayang, tidak ada pekerjaan yang memberikan upah walau hanya dikerjakan di rumah saja. Tidak satupun ada perusahaan yang mau memberikan pola plasma di sekitar situ. Ada lowongan di perusahaan pengalengan ikan, namun sayang yang diterima hanya perempuan yang belum menikah atau tanpa anak.

Sejak hari itu, Rostini sudah tak bisa berkumpul bersama ibu-ibu lainnya dalam arisan PKK. Dia berutang dua bulan di situ. Pemilik toko sembako di simpang keluarahan sudah pula datang padanya, menagih piutang selama dua bulan ini. Si pemilik toko datang setelah mendapat kabar bahwa Tamim barusan belanja bibit dan pakan ikan, dan sedang mengupayakan empangnya lagi. Rostini sudah berusaha meyakinkan si pemilik toko tentang cerita sebenarnya. Tapi, si pemilik toko justru mencibirnya, dan menyebut dia dan suaminya sebagai pasangan pembohong. Sebelum pulang, dia mengancam, jika Rostini tak membayar utangnya, maka masalah itu akan diadukannya pada lurah.

Dua masalah itu saja sudah cukup membuat kepalanya nyaris pecah. Barangkali dia akan gila jika pemilik peralatan dapur yang dahulu dikreditkan padanya datang menagih juga. Bulan lalu saja dia sudah menunggak, dan diancam akan dikenakan bunga tinggi. Jika bulan ini tak juga dibayarnya, maka bunganya akan bertambah. Tamim sudah diberitahukannya, dan suaminya itu berjanji akan mengusahakan agar mandor memberinya panjar upah kerja. Tapi Rostini tak bisa percaya sepenuhnya. Dua pekan lalu saja, Tamim bermohon untuk hal yang sama, tapi ditolak.

Malam itu, Rostini terjebak ketakutan-ketakutan dalam pikirannya sendiri. Matanya menatap kosong, ke arah kedua anaknya, yang tertidur pulas setelah melahap bubur yang diaduk bersama gula putih.

***

“Air datang! Menyingkir… Air datang!!”

Wak Rasyid berlari menembus hujan badai sambil berteriak kesetanan. Setelah melompati pagar dan menggedor pintu rumah Tamim, Wak Rasyid berbalik kembali ke rumahnya. Lelaki tua itu berlari memutari rumahnya dan menendang pintu kandang kambing sambil berseru-seru. Kambing-kambingnya berlarian keluar, ikut bersamanya menembus hujan. Istri dan anak-anaknya sudah diselamatkannya lebih dulu.

Sedari sore, Wak Rasyid berdiri di belakang rumahnya, sambil memegang payung. Hujan sedari pagi membuatnya khawatir. Menurut pengalamannya, setiap kali hujan seharian penuh di musim penghujan macam ini, maka air akan berangsur naik. Kadangkala, air hanya perlahan saja merambat naik. Tapi tidak kali ini. Air begitu cepat mencapai pancang pemancingan, tempat yang tandai Wak Rasyid sebagai batas normal ketinggian air. Jika air sudah merendam pancang itu, artinya hulu sungai sedang tak bersahabat.

Benar saja dugaan Wak Rasyid. Air datang bergulung dan ikut menyeret sampah kayu dari hulu, menghantam pancang hingga hancur dan ikut hanyut terbawa air. Menurut perhitungannya, akan berselang 15 menit dari hanyutnya pancang itu, air akan mencapai pekarangan belakang rumahnya dan segera merendam dapur.

Semua tetangganya sudah dia peringatkan. Beberapa orang lainnya juga sudah menyebar untuk memperingatkan sekian banyak warga yang tinggal di dekat sungai agar segera menyingkir. Dia sendiri segera menuju balai kecamatan untuk bergabung bersama warga lainnya.

Setibanya Wak Rasyid di sana, dia heran, tak ditemuinya Tamim dan keluarganya. Ah, barangkali, mereka mengungsi di lain tempat. Balai ini saja sudah hampir dipenuhi orang.

Semakin larut, air sungai semakin naik. Air kemudian surut perlahan bersamaan dengan berhentinya hujan-badai saat larut malam. Menjelang pagi, air ikut surut, kendati masih cukup berbahaya karena arusnya cukup kuat di tengah sungai.

***

Tamim mencengkerem lengan Wak Rasyid. Matanya merah.

“Mengapa…Wak…tak…memeriksanya…sekali lagi?” Tanya Tamim terbata-bata.

Tapi Wak Rasyid bergeming. Lelaki tua itu juga sedang diliputi perasaan bersalah, sehingga menurutnya, bicara hanya akan memperkeruh suasana. Sepengetahuannya sudah semua warga diberitahukannya soal datangnya air besar.

Hati Tamim benar-benar terpuruk. Dia lunglai, matanya menatap kosong ke arah empang dan rumahnya.

Air telah menjebol tanggul empang di sisi utara, sehingga tanpa bisa dicegah, air menyapu rumahnya, mendorongnya hingga tumbang masuk empang. Jika saja tanggul di sisi selatan dan barat ikut roboh, tentu kerangka rumahnya akan terbawa air hingga ke muara.

Tamim rupanya tak ada di rumah ketika kejadian itu. Sepulang mereka dari pelabuhan, Dia dan Jashar terlambat mencapai jembatan. Keduanya harus bernaung sebab mereka dihadang angin kencang dalam perjalanan. Saat mencapai jembatan, mereka sudah terlambat. Ratusan orang tertahan dan berkerumun tak jauh dari lokasi jembatan yang telah putus dihanyutkan air.

Semua orang akhirnya menunggu hingga pagi menjelang. Bersama beberapa prajurit dan SAR, mereka membangun jembatan darurat dari lima pokok kelapa yang diikat menyatu. Orang-orang SAR itu bilang mereka harus mendahulukan evakuasi korban manusia.

***

Setelah para korban meninggal dibersihkan dan dikafani, orang-orang mempersiapkan penguburan. Tamim berdiri sejenak dan memandang onggokan kerangka rumah dalam empang miliknya, yang kembali kosong, tersapu air. Matanya berganti memandang kakinya sendiri. Perih hati Tamim, membayangkan bahwa di tempatnya berdiri itu, tadinya berdiri rumahnya.

Di antara puing-puing rumah di tengah empang, orang-orang menemukan istri dan kedua anaknya. Terbenam, tubuh mereka memutih pias.

Membayangkan wajah-wajah orang yang dicintainya, Tamim terhuyung, menubruk pohon, dan merosot ke tanah. Dalam kepiluan dan rintihan, lelaki itu meraung sekuat-kuatnya. (*)

Kendari, 2011

Tradisional (sumber: Wilhelm Gross)


%d blogger menyukai ini: