[Puisi] Gurauan Episode Mati

(dua belas kesaksianku)

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Keranda paksi mulai bergerak.

ada yang berwajah murung di awan.

I.

Lima bocah menengadahkan wajah ke ufuk, seperti sepi, tegak mereka menyatakan sebuah keterpaksaan. Nasib ini adalah lapik lapik kain, dan kerenteng kaleng. Olah jiwa itu, mengembara dalam putaran waktu yang bicara patah patah.

Jiwa keadilan mengeluarkan telunjuk dalam genangan darah hitam di ladang ladang. Sepinya Wijaya, sesepi Timor saat dentang lonceng dan raungan sirine jam malam. Bersuara berarti menghentikan napas.

II.

Ada sebuah tugu mati di ujung barat jadi saksi perjalanan yang gaib. Jemari ibu yang membuat tenang menjamahi, namun kami harus bertegur sapa dengan cemoohan dan ketuk ketuk palu di ruang sidang. Dinding dingin, lantai lembab, dan kekokohan jeruji sebagai penguji iman dalam ketakutan terperi di ruang siksa. Ribuan manusia harus bisu, harus teraniaya, harus mengalah, harus merunduk wajah, dan membuang muka dari genderang perang yang tidak ditabuh.

Catatan asasi ini menumpuk. Hak mereka di…Rancamaya, Tanjung Priok, Kedung Ombo, Karang Serang, Citayeum, Cijayanti, Cimacan, Badega, Kaca Piring, Waduk Nipah, Haur Koneng, Hukaea-Laea, dan Irian Jaya. Seperti kesaksian mati yang tidak dapat disebutkan.

Seperti gurauan mati di episode ini.

III.

Bara ini, saat pagi membuta seakan ditiup dari corong bambu. Sidoarjo, Mei, seribu Sembilan ratus Sembilan puluh tiga.

Menjadi kesaksian yang mengambang di atas tubuh menyedihkan seorang wanita muda di hutan Wilangun, Nganjuk. Dari tubuhnya menyebar bau aroma luka empat hari. Aroma penderitaan dan ketidakberdayaan anak manusia yang menuntut haknya.

Ambangan kesaksian ini, di atas tubuh perempuan MARSINAH.

IV.

Kesaksian kedua:

Akhir 1996, diangkasa ribuan malaikat menaungi pertiwi.

Mereka menangis mencoba meredakan panas dengan air matanya. Akhir 1996, seonggok tubuh bisu, dijilati anjing, menghadap angkasa dengan jantan. Keteguhannya, bagai karang bukit pare. Namun, kematiannya itu dicatat sebagai dosa jamannya. Dia nadir dengan setumpuk kebenaran di hati dan jiwanya.

Ambangan kesaksian ini, di atas tubuh lelaki MUHAMMAD FUAD SYAFRUDDIN.

V.

Kesaksian berikutnya:

Azan menyeru di cungkup masjid. Karna, sore tadi, puluhan anak ibu terbaring dengan

paksa.

Di tubuh tubuh basah itu, tertulis kebiadaban militer. Karena, sore tadi saat kesejahteraan pesantren dan keabadian kalimat kalimat Allah di injak injak dan menjadi derai tangis.

Ambangan kesaksian ini, di atas pondok pesantren HAUR KONENG.

VI.

Kesaksian ini terpenggal sementara, di sini.

Ya, Rabb…orang orang ini ditelanjangi keadilan kotor, lalu dicampakkan bagai fitnah tiada ampun.

“Akhirnya, sanggup juga ku buang topeng kerendahan hati dan kebajikan. Sekarang kalian lihat istana merdeka yang asli.”

Kesaksian-kesaksian terpuruk di laci laci Istana Merdeka. Ribuan orang dihitung dengan pelor dan deraan sangkur.

***

Jerit lapar menjatuhkan hati, memilukan sebagai nasib yang runtuh dari tatakannya. Sepohon cendana rindang mengatapi anak anak bangsa, memilin perutnya kosong. Bongkol pisang jadi mahal, biji beras jadi jarang jarang, dan rupiah terserak di antara kaki kaki.

Bangsa ini di azab, atas dosa dipermulaan. Kelaparan melubangi telinga, meletuskan kepala, karena keranda putih merah tidak pernah berkurang.

Perjalanan ini makin pahit, bangsaku. Langit semakin kelam. Kami sadar, untuk kemudian terjaga, dari jerit perih lapar di malam buta. Dari onggokan gubuk gardus di rel kereta, dari ranjang ranjang keras di emperan toko, dari denting denting piring kaleng kosong di barak barak pengungsi.

Mereka hilang pegangan, kami gaib kata kata, dan bunga bunga kemboja bermekaran

memanggil manggil. Inilah wajah pertiwi yang tidak bermuka. Asing, dan…asing.

“Jangan bercanda dengan nasib di episode ini.” Tegur seorang penarik becak.

“Tampaknya, hanya pertobatan model Ninive yang bisa menyelamatkan bangsa ini, dan

yang masih belum bisa dimutlakkan sebagai sodom dan gemorrah. Karena, masih banyak mahasiswa yang berani bicara lantang dan keras.” Ujar seorang penjaga kubur.

VII.

Jalinan episode dari kesaksian empat:

Jakarta, pukul dua puluh tiga, lebih sedikit. Tembok Trisakti tegak kokoh, diam. Malam beranjak membawa kebisuan yang lain. Malam itu, yang bernasib besok, kumpul dalam keseriusan dan gurau.

Deretan batang lontar menyambut dari pintu masuk. Maya, kemboja merah bermekaran

di halaman Trisakti. Mahasiswa mahasiswa berkumpul satu dalam ruangan, sebagian lelap di atas meja. Yang terjaga, kumpul dalam keseriusan dan diskusi yang hangat. Kepelikan baur satu dalam otak dan ocehan. Malam ini, menjelang esok yang berdarah.

Menjelang dini hari pukul kosong empat, kurang sedikit. Empat mahasiswa ini masih terjaga. Melamun tentang gerakan esok yang permulaan. Hanya langkah besar tidak pernah terbayang. Detik-detik awal, dua belas Mei, berempat anak muda itu belum juga melelapkan mata.

Jakarta menunggu pukul empat sore. Langit membasahi bumi, awan memanahi kumpulan mahasiswa hingga kuyup. Gelombang mahasiswa maju dengan panji panji dan yel yel perjuangan.

Dari Veteran, ratusan prajurit menunggu dengan senjata kokang siap tembak.

Saya terus mencatat…

Gedung gedung bisu memberi langkah pada gelombang ini.

Mereka kuyup, namun terbakar. Mereka tidak pernah sepi dengan teriakan perubahan yang membahana. Kerongkongan kering, baju basah, dan tetesan air mengalir menetes dari ujung ujung rambut. Mahasiswi berbaur pula. Air mata pun menyatu dalam yel yel yang perih.

Di ujung Daan Mogot, mahasiswa disambut berondong senjata. Terdepan roboh mencium bumi. Barisan kedua berbaring melindungi. “Jangan tembak kami! Jangan tembak kami! Mohon jangan tembak kami!” Terdengar teriakan dari sudut utara barisan mahasiswa.

Tembakan terus menyahuti teriakan itu, tidak peduli. “Ada yang kena, ada yang kena… Di depan ada yang kena…” teriak panik mahasiswa barisan kedua.

“Mundur, mundur sepuluh langkah ke front! Hindari konfrontasi…! Mundur…!” terdengar komando dari depan.

Tembakan terus berbunyi. Pelor pelor menyambar kepala.

“Dua orang kawan kena lagi! Hentikan tembakan! Kami bukan binatang. Jangan tembak lagi!” terdengar dari pengeras suara.

Emosi baur dalam tangis, mahasiswa pecah ke tempat perlindungan. Seorang mahasiswi berlutut dalam tangis, “Kawan kami kena, jangan tembak lagi. Kawan kami kena!”

Lalu, bangkit berlari, memeluk tubuh yang basah oleh darah dalam jas almamater. Mahasiswi ini meraung. “Kalian telah membunuhnya. Kalian telah tembak dia. Kami tidak membawa apa apa. Mengapa tembak kami!”

Saat itu, malaikat turun dengan kain kain putih. Sangat hikmat di angkasa, sampai mereka pun menangis. Menutupi tubuh yang bisu di atas aspal yang berdarah campur air hujan.

Sunyi kembali, prajurit berhenti duaratus meter di depan. Senjata masih terarah. Menunggu.

Mahasiswa kumpul kembali. Terdengar tangis takut dari para mahasiswi, dan tangis kemarahan dari yang lain. Yel yel perjuangan berubah jadi derai tangis. Kepedihan menyumbat dada. Doa doa seketika terlontar.

—dari mana mereka berasal, ke sana pula mereka kembali—

Sepasang mahasiswa dari kumpulan itu lalu bangkit, dengan mawar merah di tangan mereka maju ke barisan prajurit. Pipi mereka basah, mata mereka lumer, sementara senyum sudah pergi.

Satu per satu kembang itu, mereka sematkan ke moncong senjata, ke saku prajurit berwajah kaku. Mereka melakukannya dalam diam, hanya suasana yang bicara: “Terimalah bunga ini dari kami, karena sore ini kalian telah membunuh empat kawan kami.”

VIII.

Hari ini, sore ini, latihan revolusioner usai.

Gerakan perubahan itu pulang dengan empat keranda besar. Mereka berjalan dengan wajah tunduk pilu, wajah wajah menghujam bumi, mencoba menahan jatuhnya duka yang amat dalam.

Di jalan pasar buah, rombongan itu lewat. Seorang penjual buah, menggandeng seorang mahasiswa, mereka berjalan pelan, beriring : “Siapa mereka yang diusung itu?”

“Teman teman mahasiswa yang gugur hari ini.”

“Mengapa mereka gugur?”

“Ditembak, pak. Oleh prajurit.”

“Siapa kawan kawan itu?”

“Mahasiswa juga, pak.”

“Maafkan saya. Saya tidak dapat bantu apa apa. Ini seikat rambutan jika kalian lapar.”

Setelah itu, rombongan terus berjalan pulang, kembali ke halaman Trisakti. Kembali ke front.

—seterusnya, perjuangan hari ini belum berakhir—

(hari ini saya telah mencatat)

IX.

Kemarin adalah perjuangan.

Hari ini pun, demikian adanya.

Terkemudian sekali, datang kabar tentang kawan kawan mahasiswa yang ikut kemarin. Delapan orang aktifis hilang. Mereka berdelapan tidak pulang ke kampus dan rumah masing masing. Lalu, merebak emosi yang berbeda.

Secara terang terangan berdelapan mahasiswa ini diculik militer, lalu dibawa ke penyiksaan yang sadis. “Kami dikurung dalam ruang satu kali satu berempat empat. Setiap sejam, kami disiram air seni dari atas. Lalu, selang dua jam kami disuruh mandi dengan air dingin. Setelah itu kami ditanyai segala hal di bawah ancaman senjata dan sengatan listrik. Sakit, sungguh sakit.”

“Setelah lima hari, kami dipisahkan satu satu. Entah dibawa kemana tujuh orang kawan lainnya. Yang tahu, hanya Tuhan, para penculik dan mereka sendiri. Aku dibebaskan setelah mengalami penyiksaan yang perih, menyakitkan yang tidak pernah dialami

oleh hewan sekali pun. Dengan mata tertutup, hak kami diinjak injak.”

Ambangan kesaksian ini di atas hak lelaki DESMOND.

X.

Jakarta, 18 Mei.

Ada kesaksian lain di sejarah pertiwi, kini.

Mahasiswa dengan panji masing masing bersatu di kaki dewan. Rumah mereka, rumah rakyat, mereka penuhi dengan yel yel dan semangat yang berkobar kobar. Gedung rakyat itu terdengar suara yel yel, ada suara dari bait bait puisi, ada cemoohan atas kondisi ekonomi bangsa, ada suara dari mimbar bebas, ada jerit-jerit lain…menuntut perubahan.

Dewan tidak bicara. Kini giliran mereka yang harus mendengar, apa yang akan dikatakan rakyat pada mereka. Ribuan mahasiswa memenuhi halaman rumah rakyat dengan satu tujuan membinasakan kekotoran di negeri ini yang mendarah daging dari permulaan.

—di aras langit, semangat empat kawan mahasiswa yang mati kemarin menyeruak di antara mereka. Mereka mengiringi prosesi pendudukan itu dengan senyum mereka—

XI.

Pertiwi, dua puluh Mei seribu sembilan ratus sebilan puluh delapan.

Nusantara memuntahkan semangat. Mahasiswa Indonesia yang tidak pernah lekang dalam sejarah bangsa lebih dari tiga dasawarsa.

Hari ini, teriakan lantang membahana. Memenuhi horison, mahasiswa bergerak di pelosok pelosok. Tidak pernah terbayang kekuatan ini akan sangat besar, bahkan lebih besar dari perubahan tiga puluh dua tahun lampau. Gelombang gerakan mahasiswa Indonesia ini seketika bagai mimpi buruk bagi penguasa zalim.

—hari itu, Tuhan memang berada di atas Indonesia—

XII.

Kesaksian penghabisan untuk episode ini.

Dua puluh satu Mei, terdengar : Gempita gema dari rumah rakyat, mahasiswa bersorak menang, mencebur riang dalam kolam kebebasan setelah di gerus kelaliman. Ini sebuah kemenangan yang permulaan.

Di dalam rumah rakyat, saat rejim menyatakan mundur, derai tangis puluhan mahasiswa menghias pilar pilar putih di situ. Perjuangan permulaan yang tidak sia sia. Atas darah darah mahasiswa yang telah dihitung. Atas perjuangan asasi yang masih akan berlanjut.

Karena permulaan, maka perjuangan ini masih akan berlanjut.

Sukacita rakyat. Dukacita mahasiswa. Alam baru yang menyeruakkan keharuman nyaring. Episode ini bukan penghabisan. Episode selanjutnya masih akan saya tulis.

“Kawan kawan mahasiswa, perjuangan belum selesai, belum usai. Tolonglah kami, teruskan semangat ini, agar kami dapat beristirahat dengan damai.”

—suara suara itu berkumandang dari aras langit—

Tidurlah kawan, kerandamu telah diantar, namun kami masih setengah jalan.

 

Kesaksianku. Jakarta, Mei 1998

Tiga puluh dua tahun setelah 1966

Kerusuhan Mei 1998 (sumber foto: flickr)

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: