[Prosa] Aku Penguasa Sejati

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Aku tak perlu jadi pengusaha, sebab para pengusaha aku kuasai. Aku kendalikan bahan baku dan sirkulasi produksi. Aku rendahkan harga beli lokal dan menimbunnya sekaligus. Jika produk langka di pasaran dan harganya meroket, maka itu akan bagus buatku.

Aku tak perlu jadi pedagang, sebab para pedagang aku kuasai. Aku dirikan pasar modern biar enyah sudah pasar tradisional. Aku monopoli jalur distribusi mulai mobil hingga peniti. Sehingga pasar bergantung padaku dan arus perdagangan tak lagi rasional.

Aku tak perlu jadi presiden, sebab aku menguasai sang presiden. Aku menuliskan dan mendiktekan apa saja di surat keputusannya. Aku pilih dan tentukan siapa dan dari mana sekutunya di parlemen. Sehingga dia didukung dan tinggal kunikmati hasilnya.

Aku tak perlu jadi menteri, sebab cengkeramanku di pangkal leher para menteri. Setiap langkah para menteri itu aku ukur dengan materi. Sehingga langkah dan kebijakan mereka tak membuatku jeri. Jika kerja para menteri itu tak becus, biar tangan mereka yang digari.

Aku tak perlu jadi gubernur, sebab gubernur ada di bawah kakiku. Telunjukku membuat dia berfikir, dan fikiranku yang membuat dia bicara. Aku dikte rencana strategisnya saat dia diam laksana paku. Aku kuasai semua sektor pembangunannya, akulah investor bak menara.

Aku tak perlu jadi bupati, sebab bupati membungkuk saat aku datangi. Merapat di kakiku seperti kucing paling setia. Wilayah kekuasaannya adalah wilayahku dari puncak gunung hingga ke tepi pantai. Akulah penentu dia menjabat kembali atau terlantar tak berguna.

Aku tak perlu jadi jenderal polisi, sebab jenderal polisi di ujung telunjukku. Mereka bergerak sesuai perintahku dan keinginanku. Mereka penjaga setia semua hartaku dan mengawal kendaraanku. Bahkan mereka sekompi banyaknya menunduk patuh di telunjuk para jongosku.

Aku tak perlu jadi jenderal tentara, sebab di lipatan ketiakku para jenderal itu bernaung. Akulah penentu bagaimana hidupnya dan hidup keluarganya. Akulah pengatur semua bisnis mereka dan seberapa besar bagian mereka dari keuntunganku.

Aku tak perlu jadi jaksa, sebab aku menguasai para jaksa. Aku menentukan sesuatu perkara dilanjutkan atau dipeti-eskan. Hasil pemerasan mereka lebih besar adalah bagianku. Aku perintahkan mereka mempermainkan hukum, membengkokkannya hingga tak jelas bentuknya.

Aku tak perlu jadi pengacara, sebab ujung tali kesetiaan mereka berada di tanganku. Aku menyuruh mereka mengatakan yang salah adalah benar dan yang benar adalah salah. Aku suruh mereka tampil parlente dan necis, agar mata orang tertipu oleh bau parfum mereka.

Aku tak perlu jadi hakim, sebab aku menguasai para hakim. Akulah pengatur vonis hukuman dan kepada siapa vonis ditimpakan. Sebelum menggelar perkara mereka berbondong-bondong ke rumahku, minta petunjukku. Atas perintahku, penjahat besar bisa kuhukum ringan dan penjahat kecil bisa kuhukum berat.

Aku tak perlu jadi ketua partai, sebab ketua partai partai ada di genggamanku. Aku meregulasi kepentingan mereka di negeri ini. Akulah pengatur agar mereka bisa masuk ke semua tubuh pemerintah dan memimpin perusahaan pemerintah. Jika aku tak suka partai mereka bisa aku matikan kapan saja.

Aku tak perlu jadi legislator, sebab legislator selalu melaksanakan perintahku. Mereka merancang undang-undang atas arahan dan kehendakku. Kuberikan mereka kenikmatan harta dan wanita. Kuberikan mereka gedung baru, agar mereka malas dan makin dapat kukendalikan.

Aku tak perlu jadi wartawan, sebab para wartawan itu membuat berita sesuai keinginanku. Mana berita yang dapat mereka cetak, dan mana yang hendaknya mereka sembunyikan. Aku suap mereka dengan lembar uang sehingga mereka tumpul. Daya kritis dan upaya selidik mereka mati sebab kepala mereka aku duduki.

Aku tak perlu bayar pajak, sebab para penagih pajak berada di bawah aturanku. Akulah mengatur seberapa besar pajak yang mereka harus tagih. Aku tunjukkan pada mereka pengusaha dan rakyat mana yang bisa mereka peras. Dengan semua tagihan pajak itu aku bisa berfoya-foya menikmati hidup.

Aku bahkan tak perlu jadi rakyat, sebab aku sudah sangat sejahtera oleh kerja keras para cecunguk peliharaanku di atas itu. Aku tak perlu berteriak untuk segala hak. Aku bahkan tak perlu melelahkan diri untuk semua kewajiban.

Aku bahkan tak perlu jadi fakir, sebab apapun yang aku minta dari mereka selekasnya ada di depanku. Merekalah fakir sesungguhnya, merekalah yang mengemis padaku. Mereka ada di bawah kakiku, di lipatan ketiakku dan jadi alas duduk bagi pantatku. Mereka harus menghiba-hiba buat hidup dan kenikmatan mereka.

Akulah yang sebenarnya lebih berkuasa. Akulah penguasa sejati, kalian semua hendaknya tunduk padaku. Inilah aku, sang penguasa sejati.

Kini kalian pun tahu siapa aku ini. ***

Januari, 2011

Kingrat (sumber foto: Flickr)

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: