Marcial Antonio Requelme

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

AKU teringat pada kawan Marcial Antonio Requelme, lelaki asal Paraguay. Marcy sebagai nama yang kukenali. Marcy pernah menuliskan suatu kalimat di balik sampul buku koleksiku:

“Mahasiswa yang bernafas kini adalah di jaman revolusioner. Pada saat rakyat memberontak dan menentang kolonialisme, feodalisme, imperealisme dan diktator dengan tujuan satu kemerdekaan penuh, cukup makan, kemanusiaan, dan pendidikan. Diktator dan kelaparan adalah musuh mahasiswa.”

Goresan pena Marcy itu entah kutipan siapa. Itu mungkin kutipannya, atau barangkali juga kutipan orang lain. Dia tak membubuhkan penanda quote pada bagian akhir kalimat panjang itu. Aku yakini saja bahwa itu memang kutipanmu yang berangkat dari prinsip prinsipmu.

Ah, Marcy…tulisanmu itu masih ada di balik sampul buku Sangkur dan Pena koleksiku, tapi kini engkau entah dimana. Kabarmu tak pernah kudengar lagi, kecuali email terakhirmu yang kau kirimkan padaku awal tahun 2001, bertepat di tanggal kelahiranku; 8 February.

Barangkali sekarang Marcy sudah mati. Aku tak pernah menyesali kematiannya—jika benar benar dia telah mati. Sebab dia dan aku tahu, itulah resiko terkecil dari prinsip dan jalan hidup yang kami pilih. Yang aku sesalkan, sampai tahun 2008, mengapa tak ada yang memberitahuku perihal kabarnya, berterus terang padaku tentang kabar kematiannya.

Ketika itu, kawan kawannya tak pernah mau menjawab pertanyaanku dengan tuntas, selalu dibelokkan dengan basa basi yang tak perlu kuketahui. Begitupun kekasihnya, Erica (Erica Gloria Rosaria) selalu berbelit belit menjawabku saat kutanyakan bagaimana kabar Marcy.

Suatu kali, di tahun 2008, aku merasa harus mengakhiri kepura-puraan Erica. Aku meneleponnya via sambungan international ke nomor telepon yang diberikannya padaku via email. Begitu aku sebut namaku, suara Erica terdengar senang. Dua menit berikutnya suaranya berubah, dan selebihnya aku hanya mendengarkan suara tangisnya yang pilu. Aku langsung tahu, dan aku mulai mengerti. Kuakhiri sambungan telepon itu tanpa pamit padanya. Aku merasa sayang harus mensia-siakan uang untuk mendengar tangisnya saja di dua menit berikutnya.

Sepekan berselang setelah itu, saat membuka email, kutemukan surat Erica. Bertanggal 14 Maret. Itu empat hari setelah aku meneleponnya. Aku melewatkan surat itu tiga hari. Dalam suratnya, Erica meminta maaf atas sikapnya terakhir kali itu.

Dia merasa senang ketika aku menelepon waktu itu. Senang, sebab aku masih ingat padanya, walau kami tak terlalu akrab. Memang, aku mengetahui Erica hanya karena dia kekasih Marcy saja. Selain itu aku tak banyak mengetahui perihal tentangnya. Dia tahu banyak tentangku lewat cerita Marcy. Dan, diakuinya, bahwa sikapku itu cukup membuatnya menangis haru, sebab aku tak pernah melupakan kekasihnya, Marcy dan padanya.

Dan akhirnya, Erica secara terbuka mulai menceritakan mengapa kami kehilangan kontak di beberapa tahun terakhir. Selain hanya mengenalku secara pribadi lewat cerita Marcy, perempuan itu merasa segan harus membuka pembicaraan perihal sesuatu yang akan membuatnya sedih. Erica menduga, aku akan ikut sedih begitu tahu seperti apa nasib Marcy. Barangkali memang akan begitu.

***

Pertama kali bertemu Marcy saat aku berkunjung ke Bali, sekitar pertengahan tahun 1996. Aku datang ke pulau itu disebabkan sebuah undangan, dan Marcy hanya berkunjung biasa, sebagai turis. Kebetulan kami di hotel yang sama. Aku tahu, Marcy banyak memperhatikanku ketika sedang tekun membaca. Beberapa kali dia hendak menghampiriku dan berkenalan, namun ragu…barangkali tindakannya itu akan menggangguku ketika sedang membaca.

Dia salah. Saat membaca…konsentrasiku tentu berpusat pada bacaanku, tetapi aku pun masih peka situasi di sekelilingku. Itulah mengapa aku tetap tahu…Marcy itu rupanya memperhatikanku. Dia sendirian saja. Tak bersama kekasihnya, Erica. Marcy duduk pada set sofa di seberang set sofa yang aku tempati, di lobby Wisma Yani, di jalan yang bersisian dengan pantai Kuta. Kuangkat kepalaku dan aku tersenyum padanya. Aku tutup buku pada batas yang sudah kutandai sebelumnya, mengangkatnya tinggi tinggi ke arahnya, sambil mengirim isyarat padanya dengan kerutan kening dan kedua bahuku yang terangkat; “What wrong with me, brother? Why U look at me like that?”—begitu arti isyarat yang kemudian dia mengerti.

Marcy lantas berdiri dan berjalan menyeberang ke set sofa dimana aku berada, menghampiriku, dan mengangsurkan tangannya bersalaman. Di situlah saat pertama kami bertemu.

Aku tanyakan padanya…apa yang aneh padaku sehingga menarik perhatiannya. Dia tertawa sebelum menjawab pertanyaanku. Tertawanya renyah, rupanya dia itu mudah akrab. Marcy senang pada gayaku ketika membaca. Duduk santai, melipat kaki sebagai tumpuan buku dan sebelah tangan menggantung sambil memainkan sebuah koin. Ya, sebuah koin. Seperti yang diterangkan Marcy, kerap aku memainkan sebuah koin di tangan kananku saat membaca. Itu koin tiongkok bertera huruf tiongkok di kedua sisinya. Pada satu sisi tertera angka 10 yang dikelilingi bunga, sedang di sisi sebaliknya ada karakter seorang pria plontos, yang aku duga sebagai Dr. Sun Yat Sen. Entahlah. Koin itu sudah ada padaku sejak lama, aku lupa kapan. Selalu ada disakuku. Pernah sekali aku nyaris salah membayarkannya saat belanja.

Kami berdua banyak bertukar kisah saat itu, dan beberapa hari setelahnya. Bahasa Inggrisnya lucu, fasih namun diucapkan dengan langgam Spanyol berdialek Guarani. Aku kemudian mengetahui bahwa dia itu mahasiswa hukum di Universitas National Asuncion, tingkat tiga. Ikut di banyak pergerakan di negaranya untuk memprotes kebijakan presiden Juan Carlos Wasmosy Monti yang dianggap sebagian besar rakyat Paraguay sebagai diktator.

Marcy sangat membenci kelaparan. Itu nasib paling buruk yang bisa dialami manusia. Paling tidak, itu menurut Marcy. Aku pun setuju saja. Marcy berkisah secara terbuka…mengapa mereka (kaum mahasiswa) di Paraguay terlalu peka pada persoalan seperti itu. Ternyata itu pun hanya sebagian kecil dari keadaannya dan keluarganya di masa lalu.

Keluarga besar Marcy hidup di pinggiran Asuncion yang kumuh. Marcy kecil kerap tak makan seharian, dan baru pada esok harinya, dia akan menyantap masakan yang dibuat sederhana oleh ibunya. Makan bagi mereka suatu yang mewah. Tak perlu kenyang, kata Marcy. Yang penting bisa merasakannya saja…itu sudah baik. Untuk sepanci kecil masakan ibunya, Marcy harus berbagi dengan tiga saudaranya yang lain.

Suatu ketika, ibunya jatuh sakit, sehingga tak ada kesempatan memasak buat mereka. Nyaris dua hari Marcy dan tiga saudaranya kelaparan, sampai seorang tetangganya bernama Mohemmed Massud Passula, seorang muslim turunan Paraguay, datang pada malam hari. Massud tertarik menengok mereka sebab sempat mendengar Fontada, adik Marcy, terisak isak kelaparan.

Massud lalu membawa mereka berempat, setelah sebelumnya meminta ijin pada ibu mereka. Massud menenangkan ibu Marcy, untuk tak khawatir. Marcy nyaris tak mau ikut sebab khawatir dengan kondisi ibunya…tapi Massud menenangkannya dengan bilang, bahwa ibunya baik baik saja.

Malam itu juga, Massud memasak banyak sekali. Keempat anak malang itu makan sampai kenyang. Saat hendak kembali pulang, Massud membekali Marcy dan adik adiknya serta ibunya, setempayan besar penuh makanan. Massud tahu ibu Marcy belum terlalu kuat untuk memasak, jadi sebaiknya ibunya istirahat saja. Makanan itu habis dalam tiga hari berikutnya, saat ibu Marcy sudah cukup kuat untuk menjaga keempat anaknya.

“Bapak Massud itu masih hidup. Beliau seorang muslim yang baik. Tak pernah marah pada tetangga. Bersama istrinya, dia sering meringankan beban ibuku. Bahkan karena itulah, ibuku pernah marah besar pada seorang tetangga lain yang mengganggu keluarga Massud.” Kata Marcy. Wajahnya berseri seri ketika bercerita perihal ibunya dan keluarga Massud. Rupanya peristiwa itu begitu membekas padanya.

Ayah Marcy tak ada. Lelaki itu meninggalkan ibunya saat kelahiran adik Marcy yang nomor dua, Manuella. Lelaki itu tak pernah kembali, dan entah sekarang dimana. Marcy dan ibunya yang bekerja bahu membahu untuk memenuhi semua kebutuhan mereka sekeluarga. Apa saja akan dilakukan Marcy agar ibu dan ketiga adiknya bisa makan dan bersekolah. Intensitas kerja serabutan yang dilakukan Marcy mulai agak berkurang sejak dia masuk ke universitas.

Marcy lalu bekerja magang di sebuah firma hukum, dan sedikit demi sedikit menerima penghasilan yang layak. Perubahan mulai terjadi di keluarganya.

Namun soal pembangkangan yang mereka lakukan pada pemerintahan Paraguay yang sedang berkuasa, ingatanku melayang pada perlawanan rakyat Chili pada Augusto Jose Ramon Pinochet Ugarte, dan pada Salvador Allende.

Tapi soal pembangkangan itu, aku awalnya tak mengerti. Sebab berita berita yang aku sering baca soal Paraguay tidak terbetik sedikitpun masalah atau skandal. Marcy menyangkal dengan keras pemberitaan media macam itu. Yang terjadi di Paraguay, menurut Marcy, terbalik sama sekali.

Menurut Marcy, pergerakan mereka didasari atas ketidakstabilan politik yang memicu resesi ekonomi di bawah pemerintahan Juan Carlos Wasmosy Monti—berikutnya dalam surat suratnya, Marcy pun bercerita tentang keburukan pemerintahan baru lainnya, seperti; pemerintahan presiden Raul Cubas Grau (yang mengundurkan diri karena terlibat dalam pembunuhan atas wakil presidennya sendiri), dan presiden Luis Angel Gonzales Macchi.

Akibat dari kericuhan itu banyak aktivis yang dibungkam dengan pemenjaraan dan penghilangan. Tekanan dari kalangan aktivis membuat Partai Liberal Radikal Otentik mengancam akan keluar dari koalisi. Akan ada rencana kudeta, begitu kata Marcy. Aku mendengarkannya dengan saksama.

Kondisi Paraguay saat itu tidak berbeda jauh dengan kondisi Indonesia yang sedang memasuki masa transisi. Gejalanya sudah mencuat, dan bermunculan secara spartan. Kami makin sering bertukar kisah tentang kondisi dan perkembangan terbaru di negara kami masing masing melalui email saat Marcy kembali ke negaranya. Seringkali kisah kisah itu menjadi bahan diskusi seru via email, apalagi saat kawan kawan pergerakannya juga mulai ikut ikutan dalam diskusi.

Diskusi macam itu makin intens ketika gerakan perubahan menyentuh Indonesia sejak tahun 1997-1998. Aku kerap menuliskan padanya berbagai kisah heroik kawan kawan mahasiswa, kisah lucu atau bahkan aneh pada semua entitas pergerakan kami. Kukirimi dia foto kekacauan di Jakarta 17-19 Mei 1998, dan di beberapa kota lainnya.

Bahkan tak lupa aku kirimi dia catatan pergerakan besar yang terjadi di Kendari saat 24 Mei (aku kembali ke Kendari pada 22 Mei 1998). Pergerakan yang melumpuhkan kota itu dalam sehari. Tak ada aktivitas militer. Mahasiswa dan penduduk lainnya memenuhi jalanan. Markas Kodim, markas Korem kosong, hanya dijaga beberapa orang berpakaian sipil tanpa senjata. Kantor gubernuran pun demikian. Sunyi. Saat rombongan besar mahasiswa datang hanya di temui seorang tegas dan masih keturunan Lakilaponto, raja di Tongkuno. Laode Kaimoeddin yang menjabat gubernur Sulawesi Tenggara ketika itu, keluar menemui mahasiswa, dan beliau hanya menurut saja ketika mahasiswa memaksanya menurunkan bendera menjadi setengah tiang. Kacau nyaris terjadi saat seorang Polisi Pamong Praja, merasa sok tahu dan berusaha mencegah. Kami ‘mengamankan’ Pol-PP itu, lalu menurunkan bendera setengah sambil berlagu Indonesia Raya. Gubernur yang baik itu hanya dapat menghormat dengan tegap dan gagah.

Yang lucu, saat rombongan mahasiswa melintas di depan Markas Polisi Daerah Sultra. Tak ada polisi seorang pun yang tampak. Markas Polda itu justru dipenuhi ibu ibu Bhayangkari yang siap dengan puluhan doz besar berisi nasi campur dan puluhan galon air mineral. Ibu ibu itu justru menjamu mahasiswa ketika 26 truk besar melintasi jalan utama di depan kantor suami mereka, saat sedang konvoi menuju bandara untuk tujuan penguasaan.

Ya, kamilah yang menggerakkan demo besar itu. Aku, bersama kawan-kawan Saleh Hanan, Jusuf Tallama, Imam As’roi, Bambang Hendratmo (Alm.), Irianto Ibrahim, Jayadi, Iwan Rompo, Haris Palisuri, Rasman Manafi, Endang SA, Mastri Susilo, Hayani ‘Theo’ Imbu, Ruslan Adijaya, Boy, Deli, Arminus Wuniwasa dan Adi (keduanya dari barisan LMND) dan beberapa kawan lainnya yang tak teringat lagi olehku.

***

Ah, Marcy…aku ingat padamu kembali malam ini. Saat memandangi koleksi bukuku pada rak yang sesak. Mataku tak sengaja melihat kembali buku Sangkur dan Pena yang bersampul merah dan putih itu. Di sanalah aku menemukan kembali jejakmu. Tulisan tanganmu itu.

Lalu, aku temukan semua jawaban atas semua pertanyaanku lewat kekasihmu, Erica itu. Erica membenarkan telah terjadi kudeta yang dilancarkan kelompok oposisi yang diboncengi mahasiswa. Marcy ikut didalamnya. Marcy tak kenal lelah menyuarakan kepentingan “orang kelaparan”. Sekali Marcy ditangkap, lalu dibebaskan. Begitu kisah Erica dalam suratnya.

Kudeta memang akhirnya terjadi pada tahun 2000. Marcy dan kawan kawannya mulai menyerang secara subtantif kepentingan LA Gonzales Macchi. Ikut mendesak Senat dan Majelis Rendah untuk meng-impeachment presiden Macchi. Gerakan kudeta tak berdarah itu, kata Erica, gagal total. Sebab kubu pendukung presiden Macchi sangat kuat di Senat. Benturan dan aksi Marcy dan kawan kawannya yang gagal itu, membuat Erica kehilangan dua kali; aksi itu sendiri dan Marcy yang ditangkap kembali.

Sejak itu, Erica dan kawan kawan Marcy yang sempat lolos dari penangkapan tak pernah lagi mendengar kabar Marcy. Seorang kerabat Erica yang bekerja di kepolisian nasional Paraguay hanya menyebut Marcy “tewas ditahanan oleh sebab yang tidak diketahui”.

Erica sedih bukan main. Kondisi itu diperparah dengan tidak pernah adanya kepastian bagaimana jenazah Marcy bisa dikembalikan kepada keluarganya. “Tak ada. Tak pernah ada informasi atau niat baik pemerintah Macchi untuk membeberkan sejumlah kasus itu”. Demikian di bagian tengah dari surat Erica. Artinya, kawan baikku…Marcy, memang sulit diketemukan lagi.

Tulis Erica di email-nya :

“Kawan Ilo, kami ada harapan menemukan kebenaran perihal nasib Marcy ketika Macchi gagal mempertahankan jabatannya di pemilu 2003. Kami mendesak presiden baru Nicanor Duarte untuk membongkar kebusukan pejabat kepolisian dan siapa saja yang berada dibelakangnya, atas sejumlah kasus kematian aktivis. Aku, dan keluarga Marcy, khususnya ibunya…akan sangat berterima kasih pada pemerintah Duarte jika cukup diberitahu soal makam Marcy dan aktivis lain yang ikut mati bersamanya. Tapi…itu tak pernah terjadi.”

Marcy dan Erica memanggilku dengan nama kecilku; Ilo. Mereka suka menyebutnya begitu, sebab singkat dan mengingatkan mereka dengan ILO (organisasi buruh UN). Aku suka senyum (nyaris tertawa) jika mendengar mereka menyebutku dengan nama itu…pada lidah mereka yang ‘terlipat’.

“Satu satunya harapan Marcy yang terwujud adalah terbongkarnya skandal penipuan dan penggelapan pajak yang dilakukan mantan presiden Macchi. Orang sesat itu dihukum enam tahun penjara dua tahun yang lalu (2006).”

Surat Erica ini bertahun 2008. Jadi dua tahun sebelumnya, saat kubaca email Erica, musuh Marcy sudah dijebloskan ke penjara.

***

Ah, Marcy…kau membuatku ingat padamu lagi, kawan. Sejak kabarmu tak aku dengar atau kerap aku baca lewat surat surat elektronikmu…rupanya kau telah lama hilang. Erica cuman bisa mengenangmu dengan tangisannya. Perempuan itu dipinang teman dekatmu…namun dia jujur bilang dalam suratnya; tak pernah bisa melupakanmu. Calon suaminya, yang juga kawanmu, tahu benar soal derita Erica itu. Makanya, setiap hari dia berusaha keras menemukan dan mengumpulkan setiap informasi soal keberadan kuburanmu atau sedikit saja petunjuk mengenai sejumlah kematian di sel tahanan diktator Macchi.

Menurut Erica, calon suaminya itu merasa tak pernah bisa benar benar dicintai olehnya, jika belum bisa menghapus bayang bayangmu dari fikiran Erica.

Ah, Marcy…telah kutulis pula balasan surat untuk Erica. Intinya aku sudah cukup senang mengetahui semua hal yang mereka sembunyikan selama ini. Tak ada lagi kepura-puraan perihal dirimu, kawan. Aku mengirimkan doa buatmu lewat Erica. Pada perempuan itu, aku minta agar dia mencoba berdamai dengan dirinya, dengan hatinya. Sehingga dia tak terbelenggu semua kenangan tentang kalian. Aku menaruh iba pada lelaki kawanmu, yang meminang dirinya itu… Tak mudah menemukan calon suami yang baik seperti dia. Aku meminta Erica tidak mensia-siakan usahanya. Aku minta Erica melupakan semua kenangan tentangmu dan mulai belajar mempercayai calon suaminya. Tapi aku pun memintanya tak surut untuk terus mencari makammu.

Ah, Marcy…sudah dulu kawan. Aku telah berusaha memelihara kenangan perkawanan kita. Aku tak tahu kini engkau sebahagia apa…tapi aku yakin engkau sekarang lebih tenang dari siapapun.

Marcy…dimana pun engkau…demi semua prinsipmu, aku senang telah mengenalmu.

Demi perkawanan kita; …kini tenanglah. ***

Kendari, 03 Januari 2011

Marcy dan Erica di salah satu sudut cafe di Paraguay, 1997 (foto: dok. Erica & Marcy)

Tunangan Erica dan Ibu Marcy di depan kantor Polisi Paraguay, 2008 (foto: dok. Erica)

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: