Daily Archives: 18 Juli 2011

[Prosa] Aku Penguasa Sejati

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Aku tak perlu jadi pengusaha, sebab para pengusaha aku kuasai. Aku kendalikan bahan baku dan sirkulasi produksi. Aku rendahkan harga beli lokal dan menimbunnya sekaligus. Jika produk langka di pasaran dan harganya meroket, maka itu akan bagus buatku.

Aku tak perlu jadi pedagang, sebab para pedagang aku kuasai. Aku dirikan pasar modern biar enyah sudah pasar tradisional. Aku monopoli jalur distribusi mulai mobil hingga peniti. Sehingga pasar bergantung padaku dan arus perdagangan tak lagi rasional.

Aku tak perlu jadi presiden, sebab aku menguasai sang presiden. Aku menuliskan dan mendiktekan apa saja di surat keputusannya. Aku pilih dan tentukan siapa dan dari mana sekutunya di parlemen. Sehingga dia didukung dan tinggal kunikmati hasilnya.

Aku tak perlu jadi menteri, sebab cengkeramanku di pangkal leher para menteri. Setiap langkah para menteri itu aku ukur dengan materi. Sehingga langkah dan kebijakan mereka tak membuatku jeri. Jika kerja para menteri itu tak becus, biar tangan mereka yang digari.

Aku tak perlu jadi gubernur, sebab gubernur ada di bawah kakiku. Telunjukku membuat dia berfikir, dan fikiranku yang membuat dia bicara. Aku dikte rencana strategisnya saat dia diam laksana paku. Aku kuasai semua sektor pembangunannya, akulah investor bak menara.

Aku tak perlu jadi bupati, sebab bupati membungkuk saat aku datangi. Merapat di kakiku seperti kucing paling setia. Wilayah kekuasaannya adalah wilayahku dari puncak gunung hingga ke tepi pantai. Akulah penentu dia menjabat kembali atau terlantar tak berguna.

Aku tak perlu jadi jenderal polisi, sebab jenderal polisi di ujung telunjukku. Mereka bergerak sesuai perintahku dan keinginanku. Mereka penjaga setia semua hartaku dan mengawal kendaraanku. Bahkan mereka sekompi banyaknya menunduk patuh di telunjuk para jongosku.

Aku tak perlu jadi jenderal tentara, sebab di lipatan ketiakku para jenderal itu bernaung. Akulah penentu bagaimana hidupnya dan hidup keluarganya. Akulah pengatur semua bisnis mereka dan seberapa besar bagian mereka dari keuntunganku.

Aku tak perlu jadi jaksa, sebab aku menguasai para jaksa. Aku menentukan sesuatu perkara dilanjutkan atau dipeti-eskan. Hasil pemerasan mereka lebih besar adalah bagianku. Aku perintahkan mereka mempermainkan hukum, membengkokkannya hingga tak jelas bentuknya.

Aku tak perlu jadi pengacara, sebab ujung tali kesetiaan mereka berada di tanganku. Aku menyuruh mereka mengatakan yang salah adalah benar dan yang benar adalah salah. Aku suruh mereka tampil parlente dan necis, agar mata orang tertipu oleh bau parfum mereka.

Aku tak perlu jadi hakim, sebab aku menguasai para hakim. Akulah pengatur vonis hukuman dan kepada siapa vonis ditimpakan. Sebelum menggelar perkara mereka berbondong-bondong ke rumahku, minta petunjukku. Atas perintahku, penjahat besar bisa kuhukum ringan dan penjahat kecil bisa kuhukum berat.

Aku tak perlu jadi ketua partai, sebab ketua partai partai ada di genggamanku. Aku meregulasi kepentingan mereka di negeri ini. Akulah pengatur agar mereka bisa masuk ke semua tubuh pemerintah dan memimpin perusahaan pemerintah. Jika aku tak suka partai mereka bisa aku matikan kapan saja.

Aku tak perlu jadi legislator, sebab legislator selalu melaksanakan perintahku. Mereka merancang undang-undang atas arahan dan kehendakku. Kuberikan mereka kenikmatan harta dan wanita. Kuberikan mereka gedung baru, agar mereka malas dan makin dapat kukendalikan.

Aku tak perlu jadi wartawan, sebab para wartawan itu membuat berita sesuai keinginanku. Mana berita yang dapat mereka cetak, dan mana yang hendaknya mereka sembunyikan. Aku suap mereka dengan lembar uang sehingga mereka tumpul. Daya kritis dan upaya selidik mereka mati sebab kepala mereka aku duduki.

Aku tak perlu bayar pajak, sebab para penagih pajak berada di bawah aturanku. Akulah mengatur seberapa besar pajak yang mereka harus tagih. Aku tunjukkan pada mereka pengusaha dan rakyat mana yang bisa mereka peras. Dengan semua tagihan pajak itu aku bisa berfoya-foya menikmati hidup.

Aku bahkan tak perlu jadi rakyat, sebab aku sudah sangat sejahtera oleh kerja keras para cecunguk peliharaanku di atas itu. Aku tak perlu berteriak untuk segala hak. Aku bahkan tak perlu melelahkan diri untuk semua kewajiban.

Aku bahkan tak perlu jadi fakir, sebab apapun yang aku minta dari mereka selekasnya ada di depanku. Merekalah fakir sesungguhnya, merekalah yang mengemis padaku. Mereka ada di bawah kakiku, di lipatan ketiakku dan jadi alas duduk bagi pantatku. Mereka harus menghiba-hiba buat hidup dan kenikmatan mereka.

Akulah yang sebenarnya lebih berkuasa. Akulah penguasa sejati, kalian semua hendaknya tunduk padaku. Inilah aku, sang penguasa sejati.

Kini kalian pun tahu siapa aku ini. ***

Januari, 2011

Kingrat (sumber foto: Flickr)

Iklan

Marcial Antonio Requelme

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

AKU teringat pada kawan Marcial Antonio Requelme, lelaki asal Paraguay. Marcy sebagai nama yang kukenali. Marcy pernah menuliskan suatu kalimat di balik sampul buku koleksiku:

“Mahasiswa yang bernafas kini adalah di jaman revolusioner. Pada saat rakyat memberontak dan menentang kolonialisme, feodalisme, imperealisme dan diktator dengan tujuan satu kemerdekaan penuh, cukup makan, kemanusiaan, dan pendidikan. Diktator dan kelaparan adalah musuh mahasiswa.”

Goresan pena Marcy itu entah kutipan siapa. Itu mungkin kutipannya, atau barangkali juga kutipan orang lain. Dia tak membubuhkan penanda quote pada bagian akhir kalimat panjang itu. Aku yakini saja bahwa itu memang kutipanmu yang berangkat dari prinsip prinsipmu.

Ah, Marcy…tulisanmu itu masih ada di balik sampul buku Sangkur dan Pena koleksiku, tapi kini engkau entah dimana. Kabarmu tak pernah kudengar lagi, kecuali email terakhirmu yang kau kirimkan padaku awal tahun 2001, bertepat di tanggal kelahiranku; 8 February.

Barangkali sekarang Marcy sudah mati. Aku tak pernah menyesali kematiannya—jika benar benar dia telah mati. Sebab dia dan aku tahu, itulah resiko terkecil dari prinsip dan jalan hidup yang kami pilih. Yang aku sesalkan, sampai tahun 2008, mengapa tak ada yang memberitahuku perihal kabarnya, berterus terang padaku tentang kabar kematiannya.

Ketika itu, kawan kawannya tak pernah mau menjawab pertanyaanku dengan tuntas, selalu dibelokkan dengan basa basi yang tak perlu kuketahui. Begitupun kekasihnya, Erica (Erica Gloria Rosaria) selalu berbelit belit menjawabku saat kutanyakan bagaimana kabar Marcy.

Suatu kali, di tahun 2008, aku merasa harus mengakhiri kepura-puraan Erica. Aku meneleponnya via sambungan international ke nomor telepon yang diberikannya padaku via email. Begitu aku sebut namaku, suara Erica terdengar senang. Dua menit berikutnya suaranya berubah, dan selebihnya aku hanya mendengarkan suara tangisnya yang pilu. Aku langsung tahu, dan aku mulai mengerti. Kuakhiri sambungan telepon itu tanpa pamit padanya. Aku merasa sayang harus mensia-siakan uang untuk mendengar tangisnya saja di dua menit berikutnya.

Sepekan berselang setelah itu, saat membuka email, kutemukan surat Erica. Bertanggal 14 Maret. Itu empat hari setelah aku meneleponnya. Aku melewatkan surat itu tiga hari. Dalam suratnya, Erica meminta maaf atas sikapnya terakhir kali itu.

Dia merasa senang ketika aku menelepon waktu itu. Senang, sebab aku masih ingat padanya, walau kami tak terlalu akrab. Memang, aku mengetahui Erica hanya karena dia kekasih Marcy saja. Selain itu aku tak banyak mengetahui perihal tentangnya. Dia tahu banyak tentangku lewat cerita Marcy. Dan, diakuinya, bahwa sikapku itu cukup membuatnya menangis haru, sebab aku tak pernah melupakan kekasihnya, Marcy dan padanya.

Dan akhirnya, Erica secara terbuka mulai menceritakan mengapa kami kehilangan kontak di beberapa tahun terakhir. Selain hanya mengenalku secara pribadi lewat cerita Marcy, perempuan itu merasa segan harus membuka pembicaraan perihal sesuatu yang akan membuatnya sedih. Erica menduga, aku akan ikut sedih begitu tahu seperti apa nasib Marcy. Barangkali memang akan begitu.

***

Pertama kali bertemu Marcy saat aku berkunjung ke Bali, sekitar pertengahan tahun 1996. Aku datang ke pulau itu disebabkan sebuah undangan, dan Marcy hanya berkunjung biasa, sebagai turis. Kebetulan kami di hotel yang sama. Aku tahu, Marcy banyak memperhatikanku ketika sedang tekun membaca. Beberapa kali dia hendak menghampiriku dan berkenalan, namun ragu…barangkali tindakannya itu akan menggangguku ketika sedang membaca.

Dia salah. Saat membaca…konsentrasiku tentu berpusat pada bacaanku, tetapi aku pun masih peka situasi di sekelilingku. Itulah mengapa aku tetap tahu…Marcy itu rupanya memperhatikanku. Dia sendirian saja. Tak bersama kekasihnya, Erica. Marcy duduk pada set sofa di seberang set sofa yang aku tempati, di lobby Wisma Yani, di jalan yang bersisian dengan pantai Kuta. Kuangkat kepalaku dan aku tersenyum padanya. Aku tutup buku pada batas yang sudah kutandai sebelumnya, mengangkatnya tinggi tinggi ke arahnya, sambil mengirim isyarat padanya dengan kerutan kening dan kedua bahuku yang terangkat; “What wrong with me, brother? Why U look at me like that?”—begitu arti isyarat yang kemudian dia mengerti.

Marcy lantas berdiri dan berjalan menyeberang ke set sofa dimana aku berada, menghampiriku, dan mengangsurkan tangannya bersalaman. Di situlah saat pertama kami bertemu.

Aku tanyakan padanya…apa yang aneh padaku sehingga menarik perhatiannya. Dia tertawa sebelum menjawab pertanyaanku. Tertawanya renyah, rupanya dia itu mudah akrab. Marcy senang pada gayaku ketika membaca. Duduk santai, melipat kaki sebagai tumpuan buku dan sebelah tangan menggantung sambil memainkan sebuah koin. Ya, sebuah koin. Seperti yang diterangkan Marcy, kerap aku memainkan sebuah koin di tangan kananku saat membaca. Itu koin tiongkok bertera huruf tiongkok di kedua sisinya. Pada satu sisi tertera angka 10 yang dikelilingi bunga, sedang di sisi sebaliknya ada karakter seorang pria plontos, yang aku duga sebagai Dr. Sun Yat Sen. Entahlah. Koin itu sudah ada padaku sejak lama, aku lupa kapan. Selalu ada disakuku. Pernah sekali aku nyaris salah membayarkannya saat belanja.

Kami berdua banyak bertukar kisah saat itu, dan beberapa hari setelahnya. Bahasa Inggrisnya lucu, fasih namun diucapkan dengan langgam Spanyol berdialek Guarani. Aku kemudian mengetahui bahwa dia itu mahasiswa hukum di Universitas National Asuncion, tingkat tiga. Ikut di banyak pergerakan di negaranya untuk memprotes kebijakan presiden Juan Carlos Wasmosy Monti yang dianggap sebagian besar rakyat Paraguay sebagai diktator.

Marcy sangat membenci kelaparan. Itu nasib paling buruk yang bisa dialami manusia. Paling tidak, itu menurut Marcy. Aku pun setuju saja. Marcy berkisah secara terbuka…mengapa mereka (kaum mahasiswa) di Paraguay terlalu peka pada persoalan seperti itu. Ternyata itu pun hanya sebagian kecil dari keadaannya dan keluarganya di masa lalu.

Keluarga besar Marcy hidup di pinggiran Asuncion yang kumuh. Marcy kecil kerap tak makan seharian, dan baru pada esok harinya, dia akan menyantap masakan yang dibuat sederhana oleh ibunya. Makan bagi mereka suatu yang mewah. Tak perlu kenyang, kata Marcy. Yang penting bisa merasakannya saja…itu sudah baik. Untuk sepanci kecil masakan ibunya, Marcy harus berbagi dengan tiga saudaranya yang lain.

Suatu ketika, ibunya jatuh sakit, sehingga tak ada kesempatan memasak buat mereka. Nyaris dua hari Marcy dan tiga saudaranya kelaparan, sampai seorang tetangganya bernama Mohemmed Massud Passula, seorang muslim turunan Paraguay, datang pada malam hari. Massud tertarik menengok mereka sebab sempat mendengar Fontada, adik Marcy, terisak isak kelaparan.

Massud lalu membawa mereka berempat, setelah sebelumnya meminta ijin pada ibu mereka. Massud menenangkan ibu Marcy, untuk tak khawatir. Marcy nyaris tak mau ikut sebab khawatir dengan kondisi ibunya…tapi Massud menenangkannya dengan bilang, bahwa ibunya baik baik saja.

Malam itu juga, Massud memasak banyak sekali. Keempat anak malang itu makan sampai kenyang. Saat hendak kembali pulang, Massud membekali Marcy dan adik adiknya serta ibunya, setempayan besar penuh makanan. Massud tahu ibu Marcy belum terlalu kuat untuk memasak, jadi sebaiknya ibunya istirahat saja. Makanan itu habis dalam tiga hari berikutnya, saat ibu Marcy sudah cukup kuat untuk menjaga keempat anaknya.

“Bapak Massud itu masih hidup. Beliau seorang muslim yang baik. Tak pernah marah pada tetangga. Bersama istrinya, dia sering meringankan beban ibuku. Bahkan karena itulah, ibuku pernah marah besar pada seorang tetangga lain yang mengganggu keluarga Massud.” Kata Marcy. Wajahnya berseri seri ketika bercerita perihal ibunya dan keluarga Massud. Rupanya peristiwa itu begitu membekas padanya.

Ayah Marcy tak ada. Lelaki itu meninggalkan ibunya saat kelahiran adik Marcy yang nomor dua, Manuella. Lelaki itu tak pernah kembali, dan entah sekarang dimana. Marcy dan ibunya yang bekerja bahu membahu untuk memenuhi semua kebutuhan mereka sekeluarga. Apa saja akan dilakukan Marcy agar ibu dan ketiga adiknya bisa makan dan bersekolah. Intensitas kerja serabutan yang dilakukan Marcy mulai agak berkurang sejak dia masuk ke universitas.

Marcy lalu bekerja magang di sebuah firma hukum, dan sedikit demi sedikit menerima penghasilan yang layak. Perubahan mulai terjadi di keluarganya.

Namun soal pembangkangan yang mereka lakukan pada pemerintahan Paraguay yang sedang berkuasa, ingatanku melayang pada perlawanan rakyat Chili pada Augusto Jose Ramon Pinochet Ugarte, dan pada Salvador Allende.

Tapi soal pembangkangan itu, aku awalnya tak mengerti. Sebab berita berita yang aku sering baca soal Paraguay tidak terbetik sedikitpun masalah atau skandal. Marcy menyangkal dengan keras pemberitaan media macam itu. Yang terjadi di Paraguay, menurut Marcy, terbalik sama sekali.

Menurut Marcy, pergerakan mereka didasari atas ketidakstabilan politik yang memicu resesi ekonomi di bawah pemerintahan Juan Carlos Wasmosy Monti—berikutnya dalam surat suratnya, Marcy pun bercerita tentang keburukan pemerintahan baru lainnya, seperti; pemerintahan presiden Raul Cubas Grau (yang mengundurkan diri karena terlibat dalam pembunuhan atas wakil presidennya sendiri), dan presiden Luis Angel Gonzales Macchi.

Akibat dari kericuhan itu banyak aktivis yang dibungkam dengan pemenjaraan dan penghilangan. Tekanan dari kalangan aktivis membuat Partai Liberal Radikal Otentik mengancam akan keluar dari koalisi. Akan ada rencana kudeta, begitu kata Marcy. Aku mendengarkannya dengan saksama.

Kondisi Paraguay saat itu tidak berbeda jauh dengan kondisi Indonesia yang sedang memasuki masa transisi. Gejalanya sudah mencuat, dan bermunculan secara spartan. Kami makin sering bertukar kisah tentang kondisi dan perkembangan terbaru di negara kami masing masing melalui email saat Marcy kembali ke negaranya. Seringkali kisah kisah itu menjadi bahan diskusi seru via email, apalagi saat kawan kawan pergerakannya juga mulai ikut ikutan dalam diskusi.

Diskusi macam itu makin intens ketika gerakan perubahan menyentuh Indonesia sejak tahun 1997-1998. Aku kerap menuliskan padanya berbagai kisah heroik kawan kawan mahasiswa, kisah lucu atau bahkan aneh pada semua entitas pergerakan kami. Kukirimi dia foto kekacauan di Jakarta 17-19 Mei 1998, dan di beberapa kota lainnya.

Bahkan tak lupa aku kirimi dia catatan pergerakan besar yang terjadi di Kendari saat 24 Mei (aku kembali ke Kendari pada 22 Mei 1998). Pergerakan yang melumpuhkan kota itu dalam sehari. Tak ada aktivitas militer. Mahasiswa dan penduduk lainnya memenuhi jalanan. Markas Kodim, markas Korem kosong, hanya dijaga beberapa orang berpakaian sipil tanpa senjata. Kantor gubernuran pun demikian. Sunyi. Saat rombongan besar mahasiswa datang hanya di temui seorang tegas dan masih keturunan Lakilaponto, raja di Tongkuno. Laode Kaimoeddin yang menjabat gubernur Sulawesi Tenggara ketika itu, keluar menemui mahasiswa, dan beliau hanya menurut saja ketika mahasiswa memaksanya menurunkan bendera menjadi setengah tiang. Kacau nyaris terjadi saat seorang Polisi Pamong Praja, merasa sok tahu dan berusaha mencegah. Kami ‘mengamankan’ Pol-PP itu, lalu menurunkan bendera setengah sambil berlagu Indonesia Raya. Gubernur yang baik itu hanya dapat menghormat dengan tegap dan gagah.

Yang lucu, saat rombongan mahasiswa melintas di depan Markas Polisi Daerah Sultra. Tak ada polisi seorang pun yang tampak. Markas Polda itu justru dipenuhi ibu ibu Bhayangkari yang siap dengan puluhan doz besar berisi nasi campur dan puluhan galon air mineral. Ibu ibu itu justru menjamu mahasiswa ketika 26 truk besar melintasi jalan utama di depan kantor suami mereka, saat sedang konvoi menuju bandara untuk tujuan penguasaan.

Ya, kamilah yang menggerakkan demo besar itu. Aku, bersama kawan-kawan Saleh Hanan, Jusuf Tallama, Imam As’roi, Bambang Hendratmo (Alm.), Irianto Ibrahim, Jayadi, Iwan Rompo, Haris Palisuri, Rasman Manafi, Endang SA, Mastri Susilo, Hayani ‘Theo’ Imbu, Ruslan Adijaya, Boy, Deli, Arminus Wuniwasa dan Adi (keduanya dari barisan LMND) dan beberapa kawan lainnya yang tak teringat lagi olehku.

***

Ah, Marcy…aku ingat padamu kembali malam ini. Saat memandangi koleksi bukuku pada rak yang sesak. Mataku tak sengaja melihat kembali buku Sangkur dan Pena yang bersampul merah dan putih itu. Di sanalah aku menemukan kembali jejakmu. Tulisan tanganmu itu.

Lalu, aku temukan semua jawaban atas semua pertanyaanku lewat kekasihmu, Erica itu. Erica membenarkan telah terjadi kudeta yang dilancarkan kelompok oposisi yang diboncengi mahasiswa. Marcy ikut didalamnya. Marcy tak kenal lelah menyuarakan kepentingan “orang kelaparan”. Sekali Marcy ditangkap, lalu dibebaskan. Begitu kisah Erica dalam suratnya.

Kudeta memang akhirnya terjadi pada tahun 2000. Marcy dan kawan kawannya mulai menyerang secara subtantif kepentingan LA Gonzales Macchi. Ikut mendesak Senat dan Majelis Rendah untuk meng-impeachment presiden Macchi. Gerakan kudeta tak berdarah itu, kata Erica, gagal total. Sebab kubu pendukung presiden Macchi sangat kuat di Senat. Benturan dan aksi Marcy dan kawan kawannya yang gagal itu, membuat Erica kehilangan dua kali; aksi itu sendiri dan Marcy yang ditangkap kembali.

Sejak itu, Erica dan kawan kawan Marcy yang sempat lolos dari penangkapan tak pernah lagi mendengar kabar Marcy. Seorang kerabat Erica yang bekerja di kepolisian nasional Paraguay hanya menyebut Marcy “tewas ditahanan oleh sebab yang tidak diketahui”.

Erica sedih bukan main. Kondisi itu diperparah dengan tidak pernah adanya kepastian bagaimana jenazah Marcy bisa dikembalikan kepada keluarganya. “Tak ada. Tak pernah ada informasi atau niat baik pemerintah Macchi untuk membeberkan sejumlah kasus itu”. Demikian di bagian tengah dari surat Erica. Artinya, kawan baikku…Marcy, memang sulit diketemukan lagi.

Tulis Erica di email-nya :

“Kawan Ilo, kami ada harapan menemukan kebenaran perihal nasib Marcy ketika Macchi gagal mempertahankan jabatannya di pemilu 2003. Kami mendesak presiden baru Nicanor Duarte untuk membongkar kebusukan pejabat kepolisian dan siapa saja yang berada dibelakangnya, atas sejumlah kasus kematian aktivis. Aku, dan keluarga Marcy, khususnya ibunya…akan sangat berterima kasih pada pemerintah Duarte jika cukup diberitahu soal makam Marcy dan aktivis lain yang ikut mati bersamanya. Tapi…itu tak pernah terjadi.”

Marcy dan Erica memanggilku dengan nama kecilku; Ilo. Mereka suka menyebutnya begitu, sebab singkat dan mengingatkan mereka dengan ILO (organisasi buruh UN). Aku suka senyum (nyaris tertawa) jika mendengar mereka menyebutku dengan nama itu…pada lidah mereka yang ‘terlipat’.

“Satu satunya harapan Marcy yang terwujud adalah terbongkarnya skandal penipuan dan penggelapan pajak yang dilakukan mantan presiden Macchi. Orang sesat itu dihukum enam tahun penjara dua tahun yang lalu (2006).”

Surat Erica ini bertahun 2008. Jadi dua tahun sebelumnya, saat kubaca email Erica, musuh Marcy sudah dijebloskan ke penjara.

***

Ah, Marcy…kau membuatku ingat padamu lagi, kawan. Sejak kabarmu tak aku dengar atau kerap aku baca lewat surat surat elektronikmu…rupanya kau telah lama hilang. Erica cuman bisa mengenangmu dengan tangisannya. Perempuan itu dipinang teman dekatmu…namun dia jujur bilang dalam suratnya; tak pernah bisa melupakanmu. Calon suaminya, yang juga kawanmu, tahu benar soal derita Erica itu. Makanya, setiap hari dia berusaha keras menemukan dan mengumpulkan setiap informasi soal keberadan kuburanmu atau sedikit saja petunjuk mengenai sejumlah kematian di sel tahanan diktator Macchi.

Menurut Erica, calon suaminya itu merasa tak pernah bisa benar benar dicintai olehnya, jika belum bisa menghapus bayang bayangmu dari fikiran Erica.

Ah, Marcy…telah kutulis pula balasan surat untuk Erica. Intinya aku sudah cukup senang mengetahui semua hal yang mereka sembunyikan selama ini. Tak ada lagi kepura-puraan perihal dirimu, kawan. Aku mengirimkan doa buatmu lewat Erica. Pada perempuan itu, aku minta agar dia mencoba berdamai dengan dirinya, dengan hatinya. Sehingga dia tak terbelenggu semua kenangan tentang kalian. Aku menaruh iba pada lelaki kawanmu, yang meminang dirinya itu… Tak mudah menemukan calon suami yang baik seperti dia. Aku meminta Erica tidak mensia-siakan usahanya. Aku minta Erica melupakan semua kenangan tentangmu dan mulai belajar mempercayai calon suaminya. Tapi aku pun memintanya tak surut untuk terus mencari makammu.

Ah, Marcy…sudah dulu kawan. Aku telah berusaha memelihara kenangan perkawanan kita. Aku tak tahu kini engkau sebahagia apa…tapi aku yakin engkau sekarang lebih tenang dari siapapun.

Marcy…dimana pun engkau…demi semua prinsipmu, aku senang telah mengenalmu.

Demi perkawanan kita; …kini tenanglah. ***

Kendari, 03 Januari 2011

Marcy dan Erica di salah satu sudut cafe di Paraguay, 1997 (foto: dok. Erica & Marcy)

Tunangan Erica dan Ibu Marcy di depan kantor Polisi Paraguay, 2008 (foto: dok. Erica)


Sepuluh Surat Rindu Umi Widarti Buat Bapak

Mba Umi Widarti yang aku hormati…

Aku sedang men-defrag notebook saat aku jumpai file catatan surat suratmu untuk Bapak Boediono, ayahandamu. Aku ingat surat surat ini engkau tulis pada Ramadhan 2010 lalu pada status terpisah di akun facebookmu.

Aku sangat terharu membacanya ketika itu dan memutuskan meng-copas-nya lalu menyimpannya baik baik di dokumenku. Lalu, aku membacanya kembali semalam, dan memutuskan untuk membuatnya menjadi tulisan utuh.

Aku tak mengeditnya, mbak. Tentu tidak, sebab ini karyamu. Aku hanya memperbaikinya; mengurangi huruf yang berlebih; menambahi huruf yang kurang; membetulkan spasi yang berlebih. Selebihnya adalah karya (surat surat rindu utuh) mba Umi pada ayahanda.

Salam

[]

Sepuluh Surat Rindu Umi Widarti Buat Bapak

(Buat Ayahanda, Bapak Boediono “Loentjoeng“) 

Oleh Umi Widarti

I.

Bapak…hari Kamis, 5 Agustus lalu aku berangkat ke Solo. Kali ini keberangkatanku ke kota gerilya semasa Bapak muda dulu untuk mewakili kehadiran Bapak di Detasemen II- Brigade XVII Tentara Pelajar Solo. Itu loh, Pak…Monumen Pak’de Mad—Komandan Bapak—akhirnya diresmikan di daerah Banjarsari. Kawan-kawan Bapak yang masih hidup tinggallah sedikit. Aku berangkat bersama sebagian putra putri kawan Bapak. Panglima TNI-RI yang meresmikan loh, Pak. Dan kawan-kawan Bapak terharu karena cita-cita mereka terwujud pada hari itu, Sabtu 7 Agustus 2010.

II.

Bapak…setelah usai Panglima TNI meresmikan Monumen Pak’de Mad, para wartawan mengelilingi Panglima TNI untuk mengabadikan momen itu. Aku duduk hanya dua meter dari penandatanganan prasasti. Tiba-tiba pandanganku terarah pada seorang tua berpakaian seragam coklat, beremblem DetSie II, dan bertopi baret biru. Seragamnya sama persis dengan yang dimiliki Bapak. Bapak renta itu nampak semangat mendekati kerumunan wartawan yang tak memberikan kesempatan beliau untuk memotret momen itu dengan camera saku yang nampak digiwing-giwing sejak tadi. Aku sangat antusias memperhatikan bapak renta itu. Aku zoom camera BB ini yang seadanya…kearahnya. Mencuri shoot tubuhnya dari samping. Dekat dengan aku duduk. Aku ikuti terus kemana bapak itu pergi. Perasaanku jadi rindu padamu, Bapak. Selama acara berlangsung, kangenku semakin bertambah pada Bapak. Kangen ketika memperhatikan hidung bapak itu yang mirip hidungmu, Bapak. Dan gayanya yang semangat.

III.

Iya, Pak…beliau dengan tubuhnya yang sudah agak membongkok itu berjalan kesana kemari dengan semangat. Aku mengikutinya terus sambil melempar senyum ke kawan-kawan Bapak lainnya. Juga ke para ibu yang menjadi kawan ibu kita semasa hidupnya mendampingi Bapak dulu. Aku hafal dengan wajah-wajah kawan Bapak yang tertinggal…sedikit di sini. Oh ya, Pak…aku meminta bapak itu dan dua bapak-bapak lain sebagai model di bawah Monumen Pak ‘de Mad. Aku menjajarkan para sepuh itu untuk menjadi kenanganku. Kan Bapak yang handsome sudah tak ada. Jadi mereka sajalah yang kujadikan hiasan di potret itu. Wah…mereka semangat dan senyum sumringah menyembul diantara keriput wajah mereka. Selesai memotret, aku—untuk menjaga unggah-ungguhso pasti memperkenalkan diri dong. Sambil memegang bahu bapak tua itu, yang hidungnya mirip Bapak, aku bilang, “Apa kabar Bapak…saya putri dari Bapak Boediono.” Aku sapa beliau sambil senyum.

IV.

MasyaAllah, Bapak…bapak itu menampakkan keterkejutannya mendengar nama Boediono disebut olehku. Matanya yang berhias kacamata tebal itu, nampak terbelalak dan tangannya langsung meraih pundakku—hampir merangkul. Beliau bilang, “Nak putri dari Boediono “Loentjoeng” sing dhuwursing tinggal di Leuser?” Sambil geleng-geleng kepala. Aku senang masih dikenali—paling tidak beliau masih ingat denganmu, Bapak. Beliau bertanya kepadaku bagaimana kabar Bapak. Sambil tetap senyum aku bilang kalau Bapak sudah berpulang lima tahun silam. Bapak itu lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, dan berkata, “Kok saya tak dapat kabar apapun?” Aku sedih juga jadinya. Namanya juga kawan seperjuangan. Jadi kalau ada yang sesuatu hal yang menimpa kawan seiring…ekspresi sedih mereka pasti keluar. Bapak…tak lama, sambil tetap meletakkan tanggan beliau ke pundakku, dia bilang, “Nak, saya Soeprapto “Pego”, pimpinan regu Bapakmu ketika Peristiwa Serangan 4 Hari”. Aku terpana mendengarnya, karena ingat cerita Bapak…dimana lima orang kawan Bapak gugur pada serangan itu.

V.

Bapak…aku masih ingat, ketika Bapak pernah bercerita tentang pimpinan regu Bapak bernama “Pego”. Aku dipeluk erat beliau, Pak Pego itu. Aku minta berfoto bersama beliau—saling saling melingkarkan tangan, lalu berfoto pula bersama empat kawan Bapak lainnya. Kami saling bertukar kartu nama. Dari Banjarsari…semua rombongan ke makam Tjurug—Taman Makam Pahlawan, dan lanjut ke Wonosido, tempat Pak ‘de Mad mendeklarasikan Serangan Umum di awal Agustus itu. Pak Pego ikut juga dalam bus yang aku tumpangi—tidak bergabung dengan kawan-kawannya di bus satunya. Di dalam bus, Pak Pego menjelaskan…kalau jarak 15 kilometer dari pusat kota Surakarta adalah wilayah gerilya Tentara Pelajar Solo. Dengan semangat beliau bercerita. Aku memperlihatkan pada beliau fotomu, Bapak…yang selalu aku simpan di handphoneku. “Oh, ya…itulah Bapakmu,” katanya. Aku perlihatkan juga foto makam Bapak di Kalibata, waktu aku menghadiri pemakaman Om Tri Mul. Pak Pego terdiam dan bertanya pada dirinya sendiri, “Kapan saya menyusul kalian…” Aku tertegun… Mengharu biru aku menemaninya duduk berdua di dalam bus. Mas-mas dan mbak-mbak lainnya mungkin bingung, tapi tak bertanya. Tak mengapa.

VI.

Bagiku, Pak…ini suatu momen indah dan tak terduga. Seperti diatur begitu saja. Diawali dengan memotret sembunyi-sembunyi dari belakang ke arah bapak itu. Usilku ini mirip Bapak, kan?

Sampai di Makam Tjurug…usai penyerahan simbol tabur bunga oleh Kapten Soehendro, salah seorang kawan Bapak juga—yang kini aktif menulis di majalah SMT Manahan—kami ikut menabur bunga. Aku mendampingi Pak Pego yang mengajakku ke lokasi lima makam anak buahnya yang gugur pada serangan itu. Aku tiba-tiba teringat ceritamu, Bapak; ketika mencuci kain penutup kepala kawan Bapak yang gugur. Di kain itu, Bapak memisahkan darah dan serpihan otak dari kepala kawan Bapak yang hancur. Lalu, menyerahkan ikat itu kepada keluarganya setelah serangan selesai.

Iya, Bapak…aku mengikuti Pak Pego yang mencari-cari kelima makam anak buahnya itu. Ternyata Pak Pego lupa letaknya. “Ini kali kedua di tahun kedua saya lupa, mencari makam mereka, nak”, keluh Pak Pego. Terus beliau bilang, “Maaf ya, nak…saya tak dapat menemukan mereka kembali. Tapi saya masih menyimpan foto makam-makam mereka ketika kami kesini tahun 1987. Bapakmu juga kesini, bersama Om Tri Mul, Purwoto  dan Pratik”.

VII.

Bapak…Aku bilang ke Pak Pego, kalau Om Tri Mul tiga tahun lalu pernah mengundangku makan siang dan sama-sama mengunjungi makam Om Pratik, Purwoto dan makammu, Bapak. Dan ternyata, hari ini, aku masih bisa bertemu Pak Pego, pimpinan regu kalian. Sampai di Wonosido aku terkenang dengan lokasi yang pernah kau ceritakan, Bapak. Aku buka notesku dan menuliskan garis-garis besarnya. Aku agak malu ketika menulis, sebab tiba-tiba ketua panitia yang juga keponakan Pak ‘de Mad memergokiku. “Menulis diary, Umi…hahaha.” Selanya.

Lapar dan excited menderaku, jadi, ya…aku nulis saja di tengah-tengah pidato bapak Wakil Bupati. Pak Pego sudah diarahkan untuk bergabung dengan rekan-rekannya. Aku mojok di pilar paling luar. Menulis dan memperhatikan suasana. Kebelet pipis lagi, repot deh.

Selesai acara, kami kembali ke bus masing-masing untuk kembali ke monumen. Karena Taruna Patria—organisasi Putra Putri Tentara Pelajar—hendak mendokumentasikan dan berphoto bersama di monumen itu. Jadi Pak Pego tak duduk dalam bus bersamaku lagi. Malam itu, beliau mengira aku masih akan kembali ke monumen untuk menyaksikan perhelatan wayang kulit.

VIII.

Aku salah, Bapak… Aku tak hadir di acara wayang itu. Padahal Pak Pego hendak memperkenalkan aku kepada seorang anaknya serta satu cucunya. Aku tak bisa berbuat apa-apa, karena aku harus bersama Taruna Patria pada acara terpisah. Tapi ketika rombongan disempatkan tilik ke perhelatan pewayangan…aku pun minta ijin ikut turun sebentar. Seharusnya yang bisa turun ke lokasi itu hanyalah ketua Tentara Pelajar dan panitia. Aku merasa bersalah terhadap Pak Pego. Ternyata beliau sudah tak ada. Yang aku temui hanya beberapa pasang Tentara Pelajar dan ibu-ibu Putri Ganesha. Aku clingak clinguk mencari beliau…tak ada. Aku lalu kembali ke bus dan melanjutkan acara Taruna Patria. Setelah usai kami semua kembali ke hotel.

Esoknya, jam 8 pagi dikamarku, aku mendapat morning-call, “Room 204, Ibu Umi? Ada tamu bernama Pak Pego”. Duuh, Bapak…Aku kan baru saja mandi dan belum lagi berpakaian. Untung sudah packing sih. Aku buru-buru dandan…sambil teringat padamu, Bapak…kalau Bapak kan tidak suka menunggu lama bila bertamu dengan alasan masih dandan atau apalah. Nah, hampir saja aku memperlakukan hal serupa itu terhadap Pak Pego. Aku keluar kamar langsung berlarian ke tangga…grusak grusuk.

IX.

Bapak…Aku tentu meminta maaf ke Pak Pego yang menunggu di lobby; karena tak sempat hadir semalam. Pak Pego datang ditunggui becak yang beliau tumpangi dari rumahnya. Beliau rapih sekali mengenakan batik Solo lengan panjang. Aku diberikan foto makam kawan kawan Bapak di Makam Tjurug, yang kemarin kami cari tapi tidak ketemu. MasyaAllah, Bapak…aku terharu. Pak Pego khusus datang agar dirinya tidak dikira mengada-ada…

Waduh…Bapak, sampai sebegitu khawatirnya ya, Pak Pego itu? Beliau takut aku tak percaya pada penuturan beliau. Aku tegaskan pada beliau…bahwa aku sangat percaya dan sangat merasa istimewa bisa bertemu beliau dan menyerahkan foto itu agar bisa aku repro dan dikirim kembali ke Solo. Beliau memintaku mampir ke Solo bila lebaran pulang ke Jogja. Oh, Bapak…aku begitu terenyuh dan perih banget rasanya waktu beliau minta di doakan semoga panjang umur menanti foto-foto acara kemarin yang aku janjikan, plus foto asli makam anak buahnya aku kirimkan kembali ke Solo. Pak Pego pamit pulang karena melihat kawan-kawan rombonganku sudah packing barang ke dalam bus. Pak Pego memelukku seperti hendak melepas anaknya sendiri. Aku menghantar beliau ke becak yang menunggunya hampir sejam.

X.

Gak apa ya, Bapak…aku baru bisa mengeposkannya lewat jasa paket Tiki tanggal 18 Agustus. Oh iya, Bapak…begitu aku tiba di rumah tanggal 9 Agustus, Pak Pego sudah menelponku menanyakan perihal keselamatan perjalananku kembali ke Jakarta.

Sempat loh, waktu di lobby ketika beliau menunjukkan foto Bapak tahun 1987—beliau mengenangmu, Bapak. Kata beliau tentang Bapak padaku, “Oh ya, bapakmu itu tidak terlihat kaya harta, tapi saya tahu bapakmu itu sangat kaya hati dan prinsip”.

Hihihi…aku mikir kalau Bapak dulu itu ketika masih di instansi jika mau diajak berkongsi korupsi berjamaah, tentunya kita sudah kaya harta ya, Pak? Untung banget…aku memiliki Bapak seorang idealis dan berprinsip. Oh, aku begitu bangga padamu, Bapak.

So…aku tunaikan janjiku pada pak Pego tentang foto itu, dan sekarang aku harus toto dahar buat sahur dulu, ya…Bapak.

Bapak, aku sudah bangun buat sahur dan aku sedikit lagi menulis surat buatmu, Bapak.

Nanti pagi, jam 8, ada Upacara Kemerdekaan di Tugu Proklamator. Aku akan datang lagi menjengukmu, Bapak. Karena aku cinta Bapak. Bukan karena hendak gagah-gagahan. Tapi mau seperti Bapak. Mau menjadi anak perempuan Bapak yang cinta pula pada Indonesia-ku.

Bapak…sampai jumpa besok pagi.

***

Surat untuk Bapak, 16-17 Agustus 2010 

Bapak Boediono 'Loentjoeng' dan Umi Widarti Kecil (foto: dok. Umi Widarti)



Rubaiyat [1]: Suara Pelangi Setengah Hati

(rimba itu, entah di mana)

 

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

tiba-tiba saja ada yang meraung di angkasa

fana kala menembus

satu ide tak ubah suasana

di banyak-banyak velafus

 

ibu, bangunkan aku

bila engkau terjaga lebih dulu

lalu beritahu aku

selama ini apa saja yang berlaku

 

terkemudian sekali, ibu…

aku masih menyaksikan banyak aksi yang tak puas

engkau membiarkan, surut untuk senyum pada mereka

seolah dukungan teramat pias.

 

“kumohon, ibu, jangan engkau kubur impian

bangunkan aku, lalu dandani aku dengan kemeja terbaik

semproti aku dengan haruman yang abadi

mudahkan aku…

 

bila aku ingin melihat semuanya,

ibu…

ada ibu lain yang merana saat ini

: dikelilingi ibu-ibu lainnya.

yogyakarta, gowok

5 desember 1996

 

Seorang ibu warga Palestina menangis di reruntuhan rumahnya (sumber foto: reuters)

[bersumber dari: Rubaiyat I. Suara Pelangi Setengah Hati. Bab I. Sajak Sajak Raung. Antologi Kitab dan Tafsir Perawan]


Rubaiyat [IV] : Kisah Murung Socrates dan Anaknya

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Atas pualam

Socrates bersimpuh agung.

Bukunya sebagai penopang lengannya.

Anaknya memandanginya teramat tulus.

 

Lengan berurat

tanda bekas pena bulu ayam.

Ia telah menulis banyak hal dalam kitab yang dibaca terdahulu.

Mengajarkan impian indah pada putra tunggalnya.

 

Ia tahu, perbedaan seorang Octavianus, dan

seorang lelaki yang berdiri di hadapan singa.

Selama hayat dan akhirnya ia murung.

Dari telaga, air membentuk kanal kecil dekat kehidupannya.

 

Ia tahu tangis itu untuk siapa. Lalu apa?

Merubah pilihan menjadi kepastian.

Dari kejauhan Socrates memandangi kejatuhan elang, dan

ketika itu pengawal sorga menjadi muram.

 

Belahannya makin terbuka,

jangan paksa anak itu masuk!

Hasrat sang Agung mengawang dan

makin menggelepar.

 

“Aku tak dapat menemanimu duduk,

biar kau rasakan eloknya perawan Yunani.”

Denganmu aku melebur?

: “Kalau bisa, beri aku pedangmu.”

 

Bandung, 4 Juli 1997

Ad-Socrates (sumber foto: plato.stanford.edu)


[sumber dari Rubaiyat IV: Kisah Murung Socrates dan Anaknya. Bab III. Sajak Sajak Kitab dan Tafsir Perawan. Antologi Kitab dan Tafsir Perawan]


%d blogger menyukai ini: